Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN RETARDASI MENTAL

Disusun oleh:

Dessy Angghita SA10017

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL BANDUNG 2013

SATUAN ACARA PENYULUHAN RETARDASI MENTAL

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan

: Retardasi Mental : 1. Definisi Retardasi mental 2. Klasifikasi Retardasi Mental 3. faktor penyebab Retardasi Mental 4. Komplikasi Retardasi Mental 5. Pencegahan Retardasi Mental 6. Cara Merawat Anak dengan Retardasi Mental

Sasaran Tempat Hari / Tanggal Waktu

: Ibu E : Rumah Ibu E : Senin/ 20 Mei 2013 : 13.00-13.30 (30 menit)

A. Tujuan Instruksional Umum Setelah mendapatkan penyuluhan, sasaran mampu memahami dan

mengaplikasikan materi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari. B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mendapatkan penyuluhan masyarakat mampu: 1. Definisi Retardasi mental 2. Klasifikasi Retardasi Mental 3. faktor penyebab Retardasi Mental 4. Komplikasi Retardasi Mental 5. Pencegahan Retardasi Mental 6. Cara Merawat Anak dengan Retardasi Mental D. Materi (Terlampir)

E. Kegiatan penyuluhan No Waktu Kegiatan Penyuluhan Pembukaan : Mengucapkan salam Menjelaskan topik Menanyakan kesiapan klien Menjawab salam Mendengarkan Mendengarkan Menjawab Kegiatan Keluarga

Menggali seberapa jauh pengetahuan klien 1. 5 menit tentang retardasi mental Pelaksanaan : 1. Penyampaian materi Definisi Retardasi mental Klasifikasi Retardasi Mental faktor penyebab Retardasi Mental Komplikasi Retardasi Mental Pencegahan Retardasi Mental Cara Merawat Anak dengan Retardasi Mental Memberikan kesempatan klien untuk bertanya 2. 15 menit mengenai materi yang disampaikan Evaluasi: Menanyakan kembali hal-hal yang

Mendengarkan Bertanya

sudah dijelaskan mengenai Retardasi Mental 3. 5 menit Penutup Menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas 4. 5 menit Memberikan salam penutup Mendengarkan Menjawab salam Menjawab

F. Media 1. leaflet 2. lembar balik G. Metode 1. Ceramah 2. Tanya Jawab H. Evaluasi Jenis evaluasi Waktu Kriteria Evaluasi : Memberikan pertanyaan : Akhir Kegiatan :

1. Klien dapat menyebutkan pengertian dari Retardasi Mental 2. Klien dapat menyebutkan penyebab dari Retardasi Mental 3. Klien dapat menyebutkan 3 tanda dan gejala Retardasi Mental 4. Klien dapat menyebutkan komplikasi Retardasi Mental 5. Klien dapat menyebutkan cara merawat anak dengan Retardasi Mental G. SUMBER BACAAN Abdurrahman, A. (2011). Anakku Tidak Pintar. Diakses 13 Desember 20011 dari http://www.scribd.com/doc/93283505/pleno-3 Depdiknas. (2003). Pedoman Guru Pendidikan Merawat Diri Untuk Anak Retardasi Mental. Jakarta : CV Karya Sejahtera Drew, Edward, C. (2006). Ketika Anak Sulit Diatur : Panduan Orang Tua Untuk Mengubah Masalah Perilaku Anak. Bandung : PT. Mizan Utama. Pambudi, A. S. (2011). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kepribadian Anak. Diakses pada 1 Oktober 2012 dari

http://www.scribd.com/doc/67873296/Pengaruh-Pola-Asuh-Orang-TuaTerhadap-Kepribadian-Anak

MATERI RETARDASI MENTAL

A. DEFINISI RETARDASI MENTAL Menurut Carter CH (dikutip dari Toback C) Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Melly Budiman seorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. 2. 3. Fungsi intelektual umum dibawah normal. Terdapat kendala perilaku adaptif sosial. Gejala timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah usia 18 tahun.

B. KLASIFIKASI RETARDASI MENTAL Menurut nilai Iqnya, maka intelegensi seseorang dapat digolongkan sebagai berikut (dikutip dari Swaiman 1989): Nilai IQ Sangat superior Superior Di atas rata-rata Rata-rata Di bawah rata Retardasi mental borderline Retardasi mental ringan (mampu didik) Retardasi mental sedari (mampu latih) 130 atau lebih 120-129 110-119 90-110 80-89 70-79 52-69 36-51

Retardasi mental berat Retardasi mental sangat berat

20-35 dibawah 20

Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya adalah sebagai berikut : 1. Retardasi Mental Ringan Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental, kebanyakan dari mereka ini termasuk dalam tipe sosial budaya, dan diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan bisa sampai kelas 4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak. 2. Retardasi Mental Sedang Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental. Mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas 2 SD saja. 3. Retardasi Mental Berat Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini. Diagnosis mudah ditegakkan secara dini, karena selain adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dan orang tua dimana sejak awal sudah terdapat ketelambatan perkembangan motorik dan bahasa. Kelompok ini termasuk tipe klinik. Mereka dapat dilatih higiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana. 4. Retardasi Mental Sangat Berat Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk tipe klinik. Diagnosis dini mudah di buat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan berbahasanya sangat minimal. Mereka ini seluruh hidupnya tergantung pada orang disekitarnya.

