Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

AJARAN ISLAM DALAM UPAYA KURATIF


Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam II Semester 5

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 5 IKMB 2010 Achmad Sulthon Ambarwati Anisatun Azizah Chayang Yanisa Yunika Dea Nurma Ruditya Ishmatul Fajriyah Suci Cahyaning Tyas 101011159 101011180 101011160 101011005 101011020 101011201 101011143

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak 15 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW berdasarkan reformasi yang dibawa melalui Risalah Islamiyyahnya, berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia adalah terwujudnya suatu eksistensi kebahagiaan, keselamatan, kesuksesan dan kenyamanan hidup di dunia dan di akhirat. Sehat jiwa (sehat rohaniyah) yang terdapat pada hati dan sanubari dari setiap umat manusia akan tetap terjaga untuk selalu tunduk di hadapan Allah SWT, melalui sholat lima waktu. Selain itu, sikap yang selalu dilandasi bahwa La ilaha illallah (Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah) akan mengusir dan mengantisipasi setiap penyakit ruhaniyyah, seperti sombong, dengki, dendam, memikirkan diri sendiri, dan beberapa penyakit yang tergolong berbahaya, yaitu munafik, kafir, dan musyrik. Selain itu, sehat jasmaniah juga sangat penting untuk dijaga. Dengan memiliki sehat jasmani, seorang hamba Allah mampu melakukan aktivitas dan perbuatannya sesuai dengan aturan-aturan dan norma hukum islam secara ikhlas, tanggung jawab dan penuh dengan kesadaran. Oleh karena itu, apabila seseorang mengalami sakit pada jasmaninya, mereka dihimbau untuk melakukan suatu perbuatan (mengobatinya) namun sesuai dengan ajaran atau syariat Islam yang berlaku. Sehat jasmani dan rohani merupakan nikmat Allah yang sangat luar biasa yang dikaruniakan kepada setiap hamba-Nya secara cuma-cuma. Namun, nikmat inilah yang sering kali dilupakan dan diabaikan oleh manusia karena kesombongan dari manusia itu sendiri. Baru ketika seseorang tersebut jatuh sakit, rasa ingat kepada Allah pun mulai muncul, berharap untuk segera diberikan kesembuhan seperti sedia kala. Sakit pada dasarnya dapat dimaknai sebagai suatu hikmah dan bahan untuk evaluasi diri bahwa siapapun dapat mengalami kondisi yang tidak berdaya. Sehingga, sakit ini merupakan ujian sekaligus hikmah bahwa Allah menunjukkan kuasa-Nya, Allah-lah tempat manusia meminta dan memohon pertolongan.

Dalam keadaan sakit, Allah SWT tidak menghendaki umat-Nya pasif, hanya bertawakal saja tanpa melakukan upaya memberbaiki kondisi kesehatannya (berikhtiar). Secara khusus, Rasulullah SAW meminta kepada para sahabat dan umatnya untuk berobat ketika sakit, karena setiap penyakit akan ditemukan obatnya. Salain itu, sakit dan penyakit serta obat untuk menanggulanginya merupakan tantangan tersendiri di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran. Semakin berkembangnya suatu jaman, kegiatan medis dan kefarmasian ini juga semakin bertambah dan berkembang pula. Adapun pengobatan kuratif yang sekarang ini ada khususnya di Indonesia, yaitu pengobatan tradisional dan modern. Di Indonesia, pengobatan tradisional ada berbagai macam, yaitu pengobatan tradisional China, Arab dan lokal (asli dari Indonesia). Pengobatan ini memiliki kriteria dan caranya tersendiri, sebagai contoh pengobatan tradisional dari Indonesia yang notabene merupakan pengobatan turun temurun dari nenek moyang. Terkadang pengobatan ini memasukkan unsur mistis di dalamnya yang sering kali masyarakat tidak mengetahui apakah pengobatan tersebut sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Sedangkan untuk pengobatan modern terdapat berbagai cara yang dilakukan. Seperti yang diketahui, rumah sakit telah menyediakan berbagai fasilitas pengobatan yang canggih, seperti CT Scan, X-Ray, operasi plastik, sinar laser dan sebagainya. Namun, berdasarkan pengobatan-pengobatan kuratif tersebut belum diketahui apakah hal tersebut sesuai dengan pengobatan yang bersyariah Islam. Oleh karena itu, dengan makalah ini akan dikaji lebih lanjut mengenai pengobatan berdasarkan ajaran agama Islam.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut: a. Apa saja pengertian dalam pengobatan islam? b. Bagaimana hubungan antara sakit, obat, dan pengobatan dalam islam? c. Apa prinsip pengobatan dalam islam? d. Sebutkan petunjuk Alquran dan Alhadist tentang pengobatan? e. Bagaimana metode pengobatan para nabi dan rasul sebelumnya? f. Bagaimana metode Pengobatan Hukama (Ahli Hikmah)? g. Bagaimana pengobatan tradisional dalam pandangan islam? h. Bagaimana pengobatan modern dalam pandangan islam? i. Bagaimana bentuk pengobatan yang dilarang dalam pandangan islam? j. Bagaimana cara membedakan pengobatan yang syari dan tidak? 1.3 Manfaat Adapun manfaat dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui halhal sebagai berikut: a. Mengetahui beberapa pengertian dalam pengobatan islam b. Memahami hubungan antara sakit, obat, dan pengobatan dalam islam c. Mengetahui prinsip pengobatan dalam islam d. Mengetahui petunjuk Alquran dan Alhadist tentang pengobatan e. Mengetahui metode pengobatan para nabi dan rasul sebelumnya f. Mengetahui metode Pengobatan Hukama (Ahli Hikmah) g. Memahami pengobatan tradisional dalam pandangan islam h. Memahami pengobatan modern dalam pandangan islam i. Mengetahui bentuk pengobatan yang dilarang dalam pandangan islam j. Memahami cara untuk membedakan pengobatan yang syari dan tidak

BAB II ISI 2.1 Pengertian dalam Pengobatan Islam Islam adalah agama yang kaya. Khazanahnya mencakup segenap aspek kehidupan manusia, termasuk di antaranya masalah kesehatan dan pengobatan. Ilmu pengobatan islam sebenarnya tidak kalah dengan ilmu pengobatan barat. Contohnya, Ibnu sina seorang muslim yang menjadi pionir ilmu kedokteran modern. Ilmu pengobatan islam bertumpu pada cara-cara alami dan metode ilahiah. Yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi seorang muslim dalam menjaga kesehatan dan mengobati penyakitnya. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali akal oleh Allah SWT, disamping sebagai instink yang mendorong manusia untuk mencari segala sesuatu yang di butuhkan untuk melestarikan hidupnya seperti makan, minum dan tempat berlindung. Dalam mencari hal-hal tersebut, manusia akan mendapat pengalaman yang baik dan yang kurang baik maupun yang membahayakan. Maka akal lah yang mengolah, meningkatkan serta mengembangkan pengalaman tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Karena itu, manusia selalu dalam proses mencari dan menyempurnakan hingga selalu progresif. Berbeda dengan binatang yang hanya dibekali dengan instink saja, hingga hidup mereka sudah terarah dan dan bersifat statis. Akal lah yang membentuk serta membina kebudayaan manusia dalam bebragai aspek kehidupannya termasuk dalam bidang pengobatan. Pengobatan adalah suatu kebudayaan untuk menyelamatkan diri dari dari penyakit yang mengganggu hidup. Kebudayaan tidak saja dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh kepercayaan dan keyakinan, karena manusia telah merasa di alam ini ada sesuatu yang lebih kuat dari dia, baik yang dapat dirasakan oleh pancaindera maupaun yang tidak dapat dirasakan dan bersifat ghaib. Pengobatan ini pun tidak lepas dari pengaruh kepercayaan atau agama yang dianut manusia.

