Anda di halaman 1dari 10

Apa itu oikumene??

Usaha-usaha oikumenis telah dijajaki oleh gereja-gereja anggota PGI untuk terwujudnya gereja Kristen yang esa di Indonesia. Dan nampaknya istilah Oikumene bukan lagi suatu hal yang asing, bahkan menjadi satu mode dalam suatu kegiatan di antara beberapa gereja. Jiwa Oikumenis sering diungkapkan dengan mengadakan suatu perayaan hari besar Kristen, seperti: Paskah dan Natal bersama, dsbnya; sehingga ada sebagian orang mengidentikkan kegiatan secara bersama-sama itulah Oikumene. Segala usaha berupa pertemuan, konsultasi, rapat dan mengadakan proyek secara bersama-sama itu sudah menyatakan kesadaran Oikumenis. Di sini jelas kesadaran Oikumenis hanya dilihat secara lahiriah berupa kegiatan-kegiatan. Ada sebagian orang melihat Gerakan Oikumene sebagai suatu usaha untuk menyatukan seluruh gereja, dengan mempunyai satu tata gereja, satu pengakuan iman, satu papan nama, satu kuasa administratif. Pendek kata, menjadikan satu semuanya (uniformitas). Hal ini berarti seluruh gereja, dengan berbagai latar belakang, berlainan suku, bahasa, kebudayaan dan tradisi dileburkan menjadi satu. Akibatnya satu pihak, orang kecewa karena sampai begitu jauh dan lama tidak ada tanda-tanda peleburan jadi satu gereja Kristen yang esa di Indonesia. Pada pihak lain, ada orang yang kuatir dan menjadi takut jika seluruh gereja harus meleburkan diri menjadi satu gereja. Hal ini akan berarti setiap gereja akan kehilangan identitasnya. Maka ada, sebagian gereja mengambil jarak dalam mengikuti gerakan Oikumene. Selama keputusan bersama menguntungkan, maka akan ditaati. Jika tidak sesuai dengan selera dan pendapat, maka akan saling berjalan sendirisendiri. Sebenarnya gerakan Oikumene bukanlah soal menguntungkan atau merugikan; bukan pula suatu target tertentu, di mana gereja-gereja hanya bersikap memenuhi porsi kewajiban masing-masing untuk memenuhi target itu. Tetapi Oikumene adalah suatu sikap iman yang mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama-sama pada satu jalan dan arah yang sama.9 Pada hakekatnya gereja itu sudah satu dalam Kristus yang adalah kepala gereja. Dengan kesadaran ini mendorong gereja-gereja berjalan bersama-sama pada satu jalan, menampakkan kesatuan gereja Yesus Kristus di dunia ini. Pemahaman ini masih bersifat umum, untuk itu selanjutnya perlu penelahan lebih khusus dari perspektif Alkitab.

Awal mula oikumene


Seperti halnya dengan kekristenan di Indonesia yang merupakan "barang impor" dari Eropa, demikian juga dengan Oikumene. Oikumene merupakan warisan dari gereja-gereja di Eropa yang kemudian mendarat di bumi Indonesia. Namun kapan gerakan Oikumene itu dimulai? Para ahli sejarah gereja cenderung memilih konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Walaupun sebenarnya Gerakan Oikumene sudah dirintis pada zaman Reformasi bahkan sebelumnya, di mana gereja-gereja di Eropa mulai mengadakan pendekatan untuk mewujudkan kesatuannya.10Tetapi jika diselidiki lebih jauh, sebenarnya sebelum konperensi Edinburgh 1910, pergerakan Oikumene baru dirintis oleh beberapa negara dan belum dalam kategori Internasional. Nanti pada konperensi Edinburgh baru dapat dikatakan Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan diikuti oleh 1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil disimpulkan dalam konperensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.11 Hal-hal ini penting bagi gerakan keesaan gereja di kemudian hari, khususnya untuk gereja-gereja di Indonesia yang masih muda.

Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan Gerakan Faith and Order. Dewan ini mengadakan sidang raya I yang dihadiri oleh 351 utusan dari 147 gereja dan di dalamnya termasuk perutusan dari Indonesia. DGD (Dewan gereja-gereja sedunia) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13 Nopember 1949 diadakan konperensi persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950 terbentuklah DGI11 (setelah SR X th. 1984 di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan hasil dari gerakan Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi gerakan Oikumene di Indonesia.

