Anda di halaman 1dari 4

DISTRIBUSI FISIK BATUBARA

TEORI & APLIKASI MANAJEMEN PEMASARAN (TAMP) Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori & Aplikasi Manajemen Pemasaran pada Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran

Disusun Oleh : INTAN PUSPA PRADINI 120110090105

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

A. BATU BARA Batubara merupakan bahan bakar fosil berupa mineral organik yang dapat terbakar, yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Seluruh wilayah di Indonesia memiliki potensi batubara, tetapi hanya beberapa lokasi saja yang dapat diolah dan dimanfaatkan, seperti Kalimantan dan Sumatera. Dalam melakukan eksploitasi lahan untuk pertambangan batubara, kita tidak bisa hanya melihat dari luasnya lahan yang akan dieksploitasi. Besarnya lahan tidak selalu berbanding lurus dengan kandungan batu bara yang ada di dalamnya. Sebelum melakukan penggalian, kontraktor (penambang) harus terlebih dahulu melakukan pengecekkan atas jumlah batubara yang terkandung di dalamnya, apakah bernilai material untuk dilakukan pengeboran. Selain itu, kualitas batubara pun harus diperhatikan. Apakah kadar kalor dan komposisi batu bara tersebut memiliki komposisi yang baik atau tidak. Komposisi tersebut dapat mempengaruhi kualitas batu bara. Hal lain yang harus diperhatikan adalah masalah infrastruktur dalam mengakses lokasi tambang (jalan) dan jarak antara wilayah tambang dengan sungai dan dermaga. Kontraktor harus mampu mempertimbangkan antara cost dan benefit yang akan diperoleh jika hendak mengeksploitasi wilayah pertambangan tersebut. Secara umum, parameter kualitas batubara yang sering digunakan adalah: a) Kalori (Calorivic Value atau CV, satuan cal/gr atau kcal/gr) b) Kadar kelembaban (Moisture, satuan persen) c) Zat terbang (Volatile Matter atau VM, satuan persen) d) Kadar abu (Ash content, satuan persen) e) Kadar sulfur (Sulfur content, satuan persen) f) Kadar karbon (Fixed carbon atau FC, satuan persen) g) Ukuran (Coal size) h) Tingkat ketergerusan (Hardgrove Grindability Index atau HGI) Pada saat ini, penggunaan batubara sebagai alternatif sumber energi primer sedang naik pamor, dibandingkan penggunaan minyak dan gas yang harganya relatif lebih mahal. Selain didasari juga oleh beberapa faktor lain, seperti tersedianya cadangan batubara yang

sangat banyak dan tersebar luas, sekitar lebih dari 984 milyar ton tersebar di seluruh dunia. Kemudian, batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil, serta aman untuk ditransportasikan dan disimpan. Pasokan cadangan batu bara terbesar di dunia dipegang oleh USA (246 milyar ton), Rusia (147 milyar ton), China (115 milyar ton), Australia (76 milyar ton), dan India (59 milyar ton). Namun, tiga negara yang disebutkan di awal tadi tidak mengizinkan adanya eksploitasi terhadap potensi kandungan batu bara yang terkandung di tanah negaranya. Konon, mereka memiliki rencana untuk memulai eksploitasi batu bara tersebut jika cadangan batu bara di negara lain telah habis. Di Indonesia, cadangan batu bara yang dimiliki saat ini adalah 28 milyar ton yang diperkirakan akan dapat digunakan untuk cadangan batu bara sampai 56 tahun ke depan. Produksi Indonesia tiap tahun adalah 400 juta ton dengan harga per ton $80. Setiap tahun penambangan batu bara naik berkisar 5%-10%.

B. DISTRIBUSI BATUBARA

Pertambangan batu bara yang kali ini dibahas adalah yang terdapat di Kalimantan Timur. Pada tahap distribusi fisik terdapat beberapa alat transportasi atau angkut yang digunakan misalnya kapal tongkang dan kapal induk. Kapasitas tongkang memiliki kapasitas 5.000-6.000 ton sedangkan kapasitas kapal induk berkisar antara 50.000-60.000 ton. Sedangkan untuk pengangkutan internasional, umumnya digunakan kapal laut. Pengangkutan batubara ini dapat sangat mahal, bahkan dapat mencapai 70% dari biaya pengiriman batubara. Dalam industri pertambangan, khususnya batu bara, terdapat banyak pihak yang dapat terlibat dalam distribusi fisik batu bara tersebut, yaitu diantaranya : 1. Miners. 2. Traders. 3. Financers. 4. Constructors. 5. Shiping. 6. Toll gate.

Pertambangan batu bara melibatkan banyak pihak. Hal tersebut membuat biaya yang dibutuhkan untuk melakukan sekali eksploitasi lahan tambang batu bara menjadi sangat besar karena masing-masing pihak yang terlibat memiliki biaya atau harga tersendiri. Biaya atau harga ini biasanya mengikuti biaya atau harga internasional. Harga kontraktor $20-$25/ton yang dimana kontraktor ini bekerja pada bagian stock pile. Trucking $6-$8/ton. Loading unloading $3/ton. Keterlambatan pengiriman dapat dikenakan denda ratusan juta. Jadi setiap apapun yang dilakukan haruslah secara efektif dan efisien. Profit setiap tahapan dalam industri pertambangan batu bara memiliki batas maksimum tersendiri. FOB dan CIF ada pada proses atau tahapan pembayaran. FOB merupakan biaya perjalanan sampai ke kapal. Sedangkan CIF adalah biaya dari kapal hingga tujuan. CIF merupakan sumber biaya yang paling besar bagi perusahaan tambang. Perusahaan tambang di Indonesia selalu menggunakan jasa negara lain, misalnya Korea, untuk proses CIF. Hal itu karena belum ada perusahaan di Indonesia yang memfasilitasi CIF karena tidak memiliki networking, modal yang kurang, tidak dimilikinya moda transportasi, dan lainnya. Selain itu CIF memiliki resiko besar. Oleh karena itu

C. PENGGUNAAN BATUBARA Batubara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunaan yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik, produksi baja, pembuatan semen dan proses industri lainnya serta bahan bakar cair. Selain itu, batubara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu seperti karbon aktif (digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencuci darah), serat karbon (bahan pengeras yang sangat kuat namun ringan yang digunakan pada konstruksi), dan metal silikon (digunakan untuk memproduksi silikon dan silan, yang digunakan untuk membuat pelumas, bahan kedap air, dan resin). Hasil sampingan dari batubara juga dapat digunakan untuk memproduksi beberapa produk kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol, dan benzene. Konsumen akhir dari batu bara adalah pabrik, power plant (misal PLN), dan perorangan. Namun konsumen dari perorangan masih sangatlah kecil, biasanya mereka menggunakan batu bara untuk membuat briket.