Secara umum di dalam dunia pengobatan dikenal istilah medis dan non medis. Para ahli berbeda pendapat tentang penjelasan batasan istilah medis dan definisinya secara terminologis menjadi 3 pendapat, yaitu : a. Pendapat pertama Medis atau kedokteran adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi tubuh manusia dari segi kesehatan dan penyakit yang menimpanya. Pendapat ini di nisbat kan oleh para dokter klasik dan Ibnu Rusyd Alhafidz. b. Pendapat kedua Medis atau kedokteran adalah ilmu tentang berbagai kondisi tubuh manusia untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannya dari kondisi sakit. c. Pendapat ketiga Ilmu pengetahuan tentang kondisi-kondisi tubuh manusia, dari segi kondisi sehat dan kondisi menurunnya kesehatan untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannya kepada kondisi sehat ketika kondisi nya tidak sehat. Ini adalah pendapat Ibnu sina. Beberapa definisi tersebut walaupun kata dan ungkapannya berbeda tetapi memiliki arti dan kandungan yang berdekatan. Namun, definisi ketiga lah yang memiliki keistimewaan karena bersifat komprehensif mencakup makna yang ditujukan oleh definisi pertama dan kedua. Istilah pengobatan medis dapat disimpulkan sebagai suatu kebudayaan untuk menyelamatkan diri dari penyakit yang menggaggu hidup manusia di dasar kan kepada ilmu yang di ketahui dengan kondisi tubuh manusia, dari segi kondisi sehat dan kondisi menurunnya kesehatan, untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannya ketika kondisi tidak sehat. Pengobatan medis sendiri dalam sejarah manusia merupakan hasil proses panjang yang di awali secara tradisional hingga menjadi modern seperti sekarang. Selain pengobatan medis ada istilah ilmu kedokteran islam yang erat kaitannya dengan pengobatan dalam pandangan islam. Ilmu kedokteran Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep, nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan Alquran dan

Assunnah. Prosedur medis atau alat pengobatan yang digunakan tidak spesifik pada tempat atau waktu tertentu. Ilmu kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan mengijinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode investigasi dan pengobatan penyakit. Definisi tersebut memerlukan perubahan dasar dari sistem pengobatan. Dengan demikian, ilmu kedokteran Islam merupakan hasil sebuah kritik Islami dan reformulasi paradigma dasar, metodologi penelitian, pembelajaran, dan pelatihan ilmu kedokteran. Proses perubahan konseptual ini juga memerlukan Islamisasi ilmu kedokteran. Hasil akhir dari proses Islamisasi tidak akan menjadi system pengobatan, perawatan, atau prosedur bagi umat Muslim saja tetapi juga bagi seluruh umat manusia karena Islam merupakan sebuah tata nilai yang universal dan objektif. Islamisasi bukan berarti ilmu pengobatan keagamaan, kedaerahan, atau yang lebih sempit tetapi membuatnya luar biasa bagi seluruh umat manusia. Proses Islamisasi meliputi semua sistem ilmu kedokteran, tetapi lebih diprioritaskan pada ilmu kedokteran barat karena sudah mendominasi. Oleh karena itu harus dimulai dengan pemeriksaan kritis dan menyusun ulang metodologi penelitian. Ilmu pengetahuan dihasilkan oleh penelitian dan manusia harusnya berada dalam posisi menghasilkan, bukan menggunakan hasil proses ilmu pengetahuan. Sebuah metodologi penelitian yang baru disusun ulang akan dibangun menggunakan pedoman Alquran berdasarkan: a. Objektivitas (Istiqamah) b. Ketidak berpihakkan (no hawa & dzann) c. Kebenaran (haqq) d. Memandang alam semesta dari sudut pandang holistik, harmoni dan koordinasi (tauhid) e. Pencarian hubungan sebab akibat (sunnah Allah fi al kaun al insan) f. Kemanfaatan (ilm nafi) g. Mengejar Keunggulan (ihsan). Tugas berikutnya adalah penyusunan kembali nilai-nilai, etika serta tingkah laku pelatihan dan praktek kesehatan. Hal ini akan membantu perbaikan taraf hidup manusiaa dari segi kesehatan.

2.2 Hubungan antara Sakit, Obat, dan Pengobatan dalam Islam Sehat jasmani dan rohani merupakan nikmat Allah yang sangat mahal yang dikaruniakan kepada setiap hamba-Nya secara gratis dan sulit untuk menghitung dan apalagi mau membayarnya. Sedangkan, sakit (al-maridh/assaqam) , dalam perspektif agama Islam, dimaknai sebagai sebuah hikmah dan bahan muhasabah (evaluasi diri) bahwa siapapun hamba Allah dalam posisi tidak berdaya ketika dalam keadaan sakit, baik sakit ringan, sakit sedang, apalagi sakit yang kronis yang sudah mengancam eksistensi jiwanya yang sudah terbaring, dan bahkan terkapar di pembaringan, yang hanya dapat ditangisi oleh istreri/suami dan sanak saudara. Sakit/penyakit itu bisa menjadi sebuah hikmah, sebuah ujian/test dan cobaan (imtihan wa ibtilaan) bagi siapapun hamba-Nya, apakah dia seorang yang kaya raya, pejabat, ulama, intelektual, pengusaha,rakyat biasa atau dhu`afa, untuk menjadikan sakit itu sebagai sebuah hikmah untuk lebih diposisikan Allah SWT sebagai tempat meminta, bermunajat, dan tempat mengajukan berbagai keluhan dan problem, sehingga melalui sakit, Allah SWT akan mendengar rintihan dan manja sosok seorang hamba-Nya. Seorang hamba yang belum pernah mengalami sakit sepanjang hidupnya maka boleh jadi dia tidak dapat bersyukur. Sehingga dia bertepuk dada, sombong bahkan menganggap dirinya sakti sebagai Tuhan, seperti yang telah dilakukan oleh Fir`aun. Orang yang sakit diharapkan dapat mengevaluasi adanya sesuatu yang salah dan tidak pas karena mengabaikan pola makan dan minum yang tidak benar, bahkan apa saja masuk yang halal dan yang haram, atau melakukan hubungan biologis di luar akad nikah sehingga terancam penyakit kelamin, HIV dan Aids. Pada akhirnya, orang yang sakit itu memilih dua pilihan sesuai dengan izin dan kehendak Allah SWT, apakah dia akan sembuh dan pulih kembali dari sakitnya, atau sebaliknya sebagai faktor penyebab kematiannya, wafat kembali kepada Al-Khaliq Rabbul `alamin. Inna Lillahi wa Inna Lillahi Raji`un. Rasulullah Muhammad SAW yang sangat disayangi oleh Allah SWT sebagai uswah dan qudwah bagi umatnya, hanya diberikan amanah jatah

