Anda di halaman 1dari 29

Case Base Disscussion OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher (THT KL)

Disusun oleh : Kamarul Widyawati Merin Awu Sari Muzaki Yafi Teuku Nicko Rinaldi (01.208.5695) (01.208.5713) (01.207.5399) (01.208.5791)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Tanggal Periksa No. CM : Ny. R : 48 tahun : Perempuan : Jl. Bukit kelapa kopyor VI/BM- 04 Semarang : Ibu Rumah Tangga : 23 Agustus 2013 : 26.34.25

II. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan tanggal 23 Agustus 2013 (autoanamnesis), di poli THT RSUD Kota Semarang 2.1. Keluhan Utama: Telinga kanan kurang pendengaran. 2.2. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang dengan keluhan utama kurang pendengaran pada telinga kanan sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan muncul setelah pasien buang ingus keras-keras. Pasien mengaku dari telinga juga keluar cairan bening encer Untuk mengatasi keluhan tersebut pasien membeli obat tetes telinga (Pasien lupa nama obat) seperti yang pernah diresepkan dokter untuk penyakit yang dulu, tetapi tidak sembuh. Pasien juga mengeluh batuk pilek 2 minggu yang lalu. Batuk sudah sembuh, tinggal pilek masih keluar lendir putih.

Sekitar 2 bulan yang lalu pasien pernah datang dengan keluhan telinga kanan sakit, gemrebeg, dan didiagnosis mengalami otitis media . Kemudian dikatakan oleh dokter bahwa gendang telinganya bolong dan mengeluarkan cairan. Kemudian oleh dokter sudah diberi terapi dan keluhan hilang. 2.3. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat penyakit serupa Riwayat hipertensi Riwayat batuk pilek Riwayat alergi 2.4. Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat sakit serupa dengan penderita disangkal. 2.5. Riwayat Sosial Ekonomi: Pasien tinggal dengan suami dan anaknya. Biaya kesehatan ditanggung oleh Jamkesmas III. PEMERIKSAAN FISIK 3.1. Status Generalis: 3.1.1. Keadaan Umum 3.1.2. Kesadaran 3.1.3. Aktifitas 3.1.4. Kooperatif 3.1.5. Status Gizi : Baik : Composmentis : normoaktif : Kooperatif : cukup : ada : disangkal : ada 2 minggu yang lalu : disangkal

3.2. Status Lokalis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) 3.2.1. Kepala dan Leher Kepala Wajah Leher : : mesocephale : simetris : Pembesaran kelenjar limfe (-)

3.2.2. Gigi dan Mulut: Gigi-geligi Lidah Pipi : normal : normal, kotor (-), tremor (-) : bengkak (-)

3.2.3. Telinga Kanan Auricula Bentuk normal, nyeri tarik (-) tragus pain (-) Pre Auricular Bengkak (-), nyeri tekan(-), fistula(-) Retro Auricular Bengkak (-), Nyeri tekan(-) Mastoid Bengkak (-), Nyeri tekan(-) CAE Hiperemis (+) Serumen (-) Kiri Bentuk normal, nyeri tarik (-) tragus pain (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-), fistula (-) Bengkak (-), Nyeri tekan(-) Bengkak (-), Nyeri tekan(-) Hiperemis (-) Serumen (-)

Discharge (+) Membran Timpani Warna: putih Perforasi(+)sentral Cone of ligt (-)

Discharge (-) Warna: mengkilat Perforasi (-) Cone of light (+) Putih

3.2.4. Hidung dan Sinus Paranasal: Luar: Bentuk Sinurs Kanan Normal Nyeri tekan (-) Transluminasi (tidak dilakukan) Inflamasi/tumor (-) Kiri normal Nyeri tekan (-) Transluminasi (tidak dilakukan) (-)

