Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI KLINIK

WAWANCARA RIWAYAT PENGOBATAN

KELOMPOK 2A
1. NISSA SUSANTI 2. NITA WAHYU 3. NOFI TRI 4. NOVA KARLINA 5. NOVERIMA 6. NUGRAENI BUDI 7. OKSA SETYA 8. PRAKHAS 9. PUTRI K 10. QURROTUL AYUN (M3510054) (M3510055) (M3510056) (M3510057) (M3510058) (M3510059) (M3510060) (M3510061) (M3510062) (M3510063)

TANGGAL PRAKTIKUM : 16 April 2012

PROGRAM STUDI D3 FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

ACARA IV WAWANCARA RIWAYAT PENGOBATAN

I. TUJUAN PRAKTIKUM Mahasiswa dapat melakukan wawancara riwayat pengobatan dan mendokumentasinya. II. DASAR TEORI Wawancara riwayat pengobatan merupakan langkah atau tahap dalam mengenal pasien dan bertujuan mendapatkan informasi mengenai berbagai aspek penggunaan obat pasien sehingga dapat membantu pengobatan secara keseluruhan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk : Membandingkan profil pengobatan sekarang dan sebelumnya Memverifikasi riwayat pengobatan yang diperoleh dan memberikan informasi tambahan jika perlu Mendokumentasikan adanya alergi dan Adverse Drugs Reaction Skrining interaksi obat Menilai kepatuhan pasien Menilai rasionalitas obat yang diresepkan Menilai kejadian penyalahgunaan obat Data-data yang perlu diperoleh adalah : Informasi demografi pasien : umur, berat badan, tinggi badan, alamat, pendidikan, pekerjaan. Informasi diet pasien Kebiasaan sosial ; merokok, alkohol Pengobatan yang sedang diperoleh. Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya. Pengobatan tanpa resep yang pernah diperoleh sebelumnya. Pengobatan alternatif sekarang ataupun pernah diterima.

Alergi Adverse drugs Reaction Kepatuhan pasien (Kundarto, 2011). Keterampilan Dasar dalam Mewawancarai Pasien Salah satu saat kritis pada pengkajian pasien oleh farmasis adalah ketika mengajukan pertanyaan kepada pasien. Untuk memperoleh informasi yang berguna, farmasis harus menggunakan keterampilan yang tepat dalam mewawancarai pasien. a. Lingkungan Sebelum farmasis berbicara kepada pasien atau mendapatkan data pengkajian pasien (misalnya: tekanan darah), lingkungan di mana interaksi berlangsung harus dipersiapkan. Interaksi dapat terjadi pada berbagai situasi dan kondisi (setting) yang bervariasi, misalnya farmasi komunitas, ruang periksa di rumah sakit, atau kamar pemeriksaan di klinik. Namun, karakteristik lingkungan dasar haruslah konsisten dari satu situasi ke situasi yang lain untuk membantu menjamin interaksi farmasis dan pasien yang lancar dan produktif. Karakteristik lingkungan yang sesuai meliputi: Suhu ruangan yang nyaman. Pencahayaan ruang yang memadai bagi farmasis dan pasien untuk dapat melihat satu sama lain dengan jelas dan semua materi tertulis yang mungkin digunakan. Lingkungan yang tenang, karena suara bising dari satu atau beberapa sumber akan mengalihkan perhatian pasien maupun farmasis dan dapat menyebabkan kesalahan menafsirkan informasi pasien yang penting. Tempat yang bersih dan terorganisir, karena benda-benda yang mengalihkan perhatian dan barang lain yang berantakan tidak menciptakan atmosfer profesional. Jarak empat sampai lima kaki antara farmasis dan pasien; secara umum jarak yang lebih dekat dapat menimbulkan kegelisahan dan jarak yang lebih jauh menyiratkan ketidaktertarikan terhadap pasien.

Privasi: pasien perlu untuk merasa nyaman berbicara tentang masalahmasalah kesehatan pribadi dan farmasis perlu untuk dapat memperoleh data pengkajian pasien secara berhati-hati. Posisi duduk yang sama rata atau berdiri pada posisi sejajar mata dan berhadapan atau membentuk sudut 90 derajat. Semua penghalang harus dipindahkan antara farmasis dan pasien (misalnya: meja peresepan, pemisah keamanan dari kaca atau plastik, lemari). Dalam pengaturan di rumah sakit, farmasis harus duduk sejajar mata dengan pasien untuk interaksi tatap muka. Berdiri di hadapan pasien yang terbaring di tempat tidur dapat menyiratkan superioritas, mungkin menyebabkan pasien merasa lebih rendah maupun tidak nyaman. b. Kalimat Pembuka Kalimat-kalimat pembuka antara farmasis dan pasien menentukan tahap interaksi. Pasien sebaiknya dipanggil dengan nama keluarganya (apabila diketahui). Farmasis harus memperkenalkan dirinya dan menjelaskan alasan perlunya interaksi apabila pasien belum mengenalnya. Sebagai tambahan, pasien perlu diberi tahu perkiraan jumlah waktu yang diperlukan untuk interaksi. Sebagai contoh, Nyonya Smith, Saya Dr. Mark Davis, Farmasis. Saya ingin berbicara dengan anda untuk melihat bagaimana keadaan anda selama terapi. Ini hanya perlu beberapa menit saja. Karena jenis interaksi ini mungkin merupakan hal baru bagi beberapa pasien, farmasis harus siap untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang berkaitan (misalnya:Mengapa anda perlu berbicara kepada saya? Farmasis lain tidak melakukan ini.). Penjelasan singkat tambahan dalam interaksi biasanya dapat mengatasi setiap kebingungan. c. Jenis-jenis Pertanyaan Melanjutkan perkenalan singkat, farmasis harus menanyakan kepada pasien beragam pertanyaan. Agar dialog antara pasien dan farmasis dapat efektif dan produktif, perlu digunakan kombinasi pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Secara umum, pertanyaan-pertanyaan terbuka digunakan pada saat awal, untuk mengumpulkan informasi umum, dan