hidup kurang lebih 63 tahun, tidak seperti nabi dan rasul sebelumnya hidup dalam rentangan ratusan tahun. Kehiduapan Rasulullah yang berlangsung singkat namun sangat berkualiatas dalam berbagai aspek kehidupan beliau yang sulit dilukiskan ini memberikan pembelajaran kepada umatnya untuk selalu jadikan waktu-waktu hidup yang masih tersisa ini menjadi manfaat dan maslahat untu diri pribadi, keluarga, masyarakat bangsa dan negara, sehingga pada klimaksnya tinggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah yang diridhai oleh Allah SWT dan didoakan oleh semua keluarga, saudara yang masih hidup. Berkait dengan soal sakit dan penyakit ini, Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya membiarkan dirinya ketika sakit, hanya penuh bertawakkal, berserah diri kepada-Nya, akan tetapi diminta, dan bahkan diwajibkan untuk berikhtiar, berusaha maksimal untuk dapat menyembuhkan penyakitnya. Secara khusus Rasulullah SAW meminta kepada sahabatnya dan umatnya untuk berobat ketika sakit, karena setiap penyakit itu pasti ditemukan obatnya. Ketika tidak berikhtiar, maka hamba Allah tersebut dianggap telah menghancurkan dirinya, dan bahkan membunuh dirinya disebabkan oleh sebab sakit dan penyakitnya itu menjadi yang bersangkutan meninggal dunia. Di pihak lain, sakit dan penyakit serta resep obatnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi para intelektual dalam bidang ketabiban dan kedokteran untuk menemukan faktor penyebab sakitnya (disebabkan oleh virus, bakteri), atau disebabkan oleh pola makan dan minum yang terlarang, atau ada faktor tekanan psikologis, arau ada intervensi jin/syaitan baik passif maupun aktif. Penyakit menjadi hikmah tersendiri, bagi dunia ketabiban dan kedokteran dengan hadirnya rumah sakit dan juga farmasi yang berkait dengan obat-obatan. Para ulama Islam, semisal Ibnu Sina (Avicena), dan Ibn Rusyd (Averoes) dengan menulis kitab Al-kulliyyatnya yang mengurai tentang obat dan pengobatan berdasarkan pesan teks ayat Alquran dan Hadist Nabi, serta praktek Rasulullah dalam bentuk Thibbun-nabawi. Sehingga konsep dan penemuan para ulama Islam, khususnya Ibn Rusyd ini

menjadi bahan dan cikal bakal pengembangan dunia kedokteran di Eropa dan dunia modern kini. Thibbun Nabawi mengacu pada kata dan tindakan Rasul yang terkait dengan usaha menanggulangi wabah penyakit, penyembuhan penyakit, dan perawatan pasien. Termasuk ucapan Rasul mengenai masalah kesehatan, tindakan medis yang dipraktekkan orang lain pada masa Rasulullah, tindakan medis yang dipraktekkan oleh Nabi pada diri beliau sendiri dan orang lain, tindakan medis yang diamati oleh Rasul, prosedur kedokteran yang Rasul dengar dan ketahui tentangnya dan tidak melarang, atau praktek-praktek kedokteran umum yang harus diketahui Rasulullah. Pengajaran Pengobatan Ala Nabi khusus untuk tempat, populasi, dan waktu tertentu. Termasuk juga pedoman umum kesehatan fisik dan mental yang bisa digunakan pada semua tempat, waktu dan segala kondisi. Thibbun nabawi bukan satu-satunya sistem kesehatan sistematis monolitik sebagaimana beberapa orang ingin kita mempercayainya. Hal ini bervariasi sesuai kondisi, meliputi pengobatan pencegahan, pengobatan kuratif, keadaan mental yang baik, spiritual yang terjaga, ruqyah, perawatan kesehatan dan praktik bedah. Thibbun nabawi menyatu dengan pikiran dan badan, ruh dan jasad. Rasul mengatakan sebuah prinsip dasar dalam pengobatan untuk setiap penyakit adalah perawatan (ma anzala allahu daa; illa anzala lahu shifa'a- Kitaab al Tibb, al Bukhari). Hal ini mendorong kita untuk mencari cara pengobatan. Dengan demikian, tradisi pengobatan ala Nabi tidak hanya berhenti pada pengajaran pengobatan oleh Rasulullah ,melainkan untuk mendorong manusia agar terus mencari dan bereksperimen dengan ilmu pengobatan baru. Hal tersebut merupakan implikasi bahwa pengobatan ala Nabi tidaklah statis. Ada ruang untuk berkembang , bahkan memunculkan dasar ilmu yang baru. Implikasi-implikasi lainnya dari hadist ini adalah pengobatan tidak bertentangan dengan qadar (ketentuan awal). Keduanya baik penyakit maupun penyembuhannya adalah bagian dari qadar. Adapun solusi untuk mengantisipasi secara preventif dan mengatasi secara kuratif terhadap penyakit, adalah:

a. Orang yang sakit itu mesti jadikan penyakit ini sebagai sebuah hikmah dan muhasabah, untuk terus berhusnuzzan bahwa yang bersangkutan yakin kepada Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk sembuh kembali. Pada hakikatnya yang menyembuhkan derita penyakitnya itu adalah Allah SWT. b. Dengan memperbanyak istigfar atas berbagai kealpaan, maksiat dan dosa yang dilakukan, membaca zikir dan doa yang ma`tsur sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, dengan mengkonsumsi minuman air putih, ikhlas dengan membaca sebelumknya surat al-fatihah, yang dikenal dengan surat asy-Syifa (penyembuhan) sebelum meminumnya. c. Jika masih belum sembuh, konsultasi kepada ahlinya yang berkompetensi dalam bidang ketabiban dan kedokteran untuk berikhtiar baik rawat biasa, maupun rawat inap. Dengan tetap mantapkan semangat husnuzzan Allah SWT akan masih memberi kesempatan swembuh, untuk didayagunakan kesempatan ribadah, dan hal-hal yang positif lainnya. d. Memilah dan memilih sistem pengobatan yang tidak membawa kepada kemusyrikan dengan mempersyaratkan sesuatu yang tidak rasional dan mengada-ngada (tetapi di balik itu ada penipuan), demikian juga obat yang digunakan adalah obat yang halal, baik yang nabati, maupun yang hewani, yang diproduk dari bahan-bahan yang halal. Diharapkan obat yang dapat menyembuhkan terhadap obyek sebuah penyakit, tidak mempunyai side effect kepada penyakit lainnya. e. Jika ikhtiar melalui pengobatan dan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT sembuh, Insya Allah kesembuhan tersebuhan tersebut akan disyukuri untuk lebih meningkatkan lagi amal salih, dan ibadah kepada-Nya. Jika tidak sembuh, maka diakhiri kehidupan ini dengan penuh tawakkal dengan disefrtai dengan ikhtiar, dan kembali ke hadirat Allah SWT dalam penuh kepuasan, penuh dengan nilai-nilai kesalehan, dengan membawa predikat husnul-Khatimah.