Rhinoskopi Anterior Sekret Mukosa Konka Media

Kanan

Kiri

mukoid (-) hiperemis (-) hipertrofi (-) hiperemis (-) Pucat (+)

mukoid (-) hiperemis (-) hipertrofi (-) hiperemis (-) Pucat (+) hipertrofi (-)

Konka Inferior

hipertrofi (-)

hiperemis (-) Tumor Septum Massa (-) (-) deviasi (-)

hiperemis (-) (-)

(-)

3.2.5. Faring Orofaring: Mukosa Palatum mole Kanan Hiperemis (-) Ulkus (-) Hiperemis (-) Arcus Laring Simetris (+) Hiperemis (-) Uvula Ditengah Edema (-) Tonsil: Ukuran Permukaan Warna Kripte Detritus T0 Rata Hiperemis (-) Melebar (-) (-) T0 rata Hiperemis (-) Melebar (-) (-) Kiri Hiperemis (-) Ulkus(-) Hiperemis (-) Simetris (+) Hiperemis (-)

Nasofaring

(rinoskopi

posterior),

dan

Laringofaring

(laringoskopi indirek) : tidak dilakukan.

IV. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG 4.1. Garpu Tala 4.2. Audiometri 4.3. Sekret Bakteriologis : memeriksa gangguan pendengaran : memeriksa gangguan pendengaran : memeriksa sekret untuk mengetahui jenis kumannya V. RINGKASAN Anamnesa

kurang pendengaran pada telinga kanan sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengaku dari telinga juga keluar cairan bening encer . Pasien juga mengeluh batuk pilek 2 minggu yang lalu. Batuk sudah sembuh, tinggal pilek masih keluar lendir putih.

Sekitar 2 bulan yang lalu pasien pernah datang dengan keluhan telinga kanan sakit, gemrebeg, dan didiagnosis mengalami otitis media .Kemudian dikatakan oleh dokter bahwa gendang telinganya bolong dan mengeluarkan cairan. Kemudian oleh dokter sudah diberi terapi dan keluhan hilang. Auris dekstra otorhea (+) serous Membran timpani perforasi (+) Otalgia (-)

Pemeriksaan fisik Otoscopi: Auris dektra CAE hiperemis (+) 2/3 dalam Otorhea(+) serous membran timpani warna putih, perforasi (+), reflek cahaya(-), retraksi (-)

VI.

DIAGNOSIS BANDING: 4.1. Otitis Media Akut Stadium supuratif 4.2. Otitis Media Supuratif Kronis 4.3. Mastoiditis Kronis

VII.

DIAGNOSIS SEMENTARA Otitis Media Supuratif Kronis

VIII.

TERAPI: 8.1. Medikamentosa a. AntibiotikAmoxycilin (3-4x500mg) selama 14 hari. b. Perawatan lokal dengan H2O2 3% selama 3-5 hari 8.2. Non-medikamentosa Timpanoplastimembuat jembatan antara tepi-tepi perforasi membran tympani atau menggunakan fascia musculus tensor tympani

IX.

PROGNOSA: Quo ad vitam Quo ad sanam : dubia ad bonam : bonam

Quo ad fungsionam : bonam

OTITIS MEDIA KRONIS

1.

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA TENGAH a. ANATOMI Telinga tengah terdiri atas: a. Membran timpani Membran tipis, semitransparent, oval, miring kearah

kaudomedial yang memisahkan kavitas timpani dan canalis auditorius externus. Terdiri atas pars flaccid dan pars tensa. Pars flaccid berada diantara plica malearis anterior dan posterior terdiri atas stratum cutaneum dan mukosum, sedangkan pars tensa merupakan 2/3 bagian dari membran timpani, terdiri atas stratum kutaneum, mukosum dan fibrosum. b. Kavitas timpani Terdiri dari 6 dinding yaitu pars tegmentalis ( atap ), pars jugularis ( lantai ), pars membranaseus ( lateral ), pars labirinti ( medial ), pars mastoidea ( posterior ) dan pars caroticus ( anterior ). Pada dinding medial terdapat promontorium, tonjolan dari cochlea, dan terdapat foramen ovale dan foramen rotundum yang

menghubungkan telinga tengah dengan teinga dalam. Pada dinding posterior terdapat aditus ad antrum.

