Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pertumbuhan kota adalah perubahan fisik kota sebagai akibat dari perkembangan

masyarakat kota. Pertumbuhan kota berasal dari berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas dan kualitas hidup tenaga kerja (Glaeseret al, 1995). Sedangkan perkembangan kota menurut E.W. Burgess (Yunus, 1999) dengan teori konsentris menjelaskan bahwa suatu kota yang besar mempunyai kecenderungan berkembang ke arah luar di semua bagian-bagiannya. Masing-masing zona tumbuh sedikit demi sedikit ke arah luar. Oleh karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola keruangan yang dihasilkan akan berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapis, dengan daerah pusat kegiatan sebagai intinya. Maka terbentuk pusat kota sebagai pusat bisnis. dan daerah pinggiran kota sebagai pendukungnya. Kota Bekasi secara geografis berada pada konstelasi pusat pertumbuhan nasional. Kota ini berada dalam lingkungan megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota besar ke empat di Indonesia. Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri yang bekerja dipusat kota Jakarta. Untuk itu kemana arah perubahan Kota Bekasi yang dilakukan melalui pembangunan daerah? Merupakan pertanyaan fundamental dalam arah perubahan Kota Bekasi. Arah pembangunan Kota difokuskan pada masyarakat Bekasi sebagai subyek pembangunan sekaligus sebagai modal sosial (social capital) yang kreatif, inovatif dalam mengolah sumberdaya menuju pada kesejahteraan masyarakat. Gagasan mengenai Pengembangan Perkotaan dalam Prespektif Kreativias Kota perlu di kedepankan oleh Pemerintah sebagai salah satu konsep penanganan pembangunan kota Bekasi . Nilai utama dari gagasan diatas adalah menjadikan kota yang mampu mengelola keberagaman secara interaktif sehingga semua warganya selalu produktif mencipta dalam semua bidang dan tingkatan, dari nilai-nilai sampai produk material. Pada akhirnya, kota Bekasi mampu bersikap

lebih toleran, dapat lebih jelas dan pasti dalam mengembangkan industri kreatif, dan memperlakukan ruang (penggunaan lahan) dengan lebih arif, yaitu memberi ruang kreatif di kantong-kantong kreatif kota mereka yang berujung pada pertumbuhan ekonomi kota. Berdasarkan uraian diatas dan melihat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di Kota Bekasi, maka penulis mencoba mengkaji permasalah diatas berupa Pertumbuhan dan Perkembanngan Kota dengan kajian studi kasus di dalamnya berupa Strategi Pengembangan Wilayah Kota Bekasi. Rumusan Masalah Adapun rumusan yang akan dibahas yaitu : bagaimana perkembangan dari suatu kota? bagaimana pertumbuhan dari suatu kota? bagaimana pertumbuhan dan perkembangan kota bekasi? Tujuan Pembuatan Makalah Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripikan: Perkembangan Kota; Pertumbuhan Kota; Pertumbuhan dan Perkembangan Kota Bekasi. Manfaat Penulisan Makalah Secara garis besar manfaat makalah ini dapat dilihat secara teoritis dan secara praktis, yaitu: 1. Manfaat Teoritis a. Sebagai bahan kajian bagi kalangan akademisi dalam upaya menambah wawasan ilmu sosial dalam meningkatkan pertumbuhan maupun perkembangan suatu kota;

b. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk lebih meningkatkan pertumbuhan maupun perkembangan suatu kota contohnya Kota Bekasi.

2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis, dapat menjadi suatu penambah wawasan mengenai masalahmasalah sosial yang ada di sekitar, termasuk mengenai pertumbuhan dan perkembangan suatu kota Bagi pembaca, dapat menjadi suatu referensi dan pengetahuan mengenai perkembangan dan pertumbuhan Kota Bekasi. Metode Penulisan Makalah Apabila dilihat dari tingkat eksplanasi, makalah ini termasuk penelitian deskriptif analitis. Penelitian deskriptif analitis, yaitu mendeskripsikan, menggambarkan, menelaah dan menjelaskan secara analitis permasalahan yang dikemukakan. Penelitian bersifat deskriptif analisis adalah suatu penelitian yang berusaha menggambarkan data-data mengenai pentingnya retorika baik dalam bergaul atau dalam suatu kepemimpinan. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penulisan studi pustaka. Metode penulisan studi pustaka merupakan metode penulisan karya tulis ilmiah dengan mengumpulkan bahan-bahan, materimateri, data-data dan informasi-informasi yang diperoleh dari buku-buku dan atau suatu jurnal. Data yang digunakan untuk analisis adalah data sekunder hasil kegiatan pembangunan dari berbagai instansi terkait maupun hasil kajian akademis yang menyangkut Wilayah Kota Bekasi. Data dianalisis menurut komponen Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Tantangan dalamperkembangan wilayah dalam 5 tahunke depan. Selanjutnya dianalisis menurut pendekatan TOWS (David, 1996.). Penulis juga menggunakan berbagai literatur yang terkait dengan tema. Kemudian akan dicoba untuk menerapkan contoh kasus yang berhubungan dengan topik bahasan

Sistematika Penulisan Makalah Agar dalam penelitian ini lebih terperinci, maka penulis mencoba menyusun sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I Pendahuluan, berfungsi sebagai pengantar informasi dari keseluruhan materi penulisan laporan penelitian secara rinci, bagian ini berisi tentang : judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat penulisan makalah, sistematika penulisan makalah, dan metode penulisan makalah. BAB II berisi tentang pembahasann isi Makalah. BAB III berisi tentang analisis BAB III berisi tentang penutup, yaitu simpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN Kajian Pustaka Definisi Wilayah Kota Berdasarkan Istilah, Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kekotaan menyangkut sifat-sifat yang melekat pada kota dalam artian fisikal, social, ekonomi, budaya. Perkotaan mengacu pada areal yang memiliki suasana penghidupan dan kehidupan modern dan menjadi wewenang pemerintah kota. Secara umum wilayah kota adalah kelompok penduduk yang bertempat tinggal bersama-sama dalam suatu wilayah menurut peraturan-peraturan yang telah ditentukan. Kota adalah suatu wilayah yang didalamnya memiliki aksesbilitas seperti pusat pemukiman penduduk, pusat kegiatan ekonomi, pusat kegiatan politik, pusat hiburan, dan pusat kegiatan social budaya. Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditujukan oleh kompulan rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Kota juga merupakan sebuah area urban yang berbeda dari desa atau kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, kegiatan, atau status hukum. Wilayah perkotaan merupakan bagian penting dalam kehidupan bernegara, sehingga kota dipelajari secara khusus dalam berbagai ilmu, salah satunya adalah ilmu ekonomi perkotaan. Dan didefinisikan secara khusus oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Bintarto, Dari segi geografis kota diartikan sebagai suatu sistim jaringan kehidupan yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang heterogen dan bercorak materialistis atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dbgan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan

