Anda di halaman 1dari 40

BAB 1

PENDAHULUAN
Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan untuk lebih di
tingkatkan lagi dengan memberikan prioritas yang lebih besar pada
pengembangan dan pemanfaatannya untuk meningkatkan peranan peranan
batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI . salah satu
dukungan yang di sarankan adalah pemantapan terencanaan dan
pelaksanaan produksi secara terpadu , sehingga kapasitas produksi selalu
dapat memenuhi peningkatan permintaan batubara baik dari dalam negeri
maupun luar negeri ( kesimpulan lokakarnya enegim di Jakarta 10 agustus
1988 )

1. Peranan batubara di indonesi

Masyarakat pemakai sumberdaya energy di Indonesia terutama


yang menggunakan energy untuk keperluan pembakaran dalam
jumlah besar seperti pembangkit listrik tenaga uang (PLTU ) dan
industry semen , menyadari bahwa penggunaan batubara
mempunyai beberapa kelebihan .

a) Penekanan biaya operasi yang di sebabkan oleh harga


batubara ( persatuan energy ) yang lebih murah daripada
jenis energy yang lain

b) Peranan batubara di bandingkan dengan peranan sumber


energy yang lain sampai pada akhir 1984 masih sangat
rendah ialah hanya 0,51% dari total konsumsi energy m
sedang pada tahun 1994 telah meningkat sekitar 8,8%.
BAB 2
CARA TERBENTUKNYA BATU BARA

Batu bara terbentuk dengan cara yang sangat komplek dan


memperlukan waktu yang sangat lama ( puluhan atau ratusan juta tahun ) di
bawah pengaruh fisika , kimia ataupun keadaan geologi. Untuk memahami
bagaimana batubara terberntuk dari tumbuh-tumbuhan perlu di ketahui
batubara terbentuk dan factor-faktor yang akan mempengaruhinya serta
bentuk lapisan batubara.

1. TEMPAT TERBENTUKNYA BATUBARA

Untuk menjelaskan terbentuknya batubara di kenal 2

macam teori :

a. Teori Insitu

Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk


lapisan batubara, terbentuknya di tempat dimana tumbuh-
tumbuhan asal itu berada, dengan demikian maka setelah
tumbuhan tersebut mati , belum mengalami proses transportasi
segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses
coalification. Jenis batu bara yang terbentuk dengan cara ini
mempunyai penyebaran luas dan merata , kualitasnya lebih baik
karena kadar abunya relative kecil , batu bara yang tebentuk
seperti ini di Indonesia di dapatkan di lapangan batubara muara
enim ( Sumatra selatan )

b. Teori Drift

Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk


lapoisan batubara terjadinya di tempat yang berbeda dengan
tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang . dengan
demikian dengan tubuhan yang telah mati di angkut oleh media
air dan di berakumulasi di suatu tempat , tertutup oleh batuan
sedimen dan mengalami proses coalification . jenis batu bara
yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak
luas , tetapi di jumpai di beberapa tempat , kualitas kurang baik
karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut
bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal
tanaman ke tempat sedimentasi . batubara yang terbentuk
seperti ini di Indonesia di dapatkan di lapangan batubara delta
Mahakam purba, Kalimantan timur.

2. FACTOR YANG BERPENGARUH


Cara terbentuknya batubara merupakan proses yang kompleks .
dalam arti harus di pelajari dari beberapa sudut yang berbeda .
terdapat serangkain factor yang di perlukan dalam pembentukan
batubara yaitu :

a) Posisi goeteknik

b) Topofrafi

c) Iklim

d) Penurunan

e) Umur geologi

f) Tumbuh-tumbuhan

g) Dekomposisi

h) Sejarah sesudah pengendapan

i) Struktur cekungan batubara

j) Metamorfosis organic

a. Posisi Goeteknik

Posisi geotektonik adalah suatu tempat yang


keberadaannya di pengaruhi oleh gaya- gaya tektonik
lempeng . dalam pembentukan cekungan batubara , posisi ini
akan mempengaruhi iklim lokasi dan morfolagi cekungan
pengendapan barubara maupun kecepatan penurunannya .
pada fase terakir posisi geotektonik mempengaruhi proses
metamorfosa organic dan struktur dari lapangan batubara
masa sejarah setelah pengendapan akhir.

b. Topografi (Morfologi)
Morfologi dari cekungan pada saat pembentukan
gambut sangat penting karena menentukan penyebaran
rawa-rawa dimana batu bara tersebut terbentuk . topografi
mungkin mempunyai efek yang ter batas terhadap iklim dan
keadaannya bergantung pada posisi geotektonik.

c. Iklim

Kelembapan memegang peran penting dalam


membentukan batubara dan merupakan factor pengontrol
flora dan kondisi luas yang sesuai .Iklim tergantung pada
posisi geografi dan lebih luas di lagi dipengaruhi oleh posisi
geotektonik. Temoperatur yang lembab pada iklim tropis pada
umunya sesuai pada pertumbuhan flora di bandingkan
wilayah yang lebih dingin . hasil pengkajian menyatakan
bahwa hutan rawa tropis mempunyai siklus pertumbuhan
setiap 7-9 tahun dengan ketinggian pohon hanya mencapai 5-
6 m dalam selang waktu yang sama.