c. Tuba auditiva eustachii Tabung yang menghubungkan kavitas timpani dengan

nasofaring, pada orang dewasa memiliki panjang sekitar 36 mm dan pada bayi / anak anak tabung ini lebih pendek, lebar dan horizontal. Dibagi menjadi 2 bagian yaitu pars ossea dan pars cartilaginea. d. Antrum et cellulae mastoid Terletak di belakang recessus epitimpanicus di dalam pars petrosa os temporal. e. Ossicula auditus dan miologi Terdiri atas 3 tulang berurutan dari lateral ke medial, yaitu maleus, inkus dan stapes. f. Musculus M. tensor timpani ( menarik manubrium mallei ke arah medial sehingga menegangkan membran timpani ) dan m. stapedius ( mengurangi gerakan basis stapedis dengan jalan menariknya ke arah lateral dengan tujuan melindungi auris interna dari suara keras ). (Dewi, 1991).

Gambar 1. Anatomi Telinga Tengah

10

b. FISIOLOGI Telinga pada dasarnya berfungsi sebagai alat pendengaran, alat keseimbangan, dan juga kosmetik. Sebagai alat pendenganran telinga berfungsi sebagai alat penghantar gelombang suara dari luar (membran timpani) sampai ke telinga dalam (foramen ovale). Di dalam telinga tengah gelombang suara dihantarkan melalui tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi gelombang suara melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dengan foramen ovale. Energi getaran yang telah diamplifikasi ini akan

diteruskan ke staper yang menggerakkan foramen ovale, sehingga perilimfe pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe, sehingga akan

menimbulkan gerak relatif antar membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosillia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter (serotonin) ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada n. cochlearis, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. Telinga tengah juga memberi (mensuplai) oksigen kepada telinga dalam dengan cara difusi ke dalam perilimfe, terutama melalui foramen rotundum. Dengan demikian maka bagian yang terpenting di dalam telinga tengah adalah foramen ovale dan foramen rotundum, baik sebagai

11

penghantar gelombang suara maupun sebagai pemberi oksigen kepada telinga dalam. Telinga tengah sendiri mendapat oksigen dari kapiler submukosa dan dari udara yang berada di kavum timpani dengan cara mengabsongrbsi udara. Untuk kedua fungsi ini maka udara dalam kavum timpani harus diatur keluar masuknya untuk menjaga keseimbangan dengan tekanan atmosfer udara luar, serta diatur pertukaran udaranya (pengudaraan, aerasi). Hal ini dilakukan oleh tuba Eustachii, dengan demikian pentingnya tuba adalah untuk megatur pengudaraan pada telinga tengah. Selain pengatur tekanan udara, yang lebih penting lagi adalah pemberian udara segar (oksigen), yang disebut pengudaraan atau aerasi). Kavum timpani dan visceranya dilapisi oleh mukosa. Epitel kavum timpani ada tiga macam yaitu epitel gepeng (skuamous), kuboid dan kolumner yang terdiri dari kolumner bersilia, berkelenjar (sekretorik), dan kolumner biasa. Bila telinga tengah mengalami peradangan, maka akan dapat ditemukan sel kelenjar dan sel goblet. Epitel telinga tengah dapat mengalamitransformasi, metaplasia, maupun dysplasia. Proses ini terlihat jika epitel mengalam rangsangan yang kronik baik mekanik amupun kimia. Epitel kolumner bersilia dan berkelenjar lebih banyak terdapat di daerah dekat muara tuba dan promontorium (mesotimpanum). Di daerah epitimpanum dan retrotimpanum banyak terdapat epitel gepeng karena udara di sini bersifat statis, selain epitel kolumner bersilia

