Anda di halaman 1dari 13

A.

Taksonomi Taksonomi dari cacing namatoda adalah: Filum Kelas Ordo : Nemathelminthes : Nematoda : Strongylorida, rhabditorida, ascaridorida, spirurorida, camallanorida,

dorylaimorida, dioctophymatorida Famili : Trichostrongylidae, ancylostomatidae, rhabditidae, strongylidae, cephalobidae, syngamidae, strongyloididae, metastrongilidae,

ascarididae, filariidae, dll Genus : Trichostrongylus, strongyloides, ancylostoma, necator, strongylus,

haemonchus, dipetalonema, dirofilaria, dll Spesies : Trichostrongylus axei, Strongyloides papillosus, Ancylostoma caninum, Necator americanus, Strongylus equinus, Haemonchus contortus, dll

Dipetalonema

reconditum,

Dirofilaria

immitis,

B. Morfologi Umum Nematoda merupakan anggota dari filum nematoda. Mereka mempunyai saluran usus dan rongga badan, tetapi rongga badan tersebut dilapisi dengan selaput selular sehingga disebut pseudosel atau pseudoseloma. Nematoda berbentuk bulat pada potongan melintang, tidak bersegmen, dan ditutupi oleh kutikula yang disekresi oleh lapisan sel langsung dibawahnya, hipodermis. Kutikula terdiri dari sejumlah lapisan dan sedikitnya terdiri dari 5 protein yang berbeda. Di bawahnya adalah hipodermis, suatu tabung tipis dengan empat penebalan longitudinal, korda yang mengandung inti sel hipodermal, di antara tiap-tiap korda terdapat lapangan interkordal atau daerah interkordal. Lapisan berikutnya setelah hipodermis di daerah interkordal ini terdapat lapisan otot somatik. Otot ini lebih kurang berbentuk kumparan dan terletak sepanjang cacing, salah satu tepinya melekat pada hipodermis. Serabut-serabut otot terletak sepanjang tepi korda ini dan pada beberapa kasus, juga terdapat sepanjang bagian dari sisi-sisinya; sisa dari sel otot diisi oleh sarkoplasma dan mengandung inti. Terdapat juga otot khusus yang melekat pada alat-alat kopulasi, esophagus dan lain sebagainya. Saluran pencenaan merupakan tabung lurus panjang. Terdapat sebuah mulut pada ujung anterior cacing. Mulut ini dikelilingi oleh bibir. Jumlah bibir yang primitif adalah 6, dua subdorsal, dua lateral, dan dua suventral. Walaupun demikian, pada beberapa nematoda terjadi fusi sehingga terdapat tiga bibir (satu dorsal dan dua subventral), dan bibir (lateral)

atau tanpa bibir. Pada nematoda lain bibir diganti dengan 6 hingga 40 papila membentuk corona radiata atau mahkota daun. Setelah lubang mulut sampailah pada stoma atau rongga bukal, yang dilapisi oleh kutikula, dan setelah itu adalah esophagus, juga dilapisi kutikula. Lumen dari stoma kurang lebih bulat pada potongan melintang, sedangkan esophagus berbentuk triradiata, salah satu jarinya mengarah ke ventral. Terdapat empat tipe esophagus, yang paling primitif adalah esophagus rabditiform yang tersusun dari satu korpus di anterior (sering terbagi menjadi dua bagian, satu prokorpus yang anterior dan satu metakorpus yang posterior), satu ismus di tengah, dan satu bulbus di posterior. Esophagus bentuk kedua adalah strongiloform; mempunyai satu bulbus di posterior, dan satu korpus di anterior, tetapi tidak ada ismus. Bentuk ketiga adalah filariform; bentuk ini adalah silinder yang uniform dan sempit. Bentuk keempat adalah trikurida; bentuk ini tersusun dari jajaran sel-sel (stikosit) yang disebut stikosoma, yang sebagian atau seluruh hidupnya menutupi esophagus; lumennya tidak berbentu segitiga, tetapi agak kempis. Tiga bentuk pertama esophagus tersebut di atas berurat daging, sedangkan yang keempat tidak. Sebagai tambahan, bentuk keempat esophagus tadi hanya ditemukan dalam bentuk nematoda kelas Adenophorasida. Di posterior dari esophagus terdapat katup esopagointestinal yang juga dilapisi oleh kutikula, dan di poeteriornya adalah intestinum atau mesenteron. Ini merupakan tabung lurus dengan lumen yang kurang lebih sirkuler pada potongan melintang. Intestinum tersebur terdiri dari lapis tunggal dari 18 atau 20 sampai kira-kira 1 juta sel, bergantung dari jenis cacing. Sisa yang menghadap ke lumen setiap sel mempunyai lapis mikrovili yang diduga mempunyai fungsi penyerapan. Sitoplasma sel usus terdiri dari sejumlah besar sferokristal yang mungkin tersusun dari xantina, beta seng sulfida, atau bahan lain adalah cadangan makanan. Sekum mungkin ada atau tidak ada, bergantung dari jenis nematoda. Apabila ada, biasanya sekum lebih di anterior sedangkan pada mamalia di posterior. Di posterior dari usus cacing betina terdapat rektum dan pada yang jantan kloaka. Rektum atau kloaka dilapisi oleh kutikula, dan terbuka keluar melalui anus. Bagian tubuh disebelah posterior anus disebut ekor. Sistem saraf terdiri dari cincin saraf yang mengelilingi ismus esopagus dan yang tersusun dari sejumlah ganglia dan saraf. Dari cincin saraf terdapat enam batang saraf berjalan ke anterior dan empat ke posterior. Saraf yang ke posterior terdapat di dalam empat korda, yang dorsal dan ventral masing-masing dibentuk oleh gabungan dua dari enam batang