Kepelbagaian arti keesaan gereja


Berbicara perihal Oikumene, maka juga harus berbicara mengenai Keesaan gereja. Sebab Oikumene dan Keesaan Gereja mempunyai hubungan yang erat. Tujuan utama dari gerakan Oikumene adalah perwujudan Keesaan Gereja. Dalam sejarah perwujudan Keesaan Gereja di Indonesia yang memakan waktu yang panjang, maka di dalamnya juga pengertian 'keesaan' mengalami berbagai perkembangan. Hal ini dapat dilihat melalui hasil-hasil sidang raya dan rapat BPL PGI yang sudah diadakan. Wujud keesaan yang dirindukan dan yang berhasil ditetapkan oleh PGI adalah suatu gereja dengan mempunyai wadah bersama di tingkat lokal, wilayah dan nasional yang dapat berunding, mengambil keputusan bersama; dengan mempunyai satu pengakuan iman dan tata gereja yang berlaku bagi semua; serta setiap gereja saling menerima, saling mengakui sebagai sama-sama wujud pernyataan diri dari gereja Tuhan yang kudus dan am. Namun rumusan mengenai keesaan gereja ini dirasakan lebih menekankan organisasi daripada kesatuan dalam paham atau ajaran.12 Oleh sebab itu ada beberapa gereja yang menolak pandangan ini, sehingga paling tidak masih ada dua pandangan lain yang berbeda mengenai keesaan gereja, yakni: 3.1. Keesaan Gereja itu secara rohani Pandangan ini sejalan dengan pernahaman akan arti gereja yaitu adanya gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang sesungguhnya yang terdiri dari orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, sudah mempunyai satu kesatuan dalam Kristus. Jadi keesaan yang sesungguhnya adalah bersifat rohani. 3.2. Keesaan gereja terletak dalam berkata dan berbuat Seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak; atau dengan kata lain, kesatuan dalam karya/tugas sesuai dengan kehendak Bapa dan Anak. Kesatuan orang beriman atau kesatuan gereja, jikalau itu adalah kesatuan seperti yang dirindukan oleh Kristus di dalam doaNya, maka itu terletak di dalam berkata-kata dan berbuat seperti apa yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak.13 Pandangan mengenai keesaan gereja ada bermacam-macam. Maka Lukas Vischer seorang tokoh Oikumene Internasional dalam tulisannya mengungkapkan masih ada berbagai pandangan yang berbeda mengenai keesaan gereja (Lukas Vischer, Drawn and Held Together by Recorciling Power of Christ-Faith and Order, Paper 69, hal. 13-14).

