Anda di halaman 1dari 59

Struktur Baja II

DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 1



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini kalau tidak
ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi tentu akan tertinggal oleh
kemajuan zaman, dan tentunya bangsa kita akan kalah bersaing dengan
bangsa lainnya di dunia. Untuk itu kita harus dapat memanfaatkan arus
informasi dan komunikasi dengan Negara lain yang dalam teknologinya
berada diatas negara kita. Kita harus senantiasa mencari ilmu pengetahuan
dan teknologi yang sangat dibutuhkan misalkan pengetahuan tentang
teknologi bangunan secara umum seperti bangunan gedung dan perkantoran,
rumah sakit, pabrik, sekolah, menara, dan lain-lain.
Pada umumnya bangunan umum tersebut terbuat dari material kayu,
baja dan beton. Untuk menghemat biaya pembangunan biasanya pemerintah
atau masyarakat umum menggunakan suatu konstruksi yang kuat misalnya
konstruksi baja. Semua pelaksanaan yang menyangkut struktur tidak luput
dari material baja. Bentuk-bentuk baja yang berada diperdagangan bebas
yaitu dalam bentuk batang-batang yang biasa , bilah-bilah, serta beraneka
macam profil.
Bentuk baja profil umumnya terbanyak dipakai dalam konstruksi baja.
Ukuran-ukuran penampang profil dari berbagai negara asalnya kadang-
kadang berselisih sedikit.
Pada laporan ini akan dibahas mengenai dasar- dasar perhitungan dan
perhitungan perencanaan konstruksi rangka atap baja gable pada sebuah
bangunan.





Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 2

1.2 Rumusan Masalah
Dalam penulisan masalah ini penyusun ingin membahas masalah yang
telah dirumuskan di atas yaitu mengenai dasar- dasar perhitungan dan
perhitungan perencanaan konstruksi rangka atap baja gable pada sebuah
bangunan.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan laporan ini adalah sebgai berikut :
- Mengetahui tata cara perhitungan dalam proses perhitungan
perencanaan konstruksi rangka atap baja gable pada sebuah bangunan.
- Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Struktur Baja II.

1.4 Manfaat Penulisan
Dengan penyusunan laporan ini terdapat manfaat yang sangat besar
untuk mahasiswa, khususnya mahasisiwa sipil yaitu dapat menjelaskan dan
mengetahui proses perhitungan perencanaan konstruksi rangka atap baja
gable pada sebuah bangunan. .

1.5 Metode Penulisan
Data yang diperlukan didukung dari studi literature atau studi
kepustakaan, yaitu data yang dihimpun dari hasil membaca dan mempelajari
buku-buku sumber yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas,
ditambah dengan data empiris yang penulis dapatkan selama ini.





Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 3

1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan sebagai berikut :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
1.5 Metode Penulisan
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Perencanaan
2.2 Mutu Bahan
2.3 Analisis Pembebanan
2.4 Kekuatan Struktur
2.5 Analisis Perencanaan Struktur
BAB III DASAR PERHITUNGAN
3.1 Analisis Atap
3.2 Balok
3.3 Analisis Struktur Portal
3.4 Kolom
3.5 Sambungan
3.6 Pondasi
BAB IV PERHITUNGAN KONSTRUKSI PORTAL BAJA
GABLE
4.1 Data Perhitungan
4.2 Perhitungan Gording
4.3 Perhitungan Batang Tarik (Trakstang)
4.4 Perhitungan Ikatan Angin
4.5 Perhitungan Pembebanan pada Portal Gable
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 4

4.6 Perhitungan Gaya Gaya Dalam
4.7 Perhitungan Balok yang Direncanakan
4.8 Perhitungan Kolom
4.9 Perhitungan Balok Crane
4.10 Perhitungan Base Flate
4.11 Perhitungan Sambungan
4.12 Perhitungan Pondasi
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




















Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 5

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Dasar Perencanaan
Baja adalah bahan komoditas tinggi terdiri dari Fe dalam bentuk kristal
dan karbon. Besarnya unsur karbon adalah 1,6%. Pembuatan baja dilakukan
dengan pembersihan dalam temperatur tinggi. Baja berasal dari biji-biji besi
yang telah melalui proses pengolahan di tempa untuk berbaga keperluan. Besi
murni adalah suatu logam putih kebiruan, selunak timah hitam dan dapat
dipotong dengan pisau. Baja juga mengandung zat arang (C), silikon (Si),
mangan (Mn), pospor (P), dan belerang (S). Sifat baja adalah memiliki
ketangguhan yang besar dan sebagian besar tergantung pada cara pengolahan
dan campurannya. Titik lelehnya sekitar 1460C-1520C, berat jenisnya
sekitar 7,85 dan angka pengembangannya tiap 1
o
C.
Baja berasal dari bijih besi yang telah melalui proses pemanasan dan
tempaan. Bijih Bijih ini mengan terdiri dari unsur unsur sebagai berikut :
- Karbon (c) adalah komponen utama dari baja yang sangat menentukan
sifat baja.
- Mangan (mn) adalah unsur baja yang menaikan kekuatan dan kekerasan
baja.
- Silicon (si) merupakan unsur baja yang meningklatkan tegangan leleh,
namun bisa menyebabkan kegetasan jika kadarnya terlalu tinggi.
- Pospor (P) dan Sulfur (S) adalah unsur yang bisa menaikan kegetasan
sesuai dengan peningkatan kadarnya.
Baja yang sering dipakai untuk bahan struktur konstruksi adalah baja
karbon (carbon steel) dengan kuat tarik sekitar 400 MPa, dan high strength
steel yang mempunyai kakuatan tarik antara 500 MPa sampai dengan 1000
MPa. Untuk baja yang berkekuatan 500 600 MPa dibuat dengan
menambahkan secara cermat alloy kedalam baja, sedang untu yang
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 6

berkekuatan > 600 MPa selain ditambahkan alloy secara tepat juga
diperlakuakn dengan perlakuan panas (heat treatment).
Baja bangunan dikerjakan menurut cara-cara kerja sebagai berikut :
- proses-konvertor asam (Bessemer);
- proses-konvertor basa (Thomas);
- proses-Siemens-Martin asam ;
- proses-Siemens-Martin basa;
Baja tidak sebegitu mudah pengerjaannya dari kayu, dikarenakan baja
memiliki sifat keliatan yang besar dan struktur yang serbasama maka
pengerjaan baja sangat dengan menggunakan mesin. Karena keadaan seperti
itu maka pengerjaan baja sebanyak-banyaknya harus dilakukan dibengkel
konstruksi. Pekerjaan-pekerjaan ditempat bangunan harus terdiri
pemasangan alat-alat konstruksi yang telah disiapkan dipabrik. Karena
disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan maka profil batang dan pelat-
pelat harus mengalami pengerjaan.

2.2 Mutu Bahan
Untuk balok yang menggunakan bahan baja, maka pemilihan profil baja
yang pada umumnya menggunakan profil baja berbadan lebar, profil baja
IWF (wide flange) dilakukan dengan rumus:

x
W
M
= o atau
a
maksimum
x
M
W
o
=

di mana : W
x
adalah momen tahanan profil baja (lihat Tabel Profil)

a
o adalah tegangan ijin baja




Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 7

Mutu Baja Profil
Jenis Baja Tegangan Leleh Baja Tegangan Ijin Baja

l
o (kg/cm
2
)
a
o (kg/cm
2
)
Bj. 33 2000 1333
Bj. 34 2100 1400
Bj. 37 2400 1600
Bj. 41 2500 1666
Bj. 44 2800 1867
Bj. 50 2900 1933
Bj. 52 3600 2400
Bj. Umum ---
5 , 1
l
o

Mutu profil baja yang digunakan kolom pada bagian bawah bangunan
lebih tinggi dibandingkan dengan yang digunakan pada kolom bangunan
bagian atas. Profil kolom baja (khususnya untuk kolom dengan bentuk pipa
atau tabung segi empat) pada bagian bawah bangunan lebih tebal
dibandingkan dengan yang digunakan kolom bangunan bagian atas.

