Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Keratosis seboroik merupakan tumor jinak kulit yang paling banyak muncul pada orang yang sudah tua, sekitar 20% dari populasi dan biasanya tidak ada atau jarang pada orang dengan usia pertengahan. Keratosis seboroik memiliki banyak manifestasi klinik yang bisa dilihat, dan keratosis seboroik ini terbentuk dari proliferasi sel-sel epidermis kulit. Keratosis seboroik dapat muncul dalam berbagai bentuk lesi, bisa satu lesi ataupun tipe lesi yang banyak atau multipel. Walaupun tidak ada faktor etiologi khusus yang dapat diketahui, keratosis seboroik lebih sering muncul pada daerah yang terpapar sinar matahari, terutama pada daerah leher dan wajah, juga daerah ekstremitas.(1) Secara global atau internasional, keratosis seboroik merupakan tumor jinak pada kulit yang paling banyak diantara populasi di Amerika Serikat. Angka frekuensi untuk munculnya keratosis seboroik terlihat meningkat seiring dengan peningkatan usia seseorang.(2)

BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS Nama Pasien Umur Jenis Kelamin No.Rekam Medis Pekerjaan Alamat ANAMNESIS Keluhan Utama : Timbul bercak-bercak berwarna coklat di daerah bawah mata, pelipis, dan leher. Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang wanita usia 39 tahun, datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Panembahan Senopati dengan keluhan di sekitar mata kanan dan kiri serta leher muncul bercak-bercak berwarna coklat. Pasien mengatakan keluhan sudah lama dirasakan, kurang lebih sudah 4 tahun. Pada awalnya bercak yang muncul hanya sedikit dan kecil-kecil, tapi lama-kelamaan makin banyak dan membesar. Sebelumnya pasien mengaku memakai produk kecantikan selama 5 tahun. Pasien tidak mengeluh gatal maupun nyeri, tetapi merasa terganggu secara kosmetik. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit serupa (-) Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien mengatakan keponakannya juga mengalami gejala yang sama dengan dirinya. : Ny. Sri Widowati : 39 tahun : Perempuan : 290364 : Pedagang : Dodokan, Sri Gading, Sanden, Bantul

STATUS DERMATOLOGIS Tampak plak multiple berwarna coklat, menonjol, berbatas tegas, dengan diameter yang

bervariasi di daerah bawah mata, pelipis, dekat telinga hingga ke leher. Terdapat beberapa lesi yang bertangkai di region leher. RESUME Wanita, 39 tahun. Timbul bercak berwarna coklat di daerah bawah mata, pelipis, dekat telinga, dan, leher Lesi tak nyeri dan tak gatal Tampak plak multiple berwarna coklat, menonjol, berbatas tegas, dengan diameter yang bervariasi di daerah bawah mata, pelipis, dekat telinga hingga ke leher. Terdapat beberapa lesi yang bertangkai di region leher. DIAGNOSIS BANDING Nevus Pigmentosus Keratosis senilis Melanoma Maligna Epitelioma sel basal berpigmen DIAGNOSIS KERJA Keratosis Seboroik TERAPI Electrocautery Fuladic cream 2 dd ue

BAB III KERATOSIS SEBOROIK

a. Definisi Keratosis seboroik adalah tumor jinak yang sering dijumpai pada orang tua berupa tumor kecil atau makula hitam yang menonjol diatas permukaan kulit. (Siregar, 2005).

b. Etiologi Penyebab pasti dari keratosis seboroik belum diketahui. Ada pendapat yang mengatakan bahwa faktor keturunan memegang peranan penting. Pada individu yang mempunyai predisposisi genetik, pembentukan keratosis seboroik juga dapat dipacu oleh kerusakan aktinik ( actinic damage ) dan kadang kadang bentuk lesi kulit yang lain seperti drug eruption. Ada pula yang mengatakan bahwa terpapar sinar matahari secara kronis yang menjadi penyebabnya. Proses terjadinya disebabkan oleh efek kumulasi dari energi radiasi sinar matahari. sebagian besar kasus menyerang mareka yang berkulit putih dan terpapar sinar matahari.

c. Epidemiologi 1) Ras Keratosis seboroik kurang umum di populasi dengan kulit gelap dibandingkan dengan mereka yang memiliki kulit putih, namun orang-orang kulit hitam mengembangkan varian keratosis seboroik yang disebut dermatosis papulosa nigra. Lesi ini mempengaruhi wajah, terutama pipi atas dan lateral daerah orbita. Lesi ini kecil, pedunkulasi, dan sangat berpigmen dengan elemen keratotic minimal. Awal lesi ini umumnya berawal dari keratosis seboroik biasa (Balin, 2009). 2) Gender Tidak ada perbedaan gender dalam frekuensi terjadinya seborrheic keratoses (Balin,2009).

