Anda di halaman 1dari 265

APLIKASI VALUE ENGINEERING TERHADAP ELEMEN PLAT dan FONDASI PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

SEMARANG SKRIPSI Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Oleh Dwi Ari Ustoyo NIM 5150402019 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007 Page 2 ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi dengan judul APLIKASI VALUE ENGINEERING TERHADAP


ELEMEN PLAT dan FONDASI PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG telah disetujui oleh dosen pembimbing Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang. Hari : Jumat Tanggal : 4 Mei 2007 Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Toriq Arif G., ST. MSCE. Drs.Tugino, MT NIP.132 134 676 NIP.131 763 887

Page 3 iii

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi dengan judul APLIKASI VALUE ENGINEERING TERHADAP


ELEMEN PLAT dan STRUKTUR PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG. Oleh : Nama : Dwi Ari Ustoyo NIM : 5150402019 Telah dipertahankan dihadapan sidang panitia ujian Skripsi Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang pada : Hari : Tanggal : Susunan Dewan Penguji, Penguji I Penguji II Toriq Arif G., ST. MSCE. Drs.Tugino, MT. NIP.132 134 676 NIP. 131 763 887 Mengetahui, Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil Prof. Dr. Soesanto, M.Pd Drs. Lashari, MT NIP.130 875 753 NIP. 131 741 402

Page 4 iv

PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis didalam skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang, 2007 Dwi Ari Ustoyo NIM.5150402019 Page 5 v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Motto: 1. Dalam menentukan pilihan ikutilah kata hatimu, dalam menggapai cita-cita kobarkanlah semangat pantang menyerah dan jangan bergantung pada keadaan sebelum kita berusaha terlebih dahulu. 2. Belajarlah karena manusia tidak dilahirkan pandai, dan orang berilmu tidaklah sama dengan orang bodoh (Imam Safii). 3. Alangkah indahnya dianugerahi mencintai&dicintai oleh orang lain walaupun semuanya itu, mungkin hanyalah sebuah buku yang tertata rapi dalam ruang kalbu dan tumpukkan angan tanpa pernah jadi kenyataan. Rahasia hati akan slalu tertanam dalam dasar jiwa karena lebih bijak berkorban demi kebahagiaan Sang Dewi, walau hati slalu tertunduk ragu menahan rindu.......... Persembahan: Skripsi ini kupersembahkan untuk: 1. Bapak dan ibu yang saya hormati dan kakak serta adikku yang saya cintai. 2. Spesial untuk (Radhik, Zaeni, Rinouw) yang selalu bersama-sama berjuang demi terselesainya skripsi ini. 3. Orang yang selalu menjadi cahaya dan mengisi dasar jiwaku dengan doa, harapan serta selalu menjadi inspirasi dalam kehidupanku (semoga akhirnya ku menemukanmu). 4. Rekan-rekan seperjuangan Teknik Sipil angkatan 02. 5. Semua orang yang telah mengkritik, mendidik dan membantu dalam kehidupanku. Page 6
vi

SARI Ustoyo Dwi Ari. 2007. Aplikasi Value Engineering Pada Elemen Struktur Pada Proyek Pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang. Skripsi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Pembimbing II Drs. Tugino, MT. Kata kunci : Value Engineering, Saving Cost, Existing, Struktur Value Engineering adalah suatu cara pendekatan yang kreatif dan terencana dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengefisienkan biaya-biaya yang tidak perlu. Value engineering digunakan untuk mencari suatu alternatifalternatif atau ide-ide yang bertujuan untuk menghasilkan biaya yang lebih baik/ lebih rendah dari harga yang telah direncanakan sebelumnya dengan batasan fungsional dan mutu pekerjaan. Penerapan value engineering dilakukan pada pekerjaan plat dan fondasi. Analisis value engineering dilakukan pada proyek pembangunan gedung rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana memunculkan alternatif-alternatif sebagai pengganti pekerjaan existing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

besarnya cost saving yang terjadi setelah dilakukan penerapan value engineering. Penelitian dimulai dengan melakukan survey mencari data untuk kemudian dianalisis value engineering. Data-data primer didapat dengan melakukan survey mencari data-data proyek. Data-data sekunder didapat dengan melakukan survey mencari buku-buku literature, referensi yang berkaitan dengan value engineering dan brosur daftar harga bahan yang diperlukan. Dalam melakukan proses value engineering dibagi menjadi 5 tahap, yaitu tahap informasi, kreatif, analisis, pengembangan dan rekomendasi. Untuk memilih pekerjaan alternatif terbaik, sebelumnya harus dilakukan perhitungan dari segi

desain struktur dan rencana anggaran biaya, baru dilakukan perhitungan value engineeringnya. Hasil penelitian didapat bahwa penerapan value engineering pada pekerjaan pekerjaan plat dengan menaikkan mutu beton keuntungan yang diperoleh, diantaranya adalah dimensi plat menjadi lebih kecil dan terdapat cost saving sebesar Rp 17.454.680, sedangkan dengan menggunakan plat precast keuntungan yang didapat antara lain, waktu pelaksanaan menjadi cepat, mutu terjamin, terdapat pengurangan tenaga kerja dan menghasilkan cost saving sebesar Rp 13.199.407. Pada pekerjaan fondasi dengan menggunakan tiang pancang diameter 35 cm keuntungan yang didapat antara lain, pengurangan jumlah fondasi, waktu pelaksanaan menjadi cepat dan menghasilkan cost saving sebesar Rp 11.907.650, sedangkan dengan menggunakan fondasi sumuran keuntungan yang didapat adalah pengurangan jumlah fondasi, tetapi tidak terdapat cost saving, karena biaya rencana lebih besar dari existing.

Page 7 vii KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sebagai salah satu syarat yang wajib ditempuh mahasiswa dalam memperoleh gelar Sarjana Teknik pada program studi Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan dukungan moriil

maupun materiil sehingga dapat memudahkan dalam penyelesaiannya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada : 1. Prof. Dr. Soesanto, M.Pd., Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, 2. Drs. Lashari, MT., Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, 3. Drs. Henry Apriyatno, MT, Ketua Prodi Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, 4. Thoriq Arif G., ST. MSCE. Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan dan evaluasi dalam penyusunan skripsi.

Page 8 viii 5. Drs. Tugino, MT. Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan dan evaluasi dalam penyusunan skripsi. 6. Bapak dan ibu selaku orang tua yang selama ini telah memberikan dorongan baik moriil maupun materiil. 7. Semua pihak yang telah membantu sehingga terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan kepada mereka semua sesuai amalnya. Akhirnya penulis berharap semoga dengan adanya skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.

Semarang, Mei 2007 Penulis

Page 9 ix DAFTAR ISI Halaman Judul....................................................................................................... i Persetujuan Pembimbing....................................................................................... ii Pengesahan Kelulusan........................................................................................... iii Motto dan Persembahan........................................................................................ v Sari ....................................................................................................................... vi Kata Pengantar ...................................................................................................... vii Daftar Isi ............................................................................................................... ix Daftar Notasi ......................................................................................................... xiii Daftar Tabel .......................................................................................................... xvii Daftar Gambar....................................................................................................... xix Daftar Lampiran .................................................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Batasan Masalah ............................................................................... 4 C. Rumusan Masalah ............................................................................. 5 D. Tujuan Penelitian .............................................................................. 5 E. Manfaat Penelitian ............................................................................ 6 F. Sistematika Penelitian ....................................................................... 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Value Engineering............................................................................. 8

Page 10 x 1. Pengertian Value Engineering....................................................... 8 2. Karakteristik Value Engineering................................................... 11 3. Tahapan-tahapan Dalam Value Engineering ................................ 12 B. Rencana Anggaran Biaya .................................................................. 29 C. SAP 2000........................................................................................... 30 D. Beton ................................................................................................. 31 E. Beton Precast / Pracetak .................................................................... 32 F. Pekerjaan Srtuktur Bangunan ............................................................ 35 1. Plat Dua Arah............................................................................... 35 2. Plat Precast................................................................................... 45 3. Fondasi ........................................................................................ 51 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian.................................................................................. 63 B. Tempat Penelitian ............................................................................. 64 C. Proses Penelitian ............................................................................... 64 1. Tahap Persiapan ............................................................................ 64 2. Data Penelitian .............................................................................. 65 3. Metode Pengumpulan Data........................................................... 65 4. Analisis Data ................................................................................. 66 5. Hasil Analisis ................................................................................ 71

D. Flow Chart Penelitian ........................................................................ 71

Page 11 xi BAB IV ANALISIS VALUE ENGINEERING PROYEK GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG A. Latar Belakang Proyek...................................................................... 75 B. Data Proyek....................................................................................... 76 C. Struktur Organisasi Proyek ............................................................... 77 D. Rencana Anggaran Biaya Proyek...................................................... 78 E. Teknik Mengidentifikasi Pekerjaan yang Akan di VE ..................... 78 1. Cost Model.................................................................................... 78 2. Breakdown .................................................................................... 82 F. Studi Value Engineering.................................................................... 83 1. Analisis Value Engineering pada Item Pekerjaan Plat................... 84 2. Analisis Value Engineering pada Item Pekerjaan Fondasi ............ 86 G. Tahapan Dalam Analisis VE pada Pekerjaan Struktur Atas ............. 87 1. Tahap Informasi ............................................................................. 88 2. Tahap Kreatif ................................................................................. 90 3. Tahap Analisis................................................................................ 94 4. Tahap Pengembangan.................................................................... 114 5. Tahap Rekomendasi....................................................................... 114 H. Tahapan Dalam Analisis VE pada Pekerjaan Bawah........................ 117 1. Tahap Informasi............................................................................. 118

2. Tahap Kreatif................................................................................. 120 3. Tahap Analisis................................................................................. 124 4. Tahap Pengembangan ..................................................................... 158

Page 12 xii 5. Tahap Rekomendasi....................................................................... 158 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ......................................................................................... 161 B. Saran ................................................................................................... 162 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

Page 13 xiii DAFTAR NOTASI EKONOMI TEKNIK A = sejumlah uang yang dibayar seiap tahun F = sejumlah uang pada saat yang akan datang. i = besarnya suku bunga tahunan ( % ) n = jumlah tahun

P = sejumlah uang pada saat ini. PERHITUNGAN PLAT DUA ARAH Aslx = luas tulangan lapangan per meter lebar arah-x Asly = luas tulangan lapangan per meter lebar arah-y Astx = luas tulangan tumpuan per meter lebar arah-x Asty = luas tulangan tumpuan per meter lebar arah-y Atul = luas tulangan per diameter b = lebar plat per 1m dx = tinggi efektif d dalam arah-x dy = tinggi efektif d dalam arah y Dx = diameter tulangan arah-x Dy = diameter tulangan arah-y fc = kuat tekan beton yang ditentukan, MPa fy = tegangan leleh yang diisyaratkan dari tulangan baja h

= tebal plat hmin = tinggi minimum plat k = koefisien tahanan Ib1 = momen inersia balok tepi -1 ln = bentang bersih plat yang menentukan (sisi panjang)

Page 14 xiv Is1 = momen inersia pelat tepi-1 Mlx = momen lapangan maksimum per meter lebar di arah-x Mly = momen lapangan maksimum per meter lebar di arah-y Mtx = momen tumpuan maksimum per meter lebar di arah-x Mty = momen tumpuan maksimum per meter lebar di arah-y n = jumlah tulangan p

= selimut beton s = jarak spasi antar tulangan 1 = kekakuan balok tepi dan plat pada arah sisi pendek (tepi-1) m = nilai rerata kekakuan balok tepi dan plat = nilai banding sisi panjang dan sisi pendek = ly / lx ; ly > lx 1 = faktor reduksi kuat tekan beton 0,85 untuk fc 30 MPa 0,85 0,008(fc 30) untuk fc = 30 55 MPa 0,65 untuk fc 55 MPa = faktor reduksi kekuatan aksial tarik, dan aksial tarik dengan lentur= 0,8 aksial tekan, dan aksial tekan dengan lentur - komponen struktur dengan tulangan spiral maupun sengkat ikat = 0,70 - komponen struktur dengan tulangan sengkang biasa = 0,65 = rasio penulangan plat

min = rasio tulangan minimum aktual = rasio tulangan yang diperlukan maks = rasio tulangan maksimum

Page 15 xv PERHITUNGAN PLAT PRECAST a = tinggi distribusi tegangan persegi dari muka balok tekan As = luas tulangan lapangan per meter lebar Atul = luas tulangan per diameter d = tinggi efektif D = diameter tulangan L = panjang precast Mn = momen nominal penampang Mr = momen rencana Mu

= momen perlu ultimate PERHITUNGAN FONDASI TIANG PANCANG A = luas dasar tiang pancang (cm2) bo = keliling daerah kritis b1 = lebar kolom B = lebar pile cap d = tinggi efektif pile cap Eg = end bearing piles, diasumsikan 1,0 F = rasio penulangan yang diperlukan Fmax = rasio penulangan maksimum My = momen yang terjadi terhadap titik o searah sumbu x Mx = momen yang terjadi terhadap titik o searah sumbu y n1 = jumlah fondasi

O = keliling tiang (cm) P = beban aksial bangunan qc = perlawanan ujung sondir (kg/cm2) Q = beban yang didukung oleh tiang Qijin = kapasitas ijin pondasi th = tebal pile cap

Page 16 xvi Tf = total friksi sondir (kg/cm2) Vu = kuat geser terfaktor pada penampang xi = jarak tiang ke-i terhadap titik o searah sumbu x yi = jarak tiang ke-i terhadap titik o searah sumbu y (x2)

= jumlah kuadrat jarak x terhadap titik o (y2) = jumlah kuadrat jarak y terhadap titik o Vc = tegangan geser yang diijinkan PERHITUNGAN FONDASI SUMURAN c = kohesi tanah Df = kedalaman fondasi D1 = diameter sumuran luar D2 = diameter sumuran dalam f = gaya perlawanan akibat lekatan per satuan luas Nc, Nq, N = faktor daya dukung Terzaghi Qu = daya dukung ultimate R = jari-jari sumuran SF = faktor keamanan = 2-3 2

= angka faktor gaya gesek = berat jenis tanah (tabel 2.8) = sudut gesek internal

Page 17 xvii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Breakdown .................................................................................... 15 Tabel 2.2 Analisis Fungsi............................................................................... 19 Tabel 2.3 Metode Zero-One........................................................................... 22 Tabel 2.4 Metode Zero-One untuk Mencari Bobot........................................ 23 Tabel 2.5 Metode Zero-One Mencari Indeks................................................. 25 Tabel 2.6 Matrik Evaluasi.............................................................................. 26 Tabel 2.7 Beban Mati Bahan Bangunan dan Komponen Bangunan.............. 39 Tabel 2.8 Beban Hidup Pada Lantai Gedung................................................. 40 Tabel 2.9 Momen Yang Menentukan per Meter Lebar Dalam Jalur Tengah Pada Plat Dua Arah Akibat Beban Terbagi Rata ......................... 41 Tabel 2.10 Rasio Penulangan fc = 30 Mpa, fy = 240 MPa............................. 46 Tabel 2.11 Luas, Berat Tulangan perDiameter ................................................ 47 Tabel 2.12 Jarak Fondasi Tiang Minimum ...................................................... 52 Tabel 2.13 Nilai-Nilai Faktor Daya Dukung Terzaghi .................................... 59 Tabel 2.14 Hubungan 2 dan (Sudut Gesek Dalam Tanah)........................ 59

Tabel 2.15 Rasio Penulangan fc = 25 Mpa, fy = 240 Mpa............................. 62 Tabel 4.1 Rencana Anggaran Biaya Secara Global ....................................... 79 Tabel 4.2 Breakdown Pekerjaan Struktur....................................................... 83 Tabel 4.3 Informasi Umum dan Kriteria Desain Pekerjaan Plat.................... 88

Page 18 xviii Tabel 4.4 Analisis Fungsi Pekerjaan Plat....................................................... 89 Tabel 4.5 Keuntungan dan Kerugian Alternatif PekerjaanPlat ...................... 92 Tabel 4.6 Kriteria Desain Alternatif Pekerjaan Plat....................................... 93 Tabel 4.7 Perbandingan Harga Existing dan Alternatif Pekerjaan Plat.......... 107 Tabel 4.8 Analisis Fungsi Pekerjaan Plat....................................................... 108 Tabel 4.9 Metode Zero-One Mencari Bobot Pekerjaan Plat.......................... 109 Tabel 4.10 Metode Zero-One Mencari Indeks................................................. 110 Tabel 4.11 Matrik Evaluasi Pekerjaan Plat...................................................... 113 Tabel 4.12 Informasi Umum dan Kriteria Desain Struktur Bawah ................. 118 Tabel 4.13 Analisis Fungsi Pekerjaan Fondasi ................................................ 119 Tabel 4.14 Keuntungan dan Kerugian Alternatif Pekerjaan fondasi ............... 122 Tabel 4.15 Kriteria Desain Alternatif Pekerjaan Fondasi ................................ 123 Tabel 4.16 Perbandingan Harga Existing dan Alternatif Struktur Bawah ....... 150 Tabel 4.17 Analisis Fungsi Pekerjaan Fondasi ................................................ 151 Tabel 4.18 Metode Zero-One Mencari Bobot Pekerjaan Fondasi ................... 152 Tabel 4.19 Metode Zero-One Mencari Indeks................................................. 154 Tabel 4.20 Matrik Evaluasi Pekerjaan Fondasi ............................................... 157

Page 19 xix DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Berbagai Elemen Yang Mempengaruhi Perencanaan Biaya Suatu Bangunan Gedung............................................................ 8 Gambar 2.2 Cost Model Untuk Gedung Standar ........................................... 19 Gambar 2.3 Distribusi Biaya Total ................................................................ 27 Gambar 2.4 Penulisan Diagram Soal ............................................................. 30 Gambar 2.5 Plat Precast ................................................................................. 37 Gambar 2.6 Plat Dua Arah ............................................................................. 39 Gambar 2.7 Diagram Momen Rancang ......................................................... 41 Gambar 2.8 Penulangan Plat .......................................................................... 45 Gambar 2.9 Penulangan Topping ................................................................... 51 Gambar 2.10 Kelompok Fondasi Tiang........................................................... 57 Gambar 2.11 Penampang Pile Cap................................................................... 58 Gambar 2.12 Penampang Fondasi Sumuran .................................................... 64 Gambar 3.1 Flow Chart Penelitian................................................................. 75 Gambar 4.1 Struktur Organisasi Proyek ........................................................ 80 Gambar 4.2 Cost Model Proyek Gedung Rektorat Unimus........................... 84 Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Pekerjaan Plat Dengan Biaya Perencanaannya.......................................................................... 116 Gambar 4.4 Grafik Hubungan Pekerjaan Fondasi Dengan Biaya Rencana... 159

Page 20 xx DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Output Perhitungan SAP 2000 Lampiran 2 Perhitungan Pekerjaan Plat Lampiran 3 Perhitungan Pekerjaan Fondasi Lampiran 4 Data Spesifikasi Survey Bahan Lampiran 5 Data Penyelidikan Tanah Proyek Gedung Rektorat Unimus Rencana Lampiran 6 Kerja Syarat (RKS) Proyek Gedung Rektorat Unimus Lampiran 7 Rencana Anggaran Biaya Proyek Gedung Rektorat Unimus

Page 21 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rencana Anggaran Biaya (RAB) suatu proyek bangunan harus direncanakan dengan efisien dan optimal. Banyak hal yang dapat dilakukan sebelum membuat RAB, diantaranya pemilihan desain dan bahan yang akan dipakai. Pemilihan desain dan bahan sangat penting dilakukan, karena akan menunjukkan mutu dan kualitas daripada bangunan tersebut. Setelah RAB selesai, terkadang masih ada beberapa item pekerjaan yang memiliki anggaran biaya yang besar. Dalam Manajemen Konstruksi (MK) terdapat suatu disiplin ilmu

teknik sipil yang dapat digunakan untuk mengefesienkan dan mengefektifkan biaya. Ilmu tersebut dikenal dengan nama Value Engineering/ Rekayasa Nilai. Value Engineering merupakan suatu ilmu baru dalam dunia MK, karena masuk ke Indonesia mulai tahun 1980-an. Pemerintah baru menggunakannya pada tahun 1990-an dan keberadaan Value Engineering itu sendiri masih sebagai badan konsultan serta hanya dibutuhkan oleh proyek-proyek tertentu saja yang membutuhkan jasa konsultan Value Engineering. Value Engineering (VE) adalah suatu cara pendekatan yang kreatif dan terencana dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengefisienkan biaya-biaya yang tidak perlu.VE digunakan untuk mencari suatu alternatifalternatif atau ide-ide yang bertujuan untuk menghasilkan biaya yang lebih 1

Page 22 2 baik/ lebih rendah dari harga yang telah direncanakan sebelumnya dengan batasan fungsional dan mutu pekerjaan. Dalam perencanaan VE biasanya melibatkan pemilik proyek, perencana, para ahli yang berpengalaman dibidangnya masing-masing dan konsultan VE. Pada penelitian ini, perencanaan VE dilakukan pada tahap setelah perencanaan proyek. Analisis VE dilakukan pada pekerjaan struktur. Dalam RAB biasanya pekerjaan struktur memiliki biaya dan bobot pekerjaan yang besar. Biaya yang besar tersebut dipengaruhi dari segi pemilihan desain dan bahan yang digunakan. Analisis VE dilakukan dengan memunculkan ide-ide

yang kreatif untuk mengganti perencanaan existing pekerjaan struktur. Dalam memunculkan alternatif-alternatif pengganti pemilihan desain dan bahannya harus tepat, murah, kuat dan ekonomis. Selain itu, pemilihan desain dan bahan alternatif pengganti pekerjaan struktur nantinya juga akan berpengaruh pada pembiayaan dari segi waktu dan metode pelaksanaan. Analisis VE dalam penelitian ini dilakukan pada pekerjaan struktur atas khususnya pekerjaan plat dan pada pekerjaan struktur bawah khususnya pekerjaan fondasi. Setelah dilakukan analisis VE diharapkan nanti terdapat cost saving/ penghematan biaya dari biaya pekerjaan struktur secara keseluruhan. Pada pembahasan Value Engineering disini dilakukan pada proyek pembangunan gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang. Bangunan ini terdiri dari 4 lantai dengan luas perlantai 558 m2. Perencanaan awal struktur atas khususnya balok, kolom dan plat menggunakan beton bertulang. Pekerjaan ini memiliki biaya dan bobot yang lebih besar. Pekerjaan

Page 23 3 struktur plat dipilih karena memiliki biaya yang lebih besar dibanding pekerjaan struktur atas beton bertulang lainnya. Sebagai alternatif pengganti, nantinya akan diusulkan plat precast/ pracetak. Dengan adanya plat precast bisa mengurangi volume pekerjaan plat, seperti tidak diperlukannya pekerjaan perancah saat pengecoran plat topping. Plat topping adalah plat yang dicor diatas plat precast agar plat precast menjadi satu kesatuan dengan struktur balok. Dengan adanya pengurangan volume pekerjaan otomatis biaya

pekerjaan akan menjadi berkurang. Disamping itu nanti juga dimunculkan alternatif dengan menaikkan mutu beton pada pekerjaan plat. Analisis VE dilakukan pada struktur bawah khususnya pekerjaan fondasi karena adanya perubahan beban bangunan yang ditumpu oleh fondasi. Perubahan beban bangunan ini disebabkan karena adanya perubahan desain dan bahan struktur atas saat dilakukan analisis VE. Perencanaan awal fondasi menggunakan mini pile segitiga 37x37x37cm. Sebagai alternatif pengganti nantinya akan diusulkan fondasi tiang pancang silinder diameter 35cm dan fondasi sumuran. Pertimbangan dipilihnya alternatif pengganti karena adanya pengurangan jumlah pondasi yang nantinya dapat mengurangi anggaran biaya struktur bawah. Dengan adanya perbandingan-perbandingan desain dan bahan lain dalam perencanaan VE pada pekerjaan plat dan fondasi diharapkan akan menghasilkan anggaran biaya total proyek yang efisien dan optimal

Page 24 4 B. Batasan Masalah Karena penelitian VE dilakukan setelah tahap perencanaan, maka asumsi-asumsi yang dipakai dalam analisis VE adalah asumsi-asumsi pada saat perencanaan. Batasan masalah yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Analisis VE dilakukan pada struktur atas khususnya pada pekerjaan plat dan pada struktur bawah khususnya pekerjaan fondasi. 2. Perhitungan harga satuan untuk menghitung anggaran biaya pekerjaan

alternatif diambil dari daftar harga satuan pekerjaan dari Balai Pengujian dan Informasi Konstruksi (BPIK) kota Semarang bulan NovemberDesember 2005. 3. Perhitungan beton bertulang menggunakan pedoman SKSNI 1991 4. Perhitungan desain struktur dibantu dengan program komputer SAP 2000 versi 7.42. 5. Data-data untuk merencanakan desain struktur ulang pekerjaan alternatif didapat dari RKS, data penyelidikan tanah dan data-data lainnya dari proyek tersebut. 6. Harga-harga bahan untuk pekerjaan alternatif didapat dari brosur harga bahan dengan melakukan survey terhadap perusahaan yang berkepentingan. .

