Anda di halaman 1dari 30

EKOLOGI KELUARGA SEBAGAI KONTEKS DALAM PERKEMBANGAN

MANUSIA:
Sudut pandang Penelitian
Tujuan artikel ini adalah untuk mendokumentasikan dan menggambarkan rangkaian baris
penelitian tentang pengaruh eksternal yang mempengaruhi kapasitas keluarga untuk mendorong
perkembangan kesehatan anak mereka. Fokusnya berbeda dari kebanyakan studi mengenai
keluarga sebagai konteks pembangunan manusia, karena mayoritas telah berkonsentrasi pada
proses intrafamilial dari interaksi orangtua-anak, sebuah fakta yang tercermin dalam tinjauan
otoritatif Maccoby dan Martin (1983) baru-baru ini terhadap mengenai

penelitian mengenai

peran keluarga dalam perkembangan. Sebaliknya, fokus pada analisis terbaru dianggap telah
dihilangkan. Pertanyaan dalam penelitian adalah : bagaiamana proses intrafamilial dipengaruhi
oleh kondisi ekstrafamilial?
Parameter Paradigma
Dalam menelusuri evolusi model penelitian dalam ilmu perkembangan. Bronfenbrennet dan
Crouter (1983) membedakan serangkaian paradigma ilmiah yang semakin canggih untuk
menyelidiki dampak lingkungan terhadap perkembangan. Paradigma ini menyediakan kerangka
kerja yang berguna untuk mengatur dan menganalisa penelitian pada topik ulasan ini. Pada
tingkat yang paling umum. model penelitian mengalami perubahan secara stimuktan dalam dua
dimensi. Sebagaimana yang berlaku untuk subjek, pertama berkaitan, dengan struktur sistem
eksternal yang mempengaruhi keluarga dan cara di mana mereka menggunakan pengaruh
mereka. Dimensi kedua berkaitan dengan tingkat ketegasan dan diferensiasi yang diberikan
kepada proses intrafamilial yang dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.
Sistem Eksternal yang Mempengaruhi keluarga
Paradigma penelitian dapat dibedakan dalam tiga lingkungan sistem berbeda yang dapat
berfungsi sebagai sumber pengaruh luar terhadap keluarga.
Model Mesosystem. Meskipun keluarga adalah konteks pokok terjadinya pembangunan
manusia, itu hanyalah salah satu dari beberapa pengaturan di mana proses perkembangan dapat
terjadi. Selain itu, proses yang beroperasi dalam pengaturan yang berbeda bersifat tidak
independen satu sama lain atau mempengaruhi satu sama lain. Salah satu contoh umum, kejadian

di rumah dapat mempengaruhi perkembangan anak di sekolah, dan sebaliknya. Kejelasan dari
fakta ini, mulai dipertanyakan ketika peneliti di bidang perkembangan mulai menggunakan
desain penelitian yang dapat mengidentifikasi pengaruh yang bekerja di kedua arah, diantara
aturan utama terjadinya perkembangan manusia. Istelah mesosystem telah digunakan untuk
mengkarakterisasi model analitik semacam ini (Bronfenbren-ner, 1979). Hasil penelitian ini
menggunakan jenis paradigma dalam kaitannya dengan keluarga yang dirangkum di bawah ini,
pada bagian "Model Mesosystem."
Model Exosystem. Perkembangan psikologis anak-anak dalam keluarga dipengaruhi tidak hanya
oleh apa yang terjadi di lingkungan lain di mana anak-anak menghabiskan waktu mereka, tetapi
juga dengan apa yang terjadi dalam pengaturan lain di mana orang tua mereka menjalani
kehidupannya, terutama di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak - dunia kerja
orangtua-. Bagian lain yang anak-anak cenderung untuk memiliki akses terbatas adalah lingkaran
teman-teman orang tua dan kenalan jaringan sosial mereka. Lingkungan "eksternal" untuk orang
yang berkembang disebut sebagai "exosystems." Penemuan dalam penyelidikan menggunakan
desain exosystem akan ditinja pada bagian "Model Exosystem."
Model Chronosystem. Dalam ilmu perkembangan secara tradisional, perjalanan waktu telah
dianggap sinonim atau sama dengan usia kronologis; yaitu, yang dijadikan sebagai kerangka
acuan untuk mempelajari psikologis perubahan dalam individu saat mereka tumbuh dewasa.
Khususnya selama dekade terakhir, bagaimanapun, penelitian pada perkembangan manusia telah
menampilkan faktor waktu dengan poros baru. Dimulai pada pertengahan 1970, peningkatan
jumlah peneliti yang menggunakan desain penelitian yang memperhitungkan perubahan dari
waktu ke waktu yang terjadi tidak hanya dalam diri orang, tetapi juga di lingkungan yang
menmungkinkan analisa hubungan dinamis antara kedua proses. Untuk membedakan
penyelidikan tersebut dari studi longitudinal tradisional lebih memfokuskan secara eksklusif
pada individu, saya telah mengusulkan istilah chronosystem untuk menunjuk suatu model
penelitian yang memungkinkan pemeriksa pengaruh pada perubahan perkembangan seseorang
(dan kontinuitas) dari waktu ke waktu dalam lingkungan di mana orang tersebut hidup
(Bronfenbrenner, 1986a).
Bentuk

paling

sederhana

dari

chronosystem

berfokus

di

sekitar

kehidupan

transisi. Dua jenis transisi dibedakan menurut fungsinya: normatif (masuk sekolah, pubertas,

memasuki angkatan kerja, menikah, pensiun) dan non-normatif (penyakit, kematian atau beban
dalam keluarga, perceraian, perpindahan, memenangkan undian). Transisi tersebut terjadi
sepanjang rentang kehidupan dan sering berfungsi sebagai dorongan langsung untuk perubahan
pembangunan. Relevansi terhadap untuk tinjauan saat ini, bagaimanapun, terletak pada
kenyataan bahwa mereka juga dapat mempengaruhi perkembangan secara tidak langsung dengan
mempengaruhi proses keluarga.
Sebuah bentuk yang lebih maju dari chronosystem meneliti efek kumulatif dari seluruh urutan
transisi perkembangan selama jangka waktu orang tersebut hidup (1974, 1985). Selama dekade
terakhir, studi tentang dampak dari peristiwa kehidupan pribadi dan sejarah pada proses keluarga
dan hasil perkembangan mereka telah mendapat perhatian. Beberapa investigasi tersebut telah
menghasilkan temuan signifikansi substantif dan teori yang cukup. Sebagaimana dijelaskan,
seiringan dengan penelitian relevan lainnya yang menggunakan desain chronosystem. ("Chronosistem Model").
Proses Keluarga dalam Konteks
Sehubungan dengan ketegasan dan kompleksitas, paradigma penelitian dapat dibedakan pada
tiga tingkat yang berurutan.
Social addres model (model alamat sosial). Pada tingkat pertama,

proses keluarga tidak

dibentuk secara eksplisit sama sekali, karena paradigma terbatas dengan perbandingan hasil
perkembangan bagi anak-anak atau dewasa yang tinggal di lingkungan yang kontras seperti yang
didasarkan pada letak geografi (misalnya, pedesaan vs perkotaan, Jepang vs Amerika Serikat),
atau dengan latar belakang sosial (status sosial ekonomi, etnis, agama, dll). Dari hal tersebut
kemudian disebut sebagai "alamat sosial/ social address" (Bronfenbrenner, 1979).
Mengingat keterbatasan dalam linkup mereka, model alamat sosial memiliki beberapa batasan
penting diringkas dalam paragraph dibawah ini, sebagai berikut :
Tidak ada pertimbangan eksplisit diberikan. . . dengan struktur intervensi atau proses melalui
lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan. Salah satunya hanya dapat terlihat pada
alamat sosial yang merupakan label dari lingkungan dengan tanpa memperhatikan seperti
apa linkungan tersebut, siapa yang tinggal disana, apa yang mereka lakukan, atau bagaimana

kegiatan yang berlangsung dapat mempengaruhi anak (Bronfenbren-ner dan crouter.. 1983, hlm
361 -362)
Meskipun memiliki kekurangan, model alamat sosial tetap menjadi salah satu paradigma yang
paling banyak digunakan dalam studi pengaruh lingkungan terhadap pembangunan. Terdapat dua
alasan yang dapat menjelaskan popularitas ilmiah mereka. Yang pertama adalah kesederhanaan
komparatif mereka, baik pada konseptual dan tingkat operasional. Memang, mereka dapat dan
bahkan kadang-kadang bekerja tanpa melakukan proses berpikir yang pamjang pada tahap awal
prosedur, sayangnya, hal tersebut juga yang tercermin dalam produk. Tetapi model alamat sosial,
ketika diterapkan dengan tepat, juga dapat berfungsi sebagai alat ilmiah yang sangat membantu.
Justru karena kesederhanaan mereka, mereka dapat diimplementasikan dengan mudah dan cepat.
Oleh karena itu, mereka sering menjadi strategi pilihan untuk menjelajahi domain yang belum
dipetakan. Seperti jaringan surveyor, mereka memberikan kerangka yang berguna untuk
menjelaskan setidaknya hal-hal permukaan medan baru. Salah satu contohnya adalah aplikasi
mereka dalam mengidentifikasi hasil perkembangan yang terkait dengan apa yang
Bronfenbrenner dan Crouter (1983) sebut sebagai "demografi baru"- orang tua tunggal, penitipan
anak, ibu-ibu dalam angkatan kerja, menikah kembali, atau (mungkin segera) ayah dalam peran
pengasuh utama.
Process-context Model (Model proses-konteks). Paradigma pada tahap kedua ini secara
eksplisit memberikan penilaian mengenai dampak lingkungan eksternal pada proses keluarga
tertentu, yang didokumentasikan dalam analisis Bronfenbrenner dan Crouter ini (1983),
paradigma tersebut cukup mewakili perkembangan ilmiah baru-baru ini, muncul dalam bentuk
yang cukup penuh hanya di akhir dan awal 19605 19.705. Karena desain penelitian yang sesuai
cenderung lebih kompleks daripada mereka yang bekerja di model social address,

yang

membanu memberikan ilustrasi. Untuk tujuan ini, saya telah memilih satu contoh awal dari
jenisnya, yang masih layak untuk ditiru sebagai model untuk penelitian masa depan. Dalam
serangkaian penelitian yang berasal dari disertasi doktornya, Tulkin dan koleganya (Tulkin,
197.380 1973b, 1977; Tulkin & cobler, 1973, Tulkin & Covitz, 1975, Tulkin & Kagan, 1972)
berusaha untuk melampaui label kelas sosial dalam rangka untuk menemukan manifestasinya
dalam fungsi keluarga. Penelitian pertama difokuskan pada keluarga dengan bayi di bawah usia
satu tahun. Untuk menentukan untuk jenis kelamin dan posisi ordinal anak, sampel dibatasi pada

