Anda di halaman 1dari 7

DINAMIKA IMIGRAN MUSLIM DI PERANCIS Modie Alvianto W.

* ABSTRAK Imigran Muslim yang datang di Perancis dari tahun 1940-2010 mulai menujukkan peningkatan yang cukup pesat. Realita ini memunculkan keresahan dari warga asli Perancis khususnya warga kulit putih. Islam pun mulai dikenal khalayak luas terlihat dari banyaknya simbol simbol yang bertebaran di kota kota Perancis. Alhasil, Pemerintah Perancis mencoba menerapkan berbagai kebijakan yang diantaranya adalah Sarkozy Law 2. Namun di sisi lain, gelombang muslim terus bermunculan sehingga pada akhirnya parlemen Perancis mulai diisi kaum imigran muslim Perancis. keyword: Imrigrasi, Muslim, Perancis, Imigran Muslim. Imigran muslim datang ke Prancis pertama kali pada saat Perang Dunia I (1914 1918) dimana Perancis sedang membutuhkan tenaga buruh untuk merekonstruksi wilayahnya yang hancur akibat perang (Pabottingi, 2008 : 60). Pada saat itu, sekitar hampir 70.000 warga Aljazair dan 70.000 warga Maroko imigrasi ke negeri Perancis. Setelah itu, arus masuknya imigran di Eropa khususnya Perancis semakin bertambah pasca Perang Dunia II dimana banyaknya warga yang berasal dari benua biru seperti contoh Belgia dan Jerman sehingga menimbulkan integrasi di wilayah Perancis (Esther Ben : 2009). Awal mulanya para imigran muslim yaitu yang berasal dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia (ketiganya disebut kaum Maghribi) datang secara individu untuk bekerja namun ketika merasa dirinya sukses maka mereka mengajak sanak familinya sehingga membentuk koloni di daerah dimana dia bekerja. *Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Adanya krisis ekonomi yang melanda Eropa Barat pada tahun 1970an membuat banyak imigran asing, terutama imigran muslim Maghribi menganggur dan akhirnya teralienasikan sehingga hal tersebut menjadi suatu fenomena di tahun tersebut. Akhirnya pemerintah Eropa Barat menerapkan kebijakan penghentian imigrasi dengan memperkenalkan tindakan pencegahan imigrasi dan pembatasan perekrutan tenaga kerja asing. Namun realitanya, justru makin banyak kaum imigran muslim yang datang ke daerah Eropa Barat khususnya Perancis. Hingga pada abad 21 ini setidaknya ada 15 juta kaum muslim di Eropa dengan perkiraan

