Anda di halaman 1dari 28

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

MESIN SINKRON DAN MOTOR INDUKSI 1 FASA

I.

Mesin Sinkron Mesin sinkron atau disebut juga mesin serempak atau juga generator sinkron merupakan suatu mesin AC yang kecepatannya dalam keadaan mantap (steady state) berbanding lurus dengan frekuensi dari arus yang mengalir pada gandar kumparannya. Medan magnetik yang dihasilkan oleh arus gandar kumparan berputar dengan kecepatan yang sama dengan yang dihasilkan oleh arus gandar kumparan pada rotor (yang berputar pada kecepatan yang sama), dan menghasilkan suatu momen kakas yang mantap. Kebanyakan energi listrik dibangkitkan dengan menggunakan mesin sinkron. Sebagai generator, putaran dari mesin ini harus dijaga konstan jika frekuensi dari tegangan yang dihasilkan ingin konstan. Medan magnet dalam mesin sinkron ialah tetap. Pada mesin-mesin yang kecil medan magnet dihasilkan oleh magnet tetap, tetapi pada umumnya medan magnet dihasilkan dengan memberikan arus searah pada kumparan medan, arus searah ini diperoleh dari rotor arus searah kecil yang dikopel pada poros mesin ini. Jenis-Jenis Mesin Sinkron Ada dua jenis mesin sinkron, yaitu mesin sinkron kutub luar dan mesin sinkron kutub dalam. Mesin Sinkron Kutub Luar Cara sederhana untuk membuat suatu generator arus bolak-balik ialah dengan memutar sebuah kumparan dalam suatu medan magnet. Medan magnet diperoleh dari sepasang magnet permanen, dengan kutub utara dan kutub selatan. Dalam medan magnet ini berputar sebuah kumparan. Arus listrik yang dibangkitkan dalam kumparan diambil dengan bantuan sepasang cincin geser dan sikat. Dapat dilihat pada gambar berikut, dimana kumparan yang berputar dan kutub magnet tidak bergerak, dinamakan mesin sinkron kutub luar.

Gambar 1. Konstruksi Mesin Sinkron Kutub Luar

Kutub U dan S dipasang pada sebuah pemikul atau stator. Stator ini juga berfungsi sebagai penghantar garis-garis magnet. Magnet ini pada umumnya merupakan elektromagnet, sehingga pada kutubnya terdapat kumparan magnet. Kumparan dililitkan pada sebuah rotor yang berputar dalam medan magnet. Karena bentuknya menonjol maka juga disebut dengan kutub menonjol.

1
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Mesin Sinkron Kutub Dalam Dapat pula dibuat dimana kutubnya yang berputar sedangkan kumparannya tidak bergerak, seperti pada gambar di bawah. Kutub-kutub yang dipasang pada poros dan diputar dalam sebuah kumparan.

Gambar 2. Konstruksi Mesin Sinkron Kutub Dalam

Konstruksi mesin ini diperlihatkan pada gambar 2. Kutub dipasang pada rotor sedangkan kumparan pada stator. Perbedaan prinsip konstruksi ini dengan konstruksi mesin kutub luar ialah bahwa pada mesin ini tegangan dan arus tidak diambil melalui cincin geser dan sikat, melainkan langsung dari kumparan yang tidak berputar. Hal ini penting untuk daya yang besar dengan tegangan yang tinggi dan arus yang besar. Karena jika menggunakan sikat arang dan cincin geser akan menimbulkan bunga api yang besar. Mesin dengan kutub yang berputar dan kumparan dipasang pada stator dinamakan mesin sinkron kutub dalam. Mesin sinkron kutub dalam tidak berbentuk menonjol magnetnya. Konstruksi Mesin Sinkron Ada dua struktur medan magnet pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari mesin tersebut, yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya GGL arus bolak-balik. Hampir semua mesin sinkron mempunyai kumparan GGL berupa stator yang diam dan struktur medan magnet berputar sebagai rotor. Kumparan DC pada struktur medan yang berputar dihubungkan pada sumber luar melalui slipring dan sikat arang, tetapi ada juga yang tidak mempergunakan sikat arang yaitu sistem brushless excitation. Konstruksi dari sebuah mesin sinkron secara garis besar ialah berikut.

2
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Bentuk Penguatan Untuk membangkitkan fluks magnetik diperlukan penguatan DC. Penguatan DC ini bisa diperoleh dari generator DC penguatan sendiri yang seporos dengan rotor mesin sinkron. Pada mesin sinkron dengan kecepatan rendah, tetapi rating daya yang besar, seperti generator hydroelectric, maka generator DC yang digunakan tidak dengan penguatan sendiri, tetapi dengan pilot exciter sebagai penguatan atau menggunakan magnet permanen.

Gambar 3. Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Penguatan Generator DC Pilot Exciter

Gambar 4. Generator Sinkron Tiga Fasa dengan Sistem Penguatan Brushless Exciter System

Alternatif lainnya untuk penguatan eksitasi adalah menggunakan diode silikon dan thyristor. Dua tipe sistem penguatan Solid State sebagai berikut: Sistem statis yang menggunakan diode atau thyristor statis, dan arus dialirkan ke rotor melalui slipring. Brushless system, pada sistem ini penyearah dipasangkan di poros yang berputar dengan rotor, sehingga tidak dibutuhkan sikat arang dan slipring.

