Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan mempunyai daya ungkit yang besar dalam mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. Keperawatan sebagai profesi dan perawat sebagai tenaga professional bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan keperawatan sesuai kompetensi dan kewewenangan yang dimiliki secara mandiri maupun bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lain. Pelayanan keperawatan bermutu merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh perawat. Pelayanan bermutu memerlukan tenaga professional yang didukung oleh faktor internal antara lain motivasi untuk mengembangkan karir professional dan tujuan pribadinya maupun faktor eksternal, antara lain kebijakan organisasi, kepemimpinan, struktur organisasi, sistem penugasan dan sistem pembinaan. Dewasa ini proporsi tenaga perawat di sarana kesehatan merupakan proporsi terbesar dibandingkan dengan tenaga kesehatan lain, yaitu 40%. Tenaga tersebut 65% bekerja di Rumah Sakit, 28% di Puskesmas, dan selebihnya 7% di sarana kesehatan lain. Dari aspek kualifikasi pendidikan terdapat beberapa kategori tenaga perawat yaitu perawat SPK 74%, D III 23%, S1 (Ners) 2,75% S-2 (Magister)/Sp1, dan S-3 (Doktor) Keperawatan 0,25% (PPNI, 2005). Pada dasarnya peran utama perawat adalah sebagai Perawat Pelaksana, Perawat Pendidik, Perawat Manajer, dan Perawat Peneliti (Riset). Pada saat ini, sistem pengembangan jenjang karir dalam konteks sistem penghargaan bagi perawat sudah dikembangkan untuk pegawai negeri sipil (PNS) melalui jabatan fungsional perawat yang ditetapkan berdasarkan SK Menpan No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya, walaupun belum sepenuhnya 1

berbasis

kompetensi.

Disamping

itu,

beberapa belum acuan

Rumah mengarah

Sakit pada tentang

Swasta/Khusus sudah mengembangkan jenjang karir sesuai dengan kebutuhannya ini disebabkan masing-masing karena belum meskipun adanya pengembangan jenjang karir professional (professional career ladder). Hal nasional pengembangan karir professional bagi perawat. Pengembangan jenjang karir professional yang sudah dikembangkan oleh berbagai sarana kesehatan masih kurang memperhatikan tuntutan dan kebutuhan profesi, serta belum dikaitkan dengan kompensasi atau sistem penghargaan. Dengan adanya sistem jenjang karir professional perawat yang diterapkan di setiap sarana kesehatan, diharapkan kinerja perawat semakin meningkat, sehingga mutu pelayanan kesehatan juga meningkat. Dampak lain dari adanya jenjang karir professional adalah mengarahkan perawat untuk menekuni bidang keahlian di tempat kerjanya dan meningkatkan profesionalismenya. Pengembangan jenjang karir pada saat ini lebih menekankan pada posisi/jabatan baik struktural maupun fungsional (job career) sedangkan jenjang karir professional (professional career) berfokus pada pengembangan jenjang karir professional yang sifatnya individual. Oleh karena itu perlu dikembangkan jenjang karir professional bagi perawat dan disusun pedomannya. Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan nasional dalam upaya mengembangkan jenjang karir dalam konteks sistem penghargaan bagi perawat. B. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagai mana telah di rubah dengan UU No. 43 tahun 1999 UU RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. UU RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

4. 5. 6.

UU RI No. 33 tahun 2004 tentang, Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah Undang Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. (Lembar Negara RI tahun 1996, No. 49, tambahan Lembaran Negara RI No. 3637)

7.

Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 2002 tentang Keuangan Pusat dan Propinsi sebagai Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah

8. 9.

Peraturan Pemerintah No. 84 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. Keputusan Presiden No. 87 tahun 1999, tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil.

10. Keputusan Presiden No. 40 tahun 2001 tentang Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah. 11. Keputusan Presiden No 5 Tahun 2004 tentang tunjangan tenaga kesehatan 12. Kepmenpan No. 94/Kep/M.Pan/II/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya. 13. Kepmenkes RI No.1239/Menkes/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat. 14. Kepmenkes No. 1575/Menkes/Per/SK/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 15. Kepmendagri No. 1 tahun 2002 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Daerah. 16. Keputusan Bersama Menkes dan Kepala BKN No. 733/Menkes/SKB/VI/2002, No. 10 tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Perawat. 17. Kep Menkes No. 1280/Menkes/SK/X/2002 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Perawat. 18. Kepmenkes No. 558/Menkes/SK/VI/2002 tentang, Pola Karir Pegawai Negeri Sipil Dijajaran Kesehatan.