d. Penurunan

penurunan cekungan batubara di pengaruhi oleh gaya-


gaya tektonik . jika penurunan dan pengendapan gambut
seimbang maka di hasilkan endapan batu bara tebal .
pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi
pertumbuhan flora dan pengendapannya . hal tersebut
menyebabkan adanya infiltrasi material dan mineral yang
mempengaruhi mutu dari batubara terbentuk .

e. Umur Geologi

Proses geologi menentukan berkembangnya evolosi


kehidupan berbagai macam tumbuhan. Dalam masa
perkembangan geologi secara tidak langsung membahas
sejarah pengendapan batubara dan dan metomorfosa organic
. makin lama umur batuan makin dalam penimbunan yang
terjadi. Sehingga terbentuk batu bara yang bermutu tinggi,
tetapi pada batubara yang mempunyai umur geologi lebih tua
selalu ada resiko mengalami deformasi tektonik yang
membentuk struktur perlipatan atau patahan pada lapisan
batubara . di samping itu fator erosi akan merusak semua
bagian dari endapan batubara.

f. Tumbuhan

flora merupakan unsur utama pembentuk batubara.


Pertumbuhan batubara terkumulasi pada suatu lingkungan
dan zona fisiografi dengan iklim dan topografi tertentu . flora
merupakan factor penentu terbentuknya berbagai tipe
batubara.evolosi dari kehidupan menciptakan kondisi berbeda
selam sejarah geologi .mulai dari palezeoic hingga devon .
flora belum tumbuh dengan baik . setelah devon pertama kali
terbentuk lapisan batubara di daerah lagon yang dangkal.
Periode ini merupakan titk awal dari pertumbuha flora secara
besar-besaran dalam waktu singkat pada setiap kontingen .
hutan tumbuh dengan subur pada masa karbon. Pada masa
tersier merupakan perkembangan yang sangat luasdari
berbagai jenis tanaman.

g. Dekomposisi

Dekomposisi flora yang merupakan dari transpormasi


biokimia dari organic merupakan titik awal dari seluruh
alterasi. Dalam pertumbuhan gambut , sisa tumbuhan akan
mengalami perubahan , baik secara fisik maupun kimiawi .
setelah tumbuhan mati proses degradasi biokimia lebih
berperan . proses pembusukan (decay) akan terjadi oleh kerja
mikrobiologi (bakteri anaerob ) . bateri ini bekerja dalam
suasana tanpa oksigen menghancurkan bagian yang lunak
dari tumbuhan seperti celulosa , protoplasma dan pati . dari
proses di atas terjadi perubahan dari kayu menjadi lignit dan
batubara berbitumen . dalam suasan kekurangan oksigen
terjadi proses biokimia berakibat keluarnya air (H2O) dan
sebaian unsur karbon akan hilang dalam bentuk karbon
dioksida (CO2) , karbon monoksida (CO) dan metan (CH4) .
akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut jumlah relative
unsur karbon akan bertambah . kecepatan pembentukan
gambut bergantung pada kecepatan perkebangan
pertumbuhan dan proses pembusukan . bila tumbuhan
tertutup oleh air dengan cepat , maka akan terhindar oleh
proses pembusukan , tetapi terjadi proses desintegrasi atau
penguraian oleh mikrobiologi . bila tumbuhan yang telah mati
terlalu lama berada di udara , maka kecepatan pembentukan
gambut akan berkurang , sehingga hanya bagian yang keras
saja tertinggal yang menyulitkan penguraian oleh
mikrobiologi.

h. Sejarah Sesudah Pengendapan

Sejarah cekungan batubara secara luas bergantung pada


posisi geotektonik yang mempengaruhi perkembangan
batubara dan cekungan batubara. Secara singkat terjadi
proses geokimia dan metamorfosa organic setelah
pengendapan gambut. Di samping itu sejarah geologi
endapan batu bara bertanggung jawab terhadap
terbentuknya struktur cekungan batubara, berupa perlipatan ,
persesaran , intrusi magmetik dan sebagainya.

i. Struktur Cekungan Batubara

Terbentuknya batu bara pada cekungan batu bara pada


umunya mengalami deformasi oleh gaya-gaya tektonik. Yang
akan menghasilkan lapisan batubara dengan bentuk –bentuk
tertentu , disamping itu adanya erosi yang itensif
penyebabnya bentuk lapisan batubara tidak menerus.

j. Metamorfasa Organic

Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah


penimbunan atau penguburan oleh sediment baru . pada
tingkat ini proses degradasi biokimia tidak berperan lagi
tetapi tetap lebih di dominasi oleh proses dinamokimia.
Prosesini menyebabkan terjadinya gambut menjadi batubara
dalam bentuk mutu. Selama proses ini terjadi pengurangan
air lembab , oksigen dan zat terbaru CO2,CO,CH4 dan gas
lainnya, serta bertambahnya presentase karbon padat,
belerang dan kandungan abu. Perubahan mutu batubara di
akibatkan oleh factor dan tekanan dan waktu. Tekanana
dapat di akibatkan oleh lapisan sediment penutup yang
sangat tebal atau karena tektonik , hal ini menyebabkan
pertambahan tekanan dan percepatan metaforfosa organic
akan dapat mengubah gambut menjadi batubara sesuai
dengan perubahan sifat kimia. Fisik dan optiknya.