3
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Rotor Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan mesin, mesin dengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk silinder, sedangkan mesin dengan kecepatan rendah seperti hydroelectric atau generator listrik diesel mempunyai rotor kutub menonjol. Dapat dilihat pada gambar 1 dan 2. Stator Stator dari mesin sinkron terbuat dari bahan feromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti feromagnetik yang bagus berarti permeabilitas dan resistifitas dari bahan tinggi.

Gambar 5. Inti Stator dan Alur pada Stator

Gambar 5 memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. Kumparan stator (jangkar) yang umum digunakan oleh mesin sinkron tiga fasa. Ada dua tipe yaitu: Kumparan satu lapis (Single Layer Winding) Kumparan berlapis ganda (Double Layer Winding)

Kumparan Stator Satu Lapis

Gambar 6. Kumparan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa

4
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 6 memperlihatkan kumparan satu lapis karena hanya ada satu sisi kumparan di dalam masing-masing alur. Jika kumparan tiga fasa dimulai pada Sa, Sb, dan Sc dan berakhir di Fa, Fb, dan Fc bisa disatukan dalam dua cara, yaitu hubungan bintang dan segitiga. Antar kumparan fasa dipisahkan sebesar 120 listrik atau 60 mekanik, satu siklus GGL penuh akan dihasilkan jika rotor dengan 4 kutub berputar 180 mekanis. Satu siklus GGL penuh menunjukkan 360 listrik. Adapun hubungan antara sudut rotor mekanis mek dan sudut listrik lis adalah: lis = 2 mek

Untuk menunjukkan arah dari putaran rotor gambar 7 (searah jarum jam), urutan fasa yang dihasilkan oleh suplai tiga fasa adalah ABC, dengan demikian tegangan maksimum pertama terjadi dalam fasa A, diikuti fasa B dan kemudian fasa C. Kebalikan arah putaran dihasilkan dalam urutan ACB atau urutan fasa negatif, sedangkan urutan fasa ABC disebut urutan fasa positif. Jadi GGL yang dibangkitkan sistem tiga fasa secara simetris adalah: EA = EA 0 V EB = EB -120 V EC = EC -240 V

Gambar 7. Urutan Fasa ABC

5
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Kumparan Stator Berlapis Ganda Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada gambar 8 hanya mempunyai satu lilitan per kutub per fasa, akibatnya masing-masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. Jika alur-alur tidak terlalu lebar, masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Masing-masing tegangan fasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per penghantar dan jumlah total dari penghantar per fasa. Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator, karena variasi kerapatan fluks dalam inti dan juga melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. Untuk mengatasi masalah ini, generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per fasa. Gambar 8 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. Pada masing-masing alur ada dua sisi lilitan dan masing-masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke dalam alur biasanya disebut winding overhang, sehingga tidak ada tegangan dalam winding overhang. Faktor Distribusi Sebuah kumparan terdiri dari sejumlah lilitan yang ditempatkan dalam alur secara terpisah. Sehingga, GGL pada terminal menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan kumparan yang telah dipusatkan. Suatu faktor yang harus dikalikan dengan GGL dari sebuah kumparan distribusi untuk menghasilkan total GGL yang dibangkitkan disebut faktor distribusi Kd untuk kumparan. Faktor ini selalu lebih kecil dari 1. Diasumsikan ada n alur per fasa per kutub, jarak antara alur dalam derajat listrik ialah: = 180 di mana m menyatakan jumlah fasa

Pada gambar 9 ditunjukkan GGL yang diinduksikan dalam alur 2 akan tertinggal (lagging) dari GGL yang dibangkitkan dalam alur 1 sebesar = 15 listrik, demikian pula GGL yang diinduksikan dalam alur 3 akan tertinggal 2 derajat dan seterusnya. Semua GGL ini ditunjukkan masing-masing oleh fasor E1 , E2 , E3 dan E4 . Total GGL stator per fasa E ialah jumlah dari seluruh vektor. E = E1 + E2 + E3 + E4 Total GGL stator E lebih kecil dibandingkan jumlah aljabar dari GGL lilitan oleh faktor. Kd = = 1 +2 +3 +4 4

Kd ialah faktor distribusi, dan bisa dinyatakan dengan persamaan: Kd = sin(1/2 ( 2 )

Keuntungan dari kumparan distribusi ialah memperbaiki bentuk gelombang tegangan yang dibangkitkan seperti gambar 10.

6
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 9. Diagram Fasor dari Tegangan Induksi Lilitan

Gambar 10. Total GGL Et dari tiga GGL sinusoida

Faktor Kisar Gambar 11 memperlihatkan bentuk kisar dari sebuah kumparan, jika sisi lilitan diletakkan dalam alur 1 dan 7 disebut kisar penuh. Sedangkan jika diletakkan dalam alur 1 dan 6 disebut kisar pendek karena ini sama dengan 5/6 kisar kutub. Kisar: 5/6 = 5/6 x 180 derajat = 150 derajat 1/6 = 1/6 x 180 derajat = 30 derajat

7
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Kisar pendek sering digunakan karena mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut: Menghemat tembaga yang digunakan. Memperbaiki bentuk gelombang dari tegangan yang dibangkitkan. Kerugian arus pusar dan histeristis dikurangi. Faktor kisar = jumlah vektor GGL induksi lilitan / jumlah aljabar GGL induksi lilitan = Kp EL GGL yang diinduksikan pada masing-masing lilitan, jika lilitan merupakan kisar penuh, maka total induksi = 2 EL (gambar 12). Kisar pendek dengan sudut 30 listrik. E = 2 EL . cos 30 / 2 Kp = E / 2 . EL = 2. EL . cos 30/2 / 2. EL = cos 15 atau Kp = cos 30/2 = cos /2 = sin p/2 dimana p ialah kisar kumparan dalam derajat listrik

