Anda di halaman 1dari 17

1.

Definisi Psoriasis merupakan penyakit inflamasi noninfeksius yang kronik pada kulit dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan kurang-lebih enam hingga sembilan kali lebih besar daripada kecepatan yang normal. Sel-sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat, dan sel-sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik atau plak jaringan epidermis yang profus. (Smeltzer & Bare, 2002). Psoriasis ialah penyakit yang bersifat kronis dan residif, ditandai dengan adanya bercakbercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin dan Auspitz (Mansjoer, 2000). Psoriasis adalah penyakit kulit kronik dan meradang, psoriasis ditandai oleh percepatan pertukaran sel-sel epidermis sehingga terjadi proliferasi abnormal epidermis. Kulit menunjukkan kemerahan, disertai plak bersisik yang gembung yang dapat menutupi permukaan tubuh. ( Corwin, 2009) Psoriasis merupakan penyakit yang tampak sebagai plak tebal, eritematosa dan papula papula yang tertutup oleh sisik seperti perak. Plak ini biasanya terdapat didaerah lutut, siku, dan kulit kepala. Tetapi erupsi kulit ini dapat menyerang bagian tubuh manapun kecuali selaput lendir. ( Price & Wilson, 2006 ) Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa psoriasis adalah penyakit kelainan pada kulit yang bersifat kronik dan residif yang penyebab pastinya sampai saat ini masih belum jelas. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya pergantian kulit epidermis atau proses keratinisasi yang begitu cepat dari biasanya, sehingga menimbulkan lesi kulit berupa skuama dan plak. Penyakit psoriasis ini tidak mengancam jiwa, namun dapat menurunkan kualitas hidup karena dapat membuat penderitanya menjadi kurang percaya diri bila tidak dirawat dengan baik. 2. Etiologi Sebagai salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan, psoriasis menjangkiti kurang-lebih 2% populasi (Camp,1992). Diperkirakan bahwa keadaan ini berasal dari cacat herediter yang menyebabkan over produksi kreatin. Meskipun penyebab primernya tidak diketahui, kombinasi susunan genetik yang spesifik dan rangsangan dari lingkungan dapat memicu terjadinya penyakit tersebut. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa proliferasi sel diantarai oleh sistem imun. Periode stress emosional dan ansietas turut memperburuk keadaan, sementara trauma, infeksi serta perubahan musim dan hormonal

merupakan faktor pemicu. Awitan psoriasis dapat terjadi pada segala usia kendati lebih sering dijumpai diantara usia 10 dan 30 tahun (stiller, 1994). Psoriasis memiliki kecenderungan untuk membaik sendiri dan kemudian muncul kembali secara periodik di sepanjang usia penderitanya (Smeltzer & Bare, 2002). Etiologi belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lainnya 27 hari. Pada sebagian pasien terdapat faktor herediter yang bersifat dominan. Faktor fisik dikatakan mempercepat terjadinya residif. Infeksi fokal mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis, yaitu psoriasis gutata. Hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah dilaporkan kasuskasus psoriasis gutata yang menyembuh setelah dilakukan tonsilektomi. (Mansjoer, 2000) Walaupun digambarkan sebagai penyakit proliferasi epitel jinak, pada kenyataannya psoriasis disebabkan oleh gangguan autoimun. Limfosit T diaktifkan dalam berespon terhadap rangsangan tak dikenal terkait dengan sel langerhans kulit. Pengaktifan sel T menyebabkan pembentukan sitokinin proinflamatori termasuk faktor nekrosis tumor alfa, dan faktor pertumbuhan yang merangsang proliferasi sel abnormal dan pergantiannya. Waktu pertukaran normal sel epidermis adalah sekitar 28-30 hari pada psoriasis, epidermis dibagian yang terkena diganti setiap 3-4 hari. Pertukaran sel yang cepat ini menyebabkan peningkatan derajat metabolisme dan peningkatan aliran darah ke sel untuk menunjang metabolisme tersebut. Peningkatan aliran darah menimbulkan eritema. Pertukaran dan proliferasi yang cepat tersebut menyebabkan terbentuknya sel-sel yang kurang matang. Trauma ringan pada kulit dapat menimbulkan peradangan berlebihan sehingga epidermis menebal dan terbentuklah plak. ( Corwin, 2009) 3. Klasifikasi Klasifikasi didasarkan pada pola-pola klinis, Pada psoriasis didapatkan beberapa pola-pola klinis berikut ini menurut Brown & Burns (2005): a. Psoriasis plak klasik Ini merupakan pola yang paling sering dijumpai. Bisa berupa plak merah tunggal atau multipel, dengan diameter yang bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter, dan dengan permukaan yang berskuama. Bila dikerok dengan hati hati maka skuama akan terlihat seperti memantulkan cahaya, memberi efek seperti perak ( akibat terjadinya parakeratosis pada stratum korneum ). Gosokan yang lebih keras akan menyebabkan timbulnya pendarahan bintik pada kapiler.

