Anda di halaman 1dari 52

|HEj QQ3!

U UUlU4j3Ut tUjUj2)W9Wf iHNMMMiB

PROMOTOR / PENGUJ1
Prof. H. Amir Santoso, M. Soc, Sc, I'h.u

: Ketua Sidang/Penguji : Promotor/Penguji


: Co. Promotor/Penguji

Prof.Dr.H. Bambang Poernomo, SH Prof. Dr. Hj. Sri Gambir Melati Hatta. SH Prof. Dr. Bintan R. Saragih. SH Prof.Dr. Yudha Bhakti.A. SH.MH Prof. Dr. Hendra Tanu Atmadja, SH, MIP, LLM Dr. H. Rudi Yacub, SE, MM rv n@ Hi. Lailv Washliati, SH. M.hum

: Penguji : Penguji : Peiiguji : Penguji : Penguji

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Mana tsa, icarena cental ranr aai, tauiiK uau

hidayahnya-Nya, penulis diberi kemampuan dan kesempatan untuk dapat menyelesaikan disertasi ini. Segala cobaan dan hambatan ataupun dorongan yang dialami dalam proses penyelesaian diser tasi ini, penulis anggap sebagai ujian, yang akhimya diser tasi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. H. Amir Santoso, M. Soc, Sc, Ph.D selaku Rektor Universitas Jayabaya sekaligus sebagai penguji dan secara khusus
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof.Dr.H. Bambang Poernomo, SH

selaku Promot er yang mendorong penulis untuk segera mungkin menyelesaikan penulisan disertasi ini. Masukan-masukan yang diberikan sangat berharga untuk kesempurnaan tulisan ini. Ibu Prof. Dr. Hj. Sri Gambir Melati Hatta. SH selaku Co-promotor, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bimbingan dan bantuan selama penyusunan disertasi ini. Ucapan ter ima kasih juga penulis sampaikan kepada para penguji diser tasi ini yaitu Prof. Dr. Bintan R. Saragih. SH, Prof.Dr. Yudha Bhakti.A. SH.MH, Prof. Dr. Hendra Tanu Atmadja, SH, MIP, LLM, Dr. Dra. Hj. Laily Washliati, SH. M.hum. , Dr. H. Rudi Yacub, SE, MM, mereka tidak saja memiliki peran penting sebagai penguji, tetapi juga turut memberikan masukan sehingga disertasi ini dapat ditulis dengan baik. Penghargaan dan terima kasih yang tulus dan tidak terhingga juga penulis sampaikan kepada Suherman, SH.LLM, AH ZAidan, SH.M.hum, Drs. Subakdi.MM, Reza Virgantara.SH, Yulia Winarti, Mukti Arif, SPd yang telah banyak memberikan bantuan baik moril maupun materiil, serta bimbingan sehingga penulisan disertasi ini selesai. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakar ta yang telah memberikan izin untuk melanjutkan pendidikan dan bantuan biaya untuk pendidikan Program Doktor. Kepada kedua orang tua penulis yang telah tiada, penulis mengucapkan terima kasih yang tiada tara karena telah melahirkan, mengasuh, mendidik ser ta membiayai hingga saya dapat seper ti ini. Disertasi ini dipcrsembahkan kepada suami yang penulis sayangi yaitu H. Dadang Surjana Kusumah. SIP., yang dengan penuh kesabarannya mendampingi dan merawat penulis dar i mulai penulis berusia 16 tahun sampai sekarang, juga sebagai ungkapan terima kasih penulis berkat dorongan dan bantuannya sehingga penulis pada hari ini bisa menyelesaikan program Doktor tersebut, disamping itu kepada kedua anak dan menanru yaitu Hj. Dhany Rachmania Kusumah. ST. MT, Sugeng Priambodo, ST dan Yudha Wibawa Kusumah. ST yang telah memberikan semangat serta dorongan untuk menyelesaikan disertasi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang tidak tertulis satu persatu yang telah membantu memberikan informasi dan member ikan data yang diperlukan selama penelitian
dan penyusunan disertasi. Semoga disertasi ini berguna dan dapat memberikan sumbangsih kepada pcrkeinbangan ilmu hukum dan upaya-upaya penegakan hukum di Indonesia. Jakarta. 5 1-ebruari 2009

Krni Asustina

A. Titel

: Implikasi Hukum Ganda Terkait Dcngan Hak Mewaris Dari Seorang Anak Hasil Perkawinan Ijab Qabul

B. Nama/NPM C. Kata Kunci

: Erni Agustina/20040202604 : Perkawinan ijab qabul/siri mengandung resiko perkara pidana dan
perdata.

D. I, II, III, IV, V, VI E. Ringkasan

: 300 halaman :

Permasatahan Penelitian dalam Disertasi ini adalah (1) apa urgensi perlindungan hukum bagi anak hasil perkawinan ijab qabul (2) apakah secara hukum anak dari perkawinan ijab qabul dapat diakui hakim berdasarkan teori penafsiran dan penemuan hukum (3) dalam hal terjadinya perkara ganda pidana dan perdata, sistem yang manakah didahulukan untuk diperiksa dan diadili. Ketidak jelasan pengaturan dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berhubungan dcngan ketentuan Pasal 43 dapat memunculkan terjadinya banyak konflik dalam masyarakat berhubungan dengan anak yang dilahirkan dari perkawinan ijab qabul. Hal ini dapat melahirkan kekosongan hukum dan akan bermuara kepada konflik yang berakses kepada pelanggaran yang bersifat pidana maupun perdata yang memerlukan paradigma baru hukum yang bersifat ganda. Kekosongan hukum yang melahirkan ketidak pastian hukum tercermin dari belum adanya putusan yang seragam, yang memperlihatkan konsistensi putusan pengadilan dalam mengadili perkara dalam kasus anak yang dilahirkan dari perkawinan ijab qabul. Pengadilan terkadang mengabulkan permohonan perkara (perdata) yang diajukan; akan tetapi disisi lain pengadilan terkadang menghukum (terdakwa/suami) yang melakukan perkawinan ijab qabul tanpa seizin istrinya. Terjadinya implikasi ganda (Perdata dan Pidana) akan merugikan pencari keadilan dan pihakpihak yang mendapatkan hak dari padanya. Padahal fungsi hukum adalah untuk melindungi kepentingan semua pihak. Kcrugian itu akan semakin besar jika dikaitkan dengan fungsi hukum sebagai sarana guna melaksanakan kebijakan sosial (social policy). Yakni upaya masyarakat dan Negara untuk menciptakan kesejahteraan dalam arti seluas-luasnya. Selanjutnya kerugian itu akan semakin mencolok manakala kemanfaatan hukum tersebut berguna (social utility). Kesemua tujuan tersebut adalah untuk mewujudkan hukum dengan hasil akhir yakni keadilan, kemanfaatan dan
kepastian hukum. Berdasarkan

penelitian yang didukung dengan teori yang dikemukakan dapat dinyatakan bahwa (1) dari sudut perkawinan ijab qabul merupakan tindakan yang sah oleh karena itu merupakan kewajiban negara untuk melindunginya. (2) berdasarkan teori penafsiran hukum bahwa anak yang dilahirkan dari perkawinan ijab qabul adalah anak yang sah karena itu perlu mendapat perlindungan hukum oleh negara melalui putusan hakim. (3) hakim harus memperhatikan hukum yang hidup diantaranya dengan melakukan rechtsvimling, sehingga dalam mengadili perkara yang berimplikasi ganda, hakim hams memilih tingkat resiko yang lebih kecil yakni dengan mendahulukan perkara perdata untuk diadili lebih dahulu scbelum perkara pidananya diadili, sikap demikian scsuai dengan
dokrin hukum, bahwa '"anksi pidana merupakan sarana terakhir, dan fungsi hukum pidana adalah untuk melindungi hak asasi manusia.

Mendahulukan penyelesaian melalui proses perdata adalah lebih tepat dcngan mengedepankan

musyawarah antara keduanya sehingga diperoleh putusan yang seadil-adilnya. Jika keadilan belum dapat diperoleh dari proses itu, harulah proses pidananya dijadikan altcrnatif terakhir. Sambil
menunggu ketentuan hukum nasional yang akan datang, hakim seyogyanya memperhatikan prinsipprinsip keadilan, kemantaatan dan kepastian hukum secara proporsional.

ABSTRACT
Tittle : Dual Legal Implication In Relation To a Child Born From Private Covenant Of Marriage

Name/NPM
Keywords

: Erni Agustina/20040202604
: Private Covenant Of Marriage Or "Siri" Will Give Rise To Private And Civil Conflicts : 300 pages :

/ / I, II, 111,1V, V, VI Summary ,\

This disser tation highlights and elaborates issues around (1) urgency of legal protection for a bom from pr ivate covenant of marriage; (2) justice's recognition of child born from private a ,ei\ x\ of marriage based on concept or theory interpretation and finding law; (3) precedence of ' * jfiination and judgment procedures in the event of dual implication of private and civil cases, '/ , jch cases will be proceed firstly. 'I Equivocal provisions of Law No. 1 of 1974 regarding Wedlock in connection with Article 43 y give rise to social conflict as regard child bom from private covenant of marriage. This may ' tilt in legal void and lead to private or civil breach that require a new paradigm of ambiguous law f / /A Legal void that results in legal uncer tainty is ref lected from the lack of cour t's uniform / ^jsion indicating court's consistency of making judgment and decision regarding child born from /lvate covenant of marr iage. In some cases, cour t accepts request for legal process but in other cases / /* .,-t puts sentence (upon suspect/husband) for having private covenant of marriage without wife's l /ftf f f Ambiguity (dual implication of private and civil cases) will give losses to justice seekers and

,;;oas with vested rights whereas the law is there to protect everyone's rights and interests. Such

' t f j?es will be exacerbated in respect of law function as social policy instrument, that is, community's
/ f^A government's measures for creating prosperity in widest extent. Furthermore, these losses will

,., 'A j-easingly visible where social utility of the same is likely to lose effectiveness. Law with all its ' ''factional instruments are considered effective when it gives social utility and all this will lead to i ?* ation of law enforcement upon principles of justice, fair ness, utility and legal certainty. f ,ff Based on the foregoing with generally accepted theories, it is to argue that (1) from marital yyod, a pr ivate covenant of marriage is valid and it is government's responsibility for providing legal f /Election; (2) based on legal construction theory, any child bom from private covenant of marriage is f' ^gitimate child and shall therefore be entitled to legal protection through court's decision; (3) court

' /V
/V' ^\ //

tistice shall take into account positive rules of law by way of legal finding so that in judging dual ^ ^ plication case, they will preempt a case with minimum risk, namely taking precedence of private over civil one; this measure conforms legal doctrine stating that civil sentence is a f inal action Preference of private process in dealing with conf lict is the right way by encouraging ^/* ) it serves to protect human rights. / ' f* jcable negotiations between disputing parties so as to have decision in all justice and fairness. Civil

^tOCSS, a f inal alternative, is to be encouraged in the event where private process fails to reach a ' i vision in all justice and fair ness. Awaiting further issuance of applicable laws, court of justice

i if ,tild proportionally consider principles ofjustice, fairness utility and leual certainty. f/ Refeiency books : I /- 100 books

( :@

DAFTAR LSI

naiaman

Tim Penguji
Kata Pengantar

i
ii

Abstrak
Dal tar Isi A=~. Latar Belakang Masalah

iii
v 1

( &d Rumusan Masalah

C i t p( Tujuan Penelitian
j^u Kegunaan Penelitian
tls Kerangka Teori f {V / Kerangka Konseptual G. Harapan Hukum Indonesia Tumbuh Secara Konseptual Sebagai Paradigma Baru Dalatn Solusi Konflik Ganda Bidang Pidana Dan Perdata

6
7
7 15 23

( iU Metode Penelitian
tT^ Cara Pengumpulan Data J. Data Hasil Penelitian K. Kasus Dan Analisa L. Kesimpulan M. Saran
iinr,o, p,,o(!,i-!,

24
25 26 28 31 32
34

IMPUKASI HUKUM GANDA TliKKAll Utiyoaii n^iv iv,r. ^xxit, .,@ .*

@'@ mc \

HASH, PERKAW1NAN IJAB QABUL

A.

Latar Belakang Masalah. Ilmu pengetahuan dan teknologi pada inasa sekarang sudah bcrkembang seiring dengan komplek bidang ilmu yang bcrsifat interdisipliner karena pada dasarnya konteksi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mungkin berhasil baik apabila secara murni berdir i tidak berorentasi dengan ilmu-ilmu terkait. Laki-laki dan Perempuan sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, memiliki naluri ketertarikan satu sama lain untuk dapat hidup bersama dalam merealisasikan itikad berdua dengan melaksanakan suatu tatanan perkawinan. Perkawinan merupakan ikatan lahir bathin antara laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk membina keluarga yang bahagia, ikatan ini berdasarkan keTuhanan Yang Maha Esa. Penger tian perkawinan tersebut erat sekali kaitannya dengan orientasi agama, sehingga perkawinan bukan hanya mengandung unsur jasmani saja tetapi juga mengandung unsur rohani. Hukum yang berlaku bagi semua warga negara Indonesia terhadap perkawinan diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 merujuk kepada hukum masing-masing agama dan kepercayaan para

pemeluknya (Pasal 2 UU No.lTahun 1974 jo Pasal 10 Ayat 3 PP No.9 Tahun 1975).