selanjutnya diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup, apabila sesuai, untuk mengumpulkan data pasien yang lebih spesifik. d. Verifikasi Informasi Pasien Sementara pasien menjawab pertanyaan-pertanyaan farmasis, farmasis harus menanggapi secara tepat untuk melanjutkan dialog. Seringkali, farmasis juga perlu untuk memverifikasi detil tertentu mengenai pasien untuk memastikan bahwa dia mengerti benar apa yang pasien katakan. Beberapa teknik umpan balik dapat berguna dalam membimbing farmasis dengan kedua proses ini. Teknik-teknik tersebut meliputi: (i) klarifikasi, (ii) refleksi, (iii) empati, (iv) fasilitasi, (v) keheningan, dan (vi) ringkasan. e. Ringkasan Ringkasan komunikasikan. adalah Pernyataan ulasan dari apa yang pasien verbalisasi telah dari ringkasan merupakan

pemahaman farmasis terhadap informasi pasien, dan ini dapat digunakan pada setiap waktu selama atau pada akhir wawancara. Hal ini juga memungkinkan pasien untuk setuju atau tidak setuju dan apabila diperlukan, untuk memperbaiki interpretasi farmasis. Sebagai contoh, pada bagian akhir ketika pasien menjelaskan permasalahan pengobatannya, farmasis menanggapi Baik Harry, yang anda katakan kepada saya adalah bahwa anda berpikir obat diabetes anda, metformin, mengakibatkan anda sakit perut dan diare. Anda juga meminum obat tekanan darah, lisinopril, tetapi tidak meminum obat bebas rutin apapun dan belum mencoba apapun untuk gejala-gejala saluran cerna anda. Apakah ini benar?. f. Komunikasi Nonverbal Komunikasi yang tepat melibatkan tidak hanya keahlian-keahlian verbal tetapi juga nonverbal, di mana media pertukaran merupakan sesuatu selain kata-kata yang diucapkan. Komunikasi nonverbal mencerminkan pemikiran dan perasaan mendalam seseorang dan secara konstan bekerja, bahkan bila orang itu tidak menyadarinya. Elemen-elemen komunikasi nonverbal meliputi: (i) jarak, (ii) postur tubuh, (iii) kontak mata, (iv) ekspresi wajah, dan (v) gerak isyarat. Untuk pertemuan farmasis-pasien

yang berhasil, komunikasi verbal dan nonverbal harus seiring. Hal ini sangat penting dalam menciptakan relasi dengan pasien. g. Pernyataan Penutup Membawa wawancara kepada penutupan yang tepat merupakan bagian penting dari proses komunikasi. Banyak kali, pasien akan mengevaluasi keseluruhan interaksi berdasarkan pada pernyataanpernyataan terakhir; oleh karena itu, farmasis tidak seharusnya mengakhiri wawancara secara mendadak. Cara efektif untuk menutup interaksi adalah memberikan ringkasan singkat. Hal ini memungkinkan untuk farmasis dan pasien mengulas apa yang telah didiskusikan dan menjernihkan setiap informasi yang salah. Ketika kedua belah pihak telah menentukan bahwa informasi sudah benar, farmasis dapat menyimpulkan dengan sebuah pertanyaan tertutup sederhana (misalnya: Apakah anda memiliki pertanyaan?) atau pernyataan tulus (misalnya: Terima kasih untuk waktu anda. Jika anda memiliki pertanyaan ketika anda sampai di rumah, silakan hubungi saya.). Petunjuk-petunjuk nonverbal (misalnya: mengatur pekerjaan tulis menulis untuk rekam medis pasien atau berdiri dari kursi) juga dapat berguna ketika digabungkan dengan ringkasan atau sebuah pertanyaan atau pernyataan penutup (Tindall dkk, 2003). h. Kesalahan-Kesalahan Umum dalam Mewawancarai Pasien Ketika berbicara kepada pasien, mudah sekali untuk jatuh ke dalam teknik-teknik komunikasi nonproduktif, yang dapat membatasi komunikasi pasien dengan farmasis. Kesalahan komunikasi ini dapat menurunkan jumlah data yang diperoleh dari pasien dan menghalangi perkembangan hubungan. Oleh karena sifat alaminya yang melemahkan, tanggapantanggapan berikut harus senantiasa dihindari ketika mengumpulkan informasi dari pasien: (i) mengganti subyek, (ii) memberi nasihat, (iii) memberikan penghiburan yang tidak tepat, (iv) menanyakan pertanyaan yang mengarahkan atau bias, dan (v) menggunakan terminologi profesional (Tietze, 2004).

Riwayat Kesehatan Riwayat kesehatan adalah ringkasan singkat dari permasalahanpermasalahan medis saat ini dan lampau, riwayat pengobatan, riwayat keluarga, riwayat sosial, dan ulasan sistem dari pasien. Tujuan dari riwayat kesehatan adalah untuk memperoleh informasi subyektif pasien atau dengan kata lain, apa yang pasien sampaikan mengenai kesehatannya, pengobatan, dan seterusnya. Biasanya, data subyektif ini kemudian digabungkan dengan pemeriksaan fisik obyektif dan data laboratorium untuk mengevaluasi status kesehatan pasien saat ini. Dalam lingkungan institusi (misalnya rumah sakit atau asuhan jangka panjang), riwayat kesehatan biasanya diambil oleh dokter atau perawat dan didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Dalam lingkungan ambulatori atau komunitas, farmasis dapat mengambil riwayat kesehatan. Bagi farmasis, tujuan utama dari riwayat kesehatan adalah untuk mengevaluasi terapi obat pasien (misalnya penapisan gejala-gejala abnormal yang mungkin disebabkan pengobatan) atau untuk mengevaluasi keluhankeluhan dan atau gejala-gejala pasien. Pasien biasanya memberikan riwayat kesehatannya masing-masing. Akan tetapi jika pasien tidak dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya, maka anggota keluarga, teman, pemberi asuhan, atau penterjemah dapat digunakan sebagai sumber (Coulehan dan Block, 2006). Tanggungjawab apoteker dalam pelayanan farmasi nonklinik berupa pelayanan produk, yaitu berupa perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, dan distribusi obat-obatan yang dibutuhkan di rumah sakit, sedangkan pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan yang dilakukan secara langsung dan memerlukan interaksi dalam pelaksanannya baik dengan pasien maupun dokter dan perawat, antara lain pelayanan obat atas order dokter, pendistribusian obat dan produk farmasi pada pasien dan perawat, serta pelayanan konseling dan informasi obat (Ikawati, Zullies. 2010). Tanggungjawab dan wewenang apoteker selanjutnya diatur dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Kesehatan. Seiring dengan perkembangan kesehatan, orientasi pelayanan kefarmasian saat ini telah bergeser lebih ke arah pelayanan kefarmasian klinik

