Anda di halaman 1dari 21

POLITIK HUKUM

ANALISIS POLITIK HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

NO. 34/PUU-XI/2013 TENTANG PENINJAUN KEMBALI

Prof. Dr. Satya Arinanto, S.H., M.H.

Disusun Oleh :

NAMA : ADITYA ROYANDY RIZKIANDA


NPM : 1706125380
KELAS : EKONOMI PAGI
NO. ABSEN :5

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA


PROGRAM PASCASARJANA ILMU HUKUM EKONOMI
2018
ANALISIS POLITIK HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

NO. 34/PUU-XI/2013 TENTANG PENINJAUN KEMBALI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Umumnya apabila suatu negara telah menggunakan sistem

demokrasi dan meninggalkan sistem otoritarian maka pada dasarnya teori

tujuan hukum yang di kedepankan adalah terkait dengan keadilan.

Dimana hal ini sejalan dengan pendapat dari Gustav Radburch seorang

ahli hukum dan filsuf hukum Jerman pada masa perang dunia kedua yang

menyatakan bahwa urutan dari tujuan hukum yang harus dicapai adalah

kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan.1

Dalam mendefinisikan hukum Lawrence M. Friedman melihat

bahwa hukum selalu mensyaratkan berfungsinya semua komponen

sistem hukum. Sistem hukum dalam pandangan Friedman terdiri dari tiga

komponen, yakni komponen struktur hukum (legal structure), komponen

substansi hukum (legal substance) dan komponen budaya hukum (legal

culture). Struktur hukum (legal structure) merupakan batang tubuh,

kerangka, bentuk abadi dari suatu sistem. Substansi hukum (legal

substance) aturan-aturan dan norma-norma aktual yang dipergunakan

1 Sidharta, Reformasi Peradilan dan Tanggung Jawab Negara, Bunga Rampai

Komisi Yudisial, Putusan Hakim: Antara Keadilan, Kepastian Hukum, dan


Kemanfaatan,Komisi Yudisial Republik Indonesia, Jakarta, 2010, halaman. 3.
oleh lembaga-lembaga, kenyataan, bentuk perilaku dari para pelaku yang

diamati di dalam sistem. Adapun kultur atau budaya hukum (legal culture)

merupakan gagasan-gagasan, sikap-sikap, keyakinan-keyakinan,

harapan-harapan dan pendapat tentang hukum.2

Dalam menselaraskan sistem hukum yang ada di indonesia

perubahan terhadap suatu aturan hukum merupakan suatu keniscayaan.

Aturan pidana yang ada saat ini telah mengalami beberapa penambahan,

pengurangan dan perubahan tetapi jiwa dari aturan pidana yang ada

belum mengalami perubahan. Aturan yang dipakai oleh praktisi hukum

selama kurang lebih 71 tahun ini masih memiliki jiwa dari aturan hukum

yang dibuat oleh Belanda.3

Perubahan-perubahan tersebut tidak terlepas karena adanya

transisi politik dari otoritarian yang lekat dengan era orde baru dengan

demokratis yakni pasca reformasi yang lebih mengedepankan

keadilan dan hak asasi manusia di Indonesia. Hak-hak yang

tercantum dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak

Asasi Manusia terdiri dari:4

1. Hak untuk hidup. Setiap orang berhak untuk hidup,

mempertahankan hidup, meningkatkan taraf kehidupannya, hidup

2 Lawrence M, Friedman, Law and Society An Introduction, New Jersey: Prentice


Hall Inc, 1977, halaman 6-7.
3 Soeharjo SS, Politik Hukum dan Pelaksanaannya dalam Negara Republik

Indonesia, Universitas Diponegoro,1992, halaman 2.


4 Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia, UU Nomor

39 tahun 1999, LN Tahun 1999 Nomor 165, TLN Nomor 3886.


tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin serta

memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat.

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Setiap orang berhak

untuk membentuk kelaurga dan melanjutkan keturunan melalui

perkawinan yang syah atas kehendak yang bebas.

3. Hak mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk

memperjuangkan hak pengembangan dirinya, baik secara pribadi

maupun kolektif, untuk membangun masyarakat, bangsa dan

negaranya.

4. Hak memperoleh keadilan. Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak

untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan,

pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata,

maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang

bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang

menjamin pemeriksaan secara obyektif oleh Hakim yang jujur dan

adil untuk memperoleh putusan adil dan benar.

