Anda di halaman 1dari 9

Sambungan Baut

Latar Belakang Elemen-elemen yang menyusun struktur baja harus digabungkan satu dengan yang lain dengan suatusistem sambungan. Sambungan berfungsi menyatukan elemen-elemen dan menyalurkan beban dari satu bagian ke bagian yang lain

Sistem Sambungan

Elemen yang disambung Jenis penyambung:las,baut,pakukeling Pelat penyambung (danpelatpengisi)

Contoh Sambungan

Sambungan balok-balok

Sambungan balok-kolom

Baut Mutu Normal ( Baut Hitam )

Sambungan baut dapat terbuat dari baut mutu normal atau mutu tinggi. Baut ini di buat dari baja karbon rendah yang di identifikasi sebagai A307, dan merupakan jenis bautyang paling murah Namun baut ini belum tentu menghasilkan sambungan yang paling murah karena banyaknya jumlah baut yang dibutuhkan pada suatu sambungan Pemakaian terutama pada struktur yang ringan, batang sekunder atau pengaku,platform,gording,rusuk dinding. Mutu baut dapat dibaca dibagian kepala baut,misalnya tertulis 4.6 artinya tegangan leleh baut = 4x6x100 = 2400 kg/cm2

Baut mutu normal dipasang kencang tangan,tanpa gaya tarik awal dan merupakan tipe tumpu.

Baut Mutu Tinggi/High Tension Bolt (HTB)

Sambungan baut mutu tinggi mengandalkan gaya tarik awal yang terjadi karena pengencangan awal. Gaya tersebut dinamakan proofload. Gaya tersebut akan memberikan friksi, sehingga sambungan baut mutu tinggi hingga taraf gaya tertentu dapat merupakan tipe friksi.Sambungan jenis ini baik untuk gaya bolak-balik. Untk taraf gaya yang lebih tinggi,sambungan tersebut merupakan tipe Bautmututinggidipasangdenganmula-mulamelakukankencangtangan dandiikutidengansetengahputaransetelahkencang tangan.Atau menggunkana kuncitorsiyangtelahdikalibrasi sehinggamenghasilkan setengahputaransetelahkencangtangan Diameter yang paling sering digunakan pada konstruksi gedung adalah incidan 7/8inci. Diamter yang paling sering digunakan pada konstruksi jembatan adalah7/8 incidan1inci Saat ini sambungan baut lebih ekonomis dari pada sambungan keling

Pengertian Diameter Nominal (dn) dan Diameter Kern (dk) Diameter nominal adalah diameter yang tercantum pada nama perdagangan,misalnyaM12artinyadiameternominal(dn)=12mm Untuk baut tidak diulir penuh,diameter nominal adalah diameter terluar dari batang baut Untuk baut ulir penuh, diameter inti (dk) adalah diameter dalam dari batangtersebut Diameter yang digunakan untuk menghitung luas penampang Baut tidak diulir penuh menggunakan dn Baut diulir penuh menggunakan dk

Kerusakan Sambungan

a) Kerusakan pada baut akibat geser b) Kerusakan pada pelat lewat lubang sambungan c) Kerusakan pada baut ataupun pelat (mana yang lebih lemah) akibat tumpu d) Kerusakanpadatepi pelatakibatgeser

Mekanisme Sambungan

1. Tipe tumpu Sambungan tipe tumpu adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut yang dikencangkan dengan tangan,atau baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkna gaya tarik minimum yang disyaratkan, yang kuatrencananya disalurkan oleh gaya geser pada baut dan tumpuan pada bagian-bagian yang disambungkan

2. Tipe friksi Sambungan tipe friksi adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkan tarikan baut minimum yang disyaratkan sedemikian rupa sehingga gaya- gaya geser rencana disalurkan melalui jepitan yang bekerja dalam bidang kontak dan gesekan yang ditimbulkan antara bidang-bidang kontak