(Pharmaceutical Care), yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal inilah yang menjadi poin penting peran apoteker di rumah sakit. Peran farmasi klinik sendiri memberikan dampak yang baik terhadap berbagai outcome terapi pada pasien, baik dari sisi humanistik (kualitas hidup, kepuasan), sisi klinik (kontrol yang lebih baik pada penyakit kronis), dan sisi ekonomis (pengurangan biaya kesehatan). Pelayanan farmasi klinik efektif untuk mengurangi biaya pelayanan kesehatan dan juga efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Hal ini diperoleh terutama dengan melakukan pemantauan resep dan pelaporan efek samping obat (Inditz et al, 1999). Namun seperti yang telah disinggung di atas, peran apoteker tersebut tampaknya memang tidak banyak disadari dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Berbeda dengan apa yang terjadi di dunia internasional, di Amerika apoteker klinik termasuk profesi papan atas, baik dalam hal popularitas, tanggungjawab, bahkan salary. Inggris merupakan negara di Eropa yang paling lama menerapkan farmasi klinik. Sebagian besar penelitian tentang peran penting farmasi klinik dalam pelayanan kesehatan sebagian besar diperoleh dari pengalaman di Amerika dan Inggris. Di Australia, 90% rumah sakit swasta dan 100% rumah sakit pemerintah memberikan pelayanan farmasi klinik. Memang banyak faktor yang menyebabkan pelayanan farmasi klinik dan peran profesi apoteker di Indonesia tidak sepesat negara lain. Praktek pelayanan farmasi klinik di Indonesia sendiri relatif baru berkembang pada sekitar tahun 2000-an. Konsep farmasi klinik sendiri belum seutuhnya diterima oleh tenaga kesehatan di rumah sakit, sehingga pelayanan farmasi klinik di Indonesia berkembang cukup lambat. Paradigma apoteker terjun ke bangsal pasien, memantau pengobatan pasien, memberikan informasi dan konseling secara rutin, serta memberikan rekomendasi pengobatan masih belum lazim, karena fungsi apoteker di IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit) dianggap hanya berfungsi dalam menyiapkan obat. Farmasis sendiri selama

ini terkesan kurang menyakinkan untuk bisa memainkan peran dalam pengobatan. Selain itu, faktor apoteker sendiri yang belum secara utuh menjalankan fungsinya sehingga mengakibatkan masyarakat awam dan pasien kurang mengenal profesi apoteker, khususnya di rumah sakit. Kebanyakan rumah sakit pun hanya memiliki tenaga apoteker yang minim, hanya sekitar satu atau beberapa saja. Tentunya akibat sedikitnya tenaga apoteker yang ada, maka apoteker tidak bisa mendampingi pasien secara utuh dalam penggunaan obat dan terapinya (Siregar, dkk, 2003). Standar pelayanan farmasi di apotek disusun atas kerjasama ISFI dengan Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Pelayanan Farmasi Departemen Kesehatan pada tahun 2003. Standar kompetensi apoteker di apotek ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional, melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar, sebagai pedoman dalam pengawasan praktek apoteker dan untuk pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek. Didalam standar tersebut pelaksanaan farmasi di apotek terdiri dari pelayanan obat non resep (bidang I), pelayanan komunikasi informasi edukasi (bidang II), pelayanan obat resep (bidang III) dan pengelolaan obat (bidang IV) (Angki P, 2004). Pelayanan Obat Non Resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Obat wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topikal (Angki P, dkk. 2004) III. DESKRIPSI KASUS Anda sebagai lulusan UNS dituntut dapat mengembangkan apotek. Anda menerapkan perlunya membuat lembar riwayat pengobatan pasien.

X seorang mahasiswi semester IV sebuah PTN, umur 20 tahun, tinggi 160 cm dan BB 45 kg datng ke apotek Anda pagi ini. X ingin membeli obat untuk perut kembung, terasa banyak gas, dan obat flu yang tidah menyebabkan kantuk. X mengeluhkan minggu ini sering begadang untuk membuat laporan dan belajar ujian. X memang sering belajar di malam hari karena suasana kos mendukung walaupun menjadi kurang istirahat. X kurang akrab dengan teman-teman di lingkungan kosnya. X juga sedang banyak pikiran dan galau, baru saja putus dengan pacarnya sehingga tadi malam melampiaskan dengan makan tongseng kambing dan kubis di warung dekat kosnya. X biasa minum jus jeruk untuk menjaga kesehatannya, serta minum jamu beras kencur di pagi hari dan susu di malam hari. Saat ini X juga sedang mendapatkan obat dari dokter yaitu : R/ Amoksisilin 500 X S3dd1 tab R/ Alpara X S3dd1 R/ Deksametason 0,5 X S3dd 1 tab Oleh X karena ada obat yang membuat mengantuk menjadikannya sedikit malas minum obat mengingat perlu bergadang. X tidak mempunyai riwayat alergi antibiotik. Sebulan yang lalu X pernah mendapatkan terapi asam mefenamat 500mg 3sdd 1 tab untuk sakit giginya, dan merasakan tidak nyaman di lambung sehingga menjadi kurang patuh dalam minum obat. IV. ANALISA KASUS Subjective Umur pasien : 20 tahun perutnya terasa kembung dan terasa penuh gas Minum jamu beras kencur di pagi hari, jus jeruk dan susu di malam hari Banyak pikiran