Gambar 11. Kisar Kumparan

Gambar 12. Vektor Tegangan Lilitan

Gaya Gerak Listrik Kumparan Apabila Z = jumlah penghantar atau sisi lilitan dalam seri / fasa = 2T dan T = jumlah lilitan per fasa maka: d = P dan dt = 60/N detik

8
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

GGL induksi rata-rata penghantar: E= = 60/ = 60 Volt

Sedangkan f = P.N/120 atau N = 120.f/P Sehingga GGL induksi rata-rata per penghantar menjadi: Er = .P/60 x 120.f/P = 2. f. Volt jika ada Z penghantar dalam seri / fasa maka GGL rata-rata fasa= 2. f . . Z Volt 2 . f . . (2T) 4 . f . . T Volt GGL efektif / fasa = 1,11 x 4 . f . . T = 4,44 x f . . T Volt jika faktor distribusi dan faktor kisar dimasukkan maka GGL efektif /fasa E = 4,44 . Kd . Kp . f . . T Volt Prinsip Kerja Mesin Sinkron Pada mesin sinkron, kecepatan rotor dan frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan berbanding secara langsung. Gambar 13 memperlihatkan prinsip kerja dari sebuah generator AC dengan dua kutub, dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan yang terbuat dari dua penghantar secara seri, yaitu penghantar a dan a. Lilitan seperti ini disebut lilitan terpusat, dalam generator sebenarnya terdiri dari banyak lilitan dalam masing-masing fasa yang terdistribusi pada masing-masing alur stator dan disebut dengan lilitan terdistribusi. Diasumsikan rotor berputar searah jarum jam, maka fluks medan rotor bergerak sesuai lilitan jangkar. Satu putaran rotor dalam satu detik menghasilkan satu siklus per detik atau 1 Hz. Jika kecepatannya 60 rotasi per menit (rpm), frekuensi 1 Hz, untuk frekuensi 60 Hz maka rotor harus berputar 3600 rpm. Untuk kecepatan rotor n rpm, rotor harus berputar pada kecepatan n/60 rotasi per detik (rps). Jika rotor mempunyai lebih dari 1 pasang kutub, misalnya P kutub maka masingmasing rotasi dari rotor menginduksikan P/2 siklus tegangan dalam lilitan stator. Frekuensi dari tegangan induksi sebagai sebuah fungsi dari kecepatan rotor, f = P/2 n/60 Hz Untuk generator sinkron tiga fasa, harus ada tiga kumparan yang masing-masing terpisah sebesar 120 listrik dalam ruang sekitar keliling celah udara seperti diperlihatkan pada kumparan a-a , bb , dan c-c pada gambar 14.

9
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Masing-masing lilitan akan menghasilkan gelombang fluksi sinus satu dengan lainnya berbeda 120 listrik. Dalam keadaan seimbang besarnya fluks sesaat: A = m . sin t B = m . sin (t 120) C = m . sin (t 240)

Gambar 13. Diagram Generator Sinkron AC Satu Fasa Dua Kutub

Besarnya fluks resultan ialah jumlah vektor ketiga fluks tersebut T = A + B + C yang merupakan fungsi tempat () dan waktu (t). Maka besar fluks total ialah T = m . sin t + sin (t - 120) + m . sin (t - 240) . cos ( - 240). Dengan memakai transformasi trigonometri dari: sin . cos = . sin ( + ) + . sin ( + ) maka diperoleh: T = . m . sin (t + ) + . m . sin (t )+ . m . sin (t + 240) + . m . sin (t ) + . m . sin (t + - 480) Jika diuraikan maka suku ke satu, ke tiga dan ke lima akan saling menghilangkan. Dengan demikian dari persamaan ini akan didapat fluks total sebesar T = m . sin (t ) Weber. Jadi medan resultan merupakan medan putar dengan modulus 3/2 dengan sudut putar sebesar . Besarnya tegangan masing-masing fasa ialah Emaks = Bm . I . . r Volt , dimana: Bm : kerapatan fluks maksimum kumparan medan rotor (Tesla) I : panjang masing-masing lilitan dalam medan magnetik (Weber) : kecepatan sudut dari rotor (rad/s) r : radius dari jangkar (meter)

10
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 14. Diagram Generator Sinkron AC Tiga Fasa Dua Kutub

Generator Tanpa Beban Apabila sebuah mesin sinkron dijadikan sebagai generator dengan diputar pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus medan (If) maka pada kumparan jangkar stator akan diinduksikan tegangan tanpa beban (E0) yaitu: E0 = 4,44 . Kd . Kp . f . m . T Volt Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, sehingga tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasillkan oleh arus medan (If). Jika besarnya arus medan dinaikkan maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi (jenuh). Kondisi generator tanpa beban dapat dilihat rangkaian ekuivalennya pada gambar 15.