Apa kata alkitab

Ada segudang pandangan mengenai Oikumene. Jadi mana yang benar? Tak mudah untuk segera mendapat jawaban tetapi yang pasti dalam memahami Oikumene dengan benar maka Alkitablah harus menjadi satu-satunya tolok ukur. Maka sampailah pada pembicaraan yang seharusnya menjadi fokus dalam tulisan ini yakni bagaimana Oikumene dipahami dalam perspektif Alkitab. Namun dalam mengungkapkan secara menyeluruh kekayaan Alkitab dan pernahaman teologis mengenai Oikumene adalah terlalu luas untuk menjangkaunya. Oleh sebab itu pembahasan selanjutnya akan dibatasi dengan hanya melihat penggunaan istilah Oikumene dan meneliti beberapa bagian Alkitab yang membicarakannya serta implikasinya bagi gereja. 4.1. Istilah Oikumene Oikumene sebenarnya sebuah istilah dalam bahasa Yunani, 'oikos' yang berarti: rumah, tempat tinggal; sedangkan 'menein' berarti: tinggal atau berdiam. Pada dasarnya kata Oikumene sama sekali tidak ada hubungan atau bersangkut paut dengan gereja. Karena yang dimaksud dengan kata Yunani ini adalah dunia yang didiami dalam pengertian politis. Jadi istilah Oikumene sebenarnya berasal dari suasana politik, lalu dipindahkan ke dalam situasi gereja. Dr. W.H. Visser't Hufft mendaftarkan beberapa arti kata Oikumene seperti yang didapati di dalam sejarah, yaitu Oikumene adalah seluruh dunia yang didiami; seluruh kekaisaran Roma; gereja seluruhnya; gereja yang sah; hubungan-hubungan beberapa gereja atau orang Kristen yang pengakuannya berbeda-beda; usaha dan keinginan untuk mendapatkan keesaan Kristen.14 Kata Oikumene dalam Alkitab dipergunakan beberapa kali. Dalam septuaginta, kata Oikumene diterjemahkan dari bahasa Ibrani untuk kata dunia atau bumi. Sedangkan dalam Perjanjian Baru sendiri setidaknya ada 15 kali dipergunakan. Kata Oikumene kadangkadang dipergunakan dalam arti politis penuh, artinya seluruh wilayah kekaisaran Romawi (Lukas 2:1, bandingkan Kis. 11:28; 19:27; 24:5), tetapi ini asing dari pandangan P.B. itu sendiri. Pada bagian lain kata Oikumene diartikan secara teologis penuh, yaitu seluruh dunia yang akan ditaklukkan di bawah pemerintahan Kristus (Ibrani 2:5). Tetapi pada dasarnya kata Oikumene berarti seluruh dunia yang didiami. Injil diberitakan di seluruh dunia/oikumene (Mat. 24:14). Dunia/oikumene dihakimi oleh Yesus Kristus (Yoh 3:17, band. Lukas 21:26). Kerajaan dunia/oikumene ditunjukkan kepada Yesus oleh setan (Lukas 4:5). Demikian juga bagian-bagian lain (Kis. 17:6; Roma 10:18; Ibrani 1:6; 2:5; Wahyu 3:10; 12:9; 16:14) diulang, atau pengembangan dari arti di atas.15 Jadi sebenarnya secara harfiah arti istilah Oikumene menurut Alkitab jelas berbeda dengan yang diartikan oleh Gerakan Oikumene dewasa ini. 4.2. Keesaan menurut Yohanes 17:20-26 Tujuan utama Gerakan Oikumene yakni terwujudnya keesaan gereja. Dan sebagai landasan Alkitabnya sering menggunakan Yohanes 17:21. Tetapi apakah memang Keesaan Gereja yang telah dirumuskan itu sesuai dengan Yoh. 17:21? Ada beberapa bagian Alkitab yang ada sangkut pautnya membicarakan mengenai keesaan gereja. Salah satu di antaranya yaitu terdapat di dalam Yohanes 17:20-26. Bagian ini menunjukkan perhatian Tuhan Yesus yang khusus untuk semua orang percaya/gereja yang universal. Perhatian yang dominan dalam bagian ini adalah merupakan suatu kesatuan dan kemuliaan Ilahi.16 Tetapi apa yang dimaksud kesatuan di sini? Kesatuan orang percaya dibandingkan dengan kesatuan antara Bapa dan Anak (ay. 21a). Sifat kesatuan ini bukan persamaan melainkan merupakan suatu analogi. Tetapi yang jelas bahwa kesatuan antara orang percaya permulaannya hanya mungkin diperoleh dalam hubungan Bapa dan Anak. Namun