3. TERBENTUKNYA LAPISAN BATUBARA TEBAL

Lapisan batubara tebal merupakan deposit batubara yang


mepunyai nilai ekonimis yang tinggi. Salah satu syarat yang dapat
membentuk batubara tebal adalah apabila terdapat suatu cekungan
yang oleh karena adanya beban pengendapan bahan-bahan
pembentuk batubara di atasnya mengakibatkan dasar cekungan
tersebut turun secara berlahan-lahan.

Cekungan ini umumnya terdapat di daerah rawa-rawa (hutan


bakau) di tepi pantai . dasar cekungan yang turun secara berlahan –
lahan dengan pembentukan batubara memungkinkan permukaan air
laut akan tetap dan kondisi rawa stabil. Apabila karena proses geologi
dasar cekungan turun secara tepat . maka air laut akan masuk
kedalam cekungan sehingga kondisi rawa menjadi kondisi laut .

Akibatnya di atas lapisan pembentuk batubara akan terndapkan


lapisan sediment laut antara lain batu gamping . pada tahap
selanjutnya akan terjadi pengendapan batu lempung yang
memunkinkan untuk kembali kondisi rawa. Proses selanjutnya akan
terkumpul dan terendapkan bahan-bahan pembentuk batubara (sisa
tumbuhan) di atas lapisan batu lempung (claystone ). Demikian
seterusnya sehingga tebentuk lapisan batubara dengan di selingi oleh
lapisan antara yang batu gamping dan batu lempung. Tidak jarang di
jumpai lapisan batubara

Sering terbentuk antara yang berupa batu lempung yang di sebut


sebagai clay band atau clay parting .

4. REAKSI PEMBENTUKAN BATUBARA

Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi


utama dari cellulose . proses pembentukan batubara atau caalification
yang di bantu oleh factor fisika . kimia alam akan mengubah cellulose
menjadi lignit , subitumine , bitumine dan antrasite , reaksi
pembentukannya batubara dapat di gambarkan sebagai berikut;

5(C6H10O5 ) C20H22O4 +3CH4+8H2O + 6CO2 + CO

Cellulosa lignit gas metan

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Cellulose bitumine gas metan

Keterangan :
Cellulose (zat organic) yang merupakan zat pembentuk batubara.
Unsure C dalam lignit lebih sedikit di banding bitumine. Semakin
banyak unsur C lignit semakin baik mutunya.unsur H dalam lignit lebih
banyak di bandingkan pada bitumine. Semakin banyak unsur H lignit
makin kurang baik mutunya. Senyawa CH4 ( gas metan ) dalam lignit
lebih sedikit di banding dalam bitumine.Semakin banyak CH4 lignit
semakin baik kualitasnya.

Gas-gas yang terbentuk selama proses coalification akan masuk


ke dalam celah-celah vein batu lempung dan ini sangat berbahaya .
gas metan yang sudah terkumulasi di dalam celah vein , terlebih-lebih
apabila terjadi kenaikan temperature , karena tidak dapat keluar ,
sewaktu-waktu dapat meledak danmengakibatkan kebakaran. Oleh
sebab itu mengetahui bentuk deposit batubara dapat mentukan cara
penambangan yang akan di pilih dan juga meningkatkan keselamatan
kerja.

5. BENTUK LAPISAN BATUBARA

Bentuk cekungan , proses sedimentasi , proses geologi selama


dan sesudah proses coalofication akan menetukan bentuk lapisan
batubara. Mengetahui bentuk lapisan batubara sangat menentukan
dalam menghitung cadangan dan merencanakan cara
penambangannya,

Di ketahui beberapa bentuk lapisan batubara :

a) Bentuk horse back

b) Bentuk pinch

c) Bentuk clay vein

d) Bentuk buried hill

e) Bentuk fault
f) Bentuk fold

Urain masing-masing bentuk adalah sebahai berikut :

a) Bentuk Horse Back

Bentuk ini di cirikan oleh lapisan batubara dan batuan


yang menutupinya melengkung kea rah atas akibat gaya
kompresi , ketebalan kea rah lateral lapisan batubara
kemungkinan sama ataupun menjadi lebih kecil atau
menipis ,

b) Bentuk Pincih
Bentuk ini di cirikan oleh perlapisan yang menipis di
bagian tengah , pada umumnya dasar dari lapisan
batubara merupakan batuan yang plastis misalnya
batulempung sedang di atas lapisan batubara secara
setempat di tutupi oleh batupasir yang secara lateral
merupakan pengisian suatua alur .