anak perempuan pertama, pertama kali dipelajari ketika berumur 10 bulan. Publikasi awal
(Tulkin & Kagan, 1972), berdasarkan pengamatan di rumah, melaporkan bahwa ibu dari kelas
menengah terlibat dalam interaksi timbal balik lebih dengan bayi mereka, terutama perilaku
secara lisan dan memberi mereka lebih berbagai rangsangan. Studi kedua (Tulkin & cobler,
1973) mendokumentasikan perbedaan paralIel dalam sikap ibu; ibu dari kalangan kelas
menengah dikatakan lebih menekankan pentingnya memahami dan memenuhi kebutuhan bayi
dan nilai interaksi ibu-anak, dan memiliki aturan yang bersifat agresif. Selain itu, korelasi antara
perilaku ibu dan sikap secara substansial lebih besar pada keluarga kelas menengah jika
dibandingkan dengan keluarga kelas bawah. Selanjutnya, dalam dua percobaan, TuIkin
(197.380 1973b) menemukan bahwa bayi dari kelas menengah akan lebih sering menangis ketika
dipisahkan dari ibu mereka, namun lebih mampu membedakan suara ibunya dari seorang
perempuan asing. Terakhir, beberapa tahun belakangan Tullcin dan Covitz (1975) menilai
kembali anak-anak yang sama setelah mereka masuk sekolah. Kinerja anak-anak pada tes
kemampuan mental dan bahasa menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap langkahlangkah sebelumnya yang didasarkan pada interaksi timbal balik ibu-bayi, kekuatan ikatan
keibuan, dan pengenalan suara saat anak-anak berusia 10 bulan.
Sekali lagi, pengamatan terhadap keluarga kelas menengah memiliki kolerasi yang lebih tinggi.
Bahkan lebih penting lagi dari perspektif perkembangan. hubungan perilaku ibu pada masa 10
bulan untuk perilaku anak pada usia 6 tahun yang jauh lebih besar dari hubungan kontemporer
antara kedua jenis variabel dalam tahun pertama kehidupan. Para peneliti, bagaimanapun, dengan
cepat menolak hipotesis dari "sleeper effect Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa ibu yang
terlibat dalam kegiatan adaptasi timbal balik dengan bayi mereka pada usia dini cenderung untuk
terus melakukannya ketika anak semakin besar, sehingga menghasilkan tren kumulatif.
Meskipun sejumlah peneliti lain dari sosialisasi dan kelas sosial telah mengamati interaksi ibuanak, hasil kerja Tulkin memiliki keunikan tersendiri dalam menggabungkan tiga fitur penting:
(a) penekanan pada perbedaan kelas sosial dalam proses daripada hanya dalam hasil, (b)
demonstrasi peran kunci yang dimainkan oleh nilai-nilai dalam membesarkan anak dan
korespondensi yang lebih tinggi antara nilai-nilai dan perilaku orang tua di kalangan kelas
menengah dibanfingkan dengan keluarga kelas pekerja, dan (c) bukti dampak perkembangan dari
waktu ke waktu.

Model person- process- context. Seperti namanya menunjukkan, proses selanjutnya dan terakhir
dari paradigm menambahkan elemen baru, elemen ketiga pada sistem. Meskipun model proses
konteks secara signifikan mewakili tampilan pendahulunya.Didasarkan pada asumsi tak tertulis
yaitu, bahwa dampak dari lingkungan eksternal tertentu pada keluarga adalah sama terlepas dari
karakteristik pribadi anggota keluarga secara individu, termasuk anak yang sedang berkembang.
Penelitian yang dilakukan oleh Crockenberg (1981) menggambarkan kedua model beaerta pesan
dari model tersebut. Bekerja dengan contoh keluarga kelas menengah, ia menemukan bahwa
jumlah dukungan sosial yang diterima oleh ibu dari jaringan sosial mereka ketika bayi mereka
berusia 3 bulan adalah positif terkait dengan kuatnya keterikatan anak kepada para ibu di usia
satu tahun. Dampak menguntungkan dari dukungan sosial secara sistematis bervariasi ,
bagaimanapun, sebagai fungsi dari temperamen bayi. Akan lebih kuat bagi ibu dengan paling
bayi yang rewel dan minimal bagi bayin dengan emosi yang lebih tenang.
Seperti yang didokumentasikan selanjutnya dalam ulasan ini, karakteristik pribadi orang tua,
khususnya ayah, adalah tidak kurang- dan mungkin bahkan lebih penting- daripada anak dalam
menentukan dampak positif atau negatif dari lingkungan eksternal pada proses keluarga dan hasil
perkembangan mereka.
Meskipun penelitian paradigma dalam konteks studi perkembangan telah menjadi semakin lebih
kompleks dari waktu ke waktu baik sehubungan dengan analisis proses keluarga dan sistem
lingkungan, hal ini tidak berarti bahwa korelasi berlaku pada tingkat studi individu. Memang,
Demikian salah satu pertemuan desain chronosystem yang masih mengandalkan terutama pada
model social address untuk menganalisis data, dan, sebaliknya, model person- process- context
yang tidak memberikan pertimbangan kondisi dimana keluarga telah terkena konteks lingkungan
tertentu (misalnya, pengangguran). Selain itu, dalam beberapa contoh lain seringkali terdapat
penafsiran yang bersifat ambigu yang dihasilkan oleh kegagalan untuk menggunakan desain
yang lebih canggih. Untungnya, sejumlah studi yang dilaporkan selanjutnya, menggunakan
paradigma yang relatif maju pada kedua dimensi dan dengan demikian, menghasilkan kajian
ilmiah yang kaya ragam.
Model Mesosystem

Ecology of Family Genetics (Ekologi Keluarga Genetika). Studi diantara kembar biasanya
melaporkan korelasi Skor IQ yang lebih besar dari kembar identik dipelihara terpisah yang
dibandingkan dengan kembar fraternal yang dipelihara di rumah yang sama. Jadi Bouchard dan
McGue (1981), dalam review mereka yang komprehensif tentang kemiripan keluarga dalam
kemampuan kognitif, melaporkan korelasi berat rata-rata. Mendapatkan hasil 72 untuk
kelompok sebelumnya dan .60 untuk kelempok selanjutnya. Temuan tersebut ditafsirkan sebagai
pembuktian terhadap pengaruh keunggulan genetik dalam penentuan kecerdasan (misalnya, Burt,
1966; Jen-sen 1969, 1980;. Loehlin, Lindzey, & Spuhler, 1975). Hal yang mendasari penafsiran
ini adalah asumsi bahwa kembar dibesarkan terpisah mendapatkan pengalaman secara luas dari
lingkungan yang berbeda, sehingga kesamaan substansial antara mereka disebabkan oleh faktor
genetik. Model mesosystem mempertanyakan mengenai asumsi ini, pertanyaan ini didasarkan
pada pemikiran bahwa, bahkan meskipun mereka tidak tinggal di rumah yang sama, si kembar
dapat berbagi lingkungan yang sama dalam bentuk lainnya. Untuk menguji asumsi ini,
Bronfenbrenner (1975) menghitung ulang korelasi berdasarkan pada subkelompok kembar yang
berada dalam lingkungan sama sebagai berikut:
1. Di antara 35 pasang kembar dipisahkan dimana informasi tentang masyarakat di mana
mereka tinggal tersedia, korelasi IQ bagi mereka yang dibesarkan di kota yang sama
adalah .83, bagi mereka yang dibesarkan di kota-kota yang berbeda, .67.
2. Dalam contoh lain dari 38 kembar dipisahkan, korelasi bagi mereka yang bersekolah di
sekolah yang sama di kota yang sama adalah .87, bagi mereka yang bersekolah di sekolah
yang berbeda kota adalah. 66.
3. Ketika masyarakat dalam sampel sebelumnya adalah diklasifikasikan berdasarkan
kemiripan dan ketidakmiripan yang didasarkan pada basis ekonomi (misalnya,
pertambangan vs pertanian), korelasi bagi anak kembar dipisahkan yang hidup dalam
komunitas yang sama adalah 86 dibandingkan dengan mereka berada di daerah yang
berbeda, .26.
selanjutnya, Taylor (1980) secara independen mereplikasikan pola yang sama dari temuan dalam
analisis berdasarkan reklasifikasi kasus dari studi yang sama serta data tambahan dari orang lain.
Interaksi genetika- lingkungan dalam proses keluarga

Penyelidikan perintis dalam domain ini adalah salah satu yang telah banyak dikritik atas dasar
teknis oleh para pendukung pandangan hereditarian (misalnya, Jensen, 1973), tetapi paradigma
penelitian tersebut membuat terobosan baru. Pada, akhir 193O-an Skeels dan rekannya (Skeels &
Dye, 1939; Skeels et aI, 1938;. Skodak & Skeels, 1949) menerbitkan tahap pertama dari sebuah
studi longitudinal klasik (Skeels, 1966). Para peneliti membandingkan perkembangan mental
anak yang dibesarkan sejak dini dalam keluarga angkat dan kelompok anak muda yang
dibesarkan oleh orangtua biologis mereka. Bagian pada pekerjaan sebelumnya di daerah ini
(Burks, 1928, Leahy, 1935), melakukan penyelidikan penting dalam tiga hal. Pertama, menurut
Burks, para peneliti menunjukkan dan memperhitungkan, pengaruh penempatan selektif
(kecenderungan dimana anak-anak dengan orang tua biologis yang cerdas untuk ditempatkan di
rumah keluarga angkat yang beruntung). Kedua, Skeels dan rekan-rekannya menunjukkan
bahwa, sementara kolerasi orangtua-anak dalam kinerja intelektual lumayan tinggi dalam
keluarga biologis daripada di keluarga angkat, IQ rata-rata anak-anak yang diadopsi adalah 20
poin lebih tinggi daripada orangtua kandung mereka. Fenomena ini telah direplikasikan baik di
Amerika Serikat (Scarr & Weinberg, 1976) dan di Eropa (Schiff et aI., 1981, 1982). Ketiga, yang
dianggap paling relevan untuk tujuan ini, Skeels dan rekan-rekannya mengumpulkan dan
menganalisis data penting dari tipe sebelumnya yang pernah diperiksa di keluarga angkat -sifat
lingkungan rumah dan perilaku orangtua yang menyumbang untuk pengembangan kemajuan
anak-anak yang ditempatkan untuk adopsi dalam keluarga kelas menengah (Skodak & Skeels,
1949). Contoh lebih jelas dari efek pelipatgandaan kekuatan lingkungan dan genetik adalah
Denmark dan Amerika yang mengangkat studi tentang asal-usul perilaku kriminal. Mengambil
keuntungan dari demografi lengkap multigenerasi dan statistik kesehatan yang tersedia di
Denmark, Hutchings, dan Mednick (1977) membandingkan kejadian tindak pidana untuk lakilaki yang diadopsi sejak awal kehidupan dengan ayah angkat dan ayah biologis mereka. Di
antara laki-laki yang diadopsi yang kedua ayahnya (baik biologis maupun angkat) tidak memiliki
catatan kriminal, 12% memiliki catatan kriminal mereka sendiri. Jika salah satu dari kedua
ayahnya (baik ayah biologis atau angkatnya) memiliki catatan kriminal, tingkat kriminalnya
mengalami kenaikan (21% dan 19%, masing-masing). Jika kedua ayah telah mencatat
pelanggaran, proporsinya naik menjadi 36%.
Sebuah studi di Amerika (Crowe, 1974) melaporkan dampak multiplikatif yang lebih tepat,
antara orang dewasa adopsi yang ibunya memiliki catatan kriminal, satu-satunya yang memiliki