Page 25 5 C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas diambil permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana memunculkan atau mencari alternatif-alternatif desain dan bahan dalam aplikasi Value Engineering yang dapat membuat perencanaan anggaran biaya struktur atas khususnya pekerjaan plat menjadi efisien dan optimal dengan fungsi dan mutu pekerjaan tetap sesuai dengan rencana awal?

2. Bagaimana memunculkan atau mencari alternaif-alternatif desain dan bahan dalam aplikasi Value Engineering yang dapat membuat perencanaan anggaran biaya struktur bawah khususnya pekerjaan fondasi menjadi efisien dan optimal dengan fungsi dan mutu pekerjaan tetap sesuai dengan rencana awal? D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui alternatif penggunaan bahan dan desain struktur apa yang digunakan dalam menganalisis atau merekayasa nilai (value engineering) terhadap struktur plat dan fondasi. 2. Mengetahui berapa besarnya nilai cost saving yang terjadi dalam perencanaan biaya total proyek setelah dilakukan analisis Value Engineering.

Page 26 6 3. Mengetahui perbedaan biaya total proyek yang telah direncanakan sebelumnya dengan biaya total proyek yang sudah dilakukan analisis Value Engineering. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan banyak manfaat, diantaranya : 1. Memberikan informasi atau rekomendasi baik kepada owner, perencana maupun pelaksana mengenai alternatif-alternatif apa saja yang dapat mengefisienkan biaya untuk pekerjaan plat dan fondasi dari suatu proyek.

2. Mengetahui nilai suatu proyek sampai tahap pengembangan proyek tersebut dalam sistem periode Cost of Life Cycle dengan umur proyek dan bunga bank yang direncanakan. F. Sistematika Penelitian Penelitian ini disusun dalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut : Bab I Pendahuluan Pendahuluan memuat tentang latar belakang permasalahan, batasan penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

Page 27 7 Bab II Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori Bab ini menjelaskan pokok-pokok kajian tentang definisi value engineering, ekonomi teknik, SAP2000, beton, Rencana Anggaran Biaya (RAB), pekerjaan struktur bangunan, beton precast/ pracetak, fondasi. Bab III Metodologi Penelitian Bab ini membahas tentang jenis penelitian, tempat penelitian, dan proses penelitian meliputi, metode pengumpulan data, langkah penelitian. Bab IV Analisis Penelitian dan Pembahasan Bab ini menguraikan data-data untuk dilakukan analisis dan

pembahasan. Analisis dilakukan dengan menghitung ulang desain dan rencana anggaran biaya alternatif desain struktur, kemudian baru diaplikasi value engineering. Pembahasan dilakukan pada tahap rekomendasi yang merupakan fase terakhir dalam tahapan aplikasi value engineering. Bab V Penutup Pada bab penutup berisi tentang kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan penelitian tentang aplikasi value engineering terhadap elemen struktur bangunan..

Page 28 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Value Engineering (VE) 1. Pengertian Value Engineering Dalam perencanaan anggaran biaya suatu proyek bangunan dipengaruhi oleh beberapa elemen pekerjaan dalam ilmu keteknik sipilan, diantaranya arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal. Untuk mengetahui dan memperjelas penggunaan value engineering dalam hubungannya dengan elemen pekerjaan tersebut dapat kita lihat pada gambar 2.1. Sipil dan Struktur Arsitektur Elektrikal

Mekanikal Gambar 2.1 Berbagai Elemen Yang Mempengaruhi Perencanaan Biaya Suatu Bangunan Gedung ( DellIsola, 1974 ). 8

Page 29 9 Gambar 2.1 menjelaskan bahwa biaya total bangunan dipengaruhi oleh berbagai elemen pekerjaan, seperti arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal dan lain-lain. Keputusan yang diambil dalam masing-masing elemen pekerjaan tersebut akan mempengaruhi biaya baik didalam elemen tersebut maupun secara keseluruhan, misalnya apabila terjadi pembengkakan biaya pada salah satu elemen, maka akan mempengaruhi biaya total keseluruhan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu metode yang dapat membuat biaya elemen tersebut menjadi optimal. Metode tersebut dalam manajemen konstruksi disebut Value Engineering. Sebagai contoh, dalam elemen arsitek perencanaan desain dan bahan yang dipakai untuk membuat suatu bangunan tampak indah dan menarik, kadang-kadang dapat membuat anggaran biayanya menjadi besar dan mempengaruhi biaya total proyek. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha pendekatan VE untuk merencanakan penghematan biaya yang masih berpedoman pada desain utama. Miles (1971) dalam Barrie dan Poulson (1984) mengatakan Rekayasa Nilai/ Value Engineering adalah suatu pendekatan yang terorganisasi dan kreatif yang bertujuan untuk mengadakan pengidentifikasian

biaya yang tidak perlu. Biaya yang tidak perlu ini adalah biaya yang tidak memberikan kualitas, kegunaan, sesuatu yang menghidupkan penampilan yang baik ataupun sifat yang diinginkan oleh konsumen. DellIsola (1974) mendefinisikan value engineering adalah suatu pendekatan sistematis untuk memperoleh hasil yang maksimal dari setiap biaya yang dikeluarkan. Dimana diperlukan suatu usaha kreatif untuk

Page 30 10 menganalisa fungsi dengan menghapus atau memodifikasi penambahan harga yang tidak perlu dalam proses pembiayaan konstruksi, operasi atau pelaksanaan, pemeliharaan, pergantian alat dan lain-lain. Menurut Heller (1971) dalam Hutabarat (1995) Rekayasa Nilai merupakan penerapan sistematis dari sejumlah teknik untuk mengidentifikasikan fungsi-fungsi suatu benda dan jasa dengan memberi nilai terhadap masing-masing fungsi yang ada serta mengembangkan sejumlah alternatif yang memungkinkan tercapainya fungsi tersebut dengan biaya total minim. Menurut Donomartono (1999) Value Engineering adalah suatu metode evaluasi yang menganalisa teknik dan nilai dari suatu proyek atau produk yang melibatkan pemilik, perencana dan para ahli yang berpengalaman dibidangnya masing-masing dengan pendekatan sistematis dan kreatif yang bertujuan untuk menghasilkan mutu dan biaya serendah-rendahnya, yaitu dengan batasan fungsional dan tahapan rencana tugas yang dapat

mengidentifikasi dan menghilangkan biaya-biaya dan usaha-usaha yang tidak diperlukan atau tidak mendukung.

Page 31 11 2. Karakteristik Value Engineering Menurut Hutabarat (1995) karakteristik Value Engineering diantaranya adalah : a. Berorientasi pada fungsi Perancangan dimulai dengan mengidentifikasi fungsi-fungsi yang dibutuhkan. Dalam penerapan VE harus jeli mencari elemen pekerjaanpekerjaan yang memiliki potensial untuk dilakukan analisis VE, sehingga dapat menghasilkan penghematan biaya total proyek. b. Berorientasi pada sistem Perancangan harus dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh dimensi permasalahan, melihat keterkaitan antara komponenkomponennya dalam mengidentifikasikan dan menghilangkan biayabiaya yang tak diperlukan. Dalam melakukan analisis VE pada suatu item pekerjaan harus memperhatikan perencanaan anggaran biayanya. Bagaimana proses perencanaan biaya dari komponen-komponen item pekerjaan tersebut, agar nantinya dapat dilakukan pengidentifikasian dan penghilangan biaya-biaya yang tidak diperlukan. c. Multi disiplin

Perancangan melibatkan berbagai disiplin keahlian. Suatu pekerjaan sebelum dilakukan perhitungan analisis VEnya, harus diperhitungkan dulu dari segi perencanaan desain struktur dan anggaran biayanya. Untuk itu diperlukan berbagai ilmu dalam bidang keteknik sipilan, seperti

Page 32 12 struktur beton, bahan, Rencana Anggaran Biaya (RAB), teknik fondasi dan lain-lain. d. Berorientasi pada siklus hidup produk Melakukan analisis terhadap biaya total untuk memiliki dan mengoperasikan fasilitas selama siklus hidupnya. Misalnya, siklus hidup produk tersebut direncanakan dalam jangka waktu pendek, maka harus diperhitungkan apakah investasi modal yang ditanamkan dalam produk tersebut bisa kembali dalam jangka waktu yang pendek. e. Pola pikir kreatif Proses perancangan harus dapat mengidentifikasikan alternatif-alternatif pemecahan masalah secara kreatif. Dalam mencari alternatif pengganti dapat diusulkan sebanyak-banyaknya secara kreatif. Banyaknya alternatif yang diusulkan akan membuat banyaknya pilihan untuk dijadikan alternatif pengganti dengan membandigkan alternatif-alternatif tersebut dan memilih salah satu alternatif yang terbaik. 3. Tahapan-tahapan Dalam Value Engineering Menurut Hutabarat (1995) tahapan-tahapan dalam aplikasi VE

dibagi menjadi 5 yaitu : a. Tahap informasi b. Tahap kreatif c. Tahap analisis d. Tahap pengembangan e. Tahap rekomendasi

Page 33 13 Untuk lebih jelasnya, tahap-tahap tersebut akan diuraikan sebagai berikut : a. Tahap Informasi Dalam Hutabarat (1995) menyebutkan tahap informasi adalah mengumpulkan sebanyak mungkin data mengenai proyek. Menurut DellIsola (1974) dalam Barrie dan Poulson (1984) informasi suatu item pekerjaan dapat berupa jawaban dari pertanyaanpertanyaan sebagai berikut : - Itemnya apa ? - Apa fungsinya ? - Berapa nilai fungsi tersebut ? - Berapa total biayanya ? - Area mana yang mempunyai indikasi biaya tinggi atau nilai yang rendah ? Selain itu informasi penting lainnya dapat berupa : - Sudah berapa lama desain itu dibuat atau digunakan.

- Sistem alternatif material atau metode apa yang digunakan dalam konsep aslinya. - Masalah khusus apa yang ada pada sistem atau proyek. - Seberapa sering penggunaan desain ini setiap tahunnya.

Page 34 14 Informasi umum suatu proyek menurut Donomartono (1999) dapat berupa : - Kriteria desain teknis. - Kondisi lapangan (topografi, kondisi tanah, daerah sekitar, gambar sekitar). - Kebutuhan-kebutuhan regular. - Unsur-unsur desain (komponen konstruksi dan bagian-bagian dari proses). Riwayat proyek. Batasan yang dipakai untuk proyek. Utility yang tersedia. Perhitungan desain. -

Partisipasi publik. Teknik-teknik yang dapat dipergunakan pada tahap informasi yaitu, breakdown, cost model, dan analisis fungsi. Teknik-teknik tersebut akan dijelaskan sebagai berikut : 1) Breakdown Menurut DellIsola (1974) breakdown adalah suatu analisis untuk menggambarkan distribusi pemakaian biaya dari item-item pekerjaan suatu elemen bangunan. Jumlah biaya item pekerjaan tersebut kemudian diperbandingkan dengan total biaya proyek untuk mendapatkan prosentase bobot pekerjaan. Bila memiliki bobot pekerjaan

Page 35 15 besar, maka item pekerjaan tersebut potensial untuk dianalisis VE. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.1. Tabel. 2.1 Breakdown Item Pekerjaan Biaya 1. Pekerjaan A 2. Pekerjaan B 3. Pekerjaan C 4. Pekerjaan D 5. Pekerjaan E 6. Pekerjaan F

Total Biaya total proyek keseluruhan Persentase Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp M Rp N = Rp M / Rp N = % Sumber : DellIsola (1974) Tabel 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut : - Pekerjaan A-F merupakan item-item pekerjaan dari suatu elemen bangunan yang memiliki potensial untuk dilakukan VE. Item pekerjaan tersebut dipilih karena memiliki biaya yang besar dari elemen pekerjaan yang lainnya. - Untuk mengetahui item pekerjaan tersebut potensial untuk dilakukan VE adalah dengan memperbandingkan jumlah item pekerjaan tersebut dengan biaya total proyek. Bila memiliki prosentase besar, maka potensial dilakukan VE. - Setelah diidentifikasi, nantinya dipilih salah satu item pekerjaan A-F

yang memiliki potensial untuk dilakukan analisis VE. Selain memiliki biaya yang besar, dalam memilih item pekerjaan dapat ditinjau dari segi bahan dan desain yang nantinya dapat memunculkan berbagai macam alternatif pengganti.

Page 36 16 2). Cost Model DellIsola (1974) mengatakan cost model adalah suatu model yang digunakan untuk mengambarkan distribusi biaya total suatu proyek. Penggambarannya dapat berupa suatu bagan yang disusun dari atas ke bawah. Bagian atas adalah jumlah biaya elemen bangunan dan dibawahnya merupakan susunan biaya item pekerjaan dari elemen bangunan tersebut. Dengan cost model dapat diketahui biaya total proyek secara keseluruhan dan dapat dilihat perbedaan biaya tiap elemen bangunan. Perbedaan biaya tiap elemen bangunan tersebut dapat dijadikan pedoman dalam menentukan item pekerjaan mana yang akan dianalisis VE. Untuk lebih jelasnya cost model dapat dilihat pada gambar 2.2.

Page 37 17 Kondisi Lapangan

Alat Persyaratan & Spec. umum Kondisi umum Kond. Spec termasuk kontijensi Sistem Dasar Pondasi Normal Abnormal Struktur Vertikal Horizontal Arsitek Dinding luar & Atap Konstruksi Internal Finishing Dalam Trans. Vertikal

Mekanikal Pemipaan HC Pemadam Kebakaran Elektrical Umum Sistem special Sistem lain Gambar 2.2 Cost Model Untuk Gedung Standar (DellIsola 1974) Keterangan : = Ideal Cost = Aktual Worth Gedung Standar 17

Page 38 18 Gambar 2.2 menjelaskan suatu bagan cost model yang menggambarkan distribusi perencanaan biaya suatu proyek gedung standar. Biaya total proyek diperoleh dari penjumlahan elemen bangunan, seperti arsitek, mekanikal, elektrikal dan lain-lain seperti pada gambar. Biaya elemen

bangunan merupakan penjumlahan dari item-item pekerjaan yang terdapat dalam elemen tersebut, seperti pada elemen mekanikal terdapat item pekerjaan pemipaan, HC, pemadam kebakaran. Untuk bagan dengan garis utuh/ ideal cost adalah biaya perencanaan awal dan merupakan rencana anggaran biaya proyek, sedangkan pada bagan dengan garis putus-putus/ aktual worth merupakan rencana anggaran biaya setelah dilakukan analisis VE. Nantinya dapat dilihat perbedaan antara biaya perencanaan awal proyek dengan biaya proyek yang sudah dilakukan analisis VE. 3). Analisis Fungsi Menurut Hutabarat (1995) fungsi adalah kegunaan atau manfaat yang diberikan produk kepada pemakai untuk memenuhi suatu atau sekumpulan kebutuhan tertentu. Analisis fungsi merupakan suatu pendekatan untuk mendapatkan suatu nilai tertentu, dalam hal ini fungsi merupakan karakterisitk produk atau proyek yang membuat produk atau proyek dapat bekerja atau dijual. Secara umum fungsi dibedakan menjadi fungsi primer dan fungsi sekunder. Fungsi primer adalah fungsi, tujuan atau prosedur yang

Page 39 19 merupakan tujuan utama dan harus dipenuhi serta suatu identitas dari suatu produk tersebut dan tanpa fungsi tersebut produk tidak mempunyai kegunaan sama sekali. Fungsi sekunder adalah fungsi pendukung yang

mungkin dibutuhkan untuk melengkapi fungsi dasar agar mempunyai nilai yang baik. Analisis fungsi bertujuan untuk : - Mengidentifikasikan fungsi-fungsi utama ( sesuai dengan kebutuhan ) dan menghilangkan fungsi-fungsi yang tidak diperlukan. - Agar perancang dapat mengidentifikasikan komponen-komponen dan menghasilkan komponen-komponen yang diperlukan. Analisis fungsi dapat dilihat pada tabel 2.2. Tabel. 2.2 Tabel Analisis Fungsi FUNGSI NO KOMPONEN VERB NOUN KIND WORTH ( Rp ) COST ( Rp ) 1 A menahan beban P Rp....... Rp....... 2 B meneruskan beban S

Rp....... Rp....... Jumlah Rp W Rp C Sumber : Donomartono (1999) Nilai cost / worth = Rp C / Rp W Dari tabel 2.2 dapat dijelaskan sebagai berikut : - Analisis fungsi hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dianalisis VE dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda. Analisis fungsi selain digunakan pada tahap informasi nantinya juga dimunculkan pada tahap analisis. - A, B merupakan komponen-komponen dari item pekerjaan yang akan dianalisis fungsinya.

Page 40 20 - Pada kolom fungsi yang terdapat kolom verb, noun dan kind merupakan identifikasi fungsi daripada komponen. Untuk verb merupakan identifikasi fungsi kata kerja pada komponen. Untuk noun merupakan identifikasi fungsi kata benda daripada komponen. Untuk kind merupakan identifikasi fungsi jenis daripada komponen. P merupakan fungsi primer/ pokok, sedangkan S merupakan fungsi sekunder. - Pada kolom cost diisi biaya dari komponen pekerjaan existing. Pada worth diisi biaya untuk komponen pekerjaan alternatif setelah

dilakukan perhitungan anggaran biayanya. - Nilai cost/worth hanya menunjukkan besarnya efesiensi penghematan item pekerjaan tersebut. Bila nilai cost/worth kurang dari 1, maka tidak ada penghematan, sedangkan lebih dari 1 terjadi penghematan. Apabila semakin besar nilainya lebih dari 1, maka semakin besar pula penghematan yang terjadi. b. Tahap Kreatif Menurut Hutabarat (1995) Tahap kreatif adalah mengembangkan sebanyak mungkin alternatif yang bisa memenuhi fungsi primer atau pokoknya. Untuk itu diperlukan adanya pemunculan ide-ide guna memperbanyak alternatif-alternatif yang akan dipilih. Alternatif tersebut dapat dikaji dari segi desain, bahan, waktu pelaksanaan, metode pelaksanaan dan lain-lain. Sebagai bahan

Page 41 21 pertimbangan dalam mengusulkan alternatif dapat disebutkan keuntungan dan kerugiannya. Sebagai dasar penilaian/ pertimbangan untuk dilakukan analisis VE dapat dipilih kriteria-kriteria dari item pekerjaan. Kriteriakriteria tersebut nantinya sebagai bahan evaluasi untuk memilih alternatif yang dipilih. c. Tahap Analisis Dalam tahap ini diadakan analisa terhadap masukan-masukan ide atau alternatif. Ide yang kurang baik dihilangkan. Alternatif atau ide

yang timbul diformulasikan dan dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya yang dipandang dari berbagai sudut, kemudian dibuatkan suatu ranking hasil penilaian. Dalam mengevaluasi dapat menggunakan teknik diantaranya, metode zero-one dan matrik evaluasi. Untuk lebih jelasnya teknik-teknik tersebut akan diuraikan sebagai berikut : 1). Metode Zero-One Menurut Hutabrat (1995) metode zero-one adalah salah satu cara pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menentukan urutan prioritas fungsi-fungsi. Prinsip metode ini adalah menentukan relativitas suatu fungsi lebih penting atau kurang penting terhadap fungsi lainnya. Fungsi yang lebih penting diberi nilai satu (one), sedangkan nilai yang kurang penting diberi nilai nol (zero). Keuntungan metode ini adalah mudah dimengerti dan pelaksanaannya cepat dan mudah. Metode zero-one dapat dilihat pada tabel 2.3.

Page 42 22 Tabel 2.3 Metode Zero-One Fungsi A B C D E

Jumlah A B C D E X 0 0 0 0 1 X 1 0 0 1 0 X 0 0 1 1 1

X 1 1 1 1 0 X 4 2 3 0 1 Sumber : Hutabarat (1995) dengan : 1 = Lebih penting 0 = Kurang penting X = Fungsi yang sama Cara pelaksanaan metode zero-one ini adalah dengan mengumpulkan fungsi-fungsi yang tingkatannya sama, kemudian disusun dalam suatu matriks zero-one yang berbentuk bujursangkar. Setelah itu dilakukan penilaian fungsi-fungsi secara berpasangan, sehingga ada matriks akan terisi X. Nilai-nilai pada matriks ini kemudian dijumlah menurut baris dan dikumpulkan pada kolom jumlah. Sebagai contoh pada tabel 2.3 diatas pada baris 1 kolom 2 bernilai 1, artinya fungsi A lebih penting dari fungsi B. Sebaiknya baris 2 kolom 1 bernilai 0. Dari matriks diatas diperoleh urutan prioritas adalah

A, C, B, E, D (berdasarkan jumlah nilai). Pada tahap analisis menggunakan dua bentuk tabel metode zero-one yang berbeda, yaitu metode zero-one mencari bobot untuk kriteria yang diusulkan (tabel 2.4) dan metode zero-one untuk mencari indeks (tabel 2.5). Bobot dan indeks tersebut nantinya digunakan dalam menghitung matrik evaluasi (tabel 2.6).

Page 43 23 Tabel 2.4 Metode Zero-One untuk Mencari Bobot Nomor Kriteria Kriteria Nomor Kriteria 1 2 3 4 5 Total Ranking Bobot A 1 X0111 3 2 B 2 1X111 4

1 C 3 00X11 2 3 D 4 000X1 1 4 E 5 0000X 0 5 Sumber : Isworo, Sutikno, Tugino, Suryanto (1999) Tabel 2.4 dapat dijelaskan sebagai berikut : - Pada kolom fungsi A-E merupakan kriteria komponen dari item pekerjaan yang di VE. Dalam menentukan kriteria harus berhubungan dengan pekerjaan tersebut, misalnya dalam melaksanakan suatu pekerjaan harus direncanakan dari segi biaya, waktu, tenaga kerja dan sebagainya, asal masih berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Kriteria-kriteria yang dipakai harus sama dengan kriteria yang

dimunculkan pada tahap kreatif. - Nomor kriteria baik kolom maupun baris merupakan pemberian angka sesuai urutan kriteria. - Pemberian nilai 1 adalah fungsi A-E pada kolom lebih penting dari baris A-E. - Pemberian nilai 0 adalah fungsi A-E pada kolom kurang penting dari baris A-E. - Pemberian nilai X adalah fungsi A-E pada kolom dan baris mempunyai fungsi sama penting. - Kolom total merupakan penjumlahan pada baris penilaian

Page 44 24 - Pemberian angka pada ranking sesuai jumlah kriteria yang ada, misal pada tabel terdapat 5 kriteria (A-E), maka terdapat ranking 1-5. - Pemberian ranking dilakukan secara terbalik, yaitu yang mendapat total tertinggi angka ranking 5, selanjutnya terus turun sampai yang total terendah mendapat angka ranking 1. - Menurut Hutabarat (1995) menentukan bobot dengan mengambil skala bobot total 100 dan bobot dihitung dengan rumus : = {angka ranking yang dimiliki / jumlah angka ranking}x 100. 2). Matrik Evaluasi Menurut Hutabarat (1995) matrik evaluasi adalah salah satu alat pengambilan keputusan yang dapat menggabungkan kriteria

kualitatif (tak dapat diukur) dan kriteria kuantitatif (dapat diukur). Kriteria-kriteria pada metode ini dapat ditinjau dari aspek item pekerjaan yang dipilih, misalnya pembiayaan, waktu pelaksanaan, jumlah tenaga, kondisi lapangan, berat struktur dan sebagainya. Cara pelaksanaan metode ini adalah : - Menetapkan alternatif-alternatif solusi yang mungkin - Menetapkan kriteria-kriteria yang berpengaruh - Memberikan penilaian untuk setiap alternatif terhadap masing-masing kriteria - Menghitung nilai total untuk masing-masing alternatif - Memilih alternatif dengan nilai total terbesar

Page 45 25 Dalam menghitung matrik evaluasi menggunakan dua tabel, yaitu metode zero-one untuk mencari indeks dan matrik evaluasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.5 dan tabel 2.6. Tabel 2.5 Metode Zero-One Mencari Indeks Fungsi A B C Jumlah Indeks A X

0 0 0 0 B 1 X 1 2 2/3 C 1 0 X 1 1/3 Sumber : Hutabarat (1995) Tabel 2.5 dijelaskan sebagai berikut : - A,B,C adalah item pekerjaan yang dianalisis VE - Pemberian nilai 1 adalah fungsi A,B,C pada kolom lebih penting dari baris A,B,C. - Pemberian nilai 0 adalah fungsi A,B,C pada kolom kurang penting dari baris A,B,C. - Pemberian nilai X adalah fungsi A,B,C pada kolom dan baris

mempunyai fungsi sama penting. - Kolom jumlah merupakan penjumlahan pada baris. - Indeks merupakan perbandingan jumlah dengan total jumlah pada fungsi.