c) Bentuk Clay Vain

Bentuk ini terjadi apabila di antara 2 bagian deposit


batubara terdapat urat lempung . bentukan ini terjadi
apabila pada satu seri deposit batubara mengalami
patahan , kemudian pada bidang patahan yang
merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung
ataupun pasir ,

d) Bentuk Buried Hill

Bentuk ini terjadi apabila di daerah dimana batubara


semula terbentuk terdapat suatu kulminasi sehingga
lapisan batubara seperti ‘terintrusi’

e) Bentuk Fault

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit


batubara mengalami beberapa seri patahan . keadaan ini
akan mengacaukan di dalam perhitungan cadangan ,
akibat adanya perpindahan perlapisan akibat pergeseran
vertical.
Dalam melakukan eksplorasi batu bara di daerah yang
banyak gejala patahan harus di lakukan dengan tingkat
ketelitian yang tinggi , untuk daerah seperti ini disamping
kegiatan pemboran maka penyelidikan geofisika sangat
membantu di dalam melakukan interprestasi dan korelasi
antar lubang pemboran ,

f) Bentuk Fold

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit


batubara mengalami perlipatan . makin intensif gaya yang
bekerja pembentuk perlipatan akan makin kompkeks
perlipatan tersebut terjadi ,dalam melakukan eksplorasi
batubara yang banyak gejala perlipatan, apalagi bila
daerah tersebut juga terjadi patahan harus di lakukan
dengan ketelitian yang tinggi , untuk daerah seperti ini di
samping kegiatan pemboran maka kegiatan geofisika
sangat membantu dalam melakukan interprestasi dan
korelasi antar lubang pemboran,

Dari urain tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa


untuk mengetahui jumlah cadangan deposit batubara di
suatu daerah penyelidikan geologi detail perlu di lakukan,
BAB 3
SIFAT UMUM BATUBARA

Batu bara merupakan salah satu jenis bahan bakar untuk pembangkit
energy , di samping gas alam di minyak bumi . berdasarkan atas cara
penggunaanya sebagai penghasil energy di klasifikasikan :

a. Penghasil energy primer dimana batubara yang langsung di


pergunakan untuk industry misalnya pemakaian batubara
sebagai bahan bakar burner (dalam industry semen dan
pembangkit listrik tenaga uap ) . pembakaran kapur , batu ,
genting, bahan bakar lokomotif . pereduksi proses metalurgi ;
kokas konvensional ; bahan bakar tidak berasap ( smokeless
fuels )

b. Penghasil energy skunder dimana batubara yang tidak


langsung di pergunakan untuk industry misalnya pemakaian
batubara sebagai bahan bakar padat (briket ); bahan bakar
cair ; (konversi menjadi bahan bakar air ) dan gas (konversi
menjadi bahan bakar gas ); bahan bakar dalam industry
penuangan logam (dalam bentuk kokas ); selain itu batubara
di gunakan bukan sebagai bahan bakar antara lain ; sebagai
reduktor dalam peleburan timah , pabrik fero nikel , industry
besi dan baja ; pemurnian dalam industry kimia (dalam
bentuk karbon aktif ); pembuatan kalsium karbida (dalam
bentuk kokas atau semi kokas ).

Secara umum nilai kalor yang di hasilkan satu ton batubara


equivalen dengan 3 bbl. Minyak bumi.

1. JENIS BAHAN BAKAR

Jenis – jenis bahan bakar yang umum di gunakan dalam industry

adalah :

a. Bahan bakar gas : gas alam

b. Bahan bakar cair : minyak bumi


c. Bahan bakar padat : batubara

Ketiga bahan bakar tersebut pada dasarnya terdiri atas


dioksidasi oleh oksigen dan udara . bahan tersebut pada
umumnya terdiri dari :

a. Combustible materials

Yaitu bahan yang dapat di bakar atau di oksidasi oleh oksigen


dari udara . bahan tersebut pada umumnya terdiri dari :

− Fixed carbon

− Hydrocarbon compounds

− Sulfur

− Nitrogen

− Phosphor dan sebagainya

b. Non combustible materials

Yaitu bahan –bahan yang tidak dapat di bakar / di oksidasi


oleh oksigen . bahan ini tersisa dalam ujud padat yang di
sebut abu ( ash ) yang mengandung SiO2,AL2O3,Fe2O3,CaO
dan alkali dan ujud gas yang berbentuk H2O atau CO2

Bahan bakar tersebut banyak mengandung non


combustible materials dalam bentuk abu dan air , sedangkan
bahan bakar minyak praktis tak mengandung non
combustible material, kecuali kadang sedikit carbon dioksida.
Kandungan non conbustaible material dalam bahan bakar
umumnya tidak di ingini karena akan menurunkan nilai bakar
atau menurunkan suhu nyala.

2. SIFAT BATUBARA

Batubara merupakan suatu campuran padatan yang heterogen


dan terdapat di alam tingkat / grade yang berada mulai dari lignit ,
bitumine , antrasit,

Kandungan zat terbang (volatile matter ) dan besaran kalori panas


yang di hasilkan batubara di bagi menjadi 9 kelas utama .

Dalam perdagangan di kenal istilah hard coal dan brown coal .


hard coal adalah jenis batuan yang menghasilkan gross kalori lebih
dari 5.700 kcal dan dibagi:

a. Kandungan zat terbang ( volatile matter ) hingga 33% , termasuk


kelas 1-5

b. Kandungan zat terbang ( volatile matter ) lebih besar 33% ,


termasuk klas 6-9 .

