Anda di halaman 1dari 8

PENERAPAN PENGETAHUAN GENESA BATUBARA

Penerapan atau manfaat genesa batubara cukup banyak, tidak hanya untuk eksplorasi batubara sendiri tetapi juga untuk keperluan yang lain. Genesa batubara sampai saat ini sangat mendukung beberapa keperluan yang masih ada hubungan dengan geologi, eksplorasi maupun pengolahan, pencucian ataupun pemanfaatan batubara. Belakangan ini ilmu genesa batubara sangat banyak dipakai dalam eksplorasi minyak bumi. Secara garis besar untuk contoh, diberikan uraian dari masing-masing manfaat di bawah ini Eksplorasi batubara Eksplorasi minyak dan gas bumi Mempelajari proses sedimentasi dan diagenesa batuan sedimen Mempelajari tektonik

1. UNTUK EKSPLORASI BATUBARA Dengan mengetahui genesa batubara suatu daerah maka akan sangat berguna untuk keperluan eksplorasinya. Dari model genesa akan bisa ditentukan atau dipilih metoda dan eksplorasi yang tepat. Penafsiran luas penyebaran karena dengan tahu lokasi terjadinya (type cekungan, dimensi cekungan) maka kita akan lebih baik dalam membatasi daerah eksplorasi, batas penyebaran bisa diketahui dari kenampakan atau keberadaan (pemunculan) sisipan atau kita bisa menduga dari hasil pengamatan mikroskopi (maseral). Kemungkinan struktur bisa dikaitkan dengan cekungan tempat batubara terendapkan. Stabilitas tektonik dan akibatnya terhadap endapan batubara baik dari segi geometri lapisan maupun kalitas dan rank batubara. Tipe batubara (berlapis dan tidak berlapis) tergantung pada fasies pengendapan dan ini juga akan berkaitan dengan kualitas batubaranya.

Metoda eksplorasi yang dipakai juga dipengaruhi oleh genesa. Apakah berasosiasi dengan batuan samping tertentu yang mudah dikenal, struktur geologi yang menyertai sehingga keberadaanya bisa dekat permukaan atau jauh di bawah, menerus atau setempat, horisontal atau miring dan sebagainya. Cara pengambilan contoh apakah dengan bor, test pit, atau paritan. Hal ini sangat tergantung pada genesa, begitu juga lokasi pengambilan contoh apakah channel sampling dari bagian atas sampai bagian bawah lapisan, persatuan tebal, di bagian tengah, di bagian pinggir dan sebagainya. Kualitas dan rank batubara diketahui dengan analisa tetapi penyebaran rank dan kualitas bisa dikejar dengan penerapan ilmu genesanya. Apakah rank yang ada akibat suatu proses geologi yang berpengaruh luas atau lokal, dalam waktu yang panjang atau relatif singkat. Kualitas yang terjadi apakah akibat suatu proses sesudah pengendapan atau terjadi saat proses pembatubaraan berlangsung atau memang merupakan hasil proses pengendapan. 2. UNTUK EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI Genesa batubara sangat erat kaitannya dengan genesa minyak bumi sehingga pengetahuan genesa batubara sangat dihandalkan untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (Gambar 5.1). Keberadaan komponen organik pada setiap batuan sedimen termasuk batuan induk yang mengandung minyak dan tempat terbentuknya minyak bumi. Minyak bumi terbentuk dari komponen organik (umumnya binatang) pada tingkat kematangan (maturity) batuan sedimen tertentu. Tingkat kematangan organik yang ada pada sedimen dengan mudah ditentukan dari pengukuran reflektan ( rank batubara) komponen organik sisa tumbuhan yang ada pada sedimen. Genesa batubara memberikan gambaran yang jelas untuk rank dalam kaitan dengan terbentuknya minyak bumi. Terbentuknya maseral sekunder seperti Exsudatinit dan mikrinit pada batubara) sebagai indikator oil window (daerah rank terbentuknya minyak bumi pada sedimen), sehingga dengan mengetahui indikator ini maka eksplorasi minyak dan gas bumi bisa diarahkan sesuai dengan kemungkinan arah migrasinya.