C.

TUJUAN 1. Tujuan Umum Meningkatkan Profesionalisme dan akuntabilitas perawat klinik terhadap publik/masyarakat 2. Tujuan Khusus a. Adanya kesamaan persepsi berbagai pihak tentang pengembangan sistem jenjang karir professional perawat klinik. b. Adanya sistem jenjang karir professional perawat dalam konteks sistem penghargaan bagi perawat di sarana kesehatan. c. Sebagai pedoman dalam mengembangkan pola karir professional perawat dalam konteks sistem penghargaan bagi perawat di sarana kesehatan.

D.

RUANG LINGKUP Pengembangan jenjang karir professional perawat mencakup empat peran utama perawat profesional yaitu perawat klinik (PK), perawat manajer (PM), perawat pendidik (PP) dan perawat peneliti/riset (PR). Pembahasan dalam pedoman ini difokuskan hanya untuk jenjang karir professional perawat klinik. Perawat Klinik adalah perawat yang memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien/klien baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat. Sedangkan yang dimaksud dengan perawat professional adalah perawat dengan latar belakang pendidikan tinggi, minimal D III Keperawatan (professional pemula).

E.

SASARAN Pedoman pengembangan jenjang karir professional bagi perawat dalam konteks sistem penghargaan ditujukan kepada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pimpinan Pemerintah (Pusat dan Daerah) Pimpinan Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota. Pimpinan Sarana Kesehatan (Pemerintah, Swasta, dll) Institusi Pendidikan Tinggi Keperawatan Organisasi Profesi Perawat (PPNI). Perawat di sarana kesehatan (Pemerintah, ABRI, Swasta, Dll). 4

BAB II PENGEMBANGAN SISTEM JENJANG KARIR PROFESIONAL PERAWAT A. PENGERTIAN JENJANG KARIR PROFESIONAL PERAWAT Jenjang karir merupakan sistem untuk meningkatkan kinerja profesionalisme, sesuai dengan bidang pekerjaan melalui dan peningkatan

kompetensi. Dalam pengembangan sistem jenjang karir profesional bagi perawat dapat dibedakan antara pekerjaan (job) dan karir (career). Pekerjaan diartikan sebagai suatu posisi atau jabatan yang

diberikan/ditugaskan, serta ada keterikatan hubungan antara atasan dan bawahan, dan mendapatkan imbalan berupa uang. Karir diartikan sebagai suatu jenjang yang dipilih oleh individu untuk dapat memenuhi kepuasan kerja perawat, dan mengarah pada keberhasilan pekerjaan (kinerja) sehingga pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap bidang profesi yang dipilihnya. Pemilihan karir secara bertahap akan menjamin individu dalam

mempraktikkan bidang profesinya, karena karir merupakan investasi dan bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan/imbalan jasa. Komitmen terhadap karir, dapat dilihat dari sikap perawat terhadap profesinya serta motivasi untuk bekerja sesuai dengan karir yang telah dipilihnya. Dalam sistem jenjang karir professional terdapat 3 (tiga) aspek yang saling berhubungan yaitu kinerja, orientasi professional dan kepribadian perawat, serta kompetensi yang menghasilkan kinerja profesional. Perawat professional diharapkan mampu berpikir rasional,

mengakomodasi kondisi lingkungan, mengenal diri sendiri, belajar dari pengalaman dan mempunyai aktualisasi diri sehingga dapat meningkatkan jenjang karir profesinya. Jenjang karir perawat dapat dicapai melalui pendidikan formal dan pendidikan berkelanjutan berbasis kompetensi serta pengalaman kerja di sarana kesehatan.