saraf primitif. Di samping itu terdapat ganglia lain, terutama pada saraf ventral; terdapat hubungan silang antara batang-batang saraf; dan terdapat pula saraf khusus yang menuju ke papila, seta, kemoseptor dan sebagainya. Dijumpai adanya dua kemoseptor anterior, biasanya seperti kantung, amfida dan juga dua kemoseptor posterior yang agak serupa, fasmida. Nematoda dibagi atas dua kelas; pembagian ini dulunya berdasarkan ada atau tidaknya fasmida ini, tetapi pembagian demikian tidak praktis karena fasmida sangat sulit atau mustahil terlihat pada cacing dewasa, bahkan mungkin mereka tidak ada. Sistem ekskresi berupa ekskresi maupun osmoregulasi. Dalam kelas yang mencakup kebanyakan nematoda parasit, Secernentasida, sistem ekskresi terdiri dari saluran-saluran lateral yang berjalan dalam korda lateral, satu atau dua kelenjar ekskresi atau reneta, satu saluran ekskresi ventral dan satu lubang ekskresi yang terbuka ke luar disebelah ventral esopagus. Mungkin terdapat atau tidak terdapat ampula kontraktil pada saluran ekskresi. Dalam kelas nematoda yang lain, Adenophorasida, tidak ada saluran lateral tetapi hanya ada satu sel kelenjar ekskresi ventral dan satu lubang ekskresi.

C. Morfologi Jantan dan Betina Jenis kelamin pada kebanyakan nematoda terpisah. Sistem reproduksi jantan terdiri dari satu kadang-kadang dua testis tubuler. Dari setiap testis muncul vas eferen menuju vesikulum seminal, sebagai tempat penyimpanan sperma. Walaupun demikian, bisanya kedua organ ini tidak ada, dan vas deferen keluar dari testis langsungke kloaka. Dinding sebagian vas deferen kadang-kadang bemodifikasi berfungsi untuk sekresi. Kadang-kadang terdapat lubang yang masuk ke bagian ini yang berasal dari kelenjar ejakulator (yang membentuk semen adesif yang digunakan pada saat kopulasi) dan kelenjar kloaka (yang mensekresi zat yang tidak diketahui). Vas deferen biasanya masuk ke dalam kloaka dari sisi ventral. Di sebelah dorsal kloaka terdapat sebuah kantung, kantung spikulum, yang berisi dua spikula (atau satu atau tidak ada sama sekali) tersusun dari kutikulin tebal kekuningan. Alat ini digunakan oleh nematoda untuk kopulasi dan oleh ahli taksonomi untuk membedakan jenis nematoda. Beberapa nematoda juga mempunyai gubernakulum kutikuler yang sedikit atau banyak bersklera terletak di dorsal dari spikulum, dan sedikit nematoda mempunyai struktur kutikuler bersklera lain. Telamon, yang terletak pada dinding ventral dan lateral kloaka. Spikulum adalah padat, dan sperma tidak melaluinya. Pada saat kopulasi spikulum dimasukkan ke dalam vagina cacing betina, dan diduga membuka bibir sedemikian rupa

