Anda di halaman 1dari 11

UPAYA PELESTARIAN PLASMA NUTFAH DI BALAI PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT (BALITTRO) BOGOR Oleh : Badrul Munir,

S.TP, MP (PBT Ahli Pertama BBPPTP Surabaya) I. PENDAHULUAN Sumber plasma nutfah yang dimiliki Indonesia merupakan plasma nutfah alami yang terdapat dalam berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di hutan belantara. Demikian pula plasma nutfah potensial yang terdapat dalam ekosistem pertanian dan pemukiman. Plasma nutfah jenis kedua ini terkandung dalam flora dan fauna yang sudah digunakan masyarakat dan sudah berperan dalam kegiatan kultivasi. Beberapa plasma nutfah menjadi rawan, langkah bahkan sampai punah karena terjadinya perubahan-perubahan besar dalam penggunaan sumber daya hayati dan penggunaan lahan tempat mereka hidup, dan perubahanperubahan habitatnya yang disebabkan oleh terjadinya pemanfaatan yang tidak terkendali. Selain pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah, hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah pengamanannya. Pengamanan plasma nutfah yang dimaksud adalah untuk menghindari terjadinya pengambilan plasma nutfah oleh negara lain secara bebas. Saat ini masih sulit dilakukan tanpa adanya prinsip-prinsip yang perlu dianut dalam kerja sama pemanfaatan plasma nutfah dengan negara lain. Plasma nutfah merupakan sumber daya yang memiliki arti ekonomi dan sosial yang sangat penting. Banyak jenis tanaman mempunyai makna global dan nasional berasal dari Indonesia seperti lada hitam, cengkeh, tebu dll. Mengingat kedepan tentang plasma nutfah akan semakin tinggi misalnya kebutuhan bahan-bahan hayati untuk obat serta pengolahan pangan yang sangat pesat, sehingga dengan demikian sangat perlu adanya upaya guna mencegah erosi plasma nutfah yang diawali dengan kerusakan ekosistem dan kepunahan beberapa spesies hayati. Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) merupakan lembaga konservasi yang melaksanakan penelitian tanaman rempah dan obat. Dibentuk berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 06 / Permentan / OT.140/3/2006, tanggal 1 Maret 2006. Balittro berada dikawasan Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor, Jawa

Barat. Balittro memiliki fungsi sebagai lembaga penelitian genetik, pemuliaan dan perbenihan tanaman rempah dan obat.

II. PELESTARIAN PLASMA NUTFAH Indonesia merupakan salah satu wilayah prioritas konservasi keanekaragaman hayati dunia (Suhartini, 2009). Plasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam setiap makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau ditarik untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru. Sebagai salah satu sumber daya alam, pengelolaan dan pemanfaatan plasma nutfah sekarang ini dirasa kurang optimal. Hal ini disebabkan banyak terjadi erosi genetika yang berakibat pada berkurang dan hilangnya jenis-jenis tanaman tertentu. Sebagai salah satu lembaga penelitian yang mempunyai tugas dalam pelestarian, Balittro telah melakukan berbagai kegiatan pelestarian plasma nutfah yang meliputi eksplorasi, konservasi, karakterisasi dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman rempah dan obat. Selain itu juga melakukan penelitian agronomi, morfologi, fisiologi, ekologi, entomologi dan patologi pada tanaman rempah dan obat; melakukan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agrobisnis tanaman rempah dan obat; pelayanan teknis kegiatan penelitian tanaman rempah dan obat; penyiapan kerjasama informasi, dokumentasi, penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman rempah dan obat, serta melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.

1. Koleksi Plasma Nutfah Koleksi plasma nutfah merupakan kegiatan pengumpulan yang diikuti dengan penyimpanan dan pemeliharaan hasil eksplorasi baik dalam bentuk materi maupun informasi tentang plasma nutfah tersebut. Menurut Komisi Nasional Plasma Nutfah di dalam buku Pedoman Pengelolaan Pelestarian Plasma Nutfah (2002), teknik konservasi plasma nutfah dapat dilakukan secara In situ, Ex situ, On-farm/Lapang, Cold storage dan cryopreservation, kultur in vitro dan enkapsulasi. Bentuk konservasi plasma nutfah yang dilakukan di Balittro meliputi konservasi di lapang, konservasi di rumah kaca, dan konservasi in vitro. Secara rinci bentuk konservasi adalah sebagai berikut :