2.3 Analisis Pembebanan
Pembebanan yang diperhitungkan dalam desain bangunan meliputi
beban mati, beban hidup dan beban sementara seperti angin, gempa , tekanan
tanah, beban dinamis ( beban hidup, beban sementara).
Beban mati adalah beban yang berkaitan dengan berat sendiri dari
elemen-elemen konstruksi bangunan seperti lantai, balok , gelegar,
dinding,atap, kolom, partisi dan bagian-bagian bangunan lainnya yang
diperkirakan mempengaruhi kekuatan struktur.
Beban hidup, adalah beban bergerak yang harus dipikul oleh elemen
struktur sesuai dengan kebutuhan, seperti beban orang pada waktu
pelaksanaan pemasangan konstruksi, beban orang yang diperhitungkan pada
lantai pada bangunan bertingkat, movable partitions ruangan, peralatan dan
mesin produksi yang perlu dipindahkan, furniture dan lain-lainnya. Seperti
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 8

disebutkan dalam American National Standard Institut (ANSI), beban hidup
untuk ruang kelas sekolah, apartemen adalah sebesar 40 lb/ft2 atau 1600
M/Pa, beban hidup untuk perkantoran sebesar 50 lb/ft2 atau 2400 MPa.
Beban angin, sesuai dengan teori Bernoulli, dihitung sebesar q=1/2pV2

2.4 Kekuatan Struktur
Berdasarkan pertimbangan ekonomi, kekuatan, dan sifat baja,
pemakaian baja sebagai bahan struktur sering dijumpai pada berbagai
bangunan seperti gedung bertingkat, bangunan air, dan bangunan jembatan.
Keuntungan yang diperoleh dari baja sebagai bahan struktur adalah:
Baja mempunyai kekuatan cukup tinggi dan merata. Kekuatan yang
tinggi ini mengakibatkan struktur yang terbuat dari baja, umumnya
mempunyai ukuran tampang relatif kecil, sehingga struktur cukup ringan
sekalipun berat jenis baja tinggi.
Baja adalah hasil produksi pabrik dengan peralatan mesin-mesin yang
cukup canggih dengan jumlah tenaga manusia relatif sedikit, sehingga
pengawasan mudah dilaksanakan dengan seksama dan mutu dapat
dipertanggungjawabkan.
Struktur baja mudah dibongkar pasang, sehingga elemen struktur baja
dapat dipakai berulang-ulang dalam berbagai bentuk struktur.
Struktur dari baja dapat bertahan cukup lama.

2.5 Analisis Perencanaan Struktur
Rangka baja bangunan gedung terdiri dari beberapa kolom yang
biasanya dipilih dari profil Wide Flange, INP atau sejenisnya, rangka kuda-
kuda yang elemen-elemennya dipilih dari profil siku-siku, beberapa ikatan
horisontal, ikatan vetikal, gelagar-gelagar yang mengikat kolom-kolom pada
sisi memanjang bangunan. Disamping itu ada penutup atap yang diikat oleh
gording-gording, dimana gording-gording tersebut dipilih dari profil ringan
seperti profil C atau sejenisnya. Penutup atap yang sering dipakai adalah
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 9

genting, asbetos gelombang, seng gelombang, sirap dan lain-lain macam
penutup atap.





























Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 10

BAB III
DASAR PERHITUNGAN

3.1 Analisis Atap
1. Dimensi Gording
Gording diletakan diatas beberapa kuda-kuda yang fungsinya
menahan beban atap dan perkayuannya, dan kemudian beban tersebut
disalurkan pada kuda-kuda. Pembebanan pada gording berat sendiri
gording dan penutup atap
Dimana : a = jarak gording
L = jarak kuda-kuda
G =
1 1
2 2
a a
| |
+
|
\ .
x L (meter) x berat per m penutup atap per m gording
= a x berat penutup atap per m
catatan: Berat penutup atap tergantung dari jenis penutup atap
Berat jenis gording diperoleh dengan menaksirkan dimensi gording,
biasanya gording menggunakan profil I, C (tabel profil) dan di dapat
berat per-m gording.
Berat sendiri gording = g
2
kg/m
Berat mati = b.s penutup atap + b.s gording
= (g
1
+ g
2
) kg/m
Gording di letakkan tegak lurus bidang penutup atap, beban mati (g)
bekerja vertikal.
g
x
= g cos o
g
y
= g sin o
Gording diletakkan diatas
beberapa kuda-kuda, jadi merupakan balik penerus diatas beberapa
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 11

balok tumpuan (continuous bean). Untuk memudahkan perhitungan dapat
dianggap sebagai balok diatas dua tumpuan statis tertentu dengan
mereduksi momen lentur.
akibat gx M
gl
= 0,80 (1/8 gx l
2
)
= 0,80 (1/8 sin o l
2
)
akibat gy M
yl
= 0,8 (1/8 gy l
2
)
= 0,80 (1/8 g cos o l
2
)
Beban Berguna
Beban berguna P = 100 kg bekerja di tengah-tengah gording
M
max
= 80 % ( PL)
Akibat P
x
M
x2
= 0,80 ( P
x
L )
= 0,80 ( P sin o L )
Akibat P
y
M
y2
= 0,80 ( P
y
L )
= 0,80 ( P cos o L )

Beban Angin (W)
Ikatan angin hanya bekerja menahan gaya normal/aksial tarik saja.
Cara kerjanya, apabila yang satu bekerja sebagai batang tarik maka yang
lainnya tidak menahan apa-apa dan sebaliknya. Beban angin dianggap
bekerja tegak lurus bidang atap
Beban angin yang di tahan gording
W = a . x tekanan angin per meter (kg/m
2
)
M
max
= 80 % ( 1/8 WL
2
) = 0,80 ( 1/8 WL
2
)
Akibat Wx M
x3
= 0
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 12

Akibat Wy M
y3
= 0,80 ( 1/8 W
y
L
2
) = 0,80 ( 1/8 W

L
2
)
Kombinasi Pembebanan
I M
x
total = M
x1
+ M
x2
M
y
total = M
y1
+ M
y2

II Beban mati + Beban berguna + Beban angin
M
x
total = M
x1
+ M
x2
M
y
total = M
y1
+ M
y2
+ M
y3

Kontrol tegangan
Kombinasi I
2
1600 /
Mxtotal Mytotal
kg cm
Wy Wx
o o = + s =
catatan : jika o o s , maka
dimensi gording diperbesar
Kombinasi II
1, 25
Mxtotal Mytotal
Wy Wx
o o o = + + s =
catatan : jika 1, 25 o o s ,
maka dimensi gording di
perbesar

Kontol lendutan
- Akibat beban mati:
cm
EI
L q
F
y
x
xl
384
5
4
= cm
EI
L q
F
x
y
384
5
4
=

- Akibat beban berguna
cm
EI
L P
F
x
x
x
48
3
2
= cm
EI
L W
F
y
y
y
48
5
3
2
=
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 13

- Akibat beban angin
3 x
F =0 cm cm
EI
L W
F
x
y
y
384
5
4
3
=
F
x total
= (F
x1
+F
x2
) s F
F
y total
= (F
y1
+F
y2
+F
y3
) s F
f f f F
y x
s + =
2 2
1

catatan : jika F > F maka dimensi gording di perbesar
2. Dimensi Batang Tarik (Trackstang)
Batang tarik berfungsi untuk mengurangi lendutan gording pada arah
sumbu x (kemiringan atap dan sekaligus untuk mengurangi tegangan
lentur pada arah sumbu x).
Batang tarik menahan gaya tarik Gx dan Px, maka :
Gx = berat sendiri gording + penutup atap arah sumbu x
Px = beban berguna arah sumbu x
Pbs = Gx + Px
Karena batang tarik di pasang dua buah, per batang tarik :
2
Px Gx
P
ts
+
=
o o o ambil
Fn
F
s =
o
o
2 2
Px Gx
Fn
Fn
Px Gx +
= =
+

Fbr =125 % Fn Fbr = d
2

dimana : Fn = luas netto
Fbr = luas brutto
A= diameter batang tarik (diperoleh dari tabel baja)
Batang Tarik
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 14

Fn =
o
p

Dimana : Fn = Luas penampang netto
P = Gaya batang
o = Tegangan yang diijinkan
Fbr = Fn + F Fbr = 125%

Batang Tekan
Imin = 1,69 P.Lk
Dimana: I
min
= momen inersia minimum (cm
4
)
P = gaya batang tekan (Kg)
Lk = panjang tekuk (cm)
Setelah diperoleh I
min
lihat tabel propil maka diperoleh
dimensi/ukuran propil.

3. Dimensi Ikatan Angin
Ikatan angin hanya bekerja menahan gaya normal atau gaya axial
tarik saja. Cara kerjanya kalau yang satu bekerjanya sebagai batang tarik,
maka yang lainnya tidak menahan apa-apa. Sebaliknya kalau arah
anginya berubah, maka secara berganti-ganti batang tersebut bekerja
sebagai batang tarik.



Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 15

Perubahan pada ikatan angin ini datang dari arah depan atau
belakang kuda-kuda. Beban angin yang diperhitungkan adalah beban
angin terbesar yang disini adalah angin sebelah kanan yaitu : misal 50
Kg/ m
2
P = Gaya / Tekan angin
N = Dicari dengan syarat keseimbangan
H = 0
Nx = P
N cos = P N =
| cos
P

Rumus umum
2
/ 50 .......... .......... .......... cm Kg angin P
fn
P
= = o


4. Dimensi Batang dan Balok
Dalam mengedimensi batang dan balok paa perencanaan
konstruksi atap baja gable yaitu dengan menggunakan profil baja IWF.