Hard coal merupakan jenis batubara dengan hasil kalori yang


lebih tinggi dibandingkan dengan bitumine/ subbitumine , dan lignit
( brown coal )

Sifat batubara jenis antarsit :


− Warna hitam sangat mengkilat

− Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi

− Kandungan air sangat sedikit

− Kandungan abu sangat sedikit

− Kandungan sulfur sangat sedikit

Sifat batubara jenis jenis bitumine/ subbitumine:

− Warna hitang mengkilat , kurang kompak

− Nilai kalor tinggi , kandungan karbon relative tinggi.

− Kandungan air tinggi

− Kandungan abu sedikit

− Kandungan sulfur sedikit

Sifat batubara jenis lignit ( brown coal )

− Warna hitam , sangat rapuh

− Nilai kalori rendah , kandungan karbon sedikit

− Kandungan air tinggi

− Kandungan abu banyak

− Kandungan sulfur banyak


Sebagai pendataan batubara terdiri atas kumpulan maceral
(vitrinit, eksinit dan inertinit ) serta mineral (caly, kalsit dan lain2 )

Di lihat dari unsure pembentukannya batubara terdiri atas karbon ,


oksigen, nitrogen , sedikit sulfur, posfor dan lain-lain.

Sedangkan dari segi struktur atomnya di bedakan :

Aromatic ; dimana atom C tersusun dalam rangkaian rantai tertutup


misalnya :

H C C
H

H C C
H

- Alphatik ; di mana atom C tersusun dalam rangkaian lurus/


terbuka misalnya :

H H

H- C - H -H

H H

Dalam industry batubara di pergunakan sebagai bahan bakar , maka :


Panas pembakaran

Hasil pembakaran

Sisa pembakaran

Perlu di ketahui , kususnya dalam industry semen apabila hal tersebut akan
mengganggu kualitas hasil semen,

Sifat2 batura dapat di lihat sengan analis sebagai berikut:

a. Analisa proksimat

1. Lengas (moisture ) yang berupa

− Lengas bebas ( free moisture )

− Lengas bawaan ( inherent moisture )

− Lengas total ( total moisture )

2. Kadar abu (ash)

3. Carbon ( fixed carbon )

4. Zat terbang (velotile matter )

b. Analisa ultimat

Terdiri dari analisa untuk unsure : C. H.O.N.S.P.C.L

c. Nilai kalor

Terdapat 2 macam nilai kalor :

1. Nilai kalor net ( net colorific value ata low heating


value )

Yaitu nilai kalor pembakaran dimana semua air ( H2O ) di


hitung dalam keadaan ujud gas .
2. Nilai kalor gross ( frosses colofic value high heating
value ) . yaitu nilai kalor pembakaran dimana semua
air (H2O ) di hitung dalam keadaan ujud air .

Nilai kalor ini menyatakan dalam cal/gr, btu/lb atau


MJ/ kg

d. Total sulfur

Sulfur atau belerang dalam batubara dapat di jumpai


sebagai mineral pirit, markasit, calcium sulfur atau
belerang organic , yang pada saat pembakaran akan
berubah menjadi SO2

e. Anaalisa abu

Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan


membentuk oksida-oksida sebagai berikut:

SiO2,AL2O2,Fe2O3,,TiO2,Mn3O4, CaO,Na2O, K2O.

Abu inilah yang terutama akan secara padatan bercampur


dengan klinker ( pada idustri semen ) dan akan
mempengaruhi kualitas semen. Namun demikian kadar
abu dalam batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar
5%-20% .

f. Indek gerus (hard grove index )


Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukan mudah
sukarnya batubara digerus menjadi bahan bakar serbuk .
makin kecil bilangannya makin keras keadaan
batubaranya. Harga hardgrove index untuk batubara di
Indonesia berkisar antara 35-60.

g. Sifat batubara kaitannya dengan volatile matter

Sesuai dengan sefatnya , batubara umumnya dibagi atas 4


macam :

1. Antarsit, mengandung sedikit volatile matter

2. Bitumine, mengandung medium volatile mater

3. Lignit , mengandung banyak volatile matter

4. Gambut ( peat )

Batu bara dengan volatile matter tinggi akan menghasilkan nyala yang
panjang di atas grate fire dan batubara dengan kadar volatile rendah akan
menghasilkan nyala yang pendek , oleh karenanya antarsit dapat disebut
dengan short flaming coal dan bitumine disebut sebagai long flaming coal.
Akan tetapi batubara menghasilkan produk yang berbeda bila di bakar dalam
bentuk batubara halus di dalam tanur putar ( pada industry semen ).

Long flaming coal bila di bakar dalam tanur putar sebagai batubara halus
akan teruai dengan segera dan volatile matter yang menguap akan terbakar
dengan cepat short flaming coal mengandungn sedikit volatile matter bila di
bakar di dalam tanur putar sebagai batubara halus akan terurai secara
lambat sehinggal akan terbakar dalam jamgka waktu yang lebih panjang .

Antarsit memiliki kalor tinggi , penggunaannya sebagai bahan bakar


dalam tanur putar kurang di sukai , karena akan menghasilkan nyala yang
lebih panjang dengan suhu yang relatif lebih rendah.
Lignit mempunyai kandungan volatile matter yang tinggi dan berheating
value rendak tidak di sukai karena akan menghasilkan suhu nyala yang
rendah.