a. Konservasi di lapang Konservasi yang dilakukan dengan menggunakan menanam bahan tanam (baik berupa perbanyakan generatif ataupun vegetatif) pada lokasi lahan yang strategis. Lokasi lahan yang memenuhi adalah lokasi yang mudah dicapai, tidak tercemar hama dan penyakit, mudah dijangkau untuk penyediaan sarana (pupuk), pengangkutan bahan tanam atau benih dan tersedianya sumber air yang mencukupi. Pemeliharaan koleksi sangat menentukan hasil yang akan diperoleh, oleh karena itu diperlukan cara budidaya yang tepat, agar potensi genetik akan muncul dan tanaman tidak terserang OPT yang dapat mengakibatkan kerusakan atau bahkan kematian tanaman. Konservasi di lapang terdapat pada Kebun Percobaan (KP). Cicurug, KP. Cimanggu, KP. Cikampek, KP. Sukamulya, KP. Manoko, dan KP. Laing. Gambar 1 menunjukkan salah kebun koleksi di lapang.

Gambar 1. Konservasi di Lapang Kebun Percobaan Cimanggu

b. Konservasi di rumah kaca Konservasi ini dilakukan untuk tanaman yang rentan terhadap OPT dan perubahan lingkungan. Bentuk konservasi ini juga sebagai back up untuk antisipasi apabila konservasi di lapang mati. Tanaman-tanaman dalam bentuk benih maupun stek hasil kegiatan eksplorasi memerlukan adaptasi lingkungan setelah diambil dari lokasi tumbuhnya sehingga semua tanaman yang baru datang baik hasil eksplorasi maupun konservasi in vitro disimpan, dihidupkan, diamati kemudian diperbanyak
3

dan disebar ke lapangan atau kebun-kebun percobaan. Konservasi rumah kaca pada Balittro terdapat 7 buah; 1 buah di masing-masing Kebun Percobaan dan 1 buah di Kantor Pusat Balittro.

Gambar 2. Konservasi di Rumah Kaca, Balittro

c.

Konservasi in vitro Konservasi in vitro ditujukan utamanya pada koleksi tanaman yang

langka dan sulit dikembangbiakkan dilapangan. Kegiatan ini dilakukan di dalam laboratorium yang steril. Keberhasilan penyimpanan in vitro selain untuk mengurangi biaya rejuvenasi yang biasa dilakukan setiap tahun juga untuk membantu dalam penyediaan benih. Konservasi in vitro juga merupakan back up apabila koleksi plasma nutfah dilapang atau di rumah kaca tidak berhasil atau mati. Koleksi plasma nutfah dalam bentuk konservasi in vitro yang dilakukan di Balittro terdapat 22 jenis masing masing 10 tabung kultur.

Gambar 3. Konservasi di Laboratorium (in vitro)


4

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) merupakan salah satu penyedia plasma nutfah secara ex situ, yaitu pelestarian di luar habitat aslinya dalam bentuk tanaman hidup di kebun koleksi. Balittro dengan lima kebun yang dimiliki mulai menata dan menentukan lahan-lahan yang diperuntukkan untuk melestarikan koleksi-koleksi yang termasuk koleksi kerja dan membedakan koleksi plasma nutfah yang ada dikebun dengan visitor plot/petak pamer. Dari koleksi-koleksi yang dilestarikan di kebunkebun koleksi, beberapa komoditas penting yang jumlah koleksinya cukup banyak, melalui kegiatan utilisasi dengan melakukan seleksi dari aksesiaksesi yang telah terkarakterisasi dan terevaluasi diperoleh aksesi-aksesi terpilih sesuai dengan target program pemuliaan untuk dijadikan aksesiaksesi unggulan calon varietas unggul. Jenis-jenis tanaman obat yang sudah menjadi varietas unggul antara lain jahe, kencur, kunyit, nilam dan serai wangi sedangkan jenis-jenis lain yang masih dalam proses pemuliaan seperti temulawak, pegagan, sambiloto, mentha, akar wangi dan purwoceng. Konservasi ex situ, berusaha untuk melindungi koleksi-koleksi plasma nutfah yang sudah dimiliki agar tidak punah atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak mempunyai hak. Tujuan pelestarian ex situ adalah a) untuk diintroduksi kembali ke habitat aslinya, b) untuk kegiatan pemuliaan dan c) untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Bentuk konservasi yang dilakukan oleh Balittro kebanyakan