2.3 Prinsip Pengobatan dalam Islam Ada beberapa prinsip pengobatan menurut standar Islam. Prinsip ini secara umum terbagi menjadi tiga, yaitu: a. Tidak berobat dengan zat yang diharamkan Nabi Muhammad bersabda, Innallaha lam yajal sifaaakum fiimaa hurrimaalaykum (Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang diharamkan atas kamu). (H.R.Al-Baihaqi). Prinsip ini menunjukkan bahwa berobat dengan menggunakan zat-zat yang diharamkan sementara kondisinya tidak benar-benar darurat3 maka penggunaan zat tersebut diharamkan. Misal pengobatan (terapi) dengan meminum air seninya sendiri, terapi hormon dengan menggunakan lemak babi. Atau mengobati gatal ditubuh dengan memakan kadal, mengobati mata rabun dengan memakan kelelawar dan seterusnya. Adapun yang paling populer pada saat ini, dan sering tampil dalam acara kuliner ekstrim adalah memakan daging ular kobra untuk mengobati penyakit asma. Di dalam pelaksanaan ibadah haji, setiap calon jamaah haji wajib diberi vaksin meningitis yang di dalamnya ada kandungan unsur enzim babi (porcein). Ketika belum ditemukan alternatif vaksin lainnya, maka klasifikasi penggunaan vaksin ini bersifat darurat karena implikasi penyakit ini yang sangat berbahaya. Namun ketika sudah ada alternatif penggunaan vaksin lainnya, maka penggunaan vaksin tersebut menjadi diharamkan. Demikian juga bagi orang yang akan berhaji untuk ke-sekian kalinya, baik sebagai jamaah biasa, tim kesehatan ataupun pemandu haji maka penggunaan vaksin ini sudah diharamkan karena berhaji untuk yang ke sekian kali menunjukkan kondisi yang sudah tidak darurat lagi berdasarkan kaidah: keadaan darurat menyebabkan perkara yang dilarang menjadi boleh (ad-Dharurat tabihu al-mahzhurat). Tanpa kondisi yang darurat, maka yang haram atau tidak diperbolehkan tetap menjadi sesuatu yang diharamkan. Berhaji wajib bagi setiap muslim satu kali seumur hidupnya.

b. Berobat kepada ahlinya (ilmiah) Prinsip ini menunjukkan bahwa pengobatan yang dilakukan harus ilmiah. Yang dimaksudkan ilmiah dalam hal ini dapat diukur. Seorang dokter dalam mengembangkan pengobatannya , dapat diukur kebenaran metodologinya oleh dokter lainnya. Sementara seorang dukun dalam mengobati pasiennya, tidak dapat diukur metode yang digunakannya oleh dukun yang lain. Sistem yang tidak dapat diukur disebut tidak ilmiah dan tidak metodologist. Dalilnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah di atas. c. Tidak menggunakan mantra (sihir) Bagian ini yang harus dihindari dalam mendatangi para penghusada alternatif tersebut. Butuh memperhatikan dengan seksama, apakah pengobatan yang dilakukan itu menggunakan sihir atau tidak. Nabi Muhammad bersabda: Innarruka wattamaaima wattuwalata syirkun (sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik),(H.R.Ibnu Majah). Jika pengobatan itu kemudian melibatkan unsur-unsur seperti yang dimaksudkan dalam hadist di atas maka pengobatan tersebut masuk ke dalam kelompok perbuatan syirik. Tiga prinsip inilah yang harus ditransformasikan kepada masyarakat secara umum. Untuk kaum terpelajar dan berkelas ekonomi tinggi, mereka bisa memilih model pengobatan yang dia kehendaki. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mengharapkan mereka dapat menerima konsep ini mengingat mayoritas mereka mengenal konsep di atas yang sudah mereka dapatkan saat kuliah dulu. Hanya saja paradigma tradisional yang sudah mereka warisi dari nenek moyang mereka, mempersulit proses penerimaan konsep di atas. Ada juga sebagian masyarakat yang mendatangi model-model pengobatan seperti itu karena disebabkan tidak memiliki cukup biaya untuk menjalani pengobatan secara medis. Maka konsep ini butuh ditanamkan eraterat ke dalam diri mereka, agar jangan sampai ketidak berdayaan itu membuat mereka mengorbankan aqidah mereka. Semoga dengan keteguhan

memegang prinsip-prinsip pengobatan yang Islami ini dapat menjadi entrypoint bagi seluruh muslim untuk ber-Islam secara kaffah.

- -
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S.Al-Baqarah:208). Masyarakat harus disadarkan terus dari bahaya bidah ini. Termasuk juga bidah di dalam bidang kesehatan. Bukankah setiap bidah itu sesat dan setiap yang sesat itu pasti merugikan sehingga tempatnya adalah di neraka.Seseorang yang mengaku penghusada alternatif, menyalah gunakan ayat-ayat Alquran untuk mendukung upayanya menyesatkan ummat adalah seorang penipu yang harus diwaspadai. Namun, industri media justru memberi ruang untuk hal bidah seperti ini, Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, Ditanyakan, Ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan ummatmu itu? Beliau menjawab, mengada-adakan amalan bidah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya,(HR. Daruquthni dari Anas). 2.4 Petunjuk Alquran dan Alhadist tentang Pengobatan Bukti bahwa Alquran sebagai salah satu sumber Thibbun nabawi, yakni banyak ayat dalam Alquran yang berhubungan dengan penyakit dalam tubuh dan pikiran serta cara penyembuhannya. Alquran berbicara tentang kesehatan fisik dan mental yang buruk/ penyakit hati. Alquran memuat tentang doa untuk kesehatan yang baik sebagaimana panduan terapi khusus seperti madu, hanya memakan makanan yang sehat dan halal, menghindari makanan yang haram dan tidak sehat, serta tidak makan dalam jumlah yang berlebihan. Alquran bukanlah buku teks kesehatan tetapi sebuah kitab bimbingan moral. Berisikan informasi dan pedoman dasar mengenai masalah kesehatan yang memberikan kesempatan manusia untuk melakukan penelitian dan

menambah keterangan lebih detail. Menyempitkan jenis obat hanya sesuai dengan ayat-ayat Alquran akan membuatnya sangat terbatas karena Alquran sangat selektif dalam pengawasan secara khusus terhadap hal-hal mendetail yang memungkinkan lahan terbuka bagi manusia untuk berobservasi, mencari tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi, aayaat al llaah fi al ardh. Banyak ayat Alquran yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena Alquran itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin.