catatan criminal sendiri adalah mereka yang menghabiskan waktu (dengan hal-hal buruk) di
lembaga atau panti asuhan sebelum adopsi. Efek ini tidak tergantung dari usia adopsi, karena
anak-anak yang dipindahkan pada usia sama langsung dari keluarga biologis kepada keluarga
angkatnya tidak memiliki catatan kriminal di kemudian hari. Penelitian Crowe memberikan
contoh menceritakan bagaimana dampak mesosystem yang agak rumit dapat ditunjukkan dengan
menerapkannya dalam kondisi sosial yang sederhana.
Penggunaan desain penelitian yang lebih maju untuk studi interaksi genetika- lingkungan dalam
studi perkembangan masih relatif jarang. Hal tersebut karena kurangnya pengetahuan dalam
bidang ini.
Keluarga dan Rumah Sakit
Mengingat pentingnya perawatan rumah sakit dapat berperan dalam kehidupan dan
perkembangan anak-anak, cukup mengejutkan bahwa sedikit sekali perhatian telah diberikan
kepada hubungan antara rumah sakit dan rumah yang berpengaruh pada penyembuhan anak.
Pentingnya hubungan ini digambarkan oleh hasil dari dua studi yang dilakukan oleh Scarr
Salapatek dan Williams (1973) dengan menilai dampak dari program percobaan yang dilakukan
dengan sampel ibu kulit hitam dan bayi prematur mereka yang memiliki latar belakang sosial
ekonomi sangat kekurangan. Selain menyediakan prosedur khusus untuk rangsangan indra oleh
staf rumah sakit, juga melakukan kunjungan kerumah ibu yang bersangkutan dimana mereka di
berikan instruksi, demonstrasi, dan praktek dalam mengamati, merawat, dan melaksanakan
berbagai kegiatan dengan bayi mereka. Pada usia satu tahun, yang terakhir menunjukkan
IQ skor 10 poin lebih tinggi dibandingkan dengan kelonpok dengan control yang dipilih secara
acak, yang kemudian mencapai tingkat rata-rata 95, sehingga membawa mereka ke "tingkat
hampir normal dari perkembangan" (hal. 99).
Percobaan sebelumnya dengan kelompok usia yang lebih tua memberikan hasil yang sama-sama
mengesanka. Prugh dan rekan-rekannya (1953) mengambil keuntungan dari perubahan terencana
dalam praktek rumah sakit untuk melakukan studi banding terhadap reaksi anak-anak dan orang
tua mereka untuk mode kontras operasi lingkungan. Kelompok kontrol terdiri dari anak-anak
yang mengaku dan dibuang selama 4 bulan sebelum memasuki periode pengenalan. Mereka
mengalami "praktek-praktek tradisional manajemen bangsal" (hal. 75) di mana orang tua dibatasi

untuk melakukan kunjungan masing-masing selama dua jam perminggunya. Kelompok


eksperimental, mengaku selama periode berikutnya, bisa menerima kunjungan dari orang tua di
setiap saat. Orang tua juga didorong untuk berpartisipasi dalam bangsal perawatan. Tekanan
emosional yang lebih besar diamati terdapat diantara anak-anak dalam kelompok kontrol, baik
sebelum dan hingga akhir tahun setelah keluar dari rumah sakit.
Keluarga dan tempat penitipan anak
Seperti yang ditunjukkan oleh Belsky dan koleganya dalam serangkaian Ulasan komprehensif
(Belsky 1985, Belsky &, Steinberg, 1978; Belsky, Steinberg, &, Walker, 1982),para peneliti pada
penitipan telah membatasi diri mereka hampir secara eksklusif terhadap dampak secara langsung
pada anak dan mengabaikan kemungkinan pengaruh yang lebih kuat pada proses keluarga.
Dalam ulasannya terbaru dari beberapa studi yang berangkat dari pola ini, Belsky (1985)
memenuhi lebih lanjut syarat penilaian optimis sebelumnya mengenai dampak dari peran tempat
penitipan anak pada pembentukan ikatan antara ibu dan anak. Setelah melakukan beberapa
penelitian Belsky (1984) memberikan beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
Data yang sata dapatkan baru-baru ini mengharuskan saya untuk memodifikasi tinjauan pada
masa lamupa dalam rangka untuk menggarisbawahi sifat yang berpotensi mendatangkan
masalah yang berasal dari tempat penitipan berbasis masyarakat sebagai lawan dari tempat
penitipan berbasis universitas. . . tampaknya hal ini menjadi alasan untuk peduli mengenai
penitipan yang tersedia di sebagian besar masyarakat. (hal. II)
Sebuah studi yang dilakukan oleh Thompson, domba, dan Estes (1982) memberikan dukungan
mengenai pernyataan yang diberikan oleh Belsky. Para peneliti ini mengambil data
dari sampel kelas menengah yang menunjukkan bahwa stabilitas ikatan rasa aman antara 12 dan
19 bulan lebih rendah di antara bayi yang ditempatkan di tempat penitipan anak atau yang ibunya
telah kembali bekerja pada tahun pertama.
Keluarga dan kelompok teman sebaya
Di tengah 19605 dan awal 1970-an, serangkaian penelitian dilakukan baik di Amerika Serikat
dan negara-negara lain (Bronfen-Brenner, 1967; Bronfenbrenner, Devereux, Suci, & Rodgers,
1965, Devereux, 1965, 1966; Devereux, Bronfenbrenner, & Rodgers, 1969, Rodgers, 1971),

menunjukkan sepuluh pengaruh dari orangtua dan teman sebaya yang berlawanan terhadap
perkembangan anak-anak dan remaja. Menurut penyelidikan komparatif yang dilakukan oleh
Kandel dan Lesser (1972), menunjukkan bahwa remaja dan pemuda Denmark, berbeda dengan
remaja Amerika, yang secara paradoks menampilkan kemandirian yang lebih besar dari
hubungan yang lebih dekat dan hangat dengan orangtua mereka serta orang dewasa lainnya
sebagai pihak yang menjadi oposisi kelompok sebaya mereka, yang berkaitan dengan
berkurangnya perilaku antisosial. Baru-baru ini, pentingnya perkembangan tatapmuka antara
keluarga dan kelompok sebaya telah dikuatkan dalam hasil penelitian yang berfokus pada
anteseden perilaku antisosial pada remaja dan yang dapat menyebabkan pemuda terjebak dalam
kenakalan remaja, alkoholisme, dan penggunaan narkoba (boeh-nke et aI., 1983; Gold &
Petronio, 1980; Jessor, 1986; Kandel, 1986; Pulkkinen, 198.330 1983b).
Mengungkapkan tiga penyelidikan terbaru yang telah menggunakan desain yang lebih canggih
untuk mengungkapkan interaksi antara fungsi dan struktur keluarga di satu sisi, dan indeks
penyimpangan kelompok sebaya di sisi lainnya. Dornbusch dan rekan-rekannya (1985) pertama
tama menunjukkan bahwa, dengan dampak dari status sosial ekonomi yang konstan, remaja yang
berasal dari keluarga yang terdiri dari ibu saja dengan remaja (dari usia yang sama) yang
memiliki orang tua (ayah dan ibu) akan cenderung terlibat pada kegiatan-kegiatan yang tidak
(seperti merokok, kenakalan sekolah). Mereka kemudian menunjukkan bahwa proses kunci yang
terlibat dalam hubungan ini adalah pola kontras pengambilan keputusan yang berlaku di dua
jenis struktur keluarga. Keputusan sepihak lebih (ibu sendiri atau anak sendiri) mendominasi
dalam pengaturan orangtua tunggal. Perbedaan substansial dalam perilaku antisosial masih
setelah dilakukannya pengaturan untuk pola pengambilan keputusan. Perbedaan-perbedaan ini
adalah jauh berkurang dengan kehadiran orang dewasa kedua di rumah orang tua tunggal,
kecuali dalam kasus-kasus di mana orang dewasa kedua ini adalah orang tua tiri . Dengan kata
lain, memiliki orang tua tiri meningkatkan perilaku sosial yang menyimpang. Pengaruh
karakteristik anak itu sendiri pada proses keluarga tercermin dalam suatu hubungan yang di
jelaskan atas, terutama pengaruh mengganggu orang tua tiri, akan lebih terlihat pada anak lakilaki dibandingkan anak perempuan.
Studi berikutnya yang dilakukan oleh Steinberg (1985) tidak hanya mengulangan pola diatas
dalam mencaritahu tapi lebih lanjut mengurang dari proses alami yang terlibat dengan

menggunakan ukuran yang tidak hanya berasal dari frekuensi perilaku antisosial melainkan juga
dari kerentanan terhadap tekanan kelompok sebaya dalam kegiatan tersebut. selanjutnya, dalam
laporan penelitiannya Steinberg (1986) menambahkan peringatan yang ditarik dari
kesimpulan penelitian sebelumnya mengenai fenomena berkembang yang disebut sebagai
latchkey child1 dengan menggunakan model social address yang konvensional, penyelidikan
ini telah gagal untuk mendeteksi perbedaan perilaku antara anak-anak tersebut dengan anak-anak
yang pulang dari sekolah ke rumah di mana orangtua hadir. Dengan menggunakan sebuah
metode mesosystem person-process-context, Steinberg menidentifikasi variabel penting yang
dijadikan sebagai pemantauan keluarga dan juga "remote control " kegiatan anak tanpa kehadiran
orang tua. Sebagai contoh, anak-anak yang orang tuanya tahu keberadaan mereka
tidak begitu rentan terhadap pengaruh kelompok antisosial. Kondisi dimana pemantauan
orangtua lemah pada anak-anak yang membawa bawa kunci pintu memang di lebih berisiko
terlibat dalam perilaku sosial menyimpang. Dan sekali lagi, pentingnya karakteristik
anak tercermin dalam fakta bahwa anak laki-laki lebih rentan terpengaruh oleh perilaku
antisosial daripada pada anak perempuan dan kurang responsif dengan dengan dampak
melembutkan/ moderating dari meningkanya pemantauan atau kendali orangtua.
Keluarga dan sekolah
Penelitian di bidang ini terlihat sangat sepihak. Meskipun terdapat penyelidikan mengenai
berbagai pengaruh keluarga pada kinerja dan perilaku anak di sekolah, namun belum ada peneliti
yang meneliti mengenai bagaimana pengalaman sekolah mempengaruhi perilaku anak-anak dan
orang tua di rumah. Tetapi, Beberapa studi telah menjelajahi bagaimana hubungan antara kedua
pengaturan dapat mempengaruhi perilaku dan perkembangan anak-anak di lingkungan sekolah
(Becker & Epstein, 1982; Bronfenbrenner, 1974; Bums, 1982; Collins, Mol, & Cross, 1982;
Epstein, 198330 1984, Hayes & Grether, 1969; Henderson, 1981; Heyns, 1978; Lightfoot, 1978;
Medrich et al, 1982;. Smith, 1968; Tan-gri & Leitsch, 1982). Penelitian yang dilakukan Smith
(1968) dalam hal ini sangat penting. Dia melakukan eksperimen yang melibatkan serangkaian
strategi cerdik untuk meningkatkan hubungan rumah dan sekolah yang membawa keuntungan