dengan daerah dibelakangnya. Arnold Tonybee mendefinisikan sebuah kota tidak hanya merupakan pemukinan khusus tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kota menunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing. Menurut Max Weber Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar local. Menurut Luis Wirth, Kota adalah pemukiman yang relative besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Menurut Marbun (1992), kota merupakan kawasan hunian dengan jumlah penduduk relatif besar, tempat kerja penduduk yang intensitasnya tinggi serta merupakan tempat pelayanan umum. Kegiatan ekonomi merupakan hal yang penting bagi suatu kota karena merupakan dasar agar kota dapat bertahan dan berkembang (Jayadinata, 1992:110). Kedudukan aktifitas ekonomi sangat penting sehingga seringkali menjadi basis perkembangan sebuah kota. Adanya berbagai kegiatan ekonomi dalam suatu kawasan menjadi potensi perkembangan kawasan tersebut pada masa berikutnya. Dari beberapa pengertian kota menurut para ahli terdapat adanya kesamaan pernyataan tentang bagaimana suatu daerah tersebut dikatakan sebuah kota. Kesamaan tersebut dapat dilihat bahwa kota pasti mencakup adanya suatu bentuk kehidupan manusia yang beragam dan berada pada suatu wilayah tertentu. Definisi Perkembangan Kota Istilah perkembangan kota (urban development) dapat diartikan sebagai suatu perubahan menyeluruh, yaitu yang menyangkut segala perubahan di dalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi, sosial budaya, maupun perubahan fisik (Hendarto, 1997). Perkembangan suatu kota juga dipengaruhi oleh perkembangan dan kebijakan ekonomi. Hal ini disebabkan karena perkembangan kota pada dasarnya adalah wujud fisik perkembangan ekonomi (Firman, 1996). Kegiatan sekunder dan tersier seperti manufaktur dan jasa-jasa cenderung untuk berlokasi di kotakota karena faktor urbanization economics yang diartikan sebagai kekuatan

yang mendorong kegiatan usaha untuk berlokasi di kota sebagai pusat pasar, tenaga kerja ahli, dan sebagainya. Perkembangan kota menurut Raharjo dalam Widyaningsih (2001), bermakna perubahan yang dialami oleh daerah perkotaan pada aspek-aspek kehidupan dan penghidupan kota tersebut, dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi banyak, dari kecil menjadi besar, dari ketersediaan lahan yang luas menjadi terbatas, dari penggunaan ruang yang sedikit menjadi teraglomerasi secara luas, dan seterusnya. Definisi Pertumbuhan Kota Pertumbuhan dan perkembangan kota pada prisipnya menggambarkan proses berkembangnya suatu kota. Pertumbuhan kota mengacu pada pengertian secara kuantitas, yang dalam hal ini diindikasikan oleh besaran faktor produksi yang dipergunakan oleh sistem ekonomi kota tersebut. Semakin besar produksi berarti ada peningkatan permintaan yang meningkat. Indikasi ini dapat dilihat pada struktur kegiatan perekonomian dari primer kesekunder atau tersier. Secara umum kota akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan melalui keterlibatan aktivitas sumber daya manusia berupa peningkatan jumlah penduduk dan sumber daya alam dalam kota yang bersangkutan (Hendarto, 1997). Pembahasan Faktor Perkembangan Kota Dikatakan oleh Beatley dan Manning (1997) bahwa penyebab perkembangan suatu kota tidak disebabkan oleh satu hal saja melainkan oleh berbagai hal yang saling berkaitan seperti hubungan antara kekuatan politik dan pasar, kebutuhan politik, serta faktor-faktor sosial budaya. Pada umumya, perkembangan kota yaitu: Faktor penduduk, yaitu adanya pertambahan penduduk baik disebabkan karena pertambahan alami maupun karena migrasi. Faktor sosial ekonomi, yaitu perkembangan kegiatan usaha masyarakat. terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi

Faktor sosial budaya, yaitu adanya perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh luar, komunikasi dan sistem informasi. Menurut Catanese (1989), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kota ini dapat berupa faktor fisik dan non fisik. Faktor-faktor fisik akan mempengaruhi perkembangan suatu kota diantaranya: Faktor Lokasi Faktor di mana kota itu berada akan sangat mempengaruhi perkembangan kota tersebut, hal ini berkaitan dengan kemampuan kota tersebut untuk melakukan aktifitas dan interaksi yang dilakukan penduduknya. Kota yang berlokasi di jalur jalan utama atau persimpangan jalan utama akan mampu menyebarkan pergerakan dari dan semua penjuru dan menjadi titik pertemuan antara pergerakan dari berbagai arah. Faktor Geografis Kondisi geografis suatu kota akan mempengaruhi perkembangan kota. Kota yang mempunyai kondisi geografis relatif datar akan sangat cepat untuk berkembang dibandingkan dengan kota di daerah yang bergunung-gunung yang akan menyulitkan dalam melakukan pergerakan baik itu orang maupun barang. Selain itu kota di daerah yang bergununggunung akan sulit merencana dan mendesainnya dibandingkan dengan daerah dengan daerah datar. Sebagai gambaran kota yang berada di dataran rendah (rata) lebih cepat berkembang dibandingkan dengan Kota yang berada di daerah yang bergunung-gunung. Sedangkan faktor-faktor non fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan suatu kota dapat berupa : Faktor Perkembangan Penduduk Perkembangan penduduk data disebabkan oleh dua hal, yaitu secara alami (internal) dan migrasi (eksternal), perkembangan secara alami adalah yang berkaitan dengan kelahiran dan kematian yang terjadi di kota tersebut, sedangkan migrasi berhubungan dengan pergerakan penduduk dari luar kota masuk kedalam kota. Menurut Daljoeni (1987) pembahasan tentang laju perkembangan penduduk meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan dan penyebaran. Penyebaran kepadatan penduduk dipengaruhi oleh empat unsur geografis yaitu lokasi, iklim, tanah dan

