Anda di halaman 1dari 7

Ekstraksi Batubara

Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisasisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri
dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifatsifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa
unsur memberikan rumus formula empiris seperti : C137H97O9NS untuk bituminus dan
C240H90O4NS untuk antrasit.

A. Faktor-Faktor Dalam Pemilihan Ekstraksi Batubara


1. Sifat keruangan dari endapan bijih

Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khususnya)

Bentuk (tanular, lentikular, massif, irregular)

Posisi (miring, mendatar atau tegak)

Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan)

2. Kondisi Geologi dan Hidrologi

Mineralogy dan petrologi (sulfida atau oksida)

Komposisi kimia (utama, hasil samping, mineral by product)

Struktur endapan (lipatan, patahan, intrusi, diskontinuitas)

Bidang lemah (kekar, fracture, cleavage dalam mineral, cleat dalam Batubara)

Keseragaman, alterasi, erosi

Air tanah dan hidrologi

3. Sifat geomekanik

Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, koefesien poison)

Perilaku plastis atau viscoelastis (flow, creep)

Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)

Konsolidasi, kompaksi dan kompeten

Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas bebas,
lengas bawaan)

4. Konsiderasi ekonomi

Cadangan (tonnage dan kadar)

Produksi

Umur tambang

Produktifitas

Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok

5. Faktor teknologi

olehan tambang

Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)

Kefleksibilitas metode dengan perubahan kondisi-kondisi

Selektifitas metode untuk bijih dan waste

Konsentrasi/penyebaran pekerjaan.

B. metode ekstraksi Batu bara


Metode ekstraksi Batu bara ditambang dengan dua metode :
1. tambang permukaan atau terbuka
2. tambang bawah tanah atau dalam.

Tambang Terbuka
Dilakukan pertama-tama dengan mengupas lapisan tanah penutup. Pada saat ini metode

penambangan mana yang akan dipilih dan kemungkinan mendapatkan peralatan tidak mengalami

masalah. Peralatan yang ada sekarang dapat dimodifikasi sehingga berfungsi ganda. Perlu diketahui
bahwa berbagai jenis batubara memerlukan jenis dan peralatan yang berbeda pula. Mesin-mesin
tambang modern sudah dapat digunakan untuk kegiatan penambangan dengan jangkauan kerja yang
lebih luas dan mampu melaksanakan berbagai macam pekerjaan tanpa perlu dilakukan perubahan dan
modifikasi besar. Pemilihan metode panambangan batubara baik yang akan ditambang secara
tambang dalam ataupun tambang terbuka ditentukan oleh factor :

Biaya penambangan

Batubara yang dapat diambil (coal recovery)

Pengotoran hasil produksi oleh batuan ikutan

Dalam memperhitungkan biaya penambangan dengan metode tambang terbuka harus


termasuk juga biaya pembuangan tanah penutup batubara sampai pada kemiringan lereng
yang seaman mungkin (slope angle). Perbandingan antara lapisan batuan tanah penutup
dengan batubara merupakan factor penentu dalam memilih metode penambangan, untuk itu
perlu dihitung terlebih dahulu break even stripping ratio, yaitu perbandingan antara selisih
biaya untuk penambangan satu ton batubara secara tambang dalam dan tambang terbuka
dibagi dengan biaya pembuangan setiap ton tanah penutup lapisan batubara.
Pemilihan metode penambangan sangat ditentukan oleh unsur geologi endapan batu bara.
Saat ini, tambang bawah tanah menghasilkan sekitar 60% dari produksi batu bara dunia,
walaupun beberapa negara penghasil batu bara yang besar lebih menggunakan tambang
permukaan. Tambang terbuka menghasilkan sekitar 80% produksi batu bara di Australia,
sementara di AS, hasil dari tambang permukaan sekitar 67%.

Tambang Bawah Tanah


Pemilihan metode penambangan sangat ditentukan oleh unsur geologi endapan batu

bara. Saat ini, tambang bawah tanah menghasilkan sekitar 60% dari produksi batu bara
dunia, walaupun beberapa negara penghasil batu bara yang besar lebih menggunakan
tambang permukaan. Tambang terbuka menghasilkan sekitar 80% produksi batu bara di
Australia, sementara di AS, hasil dari tambang permukaan sekitar 67%.
Ada dua metode tambang bawah tanah: tambang room and pillar dan tambang
longwall.

Metode Tambang Room And Pillar


Dalam tambang room and pillar, endapan batu bara ditambang dengan memotong
jaringan ruang ke dalam lapisan batu bara dan membiarkan pilar batu bara untuk
menyangga atap tambang. Pilar-pilar tersebut dapat memiliki kandungan batu bara lebih dari
40% walaupun batu bara tersebut dapat ditambang pada tahapan selanjutnya. Penambangan
batu bara tersebut dapat dilakukan dengan cara yang disebut retreat mining (penambangan
mundur), dimana batu bara diambil dari pilar-pilar tersebut pada saat para penambang
kembali ke atas.

