Anda di halaman 1dari 10

MINGGU KE 1

PERANCANGAN ARSITEKTUR BERDASARKAN IKLIM

PENGANTAR Arsitektur Tropis merupakan salah satu cabang ilmu arsitektur, yang mempelajari tentang arsitektur yang berorientasi pada kondisi iklim dan cuaca, pada lokasi di mana massa bangunan atau kelompok bangunan berada, serta dampak, tautan ataupun pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar yang tropis. Bangunan dengan desain arsitektur tropis, memiliki ciri khas atau karakter menyesuaikan dengan kondisi iklim tropis, atau memiliki bentuk tropis. Tetapi dengan adanya perkembangan konsep dan teknologi, maka bangunan dengan konsep atau bentuk modern atau hitech, bias disebut bangunan tropis, hal ini diatasi dengan adanya system sirkulasi udara, ventilasi, bukaan, view dan orientasi bangunan, serta penggunaan material modern/hitech yang tidak merusak lingkungan. Arsitektur Tropis meliputi berbagai macam hal yang menyangkut desain bangunan atau kawasan yang berkarakter bangunan tropis, dengan pengaruh atau dampak terhadap lingkungannya.

Desain bangunan dengan karakter tropis, memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut, yaitu : harus memiliki view dan orientasi bangunan yang sesuai dengan standar tropis (building orientation), menggunakan bahan atau bagian pendukung kenyamanan pada kondisi tropis, seperti; sunshading, sunprotection, sunlouver, memperhatikan standar pengaruh bukaan terhadap lingkungan sekitar(window radiation), serta memiliki karakter atau ciri khas yang mengekpos bangunan sebagai bangunan tropis, dengan penggunaan material ataupun warna-warna yang berbeda.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

Mendefinisikan

kembali

arsitektur

tropis

di

indonesia

Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik menunjang aktivitas yang dilakukannya. Aktivitas manusia yang bervariasi memerlukan kondisi iklim sekitar tertentu yang bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan intensitas cahaya yang cukup; kondisi termis yang mendukung dengan suhu udara pada rentang-nyaman tertentu; dan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan. Karena cukup banyak aktivitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan akibat ketidaksesuaian kondisi iklim luar, manusia membuat bangunan. Dengan bangunan, diharapkan iklim luar yang tidak menunjang aktivitas manusia dapat dimodifikasidiubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai. Usaha manusia untuk mengubah kondisi iklim luar yang tidak sesuai menjadi iklim dalam (bangunan) yang sesuai seringkali tidak seluruhnya tercapai. Dalam banyak kasus, manusia di daerah tropis seringkali gagal menciptakan kondisi termis yang nyaman di dalam bangunan. Ketika berada di dalam bangunan, pengguna bangunan justru seringkali merasakan udara ruang yang panas, sehingga kerap mereka lebih memilih berada di luar bangunan. Pada saat arsitek melakukan tindakan untuk menanggulangi persoalan iklim dalam bangunan yang dirancangnya, ia secara benar mengartikan bahwa bangunan adalah alat untuk memodifikasi iklim. Iklim luar yang tidak sesuai dengan tuntutan penyelenggaraan aktivitas manusia dicoba untuk diubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang sesuai. Para arsitek yang kebetulan hidup, belajar dan berprofesi di negara beriklim sub-tropis, secara sadar atau tidakatau karena aturan membangun setempatkerap melakukan tindakan yang benar. Karya arsitektur yang mereka rancang selalu didasari pertimbangan untuk memecahkan permasalahan iklim setempat yang bersuhu rendah. Bangunan dibuat dengan dinding rangkap yang tebal, dengan penambahan bahan isolasi panas di antara kedua lapisan dinding sehingga panas di dalam bangunan tidak mudah dirambatkan ke udara luar. Meskipun mereka melakukan tindakan perancangan guna mengatasi iklim sub-tropis setempat, karya mereka tidak pernah disebut sebagai karya arsitektur sub-tropis, melainkan sebagai arsitektur Victorian, Georgian dan Tudor; sementara sebagian karya yang lain diklasifikasikan sebagai arsitektur modern (modern architecture), arsitektur pasca-modern (post-modern architecture), arsitektur modern baru (new modern architecture), arsitektur teknologi Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