Plak plak ini dapat timbul dibagian tubuh manapun, tetapi psoriasis mempunyai tempat predileksi pada permukaan ekstensor : lutut, siku, dan dasar tulang belakang. Lesi seringkali benar benar simetris. Relatif jarang didapatkan pada wajah. Kulit kepala dan kuku sering terkena dan atropati bisa juga terjadi.

Gambar Plak psoriasis Plak-plak cenderung menjadi kronis dan stabil dengan sedikit perubahan dari hari ke hari. Akan tetapi, plak-plak tersebut perlahan-lahan bisa meluas dan bersatu dengan daerah yang berdekatan. Dapat juga hilang dengan cara spontan. Kadang-kadang psoriasis juga ditemukan pada tempat terjadinya trauma atau pembentukan jaringan parut, keadaan ini dikenal sebagai fenomena kobner atau isomorfik, yang merupaka suatu gambaran yang khas tetapi tidak patognomonik. Paparan dengan radiasi UV atau sinar matahari alama sering kali memperbaiki psoriasis. Walaupun sering dikatakan bahwa psoriasis itu tidak gatal tetapi menurut pengalaman kami banyak pasien mengeluh rasa gatal yang hebat dan kebanyakan pasien mengalami rasa gatal pada waktu-waktu tertentu. Bahkan sebenarnya dalam bahsa yunani spora berarti gatal. Beberapa bentuk psoriasis (misalnya, gutata, fleksural) lebih cenderung menyebabkan iritasi. b. Psoriasis kulit kepala Psoriasis pada kulit kepala sering ditemukan : pada kenyataannya kulit kepala mungkin merupakan satu-satunya yang terkena. Kadang-kadang sulit untuk dapat

membedakan antara psoriasis pada kulit kepala dengan dermatitis seboroik berat, tetapi psoriasis umunya lebih tebal. Sebagai pegangan utama, apabila kita dapat merasakan lesi yang terdapat pada kulit kepala sekaligus melihatnya, maka kelainan itu kemungkinan adalah psoriasis. Lesi-lesi bervariasis dari hanya satu atau dua plak sampai berupa suatu lembaran skuama yang tebal dan menutupi seluruh permukaan kulit kepala. Kadang-kadang skuama bisa menjadi sangat tebal dan tertancap dalam gumpalan besar yang menempel pada rambut. Keadaan ini disebut dengan pitiriasis amiantasea. Bisa terjadi kerontokan rambut temporer pada psoriasis kulit kepala yang parah. Gambar Psoriasis Kulit Kepala

c.

Psoriasis kuku Kelainan pada kuku sering didapatkan, dan merupakan petunjuk diagnosis yang penting apabila lesi pada kulit hanya ada beberapa, atau tidak khas. Perubahan pada kuku hampir selalu terjadi pada psoriasis atropatik. Terdapat dua kelainan yang dapat terjadi bersama-sama maupun sendiri-sendiri, yaitu lekukan (pitting) dan onikolisis. Cekungan kuku pada psoriasis relatif besar dan tidak teratur, berbeda dengan yang terdapat pada alopesia areata. Onikolisis pada awalnya menimbulkan daerah kemerahan yang gelap yang dikelilingi bagian yang berwarna merah muda seperti warna ikan salmon, tetapi kemudian warna kuku berubah menjadi ciklat atau kuning. Kadang-kadang terasa sakit. Kelainan kuku ini terutama onikolisis dapat juga timbul tanpa ditemukannya tanda lain (psoriasis).