Ra

XL V

Eo

Gambar 15. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron Tanpa Beban

11
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Generator Berbeban Jika generator diberi beban yang berubah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula. Hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada: Resistansi jangkar Ra Reaktansi bocor jangkar XL Reaktansi jangkar Xa Resistansi Jangkar Resistansi jangkar/fasa Ra menyebabkan terjadinya tegangan jatuh (kerugian tegangan)/fasa I . Ra yang sefasa dengan arus jangkar. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluks yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan. Hal seperti ini disebut fluks bocor. Reaksi Jangkar Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat generator dibebani akan menimbulkan fluks jangkar (A) yang berintegrasi dengan fluksi yang dihasilkan pada kumparan medan rotor (F) sehingga akan dihasilkan suatu fluks resultan sebesar: R = F + A Interaksi antara kedua fluks ini disebut sebagai reaksi jangkar, seperti terlihat pada gambar 16 yang mengilustrasikan kondisi reaksi jangkar untuk jenis beban yang berbeda-beda. Gambar 16.a menunjukkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani tahanan sehingga arus jangkar Ia sefasa dengan GGL Eb dan A akan tegak lurus terhadap F. Gambar 16.b menunjukkan kondisi reaksi jangkar saat generator dibebani kapasitif, sehingga arus jangkar Ia mendahului GGL Eb sebesar dan A terbelakang terhadap F dengan sudut (90 ). Gambar 16.c menunjukkan kondisi reaksi jangkar saat dibebani kapasitif murni yang mengakibatkan arus jangkar I a mendahului GGL Eb sebesar 90 dan A akan memperkuat F yang berpengaruh terhadap pemagnetan. Gambar 16.d menunjukkan kondisi reaksi jangkar saat arus diberi beban induktif murni sehingga mengakibatkan arus jangkar Ia terbelakang dari GGL Eb sebesar 90 dan A akan memperlemah F yang berpengaruh terhadap kemagnetan.

Gambar 16. Kondisi Reaksi Jangkar

12
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Jumlah dari reaktansi bocor XL dan reaktansi jangkar Xa biasa disebut reaktansi sinkron Xs. Vektor diagram untuk beban yang bersifat induktif, resistif murni, dan kapasitif diperlihatkan pada gambar 17. Total tegangan jatuh pada beban: I . Ra + j(I . Xa + I . XL) = I {Ra + j(Xa + XL)} = I {Ra + j(Xa)} I . Za

Gambar 17. Vektor Diagram dari Beban Generator

13
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Pengaturan Tegangan Pengaturan tegangan ialah perubahan tegangan terminal antara keadaan beban nol dengan beban penuh, dan ini dinyatakan dengan persamaan: % Pengaturan Tegangan = 0 x 100

Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban dengan tegangan Eo pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan besarnya arus jangkar (I a) yang mengalir. Untuk menentukan pengaturan tegangan dari generator ialah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan jangkar. Ada tiga metode atau cara yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan tegangan tersebut, yaitu: Metode Impedansi Sinkron atau Metode GGL Metode Ampere Lilit atau Metode GGM Metode Faktor Daya Nol atau Metode Potier Metode Impedansi Sinkron Untuk menentukan pengaturan tegangan dengan menggunakan metode impedansi sinkron, langkah-langkahnya sebagai berikut. Tentukan nilai impedansi sinkron dari karakteristik tanpa beban dan karakteristik hubung singkat. Tentukan nilai Ra berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan. Berdasarkan persamaan hitung nilai Xs. Hitung harga tegangan tanpa beban Eo. Hitung prosentase pengaturan tegangan.

Gambar 18. Vektor Diagram Pf Lagging

Gambar 18 memperlihatkan contoh vektor diagram untuk beban dengan faktor daya lagging. Eo : OC : tegangan tanpa beban V : OA : tegangan terminal I . Ra : AB : tegangan jatuh resistansi jangkar I . Xs : BC : tegangan jatuh reaktansi sinkron OC = 2 + 2 = ( + )2 + ( + )2 Eo = ( cos + . )2 + ( sin . )2

14
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Metode Ampere Lilit Perhitungan dengan metode ampere lilit berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan tanpa beban dan hubung singkat. Dengan metode ini reaktansi bocor XI diabaikan dan reaksi jangkar diperhitungkan. Adapun langkah-langkah menentukan nilai arus medan yang diperlukan untuk memperoleh tegangan terminal generator saat diberi beban penuh ialah sebagai berikut: Tentukan nilai arus medan (vektor OA) dari percobaan beban nol yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal generator. Tentukan nilai arus medan (vektor AB) dari percobaan hubung singkat yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh generator. Gambarkan diagram vektornya dengan memperhatikan faktor dayanya: untuk faktor daya Lagging dengan sudut 90 + untuk faktor daya Leading dengan sudut 90 - untuk faktor daya unity dengan sudut 90 Hitung nilai arus medan total yang ditunjukkan oleh vektor OB