1 Fenomena dimana anak-anak membawa sendiri kunci rumahnya, dikarenakan


dirumah seringkali tidak ada orang (tua)

signifikan dalam prestasi akademik dalam sampel sekitar 1.000 murid SD dari keluarga
berpenghasilan rendah, yang didominasi oleh kulit hitam.
Hampir semua penyelidikan, termasuk Smith, telah fokus pada teknik keterlibatan orang tua dan
bukan pada proses terkait yang terjadi dalam keluarga dan kelas serta dampak bersama dari
keduanya pada proses belajar dan perkembangan anak. Sebuah pengecualian penelitian yang
dilakukan Epstein mengenai Pengaruh Longitudinal pada Interaksi keluarga-Sekolah-individu
dan Hasil Akhir Murid (19833o 1983b). Bekerja dengan sampel dari hampir 1.000 siswa kelas
delapan, ia meneliti dampak gabungan dari keluarga dan proses kelas pada perubahan sikap
murid dan prestasi akademik mereka selama transisi antara tahun terakhir sekolah menengah dan
tahun pertama SMA. Anak-anak dari rumah atau dikelas kelas mendapatkan kesempatan yang
lebih besar untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan tidak hanya menunjukkan inisiatif
dan kemandirian yang lebih besar setelah memasuki tinggi sekolah, tetapi juga menerima nilai
yang lebih tinggi. Proses keluarga jauh lebih kuat dalam menghasilkan perubahan dibandingkan
prosedur yang berlaku di kelas. Pengaruh sekolah meskipun begitu, tetap sangat efektif, terutama
bagi siswa dari keluarga yang tidak menekankan komunikasi antargenerasi di rumah atau
melibatkan partisipasi anak dalam pengambilan keputusan. Dampak dari proses dalam keluarga
dan sekolah lebih besar daripada yang disebabkan oleh status sosial ekonomi atau ras.
Model Exosystem
Pada masyarakat industri modern, ada tiga exosystems yang sangat mungkin mempengaruhi
perkembangan anak, terutama pengaruhnya secara keseluruhan pada proses keluarga. Pertama
adalah tempat kerja orang tua. Kedua adalah jaringan sosial orang tua. Ketiga adalah pengaruh
masyarakat pada fungsi keluarga.
Keluarga dan pekerjaan
Dalam kajian penelitian mereka mengenai efek dari pekerjaan orangtua pada anak,
Bronfenbrenner dan Crouter (1982) menunjukkan bahwa, sampai saat ini, peneliti telah
menganggap kondisi pekerjaan ibu dan ayah sebagai suatu hal yang terpisah dan tidak memiliki
kaitan satu sama lainnya sehingga memberikan hasil yang agak berbeda. Bagi ibu, bekerja
merupakan satu hal yang dianggap dapat merusak anak, sedangkan bagi ayah tidak bekerja/
menganggur dipandang sebagai suatu hal yang destruktif. Dikarenakan "pembagian kerja,"

penelitian utama yang ditemukan di setiap domain diringkas dengan judul terpisah dibawah ini.

Pekerjaan Orangtua dan Kehidupan Keluarga


Penelitian pertama dalam bidang ini muncul pada tahun 1930-an dan berhadapan dengan dampak
pada hilangnya pekerjaan ayah dari yang terjadi selama Depresi Besar (Angell, 1936; Cavan &
Ranck, 1938; Komarovsky, 1940, Morgan, 1939). Pengangguran suami mengakibatkan
hilangnya status dalam keluarga, yang ditandai dengan peningkatan ketegangan dan perselisihan
keluarga, dan penurunan dalam partisipasi sosial di luar rumah. Pada saat yang sama, Ayah
menjadi semakin tidak stabil, murung, dan tertekan. Di awal penelitian, tidak ada referensi dibuat
untuk mengetahui dampak dari proses mengganggu ini. Kemudian sampai pada 1970an dimana
Elder (1974) memulai eksploitasi arsipnya untuk melacak perjalanan hidup "Anak dari Depresi
Besar"2 (1974). Karena dia lebih banyak menggunakan paradigma chronosystem untuk tujuan
ini, temuan Elder akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, di mana model dan hasil pemikiran
tersebut ditelaah.
Pada tahun 1958, Miller dan Swanson memberikan perhatian pada aspek lain dari situasi kerja
ayah yang muncul untuk mempengaruhi sikap orang tua dalam membesarkan. Para peneliti
membedakan antara dua jenis utama dari organisasi kerja yaitu birokrasi dan kewirausahaan.
Yang pertama, diwakili oleh bisnis skala besar, ditandai dengan kondisi kerja yang relatif lebih
aman, yang dimanifestasikan oleh fitur seperti waktu kerja yang wajar, upah stabil, asuransi, dan
dana pensiun. Yang kedua, dicontohkan oleh bisnis skala kecil milik keluarga, yang melibatkan
inisiatif lebih besar, persaingan, resiko, dan rasa tidak aman tentang masa depan. Miller dan
Swanson melaporkan bahwa bahwa istri dari suami dengan latar belakang birokrat
menggambarkan gaya pengasuhan yang lebih permisif dan lebih berfokus pada perkembangan
keterampilan interpersonal, sebaliknya, istri dari suami yang bekerja dalam bidang
kewirausahaan ditemukan lebih peduli dengan prestasi dan daya juang individu. Satu dekade
kemudian, temuan serupa yang didasarkan pada hasil kerja Miller dan Swanson diperoleh oleh
Caudill dan Weinstein di Jepang (1969).
2 Judul artikel aslinya : Children of the Great Depression

Hipotesis yang mengatakan bahwa struktur dan kegiatan dalam pekerjaan ayah dapat
mempengaruhi nilai-nilai pengasuhan keluarga telah diteliti oleh Kohn dan rekan-rekannya.
Dalam penelitian pertamanya, Kohn (1969) menunjukkan bahwa ayah dari kelas pekerja
yang pekerjaannya memerlukan kepatuhan pada otoritas cenderung untuk memegang nilai-nilai
yang menekankan ketaatan pada anak-anak mereka, sebaliknya, ayah dari kelas menengah akan
lebih menuntut kualitas pengarahan diri sendiri dan kemandirian, sesuai tuntutan dalam
pekerjaan mereka. Nilai-nilai kerja juga tercermin dalam praktek pola asuh dari kedua orang tua.
Selanjutnya, Kohn dan Schooler (1973,1978, 1982, 1983) meneliti sifat pekerjaan dalam analisis
yang lebih tekiti, dengan fokus pada dimensi "bekerja dengan pengarahan sendiri " (pekerjaan
yang membutuhkan keterampilan kompleks, otonomi, dan bersifat menghindari rutinitas) yang
berhubungan dengan " fleksibilitas intelektual " pekerja yang diukur dalam serangkaian tes
standar. Dengan menggunakan teknik pemodelan kausal dengan data longitudinal, para peneliti
menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan pengarahan sendiri dapat mempengaruhi
fleksibilitas intelektual seseorang 10 tahun kemudian. Temuan ini kemudian diaplikasikan dalam
studi banding dengan sampel yang berasal dari Amerika Serikat dan Polandia (Slomezynski,
Miller, & Kohn, 1981).
Pertanyaan kunci yang belum terselesaikan dalam pekerjaan Kohn dan rekannya, menyangkut
langkah terakhir dalam urutan perkembangan. sebagaimana yang dia kemukakan:Apakah
kesempatan untuk bekerja dengan pengarahan diri sendiri pada orang tua, dan fleksibilitas
intelektual yang dihasilkannya, berpengaruh dalam perilaku asuh orang tua dan, sehingga
mempengaruhi perkembangan anak? Penelitian yang telah dilakukan mampu menemukan bahwa
hal tersebut tidak berdampak sangat kuat. Menggunakan sampel dari beberapa ratus anak kelas
12, Morgan, Alwin, dan Griffin (1979) menemukan hubungan yang diharapkan antara pekerjaan
dan nilai oengasuhan ayah dan ibu. Tapi ketika nilai pengukuran yang terkait dengan berbagai
aspek karir akademik remaja, hasil temuan akan sedikit lebih berfariasi. Tidak hanya harga diri,
nilai akademik dari remaja, mengharapkan pencapaian pendidikan dan pekerjaan, yang juga
mempengaruhi control terhadap diri mereka. Nilai-nilai pengasuhan ibu, berpengaruh dalam
penempatan kurikulum anak, serta keterlibatan anak dalam kegiatan sekolah. Temuan terakhir,
yang didapatkan dari siswa kulit putih. Perhatikan dalam penelitian ini mengindikasikan tidak
adanya data yang tersedia pada perilaku orang tua ', yang merupakan link penting dalam rantai
studi perkembangan.