Bitumine adalah jenis batubara yang lebih di sukai pemakaiannya


sebagai bahan bakar dalam tanur putar , kerena mempunyai kandungan
volatile matter yang cukup, tetapi nilai kalorinya relative tinggi. Oleh
karenanya bitumine dapat menghasilkan suhu nyala yang lebih tinggi.

Bitumine dengan kandungan ash yang besar ( akibat adanya impurities


yang biasanya dari clay dan sebagainya ) atau berkandungan air yang lebih
tinggi juga tidak disukai karena hal- hal tersebut akan menurunkan suhu
nyala di samping juga membutuhkan excess air yang lebih besar .

Dari keterangan di atas , maka secara teoritis di perlukan bitumineous


coal yang bebas dari nin combustible material atau menghasilkan suhu yang
pendek dan lebih tinggi di bandingkan dengan fuel oil dan natural gas.

Seperti di ketahui batubara terjadi oleh proses alam , sehingga hal ini
tersebut dalam praktek sukar di laksakan , oleh karenanya perlu di rekayasa
peralatan , yang akan di pergunakan.

Dari uraian tersebut apabila batubara di bakar dalam keaadan butir halus
dalam tanur dapat di simpulkan sebagai berikut. ( table 8, )

Table 8. Hubunga jenis batu bara dan pembakaran

jenis volatilematter nyala suhu keterangan


Tak disukai,
Relative walaupun
antarsit sedikit Lebih panjang
rendah nilai kalor
tinggi
bitumine Cukup pendek tinggi Disukai
subitumine banyak Lebih panjang Relative Tak disukai
rendah
lignit Banyak - Relative Tak disukai
rendah

h. Kandungan air dalam batubara


Air yang terdapat dalam batubara, baik secara inherent
moisture maupun sebagai kecil moisture yang lain, akan
merugikan karena mengurangi panas yang dihasilkan

i. Impurities dalam batubara

Bila proses poencucian batubara tidak baik, akan di temui


impurities missal clay. Dengan adanya impurities inim
tentunya akan mengacaukan jumlah umpan panas ke
dalam tanur putar tersebut.

3. TERJADINYA IMPURITIES

Seperti diketahui batubara yang diambil dari hasil penambangan selalu


mengandung bahan –bahan pengotor ( impurities ) , di ketahui 2 jenis
impurities yaitu inherent impurities dan external impurities.

a. Inherent impurities merupakan pengotor bawaan yang


terdapat di dalam batubara , batubara yang sudah dicuci
bersih ( bentuk bongkah ) , ketika dibakar habis ternyata
masih memberikan sisa abu pengotor bawaan ini terjadi
bersama sama pada waktu terjadi proses pembentukan
batubara (ketika masih berupa gelly ). Pengotor ini dapa
berupa mineral seperti : gypsum, anhidrit , pirit , silica ,
markasut dan dapat pula benbentuk tulang-tulang binatang
(di ketahui ada senyawa posfor dari hasil analisa abu )

b. External inpuritities antara lain terbawanya lapisan penutup .


kejadian ini sangat umum dan sulit di hindarkan khususnya
pada kegiatan tambang terbuka,
BAB 4
KOMPONEN PEMBENTUK BATUBARA

pengetahuan tentang petrologi batubara dirintis oleh


wiliam hutton , ( 1883 ) . analisis petrologi yang di lakukan
dengan menggunakan seyatan tipis awalnya untuk
mengidenfikasi jenis tumbuhan pembentukan batubara .

studi tentang petrologi batubara di perkaya dengan


penemuan stopes (1919) dan thiessen (1920) . stopes
mempergunakan microskop untuk mendukung hasil
pemerian . stopes dan thiesen sama –sama menggunakan
teknik sayatan tipis , tetapi stopes pada akhirnya
menggunakan sinar pantul .

pada tahun 1930 di perkenalkan suatu teknik baru yang


menjadi bagian dari ilmu pertologi batubaram yaitu
pengukuran refleksi maceral dan kegunaannya adalah
sebagai parameter derajat batubara. Pada tahun 1935, stopes
memperkenalkan konsep maceral yang dapat di artikan
sebagai komponen terkecil dari batubara (mineral pada
batuan ) , konsep maceral ini yang tetap di pakai sampai saat
ini , pada waktu itu para ahli mencoba mencari hubungan
antara komposisi petrologi dengan sifat-sifat keteknikan dari
batubara.seperti di ketahui bahwa batubara yang kaya akan
kelompok maceral vitrinit dan exsinit mempunyai perbedaan
nyata di dalam sifat pencairan , peng gasan dan
pembakaran , jika di bandingkan dengan batubara yang kaya
akan inertinit.

Studi tentag batu bara mengalami pengembangan pesat,


sementara sejak tahun 1960-an antara lain di teliti lebih lanjut
tentang :

1. Petrologi gambut , untuk mengetahui jenis tumbuhan


pembentuk

2. Factor-faktor yang mungkin mempengaruhi proses


pembatubaraan

3. Hubungan antara petrologi batubara dengan


sedimentasi

4. Tingkat oksidasi

5. Teknologi batubara seperti pengkokasan , pencairan


penggosongan dan pembakaran

Dengan perkembangannya petrologi batubara , suatu


teknik baru di perkenalkan yaitu : penggunaan sinar
ultra violet dan mikroskop automatic sinar ultraviolet
umumnya di pergunakan pada kelompok lignit yang
kaya hydrogen.