Gambar 19. Vektor Arus Medan

15
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 20 memperlihatkan diagram secara lengkap dengan karakteristik beban nol dan hubung singkat. OA = arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan tegangan nominal OC= arus medan yang diperlukan untuk mendapatkan arus beban penuh pada hubung singkat. AB = OC= dengan sudut (90+) terhadap OA OB = total arus medan yang dibutuhkan untuk mendapatkan tegangan Eo dari karakteristik beban nol. OB = 2 + 2 + 2()()cos{180 (90 + )} Metode Potier Metode ini berdasarkan pada pemisahan kerugian akibat reaktansi bocor XI dan pengaruh reaksi jangkar Xa. Data yang diperlukan ialah: Karakteristik tanpa beban Karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol Khusus, untuk karakteristik beban penuh dengan faktor daya nol dapat diperoleh dengan cara melakukan percobaan terhadap generator seperti halnya pada saat percobaan tanpa beban, yaitu menaikkan arus medan secara bertahap, yang membedakannya supaya menghasilkan faktor daya nol, maka generator harus diberi beban reaktor murni. Arus jangkar dan faktor daya nol saat dibebani harus dijaga konstan. Langkah-langkah untuk menggambar Diagram Potier sebagai berikut. 1. Pada kecepatan sinkron dengan beban reaktor, atur arus medan sampai tegangan nominal dan beban reaktor (arus beban) sampai arus nominal. 2. Gambarkan garis sejajar melalui kurva beban nol. Buat titik A yang menunjukkan nilai arus medan pada percobaan faktor daya nol pada saat tegangan nominal. 3. Buat titik B, berdasarkan percobaan hubung singkat dengan arus jangkar penuh. OB menunjukkan nilai arus medan saat percobaan tersebut. 4. Tarik garis AD yang sama dan sejajar garis OB. 5. Melalui titik D tarik garis sejajar kurva senjang udara sampai memotong kurva beban nol di titik J. Segitiga ADJ disebut segitiga potier. 6. Gambar garis JF tegak lurus AD. Panjang JF menunjukkan kerugian tegangan akibat reaktansi bocor. 7. AF menunjukkan besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi efek magnetisasi akibat reaksi jangkar saat beban penuh. 8. DF untuk penyeimbang reaktansi bocor jangkar (JF).

16
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 20. Diagram Potier

Dari gambar diagram potier di atas, bisa dilihat bahwa: V nilai tegangan terminal saat beban penuh V ditambah JF (I . XI) menghasilkan tegangan E BH = AF = arus medan yang dibutuhkan untuk mengatasi reaksi jangkar. Jika vektor BH ditambahkan ke OG, maka besarnya arus medan yang dibutuhkan untuk tegangan tanpa beban Eo bisa diketahui. Vektor diagram yang terlihat pada diagram potier bisa digambarkan secara terpisah seperti terlihat pada gambar 21. %pengaturan tegangan = Eo-V / V x 100

Gambar 21. Vektor Diagram Potier

17
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Kerja Paralel Generator Bila suatu generator mendapat pembebanan lebih dari kapasitasnya bisa mengakibatkan generator tidak bekerja atau rusak. Untuk mengatasi beban yang terus meningkat tersebut bisa diatasi dengan menjalankan generator lain yang kemudian dioperasikan secara paralel dengan generator yang telah bekerja sebelumnya. Keuntungan lain, jika salah satu generator tiba-tiba mengalami gangguan, generator tersebut dapat dihentikan serta beban dialihkan pada generator lain, sehingga pemutusan listrik secara total bisa dihindari. Cara Memparalel Generator Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memparalel dua buah generator atau lebih ialah: Polaritas dari generator harus sama dan bertentangan setiap saat terhadap satu sama lainnya. Nilai efektif arus bolak-balik dari tegangan harus sama. Tegangan generator yang diparalelkan mempunyai bentuk gelombang yang sama. Frekuensi kedua generator atau frekuensi generator dengan jala-jala harus sama. Urutan fasa dari kedua generator harus sama. Ada beberapa cara untuk memparalelkan generator dengan mengacu pada syarat-syarat di atas, yaitu: Lampu cahaya berputar dan voltmeter Voltmeter, frekuensi meter, dan synchroscope Cara otomatis Lampu cahaya berputar dan voltmeter Dengan rangkaian pada gambar 22, pilih lampu dengan tegangan kerja dua kali tegangan fasa netral generator atau gunakan dua lampu yang dihubungkan secara seri. Dalam keadaan sakelar terbuka operasikan generator, kemudian lihat urutan nyala lampu. Urutan lampu akan berubah menurut urutan L1-L2-L3-L1-L2-L3

R S T

L1

L2

L3

M
Generator Sinkron AC 3 Fasa
Gambar 22. Rangkaian Paralel Generator Sinkron

18
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 23. Rangkaian Lampu Berputar

Pada gambar 23.a keadaan ini L1 paling terang, L2 terang dan L3 redup. Pada gambar 23.b keadaan ini L2 paling terang, L1 terang dan L3 terang. Pada gambar 23.c keadaan ini L1 dan L2 sama terang dan L3 gelap, voltmeter = 0 V. Jika telah memenuhi hal tersebut maka generator telah dapat diparalelkan dengan jala-jala (generator lain). Voltmeter, frekuensi meter dan synchroscope Pada pusat-pusat pembangkit tenaga listrik, untuk indikator paralel generator banyak yang menggunakan alat synchroscope. Alat ini dilengkapi dengan voltmeter untuk memonitor kesamaan tegangan dan frekuensi meter untuk kesamaan frekuensi. Ketepatan sudut fasa dapat dilihat dari synchroscope. Jika jarum penunjuk berputar berlawanan arah jarum jam berarti frekuensi generator lebih rendah dan jika searah jarum jam berarti frekuensi generator lebih tinggi. Pada saat jarum telah diam dan menunjuk

19
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

pada kedudukan vertikal, maka beda fasa generator dan jala-jala telah nol dan selisih frekuensi telah nol. Maka pada posisi ini sakelar dimasukkan (ON). Alat synchroscope tidak bisa menunjukkan urutan fasa jala-jala, sehingga untuk memparalelkan perlu dipakai indikator urutan fasa jala-jala.

Gambar 24. Synchroscope

Paralel Otomatis Paralel generator secara otomatis biasanya menggunakan alat yang secara otomatis memonitor perbedaan fasa, tegangan, frekuensi dan urutan fasa. Apabila semua kondisi telah tercapai alat memberi suatu sinyal bahwa sakelar untuk paralel siap di-ON-kan.