Bidang Kerja Sambungan A. Perencanaansambunganditentukanolehbidangkerjasambungan,yaitu bidangtempat bekerjanya gaya pada sistem sambungan. B. Bidangkerja : 1. Tegaklurus(lurusbidang/tak sebidang) 2. Kombinasi sejajar tegak lurus 3. Sejajar(dalambidang/ sebidang)

Bidang Kerja Sejajar ( Pembebanan Dalam Bidang ) 1. Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya berada dalam bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya geser 2. Bidang Kerja Tegak Lurus (Pembebanan Luar Bidang) 3. Adalahpembebanan yanggayadanmomenlenturrencananya menghasilkan gaya yang arahnya tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya tarik 4. Bidang Kerja Kombinasi 5. Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang arahnya sejajar dan tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan adalah kombinasi gaya geser dan tarik

Klasifikasi Sambungan

A. Sambungan Kaku ( RigidConnection ) Deformasi titik kumpul harus sedemikian rupa sehinga tidak terlalu berpengaruh terhada distribusi gaya maupun terhadap deformasi keseluruhan struktur.Sambungan dianggap memiliki kekakuan yangcukup untuk mempertahankan sudutdiantara elemen-elemen yang disambung B. Sambungan Semi Kaku (Semi Rigid Connection) Pada sambungan semikaku,perhitungan kekakuan, penyebarangaya,dan deformasinya harus menggunakanan alisa mekanika yang hasilnya didukung oleh percobaan eksperimental. Sambungan tidak memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut antara elemen yang disambung.Dianggap mempunyai kapasitas yang cukup untuk memberikan tahanan yang dapat diukur terhadap perubahan sudut tersebut yang disambung. C. Sambungan Sendi ( Simple Connection ) Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sambungan.Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. Detail sambungan harus dapat memikul gaya reaksi yang bekerja pada eksentrisitas yang sesuai dengan detail sambungan.

Panduan Pemilihan Alat Sambung 1. Sambungan baut sesuai untuk struktur ringan dengan beban statis yang kecil,dan batang sekunder(seperti gording,pengikat,bracing,dsb) 2. Pelaksanaan pekerjaan baut sangat cepat, tidak memerlukan pekerja dengan kecakapan tinggi 3. Bila struktur kelak akan dibongkar pasang, baut lebih sesuai untuk digunakan dibandingkan las 4. Untuk beban fatique,sebaiknya menggunakan baut mutu tinggi dan las 5. Pemasangan baut mutu tinggi memerlukan perhatian khusus 6. Sambungan las memerlukan baja lebih sedikit, dan penampilan sambungan baik

7. Pada sambungan yang menerus dan rigid,sambungan las lebih sesuai 8. Pengelasan sebaiknya dikerjakan di bengkel / work shop karena pemeriksaan las dilapangan agak diragukan 9. Pekerjaan las untuk elemen batang yang sangat tebal memerlukan perhatian ekstra.Lebih seusai jika menggunakan sambungan baut,lagipula sambungan baut lebih kecil bahanya terhadap retak dan rapuh.