Bahkan beberapa ahli pernah memikirkan tentang terbentuknya minyak bumi yang bersumber dari batubara (batubara sebagai batuan induk minyak bumi). Hal ini secara teori mungkin terbentuk tetapi migrasi untuk akumulasi dalam jumlah yang banyak masih tidak mungkin karena pori-pori pada batubara sangat kecil. 3. UNTUK MEMPELAJARI PROSES DIAGENESA PADA BATUAN SEDIMEN SELAIN BATUBARA Rank pada batubara merupakan akibat dari temperatur, tekanan dalam waktu yang relatif panjang. Sehingga hal ini analog dengan proses yang terjadi pada batuan sedimen yang lain yang mengalami proses diagenesa. Pada batubara dengan mudah dapat diketahui rank-nya sedangkan pada batuan sedimen yang lain agak sulit. Rank pada batubara merupakan posisi meterial organik akibat proses pembatubaraan dan ini merupakan proses irreversible sehingga kalau suatu rank sudah dicapai maka tidak akan bisa kembali ke kondisi aslinya. Dengan anggapan bahwa setiap batuan sedimen mengandung unsur organik yang bisa diukur reflektifitasnya sebagai indikator rank maka dengan cepat dapat diketahui proses atau akibat proses diagenesa yang dialami oleh batuan sedimen itu. Artinya walaupun keberadaannya saat ini di permukaan (tersingkap) bukan berarti dari sejak terbetuknya tidak pernah berada pada kedalaman yang tinggi dimana temperatur tinggi (akibat gradien geothermal) dan tebal batuan penutup yang mengakibatkan tekanan yang tinggi juga. Dengan demikian komponen organik yang berasal dari tumbuhan akan mempunyai rank yang tinggi sesuai dengan temperatur dan tekanan yang pernah dialaminya (Gambar 5.2). 4. MEMPELAJARI TEKTONIK Dari rank batubara yang terdapat pada suatu cekungan bisa dipelajari sejarah cekungan tempat terdapatnya endapan batubara tersebut. Rank batubara yang tinggi bisa dikaitkan dengan masa lalu cekungan itu yang pernah berada turun sampai kedalaman tertentu (tinggi). Proses naik turunnya cekungan sulit diketahui dari sedimen yang lain, sedangkan dari komponen organik (batubara pada sedimen) itu dapat diketahui bahwa komponen organik yang ada pada sedimen itu sudah pada rank tertentu dengan korelasi temperatur dan beban yang pernah dialami (Gambar 5.2). Distribusi rank yang tidak merata