Page 46 26 Tabel 2.6 Matrik Evaluasi Kriteria Fungsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot Bobot

Total Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks 1 A Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks 2 B Y Y Y Y Y

Y Y Y Y Y Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks 3 C Y Y Y Y Y Y Y Y Y Y Sumber : Hutabarat (1995) dengan : Y = Bobot x Indeks Y = jumlah total pada baris Y 26

Page 47 27 Tabel 2.6 dijelaskan sebagai berikut : - A,B,C adalah item pekerjaan yang dianalisis VE - Untuk baris kriteria 1 sampai dengan 9 merupakan asumsi kriteria dari item pekerjaan yang dianalisis VE. - Untuk baris bobot diambil dari metode zero-one tabel 2.4. - Nilai indeks diambil dari metode zero-one tabel 2.5. - Untuk pekerjaan alternatif yang dipilih dilihat dari yang memiliki total indeks dikali bobot (Y) terbesar. d. Tahap Pengembangan Menurut Donomartono (1999) pada tahapan pengembangan ini menyiapkan semua ide atau pendapat secara keseluruhan untuk diteliti ke dalam desain preliminari, dibuatkan gambaran solusi, diestimasikan dalam life cycle cost dari desain asal dan dengan desain yang baru diusulkan, kemudian dipresent value (PV). Untuk lebih jelasnya life cycle cost diuraikan sebagai berikut : 1). Life Cycle Cost Menurut Donomartono (1999) dalam perencanaan biaya total suatu proyek harus memperhatikan sistem yang disebut life cycle cost atau cost of life cycle agar total biaya ultimate dari pekerjaan konstruksi, operasional, pemeliharaan dan pergantian alat dapat diperhitungkan dengan baik. Untuk mencapai total biaya yang optimal diperlukan studi

Page 48 28 VE dan untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai biaya yang dikeluarkan oleh proyek dapat dilihat pada gambar 2.3. Life Cycle Cost Inisial Operasi Pemeliharaan Pergantian Gambar 2.3 Distribusi Biaya Total (DellIsola, 1974) Gambar 2.3 menjelaskan total biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk sebuah proyek. Untuk biaya inisial adalah pembiayaan untuk pembangunan proyek tersebut, seperti biaya perencanaan, biaya konstruksi/ pelaksanaan, biaya supplier (material). Untuk biaya operasi, pemeliharaan dan pergantian merupakan pembiayaan yang dikeluarkan setelah proyek tersebut selesai dan bangunannya sudah digunakan/ dipakai. Perencanaan pembiayaannya berdasarkan umur rencana proyek yang ditentukan. Life cycle cost biasa dipakai sebagai alat bantu dalam analisa ekonomi untuk mencari alternatif-alternatif berbagai kemungkinan dalam pengambilan keputusan dan menggambarkan nilai sekarang dan nilai akan datang dari suatu proyek selama umur manfaat proyek itu sendiri dengan memperhatikan faktor ekonomi dan moneter yang saling dependen satu sama lainnya.

Page 49 29 e. Tahap Rekomendasi Tahapan ini bisa berupa suatu presentasi secara tertulis atau lisan yang ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam memahami alternatif-alternatif yang akan dipilih dalam usulan tim VE yang dapat disampaikan secara singkat, jelas, cepat dan tanpa memojokkan salah satu pihak. Rekomendasi ini nantinya digunakan untuk menyakinkan owner atau pengambil keputusan. B. Rencana Anggaran Biaya (RAB) Menurut Ibrahim (1994) Rencana Anggaran Biaya suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah tenaga kerja serta biaya-biaya lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Dalam menyusun anggaran biaya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Anggaran Biaya Kasar ( Taksiran ) Dalam menyusun anggaran biaya kasar sebagai pedoman digunakan harga satuan tiap meter persegi (m2) luas lantai. Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti. 2. Anggaran Biaya Teliti Anggaran biaya teliti adalah anggaran biaya bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan cermat sesuai dengan ketentuan dan syarat-

Page 50 30 syarat penyusunan anggaran biaya. Penyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti didasarkan atau didukung oleh : a. B e s t e k Gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis. b. Gambar Bestek. Gunanya untuk menentukan/ menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan. c. Harga Satuan Pekerjaan Didapat dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan perhitungan analisa BOW, SNI atau harga satuan dari BPIK. Secara umum rumus menghitung RAB dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB pekerjaan = (volume x harga satuan pekerjaan).......................(pers.2.2) Persentase bobot pekerjaan adalah besarnya persen pekerjaan siap dibanding dengan pekerjaan siap seluruhnya. Rumusnya sebagai berikut : Bobot = {(volume x harga satuan) / harga bangunan }x 100%............(pers.2.3) C. SAP2000 Menurut Wigroho (2001) SAP2000 adalah perangkat lunak yang dikeluarkan oleh CSi (Computer and Struktur, Inc) untuk analisis dan desain struktur yang berorientasi obyek. SAP2000 merupakan program versi terakhir yang paling lengkap dari seri-seri program analisis struktur SAP, baik SAP80

maupun SAP90. Keunggulan program SAP2000 antara lain ditunjukkan

Page 51 31 dengan adanya fasilitas untuk desain elemen, baik untuk material baja maupun beton. Disamping itu juga adanya fasilitas desain baja dengan mengoptimalkan penampang profil, sehingga pengguna tidak perlu menentukan profil untuk masing-masing elemen, tetapi cukup memberikan data profil secukupnya dan program akan memilih sendiri profil yang paling optimal atau ekonomis. D. Beton Istilah-istilah beton menurut SK SNI T-15-1991-03 diantaranya : 1. Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat. 2. Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang diisyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama - sama dalam menahan gaya yang bekerja. 3. Kuat tekan yang diisyaratkan fc adalah kuat tekan beton yang ditetapkan oleh perencanaan struktur (benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm dan tinggi 300 mm), dipakai dalam perencanaan struktur beton, dinyatakan dalam mega pascal (MPa). 4. Kuat tarik leleh fy adalah kuat tarik leleh minimum yang diisyaratkan atau

titik leleh dari tulangan dalam mega pascal (MPa).

Page 52 32 5. Beton normal adalah beton yang mempunyai berat isi 2200-2500kg/m3 menggunakan agregat alam yang dipecah atau tanpa dipecah yang tidak menggunakan bahan tambahan. E. Beton Precast/ Pracetak Beton pracetak menurut SK SNI T-15-1991-03 adalah elemen atau komponen beton tanpa atau dengan tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan. Menurut Triwiyono (2005) beton pracetak biasanya tersusun dari komponen-komponen yang dibuat atau dicetak tidak pada posisi akhir. Komponen-komponen ini dipersiapkan di tempat lain untuk kemudian diangkat, diangkut dan dipasang pada posisi akhir untuk disatukan dengan komponen lain membentuk suatu bangunan utuh. Jenis beton pracetak diantaranya balok, kolom, plat dan pondasi. Terdapat 4 jenis plat pracetak yang ada dipasaran, yaitu : - Hollow core floor units - Double-tee floor slab - Planks floors - Bubble floors

Page 53 33 Agar plat pracetak menjadi satu kesatuan, biasanya diatasnya dicor beton bertulang yang disebut dengan topping. Alasan pemakaian topping antara lain : - Kekakuan lentur lebih besar - Meningkatkan ketahanan terhadap getaran, akustik, termal - Membuat lantai berperilaku sebagai diafragma - Membuat finishing lantai lebih baik dan menerus - Menaikkan stabilitas horizontal Persyaratan topping antara lain : - Tebal minimum 40 mm - Kuat tekan beton fc = 22,5 MPa atau lebih - Rasio tulangan minimal = 0,0013 Gambar plat precast dapat dilihat pada gambar 2.4.

Page 54 34 Gambar 2.4 Plat Precast/ Pracetak (Triwiyono, 2005) 34

Page 55 35 F. Pekerjaan Struktur Bangunan

Menurut RKS (Rencana Kerja dan Syarat) proyek pembangunan Gedung Rektorat Unimus (2005) sebuah bangunan bertingkat dibagi dalam dua bagian struktur bangunan yaitu bangunan struktur atas dan bangunan struktur bawah. Bangunan struktur atas terdiri dari kontruksi balok, kolom, plat, rangka atap dan banyak lagi, kalau bangunan struktur bawah terdiri dari sloof sampai ke bagian fondasi. Dimana kedua bagian bangunan itu mempunyai hubungan saling keterkaitan satu sama yang lain, sehingga tidak bisa dipisahkan dalam perhitungan perencanaannya Desain struktur atas khususnya plat biasanya terbuat dari bahan beton, baja, dan kayu. Untuk beton sendiri ada yang menggunakan beton konvensional maupun beton precast/ pracetak. Struktur bawah khususnya fondasi direncanakan sesuai dengan kondisi tanah tempat proyek itu berada. Pekerjaan plat dan fondasi akan diuraikan sebagai berikut : 1. Plat Dua Arah Menurut Vis dan Kusuma (1993) plat dua arah adalah struktur statis tak tentu yang keempat tepinya ditumpu. Plat dapat ditumpu oleh balok, kolom. Pada konstruksi monolit atau komposit penuh, suatu balok mencakup bagian dari plat pada tiap sisi balok sebesar proyeksi balok yang berada di atas atau di bawah plat, diambil yang terbesar, tetapi tidak boleh lebih besar dari empat kali tebal plat (SK SNI T 15 1991 03).

Page 56 36 a. Perhitungan Pekerjaan Plat Dua Arah Menurut Apriyatno (2004)

4 1 3 lx ln.x 2 ly hb hb hs ln.y b Gambar 2.5 Plat Dua Arah 1). Menghitung Tebal Plat 1 = Ib1 / Is1 1 = Ib2 / Is2 3 = Ib3 / Is3 4 = Ib4 / Is3..(pers. 2.4) dengan : 1 = kekakuan balok tepi dan plat pada arah sisi pendek (tepi-1) 1 = kekakuan balok tepi dan plat pada arah sisi panjang (tepi-2) Ib1 = momen inersia balok tepi -1 = 1/12 . b1 . hb13..(pers.2.4.a) Is1 = momen inersia pelat tepi-1

= 1/12 . lnx . hs3..(pers.2.4.b)

Page 57 37 Ib2 = 1/12 . b2 . hb23 Is2 = 1/12 . lny . hs3 m = (1 + 2 + 3 + 4) / 4..(pers.2.5) dengan : m = nilai rerata kekakuan balok tepi dan plat Dalam segala hal untuk : m < 2,0 hmin = 120 mm m 2,0 hmin = 90 mm hmin = {(0,8 + fy/1500)ln}/ 36 + 5 { m 0,12 (1 + 1/)}.........(pers.2.6) hmin = {(0,8 + fy/1500)ln}/ 36 + 9..........(pers.2.7) hmaks = {(0,8 + fy/1500)ln}/ 36........(pers.2.8) dengan : ln = bentang bersih plat yang menentukan (sisi panjang) = nilai banding sisi panjang dan sisi pendek = ly / lx ; ly > lx.(pers.2.6.a) m = nilai rerata kekakuan balok tepi dan plat hmin = tinggi minimum plat 2). Menghitung Beban Kerja Beban hidup (LL) KN/m2 (tergantung fungsi) Beban mati (DL) KN/m2 (beban luar + berat sendiri plat)

Beban berfaktor = Wu = 1,2 DL + 1,6 LL

Page 58 38 dengan : Wu = beban berfaktor per satuan luas DL = beban mati, untuk beban mati dapat dilihat pada tabel 2.7 LL = beban hidup, untuk beban hidup dapat dilihat pada tabel 2.8 3). Momen Rancang Gambar 2.6 Diagram Momen Rancang Mtx = Ctx . 0,001 . Wu . lx2 Mlx = Clx . 0,001 . Wu . lx2 Mty = Cty . 0,001 . Wu . lx2 Mly = Cty . 0,001 . Wu . lx2....(pers.2.9) Untuk nilai C dapat dicari pada tabel 2.9.

Page 59 39 Tabel.2.7 Beban Mati/ Sendiri Bahan Bangunan dan Komponen Gedung Bahan Bangunan dan Komponen Bangunan Nilai Beban (kg/m2) Beton bertulang Tanah,lempung dan lanau

Air Adukan, per cm tebal : - dari semen - dari kapur, semen merah atau tras Dinding pasangan bata merah - satu batu - setengah batu Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau pengaku),terdiri dari : - semen asbes (eternit dan bahan lain sejenis), dengan tebal maksimum 4mm - kaca, dengan tebal 1 4mm Penggantung langit-langit (dari kayu), dengan bentang maksimum 5 m dan jarak s.k.s minimum 0,80 m Penutup lantai dari ubin semen portland, teraso, dan beton, tanpa adukan , per cm tebal 2400 2000 1000 21 17 450 250 11

10 7 24 Sumber : Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 (Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung)

Page 60 40 Tabel. 2.8 Beban Hidup pada Lantai Gedung No Uraian Nilai Beban (kg/m2) a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

l. m. Lantai dan tangga rumah tinggal, kecuali yang disebut dalam b Lantai dan tangga rumah tinggal sederhana dan gudang tidak penting yang bukan untuk toko, pabrik, bengkel Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, toserba, restoran, hotel, asrama, dan rumah sakit Lantai ruang olah raga Lantai ruang dansa Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain dari pada yang disebut dalam a s/d e, seperti masjid, gereja, ruang pergelaran, ruang rapat, bioskop, dan panggung penonton dengan tempat duduk tetap Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton berdiri Tangga, bordes tangga, dan gang dari yang disebut dalam c Tangga, bordes tangga, dan gang dari yang disebut dalam d,e,f dan g Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c,d,e,f dan g Lantai untuk: pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang arsip, toko buku, toko besi, ruang alat-alat, dan ruang mesin harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri, dengan minimum

Lantai gedung parker bertingkat : - untuk lantai bawah - untuk lantai tingkat lainnya Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan, dengan minimum 200 125 250 400 500 600 500 300 500 250 400 800 300 Sumber : Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983 (Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung)

Page 61 41

Tabel 2.9 Momen Yang Menentukan per Meter Lebar Dalam Jalur Tengah Pada Plat Dua Arah Akibat Beban Terbagi Rata No Momen per meter lebar ly/lx =1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0 2,5 3,0 1 Mlx= 0,001.Wu.ln2.X 25 34 42 49 53 58 62 65 2 Mly= 0,001.Wu.ln2.X 25 22 18 15 15 15 14 14 3 Mtx= -0,001.Wu.ln2.X 51 63 72 78 81 82 83 83 4 Mty= -0,001.Wu.ln2.X 51 54 55 54 54 53 51 49 Sumber : Vis dan Kusuma (1993) 41

Page 62

42 4). Menghitung Tinggi Efektif Plat Dy Dx dx dy h p b = 1000 mm Gambar 2.7 Penulangan Plat Tinggi efektif : Arah x dx = h-p-Dx / 2...(pers.2.10) Arah y dy = h-p-Dx- dy/2..(pers.2.11) dengan : dx = tinggi efektif d dalam arah-x dy = tinggi efektif d dalam arah y h = tebal plat p = selimut beton Dx = diameter tulangan arah-x Dy = diameter tulangan arah-y

Page 63 43 5). Menghitung Jumlah Tulangan k = Mlx / .b.dx2 k = Mly / .b.dy2

k = Mtx / .b.dx2 k = Mty / .b.dy2 ...(pers.2.12) min = tabel 2.10 Tabel Rasio Penulangan (kmin)....(pers.2.13) Aslx = . b. dx Asly = . b. dy Astx = . b. dx Asty = . b. dy..(pers.2.14) n = Aslx / Atul n = Asly / Atul n = Astx / Atul n = Asty / Atul(pers.2.15) s = 1000 / n..(pers.2.16) min = 1,4 / fy..(pers.2.17) aktual = Aslx / b . d aktual = Asly / b . d aktual = Astx / b . d aktual = Asty / b . d .......(pers.2.18) maks = 0,75 {(0,85 . fc . 1 / fy) x (600 / 600 + fy)}..................(pers.2.19) min < aktual < maks ok

Page 64 44 dengan: Mlx = momen lapangan maksimum per meter lebar di arah-x

Mly = momen lapangan maksimum per meter lebar di arah-y Mtx = momen tumpuan maksimum per meter lebar di arah-x Mty = momen tumpuan maksimum per meter lebar di arah-y = faktor reduksi kekuatan = 0,8 b = lebar plat per 1m dx = tinggi efektif dalam arah-x dy = tinggi efektif dalam arah-y k = koefisien tahanan Aslx = luas tulangan lapangan per meter lebar arah-x Asly = luas tulangan lapangan per meter lebar arah-y Astx = luas tulangan tumpuan per meter lebar arah-x Asty = luas tulangan tumpuan per meter lebar arah-y Atul = luas tulangan per diameter (lihat tabel 2.11) n = jumlah tulangan s = jarak spasi antar tulangan = rasio penulangan plat min = rasio tulangan minimum aktual = rasio tulangan yang diperlukan maks = rasio tulangan maksimum

Page 65 45 1 = 0,85 untuk fc 30 MPa 0,85 0,008(fc 30) untuk fc = 30 55 MPa

0,65 untuk fc 55 MPa fc = kuat tekan beton yang ditentukan, MPa fy = tegangan leleh yang diisyaratkan dari tulangan baja 2. Plat Precast Perhitungan Plat Satu Arah Beton Precast Menurut PT JHS. System Pada Proyek Pembangunan Apartemen Perwira Tinggi PTIK Kebayoran Jakarta Selatan (September 2006) a. Beban berfaktor Beban hidup (LL) KN/m2 (tergantung fungsi) Beban mati (DL) KN/m2 (beban luar + berat sendiri plat) Beban berfaktor = Wu = 1,2 WD + 1,6 WL dengan : Wu = beban berfaktor per satuan luas DL = beban mati, untuk beban mati dapat dilihat pada tabel 2.7 LL = beban hidup, untuk beban hidup dapat dilihat pada tabel 2.8

Page 66 46 Tabel 2.10 Tabel Rasio Penulangan ( ) vs Koefisien Tahanan ( k), fc = 30 MPa, fy = 240 MPa Sumber: Apendiks (Dipohusodo,1999) k k

k K k 0.0058 1.3539 0.0084 1.9361 0.0110 2.5029 0.0136 3.0545 0.0162 3.5907 0.0059 1.3766 0.0085 1.9582 0.0111 2.5244 0.0137 3.0754

0.0163 3.6110 0.0060 1.3992 0.0086 1.9902 0.0112 2.5459 0.0138 3.0963 0.0164 3.6313 0.0061 1.4218 0.0087 2.0023 0.0113 2.5674 0.0139 3.1171 0.0165 3.6516 0.0062 1.4445

0.0088 2.0243 0.0114 2.5888 0.0140 3.1380 0.0166 3.6718 0.0063 1.4670 0.0089 2.0463 0.0115 2.6102 0.0141 3.1588 0.0167 3.6921 0.0064 1.4896 0.0090 2.0682 0.0116 2.6316

0.0142 3.1796 0.0168 3.7123 0.0065 1.5121 0.0091 2.0902 0.0117 2.6529 0.0143 3.2004 0.0169 3.7325 0.0066 1.5347 0.0092 2.1121 0.0118 2.6743 0.0144 3.2211 0.0170 3.7526

0.0067 1.5571 0.0093 2.1340 0.0119 2.6956 0.0145 3.2418 0.0171 3.7728 0.0068 1.5796 0.0094 2.1559 0.0120 2.7169 0.0146 3.2625 0.0172 3.7929 0.0069 1.6021 0.0095 2.1778

0.0121 2.7381 0.0147 3.2832 0.0173 3.8130 0.0070 1.6245 0.0096 2.1996 0.0122 2.7594 0.0148 3.3039 0.0174 3.8330 0.0071 1.6469 0.0097 2.2214 0.0123 2.7806 0.0149 3.3245

0.0175 3.8631 0.0072 1.6693 0.0098 2.2432 0.0124 2.8018 0.0150 3.3451 0.0176 3.8731 46

Page 67 47 Tabel 2.11 Luas, Berat Tulangan per Diameter Diameter Tulangan d (mm) Luas Tulangan A (cm2) Berat

Tulangan (kg/m) Diameter Tulangan d (mm) Luas Tulangan A (cm2) Berat Tulangan (kg/m) 5 0.20 0.15 21 3.46 2.72 6 0.28 0.22 22 3.80 2.98 7

0.38 0.30 23 4.15 3.26 8 0.50 0.39 24 4.52 3.55 9 0.64 0.50 25 4.91 3.85 10 0.79 0.62 26 5.31 4.17 11

0.95 0.75 27 5.73 4.48 12 1.13 0.89 28 6.16 4.83 13 1.33 1.04 29 6.61 5.18 14 1.54 1.21 30 7.07 5.55 15

1.77 1.39 31 7.55 5.93 16 2.01 1.58 32 8.04 6.31 17 2.27 1.78 33 8.55 6.71 18 2.54 2.00 34 9.08 7.13 19

2.83 2.23 35 9.62 7.55 20 3.14 2.46 36 10.18 7.99 Sumber : Ibrahim (1994) 47

Page 68 48 b. Perhitungan Penulangan Plat Topping 1). Penulangan arah memanjang (tulangan utama) Mu = 1/8. Wu. L2...(pers. 2.20) dengan : Mu = momen perlu ultimate Wu = beban berfaktor per satuan luas L = panjang precast Tul. memanjang

Topping Tul. melitang p dh Tul. precast Plat Precast a). Kapasitas Momen/m d = h d 1/2D = 1,4/ fy As = . b. d n = As / Atul s = 1000 / n min = 1,4 / fy b Gambar 2.8 Penulangan Topping

Page 69 49 aktual = As / b . d maks = 0,75 {(0,85 . fc . 1 / fy) x (600 / 600 + fy)} min < aktual < maks a = (As. fy) / (0,85. fc. b)...(pers.2.21) Mn = As. fy (d a/2)..(pers.2.22) Mr = Mn > Mu ..(pers.2.23)

dengan : h = tebal plat D = diameter tulangan p = selimut beton d = tinggi efektif b = lebar plat per 1m As = luas tulangan lapangan per meter lebar Atul = luas tulangan per diameter n = jumlah tulangan s = jarak spasi antar tulangan = rasio penulangan min = rasio tulangan minimum actual = rasio tulangan yang diperlukan maks = rasio tulangan maksimum 1 = 0,85 untuk fc 30 MPa 0,85 0,008(fc 30) untuk fc = 30 55 MPa 0,65 untuk fc 55 MPa

Page 70 50 fc = kuat tekan beton yang ditentukan, MPa fy = tegangan leleh yang diisyaratkan dari tulangan baja a = tinggi distribusi tegangan persegi dari muka balok tekan = faktor reduksi kekuatan = 0,8

Mn = momen nominal penampang Mr = momen rencana 2). Penulangan arah melintang (tulangan bagi) As = 0,002 . b . h.(pers.2.24) n = As / Atul s = 1000 / n 3). Cek Stage Erection (saat konstruksi) a). Perhitungan Momen/m Mu = 1/8. Wu. L2 = Mu < Mr half slab

Page 71 51 3. Fondasi Menurut Hardiyatmo (1996) fondasi adalah bagian terendah bangunan yang meneruskan beban bangunan ke tanah atau batuan yang berada di bawahnya. Terdapat dua klasifikasi fondasi, yaitu fondasi dangkal dan fondasi dalam. Fondasi dangkal didefinisikan sebagai fondasi yang mendukung beban secara langsung, seperti : fondasi telapak, fondasi memanjang dan fondasi rakit. Fondasi dalam didefinisikan sebagai fondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah keras atau batu yang terletak relatif jauh dari permukaan, contohnya fondasi sumuran dan fondasi tiang. a. Fondasi Tiang Pancang Menurut Hardiyatmo (2001) fondasi tiang digunakan untuk

mendukung bangunan bila lapisan tanah kuat terletak sangat dalam. Fondasi tiang digunakan untuk beberapa maksud, antara lain: - Untuk meneruskan beban bangunan yang terletak di atas air atau tanah lunak, ke tanah pendukung yang kuat. - Untuk meneruskan beban ke tanah yang relatif lunak sampai kedalaman tertentu, sehingga pondasi bangunan mampu memberikan dukungan yang cukup untuk mendukung beban tersebut oleh gesekan dinding tiang dengan tanah di sekitarnya. - Untuk mengangker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat tekanan hidrostatis atau momen penggulingan.