Pengembangan karir professional Perawat Klinik (PK) bertujuan : 1. Meningkatkan moral kerja dan mengurangi kebuntuan karir (dead end job/career) 2. Menurunkan jumlah perawat yang keluar dari pekerjaannya (turn- over) 3. Menata sistem promosi berdasarkan persyaratan dan kriteria yang telah ditetapkan sehingga mobilitas karir berfungsi dengan baik dan benar. Pengembangan sistem jenjang karir professional perawat klinik ditujukan terutama bagi perawat yang bekerja sebagai perawat pelaksana di sarana kesehatan dan di mulai dari perawat professional pemula. B. PRINSIP PENGEMBANGAN 1. Kualifikasi Kualifikasi perawat, dimulai dari lulusan D III Keperawatan. Mengingat perawat yang ada saat ini sebagian besar lulusan SPK, maka perlu dilakukan penanganan khusus dengan memperhatikan penghargaan terhadap pengalaman kerja, lamanya pengabdian terhadap profesi, uji kompetensi dan sertifikasi. 2. Penjenjangan Penjenjangan mempunyai makna tingkatan kompetensi untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang akontabel dan etis sesuai dengan batas kewenangan praktik dan kompleksitas masalah pasien/klien. 3. Penerapan asuhan keperawatan Fungsi utama perawat klinik adalah memberikan asuhan keperawatan langsung sesuai standar praktik dan kode etik perawat.

4.

Kesempatan yang sama Setiap perawat klinik mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan karir sampai jenjang karir professional tertinggi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5.

Standar profesi Dalam memberikan asuhan keperawatan mengacu pada standar praktik keperawatan dan kode etik keperawatan.

6.

Komitmen pimpinan Pimpinan sarana kesehatan harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pengembangan karir perawat, sehingga dapat dijamin kepuasan pasien/klien serta kepuasan perawat dalam pelayanan keperawatan.

C.

PENJENJANGAN KARIR PROFESIONAL PERAWAT Secara umum, penjenjangan karir professional perawat terdiri dari 4 bidang, meliputi : 1. Perawat Klinik (PK), yaitu perawat yang memberikan asuhan keperawatan 2. langsung kepada pasien/klien sebagai individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Perawat Manajer (PM) yaitu perawat yang mengelola pelayanan keperawatan disarana kesehatan, baik sebagai pengelola tingkat bawah (front line manager), tingkat menengah (middle management) maupun tingkat atas (top manager) 3. 4. Perawat Pendidik (PP) yaitu perawat yang memberikan pendidikan kepada peserta didik di institusi pendidikan keperawatan. Perawat Peneliti/Riset (PR) yaitu perawat yang bekerja di bidang penelitian keperawatan/kesehatan Keempat jalur jenjang karir profesional perawat digambarkan dalam gambar 1

Gambar 1: Bidang Jenjang Karir Perawat dan Pengembangan Karir Perawat Klinik

PK V

PM V

PP V

PR V

PK IV

PM IV

PP IV

PR IV

PK III

PM III

PP III

PR III

PK II

PM II

PP II

PR II

PK I Perawat Klinik

PM I Perawat Manajer

PP I Perawat Pendidik

PR I Perawat Peneliti

Pengembangan jenjang karir profesional perawat pada setiap bidang harus berjenjang mulai dari jenjang I sampai dengan jenjang V dan bersifat terbuka. Artinya, perawat profesional dimungkinkan mencapai jenjang karir di semua bidang. Salah satu persyaratan pengambangan jenjang karir profesional baik sebagai perawat manajer, perawat pendidik, maupun perawat klinik adalah mempunyai kualifikasi sebagai perawat klinik. Dalam gambar-1 diatas menunjukkan untuk menjadi perawat manajer I harus mempunyai kualifikasi perawat klinik II. Untuk menjadi perawat pendidik I harus mempunyai kualifikasi perawat klinik III. Dan untuk menjadi perawat peneliti harus mempunyai kualifikasi perawat klinik IV. D. JENJANG KARIR PROFESIONAL PERAWAT KLINIK Jenjang karir profesional Perawat Klinik (PK) terdiri dari : a. Perawat Klinik I (PK I) b. Perawat Klinik II (PK II) c. Perawat Klinik III (PK III) 8

d. Perawat Klinik IV (PK IV) e. Perawat Klinik V (PK V) Untuk peningkatan ke jenjang karir yang lebih tinggi perawat klinik harus memenuhi persyaratan tingkat pendidikan, pengalaman kerja klinik keperawatan sesuai area kekhususan serta persyaratan kompetensi yang telah ditentukan. 1. Perawat Klinik I ( PK I ) Perawat Klinik I (Novice) adalah: Perawat lulusan D-III telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 0 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-I. 2. Perawat Klinik II ( PK II ) Perawat klinik II (Advance Beginner) adalah perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 5 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman tahun, dan mempunyai sertifikat PK-II 3. Perawat Klinik III ( PK III ) Perawat klinik III (competent) adalah perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman klinik 6 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 0 tahun, dan memiliki sertifikat PK-III Bagi lulusan D-III keperawatan yang tidak melanjutkan ke jenjang S-1 keperawatan tidak dapat melanjutkan ke jenjang PK-IV, dst. 4. Perawat Klinik IV ( PK IV ) Perawat klinik IV (Proficient) adalah Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners kerja 3