3) Umur Keratosis seboroik adalah tumor jinak yang umum pada individu yang lebih tua.Mereka tampak meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Keratosis seboroik juga telah ditemukan terjadi pada individu muda.

d. Patogenesis Epidermal Growth Faktor (EGF) atau reseptornya, telah terbukti terlibat dalam pembentukan keratosis seboroik. Tidak ada perbedaan yang nyata dari ekspresi immunoreactive growth hormone receptor di keratinosit pada epidermis normal dan keratosis seboroik. Ekspresi dari gen bcl-2, suatu gen onkogen penekan apoptosis, rendah pada keratosis seboroik dibandingkan dengan basal sel karsinoma atau skuamos sel karsinoma, yang memiliki nilai yang tinggi untuk jenis gen ini (Nakagawa et al, 1994). Tidak ada peningkatan yang dapat dilihat dalam sonic hedgehog signal transducers patched (ptc) dan smoothened (smo) mRNA pada keratosis seboroik dibanding kulit yang normal (Tojo et al,1999). Frekuensi yang tinggi dari mutasi gene dalam mengencode reseptor tyrosine kinase FGFR3 (fibroblast growth factor receptor 3) telah ditemukan pada beberapa tipe keratosis seboroik. Hal ini menjadi alasan bahwa faktor gen menjadi basis dalam patogenesis keratosis seboroik. FGFR3 terdapat dalam reseptor transmembrane tyrosine kinase yang ikut serta dalam memberikan sinyal transduksi guna regulasi pertumbuhan, deferensiasi, migrasi dan penyembuhan sel. Mutasi FGFR3 terdapat pada 40% keratosis seboroik hiperkeratosis, 40% keratosis seboroik akantosis, dan 85% keratosis seboroik adenoid. (Haffner et al, 2007). Keratosis Seboroik memiliki banyak derajat pigmentasi. Pada pigmentasi keratosis seboroik, proliferasi dari keratinosit memacu aktivasi dari melanosit di sekitarnya dengan mensekresi melanocyte-stimulating cytokines. Endotelin-1 memiliki efek simulasi ganda pada sintesis DNA dan melanisasi pada melanosit manusia dan telah terbukti terlibat sabagai salah satu peran penting dalam pembentukan hiperpigmentasi pada keratosis seboroik (Teraki et al, 1996). Secara Immunohistokimia, keratinosit pada keratosis seboroik

memperlihatkan keratin dengan berat molekul yang rendah, tetapi ada sebagian kecil pembentukan keratin dengan berat molekul yang tinggi.

e. Varian Klinikopatologi Ada beberapa bentuk histologi dan terkadang berbeda secara klinis untuk keratosis seboroik (Balin, 2009; Wolff et al , 2008) : 1) Common Seborrheic Keratosis Sinonim: basal cell papilloma, solid seborrheic keratosis. Jenis ini dianggap sebagai lesi klasik. Bentuknya seperti jamur, dengan epidermis hiperplastik dan berbatas tegas yang menggantung di sekitar kulit. Tumor ini terdiri dari sel-sel basaloid yang seragam. Kista-kista keratin kadang lebih banyak, dan bias tampak didalam folikel dan diluar folikel. Melanosit terkadang muncul dalam jumlah banyak, dan produksi pigmennya menghasilkan warna luka hitam. Perpindahan pigmen ke keratinosit kelihatan cukup normal. 2) Reticulated Seborrheic Keratosis Sinonim: adenoid seborrheic keratosis. Kumpulan sel-sel basaloid turun dari dasar epidermis. Kista-kista keratin dikelilingi oleh sel-sel ini. Stroma kolagen eosinopilik yang halus membungkus di sekeliling kumpulan sel basaloid dan dapat membentuk lesi yang banyak. 3) Stucco Keratosis Sinonim: hyperkeratotic seborrheic keratosis, digitate seborrheic keratosis, serrated seborrheic keratosis, verrucous seborrheic keratosis.Stucco keratosis muncul