Kadang-kadang perubahan pustular terjadi pada ujung jari dan kuku (kadang disebut dengan akrodermatitis kontinua) perubahan yang serupa dapat menyertai pustulosis palmo_plantar kronis pada psoriasis bentuk eritrodermik atau pustular, keseluruhan kuku bisa menjadi kasar dan berubah warna. Gambar Psoriasis pada kuku

d. Psoriasis gutata Psoriasis gutata sering timbul mendadak, dan dapat menyertai suatu infeksi, terutama infeksi streptokokus pada tenggorokan. Hal tersebut merupakan cara umum timbulnya psoriasis, terutama pada usia dewasa muda. Gutata (guttate) dalam bahasa latin berarti tetesan. Kebanyakan lesi berukuran sekitar satu sentimeter dan biasanya warna lebih pucat bila dibandingkan dengan bercak psoriasis yang telah mantap, setidaknya pada fase awal. Diagnosis banding yang utama adalah pitriasis rosea, paling mudah dibedakan dengan adanya skuama parakeratosis pada psoriasis, dan bentuk lesinya (bulat pada psoriasis gutata, oval pada pitriasis rosea). Pada psoriasis gutata dapat timbul rasa gatal.

Lesi-lesi pada psoriasis gutata sering cepat hilang, tetapi pada beberapa pasien bisa membesar dan menjadi plak yang menetap.

Gambar. Psoriasis Gutata e. Psoriasis fleksural Psoriasis fleksural dapat menyertai lesi plak yang khas, namun juga dapat terlihat tersendiri, atau berkaitan dengan kelainan-kelainan pada kulit kepala dan kuku. Lesi bisa ditemukan pada daerah lipat paha, celah pada bayi sumbing (natal cleft), aksila, umbilikus dan lipatan dibawah payudara. Selalu didapatkan adanya maserasi, dan skuama pada permukaan kulit sering hilang, meninggalkan penampakan erimatosa yang seperti daging. Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis seboroik fleksural, sehingga carilah kelainan pada kuku atau tanda psoriasis ditempat lain. Beberapa dermatolog percaya terdapat satu fase dimana kedua kelainan saling tumpang tindih, yang kemudian disebut dengan kelainan sebopsoriasis. Psoriasis fleksural sering terasa gatal. Berhati-hatilah terhadap kemungkinan adanya sensitifitas kontak sekunder karena pemakaian obat-obat anti gatal yang dijual bebas. f. Brittle psoriasis (psoriasis yang rapuh) Kadang-kadang anda akan menghadapi pasien psoriasis dimana tidak adanya plak yang tebal dan stabil, tetapi yang ada adalah daerah berskuama tipis yang tidak stabil. Lesi bisa timbul secara de novo atau berkembang secara mendadak pasien psoriasis yang kelainannya stabil selama bertahun-tahun. Salah satu penyebab keadaan seperti ini adalah

terapi steroid sistemik (sering digunakan untuk kelainan yang lain), sedangkan steroid topikal yang poten dapat juga menyebabkan psoriasis yang stabil menjadi keras namun rapuh (brittle). Maksud dari brittle psoriasis adalah bahwa lesi bisa menyebar ke seluruh tubuh dengan cepat, terutama apabila diobati dengan obat-obatan yang poten dan mengarah pada terjadinya eritroderma atau bahkan psoriasis pustular akut. g. Psoriasis eritrodermik Apabila plak-plak psoriasis menyatu dan mengenai sebagian besar atau seluruh kulit, maka akan timbul eritroderma atau dermatitis eksfoliatif. Psoriasis mungkin menjadi eritrodermik dalam proses yang berlangsung dengan lambat dan tidak dapat dihambat, atau sangat cepat. Kadang-kadang psoriasis erotridermik dapat timbul de novo. Obat-obat steroid sistemik atau topikal yang poten bisa mempercepat terjadinya psoriasis eritrodermik.

h. Psoriasis pustular akut (Von Zumbusch) Keadaan ini sangat serius. Pasien dengan atau tanpa psoriasis sebelumnya secara tiba tiba terserang eritema yang menyebar luas, dan ditumpangi dengan adanya pustula. Pustula ini bisa bergabung membentuk danau-danau yang berisi pus. Pustula ini steril. Pasien mengalami panas tinggi yang naik turun, kelihatan parah dan merasa tidak sehat, serta didapatkan leukositosis. Apabila pasien tidak segera diobati, maka penyakitnya akan bertambah parah dan mungkin bisa meninggal, seringkali akibat terjadinya infeksi sekunder.