Page 72 52 - Untuk menahan gaya-gaya hotisontal dan gaya yang arahnya miring. - Untuk memadatkan tanah pasir, sehingga kapasitas dukung tanah tersebut bertambah. - Untuk mendukung fondasi bangunan yang permukaan tanahnya mudah tergerus air. Kelompok tiang umumnya digunakan bila beban yang diterima oleh fondasi tiang terlalu besar, sehingga tidak mampu bila digunakan satu tiang. Jadi kelompok tiang merupakan kumpulan dari beberapa tiang yang bekerja sebagai satu kesatuan. Penyatuan kelompok tiang dengan pelat beton atau yang biasa dikenal dengan pile cap (poer). Dalam masalah kelompok tiang yang terpenting adalah jarak tiang. Pada umumnya

susunan tiang dibuat simetris (jarak tiang sama), sehingga pusat berat kelompok tiang dan pusat berat poer terletak pada satu garis vertikal. Jarak minimum tiang dapat dilihat pada tabel 2.12 Tabel 2.12 Jarak Fondasi Tiang Minimum Fungsi tiang Jarak as-as tiang minimum Tiang dukung ujung dalam tanah keras Tiang dukung ujung pada batuan keras Tiang gesek 2 2,5d atau 75 cm 2d atau 60 cm 3 5d atau 75 cm Sumber : Hardiyatmo (2001)

Page 73 53 1). Perhitungan Fondasi Tiang Pancang Menurut Muyasaroh dan Joko (Tugas Kuliah Rekayasa Fondasi II, 2006) Dari perhitungan SAP didapat : Pu, Mx, My Dari data sondir diperolah : qc, Tf a). Menghitung Kapasitas Ijin Pondasi A = 1/4 . 3,14 . D2.....(pers.2.25) O = 3,14 . D .........(pers.2.26)

Qijin = (qc . A/ 3) + (Tf . O) / 10......(pers.2.27) dengan : A = luas dasar tiang pancang (cm2) qc = perlawanan ujung sondir (kg/cm2) O = keliling tiang (cm) Tf = total friksi sondir (kg/cm2) Qijin = kapasitas ijin pondasi b). Jumlah tiang pancang n1 = Pu/ (Qijin . Eg).....(pers.2.28) dengan : n1 = jumlah tiang dalam satu pile cap Pu = beban aksial bangunan = P kolom + berat pile cap........................................(pers.2.28.a) Eg = end bearing piles, diasumsikan 1,0

Page 74 54 1 y 2 yi o x L

yi xi xi B Gambar 2.9 Kelompok Fondasi Tiang c). Daya dukung per tiang Q = Pu/n1 + (My . xi) / (x2) + (Mx . yi) / (y2) .....(pers.2.29) dengan : Q = beban yang didukung oleh tiang My = momen yang terjadi terhadap titik o searah sumbu x Mx = momen yang terjadi terhadap titik o searah sumbu y xi = jarak tiang ke-i terhadap titik o searah sumbu x yi = jarak tiang ke-i terhadap titik o searah sumbu y (x2) = jumlah kuadrat jarak x terhadap titik o (y2) = jumlah kuadrat jarak y terhadap titik o 4 3

Page 75 55 d). Cek Terhadap Geser Pons kolom b1 x b1 Tul. atas Sudut 45

th d Tul. bawah Tiang pancang xi xi Gambar 2.10 Penampang Pile Cap Vu pons = Pu bo = 2 ( b1+ d) + 2 (b1 + d)..(pers.2.30) Vc = . 1/3 . fc . bo . d > Vu pons.....(pers.2.31) dengan : bo = keliling daerah kritis b1 = lebar kolom d = tinggi efektif pile cap Vc = tegangan geser pons yang diijinkan Vu = kuat geser terfaktor pada penampang = factor reduksi kekuatan = 0,6 fc = kuat tekan beton, MPa o p

Page 76 56 e). Cek Terhadap Geser Lentur Vu geser lentur = total Q tiang

Vc geser lentur = . 1/6 . fc . b . d >Vu geser lentur.(pers.2.32) Menghitung tebal pile cap (th) - Dengan rumus th = d + p + 1/2 D.........(pers.2.33) - th diambil dengan syarat fondasi masih didalam bidang geser/ didalam garis sudut 45 f). Perhitungan Tulangan Pile cap : Mu = Q .xi + Q . xi ....(pers.2.34) Mn = Mu / 0,8 ....(pers.2.35) k = Mn / (0,85 . fc . B . d2)..(pers.2.36) F = 1 - 1 - 2k.....(pers.2.37) Fmax = 1 . 450 / 600+ fy..(pers.2.38) F < Fmax tulangan tunggal As = F . B . d . 0,85. fc / fy.....(pers.2.39) min = 1,4 / fy Asmin= min . B. d n = As / A tul Tulangan atas = 0,15% . B . d.....(pers.2.40) n = As tul atas / A tul dengan : Mu = momen perlu ultimate

Page 77 57 Mn = momen nominal penampang

k = koefisien tahanan F = rasio penulangan yang diperlukan Fmax = rasio penulangan maksimum B = lebar pile cap Asmin = luas tulangan minimum lapangan per meter lebar min = rasio tulangan minimum b. Fondasi Sumuran atau Kaison Menurut Hardiyatmo (2001) fondasi kaison terdiri dari dua tipe, yaitu kaison bor dan kaison. Di Indonesia fondasi kaison sering dibuat berbentuk silinder, sehingga umumnya disebut fondasi sumuran karena bentuknya mirip sumur. Fondasi kaison merupakan jenis peralihan antara fondasi dangkal dan dalam. Fondasi kaison bor dibuat dengan cara mengebor lebih dulu untuk membuat lubang di dalam tanah, kemudian lubang diisi beton. Kaison bor dibedakan menurut materialnya, yaitu kaison bor beton, kaison beton terselubung pipa baja atau pipa beton, kaison beton dilengkapi dengan inti baja dalam pipa baja. Bagian tubuh kaison dapat dilindungi pipa yang merupakan bagian dari fondasi atau pipa pelindung ditarik setelah pengecoran. Fondasi kaison yang berbentuk silinder atau kotak beton dibuat dengan membenamkan silinder beton ditempatnya, bersamaan dengan penggalian tanah. Fondasi ini dimaksudkan untuk mengirimkan beban besar

Page 78 58

yang harus melalui air atau material jelek sebelum mencapai tanah pendukung yang kuat. Pemakaian fondasi sumuran digunakan karena fondasi tiang pancang tidak diperbolehkan berhubung getaran akibat proses pemancangan tiang mengganggu stabilitas bangunan di sekitarnya. 1). Perhitungan Fondasi Sumuran Dari perhitungan SAP didapat : Pu Dari data boring diperoleh : c = 0,10 kg/cm2 = 10 KN/m2 = 20 a). Menghitung Kapasitas Ijin Fondasi Menurut Suryolelono (1994) Qu = .R2(1,3 cNc + .Df.Nq + 0,6. .R.N ) + 2 .R. f. Df...(pers.2.41) Qijin = Qu / SF..(pers.2.42) dengan : Qu = daya dukung ultimate R = jari-jari sumuran c = kohesi tanah Nc, Nq, N = faktor daya dukung Terzaghi (tabel 2.13) = berat jenis tanah (tabel 2.7) Df = kedalaman fondasi f = gaya perlawanan akibat lekatan per satuan luas = 2 . c(pers. 2.41a)

Page 79 59

2 = angka dari tabel 2.14 SF = faktor keamanan = 2-3 Tabel 2.13 Nilai-nilai Faktor Daya DukungTerzaghi Keruntuhan Geser Umum Nc Nq N 0 5.7 1.0 5 7.3 1.6 0.5 10 9.6 2.7 1.2 15 12.9 4.4 2.5 20 17.7

7.4 5.0 25 25.1 12.7 9.7 30 37.2 22.5 19.7 34 52.6 36.5 35.0 35 57.8 41.4 42.4 40 95.7 81.3 100.4 45 172.8 173.3 297.5 48 258.3 287.9 780.1 50 347.6 415.1 1,153.2 Sumber : Hardiyatmo (1996) Tabel 2.14 Hubungan 2 dan (Sudut Gesek Dalam Tanah) Sudut gesek dalam tanah ( ) 2 10 15 20 25 30 35 40 45 1,60

2,06 2,70 3,62 5,01 7,27 10,36 17,97 Sumber : Suryolelono (1994)

Page 80 60 b). Jumlah Fondasi Sumuran n1 = Pu/ (Qijin. Eg) c). Cek Terhadap Geser Pons Menurut Muyasaroh dan Joko (2006) Kolom = b x b Vu pons = P bo = 2 . (b + d) + 2 (b + d) Vc = 0,6 . 1/3 . fc . bo . d > Vu pons d). Cek Terhadap Geser Lentur Tebal pile cap (th) = d + p + 1/2 D Tebal pile cap (th) = diambil dengan syarat fondasi masih didalam bidang geser/ didalam sudut 45 Vu geser lentur = Total Q tiang Vc geser lentur = 0,6 . 1/6 . fc . b . d > Vu

e). Perhitungan Tulangan Pile cap : min = kmin tabel 2.15 Asmin = min . b.d n = As / A tul

Page 81 61 f). Perhitungan tulangan sumuran : Tulangan tegak : min = kmin tabel 2.15 As = min. (1/4 . . D12 1/4 . . D22).....(pers.2.43) dengan : = 3,14 D1 = diameter sumuran luar D2 = diameter sumuran dalam n = As / A tul Tulangan tegak Beton Siklop Tulangan melingkar D1 D2 Gambar 2.11 Penampang Fondasi Sumuran

Page 82 62 Tabel 2.15 Tabel. Rasio Penulangan ( ) vs Koefisien Tahanan ( k), fc = 25 MPa, fy = 240 MPa k k k k k 0.0058 1.3463 0.0084 1.9201 0.0110 2.4755 0.0136 3.0126 0.0162 3.5312 0.0059

1.3687 0.0085 1.9418 0.0111 2.4965 0.0137 3.0329 0.0163 3.5508 0.0060 1.3911 0.0086 1.9635 0.0112 2.5175 0.0138 3.0531 0.0164 3.5704 0.0061 1.4134 0.0087 1.9851 0.0113

2.5384 0.0139 3.0734 0.0165 3.5899 0.0062 1.4357 0.0088 2.0067 0.0114 2.5593 0.0140 3.0936 0.0166 3.6094 0.0063 1.4580 0.0089 2.0283 0.0115 2.5802 0.0141 3.1137 0.0167

3.6289 0.0064 1.4803 0.0090 2.0499 0.0116 2.6011 0.0142 3.1339 0.0168 3.6483 0.0065 1.5026 0.0091 2.0714 0.0117 2.6219 0.0143 3.1540 0.0169 3.6578 0.0066 1.5248 0.0092

2.0929 0.0118 2.6427 0.0144 3.1741 0.0170 3.6871 0.0067 1.5470 0.0093 2.1144 0.0119 2.6635 0.0145 3.1942 0.0171 3.7065 0.0068 1.5691 0.0094 2.1359 0.0120 2.6843 0.0146

3.2142 0.0172 3.7258 0.0069 1.5913 0.0095 2.1573 0.0121 2.7050 0.0147 3.2343 0.0173 3.7452 0.0070 1.6134 0.0096 2.1787 0.0122 2.7257 0.0148 3.2542 0.0174 3.7644 0.0071

1.6355 0.0097 2.2001 0.0123 2.7463 0.0149 3.2742 0.0175 3.7837 0.0072 1.6575 0.0098 2.2214 0.0124 2.7670 0.0150 3.2941 0.0176 3.8029 Sumber : Apendiks (Dipohusodo,1999) 62

Page 83 63

Page 84 63 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Untuk memecahkan dan membahas permasalahan yang terjadi peneliti menggunakan penelitian deskriptif atau survey dengan metode penelitian studi kasus. Menurut Nazir (2003) metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta -fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Studi kasus atau penelitian studi kasus adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakterkarakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasil dari penelitian kasus merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal dari individu, kelompok, lembaga dan sebagainya. 63

Page 85 64 B. Tempat Penelitian Penelitian kali ini dilakukan pada pembangunan gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang yang bertempat di jalan Kedung Mundu Semarang. C. Proses Penelitian Langkah-langkah dan hal-hal perlu dilakukan dalam proses penelitian, diantaranya : 1. Tahap persiapan Sebelum melakukan proses penelitian peneliti harus melakukan tahap persiapan, diantaranya mengumpulkan atau mencari data-data proyek yang memiliki nilai biaya diatas 1 (satu) milyard. Pencarian data dapat dilakukan baik pada konsultan, kontraktor maupun pada Dinas Pekerjaan Umum yang menangani proyek-proyek besar. Setelah mendapatkan data proyek kemudian peneliti melakukan survey ke lokasi proyek untuk mendapatkan gambaran umum kondisi lapangan. Selain itu peneliti juga melakukan studi pustaka baik melalui buku-buku pustaka, internet, peraturan-peraturan Departemen Pekerjaan Umum dan peraturan-peraturan lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan tambahan pengetahuan.

Page 86 65 2. Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Data Primer Data primer adalah data pokok yang digunakan dalam melakukan analisis value engineering. Data primer dapat berupa data-data teknis dari proyek, seperti gambar bestek, Rencana Anggaran Biaya (RAB), Rencana Kerja dan Syarat (RKS). b. Data Sekunder Data sekunder adalah data-data pendukung yang dapat dijadikan input dan referensi dalam melakukan analisis VE. Data sekunder, diantaranya data mengenai daftar harga satuan dan analisa pekerja, data bahan atau material bangunan yang digunakan, data alat-alat berat, data tenaga kerja, peraturan-peraturan bangunan gedung dari Departemen Pekerjaan Umum dan data-data lainnya yang dapat dijadikan referensi dalam menganalisis VE. 3. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara : a. Metode Pengambilan Data Primer Yaitu metode dengan cara melakukan survey langsung pada konsultan maupun pelaksana yang menangani proyek tersebut. Selain itu peneliti juga melakukan observasi langsung ke lokasi proyek tersebut.

Page 87 66 b. Metode Pengambilan Data Sekunder Yaitu metode dengan cara melakukan survey langsung pada instansiinstansi atau perusahaan-perusahaan yang diangap berkepentingan. Perusahaan itu dapat meliputi perusahaan bahan/ material bangunan, persewaan alat-alat berat, konsultan, kontraktor, pemborong tenaga kerja, instansi yang menangani masalah jasa dan konstruksi bangunan, (seperti BPIK, Dinas KIMTARU dan lain-lain ) dan perusahaanperusahaan lainnya yang bisa dijadikan bahan referensi. 4. Analisis Data Dari data-data yang telah dikumpulkan dilakukan analisis VE untuk menghasilkan adanya suatu penghematan biaya atau saving cost. Analisis VE dilakukan tiga tahap, yaitu : a. Tahap Informasi Pada tahap awal ini dilakukan upaya-upaya untuk mendapatkan informasi sebanyak-sebanyaknya yang relevan dengan obyek studi yang akan dievaluasi, dimana data dan informasi tersebut diolah menurut kebutuhan pada tahap selanjutnya. Informasi umum yang diperlukan antara lain adalah : - Nama proyek - Lokasi proyek - Pemilik proyek

- Nilai proyek - Luas bangunan

Page 88 67 - Spesifikasi proyek Langkah-langkah penunjang yang biasa diterapkan dalam tahap informasi adalah sebagai berikut : 1). Pengulangan desain informasi Adalah pelaksanaan mengumpulkan semua informasi yang menyangkut segala aspek kepentingan obyek studi. Adapun yang termasuk didalam obyek studi, yaitu : - Gambar-gambar perencanaan - Spesifikasi biaya - Perkiraan biaya - Pendekatan desain - Perhitungan desain/ konstruksi - Data-data kondisi setempat - Jadwal kegiatan, dan lain-lain. Dalam proses evaluasi selanjutnya, data informasi tersebut dapat dijadikan kumpulan data yang dibutuhkan dan disusun dalam suatu deskripsi permasalahan dan tujuan penghematannya. 2). Penentuan sasaran studi Untuk mengetahui sasaran studi dan berapa besar

perkiraan target penghematan biaya didapat dengan membuat struktur biaya dari keseluruhan elemen obyek studi yang memperlihatkan dengan jelas bagian dan elemen yang ada sebagai sasaran studi tersebut.

Page 89 68 3). Pemilihan elemen dengan potensi penghematan optimum Dari struktur dan perkiraan target penghematan biaya tersebut, maka dapat dipilih elemen-elemen obyek studi yang mempunyai potensi penghematan optimum dengan metode perbandingan (rasio) antara biaya asal dan target biaya, dan perhatian diutamakan kepada rasio yang menyolok. Cara ini dikenal dengan analisis fungsi yang menguraikan rasio cost dengan worth, presentasi pembagian pekerjaan (bobot). b. Tahap Kreatif Didalam value engineering, berfikir kreatif adalah hal sangat penting dalam mengembangkan ide-ide untuk memunculkan alternatifalternatif dari elemen yang masih memenuhi fungsi tersebut, kemudian disusun secara sistematis. Alternatif-alternatif tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya : 1). Bahan atau material Pemunculan penggunaan alternatif bahan dikarenakan

semakin banyaknya jenis bahan bangunan yang diproduksi dengan kriteria mempunyai fungsi yang sama. Seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi jenis bahan yang mempunyai fungsi yang sama dapat dibuat atau dicetak dengan mutu dan kualitas yang hampir sama juga. Hanya karena memiliki merk atau

Page 90 69 lisensi yang berbeda, maka harga bahan tersebut menjadi berbeda. Dengan demikian, maka pemilihan alternatif bahan dapat dilakukan dalam analisis VE. Pencarian bahan dengan mutu, kualitas dan fungsi yang sama dengan rencana awal tapi dengan harga lebih rendah dapat dilakukan 2). Cara atau metode pelaksanaan pekerjaan Dalam melaksanakan suatu pekerjaan pastinya mempunyai cara atau metode sendiri-sendiri. Pada zaman dulu cara menyelesaikan suatu pekerjaan hanya mengandalkan tenaga manusia dengan alat-alat sederhana, sehingga waktu penyelesaian pekerjaan dapat membutuhkan waktu yang cukup lama. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini muncul alat-alat bantu yang lebih canggih dalam menyelesaikan pekerjaan. Sebagai contoh, adanya alat-alat berat seperti dozer, excavator, crane dan lain-lain yang dapat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan konstruksi bangunan, sehingga pekerjaan dapat cepat selesai. Dengan demikian

dapat dilihat, bahwa suatu pekerjaan konsrtuksi bangunan yang dikerjakan dengan tenaga manusia dan alat-alat sederhana akan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan dikerjakan menggunakan alat-alat yang lebih modern. Maka dalam analisis VE dapat berpedoman pada metode pelaksanaan, karena semakin pendek waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan, semakin kecil pula biaya yang dikeluarkan.

Page 91 70 3). Waktu pelaksanaan pekerjaan Setiap pekerjaan dalam suatu proyek pastinya sudah mempunyai jadwal pelaksanaan dalam perencanaan time schedule. Terkadang dengan bobot pekerjaan yang tetap, waktu pelaksanaan pekerjaan dapat dikurangi, asalkan pekerjaan tersebut tidak terdapat dalam jalur kritis.Banyak cara yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, diantaranya dengan mengganti metode pelaksanaan, menambah jumlah tenaga kerja dan lain-lain. Dengan demikian, alternatif pengurangan waktu pelaksanaan dapat dijadikan pedoman karena akan berpengaruh pada perhitungan anggaran biaya. c. Tahap Analisis Alternatif yang timbul diformulasikan, kemudian melakukan eliminasi ide-ide yang kurang praktis dan menilai ide kreatifitas tersebut dari segi keuntungan dan kelemahannya dengan mencari potensi penghematan

biaya untuk setiap ide yang dievaluasi. Pemilihan dapat dilakukan dengan metode zero-one, matrik evaluasi dan lain-lain. Kemudian dibuatkan suatu ranking hasil penilaiannya.

Page 92 71 5. Hasil Analisis Hasil analisa ini dibagi 2 (dua) tahap, yaitu : a. Tahap Pengembangan Mempersiapkan rekomendasi yang telah dilengkapi informasi dan perhitungannya secara tertulis dari alternatif yang dipilih dengan mempertimbangkan pelaksanaan secara teknis dan ekonomis. Langkah-langkah tahapan pengembangan adalah sebagai berikut : - Membuat konsep/ desain untuk dibandingkan satu sama lain. - Membandingkan konsep semula dengan desain usulan/ alternatif. - Membandingkan analisa life cycle cost dari biaya investasi/ awal, biaya operasi dan pemeliharaan, biaya annual dan operasi. b. Tahap Rekomendasi Memberikan rekomendasi yang dapat berupa presentasi secara tertulis atau lisan dari alternatif yang sudah dipilih dalam usulan tim VE untuk ditujukan kepada semua pihak, baik pemilik, perencana maupun pelaksana. Dalam tahap rekomendasi dapat juga berisi usulan alternatif yang direkomendasikan beserta dasar pertimbangan. D. Flow Chart Penelitian

Untuk memudahkan pengertian dan tahapan-tahapan proses dalam penelitian dapat dibuat sebuah flow chart penelitian seperti pada gambar 3.1.

Page 93 72 Optimasi terbaik Start Konsep Reduksi Biaya Breakdown Rekomendasi Terbaik Stop Gambar 3.1 Flow Chart Penelitian Analisis Fungsi Cost Model Struktur Atas Struktur Bawah Alternatif Struktur Atas Alternatif Struktur Bawah Present Value

Page 94 73 Gambar 3.1 menggambarkan urutan-urutan dalam tahapan proses penelitian aplikasi Value Engineering (VE) dan dijelaskan sebagai berikut : - Bagian start sampai analisis fungsi dan breakdown Dalam tahapan VE bagian ini termasuk tahap informasi. Jadi penelitian dimulai dengan mencari data-data baik primer maupun sekunder untuk digunakan dalam proses tahapan VE selanjutnya. Pada bagian konsep biaya reduksi menganalisis data primer yang sudah diperoleh yaitu data rencana anggaran biaya proyek. Analisis dilakukan sasaran mengidentifikasi bagian elemen bangunan mana yang mempunyai potensi untuk dianalisis VE. Untuk memudahkan dalam mencari dibuatlah cost model, yaitu sebuah bagan yang menggambarkan distribusi rencana biaya proyek secara keseluruhan. Analisis fungsi dan breakdown adalah teknik yang dipakai dalam mengidentifikasi elemen bangunan yang akan di VE. Dalam pengidentifikasian supaya lebih mudah harus berpedoman pada cost model yang sudah dibuat. - Bagian struktur atas dan bawah Bagian ini termasuk dalam tahap kreatif. Jadi disini mencari sebanyak mungkin alternatif-alteratif pekerjaan struktur yang nantinya untuk dianalisis VE. - Bagian alternatif struktur atas dan bawah Bagian ini termasuk dalam tahap analisis pada tahapan VE. Semua alternatif yang diusulkan dianalisis untuk nantinya dipilih satu alternatif terbaik untuk

mengganti existing. Sebelum dilakukan perhitungan VE, alternatif juga diperhitungkan dari segi desain, bahan dan biaya.

Page 95 74 - Bagian present value Pada tahapan VE bagian ini termasuk dalam tahap pengembangan. Disini nantinya dilakukan perhitungan perbandingan struktur lama dengan struktur alternatif dalam siklus hidup life cycle cost. Dalam perhitungan biayanya kedua pekerjaan tersebut dipresent value-kan / perhitungan biayanya dibuat menjadi harga sekarang (PV). - Bagian rekomendasi terbaik Bagian ini termasuk dalam tahap rekomendasi atau tahapan terakhir dari VE. Disini nantinya dibuat rekomendasi berupa presentasi baik secara tertulis maupun lisan mengenai alternatif terbaik yang diusulkan.

Page 96 75 BAB IV ANALISIS VALUE ENGINEERING PROYEK GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG A. Latar Belakang Proyek Sarana dan prasarana dalam dunia pendidikan sangatlah penting, hal ini untuk menunjang dalam proses belajar mengajar. Tak lain halnya dengan

Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) yang menginginkan tambahan sarana gedung guna memperlancar proses pendidikan. Untuk mewujudkan hal tersebut UNIMUS membangun sebuah gedung Rektorat yang terletak di Jalan Kedung Mundu Raya Semarang. Sebelumnya, gedung Rektorat UNIMUS itu sendiri menjadi satu gedung dengan Yayasan Muhammadiyah yang terletak di Jalan Singosari no. 33 Semarang. Gedung ini nantinya digunakan sebagai sarana untuk mengurusi segala hal yang berhubungan dengan kegiatan administrasi Universitas. Selain itu juga digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa UNIMUS. Gedung ini merupakan salah satu dari sekian gedung yang direncanakan akan dibangun oleh UNIMUS. UNIMUS ingin menciptakan suatu area pendidikan yang menampilkan/ menonjolkan kehandalannya sendiri untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. 75

Page 97 76 B. Data Proyek Dalam melakukan studi Value Engineering (VE) data perencanaan asli mengenai pembangunan gedung Rektorat UNIMUS sangat diperlukan. Data ini dijadikan sebagai acuan agar fungsi dan kegunaan gedung nantinya tidak berubah dari rencana awal. Adapun data proyek yang didapat untuk diolah adalah sebagai berikut:

Nama gedung : Rektorat Universitas Muhammadiyah Pemilik : Universitas Muhammadiyah Semarang Lokasi gedung : Jalan Kedung Mundu Raya Semarang Fungsi gedung : Untuk urusan administrasi Universitas dan sarana proses belajar mengajar (terdapat fasilitas ruang kelas) Luas lantai : 2.232 m2 (terdiri dari 4 lantai) Luas lantai1 = 558 m2 Luas lantai 2 = 558 m2 Luas lantai 3 = 558 m2 Luas lantai 4 = 558 m2 Pondasi : Mini pile ex. PT. WIKA Struktur : Beton bertulang Atap : Kap baja profil siku Biaya : Rp 5.202.250.000 Pelaksanaan : 180 hari Pemeliharaan

: 90 hari

Page 98 77 C. Struktur Organisasi Proyek Dalam pelaksanaan pembangunan proyek gedung Rektorat UNIMUS diperlukan suatu manajemen dan sistem organisasi yang terarah dan teratur. Apabila dua hal tersebut dapat terealisasi dengan baik, maka akan mempermudah pengaturan kerja , sehingga pekerjaan berjalan sesuai rencana dan tidak mengalami keterlambatan serta adanya pembengkakan dana anggaran. Dalam mendapatkan hasil pekerjaan yang optimal diperlukan juga adanya pengawasan dan pengendalian yang baik, maka dalam hal ini dibentuk struktur organisasi proyek, diantaranya Perencana proyek termasuk tim VE, Pelaksana proyek, Pengawas proyek. Semua kegiatan dalam struktur organisasi masih dalam pengawasan dan pengendalian pemilik proyek. Adapun tugas dan kewajiban serta tanggungjawabnya dapat dilihat pada gambar 4.1. Garis komando Garis koordinasi Gambar 4.1 Struktur Organisasi Proyek Pemilik UNIMUS Perencana

PT. Pola Dwipa Manajemen Konstruksi Kontraktor/ Pelaksana PT. Sarana Dwipa Peneliti VE

Page 99 78 D. Rencana Anggaran Biaya Proyek Rencana anggaran biaya direncanakan berdasarkan volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Daftar analisa harga dan bahan pekerjaan disesuaikan dengan kondisi dan standar harga di daerah Semarang. Tiap pekerjaan dibagi menjadi beberapa pos-pos pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa biaya per pos pekerjaan dan untuk memudahkan pembagian biaya dalam hal pelaksanaan pekerjaannya nanti. Pos-pos pekerjaan beserta rencana pembiayaan secara global dapat dilihat pada tabel 4.1. RAB ini akan dijadikan acuan untuk memonitor besarnya saving cost yang terjadi setelah dilakukan VE dan untuk lebih lebih jelasnya rencana anggaran biaya secara keseluruhan dapat dilihat pada lampiran 7. E. Teknik Mengidentifikasi Pekerjaan yang Akan di Value Engineering 1. Cost Model Cost model dilakukan dengan membuat suatu bagan pekerjaan

yang dikelompokkan menurut elemen pekerjaannya masing-masing. Pada bagan tersebut juga dicantumkan rencana anggaran biaya tiap item pekerjaan. Cost model ini dibuat untuk memilih pekerjaan mana yang akan di VE dengan melihat alur bagan pekerjaan. Dapat kita lihat perbedaan biaya tiap elemen pekerjaan yang kita jadikan untuk pedoman dalam analisis VE. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.2.