berukuran 3-4 mm, berwarna seperti warna kulit atau benjolan berwarna putih abuabu yang muncul di tungkai bagian bawah. Penampakan sel epidermal seperti puncak menara gereja mengelilingi inti kolagen membentuk hiperkeratosis seperti jalinan keranjang. Keratinosit yang bervakuola yang ada pada veruka vulgaris tidak ditemukan pada lesi ini, meskipun secara klinis lesi ini bisa menyerupai kutil virus yang kecil. 4) Clonal Seborrheic Keratosis. Jenis keratosis seboroik ini berbentuk sarang-sarang sel basaloid yang

tidak selamanya berbatas tegas berbentuk bulat dan terbungkus longgar di dalam

jaringan epidermis. Walaupun sel yang paling banyak adalah keratinosit, sarangsarang tersebut mengandung melanosit dalam jumlah besar. Keratinosit ini ukurannya bisa bermacam-macam. 5) Irritated Seborrheic Keratosis Sinonim: inflamed seborrheic keratosis, basosquamous cell acanthoma. Kelainan kulit eksematous berubah menjadi keratosis seboroik yang khas. Penyebab dari reaksi eksematous ini tidak diketahui. Bisa jadi disebabkan trauma, tapi belum dapat dibuktikan. Secara histologi, suatu keratosis seboroik memperlihatkan bagian-bagian dari perubahan inflamasi, banyak lingkaran atau pusaran dari sel-sel

eosinofilik skuamous yang merata dan tertata seperti bawang. Ini menyerupai mutiara keratin dalam sel karsinoma bersisik, tapi bisa dibedakan oleh besarnya jumlah mereka,kecilnya ukuran, dan bentuknya yang terbatas. Keratinosit dalam suatu keratosis seboroik yang iritasi menunjukan tingginya tingkat keratinisasi atau keratosis seboroik yang sudah dewasa dibandingkan dengan common seborrheic keratosis. 6) Seborrheic Keratosis with Squamous Atypia Sel atipik dan diskeratosis bisa terlihat pada beberapa keratosis seborrheic. Lesi tersebut bisa sangat mirip dengan penyakit Bowens atau karsinoma sel squamous yang invasive. Tidak diketahui sebab-sebab perubahan tersebut, baik itu akibat dari iritasi atau aktivasi, atau tanda karsinoma sel squamous. Sebaiknya

untuk menghilangkan lesi ini seluruhnya. 7) Melanoacanthoma. Sinonim : pigmented seborrheic keratosis. Melanoacanthoma lebih gelap dari pigmented seborrheic keratosis. Di dalam lesi ini, ada proliferasi melanosit dendritik yang jelas. Melanosit tersebut kaya dengan melanin, sebaliknya di sekitar keratinosit sangat sedikit mengandung melanin. Melanosit dapat berkembang menjadi sarang, yang melebar dari lapisan basal ke lapisan superfisial epidermis. Lesi ini tidak berpotensi menjadi ganas. 8) Dermatosis Papulosa Nigra. Dermatosis papulosa nigra merupakan papul kecil pada wajah yang tampak padaorang Afrika Amerika, namun terlihat pada orang yang berkulit lebih gelap dari

raslain, nampak merupakan varian dari keratosis seboroik. Lesi ini merupakan erupsi papul yang berpigmen pada wajah dan leher. Mereka menyerupai melanoacanthoma kecil-kecil. Gambaran histologis seperti common seborrheic keratosis tapi berukuran lebih kecil. 9) The Sign of Leser-Trelat Erupsi multipel keratosis seboroik, juga dikenal sebagai the sign of Leser-Trelat, disebutkan berkaitan dengan multipel internal malignancies yang tersembunyi dan sering diikuti dengan rasa gatal . Keganasan yang paling sering dihubungkan adalah adenokarsinoma lambung, colon, dan payudara. Tanda ini juga telah dilaporkan dengan berbagai macam tumor, termasuk limfoma, leukemia, dan melanoma. Tanda ini juga disebutkan bahwa berhubungan dengan hyperkeratosis telapak tangan dan telapak kaki terkait dengan penyakit keganasan dan dengan acanthosis nigricans. Fenomena keratosis seboroik yang bisa pecah, mungkin menunjukkan peradangan dermatosis yang berpusat di sekitar papiloma kulit dan keratosis seboroik membuat fenomena itu lebih kelihatan. Tentu saja, dibutuhkan keahlian klinis melihat peninggian lesi keratosis seboroik pada pasien dengan dermatitis generalisata yang disebabkan banyak hal. Kemoterapi, khususnya citarabine, bias menyebabkan peradangan keratosis seboroik, khususnya ketika dikaitkan dengan tanda Leser-Trelat. Maligna acanthosis nigricans muncul sebanyak 35% pasien dengan tanda Leser-Trelat, yang menunjukkan kesamaan mekanisme. Namun, hubungan sebenarnya antara erupsi keratosis seboroik multipel dengan keganasan organ dalam masih harus dijelaskan.