Gambar Psoriasis pustular i. Pustulosis palmo-plantar kronis Masih diperdebatkan tentang apakah ada hubungan antara kelainan ini dengan bentukbentuk yang lain dari psoriasis. Tindakan biopsi memperlihatkan gambaran patologis berbentuk serupa psoriasis, tetapi tidak umum bagi pasien untuk terserang pustulosis palmoplantar kronis yang berkaitan tipe-tipe lain dari psoriasis. Perubahan yang khas terdiri dari bercak-bercak tersebut lambat laun berubah menjadi coklat, berskuama, dan mengelupas. Kondisi tersebut biasa terasa tidak nyaman dan sakit, alih-alih gatal. Lesi bisa didapatkan dalam ukuran kecil saja pada satu tangan atau kaki, atau bisa juga menutupi seluruh permukaan kedua telapak tangan dan telapak kaki. Kelainan ini bisa menyebabkan pasien tidak mampu menggunakan ekstermitasnya yang terserang penyakit tersebut.

Gambar 2.8. Pustulosis palmo-plantar kronis 4. Manifestasi Klinis Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada kulit kepala, perbatasan daerah dahi dan rambut, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbo sakral. Menurut Arif Mansjoer (2000) manifestasi klinis yang dapat timbul pada klien dengan psoriasis yaitu : a. Bercak Eritema dengan Skuama Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi dengan skuama diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan serinbg eritema yang ditengah menghilang dan hanya terdapat dipinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi mulai dari lentikular, numular sampai plakat dan dapat berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian besar lentikular disebut psoriasi gultata, biasanya terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dan umumnya terjadi setelah adanya infeksi akut oleh streptokok. b. Fenomena Tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin., Auspitz dan Kobner (isomorfik). Kedua fenomena yang disebut lebih dahulu yang dianggap khas, sedangkan yang terakhir tak khas, hanya kira-kira 47% yang positif dan dapat didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken planus dan veruka plana juvenilis.

Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warna menjadi putih setelah digores, akibat berubahnya indeks bias cahaya pada lapisan skuama. Cara menggores dapat dilakukan dengan pinggir gelas alas. Pada fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik akibat papilomatosis. Cara mengerjakannya secara berikut: skuama yang berlapis-lapis itu dikerok dengan pinggir gelas alas hingga skuama habis. Pengerokan harus dilakukan perlahan-lahan karena jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik, melainkan perdarahan yang merata. Trauma pada kulit normal pasien psoriasis, misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut fenomena kobner. c. Nail Pit Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku, yakni sebanyak kira-kira 50%, yang khas adalah pitting nail (nail pit) berupa lekukan-lekukan miliiar. Kelainan yang tak khas ialah kuku yang keruh, tebal, bagian distal terangkat karena terdapat lapisan tanduk dibawahnya, dan onikolisis.

d. Kelainan pada sendi Selain menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksi pada sendi interfalangs distal. Banyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. Kelainan pada mukosa jarang ditemukan dan tidak penting untuk diagnosis sehingga tidak dibicarakan. 5. Patofisiologi Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia. Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal ( sisik yang berwarna seperti perak ). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel

epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal , terutama adenosin monofosfat(AMP)siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas ( Price & Wilson, 2006). 6. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan Kulit : Dari autoanamnesis pasien Psoriasis Vulgaris mengeluh adanya bercak kemerahan yang menonjol pada kulit dengan pinggiran merah, tertutup dengan sisik keperakan, dengan ukuran yang bervariasi, makin melebar, bisa pecah dan menimbulkan nyeri, jarang menyebabkan gatal. Kelainan kulit pada psoriasis terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama di atasnya. Bisa ditemukan eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhannya sering eritema yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pingir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika (mica-like scale), serta transparan. Besar kelainan bervariasi dari milier, lentikular, numular, sampai plakat, dan berkonfluensi, dengan gambaran yang beraneka ragam, dapat arsinar, sirsinar, polisiklis atau geografis. Tempat predileksi pada ekstremitas bagian ekstensor terutama (siku, lutut, lumbosakral), daerah intertigo (lipat paha, perineum, aksila), skalp, perbatasan skalp dengan muka, telapak kaki dan tangan, tungkai atas dan bawah, umbilikus, serta kuku. Pada psoriasis terdapat Fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner (isomorfik). Fenomena tetesan lilin dan Auspitz merupakan gambaran khas pada lesi psoriasis dan merupakan nilai diagnostik, kecuali pada psoriasis inverse (psoriasis pustular) dan digunakan untuk membandingkan psoriasis dengan penyakit kulit yang mempunyai morfologi yang sama, sedangkan Kobner tidak khas, karena didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken planus, liken nitidus, veruka plana juvenilis, pitiriasis rubra pilaris, dan penyakit Darier. Fenomena Kobner didapatkan insiden yang bervariasi antara 38-76 % pada pasien psoriasis. Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin yang digores disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Cara menggores dapat menggunakan pingir gelas alas.