Objective

Tidak memiliki riwayat alergi Suka makan ikan asin (4 x seminggu)

Tinggi 160 cm dan Berat badan 45 kg Mendapatkan Resep : R/ Amoksisilin 500 X S3dd 1 tab R/ Alpara X S3dd 1 tab R/ deksametason 0,5 X S3dd 1 tab Assessment Dari data subyektif dan obyektif yang diperoleh, pasien mengalami perut kembung dan tersa banyak gas serta flu. Sebelumnya pasien pernah mendapatkan obat dari dokter yaitu a. Amoksisilin 500x Indikasi : Infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positif dan gram negatif yang peka terhadap Amoxicillin, seperti infeksi pada saluran pernapasan bagian atas, otitis media, bronchitis akut dan kronik, pneumonia cystitis, urethris, pyelonephritis, gonorhea yang tidak terkomplikasi, infeksi kulit dan jaringan lunak. KI : Penderita yang hipersensitif terhadap Penicillin dan turunannya ES : Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urticaria, ruam kulit, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis. Kemungkinan reaksi anafilaksi (Anonim, 2011). b. Alpara X Berisi paracetamol 125 mg, dekstrometorfan HBr 3,75 mg, CTM 0,5 mg, Phenylpropanolamine HCl 12,5 mg Indikasi : Untuk meredakan flu, seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-bersin yang disertai batuk.

KI : peka terhadap obat simtomatik lain misalnya efedrin, pseudoefedrin, fenilefrin, hipertensi berat. ES : mengantuk, gangguan GI, gangguan psikomotorik, takikardi, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi urin (Anonim, 2011), c. Deksametason 0,5 X Indikasi : Imunosupresan/antialergi, gangguan kolagen, reumatik, gangguan dermatologik dan pernapasan ,anti inflamasi KI : tukak lambung dan duodenum, ES : Tukak lambung, hipoglikemia, atropi kulit, lemah otot, menstruasi tidak teratur, sakit kepala (Anonim, 2011). Pasien tidak patuh minum obat karena obat tersebut menyebabkan kantuk sedangkan pasien perlu begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kantuk yang dialami pasien adalah efek samping dari Alpara yang mengandung CTM yang dapat menyebabkan kantuk. Dari data subyektif yang diperoleh saat melakukan wawancara riwayat pengobatan, dapat diketahui pasien juga mengalami perut kambung dan terasa banyak gas . Perut kembung dan terasa banyak gas yang menyebabkan kondisi tidak nyaman bukan merupakan suatu penyakit. Udara bukan satu-satunya penyebab gejala ini tetapi makanan dan minuman tertentu juga dapat menyebabkan timbulnya gas berlebihan sehingga berakibat perut menjadi kembung, misalnya saja kol, sawi, atau minuman bersoda. Makanan berlemak lainnya ikut serta dalam gejala ini, karena lemak menghambat percernaan dalam perut dan membuat perut terasa kenyang (Anonim, 2012) Dari wawancara yang dilakukan perut kembung yang dialami pasien disebabkan karena pasien terlalu banyak mengkonsumsi tongseng kambing dan kubis malam hari sebelumnya. Dari hasil wawancara pula, dketahui bahwa pasien rutin minum jamu beras kencur, jus jeruk dan susu dimalam harinya untuk menjaga kesehatannya. Diare yang dialami disebabkan karena makan makanan

pedas (sambal ikan teri) dalam jumlah banyak, akibatnya perut tidak kuat sehingga mengalami diare. Plan Dalam kasus ini Asisten Apoteker memberikan pilihan dalam pengobatan pasien X dimana pasien X yang mengeluhkan sakit flu dan sudah mendapatkan obat dari dokter, namun pasien tidak minum obat dari dokter karena obat tersebut menyebabkan ngantuk, maka AA memberikan pilihan agar pasien mengkonfirmasi untuk mengganti obat tersebut kepada dokter atau pasien tetap ingin membeli obat bebas terbatas atas informasi yang nanti akan diberikan asisten apoteker. Obat yang diberikan dokter yang mempunyai efek mengantuk adalah alpara, dimana alpara mempunyai kandungan parasetamol, phenylpropanolamine HCl, chlorpheniramine maleat dan dextromethorphan HBr. Chlorpheniramine maleat merupakan obat untuk alergi yang mempunyai efek samping mengantuk, mungkin dokter memberikan obat ini dengan maksud agar pasien dapat istirahat dalam proses pengobatannya, namun pasien mempunyai kebiasaan bergadang untuk membuat laporan dan belajar untuk ujian. Dalam hal ini asisten apoteker memberikan pilihan pasien untuk mengkonsumsi obat bebas terbatas sebagai pengganti alpara yakni sanaflu plus batuk. Pemilihan obat diberikan karena kandungan dari sanaflu plus batuk ini sama dengan alpara yakni parasetamol, phenylpropanolamine HCl dan dextromethorphan HBr, yang membedakan adalah tidak terdapat chlorpheniramine maleat, sehingga obat ini tidak menyebabkan ngantuk saat setelah dikonsumsi oleh pasien. Dosis untuk pemakaian adalah 3x sehari 1 kaplet dan diminum setelah makan. Obat lain yang diberikan dokter yakni amoksisilin dan deksametason tetap dikonsumsi sesuai dengan resep dokter yakni 3x sehari 1 tablet. Pemberian amoksisilin sebagai antibiotik mempunyai tujuan adalah untuk menghapuskan segala kuman meningokokus dari dalam tenggorokan agar tidak dapat mengakibatkan infeksi lebih lanjut. Kemudian pemberian deksametason untuk antiinflamasi yang diderita pasien.