f. Penegakan Diagnosis a. Anamnesis Biasanya asimptomatik, pasien hanya mengeluh terdapat bejolan hitam terasa tidak nyaman. Lesi kadang dapat terasa gatal, ingin digaruk atau dijepit. Pasien kadang merasa benjolan semakin membesar secara lambat. Lesi tidak dapat sembuh sendiri secara tiba-tiba. Sebagian kasus terdapat riwayat keluarga yang diturunkan.

Lesi dapat timbul di seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan kaki serta membrane mukosa. (Barlin, 2009)

b. Pemeriksaan fisik Keratosis seboroik tampak sebagai lesi berupa papul atau plak yang agak menonjol, namun dapat juga terlihat menempel pada permukaan kulit. Lesi biasanyamemiliki pigmen warna yang sama yaitu coklat, namun kadang kadang juga dapat ditemukan yang bewarna hitam atau hitam kebiruan, bentuk bulat sampai oval, ukuran dari miliar sampai lentikular bahkan sampai 35x15cm. Pada lesi multiple distribusi seiring dengan lipatan kulit. Permukaan lesi biasanya berbenjol benjol. Pada lesi yang memiliki permukaan halus biasanya terkandung jaringan keratotik yang menyerupai butiran gandum. Pada perabaan terasa lunak dan berminyak. Lesi biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun dan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Pada beberapa individu lesi dapat bertambah besar dan tebal, namun jarang lepas dengan sendirinya. Trauma atau penggosokan dengan keras dapat menyebabkan bagian puncak lesi lepas, namun akan tumbuh kembali dengan sendirinya. Tidak ada tendensi untuk berubah ke arah keganasan. Akan tetapi melanoma, karsinoma sel basal, dan terkadang tumbuh di lesi keratosis seboroik (Balin, 2009; Wolff et al, 2008).

g. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan histopatologi. Komposisi keratosis seboroik adalah sel basaloid dengan campuran sel skuamosa. Invaginasi keratin dan horn cyst merupakan karakteristiknya. Sarang-sarang sel skuamosa kadang dijumpai, terutama pada tipe irritated. Satu dari tiga keratosis seboroik terlihat hiperpigmentasi pada pewarnaan hematoksilin-eosin. Setidaknya ada 5 gambaran histologi yang dikenal : acanthotic (solid), reticulated (adenoid), hyperkeratotic (papilomatous), clonal dan irritated. Gambaran yang bertumpang tindih biasa dijumpai. (Balin, 2009; Harahap, 2000; Wolff et al, 2008) a) Tipe acanthotic dibentuk oleh kolumna-kolumna sel basal dengan campuran horncyst. b) Tipe reticulated mempunyai gambaran jalinan untaian tipis dari sel basal, seringkali berpigmen, dan disertai horn cyst yang kecil.

c) T i p e h i p e r k e r a t o t i k t e r l i h a t e k s o f i l i k d e n g a n b e r b a g a i t i n g k a t h i p e r k e r a t o t i s , papilomatosis dan akantosis. Terdapat sel basaloid dan sel skuamosa. d) Tipe clonal mempunyai sarang sel basaloid intraepidermal e) Pada tipe irritated, terdapat infiltrat sel yang mengalami inflamasi berat, dengan gambaran likenoid pada dermis bagian atas. Sel apoptotik terdapat pada dasar lesiyang menggambarkan adanya regresi imunologi pada keratosis seboroik. Kadangkala terdapat infiltrat sel yang mengalami inflamasi berat tanpa likenoid, Jarang terdapat netrofil yang berlebihan dalam infiltrat. Pada pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop elektron menunjukkan bahwasel basaloid yang kecil berhubungan dengan sel pada lapisan sel basal epidermis. Kelompok - kelompok melanososm yang sering membatasi membran dapat ditemukan di antara sel.