Pada Fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebakan oleh papilomatosis. Cara megerjakannya : skuama yang berlapis-lapis itu dikerok, bisa dengan pinggir gelas alas. Setelah skuamanya habis, maka pengerokan harus dilakukan perlahanlahan, jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik melainkan perdarahan yang merata. Fenomena Kobner dapat terjadi 7-14 hari setelah trauma pada kulit penderita psoriasis, misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis. Dua puluh lima sampai lima puluh persen penderita psoriasis yang lama juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku, dimana perubahan yang dijumpai berupa pitting nail atau nail pit pada lempeng kuku berupa lekukan-lekukan miliar. Perubahan pada kuku terdiri dari onikolosis (terlepasnya seluruh atau sebagian kuku dari matriksnya), hiperkeratosis subungual (bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisan tanduk di bawahnya), oil spots subungual, dan koilonikia ( spooning of nail plate). Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi, tetapi jarang terjadi. Antara 10-30 % pasien psoriasis berhubungan dengan atritis disebut Psoriasis Artritis yang menyebabkan radang pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal, terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks (Mansjoer, 2000). b. Gambaran Histopatologi Psoriasis Psoriasis memberikan gambaran histopatologi, yaitu perpanjangan (akantosis) reteridges dengan bentuk clubike, perpanjangan papila dermis, lapisan sel granuler menghilang, parakeratosis, mikro abses munro (kumpulan netrofil leukosit polimorfonuklear yang menyerupai pustul spongiform kecil) dalam stratum korneum, penebalan suprapapiler epidermis (menyebabkan tanda Auspitz), dilatasi kapiler papila dermis dan pembuluh darah berkelok-kelok, infiltrat inflamasi limfohistiositik ringan sampai sedang dalam papila dermis atas (Mansjoer, 2000). c. Laboratorium Psoriasis Tidak ada kelainan laboratorium yang spesifik pada penderita psoriasis tanpa terkecuali pada psoriasis pustular general serta eritroderma psoriasis dan pada plak serta psoriasis gutata. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan bertujuan menganalisis penyebab psoriasis, seperti pemeriksaan darah rutin, kimia darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat.

Bila penyakit tersebar luas, pada 50 % pasien dijumpai peningkatan asam urat, dimana hal ini berhubungan dengan luasnya lesi dan aktifnya penyakit. Hal ini meningkatkan resiko terjadinya Artritis Gout. Laju endapan eritrosit dapat meningkat terutama terjadi pada fase aktif. Dapat juga ditemukan peningkatan metabolit asam nukleat pada ekskresi urin. Pada psoriasis berat, psoriasis pustular general dan eritroderma keseimbangan nitrogen terganggu terutama penurunan serum albumin. Protein C reaktif, ?2 makroglobulin, level IgA serum dan kompleks imun IgA meningkat, dimana sampai saat ini peranan pada psoriasis tidak diketahui (Mansjoer, 2000). 7. Diagnosis Banding Jika gambaran klinis khas, diagnosis tidak sulit ditegakkan. Jika tidak khas, maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dermatosis eritroskuamosa. Pada stadium penyembuhan dapat terjadi hanya dipinggir hingga menyerupai dermatofitosis. Perbedaannya ialah keluhan pada dermatofitosis gatal sekali dan pada sediaan langsung dengan KOH ditemukan jamur. Sifilis pada stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifilis psoriasiformis. Perbedaannya, pada sifilis terdapat senggama tersangka (coitus suspectus), pembesaran kelenjar getah bening menyeluruh, dan tes serologi untuk sifilis positif. Dermatitis seboroik berbeda dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan kekuning-kuningan dan bertempat prediliksi pada tempat yang seboroik. Jika gambaran klinisnya tak khas, dilakukan biopsi. Dalam praktek, adakalanya setelah dilakukan biopsi beberapa kali baru tampak gambaran histopatologik yang khas. 8. Penatalaksanaan Karena penyebab psoriasis belum diketahui pasti, maka ada obat pilihan. Dalam kepustakaan terdapat banyak cara pengobatan sebagian hanya berdasarkan empiris. Psoriasis sebaiknya diobati secara topikal. Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek samping pengobatan sistemik lebih banyak. a. Sistemik Kortikostiroid. Hanya digunakan pada psoriasis eritrodermik dan psoriasis pustulosa generalisata. Dosis permulaan 40-60 mg prednison sehari. Jika telat ada perbaikan, diturunkan secara bertahap.