tinggi (high-tech architecture), dan arsitektur dekonstruksi (deconstruction architecture). Di sini terlihat bahwa arsitektur yang dirancang guna mengatasi masalah iklim setempat tidak selalu diberi sebutan arsitektur iklim tersebut, karena pemecahan problematik iklim merupakan suatu tuntutan mendasar yang 'wajib' dipenuhi oleh suatu karya arsitektur di manapun dia dibangun. Sebutan tertentu pada suatu karya arsitektur hanya diberikan terhadap ciri tertentu karya tersebut yang kehadirannya 'tidak wajib', serta yang kemudian memberi warna atau corak pada arsitektur tersebut. Sebut saja arsitektur yang 'bersih' tanpa embel-embel dekorasi, yang bentuknya tercipta akibat fungsi (form follows function) disebut arsitektur modern. Arsitektur dengan penyelesaian estetika tertentu yang antara lain menyangkut bentuk, ritme dan aksentuasidiklasifikasikan (terutama oleh Charles Jencks) ke dalam berbagai nama, seperti halnya arsitektur pasca-modern, modern baru dan dekonstruksi. Semua karya arsitektur tersebut tidak pernah diberi julukan 'arsitektur sub-tropis' meskipun karya tersebut dirancang di daerah iklim sub-tropis guna mengantisipasi masalah iklim tersebut Kemudian mengapa muncul sebutan arsitektur tropis? Seolah-olah jenis arsitektur ini sepadan dengan julukan bagi arsitektur modern, modern baru dan dekonstruksi. Jenis yang disebut belakangan lebih mengarah pada pemecahan estetika seperti bentuk, ritme dan hirarki ruang. Sementara arsitektur tropis, sebagaimana arsitektur sub-tropis, adalah karya arsitektur yang mencoba memecahkan problematik iklim setempat. Bagaimana problematik iklim tropis tersebut dipecahkan secara desain atau rancangan arsitektur? Jawabannya dapat seribu satu macam. Seperti halnya yang terjadi pada arsitektur sub-tropis, arsitek dapat menjawab dengan warna pasca-modern, dekonstruksi ataupun High-Tech, sehingga pemahaman tentang arsitektur tropis yang selalu beratap lebar ataupun berteras menjadi tidak mutlak lagi. Yang penting apakah rancangan tersebut sanggup mengatasi problematik iklim tropishujan deras, terik radiasi matahari, suhu udara yang relatif tinggi, kelembapan yang tinggi (untuk tropis basah) ataupun kecepatan angin yang relatif rendahsehingga manusia yang semula tidak nyaman berada di alam terbuka, menjadi nyaman ketika berada di dalam bangunan tropis itu. Bangunan dengan atap lebar mungkin hanya mampu mencegah air hujan untuk tidak masuk bangunan, namun belum tentu mampu menurunkan suhu udara yang tinggi dalam bangunan tanpa disertai pemecahan rancangan lain yang tepat. Dengan pemahaman semacam ini, kemungkinan bentuk arsitektur tropis, sebagaimana arsitektur sub-tropis, menjadi sangat terbuka. Ia dapat bercorak atau berwarna apa saja Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