Dengan demikian Undang-undang tersebut merupakan suatu unif ikasi yang menghormati secara penuh terhadap adanya var iasi berdasarkan agama dan kepercayaan yang berkeTuhanan Yang Maha Esa sehingga tidak ada perkawinan diluar hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu yang tidak sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945 hasil Amandemen. Suasana perjalanan kehidupan aturan hukum demikian berakibat terjadinya tarik menarik antara sistem hukum adat sebagai tonggak awal dengan sistem hukum islam yang telah membudaya dan atau sistem hukum nasional yang wajib dipatuhi sebagai budaya hukum. Akibatnya ter jadi pergeseran perubahan kultural dalam bidang hukum perkawinan, tegasnya ditcngah-tengah masyarakat yang menjadi responden obyek penelitian melakukan perkawinan tidak berdasarkan ketcntuan Undang-undang
nasional.

Kedudukan dan wilayah hukum publik dan hukum privat dalam kepustakaan hukum disebutkan sebagai bidang hukum yang bcrsifat inter-relasi bagi kepentingan hukum atau konflik hukum untuk kctertiban masing-masing antar individu maupun dalam kelompok masyarakat. Akan letapi kenyataan bisa ter jadi perkara pidana bersumber dari perkara perdata, atau sebaliknya. Pelaksanaan suatu perkawinan ijab qabul dapat menjadi sumbcr kebahagiaan keluarga, namun demikian perkawinan dapat menjadi sumber konflik dilingkungan keluarga, baik hukum keperdataan mengenai pcrccraian, warisan harta kekayaan maupun konflik kepidanaan pelanggaran ganda mengenai suanu kawin lagi tanpa izin istri per tama yang berakibat tidak hannonis rumah tangga meningkat konfrontasi yang
.@.@w.iiioH; n,>rl-:ir a nidana dalam K.UHP. Perkara pidana tersebut dapat berupa

pertengkaran yang diser tai delik penganiayaan, atau ancaman, atau penggelapan, akan

merusak barang dalam lingkup objek hukum pidana. Akibat negatif suatu perkawinan dapat menjadi konflik pelanggaran ganda di
bidang pidana dan perdata, karena masing-masing pihak suami dan istr i beser ta

keluarga melakukan konfrontasi phisikis maupun phisik yang sewaktu-waktu menjadi


suatu perbuatan melanggar hukum. Menjadi perkara pidana dan perkara perdata. Fakta pertama konflik pidana : perkawinan yang tidak dicatat menurut Hukum Negara dapat juga berdampak pelanggaran hukum pidana, contoh kasus pernikahan

siri antara artis penyanyi dangdut berinitial ITL dengan seorang pengusaha dar i
Malaysia yang berinitial MHS sebagai seorang suami, pernikahan siri tersebut dilakukan di Jakarta Selatan. Acara pernikahan itu dilaksanakan berdasarkan syarat-

syarat Hukum Islam sebelum pernikahan dilangsungkan MHS di depan keluarga ITL
pernah mengikrarkan akan member ikan rumah kepada ITL. Namun setelah pernikahan

berjalan selama 4 (empat) bulan terjadi perceraian, sehingga MHS kembali ke Negara
Malaysia sedangkan ITL tetap tinggal dirumah tersebut beranggapan sebagai pewar is. @ Pada tahun 2007 keponakan MHS dengan initial RAA menuntut secara pidana

bahwa ITL telah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 12 ayat (1) jo Pasal 36 ayat (4) UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman yaitu penghunian rumah oleh bukan pemiliknya hanya sah apabila ada persetujuan atau izin pemilik.
Fakta kedua, selain itu pelanggaran pidana yang mungkin terjadi dari perkawinan i jab qabul yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama menurut Negara membuka perkara beraspek pidana yang lain terdiri atas: 1. Pelanggaran delik tanpa izin istr i per tama melanggar Pasal 279 ayat 1 dan ayat 2 KUHP yang menyatakan: diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (1). Barang siapa mengadakan pernikahan padahal mengetahui bahwa pernikahan atau pernikahan-pernikahanya yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk

itu; (2) Barang siapa mengadakan pernikahan padahal diketahui bahwa pemikahannya
atau pernikahan-pernikahan pihak lain menjadi penghalang yang sah untuk itu. 2. Konflik keluarga manakala ada harta kekayaan dari suami istr i pertama yang ditempati oleh istriya ke dua bersama anaknya tesebut dapat juga menimbulkan delik ancaman dan delik memasuki rumah dan perkarangan tanpa hak yaitu : a Pasal 368 ayat 1 yang menyebutkan : barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa
seorang dengan kekerasan atau ancaman kekcrasan, untuk memberikan barang

sesualu, yang seluruhnya atau sebagian ailalah kepunyaan orang lain itu atau orang lain; atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piulang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun.

b.

Pasal 335 KUHP ayat 1 yang menyebutkan; diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.

Barang siapa secara melawan hukum mematcsa orang iam zupaya i.i^iu,^,

atau tidak melakukan atau mcmbiarkan sesuatu, dengan membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan, perbuatan lain maupun perlakuan yang tidal: menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan baik terhadap orang itu sendiri c. maupun orang lain. Pasal 167 KUHP ayat (1) yang menyebutkan barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan ter tutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum, atau berada disitu dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Fakta Ketiga kasus perdata, perkawinan antara DW dengan TE yang dilakukan secara adat Thionghoa yang dapat dibuktikan melalui foto perkawinan yang dilakukan pada tanggal 19 Desember 1959 bertempat di Mangga Besar Jakarta, tersebut telah dikarunia lima (5) orang anak yaitu Iwan, Andi, Maria, Agung dan Teguh. Kelima anak mempunyai akta kelahiran, tetapi sampai Bapaknya/DW meninggal dunia pada tanggal 29 oktober 2003 berdasarkan akta kematian, ternyata perkawinannya tersebut tahun 1959 belum dicatatkan pada Kantor Pencatatan Sipil, menurut adat Thionghoa adalah sah, tetapi setelah berlakunya Undang-undang No 1

Tahun 1974 perkawinan tersebut menjadi tidak sah dan kelima anak yang dilahirkan
menjadi anak luar kawin, yang tidak sah. Pada saat akan dibagikan warisan, kelima anak tersebut dinyatakan tidak berhak mewaris dari harta peninggalan ayahnya bernama DW, menurut hukum yang berlaku di Indonesia ke lima anak tersebut berstatus anak luar kawin yang tidak didaftarkan menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 walaupun menurut adat Thionghoa perkawinan tersebut menjadi perkawinan yang sah dan diakui oleh masyarakat sekitarnya. Aspek keperdataan sebelum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, berlaku berbagai ketcntuan hukum perkawinan untuk berbagai golongan warga negara dan berbagai daerah. Perkawinan untuk Orang-orang Indonesia asli yang beragama Islam berlaku hukum agama yang telah diresepiir dalam hukum adat, sedangkan orang-orang Indonesia asli lainnya berlaku hukum adat. Setelah tahun 1974 proses perkawinan sudah diatur di dalam hukum negara, dalam Pasal 1 Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan : "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara scscorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa." "Dalam Negara Indonesia tidak berlaku hukum ter tulis dar i hukum negara saja, tetapi juga berlaku hukum tidak ter tulis atau yang lebih dikenal dengan nonna /
I-..:.i..u i..,!-,,,@ t-.-Ki-i^n-m niicnlnvn norma adat. norma susila dan norma agama''.

Fakta-fakta tersebut dimuka, masih terdapat berbagai norma dibidang agama


mengatur semua aktivitas kehidupan beragama seseorang, bagaimana tata cara beribadah, berperilaku, termasuk tata cara berkeluarga dalam hukum perkawinan. Setiap agama mempunyai tujuan perkawinan yang sama untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan meneruskan keturunan, hanya saja tata cara pelaksanaan perkawinannya yang berbeda. Menurut Hukum Islam : "Rukun dan syarat perkawinan itu terdiri atas lima hal yang harus dipenuhi tentang, ada Wali, ada r idla atau kesukaan dar i pihak calon istri, ada dua orang saksi yang adil, ada ijab dan qabul, dan ada mahar berupa maskawin. sehingga menurut hukum Islam pernikahan yang memenuhi syarat-syarat tersebut di atas sudah sah menurut agama".3

Menurut agama katolik perkawinan sah apabila setelah dilaksanakannya acara sakramen nikah dan menurut agama protestan perkawinan sah setelah dilaksanakannya pemberkatan nikah di gereja. Menurut hukum adat di Bali perkawinan sah, apabila setelah dilaksanakannya upacara adat Bali yaitu "mewidhi wedana", sehingga dengan perkawinan yang sah tersebut akan melahirkan anak sah dan berhak mewaris dari kedua orang tuanya, jika tidak diupacarakan menurut adat dan agama Hindu, maka si anak adalah anak haram jadah dan tidak berhak sebagai ahli waris.4

Mcskipun secara agama atau adat istiadat dianggap sah, namun dapat merupakan dclik pelanggaran yaitu perkawinan yang dilakukan tanpa izin istri pertama dan diluar pengetahuan pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak memiliki kekuatan hukum dan dianggap tidak sah dimata hukum negara atau tidak pernah ada perkawinan tersebut, hal ini diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974.5 Di dalam kenyataan, masyarakat Indonesia banyak melakukan perkawinan yang hanya dilakukan secara agama, tetapi tidak didaftarkan di Pegawai Pencatatan Perkawinan sesuai Hukum Negara, perbuatan perkawinan tersebut tidak sah status hukum oleh hukum negara, serta membawa dampak hukum terhadap istri dan anak yang kemudian akan lahir dar i perkawinan. Dampak dari perkawinan yang tidak

dicatatkan pada Pegawai Pencatat Nikah terhadap anak yang dilahirkan dalam
perkawinan yang tidak dicatatkan tersebut sebagai anak luar kawin dan juga

M Idris Ramulyo, "Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang Nomor I Tahun 1974 dari Segi
Hukum Perkawinan Islam ", Jakar ta : Ind-Hillco.1986. Hal. 54. R. Socloyo Prawirohamidjojo, "Pluralisme Dalam Perundang-undangan Perkawinan Indonesia", Surabaya : Airlangga University Press, 1994,Hal. 30. H. Hilman Hadikusuma, "Hukwn IVaris Indonesia menurut : Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama Hindu- Islam", Bandung : PT. C'itra Aditva Bakli, 1996, Hal. 72. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 "I entang Perkawinan. Bandung : Fokus Media.2005,

Hal .2. Pasal 2 yang bcrbunyi : ayat (1) Perkawinan ialah sah, apabila dilakukan menurut hukum
niasmg-masing agamanya dan kepcrcayaannya ilu. ayat (2) : Tiap-tiap perkawinan dicalat menurut peraturan perkawinan yang berlaku.

menyangkut hak atas war isan dan anaK lerscuui., >un,if iu * f

yang menjadi latar belakang selanjutnya untuk melakukan penelitian, sebab gejala ini menimbulkan permasalahan terhadap konsepsi kesadaran hukum nasional masyarakat Indonesia. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW ) mengatur tentang bagian waris dari anak luar kawin, tetapi dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan maka ketentuan Hukum Perkawinan dianggap tidak berlaku lagi sepanjang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sedangkan untuk anak luar kawin hanya diatur dalam Pasal 43 UndangUndang Perkawinan yang menyatakan "ayat (1) Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

r ..

Ayat (2) menyebutkan kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur
dalam peraturan pemerintah".6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 perkawinan ternyata juga tidak mengatur lebih lanjut status dan hak dari seorang anak yang dilahirkan dari perkawinan

ijab qabul tersebut, sehingga hal ini menyebabkan banyak konflik hukum yang terjadi
di dalam masyarakat terhadap anak yang dilahirkan dari perkawinan ijab qabul tersebut, yang disebabkan oleh ketiadaan aturan yang berlaku atau dengan kata lain

adanya kekosongan hukum di bidang hak waris anak yang hasil dar i perkawinan ijab
qabul tidak tercatat pada Hukum Negara berakses menjadi pelanggaran hukum pidana dan perdata yang memerlukan paradigma baru hukum yang bersifat ganda. Dalam hal ada kekosongan hukum tersebut hakim harus dapat menciptakan hukum, karena tugasnya bukan semata-mata sebagai corong dari Undang-undang tetapi membentuk hukumMengingat yudikatif. bahwa Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 ber isi ketentuan-ketentuan hukum keluarga,7 yang sekarang telah dinyatakan berlaku secara nasional, maka adakalanya harus melihat atau memperbandingkannya dengan ketentuan KUHPerdata. Berdasarkan Petunjuk Mahkamah Agung Nomor M.A /Pemb /0807 /75, tertanggal 20 Agustus 1975, Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tidak hendak menghilangkan sama sekali kebhinekaan dalam hukum perkawinan yang masih harus dipertahankan dan karenanya tidak mencabut seluruh ketentuan mengenai perkawinan dalam KUHPerdata, tetapi hanya sepanjang yang sudah diatur dalam Undang-undang perkawinan saja. Ketentuan dalam Undang-undang perkawinan masih membutuhkan peraturan pelaksanaan melalui Peraturan Pemer intah, maka selama peraturan pelaksanaan itu belum ada, ketentuan Undang-undang perkawinan belum bisa dilaksanakan oleh Pengadilan. Di dalam kelompok yang belum dapat dilaksanakan, termasuk ketentuan Undang-undang perkawinan tentang harta benda dalam perkawinan, kedudukan anak, hak dan kewajiban antara orang tua dan anak serta perwalian. jadi, dengan tegas disebutkan, bahwa ketentuan undang-undang perkawinan
' '' J-'@ u.,i,,,,,, K^inm hicn dilaksanakan.