- -
Dan kami menurunkan Alquran sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang mukmin.(QS Al-Isra: 82). Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Alquran yaitu Asysyifa yang artinya secara terminologi adalah obat penyembuh.

- -
Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(QS Yunus:57) Di samping mengisyaratkan tentang pengobatan, Alquran juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat dijadikan sumber dari pembuat obat-obatan.

- -
Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu, seperti zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir, (QS An-Nahl:11).

- -

Kemudian makanlah dari segala(macam)buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-muyang telah (dimudahkan bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir,(QS An-Nahl:69) Hadist sebagai sumber thibbun nabawi, bentuk-bentuk dari pengajaran kesehatan oleh Rasulullah, yakni sabda Rasul tentang masalah pengobatan, perawatan medis yang dipraktekkan orang lain pada masa Rasulullah, perawatan medis yang diamati Rasul, prosedur medis yang Rasul dengar/ketahui tentangnya dan tidak melarang. Jumlah keseluruhan hadist tentang pengobatan sekitar 300. Banyak yang tidak mencapai tingkatan hasan. Bukhari dalam Sahihnya menceritakan 299 hadist yang secara langsung berhubungan dengan pengobatan. Beliau menyumbangkan dua buah buku kesehatan: kitaab al tibb dan kitaab al mardha. Banyak hadist Bukhari lainnya yang secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan. Para akademisi telah mengumpulkan hadist-hadist ini dan beberapa diantara mereka menghubungkannya dengan ilmu kedokteran yang telah ada . Hadist mengenai pengobatan fisik berdasarkan pada wahyu maupun pengalaman empiris. Dalam banyak kasus, kita tidak dapat memisahkan dua sumber hukum tersebut, kecuali ada indikasi khusus bahwa wahyu dibutuhkan, misalkan dalam hadist pemakaian madu untuk mengobati penyakit perut ringan seorang shahabat. Jadi, hadist yang tidak menjelaskan wahyu bersifat tidak mengikat, ghair mulzimat. Akan tetapi, semua hadist mengenai penyembuhan jiwa dari penyakit adalah wahyu dan wajib, mulzimat. Pengobatan menggunakan madu dapat ditemui pada hadis berikut ini, Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar; Dan lafazh ini miliknya Ibnu Al Mutsanna dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAWlalu dia berkata; Saudaraku sakit perut sehingga dia buangbuang air. Rasulullah SAW bersabda: Minumkan madu kepadanya! Lalu

diminumkan madu kepadanya. Kemudian dia datang lagi kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu katanya: 'Telah kuminumkan madu kepadanya, tetapi sakitnya bertambah.' Nabi SAW bersabda : minumkan madu sampai berulang tiga kali. Dia datang untuk ketiga atau keempat kalinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tetap menyuruhnya meminumkan madu. Kata orang itu; Aku telah meminumkannya, ya Rasulullah, namun sakitnya bertambah juga. Rasulullah SAW bersabda: Allah Maha Benar! Perut saudaramu itulah yang dusta. Lalu diminumkannya pula madu dan sembuhlah dia. (HR. Muslim no : 5731). 2.5 Metode Pengobatan Para Nabi dan Rasul Sebelumnya Banyak teladan yang dapat diambil dari para nabi dan rasul, termasuk dalam hal kesehatan. Berikut ini ada beberapa metode pengobatan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul, yakni oleh Nabi Isa AS., Nabi Musa AS., Nabi Muhammad SAW. 2.5.1 Nabi Isa AS Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata) Aku telah datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhan mu, yaitu aku membuatkanmu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniup nya, maka ia menjadi seekor burung atas izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda(kebenaran kerasulanku) bagimu,jika kamu orang yang beriman.(QS Ali-Imran:49). Menurut para mufassir, Nabi Isa mengobati penyakit buta dan kusta dengan cara di usap dengan tangan nya, mata yang buta dan anggota tubuh yang terkena kusta dengan izin Allah melalui mukjizatnya maka seketika itu sembuh.

2.5.2 Nabi Musa AS Nabi Musa tidak lepas dari sifat kemanusiaannya yang merupakan sunnatulloh yaitu sakit. Beliau pernah sakit lalu memetik sehelai daun yang diniatkan sebagai obat yang hakikatnya Allah menyembuhkan kemudian di tempelkannya daun tersebut pada anggota tubuh yang sakit, karena mukjizatnya seketika itu sembuh. Dan kedua kali nya beliau sakit kemudian memetik sehelai daun secara spontanitas tanpa diniatkan sebagai obat yang hakikatnya Allah Sang Penyembuh maka ketika itu sakitnya tidak sembuh. 2.5.3 Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad sebagai Rasul yang diprinyahkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat-nya tidak lepas tingkah lakunya dari Alquran karena beliau dijadikan suri tauladan yang baik untuk semua manusia. Firman Allah : Sesungguhnya pada diri Rasul itu terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu, bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat (Allah) dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.(QS Al-Ahzab: 21). Imam Ali berkata : Sesungguhnya semua tingkah laku Nabi Muhammad SAW adalah Alquran. Beberapa metode pengobatan yang dilakukan Rasulullah : a. Ruqyah Ruqyah merupakan salah satu cara pengobatan yang pernah diajarkan malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah sakit maka datang malaikat jibril mendekati tubuh beliau,kemudian jibril membacakan salah satu doa sambil ditiupkan ketubuh Nabi, seketika itu beliau sembuh. Inilah doanya : Bismillahi arqiika minkulli syai-in yudziika minsyarri kulli nafsin au-ainiasadin Alloohu yasyfiika bismillahi arqiika. Ada 3 cara ruqyah yang dilakukan oleh Nabi : 1) Nafats Yaitu membacakan ayat Alquran atau doa kemudian di tiupkan pada kedua telapak tangan kemudian di uasapkan

keseluruh badan pasien yang sakit. Dalam suatu riwayat bahwasanya Nabi Muhammad SAW apabila beliau sakit maka membaca Al-muawwidzat yaitu tiga surat Alquran yang diawali dengan Audzu yaitu surat An-Naas, Al-Falaq, dan Al-ikhlas kemudian di tiupkan pada kedua telapak tangannya lalu diusapkan keseluruh badan. 2) Air liur yang ditempelkan pada tangan kanannya. Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, bahwasanya Nabi Muhammad SAW apabila ada manusia yang tergores kemudian luka, maka kemudian beliau membaca doa kemudian air liurnya ditempelkan pada tangan kanannya, lalu di usapkan pada luka orang tersebut. Adapun doa yang dibaca adalah sebagai berikut Allahumma robbinnas adzhabilbas isyfi antasy-syafii laa syifaa illa syifa-uka laa yughodiru saqoman. 3) Meletakkan tangan pada salah satu anggota badan. Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan Utsman bin Abil Ash yang sedang sakit dengan sabdanya : letakkanlah tanganmu pada anggota badan yang sakit kemudian bacalah Basmalah 3x dan Audzu bi-izzatillah waqudrotihi minsyarrima ajidu wa uhajiru 7x. 4) Doa Mikjizat Banyak doa-doa kesembuhan yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat nya, salah satunya yaitu: Allahumma isyfi abdaka yan-ulaka aduwwan aw yamsyi laka ila sholaah. 5) Dengan Memakai Madu Sebagaimana menurut QS An-Nahl: 69 bahwa madu Allah jadikan sebagai obat maka Rasulullah menggunakan madu untuk mengobati salah satu keluarga sahabat yang sedang sakit. Dalam satu riwayat, ada sahabat yang datang kepaa Rasulullah memberitahukan anaknya sedang sakit, kemudian Nabi menyuruh meminumkan anaknya madu sambil membaca doa.