h. Diagnosis banding a) Melanoma maligna Awalnya berupa tahi lalat yang berubah dalam warna, ukuran, mulai timbul gejala (terbakar, gatal, sakit), terjadi peninggian lesi, berkembangnya lesi satelit. Akademi dermatologi Amerika menekankan pentingnya evaluasi lesi berpigmen,yaitu: A = asimetri, B = border irregularity, C = color variegation, D = Diameter lebih dari 0,6 mm. b) Epitelioma sel basal berpigmen Predileksi terutama pada wajah, jarang pada lengan, tangan, badang, tungkai dan kaki. Lesi dapat berupa papul atau nodul kecil dengan diameter kurang 2 cm dengan tepi meninggi dan berwarna hitam atau coklat. Permukaan tampak mengkilat, sering dijumpai teleangiektasia dan kadang ada skuama halus atau krusta tipis. c) Nevus pigmentosus Nevus pigmentosus dapat terjadi di semua tempat termasuk membrana mukosa dekat permukaan tubuh. Lesi dapat datar, papuler, atau papulomatosa biasanya berukuran 2-4 mm. Papul berbatas tegas dan mengkilat dengan permukaan agak licin, umumnya berambut.

d) Keratosis senilis Lesi awalnya berupa makula atau plak kecoklatan berbentuk bulat atau irreguler, dapat soliter atau multiple, berbatas tegas, teleangiektasi dengan permukaan kasar, kering dan skuama yang melekat.

i. Penatalaksanaan 1) Medikamentosa Keratolytic agent Dapat menyebabkan epitelium yang menanduk menjadi mengembang, lunak,

maserasi kemudian deskuamasi (Balin, 2009). a) Amonium lactat lotion Mengandung asam laktat dan asam alfa hidroxi yang telah terbukti mengurangi keratosis seboroik (Klaus et al, 1990; Van Scott et al, 1989). Hal tersebut disebabkan karena mempunyai daya keratolitik dan memfasilitasi pelepasan sel-sel keratin. Sedian 15% dan 5% strenght; 12% strenght dapat menyebabkan iritasi muka karena menjadikan sel-sel keratin tidak beradesi. b) Trichloroacetic acid Membakar kulit, keratin dan jaringan lainya. Dapat menyebabkan iritasi lokal. Pengobatan keratosis seboroik dengan 100% trichloroacetic acid dapat

menghilangkan lesi, tepi penggunaanya harus ditangan profesional yang ahli. Terapi topikal dapat digunakan tazarotene krim 0,1% dioles 2 kali sehari dalam 16 minggu menunjukkan perbaikan keratosis seborik pada 7 dari 15 pasien. 2) Terapi bedah a) Krioterapi Merupakan bedah beku dengan menggunakan cryogen bisa berupa nitrogen cair atau karbondioksid padat. Mekanismenya adalah dengan membekukan sel-sel kanker, pembuluh darah dan respon inflamasi lokal. Pada keratosis seboroik bila pembekuan terlalu dingin maka dapat menimbulkan skar atau hiperpigmentasi, tetapi apabila pembekuan dilakukan secara minimal diteruskan dengan kuretase akan memberikan hasil yang baik secara kosmetik (Wolff et al , 2008)

b) Bedah listrik Bedah listrik (electrosurger y) adalah suatu cara pembedahan a t a u t i n d a k a n dengan perantaraan panas yang ditimbulkan arus listrik bolak-balik berfrekuensi tinggi yang terkontrol untuk menghasilkan destruksi jaringan secara selektif agar jaringan parut yang terbentuk cukup estetis den aman baik bagi dokter maupun penderita. Tehnik yang dapat dilakukan dalam bedah listrik adalah : elektrofulgurasi, elektrodesikasi, elektrokoagulasi, elektroseksi atau elektrotomi, elektrolisis den elektrokauter. c) Laser CO Sinar Laser adalah suatu gelombang elektromagnetik yang memiliki panjangtertentu, tidak memiliki efek radiasi dan memiliki afinitas tertentu terhadap suatu bahan/target. Oleh karena memiliki sel target dan tidak memiliki efek radiasi sebagaimana sinar lainnya, ia dapat digunakan untuk tujuan memotong jaringan,membakar jaringan pada kedalaman tertentu, tanpa menimbulkan kerusakan pada jaringan sekitarnya. Sebagai pengganti pisau bedah konvensional, memotong jaringan sekaligus membakar pembuluh darah sehingga luka praktis tidak berdarah saat memotong. (PERAPI, 2002) d) Bedah scalpel Satu cara konservatif namun tetap dipakai sampai se karang ialah bedah skalpel. Umumnya karena invasi tumor sering tidak terlihat sama dengan tepi lesi dari permukaan, sebaiknya bedah ini dilebihkan 3 -4 mm dari tepi lesi agar yakin bahwa seluruh isi tumor bisa terbuang. Keuntungan prosedur ini ialah tingkat kesembuhan yang tinggi serta perbaikan kosmetis yang sangat baik. e) Dermabrasi Prosedur dermabrasi dikerjakan menggunakan instrumen yang digerakkan