konservasi Ex situ dalam bentuk in vitro, tanam di green house dan dilapang dan kebanyakan tanaman berasal dari Jawa Barat. Dilihat dari data koleksi dan bentuk konservasi pada tahun 2000 koleksi tanaman mentha berasal dari jepang sedangkan nilam berasal dari NAD dan Sumatera Utara dan temulawak berasal dari Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Koleksi tanaman obat secara ex situ sampai tahun 2011 yang dimiliki oleh Balai Tanaman Obat dan Aromatik adalah : 1. KP. Cicurug : 181 spesies dengan 824 aksesi 2. KP. Manoko : 524 aksesi 3. KP. Cimanggu : 170 spesies dengan 326 aksesi 4. KP. Sukamulya : 2 spesies dengan 404 aksesi Kebun percobaan yang dimiliki oleh Balittro antara lain : a. Kebun Percobaan Cicurug Kebun percobaan Cicurug adalah salah satu lokasi pelaksanaan penelitian di bawah Balai Penelitian Obat dan Aromatik Cilayur terletak di
5

kampung Desa Tenjoayu, Cicurug Jawa Barat. KP. Cicurug memiliki mandat dari Balittro sebagai tempat untuk melakukan penelitian dan pengembangan tentang berbagai aspek budidaya untuk mendapatkan teknologi baru, juga sebagai sumber genetik plasma nutfah yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai program perbaikan bahan tanaman tetapi juga sabagai kebutuhan industri tanaman obat daratan rendah. b. Kebun Percobaan Manoko Kebun percobaan Manoko adalah salah satu kebun untuk

melaksanakan suatu kegiatan penelitian, konservasi dan koleksi tanaman obat dan aromatik yang berfungsi sebagai ettalase plasma nutfah tanaman obat dan aromatik yang berada di bawah pengelolaan Balittro. Secara geografis KP. Manoko terletak pada ketinggian 1.200 m dpl, dengan kondisi temperatur minimum 15.533/25,57C (tipe menurut

Oldeman), kelembaban 85,12 %, curah hujan 1.756.5 mm dalam satu tahun serta jenis tanah andosol. KP. Manoko memiliki mandat kegiatan tanaman obat dan aromatik daratan tinggi berupa pemeliharaan dan rejuvinasi sebagai upaya konservasi terhadap sumber daya koleksi plasma nutfah tanaman obat dan aromatik yang ada serta penambahannya dari hasil eksplorasi. Setelah terjadi reorganisasi pada lingkup Badan Litbang Pertanian, sebagian komoditas mandat Balittro beralih ke Balittri, dimana saat ini KP. Manoko masih mempertahankan beberapa jenis tanaman rempah dan aneka tanaman industri lainnya yang masih tetap dipelihara dengan baik seperti tanaman Makadamia, Melaleuca bracteata, Kayu manis dan Pyretrhum. c. Kebun Percobaan Cimanggu Kebun percobaan Cimanggu adalah salah satu kebun tertua setelah kebun raya di kota Bogor, dibawah pertanggung jawaban Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, dengan kelengkapan plasma nutfah tanaman tahunan cukup beragam dengan usia tanaman mencapai ratusan tahun. Kebun koleksi ex situ di KP. Cimanggu telah menampung beberapa jenis tanaman tahunan, tanaman industri, tanaman semusim dan sebagainya yang telah dikelompokkan kedalam 15 kelompok yang didasarkan atas

kegunaannya. d. Kebun Percobaan Suka mulya Kebun percobaan Suka mulya merupakan kebun benih dan memproduksi tanaman lada dan tanaman obat. Secara geografis KP. Suka mulya berada pada ketinggian 350 m dpl.
6

e. Kebun Percobaan Cikampek Sejak tahun 2012 koleksi sumber daya genetik di Balittro bertambah jenisnya sebagai konsekwensi dilimpahkannya KP. Cikampek dan KP. Sukamulya yang dulunya menjadi milik Balittri sekarang beralih ke balittro. Beberapa komoditas tanaman perkebunan yang ada di KP. Cikampek seperti jambu mete, panili, kayu manis, mindi dan asam yang semula menjadi koleksi Balittri diserahkan kepada Balittro.