5. Mencari Besarnya Gaya-Gaya Dalam
Perhitungan reaksi perletakan, joint displacement dan besarnya gaya
batang dilakukan dengan menggunakan softwere Structure Analysis
Program (SAP) 2000 Versi 9. Input dan output data dapat dilihat pada
lampiran, sedangkan dibawah ini adalah resume dari perhitungan gaya-
gaya yang bekerja.

6. Perhitungan Sambungan
Alat penyambung baja dapat berupa:
1. Bout
Pemakaian bout diperluakn bila:
- Tidak cukup tempat untuk pekerjaan paku keeling
- Jumlah plat yang disambung >5d (diameter bout )
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 16

- Konstruksi yang dapat dibongkar pasang
2. Paku Keling
Sambungan paku keling dipergunakan pada konstruksi yang
tetap. Jumlah tebal pelat yang akan disambung tidak boleh > 6 d
(diameter paku keling). Beberapa bentuk kepala paku keeling yaitu
paku yang dipergunakan pada tiap pertemuan minimal menggunakan
2 paku dan maksimal 5 paku dalam satu baris. Penempatan paku
pada plat ialah: jarak dari tepi plat el.
3. Las Lumer
Ada 2 macam las lumer menurut bentuknya, yaitu:
- Las tumpul
- Las sudut

3.2 Balok
1. Perencanaan Struktur Balok
Dalam perencanaan struktur balok profil baja yang digunakan adalah WF
400 . 300 . 10. 16
dengan data-data sebagai berikut :
q = 107 kg/m Ix = 38700 cm
4

A = 136 cm
2
Iy = 7210 cm
4

b = 300 mm = 30 cm Wx = 1980 cm
3

h = 390 mm = 39 cm Wy = 481 cm
3

ts = 16 mm = 1,6 cm ix = 16,9 cm
tb = 10 mm = 1 cm iy = 37,28 cm
r = 22 mm






Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 17

2. Dasar Perhitungan
Perhitungan reaksi perletakan, joint displacement dan besarnya gaya
batang dilakukan dengan menggunakan softwere Structure Analysis
Program (SAP) 2000 Versi 9. Input dan output data dapat dilihat pada
lampiran.
3.3 Analisis Struktur Portal
1. Perencanaan Portal
Sebelum mendimensi portal gabel, hal terpenting yang pertama dilakukan
adalah mengidentifikasi beban yang bekerja pada konstruksi. Beban
tersebut nantinya akan menentukan ekonomis atau tidaknya suatu
dimensi portal. Distribusi pembebanan pada atap Type F 1 adalah sebagai
berikut :
Data-data yang diperlukan :
- Jarak antara kuda-kuda = 6 m
- Bentang kuda-kuda = 25 m
- Kemiringan atap = 25
0

- Dimensi kuda-kuda (dicoba) = IWF
400 . 300 . 10 . 16

- Jarak gording = 1,72 m
- Berat sendiri penutup atap = 10 kg/m
2


2. Pembebanan Portal
Perhitungan reaksi perletakan, joint displacement dan besarnya gaya
batang dilakukan dengan menggunakan softwere Structure Analysis
Program (SAP) 2000 Versi 9. Input dan output data dapat dilihat pada
lampiran.

3.4 Kolom
1. Perencanaan Struktur Kolom
Dalam perhitungan dimensi profil pada kolom, diambil batang profil
yang menerima beban terbesar, sedangkan yang lainnya disamakan.
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 18

Dicoba dengan menggunakan Profil baja yang digunakan adalah IWF
400
x 300 x 10 x 16
dengan data data sebagai berikut :
h = 390 mm b = 300 mm q = 107 kg/m
Ts = 16 mm tb = 10 mm A = 136 cm
2

Wx = 1980 cm
3
Wy = 481 cm
3
ix = 16,9 cm
Ix = 38700 cm
4
Iy = 7210 cm
4
iy = 7,28 cm

2. Dasar Perhitungan
Perhitungan reaksi perletakan, joint displacement dan besarnya gaya
batang dilakukan dengan menggunakan softwere Structure Analysis
Program (SAP) 2000 Versi 9. Input dan output data dapat dilihat pada
lampiran.

3.5 Pondasi
1. Dasar Perhitungan
Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi
untuk menempatkan bangunan dan meneruskan beban yang disalurkan
dari struktur atas ke tanah dasar pondasi yang cukup kuat menahannya
tanpa terjadinya differential settlement pada sistem strukturnya. Dalam
perhitungan konstruksi atap baja gable dasar perthitungan pondasi
menggunakan Pondasi Telapak Baja. Sebagai data awal dari penyelidikan
tanah, diperoleh data sebagai berikut :
Kedalaman = 1.3 m
Nilai Conus = 25 kg/cm
2

= 0 ( sudut gesek dalam tanah )
= 20 KN/m
3
( berat volume tanah )
C = 40 KN/m
3
(kohesi )
Didapatkan dari tabel kapasitas daya dukung meyerhorf ( 1963 ) dengan
= 0 , maka :
Nc = 5,41

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 19

2500
4
0
0
2
5

A
B
C
BAB IV
PERHITUNGAN KONSTRUKSI BAJA II
(GABLE)

4.1 Data Perhitungan








Ketentuan - Ketentuan :
1. Type Konstruksi : Portal Gable
2. Bahan Penutup Atap : Seng Gelombang
3. Jarak Antar Portal : 6 meter
4. Bentang kuda kuda (L) : 25 meter
5. Jarak Gording : 1,72 meter
6. Tinggi Kolom (H) : 4 meter
7. Kemiringan atap (o) : 25
0

8. Beban Angin : 55 kg/m
2

9. Bebab Berguna (P) : 100 kg
10. Alat sambung : Baut dan Las
11. Pondasi : Telapak Baja
12. Baja Profil : ST 37
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 20

13. Modulus elastisitas baja : 2.10
5
Mpa = 2. 10
6
kg/cm
2

14. Tegangan ijin baja : 1600 kg/cm
2

15. Berat penutup atap : 10 kg/m
2


4.2 Perhitungan Gording








Menghitung Panjang Balok
Diketahui (L) = 25 m
Jarak miring AB = 12,5 / Cos 25
0
= 13,79 m
Tinggi Kuda-kuda = 12,5. tg 25
0
= 5,829 m
Jarak gording yang direncanakan = 2 m
Banyak gording yang dibutuhkan = (13,79/2) + 1 = 7,89 buah
Jarak Gording yang sebenarnya = 13,79 m / 8 = 1,72m

Perhitungan Dimensi Gording
Untuk dimensi gording dicoba dengan menggunakan profil baja C
12
dengan data-data sebagai berikut :
- A = 17 cm
2

- q = 13,4 kg/m
- lx = 364 cm
4

- Wx = 60,7cm
3

- ly =4 3,2 cm
4

- Wy = 11,1 cm
3

s
b y
s
b x
r
y
A D
B
x =
1212,5 L
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 21

Pembebanan pada gording :
1. Beban Mati / Dead Load
- Berat gording = 13,4 kg/m
- Berat penutup atap (1,72 m x 10 kg/m
2
) = 21.164 kg/m
- Berat baut + trackstang = 2,53 kg/m
q = 37,094 kg/m

Gording ditempatkan tegak lurus bidang penutup atap dan beban mati Px
bekerja vertical, P diuraikan pada sumbu X dan sumbu Y, sehingga diperoleh:
2
5

X
X
Y
q
qx
qy

Gambar gaya kerja pada gording

qx = q . sin = 37,094 . sin 25
0
= 15,68 kg/m
qy = q . cos = 37,094 . cos 25
0
= 33,62 kg/m
Gording diletakkan di atas beberapa tumpuan (kuda-kuda), sehingga
merupakan balok menerus di atas beberapa tumpuan dengan reduksi momen
lentur maksimum adalah 80 %.

Gambar gaya kerja pada beban hidup atau beban berguna
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 22

Momen maksimum akibat beban mati :
Mx 1 = 1/8 . qx . (l)
2
. 80%
= 1/8 . 15,68. (6)
2
. 0,8
= 56,448 kgm
My1 = 1/8 . qy . (l)
2
. 80%
= 1/8 . 33,62. (6)
2
. 0,8
= 121,032 kgm

2. Beban Hidup / Live Load







Gambar gaya kerja pada beban hidup atau beban berguna

Beban berguna atau beban hidup adalah beban terpusat yang bekerja di
tengah-tengah bentang gording, beban ini diperhitungkan kalau ada orang
yang bekerja di atas gording. Besarnya beban hidup diambil dari PPURG
1987, P = 100 kg


Px = P . sin o
= 100 . sin 25
0
= 42,26 kg
Py = P . cos o
= 100 . cos 25
0
= 90,63 kg
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 23

Momen yang timbul akibat beban terpusat dianggap Continous Beam.