Page 100 79 Tabel 4.1 Rencana Anggaran Biaya Secara Global N o Sub No Uraian Pekerjaan Harga Pekerjaan Bobot Pekerjaan (%) A Pekerjaan Persiapan 7,050,000.00 0.136 B

Pekerjaan Struktur dan Atap I Pekerjaan Tanah 2,312,675.00 0.044 II Pekerjaan Beton Bertulang 1:2:3 a. Pekerjaan Struktur Lantai 1 699,254,070.50 13.441 b. Pekerjaan Beton Bertulang Lantai 2 424,306,723.50 8.156 c. Pekerjaan Beton Bertulang Lantai 3 404,906,710.50 7.783 d. Pekerjaan Beton Bertulang Lantai 4 745,378,727.00 14.328 Jumlah 2,273,846,231.50 43.708 III Pekerjaan Rangka Atap dan Atap

221,928,799.00 4.266 C Pekerjaan Finishing Arsitektur I Pekerjaan Finishing Arsitektur Lantai 1 a. Pekerjaan Pondasi Batu Belah 60,154,138.00 1.156 b. Pekerjaan Pas. Batu Bata/Plesteran 59,715,146.16 1.148 c. Pekerjaan Kosen Lantai 1 109,676,625.00 2.108 d. Pekerjaan Plafond 38,481,400.00 0.74 e. Pekerjaan Pasang Lantai dan Dinding 167,553,984.50 3.221 f. Pekerjaan Sanitair 14,115,000.00 0.271

g. Pekerjaan Cat-catan 29,234,280.00 0.562 Jumlah 478,930,573.66 9.206 II Pekerjaan Finishing Arsitektur Lantai 2 a. Pekerjaan Pas. Bt Bata/Plesteran, Beton Praktis 36,445,925.93 0.701 b. Pekerjaan Kosen Lantai 2 322,940,375.00 6.208 c. Pekerjaan Plafond 40,828,900.00 0.785 d. Pekerjaan Pasang Lantai dan Dinding 89,580,365.88 1.722 e. Pekerjaan Sanitair 14,115,000.00 0.271

f. Pekerjaan Cat-catan 25,232,010.00 0.485 Jumlah 529,142,576.81 10.172 III Pekerjaan Finishing Arsitektur Lantai 3 a. Pekerjaan Pas. Bt Bata/Plesteran, Beton Praktis 36,130,820.94 0.695 b. Pekerjaan Kosen Lantai 3 75,876,500.00 1.459 c. Pekerjaan Plafond 39,710,150.00 0.763 d. Pekerjaan Pasang Lantai dan Dinding 99,480,639.63 1.912 e. Pekerjaan Sanitair 14,115,000.00 0.271

f. Pekerjaan Cat-catan 25,463,010.00 0.489 Jumlah 290,776,120.57 5.589 IV Pekerjaan Finishing Arsitektur Lantai 4 a. Pekerjaan Pas. Bt Bata/Plesteran, Beton Praktis 51,588,400.74 0.992

Page 101 80 b. Pekerjaan Kosen :(Lt. 4 + Dak) 92,382,750.00 1.776 c. Pekerjaan Plafond 77,443,900.00 1.489 d. Pekerjaan Pasang Lantai dan Dinding 98,230,639.63 1.888 e. Pekerjaan Sanitair

14,115,000.00 0.271 f. Pekerjaan Cat-catan 43,753,410.00 0.841 Jumlah 377,514,100.37 7.257 D Pekerjaan Lain-lain 136,800,000.00 2.63 E Pekerjaan Halaman 131,753,385.29 2.533 F Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal I Pekerjaan AC 106,870,000.00 2.054 II Pekerjaan Instalasi Plumbing

84,151,070.00 1.618 III Pekerjaan Sound System (Tata Suara) 35,971,800.00 0.691 IV Pekerjaan Telepon 53,350,000.00 1.026 V Pekerjaan Instalasi Listrik 436,653,350.00 8.394 VI Pekerjaan Instalasi Penangkal Petir 35,200,000.00 0.677 Jumlah 752,196,220.00 14.46 Total 5,202,250,682.20 100

Sumber : Rencana Anggaran Biaya Proyek Pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang.

Page 102 81 Pek. Persiapan 7.050.000 Struktur 2.498.087.705 Fondasi 383.175.495 Struktur atas 1.892.983.411 Arsitek 1.676.363.471 Dinding 244.034.531 Kusen 600.876.250 Plafond 196.464.350 Keramik 454.845.629 Finishing dalam

180.142.710 Mekanikal 191.021.070 AC 106.870.000 Plumbing 84.151.070 Elektrikal 561.175.150 Inst. Listrik 436.653.350 Sound 35.971.800 Penang. Petir 35.200.000 Pek. Lain 268.553.385 Halaman 131.753.385 Pek. Lainnya 136.800.000 Rektorat UNIMUS 5.202.250.682,19 Struktur atap

221.928.799 Gambar 4.2 Cost Model Proyek Gedung Rektorat UNIMUS 81

Page 103 82 Gambar 4.2 menjelaskan cost model dari rencana anggaran biaya proyek gedung Rektorat Unimus. Tiap elemen bangunan mempunyai rencana anggaran biaya yang berbeda-beda. Untuk bagan dengan garis utuh/ ideal cost adalah rencana biaya pada saat perencanaan, sedangkan pada bagan dengan garis putus-putus/ aktual worth merupakan rencana anggaran biaya setelah dilakukan analisis VE. Dari cost model dapat diketahui perbedaan biaya tiap elemen bangunan tersebut yang nantinya dijadikan pedoman dalam menentukan item pekerjaan mana yang akan dianalisis VE. 2. Breakdown Analisa Breakdown dilakukan dengan mengidentifikasi pekerjaan yang akan di VE pada proyek pembangunan gedung Rektorat UNIMUS. Dari RAB dapat dilihat bahwa pekerjaan struktur memiliki rencana biaya yang besar dibanding pekerjaan lainnya, maka breakdown akan dilakukan pada pekerjaan tersebut. Untuk melihat potensi item pekerjaan yang akan di VE, biaya dari item pekerjaan tersebut dibandingkan dengan biaya total keseluruhan proyek. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.2

Page 104 83 Tabel 4.2 Breakdown Pekerjaan Struktur Item Pekerjaan Biaya 1. Pekerjaan galian tanah 2. Pekerjaan urugan pasir 3. Pekerjaan lantai kerja 1:2:3 4. Pekerjaan fondasi tiang pancang 5. Pekerjaan sloof 6. Pekerjaan kolom 7. Pekerjaan balok 8. Pekerjaan plat 9. Pekerjaan beton lainnya 10. Pekerjaan struktur atap Total Biaya total proyek keseluruhan Persentase Rp 2.312.675 Rp 6.418.800 Rp 8.604.833,50 Rp 365.839.186,75 Rp 69.107.148 Rp 593.560.426,75

Rp 435.257.932,50 Rp 600.154.343,75 Rp 194.903.560,25 Rp 221.928.799 Rp 2.498.087.705,50 Rp 5.202.250.682,19 = Rp 5.202.250.682,19 / Rp 2.498.087.705,50 = 48,018 % - Distribusi biaya pada tabel merupakan harga pekerjaan pada elemen struktur. Pekerjaan tersebut dipilih karena mempunyai biaya yang besar dari biaya elemen bangunan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada besarnya prosentase bila dibandingkan dengan biaya total proyek. - Nantinya dipilih pekerjaan plat dan fondasi untuk dianalisis VE, karena mempunyai potensial untuk terjadi penghematan biaya. F. Studi Value Engineering ( VE ) Dari teknik breakdown dan cost model dapat diketahui bahwa studi VE nantinya dapat dilakukan pada pekerjaan yang memiliki biaya yang besar atau yang memiliki bobot pekerjaan yang besar. Studi VE juga dapat dilakukan pada item pekerjaan yang memiliki potensi untuk dilakukan penghematan biaya.

Page 105 84

Studi VE atas proyek pembangunan gedung Rektorat UNIMUS dilakukan pendekatan dan pembatasan terhadap pekerjaan struktur , yaitu: 1. Value Engineering pada item pekerjaan struktur atas khususnya plat 2. Value Engineering pada item pekerjaan struktur bawah khususnya fondasi Adapun alasan dilakukannya analisis VE pada item tersebut adalah : - Item pekerjaan struktur atas memiliki bobot pekerjaan yang besar, jadi potensial untuk dilakukan analisis VE. - Analisis dilakukan pada pekerjaan struktur bawah, karena adanya perubahan beban yang ditahan fondasi. Jadi bisa terjadi penghematan biaya, karena adanya pengurangan jumlah fondasi. - Analisis dilakukan dengan memunculkan alternatf desain struktur sebagai pembanding, sehingga nantinya dapat dipilih satu pilihan terbaik sesuai dengan kriteria yang dikehendaki. - Asumsi analisis dengan meninjau dari segi material/ bahan yang nantinya dapat menghasilkan penghematan dari segi biaya maupun waktu dari item pekerjaan tersebut. 1. Analisis VE Pada Item Pekerjaan Struktur Atas Khususnya Plat Struktur atas adalah semua pekerjaan struktur di atas pekerjaan sloof dan di bawah pekerjaan atap. Pekerjaan tersebut diantaranya adalah pekerjaan balok, kolok, plat, dan tangga. Pada proyek ini pekerjaan struktur atas semuanya menggunakan beton bertulang konvensional.

Page 106 85

Adapun batasan masalah yang digunakan dalam melakukan analisis VE adalah sebagai berikut : - Analisis VE hanya dilakukan pada pekerjaan plat dengan memunculkan alternatif desain sebagai pembanding. - Penggunaan alternatif beton pracetak untuk struktur plat dengan petimbangan efisiensi dan efektivitas bahan, serta waktu pelaksanaan. - Penggunaan alternatif tetap beton bertulang dengan perubahan mutu dan dimensi plat atas dasar pertimbangan penghematan biaya. - Dalam penggunaan alternatif nantinya juga harus diperhitungkan dari segi struktur agar mutu dan kualitas desain alternatif tetap terjaga. - Dengan adanya perubahan desain plat, perlu dilakukan perhitungan ulang pada perubahan yang terjadi pada struktur tersebut, baik dari segi volume maupun dari segi anggaran biaya. - Refensi untuk menghitung desain struktur dan anggaran biaya dibantu dengan buku-buku literature dan brosur dari survey ke instansi pemerintah maupun perusahaan yang berkepentingan.

Page 107 86 2. Analisis VE Pada Item Pekerjaan Struktur Bawah Khususnya Fondasi Pekerjaan struktur bawah cukup potensial untuk dilakukan analisis VE, salah satunya adalah pekerjaan fondasi. Adapun batasan masalah untuk analisis VE adalah sebagai berikut : - Analisis VE dilakukan dengan memunculkan alternatif pembanding

untuk pekerjaan fondasi. - Penggunaan alternatif fondasi dengan merubah bentuk dimensi fondasi tiang dan merubah jenis fondasi. - Alternatif perubahan dimensi adalah dengan mengganti minipile segitiga menjadi tiang silinder. Alternatif mengganti jenis fondasi adalah dengan mengganti fondasi sumuran - Perhitungan beban bangunan yang ditahan fondasi dengan bantuan program computer SAP2000 versi 7.42.. - Karena perubahan desain struktur fondasi tidak mempengaruhi perubahan bentuk dari segi arsitekturnya, maka asumsi dalam perhitungan biayanya hanya berpedoman pada segi bahan, waktu kerja dan metode pelaksanaan.

Page 108 87 G. Tahapan Dalam Analisis VE Pada Item Pekerjaan Plat Pekerjaan struktur atas khususnya plat pada sebagian besar proyek biasanya memiliki alokasi biaya yang besar. Hal ini menjadi alasan mengapa perlu dilakukan analisis VE pada item pekerjaan tersebut. Selain itu kurangnya perencanaan desain struktur yang optimal dengan perhitungan yang berlebihan atau pemilihan bahan yang kurang tepat bisa menyebabkan pembengkakan biaya pelaksanaan. Adanya berbagai alternatif yang dipilih untuk membuat perencanaan struktur menjadi efektif dan efisien perlu dilakukan dalam melakukan analisis VE.

Pada proyek pembangunan gedung Rektorat UNIMUS struktur platnya menggunakan struktur beton bertulang. Dalam penerapan VE pada struktur plat akan dicoba alternatif dengan mengganti bahan, yaitu dengan mengganti mutu bahan dan menggunakan beton pracetak. Alasan pemilihan alternatif adalah adanya penghematan dari segi biaya maupun waktu dengan adanya perubahan volume pekerjaan.

Page 109 88 1. Tahap Informasi a. Informasi Umum dan Kriteria Desain Proyek : Pembangunan Gedung Rektorat UNIMUS Item : Pekerjaan Struktur Atas Tabel. 4.3 Informasi Umum dan Kriteria Desain Pekerjaan Plat Uraian Data Teknis Proyek Kriteria Desain Unsur Desain Perkiraan Biaya Plat Lantai : - Mutu beton K225 - Mutu Baja fy 240 Mpa

- Tebal plat 12 cm - Diameter tulangan 10 mm Plat Atap : - Tebal plat 10 cm - Diameter tulangan 8 mm Beban hidup 250 kg/m2 Perhitungan beton menurut SKSNI 1991 Ketinggian plat : - Lantai 2 + 4.45 - Lantai 3 + 8.45 - Lantai 4 + 12.45 - Plat atap bawah +16.35 - Plat atap atas + 20.35 Volume plat : - Lantai 2 = 61.12 m3 - Lantai 3 = 63.90 m3 - Lantai 4 = 63.90 m3 - Plat atap bawah = 33.68 m3 - Plat atap atas = 18.67 m3 - Plat atap canopy = 4.98 m3 Rp 600.154.343,80

Page 110 89

b. Analisis Fungsi Pekerjaan Struktur Tabel. 4.4 Tabel Analisis Fungsi Pekerjaan Plat No Uraian Kata Kerja Fungsi Kt. Benda Jenis Cost Worth 1 Beton Menyalurkan Beban P 115,872,937.50 Belum dihitung 2 Besi tulangan Menyalurkan Beban P 219,907,406.25 Belum dihitung 3 Begesting Mencetak Plat

P 133,763,000.00 Belum dihitung 4 Perancah Menahan Beban P 130,611,000.00 Belum dihitung Jenis P = primer 600,154,343.75 Belum dihitung S = sekunder - Analisis fungsi pada tahap ini hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dianalisis dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda terukur. - Nilai cost didapat dari rencana biaya existing. - Nilai worth yang belum bisa ditampilkan akan diisi setelah dilakukan perhitungan biaya pekerjaan alternatif pada tahap analisis. - Analisis fungsi secara lengkap akan ditampilkan pada tahap analisis. 89

Page 111 90

2. Tahap Kreatif Pada tahap ini akan dimunculkan dua alternatif sebagai pembanding perencanaan awal yang sudah ada . Kedua alternatif tersebut adalah : a. Alternatif 1 : Penggunaan beton bertulang dengan perubahan mutu beton untuk struktur plat Data-data : - Mutu beton K350, untuk harga didapat dari Jati Kencana Beton (lampiran 4) - Diameter tulangan 10 mm untuk plat lantai - Diameter tulangan 8 mm untuk plat atap - Pembebanan direncanakan menurut PBI untuk gedung tahun 1983 - Perhitungan beton berpedoman pada SKSNI 1991 b. Alternatif 2 : Penggunaan beton precast untuk struktur plat Data-data : - Spesifikasi plat precast didapat dari Adhimix Precast (lampiran 4) - Mutu beton plat topping K275, fc = 22,5 MPa - Mutu baja plat topping fy = 240 MPa - Pembebanan direncanakan menurut PBI untuk gedung tahun 1983 - Perhitungan beton berpedoman pada SKSNI 1991 - Perhitungan struktur plat berdasarkan referensi dari PT JHS untuk proyek pembangunan Apartemen Perwira Tinggi PTIK Kebayoran Jakarta Selatan

Page 112 91 - Tebal plat lantai precast 6 cm dan topping 6 cm - Diameter tulangan untuk topping plat lantai 8 mm - Tebal plat atap precast 6 cm dan topping 4 cm - Diameter tulangan untuk topping plat atap toping 6 mm Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih alternatif dapat digambarkan keuntungan dan kelemahan setiap alternatif, seperti terdapat pada tabel 4.5. Untuk memudahkan perhitungan VE dalam memilih alternatif terbaik dapat dimunculkan kriteria-kriteria dari item pekerjaan plat. Kriteria tersebut merupakan komponen-komponen/ aspek-aspek dalam pelaksanaan pekerjaan plat.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.6. Dalam tabel juga dijelaskan perbandingan keuntungan dari kriteria yang diusulkan.

Page 113 92 Tabel. 4.5 Keuntungan dan Kerugian Alternatif Pekerjaan Plat No Usulan/ Alternatif Keuntungan Kelemahan 1. 2.

Beton bertulang dengan perubahan mutu K225 menjadi K350 Beton pracetak untuk struktur plat - Dimensi plat lebih kecil - Perencanaannya mudah - Sarana yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan lebih sederhana - Dapat menghemat biaya dengan adanya pengurangan volume beton - Mutu terjamin karena dikerjakan oleh orang yang ahli dibidangnya - Biaya pelaksanaan menjadi ekonomis dengan adanya efesiensi dan efektifitas bahan - Pelaksanaannya tidak memerlukan adanya begesting - Mutu beton tergantung banyak faktor sehingga kurang terjamin - Memerlukan kerjasama yang baik karena banyaknya tenaga kerja - Pelaksanaannya membutuhkan peralatan berat/

modern dan teknologi tinggi - Pelaksanaan pekerjaan hanya bisa dikerjakan oleh orang yang ahli sehingga tidak begitu mudah diperoleh di lapangan - Perlu diperhatikan dalam perencanaan mekanikal elektrikal - Keuntungan dan kelemahan dari alternatif yang diusulkan nantinya bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam perhitungan VE untuk menentukan alternatif yang dipilih. 92

Page 114 93 Tabel 4.6 Kriteria Desain Alternatif Pekerjaan Plat No Kriteria Pek. Plat Alternatif 1 dengan Mengganti Mutu Beton Pek. Plat Alternatif 2 dengan Plat Precast 1. 2. 3. 4.

5. 6. 7. 8. 9. Waktu Pelaksanaan Pembiayaan Jumlah tenaga kerja lapangan Koordinasi pelaksanaan Pengawasan dan pengendalian Kondisi lapangan Kondisi cuaca Pekerjaan finishing Berat struktur Lama karena pembuatan bekisting. Biaya bahan cukup murah karena mudah didapat, semakin tinggi mutu semakin mahal. Biaya pelaksanaan

mahal karena terkait dengan tenaga kerja, tower crane, ready mix, concrete pump. Banyak. Cukup sulit karena tenaga yang banyak, perlu diperhatikan pada pekerjaan cold joint. Tidak terlalu ketat karena menggunakan beton ready mix. Membutuhkan ruang kerja yang luas. Harus diperhatikan. Cukup lama. Berat. Cukup cepat karena menggunakan peralatan modern dan bahan yang sudah dicetak terlebih dahulu Biaya bahan mahal

Biaya pelaksanaan tidak terlalu mahal karena adanya percepatan waktu pelaksanaan Tidak banyak. Tidak terlalu sulit. Kontrol yang cukup ketat. Membutuhkan ruang kerja yang luas. Tidak berpengaruh. Cepat. Berat. - Kriteria-kriteria pada tabel nantinya digunakan untuk perhitungan analisis VE dalam metode zero-one dan matrik evaluasi pada tahap analisis.

Page 115 94 3. Tahap Analisis a. Perhitungan Estimasi Biaya Pekerjaan Plat 1). Pekerjaan Existing Perhitungan existing pekerjaan plat diambil dari Rencana Anggaran Biaya Proyek Pembagunan Gedung Rektorat UNIMUS.

a). Perhitungan harga satuan Harga satuan 1m3 pekerjaan plat menurut rencana anggaran biaya : 1,000 m3 Beton K225 @ Rp 470.550 Rp 470.550 135,000 kg Pembesian @ Rp 6.615 Rp 893.025 8,000 m2 Perancah @ Rp 66.300 Rp 530.400 8,000 m2 Begesting @ Rp 67.900 Rp 543.200 Rp 2.437.175 b). Volume plat : - Plat canopy = 4,980 m3 - Plat lantai 2 = 61,120 m3 - Plat lantai 3 = 63,900 m3 - Plat lantai 4 = 63,900 m3

- Plat atap bawah = 33,680 m3 - Plat atap atas = 18,670 m3 Total = 246,250 m3 c). Harga total untuk pekerjaan plat = 246,25 m3 x Rp 2.437.175 = Rp 600.154.343

Page 116 95 2). Pekerjaan Plat Alternatif 1, yaitu Mengganti Mutu Beton K225 menjadi K350 a). Perhitungan volume : Tebal plat lantai 10 cm dan plat atap 8 cm didapat dari perhitungan struktur plat (lampiran 2). Volume plat lantai 2 = (61,120 / 0,12) x 0,10 = 50,933 m3 Volume plat lantai 3 = (63,900 / 0,12) x 0,10 = 53,250 m3 Volume plat lantai 4 = (63,900 / 0,12) x 0,10 = 53,250 m3 Total = 157,430 m3 Volume plat atap bawah = (33,680 / 0,10) x 0,09 = 30,312 m3 Volume plat atap atas = (18,670 / 0,10) x 0,09 = 16,803 m3 Volume plat atap canopy = ( 4,980 / 0,10) x 0,09 = 4,482 m3 Total = 51,600 m3 b). Perhitungan harga satuan : Harga satuan pekerjaan beton 1m3 menurut BOW BPIK (K350 ex. Jati

Kencana Beton pada bulan November 2005, lampiran 4) : 1,000 m3 Beton K350 @ Rp 410.000 Rp 410.000 0,300 mandor @ Rp 32.500 Rp 9.750 0,100 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 3.500 1,000 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 32.500 6,000 pekerja @ Rp 22.500 Rp 135.000 Rp 590.750

Page 117 96 Pembesian per kg SNI-03-2495-1991/SK SNI S-05-1990-F (BPIK) : 1,0500 kg besi @ Rp 6.000 Rp 6.300

0,0150 kg kawat besi @ Rp 9.500 Rp 142,50 0,0003 mandor @ Rp 32.500 Rp 9,75 0,0007 kep. tk. besi @ Rp 35.000 Rp 24,50 0,0070 tk. besi @ Rp 32.500 Rp 227,50 0,0070 pekerja @ Rp 22.500 Rp 157,50 Rp 6861,75 1m2 Pasang bekesting untuk lantai SNI-03-3435-2002 (BPIK) : 0,0400 m3 kayu cetakan @ Rp 750.000 Rp 30.000 0,400 kg paku @ Rp 8.000 Rp 3.200 0,015 m3 balok kayu

@ Rp 850.000 Rp 12.750 0,350 lbr plywood tebal 9mm @ Rp 60.000 Rp 21.000 6,000 btg dolken diameter 8-10cm/4m @ Rp 12.000 Rp 72.000 0,006 mandor @ Rp 32.500 Rp 195 0,033 kep. tk. kayu @ Rp 35.000 Rp 1155 0,330 tk. kayu @ Rp 32.500 Rp 10.725 0,300 pekerja @ Rp 22.500 Rp 6.750 Rp 157.775