5. Hak atas kebebasan pribadi. Setiap orang bebas untuk memilih dan

mempunyai keyakinan politik, mengeluarkan pendapat di muka

umum, memeluk agama masing-masing, tidak boleh diperbudak,

memilih kewarganegaraan tanpa diskriminasi, bebas bergerak,

berpindah dan bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia.

6. Hak atas rasa aman. Setiap orang berhak atas perlindungan diri

pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, hak milik, rasa aman dan


tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk

berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

7. Hak atas kesejahteraan. Setiap orang berhak mempunyai milik,

baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain demi

pengembangan dirinya, bangsa dan masyarakat dengan cara tidak

melanggar hukum serta mendapatkan jaminan sosial yang

dibutuhkan, berhak atas pekerjaan, kehidupan yang layak dan

berhak mendirikan serikat pekerja demi melindungi dan

memperjuangkan kehidupannya.

8. Hak turut serta dalam pemerintahan. Setiap warga negara berhak

turut serta dalam pemerintahan dengan langsung atau perantaraan

wakil yang dipilih secara bebas dan dapat diangkat kembali dalam

setiap jabatan pemerintahan.

9. Hak wanita. Seorang wanita berhak untuk memilih, dipilih, diangkat

dalam jabatan, profesi dan pendidikan sesuai dengan persyaratan

dan peraturan perundang-undangan. Di samping itu berhak

mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan

atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam

keselamatan dan atau kesehatannya.

10. Hak anak. Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua,

keluarga, masyarakat dan negara serta memperoleh pendidikan,

pengajaran dalam rangka pengembangan diri dan tidak dirampas

kebebasannya secara melawan hukum.


Putusan MK No. 34/PUU-XI/2013 sontak menimbulkan pro dan

kontra dikalangan masyarakat, disatu sisi ada pendapat yang menyatakan

bahwa PK lebih dari satu kali merupakan upaya untuk melindungi hak

masyarakat dalam memperoleh keadilan. Namun di sisi lain ada pendapat

yang menyatakan bahwa PK lebih dari satu kali merupakan bentuk

pelanggaran terhadap prinsip kepastian hukum.

B. Pokok Permasalahan
1. Bagaimana aturan hukum yang mengatur mengenai proses

permohonan peninjauan kembali (PK) sebelum adanya Putusan

MK Nomor: 34/PUU-XI/2013 di Indonesia?

2. Apakah dasar pengajuan Peninjauan Kembali dapat diajukan

lebih dari satu kali berdasarkan Putusan MK Nomor: 34/PUU-

XI/2013 di Indonesia?

C. Maksud dan Tujuan Penelitian


1. Untuk menjelaskan dasar untuk mengajukan Peninjauan

Kembali di Indonesia;

2. Untuk menjelaskan peluang pencapaian keadilan jika

Peninjauan Kembali dapat dilakukan lebih dari sekali.


BAB II

PENGAJUAN PENINJAUAN KEMBALI SEBELUM

PUTUSAN MK NO. 30/PUU-XI/2013

Menurut Hans Kelsen menyebut tujuan hukum sebagai Grund norm

atau Basic Norm.5 Tujuan hukum harus dipahami sebagai dasar sekaligus

pengikat dalam pembentukan perundang-undangan. Disini aspek nilai

yang terkandung di dalam tujuan hukum semakin penting artinya, dan

secara instrumental berfungsi, terutama bagi pembuat peraturan

kebijaksanaan (technical policy). Berkaitan dengan tujuan hukum di

Indonesia, maka pancasila dikatakan sebagai tujuan hukum (rechtsidee)

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Eksistensi pengajuan Peninjauan Kembali (PK) dalam ketentuan

Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dilatarbelakangi

kasus dalam praktek peradilan yaitu kasus Sengkon bin Yakin dan Karta

alias Karung alias Encep bin Salam dalam putusan Pengadilan Negeri

(PN) Bekasi No.2/KTS/BKS/1977 tanggal 20 Oktober 1977.6 Kemudian

Pengadilan Tinggi (PT) Bandung No.38/1978/Pid/PTB tanggal 25 Mei

1978 yang menguatkan putusan PN Bekasi. Hingga Terpidana tidak

mengajukan kasasi maka putusan secara langsung telah mempunyai

kekuatan hukum yang tetap. Beberapa tahun kemudian muncul pelaku

sebenarnya dalam putusan PN Bekasi No.6/1980/Pid/PNBks tanggal 15

5 Esmi Warasih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang:

Suryandaru Utama, 2005, halaman 46.