air Kartasapoetra (dalam Novianti 2002 ). Faktor Aktivitas Kota Kegiatan yang ada didalam kota tersebut, terutama kegiatan perekonomian. Perkembangan perekonomian ditentukan oleh faktor faktor yang berasal dari dalam kota itu sendiri (faktor internal) yang meliputi faktor-faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, modal serta faktor-faktor yang berasal dari luar daerah (faktor eksternal) yaitu tingkat permintaan dari daerah-daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan oleh daerah yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut tersebut. Teori-teori Perkembangan Kota Teori Konsentris (The Consentric Theory) Teori ini dikemukakan oleh E.W. Burgess (Yunus, 1999), Secara berurutan, tata ruang kota yang ada pada suatu kota yang mengikuti suatu pola konsentris ini adalah sebagai berikut: Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB) Daerah pusat kegiatan ini sering disebut sebagai pusat kota. Dalam daerah ini terdapat bangunan-bangunan utama untuk melakukan kegiatan baik sosial, ekonomi, poitik dan budaya. Contohnya : Daerah pertokoan, perkantoran, gedung kesenian, bank dan lainnya. Daerah Peralihan Daerah ini kebanyakan di huni oleh golongan penduduk kurang mampu dalam kehidupan sosial-ekonominya. Penduduk ini sebagian besar terdiri dari pendatang-pendatang yang tidak stabil (musiman), terutama ditinjau dari tempat tinggalnya. Di beberapa tempat pada daerah ini terdapat kegiatan industri ringan, sebagai perluasan dari KPB. Daerah Pabrik dan Perumahan Pekerja Daerah ini di huni oleh pekerja-pekerja pabrik yang ada di daerah ini. Kondisi perumahannya sedikit lebih buruk daripada daerah peralihan, hal ini disebabkan karena kebanyakan pekerja-pekerja yang tinggal di sini adalah dari pada gilirannya akan membentuk suatu aglomerasi kegiatan perekonomian yang makin lama akan semakin besar dan menyebabkan kota

golongan pekerja kelas rendah. Daerah Perumahan yang Lebih Baik Kondisinya Daerah ini dihuni oleh penduduk yang lebih stabil keadaannya dibanding dengan penduduk yang menghuni daerah yang disebut sebelumnya, baik ditinjau dari pemukimannya maupun dari perekonomiannya. Daerah Penglaju Daerah ini mempunyai tipe kehidupan yang dipengaruhi oleh pola hidup daerah pedesaan disekitarnya. Sebagian menunjukkan ciri-ciri kehidupan perkotaan dan sebagian yang lain menunjukkan ciri-ciri kehidupan pedesaan, Kebanyakan penduduknya mempunyai lapangan pekerjaan nonagraris dan merupakan pekerja-pekerja penglaju yang bekerja di dalam kota, sebagian penduduk yang lain adalah penduduk yang bekerja di bidang pertanian. Teori Sektor Teori sektor ini dikemukakan oleh Homer Hoyt (Yunus, 1991 & 1999), dinyatakan bahwa perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam suatu kota, berangsur-angsur menghasilkan kembali karakter yang dipunyai oleh sectorsektor yang sama terlebih dahulu. Alasan ini terutama didasarkan pada adanya kenyataan bahwa di dalam kota-kota yang besar terdapat variasi sewa tanah atau sewa rumah yang besar. Belum tentu sesuatu tempat yang mempunyai jarak yang sama terhadap KPB akan mempunyai nilai sewa tanah atau rumah yang sama, atau belum tentu semakin jauh letak atau tempat terhadap KPB akan mempunyai nilai sewa yang semakin rendah. Kadang-kadang daerah tertentu dan bahkan sering terjadi bahwa daerah-daerah tertentu yang letaknya lebih dekat dengan KPB mempunyai nilai sewa tanah atau rumah yang lebih rendah daripada daerah yang lebih jauh dari KPB. Keadaan ini sangat banyak dipengaruhi oleh factor transportasi, komunikasi dan segala aspek-aspek yang lainnya. Faktor-faktor tersebut yaitu : Pertumbuhan Vertikat, yaitu daerah ini dihuni oleh struktur keluarga tunggal dan semakin lama akan didiami oleh struktur keluarga ganda. Hal ini karena ada factor pembatas, yaitu : fisik, social, ekonomi dan politik.

Pertumbuhan Memampat, yaitu apabila wilayah suatu kota masih cukup tersedia ruang-ruang kosong untuk bangunan tempat tinggal dan bangunan lainnya. Pertumbuhan Mendatar ke Arah Luar (Centrifugal), yaitu biasanya terjadi karena adanya kekurangan ruang bagi tempat tinggal dan kegiatan lainnya. Pertumbuhannya bersifat datar centrifugal, karena perembetan pertumbuhannya akan kelihatan nyata pada sepanjang rute transportasi. Pertumbuhan datar centrifugal ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : Pertumbuhan Datar Aksial, pertumbuhan kota yang memanjang ini terutama dipengaruhi oleh adanya jalur transportasi yang menghubungkan KPB dengan daerah-daerah yang berada diluarnya. Pertumbuhan Datar Tematis, pertumbuhan lateral suatu kota tipe ini tidak mengikuti arah jalur transportasi yang ada, tetapi lebih banyak dilatarbelakangi oleh keadaan khusus, sebagai contoh yaitu dengan didirikannya beberapa pusat pendidikan, sehingga akan menarik penduduk untuk bertempat tinggal di daerah sekitarnya. Di lingkungan pusat kegiatan yang bertumbuhy datar tematis akan timbul suatu suasana perkotaan yang secara administrative mungkin terpisah dari kota yang ada. Oleh karena jarak antara pusast kegiatan yang baru dengan daerah perkotaan yang lama biasanya tidak terlalu jauh, maka pertumbuhan selanjutnya adalah pada pusat yang lama dengan pusat yang baru akan bergabung menjadi satu. Pertumbuhan Datar Kolesen, perkembangan lateral ketiga ini terjadi karena adanya gabungan dari perkembangan tipe satu dan dua. Sehubungan dengan adanya perkembangan yang terus-menerus dan bersifat datar pada kota (pusat kegiatan), maka mengakibatkan terjadinya kegiatan. Teori Central Place dan Urban Base penggabungan pusat-pusat tersebut satu kesatuan