': U Ja"=-U:*11^lb@:::::i!;::. R nHun, : Alumni, ,992, Hal.4.

^^^^^^^JLKHKBy^^yj^i^^^ji^jfijjyyg^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

^iB^^^BJwB^^^H^^H^^^^B^a^^B^Hl^^f fH^^^^W^MB^^K^^^^^H^^^^^B^^Hl^^^^^^BH^^H^P^^HWI^B RRH^^^RR ^w^B^ M^WiH^ Mwf lf l im^ Ef iytMiXS^ f l

3.

Mengetahui prior itas penyelesaian pelanggaran hukum ganda yang besumber dasn Mengetahui pnont VinVinn terhadan anak yang lahir dar i hasil perkawinan i jab qabul tidak tercatat pai!. hukum terhadap ar hukum negara.

D. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis, hasil penelitian mi Dermamaai uagi iKii6v,m,m.16 .. . @ ./@=.

berprespektif dalam bidang proses pelanggaran hukum ganda terutama sumbcr yang berkaitan dengan hukum war is untuk anak luar kawin, sehingga dapat diperoleb paradigma baru dalam metode, materi dan paradigma pembelajaran dibidang hukun: waris yang terkcsan konvensional. 2. Secara praktis, hasil penelitian ini berguna bagi kebijakan pengambilan keputusai, baik bagi hakim dalam pengambilan keputusannya mengadili perkara yang bersumber keterkaitan dengan hukum waris bagi anak luar kawin, maupun bagi

badan legislat or yang akan menetapkan kebijakan umum yang berkaitan dengan objek
penelitian dan membentuk peraturan perundang-undangan yang berorientasi kepada warisan bagi anak luar kawin, yang berimpilkasi dua pelanggaran hukum.

E. Kerangka Teori 1. Grand Theor y Dalam penelitian dan pembahasan pada bagian analisis digunakan dasar grand theori tentang teor i kausalitas pelanggaran hukum dan teor i penemuan hukum proses perkara ganda pidana dan perdata mengacu dan pendekatan norma Pasal 100 KUHAP : " Ayat (1), apabila dengan penggabungan antara perkara perdata dan perkara pidana, maka penggabungan itu dengan sendir inya berlangsung dalam

pemeriksaan tingkat banding". " Ayat (2), apabila terhadap suatu perkara pidana tidak diajukan pennintaan banding. Maka pennintaan banding mengenai putusan ganti rugi tidak diperkenankan".8 a. Teor i kausalitas perkawinan yang menjadi sumber perkara pelanggaran hukum bersifat ganda. Teori kausalitas dalam penelitian ini meliputi bidang hukum pidana dan bidang hukum perdata.9 Dalam teor i kausalitas dikenal dengan teori conditio sinequanon dan teori adequate, karena kedua teori ini sesungguhnya tidak jauh berbeda yakni untuk menentukan siapakah yang paling ber tanggung jawab atas suatu akibat. Dalam teori conditio sinequanon, semua syarat merupakan penyebab bagi terjadinya akibat. Teori Adequate mencari faktor yang paling besar menimbulkan akibat, tiap peristiwa ditcntukan manakah yang adequate
@ ' - - J:\ :Un*

" @ ' " '--@- '@--@@>

-v,,,,,.v.,,,, llukum Prrianiian ", Handuns; : Alumni. l')Xfi. Hal 70.

Implikasi dalatn Kamus Besar Bahan Indonesia (KBBI) diartikan sebagai : 1). Keterlibatan atau keadaan terlibat
2). Yang termasuk atau tersimpul ; yang disugestikan, tetapi tidak dinyatakan.10 Begitu juga Purwadarminta memberi pengertian yang sama dengan KBBI diatas," juga John M Echois dan Hasan Shadili.12

Dalam penelitian ini implikasi diartikan dalam pengertian kedua (2) diatas, yakni hal-hal yang timbul secara implisit (tidak tegas) sebagai konsekwensi
perkawinan i jab qabul terhadap ahli waris, baik yang bersifat hak-hak keperdataan maupun pidana. Pelanggaran hukum ganda diartikan sebagai pelanggaran yang termasuk ruang lingkup hukum digolongkan sebagai Onrechtsmatige-daad, maupun

melawan hukum dari lingkup hukum pidana {Wederrechtsteli jkeheid).


Selain teori tersebut diatas dalam penelitian ini juga menggunakan teori ambi f alensi.

Teor i ambi f alensi menurut ilmu hukum dalam kajian yang bersifat
interdispliner terutama ilmu sosial bahwa hukum terdapat komponen yang konsisten dengan kepentingan masyarakat dan dalam pihak tidak konsisten dengan kebutuhan masyarakat yang ditumbuhkan dengan kekuasaan penguasa negara yang dalam pemebentukan dan penerapan hukum dianggap diluar urusan masyarakat, dengan demikian masyarakat harus patuh walaupun hukum tidak benar.13

Ketiga teor i diatas, kausalitas Conditiocinequanon Suf e Adequate dan teor i perbuatan melawan hukum "Wederrechtteli jk-heid dan Onrechtsmatige-daad", teori ambi f alensi.menipakan kerangka teoritis kepidanaan. b. Teor i tentang per ikatan, perkawinan i jab qabul ( perkawinan siri), pencatatan perkawinan, pewarisan, yang ber implikasi perkara perdata dan pidana terhadap putusan hakim berdasarkan "penemuan hukum untuk mengembangkan Pasal 100 KUHAP". Dalam norma kemasyarakatan hubungan hukum antara subyek hukum

melahirkan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini menjadi ciri pembeda
suatu masyarakat yang beradab, karena anggota masyarakat beradab mempunyai hak dan kewajiban guna menciptakan masyarakat yang ter tib. Hubungan hukum antara subyek hukum tersebut lazim disebut dengan per ikatan, merupakan suatu perhubungan hukum antara dua orang dua pihak. Sedangkan menurut ilmu

pengetahuan hukum perikatan juga dikatakan hubungan yang terjadi diantara dua
orang atau lebih, yang terletak di dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

'" Dcpar temen Pendidikan clan Kchudayaan dan Balai I'ustaka, 1988. Kamus Bcsar Bahasa Indonesia. Jakarta Hal. 327. " WJS. Poerwadarminta. , "Kamus Uiuuni Baluisu Indonesia ", Balai Pustaka : Jakarta. 2005,

Hal 441.
'" John M.Echols dan Hasan Shadily, "Kamus Inggr is Indonesia". Jakar ta : Gnimedia, 1990.

Hal 313.
'@' Bambang Pocniomo. "Tcori ilmu lutkum ". Jakarta : Java Baya .2006. Hal. 34.

I : |
'

\ \ enurut H.F. Volmar bahwa : \ / <=K "Jika ditinjau dari isinya temyata bahwa perikatan itu ada selam? / J seseorang itu (debitur) harus melakukan suatu prestasi yang mungkin dapat
( dipaksakan terhadap kreditur, kalau perlu dengan bantuan hakim".'4

i ;

^ Didalam @.. perumusan

perkawinan menurut Pasal 1 Undang-undang Perkawinan

j i,
:

1 Nomor 1 Tahun 1974, L "Adalah ikatan lahir batin antara antara seorang pria dengan seorang
/ wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah

!
| :

/
L .

tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan keTuhanan Yang Maha


Esa".15 Menurut undang-undang perikatan dapat terjadi karena perbuatan manusia dan karena undang-undang, dengan demikian halnya jika dihubungkan dengan perkawinan itu terjadi karena tidak sengaja atau karena undang-undang, maka lebih

, '

tepat mempergunakan perumusan perkawinan itu dengan suatu per janjian. Perkawinan pada hakikatnya merupakan perjanjian hubungan hukum antara

I
; ; ', '

kedua belah pihak yang berisi hak dan kewajiban untuk membentuk keluarga yang
kekal (sakinah mawaddah dan warahmaK ) oleh karena itu perjan jian perkawinan memiliki kekhususan tersendiri dibandingkan dengan perjanjian pada umumnya seper ti perjan jian jual beli, atau testamen. Perkawinan merupakan bentuk perjanjian atau perikatan yang memiliki bentuk-bentuk tertentu yang menjadikan lembaga itu menjadi unik dan sakral. Salah satu syarat dalam perjanjian perkawinan yakni adanya

' \

Salah satu syarat pernikahan menurut hukum islam adalah Ijab Qabul, yang dapat dijabarkan bahwa : i penyerahan mempelai wanita kepada calon pengantin pria Yaitu i jab berar t dan yang dimaksud dengan qabul berarti pener imaan calon mempelai wanita

I '

oleh calon mempelai pria".16 Selesainya i jab qabul tersebut terjadilah perkawinan sah menurut hukum Islam bila i jab qabul telah selesai. < Ketentuan mengenai pencatatan perkawinan terdapat dalam Pasal 2 ayat (2)

1 j i

1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 974 Tentang Perkawinan yang menyatakan "tiap @ ""l tiap perkawinan dicatat menurut peraturan Perundang-undangan yang berlaku".17 I sedangkan dalam penjelasan umum pasal-pasal dinyatakan bahwa pencatatan tiap-

|4 \ r^^;.lrr> Ham*; Radrulzaman, "KUHPerdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan",

Bandung : Alumni,1983, Hal, 1. No.l Thn 1974 beserta UU dan penituran pelaksanaannyd", Jakarta : 15 Wahjono, "Tinjauan UU CV Gitamaya Jaya, 2003, Hal. 190. 1(1 R. Soetoyo Prawirohamidjojo, "Plula/iismc Dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia", Surabaya : Atrlangga Press, 1994. Hal. 32.

10
tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting
dalam kehidupan seseorang, misalnya kematian, kelahiran yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam daf tar pencatatan. Pencatatan perkawinan dimaksudkan unluk menjadikan peristiwa perkawinan itu jelas keberadaannya, baik untuk yang bersangkutan maupun untuk orang lain. Hal

ini dapat dibaca dalam surat yang bersifat resmi dan termuat pula daftar khusus yang
disediakan untuk itu, sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan, terutama sebagai alat bukti surat yang otentik, dapat dibenarkan atau dicegah suatu perbuatan yang lain. Meskipun pencatatan perkawinan lebih merupakan tindakan administratif belaka, akan tetapi untuk kesempurnaan perkawinan seyogyanya tindakan tersebut dilakukan. Keabsahan perkawinan sesungguhnya tidak tergantung pada pencatatan

perkawinan, akan tetapi tergantung pada ketika I jab Qabul itu diucapkan, oleh
masing-masing pihak telah terikat kedudukannya sebagai suami istri. "Dengan demikian, menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 bahwa

kedudukan Kantor Catatan Sipil, bukanlah pihak yang melaksanakan


perkawinan, karena akan tugasnya hanyalah mencatat pelaksanaan perkawinan

yang telah dilaksanakan oleh pemuka agama dan Kantor Catan Sipil hanya
bertugas mengatur administrasi atau Pencatatan Nikah, jadi tidak menentukan sahnya atau tidak suatu perkawinan".18 Dalam penulisan ini untuk menghindari kesimpang siuran pengertian mengenai @

istilah-istilah yang dipergunakan dalam penulisan ini maka diperlukan defmisi


operasional dari istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut. "Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka

(1991) warisan yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal. Dengan demikian hukum waris merupakan aturan hukum baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur tentang perpindahan kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada satu atau beberapa orang lain". Dalam bidang hukum adat, R. Soepomo mengatakan bahwa "hukum adat waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang (generete) kepada para keturunannya".20 Dalam bidang hukum Perdata Baiat (BW) hukum waris merupakan suatu bagian tersendiri dar i sistcmatika hukum yang terdiri: Hukum pribadi (Personenrecht), yang tidak

terwujud benda ( imateriteriele goederen) dar i suatu generasi manusia

18 Sr i Gambir Melati flatta, "Pcrkawinan Antar Pemcluk Acama yang Berbeda", Jakar ta : ISTN,1999, Hal. 31. 19 Satrio J. " Hukum Waris", Bandung : Alumni, 1992, Hal, 81. 20R. Hukum Adat", Jakar Paramita.2003. Hal. I lal. 81. 8 1. JR. Soepomo, "Bab-bab Tentaiig Tentang Ilukum ta : Pradnya Paramita,2003, "* I '

11

Hukum Keluarga, (Familierecht) HUKum Kcwjaou V' @ @.. &@

(Erf recht). Ke empat teor i perikatan, ijab qabul, pencatatan perkawinan, wans tersebut
merupakan grand theori untuk bahan analisis data penelitian keperdataan (hukum privat).