sekitar lima sampai enam juta diantaranya tinggal di Perancis atau sekitar 10 persen dari total 62 juta penduduk Perancis (Pabottingi, 2008 : 60). Pada 17 Mei 2006, Pemerintah Perancis mencoba menerapkan French Immigration and Integration Law (Chou dan Baygert, 2007 : 2). Ini dimaksudkan untuk memilah dan memilih mana imigran yang pantas masuk ke wilayah Prancis. Hukum ini dikenal sebagai Sarkozy Law 2 karena sebelumnya pada 26 November 2003 Pemerintah Perancis telah mencoba menggagas hal serupa dengan penamaan immigration and asylum yang kemudian dikenal dengan Sarkozy Law. Ada tiga poin penting yang terdapat pada French Immigration and Integration Law yaitu (1) penyeleksian imigran (immigration choisie), (2) integrasi mandat (mandatory immigration), (3) pembangunan (co-development). Poin pertama ini dicetuskan untuk setiap individu yang ingin tinggal bahkan hidup di wilayah Perancis. Contohnya adalah ketika ada individu yang ingin membawa keluarganya ke wilayah Perancis maka setidaknya individu tersebut telah tinggal selama minimal 18 bulan di Perancis dan sanak keluarganya yang akan dibawa harus direunifikasi oleh pemerintah Perancis agar dapat masuk ke wilayah tersebut. Poin kedua dijelaskan untuk menjadi warga negara Perancis maka setiap imigran harus melewati berbagai proses yang telah dicanangkan oleh pemerintah Perancis yaitu kemauan dan keinginan yang ditunjukkan dengan mendemonstrasikan dirinya terhadap publik dengan sungguh sungguh dan setelah itu menandatangani kontak perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Perancis. Poin ketiga dijelaskan bahwa imigran yang ingin masuk ke wilayah Perancis berasal dari negara yang memiliki hubungan baik dengan Perancis. Baik disini dimaksudkan adalah negara asal memberi keuntungan strategis baik itu ekonomi maupun politis terhadap negara Perancis. Hal inilah kemudian yang menyebabkan imigran muslim sulit masuk ke Perancis dikarenakan adanya kebijakan tersebut terutama pada poin kedua. Perancis yang menerapkan konsep fraternity, egality, dan liberty lebih mengutamakan pada kesetaraan antar warga namun realitanya konsep itu hanya bersifat semu karena ada komunitas imigran yang akhirnya teralienasikan dan komunitas tersebut adalah imigran kaum muslim. Selain itu, adanya xenophobia dan positive discrimination yang cukup kuat dari warga asli (indigineous) Perancis memperkuat anggapan bahwa kaum imigran muslim kurang dikehendaki untuk menetap di wilayah Perancis. Sentimen anti Islam mulai terlihat ketika diberlakukannya UU larangan simbol simbol agama pada tahun 2004 yang meliputi jilbab untuk orang Islam, salib untuk orang Kristiani, dan kippa untuk orang Yahudi. Ini diperkuat kembali pada tahun 2010 pemerintah Perancis yang menerbitkan UU Anti-Burka (Nubowo, 2010 : 47). Selain itu, mengacu pada kebijakan politik pemerintah Perancis yang menerapkan pelarangan simbol simbol agama maka beberapa simbol agama mulai dihilangkan namun uniknya hanya simbol Islam yang terus diserang oleh pemerintah Perancis. Pandangan bahwa anti Islam memang menguat sejak lama terlebih sejak peristiwa 11 September 2001 dan dengan mudah sentimen anti Islam menguat sehingga mudah bagi rakyat Perancis untuk melakukan penolakan terhadap simbol Islam. Salah satu contoh nyata adalah dimana Gubernur Montreuil yang pada saat itu dijabat oleh Jean-Pierre Brard melarang pertunjukan busana muslim yang digagas oleh Sarl Jasmeen Islamic Fashion Hous. Dia memandang bahwa semisal pertunjukan ini diadakan maka dikhawatirkan akan terjadi

tendensi terhadap kepentingan aliran agama tertentu (Pabottingi, 2008 : 57). Salah satu tokoh partai politik ekstrem kanan yaitu Jean-Marie Le Pen mengatakan bahwa banyaknya pengangguran dan tingkat kejahatan yang cukup tinggi ini disebabkan terlalu banyaknya imigran muslim di Perancis. Selain itu, perkataan dari Jean-Marie Le Pen yaitu to be French, you have deseve it cukup menyindir bersif at negatif terhadap para imigran muslim terutama kaum Maghribi (Serkhe, 2010 : 26). Alhasil, perkataan dari Jean-Marie Le Pen mendapat respon cukup positif di kalangan warga asli Perancis. Hal ini diperkuat juga ketika adanya krisis ekonomi yang melanda Perancis pada tahun 2007 dan akhirnya memaksa Sarkozy untuk melakukan restrukturisasi ekonomi yaitu berupa reformasi keuangan dan juga masalah sosial, kesehatan dan dana pensiun. Pengangguran di Perancis meningkat 2,1 persen pada tahun 2009 yaitu dengan jumlah 1.480.000 warga miskin sehingga memaksa ribuan warga Perancis termasuk imigran muslim di PHK. Sarkozy menganggap bahwa kebijakan yang diterapkannya itu untuk melawan populasi imigran yang memiliki status ilegal (Chou dan Baygert, 2006 : 14). Namun kebijakan ini
Formatted: Font: (Default) Times New Roman, 12 pt