Sebuah pendekatan lebih dekat dari proses yang berkaitan dijelaskan dalam sebuah penelitian
longitudinal yang dilakukan oleh Mortimer dan rekan-rekannya (Mortimer, 1974, 1975, 1976,.
Mortimer & Kumlca, 1982, Mortimer & Lorence, 1979; Mortim, Lorence, & Kumka, 1982)
menerapkan skema teoritis Kohn dalam suatu analisis data panel, para peneliti menunjukkan
kecenderungan yang kuat pada anak-anak untuk memilih suatu pekerjaan yang mirip dengan
ayah mereka, sebagaimana yang didefinisikan di sepanjang dimensi otonomi kerja dan fungsi
dari aktivitas kerja. Hal ini tebtu saja berhubungan dengan interaksi yang terjadi antara ayah dan
anak. Mortimer (1986) menetapkan peran mediasi keluarga dalam perkembangan menuju dewasa
dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan pria yang tetap
melajang, pria yang menikah selama dekade setelah kelulusan memiliki stabilitas karier yang
lebih baik, pendapatan yang lebih besar, dan otonomi serta kepuasan kerja yang lebih besar. Ada
bukti substansial bahwa temuan ini tidak ada hubungannya dengan proses seleksi. Daya tarik
khusus dari karya Mortimer terletak pada dimasukkannya hubungan keluarga sebagai bentuk
intervensi yang saling berhubungan dalam model yang digunakannya.
Tahap ketiga dalam penyelidikan, muncul pada pertengah tahun 1960-an, mencerminkan
elaborasi yang signifikan dalam struktur desain penelitian di bidang ini. Studi paling awal dalam
paling bidang ini berfokus pada dampak dari pertentangan waktu dan jadwal. Misalnya, Mott,
Mann, McLoughlin, dan Warwick (1965) menemukan bahwa pekerja pada shift sore jarang
melihat anak-anak mereka pada usia sekolah selama minggu-minggu bekerja. Tugas disiplin
jatuh ke ibu, dan kekurangan waktu bersama kedua orang tua menghasilkan konflik keluarga atas
apa yang harus dilakukan (kegiatan yang diisi) dengan waktu itu. Sebuah studi berikutnya
(Landy, Rosenberg, dan Sutton-Smith, 1969) meneliti dampak pada putri dari ayah yang bekerja
pada shift malam. Para anak perempuan tersebut menunjukkan skor lebih rendah dalam tes
prestasi akademik.
Kanter (1977) memperkenalkan konsep "penyerapan kerja" untuk menggambarkan sejauh mana
pekerjaan menuntut energi fisik dan mental seseorang. Pada tahun yang sama, Heath (1977)
mempelajari efek dari fenomena ini dan melaporkan bahwa itu "dampak pengurangan" pada pria
yang memiliki sedikit waktu untuk kegiatan diluar pekerjaan, termasuk menghabiskan waktu
bersama anak-anak mereka. Mereka akan cenderung untuk menghasilkan rasa bersalah dan
meningkatkan iritabilitas dan ketidaksabaran saat berhubungan dengan anak. Kedua studi

tersebut telah melangkah lebih lanjut untuk menunjukkan interaksi antara pekerjaan dan keluarga
sebagai sistem dua arah, dengan spillover 3di kedua arah pada ketegangan, kepuasan. dan bentuk
interaksi (Crouter, 1984; Piotrkowski, 1979).
Akhirnya, Bohen dan Viveros-Long (1981) mengeksplorasi eksperimen dari alam untuk
menyelidiki dampak dari jam kerja yang fleksibel (Flexible) pada kehidupan keluarga. Mereka
membandingkan dua keagenan federal yang terlibat dalam pekerjaan yang sama dan dikelola
oleh personil yang sama, namun berbeda dalam pengaturan jam kerja. Di satu pihak lembaga
dengan

jadwal

kerja

kayawan

yang

konvensional

dari

pukul

9:00

pagi

sampai

05:00 sore. Di pihak yang lainnya, anggotanya bisa memilih untuk tiba dalam kisaran 2 jam di
pagi hari (terlambat sampai 2 jam) dan menyesuaikan waktu kepulangan mereka sesuai dengan
jam kerja wajib. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan tingkat ketegangan dalam
keluarga dan partisipasi kegiatan di rumah menunjukkan perbedaan signifikan dengan
penggunaan waktu secara fleksibel hanya berlaku kepada satu kelompok keluarga yaitu keluarga
yang tidak memiliki anak. Satu penjelasan yang diajukan adalah bahwa pengaturan waktu secara
fleksibel tidak cukup mengatasi masalah penjadwalan yang kompleks yang dialami oleh orang
tua sehari-hari. Penafsiran kedua menunjukkan bahwa waktu yang fleksibel tersebut mungkin
telah digunakan untuk kegiatan di luar rumah yang tidak terkait dengan kegiatan membesarkan
anak. seperti rekreasi, bersosialisasi, dll. Sayangnya, tidak ada data yang cukup tersedia untuk
memverifikasi hipotesis tersebut.
Ibu yang bekerja dan keluarga
Sebagaimana didokumentasikan dalam tiga ulasan (Bronfenbrenner & Crouter. 1982, Hoffman,
1980, 1983), analisis penelitian dalam bidang ini mengungkapkan perbadaan yang konsisten,
diringkas sebagai berikut:
Pada tahun 1980 terlah terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa pekerjaan ibu di luar rumah
cenderung memiliki efek bermanfaat pada anak perempuan, tetapi dapat memberikan pengaruh negatif
pada anak laki-laki ... Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak perempuan dari keluarga dengan
yang ibu bekerja cenderung akan lebih mengagumi ibu mereka, memiliki konsep yang lebih positif
mengenai peran perempuan, dan: lebih mungkin untuk menjadi mandiri. . . Tak satu pun dari gejala ini
3 Efek rembesan yang berarti saling mempengaruhi satu sama lain

terjadi pada anak laki-laki. Sebaliknya, pola temuan, terutama dalam penelitian terakhir, menunjukkan
bahwa ibu yang bekerja di luar rumah dikaitkan dengan prestasi akademik yang lebih rendah untuk
anak-anak di kelas menengah, tapi tidak dalam keluarga berpenghasilan rendah. . . Kecenderungan yang
sama untuk ibu yang bekerja memiliki pengaruh negatif pada perkembangan anak laki-laki, hal tersebut
tampak dalam investigasi yang dilakukan sejauh tahun 1930-an. (Bronfenbrenner & Crouter, 1982, hlm
51-52)

Proses yang mendasari penemuan yang keompleks dan konsistn ini dijelaskan oleh penelitian
yang dilakukan oleh Bronfenbrenner. Alvarez, dan Henderson (1984). Mengumpulkan data dasar
yang terdiri deskripsi bebas dari orang tua mengenai anak mereka yang berusia 3 tahun. Dari
analisis konten yang sistematis, menunjukkan bahwa potret paling bagus dari seorang putri
dilukis oleh ibu yang bekerja penuh waktu (full time), tetapi ini juga kelompok yang
digambarkan anak dalam yang paling tidak menguntungkan istilah. Sebuah rincian lebih lanjut
mengenai status pendidikan ibu menunjukkan bahwa pandangan antusias dari anak perempuan
hanya terjadi di kalangan ibu-ibu yang berpendidikan diatas SMA. Dalam kerangan temuan
kuantitatif dan kualitatif. penulis membuat komentar interpretatif berikut: Pola yang
digambarkan dalam pikiran seorang wanita professional, melihat anaknya yang berusia 3 tahun
sebagai calon yang kompeten dan berpotensi untuk mengikuti jejak ibunya (hal. 1.366). Bentuk
yang paling menonjol dari temuannya terhadap anak laki-laki adalah deskripsi yang sangat
positif yang diberikan oleh ibu yang bekerja paruh waktu, yang berbeda dengan evaluasi yang
jauh lebih rendah, diberikan oleh ibu yang bekerja penuh waktu. Keuntungan dari kerja paruh
waktu, menurut persepsi ibu yang bersangkutan, diapresiasi lebih besar oleh anak laki-laki
dibandingkan dengan anak perempuan. Hasil wawancara dengan ayah (dilakukan secara
terpisah) mengungkapkan hal yang sama tetapi berasal dari profil yang berbeda (dampaknya
pada anak laki-laki lebih kecil, sedangkan dampaknya terhadap anak perempuan lebih besar),
tetapi dalam tingkatan yang sedikit lebih rendah.
Jaringan Dukungan Kekeluargaan
Penelitian dalam bidang ini pertama kali mulai dilakukan pada tahun 1970-an. Dalam sebuah
studi pada anak-anak di kalangan keluarga berpenghasilan rendah yang diabaikan. Giovanni dan
Billingsley (1970) menemukan bahwa pengabaian yang jarang terjadi di antara keluarga yang
ditandai memiliki jaringan kekerabatan yang kuat dan menghadiri gereja secara rutin. Para

penulis menyimpulkan "Kalangan masyarakat berpenghasilan rendah, tindakan pengabaian akan


tampak sebagai masalah sosial yang merupakan manifestasi dari kondisi sosial dan masyarakat
"(hal. 204). Data tersebut berasal dari analisis laporan korelasi pelecehan anak skala besar dan
informasi sosial ekonomi dan demografi untuk 58 wilayah di New York (Garbarino, 1976).
Menurut para penyidik, "substansial tingkat pelecehan/ penganiayaan anak antara wilayah di
New York. . . diindikasikan berhubungan dengan ibu yang tidak memiliki sistem memadai untuk
mengasuh disebabkan oleh tekanan ekonomi "(hal. 185), Penelitian selanjutnya di bidang ini
terus berfokus pada ibu dari anak-anak muda, khususnya ibu dalam kelompok rentan khusus
seperti ibu remaja, ibu yang merupakan orangtua tunggal, atau keluarga yang hidup dalam
kemiskinan. Secara umum, studi ini menunjukkan bahwa dukungan lebih mungkin berasal dari
kerabat dibandingkan yang berasal dari luar kerabat, dengan ayahnya menjadi sumber utama
bantuan, bahkan dalam rumah tangga yang terdiri dari orang tua tunggal, peran ibu berada di
baris berikutnya, diikuti oleh kerabat lainnya, kemudian teman-teman, tetangga, dan profesional
(Belle, 1981; Brown, Bhrolchin, &. Harris, 1975; Crockenberg, di press-a, di press-b, Tietjen &.
Bradley, 1982). Di bagian mengenai perilaku, Tietjen dan Bradley (1982) menemukan bahwa ibu
yang memiliki akses ke lebih kuat kepada jaringan sosial selama kehamilan mereka melaporkan
tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah, penyesuaian perkawinan yang lebih
baik, dan menyikapi secara lebih positif terhadap kehamilan mereka. Dukungan dari
suami adalah lebih efektif daripada yang dari teman, tetangga, atau kerabat di luar rumah. Studi
yang dilakukan pada keluarga dengan bayi yang baru lahir mengungkapkan bahwa dukungan
keluarga yang rendah menimbulkan sikap permusuhan dari ibu, ketidakpedulian, dan penolakan
terhadap bayi (Colletta, 1981), sedangkan ibu yang mendapatkan bantuan dan kenyamanan,
terutama dari keluarga dekat dan kerabat, merasa kurang stres dan memiliki sikap yang lebih
positif terhadap diri mereka sendiri dan bayi mereka (Agustus & Bright, 1970;. Colletta, 1981,
1983; Colletta &. Gregg, 1981; Colletta dan Lee, 1983; Mercer; Hackley, &. Bostrom, di tekan).
Dalam ranah perilaku ibu, ibu yang menerima tingkatan dukungan sosial yang tinggi
menanggapi lebih cepat ketika bayi mereka menangis (Crockenberg, 1984a,1984b) dan
memberikan perawatan yang lebih memadai (Ep-stein, 1980;. Wandersman & Unger, 1983).
Sehubungan dengan perilaku anak-anak sendiri, Furstenberg &. Crawford (1978) telah
mendokumentasikan dampak dari dukungan keluarga pada perkembangan sosial dan emosional