12

dan berkelenjar yang jumlahnya sedikit, yang berfungsi untuk pembuangan dan pertahanan. Adapun fungsi telinga tengah sendiri dapat dikelompokkan menjadi: a. Kegiatan mukosa i. Mengabsorbsi oksigen, cairan hasil metabolisme dan hasil dari proses patologi. ii. Drainase (pembuangan) dengan mukosilia. iii. Menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk ke dalam telinga tengah, di sekitar muara tuba. iv. Alat proteksi yang terdiri atas: mekanik karena adanya lapisan lender di atas epitel yang menahan kotoran dan kuman, kemudian oleh sel kolumner bersilia sistem transport

digerakkan ke tuba. Cairan yang dihasilkan oleh sel kolumner sekretorik, meliputi enzim (lisozim, tripsin, kolagenase), zat immunoglobulin, dan seluler di submukosa meliputi fibrosit, fibroblast, submukosa, sel limfosit, sel plasma. b. Pengudaraan kavum timpani, yang terbagi atas lintasan udara superior yaitu aliran udara dari tuba langsung ke relung foramen ovale melalui di atas promontorium, terus ke ruang epitimpanum melaui istmus timpani anterior, dan lintasan udara inferior yaitu dari tuba aliran udara dibelokkan oleh

13

tendo m.tensor timpani dengan lipatan maleolus tensoris untuk masuk ke saluran antara mesotympanum dan hipotympanum untuk masuk ke relung foramen rotundum, terus masuk ke istmus timpani posterior dan mengudarai kantorn Prussak terus ke epitympanum. c. Tekanan udara kavum timpani Tekanan udara kavum timpani selalu berubah, dan naik setelah menelan (tuba terbuka) dan pada posisi tiduran. Perubahan tekanan ini dapat diatur kembali oleh udara cadangan yang berada di retrotimpanum untuk menyeimbangkan dengan tekanan atmosfer luar dengan melaui istmus timpani. Dengan demikian maka makin sedikit udara cadanganya makin mudah terjadinya proses patologi di kavum timpani. d. Pertukaran gas Seperti dalam alat pernapasan, kavum timpani juga

mengadakan pertukaran gas. Dengan adanya perbedaan tekanan antara gas-gas dalam telinga tengah dan dalam jaringan, maka terjadi absorbs gas perlahan tetapi kontinyu. (Rosana, 2010). 2. DEFINISI Otitis media adalah Peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachii, antrum mastoid dan sel sel mastoid (Restuti.dkk, 1990).

14

Otitis media supuratif kronis (OMSK) atau dalam sebutan sehari-hari disebut congek adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul.

3.

ETIOLOGI Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi campuran bakteri dari meatus auditoris eksternal , kadang berasal dari nasofaring melalui tuba eustachius saat infeksi saluran nafas atas. Organisme-organisme dari meatus auditoris eksternal termasuk staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus, B.coli dan aspergillus. Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus viridans ( streptococcus A hemolitikus,

streptococcus B hemolitikus dan pneumococcus. Terjadi OMSK hampir pada selalu dimulai dengan otitis media berulang

anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal

dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Downs syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat.

15

4.

KLASIFIKASI OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan

penyakit. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: a. Penyakit aktif Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang, dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. b. Penyakit tidak aktif Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering

dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. 2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang Pada Penyakit tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. dijumpai seperti

atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya

dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : a. Kongenital b. Didapat.

16

Pada umumnya kolesteatom

terdapat

pada otitis

media kronik

dengan perforasi marginal. teori itu adalah : Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan disini membentuk kolesteatom (migration teori menurut Hartmann); epitel yang masuk menjadi nekrotis, terangkat keatas. Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom. Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi (metaplasia teori menurut Wendt). Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida (attic

retraction cholesteatom). 5. PATOGENESIS Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif kronis ap sudah lebih abila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila prosesnya kurang dari 2 bulan disebut otitis media supuratif subakut. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK adalah: 1. Terapi terlambat diberikan atau tidak adekuat. 2. Virulensi tinggi. 3. Daya tahan pasien buruk bisa karena gizi dan hygiene yang buruk. (Restuti.dkk, 1990). Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK.