sehingga sperma dapat lewat di antara bibir tersebut. Gubernakulum dan telamon membantu mengarahkan spikulum. Terdapat sejumlah papila yang kadang-kadang bertangkai, mengelilingi anus. Pola susunan papila ini sering digunakan untuk membedakan nematoda. Terdapat dua tipe ekor cacing jantan. Salah satu diantaranya, ala kaudal (sayap dari kutikula sepanjang sisi cacing) tidak begitu melebar, sedangkan tipe yang lain meluas membentuk bursa. Organ ini tersusun dari dua lobus lateral berisi sejumlah jari-jari (papila-papila kaudal diperkuat oleh jaringan otot). Juga kadang-kadang terdapatsatu lobus dorsal. Struktur jari-jari juga berguna untuk mengidentifikasi nematoda. Bursa tersebut berguna untuk menggenggam cacing betina selama kopulasi. Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari dua (kadang-kadang satu) ovarium tubuler, masing-masing disertai oviduk yang menuju uterus. Bagian dari uterus setelah oviduk dapat meluas setelah membentuk reseptakulum seminal untuk menyimpan sperma. Dari dua uterus melanjutkan sebagai vagina ventral tunggal, yang membuka keluar melalui vulva. Vagina kadang-kadang terbagi dua, satu vagina vera di distal atau vagina sejati, dan satu vagina uterina, di proksimal. Sebagai tambahan kadang-kadang terdapat ovejektor, tersusun dari vagina melulu atau vagina ditambah sebagian uterus. Kadang-kadang dapat ditemukan katup pada vulva. Vagina dilapisi kutikula, uturus dengan epitel squamosa dan oviduk dengan epitel kolumner tinggi.

D. Habitat/Tempat Tinggal Terdapat sekitar 10.000 jenis nematoda yang hidup didalam segala jenis habitat mulai dari tanah, air tawar dan air asin sampai tanaman dan hewan.

E. Siklus Hidup Siklus hidup nematoda mengikuti pola standar terdiri dari telur, empat stadium larva, dan dewasa. Larva kadang-kadang disebut juvenil karena mereka mirip yang dewasa, yakni mereka berbentuk cacing juga. Menyilih (ekdisis) terjadi setelah setiap stadium larva. Telur kadang-kadang menetas pada saat larva berkembang didalamnya, dengan demikian stadium infektif mungkin telur atau mungkin larva, bergantung kepada jenis nematoda. Apabila stadium infektif adalah larva, biasanya larva tersebut stadium ketiga (L-3). Jika stadium infektif adalah telur, larva yang dikandung biasanya larva tersebut stadium kedua (L-2). Nematoda kadang-kadang mempunyai induk semang antara, bergantung kepada jenisnya. Jika tidak terdapat induk semang antara, siklus hidup disebut langsung, sedangkan jika ada, disebut tidak langsung. Larva yang infektif dapat berselubung. Pada nematoda-nematoda yang larvanya berselubung, larva tersebut biasanya stadium ketiga, dan selubungnya adalah pelepasan kutikula larva kedua yang semua lubang yang ada telah tertutup. Oleh karena itu larva yang infektif tidak dapat makan, tetapi harus hidup dari cadangan makanan didalam selsel ususnya. Larva infektif dapat menginfeksi induk semang sejati dengan cara termakan atau aktif menembus kulit. Sekali berapa didalam induk semang sejati, mereka segera menetap di dalam lokasi akhir dan berkembang menjadi stadium dewasa, atau tergantung jenisnya, mereka mungkin bermigrasi kemana-mana di seluruh tubuhnya. Fase kritis siklus hidup nematoda adalah fase pada waktu penularan dari satu induk semang ke induk semang yang lain. Ini terbukti bahwa nematoda meletakkan begitu banyak telur tetapi jumlah nematoda di dunia tidak menunjukkan pertambahan bahaya penularan yang cukup besar. Umumnya, nematoda tanpa induk semang antara lebih banyak dibanding yang dengan induk semang, meskipun hal ini terdapat variasi. Setiap faktor lingkungan yang mempengaruhi satu induk semang antara atau nematoda stadium hidup bebas mempengaruhi pada penularan nematoda.