6 Lilik Mulyadi, Kompilasi Hukum Pidana dalam Perspektif Teoritis dan Praktik

Peradilan, Bandung: Mandar Maju, 2010, halaman 153.


Oktober 1980 (terhukum Gunel bin Kuru, Siih bin Siin, Warnita bin Jaan)

dan putusan PN Bekasi No.7/1980/Pid/PNBks tanggal 13 November 1980

(terhukum Elli bin H.Senam, Nyamang bin Naing, Jabing bin H.Paih).7

Dalam pelaksanaannya melalui hukum acara pidana, upaya hukum

dalam penegakkan hukum pidana dapat dibedakan menjadi dua yaitu

upaya hukum biasa dan paya hukum luar biasa.

Upaya hukum menurut Pasal 1 butir 12 KUHAP di atas telah

membedakan antara upaya hukum biasa (bab XVII) dan upaya hukum

luar biasa (Bab XVIII), terdiri atas dua, yaitu:8

a. Upaya hukum biasa:

1. Banding;

2. Kasasi.

b. Upaya hukum luar biasa

1. Kasasi demi kepentingan umum;

2. Peninjauan kembali atas putusan pengadilan yang telah

berkekuatan hukum tetap (herziening).

Dasar Yuridis pengaturan Upaya Hukum Peninjauan Kembali

terdapat di dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana sebagaimana

diatur di dalam BAB XVIII pada bagian kedua dan terdiri dari 6 Pasal yakni

pasal 263 sampai dengan 269 KUHAP.

7 Adami Chazawi, Lembaga (PK) Perkara Pidana, Penegakkan Hukum dalam

Penyimpangan Praktik & Peradilan Sesat, Jakarta: Sinar Grafika, 2011, halaman 205.
8 Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum

Acara Pidana, UU Nomor 8 tahun 1981, LN Tahun 1981 Nomor 76, TLN Nomor 3258
Pengaturan dasar mengenai tindak pidana pencurian terdapat di

dalam Pasal 268 ayat 3 KUHAP yang menyatakan bahwa “Permintaan

peninjauan kembali atas suatu putusan hanya dapat dilakukan satu kali

saja”.

Pasal 268 ayat (3) juga merupakan salah satu dari syarat formil dari

pengajuan peninjauan kembali perkara pidana di Indonesia.9

Pasal 268 ayat (3) KUHAP membenarkan atau memperkenankan

peninjauan kembali atas suatu perkara hanya satu kali saja. Prinsip ini

berlaku atas permintaan kasasi dan kasasi kepentingan hukum. Khusus

dalam permintaan peninjauan kembali maupun dalam permintaan kasasi

kepentingan hukum prinsip ini tidak begitu menyentuh rasa keadilan. Lain

halnya denga upaya peninjauan kembali, asas ini agak menyentuh rasa

keadilan. Seolah-olah prinsip ini merupakan suatu tantangan antara

kepastian hukum dengan rasa keadilan, dan dengan berani

mengorbankan keadilan dan kebenaran demi tegaknya kepastian hukum.

Selain diatur dalam UU No. 8 Tahun 1981 (UU Tentang Hukum Acara

Pidana), Pengaturan Hukum Upaya Hukum Luar Biasa Peninjauan

Kembali juga diatur dalam Undang- Undang Mahkamah Agung. Acara

pemeriksaan peninjauan kembali ini dilakukan menuurut ketentuan

sebagiamana yang dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1) yang isinya adalah

sebagai berikut: “ Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan hanya

1 (satu) kali.” Sama hal nya seperti yang diatur dalam UU No.8 Tahun

9 Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi dan Perkara Pidana, Jakarta:

Sinar Grafika, 2004, halaman 74-76


1981, bahwa upaya hukum peninjauan kembali hanya dapat dilakukan

sebanyak 1 kali. Pada pasal ini juga mempertegas bahwa upaya hukum

luar biasa berupa PK, tidak akan menghalangi suatu proses eksekusi.