2. Middle Range Theory Didalam Middle Range Theory ini mempergunakan Teori Relatif, dalam teori ini apabila dalam suatu perbuatan hukum pidana terdapat suatu delik yang tidak dapat
digunakan terhadap perbuatan pidana tersebut, maka apabila digunakan dalil tersebut akan dianggap bertentangan dengan hukum legalitas, padahal dimungkinkan mengembangkan asas legalitas kearah asas Principle o f Justice sehingga hukum tersebut hukum yang tidak formal tapi secara materiil menimbulkan keadilan dalam masyarakat sehingga bersifat melawan hukum yang tidak tertulis {materiele wedderechteli jke). Disamping tersebut diatas juga digunakan teori dasar keadilan komutatif smith. a. Keadilan komutatif tidak hanya menyangkut pemulihan kembali kerusakan yang terjadi, melainkan yang menyangkut pencegahan terhadap terlanggamya hak dan kepentingan pihak lain. Keadilan komutatif lalu tertuang dalam hukum yang tidak hanya menetapkan pemulihan kerugian, melainkan juga hukum yang mrngatur agar tidak terjadi pelanggaran atas hak dan kepentingan hak tertentu b. Keadilan komutatif Smith berkaitan dengan jaminan atas hak-hak sempurna setiap individu. Keadilan ini tidak hannya berlaku bagi hubungan individual antara ,manusia yang satu dengan yang lainnya tetapi juga berlaku bagi segala macam hubungan timbal balik: antara individu dengan individu, hubungan dalam keluarga, hubungan sipil. c. Keadilan komutatif Smith menyangkut jaminan dan penghargaan atas hak setiap individu dan hak masyarakat, keadilan komutatif mau tidak mau juga menyangkut prinsip perlakuan yang sama didepan hukum bagi setiap anggota masyarakat. Dalam mewujudkan hak-hak anak yang dilahirkan dari perkawinan i jab qabul tetapi tidak dicatat dalam hukum negara ini dijelaskan dengan menggunakan beberapa teor i kesamaan dimuka hukum : {Equality bef ore the law) sebagai akhir berpikir analisis ditingkat Middle Ranee Theory. Setiap orang individu mempunyai hak dan kewajiban. Hak seseorang tersebut berkaitan dengan suatu kebendaan atau hak-hak atas kepunyaannya, sehingga apabila hak-hak tersebut dilanggar, maka orang tersebut hams diberikan kompensasi atau

il Sonny Keraf.A, Pasar Bcbas Keactilan dan reran renter trnun i i^u..... - .@ -@ @' @ @-. . i And TJ^,1 1 19

Menurut Nozick di dalam teori haknya mengatakan bahwa keadilan kekayaan dibagi menjadi 3 (tiga) bagian :
A person who acquires a holding in accordance with the priciple of justice in acquisition is entitled to that holding. A person who acquires a holding in accordance with the perinciples of justice in trans f er, f rom someone else entitled to the holding, is entitled to the holding. No one is

entitled to a holding except by application of(a) and(b) above (Seorang yang memperolah obyek sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan berhak atas obyek yang didapatnya itu ;
Seorang yang memperoleh obyek sesuai dengan aturan-aturan keadilan mengenai pengalihan obyek, dari orang lain yang memegang hak atas obyek itu, berhak atas obyek tersebut).

Tidak ada orang yang dibolehkan untuk memegang hak atas suatu obyek
selain melalui penerapan kedua butir di atas.22 Sedangkan J.S. Mills memberikan atr ibut utama pada keadilan yaitu:

Justice of the legal rights : It is unjust to deprive a person o f his


libert y, propert y or any other thing which belongs to him by law. Whatever rights are provided by the law must be respected, otherwise, the violation of them would constitute injudtice.

(Keadilan daripada hak-hak hukum adalah tidak adil untuk


memisahkan seseorang dari kemerdekaannya, kepemilikannya atau hal-hal

lain yang menjadi miliknya demi hukum. Apapun hak yang diberikan hukum
harus dihormati, jika tidak, pelanggaran terhadap hak-hak tersebut

menimbulkan ketidak adilan).


J.S. Mills juga menyampaikan teor inya tentang Justice or in justice o f the laws : Sometimes a law may be unjust in this case, a person might be given a right by the law which the person ought not to have but because of the unjust law. On the question whether an un just law should be obeyed or not, diverse responses are of f ered by di f f erent people. Some hold that an un just law must not be disobeyed. Others maintain that it is not neccessary to obey an unjust law. (keadilan atau ketidakadilan hukum-hukum adalah terkadang hukum dapat bertindak tidak adil. Dalam hal ini, seseorang dapat diberikan suatu hak

oleh hukum yang seharusnya orang tersebut tidak berhak untuk memiliki hak
ini karena hukum yang tidak adil atau sebaliknya seseorang yang seharusnya

berhak untuk memiliki hak ini justru tidak memiliki hak tersebut).
Mengenai pertanyaan apakah hukum yang tidak adil harus ditaati atau tidak, beragam respon berbcda dilontarkan. Beberapa orang menyatakan

" Harichand., "Modern Jurisprudence (Utilitarianism)", Kuala Lumpur : International Law Book Sen-ices, 1994, Hal. 94.

13

bahwa hukum yang tidak ami narusiau uuais. miau..

mengatakan bahwa tidaklah penting untuk mentaati hukum yang tidak adii.~3

@.&

.-.,@.,_

Didalam Naskah Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah mengalami empat kali perubahan di dalam Pasal 28D ayat (1) disebutkan bahwa :
"Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum."24

Sedangkan menunit Black's Law Dictionar y memberikan def inisi

tentang

Perlindungan adalah: "The Protection o f an individual by Government is on condition o f his submission to the laws, and such submission on the other hand entitiles the individual to the protection o fthe government".21

3. Applied Theor y. Teor i victim, dalam teoii ini adanya pihak yang menjadi korban, karena adanya

perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum baik bidang perdata yaitu baik melakukan
wanprestasi dalam suatu per janjian maupun dibidang hukum pidana yaitu melakukan pelanggaran hukum pidana.

Kedua bidang hukum itu terdapat korban (victim) yang dikembangkan oleh
Perlindungan hukum terhadap anak yang berdasarkan "social security" yang

ilmu victimologi

kontek dengan "social wel f are" dan "human right" Pada tingkat penerapan yang terkait dengan Undang - undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan bahwa Kedudukan Hukum Anak perkawinan i jab qabul dan Kitab Undang @ Undang

Hukum Perdata (BW), serta Hukum Waris di Indonesia. Menjadi delimatik


kepentingan hukum, kepetingan hukum bagi anak yang lahir dari perkawinan i jab

qabul diperlukan dasar ter tulis :


a. Perlindungan hukum anak (Sosial Security). Di dalam Undang - undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak memberikan definisi tentang Perlindungan Anak

yaitu :"Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dau


melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang,
i .;@:@@@; ,.,=.@@-,, nntimal sesuai densan harkat dan mar tabat

11 Ibid. 24. . Harun Alrasid, "Naskah UUD 1945 Sesudah Empat Kali Diubah oleh MPR", Jakarta : Universitas Indonesia, 2006, Hal. 106. 25 CampBell Black .H, "Black Law Diclonaiy", United States : ST, Paul Minn West, 1990,

Hal 1223.

"@"---@

u..,.,,,,, '@ vr-cwni-arta @ UOM. 2007, Hal.38.

g UijilfimiB|j2iii&Iilll

15

Bangsa (PBB) menyatakan :


"Anak akan didaftarkan segcra setelah lahir dan sejak lahir berhak ata; sebuah nama, memperoleh kewarganegaraan, dan sejauh mungkin berhak mengetahui dan dipclihara oleh orang tuanya". Undang-undang tentang Kesejahteraan Anak.

Di dalam Undang - undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Pasal 2


menyebutkan : 1). Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang, baik dalam keluarganya maupun dalam asuhan 2) 3) 4) khusus, untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Anak berhak atas pelayanan untuk pengembangan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan negara yang baik dan berguna. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya

F.

Kerangka Konseptual 1. Pelanggaran hukum bersifat ganda Pelanggaran hukum dengan hanya melakukan perkawinan ijab qabul saja, dapat implikasi negatif dari aspek hukum perdata dan aspek hukum pidana yang bersumber pcrikatan, perkawinan, pewarisan tidak mencatatkan perkawinan, dan kedudukan hukum anak luar kawin pada hukum Negara. Menurut Subckti, "perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain bcrkewajiban untuk memenuhi tuntutan
Hu".33

'"Sedangkan suatu perjanjian suatu per istiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dengan demikian, dar i per istiwa tersebut menimbulkan suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan, sehingga
@' ; ..,;..,l,,,ll..,n n,.,il.atan" 14

Darwan Prinst, ^Iltikum Anak liutonesid , duuuuhu . v. m... , ^..,, @u Ibid. Subekti, "Hukum I\ r/Linjian '\ Jakarta : 1* 1 . Intcmiasa, 1980, Hal. 1.

., _

16
2. Hakekat Perkawinan Suatu perikatan (aqad) suci antara calon suami dan pihak istri atau suatu

perjanjian untuk mensahkan suatu hubungan kelamin dan untuk melanjutkan


keturunan, sehingga perkawinan menurut hukum Islam menjadi suatu perikatan suci, yang diperintahkan kepada tiap-tiap ummat Islam yang sanggup melaksanakannya, kecuali ada hal-hal yang tidak mungkin untuk melaksanakannya.35 Konsekwensi perkawinan merupakan suatu per ikatan, berlaku dasar-dasar per ikatan dalam suatu perkawinan, yaitu mesti adanya suatu persetujuan dar i kedua

belah pihak baik pihak calon mempelai pr ia dan pihak calon mempelai wanita.
Sebelum Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, berlaku berbagai ketentuan hukum perkawinan untuk berbagai golongan warga negara dan berbagai daerah yang

dijelaskan sebagai berikut :


a. Orang-orang Indonesia asli yang beragama Islam berlaku hukum agama yang telah diresepiir dalam hukum adat. b. Orang-orang Indonesia asli lainnya berlaku hukum adat. c. Orang-orang Indonesia asli yang beragama Kr isten berlaku Huwelijks Ordormantie Christen Indonesiers (Stb. 1933 No. 74). d. Orang-orang Timur Asing Cina dan Warga Negara Indonesia keturunan Cina berlaku ketentuan-ketentuan Kitab Undang-undang hukum perdata dengan sedikit perubahan. e. Orang-orang Timur Asing lainnya dan warga negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya berlaku hukum adat mereka. f. Orang-orang Eropa dan Warga Negara Indonesia keturunan Eropa dan yang disamakan dengan mereka berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.36 ! / ! I j , i

1 Tahun 1974, apakah peraturan hukum tersebut di atas masih berlaku ?. Jawaban atas pertanyaan ini Pasal 66 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menegaskan bahwa terhadap perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan sepanjang telah diatur dalam undang - undang ini, ketentuan - ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang - undang Hukum Perdata, Ordonansi Perkawinan Indonesia Kr isten {Huweli jks Ordonantie Chr isten Indonesiers Stb. 1933 No. 74). Peraturan

| I .

perkawinan campuran (Regeling op de Gemengde Huweli jks Stb. 1898 No. 158) dan
peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan tidak berlaku sejauh telah diatur

'
I

dalam Undang -Undang ini.

3 T. Jafitzham, "Persentuhan Hiikitm di Indonesia dan'cin llukum Perkawinan Islam ", Jakarta : PI . Mcstika, 2003, Hal. 254. 6 Wahyono Darmabrata, "" linjauan Uruhing-Undang No. 1 Id/iun 1974 Ten tang Perkawinan Heserta Undang-Undang dan Pevaturan Pelaksanaannya ", Jakarta : (iita Maya Java, 2003 Hal. 2.

17

a. Syarat materil, yaitu syarat yang berkaitan dengan diri pr ibadi calon suam; ister i, syarat ini dibagi dua yaitu pertama syarat materil umum yang terdiri dar i kata sepakat atau persetujuan, syarat usia, asas monogami dan tenggang waktu tunggu. Ke dua syarat materil khusus terdiri dari izin untuk melangsungkan perkawinan dan larangan untuk melangsungkan perkawinan. b. Syarat formil, syarat ini merupakan syarat yang berkaitan dengan formalitas setelah perkawinan berlangsung seperti tata cara perkawinan.37 Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa : "tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku".38

Pencatatan perkawinan ini diatur pelaksanaannya di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dari Pasal 2 sampai dengan Pasal 9.^ Tiap-tiap orang yang melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendak itu kepada Pegawai Pencatat dan pemberitahuan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari sebelum kawin. Pengecualian terhadap waktu, dapat diberikan camat (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975). Setelah dipenuhi tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tiada suatu halangan perkawinan, Pegawai Pencatatan menyelengarakan pengumuman tentang pember itahuan keinginan untuk melangsungkan dengan menempelkan pengumuman pada Kantor Pencatatan Perkawinan (Pasal 8 Peraturan Pemer intah Nomor 9 Tahun

1975).Perkawinan di Indonesia sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun


1974 tentang Perkawinan.
1. Menurut Hukum Agama.