Gambar: Tambang Room And Pillar


Metode Tambang longwall
Tambang longwall mencakup penambangan batu bara secara penuh dari suatu
bagian lapisan atau muka dengan menggunakan gunting-gunting mekanis. Tambang
longwall harus dilakukan dengan membuat perencanaan yang hati-hati untuk memastikan
adanya geologi yang mendukung sebelum dimulai kegiatan penambangan. Kedalaman
permukaan batu bara bervariasi di kedalaman 100-350m. Penyangga yang dapat bergerak
maju secara otomatis dan digerakkan secara hidrolik sementara menyangga atap tambang
selama pengambilan batu bara. Setelah batu bara diambil dari daerah tersebut, atap tambang
dibiarkan ambruk.
Keuntungan utama dari tambang room and pillar daripada tambang longwall
adalah, tambang room and pillar dapat mulai memproduksi batu bara jauh lebih cepat,
dengan menggunakan peralatan bergerak dengan biaya kurang dari 5 juta dolar (peralatan
tambang longwall dapat mencapai 50 juta dolar).Pemilihan teknik penambangan ditentukan
oleh kondisi tapaknya namun selalu didasari oleh pertimbangan ekonomisnya; perbedaan-

perbedaan yang ada bahkan dalam satu tambang dapat mengarah pada digunakannya kedua
metode penambangan tersebut.
Tambang Longwall melibatkan pengambilan batu bara penuh dari suatu bagian
lapisan dengan menggunakan gunting mekanis.

Gambar: Tambang Longwall


C. Proses Ekstraksi Batubara Dalam Dalam Pabrik Pengolahan
Pembuatan Batubara CAir
1. Proses Pembuatan Batu Bara Cair
Untuk mengubah kualitas batubara yang rendah menjadi produk yang berguna secara
ekonomis dan dapat menghasilkan bahan bakar berkualitas serta ramah lingkungan.
Dikembangkanlah proses pencairan batubara dengan nama Brown Coal Liquefaction
Technology (BCL). Adapun gambar proses pembuatannya antara lain:

Gambar:Proses Pembuatan Batubara Cair Dengan Brown Coal Liquification (BCL)


Technology
Proses pertama adalah memisahkan air secara efisien dari batubara yang berkualitas
rendah. Langkah kedua melakukan proses pencairan di mana hasil produksi minyak yang
dicairkan ditingkatkan dengan menggunakan katalisator, kemudian dilanjutkan dengan proses
hidrogenasi di mana heteroatom (campuran sulfur-laden, campuran nitrogen-laden, dan lain
lain) pada minyak batubara cair dipisahkan untuk memperoleh bahan bakar bermutu tinggi,
kerosin, dan bahan bakar lainnya. Kemudian sisa dari proses tersebut (debu dan unsur sisa
produksi lainnya) dikeluarkan.
Kelebihan Batu Bara Cair

Dalam perkembangannya, para peneliti telah melakukan berbagai terobosan teknologi


untuk menghasilkan batubara cair yang berkualitas. Dengan demikian, pengembangan batu
bara cair ini akan menjadi suatu industri yang prospektif bagi pelaku usaha untuk berinvestasi
karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
a. Harga produksi lebih murah, yaitu setiap barel batu bara cair membutuhkan biaya produksi
yang tidak lebih dari US$15 per barel. Bandingkan dengan biaya produksi rata-rata minyak
bumi yang berlaku di dunia saat ini yang mencapai US$23 per barel.
b. Jenis batu bara yang dapat dipergunakan adalah batu bara yang berkalori rendah (low rank
coal), yakni kurang dari 5.100 kalori, yang selama ini kurang diminati pasaran.
c. Setiap satu ton batu bara padat yang diolah dalam reaktor Bergius dapat menghasilkan 6,2
barel bahan bakar minyak sintesis berkualitas tinggi. Bahan ini dapat dipergunakan sebagai
bahan pengganti bahan bakar pesawat jet (jet fuel), mesin diesel (diesel fuel), serta gasoline
dan bahan bakar minyak biasa.
d. Teknologi pengolahannya juga lebih ramah lingkungan. Dari pasca produksinya tidak ada
proses pembakaran, dan tidak dihasilkan gas CO2. Kalaupun menghasilkan limbah (debu dan
unsur sisa produksi lainnya), masih dapat dimanfaatkan untuk bahan baku campuran
pembuatan aspal. Bahkan sisa gas hidrogen masih laku dijual untuk dimanfaatkan menjadi
bahan bakar.
e. Bila teknologi dan biaya produksi batu bara cair tersebut dianggap tidak kompetitif lagi,
perusahaan dapat berkonsentrasi penuh memperoduksi gas hidrogen dan tenaga listrik yang
masih memiliki prospek sangat cerah. Karena dengan memanfaatkan Panel Surya
berteknologi tinggi (Photovoltaic), energi matahari yang mampu ditangkap adalah 100 kali
lipat dibandingkan dengan panel biasa. Setiap