F. Jenis Pembagian I.

Nematoda Pada Babi ASCARIS SUUM

Taksonomi Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Nematohelminthes : Nematoda : Ascaridoria : Ascarididae : Ascaris : Ascaris suum

Morfologi Cacing Ascaris suum berbentuk bulat panjang, memiliki kutikula yang tebal serta memiliki tiga buah bibir pada bagian mulutnya. Dua buah bibirnya terletak pada bagian dorsal. Masing-masing bibir dilengkapi dengan papillae dibagian lateral dan subventral dan dilengkapi pula dengan sederetan gigi pada permukaan sebelah dalam. Ukuran panjang tubuh cacing jantanberkisar antara 15-25 cm dengan diameter penampang lintang 3 mm. Sedangkan cacing betina dapat mencapai panjang 41 cm dengan diameter penampang lintangnya 5 mm.

Siklus Hidup o Langsung o Telur bersama feses (infektif 13-18 hari/30-40 hari dengan suhu 18-20 derajat celcius) tertelan telur infektif menetas di dalam usus. Moltinglarva stadium II. Kemudian menembus dinding ususHepar (melalui portal hepatik) kemudian Moltinglarva stadium III (4-5 hari) Jantung (melalui aliran darah) pulmo (melalui aliran darah) kemudian Moltinglarva stadium IV (5-6 hari) alveolibronchiolibronchitracheadibatukkantertelanusus halusdewasa o Larva stadium IV terdapat di usus halus 2-3 minggu setelah infeksi.

II.

METASTRONGYLUS APRI

Taksonomi Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Nematohelminthes : Secernentasida : Strongylorida : Metastrongyloridae : Metastrongylus : Metastrongylus apri

Morfologi Cacing ini merupakan cacing paru-paru pada babi. Terdapat dua bibir lateral berlobus tiga dan tersebar adalah lobus yang ditengah. Kapsul bukal sangat kecil, dengan spikula pada yang jantan panjang dan lembut, dengan sayap garis melintang. Ekor berbentuk kerucut. Vulva dekat dengan anus. Uterus paralel. Cacing ini oviparosa. Cacing jantan panjang 1126mm dan cacing betina 28-60 mm. Telur berukuran 45-57 X 38-41 mikron dan telur berembrio ketika dikeluarkan.

Siklus Hidup Siklus hidup cacing ini secara tidak langsung yaitu melalui induk semang antara. Telur dikeluarkan pada bronkhus dan bronkhiolus, dibatukkan kemudian ditelan dan dikelurkan bersama tinja. Telur ini harus dimakan cacing tanah untuk perkembangan lebih lanjut. Cacing tanah yang dapat berperan sebagai hospes intermidier antara lain : Allobophora chloritica, Denroboena rubida, Eisenia austriaca, E. foitida dan Lumbricus terrestris. Babi terinfeksi dengan jalan memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium 3, kemudian larva

dibebaskan didalam usus halus babi, menembus usus halus menuju limfaglandula mesenterika melalui sistem limfe. Di tempat tersebut larva menyilih menyilih menjadi larva stadium 4, kemudian melalui sistem limfa dan peredaran darah menuju jantung dan paruparu, menyilih menjadi stadium dewasa.

III.

TRICHINELLA SPIRALIS

Morfologi Cacing dewasa kecil, tetapi sering muncul dalam jumlah besar, larva cacing menyebabkan efek yang serius dengan mengkista pada urat daging. Cacing betina panjangnya 1,4 1,6 mm dan jantan 3-4 mm, ukuran telur 40 x 30 mikron, telur akan menetas dalam uterus cacing betina (viviparosa). Larva ditemukan dalam kista mikroskopis pada urat daging bergaris melintang . yang jantan mempunyai anus yang ditonjolkan dan sembulan berbentuk kerucut disetiap sisi. Tidak mempunyai spikulum dan selubung. Vulva terletak pertengahan esofagus.