II.

Motor Sinkron Motor sinkron ialah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Mesin sinkron mempunyai kumparan jangkar pada stator dan kumparan medan pada rotor. Kumparan jangkarnya berbentuk sama dengan mesin induksi, sedangkan kumparan medan mesin sinkron dapat berbentuk kutub sepatu atau kutub dengan celah udara sama rata (rotor silinder). Arus searah DC untuk menghasilkan fluks pada kumparan medan dialirkan ke rotor melalui cincin dan sikat. Prinsip Kerja Motor Sinkron Apabila kumparan jangkar pada stator dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa maka akan mengalir arus tiga fasa pada kumparan. Arus tiga fasa pada kumparan jangkar ini menghasilkan medan putara homogen. Berbeda dengan motor induksi, motor sinkron mendapat eksitasi dari sumber DC eksternal yang dihubungkan ke rangkaian rotor melalui slipring dan sikat. Arus DC pada rotor ini menghasilkan medan magnet rotor yang tetap. Kutub medan rotor mendapat tarikan dari kutub medan putar stator hingga turut berputar dengan kecepatan yang sama (sinkron). Torsi yang dihasilkan motor sinkron merupakan fungsi sudut torsi (). Semakin besar sudut antara kedua medan magnet, maka torsi yang dihasilkan akan semakin besar seperti persamaan di bawah ini. T = k . BR . B net sin Pada beban nol, sumbu kutub medan putar berimpit dengan sumbu kumparan medan ( = 0). Setiap penambahan beban membuat medan motor tertinggal dari medan stator, berbentuk sudut kopel (), untuk kemudian berputar dengan kecepatan yang sama lagi. Beban maksimum tercapai ketika = 90. Penambahan beban lebih lanjut mengakibatkan hilangnya kekuatan torsi dan motor disebut kehilangan sinkronisasi. Oleh karena pada motor sinkron terdapat dua sumber pembangkit fluks yaitu arus bolak-balik AC pada stator dan arus DC pada rotor, maka ketika arus medan pada rotor cukup untuk membangkitkan fluks (GGM) yang diperlukan motor, maka stator tidak perlu

20
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

memberikan arus magnetisasi atau daya reaktif dan motor bekerja pada faktor daya = 1. Ketika arus medan pada rotor kurang, stator akan menarik arus magnetisasi dari jala-jala, sehingga motor bekerja pada faktor daya terbelakang (lagging). Sebaliknya jika arus pada medan rotor berlebih, kelebihan fluks ini harus diimbangi dan stator akan menarik arus yang bersifat kapasitif dari jalajala dan motor bekerja pada faktor daya yang mendahului (leading). Dengan demikian, faktor daya motor sinkron dapat diatur dengan mengubah-ubah harga arus medan (IF). Rangkaian Ekuivalen Motor Sinkron Motor sinkron pada dasarnya ialah sama dengan generator sinkron, hanya saja arah aliran daya pada motor merupakan kebalikan dari generator sinkron. Karena daya pada motor sinkron dibalik, maka arah aliran pada stator motor sinkron juga dapat dianggap dibalik. Maka rangkaian ekuivalen motor sinkron ialah sama dengan rangkaian ekuivalen generator sinkron, kecuali arah arus Ia dibalik. Bentuk rangkaian ekuivalen motor sinkron berikut.

R1

Ra

jXs

L1

Ea

Gambar 25. Rangkaian Ekuivalen Motor Sinkron

Dari gambar dapat diambil persamaan tegangan rangkaian ekuivalen motor sinkron sebagai berikut. V = Ea + Ia.Ra + jIa . Xs Ea = V Ia.Ra jIa.Xs

Gambar 26. Konstruksi Motor Sinkron / Generator Sinkron

21
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Karakteristik Torsi Kecepatan Motor Sinkron Motor sinkron pada dasarnya merupakan alat yang menyuplai tenaga ke beban pada kecepatan konstan. Kecepatan putaran motor ialah terkunci pada frekuensi listrik yang diterapkan, jadinya kecepatan motor konstan pada beban apapun. Kecepatan motor yang konstan ini dari kondisi tanpa beban sampai torsi maksimum yang bisa disuplai motor disebut torsi pullout. Tthd = 3. . . .