Teori Central Place dan Urban Base merupakan teori mengenai perkembangan kota yang paling populer dalam menjelaskan perkembangan kotakota. Menurut teori central place seperti yang dikemukakan oleh Christaller (Daldjoeni, 1992), suatu kota berkembang sebagai akibat dari fungsinya dalam menyediakan barang dan jasa untuk daerah sekitarnya. Teori Urban Base juga menganggap bahwa perkembangan kota ditimbulkan dari fungsinya dalam menyediakan barang kepada daerah sekitarnya juga seluruh daerah di luar batasbatas kota tersebut. Menurut teori ini, perkembangan ekspor akan secara langsung mengembangkan pendapatan kota. Disamping itu, hal tersebut akan menimbulkan pula perkembangan industri-industri yang menyediakan bahan mentah dan jasajasa untuk industri-industri yang memproduksi barang ekspor yang selanjutnya akan mendorong pertambahan pendapatan kota lebih lanjut (Hendarto, 1997). Faktor Pertumbuhan Kota Secara teoritik Charles C. olby (dalam Daldjoeni, 1992) menjelaskan adanya dua daya yang menyebabkan kota berekspansi atau memusat, yaitu daya sentripetal dan daya sentrifugal. Daya sentripetal adalah daya yang mendorong gerak ke dalam dari penduduk dan berbagai kegiatan usahanya, sedangkan daya sentrifugal adalah daya yang mendorong gerak keluar dari penduduk dan berbagai usahanya dan menciptakan disperse kegiatan manusia dan relokasi sektor-sektor dan zone-zone kota. Terdapat faktor-faktor yang mendorong gerak sentripetal adalah: Adanya berbagai pusat pelayanan, seperti pendidikan, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan sebagainya; Mudahnya akses layanan transportasi seperti pelabuhan, stasiun kereta, terminal bus, serta jaringan jalan yang bagus; Tersedianya beragam lapangan pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih tinggi.

Sedangkan faktor-faktor yang mendorong gerak sentrifugal adalah:

Adanya gangguan yang berulang seperti macetnya lalulintas, polusi, dan gangguan bunyi-bunyian yang menimbulkan rasa tidak nyaman; Harga tanah, pajak maupun sewa di luar pusat kota yang lebih murah jika dibandingkan dengan pusat kota; Keinginan untuk bertempat tinggal di luar pusat kota yang terasa lebih alami (Daldjoeni, 1992). Cheema (1993) menyebutkan adanya beberapa faktor penyebab cepatnya pertumbuhan kota, yaitu bahwa kota lebih memberikan peluang terhadap kesempatan kerja, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial lainnya. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor kemudahan transportasi dan komunikasi juga berperan dalam memacu pertumbuhan kota karena lebih menjanjikan peningkatan kesejahteraan dan peningkatan perekonomian bagi keluarga. Sejarah Pertumbuhan Kota wzTooltipfLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument1fIsButton1fHidden0 fLayoutInCell1

kota di kegiatanKota yang berawal dari pusat perdagangan

Berdasarkan sejarah pertumbuhannya, kotaIndonesia bermula dari kegiatan sebagai berikut.

Di Indonesia kota-kota yang berasal dari kegiatan perdagangan, antara lain adalah Surabaya, Jakarta dan Makassar. Kota-kota ini merupakan kota perdagangan yang ramai. Kota yang berawal dari pusat perkebunan Pembukaan lahan baru untuk areal perkebunan berdampak pada pembuatan permukiman baru yang kemudian berkembang menjadi kota. Contohnya: Sukabumi (perkebunan teh), Ambarawa

(perkebunan kopi), dan Jambi (perkebunan karet). Kota yang berawal dari pusat pertambangan Kota-kota di Indonesia yang berkembang dari perluasan daerah pertambangan, antara lain Pangkal Pinang dan Tanjung Pandan (pertambangan timah), Palembang dan Plaju (tambang minyak bumi), Samarinda, Tarakan, Balikpapan (tambang minyak Bumi). Kota yang berawal dari pusat administrasi pemerintah Pada zaman penjajahan Belanda, Batavia merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Kota Batavia (Jakarta) menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.
wzTooltipfLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument1fIsButton1fHi dden0fLayoutInCell1

Sampai saat ini pertumbuhan kota-kota di dunia telah mengalami pertumbuhan yang pesat seiring majunya pertumbuhan globalisasi yang memungkinkan manusia melakukan perancangan-perancangan bangunan yang modern, serta perancangan tata ruang. Seperti kita ketahui perencanaan tata ruang merupakan metode-metode yang digunakan oleh sektor publik untuk mengatur penyebaran penduduk dan aktivitas dalam ruang yang skalanya bervariasi.

Teori Pertumbuhan Kota Menurut Spiro Kostof (1991), Kota adalah Leburan Dari bangunan dan penduduk, sedangkan bentuk kota pada awalnya adalah netral tetapi kemudian berubah sampai hal ini dipengaruhi dengan budaya yang tertentu. Bentuk kota ada dua macam yaitu geometri dan organik.Terdapat dikotomi bentuk perkotaan yang didasarkan pada bentuk geometri kota yaitu Planned dan Unplanned. Bentuk Planned (terencana) dapat dijumpai pada kota-kota eropa abad pertengahan dengan pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometrik. Bentuk Unplanned (tidak terencana) banyak terjadi pada kota-kota metropolitan, dimana satu segmen kota berkembang secara sepontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling mengisi, sehingga akhirnya kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan organik pattern, bentuk kota organik tersebut secara spontan, tidak terencana dan memiliki pola yang tidak teratur dan non geometrik. Elemen-elemen pembentuk kota pada kota organik, oleh kostol dianalogikan secara biologis seperti organ tubuh manusia, yaitu : Square, open space sebagai paru-paru. Center, pusat kota sebagai jantung yang memompa darah (traffic). Jaringan jalan sebagai saluran arteri darah dalam tubuh. Kegiatan ekonomi kota sebagai sel yang berfikir. Bank, pelabuhan, kawasan industri sebagai jaringan khusus dalam tubuh. Unsur kapital (keuangan dan bangunan) sebagai energi yang mengalir ke seluruh sistem perkotaan. Dalam suatu kota organik, terjadi saling ketergantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Contohnya : jalan-jalan dan lorong-lorong menjadi ruang komunal dan ruang publik yang tidak teratur tetapi menunjukkan adanya kontak sosial dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli dan pendatang, antara kepentingan individu dan kepentingan umum. Perubahan demi perubahan

fisik dan non fisik (sosial) terjadi secara sepontan. Apabila salah satu elemnya terganggu maka seluruh lingkungan akan terganggu juga, sehingga akan mencari keseimbangan baru. Demikian ini terjadi secara berulang-ulang. Menurut Kevin Lynch (1981), definisi model organik atau kota biologis adalah kota yang terlihat sebagai tempat tinggal yang hidup, memiliki ciri-ciri kehidupan yang membedakannya dari sekedar mesin, mengatur diri sendiri dan dibatasi oleh ukuran dan batas yang optimal, struktur internal dan perilaku yang khas, perubahannya tidak dapat dihindari untuk mempertahankan keseimbangan yang ada, menurutnya bentuk fisik organik : Membentuk pola radial dengan unit terbatas. Memiliki focused centre. Memiliki lay out non geometrik atau cenderung romantis dengan pola yang membentuk lengkung tak beraturan. Material alami. Kepadatan sedang sampai rendah. Dekat dengan alam Di dalam model organik ini, organisasi ruang telah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang memiliki fungsi masing-masing. Kota terbentuk organik mudah untuk mengalami penurunan kualitas karena perkembangannya yang spontan, tidak terencana dan sepotong-sepotong. Masyarakat penghuni kota ini bermacam-macam yang merupakan percampuran antara berbagai macam manusia dalam suatu tempat yang memiliki keseimbangan. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, saling menyimpang tetapi juga saling mendukung satu sama lain. Kota organik memiliki ciri khas pada kerjasama pemeliharan lingkungan sosial oleh masyarakat.