III. PEMANFAATAN PLASMA NUTFAH Pemanfaatan plasma nutfah oleh pemulia dapat dirakit untuk kemudian di lepas sebagai benih bina disahkan oleh Menteri Pertanian. Tujuan pemanfaatan plasma nutfah oleh Balittro sebagai bahan atau materi genetik untuk pelepasan varietas baru. Sampai dengan Pebruari 2012, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) telah melepas sejumlah 14 jenis tanaman diantaranya lada, serai wangi, jahe gajah, kencur, nilam, kunyit, jahe merah, jahe putih kecil, temulawak, mentha, pegagan, kunyit, sambiloto dan akar wangi. Keragaan tanaman obat dan aromatik yang sudah dilepas dan menjadi koleksi Balittro dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Koleksi Plasma Nutfah yang telah dilepas
No 1 Jenis Tanaman Lada Nama Varietas Natar 1 SK. Menteri 274/Kpts/KB/230/4/1988 Nama Peneliti Auzay Hamid, Yang Nuryani, Rusli Kasim, Djiman Sitepu, Pandji Laksamanahardja dan Pasril Wahid Natar 1 275/Kpts/KB/230/4/1988 Auzay Hamid, Yang Nuryani, Rusli Kasim, Djiman Sitepu, Pandji Laksamanahardja dan Pasril Wahid Petaling 2 276/Kpts/KB/230/4/1988 Auzay Hamid, Yang Nuryani, Rusli Kasim, Djiman Sitepu, Pandji Laksamanahardja dan Pasril Wahid Petaling 1 277/Kpts/KB.230/4/1988 Auzay Hamid, Yang Nuryani, Rusli Kasim,

Djiman Sitepu, Pandji Laksamanahardja dan Pasril Wahid Lada lampung 465/Kpts/TP.240/7/1993 daun kecil Yang Nuryani, Auzay Hamid Wahid Lada Bengkayang 466/Kpts/TP.240/7/1993 Yang Nuryani, Auzay Hamid Wahid Lada Chunuk 467/Kpts/TP.240/7/1993 Yang Nuryani, Auzay Hamid Wahid 2 Serai Wangi 3 Jahe gajah Serai wangi T- 627/Kpts/TP.240/11/1992 ang 1 Cimanggu 1 109/Kpts/TP.240/2/2001 M. Hadad EA, N. O. Hobir, Mohamad Mansur dan Pasril dan Pasril dan Pasril

Bermawie, Rostiana,

Taryono, S. Fatimah, Nur Ajizah dan U. Rasiman 4 Kencur Galesia 1 316/Kpts/SR.120/8/2005 Otih Rostiana, Wawan Haryudin, Rosita SMD dan Supriadi Galesia 2 317/Kpts/SR.120/8/2005 Otih Rostiana, Wawan Haryudin, Rosita SMD dan Supriadi Galesia 3 318/Kpts/SR.120/8/2005 Otih Rostiana, Wawan Haryudin, Rosita SMD dan Supriadi 5 Nilam Sindikalang 319/Kpts/SR.120/8/2005 Yang Nuryani, Hobir, Cheppy Syukur dan Ika Mustika Lhokseumawe 320/Kpts/SR.120/8/2005 Yang Nuryani, Hobir, Cheppy Syukur dan Ika Mustik Tapak Tuan 321/Kpts/SR.120/8/2005 Yang Nuryani, Hobir, Cheppy Syukur dan Ika Mustik 6 Kunyit Turina 1 118/Kpts/SR.120/2/2007 Cheppy Syukur, Laba

Udarno, Supriadi, Otih Rostiana, Budi

Martono, Siti Fatimah Syahid Turina 2 119/Kpts/SR.120/2/2007 Cheppy Syukur, Laba Udarno, Supriadi, Otih Rostiana, Budi