selanjutnya kesatuan yang dimaksud dalam doa Tuhan Yesus ini dapat ditafsirkan dalam dua cara; yaitu: 1. Keberadaan kesatuan di antara orang percaya dan kesatuan antara Bapa dan Anak ada dalam kekekalan. Keduanya ini jelas sifat dasar kesatuan antara Bapa dan Anak yang rohani dapat bersatu menghadapi dunia ini. Ketika orang percaya bersatu dalam iman mereka ini, maka mereka mempunyai kuasa dan pengaruh dalam menghadapi dunia.17 2. Kesatuan yang diutarakan oleh Berkouwer, yaitu yang dimaksud dalam bagian ini (Yoh. 17:21), bukan 'kesatuan yang mistik' atau kesatuan batiniah yang tidak kelihatan tetapi kesatuan kebenaran, pengudusan dan kasih sebagai suatu realitas yang nampak, yang dapat dilihat oleh tiap-tiap orang.18 Kedua cara/pandangan di atas mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Kesatuan di antara orang percaya dalam realitas itu akan mungkin karena terlebih dahulu ada kesatuan kepercayaan dalam Kristus. Sebaliknya kesatuan rohani antara orang percaya perlu suatu perwujudan supaya dunia boleh melihat dan percaya. Hal keyakinan pada dasarnya adalah rohani; dan kesatuan di antara orang percaya pada hakekatnya adalah rohani (I Kor. 1:2,9; 12:12-13), tetapi juga perlu kenyataan/perwujudan dalam kehidupan (band. Efesus 4:1-6). Tuhan Yesus dalam doaNya mengungkapkan bahwa kesatuan itu pada dasarnya adalah rohani, namun hendaknya kesatuan itu ada dalam realitas, dapat dilihat oleh tiap-tiap orang. Pembahasan lebih lanjut akan menelaah mengenai kesatuan (kesatuan diartikan sama dengan keesaan, hal ini diterima oleh kebanyakan tokoh gereja hingga saat ini) di antara orang percaya. Kesatuan di antara orang percaya hanya dimungkinkan karena kepercayaan kepada Kristus (Yoh. 17:20). Kesatuan di antara orang percaya berhubungan dan berdasarkan pada kesatuan Bapa dan Anak. Kesatuan di sini erat hubungannya dengan kebenaran, kekudusan (ay. 17-19), kemuliaan (ay. 22,24) dan kasih (ay. 23,26), semuanya untuk dapat dilihat orang (ay. 21,24). Bapa dan Anak secara zat/esensi adalah satu (Yoh. 10:30), sehingga apa yang Bapa miliki juga dimiliki oleh Anak (Yoh. 16:15). Tetapi kesatuan ini tanpa dinyatakan kepada manusia, maka itu tidak akan berarti dan tidak dimengerti oleh manusia. Sebab itu Kristus yang mulia harus datang ke dalam dunia untuk menyatakan hal ini (Yoh. 1:14; band. Yoh. 17:24). Kedatangan Kristus sejak semula yaitu melakukan kehendak Bapa untuk mati di atas kayu salib (Yoh. 3:14-17; band. Fil. 2:8). Kristus datang untuk menyatakan Allah Bapa kepada manusia (Yoh. 14:9-10). Tetapi dalam melihat hubungan Kristus yang unik dengan Allah Bapa, dan sekaligus memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, maka itu diwujudkan melalui perbuatan-perbuatanNya (Yoh. 14:11). Segala sesuatu yang Kristus lakukan dan katakan semuanya sesuai dengan kehendak Allah Bapa (Yoh. 8:28; 14:24). Jikalau kesatuan orang percaya ada dalam kesatuan Bapa dan Anak (ay. 21), maka kesatuan itu juga adalah dalam melakukan segala pekerjaan yang sesuai dengan Firman Tuhan, atau melakukan segala pekerjaan seperti Kristus melakukan pekerjaan Allah. Kesatuan di antara orang percaya/gereja akan terwujud jikalau orang percaya/gereja melakukan pekerjaan Tuhan sesuai dengan yang difirmankan Tuhan, dengan demikian barulah dapat membawa orang-orang untuk percaya kepada Kristus dan mengaku Kristus sungguh diutus Allah, sebagai Juru Selamat (ay. 21,23). Berhubungan dengan kemuliaan, jika orang-orang percaya menyatakan kemuliaan Kristus, maka ini akan menghasilkan kesatuan asasi. Pemahaman tentang kesatuan di antara orang percaya/gereja di atas, hampir sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Harun Hadiwijono yakni bahwa kesatuan yang dirindukan oleh Kristus dalam doanya itu, adalah terletak dalam berkata dan berbuat seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak: Perkataan dan perbuatan

mereka harus mendemonstrasikan Firman dan karya Kristus dan Bapa. Di situlah mereka dipersatukan dengan Bapa dan Anak. Jikalau semua itu terjadi, maka dunia akan percaya bahwa Allah Bapa benar-benar telah mengutus Kristus untuk menyelamatkan dunia ini. Berdasarkan hal ini, maka tidak benar untuk menafsirkan doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:20, 21, sebagai amanat untuk mendirikan satu gereja yang esa.19 4.3. Keesaan menuju Kedewasaan Iman Orang Kristen dipanggil untuk mendemonstrasikan perbuatan yang sesuai seperti difirmankan Tuhan sehingga tercipta kesatuan asasi. Namun bagaimana itu dapat terwujud dan apakah itu menjadi tujuan akhir? Dalam meneropong hal ini, Firman Tuhan akan dilandaskan menurut Efesus 4:1-16, di mana bagian ini juga sering dipergunakan para ahli/tokoh Oikumene dalam membahas mengenai Keesaan Gereja. Keesaan (=kesatuan) gereja adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya pekerjaan Roh Kudus sendiri yang memungkinkan kesatuan itu terwujud. Pengalaman dalam kesatuan ini hanya memungkinkan di antara mereka yang telah diterangi dan didiami oleh Roh Kudus (ay. 2-3, band. I Kor. 12:12-13). Pada dasarnya kesatuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu tidak terlihat, bersifat rohani. Tetapi hal itu kemudian akan diungkapkan secara nyata, terlihat melalui persekutuan di antara orang percaya.20 Dalam mencapai keesaan di antara orang percaya, maka hal pertama harus dimiliki oleh orang Kristen adalah kerendahan hati (ay. 2). Dengan, kerendahan hati akan mengantar seseorang untuk lemah lembut dan sabar; selanjutnya dalam kasih akan membawa kerja sama di antara orang percaya, karena kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mau toleransi dengan yang lain (I Kor. 13:4-7). Kesatuan di antara orang percaya/gereja bukan merupakan tujuan akhir, melainkan kesatuan itu mempunyai tujuan untuk pengembangan pelayanan yaitu pembangunan tubuh Kristus. Jadi keesaan itu dapat terwujud dalam kepelbagaian karunia (ay. 11-12). Kesatuan dalam iman dibutuhkan untuk menuju kedewasaan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dalam perwujudan keesaan, gereja perlu pengenalan yang lebih mendalam tentang Kristus, supaya dapat bertumbuh bersama dan tetap diikat dalam suatu pelayanan yang dihangatkan dalam kasih Kristus, yang memungkinkan pertumbuhan setiap anggota menuju kedewasaan iman (Ef 4:13-16).