Dalam semua perkara, baik itu perdata, pidana umum dan pidana khusus.

Walaupun ada upaya PK tetapi proses eksekusi dapat dilakukan.10 Maka

dapat kita simpulkan bahwa upaya Peninjauan Kembali (PK) tidak akan

menunda pelaksanaan putusan kasasi.11

Terdapat aturan hukum yang mengatur mengenai upaya hukum

peninjauan kembali di dalam Undang- Undang Kekuasaaan Kehakiman

yakni Pada Pasal 24 UU No. 48 Tahun 2009 yang disebutkan sebagai

berikut, “ Terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan

peninjauan kembali”

Dalam Pasal tersebut juga diatur bahwa tidak dapat diajukan

peninjauan kembali atas putusan peninjauan kembali. Oleh karena itu,

apabila jaksa telah mengajukam upaya hukum peninjauan kembali

(PK)/Herziening maka terpidana tidak diperkenankan lagi untuk

mengajukan peninjauan kembali. Diskusi tentang PK yang diadakan oleh

Lembaga Advokasi Hukum dan Demokrasi untuk Pembaruan (LANDEP)

pada tanggal 23 Juni 2009 menghadirkan Anton Suyata, Soekotjo

Soeparto dan Benyamin mangkudilaga. Anton Suyata memaparkan PK

hanya dapat diajukan satu kali dan tidak ada PK diatas PK. Soekotjo

10 http://ambonekspres.fajar.co.id/2015/09/14/pk-tak-halangi-proses-eksekusi/
diakses pada tanggal 10 Maret 2018, pukul 13.20 WIB.
11 www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4e1bdb25858ea/apakah-upaya-hukum-pk-

dapat-menunda-eksekusi- , diakses pada tanggal 10 Maret 2018, pukul 13.15 WIB.


menyampaikan bahwa PK diatas PK akan merusak bangunan system

hukum di Indonesia.12

John Locke dimulai dengan menggambarkan keadaan alam ,

gambar jauh lebih stabil dari Thozas Hobbes negara “perang bagi setiap

orang melawan setiap orang,” dan berpendapat bahwa semua manusia

diciptakan sama dalam keadaan alam oleh Tuhan. Dari ini, ia melanjutkan

dengan menjelaskan kenaikan hipotetis properti dan peradaban, dalam

proses menjelaskan bahwa satu-satunya pemerintah yang sah adalah

mereka yang memiliki persetujuan rakyat. Oleh karena itu setiap

pemerintah bahwa aturan-aturan tanpa persetujuan dari orang dapat

secara teori digulingkan.13

12 Elza Faiz, Artikel, Diskusi Tentang PK, Peninjauan Kembali (PK) Dalam Tata

Hukum Indonesia, Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2009, halaman 9.


13
Satya Arinanto, Politik Hukum 1 Edisi Pertama, Jakarta: Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 2018, halaman 3.
BAB III

DASAR PERTIMBANGAN PENGAJUAN PENINJAUAN KEMBALI

PUTUSAN NO. 34/PUU-XI/2013

Dalam konteks Putusan MK No. 34/PUU-XI/2013 yang menjadi

hukum adalah bahwa untuk masalah permohonan pengajuan peninjauan

kembali yang akan diajukan oleh para pemohon PK dalam hal ini

dikhususkan mengenai PK perkara pidana, kini sudah dapat dilakukan

lebih dari satu kali dengan syarat pengajuan PK difokuskan pada adanya

novum yang berdasarkan perkembangan ilmu dan teknologi yang pada

saat berpekara belum ada. Norma utama yang diputus dalam perkara ini

adalah bahwa hak untuk mengajukan PK lebih dari satu kali oleh

pemohon PK sebagai hak konstitusional warga negara berdasarkan pada

penegakkan rasa keadilan tidak boleh dilanggar.

Terkait dengan hal tersebut diatas maka mengenai teori tujuan

hukum dikemukakan oleh Gustav Radbruch seorang ahli filsafat hukum,

cita hukum dapat dipahami sebagai suatu konstruksi pikiran yang

merupakan keharusan untuk mengarahkan hukum pada cita-cita yang

diinginkan masyarakat. Gustav Radbruch berpendapat bahwa tujuan

hukum berfungsi sebagai tolok ukur yang bersifat regulative dan

konstruktif. Tanpa tujuan hukum, maka produk hukum yang dihasilkan itu

akan kehilangan maknanya.14

14 Esmi Warasih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang:

Suryandaru Utama, 2005, halaman 43.