Siklus Hidup Apabila kista yang infektif termakan oleh induk semang, maka daging yang mengandung kista tercerna oleh pengaruh enzim pencernaan dan larva cacing akan terbebas. Larva akan masuk kedalam usus halus dan menjadi dewasa kelamin.. kemudian cacing jantan dan betina kawin, setelah kawin cacing jantan segera mati. Cacing betina akan menembus kedalam mukosa usus melalui glandula liberkhun kedalam ruang limfe, disini cacing betina bertelur dan menetas didalam saluran uterus dari cacing. Larva yang dihasilkan masuk saluran limpe, menembus ductus thoracicus, vena cava superior kiri dan kanan jantung, kemudian keperedaran darah yang disebarkan keseluruh tubuh. Penyebaran larva terutama pada urat daging bergaris melintang dan selanjutnya berkembang pada otot maseter, diafragma, inter costae, lidah, larinx dan mata. Kadang-kadang ditemukan pada hati, pankreas dan ginjal. Larva tumbuh sampai berukuran panjang 0,8 1 mm dan diameter 30 mikron (16 hari). Dinding kiste terbentuk setelah 3 bulan dan mulai melingkar dalam kista yang dibentuk oleh jaringan sekitarnya. Otot disekitar mengalami degenerasi dan pengapuran setelah 6-9 bulan, tetapi larva dalam kista tetap hidup untuk beberapa tahun (sampai 11 tahun). Kista akan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam usus induk semang berikutnya bila termakan oleh induk semang tersebut. Daur hidup cacing ini tertutup.

I.

Nematoda Pada Unggas ASCARIDIA GALLI

Taksonomi Phylum Class Family Genus Spesies : Nematohelminthes : Nematoda : Ascarididae : Ascaridia : Ascaridia galli

Morfologi Ascaridia galli merupakan cacing berbentuk silinder, berukuran paling besar pada unggas. Cacingberwarna putih kekuning-kuningan, memiliki tiga buah bibir yang berukuran sama, esofagus berbentuk alat pemukul dan tidak dijumpai adanya bulbus posterior. Cacing jantan panjangnya 5-6 cm dan ekornya mempunyai alae kecil yang dilengkapi dengan sepuluh pasang papillae yang sebagian besar pendek dan tebal. Mempunyai sucker (batil isap ) precloaka dan berbentuk bundar dengan tepi cutikuler yang tebal. Spikulum tidak sama besarnya, tetapi sama panjang berukuran 1-2,4 mm dan tidak ada gubernakulum. Cacing betina dewasa berukuran 7,2 11,6 cm, bagian ekornya memipih kebagian ujung, sedangkan lubang kelamin terletak lebih kearah depan (pertengahan tubuh). Telur cacing A. galli berbentuk oval dengan dinding yang halus, licin, tidak bersegmen dan belum berkembang saat dikeluarkan. Telur cacing berukuran 73 92 X 45-57 mikron. Cacing betina dewasa mengeluarkan telur sebanyak 250.000 butir setiap hari.

Siklus Hidup Telur cacing keluar bersama tinja hospes definitif terinfeksi pada saat defikasi. Di alam luar telur akan mengalami perkembangan yaitu di dalam telur akan terbentuk larva, telur infeksius (telur dengan larva stadium II) akan dicapai setelah kira-kira 10 hari dan sangat tahan terhadap pengaruh luar, dan bahkan dapat bertahan selama tiga bulan pada tempat yang teduh tetapi cepat terbunuh dalam kekeringan, kepanasan dan terkena sinar matahari langsung. Unggas terinfeksi bila makan/minum yang tercemar telur infektif atau termakannya cacing tanah yang sebelumnya menelan telur cacing infektif, transmisi dapat terjadi secara mekanik langsung ke dalam usus hospes definif. Setelah telur infeksius tertelan, didalam saluran pencernaan hospes definitif , karena pengaruh enzem pencernaan telur akan menetas

dan terbebaslah larva stadium II. Setelah menetas, larva II akan menetapdidalam lumen usus selama 8 hari dan mengalami ekdisis ( menyilih) menjadi larva III, setelah itu larva III akan masuk kedalam mukosa usus halus sampai hari ke-17 menyilih menjadi larva IV dan akhirnya masuk ke lumen usus dan menjadi dewasa ( 6-8 minggu ).

II. HETERAKIS GALLINARUM Taksonomi Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Nematohelminthes : Nematoda : Ascaridoria : Heterakidae : Heterakis : Heterakis gallinarum

Morfologi Cacing jantan berukuran panjang 7-13 mm. Cacing betina 10-15 mm. Memiliki alae lateralis yang besar, dengan esofagusbulbus yang kuat. Ekor cacing jantan diperlengkapi alae yang besar, sebuah sucker precloaca yang menonjol dan membulat serta 12 pasang papillae. Spikula tidak sama, yang kanan langsing 2 mm, yang kiri memiliki sayap lebar 0,65 0,7 mm. Vulva ditengah-tengah tubuh cacing betina. Telur berdinding tebal, halus dengan ukuran 65-80 u X 35 46 mikron.