anak. Menggunkan sampel dari ibu usia remaja berkulit hitam, ia menemukan bahwa ibu dari
anak-anak yang terus tinggal bersama keluarga asal mereka mengalami masalah perilaku lebih
sedikit, menunjukkan lebih sedikit perilaku antisosial, dan dinilai lebih tinggi pada tes kognitif
daripada anak dari ibu berusi yang tinggal sendirian tanpa dewasa kerabat.
Sebuah gambaran berbeda yang bersumber dari dukungan eksternal, stres, dan interaksi mereka,
diteliti oleh Cmic dan koleganya (1983). Para peneliti menyusun indeks terpisah dari stres dan
dukungan yang diterima oleh ibu pada awal kehamilan sampai rumah bayi telah satu bulan
berada dirumah. Ukuran dari dukungan dibedakan antara bantuan yang berasal dari sumber yang
berbeda: Suami dari ibu (atau pasangannya), teman-teman, dan orang lain yang berasal dari
lingkungan tetangga dan komunitas masyarakat. Analisis mengatakan bahwa tekanan dan
dukungan yang berasal dari lingkungan memiliki dampak tersendiripada keluarga. Perilaku Ibu
sangat terpengaruh oleh: dukungan sosial yang berhubungan dengan orientasi yang lebih positif,
dan tingkat stress yang berdapak buruk. Kekuatan pengaruh yang berdapak pada ibu dan bayi
setelah memasuki usia 3 bulan lebih , akan menurun, tetapi tetap signifikan. Ibu yang telah
mendapatkan dukungan ketika bayinya berusia satu bulan akan merespon lebih positif pada
bayinya ketika berusia 3 bulan. Begitupun bayinya akan merespon hal yang sama terhadap
ibunya dan berperilaku lebih jelas dalam mengutarakan kebutuhan, emosi, dan keinginannya.
Perilaku bayi lebih banyak terpengaruh dibandingkan dengan perilaku ibunya. Dukungan baik
dari pasangan, teman-teman, atau komunitas sama-sama berpengaruh dalam meningkatkan
tingkat kepuasan seorang ibu, dukungan dari ayah dikatakan sangat kuat dan berdampak secara
keseluruhan bagi perilaku ibu dan bayi dibandingkan dengan dukungan yang didapat dari teman
ataupun tetangga.
Efek interaksi yang tampak pada studi mengenai dampak dari stress lingkungan dan dukungan
sosial pada keluarga (ayah dan ibu) dan keluarga tunggal, ketegangan (stres) terbukti tidak begitu
berpengaruh dan dukungan sosial kan lebih efektif ketika ibu tersebut tidak menikah. Sekali lagi,
hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial akan lebih berpotensi pada kondisi penuh
tekanan (stres)
Kesimpulan ini dikualisifikasikan, dengan penelitian yang dilakukan oleh Crockenberg (press-b)
dengan contoh yang sangat kurang- sekelompok ibu muda yang juga tidak menikah, tidak
berpendidikan, mmiskin, dan sebagian besar orang meksiko dan kulit hitam. Penemuannya

mengindikasikan bahwa, ibu yang hidup pada kondisi yang penuh stres, jaringa sosial tidak
hanya berguna untuk menyebarkan pengaruh positif tetapi juga dapat menjadi sumber dari stress.
Hal serupa dilaporkan oleh Ricky dan Eckendrode (in press). Pada studi mengenai stress dan
dukungan dalam kehidupan ibu, peneliti menemukan bahwa pengaruh dari jaringan sosial dalam
kondisi psikologi yang baik, mengalami pergeseran dari positif kea rah negative sebagai fungsi
dari tiga jenis aspek: (a) pengurangan status sosial dan ekonomi (b) kejadian yang tidak
beruntung yang terjadi secara signifikan terhadap kehidupan orang lain atau, (c) rendahnya
tingkat keyakinan dalam menjalani hidup dan dalam membantu kehidupan orang lain.
Proses dan hasil dari dukungan sosial dibentuk dalam konteks sosial yang lebih besar dilakukan
oleh Ccrockenberg (1985), Dimana dia membandingkan ibu muda inggris dengan mencocokkan
sampel dari Amerika, dia menemukan bahwa, Ibu inggris melakukan kontak mata dan senyum
lebih sering, kontak rutin yang lebih sedikit, dan merespon lebih cepat terhadap tangisan
bayinya, dibandingkan dengan ibu dari Amerika (hlm. 422).
Meskipun kontras cultural ini membutuhkan pembuktian yang lebih jelas, pada ranah rancangan
peneliatian ini sudah cukup menyediakan contoh yang baik dalam menunjukkan kemampuan
model process-context untuk menganalisa pengaruh eksternal dalam proses keluarga dan efek
perkembangannya.
Keluarga dan Komunitas
Penelitian dalam bidang ini dilakukan oleh Rutter dan rekannya, dimulai dengan perbandingan
klasik dari tingkat gangguan mental di wilayah London dan Isle of Wight (Rutter et al., 1957;
Rutter& Quinton, 1977). Dalam rangka mengotrol dampak kemungkinan dari migrasi, para
peneliti mengambil sampel dari anak-anak dengan orang tua yang lahir dan besar di daerah
tersebut. Mereka menemukan bahwa gangguan kesehatan mental lebih banyak ditemukan di
wilayah metropolis. Tidak ada satupun yang dapat memberikan penjelasan yang sempurna
mengenai fenomena ini. Posisi kelas sosial yang samatampak memiliki perbedaan yang
signifikan pada lingkungan urban dan rural, dengan status sosial ekonomi yang rendah di
menjadi factor yang lebih kuat penyebab gangguan mental di kota dibandingkan dengan di desa.
Dari penemuan ini, Rutter menyimpulkan: tampaknya ada sesuatu mengenai kehidupan di kota
yang berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan gangguan mental (1981, hlm.612)

Apa yag dimaksud dengan "sesuatu?" Rutter sendiri berupaya untuk menjawab Pertanyaan dan
telah menghasilkan hasil relevansi khusus untuk perkembangan anak. Misalnya, mengambil
keuntungan dari desain studi Isle of Wight London, Rutter (1981) menganalisis perbedaan
masyarakat yang menggabungkan fungsi usia dan jenis gangguan. Hasil yang cukup mencolok
menunjukkan bahwa perbedaan terbesar antara London dan Isle of Wight diterapkan pada
gangguan kronis yang tejadi diawal. . . . Perbedaan paling awal ditemukan dengan kondisi
kejiwaan untuk pertama kalinya dilihat pada masa remaja. Selain itu, perbedaan juga terutama
diterapkan untuk gangguan yang berkaitan dengan keluarga yang memiliki permasalahan serius.
Singkatnya, masalah yang paling menunjukkan karakteristik anak kota adalah masalah yang
hadir lebih awal, berlangsung lama, dan disertai dengan banyak masalah lain dalam keluarga.
(Rutter, 1981, hal. 613, miring dalam asli). Untuk memperjelas masalah ini, Rutter dan Quinton
(1977) membandingkan tingkat gangguan jiwa di lingkungan yang berbeda dengan faktor
pengendali seperti status sosial rendah, keluarga berpenghasilan rendah, dan orang tua tunggal.
Mereka menemukan bahwa keluarga yang terkena dampak gangguan tersebut terlepas dari
karakteristik latar belakang mereka. Efek seperti itu dapat terjadi dalam dua kondisi. Hal ini
dapat menimpa pada anak-anak secara langsung, maupun tidak langsung melalui keluarga anak.
Untuk menyelidiki kemungkinan ini, Rutter dan rekan-rekannya (1975, 1977) mengembangkan
indeks "kesulitan keluarga" yang termasuk dalam faktor:

perselisihan perkawinan dan

perceraian, gangguan mental atau kriminalitas di usia tua, jumlah keluarga yang besar, dan
kondisi lain yang diketahui terkait dengan tingkat gangguan kejiwaan dan penyimpangan sosial
yang lebih tinggi. Bukti serupa yang dampak tidak langsung pada anak melalui keluarga juga
telah ditemukan untuk kenakalan remaja. Penelitian yang relevan telah diringkas oleh Rutter dan
Giller (1983). Misalnya, menggunakan desain longitudinal yang diizinkan untuk mengontrol
karakteristik pada kedua anak dan keluarga, West (1982) mampu menunjukkan bahwa kenakalan
pada anak laki-laki menurun setelah keluarganya pindah dari London. Sebagai catatan Rutter
(1984) mengatakan kekurangan dalam studi semacam ini (termasuk dirinya sendiri) terdapat
pada kekurangan identifikasi fitur tertentu didaerah mana suatu efek tersebut terlihat , dan
melalui proses apa efek tersebut berlangsung. " Metode ini sangat baik untuk mendapatkan
keterangan mengenai 'tekanan' dari dalam kehidupan kota, tapi apa yang 'dibutuhkan adalah
untuk menentukan apa itu yang membuat kehidupan dalam kota penuh stres pada berbagai
keluarga dengan berbagai kondisi."