sepanjang bangunan tersebut dapat mengubah kondisi iklim luar yang tidak nyaman, menjadi kondisi yang nyaman bagi manusia yang berada di dalam bangunan itu. Dengan pemahaman semacam ini pula, kriteria arsitektur tropis tidak perlu lagi hanya dilihat dari sekedar 'bentuk' atau estetika bangunan beserta elemen-elemennya, namun lebih kepada kualitas fisik ruang yang ada di dalamnya: suhu ruang rendah, kelembapan relatif tidak terlalu tinggi, pencahayaan alam cukup, pergerakan udara (angin) memadai, terhindar dari hujan, dan terhindar dari terik matahari. Penilaian terhadap baik atau buruknya sebuah karya arsitektur tropis harus diukur secara kuantitatif menurut kriteriakriteria fluktuasi suhu ruang (dalam unit derajat Celcius); fluktuasi kelembapan (dalam unit persen); intensitas cahaya (dalam unit lux); aliran atau kecepatan udara (dalam unit meter per detik); adakah air hujan masuk bangunan; serta adakah terik matahari mengganggu penghuni dalam bangunan. Dalam bangunan yang dirancang menurut kriteria seperti ini, pengguna bangunan dapat merasakan kondisi yang lebih nyaman dibanding ketika mereka berada di alam luar. Penulis menganggap bahwa definisi atau pemahaman tentang arsitektur tropis di Indonesia hingga saat ini cenderung keliru. Arsitektur tropis sering sekali dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan dan diperdebatkan oleh mereka yang memiliki keahlian dalam bidang sejarah atau teori arsitektur. Arsitektur tropis seringkali dilihat dari konteks 'budaya'. Padahal kata 'tropis' tidak ada kaitannya dengan budaya atau kebudayaan, melainkan berkaitan dengan 'iklim'. Pembahasan arsitektur tropis harus didekati dari aspek iklim. Mereka yang mendalami persoalan iklim dalam arsitekturpersoalan yang cenderung dipelajari oleh disiplin ilmu sains bangunan (fisika bangunan)akan dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan terukur secara kuantitatif. Mereka yang dianggap ahli dalam bidang arsitektur tropisKoenigsberger, Givoni, Kukreja, Sodha, Lippsmeier dan Nick Bakermemiliki spesialisasi keilmuan yang berkaitan dengan sains bangunan, bukan ilmu sejarah atau teori arsitektur Kekeliruan pemahaman mengenai arsitektur tropis di Indonesia nampaknya dapat dipahami, karena pengertian arsitektur tropis sering dicampuradukkan dengan pengertian 'arsitektur tradisional' di Indonesia, yang memang secara menonjol selalu dipecahkan secara tropis. Pada masyarakat tradisional, iklim sebagai bagian dari alam begitu dihormati bahkan dikeramatkan, sehingga pertimbangan iklim amat menonjol pada karya arsitektur tersebut. Manusia Indonesia cenderung akan membayangkan bentuk-bentuk arsitektur tradisional Indonesia ketika mendengar istilah arsitektur tropis. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

Dengan bayangan iniyang sebetulnya tidak seluruhnya benarpembicaraan mengenai arsitektur tropis akan selalu diawali. Dari sini pula pemahaman mengenai arsitektur tropis lalu memiliki konteks dengan budaya, yakni kebudayaan tradisional Indonesia. Hanya mereka yang mendalami ilmu sejarah dan teori arsitektur yang mampu berbicara banyak mengenai budaya dalam kaitannya dengan arsitektur, sementara arsitektur tropis (basah) tidak hanya terdapat di Indonesia, akan tetapi di seluruh negara yang beriklim tropis (basah) dengan budaya yang berbeda-beda, sehingga pendekatan arsitektur tropis dari aspek budaya menjadi tidak relevan. Dari uraian di atas, perlu ditekankan kembali bahwa pemecahan rancangan arsitektur tropis (basah) pada akhirnya sangatlah terbuka. Arsitektur tropis dapat berbentuk apa sajatidak harus serupa dengan bentuk-bentuk arsitektur tradisional yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia, sepanjang rancangan bangunan tersebut mengarah pada pemecahan persoalan yang ditimbulkan oleh iklim tropis seperti terik matahari, suhu tinggi, hujan dan kelembapan tinggi. (Tri Harso Karyono)