Bagaimana seharusnya sikap gereja??


Di dunia Internasional dan secara khusus di Amerika Serikat, gereja menjadi anjang pergulatan pengaruh antara golongan Oikumene dan golongan Injili. Dan ini dampaknya juga dirasakan dan terjadi jadi di antara gereja-gereja di Indonesia. Pihak golongan Oikumene melihat golongan Injili terlalu eksklusif dan pistis. Sebaliknya golongan Injili menilai golongan Oikumene adalah liberal dan telah terseret serta menyimpang dari panggilan gereja yang sebenarnya. Jadi bagaimanakah seharusnya sikap gereja? Oikumene atau Injili? Golongan Injili mulai menjauhi gerakan Oikumene dan membuat organisasi/kubu sendiri (di Indonesia menyebut diri PII), karena menyadari gerakan Oikumene telah menyimpang dan menganggap tujuan Gerakan Oikumene itu utopis dan tidak realistis. Sebaliknya golongan Oikumene lebih luwes sikapnya (khususnya di Indonesia) dan mencoba mendekati bahkan jika dapat merangkul golongan Injili untuk bekerja sama dalam pelayanan. Dalam perkembangan Gerakan Oikumene di dunia Internasional memang terjadi pergeseran dalam tujuan dan cara kerjanya. Namun jika menyimak melalui sejarah, perintis Gerakan Oikumene adalah John R. Mott yang merupakan pendiri Badan Misi Dunia.

Dan bahkan William Carey 'Bapak Misi Modern' merindukan adanya kesatuan di antara para pemimpin Kristen dan semua denominasi di dunia.21 Jadi Gerakan Oikumene sebenarnya dirintis oleh tokoh Injili. Dan dapat dikatakan bahwa gerakan Oikumene lahir dalam misi. Jadi menjadi jelas bahwa Gerakan Oikumene dalam arti yang benar dan misinya semula mempunyai hubungan erat dengan golongan Injili. Gerakan Oikumene di Indonesia agak berbeda perkembangannya dengan Gerakan Oikumene di dunia Internasional. Beberapa gereja yang ikut dalam Gerakan Oikumene juga ada dari golongan Injili. Namun tanda awas harus diberikan kepada Gerakan ini yaitu agar jangan sampai Gerakan Keesaan menelan seluruh perhatian gereja, sedangkan aspek lain (baca: penginjilan) diabaikan. Penginjilan merupakan suatu ujian bagi gerakan Oikumene. Tugas gereja yang paling urgen adalah penginjilan. Maka gereja-gereja seharusnya bekerja sama, bersatu untuk penginjilan. Dalam proporsi yang benar, maka gereja itu seharusnya Injili dan juga Oikumene.

DASAR DAN TUJUAN GERAKAN OIKUMENE DI INDONESIA Gerakan oikumene di Indonesia berawal dari pembentukan Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) pada tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta dalam Konperensi Pembentukan DGI tanggal 22-28 Mei 1950 di Jakarta. DGI kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sejak Sidang Raya DGI di Ambon (1984) dengan pertimbangan bahwa persekutuan lebih mencerminkan kesatuan lahir batin, lebih mendalam, lebih gerejawi daripada nama dewan. Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk mewujudkan gereja kristen yang esa di Indonesia.[2] Signifikansi gerakan oikumene di Indonesia adalah karena melihat keadaan gereja-gereja yang sering diwarnai perkelahian dan perpecahan. Harus diakui bahwa persoalan perbedaan pandangan teologis dan ambisi memiliki andil dalam perpecahan tersebut. Munculnya banyak denominasi di dunia dan terus ke Indonesia justeru mengkotak-kotakkan umat-umat Tuhan. Dan tidak jarang satu denominasi merasa lebih benar, lebih baik dan layak dibandingkan yang lain. Karena itu perlu dicarikan solusi dari keadaan ini melalui gerakan oikumene dengan melihat kepentingan terbesar dari semua kepentingan denominasi yaitu misi Tuhan di emban dengan penuh tanggung jawab oleh gereja-gereja. Dengan gerakan oikumene diharapkan terjalin komunikasi dan interaksi diantara umat-umat Tuhan dan denominasidenominasi dapat meninggalkan sikap isolasinya. Demikianlah cita-cita oikumene dalam kekristenan diharapkan, bahwa denominasi-denominasi secara bersama-sama membangun persekutuan yang kuat dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus tanpa menonjolkan dogma/doktrin masing-masing Doa Tuhan Yesus yang ditulis oleh Yohanes di Yoh.17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, menjadi dasar alkitab beroikumenenya gereja. Yesus merindukan supaya orang-orang Kristen sebagai tubuh Kristus bersatu menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam perkembangannya gerakan oikumene di Indonesia juga semakin berkembang. Setelah PGI, kemudian lahirlah organisasi-organisasi lokal yang oikumenis antara lain :