motor 24,000 rpm dengan silinder sandpaper / wire brush. Menggunakan anestesi local atau narkose. Perbaikan terjadi karena dermis yang ditipiskan dengan tehnik ini t i d a k a k a n m e n e b a l k e m b a l i . S e t e l a h l u k a s e m b u h d i t u t u p i e p i t e l b a r u y a n g terbentuk diatas raw surface. Keberhasilan dan cepatnya penyembuhan tergantung pertumbuhan sel-sel epitel, foilikel rambut,

kelenjar keringat yang ada. Proses ini menyerupai penyembuhan pada donor-site skin graft (PERAPI, 2002).

j. Prognosis Keratosis seboroik merupakan tumor jinak dan tidak menjadi ancaman bagi kesehatan individu. Lesi keratosis seboroik umumya tidak mengecil namun akan bertambah besar dan tebal seiring dengan waktu, dan tidak berubah menjadi ganas (Halfian, 2006; Harahap, 2000)

BAB IV PEMBAHASAN

Pada kasus ini disebutkan bahwa seorang wanita 39 tahun, seorang pedagang, datang ke dokter dengan keluhan muncul bintil-bintil berwarna coklat di wajah dan lehernya. Keluhannya dirasakan sejak empat tahun yang lalu. Awal keluhan bintil hanya sedikit, berwarna coklat muda, semakin lama semakin banyak dan berwarna lebih gelap seperti tahi lalat dan membesar. Pasien tidak mengeluh gatal maupun nyeri, tetapi merasa terngganggu secara kosmetik. Pasien mengaku sering terpapar sinar matahari jika mau berangkat ke pasar. Sebelumnya pasien menggunakan produk kecantikan selama 5 tahun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan UKK plak multiple berwarna coklat, menonjol, berbatas tegas, dengan diameter yang bervariasi. Dari hasil wawancara selanjutnya diketahui keponakan pasien juga menderita penyakit yang sama. Oleh dokter dilakukan bedah listrik elektrokauter, kemudian diberikan obat antibiotika topical. Penyebab pada pasien ini kemungkinan besar adalah seringnya terpanjan sinar matahari dan penggunaan produk kecantikan. Faktor genetic juga turut mengambil peranan dalam manifestasi klinis yang muncul pada pasien ini. Pada penderita keratosis seboroik, terjadi mutasi pada gen bcl-2 yang merupakan genonkogen penekan apoptosis dan gen yang menyandi FGFR3 (fibroblast growth factor receptor 3). Pada keratosis seboroik, rendahnya gen bcl-2 menyebabkan tidak terjadinyaapoptosis sehingga terjadi proliferasi keratosit yang terus menerus. Proliferasi keratositmemacu aktivasi dari melanosit disekitarnya dengan mensekresi melanocytestimulatingcytokines sehingga ditemukan papul hiperpigmentasi dan permukaannya verukosa. Mutasi juga terjadi pada gen yang menyandi FGFR3. FGFR3 terdapat dalam reseptor transmembranetyrosine kinase yang ikut serta dalam memberikan sinyal transduksi guna regulasi pertumbuhan, deferensiasi, migrasi dan penyembuhan sel. Mutasi pada gen tersebut menyebabkan tidak ada pengaturan dalam produksi melanin sehingga terjadi hiperpigmentasi. Gen-gen yang mengalami mutasi tersebut dapat terjadi akibat dari paparan sinar matahari yang terus menerus maupun dapat juga diturunkan secara genetik dari orang tua. Padakasus ini diketahui bahwa keponakan pasien juga menderita penyakit yang sama. Kemungkinan gen yang telah mengalami mutasi yang muncul di keluarga pasien diturunkan pada pasien.

Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah bedah listrik elektrokauter. Bedah listrik merupakan suatu tindakan bedah dengan menggunakan alat bedah listrik yang dapat membangkitkan aliran listrik terkontrol untuk menghasilkan destruksi jaringan yang selektif. Sedangkan teknik yang digunakan adalah elektrokauterisasi yaitu dengan mengalirkan arus listrik melalui tahanan logam platina di ujung elektroda. Panas yang timbul ditempelkan pada jaringan hidup sehingga timbul koagulasi mekanik dan terjadi destruksi fisik. Keuntungan penatalaksanaan dengan bedah listrik ialah sederhana dan mudah dipakai dalam praktek seharihari, instrumen sedikit, tidak memerlukan waktu lama, tidak perlu anti septik yang berlebihan, efek hemostasis baik, parut hipertrofik dapat dihindarkan dengan arus yang rendah, trauma minimal, hasil kosmetik yang dapat diterima dengan baik, tidak memerlukan perawat di rumah sakit. Namun juga memiliki kerugian yaitu penyembuhan luka lebih lama dan biayanya yang relatif mahal. Selanjutnya setelah dilakukan bedah listrik elektrokauter juga diberikan antibiotika topikal yang berfungsi untuk menghindari adanya infeksi. Eduksi yang diberikan pada pasien ialah untuk melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung karena jika terpapar sinar matahari langsung akantimbul bintil-bintil kehitaman lagi pada wajah pasien, juga menghentikan pemakaian produk kecantikan. Saran yang dapat diberikan pada pasien adalah melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung pascaterapi. Apabila terjadi kekambuhan, pasien disarankan untuk tidak melakukan penggosokan. Trauma atau penggosokan dengan keras dapat menyebabkan bagianpuncak lesi lepas, namun akan tumbuh kembali dengan sendirinya. Tidak ada tendensi untuk berubah ke arah keganasan.

Daftar Pustaka

Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis. http://emedicine.medscape.com/article/1059477overview Ginarte M, Garcia-Caballero T, Fernandez-Redondo V, Beiras A, Toribio J. Expression of growth hormone receptor in benign and malignant cutaneous proliferative entities. J Cutan Pathol. Jul 2000;27(6):276-82. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis.

http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview Groves RW, Allen MH, MacDonald DM. Abnormal expression of epidermal growth factor receptor in cutaneous epithelial tumours. J Cutan Pathol. Feb 1992;19(1):66-72 in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis. http://emedicine.medscape.com/article/1059477overview Hafner C, Hartmann A, Vogt T. FGFR3 mutations in epidermal nevi and seborrheic keratoses: lessons from urothelium and skin. J Invest Dermatol. Jul 2007;127(7):1572-3. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis. http://emedicine.medscape.com/article/1059477overview Hafner C, van Oers JM, Hartmann A, Landthaler M, Stoehr R, Blaszyk H, et al. High frequency of FGFR3 mutations in adenoid seborrheic keratoses. J Invest Dermatol. Nov 2006;126(11):2404-7. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis.

http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview Hafner C, Hartmann A, Real FX, Hofstaedter F, Landthaler M, Vogt T. Spectrum of FGFR3 mutations in multiple intraindividual seborrheic keratoses. J Invest Dermatol. Aug 2007;127(8):1883-5. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis.

http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview Halfian, 2006. Keratosis Seboroik. Diakses dari

http://halfian.multiply.com/journal/item/20/KERATOSIS_SEBOROIK Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Penerbit Hipokrates. Jakarta

Nakagawa K, Yamamura K, Maeda S, Ichihashi M. bcl-2 expression in epidermal keratinocytic diseases. Cancer. Sep 15 1994;74(6):1720-4 in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis. http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview Nanney LB, Ellis DL, Levine J, King LE. Epidermal growth factor receptors in idiopathic and virally induced skin diseases. Am J Pathol. Apr 1992;140(4):915-25. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis. http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview PERAPI. 2002. Dermabrasi. Diakses dari http://www.perapisurgeon.org/faq/01,03,002.html Siregar, R.A., 2005. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC. Teraki E, Tajima S, Manaka I, Kawashima M, Miyagishi M, Imokawa G. Role of endothelin-1 in hyperpigmentation in seborrhoeic keratosis. Br J Dermatol. Dec 1996;135(6):918-23. in Balin, Arthur. 2009. Seborrheic Keratosis.

http://emedicine.medscape.com/article/1059477-overview Wolff, K. et al. 2008. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Seventh edition. McGraw Hill.