Sepanjang sejarah bangunan dan arsitektur : menjawab tantangan terhadap iklim Bangunan tradisional dan moderen semua menjawab tantangan iklim Penyelesaian perlindungan angin, orientasi bangunan. Pengetahuan iklim merupakan dasar bagi manusia untuk tinggal, akhirnya menjadi ekspresi untuk rancangannya. Perancangan berdasar iklim adalah satu pendekatan untuk mengurangi biaya energi dalam bangunan. Bangunan merupakan garis pertahanan terhadap tekanan iklim luar. Banyak bangunan yang menggunakan energi alam (natural energi). Dengan energi alam ini, biaya bangunan menjadi murah. Walaupun harus menggunakan system mekanikal untuk kenyamanan, bangunan dengan energi alam harus tetap dipertimbangkan. Teknik penyelesaian melalui jendela, pennerangan atap, rumah kaca, garasi semi terbuka, Kenyamanan fisik yang kita rasakan adalah merupakan keseimbangan energi antara kita sendiri dan permukaan fisik bangunan sekitar kita. Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

Perpindahan kalor antara tubuh kita dengan lingkunganya melibatkan proses yang kompleks. Perpindahan kalor penguapan. Istilah perancangan berdasarkan iklim digunakan untuk menggambarkan teknik dalam bangunan atau konstruksi yang berfungsi untuk mengurangi biaya pemanasan atau pendinginan dengan menggunakan aliran energi alami untuk mencapai kenyamanan manusia dalam bangunan. Beberapa konsep yang digunakan dalam perancangan berdasarkan iklim: 1. pemecah angin 2. tanaman dan air 3. ruang dalam / luar 4. penutup atap tanah 5. dinding dan jendela 6. kulit bangunan 7. pelindung matahari 8. ventilasi alami : digunakan pada musim dingin : digunakan pada musim panas : digunakan pada musim dingin dan panas : digunakan pada musim dingin dan panas : digunakan pada musim dingin : digunakan pada musim dingin : digunakan pada musim panas : digunakan pada musim panas melalui empat mekanisme: konduksi, konveksi, radiasi dan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

Pada zaman yunani kuno kata tropikos berarti garis balik kini pengertian ini berlaku untuk daerah antara kedua garis balik ini yang meliputi 40% dari luas seluruh permukaan bumi. Garis-garis ini adalah garis lintang 23027 utara dan selatan garis lintang utara 23027 adalah garis balik cancer disini matahari pada tanggal 22 juni mencapai posisi tegak lurus garis lintang selatan 23027adalah garis balik Tropis capricom,pembagian bumi dengan garis-garis tegak ini tidak mempertimbangkan batas-batas daerah iklim yang sebenarnya.karena itu sekarang didefinisikan sebagai daerah yang terletak di antara garis isotem 200C di sebelah bumi utara dan selatan. Pembagian daerah iklim dan ciri-cirinya akan di bahas dalam bab ini.kondisi iklim dan geografis dapt di bagi dalam dua kategori: daerah tropis dan kering padang pasir sangat kering hampir tidak mengenal hujan kalaupun hujan sangatlah tidak teratur.daerah ini pada siang hari memiliki temperatur dan potensi penguapan yang tinggi sungai-sungai kering dan aliran air menunjukkan bahwa kadangkadang turun hujan yang sangat lebat.tetapi karena airnya terlalu cepat mengalir sehingga hampir tidak bisa di manfaatkan bagi kehidupan manusia.tumbuhan yang rendah dan juga pepohonan daerah ini. Daerah tropis dan lembab Dengan lembab mencakup savana lembab daerah dengan angin musim dan hutan hujan tropis. Daerah savana lembab dan daerah bermusim hujan memiliki satu atau dua musim hujan dengan batas yang jelastumbuhan di daerah ini lebat dan mmpu melewati musim kering panjang tanpa akibat yang berarti. Iklim F. Junghuhn Junghuhn mengklasifikasi daerah iklim di Pulau Jawa secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, seperti yang terlihat pada gambar 14. Pembagian daerah iklim tersebut adalah: Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR rendah kurus yang tumbuh jarang merupakan ciri-ciri