Pasien juga mengeluhkan perut kembung dan banyak gas, pada kasus perut kembung yang dideritanya asisten apoteker tidak memberikan terapi farmakologi untuk pasien karena alasan pasien sebelumnya telah mengkonsumsi tongseng kambing dan kubis pada malam harinya. Mungkin pasien makan terlalu banyak dan sebelumnya jarang makan tongseng kambing dan kubis maka perutnya terasa kembung dan banyak gas. Konsumsi kobis terlalu banyak tidak baik karena kubis adalah sifatnya yang dapat menimbulkan gas pada perut, sehingga menyebabkan kembung. Asisten apoteker menyarankan kepada pasien agar perutnya diolesi minyak kayu putih untuk menghilangkan rasa kembung dan banyak gas di perutnya. Terapi nonfarmakologi lainnya adalah dapat melakukan hal hal sebagai berikut : 1. Minum air putih yang banyak 2. Olahraga secara teratur. 3. Mengatur pola makan, Lebih banyak mengkonsumsi buah serta sayuran serta mengurangi minum-minuman dingin 4. Menghindari stress agar cepat sembuh Melakukan monitoring pasien dengan tujuan pada terapi pengobatan ini tidak lain yaitu untuk memaksimalkan efek terapi serta meminimalkan efek samping obat. Terapi farmakologi dan non farmakologi ini akan memberi efek lebih optimal dengan adanya faktor kepatuhan dari pasien dalam menjalankan terapi. Oleh karenanya diharapkan pasien memiliki kesadaran dalam mengkonsumsi obat yang diberikan, hal ini tentu saja juga memerlukan perhatian dari keluarga pasien yang setiap saat dapat memantau perkembangan terapi pada pasien. Parameter pemantauan yang dapat dilakukan adalah berkurangnya sakit flu yang diderita pasien dan masih merasakan perut kembung dan terasa banyak gas atau tidak, serta efek samping obat yang sebelumnya telah yang diberikan yakni sanaflu plus batuk. Obat sanaflu plus batuk ini mempunyai efek samping gangguan pencernaan, gangguan psikomotor, takikardia, aritmia, palpitasi, retensi urin, pada penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati. Adapun interaksi obat yang dihindari adalah penggunaan sanaflu bersama

MAOI dapat menyebabkan krisis hipertensi. Kemudian untuk terapi non farmakologi yang di berikan yakni penggunaan minyak kayu putih ini biasanya tidak menimbulkan efek yang berbahaya, mungkin bisa mengalami iritasi bila kulit pasien sensitif terhadap penggunaan minyak kayu putih. Informasi yang dapat diberikan ke pasien secara farmakologi yakni untuk meminum obat yang telah diberikan yakni sanaflu plus batuk, amoksisilin dan deksametason masing-masing 3x sehari setelah makan. Pasien dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi air putih karena sangat baik untuk kesehatan, pasien juga dianjurkan untuk mengurangi minum-minuman yang dingin karena pada pengobatan orang sakit, hal yang utama adalah kelancaran sirkulasi darah, demikian juga dengan sakit flu, sedangkan suhu dingin saat meminum es mempengaruhi sirkulasi darah di seputar rongga mulut, hidung. dan organ lain yang terkait. Pasien juga disarankan untuk refreshing agar tidak terlalu banyak pikiran yang nantinya dapat menyebabkan stress, refreshing dapat dilakukan dengan melakukan olahraga secara teratur. V. EVALUASI OBAT TERPILIH 1. Amoksisilin Indikasi : Infeksi yang disebabkan oleh strain bakteri yang peka infeksi kulit dan jaringan lunak : Staphylococcus bukan penghasil penisilinase, Streptococcus,S. Pnemoniae. E. Coli, Infeksi saluran pernafasan : H. Influenza, Streptococcus, S. Pneumoniae, Staphylococcus bukan penghasil penisilinase, E. Coli, Infeksi saluran genitourinary : E. Coli, P. Mirabilis dan Streptococcus faecalis. Gonore : N. Gonorrhoe (bukan penghasil penisilinase). Kontra Indikasi : hipersensitivitas, pasien dengan riwayat alergi terhadap penisilin. Efek Samping : Reaksi kepekaan seperti erythematosus maculopapular, rash, urtikaria, serum sickness. Reaksi kepekaan yang serius dan fatal adalah anafilaksis

terutam terjadi pada penderita yang hipersensitif pada penisilin. Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Reaksi reaksi hematologik (biasanya bersifat reversibel). Dosis dan Aturan Pakai : Dewasa dan anak anak dengan berat badan > 20kg 250-500 mg tiap 8 jam. Anak anak dengan berat badan d 20 kg : 20-40 mg/kg/BB sehari dalam dosis bagi tiap 8 jam. Untuk penderita dengan gangguan ginjal perlu dilakukan pengurangan dosis. Pada penderita yag menerima dialisa peritoneal : dosis maksimum yang dianjurkan 500 mg/hari. Gonokokkus uretritis : amoksilin 3 g sebagai dosis tunggal. Anak anak dengan berat badan e8 kg sebaiknya diberikan sediaan sirup kering. Dosis sebaiknya diberikan setelah makan. Aturan Pakai 3 x sehari 1 tablet. Mekanisme Kerja : Mekanisme pembentuk kerja amoksisilin sebagai bakteri, bakterisida, data yaitu pada lewat 1 penghambatan sintesis peptidoglikan yang merupakan komponen utama dinding/membran maka tabel menunjukkan bahwa PT sebagai pengubah permeabilitas/integritas membran menyebabkan obat segera dapat mencapai tempat aksi dan mempercepat berlangsungnya reaksi penghambatan sintesis dinding atau membran bakteri sehingga bakteri tidak dapat tumbuh (sebagai fasilitator penetrasi obat dan inisiator efek daya hambat). Interaksi obat : Probenesid dapat meningkatkan dan memperpanjang level darah Amoksisilin. Penggunaan bersamaan Alopurinol dapat menyebabkan peningkatan terjadinya reaksi pada kulit. Contoh Produk : Amoxan ( Caprifarmindo ) Amoxil ( SmithKline Beecham ) Amosine ( Mugi )