Martono, Siti Fatimah Syahid Turina 3 119/Kpts/SR.120/2/2007 Cheppy Syukur, Laba Udarno, Supriadi, Otih Rostiana, Budi

Martono, Siti Fatimah Syahid 7 Jahe merah Jahira 1 122/Kpts/SR.120/2/2007 Hobir, Nurliana

Bermawie, Nur Ajijah, Sukarman, Budi

Martono, Siti Fatimah Syahid Jahira 2 121/Kpts/SR.120/2/2007 Hobir, Nurliana

Bermawie, Nur Ajijah, Sukarman, Meynarti

S.D Ibrahim dan Susi Purwiyanti 8 Jahe Putih Halina 1 Kecil 124/Kpts/SR.120/2/2007 Nurliani Budi Ajijah, Syahid, Hermanto Halina 2 125/Kpts/SR.120/2/2007 Nurliani Bermawi, Bermawi, Nur

Martono, Siti

Fatimah Taryono,

Hadad, Nur Ajijah, Siti Fatimah Syahid, Susi Purwiyanti Halina 3 126/Kpts/SR.120/2/2007 Nurliani Budi Ajijah, Bermawi, Nur

Martono, Siti

Fatimah

Syahid, Meynarti SD Ibrahim Halina 4 123/Kpts/SR.120/2/2007 Nurliani Bermawi, Siti Fatimah Syahid, Budi

Martono,Nur Ajijah 9 Temulawa k Cursina 2 2051/Kpts/SR.120/7/2010 Cursina 1 2050/Kpts/SR.120/7/2010 Rudi T. Setyono, Nur Ajijah, N. Bermawie Rudi T. Setyono, Nur Ajijah, N. Bermawie Cursina 3 2052/Kpts/SR.120/7/2010 Rudi T. Setyono, Nur Ajijah, N. Bermawie 10 Mentha Mearsia 1 4001/Kpts/SR.120/12/2010 Endang Hadipoentyanti, Amalia, Sri Suhesti

dan Nursalam 11 Pegagan Castina 1 1859/Kpts/SR.120/4/2011 Nurliani Susi Bermawie, Purwiyanti,

Meynarti Sari Dewi Castina 2 1960/Kpts/SR.120/4/2011 Nurliani Bermawie,

Susi Purwiyanti, Budi Martono 12 Kunyit Curdonia 1 4577/Kpts/SR.120/11/2011 Joko Pitono, Dono

Wahyuno,

Rodiyah

Balfas, Mahrita Willis, Wawan Lukman, Pujo Hasapto, Bakti 13 Sambiloto Sambina 1 4578/Kpts/SR.120/11/2011 Sri Wahyuni, Hobir, Nurliani Supriadi, Bermawie, Cheppy Rudiana

Syukur, D. Rusmin, M Janurwati, M. Yusron, Wahyu J.P, Sumardi 14 Akar Wangi Verina 1 581/Kpts/SR.120/2/2012 Deliah Endang Hadipoentyanti, Yang Nuryani, Repianyo Verina 2 582/Kpts/SR.120/12/2012 Deliah Endang Hadipoentyanti, Cheppy Repianyo Syukur, Seswita, Seswita,

10

IV. PENUTUP Balittro telah melakukan upaya pelestarian plasma nutfah dengan cukup baik. Saat ini koleksi plasma nutfah tersebut dalam keadan baik dan lestari. Bentuk konservasi yang dilakukan kebanyakan konservasi ex situ dalam bentuk in vitro, tanam di lapang dan tanam di green house. Sumber benihnya kebanyakan berasal dari Provinsi Jawa Barat. Sampai Tahun 2012 koleksi yang dilepas sebanyak 14 komoditas diantaranya lada, serai wangi, jahe gajah, nilam, kencur, kunyit, jahe merah, jahe putih kecil, temulawak, menthe, pegagan, kunyit, sambiloto dan akar wangi.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2002. Pedoman Pengelolaan Pelestarian Plasma Nutfah. Komisi Nasional Sumber Daya Genetik. Bogor Peraturan Menteri Pertanian Nomor 6 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor. Suhartini. 2009. Peran Konservasi Keanekaragaman Hayati Dalam Menunjang Pembangunan Yang Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. UNY Yogyakarta.

11