Spesialis dengan pengalaman kerja 2 tahun, dan memiliki sertifikat PKIV, atau Ners Spesialis Konsultas dengan pengalaman kerja 0 tahun. 5. Perawat Klinik V ( PK V ) Perawat klinik V (Expert) adalah Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 4 tahun atau Ners Spesialis Konsultan dengan pengalaman kerja 1 tahun, dan memiliki sertifikat PK-V.

10

BAB III KOMPONEN PENGEMBANGAN JENJANG KARIR PROFESIONAL PERAWAT KLINIK Pengembangan jenjang karir professional perawat beberapa komponen antara lain: A. Tanggung jawab dalam pengembangan karir B. Mekanisme jenjang karir C. Sertifikasi D. Renumerasi A. TANGGUNGJAWAB DALAM PENGEMBANGAN KARIR Pengembangan jenjang karir profesional perawat klinik pada dasarnya menjadi tanggung jawab berbagai pihak mul;ai dari individu, perawat itu sendiri, institusi pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, organisasi profesi dan pemerintah. 1. TANGGUNGJAWAB INDIVIDU a. Membuat perencanaan karir jangka panjang untuk membantu mengembangkan karir dirinya, melalui evaluasi kekuatan dan kelemahan diri, penetapan tujuan, kesempatan karir, dan memanfaatkan kegiatan pengembangan b. Memanfaatkan bantuan dalam pembinaan karir jangka panjang c. Menjadikan perencanaan karir sebagai suatu proses yang berjalan secara terus menerus yang dilaksanakan dengan sadar dan teliti d. Mempunyai komitmen pengembangan pribadi dan pengembangan karir 2. TANGGUNG JAWAB INSTITUSI PELAYANAN KESEHATAN a. Manajer institusi harus menciptakan jalur karir dan kenaikan pangkat, berupaya mencocok kan lowongan kerja dengan orang yang tepat, meliputi mengkaji kinerja dan potensi karyawan perlu memperhatikan

11

agar dapat memberi bimbingan karir dan pendidikan serta pelatihan yang paling tepat b. Tanggungjawab Pengelola: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 3. Mengintegrasikan kebutuhan keterpaduan rencana kebutuhan Menetapkan jalur karir Menyebarluaskan informasi karir Meginformasikan lowongan kerja Melakukan pengkajian karyawan Menyediakan penugasan menantang Memberikan dukungan dan dorongan Menyusun kebijakan kepegawaian karyawan Menyediakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan

TANGGUNG JAWAB INSTITUSI PENDIDIKAN. a. b. c. d. e. Menpersiapkan peserta didik agar mempunyai kompetensi sesuai dengan yang ditetapkandalam kurikulum pendidikan. Melakukan survey ke pengguna lulusan untuk mengetahui kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan mayarakat. Menanamkan tanggung jawab tentang perencanaan karir individu. Mengkordinasikan pelayanan. Menanamkam: life long learning serta pendidikan menyiapkan peserta didik untuk menghargai/ apresiasi profesi antara institusi pendidikan dengan

4.

TANGGUNGJAWAB PROFESI a. b. c. d. Menetapkan pola karir termasuk sistem penghargaan, memberlakukan dan memantau & menilai pelaksanaannya Menetapkan, memberlakukan, memantau/ menilai program sertifikasi melalui pendidikan berkelanjutan Memberikan advokasi pengembangan karir Mendorong iklim kerja yang kondusif untuk pengembangan karir

12

e.

Menetapkan, memberlakukan serta memantau & menilai sistem remunerasi

5.

TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH (PUSAT/DAERAH) a) b) c) Mensahkan pemberlakuan pola karir yang ditetapkan oleh organisasi profesi Mengkoordinasikan, advokasi, konsultasi, asistensi pola karir dan sistem penghargaan Melakukan bimbingan dan evaluasi

B. MEKANISME PENGEMBANGAN KARIR PROFESIONAL PERAWAT KLINIK


Individu Perawat

Penerapan promosi

Institusi Yankes

Informasi karir

Tim Kredential (Lembaga sertifikasi) Independen

Uji Kom petensi

Organisasi Profesi

Lulus Menetap kan pola karir


Mengesahkan pola karir

Tidak Lu lus

Institusi Pendidikan

Sertifikat

Remedial (Upaya Perbaikan)

Pemerintah

Uji Ulang 3 kali Promosi Sesuai Jenjang Karir

Tidak Lu lus

Tk. PK Tetap

13

Untuk memasuki penjenjangan karir professional perawat harus memenuhi persyaratan dan kriteria sebagai berikut : a. Memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. b. Memiliki pengalaman kerja (waktu tertentu) di sarana kesehatan. c. Mengikuti pendidikan formal atau pendidikan berkelanjutan (program sertifikasi). d. Lulus uji kompetensi yang dilaksanakan oleh lembaga independen/ Tim Kredential e. Memiliki Surat Ijin Perawat (SIP), Surat Ijin Kerja (SIK) dan/atau Surat Ijin Praktik Perorangan (SIPP) terbaru

C. SERTIFIKASI Dalam setiap pengembangan jenjang. Program sistem jenjang karir perawat, oleh sertifikasi organisasi merupakan suatu proses yang harus ditempuh oleh perawat klinik pada sertifikasi dilaksanakan Persatuan Perawat Nasional Indonesia ( PPNI ). Uji kompetensi dilaksanakan oleh lembaga independen Konsil

Keperawatan Indonesia yang berkedudukan di ibukota Negara. Dalam masa transisi, sebelum terbentuknya Konsil Keperawatan Indonesia, uji kompetensi dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Keperawatan di Pusat dan perwakilan LSP Keperawatan di daerah yang terdiri dari unsur Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan stakeholders terkait. D. REMUNERASI Agar jenjang karir dapat dilaksanakan secara optimal harus didukung oleh sistem remunerasi. Setiap kenaikan dari satu jenjang karir ke jenjang yang lebih tinggi perlu diikuti dengan pemberian remunerasi sesuai dengan kinerja pada setiap jenjang.

14

Imbalan yang terkait dengan jenjang karir ini perlu direncanakan secara mantap dan terakreditasi dalam sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh khususnya dalam sub sistem penghargaan. Sistem penghargaan atau pemberian imbalan ini dalam perencanaan dan dasar penyusunan besarnya nominal/imbalan jasa perawat dapat mengacu pada komponen-komponen yang ada pada pola tarif pelayanan kesehatan. Pelaksanaannya perlu memperhatikan kemampuan institusi, kemampuan daerah yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. E. EVALUASI JENJANG KARIR PROFESIONAL PERAWAT KlLINIK Jenjang karir professional perawat klinik harus dievaluasi secara konsisten dan terstruktur dan mencakup beberapa komponen yang meliputi: 1. Evaluasi Kompetensi Asuhan Keperawatan 2. Evaluasi Penampilan Kerja 3. Evaluasi Pengetahuan Professional 4. Evaluasi Komunikasi dan Koordinasi 5. Evaluasi Kompetensi Manajemen 6. Evaluasi Managemen Riset Selanjutnya evaluasi pengembangan sistem jenjang karir professional perawat klinik akan dilakukan oleh lembaga yang terakreditasi atau ditetapkan berdasarkan kebijakan

15

BAB IV MASA PERALIHAN Pemberlakukan jenjang karir profesional perawat dilakukan secara bertahap berdasarkan formasi dan kebutuhan dengan memperhatikan kelangsungan asuhan keperawatan serta kebijakan/sistem yang selama ini sudah ada. Dengan demikian berbagai upaya penyesuaian khususnya bagi tenaga D III Keperawatan dilakukan langlah-langkah sebagai berikut: 1. Mapping ketenagaan 2. Maching kualifikasi dengan pedoman jenjang karir: a. Pendidikan b. Pengalaman kerja di bidang keperawatan klinik c. Kemampuan tambahan/sertifikasi 3. Challenge test sesuai dengan proses jenjang karir: a. Kompeten b. Tidak kompeten (diulang 3 x) 4. Jika tidak lulus dialihkan ke jenjang yang lebih rendah 5. Pendidikan formal bagi yang mau dan mampu sesuai dengan persiapan jenjang PK yang lebih tinggi. Bagi luluan SPK hingga tahun kelulusan 1998, dilakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Lulusan dengan pengalaman < 10 th adalah PK I dan > 10 tahun PK II. Challenge test: a. Lulus b. Tidak lulus (diulang 3 x) dan bila tidak berhasil maka tidak masuk dalam PK 2. Memberikan kesempatan untuk mengikuti perdidikan formal bagi yang mau dan mampu untuk memasuki jenjang PK yang lebih tinggi.