Pada umumnya menurut hukum agama perkawinan adalah perbuatan yang suci
"@" ~r-'u"~ v@ vfaVin F.sa. aiiar berkehidupan berkeluarga dan

(sakramen, samskara),40 yaitu suatu perikatan antara dua pihak dalam memenuhi

" Undang-undang Nomor 1 Tallun iy/4, up. i^u nai. j 38 Ibid. Hal. 2 39 Peratiiran Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Pasal 2 berbunyi : (1) Poncatatan pcrkawinaii dari mercka yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, dilakukan olch Pcgawai Pencatatan sebagaimana dimaksud dalam UU No. 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk. (2) Pencatatan perkawinan dari mereka yaug melangsungkan perkawinaunya menurut agamanya dan kepcrcayaan itu selain agama islam, dilakukan oleli Pegawai Pencatatan Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai pcruiKlang-undangan mengenai pencatatan *ln "' ' perkawinan. "@ -i:i-...n,mn "Hnkiiin Perkawinan Indonesia ".Bandung : tvlandar Maju, 2003, Hal. 10.

18
berumah tangga seita berkerabat tetangga berjalan dengan baik sesuai dengan
ajaran agama masig-masing. a). Menurut Hukum Agama Islam, perkawinan adalah (Per ikatan) antara wali wanita calon istri dengan pria calon suaminya. Aicad nikah itu harus diucapkan

oleh wali wanita dengan jelas berupa i jab (serah) dan diter ima (Qabul) oleh si calon suami yang dilaksanakan dihadapan dua orang saksi yang memenuhi
syarat.

b). Menurut Hukum Perkawinan Agama Budha, (HPAB) Keputusan Sangha Agung tanggal 1 Januari 1977 Pasal 1 dikatakan perkawinan adalah suatu ikatan lahir
batin antara seorang pr ia dan seorang wanita sebagai istri yang berlandaskan

cinta kasih (Mettd), Kasih Sayang (Karunia) dan rasa sepenanggungan (Mudita), dengan tujuan untuk membentuk suatu keluarga bahagia yang diberkahi oleh Sanghyang Adi Buddha I Tuhan yang Maha Esa, Para Buddha
dan Para Bodhi Satwa @ Mahasatwa. ' c). Perkawinan menurut Agama Hindu, sahnya perkawinan apabila dilakukan dihadapan brahmana atau pendeta atau pejabat agama yang memenuhi syarat untuk melakukan perbuatan itu. Tidak semua brahmana atau pendeta mempunyai tugas yang sama terhadap brahmana atau pendeta yang melakukan tugas bukan wewenagnya ada ancaman hukumannya. Syarat yang lain untuk sahnya perkawinan menurut hukum hindu ialah harus dilaksanakan berdasarkan hukum Hindu, jadi kedua calon suami ister i harus menganut agama Hindu. Jika berbeda agama antara calon suami isteri maka perkawinan

itu tidak dapat disahkan. Untuk itu kedua mmpelai harus disuddihkan kedalam
agama Hindu. Menurut tradisi di Bali suatu perkawinan menurut hukum Hindu yang dapat dinyatakan sah setelah melaksanakan upacara Beakala atau

Beakaon yang dilakukan di Natar atau didepan Sanggah yang terdiri dari
beberapa Phase yaitu acara Saptapadi, Paninggrahan, Lajahoma dan Ma jayajaya.n d). Perkawinan Menurut Agama Katholik, perkawinan sebagai suatu sakramen didasarkan pada E f esus 5 : 25 - 33 (J. Verkuy) yaitu merupakan ikatan cinta kasih seorang pria dan wanita. Kristus membuat perkawinan itu menjadi sarana

bagi penyaluran cinta kasih Illahi (P. A Hauken SJ)43.


e). Perkawinan menurut Agama Protestan, perkawinan adalah persekutuan hidup antara seorang laki-laki dan perempuan, suatu persekutuan hidup total, eksklusif dan terus menerus, yang dikuduskan dan diberkati Kristus Yesus.44 2. Menurut Hukum Adat Perkawinan dalam arti per ikatan adat, ialah perkawinan yang mempunyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Setelah terjadinya ikatan perkawinan maka timbul hak-hak dan

41 Ibid, Hal. 12. 42 Ibid, Hal. 11. i3 Ibid, Hal.31. 44. Sri GambirMelati Hatta, Op.CiL Hal. 4.

kewajiban-kewajiban orang tua (termasuk anggota keluaiga / kerabat) menurut hukum adat setempat. 3. Menurut Kitab Undang- Undang Hukum Perdata (BW). Perkawinan menurut BW diatur dalam Pasal 26 yang mengatakan bahwa perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Syarat sahnya perkawinan menurut BW adalah : a. Telah mencapai umur ditetapkan Undang-undang yaitu untuk seorang laki-laki berumur 18 tahun dan seorang perempuan berumur 15 tahun. b. Persetujuan bebas antara kedua belah pihak yaitu antara calon mempelai pr ia dan calon mempelai wanita. c. Perempuan pernah kawin harus lewat waktu 300 har i sesudah putusnya d. perkawinan. Tidak ada larangan dalam Undang - undang bagi kedua belah pihak. e. Harus ada izin dar i orang tua, bagi seorang anak dibawah umur untuk melaksanakan perkawinan.45 Perkawinan di Indonesia sesudah berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 1) Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan. Perangkat hukum mengenai perkawinan sudah ada di dalam sistim hukum negara kita, yakni Undang @ undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dimana didalamnya mengatur mengenai hukum perkawinan yang berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia. Perkawinan adalah sebuah ikatan yang ber tujan untuk membentuk keluarga yang bahagia, dengan berdasarkan pada agama yang dinyatakan dalam Pasal 1 Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut yang berbunyi "berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa"46. Hal ini tentu memberi pengertian bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama, sehingga perkawinan bukan hanya mengandung unsur jasmani saja tetapi juga mengandung unsur rohani yang memiliki peranan yang sangat penting.

2) Menurut Kompilasi Hukum Islam. Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidhan untuk menaati perintah Allah SWT dan

melaksanakannya merupakan ibadah.47 Sedangkan tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan niniah
- i-i. j_.. -,u,,,.ai-, Pf trWawinan adalah sah, apabila

A Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, Op.G't.Hal. 1. 47 Ahdun'alunan,, "Kompilasi Hukum Islam Di Indonsia", Jakarta : Akademika Pressindo, 1992,

20
dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang - undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut Pasal 4 Kompilasi Hukiim Islam, perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Salah satu syarat pemikahan adalah I jab Qabul, yang dapat dijabarkan bahwa yang i jab berarti penyerahan mempelai wanita kepada pengantin pr ia dan yang imaksud dengan qabul berarti penerimaan mempelai wanita oleh mempelai pr ia. Ijab ini hams segera dijawab dengan Qabul secara langsung dan tidak menimbulkan keraguraguan lafal I jab berbunyi :
dijawab dengan qabul yang berbunyi " aku ter ima nikahnya .. dengan maskawin." dengan selesainya I jab Qabul tersebut terjadilah perkawinan secara

I j j \

sah. Jadi sahnya menunat hukum Islam adalah bila I jab Qabul sudah selesai.48 I jab juga merupakan penawaran dar i pihak calon ister i atau walinya atau wakilnya dan Qabul berarti pener imaan oleh calon suami dengan menyebutkan
besarnya mahar atau mas kawin yang diber ikan, setelah proses i jab dan qabul itu maka resmi terjadi perkawinan (aqad nikah) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk tnembentuk rumah tangga atau keiuarga yang bahagia kekal berdasarkan '

Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian, setelah dilangsungkan aqad nikah bagi
mereka telah terikat perjanjian untuk membangun suatu mmah tangga yang menjadi suatu keiuarga dan melahirkan suatu keturunan yang sah dalam masyarakat. Tanpa Ijab Qabul keabsahan perkawinan dapat diper tanyakan, oleh karena itu syarat ini harus ' I j

dipenuhi oleh kedua pihak ketika perkawinan dilangsungkan.


Secara etimologis, kawin sir i mempunyai pengertian "kenikmatan" dan "kesenangan", jadi tujuan perkawinan tersebut untuk memperoleh kesenangan seksual, sedang menurut arti kata, kawin sir i merupakan perkawinan yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau rahasia.49

j.
' ( .!.

i
Perkawinan tersebut tidak disaksikan orang banyak dan tidak dilakukan di hadapan Pegawai Pencatatan Nikah. Perkawinan ijab qabul dilakukan secara agama
saja atau didepan pemuka agama saja atau secara hukum dapat dikatakan perkawinan dibawah tangan. Hal ini dikarenakan perkawinan sir i yang pelaksanaannya hanya memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh hukum agama berdasarkan adat istiadat saja ser ta diluai' pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah, dar i Kantor l !_

Urusan Agama bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi yang
beragama non Islam. Didalam Undang - undang Nomor 1 Tahun 1974 mengenal dua golongan anak, yaitu anak sah dan anak luar kawin. Kedudukan anak dalam Undang - undang ini diatur dalam Bab IX Pasal 42 sampai dengan Pasal 44, sedangkan kedudukan anak

; '
, i

45 R. Soetoyo Prawirohamidjojo, Op, Cil, Hal, 32. chmad Ichsan, "Hukum Perkawinan bagi vatig Beragama Islam (Suatu Tinjauan dan Ulasan ecara Sosiologi Hukum)", Jakar ta : Pradya Pratama, 1997, Hal. 30.

\ \ 1

21

ditinjau dar i KUHPerdata diatur aiaamm uutu * ^uu . @_

Keturunan Anak-Anak, terdir i dari tiga bagian yakni :

(1) Bagian Kesatu (Pasal 250 - Pasal 271) tentang anak sah.
(2) Bagian Kedua (Pasal 272 - Pasal 279) tentang pengesahan anak - anak luar

(3) kawin Bagian Ketiga (Pasal 280 - Pasal 289) tentang pengakuan terhadap anak luar
kawin. Perlu dikatahui sebab-sebab terjadinya anak luar kawin yaitu :

(a) Anak yang dilahirkan diketahui dan kehendaki oleh ke dua orang tuanya tetapi
orang tua tersebut tidak dalam ikatan perkawinan.

(b) Anak yang dilahirkan diketahui dan dikehendaki oleh salah satu atau kedua orang
tuanya yang berada dalam suatu ikatan perkawinan lain.

(c) Anak yang dilahirkan tanpa dikehendaki oleh ibunya ( misal kehamilan akibal (d) Anak yang dilahirkan hasil hubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Anak
luar kawin ini kemungkinan dapat diter ima secara wajar apabila ibu yang melahirkan tersebut menikah lagi dengan laki-laki yang membuahinya, (e) Anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang masih di dalam proses perceraian, perkosaan atau pelacuran).

(f) Anak yang lahir dari seorang yang ditinggal suaminya lebih dari 300 hari dan tidak (g) Anak yang dilahirkan dari seorang ibu akibat dari ketentuan agama yang tidak
(h) Anak yang dilahirkan dari seorang ibu dan seorang laki-laki yang akibat hukum perdata atau hukum negara lain tidak memperbolehkan menikah karna masih terikat dengan perkawinan lain di Negaranya. (i) Anak yang sama sekali tidak diketahui kedua orang tuanya. (j) Perkawinan secara adat. (k) Anak yang dilahirkan akibat perkawinan adat, disamping itu perkawinan orang tuanya tidak dicatat di kantor pencatan sipil, juga tidak dilaksanakan menurut salah satu agama yang diakui pemerintah ( Hal ini sering dijumpai pada masnyarakat keturunan cina). diakui oleh suami sebagai anaknya.

sebagai hasil hubungan dengan pr ia lain.

boleh menikah ( misal untuk umat khatolik).

3.

Keanekaragaman Hukum wans ui umuu^.a

a. Golongan masyarakat yang beragama islam berlaku hukum waris Islam. b. Golongan masyarakat non muslim berlaku hukum adatnya masing-masing yang dipengaruhi oleh unsur agama dan kcpcrcayaan. c. Golongan Eropa dan yang dipersamakan dengan mereka berlaku Hukum Perdata
@ -@ l IT. .!@..@ lX.,-,1.,,.,1

22
Di dalam hukum wans islam tidak diatur tentang hak waris dari anak luar kawin, berbeda dengan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata tiga
penggolongan terhadap anak-anak yang mewaris : 1) Anak syah, yaitu seorang anak yang lahir di dalam suatu perkawinan, terhadap

anak syah ini sudah diatur di dalam KUHPerdata bagian warisannya. 2) Anak yang lahir, di luar perkawinan, tapi diakui oleh seorang ayah dan / atau
seorang ibu. Di dalam hal ini antara si anak dan orang yang mengakui itu timbul pertalian keluarga. Berdasarkan Pasal 863 KUHPerdata menyatakan : " Jika pewaris meninggalkan keturunan yang syah atau seorang istri (suami) maka

bagiannya adalah 1/3 dari bagian jika ia itu anak syah". Sedangkan jika si anak
luar kawin itu mewaris bersama-sama dengan golongan kedua yaitu bersamasama dengan keluarga sedarah dalam garis ke atas atau keturunannya maka ia bagiannya adalah V i war isan.