Page 118

97 c). Perhitungan harga pekerjaan plat Desain tulangan diperoleh dari perhitungan struktur plat (lampiran 2) - Plat lantai D10-20 cm 100 D10-15 cm 100 Besi = 7 + 6 x 100/10 x 0,62 = 80,6 kg Vbeton = 1 x 1 x 0,1 = 0,1 m3 Bekesting = 1 x 1 = 1 m2 Per 1m3 = 1 / 0,1 =10 Vbekesting = 1 x 10 = 10 m2 Harga besi = 80,6 x Rp 6861,75 = Rp 553.057 Harga bekesting = 10 x Rp 157.775 = Rp 1.577.750 - Plat atap D8-12,5 cm 100 D8-12,5 cm 100 Besi = 9 + 9 x 100/9 x 0,39 = 77,99 kg Vbeton = 1 x 1 x 0,09 = 0,09 m3 Bekesting = 1 x 1 = 1 m2 Per 1m3 = 1 / 0,09 = 11,11

Vbekesting = 1 x 11,11 = 11,11 m2

Page 119 98 Harga besi = 77,99 x Rp 6861,75 = Rp 535.148 Harga bekesting = 11,11 x Rp 157.775 = Rp 1.752.880 - Harga satuan beton bertulang 1 m3 untuk plat lantai : Beton = Rp 590.750 Tulangan = Rp 553.057 Bekesting = Rp 1.577.750 Total = Rp 2.721.557 - Harga satuan beton bertulang 1 m3 untuk plat atap : Beton = Rp 590.750 Tulangan = Rp 535.148 Bekesting = Rp 1.752.880 Total = Rp 2.878.778 - Perhitungan harga pekerjaan plat : Harga beton plat = (157,430 m3 x Rp 2.721.557) + (51,600 m3 x Rp 2.878.778) = Rp 576.999.663

Page 120 99 d). Persewaan pompa Harga pemakaian pompa hanya untuk satu lokasi sekali pakai Rp 1.400.000, maksimal volume 60m3 kelebihannya Rp 25.000/m3. Jumlah pipa 10 batang @ 3m kelebihannya Rp 25.000/batang (lampiran 4) Pengecoran dilakukan tiap lantai : - Pengecoran lantai 2 : Volume = canopy + plat lantai 2 = 4,482 + 50,93 = 55,412 Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 - Pengecoran lantai 3 : Volume plat lantai 3 = 53,25m3 Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 - Pengecoran lantai 4 : Volume plat lantai 4 = 53,25m3 Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 - Pengecoran plat atap : Volume = 30,312 + 16,803 = 47,115m3 Karena kondisi lapangan membutuhkan tambahan pipa, maka : Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 + 4 x Rp 25.000 = Rp 1.500.000 Total biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 + Rp 2.800.000 + Rp 1.500.000 = Rp 5.700.000

Page 121 100 e). Biaya total untuk alternatif 1 pekerjaan plat : = Rp 576.999.663 + Rp 5.700.000 = Rp 582.699.663 2). Pekerjaan Plat Alternatif 2, yaitu dengan Menggunakan Plat Precast a). Perhitungan volume : Tebal plat precast dan topping untuk plat lantai dan plat atap didapat dari perhitungan struktur plat (lampiran 2). - Volume plat lantai existing (tebal plat = 12 cm) : Lantai 2 = 61,12 m3 Lantai 3 = 63,90 m3 Lantai 4 = 63,90 m3 - Volume plat atap existing (tebal plat = 10 cm) : Plat atap bawah = 33,68 m3 Plat atap atas = 18,67 m3 Plat atap canopy = 4,98 m3 - Volume plat lantai precast : Lantai 2 = 61,12 / 0,12 = 509,33 m2 Lantai 3 = 63,90 / 0,12 = 532,50 m2 Lantai 4 = 63,90 / 0,12 = 532,50 m2 = 1574,33 m2

Page 122 101 - Volume plat atap precast : Plat atap bawah = 33,68 / 0,10 = 336,80 m2 Plat atap atas = 18,67 / 0,10 = 186,70 m2 Plat atap canopy = 4,98 / 0,10 = 49,80 m2 = 573,80 m2 Total volume plat precast = 1574,33 + 573,30 = 2147,63 m2 - Volume plat topping lantai (tebal plat = 6 cm) : lantai 2 = (61,120 / 0,12) x 0,06 = 30,56 m3 lantai 3 = (63,900 / 0,12) x 0,06 = 31,95 m3 lantai 4 = (63,900 / 0,12) x 0,06 = 31,95 m3 Total = 94,46 m3 - Volume plat topping atap (tebal plat = 4 cm) : Volume plat atap bawah = (33,680 / 0,10) x 0,04 = 13,472 m3 Volume plat atap atas = (18,670 / 0,10) x 0,04 = 7,468 m3 Volume plat atap canopy = ( 4,980 / 0,10) x 0,04 = 1,992 m3 Total = 22,932 m3

Page 123 102 b). Perhitungan harga satuan :

Harga satuan pekerjaan beton 1m3 menurut BOW BPIK (K275 ex. Jati Kencana Beton bulan November 2005, lampiran 4) : 1,000 m3 Beton K275 @ Rp 385.000 Rp 385.000 0,300 mandor @ Rp 32.500 Rp 9.750 0,100 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 3.500 1,000 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 32.500 6,000 pekerja @ Rp 22.500 Rp 135.000 Rp 565.750 Pembesian per kg SNI-03-2495-1991/SK SNI S-05-1990-F (BPIK) : 1,0500 kg besi @ Rp 6.000 Rp 6.300 0,0150 kg kawat besi @ Rp 9.500

Rp 142,50 0,0003 mandor @ Rp 32.500 Rp 9,75 0,0007 kep. tk. besi @ Rp 35.000 Rp 24,50 0,0070 tk. besi @ Rp 32.500 Rp 227,50 0,0070 pekerja @ Rp 22.500 Rp 157,50 Rp 6861,75

Page 124 103 1m2 Pasang bekesting untuk lantai SNI-03-3435-2002 (BPIK) : 0,0400 m3 kayu cetakan @ Rp 750.000 Rp 30.000 0,400 kg paku @ Rp 8.000 Rp 3.200

0,006 mandor @ Rp 32.500 Rp 195 0,033 kep. tk. kayu @ Rp 35.000 Rp 1155 0,330 tk. kayu @ Rp 32.500 Rp 10.725 0,300 pekerja @ Rp 22.500 Rp 6.750 Rp 52.025 c). Perhitungan harga pekerjaan plat Desain tulangan diperoleh dari perhitungan struktur plat (lampiran 4). - Topping plat lantai D8-12,5 cm D8-20 cm 100 100 Besi = 9 + 6 x 100/6 x 0,39 = 97,5 kg Vbeton = 1 x 1 x 0,06 = 0,06 m3 Bekesting = 4 x 0,06 = 0,24 m2 Per 1m3 = 1 / 0,06 = 16,67

Vbekesting = 0,24 x 16,67 = 4 m2 Harga besi = 97,5 kg x Rp 6861,75 = Rp 669.021 Harga bekesting = 4 x Rp 52.025 = Rp 208.100

Page 125 104 - Topping plat lantai D6-10 cm D6-12,5 cm 100 100 Besi = 9 + 11 x 100/4 x 0,22 = 110 kg Vbeton = 1 x 1 x 0,04 = 0,04 m3 Bekesting = 4 x 0,04 = 0,16 m2 Per 1m3 = 1 / 0,04 =25 Vbekesting = 0,16 x 25 = 4 m2 Harga besi = 110 kg x Rp 6861,75 = Rp 754.793 Harga bekesting = 4 x Rp 52.025 = Rp 208.100 - Harga satuan topping plat lantai 1 m3 : Beton (K275) = Rp 565.750 Tulangan = Rp 669.021 Bekesting = Rp 208.100

Total = Rp 1.442.71 - Harga satuan topping plat atap 1 m3 : Beton (K275) = Rp 565.750 Tulangan = Rp 754.793 Bekesting = Rp 208.100 Total = Rp 1.528.643

Page 126 105 - Perhitungan harga pekerjaan plat : Volume precast = 2147,63 m2 Harga precast = Rp 150.000/m2 (harga precast ex. Adhimix Precast pada bulan November 2005, lampiran 4). Harga plat precast = 2147,63 x Rp 150.000 = Rp 322.145.000 Harga plat topping = (94,46 m3 x Rp 1.442.871) + (22,932 m3 x Rp 1.528.643) = Rp 171.348.436 d). Persewaan pompa untuk mengecor topping : Harga pemakaian pompa hanya untuk satu lokasi sekali pakai Rp 1.400.000, maksimal volume 60m3 kelebihannya Rp 25.000/m3. Jumlah pipa 10 batang @ 3 m kelebihannya Rp 25.000/batang (lampiran 4).

- Pengecoran topping plat lantai Volume topping = 94,46 m3 Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 + 34,46 x Rp 25.000 = Rp 2.261.500 - Pengecoran topping plat atap Tambahan 4 batang pompa, karena panjangnya daerah yang akan dicor. Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 + 4 x Rp 25.000 = Rp 1.500.000 Total biaya sewa pompa = Rp 2.261.500 + Rp 1.500.000 = Rp 3.761.500

Page 127 106 e). Perkiraan sewa alat berat untuk memasang plat precast Perkiraan 1 hari memasang 8 m3 plat precast Pekerjaan selesai = 128,858 m3 / 8 m3 = 16,2 17 hari Biaya sewa alat crane = Rp 25.000.000/bulan Mobilisasi = Rp 45.000.000 Biaya erection dan dismantle = Rp 18.000.000 Biaya operator = Rp 50.000/hari, 2 orang = Rp 100.000 Biaya operator pemasangan = 17 hari x Rp 100.000 = Rp 1.700.000 Total = Rp 25.000.000 + Rp 45.000.000 + Rp 18.000.000 + Rp 1.700.000

= Rp 89.700.000 f). Biaya total alternatif 2 pekerjaan plat = Rp 322.145.000 + Rp 171.348.436 + Rp 3.761.500+ Rp 89.700.000 = Rp 586.954.936

Page 128 107 Tabel 4.7 Perbandingan Harga Existing dan Alternatif Pekerjaan Plat No Item Existing Alternatif 1 Penghematan Alternatif 2 Penghematan 1 Harga Rp 600.154.343 Rp 582.699.663 Rp 17.454.680 Rp 586.954.936 Rp 13.199.407 Dari tabel didapat : - Harga untuk pekerjaan alternatif 1, yaitu dengan menggunakan mutu beton K350 bila dibandingkan dengan pekerjaan existing

memiliki penghematan biaya sebesar Rp 17.454.680. - Harga untuk pekerjaan alternatif 2, yaitu dengan menggunakan plat precast bila dibandingkan dengan pekerjaan existing memiliki penghematan biaya sebesar Rp 13.199.407. - Untuk memilih alternatif terbaik tidak hanya dilihat dari segi penghematan biaya saja, tetapi nantinya juga dilihat dari analisis VE pada kriteria-kriteria dari pekerjaan plat yang diusulkan pada tahap kreatif. - Dalam perhitungan analisis VE menggunakan metode, diantaranya sebagai berikut : Analisis fungsi (tabel 4.8) Metode zero-one mencari bobot (tabel 4.9) Metode zero-one mencari indeks (tabel 4.10) Matrik evaluasi (tabel 4.11) 10 7

Page 129 108 b. Perhitungan Value Engineering Pekerjaan Plat 1). Analisis Fungsi Pekerjaan Plat Tabel 4.8 Analisis Fungsi Pekerjaan Plat No Uraian Kata Kerja Fungsi Kt. Benda

Jenis Cost Worth 1 Worth 2 1 Beton Menyalurkan Beban P 115,872,937.50 123,484,472.50 2 Besi tulangan Menyalurkan Beban P 219,907,406.25 114,681,400.30 3 Begesting Mencetak Plat P 133,763,000.00 338,833,790.50 4 Perancah Menahan Beban

P 130,611,000.00 5 Plat precast Menerima Beban P 322,145,000.00 6 Plat topping Menerima Beban P 171,348,436.00 7 Pompa beton Membantu Pekerjaan P 5,700,000.00 3,761,500.00 8 Alat crane

Membantu Pekerjaan P 89,700,000.00 Jenis P = primer 600,154,343.75 582,699,663.30 586,954,936.00 S = sekunder Cost/Worth = 1.03 Cost/Worth = 1.02 - Untuk kolom cost nilainya didapat dari biaya pekerjaan existing. Untuk kolom worth 1 nilainya didapat dari biaya pekerjaan alternatif 1 atau dengan merubah mutu beton. Untuk kolom worth 2 nilainya didapat dari pekerjaan alternatif 2 atau dengan menggunakan plat precast. - Nilai cost/worth1 = 600.154.343,75 / 582.699.663,30 = 1,03 dan cost/worth2 = 600.154.343,75 / 586.954.936 = 1,02. - Nilai cost/worth diatas berarti menunjukkan adanya penghematan, baik pada pekerjaan alternatif 1 maupun alternatif 2 karena nilainya lebih dari 1, walaupun penghematan yang terjadi tidak begitu besar. 108

Page 130 109

2). Metode Zero-One Mencari Bobot Tabel 4.9 Metode Zero-One Mencari Bobot Pekerjaan Plat Nomor Kriteria Kriteria Nomor Kriteria 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Ranking Bobot Waktu Pelaksanaan 1 X 0 1 1 1 1 1

1 7 8 17.78 Pembiayaan 2 1 X 1 1 1 1 1 1 8 9 20.00 Jumlah Tenaga 3 0 0 X 1 1

1 1 1 6 7 15.56 Koordinasi Pelaksanaan 4 0 0 0 X 1 1 1 1 4 5 11.11 Pengawasan dan Pengendalian 5 0 0 0

0 X 1 1 1 5 6 13.33 Kondisi Lapangan 6 0 0 0 0 0 X 1 1 3 4 8.89 Kondisi Cuaca 7 0

0 0 0 0 0 X 1 1 2 4.44 Pekerjaan Finishing 8 0 0 0 0 0 0 0 X 0 1 2.22 Berat Struktur

9 0 0 0 0 0 0 0 1 2 3 6.67 Jumlah 45 100.00 - Metode zero-one pada tabel digunakan untuk mencari bobot yang nantinya digunakan dalam menghitung matrik evaluasi. - Pemberian nilai 1 adalah nomor kriteria pada kolom lebih penting dari nomor kriteria pada baris. Pemberian nilai 0 adalah nomor kriteria pada kolom kurang penting dari nomor kriteria pada baris. Pemberian nilai X adalah nomor kriteria pada kolom dan baris mempunyai fungsi sama penting. - Pemberian angka pada ranking sesuai dengan jumlah kriteria, yaitu rangking 1-9. Pemberian ranking dilakukan secara terbalik, yaitu yang mendapat total tertinggi angka ranking 9, selanjutnya terus turun sampai yang total terendah mendapat angka ranking 1.

- Untuk bobot dihitung dengan rumus = {angka ranking yang dimiliki / jumlah angka ranking}x 100, sebagai contoh diambil kriteria waktu pelaksanaan, bobot = {8 / 45}x 100 = 17,78 109

Page 131 110 3). Metode Zero-One Mencari Indeks Sebelum menggunakan matrik evaluasi, pekerjaan existing dan pekerjaan alternatif juga harus dianalisis VE dengan metode zero-one untuk mendapatkan indeks yang akan digunakan dalam tabel matrik evaluasi. Dalam menganalisis VE kriteria-kriteria komponen plat yang digunakan seperti yang diusulkan pada tahap kreatif. Untuk metode zero-one dapat dilihat pada tabel 4.10 dan matrik evaluasi pada tabel 4.11. Penjelasan : Fungsi A = Pekerjaan Existing Fungsi B = Alternatif 1 = meningkatkan mutu beton menjadi K350 Fungsi C = Alternatif 2 = dengan menggunakan plat precast/ pracetak. Tabel 4.10 Metode Zero-One Mencari Indeks 1. Kriteria Waktu Pelaksanaan Fungsi A B C Jumlah Indeks A

X00 0 0 B 1X0 1 1/3 C 11X 2 2/3 2. Kriteria Pembiayaan Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B 1X1 2 2/3 C

10X 1 1/3 3. Kriteria Jumlah Tenaga Kerja Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B 1X0 1 1/3 C 11X 2 2/3

Page 132 111 4. Kriteria Koordinasi di Lapangan Fungsi A B C

Jumlah Indeks A X00 0 0 B 1X0 1 1/3 C 11X 2 2/3 5. Kriteria Pengawasan dan Pengendalian Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B

1X0 1 1/3 C 11X 2 2/3 6. Kriteria Kondisi Lapangan Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 B 0X1 1 C 00X 0 0 7. Kondisi Cuaca

Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B 0X0 0 0 C 11X 2 1 8. Pekerjaan Finishing Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B

0X0 0 0 C 11X 2 1 9. Berat Struktur Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 0 0 B 1X1 2 2/3 C 10X 1 1/3

Page 133 112 Penjelasan tabel 4.10, sebagai contoh diambil tabel kriteria nomor satu, yaitu waktu pelaksanaan. Pada baris pertama : - A pada kolom mempunyai fungsi sama dengan A pada baris maka diberi tanda X - A pada kolom mempunyai fungsi kurang penting dari B pada baris, maka diberi tanda 0. Mempunyai kebalikan dengan baris kedua, dimana B pada kolom mempunyai fungsi lebih penting dari A pada baris dan diberi tanda 1. - A pada kolom mempunyai fungsi kurang penting dari C pada baris, maka diberi tanda 0. Mempunyai kebalikan dengan baris ketiga, dimana C pada kolom mempunyai fungsi lebih penting dari A pada baris dan diberi tanda 1. - Untuk jumlah merupakan hasil penjumlahan pada baris. Misal, pada baris A mempunyai jumlah 0, pada baris B mempunyai jumlah 1, pada baris C mempunyai jumlah 2. - Untuk indeks adalah perbandingan antara jumlah dengan total jumlah. Misal total jumlah A,B,C = 0+1+2 = 3, sedang untuk indeks A = 0/3, B = 1/3, C = 2/3. - Indeks ini nantinya digunakan pada tabel matrik evaluasi. - Untuk metode zero-one kriteria-kriteria yang lain penilaianya menggunakan cara yang sama.

Page 134 113 4). Matrik Evaluasi

Tabel 4.11 Matrik Evaluasi Pekerjaan Plat Kriteria Fungsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No Bobot 17.78 20.00 15.56 11.11 13.33 8.89 4.44 2.22 6.67 Total

Indeks = 0 Indeks =0 Indeks =0 Indeks = 0 Indeks = 0 Indeks = 1/2 Indeks = 0 Indeks = 0 Indeks = 0 1 A Bobot x indeks = 17.78 x 0 = 0 0 0

0 0 4.44 0 0 0 4.44 1/3 2/3 1/3 1/3 1/3 1/2 0 0 2/3 2 B 5.93 13.33 5.19 3.70 4.44 4.44

0 0 4.45 41.48 2/3 1/3 2/3 2/3 2/3 0 1 1 1/3 3 C 11.85 6.67 10.37 7.41 8.89 0 4.44 2.22 2.22

54.07 - A adalah pekerjaan existing, B adalah pekerjaan alternatif 1 dan C adalah pekerjaan alternatif 2. - Pemberian nilai pada bobot berdasarkan kepentingan kriteria pada item pekerjaan plat atau didapat dari tabel 4.9, sedangkan indeks didapat dari tabel 4.10. - Pada baris A,B,C dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas diisi indeks dan bagian bawah diisi nilai bobot dikalikan indeks. - Total hasil adalah jumlah dari bobot dikali nilai. Untuk memilih pekerjaan alternatif dilihat dari yang memiliki total nilai terbesar dan dari tabel diatas diketahui bahwa pekerjaan alternatif 2 atau menggunakan plat precast dapat dipilih karena memiliki total nilai terbesar 113

Page 135 114 4. Tahap Pengembangan Proyek : Pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang Item : Pekerjaan Struktur Atas Pekerjaan plat karena terletak dibawah ubin/tegel dan tertutup oleh plafond serta dalam perencanaannya sudah direncanakan kuat menahan beban, maka tidak memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan. Untuk itu, pada tahap pengembangan ini tidak dilakukan perhitungan pekerjaan plat dalam siklus life cycle cost. 5. Tahap Rekomendasi

a. Desain Awal : 1). Struktur plat menggunakan beton bertulang dengan mutu beton K225 dan mutu baja fy = 240 MPa. 2). Tebal plat 12 cm dengan pembesian diameter 10mm untuk plat lantai dan diameter 8mm untuk plat atap. 3). Pelaksanaan konstruksi dengan metode konvensional (cast in situ), sehingga waktu pelaksanaannya lama. Selain itu tenaga kerja di lapangan juga banyak, sehingga membutuhkan koordinasi yang ekstra ketat. 4). Biaya perencanaan sebesar Rp 600.154.343.

Page 136 115 b. Usulan : 1). Penggunaan beton bertulang dengan merubah mutu beton menjadi K350 dan mutu baja tetap fy 240 MPa. a). Keuntungan yang didapat sebagai berikut : - Dimensi plat menjadi kecil - Perencanaan dan pelaksanaannya mudah dikerjakan - Biaya perencanaannya sebesar Rp 582.699.663, sehingga terjadi penghematan biaya sebesar Rp 17.454.680 2). Penggunaan plat dengan sistem plat pracetak/precast. a). Keuntungan yang didapat sebagai berikut : - Menghemat waktu pelaksanaan - Mutu pekerjaan terjamin karena adanya pengawasan yang ketat

- Jumlah tenaga kerja dapat direduksi/ dikurangi - Lingkungan kerja yang relatif bersih karena penggunaan bekesting dapat dikurangi - Pengerjaannya tidak bergantung cuaca - Biaya perencanaannya sebesar Rp 586.954.936, sehingga terjadi penghematan biaya sebesar Rp 13.199.407 Dari dua alternatif yang diusulkan dapat dibuat grafik untuk menggambarkan besarnya biaya perencanaan yang terjadi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.3.

Page 137 116 600,154,343.00 582,699,663.00 586,954,936.00 570,000,000.00 575,000,000.00 580,000,000.00 585,000,000.00 590,000,000.00 595,000,000.00 600,000,000.00 605,000,000.00 Existing

Alternarif 1 Alternatif 2 Item pekerjaan plat R e n can a an ggaran b iaya Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Pekerjaan Plat Dengan Biaya Perencanaannya Gambar 4.3 menjelaskan hubungan antara biaya dengan pekerjaan plat, baik existing maupun pekerjaan alternatif yang diusulkan. Setelah dilakukan analisis VE ternyata terdapat penghematan biaya, walaupun nilainya tidak terlalu besar. c. Pemilihan Pekerjaan Alternatif yang Dipakai Dari analisis yang dilakukan, maka dipilih pekerjaan alternatif 2 sebagai alternatif terbaik dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : - Penghematan biaya - Penghematan waktu - Tidak mengurangi estetika dan fungsi dasar struktur - Pengurangan jumlah tenaga kerja

Page 138 117 H. Tahapan dalam Analisis VE pada Item Pekerjaan Struktur Bawah Pekerjaan struktur bawah yang memiliki potensial untuk dilakukan analisis VE adalah pekerjaan fondasi. Hal menjadi alasan mengapa perlu dilakukan analisis VE pada item pekerjaan tersebut adalah karena adanya perubahan berat bangunan yang ditahan oleh fondasi akibat perubahan yang dilakukan pada struktur atas saat dilakukan analisis VE. Pada proyek pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang struktur bawah menggunakan fondasi pancang minipile segitiga 37x37x37. Dalam penerapan VE nantinya akan dicoba alternatif dengan mengganti bahan fondasi, yaitu dengan fondasi pancang bulat diameter 35 mm dan fondasi sumuran. Alasan pemilihan alternatif tersebut adalah adanya penghematan dari segi biaya maupun waktu dengan adanya perubahan bahan/ material dan pengurangan jumlah fondasi.