Gambar momen akibat beban berguna

Momen maksimum akibat beban hidup
Mx 2 = ( . Px . l) . 80 %
= ( . 42,26 .6) . 0,8
= 50,712 kgm
My 2 = ( . Py . l) . 80 %
= ( . 90,63 . 6) . 0,8
= 108,756 kgm

3. Beban Angin
Beban angin diperhitungkan dengan menganggap adanya tekanan positif
(tiup) dan tekanan negatif (hisap), yang bekerja tegak lurus pada bidang atap.
Menurut PPPURG 1987, tekanan tiup harus diambil minimal 25 kg/m
2
.
Dalam perencanaan ini, besarnya tekanan angin (w) diambil sebesar 65
kg/m
2
.
2
5

X
X
Y
W

Gambar gaya kerja pada beban angin

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 24

Ketentuan :
- Koefisien angin tekan ( c ) = (0,02 x o - 0,4)
- Koefisien angin hisap ( c ) = - 0,4
- Beban angin kiri (W
1
) = 55 kg/m
2

- Beban angin kanan (W
2
) = 55 kg/m
2

- Kemiringan atap (o) = 25
0

- Jarak Gording = 1,72 m

Koefisien Angin
- Angin tekan ( c ) = (0,02 . o - 0,4)
= (0,02 . 25
0
- 0,4)
= 0,1
- Angin hisap ( c
1
) = -0,4
- Angin Tekan (wt) = c x W
1
. (jarak gording)
= 0,1 . 55 . (1.72)
= 9,46 kg/m
- Angin Hisap (wh) = c
1
. W
1
. (jarak gording)
= -0,4 . 55 . (1.72)
= -37,84 kg/m

Momen maksimum akibat beban angin
Dalam perhitungan diambil harga w (tekan terbesar)

W max = 37,84 Kg/m
W x = 0, karena arah beban angin tegak lurus sumbu batang balok.

Jadi momen akibat beban angin adalah :
Akibat Wx = 0
Mx
3
= 1/8 . Wx . (l)
2
. 80 %
= 1/8 . 0 .6 . 0,8
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 25

= 0 kgm
Akibat Wy = 37,84
My
3
= |1/8 . W . (l)
2
| . 80%
= |1/8 . 37,84 . (6)
2
| . 0,8
= 136,224 kg
Tabel perhitungan momen
P dan M
Atap + Gording
(Beban Mati)
Beban Orang
(Beban Hidup)
Angin
q, P 37,094 100 55
qx,
Px
15,68 42,26 0
qy,
Py
33,62 90,63 9,46
Mx 56,448 50,712 0
My
Mxxxxxxxxx
xxx
121,032 108,756 136,224

4. Kombinasi Pembebanan
- Akibat Beban Tetap
M = M Beban Mati + M Beban Hidup
Mx

= M
x1
+ M
x2

= 56,448 + 50,712
=107,2 kgm
My = M
y1
+ M
y2

= 121,032+ 108,756
= 229,788 kgm
Akibat Beban Sementara
M = M Beban Mati + M Beban Hidup + M Beban Angin
Mx

= M
x1
+ M
x2
+ M
x3

= 56,448+ 50,712+ 0
= 107,2 kgm

My

= M
y1
+ M
y2
+ M
y3

= 121,032+ 108,756 + 136,224
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 26

= 366,012 kgm

5. Kontrol Tegangan
- Akibat Beban Mati + Beban Hidup
Wx
My
Wy
Mx
+ = o o = 1600 kg/cm
2

7 , 60
22978
1 , 11
10702
+ = o = 1342,69 kg/cm
2
o = 1600 kg/cm
2

o = 1342,69 kg/cm
2

o =1600 kg/cm
2
............ OK
- Akibat Beban Mati + Beban Hidup + Beban Angin
Wx
My
Wy
Mx
+ = o o = 1600 kg/cm
2

7 , 60
36601
1 , 11
10702
+ = o = 1567,13 kg/cm
2
o = 1600 kg/cm
2

o = 1567,13 kg/cm
2

o =1600 kg/cm
2
............. OK

6. Kontrol Lendutan
Lendutan yang diijinkan untuk gording ( pada arah x terdiri 2 wilayah
yang ditahan oleh trakstang).
Syarat lendutan yang diizinkan akibat berat sendiri dan muatan
hidup adalah :
f = 1 /300 1/400 L
Akibat Beban Mati :
Fx
1
=
( )
.43,2 10 . 2,1 . 384
600/7 . ,1568 0 . 5
Iy E. 384..
5.qx.L/7
6
4
4
= = 0,0011 cm
Fy
1
=
( )
.364 10 . 2,1 . 384
600 . 4084 , 0 . 5
Ix E. 384..
5.qy.L
6
4
4
= = 0,90 cm

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 27


Akibat Beban Hidup :
Fx
2
=
( )
.43,2 10 . 2,1 . 8 4
600/7 . 26 , 2 4
Iy E. 48..
Px.L/7
6
3
3
= = 0,0061 cm
Fy
2
=
( )
364 . 10 . 2,1 48.
600 . 63 , 0 9
Ix E. 48..
Py.L
6
3
3
= = 0,534 cm
Akibat Beban Angin :
Fx
3
=
( )
.43,2 10 . 2,1 . 384
600/7 0 . 5
Iy E. 384..
5.Wx.L/7
6
4
4
= = 0 cm
Fy
3
=
( )
364 . 10 . 2,1 . 384
600 1362 , 0 . 5
Ix E. 384..
5.Wy.L
6
4
4
= = 0,300 cm
Akibat Kombinasi Pembebanan :
Akibat Beban Mati + Beban hidup :
Fx = Fx
1
+ Fx
2
+ Fx
3
= 0,0011 + 0,0061+ 0 = 0,0072 cm
Fy = Fy
1
+ Fy
2
+ Fy
3
= 0,90 + 0,534 +0,300 = 1,734 cm
F
1
= ( ) ( )
2 2
Fy Fx + = ( ) ( )
2 2
734 , 1 0072 , 0 +
= 1,74 cm < f = 1/250 . 600 = 2,4 cm.OK
4.3 Perhitungan Batang Tarik (Trackstang)
Batang tarik (Trackstang) berfungsi untuk mengurangi lendutan gording
pada arah sumbu x (miring atap) sekaligus untuk mengurangi tegangan
lendutan yang timbul pada arah x. Beban-beban yang dipikul oleh trackstang
yaitu beban-beban yang sejajar bidang atap (sumbu x), maka gaya yang
bekerja adalah gaya tarik Gx dan Px.
Gx = Berat sendiri gording+penutup atap sepanjang gording arah sumbu x
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 28

Px = Beban berguna arah sumbu x
P total = Gx + Px = (qx . L) + Px
Karena batang tarik dipasang satu buah, jadi per batang tarik adalah :
P = P tot = (qx . L) + Px)
= {(19,04. 10) + 42,26}/2
= 116,37 kg
o =
Fn
P

s = 1600 kg/cm
2
, dimana diambil o =
F
n
=
o
P
=
1600
37 , 116
= 0,07273 cm
2

F
br
= 125% . F
n
= 1,25 . 0,07273 = 0,09 cm
2

F
br
= . t . d
2
, dimana :
34 . 0
14 , 3
09 . 0 . 4 . 4
= = =
t
br
f
d cm
Maka batang tarik yang dipakai adalah 10 mm.

4.4 Perhitungan Ikatan Angin
Ikatan angin hanya bekerja menahan gaya normal ( axial ) tarik saja.
Adapun cara kerjanya adalah apabila salah satu ikatan angin bekerja sebagai
batang tarik, maka yang lainnya tidak menahan gaya apa apa. Sebaliknya
apabila arah angin berubah, maka secara bergantian batang tersebut bekerja
sebagai batang tarik.


N dicari dengan syarat keseimbangan, sedangkan
P = gaya / tekanan angin.
_

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 29

Beban angin = 55 kg/cm
2
P = beban angin x (a x b)/2
P = 0,5.55.6.13,79 = 2275,35 kg = 2275,35/4= 568,84 kg
|

= arctg.
6
792 , 13
= 66,41
o
Nu

=
a
P
| cos
=
o
41 , 66 cos
84 , 568
= 1421,42 kg.
89 , 0
1600
42 , 1421
= = = =
o
o
N
Fn
Fn
N
cm
2
Fbr = 125% . Fn = 89 , 0 25 . 1 = 1,11 cm
2
.
Fbr = t d
2
d =
t
Fbr . 4
=
14 . 3
11 , 1 4
= 0,7 cm. ~ 7 mm
Maka ikatan angin yang dipakai adalah 16 mm















Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 30

4.5 Menghitung Pembebanan pada Portal Gabel
Sebelum mendimensi portal gabel, hal terpenting yang pertama
dilakukan adalah mengidentifikasi beban yang bekerja pada konstruksi.
Beban tersebut nantinya akan menentukan ekonomis atau tidaknya suatu
dimensi portal. Distribusi pembebanan pada atap Type F 1 adalah sebagai
berikut :
Data-data yang diperlukan :
- Jarak antara kuda-kuda = 6 m
- Bentang kuda-kuda = 25 m
- Kemiringan atap = 25
0