Studi Kasus Strategi Pengembangan Wilayah Kota Bekasi Lingkungan Strategis Internal Kota Unsur Kekuatan Perkembangan Wilayah Jabodetabek Kota Bekasi merupakan bagian dari wilayah Jabodetabek, sebagai wilayah yang mengalami perkembangan sangat pesat. Interaksi atau pergerakkan antara Kota Bekasi dengan wilayah lainnya di Jabodetabek di dominasi oleh pergerakan eksternal terutama ke dan dari Kota Jakarta merupakan bangkitan dan tarikan tertinggi, hal ini dapat dilihat dari Matrik Asal Tujuan (MAT) pada zona-zona eksternal. Pola pergerakan commuter ini mengakibatkan pembebanan pada jalan penghubung Kota Bekasi dengan Jakarta (Jalan Sultan Agung,Jalan K.H Noer Ali, Jalan RayaJatiwaringin, dan Jalan Tol Bekasi-Jakarta) semakin besar mengingat tidak terdapatnya jalan alternatif menuju wilayah eksternal Kota Bekasi. b. Sektor Ekonomi Basis Kota Bekasi Sektor basis ekonomi adalah sektor yang berperan dalam perkembangan ekonomi wilayah. Lawannya adalah sektor non basis ekonomi, karena perannya dibawah rata-rata wilayah Jadebotabek. Dengan kata lain sektor basis ekonomi adalah kunci dalam mendorong pertumbuhan wilayah. Indentifikasi sektor basis ekonomi dapat didekati dengan Location Quotion (LQ). Nilai LQ > 1 berarti sektor basis, jika nilai LQ < 1 menunjukkan sektor non basis. Berdasarkan pendekatan LQ ini. Nilai LQ selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Kota Bekasi memiliki penggerak utama perekonomian dalam sektor: 1) pertanian, 2) industri, 3) listrik, gas dan air minum dan 4) perdagangan, hotel dan restoran. Berdasarkan uraian di atas, maka posisi Kota Bekasi memiliki karakteristik sebagai berikut: Aspek struktur ekonomi hampir sama dengan Jakarta Utara, Tangerang Aspek sektor basis memiliki kemiripan dengan Tangerang, Depok, Bogor Berdasarkan karakteristik di atas, maka Kota Bekasi cenderung memiliki hubungan horisontal dengan Kota Depok, Tangerang dan Bogor serta Jakarta Utara. Hubungan tersebut jika tiada inovasi dan diversifikasi maka akan terjadi

hubungan kompetisi bukan komplemen.

c. Tingkat Pendidikan Indeks Pendidikan (IP) Kota Bekasi pada tahun 2005 sebesar 90,03 hal ini berarti mengalami kenaikan sebesar 0,42 poin dari tahun 2004 yang mencapai angka 89,61. Angka IP Kota Bekasi ini merupakan angka capaian yang tinggi untuk Indeks Pendidikan. Kenaikan angka indeks pendidikan periode tahun 2004 ke tahun 2005 dicapai melalui berbagai upaya di bidang pendidikan. d. Sumberdaya Finansial Tingkat pertumbuhan pendapatan yang cukup baik dan konsisten tersebut umumnya didorong oleh kecenderungan peningkatan perolehan dari seluruh komponen pendapatan, baik dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, maupun Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Dalam realisasi pendapatan selama periode TA 2003- 2007, PAD memberikan kontribusi perolehan sebagai sumber pendapatan daerah rata-rata sekitar 15,9% per tahun, atau menduduki urutan ke-3 setelah Dana Perimbangan (rata-rata 63,05% per tahun) dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah (ratarata 21,06% per tahun).

Unsur Kelemahan a. Angka Pengangguran dan Kemiskinan Tingkat pengangguran terbuka berdasarkan data IPM (Satlak dan BPS tahun 2007) menunjukkan terjadinya penurunan -17,53% dari tahun sebelumnya, dengan perinciantahun 2005 tingkat pengangguran terbuka mencapai 12,85% sedangkan di tahun 2007 mencapai 8,74%. Jumlah penduduk miskin di Kota Bekasi menunjukkan peningkatan dimana pada tahun 2006 mencapai 42.878 orang. b. Kekuatan Ekonomi Rakyat belumBerkembang Secara mikro, kondisi perekonomian lokal dapat diwakili oleh beberapa UKM yang diunggulkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Selanjutnya UMKM terbagi atas beberapa golongan berdasarkan kriteria BPS serta Undangundang No. 9 Tahun 1995 adalah sebagai berikut: 1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia, secara individu atau tergabung dalam Koperasi dan memiliki hasil penjualan secara individu paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per tahun sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan No.12/PMK.06/ 2005 tangggal 14 Februari 2005 tentang Pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil. 2) Usaha Kecil adalah usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. usaha produktif milik Warga Negara Indonesia yang berbentuk badan usaha

orang perorangan, badan usaha yang tidak berbentuk hukum, atau badan usaha berbadan hukum termasuk koperasi; b. bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi, baik langsung, dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar; dan c. memiliki kekayaan bersihpaling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus jutarupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usahaatau memiliki hasil penjualan maksimum Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pertahun sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 9tahun 1995.. c. Daya Beli Masyarakat MasihRendah Tingginya nilai IPM Kota Bekasi dipengaruhi oleh faktor utama Indeks Pendidikan (90.11) dan Indeks Kesehatan (74,98) Sedangkan Indeks Daya Beli masyarakatnya yang masih sangat rendah (62.34). d. Manajemen Pemerintah BelumOptimal Kompleksitas tuntutan masyarakat terhadap optimalisasi pelayanan di berbagai sektor pembangunan, dalam praktiknya dihadapkan pada keterbatasan sumberdaya yang tersedia atau daya dukung yang terbatas, sehingga dalam pelaksanaan pembangunan masih dijumpai pernyataan ketidakpuasan masyarakat antara lain: Rekrutmen dan peningkatan sumberdaya aparatur melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, masih belum memenuhi kebutuhan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. Pembangunan sistem manajemen strategik organisasi pemerintah yang semula diharapkan mampu menjadi alat manajemen yang ampuh dalam mengawal proses manajemen Kota Bekasi secara keseluruhan, dalam praktiknya belum dapat dilaksanakan secara konsisten. Secara umum kinerja pemerintah dapat dilihat dari kualitas pelayanan publik yang diberikan dalam melayani masyarakat. Kepuasan masyarakat sebagai konsumen perlu dijadikan indikator dalam menilai kualitas pelayanan