Tujuan hukum mengandung prinsip yang berlaku sebagai norma

bagi keadilan atau ketidakadilan hukum, dengan demikian cita hukum

secara serentak memberikan manfaat ganda yaitu dengan cita hukum

dapat diuji hukum positif yang berlaku, dan pada cita hukum dapat

diarahkan hukum positif menuju hukum yang adil.15

Untuk mencapai tujuan hukum seperti tujuan hukum menurut

Sudikno diatas, maka perlu untuk dihubungkan dengan teori cita hukum

oleh Gustav Radbruch, dimana ada 3 (tiga) nilai dasar cita hukum yang

seyogyanya menjadi dasar dalam mengoperasikan hukum di Indonesia

yaitu:16

1) Nilai Kepastian

Kepastian hukum menurut Soedikno Mertokusumo, merupakan

salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum.

Sehingga kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap

tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat

memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.17

Montesquieu memberikan gagasan yang kemudian dikenal sebagai asas

nullum crimen sine lege, yang tujuannya memberikan perlindungan hukum

bagi setiap warga Negara terhadap kesewenangan Negara.18

2) Nilai Kemanfaatan

15 Heo Hujbers, Filsafat Hukum dalam Lintas Sejarah, Yogyakarta: Kanisus,


1995, halaman 129.
16 Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1997,

halaman 73-74
17 ibid
18 Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1997,

halaman 73-74
Dalam Pelaksanaan atau penegakan hukum, masyarakat

mengharapkan manfaatnya. Hukum adalah untuk manusia, maka

pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau

kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai pelaksanaan atau penegakan

hukum menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.19

3) Nilai Keadilan

Nilai keadilan dalam peninjauan kembali yang dapat dilakukan lebih

dari satu kali yaitu memberikan kebebasan hak dalam mengajukan

peninjauan kembali dengan alasan adanya novum terkait dengan

perkembangan teknologi dan pengetahuan yang belum pernah diajukan

sebelumnya dalam persidangan maupun PK awal, dan juga benar-benar

merupakan bukti yang memuat fakta baru buka merupakan perulangan

semata. Sebab PK berulang tersebut dapat juga memperhatikan keadilan

korektif, dimana perlu memperbaiki sesuatu yang salah ketika kesalahan

dilakukan Negara melalui putusan hakim yang sudah berkekuatan hukum

tetap. Maka keadilan korektif berupaya untuk memberikan kompensasi

yang memadai bagi pihak yang dirugikan, yaitu pihak terpidana yang telah

dirampas hak-haknya oleh Negara, melaui penangkapan, penyidikan,

penahanan, dan proses persidangan. Oleh karena itu peninjauan kembali

bertujuan untuk mengembalikan hak-hak terpidana, apabila ditemukan

bukti atau keadaan baru dimana dimungkinkan untuk hakim akan

memberikan putusan bebas atau lepas kepada terpidana.

19 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum,

Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993,halaman 2.


Melihat kepastian hukum dan keadilan, seperti melihat dua sisi

mata uang. Karena keduanya harus ada untuk menciptakan keadaan

damai. Sebuah keadilan tidak dapat dicapai apa bila kepastian tidak

dipenuhi. Disini kedua nilai itu mengalami antinomies, karena menurut

derajat tertentu, nilai-nilai kepastian dan keadilan harus mampu

memberikan kepastian terhadap hak tiap orang secara adil, tetapi juga

harus memberikan manfaat darinya.20

Sebagaimana dinyatakan oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa:21

Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama dari segala hukum.

Kebutuhan terhadap ketertiban ini, syarat pokok (fundamental) bagi

adanya suatu masyarakat manusia yang teratur. Lepas dari segala

kerinduan terhadap hal-hal lain yang juga menjadi tujuan dari hukum,

merupakan suatu fakta objektif yang berlaku bagi segala masyarakat

manusia dalam segala bentuknya. Disamping ketertiban, tujuan lain dari

hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan

ukurannya, menurut masyarakat dan zamannya. Untuk mencapai

ketertiban dalam masyarakat, diperlukan adanya kepastian dalam

pergaulan antar manusia dalam masyarakat.