- Dimensi kuda-kuda (dicoba) = IWF
400 . 300 . 10 . 16

- Jarak gording = 1,72 m
- Berat sendiri penutup atap = 10 kg/m
2


1. Akibat Beban Mati (Dead Load)
Pembebanan pada Balok Gable akibat beban-beban yang dipikul oleh
1 gording dengan bentang 2 m :
- Berat penutup atap = 10 kg/m
2

P = berat penutup atap x jarak gording
= 10 kg/m
2
. (1,72 m) = 189,2 kg/m
- Berat sendiri gording
P = berat sendiri gording + jarak kuda-kuda
= 25,3 kg/m x 6 = 151,8 kg/m
- Berat kuda-kuda (dicoba IWF
400 . 300 . 10. 16
)
Berat sendiri = 107 kg/m
P =107 x 1,72 kg/m = 184,04 kg/m
- Berat ikatan angin (P = 25% P kuda-kuda)
P = 0,25 . 184,04 kg = 46,01 kg/m


Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 31

- Berat alat penyambung (10 % . P kuda-kuda)
P = 0,1 . 184,04 kg = 18,404 kg/m +
Berat total beban mati (DL) = 589,45 kg/m
Pendimensian pada SAP 2000 v.12, berat sendiri kuda-kuda sudah
termasuk dalam perhitungan pendimensian sehingga berat sendiri kuda-kuda
tidak dihitung.
Jadi Ptotal (untuk perhitungan SAP) = DL berat kuda-kuda
= 405,41 kg/m
2. Akibat Beban Hidup (Life Load)
Beban Hidup (LL) = 100 kg/jarak gording

3. Akibat Beban Angin (Wind Load)
Koefesien angin (C)
Angin tekan (W
tk
) = C
tk
. W. L = 0,2 . 25 . 6 = 30 kg/m
Angin hisap (W
hs
) = C
hs
. W. l = -0,4 . 25 . 6 = -60 kg/m
Angin tekan (W
tk
) = C
tk
. W. L = 0,2 . 35 . 6 = 42 kg/m
Angin hisap (W
hs
) = C
hs
. W. l = -0,4 . 35 . 6 = -84 kg/m

Pw
x
tk = Pw cos o = 30 . cos 25
0
= 27,18 kg
Pw
y
tk = Pw sin o = 42 . sin 25
0
= 38,06 kg
Pw
x
hs = Pw cos o = -60 . cos 25
0
= -54,378 kg
Pw
y
hs = Pw sin o = -84 . sin 25
0
= -76,13 kg

4.6 Menghitung Gaya Gaya Dalam
Perhitungan reaksi perletakan, joint displacement dan besarnya gaya
batang dilakukan dengan menggunakan softwere Structure Analysis Program
(SAP) 2000 Versi 12. Input dan output data dapat dilihat pada lampiran,
sedangkan dibawah ini adalah resume dari perhitungan gaya-gaya yang
bekerja.31
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 32

Hasil input SAP diperoleh sebagai berikut :














Gambar 1.Rasio













Gambar 2.Reaksi Perletakan Comb 1

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 33















Gambar 3.Reaksi Perletakan Comb 2













Gambar 4.Gaya Lintang Comb 1


Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 34














Gambar 5. Gaya Lintang Comb 2













Gambar 6.Momen Comb 1



Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 35














Gambar 7.Momen Comb 2













Gambar 8.Gaya Normal Comb 1



Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 36











Gambar 9.Gaya Normal Comb 2


Tabel.1.Reaksi Tumpuan
Joint
Text
OutputCase
Text
RH
Kgf
RV
Kgf
RH max
Kgf
RV max
Kgf
A COMB1 10854,5 10626,78
10854,5 10626,78 A COMB2 10238,82 9920,28
E COMB1 -10854,5 10626,78
-108854,5 10626,78 E COMB2 -10169,22 1008,21

Tabel.2.Gaya Momen
No batang Momen (M) Momen
COMB1 COMB2 Max
1 21393,83 -20189,1 21393,83
2 -19188,16 -19245,2 -19245,2
3 -19188,16 -18754,8 -19188,2
4 -21393,83 22253,78 22253,78




Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 37

Tabel.3.Gaya Lintang
No batang Lintang (L) Lintang
COMB1 COMB2 Max
1 -10145,5 -9858,69 -10145,5
2 -6247,95 -6426,09 -6426,09
3 6247,95 5925,98 6247,95
4 10145,5 10252,15 10252,15

Tabel.4.Gaya Normal
No batang Normal (N) Normal
COMB1 COMB2 Max
1 -2560,28 -2623,1 -2623,1
2 -14107,75 -13874,4 -14107,8
3 -14107,75 -14074,8 -14107,8
4 -2560,28 -2253,68 -2560,28


4.7 Kontrol Balok yang direncanakan
1. Terhadap Momen Tahanan (Wx)
Mmax = 22647,40 kgm = 2264740 kgcm
Wx =
1600
2264740
= 1415,4625 cm
3

Profil baja WF
400 . 300. 10 . 16
dengan harga Wx hitung = 1415,46 cm
3
<
Wx rencana = 1980 cm
3
, maka profil baja ini dapat digunakan.......... (OK)

2. Terhadap Balok yang Dibebani Lentur ( KIP )
Profil baja yang digunakan adalah WF
400 . 300. 10 . 16
dengan data-data
sebagai berikut :
q = 107 kg/m Ix = 38700 cm
4

A = 136 cm
2
Iy = 7210 cm
4

b = 300 mm = 30 cm Wx = 1980 cm
3

h = 390 mm = 39 cm Wy = 481 cm
3

ts = 16 mm = 1,6 cm ix = 16,9 cm
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 38

tb = 10 mm = 1 cm iy = 7,28 cm
r = 22 mm

Cek Profil berubah bentuk atau tidak :
- h/tb < 75
39/1 < 75
39 < 75
- L/h > 1,25 . (b/ts)
172/39 > 1,25 . (30/1,6)
4,5 > 25,43
Jadi pada penampang terjadi perubahan bentuk (PPBBI 1984 pasal (1)).
Terhadap bahaya lipatan KIP.
= = ) 16 2 ( 300
6
1
6
1
x hb 44,66 = 4,466 cm
- Iy Bidang yang diarsir =
3 3
) 1 ( ) 466 , 4 (
12
1
( ) ) 30 ( ) 6 , 1 (
12
1
( +
= 360 + 0,372 = 360,372 cm
4

- Luas yang diarsir = (0,16 x 30) + (1 x 4,466) = 9,266 cm
2

iy = =
266 , 9
372 , 360
6,2 cm
=
iy
Lk
dengan L panjang batang = 1379 cm
Dimana Lk jarak antara titik-titik sokong lateral = 300 cm
= =
2 , 6
300
48,38 e = 1,215 + ) 205 . 1 215 , 1 (
48 49
47 38 , 48


e = 1.228 tabel 3 hal 15 PPBBG
Syarat Berubah Bentuk
o o e s
KIP

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 39

=

=
2
2
2
2
2
2
)
2 , 6
1379
(
2100000 14 . 3
) (
iy
L
E
y
E
KIP
t

t
o 418,5 kg/cm
2
o o e s
KIP
1,228 x 418,5 = 513 kg/cm
2
< 1600 = o kg/cm
2

Jadi balok IWF
400 . 300 . 10 . 16
aman dan tidak mengalami tegangan KIP

- Kontrol Terhadap Tegangan Lentur yang Terjadi
Wx
M
max
= o s 1600 = o kg/cm
2

2
/ 80 , 1143
1980
2264740
cm kg = = o
2 2
/ 1600 / 80 , 1143 cm kg cm kg = s = o o OK
Jadi balok aman terhadap tegangan lentur.



2. Kontrol Terhadap Tegangan Geser yang Terjadi
t =
Ix tb
Sx D
.
.

D = 10854,59 kg

Tegangan geser yang diijinkan
2
/ 960 1600 . 6 , 0 . 6 , 0 cm kg = = = o t
Sx =
h
Ix
. 5 , 0
=
0,5.39
38700
= 1984,6 cm
3

38700 . 65 , 0
1984,6 . 59 , 10854
= t = 856,37 kg/cm
2

= 856,37 kg/cm
2
< 960 kg/cm
2
.................OK
Jadi balok aman terhadap tegangan geser.


Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 40

4.8 Perhitungan Kolom
Dalam perhitungan dimensi profil, diambil batang profil yang
menerima beban terbesar, sedangkan yang lainnya disamakan. Dicoba dengan
menggunakan Profil baja yang digunakan adalah IWF
400 x 300 x 10 x 16
dengan
data data sebagai berikut :

h = 390 mm b = 300 mm q = 107 kg/m
Ts = 16 mm tb = 10 mm A = 136 cm
2

Wx = 1980 cm
3
Wy = 481 cm
3
ix = 16,9 cm
Ix = 481 cm
4
Iy = 7210 cm
4
iy = 7,28 cm

Dari hasil analisis SAP didapat Pu kolom sebelum menggunakan
crane sebesar 22647,40 kg,karena menggunakan crane maka Pu ditambah
dengan Pu setelah menggunakan crane
Asumsi : jepit sendi

Lk = 0.7 * h
1
= 0.7 * 400 = 280 cm
r
min


r
min
1,12 cm
Mencari luas bruto minimum :
Agmin =

; dimana = 0.85
Nilai berdasarkan nilai c :
c =


= 2,69
Karena c > 2,69, maka nilai = 1.25 c
2
= 9.0451
Maka nilai Ag
min
=

= 59,1 cm
2

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 41

Kontrol penampang
1. Cek kelangsingan penampang
Pelat sayap
< p
=

= 18,75
p =


= 108,44
= 18,75 < p = 108,44.OK!!!
Pelat badan
< p
=

= 39
p =


= 108,44
= 39 < p = 108,44.OK!!!
2. Kuat tekan rencana kolom, Pn
Pn = 0.85*Ag*Fy
= 0.85x136x2400 = 277440 kg

0.2

= 0.048 0.2, maka digunakan persamaan :

1

3. Kuat lentur rencana kolom, Mnx
Mnx = Fy . Wx
= 2400 . 1980 = 4752000 kgcm = 47520 kgm
Diperoleh nilai Mmax = 18352,42 (akibat momen balok crane)

4. Rasio tegangan total

1
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 42

1
0,45 1 OK
Jadi kolom IWF
400 . 300 .10 . 16
kuat menerima beban dan memenuhi
syarat.
4.9 Perhitungan Balok Cranegirder
1. Data data Crane
Kapasitas Crane = 5 ton
Berat Sendiri Crane = 20 ton
Berat takel = 2 ton
Jarak bersih dihitung dari sisi atas rel ke puncak kolom = 1 m
Berat sendiri rel (ditaksir) = 30 kg/m
Jarak roda-roda Crane = 3.6 m
Jarak bersih dari permukaan lur kolom ke rel = 25 cm
Jarak minimum lokasi takel terhadap rel = 1 m
RA = (20) + 7 (23,55/24,55)
RA = 16,71 ton dipikul 2 roda tekan, masing masing 8,35 ton

Sekarang Tinjau Balok Crane Bentang 6 meter
Agar diperoleh momen maksimum, maka anatra resultante gaya 2 roda
merupakan lokasi as balok tersebut
RA =

= 10,8 ton
RB = 16,71 10,8 = 5,91 ton
Momen maksimun yang terjadi :
Dititik b = 10,8 (3-0,9-1,8) = 3,24 tm
Dititik a = 5,91(3-0,9) = 12,411 tm
Momen maksimum = 12,411 tm
Koefisien kejut = 1.15 (PPI 1983)
Momen maksimum pada balok crane akibat beban hidup
= 1.15(12,441)
= 14,27 tm
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 43


Akibat Beban Mati
Berat sendiri rel + berat sendiri balok crane = 30 + 150 = 180 kg/m
M =

(180)(6) = 135 kgm = 0,135 tm


Jadi momen total = 14,27 + 0,135 = 14,405 tm

Reaksi Maksimum Balok Crane
Terjadi jika salah satu roda crane tepat pada perletakkan balok tersebut,
Berat sendiri rel + berat sendiri balok crane = 180 kg/m

Akibat Beban Hidup Crane
RA = 8,35 + 8,35 ((6-3,6)/6) = 11,69 ton
Koefisien kejut = 1.15, maka RA = 13,44 ton
Akibat beban sendiri rel + balok crane
RA = 0.5(0.18)(6) = 0,54 ton
Jadi, RA = 13,44 + 0,54 = 13,98 ton

Gaya Rem Melintang (Lateral Force)
Biasanya 1/15 (beban kapasitas crane + berat takel) umtuk : lintasan
dimana ada 2 roda
Beban lateral per roda = 0.5 x

(5+2) = 0.233 ton


Kita sudah tahu bahwa akibat beban roda 8,35ton, momen maksimum
yang bekerja pada balok crane = 12,411 tm
Jadi akibat 0.2333 ton, momen = (0.233/8,35)12,411 = 0,346 tm

Menentukan Profil Balok Crane
Mutu baja St.37
Momen maksimum yang dipikul = 14,405 tm
Wx =

= 900,3 cm
3

Coba IWF
300.200.8.12
, dimana Wx = 771 cm
3
.
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 44

Dikombinasikan dengan memakai profil kanal C
12
, yang diikatkan pada
flens IWF.

Tentukan Garis Berat Penampang Gabungan
Berjarak y dari serat atas :
y =
( )()

= 9,56 cm
Ix = 11300 + (72,4)(12,5+0,9-9,56)
2
+ 197 +(37,4)(9 2,14)
2

= 13590,215 cm
4

Cek kembali terhadap momen maksimum :

atas
=

= 1013,3 kg/cm
2

tekan
=

(-)

= 2198,3 kg/cm
2


Pengecekan Tegangan Akibat Beban Lateral
Iy = Ix
kanal
+ Iy
flen
s tertekan dari IWF dimana Iy
flens
tekan IWF diambil
= 2690 + 800
= 3490 cm
4

Momen maksimal lateral = 0,342 tm

tekan
=

()

= 108,11 kg/cm
2

tekan total = 108,11 + 1013,3 = 1121,41 kg/cm
2

Mencari Tegangan Izin KIP dari Balok Crane
Karena akibat beban lateral tersebut, balok crane mengalami KIP

cr
= 1.0363x10
7


(1+0.156

)
0.5
+ k
2


Dimana :
Iy = inersia penampang total terhadap sumbu y
= 2690+ 1600 = 4290 cm4
H = jarak titik berat flens tekan (terdiri dari kanal + flens IWF)
terhadap titik berat flens tarik
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 45

Mencari titik berat flens tekan:
y =
( )( )()
()

= 1,91 cm
Jarak titik berat flens tekan kef lens tarik = (29,1+0.9- (

) - 27)
= 2,7 cm
Tentukan Konstanta Torsi
J =

b t
3

Dimana :
b = ukuran terbesar dari penampang persegi
t = ukuran terkecil dari penampang persegi
untuk :
badan IWF =

(29,4-1.2-1.2)(0.9)
3
= 6,561 cm
4

flens IWF =

20(1)
3
. 2 = 23,04 cm
4

badan kanal =

(22-1,25-1,25) (0.9)
3
= 4,74 cm
4

flens kanal =

(8)(1.25)
3
. 2 = 10,41 cm
4

maka, J = 44,76 cm
4
Menentukan harga k
2
dari table
n =



=

= 0,8
Dari tabel k2 (Tabel 5-4 Desain Of steel structures by arya armani
didapat) :
k
2
= 0,6

cr
= 1.0363x10
7

(1+0.156

)
0.5
+ 0.6


= 3439,7 + 1448,5 = 4888,2 kg/cm
2

Mutu baja yang digunakan gunakan St.37,
y
= 2400 kg/cm
2
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 46

cr
>
y
maka dipakai angka kekakuan ekivalen

untuk menentukan
izin KIP

= 20,72

cr =
*

)

1970,69 kg/cm
2

= 1180 kg/cm
2

Sedangkan tekanan yang bekerja 1121,41 kg/cm
2
<
kip
= 1180 kg/cm
2

Balok crane aman terhadap KIP

Gaya Rem Memanjang
Besarnya 1/7 reaksi maksimum yang terjadi pada masing-masing roda
= 1/7 (8,35) = 1,19 ton. Gaya ini bekerja pada rel.
Jika tinggi rel = 7.5 cm maka momen memanjang = 1,19 (7.5 + 9,56)
= 20,3 ton.
Tegangan yang terjadi :
=


= 10,8 + 11,7 = 22,5 kg/cm
2

Sangat kecil jadi diizinkan

Menentukan Hubungan Profil IWF dan Kanal
Gaya lintang maksimum yang bekerja = 10,58 ton
t . b =
Ix
Sx D
.
.