umum dari pemerintah daerah. Kondisi pelayanan umum di Kota Bekasi secara umum masih belum dapat memuaskan masyarakat. Salah satu indikasi mana-jemen pemerintahan masih belum optimal, termasuk didalamnya belum optimalnya implementasi perundang-undangan, reformasi birokrasi, kuali-tas sumberdaya aparatur dan sumberdaya lainya. Adapun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam perencanaan pembangunan di Kota Bekasi diidentifikasi sebagai berikut: Belum tersedianya data yang akurat dan lengkap. Perubahan regulasi mengenai tata cara penyusunan dokumen pe-rencanaan di tingkat pusat. Terbatasnya produk perencanaan pembangunan. Organisasi tersebut diisi oleh aparatur pemerintah dengan jumlah hirarki birokrasi atau eselon seperti diuraikan dalam Gambar 1 Dari gambar ini dapat dilihat bahwa eselon menumpuk pada level III A. Kemudian disusul oleh Eselon IV A dan IV B.

Pengaruh Lingkungan Strategis Eksternal Perkembangan Kota Bekasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, baik pengaruh langsung maupun tidak langsung pada perkembangan Kota. Peluang Pasar Bebas ASEAN Dewasa ini telah tercipta kawasan-kawasan perdagangan, atau blok-blok perdagangan seperti Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA), kawasan perdagangan Asia Pasifik (APEC), pasar bersama Amerika Tengah (CACN), kawasan perdagangan ini disebut dengan

integrasi ekonomi. Hegemoni Pasar Lokal dan Regional Produk UMKM Kota Bekasi sebagian besar dipasarkan ke pasar lokal, misalnya boneka, furnitur, konveksi, peternakan, sepatu dan sandal serta tanaman hias, yang didominasi untuk mengisi pasar lokal. Begitu juga komoditas Kota Bekasi dapat mengakses pasar nasional yang sebagian melalui Jakarta. Sedangkan pasar internasional hanya dapat diakses oleh sebagian kecil produk UMKM. Sedangkan industri besar sudah mengakses sesuai dengan induk perusahaan baik pasar nasional dan internasional. Otonomi Daerah (Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004) Pasal 10 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, ayat 1 menjelaskan bahwa pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undangini ditentukan menjadi urusan peme-rintah, kemudian pasal 2 menjelaskan bahwa dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana pada ayat 1, pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Undang-undang tersebut me-rupakan landasan hukum sekaligus kesempatan untuk melakukan kreati-vitas dan inovasi dalam manajemen pembangunan daerah untuk melaku-kan daya ungkit (akselerasi) pembangunan wilayah Kota Bekasi. Kebijakan PerekonomianNasional Kebijakan moneter dan fiskal sangat berpengaruh terhadap per-ekonomian nasional dan wilayah. Kebijakan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya suku bunga, nilai tukar, ekspor, tarif, pajak, subsidi dsb, berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi juga pada faktor inflasi. Ancaman a. Daya Dukung Lingkungan

Beberapa penyebab banjir di Kota Bekasi yang teridentifikasi adalah: Hambatan saluran air dari arah selatan ke utara oleh jalan tol, kalimalang, jalan kereta api, selokan/gorong-gorong yang ada saat ini kapasitasnya sudah tidak mencukupi lagi. Faktor alamiah, karena terjadinya penggerusan dan terbawanya material saluran oleh aliran air, sehingga terjadi pendangkalan dan sedimentasi yang mengakibatkan daya tampung saluran menjadi berkurang. Pola perilaku masyarakat yang membuang sampah ke dalam saluran drainase dan pembangunan fisik yang tidak memperhatikan garis sempadan saluran menyebabkan penyumbatan dan kerusakan saluran drainase. Pengembangan wilayah kota yang tidak disertai dengan perencanaan ulang saluran drainase eksisting. Pemeliharaan prasarana drainase belum optimal. b. Kualitas Lingkungan Perairan Sungai di Kota Bekasi Sungai-sungai di Kota Bekasi umumnya mengalir dari bagian selatan ke arah utara. Sungai yang cukup besar adalah Kali Cileungsi, Cikeas dan Kali Bekasi, yang merupakan pertemuan kali Cileungsi dan Cikeas. Kota Bekasi telah mengalami pencemaran berat. Kecuali Sungai Cikeas masih tergolong tercemar sedang. c. Kerjasama Regional Belum Berkembangsecara Optimal Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Cianjur disingkat Jabodetabekjur merupakan satu kesatuan wilayah fungsional, terutama kesatuan dalam aspek sebagai berikut: Interaksi ekonomi yang sangat intensif antar wilayah Jadebotabek, dengan pusat pertumbuhan yang berada di Propinsi DKI Jakarta Wilayah tata ekologis, wilayah Jadebotabek sebagai satu wilayah ekosistem, dimana komponen antar wilayah memiliki ketergantungan dan saling mempengaruhi Pada saat ini Kebijakan Publik belum menjawab permasalahan di

wilayah ini. Permasalahan yang sering muncul, terutama disebabkan tidak adanya sinergi kebijakan dan teknis di lapangan, antara lain untuk Wilayah Botabekjur yang terkait dengan wilayah DKI Jakarta adalah masalah banjir, migrasi, pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur wilayah, wilayah kumuh, dan transportasi. d. Angka Migrasi Penduduk yang tidak terampil Pertumbuhan penduduk di wilayah Kota Bekasi ini tergolong pesat, ratarata laju pertumbuhan dalam kurun waktu 2003-2007 adalah sebesar 3,45 persen. Apabila laju pertumbuhan ini tidak dapat dikendalikan dengan baik, maka penduduk Kota Bekasi dalam kurun waktu 18 tahun yang akan datang menjadi dua kali lipat atau menjadi sekitar 4,2 juta jiwa. Berdasarkan hasil Survei Indikator Pembangunan Manusia (SIPM), tahun 2007 jumlah penduduk di Kota Bekasi 2.143.804 jiwa (dengan tingkat kepadatan sebesar 10.185 jiwa per km2), sedangkan pada tahun tahun 2006, berjumlah 2.071.444 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 9.841 jiwa/km, dan pada tahun 2005 tercatat 2.001.899 jiwa. e. Wilayah Tetangga Lebih Kompetitif Posisi Kota Bekasi memiliki karakteristik bahwa dari aspek struktur ekonomi hampir sama dengan Jakarta Utara, Tangerang, dan dari aspek keunggulan sector basis memiliki kemiripan dengan Tangerang, Depok, Bogor. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka Kota Bekasi cenderung memiliki hubungan horisontal dengan Kota Depok, Tangerang dan Bogor serta Jakarta Utara. Hubungan tersebut jika tiada inovasi dan diversifikasi maka akan terjadi hubungan kompetisi bukn komplemen. Strategi Pembangunan Kota Bekasi Berdasarkan uraian lingkungan strategis baik eksternal dan internal Kota Bekasi maka dapat diuraikan ke dalam komponen Kekuatan (Strength), Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunity), Ancaman (Threat). Hasil analisis