2. Dexamethasone Indikasi : Mengatasi gejala inflamasi akut, penyakit alergi, arthritis rematoid, keadaan darurat seperti insufiensi adreankortikal primer tau sekunder, edema serebral. Kontra Indikasi : Tukak lambung dan duo denum, anastomosis usus yang baru, herpes simpleks pada mata, osteoporosis, sindroma cushing, psikotis akut, penderita sensitive. Efek Samping : Osteoporosis, tukak lambung, efek katabolic, efek diabetogenik, efek psikotropik, peningktan tekanan darah. Dosis : Oral 0,5 0,9 mghari dibagi dalam 2-4 pemberian, insuflensi adrenal 0,0233 mg/kg BB. Aturan Pakai 3 x sehari 1 tablet. Mekanisme Kerja : Deksamethasone adalah obat anti inflamasi dan anti alergi yang sangat kuat. Sebagai perbandingan Deksamethasone 0,75 mg setara dengan obat sbb : 25 mg cortisone, 25 mg hydrocortisone, 5 mg prednisone, 5 mg prednisolone. Deksamethasone Harsen praktis tidak mempunyai aktivitas mineral corticoid dari Cortisone dan Hydrocortisone, sehingga pengobatan untuk kekurangan adrenocortical tidak berguna. Interaksi Obat : Insulin, hipoglikemik oral : menurunkan efek hipoglikemik Phenythoin, phenobarbital, efedrin : meningkatkan clearance metabolik dari deksametason; menurunkan kadar steroid dalam darah dan aktifitas fisiologis.

Antikoagulansia oral : meningkatkan atau menurunkan waktu protrombin. Diuretik yang mendepresi kalium : meningkatkan resiko hipokalemia. Glikosida kardiak: meningkatkan reesiko aritmia atau toksisitas digitalis sekunder terhadap hipokalemia. Antigen untuk tes kulit : menurunkan reaksivitas. Imunisasi : menurunkan respon antibodi. Perhatian : o Kekurangan adrenocortical sekunder yang disebabkan oleh pengobatan dapat dikurangi dengan mengurangi dosis secara bertahap. o Ada penambahan efek Corticosteroid pada penderita dengan hypothyroidism dan cirrhosis. Contoh Produk : Danasone ( Dankos ) Dexanel ( Nellco ) Dexicorta ( Zenith ) 3. Sanaflu Plus Parasetamol 500 mg, fenilpropanolamin HCI 15 mg, dekstrometorfan HBr 15 mg/kaplet. Indikasi : Meringankan gejala flu disertai batuk. Kontra Indikasi : Peka terhadap obat simpatomimetik, tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat anti depresan tipe penghambat MAO. Perhatian : Hati hati pada penggunaan pada penderita dengan ggn fungsi hati dan ginjal. Efek Samping : Gangguan pencernaan, gangguan psikomotor, takikardia, aritmia, palpitasi, retensi urin, penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.

Dosis : Kaplet : Dewasa, sehari 3 x 1 kaplet ; anak 6 12 th sehari 3 x kaplet. Contoh Produk : Flutamol Plus ( Pyridam ) Fluvit C ( Rosella ) Mixaflu ( Dankos ) VI. MONITORING Pada praktikum kali ini pasien mendapatkan terapi obat antara lain : Amoksisilin, Alpara, dan Deksametason. Pada hal ini pasien harus mendapatkan monitoring terapi untuk mengetahi keberhasilan dari pengobatan yang dilakukan. Pada bab ini monitorinbg yang dilakukan yaitu : Kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat Masih merasakan perut kembung, terasa banyak gas atau tidak Keluhan pada gigi dan lambung Kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat, hal ini merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengobatan yang dilakukan, walaupun obat yang didapatkan sudah sesuai tetapi apabila pasien tidak patuh meminum obat tersebut maka pengobtan juga tidak akan berhasil. Dalam hal ini pasien mengeluhkan sering mengantuk karena obat yang diminumnya dan pasien tidak dapat menegrjakan tugasnya, sehingga pasien tidak lagi meminum obat tersebut, pada resep tersebut obat yang menyebabkan mengantuk yaitu Alpara, sehingga obat diganti dengan obat yang mempunyai kandungan sama tetapi tidak menyebabkan mengantuk yaitu Sanaflu, agar pasien tetap dapat mengejakan tugasnya. Masih merasakan perut kembung, terasa banyak gas. Hal ini perlu di monitoring karena pasien saat datang mengeluhkan perutnya kembung dan terasa banyak gas. Perut kembung kebanyakan disebabkan karena banyak udara yang masuk dalam rongga perut, selain itu karena makanan, dalam hal ini pasien memakan kol dan kol merupakan salah satu makanan penyebab perut kembung. Monitoring dilakukan dengan meminta pasien tidak makan