1. KOMPOSISI PETROLOGI BATUBARA

Petrologi batubara adalah ilmu yang mempelajari komponen


organic dan bukan organic pembentuk batubara. Untuk memepelajari
petrologi batubara umumnya di tinjau dalam 2 aspek yaitu jenis dan
drajat batubara . dan perkembangannya di pengaruhi oleh proses
kimia dan biokimia selama proses penggambutan . dengan demikian
jelas bahwa batubara itu bukan suatu benda homogen , melain terdiri
dari beberapa macam komponen dasar , di dalam batubara komponen
ini dinamakan maceral sedang maceral de bagi menjadi 3 kelompok
utama yaitu vitrinit , eksinit, dan inertinit, maceral pembentuk
batubara umumnya berasosiasi satu nama lain dengan perbandingan
berbeda-beda asosiasi ini di kenal sebagai litotipe dan mikrolitotipe
litotipe merupakan pita-pita tipis dalam batubara yang terlihat secara
megaskopis.

Ketiga kelompok maceral ini dapat di bedakan dari morfologi


( kenampakan dibawah mikroskop ), asal kejadian sifat-sifat fisik dan
kimia di punyai
Table 9. ringkasan Marceral batu bara ( modifikasi dari smith, 1981 )

Kelompok mineral Maceral Asal keterangan


kejadian
telovitrinit Kayu dan Kaya oksigen , umum
serat kayu pada batubara, VM =
35% lingkungan reduksi
vitrinit
penurunan cepat ,
permukaan air dalam ,
reaktif S.G= 1,3-1,8.
Sporinit Spora, Kaya oksigen VM = 67%
sarang spora umuym pada oli shale
butiran- dan batuan pembawa
butiran minyak.
Lipto detrinit serbuk sari
Pecahan-
pecahan
eksinit,
Resinit
Resin,
Suberinit lemak,paraff
Alginit in
Eksinit Eksudatinit Cork, kulit
kayu
Sisa
ganggang
Minyak,
fluorinit bitumen
yang keluar
selama
proses
pembatubar
aan
Lipids,
minyak
inertinit Semifusinit Hasil ubah Kaya karbon VM= 23%
Fusinit (biokimia) penurun lambat ,
Sklerotinit dari kayu permukaan air rendah
Inertodetrinit dan serat- atau bergelombang ,
Mikrinit serat kayu tidak reaktif S.G =
makronit selama 1,5-,2,0
penggambut
an.

Catatan : VM : volatile matter

SG : specific gravity

Untuk batubara Indonesia yang umumnya yang berderajat subbitumine


masih dapat menggunakan klasifikasi ini , clarain dan vitrain adalah litotipe
yang umum pada batubara Indonesia (dauly, 1985 ) pemerian

Table litotipe batubara ( modifikasi dari stopes 1919 )

litotie Keterangan Kenampakan pd


microskop
Abu-abu hitam Durit ( kaya akan eksinit
kecoklatan , permukaan dan iner tinit
durain
kasar , kilap berminyak
( greasy )
Hitam atau abu2 hitam Fusit ( kaya akan
Fusain kilap sutra, berserabut , fusinit )
gampang di remes ,
Lapisan –lapisan tipis Klarit dan sedikit vitrit
yang cemerlang dan ( kaya akan vitrit dan
klarain
buram ( < 3mm ) eksinit ), batuan
pembawa minyak.
Berbentuk lapisan atau Vitrit dan sedikit klarit
lensa , ketebalan ( kaya dengan vitrianit
Vitrain
berkisar 3-5 mm pecah
dengan sisitim kubik
Secara megaskopis dapat memberi gambaran komposisi maceral batubara
tersebut, mikrolitotipe ( menurut the international comite for coal petrologi ,
1963 ) adalah suatu asosiasi maceral ( terlihat di bawah mikroskop ) dengan
ketebalan minimum 50 mm , ketiga kelompok utama mikrolitotipe di tandai
dengan 1- maceral , 2- maceral , 3- maceral tergantung apakah asosiasi
maceral itu sendiri dari 1,2 dan 3 kelompok maceral .

Analisa mikrolilotipe dapat memberikan gambaran mengenai tekstur


batubara , jika ada dua batubara yang mempunyai kandungan vitrinit
hamper sama m tetapi yang satu (1 ) kandungan vitrinitnya lebih tinggi dari
yang lain ( II ) . maka dapat di simpulkan bahwa vitrinit yang tebentuk pada
batubara satu merupakan pita-pita tabal . data ini sangat di perlukan dalam
perencanaan preparasi batubara tersebut. Ukuran internitit yang di peroleh
sangat bermanfaat di dalam proses pengokasan.selain ketiga kelompok
maceral tersebut diatas , batubara juga mengandung zat bukan organic yang
di sebut mineral matter.