TOWS dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut:

Berdasarkan hasil analisis TOWS, maka dapat dihasilkan Strategi Utama Pembangunan Kota Bekasi sebagai berikut: Yakni strategi Conservative, yaitu strategi untuk memaksimalkan peluang dengan meminimkan kelemahankelemahan. Strategi Utama dapat dilihat dalam Gambar 2.

Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa arah perubahan pembangunan dalam 5

tahun ke depan bergerak ke arah kanan, sehingga semula unsur kelemahan, maka kelak harus menjadi unsur kekuatan, sehingga strategi pembangunan nanti harus menjadi agresive. Begitu juga pembangunan jangan memutar ke arah kiri, dimana akibat kelalaian maka peluang akan didominasi oleh ancaman. Strategi utama Conservative menuntut adanya inovasi dalam manajemen pembangunan Kota Bekasi, dan sinergi berbagai potensi sumberdaya dan unit organisasi pemerintah serta partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kota Bekasi. Inovasi tersebut akan dihasilkan melalui matriks strategi melalui iterasi antara komponen Peluang dan Kelemahan. Berdasarkan matriks iterasi ini maka dihasilkan strategi utama dalam manajemen pembangunan Kota Bekasi dalam 5 tahun.

BAB III ANALISIS Analisis Teoritis Analisi yang digunakan dalam perkembangan wilayah Kota Bekasi adalah paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable urban development). Uraian masing-masing karakter keberlanjutan kota adalah sebagai berikut: Empowering. Pengembangan kota harus memberikan kesempatan pada pemberdayaan, yakni tumbuhnya kemampuan lapisan masyarakat bawah terutama kelompok masyarakat miskin perkotaan. Penumbuhan kemampuan

meliputi kemampuan untuk mengakses pada layanan dasar, terutama pendidikan,kesehatan, permodalan, informasi, teknologi dan pengetahuan sehingga dapat tumbuh secara mandiri. Dengan adanya kemampuan dasar ini, maka diharapkan tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan kota Bekasi. Pertumbuhan (growth). Perkembangan kota diindikasikan oleh salah satu parameternya yakni pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ini harus di atas angka pertumbuhan penduduk, termasuk pertumbuhan yang disebabkan oleh migrasi. Pemerataan (equity). Pengembangan kota harus dapat memberikan peluang untuk tumbuhnya pemerataan pembangunan, baik pemerataan antar kelompok masyarakat, pemerataan antar wilayah, sehingga kesenjangan dapat dihindari. Equality. Pembangunan kota juga harus memberikan rasa keadilan bagi seluruh komponen masyarakat, terutama dalam pelayanan publik, termasuk di dalamnya pelayanan sarana dan prasarana perkotaan dan saranautilitas. Efisisiensi. Pengembangan kota harus memberikan efisiensi total bagi masyarakat, terutama dalam pemanfaatan energi. Kota yangefisien dicerminkan oleh biaya hidup yang relatif murah, termasuk biaya transpor yang murah, serta rendahnya pencemaran udara, air dan tanah. Ciri efisien juga tergambarkan adanya manajemen wilayah yang terintegrasi sehingga risiko lingkungan dapat ditekan, misalnya rendahnya ancaman banjir bagi masyarakat Kota Bekasi. Kompetitif. Kota Bekasi adalah bagian dari Jadebotabek, oleh karena itu perkembangan Kota ini diharapkan tidak saling melemahkan perkembangannya akibat hubungan horisontal yang terlalu kuat, namun diharapkan tumbuh dalam hubungan komplemen dan saling menguatkan. Untuk itu pengembangan ekonomi perkotaan harus memiliki jati diri dan diversifikasi sehingga akan tumbuh perkembangan yang kompetitif. Untuk menuju arah keberlanjutan disesuaikan dengan potensi sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Disamping itu perlu difahami kondisi eksternal. Untuk itu diperlukan analisis lingkungan strategis, baik internal dan eksternal dalam lingkup regional.

Pembangunan berkelanjutan lahir sebagai babak baru dari teori pembangunan dan sekaligus mengakhiri perdebatan antara pertumbuhan ekonomi dan penyelamatan lingkungan. Konsep yang cukup luas pertama kali dipublikasikan oleh World Conservation Strategy (IUCN, 1980) dan menjadi pusat pemikiran untuk pembangunan dan lingkungan. Laporan yang utama telah disampaikan oleh World Comission on Environment and Development (WCED 1987, The Brundtland Report) dan The Landmark World Paper Environment, Growth and Development (World Bank, 1987 dalam Pezzey, 1992). Menurut Munasinghe (1993) pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar, yaitu pilar ekonomi, ekologi dan sosial yang membentuk sebuah bangunan segi tiga. Pilar ekonomi menekankan pada perolehan pendapatan yang berbasiskan penggunaan sumberdaya yang efisien. Pendekatan ekologi menekankan pada pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati yang akan memberikan kontribusi pada keseimbangan ekosistem dunia. Sedangkan pendekatan sosial menekankan pada pemeliharaan kestabilan sistem sosial budaya, meliputi penghindaran konflik, keadilan (equity), baik antar generasi maupun dalam suatu generasi. Menurut Serageldin (1993) keberlanjutan aspek ekonomi, meliputi pertumbuhan ekonomi, pemeliharan modal (capital maintenance), dan efisiensi penggunaan sumberdaya dan modal. Keberlanjutan ekologi meliputi kesatuan (integrity) ekosistem, daya dukung, perlindungan keanekaragaman jenis dan sumberdaya alam. Sedangkan keberlanjutan aspek sosial adalah adanya keadilan (equity), pemberdayaan (empowerment), partisipasi dan kelembagaan. Esensi dari Mazhab Pembangunan Berkelanjutan adalah merupakan arah dari proses perubahan yang terencana yang senantiasa memperhatikan dan mengintegrasikan aspek-aspek sebagai berikut: 1) Kelestarian sistem penunjang kehidupan, 2) Aspek keadilan dan pemerataan antar waktu dan antar wilayah, 3) Pemberdayaan kelembagaan dan sumberdaya manusia (empowering), terutama, kelompok masyarakat marjinal dan kelompok paling miskin (poorest ofthe poor), dan di antara kelompok tersebut peranan wanita adalah yang sangat esensial, 4)

Pertumbuhan ekonomi, 5) Efisiensi dan keadilan alokasi sumberdaya alam (Winoto,1997 dalam Najmulmunir, 2001).