Torsi maksimum motor terjadi ketika = 90. Umumnya torsi maksimum motor sinkron ialah tiga kali torsi beban penuhnya. Ketika torsi pada motor sinkron melebihi torsi maksimum maka motor akan kehilangan sinkronisasi. Dengan mengacu kembali persamaan sebelumnya maka: Tthd = k . BR . Bnet 3. . Tthd = . Dari persamaan ini menunjukkan bahwa semakin besar arus medan, maka torsi maksimum motor akan semakin besar. Kondensor Sinkron Apabila motor sinkron diberi penguatan berlebih, maka untuk mengkompensasi kelebihan fluks, dari jala-jala akan ditarik arus kapasitif. Karena itu motor sinkron (tanpa beban) yang diberi penguat berlebih akan berfungsi sebagai kapasitor dan mempunyai kesamaan untuk memperbaiki faktor daya. Motor sinkron demikian disebut kondensor sinkron. Starting Motor Sinkron Pada saat start (tegangan dihubungkan ke kumparan stator) kondisi motor ialah diam dan medan rotor BR juga stasioner, medan magnet stator mulai berputar pada kecepatan sinkron. Saat t = 0, BR dan BS ialah segaris, maka torsi induksi pada rotor ialah nol. Kemudian saat t = siklus rotor belum bergerak dan medan magnet stator ke arah kiri menghasilkan torsi induksi pada rotor berlawanan arah jarum jam. Selanjutnya pada t = siklus BR dan BS berlawanan arah dan torsi induksi pada kondisi ini ialah nol. Pada t = siklus medan magnet stator ke arah kanan menghasilkan torsi searah jarum jam. Demikian seterusnya pada t = 1 siklus medan magnet stator kembali segaris dengan medan magnet rotor. Selama satu siklus listrik dihasilkan torsi pertama berlawanan jarum jam kemudian searah jarum jam, sehingga torsi rata-rata pada satu siklus ialah nol. Ini menyebabkan motor bergetar pada setiap siklus dan mengalami pemanasan lebih. Tiga pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk start motor sinkron dengan aman ialah: 1. Mengurangi kecepatan medan magnet stator pada nilai yang rendah sehingga, rotor dapat mengikuti dan menguncinya pada setengah siklus putaran medan magnet. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi frekuensi tegangan yang diterapkan. 2. Menggunakan penggerak mula eksternal untuk mengakselerasikan motor sinkron hingga mencapai kecepatan sinkron, kemudian penggerak mula dimatikan. 3. Menggunakan kumparan peredam (damper winding) atau dengan membuat kumparan rotor motor sinkron seperti kumparan rotor belitan pada motor induksi (hanya saat start).

22
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

III. Motor Induksi 1 Fasa Penggunaan motor induksi fasa tunggal di industri sangat luas khususnya motor-motor yang berukuran kecil sekitar 1 kW. Penggunaannya ialah sebagai penggerak listrik untuk peralatan kecepatan konstan berdaya rendah seperti mesin-mesin perkakas, peralatan domestik dan mesinmesin pertanian pada keadaan dimana tidak terdapat suplai tiga fasa. Kebutuhan motor-motor induksi fasa tunggal sangat besar mulai dari ukuran kecil <1 kW sampai 4 kW. Kekurangan penggunaan motor induksi fasa tunggal antara lain ialah: Outputnya hanya sekitar 50% dari motor fasa tiga, untuk suatu ukuran rangka dan kenaikan temperatur yang diberikan. Faktor kerja rendah Efisiensi lebih rendah Harga lebih mahal dibanding dengan motor fasa tiga untuk output yang sama.

Secara konstruksi, motor ini mirip dengan motor induksi fasa banyak kecuali statornya hanya mempunyai kumparan fasa tunggal dan sakelar sentrifugal digunakan pada beberapa tipe motor untuk memutus kumparan yang digunakan untuk tujuan start. Motor induksi tiga fasa, jika dihubungkan dengan tegangan AC akan menghasilkan suatu medan magnet yang berputar terhadap ruang dan medan putar ini yang menjadi prinsip dasar motor induksi. Namun, fasa tunggal tidak menghasilkan medan putar. Sumber tegangan AC yang sinusoida menghasilkan fluks yang sinusoida pula. e= , = m cos t

Fluks yang sinusoida di atas hanya menghasilkan fluks (medan) pulsasi saja dan bukan fluks yang berputar terhadap ruang. Jika fluks sebagai fungsi waktu maka fluks sebagai fungsi waktu dan ruang: = m cos t cos dimana t = kecepatan, dan = sudut ruang atau: = m cos ( t) + m cos ( + t) Dengan demikian, fluks yang dihasilkan oleh kumparan fasa tunggal merupakan fluks dengan dua komponen yaitu fluks arah maju dan mundur. Fluks Arah Maju dan Mundur a. Komponen fluks dengan arah maju: m cos ( t) b. Komponen fluks dengan arah mundur: m cos ( + t)

23
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

dimana kedua komponen di atas bergerak berlawanan arah dengan kecepatan t yang sama sehingga kedudukannya terhadap ruang seolah-olah tetap. Kedua komponen fluks yang berlawanan arah tersebut tentunya akan menghasilkan torsi (kopel) yang sama besarnya dan berlawanan arah pula (arah maju dan mundur). Torsi resultan yang dihasilkan oleh kedua komponen torsi tersebut pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menggerakkan motor dengan arah maju dan mundur. Tetapi pada keadaan start kemampuan motor untuk maju sama besar dengan kemampuan gerak mundurnya. Jadi sebab itu motor tetap saja diam. Apabila dengan suatu alat bantu dapat diberikan untuk memberikan sedikit torsi maju, maka motor akan berputar mengikuti torsi resultan maju, demikian pula sebaliknya. Rangkaian Ekuivalen Rangkaian ekuivalen motor induksi satu fasa dapat dikembangkan berdasarkan pada teori medan berputar dua. Untuk pengembangan rangkaian ekuivalen, pertama ialah menimbang kondisi berhenti atau rotor terkunci dimana pada kondisi ini motor seakan-akan bertindak sebagai transformator dengan kumparan kedua terhubung singkat seperti gambar berikut.

Gambar 27. Rangkaian Ekuivalen Motor Induksi Satu Fasa Keadaan Rotor Terkunci

Gambar 28 menunjukkan rangkaian ekuivalen motor induksi satu fasa pada saat berhenti yang didasarkan pada teori medan berputar dua. Penjumlahan fasor Emf dan Emb ialah sama dengan tegangan yang diterapkan V (kurang jatuh tegangan pada resistansi stator R 1 dan reaktansi bocor X1).

