Anda di halaman 1dari 2

ETIKA METAETIKA Istilah meta berarti sesudah atau mengatasi, dan sebagai konsekuensinya pemahaman tentang metaetika melibatkan

pandangan sekilas tentang seluruh masalah etika. Metaetika didefinisikan sebagai pengkajian tentang asal usul dan makna konsep-konsep yang berhubungan dengan etika. Metaetika merupakan kajian etika yang membahas tentang ucapan-ucapan ataupun kaidahkaidah bahasa aspek moralitas, khususnya yang berkaitan dengan bahasa etis (yaitu bahasa yang digunakan dalam bidang moral). Kebahasaan seseorang dapat menimbulkan penilaian etis terhadap ucapan mengenai yang baik dan yang buruk dan kaidah logika. Sebagai contoh, sebuah tayangan iklan obat-obatan dengan merk tertentu pada televisi swasta sering menyesatkan banyak orang dengan slogan-slogan yang mengajurkan untuk minum obat tertentu dengan khasiat semua penyakit yang diderita akan hilang dan orang menjadi sehat kembali. Sloganslogan tersebut sangat berlebihan dan ketika orang mulai mengkritik slogan tersebut, maka dimunculkan oleh sekelompok produsen, yaitu ucapan etis. Ucapan etis itu berbunyi: jika sakit berlanjut maka hubungi dokter. Ucapan etis tersebut seakan menjadi semacam perilaku moral yang baik yang dihadirkan oleh sekelompok produsen dan disampaikan agar masyarakat menjadi lebih bijaksana dalam meminum obat tersebut. Metaetika menyelidiki tentang asal-usul prinsip-prinsip etika, dan apa makna dari prinsip-prinsip itu. Apakah prinsip-prinsip tersebut hanyalah temuan-temuan sosial (social inventions)? Apakah prinsip-prinsip etika tersebut melibatkan lebih dari pada sekedar ekspresi individual belaka? Jawaban-jawaban metaetika untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut berfokus kepada masalahmasalah kebenaran universal, kehendak Tuhan, peranan nalar dalam keputusan-keputusan moral, dan makna dari istilah-istilah etika itu sendiri. metaetika membicarakan basis psikologis dan keputusan moral dan tingkah laku, khususnya pemahaman tentang apa yang memotivasi seseorang untuk bermoral. Pokok bahasan ini bisa diselidiki dengan menanyakan pertanyaan mudah, "Kenapa harus bermoral?" Meskipun seseorang menyadari standar moral dasar, seperti jangan membunuh dan jangan mencuri, ini tidak mesti berarti bahwa orang tersebut secara psikologis akan dipaksa untuk melakukan perbuatan itu. Sebagian jawaban untuk pertanyaan "Kenapa harus bermoral?" adalah untuk menghindari hukuman, untuk memperoleh pujian, untuk memperoleh kebahagiaan, untuk dihormati, atau untuk bisa cocok dengan masyarakat. Untuk masalah psikologis dalam metaetika ini ada yang mendasarkan pembahasan pada sifat egois pada manusia yang akhirnya menimbulkan pembicaraan tentang egoisme psikologis dengan tokohnya adalah Thomas Hobbes (1588-1679), filosof Inggeris abad ke 17dan altruisme psikologis dengan tokohnya Joseph Butler (1692-1752), filosof Inggris abad ke 18. Selain itu yang mendasarkan pembahasannya pada peranan emotion dalam memotivasi tindakan-tindakan moral dipelopori oleh David Hume (1711-1776), filosof Inggris abad ke 18. Sedangkan yang lebih menekankan unsur prescriptive dalam menguraikan suatu tingkah laku

khusus beranggapan peranan reason dalam penilaian moral lebih menonjol, dipelopori oleh filosof Jerman abad ke 18, Immanuel Kant (1724-1804). Selain itu ada juga mereka yang mendasarkan pembahasan psikologi moral ini pada perbedaan psikologis antara pria dan wanita.