Bagian-Bagian Bangunan Tropis 1. View dan Orientasi Bangunan Dari contoh-contoh study kasus desain bangunan tropis modern yang ada di Indonesia pada saat ini, maka dapat disimpulkan ciri-ciri view dan orientasi bangunan tropis adalah sebagai berikut: Menghadap pada arah dimana sinar matahari diusahakan dapat memasuki ruangan pada pagi hingga sore hari. Ruangan dengan fungsi public atau pusat aktifitas berada pada kawasan yang mendapat cahaya matahari langsung, dengan suatu system pelindung yang menambah kenyamanan manusia. 2. Bahan-bahan atau bagian pendukung kenyamanan pada kondisi tropis Sun Protection Sun protection adalah suatu bagian memprotec atau menjaga bagian dalam bangunan atau interior, dengan suatu system atau bahan, yang dapat menambah kenyamanan . Sun Shading Sun Shading adalah suatu bagian penyaring sinar matahari pada bukaan atau ventilasi ruangan, yang biasanya terdapat pada material kaca atau penyangga ventilasi bangunan. 3. Window Radiation (radiasi jendela / bukaan) Window radiation maksudnya pengaruh material atau system pada bukaan atau jendela, baik terhadap lingkungan interior bangunan, ataupun lingkungan luar / eksterior bangunan. 4. Karakter khusus lain bangunan tropis Bangunan tropis memiliki suatu system penggunaan material ataupun warna yang berbeda dari bangunan modern lainnya, hal ini tergantung konsep bangunan, fungsi bangunan, lokasi site bangunan, serta tujuan bangunan di desain. Membangun rumah bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan menyenangkan untuk tinggal dan terlindung dari iklim ekstrim.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

Udara merupakan salah satu bagian dalam yang penting sehingga ia harus bersih dari polusi dan memiliki suhu serta kelembaban yang sesuai dengan penghuninya. (Battan, 1983, p.171) Untuk mencapai dan menjaga kondisi optimum secara efektif, perlu untuk mengetahui krakteristik iklim dari suatu wilayah. Diantara faktor alam yang perlu diketahui adlah cahaya matahari, radiasi matahari, suhu udara, angin , hujan, dan salju. (Battan, 1983, p.171) Apabila suhu udara panas, seperti di daerah tropis, atau dingin seperti di daerah kutub, pembangkit tenaga adalah perlu untuk mendinginkan atau untuk memanaskan udara sehingga dapat nyaman. (Battan, 1983, Apabila suhu udara luar moderate, angin sepoi-sepoi dapat menguntungkan dan dapat digunakan untuk mengdarai bangunan. Udara yang bertiu melalui struktur dapat membuang bau udara, asap, membantu penguapan dan mendinginkan lingkungan dalam dan suhu struktur bangunan. Penting untuk merancangan adalah suhu udara dan kelembaban rata-rata harian dan bulanan, suhu udara rata-rata maksimum dan minimum harian dan bulanan, dan suhu udara ektrim harian dan bulanan Iklim harus selalu dipertimbangkan ketika sedang melakukan keseluruhan konsep proyek , pada rancangan denah dan orientasi. Arsitektur tropis Tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam perancangan bangunan di daerah tropis: Manusia, dan kebutuhannya, iklim dan pengaruhnya terhadap kesehatan, bahan dan makna bangunan. (i) Manusia dan kebutuhannya

Pentingnya kaebiasaan setempat dan budaya yang mempengaruhi perancangan rumah.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR

(ii)

Iklim tropis Perbedaan antara iklim tropis dan iklim sedang, bertingkat dengan bervariasinya kombinasi antara matahari dan awan, hujan dan pengaruhnya tehadap kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Dalam satu kasus suhu dibawah kalor darah, namun badan dapat dipanaskan dengan makanan, gerakand an selter.

Dalam kasus lain, suhu dekat atau di atas kalor darah, dan dibawah awan udara jenuh tidak membawa pengaruh terhadap permukaan kulit.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Dr. Ir. M. Syarif Hidayat M.Arch SEMINAR ARSITEKTUR