Analisis Praktis Dalam uraian karakter keberlanjutan kota, terdapat enam aspek yang penting untuk diperhatikan, seperti yang pertama adalah mengenai pemberdayaan. Hal ini diperlukan agar kelak adanya suatu partisipasi yang besar dalam pengembangan suatu kota termasuk Kota Bekasi. Lalu karakter yang kedua adalah harus adanya suatu pertumbuhan dalam aspek ekonomi tentunya, dan suatu kota dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi adalah ketika pertumbuhan ekonomi tersebut lebih besat kuantitas nya dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk termasuk migrasi yang terjadi. Selain kedua hal diatas juga perlu adanya pemerataan pembangunan. Dalam pengembangan sarana-sarana atau prasaran publik harus terdapat suatu keadilan yang nyata agar pembangunan yang terjadi tersebut tidak akan menimbulkan dampak konflik dalam masyarakat. Efisiensi juga merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam suatu pembangunan, gunanya

antara lain adalah untuk mencegah berbagai bencana yang akan terjadi, misalnya hemat energi, hemat air, yang antara lain dalam upaya pencegahan Global Warming. Lalu yang terakhir adalah menyangkut karakter kompetitif yang dibutuhakan agar pembangunan yang terjadi tumbuh dalam hubungan komplemen dan saling menguatkan. Dalam pembangunan yang berkelanjutan terdapat tiga pilar yang diperlukan yaitu pilar ekonomi, ekologi dan sosial. Pilar yang pertama yaitu ekonomi menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi hendaklah berbasis efisiensi terhadap sumberdaya yang ada agar tidak menimbulkan atau mencegah terjadinya suatu efek negatif terhadap aspek lainnya. Lalu pilar yang kedua adalah pilar ekologi. Hal ini maksudnya bahwa pembangunan yang berlangsung hendaknya tidak menganggu ekosistem yang ada atau lebih tepatnya tidak menimbulkan efek kerusakan terhadap ekosistem. Dan yang terakhir yang tidak kalah penting adalah pilar sosial, yang mempunyai makna bahwa pembangunan yang berlangsung harus memikirkan dampak yang terjadi pada sisi sosialnya, jangan sampai dibalik pembangunan tersebut ada rasa tidak suka atau tidak setuju dari beberapa pihak yang akhirnya bisa menimbulkan suatu konflik. BAB IV PENUTUP Simpulan Pertumbuhan dan perkembangan kota pada prisipnya menggambarkan proses berkembangnya suatu kota. Pertumbuhan kota mengacu pada pengertian secara kuantitas, yang dalam hal ini diindikasikan oleh besaran faktor produksi yang dipergunakan oleh sistem ekonomi kota tersebut. Semakin besar produksi berarti ada peningkatan permintaan yang meningkat. Sedangkan perkembangan kota mengacu pada kualitas, yaitu proses menuju suatu keadaan yang bersifat pematangan. Indikasi ini dapat dilihat pada struktur kegiatan perekonomian dari primer kesekunder atau tersier. Kota Bekasi merupakan bagian dari wilayah Jabodetabek, sebagai wilayah yang mengalami perkembangan sangat pesat. Namun dibalik semua

perkembangan itu ada hal hal yang masih perlu diperbaiki lagi, karna terdapat beberapa masalah yang bisa menghambat pembangunan suatu kota. Oleh karna itu diperlukan suatu analisis strategi pembangunan wilayah Kota Bekasi, namun tentu harus memerhatikan juga 3 pilar penting, yaitu pilar ekonomi, ekologi dan sosial agar terjadi pembangunan yang berkesinambungan.

Saran Berdasarkan uraian diatas penulis menyarankan agar ketika suatu kota akan merencanakan pembangunan yang mencakup pertumbuhan dan perkembangan, perlu memerhatikan beberapa aspek yaitu aspek ekonomi, sosial dan ekologi, agar pembangunan yang terjadi tidak akan menimbulkan berbagai masalah baru.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2011). Pengembangan Perkotaan. [Online]. Tersedia : http://pengembanganperkotaan.wordpress.com/2011/11/09/teori-teoriperkembangan-kota/ Anonim. (2011). Definisi dan Konsep Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : http://perencanaankota.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-konsepperkembangan-kota.html Anonim. (2011). Pola Perkembangan Kota secara umum. [Online]. Tersedia : http://perencanaankota.blogspot.com/2013/02/pola-perkembangan-kotasecara-umum.html Dony, Purnomo. (2012). Sejarah Pertumbuhan Kota di Indonesia. [Online]. Tersedia :

http://pinterdw.blogspot.com/2012/03/tahap-perkembangan-kota.html Elan. (2011). Enam Jenis Kota berdasarkan Tahap Perkembangannya. [Online]. Tersedia : http://dhigdha.blogspot.com/2011/05/enam-jenis-kota-berdasarkantahap_22.html Eni, A. (2012). Sejarah Pertumbuhan Kota di Indonesia. [Online]. Tersedia : http://ssbelajar.blogspot.com/2012/12/sejarah-pertumbuhan-kota-diindonesia.html Indah, Purnama. (2009). Tahap Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : http://indahpurnamawati.blogdetik.com/category/tahap-perkembangankota/ Masrukan. (2013). Definisi Dan Konsep Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : Http://Masrukan.Staf.Narotama.Ac.Id/2013/02/18/Definisi-Dan-KonsepPerkembangan-Kota/ Pemuda Kecil. (2012). Pertumbuhan Dan Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : Http://Pemudakecil.Blogspot.Com/2012/10/Pertumbuhan-DanPerkembangan-Kota.Html Rudi, Hartono. (2012). Pertumbuhan dan Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : http://gurugeobandung.blogspot.com/2012/11/tahap-perkembangankota.html Wordpress. (2011). Pengembangan Perkotaan. [Online]. Tersedia : Http://Pengembanganperkotaan.Wordpress.Com/2011/11/09/Teori-TeoriPerkembangan-Kota/ Wikipedia. (2010). Kota Bekasi. [Online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bekasi

Wordpress. (2011). Teori-teori Perkembangan Kota. [Online]. Tersedia : http://pengembanganperkotaan.wordpress.com/2011/11/09/teori-teoriperkembangan-kota/