Sx = 37,4 (9,56-2,14) = 277,5 cm
3

Gaya geser horizontal yang bekerja pada bidang kontak
Flens IWF dan kanal =

= 214,19 kg/cm
Untuk sepanjang 600 cm, gaya geser horizontal = 214,19 x 400
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 47

= 85678,5 kg
Dipikul oleh baut (pakai baut hitam mutu 4.6) M16
N
geser
1 irisan = (1.2)
2
0.6.1600 = 1085.7344 kg
Nt
umpuan
= 1.7x0.9x1600x1.5 = 3672 kg
Jumlah baut =

= 78,9 pakai 2 x 50
Cek jarak baut : maksimum = 7d = 7 * 1.6 = 11.2 cm, pakai 12 cm
Jadi jumlah baut satu baris =

= 50 buah
Jadi, pakai 2 baris baut M16 jarak satu sama lain = 12 cm

Merencanakan Konsol
Reaksi balok crane pada lokasi konsol akan maksimum jika salah satu
roda tepat berada di perletakkan tersebut.
RB = 8,35 + 2,4/6(8,35) = 13,09 ton
Koef kejut = 1,15
Jadi akibat beban crane
RB = 1,15 x 13,09 = 15,05 ton
Akibat beban rel = 30 x 6 = 180 kg
Akibat balok crane = (29,4 + 56,8)x6 = 517,2 kg
Rtotal = 5,05 + 0,18 + 0,5172 = 15,74 ton
M = 15,74 x 0.225 = 3,54 tm
Pada lokasi gaya, bekerja tegangan geser
=


= 16,96 cm
2

Coba IWF 200.100.4,5.7
A
badan
= 0.45(20-0.7-0.7) = 8.375 cm
2
, berartai sisanya harus dipikul oleh
potongan WF setinggi (16,96-8.375)= 8,58 ambil 10 cm
Panjang konsol ambil 20,5 + 20 = 42,5 cm,
Tinggi IWF potongan pada sisi luar kolom =

() = 21,25 cm, pakai


baut HTB 16 mm, jarak baut diambil 7d = 112 mm, ambil 100mm
Kt baut no 1 =

= 2400 kg (dipikul 2 baut)


Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 48


Sebelumnya ebih baik periksa terlebih dahulu IWF konsol tepat di
sebelah kanan sedikit dari luar kolom.
M = 3,54 tm
D = 15,74 ton
Cek penampang sedikit sebelah kanan permukaan luar kolom.
Data data :
Ix = 1580 cm
4
A = 23.18 cm
2

y =
() ()
()

=

= 21,8 cm
Ix = 1580+(23.18)(21,8-6)
2
+

()( )

+
0.45(21.25)(20+21.25 21,8

)
2
+

()()

+
10 (0.7)(20+21.25 0.55)
2

= 17305,2 cm4

atas
=

= 445,9 kg/cm
2

untuk geser, anggap hanya dipikul beban
=

()
= 877,7 kg/cm
2
< 0.6
ijin
= 960 kg/cm
2
.......OK

i
= (300
2
+3x877,7)
0.5

=1549 kg/cm
2
< 1600 kg/cm
2
OK

Perhitungan Baut
Baut HTB 16 mm tipe A325_N

tr
=

()

= 597 kg/cm2 < 44ksi (3080)..OK


Gaya tarik awal T untuk 16 mm tipe A325 = 85 KN = 85000/9.8
= 8673.5 kg, tegangan geser izin (akibat gabungan tarik + tekan)

ijin
= Fv(1

), dimana Fv = 15ksi = 1050 kg/cm


2

= 1050 (1

) = 953 kg/cm
2

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 49

Jumlah baut = 10 buah, gaya geser = 15,740 ton

()

= 783 kg/cm
2
< 960 kg/cm
2
..OK


4.10 Perhitungan Base Plat
Gaya Normal dan gaya lintang yang terjadi pada kolom setelah dibebani
Crane adalah :
DA = 10854,5 kg
NA = 22647,4 kg
Mmax = 22647,4 kgm = 226474 kgcm
Ukuran Base Plate ditaksir 45 cm x 35 cm dan tenat 10mm = 1cm
Kontrol tegangan yang timbul :
b =

< bijin = 225 kg/cm


2

F = a.b =45 x 35 = 1575 cm
2
Wu =

. a
2
. b =

. 45
2
. 35 = 11812,5 cm
3
b =


= 143,79 + 19,172 = 162,96 kg/cm
2
< 225 kg/cm
2
OK

Angker Baut
Angker yang digunakan sebanyak 4 buah
Akibat beban Gaya geser, tiap baut memikul beban

= 2713,625 kg
Diameter angker baut d =


/4
= 1,89 cm = 19 mm
Ambil baut 16 sebanyak 4 buah
Fgs = 4 . . . d
2

= 4 . . . 1.6
2
= 8,0384 cm
2

Kontrol tegangan yang terjadi
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 50

=

= 337,58 kg/cm
2
< 960 kg/cm
2
..OK

4.11 Perhitungan Sambungan
1. Pertemuan balok dan kolom
Bekerja momen 13424,38 kgm
Pakai baut 16
Jarak baut dalam satu baris ambil 5d = 8 cm (antara 2,5d s/d 7d)
6
0
6
4
6
4
7
6
6
4
6
4
6
4
6
4
1
2
3
4
6
5
ambil 500mm
coba pakai 2x6 baut
HTB16 tipe A325

Tinjau akibat momen 13424,38 kgm
Berarti baut no.6 tertarik dan sebagai titik putar ambil baut no.1
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
t
8 16 24 32 40 48 6 5 4 6 2 7 0 8
) 8 8 8 8 8 8 8 8 .100(8 13424,38
K
+ + + + + + + + +
+ + + + + + + +
= = 6617,69 kg
Dipikul 2 baut masing-masing = 3308,08 kg
) 6 , 1 (
4
1
08 , 3308
2
tr
t
o = = 1646,51 kg/cm
2
< 44ksi = 3080kg/cm
2
.............OK
Gaya geser yang bekerja 2408,08 kg karena geser bekerja secara
bersamaan dengan tarik, maka tegangan izin Fv = Fv (1 -

(f
t
. A
baut
))
Dimana T = gaya pratarik awal = 125 KN untuk A32516 mm
= 125000/9.8 = 12755 kg
f
t
. A
baut
=

= 4839,28 kg
Fv = 1050(1 -

()) = 1048,621 kg/cm


2

Yang bekerja =

()

= 99,85 kg/cm
2
< 862,94 kg/cm
2
......OK
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 51

2. Perhitungan Sambungan di titik Bahul
MC = 4988,19 kgm = 498819 kgcm
DC = 3388,19 kg
cm h 2 , 66
25 cos
30
2 = =
Diameter baut ditaksir C = 12.7 mm
Jarak antar baut :
S1 = 1,5 d - 3 d
1,5(12.7) - 3(12.7)
19.05 mm - 38.9 mm
1.905cm - 3.89 cm diambil S = 3 cm
S = 2,5 d - 7 d
2,5(12.7) - 7(12.7)
31.75 mm - 88.9 mm
3.175 cm - 8.89 cm diambil S = 8 cm
Direncanakan menggunakan baut C sebanyak 2 x 6 buah.
1
1
= 3 cm (1
1
)
2
= 9 cm
2

1
2
= 9 cm (1
2
)
2
= 81 cm
2

1
3
= 15 cm (1
3
)
2
= 225 cm
2

1
4
= 21 cm (1
4
)
2
= 441 cm
2
1
5
= 27 cm (1
5
)
2
= 729 cm
2

1
6
= 33 cm (1
6
)
2
= 1089 cm
2
+
1
2
= 2574 cm
2

Gaya baut terbesar pada baut paling atas ( T ) :
kg
l
l M
T 79 , 193
2574
498819 .
2
6
= =

=
Karena baut berpasangan, maka setiap baut menerima gaya sebesar :
P = .T = . 227,038 = 387.58 kg
Kontrol tegangan aksial akibat momen terhadap ulir :
2
2
4
1
2
4
1
/ 74 , 494
999 . 0 . 14 , 3 .
387,58
. .
cm kg
d
P
u
ta
= = =
t
o
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 52

dimana du = 9.99 mm = 0.999 cm
2 .
0, 7. 0, 7.1600 1120
t ijin
kg
cm
o o = = =

2
.
2
/ 1120 / 74 , 494 cm kg cm kg
ijin t ta
= < = o o . OK
Gaya geser baut akibat gaya lintang :
D
D
= 3388,19 kg
Setiap baut memikul gaya geser sebesar Q = V/6 = 3388,19/6= 564,69 kg
Gaya geser pada baut :
2 2
2
4
1
/ 960 / 446
7 . 12
564,69
cm kg cm kg
A
Q
bout
= < =

= = t
t
t . OK
Kombinasi gaya geser dan gaya aksial baut :
2 2
56 , 1 t o o + = ta
t

2 2 2 2
/ 1600 / 021 , 745 ) 446 ( 56 . 1 72 , 494 cm kg cm kg
t
= < = + = o o



Gaya geser pada ulir :
2 2
2
4
1
/ 960 / 79 , 720
999 , 0 . .
69 , 564
cm kg cm kg
A
Q
bout
= < = = = t
t
t ..OK

3. Perhitungan Las Pelat Sambung Arah Sejajar Kolom
Tebal las ditaksir a = 4 mm = 0,4 cm
Panjang las (lbr) = 36 cm
P = N balok = 13424,38 kg
Beban ditahan oleh las kiri dan las kanan, masing-masing sebesar P kiri
dan P kanan, dimana :
Pki = Pka = . P = . 13424,38 = 6712 kg
Ln = lbr 3a = 36 (3 x 0,4) = 34.8 cm
D = Pki . sin 45 = 6712 . sin 45 = 4746 kg
2 2
/ 960 / 11 , 466
4 . 0 36
6712
cm kg cm kg
a lbr
P
Fgs
P
= < =

= = t t ..OK
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 53

2 2
/ 1600 / 59 , 295
4 , 0 8 . 34
4114,65
.
cm kg cm kg
a l
N
F
N
n tr
= < =

= == = o o
..OK
Kontrol :
2 2 2 2 2 2
/ 1600 / 73 , 859 11 , 466 3 59 , 295 3 cm kg cm kg
i
= < = + = + = o t o o
Kesimpulan : Tebal las 0,4 cm dapat digunakan pada pelat penyambung
arah sejajar kolom.