16

Pada masa transisi, pengembangan sistem jenjang karir professional perawat mempertimbangkan jabatan fungsional yang sudah berlaku dengan memperhatikan: 1. Penilaian penerapan asuhan keperawatan 2. Kompetensi perawat ahli dan terampil Masa transisi untuk lulusan SPK yang sudah ada dalam sistem pelayanan akan diatur/diakomodasi sampai dengan 2010 dan bagi lulusan DIII Keperawatan hingga 2015.

17

BAB V KOMPETENSI PERAWAT KLINIK SESUAI AREA KEKHUSUSAN Penyusunan kompetensi perawat klinik didasarkan pada tiga ranah kompetensi yang mencakup: a. Praktik professional, etis, legal dan peka budaya, adalah kemampuan perawat untuk melaksanakan tindakan keperawatan sesuai standar profesi keperawatan, berdasarkan kode etik keperawatan, mentaati peraturan penundang-undangan yang berlaku serta memperhatikan budaya dan adat istiadat klien/pasien b. Manajemen dan Pemberian Asuhan Keperawatan, adalah serangkaian kemampuan dalam mengelola dan memberikan asuhan keperawatan kepada klien/pasien c. Pengembangan professional, adalah kemampuan perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri serta keilmuan keperawatan. Pengelompokan perawat klinik dibagi dalam lima kategori yaitu Perawat Klinik I (PK I); Perawat Klinik II (PK II); Perawat Klinik III (PK III); Perawat Klinik IV (PK IV); Perawat Klinik V (PK V). Secara umum PK I sampai dengan PK II disetarakan dengan kompetensi perawat generalis (umum). Perbedaan dari PK I dan PK II didasarkan pada tingkat kedalaman dari ketiga ranah kompetensi. Sedangkan PK III memiliki kemampuan ketrampilan khusus (sertifikasi); Kompetensi PK IV setara dengan perawat spesialis I (Sp1) dan PK V setara dengan perawat spesialis II (Sp2). Kompetensi yang dicantumkan dalam setiap PK merupakan kompetensi mandiri dimana perawat tersebut mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan. Pada situasi tertentu perawat dapat melakukan tindakan yang bukan merupakan kompetensi dan kewenangannya dengan bimbingan penuh atau terbatas oleh perawat yang mempunyai kompetensi lebih tinggi dan memiliki kewenangan untuk tindakan tersebut.

18

Kompetensi perawat klinik dalam pedoman ini merupakan kompetensi pokok untuk setiap tingkat perawat klinik. Guna mengukur tingkat kompetensi seseorang, kompetensi tersebut masih perlu dijabarkan kedalam sub kompetensi dan kriteria unjuk kerja (KUK) sehingga dapat ditetapkan standar prosedur pelaksanaannya. Pembagian area kompetensi perawat klinis didasarkan pada kekhususan pelayanan keperawatan yaitu perawatan medikal bedah, perawatan maternitas, perawatan anak, perawatan jiwa, perawatan komunitas dan perawatan gawat darurat.

19

BAB VI PENUTUP Pengembangan sistem jenjang karir professional perawat dalam konteks sistem penghargaan meningkatkan diperlukan oleh manajemen sarana kesehatan untuk motivasi dan karir professional perawat disamping pada

akhirnya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan secara keseluruhan. Pengembangan jenjang karir tenaga kesehatan khususnya bagi tenaga perawat diharapkan menjadi satu kesatuan dengan sistem pelayanan kesehatan. Dengan adanya Pedoman Pengembangan Sistem Jenjang Karir Professional Tenaga Perawat Dalam Konteks Sistem Penghargaan, diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan di sarana kesehatan bagi tenaga perawat, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan mutu pelayanan kesehatan. Untuk menunjang keterlaksanaan dan sustainibilitas penjenjangan ini perlu adanya komitmen pemerintah, pimpinan sarana kesehatan dan organisasi profesi guna penerapan jenjang karir ini. Sebagai tindak lanjut pedoman ini diperlukan beberapa hal untuk segera dikembangkan oleh pihak-pihak yang terkait meliputi: 1). Program sertifikasi, 2).Standar kompetensi, 3). Sistim uji kompetensi, 4). Pola imbal jasa, dan 5).Mekanisme penataan jenjang karir di masa transisi/peralihan.

20