Sehingga jelas dalam putusan tersebut sesungguhnya sesuai

dengan tujuan dalam hukum acara pidana yaitu mencari keadilan materil

yaitu kebenaran yang sebenar benarnya atau paling tidak mendekati

20 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum,

Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993,halaman 101-102.


21 Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan,

Bandung, Alumni, 2006, Halaman 3.


kebenaran yang hakiki. Dan dalam putusan tersebut juga dapat kita

pahami bahwa sesungguhnya kepastian hukum harus mengalah jika

keadilan ditemukan atau dengan kata lain kebenaran struktural harus

mengalah jika kebenaran subtantif ditemukan. Selain itu putusan tersebut

juga senafas dengan teori hukum progresif yaitu hukum untuk manusia

bukan manusia untuk hukum sehingga ketika hukum tidak bisa

memberikan keadilan keada manusia maka hukum tersebut bisa

dikesampingkan.

Namun disisi lain implikasi putusan tersebut adalah dampak teknis

bagi hakim MK dalam memeriksa perkara akan mengalami kekacauan

atau kewalahan dalam melayani permintaan peninjauan kembali,

mengingat belum adanya aturan, lanjutan yang mengatur putusan

tersebut.

Disamping kepastian hukum yang terabaikan, juga terkait dengan

ketentuan penyelesaian perkara pidana dengan asas cepat, sederhana

dan biaya murah. Dalam pelaksanaannya, asas penyelesaian perkara

pidana secara cepat, sederhana dan biaya murah masih sangat jauh dari

harapan, waktu yang lama bahkan mencapai usia tahunan,22 apalagi

dengan lembaga PK yang terbuka dan dapat dilakukan berkali-kali tanpa

batas akan berlangsung selama puluhan tahun bahkan lebih dari itu

selama kemungkinan novum itu ditemukan dan diajukan.

22 Fachmi, Kepastian Hukum mengenai Putusan Batal Demi Hukum dalam

Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Bogor: Ghalia Indonesia, 2011, Halaman 38.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian dan analisis pembahasan mengenai isu hukum

yang dihadirkan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik beberapa

kesimpulan yang terangkum dalam beberapa point berikut:

Aturan Hukum yang mengatur mengenai Upaya hukum peninjauan

kembali (Herziening) dalam perkara pidana diatur dalam beberapa

peraturan perundang- undangan di Indonesia, yaitu antara lain sebagai

berikut:

(1) Pasal 263 sampai dengan 269 UU No. 8 TAHUN 1981

tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

(2) Pasal 66 UU No. 14 Tahun 1985 Jo UU No. 5 Tahun 2004

Jo. UU No. 3 Tahun 2009 Tentang Mahkamah Agung

(3) Pasal 24 UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan

Kehakiman.

Selanjutnya, Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan Putusan

terkait Upaya Hukum Peninjauan Kembali yakni Putusan No. 34/PUU-

XI/2013 yang mencabut pasal 268 ayat (3) KUHAP. Dasar Perimbangan

Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 34/PUU-XI/2013

terkait peninjauan kembali dalam perkara pidana adalah Bahwa upaya

hukum luar biasa PK secara historis-filosofis merupakan upaya hukum

yang lahir demi melindungi kepentingan terpidana. Adapun upaya hukum

luar biasa bertujuan untuk menemukan keadilan dan kebenaran materiil.


Keadilan tidak dapat dibatasi oleh waktu atau ketentuan formalitas yang

membatasi bahwa upaya hukum luar biasa PK hanya dapat diajukan satu

kali, karena mungkin saja setelah diajukannya PK dan diputus, ada

keadaan baru (novum) yang substansial baru ditemukan yang pada saat

PK sebelumnya belum ditemukan. Adapun penilaian mengenai sesuatu itu

novum atau bukan novum, merupakan kewenangan Mahkamah Agung

yang memiliki kewenangan mengadili pada tingkat PK.

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013

terhadap upaya hukum peninjauan kembali adalah Bahwa Putusan

Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013 tidak mengganggu tujuan

dan fungsi peninjauan kembali. Pada dasarnya peninjauan kembali

dimaksudkan semata-mata untuk melindungi kepentingan terpidana,

bukan kepentingan negara atau korban. Peninjauan kembali yang kini

tidak dibatasi, jelas akan lebih melindungi kepentingan terpidana untuk

mencari keadilan.