4. Perhitungan Las pelat Sambung Arah Sejajar Balok
Tebal las ditaksir a = 4 mm = 0,4 cm
Panjang las (lbr) = 100 cm
Mc = 498819 kgcm
Ln = lbr 3a = 100 (3 x0,4) = 98.8 cm
e = 1/3 . H + .0,4 .\2
= 1/3 x 66.2 + x 0.4 . \2
= 22.21 cm
kg
e
M
D 2 , 22459
21 . 22
498819
= = =
D = N = D sin 45 = 22459,2 sin 45 = 15881,05 kg
2 2
/ 960 / 026 , 397
4 . 0 100
15881,05
.
cm kg cm kg
a l
D
F
D
br gs
= < =

= == = t t
.OK
2 2
/ 1600 / 84 , 401
4 . 0 8 . 98
15881,05
.
cm kg cm kg
a l
N
F
N
n tr
= < =

= == = o o ....OK
Kontrol :
2 2 2 2 2 2
/ 1600 / 9 , 932 84 , 401 3 026 , 397 3 cm kg cm kg
i
= < = + = + = o t o o
...OK

Kesimpulan : Tebal las 0,4 cm dapat digunakan pada pelat penyambung
arah sejajar balok.

4.12 Perhitungan Pondasi
Sebagai data awal dari penyelidikan tanah, diperoleh data sebagai berikut :
Kedalaman = 1.3 m
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 54

Nilai Conus = 25 kg/cm
2

= 0 ( sudut gesek dalam tanah )
= 20 KN/m
3
( berat volume tanah )
C = 40 KN/m
3
(kohesi )
Didapatkan dari tabel kapasitas daya dukung meyerhorf ( 1963 ) dengan =
0 , maka :
Nc = 5,41
Nq = 1
N = 0

Perhitungan kapasitas daya dukung
Reaksi horizontal = 10854,50 kg = 108,545 KN
Reaksi vertikal = 10626,78 = 106,2678 KN
Momen = 22647,40 kg.m = 226,474 KN.m

Perhitungan daya dukung tanah
Direncanakan kedalaman tanah D = 1,3 m
Beban Vertikal total Pv = reaksi vertikal + berat kolom ( 40/30 5,3 meter )
= 106,2678 + 0,4. 0,3. 5,3 ( 16 ) = 116,44 KN
Sudut arah gaya yang di bentuk Pv dan reaksi horicontal ( RH ) dari
pondasi :
=
(

=

RH
Pv
tan o 9 , 46
545 , 108
44 , 116
tan =
(

0

- Daya dukung pondasi adalah:

t
=

dimana qc = tekanan ujung konus ( kg/cm


2
)

SF = safety factor ( diambil = 0,5 )

t
=

= 12,5 kg/cm
2


Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 55

Ny =

Ny = factor daya dukung tanah



=

= 31,25 kg/cm
2

- Daya dukung untuk taksiran sebesar 25 mm menurut Mayer Hoff

q
a =

= 104,17 kg/cm
2


B =*

= *

= 35,77 cm
2
= 3,577 m 3,6 m

Luas pondasi = 1,5 x 1,5 = 2,25 m
2
Sc = 1 + 0,2 B/B tg
2
( 45 +/2 ) =1 + 0,2 .1. tg
2
( 45 + 0/ 2 ) = 1,2
Sq = 1
867 , 0
5 , 1
3 , 1
= =
B
D

Dc = 1 + 0,2 D/B Tg
2
(45+/2) = 1 + 0,2 . 0,867 tg
2
( 45 + 0/2 ) = 1,17
Dq = 1
Ic = iq = 1 /90 = 1 0,75 / 90 = 0,99
Po = D = 1,3 x 20 = 26
Kapasitas daya dukung tanah , dengan N = 0
qu = Sc.dc.ic.c.Nc + Dq . dq . iq .Po. Nq
= 1,2 .1,17 . 0,99 .40 . 5,41 + 1.1. 0,99 . 26 . 1
= 329,10
qun = qu D = 329,1 26 = 303,1
dengan menggunakan angka keamanan = 5, maka
q safe = qun/5 = 303,1/ 5 = 60,62
Psafe = q safe .B . B = 60,62 x 1,5 x 1,5 = 136,395
Kontrol Pv =83,60 KN P safe = 136,395 KN ........................OK

Dimensionering pondasi
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 56

Fc = 20 Mpa
Tebal pondasi direncanakan setebal = 200 mm
D = h (1/2 tul pokok + degging ) = 200 ( 20 +60 ) = 130 mm = 0,13 m
Dimensi rencana dipakai bujursangkar B = 1,5 m

Stabilitas pondasi
Keliling kritis bo = 2 (( 0,3 + 0,13/2 ) + ( 0,4 + 0,13/2 )) = 1,66 m
Luas kritis = ( 0,3 + 0,13/2 ) . (0,4 + 0,13/2 ) = 0,17 m
2

Luas pondasi = 1,5 x 1,5 = 2,25 m
2
Luas yang terbebani geser = 2,25 0,17 = 2,08
Gaya geser Vu = q safe . luas yang terbebani geser = 60,62 . 2,08 = 126,09
Vc = 4 fc . bo . d = 420 . 1,66 . 0,13(1000) = 4316
Vu =126,09 KN Vc =0,6 . 4316 = 2589,6 KN..............OK
Untuk geser pons cukup diantisipasi oleh kapasitas beton saja. Panjang
pembebanan geser = m 47 , 0 13 , 0
2
3 , 0 5 , 1
=
(



Gaya geser Vu = q safe . 1,5 . 0,47 = 60,62 . 1,5 . 0,47 = 42,74
Vc = 1/6 Fc . bw. D = 1/6 20. 1,5 . 0,13(1000) = 145,34
Vu = 35,64 KN Vc = 0,6x145,34 = 887,204 KN..................OK

t = 0,3m


1,5 m
Daerah pembebanan 1,5 m
geser satu arah

1,5 m
Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 57

BAB V
KESIMPULAN

Dari perhitungan perencanan yang telah dilakukan, dapat diketahui hasil
perencanaan konstruksi portal baja dengan data-data sebagai berikut :

5.1. Deskripsi
- Type Konstruksi : Portal rectangular gable
- Bahan penutup atap : Seng Gelombang
- Jarak portal : 6 m
- Panjang bentang : 25 m
- Tinggi kolom : 4m
- Kemiringan atap () : 25
0

- Berat Crane : 20 ton
- Alat sambung : Las dan baut
- Pondasi : Telapak baja

5.2. Pembebanan
- Beban mati : 37,094 kg/m
- Beban hidup : 100 kg
- Tekanan angin : 55 kg/m
- Kombinasi pembebanan
- Kombinasi 1 : Mx = 107,02 kgcm My = 229,788 kgcm
- Kombinasi 2 : Mx = 107,02 kgcm My = 366,012 kgcm

5.3. Dimensi Portal
- Dimensi gording : profil C
12

- Dimensi batang tarik (trackstang) : 10 mm
- Dimensi ikatan angin : 16 mm
- Dimensi balok gable : profil IWF
400.300.10.16

Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 58

- Dimensi kolom gable : profil IWF
400.300.10.16

- Dimensi balok crane : profil IWF
300.200.8.12

: profil kanal C
22

- Dimensi base plate : 45 cm x 35 cm dan tenat 10 mm
- Dimensi pondasi

5.4. Sambungan Baut dan Las
- Jenis Las : las sejajar
- Tebal Las Maximum : 0.4 mm
- Sambungan di balok - kolom
a. Dimensi Baut : 16mm
b. Banyak Baut : 2 x 10 baut
- Sambungan di balok - balok
a. Dimensi Baut : 16mm
b. Banyak Baut : 2 x 6 baut
- Sambungan di kolom - crane
c. Dimensi Baut : 16mm
d. Banyak Baut : 2 x 5 baut












Struktur Baja II
DANI SENDI A_1005302_PEND.TEKNIK BANGUNAN Page 59

DAFTAR PUSTAKA
T, Gunawan & S, Margaret.2005. Diktat Teori Soal dan Penyelesaian Kontruksi
Baja II Jilid 1, Jakarta : Delta Teknik Group
Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PBBI), DPMB. 1983
Catatan Kuliah Kontruksi Baja II (Semester Pendek)
Ir. Sunggono kh.1995. Buku Teknik Sipil. Bandung :Nova