17

1. Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. 2. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. 3. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. 4. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami

pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi (Djaafar, Helmi, 2001). Menurut Krumennauer (2005), faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis majemuk, antara lain: 1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang. a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang. b. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total 2. Perforasi membran timpani yang menetap. 3. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik

menetap lainya pada telinga tengah. 4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid. 5. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh.

18

OMA OMSK

Ggn tuba menetap

Epitelisasi membran Perforasi membran timpani menetap Infeksi telinga tengah

Terapi tidak adekuat

Infeksi menetap> 2buan

Virulensi tinggi

Pertahanan host buruk

Mastoiditis Choleastoma kongenital

Tubotimpanal/beningna

Aticoantral/maligna

perforasi sentral

Radang persisten mukosa Granulasi, fibrosis, polip

Perforasi marginal atau attic

Tidak menutup

Drainase buruk

Permanen perforation syndrome

Persistent mucosal disease

Timpano mastoid disease

Migrasi epitel CAE atau membran timpani

Choleastoma

Gambar2. Patogenesis Otitis Media Supuratif Kronis

19

1.

GEJALA KLINIS 1. Telinga Berair (Otorrhoe) Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium

peradangan. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi telinga tengah oleh perforasi membran iritasi dan mukosa infeksi.

timpani

Keluarnya

sekret biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium

inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan

granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberculosis. 2. Gangguan Pendengaran Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat. 3. Otalgia Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis,

20

atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. 4. Vertigo Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo.Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum (Boies, 1994).

5.

DIAGNOSIS A. Tipe Tubotimpanal i. Anamnesis 1. Tuli konduktif 2. Ottorhea (serous, mukus, purulen jarang) 3. Nyeri (jarang, karena tipe ini tidak menyerang tulang) 4. vertigo (jarang, jika terjadi perubahan tekanan saja, atau perubahan suhu yang lebih mudah akibat besarnya lubang) 5. Akibat ISPA atau kemasukan air. 6. Pada tipe mukosa persisten bisa disebabkan KU pasien kurang baik (anemi, penyakit sistemik).

21

ii. Pemeriksaan Klinis 1. Garputalagangguan pendengaran konduktif (CHL) Rinne : positif , BC > AC Weber : lateralisasi ke yg sakit Scwabach : memanjang 2. Audiometri (biasanya tuli CHL) BC normal, AC tidak normal, terdapat GAP minimal 15 dB 3. Otoskopi Perforasi membrane timpani sentral Sekret mukus, serus, purulen (jarang) keluar ke CAE 4. Radiologi (untuk melihat penyebaran ke tulang-tulanguntuk tipe ini biasanya tidak perlu). B. Tipe Aticoantral i. Anamnesis 1. Tuli konduktif/sensorineural 2. Ottorhea (purulen:kuning, kental, bau) 3. Nyeri (seringcholeastoma atau penjalaran ke tulang, bisa juga akibat sekret yang tertahan) 4. Vertigo (seringgangguan choleastomalabirin) ii. Pemeriksaan Klinis 1. 2. 3. Garputala (CHL atau SNHL) Audiometri (CHL atau SNHL) Otoskopi: Perforasi marginal atau di attic

22

Sekret purulen 4. Radiologi Foto Schuller Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Foto Mayer atau Owen Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. Foto Stenver Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini

menempatkan antrum dalam potongan melintang. Proyeksi Chause II Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga

dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom. 5. Pemeriksaan bakteriologis. Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah

Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan Proteus.