C. FAKTOR PENYEBAB RETARDASI MENTAL Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik,

pemeriksaan fisik dan laboratorium. Faktor-faktor yang potensial berperan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shon Koff (1992) dibawah ini : Faktor Non Organik - Kemiskinan dan keluarga yang tidak baik - Faktor sosio kultural - Inferaksi anak pengasuh yang tidak baik - Penelantaran anak Faktor Pra Konsepsi 1. Faktor Pra Konsepsi - Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan neurocutaneos). - Kelainan kromosom. 2. Faktor Pra Natal Gangguan pertumbuhan otak trimester I Kelainan kromosom (trisomi, mosaik, dll). Infeksi intra uterin, misal TORCH, HIV. Disfusi plasenta. Kelainan kongenital dari otak (idiopatik).

Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III Infeksi intra uterin. Zat-zat tera togen (alkohol, kokain, logam berat, dll). Ibu (Diabetes Mellitus). Toksemia gravidarum. Disfusi placenta. Ibu mal nutrisi.

3.

Faktor Perinatal - Lahir prematur. - Asfiksia neonatarun. - Trauma lahir : perdarahan intra kranial. - Meningitis.

4.

Faktor Post Natal - Trauma berat pada kepala / susunan syaraf pusat. - Neuro tokan, misalnya logam berat. - CVA (Cerebio Vascular Accident). - Anoksia, misalnua tenggelam. - Gizi buruk. - Kelainan hormonal. - Kelainan metabolisme karbohidrat.

D. KOMPLIKASI RETARDASI MENTAL Menurut Betz, Cecily (2002) komplikasi retardasi mental ialah: 1. Serebral palsi 2. Gangguan kejang 3. Gangguan kejiwaan 4. Gangguan konsentrasi/hiperaktif 5. Defisit komunikasi 6. Konstipasi (kerena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan, kurang mengkonsumsi makanan berserat dan cairan) E. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL Pencegahan primer dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan-sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (umpamanya perawatan prenatal yang baik,

pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anakanak).

Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan subdural, kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan kraniotomi; pada mikrosefali yang kogenital, operasi tidak menolong). Pencegahan tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau dektrukstif. Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan retardasi mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak. F. CARA MERAWAT ANAK DENGAN RETARDASI MENTAL Suntrock mencantumkan beberapa cara pengajaran terhadap anak dengan retardasi mental yaitu sebagai berikut: a. Membantu anak MR untuk berlatih menentukan pilihan personal dan determinasi diri. jika dimungkinkan. b. Selalu ingat level fungsi mental anak. Tingkat fungsi mental anak penderita retardasi mental biasanya lebih rendah ketimbang anak laik di kelas anda. Jika anda memulai pada satu level pengajaran, dan anak tidak merespons secara efektif, turunkan level pengajarannya. c. Sesuaikan instruksi pengajaran Anda dengan kebutuhan si anak. d. Sebagaimana halnya mengajar anak yang mengalami ketidak mampuan lainnya, berilah contoh konkret dari satu konsep. Gunakan instruksi pengajaran yang jelas dan sederhana. e. Beri anak Retardasi Mental kesempatan untuk melatih apa-apa yang telah mereka pelajari. Suruh mereka mengulangi beberapa kali konsep yang telah mereka pelajari tadinya sampai mereka menguasainya.

f. Perhatikan rasa penghargaan diri si anak. Dalam maksud, jangan membanding-bandingkan dengan anak yang tidak mengalami retardasi mental. g. Jangka berprasangka negatif terhadap kemampuan belajar anak. Biasanya kita mudah tergida untuk menggangap anak retardasi mental itu sebagai anak yang tidak bisa berprestasi baik itu secara akademik. h. Sadari bahwa banyak anak dengan retardasi mental bukan hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga membutuhkan bantuan untuk meningkatkan keterampilan perawatan diri dan keterampilan sosial. i. Cari dukungan sumber daya. Gunakan asisten guru dan rekrut sukarelawan untuk membantu anada mendidikan anak yang retardasi mental. Banyak orang dewasa yang terdidik yang sudah pensiun mungkin mau membantu, Mereka dapat membantu anda untuk meningkatkan jumlah instruksi kepada anak. j. Pertimbangkan untuk menggunakan starategi analisis perilaku. Beberpa guru melaporkan bahwa startegi ini bisa meningkatkan kemampuan anak untuk merawat diri, keterampilan sosial, dan kemampuan akademik. k. Jika anda mengajar di kelas menengah, evaluasilah keahlian vokasional yang dibutuhkan murid retardasi mental untuk mendapatkan pekerjaan, ( Rogan, Luecking, &Held,2001) l. Libatkan orangtua sebagai mitra mendidik anak. Pendekatan yang dapat diberikan kepada anak retardasi mental adalah: 1. Occuppasional Therapy (Terapi Gerak) Terapi ini diberikan kepada anak retardasi mental untuk melatih gerak funsional anggota tubuh (gerak kasar dan halus).

2. Play therapy (Terapi bermain) Terapi yang diberikan kepada anak retardasi mental dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli. 3. Activity Daily Living (ADL) atau Kemampuan Merawat Diri Untuk memandirikan anak retardasi mental, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain. 4. Life Skill (Keterampilan hidup) Anak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator. Bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha. 5. Vocational Therapy (Terapi Bekerja) Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.

10