Page 139 118 1.Tahap Informasi a. Informasi Umum dan Kriteria Desain Proyek : Pembangunan Gedung Rektorat Unimus Item : Pekerjaan Struktur Bawah Tabel. 4.14 Informasi Umum dan Kriteria Desain Struktur Bawah

Uraian Data Teknis Proyek Kriteria Desain Unsur Desain Perkiraan Biaya Fondasi : - Menggunakan minipile segitiga 37x37x37 - Terdapat 180 titik pancang - Beban bangunan dihitung dengan menggunakan SAP2000 versi 7.42 Pile cap : - Mutu beton K225 - Mutu baja fy 320 MPa - Dimensi tergantung dari jumlah fondasi Perhitungan beton menurut SKSNI 1991 - Kedalaman pondasi sampai tanah keras 12 m - Dimensi pile cap : P2 = 50 cm P3 = 60 cm P4 = 70 cm P5 = 70 cm Rp 363.339.186,75

Page 140 119 Tabel 4.15 Analisis Fungsi Pekerjaan Fondasi No Uraian Kata Kerja Fungsi Kt. Benda Jenis Cost Worth 1 Tiang pancang Mendukung Beban P 222,480,000.00 Belum dihitung 2 Pile cap Meneruskan Beban P 139,059,186.75 Belum dihitung 3 Galian tanah Menyesuaikan Elevasi

S 1,885,625.00 1,885,625.00 4 Urugan kembali Menutup Lubang S 427,050.00 427,050.00 5 Lantai kerja Meneruskan Kegiatan S 8,604,833.50 8,604,833.50 6 Mobilisasi Memindahkan Alat S 2,500,000.00 Belum dihitung 7 Kupas tiang pancang Memotong Tiang pancang S

1,800,000.00 Belum dihitung Jenis P = primer 376,756,695.25 Belum dihitung S = sekunder - Analisis fungsi pada tahap ini hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dianalisis dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda terukur. - Nilai cost didapat dari rencana biaya existing. - Nilai worth yang belum bisa ditampilkan akan diisi setelah dilakukan perhitungan biaya pekerjaan alternatif pada tahap analisis. - Analisis fungsi secara lengkap akan ditampilkan pada tahap analisis. 119

Page 141 120 2. Tahap Kreatif Pada tahap ini akan dimunculkan dua alternatif sebagai pembanding perencanaan awal yang sudah ada. Kedua alternatif tersebut adalah : a. Alternatif 1 : Penggunaan tiang pancang silinder diameter 35 cm. Data-data : - Diameter tulangan 35 cm - Daya dukung tiang 93.1 ton ez. WIKA beton (lampiran 4)

- Mutu beton pile cap K225, harga beton didapat dari Jati Kencana Beton (lampiran 4) - Mutu baja pile cap fy = 320 MPa - Pembebanan direncanakan berdasarkan SAP2000 versi 7.42 - Data tanah berdasarkan penyelidikan sondir b. Alternatif 2 : Penggunaan fondasi sumuran Data-data : - Diameter sumuran direncanakan sesuai pembebanan yang terjadi - Mutu beton pile cap K300 - Mutu baja fy = 240 MPa - Mutu beton sumuran K250 - Mutu baja fy = 240 MPa - Mutu beton siklop K225 - Harga beton didapat dari Jati Kencana Beton (lampiran 4)

Page 142 121 Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih alternatif pekerjaan fondasi dapat digambarkan keuntungan dan kelemahan setiap alternatif, seperti terdapat pada tabel 4.16. Untuk memudahkan perhitungan VE dalam memilih alternatif terbaik dapat dimunculkan kriteria-kriteria dari item pekerjaan fondasi. Kriteria tersebut merupakan komponen-komponen/ aspek-aspek dalam pelaksanaan pekerjaan fondasi.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

tabel 4.17. Dalam tabel juga dijelaskan perbandingan keuntungan dari kriteria yang diusulkan.

Page 143 122 Tabel. 4.16 Keuntungan dan Kerugian Alternatif Pekerjaan Fondasi No Usulan/ Alternatif Keuntungan Kelemahan 1. 2. Tiang pancang beton silinder diameter 35 cm Penggunaan pondasi sumuran - Kualitas terjamin, karena pembuatannya di pabrik, sehingga alat, bahan dan pengawasan baik dan terkontrol - Tenaga kerja yang cukup berpengalaman dan mudah didapat - Pelaksanaannya cepat karena adanya penggunaan alat berat - Perencanaannya mudah karena sudah

umum banyak digunakan - Tenaga kerja banyak mudah didapat - Sarana yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan lebih sederhana dan mudah didapat - Suara bising yang ditimbulkan saat pelaksanaan pemancangan - Panjangnya tertentu sehingga kemungkinan adanya kekurangan dan kelebihan bahan - Kemungkinan adanya tiang patah akibat penyambungan yang kurang sempurna - Kontrol kualitas kurang terjamin karena langsung cetak ditempat (cast in situ) - Waktu pelaksanaan lama karena adanya pelaksanaan begesting dan penulangan beton - Pelaksanaannya tergantung faktor cuaca - Keuntungan dan kelemahan dari alternatif yang diusulkan nantinya bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam perhitungan VE untuk menentukan alternatif yang dipilih. 122

Page 144 123 Tabel 4.17 Kriteria Desain Alternatif Struktur Bawah

No Kriteria Pek. Fondasi Alternatif 1 dengan Tiang Pancang Diameter 35 cm Pek. Fondasi Alternatif 2 dengan Fondasi Sumuran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Waktu Pelaksanaan Pembiayaan Jumlah tenaga kerja lapangan Koordinasi pelaksanaan Pengawasan dan pengendalian

Kondisi lapangan Kondisi cuaca Berat struktur Cepat karena dibantu alat berat Biaya bahan murah karena mudah didapat, Biaya pelaksanaan mahal karena terkait dengan alat berat , ready mix, concrete pump. Sedikit Tidak sulit, karena tenaga kerja sedikit Kontrol yang cukup ketat . Membutuhkan ruang kerja yang luas. Tidak berpengaruh Berat. Lama karena pembuatan begesting dan penulangan

Biaya bahan mahal, semakin tinggi mutu semakin mahal Biaya pelaksanaan mahal karena terkait dengan alat berat, ready mix Banyak Cukup sulit karena tenaga yang banyak Tidak terlalu ketat karena menggunakan beton ready mix Membutuhkan ruang kerja yang luas. Harus diperhatikan. Berat. - Kriteria-kriteria pada tabel nantinya digunakan untuk perhitungan analisis VE dalam metode zero-one dan matrik evaluasi pada tahap analisis.

Page 145 124 3. Tahap Analisis a. Perhitungan Estimasi Biaya Pekerjaan Fondasi

1). Pekerjaan Existing Fondasi Perhitungan existing pekerjaan fondasi diambil dari Rencana Anggaran Biaya Proyek Pembagunan Gedung Rektorat UNIMUS. a). Volume minipile = 2160 m Harga satuan minipile = Rp 103.000 Harga minipile = 2160 x Rp 103.000 = Rp 222.480.000 b). Volume pile cap = 66,330 m3 Harga pile cap = Rp 2.096.475 x 66,330 = Rp 139.059.186,75 c). Mobilisasi = Rp 2.500.000 d). Kupas tiang pancang Rp 10.000/titik Volume = 180 titik Harga = 180 x Rp 10.000 = Rp 1.800.000 e). Harga existing = Rp 222.480.000 + Rp 139.059.186,75 + Rp 2.500.000 + Rp 1.800.000 = Rp 365.839.186

Page 146 125 2). Pekerjaan Fondasi Alternatif 1, yaitu dengan Menggunakan Fondasi Tiang Pancang Diameter 35 cm a). Perhitungan harga satuan Harga satuan pekerjaan beton 1m3 menurut BOW BPIK (K225 ex. Jati Kencana Beton bulan November 2005, lampiran 4) : 1,000 m3 Beton K225

@ Rp 365.000 Rp 365.000 0,300 mandor @ Rp 32.500 Rp 9.750 0,100 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 3.500 1,000 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 32.500 6,000 pekerja @ Rp 22.500 Rp 135.000 Rp 545.750 Pembesian dengan besi polos atau ulir per kg SNI-03-2495-1991/SK SNI S-05-1990-F (BPIK) : 1,0500 kg besi @ Rp 10.000 Rp 10.500 0,0150 kg kawat besi @ Rp 9.500 Rp 142,50 0,0003 mandor

@ Rp 32.500 Rp 9,75 0,0007 kep. tk. besi @ Rp 35.000 Rp 24,50 0,0070 tk. besi @ Rp 32.500 Rp 227,50 0,0070 pekerja @ Rp 22.500 Rp 157,50 Rp 11.061,75

Page 147 126 1m2 Pasang bekesting untuk lantai SNI-03-3435-2002 (BPIK) : 0,0400 m3 kayu cetakan @ Rp 750.000 Rp 30.000 0,300 kg paku @ Rp 8.000 Rp 2.400 0,005 mandor

@ Rp 32.500 Rp 162,50 0,026 kep. tk. kayu @ Rp 35.000 Rp 910 0,260 tk. kayu @ Rp 32.500 Rp 8.450 0,300 pekerja @ Rp 22.500 Rp 6.750 Rp 48.672,50 b). Perhitungan harga pekerjaan pile cap Untuk desain pile cap tiap fondasi didapat dari perhitungan struktur fondasi tiang pancang (lampiran 3). (1). Type P2 ( 8 buah ) Kolom 50x50 cm 7D12 9D12 50 8D20 10D20 Tiang pancang D 35 cm Kedalaman -12.00

35 70 35 Jumlah tiang = 8x2 = 16 buah Volume pile cap = 1,40 x 1,05 x 0,5 = 0,735 m3 x 8 = 5,88 m3 Per 1m3 = 1 / 0,735 = 1,36

Page 148 127 Vbesi = (10 x 1,05 + 8 x 1,40) x 2,46 = 53,38 (9 x 1,05 + 7 x 1,40) x 0,89 = 17,13 + = 60,51 kg Vbegesting = (2x1,40 + 2x1,05) x 0,50 = 2,45 m2 Besi = 1,36 x 60,51 kg = 82,29 kg Begesting = 1,36 x 2,45 m2 = 3,33 m2 Harga besi = 82,29 kg x Rp 11.061,75 = Rp 910.271 Harga begesting = 3,33 x Rp 48.672,5 = Rp 162.079 Harga beton pile cap : Beton K225 = Rp 545.750 Besi = Rp 901.271 Begesting = Rp 162.079 Rp 1.618.100 Harga = 5,88 x Rp 1.618.100 = Rp 9.514.428

(2). Type P2 Canopy ( 2 buah ) Kolom 30 cm 5D12 40 6D20 Tiang pancang D 35 cm Kedalaman -12.00 35 35 35

Page 149 128 Jumlah tiang = 2x1 = 2 buah Volume pile cap = 1,05 x 1,05 x 0,4 = 0,44 m3 x 2 = 0,88 m3 Per 1m3 = 1 / 0,44 = 2,27 Vbesi = (12 x 1,05 x 2,46) + (10 x 1,05 x 2,46) = 40,34 kg Besi = 2,27 x 40,34 kg = 91,57 kg Vbegesting = (4 x 1,05 x 0,40) = 1,68 m2 Begesting = 2,27 x 1,68 m2 = 3,81 m2 Harga besi = 91,57 kg x Rp 11.061,75 = Rp 1.012.924 Harga begesting = 3,81 x Rp 48.672,5 = Rp 185.442 Harga beton pile cap : Beton K225

= Rp 545.750 Besi = Rp 1.012.924 Begesting = Rp 185.442 Rp 1.744.116 Harga = 0,88 x Rp 1.744.116 = Rp 1.534.822

Page 150 129 (3). Type P3 ( 24 buah ) Kolom 50x50 cm 9D16 11D16 50 8D25 10D25 Tiang pancang D 35 cm Kedalaman -12.00 35 70 35 Jumlah tiang = 24x2 = 48 buah Volume pile cap = 1,4 x 1,05 x 0,5 = 0,735 m3 x 24 = 17,64 m3

Per 1m3 = 1 / 0,735 = 1,36 Vbesi = (8 x 1,05 + 10 x 1,4) x 3,85 = 86,24 (11 x 1,05 + 9 x 1,4) x 1,58 = 21,49 + = 107,73 kg Besi = 1,36 x 107,73 kg = 146,51 kg Vbegesting = (2x1,4 + 2x1,05) x 0,50 = 2,45 m2 Begesting = 1,36 x 2,45m2 = 3,33 m2 Harga besi = 146,51 kg x Rp 11.061,75 = Rp 1.620.657 Harga begesting = 3,33 x Rp 48.672,5 = Rp 162.079

Page 151 130 Harga beton pile cap : Beton K225 = Rp 545.750 Besi = Rp 1.620.079 Begesting = Rp 162.079 Rp 2.328.486 Harga = 17,64 x Rp 2.328.486 = Rp 41.074.493 (4). Type P4 ( 4 buah ) Kolom 70 cm 11D16 11D16

70 14D25 14D25 Tiang pancang D 35 cm Kedalaman -12.00 30 70 70 30 Jumlah tiang = 4x5 = 20 buah Volume pile cap = 2 x 2 x 0,70 = 2,8 m3 x 4 = 11,2 m3 Per 1m3 = 1 / 2,8 = 0,357 Vbesi = (28 x 2 x 3,85) + (22 x 2 x 1,58) = 269,72 kg Besi = 0,357 x 269,72 kg = 96,29 kg Vbegesting = (4 x 2 x 0,7) = 5,6 m2 Begesting = 0,357 x 5,6 m2 = 2 m2

Page 152 131 Harga besi = 96,29 kg x Rp 11.061,75 = Rp 1.065.136 Harga begesting = 2 x Rp 48.672,5 = Rp 97.345 Harga beton pile cap : Beton K225 = Rp 545.750

Besi = Rp 1.065.135 Begesting = Rp 97.345 Rp 1.708.231 Harga = 11,2 x Rp 1.708.231 = Rp 19.132.187 (5). Type P5 ( 16 buah ) Kolom 50x50 cm 9D16 9D16 60 10D25 10D25 Tiang pancang D 35 cm 35 70 35 Kedalaman -12.00 Jumlah tiang = 16x4 = 64 buah Volume pile cap = 1,4 x 1,4 x 0,60 = 1,176 m3 x 16 = 18,816 m3 Per 1m3 = 1 / 1,176 = 0,85 Vbesi = (20 x 1,4 x 3,85) + (18 x 1,4 x 1,58) = 147,62 kg Besi = 0,85 x 147,62 kg = 125,48 kg

Page 153

132 Vbegesting = (4 x 1,4 x 0,60) = 3,36 m2 Begesting = 0,85 x 3,36 m2 = 2,86 m2 Harga besi = 125,48 kg x Rp 11.061,75 = Rp 1.388.028 Harga begesting = 2,86 x Rp 48.672,5 = Rp 139.203 Harga beton pile cap : Beton K225 = Rp 545.750 Besi = Rp 1.388.028 Begesting = Rp 139.203 Rp 2.072.981 Harga = 18,816 x Rp 2.072.981 = Rp 39.005.210 Total harga pile cap = Rp 9.514.428 + Rp 1.534.822 + Rp 41.074.493 + Rp 19.132.187 + Rp 39.005.210 = Rp 110.306.536 c). Persewaan pompa untuk mengecor pile cap : Harga pemakaian pompa hanya untuk satu lokasi sekali pakai Rp 1.400.000, maksimal volume 60m3 kelebihannya Rp 25.000/m3. Jumlah pipa 10 batang @ 3 m kelebihannya Rp 25.000/batang (lampiran 4). Volume pile cap = 5,88 + 0,88 + 17,64 + 11,2 + 18,816 = 54,416 m3 Karena kondisi lapangan, maka memerlukan tambahan 5 batang pompa Biaya sewa pompa = Rp 1.400.000 + 5 x Rp 25.000 = Rp 1.525.000

Page 154 133 d). Harga tiang pancang Volume tiang pancang = P2 = 16 titik x 12 m = 192 m P2 canopy = 2 titik x 12 m = 24 m P3 = 48 titik x 12 m = 576 m P4 = 20 titik x 12 m = 240 m P5 = 64 titik x 12 m = 768 m Total volume tiang pancang = 150 titik = 1800 m Harga tiang pancang = Rp 120.000/m(ex. WIKA bulan November 2005, lampiran 4). Harga tiang pancang = 1800 x Rp 120.000 = Rp 216.000.000 e). Pemancangan tiang Pemancangan dilakukan oleh PT. Paton Buana Biaya = Rp 12.000/m ( bulan November 2005, lampiran 4) Biaya pemancangan = 1800 x Rp 12.000 = Rp 21.600.000 f). Mobilisasi = Rp 1.500.000 (lampiran 4) Biaya dilakukan 2 kali, maka = 2 x Rp 1.500.000 = Rp 3.000.000 g). Kupas tiang pancang diperkirakan Rp 10.000/titik Biaya = 150 titik x Rp 10.000 = Rp 1.500.000

Harga total alternatif 1 pekerjaan fondasi tiang pancang diameter 35 cm : = Rp110.306.536 + Rp 1.525.000 + Rp 216.000.000 + Rp 21.600.000 + Rp 3.000.000 + Rp 1.500.000 = Rp 353.931.536

Page 155 134 3). Pekerjaan Fondasi Alternatif 2, yaitu dengan Menggunakan Fondasi Sumuran a). Perhitungan Harga Satuan Harga satuan pekerjaan beton 1m3 menurut BOW BPIK (K250 ex. Jati Kencana Beton bulan November 2005, lampiran 4) : 1,000 m3 Beton K250 @ Rp 375.000 Rp 365.000 0,300 mandor @ Rp 32.500 Rp 9.750 0,100 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 3.500 1,000 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 32.500 6,000 pekerja

@ Rp 22.500 Rp 135.000 Rp 555.750 Harga satuan pekerjaan beton 1m3 menurut BOW BPIK (K300 ex. Jati Kencana Beton bulan November 2005, lampiran 4) : 1,000 m3 Beton K300 @ Rp 395.000 Rp 395.000 0,300 mandor @ Rp 32.500 Rp 9.750 0,100 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 3.500 1,000 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 32.500 6,000 pekerja @ Rp 22.500 Rp 135.000 Rp 575.750

Page 156 135

1m2 Pasang bekesting untuk lantai SNI-03-3435-2002 (BPIK) : 0,0400 m3 kayu cetakan @ Rp 750.000 Rp 30.000 0,300 kg paku @ Rp 8.000 Rp 2.400 0,005 mandor @ Rp 32.500 Rp 162,50 0,026 kep. tk. kayu @ Rp 35.000 Rp 910 0,260 tk. kayu @ Rp 32.500 Rp 8.450 0,300 pekerja @ Rp 22.500 Rp 6.750 Rp 48.672,50 Pekerjaan fondasi siklop 40% batu kali per m3 SNI-03-2836-2002 (BPIK) : 75 kg Besi beton @ Rp 6.000 Rp 450.000

5,050 zak Portland Semen @ Rp 31.000 Rp 156.550 0,320 m3 Pasir beton @ Rp 125.000 Rp 40.000 0,490 m3 Koral beton @ Rp 100.000 Rp 49.000 0,800 kg kawat beton @ Rp 9.500 Rp 7.600 0,150 mandor @ Rp 32.500 Rp 4.875 0,085 kep. tk. batu @ Rp 35.000 Rp 2.975 0,850 tk. batu @ Rp 32.500 Rp 27.625

3,000 pekerja @ Rp 22.500 Rp 67.500 Rp 806.125

Page 157 136 Pembesian dengan besi polos atau ulir per kg SNI-03-2495-1991/SK SNI S05-1990-F (BPIK) : 1,0500 kg besi @ Rp 6.000 Rp 6.300 0,0150 kg kawat besi @ Rp 9.500 Rp 142,50 0,0003 mandor @ Rp 32.500 Rp 9,75 0,0007 kep. tk. besi @ Rp 35.000 Rp 24,50 0,0070 tk. besi @ Rp 32.500

Rp 227,50 0,0070 pekerja @ Rp 22.500 Rp 157,50 Rp 6861,75 b). Perhitungan harga pekerjaan fondasi Untuk desain fondasi sumuran didapat dari perhitungan struktur fondasi sumuran (lampiran 3). (1). Pondasi Type P5 (16 buah) Kolom 50x50 cm 50 15D25 15D25 Panjang 5m Pondasi sumuran D150 cm 30 150 30 Dalam fondasi sumuran digunakan pile cap, karena untuk menahan gaya geser pons yang terjadi pada fondasi.

Page 158 137 Jumlah tiang = 16 buah

Volume pile cap = 1,8 x 1,8 x 0,50 = 1,62 m3 x 16 = 25,92 m3 Per 1m3 = 1 / 1,62 = 0,62 Vbesi = 30 x 1,8 x 3,85 = 207,9 kg Besi = 0,62 x 207,9 kg = 128,9 kg Vbegesting = 4 x 1,8 x 0,5 = 3,6 m2 Begesting = 0,441 x 5,04 m2 = 2,23 m2 Harga besi = 128,9 kg x Rp 6861,75 = Rp 884.479 Harga begesting = 2,23 x Rp 48.672,5 = Rp 113.407 Harga beton pile cap : Beton K300 = Rp 575.750 Besi = Rp 884.479 Begesting = Rp 113.407 Rp 1.573.636 Harga = 25,92 x Rp 1.573.636 = Rp 40.788.645 Pondasi Sumuran : V = (1/4 . . 1,52. 5) (1/4 . . 1,22. 5) = 3,18 m3 Beton Siklop Vtotal = 3,18 x 16 = 50,88 m3 D10-25 20D12 15

120 15

Page 159 138 Per 1m3 = 1 / 3,18 = 0,314 Vbesi = 20 x 5 x 0,89 = 89 20 x 3,14 x 1,4x 0,62 = 54,51 + = 143,51 kg Besi = 0,314 x 143,51 kg = 45,06 kg Vbegesting = 3,14 x 1,2 x 5 = 18,84 m2 Begesting = 0,314 x 18,84 m2 = 5,915 m2 Harga besi = 45,06 kg x Rp 6861,75 = Rp 309.190 Harga begesting = 5,915 x Rp 48.672,5 = Rp 287.935 Harga beton pile cap : Beton K250 = Rp 555.750 Besi = Rp 309.190 Begesting = Rp 287.935 Rp 1.152.875 Harga = 50,88 x Rp 1.152.875 = Rp 58.658.280 Beton siklop 40% batu belah : V = 1/4 . . 1,22. 5 . 16 = 90,43 m3

Harga = 90,43 x Rp 806.125 = Rp 72.899.884 Harga fondasi P5 = Rp 40.788.645 + Rp 58.658.280 + Rp 72.897.884 = Rp 172.346.809

Page 160 139 (2). Pondasi Type P4 (4 buah) Kolom 70 cm 60 22D25 22D25 Panjang 5m Pondasi sumuran D180 cm 10 180 10 Jumlah tiang = 4 buah Volume pile cap = 2 x 2 x 0,60 = 2,4 m3 x 4 = 9,6 m3 Per 1m3 = 1 / 2,4 = 0,417 Vbesi = 44 x 2 x 3,85 = 338,8 kg Besi = 0,417 x 338,8 kg = 141,28 kg Vbegesting = 4 x 2 x 0,6 = 5,6 m2 Begesting = 0,417 x 5,6 m2 = 2,34 m2 Harga besi = 141,28 kg x Rp 6861,75 = Rp 969.428

Harga begesting = 2,34 x Rp 48.672,5 = Rp 113.894 Harga beton pile cap : Beton K300 = Rp 575.750 Besi = Rp 969.428 Begesting = Rp 113.894 Rp 1.659.072

Page 161 140 Harga = 9,6 x Rp 1.659.072 = Rp 15.927.091 Pondasi Sumuran : V = (1/4 . . 1,82. 5) (1/4 . . 1,52. 5) = 3,88 m3 Beton Siklop Vtotal = 3,88 x 4 = 15,52 m3 D10-25 26D12 15 150 15 Per 1m3 = 1 / 3,88 = 0,257

Vbesi = 26 x 5 x 0,89 = 115,7 20 x 3,14 x 1,7 x 0,62 = 66,19 + = 181,89 kg Besi = 0,257 x 181,89 kg = 46,35 kg Vbegesting = 3,14 x 1,5 x 5 = 23,55 m2 Begesting = 0,257 x 23,55 m2 = 5,88 m2 Harga besi = 46,35 kg x Rp 6861,75 = Rp 320.786 Harga begesting = 5,88 x Rp 48.672,5 = Rp 286.194 Harga beton pile cap : Beton K250 = Rp 555.750 Besi = Rp 320.786 Begesting = Rp 286.194 Rp 1.162.730

Page 162 141 Harga = 15,52 x Rp 1.162.730 = Rp 18.045.570 Beton siklop 40% batu belah : V = 1/4 . . 1,52. 5 . 4 = 35,2 m3 Harga = 35,2 x Rp 806.125 = Rp 28.375.600 Harga fondasi P4 = Rp 15.927.091 + Rp 18.045.570 + Rp 28.375.600 = Rp 62.348.261

(3). Pondasi Type P3 (16 buah) Kolom 50x50 cm 40 7D25 7D25 Panjang 5m Pondasi sumuran D100 cm 15 100 15 Jumlah tiang = 16 buah Volume pile cap = 1,3 x 1,3 x 0,30 = 0,676 m3 x 16 = 10,816 m3 Per 1m3 = 1 / 0,676 = 1,479 Vbesi = 14 x 1,3 x 3,85 = 70,07 kg Besi = 1,479 x 70,07 kg = 103,63 kg Vbegesting = 4 x 1,3 x 0,4 = 2,08 m2 Begesting = 1,479 x 2,08 m2 = 3,08 m2

Page 163 142 Harga besi = 103,63 kg x Rp 6861,75 = Rp 711.083 Harga begesting = 3,08 x Rp 48.672,5 = Rp 149.911 Harga beton pile cap : Beton K300 = Rp 575.750

Besi = Rp 711.083 Begesting = Rp 149.911 Rp 1.436.744 Harga = 10,916 x Rp 1.436.744 = Rp 15.539.823 Pondasi Sumuran : V = (1/4 . . 1,02. 5) (1/4 . . 0,72. 5) = 2 m3 Beton Siklop Vtotal = 2 x 16 = 32 m3 D10-25 13D12 15 70 15 Per 1m3 = 1 / 2 = 0,5 Vbesi = 13 x 5 x 0,89 = 57,85 20 x 3,14 x 0,9 x 0,62 = 35,09 + = 92,94 kg Besi = 0,5 x 92,94 kg = 46,47 kg Vbegesting = 3,14 x 0,7 x 5 = 10,99 m2 Begesting = 0,5 x 10,99 m2 = 5,495 m2