mendapat perhatian cukup serius di kalangan muslim Perancis. Ada yang menerima bahkan ada pula yang menolak. Pihak menerima menganggap bahwa kebijakan ini patut mendapat apresiasi mengingat harus adanya pengendalian populasi pada wilayah Perancis. Namun menurut pihak yang menolak, hal ini disesalkan karena kebutuhan Perancis terhadap buruh pekerja kasar masih cukup tinggi. Pertumbuhan imigran muslim di Perancis Dinamika populasi imigran muslim mulai meningkat dari tahun ke tahun. Ini dibuktikan pada tabel 1 yang memuat perkembangan imigran muslim Perancis dari tahun 1940-2010. Tabel 1. Pertumbuhan imigran muslim Perancis tahun 1940 2020. Sumber : Diadems of the Decade from October 2007, Volume 18, hal 30. Pertumbuhan yang cukup pesat dari tahun 2000 2010 sejumlah 6-8 juta jiwa imigran muslim. Ini pula yang dikhawatirkan oleh warga asli Perancis dengan meningkatnya populasi imigran muslim Perancis karena diperkirakan pada tahun

2020 populasi imigran muslim bisa mencapai 20 juta orang. Dengan populasi warga Perancis sejumlah 59 juta orang bukan tidak mungkin apabila di tahun 2020, 1 dari 4 orang warga Perancis adalah warga muslim (Diadems of the Decade from October 2007, Volume 18, 30). Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran pula oleh warga Kristiani karena takut eksistensinya mulai terancam oleh imigran muslim Perancis. Selain itu munculnya masjid masjid yang ada di Perancis membuat gereja merasa tersaingi keberadaannya. Pada tahun 2004 sempat pula digulirkan kebijakan politik yang menyangkut keberadaan Islam yaitu larangan untuk menmunculkan simbol simbol agama di sekolah dan puncaknya pada tahun 2010 muncul UU Anti Burka (Nubowo ,2010 : 47). Berikut adalah penelitian yang dilakukan oleh Houssain Kettaini mengenai populasi muslim di seluruh dunia dan salah satunya merupakan hasil penelitian di Eropa Barat daya tentang Perancis pada tahun 2010.
Formatted: Font: (Default) Times New Roman, 12 pt

Tabel 2. Pertumbuhan populasi muslim di Perancis pada tahun 2010. Proceedings of the 8th Hawaii International Conference on Arts and Humanities, Honolulu, Hawaii, January 2010 .Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa muslim di Perancis tumbuh paling pesat diantara negara negara di sekitarnya. Dalam tabel tersebut ditunjukkan bahwa populasi muslim mencapai 9.77% dengan sejumlah 6.122.856 juta mwarga muslim dan ini merupakan satu satunya negara yang mampu melampaui diatas 5%. Sedangkan negara yang lain berkisar antara 0.05 5%. Pengaruh European Union Immigration Pact terhadap integrasi kaum imigran muslim Perancis The EU has been built on a commitment to mobility of goods, capital,labour and services while on the other hand it has now become concerned with imposing restrictions on mobility in the name of security (Delanty 2008:689)