3) Anak luar kawin, dan tidak diakui, baik oleh ayahnya maupun ibunya. Sehingga
anak ini menurut hukum tidak punya ayah dan tidak punya ibu, karena tidak mempunyai keluarga maka juga tidak ada ketentuan tentang hukum warisnya. 4. Penger tian anak. a. Pengertian anak menurut Kitab Undang - Undang Hukum Perdata diatur dalam Pasal 250 yang menyatakan : "Tiap-tiap anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan memperoleh si suami sebagai bapaknya."51 Berdasarkan bunyi pasal tersebut, maka jelaslah bahwa anak sah ' < ' + \ I

ilahirkan sebagai akibat dari perkawinan kedua orang tuanya yang sah. b. Batas Umur Seseorang dianggap sebagai anak (kedewasaan). Konvensi Hak Anak (pasal 1) menyatakan yang dimaksud dengan anak dalam Konvensi ini adalah : " Setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang @ undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal."52. Di dalam Pasal 1 Undang - undang tentang Perlindungan Anak, Undang undang Nomor. 23 Tahun 2002, anak didef inisikan sebagai seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.53 Dengan demikian bila seorang anak menikah dan kemudian bercerai sebelum berumur

; 1 i (, ^

50 AH Afandi, "Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian ", Jakar ta : PT. Rineka Cipta, 1986, Hal. 41. 51 . Wirjono Prodjodikoro, "Hukum Perkawinan di Indonesia", Bandung : Sumur Bandung. 1981, Hal. 72.

. Konvensi Hak Anak (Convention On The Rights O f The Child), disetujui oleh Majelis Uinum PBB pada tanggal 20 November 1989 dan mulai hcrlaku di Indonesia pada tanggal 25 Agustus 1990, dengan diratifikasinya Konvensi ilu melalui KHPRES NO. 36 tahun 1990, tanggal 25 Agustus 1990.
". Darwan Prins," Hukum Anak Indonesia",Bandunii : PI . C1TRA AD1 TYA BAK 1 1,2003, Hal. 347.

anak. Undang

- undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusi @

(HAM) di dalam Pasal 1 angka 5 mendef inisikan anak adalah setiap manusi
yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.S4 Selanjutnya Undang - undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, dalam pasal 1 angka 1 menyatakan, Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mencapai 18 tahun dan belum pernah kawin. G. Harapan Hukum Indonesia Tumbuh Secara Konseptual Sebagai Paradigma Bai si

Dalam Solusi Konf lik Ganda Bidang Pidana Dan Perdata. Hukum positif yang berlaku saat ini baik dibidang perdata maupun pidana
berasal dari sistem hukum Belanda yang diberlakukan di Indonesia. Akan tetapi perkembangan yang terus menerus terjadi menimbulkan kebutuhan akan perubahan hukum yang diselaraskan dengan nilai-nilai budaya bangsa yang lebih tinggi. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum hendaknya menjadi asas-asas hukum baik asas hukum konstitutif maupun asas hukum regulatif. Dalam sistem hukum asli di Indonesia sesungguhnya tidak dikenal sistem hukum perdata dan sistem hukum pidana yang kaku sebagaimana sistem hukum civil law yang secara tegas bidang kehidupai yang mana masuk sistem hukum pidana dan bidang mana yang masuk bidang hukum
perdata. Cara

berf ikir yang holistik dan integral dalam hukum Adat merupakan contoh

bahwa paradigma yang dianut oleh bangsa kita dalam bidang hukum tidak persis sama dengan yang dianut dinegara-negara Eropa. Paradigma ini hendaklah menjadi asas dalam pembetukan hukum yang bercirikan "Indonesia" sehingga betul-betul akan terwujud sistem hukum Indonesia yang digali dari f ilsafat dan pandangan hidup bangsa. Apabila ter jadi konf lik antara hukum pidana dan hukum perdata maka titik berat tekanan diletakkan kepada aspek keadilan dan kemanfaatan dari keduanya. Aspek keadilan itu sendiri yang hams dicapai adalah aspek keadilan dalam arti seberapa jauh keadilan itu mempunyai makna bagi semua pihak dan bagi sistem hukum keseluruhan. Hasil perebutan kedudukan antara kelebihan/kekurangan hukum alam kontra dengan kelebihan /kekurangan hukum positif, setelah memperoleh intervensi dar i perkembangan aliran f ilsafat rasional atau f ilsafat positivisme dapat menumbuhkan pokok pikiran tentang manusia berevolusi daya akal (rasio) dan lepas dari unsur moral hukum menjadi lemah. Hukum positif semakin kehilangan ef isiensi efektif atas daya kekuatan berlaku hukum positif yang dapat diar tikan perlawanan manusia untuk menentang hukum semakin luas dalam wujud walaupun ada hukum positif tetapi juga banyak pelanggaran hukum atau bahkan muncul rekayasa pelanggaran baru terhadap
'' ' '- "@""@^r arnient Kenvataan banyak pelanggaran

.Undang - Undang lentang Hak /\ asi manu. ua ^^ ,.@. _ .

ff l^BBHB!TEnHWf fB!f!l

Penelitian ini untuk mendapatkan bahan-bahan berupa teori, konsep, asas hukum dan peraturan hukum, yang ada kaitannya dengan hak mewaris seorang anak hasil perkawinan ijab qabul tidak tercatat pada hukum negara mempergunakan
; research.

legal

'@ Penelitian hukum normatif bertujuan menemukan konsep-konsep yang @ diterapkan untuk menyelesaikan masalah terhadap situasi konkrit dan mencakup hukum ter tulis yang diawali dengan inventarisasi hukum positif. Bentuk inventar isasi hukum i i positif yang berupa peraturan-peraturan, dan pendapat para sar jana hukum tertentu tentang implikasi ganda tentang anak luar kawin hasil perkawinan i jab qabul yang tidak tercatat pada hukum Negara, yang banyak terjadi didalam masyarakat yang melakukan perkawinan secara agama yang tidak tercatat pada hukum negara. Penelitian ini selain menggunakan penelitian yuridis normati fjuga menggunakan metode yuridis empirislsosiologis serta metode penelitian k ualitati f untuk meneliti kenyataan yang ada didalam masyarakat, meneliti bagaimana penerapan dilapangan terhadap peraturan-peraturan dan undang-undang tentang implikasi ganda terhadap anak luar kawin hasil perkawinan i jab qabul yang tidak tercatat pada hukum negara, khususnya kasus-kasus perkawinan i jab qabul dan anak luar kawin. Dengan melakukan wawancara dengan hakim dan masyarakat yang melakukan perkawinan i jab qabul. Peneliti dengan cara mengadakan pengamatan dan tanya jawab terhadap hakim dan masyarakat yang melakukan perkawinan i jab qabul, bagaimana hakim menerapkan hukumnya terhadap kasus-kasus anak luar kawin hasil perkawinan i jab qabul yang tidak tercatat pada hukum negara. Disampmg-itu-,- De Empir isoh Analytisch'Methode adalah sarana atau metode yang penting untukmenemukan hukum yang baik dan asasasas hukum yang kita ter ima dan sebagai asas keadilan dalam hukum.5

I.

Cara Pengumpulan Data Bahan penelitian yang meliputi data sekunder dan data pr imer dikumpulkan dengan menggunakan alat-alat pengumpulan data yaitu : 1. Studi pustaka merupakan upaya untuk mendapatkan sumber data yang bertalian dengan konsep, pendapat para ahli/pakar hukum ser ta nilai-nilai hukum yang dapat memberikan kejelasan suatu masalah ser ta arah pembahasan suatu konsep yang relevan dalam penelitian hukum. Pencar ian data diperpustakaan diperlukan oleh peneliti karena koleksi perpustakaan bermanfaat untuk menunjang fakta dan konsep atau gagasan dalam membuktikan sesuatu atau menambah kejelasan tentang suatu pernyataan yang dikemukakan serta untuk menguatkan hasil penelitian melalui analisis. 2. Disamping studi pustaka yang merupakan metode yuridis normati f penelitian ini ditunjang pula dengan metode yuridis empiris atau yuridis sosiologis. Datanya
' J;^@t ,Wi lanansr an langsung baik dari hasil wawancara

11 Dari Masyarakat Disertasi buku Srigambir Mclati Hatta, ^Beli Sewa scoagut i: ^I,^-JPandangan Dan Sikap Mahkamah Agung Indonesia, Bandung Alumni, 2000/jCutman dari De Gaay Forlman W.F. " De Empihsch" Analistisch Meihode", Hot Gehem van Retht-\ 2

26
ataupun observasi antara lain dengan para Hakim, Ketua Pengadilan baik Pengadilan
Negeri, Pengadilan Agama, PengadiiamTUN sebagai imforman.

/
Wawancara dilakukan dengan menggunakan interview guide. Selain informan juga dilakukan wawancara dengan 10 orang yang melakukan perkawinan ijab qabul

yang berada di Cipanas Kelurahan Sukanagalih Kabupaten Cianjur untuk mengetahui


penyebab mereka melakukan perkawinan i jab qabul dan bagaimana cara mewariskan

harta kepada anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut. Peneliti juga melakukan
wawancara terhadap 10 orang yang melakukan perkawinan i jab qabul yang tinggal diwilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan bagaimana cara mewariskan hartanya kepada anak yang dilahirkan. Penelitian memilih para informan dan responden tersebut atas dasar cara metode purposive.

Data Hasil Penelitian


Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan hakim-hakim dan ahli hukum sebagai informan (responden) juga wawancara terhadap orang yang melakukan perkawinan i jab qabul yang tidak tercatat pada hukum negara. 1. Hasil wawancara penulis dengan informan bahwa dalam sistem hukum

Indonesia menyatakan bahwa perkawinan i jab qabul adalah perkawinan yang didasarkan sesuai petunjuk syariat Islam, dimana i jab qabul merupakan syarat sahnya perkawinan disamping adanya saksi dan mahar. Dalam sistem hukum asli Indonesia i jab qabul antara kedua pihak dalam sebuah perkawinan menjadi syarat penting, begitu juga dalam bidang hukum lain seperti pengangkatan anak, adanya pernyataan kedua pihak menjadi faktor yang menentukan. Syariat Islam yang dianut masyarakat Indonesia dalam bidang perkawinan sebenarnya bukan menjadi masalah lagi, itulah yang menjadi patokan bagi masyarakat Indonesia akan tetapi setelah berlakunya undang-undang perkawinan ada ketentuan mengenai pencatatan perkawinan. 2. Hasil wawancara penulis dengan informan menyatakan terdapat dampak

hukum bagi pasangan yang hanya melakukan perkawinan i jab qabul saja tanpa

dicatatkan jika dibelakang hari muncul konflik sementara hukum positif tidak
memberikan perlindungan yang porprosional disatu sisi masyarakat menilai pencatatan hanya merupakan prosedur administratif, namun undang-undang menyatakan pencatatan administratif merupakan syarat keabsahan perkawinan. 3. Hasil wawancara penulis terhadap informan tentang adanya tuntutan dari

pihak ke-3 dalam hal tuntutan hukum pidana maupun hukum perdata, maka hakim dalam memutus perkara sistem hukum manakah yang didahulukan. Informan menyatakan bahwa tuntutan perkara perdata yang didahulukan daripada perkara pidana. Ditetapkannya perkara perdata didahulukan berdasarkan per timbangan agar tidak teijadi putusan yang saling bertentangan sehingga, dapat dijadikan dasar oleh para pihak untuk mengajukan upaya hukum peninjauan kcmbali. 4. Hasil wawancara penulis dengan informan mengatakan dalam memutus suatu

perkara, terkadang hakim terikat pada ketentuan penjndang-undangan, akibatnya

27

kepentingan keadilan terabaikan namun umuMau, jowu FUUiu..

dipahami jika dikembalikan kepada landasan bahwa hakim memutuskan perkara


berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam perkara perkawinan, hakim terkadang dalam menegakkan hukum cenderung menggunakan pendekatan legalistis akibatnya terkadang kepentingan ahli waris diabaikan. Pengabaian itu sendiri sesungguhnya disebabkan karena ketentuan hukum mater ial dan formil

-r

mengikat hakim, sehingga tidak ada pemikiran lain lagi, bagi hakim untuk tidak
mengenyampingkan kepada ketentuan perundang-undangan ter tulis dengan mengenyampingkan hak-hak keadilan. Seharusnya hakim dalam memutus perkara perkawinan mempertimbangkan hak-hak anak dan ahli warisnya, karena putusan tersebut tidak hanya dirasakan oleh para pihak yang sedang berperkara, akan tetapi juga bagi orang-orang yang mendapatkan hak daripadanya. 5. Hasil wawancara penulis informan mengatakan ruang gerak yang dapat Sebenarnya kewajiban untuk melakukan

digunakan oleh hakim adalah dengan mengisi kekosongan hukum melalui cara penemuan hukum {rechtvinding). penemuan hukum itu telah ditetapkan oleh undang-undang akan tetapi belum ada keseragaman/pola yang sama yang menjadi acuan dalam praktek, sehingga hakim dalam penemuan hukum mengalami hambatan psikologis dalam menetapkan
hukum.