Obat simtomatik. Yang biasa digunakan adalah metotreksat. Indikasinya ialah untuk psoriasis, psoriasis pustulosa, psoriasis artropatika dengan lesi kulit, dan eritroderma karena psoriasis yang sukar terkontrol dengan obat standar. Kontraindikasinya ialah jika terdapat kelainan hati, ginjal, sistem hematopoetik, kehamilan, penyakit infeksi aktif (misalnya tuberkulosis), ulkus peptikum, kolitis ulserosa, dan psikosis. Cara penggunaan metotreksat: mula-mula diberikan tes dosis inisial 5 mg per oral untuk mengetahui, apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik. Jika tidak, diberikan dosis 3 x 2,5 mg, dengan interval 12 jam dalam seminggu dengan dosis total 7,5 mg. Jika tidak tampak perbaikan dosis dinaikkan 2,5-5 mg per minggu. Biasanya dengan dosis 3 x 5 mg per minggu telah tampak perbaikan. Cara lain ialah diberikan i.m 7,5-25 mg dosis tunggal setiap minggu. Cara tersebut lebih bangyak menimbulkan efek samping daripada cara pertama. Jika penyakitnya telah terkontrol, dosis diturunkan atau masa interval diperpanjang, kemudian dihentikan dan kembali ke terapi topikal. Setiap 2 minggu diperiksa Hb, jumlah leukosit, hitung jenis, jumlah trombosit, dan urin lengkap. Setiap bulan diperiksa fungsi ginjal dan hati. Bila jumlah leukost kurang dari 3.500/uL metotreksat dihentikan. Jika fungsi hati normal, biopdi hati dilakukan setiap dosis total mencapai 1,5 g. Jika abnormal, biopsi dikerjakan setiap dosis total mencapai 1 g. Efek samping metroteksat antara lain nyeri kepala, alopesia, serta gangguan saluran cerna, sumsum tulang belakang, hati, dan limpa. Pada saluran cerna berupa nausea, nyeri lambung, stomatitis ulserosa, dan diare. Jika hebat dapat terjadi enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. Depresi sumsum tulang berakibat timbulnya leukopenia, trobositopenia, kadang-kadang anemia. Pada hati dapat terjadi fibrosis dan serosis.

Levodopa. Obat ini sebenarnya dipakai untuk penyakit parkinson. Menurut iji coba, obat ini berhasil menyembuhkan kira-kira sejumlah 40% kasus psoriasis. Dosisnya antara 2 x 250 mg. Efek samping berupa mual, muntah, anoreksia, hipertensi, gangguan psikis, dan pada jantung.

DDS (diamino difenilsulfon). Dipakai untuk psoriasis pustulosa tipe Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek sampingnya ialah anemia hemolitik, methemoglobinemia, dan agnranulositosis.