EU immigration pact ini didesain untuk mencegah perbuatan yang dilakukan oleh imigran ilegal agar nantinya diberikan sanksi yang efektif agar para imigran tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa semakin gencar untuk menangani kasus para imigran illegal terlebih pada saat itu Presiden perancis Nicolas Sarkozy yang ikut mengusulkan agar tercapainya pembuatan EU immigration pact ini. Ratifikasi telah dilakukan pada Oktober tahun 2008 dengan dihadiri oleh sedikitnya 27 anggota Uni Eropa. Isi dari EU immigration pact terdiri dari tiga penjelasan yaitu ( Council of EU, 2008 : 4) : 1.Mengontrol para imigran illegal disertai pencegahannya melalui pendekatan yang sifatnya konservatif. 2.Jika ada imigran illegal yang mencoba untuk bertempat tinggal di daerah teritori yang ada pada 27 negara tersebut, maka wajib untuk diusir dari wilayah teritori tersebut. 3.27 anggota negara yang telah meratifikasi perjanjian tersebut dapat memasukkan imigran illegal jika imigran tersebut masih dalam satu family yang ada pada keluarga di dalam negara tersebut. Peraturan no tiga tersebut dimaksudkan bahwa jika ada imigran masih mempunyai hubungan darah dengan salah satu keluarga yang termasuk dalam 27 negara tersebut hal tersebut masuk dalam ranah perkecualian. Walaupun begitu ada beberapa pihak yang mengkritik kebijakan Uni Eropa tersebut yaitu 1. Adanya pakta ini digunakan untuk menyokong kebijakan nasional yang dilakukan oleh suatu negara dan ini sifatnya kurang kompromi. 2.Kepentingan nasional menjadi salah satu acuan utama dimana adanya pembatasan pergerakan imigran untuk mencoba bekerja di negara tersebut. 3.Kekuatan nasional juga dijadikan alat untuk menekan pakta ini agar tegas dalam menegakkan keadilan namun hal ini masih menjadi rancu karena disinyalir hanya sebagai alat kamuflase. Dalam hal ini, menurut penulis Uni Eropa terkesan khawatir dengan pergerakan imigran terutama kaum muslim. Ini terbukti bahwa salah satu negara Eropa yaitu Perancis berupaya menekan jumlah imigran muslim terutama dari benua Afrika. Selain itu adanya kebijakan yang kurang menguntungkan dari Nicholas Sarkozy membuat semakin adanya pesimisme yang ditimbulkan oleh kaum muslim. Kebijakan yang dilakukan oleh Nicholas Sarkozy mengenai kaum imigran muslim Problematika minoritas telah dirasakan kaum muslim sejak tahun 1900an. Ini disebabkan karena kaum Barat yang seolah olah merasa dirinya yang berhak untuk mengakuisisi dunia ini. Salah satu bukti contoh yang nyata adalah Negara Perancis yang menerapkan konsep sekularisme dimana adanya pemisahan agama yang kuat dengan kepentingan nasional. Hal ini dilakukan mengingat Perancis menyadari adanya sinyal bahwa kaum muslim yang bertambah jumlah populasinya. Selain itu, mengacu pada konstitusi 4 Oktober 1905 yang

menyatakan bahwa negara Perancis adalah negara sekuler, demokrasi, dan republic diharapkan adanya persamaan tanpa ada pembedaan ras dan agama (Pabottingi : 2008, 53). Ini yang makin menyulitkan kaum imigran muslim untuk leluasa menjalankan aktivitas. Kebijakan yang mencolok adanya UU anti simbol keagamaan dimana dimaksudkan agar simbol tersebut tidak tampak pada negara Perancis. Peraturan ini berkembang karena adanya ekstrem kiri yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Islam yang dianggap sebagai teroris yang dapat membahayakan negara Perancis. Perancis juga merupakan Negara pertama yang menerapkan kebijakan anti busana muslim yang lebih tepatnya burqa. Bahkan dalam penerapannya pemerintah akan menghukum para muslimah yang memakai burqa. Menurut Sarkozy, hal tersebut bukan tanda agama namun hanya sebagai simbol takluk terhadap lawan jenis. Namun hal ini memantik reaksi keras dari komunitas muslim Perancis yang mengutuk bahwa pemerintah Perancis terlalu mengada ada dalam membuat kebijakan tersebut karena perlu diketahui bahwa Perancis merupakan negara dengan muslim terbesar di Eropa. Pemerintah juga membatasi hak politik bagi kaum muslim untuk berekspresi. Hal ini terlihat dimana tidak adanya partai politik yang bisa menembus pemilu Perancis. Namun yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah dimana tidak adanya satu perwakilan muslim yang menduduki parlemen Perancis. Namun ini pun dimaklumi oleh warga Muslim Perancis karena disamping memang adanya batasan pergerakan yang dilakukan pemerintahan Perancis, juga adanya keterlambatan kaum muslim untuk sadar memperoleh kewarganegaraan. Hal ini disebabkan karena kaum muslim Perancis dulunya hanya bekerja namun di tahun 1980an baru memiliki keinginan untuk menetap di negara Perancis. Problema yang dihadapi oleh kaum imigran muslim begitu pelik sehingga butuh intervensi dari pihak lain agar imigran muslim dapat terus eksis di Perancis. Meskipun begitu, ketika banyak warga muslim Perancis ditanya tentang kewarganegaraannya, mereka selalu menjawab,We are French but they dont treat us as a French so social problem are behind the reaction of immigrants to Europes failed promises.(Pabottingi : 2008, 73). Ini telah membuktikan bahwa Perancis telah gagal untuk menyelaraskan tujuan dari imigran muslim. Imigran imigran merasa hanya diperlakukan semena mena dengan dipaksa oleh pemerintah Perancis untuk terintegrasi namun di sisi lain diskriminasi masih terus terjadi sampai saat ini. KESIMPULAN Sekularisme di Negara Perancis masih akan berlanjut tanpa terhenti ketika Presiden Nicolas Sarkozy masih menjabat. Hal yang didengungkan oleh sang presiden adalah mencoba mengusir dan membumihanguskan Islam fundamentalisme atau biasa disebut Islam radikalisme agar Perancis bisa terhindar dari terorisme yang selama ini selalu dikaitkan dengan masyarakat imigran khususnya muslim yang sekarang bermukim di Perancis. Namun hal ini tidak membuat patah arang daripada masyarakat muslim Perancis karena mereka terus berjuang untuk mencari kebenaran dan realita ini bisa dibuktikannya dengan perlawanan dari kaum muslim yang berupaya untuk mencari keadilan. Integrasi kaum imigran muslim di Perancis pada pemerintahan Nicolas Sarkozy sulit terjadi karena makin adanya terbentuk kebijakan imigrasi Uni Eropa yang berupa