mencerminkan keberadaan penyebab lokal. Hal ini bisa akibat struktur sesar, pelipatan ataupun akibat intrusi. Yang penting adalah keberadaan suatu proses yang mengakibatkan adanya temperatur atau tekanan yang tinggi atau bahkan keduanya sekaligus. Tidak homogennya lapisan, adanya banyak sisipan atau lapisan bercabang mecerminkan kondisi cekungan tempat pengendapan batubara yang tidak stabil, dalam artian penurunan cekungan yang tidak homogen. 5. UNTUK PEMANFAATAN, PENGOLAHAN DAN PENCUCIAN BATUBARA Batubara merupakan hasil proses yang terjadi terhadap tumpukan tumbuhan (gambut), sehingga dalam hal ini variasi batubara yang dihasilkan akan sangat beragam. Dari genesanya bisa diketahui beberapa faktor penentu kualitas, rank dan tipenya sehingga akan sangat membantu dalam perencanaan pemanfaatan maupun pengolahan dan pencucian. Disamping itu faktor penentu kualitas batubara bisa terjadi bersamaan dengan proses pembatubaraan (tidak mencerminkan lingkungan pengendapannya). Dari genesa bisa diinterpretasikan jenis tumbuhan pembentuknya, tempat terjadinya, cara terjadinya dan seberapa jauh proses pembatubaraan berlangsung. Batubara terbentuk dari berbagai jenis tumbuhan. Jenis tumbuhan pembentuk akan bertanggung jawab terhadap komposisi maseral yang sangat menentukan karakteristik batubara yang berkaitan dengan peruntukannya. Dalam hal ini bukan hanya jenis tumbuhan saja yang penting tetapi juga dari bagian apanya dari tumbuhan batubara terbentuk. Tempat terjadinya apakah di cekungan di lingkungan darat/air tawar, payau atau bahkan laut, akan membawa konsekuensi terhadap tipe dan kualitas batubara. Apakah dia berlapis ataupun tidak berlapis tentu akan sangat mempengaruhi dalam proses pemanfaatan/pengolahan. Batubara yang terbentuk dari tipe atau fasies bawah air akan mempunyai kandungan abu dan sulfur yang lebih tinggi dibanding yang terjadi dari gambut tipe highmoor. Keterdapatan mineral (baik jenis maupun bentuknya) akan sangat mempengaruhi cara pengolahan atau pencuciannya. Keterdapatan mineral ini bisa banyak ragamnya dengan genesa yang beragam pula. Oleh karena itu keberadaan mineral dalam

bentuk yang beragam dan terjadinya juga beragam akan sangat mempengaruhi cara pencucian, pengolahan bahkan peruntukan batubaranya. Belum lagi kondisi batuan samping dengan lingkungan pengendapan yang beragam, komposisi juga beragam, dapat juga mempengaruhi kualitas batubaranya. Hal ini umumnya mempengaruhi batubara pada saat pembatubaraan berlangsung. Komposisi meseral batubara yang merupakan produk dari ragam tumbuhan pembentuk sangat menentukan peruntukannya. Batubara dengan komposisi dominan atrinit yang merupakan cerminan pembentuk yang kebanyakan dari tumbuhan perdu yang banyak tumbuh pada lingkungan yang kurang subur atau kondisi PH yang kecil (asam) dimana hanya mengandalkan air hujan (highmoor) akan baik untuk briket. Batubara yang banyak unsur gelinit yang diyakini merupakan produk gelifikasi (bagian awal proses pembatubaraan yang berlangsung tergantung air) akan kurang baik untuk briket. Sebenarnya masih sangat banyak aplikasi ilmu genesa batubara untuk keperluan baik ilmu perbatubaraan maupun industri perbatubaraan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Diessel C. F. K. (1984) : Coal Geology, Australian Mineral Foundation, Workshop Course 274/84, Indonesia : 208 S.

2. Diessel C. F. K. (1993) : Coal Bearing Depositional Systems 3. Gttlich K., Editor (1980) : Moor und Torfkunde, 2. Auflage, E. Schweizerbartsche Verlagsbuchhandlung (Ngele u. Obermiller), Stuttgart : 338 S. 4. Hollerbach A. (1985) : Grundlagen der organischen Geochemie, Springer Verlag, Berlin-Heidelberg : 190 S. 5. Stach E., Mackowsky M. TH., Teichmller M., Taylor G. H., Chandra D., Teichmller R. (1982) : Stachs Textbooks of Coal Petrology, Gebrder Borntraeger, Berlin-Stuttgart : 535 S. 6. Taylor G. H., Teichmueller M., Davis A., Diessel C. F. K., Littke R., Robert P. (1998), Organic Petrologi, Gebrueder Borntraeger, Berlin, Stuttgart. 7. Tissot B. P., Welte D. H. (1984) : Petroleum Formation and Occurrence, 2 nd Edition, Springer Verlag, Berlin : 538 S. 8. Van Krevelen D. W. (1993) : Coal, Typology-Chemistry-Physics-Constitution, 3 rd Comp. Rev. ed., Elsevier, Amsterdam, London, New York, Tokyo : 979 S.