Gambar 28. Rangkaian Ekuivalen Motor Induksi Satu Fasa Keadaan Berhenti yang Didasarkan pada Teori Medan Berputar Dua

24
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Jika rotor berputar pada kecepatan N yang bersesuaian dengan medan maju, slip s adalah bersesuaian dengan medan maju sedangkan slip (s-2) bersesuaian dengan medan mundur dan rangkaian ekuivalen berubah menjadi berikut.

Gambar 29. Rangkaian Ekuivalen Motor Induksi Satu Fasa Keadaan Operasi Normal

Jika rugi-rugi inti diabaikan, maka rangkaian ekuivalen termodifikasi seperti gambar 30. Rugi-rugi di sini ditimbang sebagai rugi-rugi putaran dan dikurangkan dari daya yang dikonversi menjadi daya mekanik dengan kesalahan yang timbul relatif kecil.

Gambar 30. Aproksimasi Rangkaian Ekuivalen Motor Induksi Satu Fasa Keadaan Operasi Normal

25
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Karakteristik Performansi Ketika suatu motor induksi satu fasa beroperasi dengan hanya mengenergisasi medan utamanya, karakteristik performansinya dapat ditentukan dari diagram rangkaian ekuivalen untuk nilai slip yang berbeda. Sementara melakukan perhitungan, rugi-rugi inti akan ditimbang sebagai rugi-rugi putaran. Impedansi yang disebabkan oleh medan maju ialah: Zf = Rf + jXf = 2 2 +j 2 2 yang paralel dengan 2

sedangkan impedansi yang disebabkan oleh medan mundur ialah: Zb = Rb + jXb = 2 2(2) +j 2 2 yang paralel dengan 2

sehingga menghasilkan impedansi total: Zeq = Z1 + Zf +Zb arus motor menjadi: I1 = = 1 + +

dan faktor daya menjadi: pf = Req / Zeq = 1 + + 1 + +

Emf = I1Zf dan Emb = I1Zb sehingga I2f = =

1 ( 2 ) +( 2 ) 2 2 1 ( 2 ) +( 2 ) 2(2) 2
2 2 2 2

2 + 2 2 2

I2b =

2 + 22 2(2)

Daya-daya yang timbul ialah: a. Daya pada celah udara untuk medan maju: Pcelah udara f = (I2f)2 b. 2 2 W

Daya pada celah udara untuk medan mundur:

26
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Pcelah udara b = (I2b)2 c.

2 2(2)

Daya output mekanik untuk medan maju: Pmek-f = (1-s)Pcelah-udara-f = (I2f)2 2 2

)W

d.

Daya output mekanik untuk medan mundur: Pmek-b = [1-(2-s)]Pcelah-udara-b = -(I2f)2 2 2

1 2

)W

e.

Daya output mekanik net: Pmek-net = Pmek-f + Pmek-b = (1-s)Pcelaj-udara-f + [1-(2-s)]Pcelah-udara-b = (1-s)[Pcelah-udara-f + Pcelah-udara-b] W

f.

Akhirnya daya output = Pmek-net rugi-rugi friksi dan kumparan rugi-rugi inti.

Torsi yang timbul ialah: a. Torsi yang dikembangkan untuk medan maju: Tf = (
2 ) 60

b.

Torsi yang dikembangkan untuk medan mundur: Tb = (


2 ) 60

c.

Torsi net yang dikembangkan: Tnet = [ ] (


2 ) 60

Motor Fasa Tak Seimbang Mempunyai 2 kumparan stator yaitu kumparan utama (U) dan kumparan bantu (B) yang diletakkan dengan perbedaan sudut 90 listrik. Motor ini juga disebut dengan motor fasa belah (split phase). Kumparan bantu mempunyai tahanan yang besar daripada kumparan utama, sedangkan reaktansinya dibuat lebih kecil. Dengan demikian, terdapat perbedaan fasa antara arus kumparan Im dengan arus kumparan bantu Ia (Ia terdahulu dari Im). Motor berfungsi sebagai motor fasa dua tidak seimbang, akibatnya terjadi medan putar pada stator yang mengakibatkan motor berputar. Kumparan bantu diputuskan hubungannya (s terbuka) ketika motor mencapai putaran sekitar 75% kecepatan sinkron. Biasanya digunakan sakelar yang terbuka oleh adanya gaya sentrifugal pada motor yang disebut dengan sakelar sentrifugal.

27
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang

Mesin Listrik 2 >> Mesin Sinkron dan Motor Induksi 1 Fasa

Gambar 31. Motor Fasa Tak Seimbang

Motor Kapasitor Dengan dipasangnya kapasitor pada rangkaian kumparan bantu akan diperoleh beda fasa 90 antara arus kumparan utama Im dan arus kumparan bantu Ia (Ia terdahulu 90 dari Im). Berbagai alat seperti kompressor, pompa air, mesin pendingin yang banyak dipakai di rumah memang memerlukan torsi awal yang relatif lebih besar, sehingga motor kapasitor cocok digunakan. Motor kapasitor ada yang start kapasitor dan ada yang running kapasitor.

Gambar 32. Motor Kapasitor

Referensi Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc . 2007. Mesin Arus Bolak-Balik. Pusat Pengembangan Bahan Ajar UMB http://www.digilib.petra.ac.id bagian mesin sinkron A.E. Fitzgerald, Charles Kingsley, Jr. , Stephen D. Umans. 1983. Electric Machinery. McGraw-Hill, Inc

28
Teknik Elektro >> Fakultas Teknik >> Universitas Negeri Padang