Mikrolitotipe
Vitrit Vitrinit > 95%
1. Maceral Liptit Liptinit > 95%
inertit Inertinit > 95%
Klarit Vitrinit + liptinit > 95%
Durit Vitrinit + inertinit >
Vitrinetit 95%
2. maceral Liptinit + inertinit
>95%

Duroklarit Vitrinit > liptinit dan


Klarodurit inertit
Vitrinertolip Inertit > vitrinit dan
Tinit liptinit
3. maceral
Hitam, kilap sutra, Liptinit vitrinit dan
berserabut, mudah di inertinit
remas
Kaya akan fusinit
Matter ( berhubungan langsung dengan abu batubara ) umumnya terbentuk
sebagai material-material halus menyebar pada batubara atau terkumpul
membentuk lapisan-lapisan tipis.

2. DRAJAT BATUBARA

Drajat batubara adalah posisi batubara pada seri klasifikasi mulai


dari gambut sampai antarsit, perkembangannya sangat di pengaruhi
oleh temperature , tekanan dan waktu ( lopatin , 1971 : bostick, 1973 )
. banyak parameter yang telah di pergunakan penentuan derajat
batubara ( crock, 1983 ) , salah satu di antaranya adalah refleksi
vitrinit . cara ini belum di kenal begitu di Indonesia , dan telah
berkembang pesat di amerika, Australia, jerman, terutama pada
perusahaan- perusahaan yang bergerak dalam eksplorasi minyak dan
gas. Semua jenis maceral dapat diukur refleksinya, tetapi kelompok
vitrinit adalah yang umum di pilih , kelompok ini cenderung terbentuk
sebagai pecahan-pecahan kasar dan homogen , merupakan kelompok
meceral utama pada kebanyakan batubara dan menunjukan korelasi
yang bagus dengan parameter lain yang di pakai sebagai derajat
batubara . dengan cara refleksi vitrinit ini, pengukuran dapat di
lakukan dengan singkat dan pasti.
GAMBAR PEMBENTUKAN BATUBARA
Skema pembentukan batu bara

Cekungan pengendapan batubara 1


Gambar; Cekungan pengendapan batubara di Indonesia

Gambar; Produsen utama batubara


lignit
Sub- bituminous-anthracite

KATA PENGANTAR

Fosil tumbuhan atau lebih dikenal dengan nama batubara dan gambut
merupakan bahan galian organic padat yang terdapat cukup banyak di
Indonesia . sebelum perang dunia kedua meletus, batubara merupakan
bahan bakar utama, hal ini dapat di lihat bahwa kapal laut, kereta api dan
mesin –mesin industry di gerakan dengan bahan bakar batubara ,

Sebelum perang dunia kedua selesai peranan batubara tergeser oleh


minyak , yang pada saat itu mulai di dapatkan baik di daratan maupun di
lepas pantai . tersedianya minyak yang melimpah mengakibatkan
keberadaan tambang batubara mulai dilupakan diikuti dengan terjadinya
revolusi industry dan di ciptakannya mesin dengan bahan bakar minyak
bumi.

berkurangnya persediaan minyak yang berhasil di produksi oleh Negara-


negara timur tengah ,sedang permintaan minyak sebagai bahan bakar di
Negara industry semakin meningkat . hal tersebut Krisis minyak sebagai
akibat terjadinya perang teluk pada tahun 1979 menyebabkan
mengakibatkan kenaikan harga minyak sehingga untuk mengimbanginya
orang menengok lagi ke batubara sebagai bahan bakar alternative yang
sudah lama di lupakan . sebagai tindak lanjut Negara-negara penghasil batu
bara mulai aktif kembali melakukan eksplorasi batubara guna mendapatkan
deposit batubara yang baru di samping meningkatkan eksploitasi pada
deposit-deposit batubara yang telah di ketahui.

DAFTAR ISI

HALAMA
JUDUL………………………………………………………………………………
…………………… i

KATA
PENGANTAR………………………………………………………………………
……………………….ii

DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………………
…………………… iii---------------------------------------------------------------

BAB 1 . PENDAHULUAN
……………………………………………………………………………………
1
1. Peranan batubara di
Indonesia…………………………………………………………………
1

BAB 2. CARA TERBENTUKNYA


BATUBARA……………………………………………………………2

1. Tempat terbentuknya
batubara…………………………………………………………………2

2. Factor yang
berpengaruh………………………………………………………………
………… 3

3. Terbentuknya lapisan batubara


tebal…………………………………………………………6

4. Reaksi pembentukan
batubara………………………………………………………………… 7

5. Bentuk lapisan batubara

BAB 3 SIFAT UMUM


BATUBARA………………………………………………………………………
… 11

1. Jenis
batubara……………………………………………………………………
………………… 12

2. Sifat
batubara……………………………………………………………………
……………………13

3. Terjadinya
impurities…………………………………………………………………
……………18
BAB 4 KOMPONEN PEMBENTUKAN
BATUBARA…………………………………………………19

1. Komposisi petrologi
batubara………………………………………………………………
20

2. Derajat
batubara……………………………………………………………………
……………… 24

BAB 5 LAMPIRAN
GAMBAR……………………………………………………………………………
… 25

 Skema pembentukan
batubara………………………………………………………25

 Cekungan
pengendapan………………………………………………………
…………26

 Lignit…………………………………………………………………
……………………………27

LAPORAN
GANESA BATU BARA
Disusun oleh :
DEKY
NPM: 08.11.108.701602.000273

UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN
TENGGARONG