1. Sinode Am Gereja-gereja Sulawesi Utara/Tengah (SAG SULUTTENG). 2. POUK (Persekutuan Oikumene Umat Kristen) di tempat-tempat seperti pemukiman, perusahaan dll di mana umat Kristen dari berbagai gereja bertemu. POUK ini bukan gereja karena itu anggota POUK tetap menjadi anggota gereja masing-masing. 3. BK3 (Badan Kerjasama Kegiatan Kristen). 4. BKSAG (Badan Kerjasama Antar Gereja). 5. Forum Komunikasi Antar Gereja. Forum tidak melembaga, hanya merupakan pertemuan untuk membahas masalah-masalah atau maksud-maksud lain. Wadahwadah ini tumbuh dari prakarsa gereja-gereja setempat. Anggotanya tidak terbatas pada gereja-gereja anggota PGI

TANTANGAN OIKUMENE Setidaknya ada 3 masalah utama yang menghambat usaha-usaha penyatuan gereja dan upaya oikumene yaitu: 1. Masalah baptisan. Ada gereja-gereja yang menyetujui baptisan anak dan ada yang menolaknya. 2. Masalah perjamuan kudus. Menurut Roma Katolik dan Gereja Ortodoks, dalam Perjamuan Kudus terjadi transubstansiasi. Artinya, roti dan anggur berubah menjadi daging dan darah Yesus. Gereja-gereja Protestan menganggap bahwa roti dan anggur itu merupakan lambang dari tubuh dan darah Yesus. 3. Masalah jabatan. Gereja RK, Ortodoks dan Anglikan berpendapat bahwa uskup sebagai pejabat gereja adalah pengganti rasul Petrus. Gereja-gereja Protestan berpendapat bahwa rasul tidak diganti. Seringkali hal-hal ini menjadi perdebatan antara gereja-gereja yang tidak sepaham. Anggapan yang lain tidak alkitabiah dalam pengajaran atau doktrin menjadi penghalang utama terjadinya oikumene. KEESAAN GEREJA Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan pendirian DGI/PGI adalah mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia. Pada awalnya digumulkan suatu kemungkinan gerejagereja di Indonesia menjadi satu gereja nasional dengan nama Sinode Oikumene Gerejagereja di Indonesia, disingkat SINOGI. Pendekatan untuk mewujudkan SINOGI ini ialah dengan menyatukan pengakuan iman dan tata gereja. Ternyata gagasan ini ditolak dalam sidang raya di Makassar tahun 1967. Pada sidang raya PGI pada tahun 1971 di Pematang Siantar pendekatan keesaan gereja itu ditekankan pada soal fungsi gereja. Sidang tiba pada suatu kesimpulan yaitu keesaan dalam kepelbagaian. Kepelbagaian gereja-gereja diakui tetapi dengan satu ikatan yaitu melalui PGI. Gereja-gereja melaksanakan tugas panggilannya masing-masing. Menurut Suara GKYE Peduli Bangsa 2002, Hal 5-29, yang dikutip oleh Pdt. Bahtera untuk diktat mata kuliah oikumene STT BASOM, Keesaan gereja bermakna: 1. Keesaan gereja itu berlawanan dengan perpecahan (keterpisahan) dan keseragaman. Didalam keesaan gereja terkandung: keutuhan, sinergi dan