Siklus Hidup Telur cacing keluar bersama tinja saat defikasi, kemudian telur cacing diluar tubuh hospes berkembang menjadi stadium II yang infektif setelah 14 hari (270 C), tetapi perkembangan biasanya lebih lama sampai beberapa minggu pada suhu yang lebih rendah. Telur sangat tahan terhadap kondisi lingkungan dan tahan sampai berbulan-bulan. Bila hospes menelan telur infektif, larva menetas dalam usus halus setelah 1-2 jam. Sekitar 4 hari kemudian cacing-cacing muda tersebut berada dalam mukosa caecum dan dapat merusak kelenjar disitu. Didalam kelenjar larva stadium II berada selama 2-5 hari sebelum melanjutkan perkembangan di dalam lumen. Pada 6 hari setelah infeksi menyilih

menjadi stadium III, kemudia pada hari ke-10 menyilih menjadi stadium IV dan pada hari ke15 menjadi dewasa. Periode prepaten adalah 24-30 hari setelah infeksi. Cacing tanah dapat membantu sebagai reservoir (inang paretenik), dimana dalam tubuh cacing tanah parasit berada sebagai larva stadium II. Infeksi terjadi karena memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium II.

III.

SYNGAMUS TRACHEALIS

Taksonomi Phylum Class Ordo Family Genus Spesies Morfologi Speies yang penting Syngamus trachea, dijumpai di dalam trachea mentog, ayam, bebek, angsa dan berbagai burung diseluruh dunia. Berwarna merah tua dan selalu berada dalam keadaan kopulasi. Cacing jantan panjang 2-6 mm, yang betina 5-20 mm. Lubang mulut lebar, tanpa corona radiata. Capsula bucalis bentuk cawan berisi 6-10 gigi-gigi kecil pada dasarnya. Bursa cacing jantan memiliki alur pendek dan kuat. Telur ukurannya 70-100 U X 43-48 mikron, memiliki operculum tebal pada kedua ujung. : Nematohelminthes : Nematoda : Strongylorida : Syngamidae : Syngamus : Syngamus trachealis

Siklus Hidup Telur cacing pada umumnya dibatukkan keatas dan ditelan masuk alat pencernaan, kemudian keluar tubuh bersama tinja. Larva infeksius terbentuk didalam telur setelah keluar dari dalam tubuh. Pada kondisi optimal yaitu kelembaban tinggi dan suhu optimal dibutuhkan waktu 3 hari, pada kondisi lapangan dibutuhkan waktu 1 sampai 2 minggu. Didalam telur larva ekdisis dua kali dan larva infektif dapat menetas dari telur, namun pada umumnya infeksi terjadi dengan menelan telur yang mengandung larva infektif. Larva yang menetas dapat tertelan oleh cacing tanah, siput, kumbang, kutu dan arthropoda lainnya dan mengkista disitu. Arthropoda dan cacing tanah dapat sebagai inang paratenik. Larva yang menetas dari telur, didalam usus akan menembus dinding usus, ikut aliran darah sampai ke paru-paru, dicapai selama 6 jam. Ecdisis berikut terjadi 3 hari setelah infeksi

ecdisis terakhir terjadi hari keempat atau kelima dan cacing muda migrasi dari alveoli ke bronchioli yang lebih besar dan copulasi disini. Trachea dicapai setelah 7 hari dan periode prepaten 17 20 hari setelah infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

D. Levine, N. 1994. Parasitologi Veteriner. Gajah Mada University Press : Yogyakarta Hasna, Q. 2009. Taksonomi Nematoda. http://planthospital.blogspot.com/2012/05/ taksonomi-nematoda.html. Diakses tanggal 13 Mei 2012 Mufti Kamaruddin, dkk. Buku Ajar Parasitologi Veteriner. FKH Unsyiah : Banda Aceh http://www.tinasark.com/images/hookworm.jpg http://sharonapbio-taxonomy.wikispaces.com/file/view/nematode.jpg/50864359/ nematode.jpg