Selain penulis mengadakan wawancara dengan pakar hukum penulis juga mengadakan wawancara dengan 20 orang yang melaksanakan perkawinan i jab qabul yang tidak dicatatkan pada hukum negara.
J i u mUn nertawinan iiab aabul tanpa dicatatkan?

No

Jawaban Karena salah satu syarat perkawinan menurut undang-undang perkawinan no.l tuhun 1974 tidak bisa dipenuhi misalnyaijIn isteripertama Proscdurijin perkawinan berbelit-bclit

Presentasc

50%

2 Tidak tahu dan tidak mengerti akibat 3 hukumdar i pencatatanperkawinan

20% 30%

o c^ol- hnan saudara melakukan perKawinan ijuu quuu, :

Setclah No tahun 1974 tiihun Kcterangan Perkawinan dilakukan menurut hukum Adat dan hukum Agama Perkawinan dilakukan menurut hukumAgama(ijabqabul)

1974 1 2 50%

50%

28
3. Bagaimana cara mewariskan har ta kepada anak yang lahir dari perkawinan ijab qabul ?
No Cara Dengan caramenghibahkan Presentase

1 Dengan cara membuat wasiat 2 Dengan carakekeluargaan 3 Belum terpikir 4

20% 30% 30% 20%

4.

Apakah saudara mengetahui akibat hukum perkawinan yang tidak dicatatkan? No


Jawaban Mengetahui akibathukumnya Presentase

1 Tidakmengetahui akibathukumnya 2
Pendapat penulis berdasarkan wawancara

60% 40%
dengan responden penulis

berkesimpulan disamping alasan yang sudah dikemukakan diatas bagi orang yang melakukan perkawinan i jab qabul yang mengetahui akibat hukum mereka melakukan untuk menghindar i munculnya akibat berupa tuntutan pidana sesuai dengan Pasal 279

Pasal 279 Ayat (1) dan Ayat (2) KUHP yang menyatakan : diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun. (1). Barang siapa mengadakan pernikahan padahal mengetahui bahwa pernikahan atau pernikahan-pernikahannya yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk itu; (2). Barang siapa yang mengadakan pernikahan padahal diketahui bahwa pernikahannya atau pernikahan-pernikahan pihak lain menjadi penghalang yang sah untuk itu. Sedang masalah harta warisan terhadap anak yang lahir dari perkawinan ijab qabul mereka telah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan jika terjadi konf lik antara

ahli war is yang sah dengan anak yang lahir dari perkawinan ijab qabul sehingga tidak
limbul hal-hal yang tidak diinginkan oleh pewaris.

K.

Kasus Dan Analisa Data yang dikumpulkan berupa Putusan Pengadilan dan Penetapan Pengadilan yang diperoleh dari instansi yang berwcnang di Pengadilan Negeri Jakar ta Selatan, Pengadilan Tinggi Jakar ta, dan Mahkamah Agung RI yang berupa :

' Moeljanto," Kitab Undang-iimlang llukum I'Ulana" Jakarta : Bumi Aksara, 2001, Hal. 101.

29
1. Penetapan Nomor : 569/Pdt.P/2004/PN.JKT.BAR. Didalam penetapan tersebut mengenai perkawinan antara Dharma. Wangsa Sudirja dengan Tjoa Emawati, mereka melakukan perkawinan dengai: menggunakan perkawinan adat Tionghoa didalam perkawinan tersebut lahir 5 (Lima) orang anak yaitu Iwan, Andi, Maria, Agung dan Teguh, kelima anak tersebut mempunyai Akta Kelahiran yang sah tetapi tidak tercatat di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

2. Penetapan Nomor 57/Pdt.P/2007/PN.Jak.Sel


Didalam penetapan tersebut mengenai perkawinan Charlie dengan Lulu pada

tanggal 12 Desember 2005 di Jakarta sesuai kutipan Akta Nikah Nomor 1348/49/XII/2005. Sebelum perkawinan sah antara Charlie dan Lulu menjalin
hubungan intim sehingga telah dilahirkan seorang anak perempuan bernama Alysia

yang lahir di Jakarta pada tanggal 28 Februari 2004.


Setelah Charlie menikah secara resmi maka Charlie bermaksud menginginkan anaknya Alysia diakui sebagai anak kandung/sebagai anak sah guna kepentingan dan status masa depan anak tersebut.

3. Penetapan Nomor 14/Pdt.P/2006/PN.Cbn


Dalam perkara ini mengenai perkawinan antara Liana dengan Suryali pada tanggal 3 Juni 1996 dan dikaruniai dua orang anak yang salah satunya anak lakilaki, mereka menikah dengan perkawinan adat Khonghucu. Kedua orang tuanya ingin mendaftarkan anaknya di Kantor Suku Dinas dan Pencatatan Sipil dengan meminta penetapan dari Pengadilan Negeri. Pendapat Penulis mengenai kasus penetapan

Penetapan No. 569/Pdt.P/2004/PN.JKT.BAR Penetapan 57/Pdt.P/2007/PN.Jak Sel


Penetapan Nomor 14/Pdt.P/2006/PN.Cbn Berdasarkan hasil penelitian Penulis menyatakan bahwa dengan penetapan maupun putusan-putusan hakim menyebutkan bahwa penetapan memberikan kesimpulan masyarakat ternyata untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak-anak yang lahir dari perkawinan ijab qabul maka diperlukan adanya penetapan ini merupakan suatu bentuk dari hasil perkawinan i jab qabul dan perkawinan adat sebagai dasar dan adanya pengakuan dari orang tua terhadap hak anak i jab qabul ini memberikan gambaran bahwa untuk adanya keadilan perlu adanya perlindungan hukum dan didasarkan pada hak asasi mauusia bahwa hak asasi manusia merupakan hak yang mendasar. 4. Putusan Nomor 249/Pdt.G/2002/PN. Jakarta Utara Jo Nomor

180/Pdt/2004/PT.DKl Jo Nomor 1826.K/Pdt/2005.


Tcntang Gugatan Hak Mewaris Dari Anak Luar Kawin Didalam kasus tcrasebut telah dilangsungkan perkawinan antara Ny. Nelly dengan Suchrisna secara adat Tionghoa dar i perkawinan tersebut lahir 4 oranu anak setelah itu kedua oranetua tersebut mencatatkan perkawinannya. Ny-

30
Nelly kemudian r aelahirkan 5 orang anak lagi. Setelah Ny. Nelly dan sucnnsna meninggal dunia anak-anak sah tersebut telah menggugat anak luar kawin tentang harta war isan kedua orangtuanya. Putusan PN No. 249/Pdt.G/2002/PN. Jakar ta Utara yang amamya telah memenangkan gugatan dari anak yang telah dilahirkan secara sah (setelah perkawinan dicatatkan).

Putusan PT No. 180/Pdt/2004/PT.DKI menguatkan putusan Pengadilan


Negeri. Putusan MA No. 1826.K/Pdt/2005 mengabulkan kasasi anak luar kawin membatalkan putusan pengadilan negeri dan memperbaiki putusan PT yang pada amarnya anak luar kawin mendapat war isan bersama-sama dengan anak sah.

5. Perkara Pidana Nomor ll/Pid/B/1996/PN/Lwk Jo Nomor 20/Pid.D/1996 PT.Palu Jo Nomor 1O77.K/Pid/1997.


Kasus perkawinan kedua yang tidak dicatat menurut hukum negara identik dengan perkawinan ijab qabul dapat berdampak pelanggaran hukum pidana. Didalam kasus tersebut Subandr i dan Sr i Rohmi melakukan perbuatan zina, Subandr i telah mempunyai ister i yang dinikahi secara sah. Tuntutan jaksa Subandri dan Sr i Rohmi telah melakukan perbuatan zina

sehingga melanggar pasal 284 (1) KUHP. Putusan Pengadilan Negeri No. 1 l/Pid/B/1996/PN/Lwk yang amarnya
menghukum keduanya karena terbukti telah melakukan tindak pidana zinah. Putusan PT No. 20/Pid.D/1996 PT.Palu menguatkan putusan PN. Putusan MA No. 1O77.K/Pid/1997 membatalkan putusan PT menerima permohonan kasasi Subandr i karena PT salah menerapkan hukum bahwa Subandr i dan Sri Rohmi adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam, keduanya telah melakukan perkakwinan adat dan secara agama Islam. Putusan dalam kasus ini bisa dipakai sebagai yurisprudensi yang dapat dipakai sebagai sumber hukum untuk perkawinan i jab qabul. Hal ini merupakan bentuk dar i keinginan masyarakat untuk melindungi anak-anak hasil perkawinan i jab qabul yang tidak tercatat pada hukum Negara dan merupakan keadilan dalam
mns:varalcnt

6.

Putusan Nomor 177/1972/Pdt Surakar ta jo Nomor 62/1975/1'.! Jjemarang jo

Mahkamah Agung Nomor 1300. K/Sip/1977


Tentang Gugatan Warisan dari anak Luar Kawin Didalam kasus ini perkawinan antara R.N Wignjo Darsono dengan K. Suwati yang tidak mcmpunyai anak dan kcmudian mengangkat anak bernama Sri Rahardjo. Dalam perkawinan tcrsebul R.N Wignjo Darsono melakukan nerkawinan vane kedua dcnsian Pudjiati lahirlah anak bernama Sri Wahyuni setelah

3i

R.N Wignjo Darsono dan K. i>uwau mcmnggui uuum iuou. ^.^ * *@i ,

menggugat anak luar kawin yaitu Sri Wahyuni.

Putusan PN No. 177/1972/Pdt Surakar ta menetapkan bahwa Sri Wahyuni


berhak mewaris. Putusan PT No. 62/1975/P.T Semarang tnembatalkan putusan PT. Putusan MA No. 1300. K/Sip/1977 menetapkan bahwa anak luar kawin tidak
mewaris.

Pendapat penulis tiap kali ada putusan yang berlainan mengenai perkara sejenis, maka tidal ada kepastian hukum. Tetapi sebaliknya kalau hakim terika! mutlak pada putusan mengenain perkara yang sejenis yang pernah diputuskan maka hakim tidak bebas untuk mengikuti perkembangan masyarakat melalui putusanputusannya.59

L. Kesimpulan Hukum merupakan sarana untuk melindungi kepentingan-kepentingan manusia, oleh karena itu, pendekatan yuridis formil dirasakan tidak cukup untuk melindungi kepentingan manusia yang beragam dan terus menerus berubah. Peraturan hukum sangat terbatas kemampuannya untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan subyek hukum. Oleh karena itu kekosongan hukum harus diisi oleh hakim melalui metode dan upaya penemuan hukum baru dengan menggunakan metode penafsiran

rechtsvinding. Hukum ada tidak untuk melayani kepentingannya sendiri demi kepastian hukum, akan tetapi diarahkan kepada tujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan subyek hukum yang berada dalam posisi yang rentan. Dengan demikian konsep-konsep hukum sebagai sarana social security, social wel f are dan perlindungan human right menjadi relevan diperhatikan oleh hukum. Pengkajian ilmu hukum harus dilepaskan dari kepentingan sempit yang bertumpu kepada faham legisme dominan, yang mengorbankan segi-segi kemanusiaan. Oleh sebab itu ajaran seperti Interessen Jurisprudence perlu mendapatkan tempat yang proporsional dalam studi hukum saat i::i. Pada sisi lain, ilmu hukum dan praktik hukum harus memperhatikan aspirasi-aspirasi yang berkembang secara transnasional. Dalam bidang hukum pidana, perlu diperluas kepada upaya untuk memperhatikan kepentingan korban {victim) sehingga diperoleh kesempatan untuk mendapatkan keadilan seluas-luasnya. Pemikiran hukum yang bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada korban ini perlu diselaraskan dengan metode penafsiran hukum modern seperti Anticiparende Interpretation maupun penafsiran Futuristik, sehingga ajaran-ajaran hukum yang telah berkembang dengan pesat mendapat tempat dalam putusan hakim sambil menunggu ditetapkannya hukum positif dalam bidang tertentu oleh badan legislatif. Putusan-putusan hakim diharapkan dapat melahirkan jur isprudensi yang berbobot dengan dipublikasikan secara luas, sehingga masyarakat mampu mengaksesnya dan dapat memberikan penilaian alas landasan-landasan teori yang digunakan oleh hakim melalui
1 * @-@" iv/ioioiiii i.-i,,r0 rlprisis maunun obiter dicta dapat dipelajari dengan baik

:>" Sudikno Mcrtokusumo dan A. I'ilto, Bab-Hcib wntang renenuum iiimuui.i @ . ^.n... Uu..Jt. @@....,

33
2. Fungsi hukum harus diaralikan kepada Social Utility yakni memoeriKan itemaniaa.an sosial bagi pencari keadilan. Disamping itu hukum harus memberikan jaminan akai. rasa aman dan damai serta perlindungan hukum dalam arti seluas-luasnya demi perlindungan atas hak asasi manusia. 3. Hakim tidak hanya terikat untuk melaksanakan undang-undang akan tetapi dapat menolak menerapkan undang-undang dalam hal penerapan itu akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pencari keadilan. Hakim harus menggunakan metodemetode penafsiran guna menemukan hukum yang hidup melalui metode rechtsvinding, penafsiran secara futuristik maupun secara antisiparende (penafsiran yang digunakan sebagai antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang akan muncul) dengan menekankan resiko yang seminimal mungkin untuk terjadinya ketidakadilan. 4. Melaui jurisprudensi konstan {constante jurisprudency) dapat diperoleh pola yang relatif seragam bagi putusan-putusan hakim lain, walaupun kita tidak menganut doktrin preseden, akan tetapi dengan pertimbangan praktis maka seyogyanya hakim harus mengikuti putusan hakim terdahulu jika menurun keyakinannya dapat memberikan kemanfaatan bagi pencari keadilan. Putusan hakim yang seragam relatif

dapat dijadikan bahan untuk memperkecil resiko terjadinya putusan yang kontradiktif
yang merugikan pencari keadilan. 5. Ilmu Hukum tidak boleh dibiarkan bergerak dalam ruangan yang hampa, akan tetapi dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada praktek hukum melalui kajiankajian yang konstruktif dan bermanfaat bagi hakim dalam memutuskan perkara yang diadilinya, di sisi lain, putusan hakim hendaklah dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dihadapan komunitas ilmuwan hukum, sehingga putusannya pun secara
Vnalitntif danat diner tansieune iawabkan.