European Union Immigration Pact yang makin membuat terdesak para kaum imigran muslim untuk meninggalkan tanah negeri yang dulu menjadi bekas tuan rumah dari para imigran. Selain itu migrasi internasional yang dilakukan semenjak pasca perang dunia II membuat itu hanya menjadi kenangan masa lalu. Namun ketika banalitas banalitas yang terjadi antara kaum imigran dengan kaum local tidak dapat terselesaikan maka akan seterusnya menjadi konflik sehingga bisa menjadi konflik vertical. Dengan tujuan yaitu mencoba lebih mengenali identitas bangsa yang lebih berdikari, Pemerintah Perancis seakan ingin membuat sudut pandang bahwa nasionalisme dari setiap individu yang ada pada masyarakat Perancis harus ditegakkan agar tidak terjadi peyoratif pada diri masyarakat Perancis. Masih adanya permasalahan social, ekonomi, demografi cukup membuat pemerintah Perancis harus lebih selektif dalam memilih mana yang baik untuk Negara Perancis dan mana yang buruk untuk Negara Perancis. Daftar Pustaka Ben, Esther, 2009, Europes Shifting Immigration Dynamic, http://www.meforum.org/2107/europe-shifting-immigration-dynamic Chou, Menghsuan dan Nicholas Baygert, 2007, The 2006 French Immigration and Integration Law : Europeanisation or Nicolas Sarkozys Presidential Keystone, Oxford University : Working Paper. Council of European Union, 2008, European Pact on Immigration and Asylum, Brussels. Delanty, Gerard, 2008. Fear of Others: Social Exclusion and the European Crisis of Solidarity, Social Policy & Administration, Vol. 42, No. 6, pp. 676 -690. Diadems of the Decade from October 2007, Volume 18, No 293. Nurbowo, Andar, 2010, Islam, Sekularisme, dan Demokrasi di Eropa: Pengalaman Perancis, LP3ES : Jakarta. Pabottingi, Mochtar, 2008, Potret Politik Kaum Muslim di Perancis dan Kanada, Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Proceedings of the 8th Hawaii International Conference on Arts and Humanities, Honolulu, Hawaii, January 2010. Serkhe, T.V, 2010, Immigration from the Maghreb, Middle East Institute : Washington DC.