banyak kol, dan pada pasien di sarankan untuk mengoleskan minyak angin pada perutnya apabila perut kembungnya agar dapat teratasi. Keluhan pada gigi dan lambung, hal ini merupakan pengobatan yang pernah dilakukan pasien sebelumya. Hal ini perlu dilakukan monitoring karena ditakutkan obat yang diberikan dapat menyebabkan efek negatif karena bereaksi terhadap obat yang diberikan. VII. KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI Informasi yang perlu diberikan pada mahasiswa semester IV terkait dengan terapi pengobatan yang dijalaninya yaitu untuk perut kembung, terasa banyak gas, dan flu yang dialami oleh mahasiwa semester IV ini, untuk obat penyakit flunya harus diganti karena obat yang dipakai sebelumnya menyebabkan kantuk yang membuat pasien tidak taat dalam meminum obat. Hal ini disebabkan karena menurut wawancara yang dilakukan bahwa mahasiswa pada minggu ini sering mengeluhkan bergadang untuk membuat laporan dan belajar ujian, serta sering belajar malam hari karena suasana mendukung. Maka membutuhkan obat yang tidak menyebabkan kantuk dan untuk kelancaran dalam pembuatan tugas obat flu pasien harus diganti dengan Sanaflu Plus. Selain perut kembung, pasien juga menderita sakit gigi sebulan yang lalu. Pasien mendapat resep asam mefenamat yang mempunyai aturan pakai 3x sehari 1 tablet, tapi merasakan tidak nyaman di lambung sehingga menjadi kurang patuh dalam minum obat. Untuk kelancaran dalam mengerjakan tugasnya maka obat ini dihentikan pemakaiannya. Karena apabila diteruskan akan mengganggu aktifitas dalam mengerjakan laporan dan belajar untuk ujian. Mahasiswa ini mempunyai kebiasaan minum jus jeruk, untuk menjaga kesehatannya, serta minum jamu beras kencur dipagi hari dan susu di malam hari. Sebab, walaupun termasuk obat herbal namun apabila terlalu sering mengkonsumsinya, maka juga tidak baik untuk ginjal. Jadi untuk jamu beras kencurnya disarankan untuk tidak meminum terlalu sering dan untuk susu disarankan untuk di minum 2 jam setelah meminum obat. Terapi non

farmakologi untuk perut kembung yang dialami pasien ini yaitu untuk tidak mengkonsumsi daging kambing dan kubis yang terlalu banyak, untuk menghindari terjadinya kembung kembali. VIII. KESIMPULAN 1. Wawancara riwayat pengobatan merupakan langkah mengenal pasien untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai aspek penggunaan obat pasien sehingga dapat membantu pengobatan secara keseluruhan 2. Hal-hal yang harus diperhatikan farmasis saat akan mewawancarai pasien adalah lingkungan yang nyaman, kalimat pembuka, jenis-jenis pertanyaan, verifikasi informasi pasien, ringkasan, komunikasi nonverbal dan pernyataan penutup 3. Riwayat kesehatan sangat penting untuk mengetahui informasi ringkasan singkat dari permasalahan-permasalahan medis saat ini dan lampau, riwayat pengobatan, riwayat keluarga, riwayat sosial, dan ulasan sistem dari pasien 4. Atas persetujuan pasien, Asisten Apoteker mengganti obat Alpara yang diresepkan sebelumnya oleh dokter Pasien X menjadi Sanaflu Plus Batuk karena tidak seperti obat sebelumnya, obat ini tidak menyebabkan kantuk. Obat lain yang diberikan dokter yakni amoksisilin dan deksametason tetap dikonsumsi sesuai dengan resep dokter yakni 3x sehari 1 tablet setelah makan. 5. Asisten apoteker menyarankan terapi nonfarmakologis kepada pasien agar perutnya diolesi minyak kayu putih untuk menghilangkan rasa kembung dan banyak gas di perutnya. Pasien juga disarankan untuk refreshing agar tidak terlalu banyak pikiran yang nantinya dapat menyebabkan stress, refreshing dapat dilakukan dengan melakukan olahraga secara teratur. 6. Pasien mempunyai kebiasaan minum jus jeruk, jamu beras kencur dipagi hari dan susu di malam hari. Untuk jamu beras kencurnya disarankan untuk tidak meminum terlalu sering karena tidak baik untuk ginjal dan untuk susu disarankan untuk di minum 2 jam setelah meminum obat

7. Parameter pemantauan yang dapat dilakukan adalah berkurangnya sakit flu yang diderita pasien dan masih merasakan perut kembung dan terasa banyak gas atau tidak, serta efek samping obat yang sebelumnya telah yang diberikan yakni sanaflu plus batuk. 8. Peran farmasi klinik adalah dapat memberikan dampak yang baik terhadap berbagai outcome terapi pada pasien, baik dari sisi humanistik (kualitas hidup, kepuasan), sisi klinik (kontrol yang lebih baik pada penyakit kronis), dan sisi ekonomis (pengurangan biaya kesehatan) IX. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Obat Perut Kembung. http://www.tipsku.info/obat-perutkembung/. Diakses 20 April 2012 Coulehan JL, Block JR. 2006. The Medical Interview: Mastering Skills for Clinical Practice, 5th ed. Philadelphia: FA Davis Ikawati, Zullies. 2010. Pelayanan Farmasi Klinik pada Era Genomik: Sebuah Tantangnan dan Peluang. Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM Inditz MES, Artz MB, 1999. Value Added to Health by Pharmacists. Soc Sci Med, 48:647-60. Purwanti Angki, Harianto, Supardji S. 2004. Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi Di Apotek DKI Jakarta Tahun 2003. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.2. Siregar, Charles J.P., Amalia, L., 2003, Farmasi Rumah Sakit : Teori dan Penerapan,Penerbit Buku Kedokteran EGC. Tietze KJ. 2004. Communication skills for the pharmacist In: Clinical Skills for Pharmacists: A Patient-focused Approach, 2nd ed. St. Louis: Mosby-Year Book Tindall WN, Beardsley RS, Kimberlin CL. 2003. Communication Skills in Pharmacy Practice: A Practical Guide for Students and Practi tioners, 4th ed. Baltimore: Lea & Febiger