Mengatasi kerusakan pada baut Fenomena curling terjadi pada ujung pelat sambungan tipe geser dengan baut, awal mulanya dianggap hanya terjadi pada pelat tipis (cold-formed), tetapi kenyata- annya terjadi juga pada pelat tebal (hot-rolled) (Dewobroto, 2009). Fenomena tersebut juga dapat terjadi pada sambungan baut geser tipe tunggal maupun tipe ganda (lihat Gambar 1). Pada sambungan geser pelat tipe ganda tentunya faktor eksentritas antara pelat-pelat sambungan dapat saling menghilangkan. Jadi jika masih ada curling pada tipe sambungan tersebut tentunya ada penyebab lain dan bukan akibat faktor eksentrisitas pelat sambungan saja. Dalam praktek hal tersebut tidak menjadi masalah, yaitu tidak diketemukan kasus-kasus kerusakan di lapangan yang diakibatkan oleh fenomena curling. Itu dimungkinkan karena adanya kebiasaan praktis di lapangan yang cukup baik, yang ternyata dapat mengantisipasi curling, seperti misalnya adanya ketentuan praktis untuk memakai minimal dua baut pada setiap sambungan tipe geser. Adanya dua baut yang dipasang searah gaya akan membentuk momen kopel yang mampu menahan momen eksentrisitas pelat tersebut. Kecuali itu elemen-elemen sambungan dalam praktek umumnya tidak berbentuk pelat, tetapi merupakan element berprofil sehingga mempunyai kekakuan yang relatif cukup untuk mengatisipasi curling. Dengan hipotesis di atas, maka langkah awal penelitian ini adalah membuktikan apakah memang benar hanya eksentrisitas saja yang menyebabkan curling atau masih ada faktor lain. Selanjutnya akan dibahas pengaruh penempatan baut (minimal dua baut) dan pengaruhnya untuk mengantisipasi timbulnya curling tersebut. Untuk membuktikan bahwa eksentrisitas mempunyai pengaruh atau tidak maka akan dibuat suatu simulasi pelat sambungan yang diuji tarik tanpa memberikan eksentrisitas sekecil apapun, atau kondisi pelat sentris. Untuk mencapai kondisi ideal maka digunakan simulasi numerik.

Pemasangan baut

Tinjauan penggunaan baut mutu tinggi dan baut biasa pada sistem sambungan baut dengan ring khusus beralur tentu berfokus pada pengaruh pretensioning yang ditimbulkan pada sistem. Oleh sebab itu strategi pengencangan baut yang dilaksanakan pada penelitian ini menjadi sesuatu yang penting dan perlu diungkapkan. Menurut AISC (2010), pemasangan baut mutu tinggi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pengencangan baut (AISC, 2010) metode turn of nut atau (Dewobroto, 2009) memakai wrench terkalibrasi melengkapinya dengan (Dewo broto,et.al.,2009) direct tension indicator (ASTM F959) atau (Dewo broto dan Besari,2009) kontrol tarik baut tipe twist off (ASTM F1852) terakhir (Wijaya dan Dewobroto,2008) baut rencana alternatif. Dari kesemuanya tersebut, dipilih cara pengencangan baut dengan metode turn of nut, yang dianggap paling mudah dan tidak memerlukan alat ukur khusus(murah). Pada pemasangan sambungan baut (baik itu berupa baut mutu tinggi atau baut biasa) ada suatu kondisi yang disebut Snug Tigh tened Joint. Kondisi tersebut dapat tercapai, jika dapat dipastikan pelat-pelat sambungan dapat mencapai kondisi rapat (pelat-pelat saling bertemu dengan baik), kemudian mur (nut)

dikencangkan dengan kunci pas (wrench) standar sekuat tenaga pekerja normal. Ini merupakan tahap final untuk pemasangan baut biasa, sedangkan untuk baut mutu tinggi akan dilanjutkan pada tahap berikutnya,yaitu cara turn of nut. Agar dihasilkan pretensioning baut menurut cara turn of nut, maka setelah kondisi snug tigh tened joint tercapai, untuk baut dengan panjang kurang dari diameter maka nut mur perlu dikencangkan lagi. Dengan strategi pengencangan baut yang sistematis sesuaicode (AISC,2010; RCSC,2004), diharapkan tidak terdapat banyak perbedaan kondisi pretensioning pada baut yang akan diuji. Pretensioning pada baut biasa relatif kecil, karena hanya mengandalkan kondisi snug-tighted, sedangkan pada baut mutu tinggi (HTB) dipastikan ada tambahan lagi akibat pengencangan tahapke-2. Pada kondisi tersebut maka dapat diperkirakan berdasarkan code(AISC, 2010) bahwa baut mutu tinggi akan terdapat pretensioning minimum 70%dari kuat tarik minimum baut.Untuk baut diameter ASTMA 325 dimana kuat tarik minimum adalah 620 MPa (AISC,2010),maka akan terdapat gaya pretensioning minimum sebesar 620 127 0.7/ 1000 = 55.1 kN atau 5.51 ton. Pada penelitian sebelumnya (Dewo broto, 2009) dipakai baut untuk dimensi alur-khusus beralur yang sama,berarti gaya pretensioning yang terjadi adalah 6202850.7/1000 = 123.7 kN atau 12.37 ton (lebih dua kalilipatnya).