6) Bekam Berbekam termasuk pengobatan yang diajarkan Rasulullah SAW, bahkan Rasulullah SAW pernah melakukan bekam dan memberikan upah kepada tukang bekam. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian lakukan untuk mengobati penyakit adalah dengan melakukan bekam. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengabarkan, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya. (HR. AlBukhari no. 5701). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: Obat/kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan kay, namun aku melarang umatku dari kay.11 (HR. Al-Bukhari no. 5680). 7) Contoh pengobatan Nabi untuk asam urat Asam urat sudah dikenal sejak 2.000 tahun yang lalu dan menjadi salah satu penyakit tertua yang dikenal manusia. Dulu, penyakit ini juga disebut "penyakit para raja" karena penyakit ini diasosiasikan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang enak-enak. Kini, asam urat bisa menimpa siapa saja. Asam urat adalah hasil metabolisme tubuh oleh salah satu unsur protein (zat purin) dan ginjal adalah organ yang mengatur kestabilan kadarnya dalam tubuh dan akan membawa sisa asam urat ke pembuangan air seni. Namun jika kadar asam urat itu berlebihan, ginjal tidak akan sanggup mengaturnya sehingga kelebihan itu akan menumpuk pada jaringan dan sendi. Otomatis, ginjal juga akan mengalami gangguan. Kandungan asam urat yang tinggi menyebabkan nyeri dan sakit persendian yang amat sangat.

Gangguan asam urat ditandai dengan suatu serangan tiba-tiba di daerah persendian. Saat bangun tidur, misalnya, ibu jari kaki dan pergelangan kaki Anda terasa terbakar, sakit dan membengkak. Bahkan selimut yang Anda gunakan terasa seperti batu yang membebani kaki Anda. Seperti itulah gejala asam urat atau arthritis gout. Gangguan asam urat disebabkan oleh tingginya kadar asam urat di dalam darah, yang menyebabkan terjadinya penumpukan kristal di daerah persendian sehingga menimbulkan rasa sakit. Selain rasa sakit di persendian, asam urat juga menyerang ibu jari kaki, dapat membentuk tofi atau endapan natrium urat dalam jaringan di bawah kulit, atau bahkan menyebabkan terbentuknya batu ginjal. Sistem Pengobatan Nabawi untuk mengatasi asam urat menggunakan metode Hijamah dan Herbal Islami. Penyebab utama asam urat adalah kelebihan zat purin dalam darah, sehingga bila kandungan purinnya sedikit atau normal, tubuh bisa membuangnya lewat ginjal. Kelebihan purin ini harus dikeluarkan dengan cara dibekam/hijamah bersama unsur-unsur kotor lainnya dalam darah. Selanjutnya disarankan untuk mengkonsumsi herbalherbal Islami terutama Habbatussauda dan minyak zaitun. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya habbah sauda` ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit as-samu. Aku (yakni`Aisyah radhiallahu anha) bertanya: Apakah as-samu itu? Beliau menjawab: Kematian. (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727). Habbatussauda berfungsi untuk menggelontor toksin dalam darah dan melakukan detoksifikasi intra sel (pengeluaran racun yang ada dalam sel), yang kemudian bersama unsur darah kotor lainnya dikeluarkan dari tubuh lewat bekam/hijamah. Habbatussauda juga berfungsi menghilangkan rasa nyeri di

persendian karena mengandung zat yang memiliki efek anti inflamatori atau anti peradangan. Sementara minyak zaitun sangat efektif untuk menghilangkan rasa sakit dipersendian yang amat mengganggu. Bergabung bersama efek anti peradangan dari habbatussauda maka rasa sakit ini akan sangat terkurangi. 2.6 Metode Pengobatan Hukama (Ahli Hikmah) Hikmah adalah kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama. Ahli Hikmah adalah orang-orang solih yang diberikan oleh Allah ilmu dan karomah sehingga dia menjadi orang yang berpengetahuan luas untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama. Para ahli hikmah umumnya dijadikan sebagai tabib oleh kebanyakan orang.

- -
Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Barangsiapa yang diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat.QS Al-Baqarah:269). Beberapa metode yang digunakan oleh para ahli hikmah tidaklah berbeda jauh dengan metode yang digunakan oleh Rasulullah SAW, karena sebagian besar metode yang digunakan juga mengacu kepada ayat-ayat Alquran serta hadist, beberapa metode yang digunakan yaitu : a. Ruqyah Ruqyah yang diajarkan kepada Nabi dan yang dilakukan oleh nabi, lain dengan yang dilakukan oleh hukama, tetapi doa yang mereka gunakan pengertiannya sama. Para ahli Hikmah apabila mengobati seseorang dengan cara ruqyah dengan membacakan ayat Alquran atau doa kemudian ditiupkan kedalam air yang nantinya air itu di minum oleh si pasien. b. Wafaq Wafaq ialah ayat Alquran, Asma Allah, Zikir, atau doa yang ditulis diatas benda seperti kertas, kain yang dijadikan sebagai media pengobatan

atau lainnya oleh para Ahli Hikmah. Salah satu contoh : wafaq untuk orang yang sakit hati (liver) ditulis pada gelas putih kemudian diisi air lalu di minumkan. Insya Allah sembuh. (tulis huruf Ha besar 2 kali dan huruf ain 6 kali). Setiap penyakit itu ada obatnya, jika tepat obatnya maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.(HR.Muslim). Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan Allah juga menurunkan obatnya,(HR.Abu Hurairah). Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyah yang diciptakan oleh Allah SWT. Penyakit-penyakit itu merupakan musibah dan ujian yang di tetapkan Allah SWT atas hambahamba-Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : Sungguh mengagumkan perkara seorang muslim, sehingga seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan, ia bersyukur maka yang demikian itu baik baginya, dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya. (HR.Muslim no.2999). Termasuk keutamaan Allah SWT yang diberikan kepada kaum mukminin. Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam hadist : Abdullah bin Masud RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya,(HR.Bukhari no.5661 dan Muslim no.5678). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan. Ibnul Qayyim berkata: Berpalingnya manusia dari pengobatan nubuwwah seperti halnya

berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Alquran, yang merupakan obat bermanfaat, (Ath-thibbun Nabawi hal.6, 29). Dengan demikian, sudah sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah bukan hanya sekedar sebagai pengobatan alternatif. Namun menjadikannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kepastiannya datang dari Allah SWT. Namun tentunya berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hambatidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu, dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan penyakitnya. Namun seharusnya ia bersandar dan berantung kepada Dzat yang memberikan penyakit dan yang menurunkan obatnya sekaligus yaitu Allah SWT. Sungguh tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah SWT semata. Karena itulah Nabi Ibrahim memuji Rabbnya :