LAMPIRAN I. Dialog Pasien AA Pasien : Selamat pagi, Mbak! : Iya selamat pagi Mbak.. Ada yang bisa saya bantu? : Begini mbak, saya ingin beli obat untuk perut kembung, terasa banyak gas dan obat flu yang tidak menyebabkan kantuk mbak, soalnya minggu ini saya sering begadang untuk mengerjakan laporan dan belajar buat ujian. AA Pasien AA Pasien AA : Oh gitu mbak, perutnya kembung dan terasa banyak gas ya. Memangnya mbak terakhir makan apa? : Tadi malam saya makan tongseng kambing dan kubis di warung sebelah kos mbak. : Oh, gitu mbak. Maaf sebelumnya ini dengan mbak siapa ya? : Mbak Ayun : Begini mbak Ayun, bagaimana kalau saya melakukan wawancara lebih lanjut dengan mbak untuk menyusun lembar riwayat pengobatan agar saya bisa lebih tahu tentang data-data mengenai selanjutnya. Pasien AA Pasien AA Pasien AA : Oh iya mbak silahkan. : Mbak Ayun umurnya berapa? Tinggi badan dan berat badannya berapa? : Umur 20 tahun mbak. Tinggi saya 160 cm dan berat badan saya 45 kg mbak. : Mbak Ayun sebelumnya pernah mengkonsumsi obat atau pernah periksa ke dokter gitu? : Iya mbak pernah,ini saya juga membawa obat yang diberikan oleh dokter (sambil mengeluarkan obatnya). : Selama sakit pernah mengkonsumsi multivitamin atau apa gitu mbak? mbak, untuk menentukan langkah pengobatan

Pasien

: Tidak pernah mbak,tapi untuk menjaga kesehatan, saya biasa mengkonsumsi jamu beras kencur di pagi hari, susu di malam hari dan minum jus jeruk.

AA Pasien AA Pasien AA Pasien AA Pasien AA

: Mbak punya alergi antibiotik nggak? (sambil mencatat obat yang ditunjukkan kepadanya). : Nggak pernah sih mbak,tapi dulu pernah sakit gigi dan minum obat yang namanya pooo.. poooo.. : Ponstan mbak???? : Nah, iya mbak Ponstan : Itu bukan antibiotik mbak, tapi obat untuk penghilang nyeri waktu mbak sakit gigi. : Iya mbak kurang lebih sebulan yang lalu saya sakit gigi dan diberi Ponstan : Hmm, ini obatnya kok masih banyak ya mbak? : Iya mbak, buat ngantuk sih jadi saya malas minumnya, soalnya saya harus mengerjakan laporan dan belajar buat ujian : Oh, begini mbak, obat yang menyebabkan kantuk ini yaitu Alpara. Memang Alpara ini mempunyai efek samping mengantuk, kalau mbak ingin obat yang tidak menyebabkan mengantuk apa obat alpara ini diganti saja?

Pasien AA Pasien Aa

: Iya mbak diganti saja obatnya yang tidak nyebabin ngantuk : Kalau mau diganti harus konfirmasi dokter mbak dulu atau mbak mau obat bebas saja? : Wah, obat bebas saja mbak : Ini mbak saya ganti dengan Sanaflu plus ,Sanaflu plus ini kandungan atau komposisinya sama dengan Alpara, tapi Sanaflu plus ini tidak mempunyai efek samping mengantuk. Cara pemakaiannya 1 kaplet 3 kali sehari ya mbak, minumnya kurang lebih setengah jam setelah makan.

Pasien AA

: Iya mbak, saya mau beli Sanaflu plus ini saja : Oh iya mbak, karena mbak sudah terbiasa minum jamu beras kencur, minum jamunya 1 jam setelah minum obat saja, untuk

minum susunya sebelum minum obat, dan untuk jus jeruk tetap diminum tidak apa-apa karena mengandung vitamin C. Pasien AA : Iya mbak : Boleh minta nomornya mbak Ayun agar apotek kami bisa memantu perkembangannya mbak Ayun terkait pemakaian obatnya dan kondisinya mbak Ayun juga. Pasien AA Pasien : Iya mbak boleh, ini mbak (0271) 867534 : Iya mbak terimakasih (sambil mencatat nomor telefon Pasien) : Iya mbak sama-sama.

II. Lembar Riwayat Pengobatan Nama Pasien : Ayun Alamat : Jl,Ir sutami 36 B,Surakarta Tanggal : 16 April 2011 Jenis Kelamin: Perempuan Umur : 20 th Tinggi : 160 cm

No. telp : (0271) 867534 Pekerjaan : Mahasiswi Pengobatan R/ sekarang : Amoksisilin 500 mg 3 sehari 1 tablet, sebagai antibiotik

Berat : 45 kg

Alpara 3x sehari 1 tablet, sebagai dekongestan dan antiinfluenza Deksametason 0,5 mg 3x sehari 1 tablet, sebagai antiinflamasi Pengobatan R/ sebelumnya : Tidak ada Pengobatan tanpa R/ sekarang : Tidak ada Pengobatan tanpa R/ sebelumnya : Asam mefenamat 500 mg 3xsehari 1 tablet, Antiinflamasi Nonsteroid Konsumsi minuman yang biasa dilakukan : Minum jus jeruk untuk menjaga kesehatannya Minum jamu beras kencur di pagi hari Minum susu di malam hari Riwayat Alergi Tidak ada (Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu) Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita : Sakit gigi dan merasakan tidak nyaman di lambung setelah meminum obat Efek samping , Interaksi Obat : Alpara : Obat ini dapat menyebabkan kantuk, gangguan pencernaan, gangguan psikomotor, takikardia, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi, urine. Penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan fungsi hati. Asam mefenamat : Dapat terjadi gangguan saluran cerna,antara lain : iritasi lambung,kolik usus,mual, muntah dan diare,rasa mengantuk,pusing,sakit kepala,penglihatan kabur,vertigo dan Riwayat Sosial : Begadang untuk membuat laporan dan sering belajar di malam hari Sedang banyak pikiran dan galau Bermasalah dengan hubungan percintaannya Tidak akrab dengan teman-teman di lingkungan kosnya. Penilaian Kepatuhan Pasien : Terapi farmakologis : Kurang patuh dalam mengonsumsi obat Terapi non farmakologis : Biasa minum jus jeruk, jamu beras kencur, dan susu Rencana Terapi : Amoksisilin : 500mg, 3xsehari 1 tablet Sanaflu plus sebagai pengganti alpara: 3x sehari 1 kaplet Deksametason : 0,5mg 3xsehari 1 tablet Monitoring Terapi : Kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat Monitoring gejala-gejala flu seperti bersin-bersin dan hidung tersumbat Masih merasakan perut kembung, terasa banyak gas atau tidak