Etretinat (tegison, tigason). Obat ini merupakan retinoid aromatik, digunakan bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek sampingnya. Dapat pula digunakan untuk eritroderma psoriatika. Cara kerjanya belum diketahui pasti. Pada

psoriasisobat tersebut mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal, namun tidak seluruh pasien dapat disembuhkan dengan obat ini. Siklosporin. Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 6 mg/kg BB sehari. Bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, namun setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan. Dosisnya bervariasi: pada bulan pertama diberikan 1 mg/kg, jika belim terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1,5 mg/kg BB. Efek sampingnya sangat banyak, diantaranya atrofi kulit, selaput lendir mulut, mata, hidung mengering, peninggian lipid darah, gangguan fungsi hati, hiperostosis, dan teratogenik. b. Topikal Preparat ter. Biasa digunakan dan mempunyai efek antiradang. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni yang berasal dari : Fosil, misalnya iktiol Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski Batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens Preparat ter yang berasal dari fosil biasanya kurang efektif untuk psoriasis. Preparat yang cukup efektif ialah yang berasal dari batubara dan kayu. Ter dari batubara lebih efektif daripada ter dari kayu tetapi kemungkinan memberikan iritasi juga lebih besar. Pada psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan ter yang berasal dari batubara karena lebih efektif dan kemungkinan timbulnya iritasi kecil. Sebaliknya, pada psoriasis akut dipilih ter dari kayu karena jika dipakai ter dari batu bara di khawatirkan kana terjadi iritasi dan menjadi eritroderma. Ter yang berasal dari kayu kurang nyaman bagi pasien karena berbau kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. Sedangkan likuor karbonis detergens tidak demikian. Konsentrasi yang biasa digunakan 2-5 %, dimulai dengan yang rendah, misalnya 2%. Jika tidak ada perbaikan, dinaikkan sampai 5%. Supaya lebih efektif, daya penetrasinya hipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3-5% sebagai vehikulum harus digunakan salep karena mempunya daya penetrasi terbaik. Kortikostreroid. Kortikostreroid topical juga memberi hasil yang baik, namun harganya terlalu mahal. Harus dipil golongan kortikostreroid yang poten, misalnya senyawa fluor. Jika lesi hanya beberapa dapat pula disuntikkan triamsinolon asetonid intralesi seminggu sekali.

Ditranol (antralin). Obat ini cukup efektif, namaun mewarnai kulit dan pakaian. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-0,8 % dalam pasta atau salep. Penyembuhan dalam 3 minggu.

Pengobatan dengan penyinaran. Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara terbaik ialah penyinaran secara alamiah, tetapi tidak dapat diukur dan jika berlebihan akan memperhebat psoriasi. Karena itu, digunakan sinar ultraviolet artivisial, diantaranya sinar A yang dikenal sebagaian UVA. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau dikombinasi dengan psoralen (8metoksipsoralen, metoksaklen). Dan disebut PUVA atau bersama-sama dengan preparat ter yang terkenal sebagai pengobatan cara goeckereman. PUVA juga dapat digunakan untuk eritroderma psoriatik dan psoriasis pustulosa. Beberapa penyedilik mengatakan, pada pemakaian yang lama mungkin terjadi kanker kulit. Pengobtan cara goeckerman menggunakan ter yang berasal dari batu bara, misalnya likuor karbonas detergen dalam minyak, shampo, atau losio. Ter tersebut bersifat potosensitizer dan dioleskan 2-3x sehari, lama pengobatan 4-6 minggu, penyembuhan terjadi setelah 3 minggu. Kecuali prepara ter juga dapat digunakan ditranol.

c.

Pengobatan Psoriasis Pustulosa Kecuali dengan kortikostreroid sistemik, juga dapat diobati dengan DDS (diamino difenilsulfon) dan klofazimin. Dosis DDS 100-200 mg sehari, jika teklah terjadi penyembuhan dosis diturunkan. Efek samping DDS antara lain agranulositosis, anemia hemolitik, methemoglobinemia, neuritis perifer dan hepatotoksik dengan dosis 100 mg sehari umunya tidak ada efek samping klufazimin diberikan dengan dosis 2x100 mg. Efek sampingnya ialah warna kecoklatan pada kulit , dan warna kekuningan pada sklera sehingga mirip ikterus. (Mansjoer, 2000)

9. Komplikasi Menurut Corwin (2009) komplikasi dari psoriasis diantaranya adalah : a. Infeksi kulit yang parah dapat terjadi sekitar 30-40% pasien psoriasis. Bila berat, psoriasis dapat menjadi penyakit yang melemahkan. b. Artritis deformans yang mirip dengan artritis rematoid, disebut artritis psoriatika, timbul pada

c.

Berdampak pada penurunan harga diri pasien yang menimbulkan stres psikologis, ansietas, depresi, dan marah.