Kesimpulan
. Berkaitan dengan penelitian ini,dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : Penggunaan baut pada sistem sambungan dengan ring khusus beralur adalah memberikan pretensioning dengan arah tegak lurus pelat sambungan Pretensioning tersebut merupakan komponen kunci terjadinya mekanisme kerja pada sistem sambungan baru

tersebut. Semakin besar gaya pretensioning yang dapat diberikan, akan meningkatkan kekuatan sebelum terjadinya slip, meskipun kuat ultimate pada suatu kondisi pretensi oning tertentu, tidak memberikan peningkatan yang signifikan.

Berkaitan dengan pengaruh pemakaian baut mutu tinggi (HTB) dan baut biasa terhadap kinerja sambungan dengan ring-khusus-beralur maka secara tegas dapat dinyatakan bahwa HTB diperlukan karena mampu menghasilkan pretensioning yang lebih besar dibanding baut biasa. Meskipun demikian, gaya pretensioning hasil pengencangan baut-biasa (kondisi snug-tighted-joint) ternyata dapat menghasilkan mekanisme slip-kritispada sambungan baja pelat tipis padahal jika dipakai ring standar, mekanisme slip-kritis tidak dapat diandalkan, sehingga diabaikan dalam perencanaan (Dewobroto,2009).

Perilakusambungandenganring-khusus-beralur relatif kaku(tidakterjadislip)sehingga cukup baik digunakan padastruktur dengan pembebanan dinamis,sepertihalnyagempa.Jadisistem cocok dipakaiuntuk pembuatanstrukturtahan gempa. Meskipun demikian, berdasarkan komponen biaya penelitianyangtelahdilakukan dapat diketahui bahwa pengadaan material untuk

ring-khusus- beralurmasih sangat mahal,apabila dibandingkan dengan alat

sambung yang sekarang umum dipakai untuk baja pelat tipis. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut agar biaya dapat dikurangi sedemikian sehingga aplikasinya di lapangan menjadi memungkinkan, tidak sekedar memenuhi persyaratan kekuatan dan kekakuannya saja.

Daftar Pustaka
AISC, 2005, ANSI/AISC 360-05: An American National Standard Specification for Structural Steel Building,American Institute of Steel Construction, One East Wacker Drive, Suite 700,Chicago,Illinois AISC,2010,ANSI/AISC360-10:AnAmerican National StandardSpecificationfor Structural Steel Building, Chicago, Illinois: American Institute of Steel Construction, One East Wacker Drive, Suite 700. Dewobroto, W.,2009,Pengaruh Bentuk dan Ukuran Washer (Ring) pada Perilaku Sambungan Baut Mutu Tinggi dengan Pretensioning di Baja Cold-Rolled ,Bandung (unpublished): Disertasi pada Program Doktor Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan. Dewobroto, W., Kartawijaya, P., andBesari,S., 2009, Effect of Geometry Washerto The Behaviorof Sheet Steel Connection with Pre-Tensioned Bolts,Malaysia: 7thAsia Pasific Structural Engineering and Construction Conference 2009 (APSEC 2009)and 2nd European Asian Civil Engineering Forum 2009 (EACEF 2009), Awana Porto Malai Langkawi, 4-6 August. Dewobroto, W., danBesari,S., 2009, Distorsi Sambungan Baut akibat Curlingdan PencegahannyaStudi Kasus Sambungan Pelat Tipe Geser (lap-joint) dengan Baut Tunggal, Jurnal Teknik Sipil ITB,EdisiVol. 16No. 2, Agustus,Institut Teknologi Bandung Wijaya,H.,dan Dewobroto,W.,2008,Penggunaan Washer Khusus (Besar) pada Sambungan Baja Cold-formed, Bandung:Jurnal Teknik SipilITB, EdisiVol. 15/3, Desember, Institut Teknologi Bandung.