kemajemukan atau pluralitas. Ketiga aspek ini berinteraksi secara dinamis dan berkelanjutan. 2. Dasar keesaan gereja adalah Tuhan Yesus Kristus yang mengasihi secara sempurna yaitu Dia menjadi manusia sampai mati disalib. Dengan kasih-Nya memerintah melalui Roh-Nya di dalam hati setiap orang percaya, setiap gereja. 3. Keesaan gereja yang majemuk dan sinergi, mempunyai potensi menjadi berkat secara efektif bagi masyarakat di dunia yang memerlukannya. Keesaan gereja adalah jawaban iman terhadap doa Tuhan Yesus dan jawaban akan panggilan gereja menjadi berkat bagi bangsa Indonesia. Gereja bukanlah gereja yang sempurna dalam arti sempurna dalam segala aspek. Setiap gereja mempunyai keunikan, kekuatan dan keterbatasan masing-masing. Oleh karena itu dibutuhkan keterbukaan berkomunikasi, saling menghargai dan kerja sama, maka akan terjadi kesatuan dalam hal fungsi. Tidak mungkin orang kristen bisa berperan aktif dalam memikirkan solusi-solusi permasalahan-permasalahan yang ada di tengah-tengah gereja dan bangsa, apalagi memikirkan langkah-langkah kongkrit bagi kemajuan gereja dan bangsa apabila gereja sendiri tidak bisa hidup harmonis, rukun dan terbuka. Karena itu keesaan dalam fungsi yang berpijak pada dasar dan tujuan yang sama yaitu Yesus Kristus adalah mutlak. OIKUMENE GEREJA BAGI PERSATUAN NKRI Jika ditelusuri sejarah kebangsaan Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa negara Republik Indonesia ini terbentuk melalui perjuangan seluruh komponen bangsa. Baik sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan RI maupun pada masa sekarang ini, keterlibatan umat kristen dalam perjuangan dan pembangunan nasional selalu di inspirasikan dan dimotivasi semangat kekristenan yang okumenis dan Injili serta rasa memiliki dan semangat perjuangan sebagai bagian dari bangsa. Yeremia 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Nats ini mengindikasikan bahwa umat Tuhan tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan dan masyarakat dimana dia berada. Meskipun kondisi umat Tuhan sedang dalam pembuangan di Babilonia, dimana mereka berada dalam tekanan dan penderitaan, tapi mereka diperintahkan Tuhan untuk mengusahakan kesejahteraan kota itu. Tentu perintah ini mempunyai alasan karena mereka sendiri hidup di kota itu. Kesejateraan yang tercipta di kota dimana mereka berada akan merimbas kepada mereka. Orang kristen di Indonesia bukan saja hanya tinggal di Indonesia tetapi juga merupakan bagian dan pemilik negeri ini. Karena itu orang kristen mutlak harus memikirkan kesejahteraan negeri ini. Mengusahakan kesejahteraan Indonesia merupakan tanggung jawab orang kristen baik sebagai warga negara terlebih sebagai utusan Tuhan. Memang sekarang ini tantangan bagi umat Tuhan semakin berat karena maraknya persoalan yang mencabik-cabik rasa persatuan dan kesatuan ditengah anak bangsa. Penghargaan terhadap perbedaan/pluralisme budaya, suku terlebih agama seakan tidak lagi mendapat tempat dihati kebanyakan orang. Istilah minoritas dan mayoritas yang diwariskan orde baru untuk pemuluk agama di Indonesia secara tidak langsung telah juga mengkotak-kotakkan warga negara. Merasa lebih berhak karena lebih mayoritas bagi pemeluk salah satu agama di