Page 164 143 Harga besi = 46,47 kg x Rp 6861,75 = Rp 318.865 Harga begesting = 5,495 x Rp 48.672,5 = Rp 267.455 Harga beton pile cap : Beton K250 = Rp 555.750 Besi = Rp 318.865 Begesting = Rp 267.455 Rp 1.142.070 Harga = 32 x Rp 1.142.070 = Rp 36.546.240 Beton siklop 40% batu belah : V = 1/4 . . 0,72. 5 . 16 = 30,72 m3 Harga = 30,72 x Rp 806.125 = Rp 24.764.160 Harga fondasi P3 = Rp 15.539.823 + Rp 36.546.240 + Rp 24.764.160 = Rp 76.850.223 (4). Pondasi Type P2 dan P3 sudut (16 buah) Kolom 50x50 cm 30 10D20 10D20 Panjang 5m Pondasi sumuran D100 cm

15 100 15

Page 165 144 Jumlah tiang = 16 buah Volume pile cap = 1,3 x 1,3 x 0,30 = 0,507 m3 x 16 = 8,112 m3 Per 1m3 = 1 / 0,507 = 1,972 Vbesi = 20 x 1,3 x 2,46 = 63,96 kg Besi = 1,972 x 63,69 kg = 126,13 kg Vbegesting = 4 x 1,3 x 0,30 = 1,56 m2 Begesting = 1,315 x 2,34 m2 = 3,07 m2 Harga besi = 126,13 kg x Rp 6861,75 = Rp 865.472 Harga begesting = 3,07 x Rp 48.672,5 = Rp 149.424 Harga beton pile cap : Beton K300 = Rp 575.750 Besi = Rp 865.472 Begesting = Rp 149.424 Rp 1.590.646 Harga = 8,112 x Rp 1.590.646 = Rp 12.903.320 Pondasi Sumuran :

V = (1/4 . . 1,02. 5) (1/4 . . 0,72. 5) = 2 m3 Beton Siklop Vtotal = 2 x 16 = 32 m3 D10-25 13D12 15 70 15

Page 166 145 Per 1m3 = 1 / 2 = 0,5 Vbesi = 13 x 5 x 0,89 = 57,85 20 x 3,14 x 0,9 x 0,62 = 35,09 + = 92,94 kg Besi = 0,5 x 92,94 kg = 46,47 kg Vbegesting = 3,14 x 0,7 x 5 = 10,99 m2 Begesting = 0,5 x 10,99 m2 = 5,495 m2 Harga besi = 46,47 kg x Rp 6861,75 = Rp 318.865 Harga begesting = 5,495 x Rp 48.672,5 = Rp 267.455 Harga beton pile cap : Beton K250 = Rp 555.750 Besi

= Rp 318.865 Begesting = Rp 267.455 Rp 1.142.070 Harga = 32 x Rp 1.142.070 = Rp 36.546.240 Beton siklop 40% batu belah : V = 1/4 . . 0,72. 5 . 16 = 30,72 m3 Harga = 30,72 x Rp 806.125 = Rp 24.764.160 Harga fondasi P2 dan P3 sudut = Rp 12.903.320 + Rp 36.546.240 + Rp 24.764.160 = Rp 74.213.720

Page 167 146 (5). Pondasi Type P2 Canopy (2 buah) 25 10D16 10D16 Panjang 5m Pondasi sumuran D100 cm 10 80 10 Jumlah tiang = 2 buah

Volume pile cap = 1 x 1 x 0,25 = 0,25 m3 x 2 = 0,50 m3 Per 1m3 = 1 / 0,25 = 4 Vbesi = 20 x 1,0 x 1,58 = 31,6 kg Besi = 4 x 31,6 kg = 126,4 kg Vbegesting = 4 x 1,0 x 0,25 = 1 m2 Begesting = 4 x 1 m2 = 4 m2 Harga besi = 126,4 kg x Rp 6861,75 = Rp 867.325 Harga begesting = 4 x Rp 48.672,5 = Rp 194.690 Harga beton pile cap : Beton K300 = Rp 575.750 Besi = Rp 867.325 Begesting = Rp 194.690 Rp 1.637.765

Page 168 147 Harga = 0,5 x Rp 1.637.765 = Rp 818.883 Pondasi Sumuran : V = (1/4 . . 0,82. 5) (1/4 . . 0,52. 5) = 1,53 m3 Beton Siklop

Vtotal = 1,53 x 2 = 3,06 m3 D10-25 10D12 15 50 15 Per 1m3 = 1 / 1,53 = 0,653 Vbesi = 10 x 5 x 0,89 = 44,5 20 x 3,14 x 0,8 x 0,62 = 31,15 + = 75,65 kg Besi = 0,653 x 75,65 kg = 49,40 kg Vbegesting = 3,14 x 0,5 x 5 = 7,85 m2 Begesting = 0,653 x 7,85 m2 = 5,13 m2 Harga besi = 49,40 kg x Rp 6861,75 = Rp 338.970 Harga begesting = 5,13 x Rp 48.672,5 = Rp 249.690 Harga beton pile cap : Beton K250 = Rp 555.750 Besi = Rp 338.970 Begesting = Rp 249.690 Rp 1.144.410

Page 169

148 Harga = 3,06 x Rp 1.144.410 = Rp 3.501.895 Beton siklop 40% batu belah : V = 1/4 . . 0,52. 5 . 2 = 1,96 m3 Harga = 1,96 x Rp 806.125 = Rp 1.580.005 Harga fondasi P2 canopy = Rp 818.883 + Rp 3.501.895 + Rp 1.580.005 = Rp 6.131.914 Harga total pile cap = Rp 40.788.645 + Rp 15.927.091 + Rp 15.539.823 + Rp 12.903.320 + Rp 818.883 = Rp 85.977.762 Harga total fondasi = Rp 131.556.164 + Rp 46.421.170 + Rp 61.310.400 + Rp 61.310.400 + Rp 5.081.900 = Rp 305.680.034 c). Persewaan pompa untuk mengecor fondasi : Harga pemakaian pompa hanya untuk satu lokasi sekali pakai Rp 1.400.000, maksimal volume 60m3 kelebihannya Rp 25.000/m3. Jumlah pipa 10 batang @ 3 m kelebihannya Rp 25.000/batang (lampiran 4). Volume pile cap = 25,92 + 9,6 + 10,816 + 8,112 + 0,50 = 54,948 m3 Volume sumuran = 50,88 + 15,52 + 32 + 32 + 3,06 = 133,46 m3 Biaya sewa pile cap = Rp 1.400.000 + 5 x Rp 25.000 = Rp 1.525.000 Biaya sewa sumuran = 2 x Rp 1.400.000 + 13,46 x Rp 25.000 + 5 x Rp 25.000 = Rp 3.261.500 Total = Rp 1.525.000 + Rp 3.261.500 = Rp 4.786.500

Page 170

149 4) Sewa alat bor Harga sewa alat Rp 12.000/m (ex. PT. Paton Buana, lampiran 4) Volume = P5 = 16 x 5m = 80 m P4 = 4 x 5 m = 20 m P3 = 16 x 5 m = 80 m P2 dan P3 sudut = 16 x 5 m = 80 m P2 canopy = 2 x 5 m = 10 m + total = 270 m Harga sewa = 270 x Rp 12.000 = Rp 3.240.000 Mobilisasi = Rp 1.500.000 Harga total alternatif 2 pekerjaan fondasi sumuran : = Rp 85.977.762+ Rp 305.680.034 + Rp 4.786.500 + Rp 3.240.000 + Rp 1.500.000 = Rp 401.417.427

Page 171 150 Tabel 4.18 Perbandingan Harga Existing dan Alternatif Pekerjaan Fondasi

No Item Existing Alternatif 1 Penghematan Alternatif 2 Penghematan 1. Harga Rp 365.839.186 Rp 353.931.536 Rp 11.907.650 Rp 401.417.427 Rp -35.578.241 Dari tabel didapat : - Harga untuk pekerjaan alternatif 1, yaitu dengan menggunakan fondasi tiang pancang diameter 35 cm bila, dibandingkan dengan pekerjaan existing memiliki penghematan biaya sebesar Rp 11.907.650. - Harga untuk pekerjaan alternatif 2, yaitu dengan menggunakan fondasi sumuran, bila dibandingkan dengan pekerjaan existing tidak memiliki penghematan biaya, karena rencana biayanya lebih dari existing, sehingga penghematannya Rp -35.578.241. - Untuk memilih alternatif terbaik tidak hanya dilihat dari segi penghematan biaya saja, tetapi nantinya juga dilihat dari analisis VE pada kriteria-kriteria dari pekerjaan fondasi yang diusulkan pada tahap kreatif. - Dalam perhitungan analisis VE menggunakan metode, diantaranya sebagai berikut : Analisis fungsi (tabel 4.19) Metode zero-one mencari bobot (tabel 4.20)

Metode zero-one mencari indeks (tabel 4.21) Matrik evaluasi (tabel 4.22) 150

Page 172 151 a. Perhitungan Value Engineering Pekerjaan Plat 1). Analisis Fungsi Pekerjaan Fondasi Tabel 4.19 Analisis Fungsi Pekerjaan Fondasi No Uraian Kata Kerja Fungsi Kt. Benda Jenis Cost Worth 1 Worth 2 1 Tiang pancang Mendukung Beban P 222,480,000.00 216,000,000.00 2 Pile cap

Meneruskan Beban P 139,059,186.75 110,306,536.00 85,977,762.00 3 Galian tanah Menyesuaikan Elevasi S 1,885,625.00 1,885,625.00 1,885,625.00 4 Urugan kembali Menutup Lubang S 427,050.00 427,050.00 427,050.00 5 Lantai kerja Meneruskan Kegiatan S 8,604,833.50

8,604,833.50 8,604,833.50 6 Mobilisasi Memindahkan Alat S 2,500,000.00 3,000,000.00 1,500,000.00 7 Kupas tiang pancang Memotong Tiang pancang S 1,800,000.00 1,500,000.00 8 Sumuran Mendukung Beban P 305,680,034.00 9 Pompa beton Membantu

Pekerjaan P 1,525,000.00 4,786,500.00 10 Alat pemancangan Membantu Pekerjaan P 21,600,000.00 11 Alat bor Membantu Pekerjaan P 3,240,000.00 Jenis P = primer 376,756,695.25 364,849,044.50 412,101,804.50

S= sekunder Cost/Worth =1.03 Cost/Worth =0.91 - Untuk kolom cost nilainya didapat dari biaya pekerjaan existing. Untuk kolom worth 1 nilainya didapat dari biaya pekerjaan alternatif 1 atau dengan menggunakan tiang pancang diameter 35 cm. Untuk kolom worth 2 nilainya didapat dari pekerjaan alternatif 2 atau dengan menggunakan fondasi sumuran. - Nilai cost/worth1 = 376.756.695,25 / 364.849.044,50 = 1,03 dan cost/worth2 = 376.756.695,25 / 412.101.804,50 = 0,91. 1 51

Page 173 152 - Nilai cost/worth berarti menunjukkan adanya penghematan atau tidak. Untuk cost/worth1 berarti menunjukkan pekerjaan alternatif 1 terdapat penghematan, karena nilainya lebih dari 1. Untuk cost/worth2 berarti menunjukkan pekerjaan alternatif 2 tidak terdapat penghematan karena nilainya dibawah 1. 2). Metode zero-one mencari bobot Tabel 4.20 Metode Zero-One Mencari Bobot Pekerjaan Fondasi Nomor Kriteria Kriteria Nomor Kriteria

123456 7 8 Total Ran king Bobot Waktu Pelaksanaan 1 X01111 1 1 6 7 19.44 Pembiayaan 2 1X1111 1 1 7 8 22.22 Jumlah Tenaga

3 00X111 1 1 5 6 16.67 Koordinasi Pelaksanaan 4 000X11 1 1 4 5 13.89 Pengawasan dan Pengendalian 5 0000X1 1 1 3 4 11.11 Kondisi Lapangan

6 00000X 1 1 2 3 8.33 Kondisi Cuaca 7 000000 X 0 0 1 2.78 Berat Struktur 8 000000 1 X 1 2 5.56 Jumlah

36 100.00 152

Page 174 153 Penjelasan tabel 4.20 adalah sebagai berikut : - Metode zero-one pada tabel digunakan untuk mencari bobot yang nantinya digunakan dalam menghitung matrik evaluasi. - Pemberian nilai 1 adalah nomor kriteria pada kolom lebih penting dari nomor kriteria pada baris. Pemberian nilai 0 adalah nomor kriteria pada kolom kurang penting dari nomor kriteria pada baris. Pemberian nilai X adalah nomor kriteria pada kolom dan baris mempunyai fungsi sama penting. - Pemberian angka pada ranking sesuai dengan jumlah kriteria, yaitu rangking 1-8. Pemberian ranking dilakukan secara terbalik, yaitu yang mendapat total tertinggi angka ranking 8, selanjutnya terus turun sampai yang total terendah mendapat angka ranking 1. - Untuk bobot dihitung dengan rumus = {angka ranking yang dimiliki / jumlah angka ranking}x 100, sebagai contoh diambil kriteria waktu pelaksanaan, bobot = {7 / 36}x 100 = 19,44.. 153

Page 175 154 3). Metode zero-one mencari indeks

Sebelum menggunakan matrik evaluasi, pekerjaan existing dan pekerjaan alternatif juga harus dianalisis VE dengan metode zero-one untuk mendapatkan indeks yang akan digunakan dalam tabel matrik evaluasi. Dalam menganalisis VE kriteria-kriteria komponen pekerjaan fondasi yang digunakan seperti yang diusulkan pada tahap kreatif. Untuk metode zero-one dapat dilihat pada tabel 4.21 dan matrik evaluasi pada tabel 4.22. Penjelasan : Fungsi A = Pekerjaan Existing Fungsi B = Alternatif 1 = menggunakan fondasi tiang pancang diameter 35 cm Fungsi C = Alternatif 2 = menggunakan fondasi sumuran Tabel 4.21 Metode Zero-One Mencari Indeks 1. Kriteria Waktu Pelaksanaan Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 1/3 B 1X1 2 2/3 C 00X 00 2. Kriteria Pembiayaan

Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 1/3 B 1X1 2 2/3 C 00X 00 3. Kriteria Jumlah Tenaga Kerja Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 1/3 B 1X1 2 2/3 C 00X 00

Page 176 155 4. Kriteria Koordinasi di Lapangan Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 1/3 B 1X1 2 2/3 C 00X 00 5. Kriteria Pengawasan dan Pengendalian Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 00 B 1X0 1 1/3

C 11X 2 2/3 6. Kriteria Kondisi Lapangan Fungsi A B C Jumlah Indeks A X00 00 B 1X1 2 2/3 C 10X 1 1/3 7. Kondisi Cuaca Fungsi A B C Jumlah Indeks A X01 1 1/3 B 1X1 2 2/3

C 00X 00 8. Berat Struktur Fungsi A B C Jumlah Indeks A X10 1 1/3 B 0X0 00 C 11X 2 2/3

Page 177 156 Penjelasan tabel 4.21, sebagai contoh diambil tabel kriteria nomor satu, yaitu waktu pelaksanaan. Pada baris pertama : - A pada kolom mempunyai fungsi sama dengan A pada baris maka diberi tanda X - A pada kolom mempunyai fungsi kurang penting dari B pada baris, maka diberi tanda 0. Mempunyai kebalikan dengan baris kedua, dimana B pada kolom

mempunyai fungsi lebih penting dari A pada baris dan diberi tanda 1. - A pada kolom mempunyai fungsi kurang penting dari C pada baris, maka diberi tanda 0. Mempunyai kebalikan dengan baris ketiga, dimana C pada kolom mempunyai fungsi lebih penting dari A pada baris dan diberi tanda 1. - Untuk jumlah merupakan hasil penjumlahan pada baris. Misal, pada baris A mempunyai jumlah 1, pada baris B mempunyai jumlah 2, pada baris C mempunyai jumlah 0. - Untuk indeks adalah perbandingan antara jumlah dengan total jumlah. Misal total jumlah A,B,C = 1+2+0 = 3, sedang untuk indeks A = 1/3, B = 2/3, C = 0. - Indeks ini nantinya digunakan pada tabel matrik evaluasi. - Untuk metode zero-one kriteria-kriteria yang lain penilaianya menggunakan cara yang sama.

Page 178 157 Tabel 4.23 Matrik Evaluasi Struktur Bawah Kriteria Fungsi 1 2 3 4 5 6

7 8 No Bobot 19.44 22.22 16.67 13.89 11.11 8.33 2.78 5.56 Total Indeks = 1/3 Indeks = 1/3 Indeks = 1/3 Indeks = 1/3 Indeks =0 Indeks =0 Indeks = 1/3 Indeks

= 1/3 1 A Indeks x bobot = 1/3 x 19.44 = 6.48 7.41 5.56 4.63 0 0 0.93 1.85 26.86 2/3 2/3 2/3 2/3 1/3 2/3 2/3 0 2 B 12.96 14.81 11.11

9.26 3.70 5.55 1.85 0 59.24 0 0 0 0 2/3 1/3 0 2/3 3 C 0 0 0 0 7.41 2.78 0 3.71

13.90 - A adalah pekerjaan existing, B adalah pekerjaan alternatif 1 dan C adalah pekerjaan alternatif 2. - Pemberian nilai pada bobot berdasarkan kepentingan kriteria pada item pekerjaan fondasi atau didapat dari tabel 4.20, sedangkan indeks didapat dari tabel 4.21. - Pada baris A,B,C dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas diisi indeks dan bagian bawah diisi nilai bobot dikalikan indeks. - Total hasil adalah jumlah dari bobot dikali nilai. Untuk memilih pekerjaan alternatif dilihat dari yang memiliki total nilai terbesar dan dari tabel diatas diketahui bahwa pekerjaan alternatif 1 atau menggunakan tiang pancang diameter 35 cm dapat dipilih karena memiliki total nilai terbesar. 157

Page 179 158 4. Tahap Pengembangan Proyek : Pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang Item : Pekerjaan Fondasi Pekerjaan fondasi karena terletak didalam tanah, maka tidak memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan. Untuk itu, pada tahap pengembangan ini tidak dilakukan perhitungan pekerjaan dalam siklus life cycle cost. 5. Tahap Rekomendasi a. Desain Awal :

1). Mini pile segitiga 37 x 37 x 37 cm 2). Jumlah tiang 180 buah 3). Pile cap dengan mutu beton K225 dan mutu baja fy = 320 MPa 4). Biaya perencanaan sebesar Rp 365.839.186. b. Usulan : 1). Menggunakan fondasi tiang pancang diameter 35 cm a). Keuntungan yang didapat sebagai berikut : - Jumlah fondasi berkurang - Mudah dikerjakan - Waktu pengerjaan menjadi cepat - Biaya perencanaannya sebesar Rp 353.931.536, sehingga terjadi penghematan biaya sebesar Rp 11.907.650.

Page 180 159 2). Menggunakan fondasi sumuran a). Keuntungan yang didapat sebagai berikut : - Jumlah fondasi berkurang - Perencanaan dan pelaksanaannya - Biaya perencanaannya sebesar Rp 401.417.427, sehingga tidak terjadi penghematan biaya. Biaya perencanaan melebihi biaya existing sebesar Rp 35.578.241. Dari dua alternatif yang diusulkan dapat dibuat grafik untuk menggambarkan besarnya biaya perencanaan yang terjadi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada gambar 4.4. 365,839,186.00 353,931,536.00 401,417,427.00 330,000,000.00 340,000,000.00 350,000,000.00 360,000,000.00 370,000,000.00 380,000,000.00 390,000,000.00 400,000,000.00 410,000,000.00 Existing Alternatif 1 Alternatif 2 Item pekerjaan fondasi R e n can a an ggaran b

iaya Gambar 4.4 Grafik Hubungan Antara Pekerjaan Fondasi Dengan Biaya Perencanaannya

Page 181 160 Gambar 4.4 menjelaskan hubungan antara biaya dengan pekerjaan fondasi, baik existing maupun pekerjaan alternatif yang diusulkan. Setelah dilakukan analisis VE ternyata untuk pekerjaan alternatif 1 atau dengan tiang pancang diameter 35 cm terdapat penghematan biaya, sedangkan untuk alternatif 2 atau dengan fondasi sumuran tidak terdapat penghematan biaya. c. Pemilihan Pekerjaan Alternatif yang Dipakai Dari analisis yang dilakukan, maka dipilih pekerjaan alternatif 1 sebagai alternatif terbaik dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : - Penghematan biaya - Penghematan waktu - Pengurangan jumlah pondasi

Page 182 161 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari analisis Value Engineering (VE) yang dilakukan pada proyek

pembangunan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Semarang dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pekerjaan struktur bangunan gedung memiliki potensi untuk dilakukan penerapan VE karena memiliki prosentase biaya yang besar. 2. Penerapan VE pada pekerjaan struktur selain terdapat penghematan biaya juga terdapat pengurangan volume pekerjaan, akibat adanya perubahan desain dan bahan yang digunakan sebagai alternatif pengganti. 3. Aplikasi VE pada pekerjaan struktur atas khususnya plat dengan memunculkan alternatif pengganti beton precast terdapat penghematan biaya sebesar Rp 13.199.407. 4. Aplikasi VE pada pekerjaan struktur bawah khusunya fondasi dengan memunculkan alternatif pengganti tiang pancang silinder diameter 35 cm dan terdapat penghematan biaya sebesar Rp 11.907.650. 161

Page 183 162 B. Saran 1. Agar mendapatkan penghematan yang optimal, Value Engineering dapat dilibatkan pada setiap tahap proyek, yaitu mulai tahap konsep, perencanaan dan pelaksanaan. Hal ini terutama dapat dilaksanakan pada proyek yang besar dengan jumlah item pekerjaan yang banyak. Untuk proyek yang sedang dan kecil penerapan VE sudah cukup efektif dilakukan pada tahap perencanaan. 2. Dalam melakukan penerapan VE, konsultan VE harus berkoordinasi dengan

pemilik, perencana maupun pelaksana agar tercipta kesamaan persepsi mengenai keberadaan VE dalam proyek yang bersangkutan. 3. Agar tidak terjadi perbedaan pendapat mengenai penerapan VE pada suatu proyek, sebaiknya pada dokumen pelelangan disebutkan secara jelas mengenai permasalahan tersebut. 4. Penerapan VE tidak hanya dapat dilakukan pada pekerjaan struktur (yang memiliki prosentase biaya yang besar), tetapi dapat juga dilakukan pada pekerjaan yang memilki potensi untuk dilakukan VE, seperti pada pekerjaan arsitektur dan mekanikal elektrikal.

Page 184 DAFTAR PUSTAKA Apriyatno,H. 2004. Diktat Perkuliahan Struktur Beton II. Semarang : Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Barrie, D. dan Poulson, B. 1984. Manajemen Konstruksi Profesional. Alih Bahasa Sudinarto. 1990. Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. DellIsola, A. 1974. Value Engineering in the Construction Industry. New York: Construction Publishing Corp., Inc. Departemen Pekerjaan Umum. 1991. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SK SNI T-15-1991-03. Bandung : Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan. Dinas Permukiman dan Tata Ruang Propinsi Jawa Tengah. November 2005. Daftar Harga Satuan Bangunan Gedung Negara Bahan Bangunan/ Upah dan Analisa Pekerjaan., Semarang : Balai Pengujian dan Informasi Konstruksi (BPIK).

_______________, Februari 2007. Harga Satuan Pekerjaan Bahan dan Upah Pekerjaan Konstruksi, Semarang : Balai Pengujian dan Informasi Konstruksi (BPIK). Dipohusodo, I. 1999. Struktur Beton Betulang Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03 Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta : Gramedia. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1983. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983. Bandung : Yayasan LPMB. Donomartono, 1999. Apilkasi Value Engineering Guna Mengoptimalkan Biaya pada Tahap Perencanaan Kontruksi Gedung dengan Struktur Balok Beton Pratekan. Tugas Akhir JTS. Surabaya : Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hardiyatmo,H.C. 1996. Teknik Fondasi I. Jakarta : Gramedia. _____________. 2001. Teknik Fondasi II. Jakarta : Gramedia. Hutabarat, J. 1995. Diktat Rekayasa Nilai ( Value Engineering ). Malang : Institut Teknologi Nasional.

Page 185 Ibrahim, B. 1994. Rencana dan Estimate Real of Cost. Jakarta : Bumi Aksara. Isworo, B. Sutikno. Tugino. Suryanto. 1999. Value Engineering Changes Proposal Pembangunan Gedung Laboratorium FP MIPA IKIP Surabaya. Tugas Akhir. Surabaya : Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Muyasaroh, S. dan Joko, P. 2006 Rekayasa Fondasi II. Tugas Besar Kuliah. Semarang : Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Suryolelono, K.B. 1994.Teknik Fondasi Bagian II. Yogyakarta : NAFIRI. Triwiyono, A. 2005. Bahan Ajar Struktur Beton Pracetak. Yogyakarta : Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada. Vis, W. C. dan Kusuma, Gideon. 1993. Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang. Jakarta : Erlangga. Wigroho, Y. S. 2001. Analisis dan Perancangan Struktur Frame Menggunakan SA 2000 versi 7.42. Yogyakarta : ANDI