Putusan MK Nomor 34/PUU-XI/2013 tidak mengganggu asas litis

finiri oportet maupun kepastian hukum. Perkara yang dimohonkan

Peninjauan Kembali hanya perkara yang telah berkekuatan hukum tetap,

sehingga terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut

bisa dapat langsung dilaksanakan putusannya. Karena pada dasarnya

Permohonan Peninjauan Kembali tidak menangguhkan eksekusi putusan

yang telah berkekuatan hukum tetap. Dengan demikian, keadaan


demikian sudah dapat dikatakan sebagai akhir perkara (karena dapat

langsung dieksekusi) dan sudah menjamin kepastian hukum.

B. Saran

Dari kesimpulan yang telah penulis paparkan diatas, maka terdapat

beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yaitu:

1. Pemerintah melalui aparat penegak hukum bersama DPR

hendaknya segera membentuk perturan perundang- undangan

yang baru yang dapat menjelaskan sejara jelas dan lengkap

mengenai pembatasan pengajuan upaya peninjauan kembali

agar tidak mengakibatkan terjadinya multitafsir dan kebingungan

terhadap peraturan perundang- undangan.

2. Setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

34/PUU-XI/2013 perlu segera dilakukan tindak lanjut berupa

revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum

Acara Pidana, khususnya di bagian tentang Peninjauan Kembali

Putusan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap.

3. Setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

34/PUU-XI/2013 diperlukan sinkronisasi ketentuan-ketentuan

terkait upaya hukum peninjauan kembali seperti Pasal 24 ayat

(2) Undang-Undang 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman dan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3

Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung dan ketentuan-ketentuan

lainnya yang terkait dengan upaya hukum peninjauan kembali.


DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Adami Chazawi, Lembaga (PK) Perkara Pidana, Penegakkan Hukum


dalam Penyimpangan Praktik & Peradilan Sesat, Jakarta: Sinar
Grafika, 2011.

Elza Faiz, Artikel, Diskusi Tentang PK, Peninjauan Kembali (PK) Dalam
Tata Hukum Indonesia, Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2009

Esmi Warasih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang:


Suryandaru Utama, 2005, halaman 43.

Fachmi, Kepastian Hukum mengenai Putusan Batal Demi Hukum dalam


Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Bogor: Ghalia Indonesia, 2011.

Heo Hujbers, Filsafat Hukum dalam Lintas Sejarah, Yogyakarta: Kanisus,


1995.

Lawrence M, Friedman, Law and Society An Introduction, New Jersey:


Prentice Hall Inc, 1977,

Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi dan Perkara Pidana,


Jakarta: Sinar Grafika, 2004,

Lilik Mulyadi, Kompilasi Hukum Pidana dalam Perspektif Teoritis dan


Praktik Peradilan, Bandung: Mandar Maju, 2010, .

Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia,


1997Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang
Penemuan Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993.
Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan,
Bandung, Alumni, 2006.

Satya Arinanto, Politik Hukum 1 Edisi Pertama, Jakarta: Fakultas Hukum


Universitas Indonesia, 2018

Sidharta, Reformasi Peradilan dan Tanggung Jawab Negara, Bunga


Rampai Komisi Yudisial, Putusan Hakim: Antara Keadilan,
Kepastian Hukum, dan Kemanfaatan,Komisi Yudisial Republik
Indonesia, Jakarta, 2010.

Soeharjo SS, Politik Hukum dan Pelaksanaannya dalam Negara Republik


Indonesia, Universitas Diponegoro,1992,
UNDANG - UNDANG

Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia, UU


Nomor 39 tahun 1999, LN Tahun 1999 Nomor 165, TLN Nomor
3886.

Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang


Hukum Acara Pidana, UU Nomor 8 tahun 1981, LN Tahun 1981
Nomor 76, TLN Nomor 3258

INTERNET

www.ambonekspres.fajar.co.id/2015/09/14/pk-tak-halangi-proses-
eksekusi/ diakses pada tanggal 10 Maret 2018, pukul 13.20 WIB.

www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4e1bdb25858ea/apakah-upaya-
hukum-pk-dapat-menunda-eksekusi- , diakses pada tanggal 10
Maret 2018, pukul 13.15 WIB.