Akhirnya,

sedangkan

efek

tidak

langsung

dari

tempat

tinggal

perkotaan

yang

menjadi negatif bagi perkembangan sosial dan emosional, terutama pada anak-anak, namun
terbukti bahwa pengaruh langsung dari lingkungan kota mungkin bermanfaat bagi perkembangan
intelektual di kalangan anak-anak. Dukungan utama untuk kesimpulan ini berasal dari
penyelidikan dua taha[ yang dilakukan di daerah pedesaan dan perkotaan dari Swiss. Pada
penelitian pertama (Meili & Steiner, 1965) dilakukan dengan anak-anak sekolah berusia 11
tahun. Para peneliti menemukan bahwa kinerja di kedua tes kecerdasan dan prestasi meningkat
sebagai fungsi langsung dari jumlah industri dan lalu lintas yang ada di daerah tersebut.
Hubungan itu masih signifikan karena adanya kedali kelas sosial. Empat tahun kemudian, dalam
sebuah studi lanjutan Vatter (1981) melakukan penelitian sifat akumulasi dari kadaan kota yang
memiliki pengaruh lebih cepat untuk hasil ini. Digambarkan pada karya sebelumnya oleh
Klineberg (1935, 1938) dan Wheeler (1942), Vatter berhipotesis bahwa fungsi kognitif superior
yang diamati pada anak-anak kota adalah produk dari paparan lingkungan budaya perkotaan.
Model Chronosystem
Dampak dari transisi kehidupan pada proses keluarga dan perkembangan anak digambarkan
dengan baik dalam karya Hetherington dan rekan-rekannya (Hetherington, 1981, Hetherington,
Cox, & Cox, 1978), yang menelusuri dampak progresif dari perceraian pada hubungan ibu-anak
serta perilaku anak di sekolah. Efek mengganggu dari perpisahan tersebut mencapai puncaknya
pada satu tahun sesudahnya dan menurun pada tahun kedua, meskipun ibu yang bercerai tidak
banyak terpengaruh dengan anak seperti rekan-rekan mereka yang mempertahankan pernikahan.
Dua temuan Hetherington menggambarkan kemampuan exosystem dalam mempengaruhi proses
keluarga. Pertama, ibu yang efektivitas dalam menangani anak berkaitan langsung dengan
jumlah dukungan yang diterima dari pihak ketiga seperti teman-teman, kerabat, dan terutama
mantan suaminya. Kedua, efek buruk dari perceraian diperburuk dalam contoh-contoh di mana
perpisahan ditambah dengan masuknya ibu ke tenaga kerja. Dampak potensial destabilisasi
transisi pada proses intrafamilial ditunjukkan dalam disertasi Moorehouse (1986). Peneliti ini
bekerja menggunakan model dua tahap dalam rangka untuk menyelidiki bagaimana perubahan
stabilitas dari waktu ke waktu terhadap status bekerja seorang ibu selama tahun prasekolah anak
dapat mempengaruhi pola komunikasi ibu-anak, dan bagaimana pola-pola ini pada gilirannya
mempengaruhi prestasi dan perilaku sosial anak pada tahun pertama sekolah.

Sifat kompleks dari sistem bekerja umpan balik dalam menghubungkan keluarga-kerja-sekolah
digambarkan menurut urutan temuan paradoks yang tampak;
1. Seperti tercermin dari nilai dan peringkat guru, anak-anak mengalami kesulitan terbesar
dalam beradaptasi di sekolah khususnya bagi mereka yang ibunya bekerja penuh waktu.
Hubungan ini tetap signifikan setelah ada kontrol pendidikan yang dilakukan ibu.
2. Sebagaimana dihipotesiskan, hubungan umumnya positif antara kegiatan komunikatif ibu
di rumah dan kinerja anak di sekolah bekerja sistematis sebagai fungsi dari status
pekerjaan ibu, dan akan tampak lebih kuat diantara anak-anak dari ibu yang bekerja
penuh waktu
3. Moorehouse melakukan analisis komparatif dari ibu yang telah mempertahankan
pekerjaan yang sama selama periode penelitian dibandingkan dengan yang telah
mengganti arah: seperti menambah jam kerja, atau mengurangi jam kerja, atau tidak sama
sekali. Hasilnya menunjukkan bahwa dampak signifikan dari status pekerjaan dilihat
hanya pada kelompok terakhir. Selain itu, ketidakstabilan, secara keseluruhan ,
berhubungan dengan menurunnya bilai hasil di sekolah.
Moorehouse memperingatkan bahwa temuan itu harus dipandang sebagai tentatif, karena
sampelnya yang relatif kecil, sehingga hanya

beberapa frekuensi minimal didapat dalam

beberapa subkelompok. Namun demikian kesimpulannya mengenai pentingnya stabilitas di


lingkungan keluarga menghasilkan penemuan independen dalam studi longitudinal di Finlandia
yang dilakukan oleh Pulkkinnen (Pitkanen-Pulkkinen, 1980; Pulkkinen, 1982, 1983b, 1984).
Peneliti memeriksa pengaruh stabilitas lingkungan dan perubahan pada perkembangan anak
berusia 8 sampai 14 tahun. Secara khusus, "kemantapan" versus "guncangan" kondisi hidup
keluarga diukur dengan terjadinya peristiwa seperti berikut: jumlah perpindahan keluarga,
perubahan di tempat penitipan atau pengaturan sekolah, ketidakhadiran orangtua, perubahan
struktur keluarga, dan kondisi ibu kerja. Ketidakstabilan yang lebih besar dalam lingkungan
keluarga dikaitkan dengan agresivitas dan kegelisahan di antara anak-anak di masa kecil dan
remaja, dan pada tingkat yang lebih tinggi dari kriminalitas di masa dewasa. Selain itu, faktor
stabilitas kondisi hidup keluarga tampaknya menjadi penentu kuat dari perkembangan anak
menurut status sosial ekonomi keluarga. (Hubungan status sosial ekonomi terhadap stabilitas
keluarga, bagaimanapun, belum diteliti.).

Temuan yang sama juga dilaporkan dalam studi longitudinal dilakukan di Hawaii (Werner &
Smith, 1982). Para peneliti memfokuskan perhatian khusus pada subkelompok dari sampel
mereka yang mereka tentukan sebagai "Rentan tapi Tak Terkalahkan." Kelompok ini adalah
remaja dan pemuda yang, selama hidup mereka, telah terkena kemiskinan, risiko kesehatan, dan
ketidakstabilan keluarga dan dibesarkan oleh orang tua yang berpendidikan rendah atau dengan
masalah kesehatan mental yang serius, yang tetap tak terkalahkan dan berkembang menjadi.
Kompeten dan memiliki otonom sebagai orang muda dewasa yang bekerja dengan baik. bermain
baik, dicintai dengan baik, dan mengharapkan lebih baik "(hal. 3). Penelitian Hawaii juga
divalidasi dalam desain longitudinal yang membalikkan perbedaan jenis kelamin yang
sebelumnya terdeteksi hanya dalam mode terfragmentasi dari desain cross-sectional (Hetherington, 1972, 1981; Hetherington & embun, 1971). Melalui dekade pertama kehidupan, anak lakilaki tampaknya secara substansial lebih rentan dibandingkan anak perempuan baik dalam hal
biologis dan

lingkungan yang berlangsung selama dekade kedua kehidupan, namun, pola

tersebut terbalik didekade kehidupan selanjutnya.


Pembaca dapat mengamati bahwa penelitian yang baru saja dijelaskan tidak lagi terbatas pada
dampak perkembangan satu aktivitas dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya mereka memeriksa
dampak kumulatif dari urutan transisi perkembangan dari waktu ke waktu yang Elder sebut
sebagai kehidupan . Kekuatan ilmiah dalam paradigma ini diilustrasikan oleh studi klasik yang
dilakukan Elder mengenai "Anak dari Depresi Besar" (1974). Untuk menyelidiki dampak jangka
panjang dari pengalaman ini pada perkembangan anak, Elder menganalisa ulang data arsip dari
dua penelitian yang telah dilakukan di California dengan membandingkan sampel anak yang
lahir di awal dan akhir 1920-an (Elder, 1974, 1981, 1984). Desain dasar dalam penyelidikan
tersebut

melibatkan

perbandingan

dua

kelompok

lain

yang

sebanding,

dibedakan

atas dasar hilangnya pendapatan sebagai hasil dari depresi panjang, sehingga pendapatn
berkurang sebanyak 35%. Ketersediaan data longitudinal memungkinkan untuk menilai
perkembangan hasil melalui masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Akhirnya, fakta bahwa
anak-anak dalam satu sampel lahir 8 tahun lebih awal dibandingkan yang dengan yang lahir
setelahnya. Mengatakan bahwa anak-anak yang memasuki remaja pada saat ekonomi mereka
dirampas mengalami depresi yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang masih anakanak pada waktu itu.

Hasil dari kedua kelompok tersebut sangatlah kontras. Yang menarik adalah, untuk anak-anak
yang memasuki remaja selama tahun Depresi, perampasan ekonomi keluarga 'tampaknya
memiliki efek bermanfaat pada perkembangan mereka berikutnya, terutama bagi kelas
menengah. Hilangnya keamanan ekonomi memaksa keluarga untuk memobilisasi sumber daya
manusia mereka, termasuk anak remajanya, yang harus mengambil peran dan tanggung jawab
baru baik di dalam maupun di luar rumah dan bekerja sama menuju tujuan umum untuk
mendapatkan dan menjaga keluarga di kakinya. Pengalaman ini memberikan pelatihan yang
efektif dalam inisiatif, dan tanggung jawab kerjasama.
Sayangnya, kesulitan itu tidak begitu manis bagi anak laki-laki yang masih memasuki usia
prasekolah ketika keluarga mereka menderita kerugian ekonomi. Hasilnya hampir kebalikan dari
mereka untuk anak laki-laki yang diinvestigasi sebelumnya. Dibandingkan anak-anak
sebelumnya, anak-anak ini menunjukkan sejarah kurang baik dalam sekolah, kerja kurang stabil
dan sukses, dan memperlihatkan kesulitan emosional dan sosial yang lebih besar, sebagian masih
terlihat di masa dewasa. Hasil-hasil negatif jauh lebih nyata terlihat pada anak laki-laki
dibandingkan dengan anak perempuan yang berlatarbelakang keluarga kelas bawah.
Selanjutnya, Elder dan rekan-rekannya telah menekankan pentingnya proses mediasi dan kondisi
dalam keluarga sebagai kendaraan melalui kesulitan ekonomi dalam kehidupan anak dan bentuk
program perkembangan selanjutnya (Elder, Caspi, & Downey, dalam pers; Elder, Caspi, & van
Nguyen, 1986; Elder, Van Nguyen, & Caspi, 1985). Mungkin faktor yang paling penting dalam
hal ini adalah karakteristik kepribadiaan dari ayah dan anak-anak. Kehadiran seorang ayah dalam
keluarga. Penganggurang yang dialami oleh seorang ayah secara signifikan meningkatkan
kemungkinan konsekuensi negatif bagi perkembangan kehidupan anak..
Dalam analisis Elder, Caspi, dan Downey mengungkapkan (In press) telah melacak pengalaman
yang berdampak pada kehidupan di seluruh pada empat generasi, dan menunjukkan efek dari
ketidakstabilan kehidupan keluarga selama masa depresi dengan perilaku bermasalah anak-anak,
yang pada gilirannya ikut ke dalam peran mereka ketika dewasa: pekerjaan, pernikahan, dan
kelahiran putra dan putri. Dalam satu generasi, itu adalah kepribadian yang stabil didapatkan dari
orangtua, khususnya ayah.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian perkembangan menggunakan perspektif