23

Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie, H. Influensa, dan Morexella kataralis. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E.Coli, Difteroid, Klebsiella, dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp. Bakteri spesifik, misalnya Tuberkulosis. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1% menurut Shambaugh). Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yang lanjut. Infeksi tengah melalui ini masuk ke telinga

tuba. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi

pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob, bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa, stafilokokus aureus dan Proteus sp. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalah ceftazidime dan

ciprofloksasin, dan resisten pada penisilin, sefalosporin dan makrolid. Sedangkan antibiotik terhadap Proteus mirabilis sensitif untuk resisten sensitif

kecuali makrolid. Stafilokokus aureus sulfonamid dan trimethoprim dan

untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin (Helmi, 2001).

6.

PENATALAKSANAAN Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya

infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas :

24

1. Konservatif 2. Operasi A. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti,timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. B. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan adalah (1) membersihkan, (2) beri antibiotik. Sekret yang keluar terus menerus diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3 5 hari. Setelah sekret berkurang terapi dilanjutkan dengan pemberian obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Bila sekret telah kering tapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan maka idealnya dilakukan miringoplasti (menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang mengalami perforasi, mencegah terjadinya komplikasi, memperbaiki pendengaran) (Restuti.dkk, 1990). Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah:

25

1. Polimiksin B atau polimiksin E. Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. 2. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga. 3. Kloramfenikol (Obat ini bersifat bakterisid). Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah: Pseudomonas P. mirabilis P. morganii, P. vulgaris Klebsiella E. coli : Aminoglikosida karbenisilin : Ampisilin atau sefalosforin :Aminoglikosida Karbenisilin : Sefalosforin atau aminoglikosida : Ampisilin atau sefalosforin

S. Aureus Anti-stafilikokus :penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida

Streptokokus

:Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida

fragilis (Helmi, 2001).

: Klindamisin

26

C. OMSK MALIGNA Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terdapat terapi abses

sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila

subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Ada beberapa pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain: Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy) Mastoidektomi radikal Mastoidektomi radikal dengan modifikasi Miringoplasti Timpanoplasti Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach jenis

tympanoplasty) (Boies, 1994). 7. KOMPLIKASI A. Komplikasi di telinga tengah a. Perforasi membran timpani persisten b. Erosi tulang pendengaran c. Paralisis nervus fasialis

27

B. Komplikasi di telinga dalam a. Fistula labirin b. Labirintis supuratif c. Tuli sensorineural C. Komplikasi ekstradural a. Abses ekstradural b. Thrombosis sinus lateralis c. Petrositis D. Komplikasi ke SSPusat a. Meningitis b. Abses otak c. Hidrosefalus otitis

28

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, P. Asmara. 1991. Organa Sensuum. Fakultas Kedokteran UNDIP: Semarang. Hal 6-13. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 49-62. Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 63-73 Inspectie en palpatie van de oorschelp. Universitas Gent. http://www.skillslab.ugent.be/LeerpadNeusKeelOor_tweede%2 0master/04Ooronderzoek.htm. diambil tanggal 14 Agustus 2011. Miura MS, Krumennauer RC, Neto JFL. Intracranial complication of chronic suppuratif otitis media in children. Brazillian Journal of Otorhinolaringology.2005.http://www.rborl.org.br/. diambil tanggal 16 agustus 2011. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118 Putz and Pabz. 2007. Atlas Anatomi Sobotta. Edisi 22. EGC: Jakarta. Restuti, Bashiruddin, Iskandar, Soepardi.2009. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 6. FKUI:Jakarta. Hal 66-85. Rosana, Maya. 2010. Refleksi UNISSULA:Semarang. Kasus Otitis Media Akut.

Siddik, Muhammad. 2010. Gambaran Kejadian Gangguan Pendengaran: Otitis Media pada Anak Usia 5-12 Tahun Di Poli THT RS dr. Mintoharjo Jakarta Pusat. Diambil dari www.upnvj.ac.id. tanggal 14 Agutus 2011.

29