34
DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku A. Pitlo, "Hukum Waris", Cet.l, Jakar ta : Intermasa, 1994 Abdurrahman, "Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia ', Jakar ta : Akademika Pressindo, 1992. , "Sedikit Tentag Masalah Pencatatan Perkawinan Di Indonesia Dalam Masalah Hukum Perkawinan Di Indonesia ", Bandung : Alumni, 1986. Abdulkadir Muhammad, "Perkembangan Hukum Keluarga Di Beberapa Negara Eropa", Cet.2, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1998. Achmad Ichsan, "Hukum Perkawinan bagi yang Beragama Islam (Suatu Tinjauan dan

Ulasan Secara Sosiologi Hukum", Cet.3, Jakar ta : Pradya Pratama, 1997. Ali, Afandi, "Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian ", Cet.2, Jakar ta : Rineka

Cipta, 1986.
Bambang Poernomo, "Teori Hukum, Makalah dalam Kuliah Umum Teori ilmu Hukum", Jakar ta : Universitas Jayabaya, 2006. Buddhayana, "Keputusan-keputusan Sangha Agung Indonesia tentang Hukum Perkawinan ", Cet.2, Bali : Dewata, 2000. Budyapranata, "Membangun Keluarga Kristiani", Cet.l, Yogyakarta : Kanisius, 1986 Chand Hari, " Modern Juresprudence (Ultilitarianism) ", Cet.2, Kuala Lumpur : International Law Book Services, 1994 Darwan Prinst, "Hukum Anak Indonesia ", Cet.4, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2003. Djojodiguno dan Tirtawinata, "Adat Privaat Keclil Van Midden-Java ", Cet.2, Belanda : Book

Law , 1990
Djoko Prakoso dan I Ketut Mur tika, "Asas Hukum Perkawinan di Indonesia ", Cet.3, Jakar ta : Bina Aksara, 1987. Fortman De Gaay W.F, "De Empirisch" Analisiisch Methode", Amsterdam : Het Gehein Van Recht, 1972 Gdc Puja, "Compendium Hukum Hindu", Cet.l. Jakar ta : Depatemen Aiiama Rl Mayasan,

1983
Gde Wayan Pangkat, "Ilukum Waris Di Bali ", Cct. 1, FII Udayana, 1991

35

Harun Alrasid, "Naskah UUU IV43 besuaun amytu jvi* . ^m^..

Universitas Indonesia ( UI-Press,) , 2006. Henry Camp Bell Black, Black Law Dictonar y, United States : ST, Paul Minn West. 1990. Hadi Setia, "Undang-undang Tentang Hak Asasi Manusia UU NO 39 1999 LN. 165 Tahuii 1999 TLN, No 3886 ", Cet.2, Jakar ta : Harvarindo, 2000 H. Hilman Hadikusuma, "Hukum Waris Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama Hindu - Islam ", Cet.2, Bandung : Citra Aditya Bakti , 1996. Idris Ramulyo, "Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis Undang-undang Nomor I Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam ", Cet.2, Jakarta : Bumi Aksara , 2002. John M.Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia, 1990.

J. Satrio, "Hukum Waris", Cet.l, Jakar ta : Penerbit Alumni , 1992. , "Hukum Harta Perkawinan ", Jakar ta : Pradya, 1999 "Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak Dalam Undang-undang", Cet.6,

Bandung : Citra Aditya Bakti , 1999


M.Yahya Harahap, "Segi-segi Hukum Per jan jian", Cet.3, Bandung : Penerbit Alumni Bandung , 1986. Mar iam D, Badrulzaman," KUHPerdata Buku HI Hukum Perikatan dengan Pen jelasan", Cet.l, Jakar ta : Alumni,1983. Muljanto, "Kitab Ungang-undangHukum Pidana", Cet.4, Jakar ta : Bumi Aksara, 1996 M. Idris Ramulyo, "Tin jauan Beberapa Pasal Undang-Undang Nomor I Tahun 1974 dari Segi Hukum Perkawinan Islam", Cet.2, Jakar ta : Ind-Hillco, 1986. , "Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam ", Jakar ta : Bumi Aksara, 2002 Nocng Muhadjir, "1996 Metode Penelitian Kualitatif", Cet.3, Yogyakar ta 1996. Pjilipus M Hadjon, dan Thick Sri Djatmi, "Argumentasi Hukum ", Yogyakarta : Gajahmada University, 2005.
"@@' '@'@@@" '"'@@I i laU-aifa : Pradnva Puramita, 2003.

: Rakesarasin,

@M MW*HEI

37

, "Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dan Fer jan jian , i^ei.z, nauuuiig .

PT. Citra Aditya Bakti,1995.


"Perbandingan Hukum Perdata", Cet.l, Jakar ta : PT. Pradnya Paramita, 1974
"H,iir,,m Pnrinniinn" Jakar ta : Cet.2. Jakar ta : PT Intermasa, 1992.

Sonny Keraf.A, "Pasar Behas Keaditan dan tJeran remennian leiuun siui* l^unu 1 uuun

!
i i o.._;

Ekonomi Adam Smith", Jakar ta : Kanisius, 1996.


. c 0Vonin "Pononntnr Ppne .litian Hukum" . Jakar ta : Ul-Press, 1984.

T. Jaf itzham, "Persentuhan Hukum di Indonesia dengan iluKum rernawinun miurn ,

Jakarta : PT. Mestika, 2006. Ter Haar, "Adater f recht ofJava, " Cet.4, Jakarta : Bulan Bintang, 1975 Victor.M. Situmorang dan Cormentyna, "Aspek Hukum Akta Catatan Sipil di Indonesia", Jakar ta : Sinar Graf ika, 1981. Wahyono Darmabrata, "Tin jauan UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Besei a Undang-Undang dan Peraturan Pelaksanaannya ", Jakarta : FH UI, 2003. Wirjono Prodjodikoro, "Hukum Perkawinan di Indonesia", Bandung : Sumur Bandung, 1981. WJS, Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakar ta : Terbitan Balai Pustaka, 2005. Yuhda Bhakti Ardiwisastra, Penaf siran dan Konstruksi Hukum", Cet.l, Bandung : Alumni,

Putusan dan Penetapan Pcngadilan Pcrkara Pidana Nomor Perkara 05/Pid/B/2008/PN Cbn Pcnatapan Nomor : 569/Pdt.P/2004/PN. JKT. BAR Penetapan Nomor : 57/Pdt.P/2007/PN. Jak.Sel Penetapan Nomor : 14/Pdt.P/2006/PN. Cbn Pcrkara Perdata Nomor : 1826.K/Pdt/2005 Jo Nomor 180/Pdt/2004/PT. DKI Jo Nomor

38

Peikara Perdata Nomor : 387.K/Pdt/2007 Jo Nomor 457/Fdt/ZUOW 1. UM jo rsomor

239/Pdt.G/2004/PN.Jkt.Pst Perkara Pidana Nomor Perkara : 475/Pid/2007/PN Jak.Sel Perkara Nomor : 177/1972/Pdt Surakarta Jo Nomor 62/1975/PT. Semarang Jo Mahkamah Agung Nomor 1300.K/Sip/1977 Perkara Pidana Nomor : 1 l/Pid/B/1996/PN/Lwk Jo Nomor 20/Pid.D/1996 PT. Palu Jo Nomor

1077.K7Pid/1997
Perkara Pidana di Tekangon, Banda Aceh Nomor 739.K/Pid/2004 Jo ISfomor 42/Pid/2003/PT.
13XT A T^ -KT^mm- 04/Pi'rl R/7007/PNTKN

Bahan Pustaka dari Internet


www.HukumOnline.com tentang Luinrahiiya Perkawinan www.SuaraKarva-Online.com Perkawinan www.Mail-archive.com tentang Pelaku kawin sir i bisa dipidana www.Pemda-Diy.go.id tentang Status nikah dibawah tangan www.Jawapos.com tentang Pernikahan sebagai instrument bisnis www.Kompas.com tentang Soal Akta Perkawinan di Arjo Wangun Malang tentang Hal-hal bertentangan dengan Undang-undang

Dokumen Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Peraturan Pemer intah Nomor 9 Tahun 1975. Jakarta : Akola. 1998. Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Penjelasan Undang-undang

Nomor 1 Tahun 1974


Indonesia, Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak, Jakarta: Sinar

Graf ika, 2005


Penjelasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979, Tentang

Kpipinhtprann Anak. Jakarta : Trvniti.

39

Indonesia, Undang - Undang tentang Hak Asasi Manusia uu imo. jy lanuu ivyy, jomhw .

Hadi Setia Tunggal, Harvarindo, 1996. Indonesia, Undang - Undang tentang Perlindungan Anak UU No. 23 Tahun 2002. Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, tentang Pencatatan Perkawinan.

Konvensi Hak Anak (Convention On The Rights O f The Child), disetujui oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1989 dan mulai berlaku di Indonesia pada tanggal 25 Agustus 1990, dengan diratif ikasinya Konvensi itu melalui KEPRES NO. 36 tahun 1990, tanggal 25 Agustus 1990.
Depar temen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

40
Curr iculum Vitae

Nama

Tempat/tgl. Lahir Pekerj aan/Jabatan

Erni Agustina, SH, SpN Sidoarjo, 17 Agustus 1956


Dekan Fakultas Hukum UPN "Veteran" Jakarta

NIP
Pangkat/Golongan Jabatan Akademik
Alamat

030 174 866


Pembina Tk. I/IV.b Lektor Kepala ( KUM 624.50 ) Jl. Rengas No. 17 Komplek TNI AL Pangkalan Jati,
Pondok Labu, Jakar ta Selatan

Nama Suami

H. Dadang Suryana Kusumah, SIP Hj. Dhanny Rachmania Kusumah, ST, MT Yudha Wibawa Kusumah, ST

Anak

Riwayat Hidup
a. Pendidikan Formal

S.D Tamat Tahun 1966 SMP Lulus Tahun 1972 SMA Lulus Tahun 1975 Sarjana Lulus Tahun 1981 Sp 1/Nolans Lulus Tahun 1993
Saat ini sedang menyelesaikan diser tasi pada program pascasarjana bidang ilmu hukum

b.

Riwayat Pekerjaan Tahun 1981 Dosen UPN "Veteran" Jawa Timur

Tahun 1992 - 1994 Pudek II Fak. Ilmu Administrasi UPNV Jatim Tahun 1997 - 2000 Pudek IIFISIP UPN "Veteran" Jakarta Tahun 2000 - 2002 Lakhar Dekan Fak.Hukum UPNV Jakarta Tahun 2002 - 2006 Dekan Fakultas Hukum UPNV Jakar ta
Tahun 2006 - Sekarang Dekan Fak. Hukum UPNV Jakar ta periode ke II

Jakar ta,

2009

ERNI AGUSTINA, SH, SpN

IMPLIKASI HUKUlVl um^n, ^-_..

HAK MEWARIS DARI SEORANG ANAK


__ 1,,,TlvTAlvr TTAR OABUL

Dipertahankan Dihadapan Senat Guru Besar Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Jayabaya
@ ~> 1 ic DoKrnari 7009

ERNIAGUSTINA

_. N^; MO SJMIO TUS 1956

PASCA SARJANA UNIVERSITAS JAYA BAYA JAKARTA