kehidupan telah memberikan hasil penelitian penting. Beberapa, seperti penelitian yang
dilakukan oleh Mortimer, dan PuIk-kinen, yang telah disebutkan Contoh, dalam karya
Furstenberg dan Gunn (Furstenberg, 1976; Furstenberg & Brooks-Gunn, dalam pers). Para
peneliti telah menunjukkan bahwa, bertentangan dengan kesimpulan yang diambil dari penelitian
sebelumnya, kehamilan pada usia remaja tidak selalu menyebabkan kegagalan akademis dan
pribadi di seluruh kehidupannya sebagai wanita. Meskipun keuntungan dari model chronosystem
yang terbaik dicapai dalam kerangka desain longitudinal, manfaat penting juga dapat diperoleh
dari penelitian lintas seksi yang mengumpulkan data kunci retrospektif dan menggunakan
prosedur analisis yang tepat, seperti pada model kausal. Contohnya adalah hasil kerja dari
Schneewind dan rekan-rekannya (1983). Sampel mereka terdiri dari 570 anak (usia 9-14) dari 6
sekolah negeri di Jerman. Data diperoleh secara independen dari kedua anak dan orangtua
mereka. Produktivitas multigenerasi yang menggunakanmodel analitik yang terbaik disampaikan
oleh beberapa temuan ilustratif. Sebagai contoh, salah satu analisis difokuskan pada lingkungan
dari dua kelompok kontras anak berperilaku maladaptif: agresivitas dan perilaku antisosial di
satu sisi dan kecemasan dan ketidakberdayaan di sisi lain. Kedua pola tersebut dipengaruhi oleh
faktor-faktor di luar keluarga dekat anak, yang menjadikan hukuman pada anak (untuk patuh )
sebagai suatu kunci.
Penelitian Kesenjangan dan Peluang
Dari sudut pandang ilmuwan, mungkin adalan fungsi peninjauan pengetahuan yang terdapat di
wilayah tertentu dengan tujuan untuk mengidentifikasi arah penelitian di masa depan. Eksplorasi
di bidang-bidang lain, diperlukan untuk memetakan wilayah-wilayah yang belum tereksplorasi
Variasi Ekologi dalam Ekspresi Genotipe
Identifikasi Discordant Phenotypes. Mempelajari mengenai peran warisan keluarga dalam
pembangunan manusia berfokus pada kasus yang sesuai, yaitu, fakta bahwa orang-orang yang
terkait dengan ikatan darah cenderung menunjukkan karakteristik psikologis yang sama.
Misalnya, ketika salah satu kembar telah didiagnosis mengidap skizofrenia, atau memiliki
catatan kriminal, atau memiliki sejarah gagal lulus dari sekolah. tapi kembar lainnya tidak, apa
ada peran dari pola perilaku atau kehidupan karir kembar lainnya? Dengan tidak adanya data

pembanding tersebut, peneliti cenderung untuk menarik kesimpulan tentang keberadaan disposisi
genetik keluarga yang sangat spesifik, misalnya, kita menganggap kecenderungan hereditarian
untuk perilaku kriminal, atau bentuk-bentuk tertentu dari gangguan mental. Bagaimanapun
terdapat kemungkinan, bahwa kecenderungan biologis mungkin akan mempengaruhi secara
umum: Masalah bisa diselesaikan dengan memeriksa sifat pola variasi dan perilaku yang
ditunjukkan oleh orang-orang yang memiliki genetik identik dalam konteks yang berbeda. Dalam
sebuah studi tentang gangguan kejiwaan antara anak yang diasuh di rumah oleh ibu penderita
skizofrenia, Heston (1966) melaporkan bahwa anak nonschizophrenic cenderung memiliki
kompetensi dan kreativitas yang tidak biasa. Sayangnya, ada sejumlah kelemahan dalam desain
penelitian. Penelitian ketat semacam ini, yang meliputi hasil positif serta negatif, tidak hanya
akan membantu menentukan ruang lingkup kecenderungan genetik tetapi juga menjelaskan
operasi kedua lingkungan intra dan extra familial dalam membentuk program alternatif
perkembangan psikologis bagi orang-orang dengan genetik yang mirip.
Proses pengasuhan anak dalam keluarga angkat. Dalam serangkaian publikasi, Scarr dan
rekan-rekannya (Scarr, 1981; Scarr & Mc-Cartney, 1983; Scarr & Weinberg, 1983) berpendapat
bahwa hasil dari berbagai penelitian yang dimaksudkan untuk menunjukkan efek lingkungan dari
perilaku orangtua terhadap perkembangan anak-anak bersifat ambigu dan membingungkan hal
tersebut berkaitan dengan kesamaan genetik antara orang tua biologis dan anak-anak mereka.
Kemiripan ini, menurut Scarr, diperoleh baik dalam ranah persepsi dan perilaku, sehingga
masing-masing pihak melihat fenomena tersebut berasal dari faktor genetik dan menjadikannya
sangat responsif terhadap tindakan (atau pasif) dari yang lain. Dalam pandangan Scarr itu, efek
multiplikatif sebagian besar menjelaskan varians perkembangan sebagagai apa yang dia sebut
"batas normal", yaitu, orang-orang yang tidak mengalami kerusakan parah akibat penghinaan
yang berasal dari lingkungan. Formulasi tersebut memiliki asumsi tersirat bahwa pola interaksi
orangtua-anak dalam keluarga angkat sangat berbeda dengan yang terjadi di antara keluarga yang
memiliki hubungan biologis. Perbedaan tersebut akan memiliki implikasi yang mendalam bagi
perkembangan anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua biologis yang memiliki karakteristik
psikologis yang dikenal memiliki dasar genetik yang mirip. Teknik microanalytic untuk analisis
interaksi orangtua-anak, seperti yang dikembangkan oleh Patterson (1982) akan sangat cocok
untuk studi perbandingan antara keluarga angkat dan biologis yang memiliki konteks kontras
dari fungsi keluarga.

Hubungan Antara Keluarga dan Pengaturan Anak Lainnya


Adanya teori mengenai pentingnya mengetahui perkembangan sifat dan kekuatan ikatan antara
anak dan keluarga yang mempengaruhi perilaku anak muda yang memasuki kehidupan pada
dekade pertama. Sehubungan dengan masing-masing pengaturan extra familial, terdapat tiga
tahap transisi yang menjadi perhatian:
Keberadaan aturan (yang telah lebih dulu ada) dalam hubungan . Bagaimana proses transisi
dan efek perkembangannya, dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya hubungan sebelumnya
antara pengaturan lain yang muncul setelahnya. Hubungan tersebut dapat mengambil bentuk
interaksi sosial antara peserta dalam pengaturan sebelumnya (misalnya, orang tua dan guru
adalah teman, anak memiliki saudara yang lebih tua di sekolah) atau dalam formasi, sikap, dan
harapan yang ada dalam setiap pengaturan lainnya.
Transisi umpan balik. Setelah anak memasuki pengaturan baru, hal ini secara nyata dapat
mengubah sikap, harapan, dan pola interaksi dalam keluarga, terutama yang memiliki kaita
pada anak. Seperti reorganisasi sistem keluarga yang mengikuti transisi anak ke perannya baru
dalam suatu peraturan baru dapat menjadi lebih penting untuk perkembangan anak dibandingkan
dengan pengalamannya dalam pengaturan baru.
Perubahan pasca transisi dalam hubungan antara pengaturan. Perkembangan anak
selanjutnya dapat dipengaruhi oleh pergeseran dari waktu ke waktu, pada beberapa contoh kasus
menghubungkan sifat keluarga dan pengaturan utama lainnya dimana anak menghabiskan
waktunya (misalnya, orang tua mencegah atau mendukung interaksi anak dengan teman sebaya,
terjadinya penurunan atau peningkatan minat orang tua dalam pengalaman sekolah anak).
Keluarga dan tempat penitipan. Sebuah kesenjangan besar dalam penelitian di bidang ini
adalah tidak adanya penelitian tentang bagaimana perkembangan anak dipengaruhi tidak secara
langsung melalui peran penitipan sebagai sistem pendukung bagi orang tua, terutama bagi ibu.
Meskipun jumlah tinjauan penelitian telah menekankan pentingnya pengaruh tidak langsung
tersebut (misalnya, Belsky, 1985), tidak ada investigasi secara khusus yang difokuskan pada

masalah ini. Terdapat kelalaian terkait dengan kegagalan untuk menyelidiki hubungan antara
tempat penitipan dan pekerjaan orang tua. Tampaknya bahwa dampak perkembangan diamati
dalam lingkup yang terakhir dimoderatori oleh penitipan sebagai sistem pendukung keluarga.
Keluarga dan kelompok sebaya. Sebagaimana dijelaskan di atas, sebelumnya penelitian di
bidang ini telah difokuskan terutama pada kapasitas keluarga untuk melawan tekanan terhadap
perilaku sosial yang menyimpang yang berasal dari kelompok sebaya. Namun, sejumlah ahli
teori perkembangan, terutama Piaget (1932), telah menekankan peran konstruktif pengalaman
perkembangan moral dan kognitif anak. Penyelidikan selanjutnya menunjukkan interaksi yang
kuat antara pengaruh orangtua dan rekan dalam asal-usul perilaku antisocial, hal tersebut tidak
berarti mengesampingkan kemungkinan proses konstruktif yang berasal dari penerapan desain
chronosystem dalam menelusuri jalur alternatif bagi keluarga dan rekan sebaya.
Keluarga dan sekolah. Bukti penelitian yang ada menunjukkan bahwa faktor kuat yang
mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk belajar di kelas adalah hubungan yang ada
antara keluarga dan sekolah. Meskipun, sebagaimana dicatat sebelumnya, sejumlah penyelidikan
telah membahas permasalahan ini, namun sebagian besar adalah deskriptif daripada analitik dan
terbatas hanya pada peran orang tua sebagai pendidik. Kekurangannya adalah proses studi
lapangan yang berorientasi pada percobaan yang melacak munculnya karakteristik secara luas.
Keluarga dan pengalaman kerja anak-anak. Efek perkembangan dari transisi kehidupan
mulai menerima perhatian yang layak. Kesenjangan dalam pengetahuannsemakin mencolok
mengingat fakta bahwa, menurut angka terbaru, sekitar setengah dari semua siswa SMA Amerika
terlibat dalam beberapa bentuk pekerjaan yang dibayar. Selain itu, serangkaian studi
(Greenberger Steinberg, & Vaux, 1981;. Steinberg et al, 982) telah menunjukkan bahwa,
keterlibaran dalam pekerjaan, mengembangkan sikap tanggung jawab, dan mengurangi
keterlibatan remaja dalam keluarga dan sekolah. Penggunaan rokok dan ganja, menghasilkan
sikap sinis terhadap pekerjaan dan mendorong praktek kerja tidak etis. Dari perspektif ini, peran
orang tua dalam mempengaruhi waktu, seleksi, dan interpretasi dari pengalaman kerja anak, dan
efek umpan balik yang dihasilkan dari pengalaman mungkin memiliki arti yang cukup besar bagi
pengembangan anak selanjutnya menuju

perannya sebagai orang dewasa yang memiliki

tanggung jawab sebagai pekerja, pasangan, orang tua, dan warga negara.