Indonesia berimplikasi pada tindakan dan keputusan-keputusan yang merendahkan hak-hak setiap warga negara. Keputusan demokratis atas dasar jumlah suara terbanyak di dalam masyarakat, lembaga-lembaga negara, legislatif akhirnya lebih memihak pada kepentingan mayoritas. Maka muncullah berbagai perundangan yang tidak mencerminkan semangat kebersamaan. Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang tampaknya kurang tegas dalam menyikapinya. Berbagai kasus anti pluralisme berupa pelanggaran hak, kekerasan dan konflik yang timbul tidak ada penyelesaian yang memadai. Dalam pandangan Pdt.Dr.W.J. Hendriks,[3] bahwa sampai sekarang belum melihat adanya pemimpin yang punya integritas nasional, malah kecenderungan pemimpin sekarang memanfaatkan situasi untuk mengokohkan kedudukan dan kepentingannya. Padahal bangsa Indonesia yang majemuk ini memerlukan seorang pemimpin yang mempunyai integritas nasional yang tinggi dan mencintai rakyatnya sehingga kebijakan-kebijakannya bermuara kepada kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompok tertentu saja. Adanya semangat identitas keagamaan yang berlebihan pada kelompok masyarakat tertentu dengan kecenderungan mengenyahkan pihak lain yang berbeda pandangan dan tafsir agama juga memperparah keadaan. Ditengah kondisi-kondisi Indonesia yang semakin retak akibat lunturnya rasa kebangsaan dan penghargaan pluralisme yang semakin kandas, apa yang harus dilakukan oleh gereja untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan NKRI? Ini menjadi pertanyaan penting yang mau tidak mau harus dijawab oleh umat Tuhan, sehubungan tanggung jawabnya sebagai warga negara dan sebagai pengemban misi Tuhan seperti yang dimaksudkan pada Yohanes 17:21 yaitu bersatu menjadi saksi dan Yeremia 29:7 mengusahakan kesehteraan kota. Dalam kaitan gerakan oikumene dalam dinamika pluralisme agama di negara republik Indonesia, menurut Elga J. Sarapung[4] bahwa gereja memiliki 2 tugas panggilan: 1. Gereja dipanggil untuk mengembangkan hubungan positif, kreatif, realistis dan trasnformatif dengan pemerintah dan semua pihak di masyarakat. 2. Gereja dipanggil untuk mengambil bagian dalam mewujudkan perdamaian, keadilan (bagi seluruh rakyat dan tanah tumpah darah Indonesia) dan keutuhan ciptaan di Indonesia. Menurutnya bahwa permasalahan yang terjadi di negeri ini tidak semata-mata kesalahan dari pemerintah tatapi juga karena gereja belum mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan maksimal. Gereja dalam hal ini tidak boleh tinggal diam. Gereja baik secara sendiri-sendiri dan bersama-sama (oikumene) perlu terus menyuarakan dan mengingatkan bahwa keadaan yang ada sekarang ini merupakan ancaman yang serius terhadap NKRI di masa depan. Gereja perlu berupaya agar usaha-usaha penggantian ideologi Pancasila menjadi ideologi yang lain tidak menjadi kenyataan, karena ideologi Pancasila sudah final yang mampu menjadi perekat bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Pancasila lahir dari wawasan kebangsaan dan kebersamaan yang kuat. Pdt. Fince Sopamena Latumahina, Ketua GKSS dalam artikelnya[5] mengatakan bahwa gereja harus berjuang besatupadu dengan semua orang yang berjuang untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Gereja berjuang bersama dengan mereka yang memiliki keprihatinan yang sama terhadap nasib NKRI. Eksistensi gereja sebagai terang dan garam harus lebih nyata bagi Indonesia dan dunia. Eklusifisme harus dikikis dari kehidupan gereja. Gereja yang hidup adalah gereja yang

dinamis, gereja yang menjadi berkat bagi sekelilingnya. Selama ini peran gereja sebagai terang sepertinya semakin melemah. Mungkin ini disebabkan karena gereja sudah lebih banyak melayani diri sendiri, pelayanan yang bersifat internal saja, dan puas dengan ritualritual keagamaan. Gereja sebagai elemen bangsa tidak boleh tinggal diam dengan semua permasalahan yang ada. Persoalan politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain haruslah disikapi dengan bijak dan dicarikan solusinya. Gereja perlu aktif berperan dalam melakukan transformasi menuju Indonesia yang lebih baik ke depan. Dalam hal kemiskinan misalnya, gereja harus berperan. Pdt Dr A.A Yewangoe menyatakan harapannya agar gereja juga peka dan ikut serta mengatasi problematika kehidupan berbangsa, khususnya menyangkut masalah kemiskinan, karena gereja juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Kemiskinan bukanlah sebuah sebab, tetapi lebih kepada akibat ketidakadilan dan korupsi. Gereja tidak dapat bekerja sendiri dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan, tegasnya.[6] Gereja harus semakin menyatu dengan keadaan dalam arti dapat melihat dan merasakan persoalan bangsa, dan berperan nyata terhadap persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Gereja dipanggil bukan semata-mata mengurus dirinya sendiri tetapi melayani sesama tanpa pandang bulu. Jemaat-jemaat gereja harus di dorong dan diajar untuk perduli terhadap orang-orang miskin. Jemaat bisa diberdayakan dengan saling membantu untuk memperhatikan keadaan ekonomi anggota-anggota jemaat dan masyarakat. Salah satu upaya kecil yang mungkin dilakukan adalah dengan memberi pelatihan untuk membuat kerajianan tangan, bercocok tanam, melatih memanfaatkan lahan sempit, dll. Dalam mengatasi masalah kemiskinan yang kompleks, gereja juga perlu bekerja sama dengan umat agama lainnya dan dengan rendah hati bersama tanpa membedakan suku, agama dan ras. Jadi, melihat realitas yang ada, harapan yang dimiliki, tugas panggilan Allah bagi gereja untuk bangsa dan dunia, maka umat Tuhan perlu terus beroikumene, bekerja sama menyuarakan suara kenabian bagi bangsa Indonesia, memikirkan dan mengupayakan terjadinya persatuan dan kesatuan, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dalam NKRI.