- -
Dan apabila aku sakit, Dia lah yang meyembuhkan ku. ( QS Asy-Syuara: 80). 2.7 Pengobatan Tradisional dalam Pandangan Islam Sebelum islam hadir di tengah-tengah masyarakat, manusia sudah memiliki pengetahuan dan cara pengobatan yang mereka peroleh berdasarkan pengalaman. Hal ini di namai pengobatan tradisionalyang banyak berdasarkan pada kegelapan mistik. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pengobatan tradisional ini dimanapun (termasuk di Indonesia), adalah yang primitif, jadi tidak ilmiah dan spekulatif, mistik, magic dan statis serta tidak di ajarkan. Jampi-jampi dan rajah serta azimat dilarang oleh islam. Karena semua itu membawa manusia kepada perbuatan syirik. Ada pengobatan tradisional lain yang tidak menghubungkan diri dengan ruh halus sebagai penyebabnya. Yaitu hanya berdasarkan gejala / keluhan penat-penat, lemah badan,dsb. Obatnya ialah berupa daun-daunan sebagai jamu. Jamu bukan mistik dan bukan pula magic, tetapi tetapi berupa pengobatan alamiah atau yang berasa dari alam.

Pengobatan tradisional lainnya adalah pijat (massage) bagi yang patah tulang atau acupressure dengan menekan bagian tubuh tertentu atau dengan nama lain akupuntur yang berasal dari cina, dan juga bekam. Pada dasarnya obat tradisional seperti ini diperbolehkan dalam islam selama tidak merusak diri sendiri dan orang lain serta tidak membawa kepada perbuatan syirik. Garis-garis besar pengobatan tradisional yang diajarkan Rasul diantaranya melarang Kai, yakni meletakkan besi panas di atas bagian tubuh yang sakit, melarang jampi-jampi atau mantera yang membawa kepada syirik. 2.8 Pengobatan Modern dalam Pandangan Islam Pengobatan modern berasal dari pengobatan tradisional. Dan merupakan perkembangan hasil dari kerja akal manusia yang diberi kesempatan untuk aktif memikirkan dan merenungkan kehidupan ini. Pengobatan modern menurut pandangan islam adalah segala tekhnik pengobatan yang berdasarkan hasil dari befikir dan mengembangkan ilmu dan pengetahuan dalam bidang kesehatan dengan mengandalkan akal yang telah diberikan oleh Allah SWT untuk di kembang kan dan di amalkan guna manusia dan alam sekitarnya. Nabi menjelaskan bahwa ada dua macam penyakit sesuai dengan keadaan manusia yang terdiri dari tubuh jasad dan tubuh rohani. Untuk obat rohaniah adalah membaca Alquran dan untuk fisik adalah materi contohnya madu. Perlu diketahui Allah menurunkan segala penyakit tanpa menjelaskan secara terperinci mengenai jenis penyakitnya dan Allah menurunkan obatnya tanpa menyebutkan apa obatnya dan bagaimana cara memakainya. Masalah ini haruslah dikerjakan oleh manusia dengan akal, ilmu dan penyelidikan yang sekarang dinamai science bersama teknologinya. Agama itu akal dan tidak ada agama bagi yang tidak berakal. Inilah dorongan untuk membangun ilmu pengetahuan (science), termasuk pengetahuan pengobatan (medical science). Pada waktu islam berkembang keluar jazirah arab, umat islam bertemu dengan pengobatan Persia, Yunani

dan hindia. Mereka menyerap segala macam pengobatan itu serta menyesuaikannya dengan ajaran islam. Perkembangan yang pesat terjadi pada daulah abbasiyah, setelah dimulai pada masa khalifah umayyah. Cordova dan Granada di spanyol merupakan pusat ilmu yang di datnangi oleh ahli-ahli barat. Pada saat itu muncullah dokter-dokter muslim dengan kualitas internasional seperti Ibnu Uthal dan Wahid Abdul Malik, yang mendirikan perumahan untuk merawat penderita kusta, Ibnu Al Baytan yang dirinya dengan mengumpulkan tanaman-tanaman berkhasiat bagi pengobatan dan sebagainya, pada periode abbasiyah mereka mendirikan rumah sakit modern di Baghdad. Perhatikanlah kedahsyatan islam yang dapat mengubah manusia jahiliyah penyembah berhala menjadi ilmiah yang selalu mengingat kepada keMahabesaran Allah. Mereka mengubah pengobatan istik dan spekulatifmagic menjadi pengobatan ilmiah yang tepat, objektif dan islami. 2.9 Bentuk Pengobatan yang Dilarang dalam Pandangan Islam Di antara pengobatan yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun, pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah Taala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Jauhilah tujuh hal yang membinasakan! Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah! Apa saja itu? Maka Rasulullah bersabda, Yaitu syirik kepada Allah, sihir (HR. Bukhari dan Muslim). Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga bahwa ia melakukan praktek sihir atau melakukan praktek yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah sebagai berikut:

a. Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya b. Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih dan tidak menyebut nama allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit c. Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya d. Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari e. Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari f. Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya g. Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien tanpa pemberitahuan pasien kepadanya. Demikian pula, diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi bahwa keduanya meminta bantuan kepada jin dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk syirik besar. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau ritual tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah Taala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang ghaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-

Irwa no. 2006). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, Di dalam hadits tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir karena keduanya mengaku mengetahui hal yang ghaib, padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan ridha terhadapnya (Fathul Majiid, hal. 334). Yang cukup memprihatinkan lagi adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib dan mengaku mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang ghaib. Wal iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu weton-nya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan menerawang ghaib untuk mendeteksi, me-rituali, dan memberikan sarana ghaib kepada pasiennya. Pengobatan dengan ajian-ajian yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan benda-benda ghaib tertentu seperti batu ghaib, gentong keramat (cukup dimasukkan air ke dalam gentong kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya. Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula

sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu mustika atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah AshShahihah no. 492). Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah AshShahihah no. 1633). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya (HR. Bukhari). Hadits-hadits ini beserta dalil yang lain semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram. Misalnya, bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis dan setiap barang najis pasti haram, maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan. Yang perlu diwaspadai pula adalah tidak sedikit pengobatan alternatif yang melibatkan jin dalam prosesnya. Yaitu sang thabib dalam menyembuhkan penyakit ia dibantu oleh jin yang menjadi partnernya. Allah berfirman; Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka

semuanya, (dan Allah berfirman): Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. Allah berfirman:

- -
"Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Al Anam :128) Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah berkata; Maksud

menghimpunkan mereka semuanya adalah jin dan teman-temannya dari golongan manusia yang beribadah kepada jin meminta perlindungan dan menaati mereka Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini, yaitu tidaklah bersenang-senang sebagian mereka dengan sebagian yang lain melainkan jin yang memerintahkan dan manusia yang mengerjakannya. Jin merasa senang karena manusia mengagungkannya setelah memberi pertolongan kepada manusia (Tafsir Ibnu Katsir). Oleh karena itu hendaklah seorang muslim menjauhi pengobatan alternatif yang melibatkan jin di dalamnya, karena hal ini terlarang secara syari. 2.10 Cara membedakan Pengobatan yang Syari dan Tidak Tidaklah terlalu sulit untuk membedakan pengobatan alternatif yang dibolehkan syari dan yang dilarang. Kendati dalam kondisi tertentu diperlukan kejelian ekstra untuk membedakannya. Intinya adalah pemahaman seseorang akan ilmu syari. Dengan ilmu syari yang memadai seseorang akan dengan mudah bisa membedakannya. Jika cara pengobatan tersebut dengan cara indrawi dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah maka pengobatan ini diperbolehkan. Seperti pada ramuan tradisional, pijat refleksi

dan lainnya. Asalkan barang yang digunakan adalah barang yang halal, serta tidak ada hal-hal aneh yang menjadi persyaratan pengobatan. Seperti adanya pantangan terhadap sesuatu yang secara ilmiah tidak ada hubunganya dengan penyakitnya atau mengamalkan amalan tertentu yang tidak ada tuntunannya secara syari, seperti dengan cara semedi (meditasi), memperhitungkan tanggal lahir, dan lainnya. Selain cara hendaknya memperhatikan kondisi yang mengobati (pengobatan menggunakan cara yang menunjukan simbol-simbol Islam). Selain itu juga harus diperhatikan hal-hal aneh yang dilakukan dalam proses penyembuhannya, seperti melakukan ritual puasa dengan cara dan batasan tertentu yang tidak ada contohnya dalam syariat. Diperintahkannya mengamalkan dzikir tertentu, dengan bilangan dan waktu tertentu, diperintahkannya membaca ayat tertentu, yang semuanya itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah. Semua amalan agama yang tidak ada tuntunannya dalam syariat maka hal itu terlarang. Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang membuat perkara-perkara baru dalam urusan kami (perkara agama)yang tidak ada contohnya maka ia tertolak" (Riwayat Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain dinyatakan, Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan urusan kami (tidak ada contohnya) maka (amalan tersebut) tertolak (Riwayat Muslim). Tercapainya tujuan bukanlah suatu indikator bahwa Allah merestui cara yang digunakannya, sebagaimana iblis dikabulkan doanya oleh Allah bukanlah berarti Allah meridhai iblis. Tatkala iblis meminta tangguh kepada Allah agar dapat hidup hingga hari kiamat, maka Allah sebagaimana firman-Nya: Allah berfirman: mengabulkannya,

- -
"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." (Q.S. Al Araf :15)

BAB III PENUTUPAN Kesimpulan Medis atau kedokteran adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi tubuh manusia dari segi kesehatan dan penyakit yang menimpanya. Ilmu kedokteran Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep, nilai, dan prosedur- prosedurnya sesuai atau tidak berlawanan dengan Alquran dan Assunnah. Berkaitan dengan sakit dan penyakit ini, Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya membiarkan dirinya ketika sakit, hanya penuh bertawakkal, berserah diri kepada-Nya, akan tetapi diminta, dan bahkan diwajibkan untuk berikhtiar, berusaha maksimal untuk dapat menyembuhkan penyakitnya. Prinsip pengobatan dalam islam antara lain adalah tidak berobat dengan yang diharamkan, berobat kepada ahlinya, dan tidak menggunakan mantra (sihir). Ada banyak petunjuk Alquran dah Alhadist tentang pengobatan yang diturunkan sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin. ada beberapa metode pengobatan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul, yakni oleh Nabi Isa AS, Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW. Selain itu, para ahli hikmah umumnya dijadikan sebagai tabib oleh kebanyakan orang. Ada banyak cara membedakan pengobatan yang syari dan tidak antara lain Dengan ilmu syari yang memadai seseorang akan dengan mudah bisa membedakannya. Jika cara pengobatan tersebut dengan cara indrawi dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah maka pengobatan ini diperbolehkan.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Sisi Gelap Pengobatan Alternatif. http://masbadar.files.wordpress. com/2009/07/sisi-gelap-pengobatan-alternativ.pdf (Disitasi 13 September 2012) Arwany. 2012. Bab Kuratif Pengobatan dengan minum madu. http://arwanee. blogspot.com/2012/08/bab-kuratif-pengobatan-dengan-minum-madu.html (Disitasi 12 September 2012) Hakim, Saifudin. 2012. Bentuk-bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan. http://www.suaramedia.com/artikel/kumpulan-artikel/30173-bentuk-bentukpengobatan-alternatif-yang-diharamkan.html (Disitasi 13 September 2012) Kasule, O.H. 2008. Pengobatan Ala Nabi. http://www.google.co.id/url?sa=t &rct=j&q=&source=web&cd=5&cad=rja&sqi=2&ved=0CDoQFjAE&url= http%3A%2F%2Fwww.unismuh.ac.id%2Fnew%2Ffiles%2FPemgobatanala-Nabi-UNISMUH.pdf&ei=C9BRUJOEEYmXiAfu-oGQAw&usg =AFQjCNFxIEmPIS4l3vZBdSf9ESGFCs-Oaw (Disitasi 13 September 2012) Kasule, O.H. 2009. Konsep Ilmu Kedokteran Islam. http://www.google.co.id/url? sa=t&rct=j&q=pengobatan%20yang%20tidak%20islami %20pdf&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CDUQFjAD&url=http%3A %2F%2Fwww.unismuh.ac.id%2Fnew%2Ffiles%2FKonsep%2520ilmu %2520kedoketran %2520Islami.pdf&ei=CdRRUNDZKoXTrQfH8IGYAg&usg=AFQjCNEgX 73_Cr9WmvWZupNyx3RCj_9w9A (Disitasi 13 September 2012) Kuntari, Titik. 2007. Prinsip-prinsip Pengobatan dalam Islam. http://fk.uii.ac.id /upload/klinik/elearning/ikm/Prinsip-Pengobatan-dalamIslam-fkuii-tk.pdf (Disitasi 13 September 2012) Muhsin, Bin. 2009. Pengobatan Menurut Pandangan Islam. http://binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com/2009/11/pengobatan-menurutpandangan-islam.html (Disitasi 12 September 2012) MUI Bogor. 2011. Obat dan Pengobatan dalam Perspektif Hukum Islam. http://www.mui-bogor.org/index.php?option=com_content&view= article&id=75:obat-dan-pengobatan-dalam-perspektif-hukum-islam&catid=8:artikel-ketua-umum&Itemid=54 (Disitasi 14 September 2012)