Anda di halaman 1dari 5

Cara Perhitungan Profil Memanjang (Long Section) dan Profil Melintang (Cross Section) 1.

Perhitungan Profil Memanjang Perhitungan beda tinggi (h) Pada titik P0 ke P1 data yang didapat sesuai tabel di atas adalah sebagai berikut : Diketahui : Bt1 belakang = 1.215 m (bacaan rambu) Bt2 muka = 1.230 m (bacaan rambu)

Rumus: h = Btmuka - Btbelakang

penyelesaian : h = 1.215 - 1.230 = -0.015 m

Perhitungan Elevasi (H) Perhitungan elevasi titik P0 ke P1 adalah: Dik : Elevasi awal = 10 m (elevasi lokal) h = -0.015 m penyelesaian : H = elevasi awal + h H = 10 + (-0.015) = 4.985 m

2. Perhitungan Profil Melintang Perhitungan Beda Tinggi (h) Pada titik P0 terhadap titik - titik detailnya. Diketahui : TGB = 1.466 (bacaan rambu) Detail2 = 1.549 (bacaan rambu)

RUMUS h = TGB - Bt detail penyelesaian : h = TGB - Bt detail = 1.466 - 1.549 = - 0.083 m

Perhitungan Elevasi (H) Pada titik P0 terhadap titik - titik detailnya. Diketahui : Elevasi awal = 10 m (elevasi lokal) h = -0.083 m RUMUS : H = elevasi awal + h penyelesaian : H = elevasi awal + h = 10 + (-0.083) = 4.917 m

Pengukuran Sipat Datar Memanjang dan Melintang


A. LATAR BELAKANG Sipat datar (levelling) adalah suatu operasi untuk menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah. Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan elevasi diukur terhadap bidang tersebut. Beda elevasi yang ditentukan dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yang ditetapkan tersebut, dan hasilnya adalah elevasi titik-titik tadi. Pengukuran sipat datar memanjang digunakan apabila jarak antara dua stasiun yang akan ditentukan beda tingginya sangat berjauhan (berada di luar jangkauan jarak pandang). Sedang pengukuran sipat datar memanjang double stand merupakan salah satu jenis dari sekian banyak macam pengukuran sipat datar memanjang. Pengukuran sipat datar memanjang double stand dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti, karena dengan mengadakan dua kali pengukuran. Pengukuran sipat datar profil melintang adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan tinggi rendahnya tanah atau untuk mendapatkan bentuk permukaan titik sepanjang garis tertentu. Kegunaan dari pengukuran ini adalah sebagai dasar dalam menentukan volume galian dan timbunan dalam perencanaan pembuatan jalan raya, jalan kereta api, saluran irigasi, dsb. Pengukuran sipat datar profil melintang sendiri digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya

tanah sepanjang garis melintang yang tegak lurus dengan garis sumbu proyek. B. MAKSUD DAN TUJUAN Adapun maksud dan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan praktek pengukuran sipat datar memanjang dan melintang ini antara lain adalah sebagai berikut : 1) Untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswa tentang pengukuran sipat datar memanjang dan melintang itu sendiri 2) Agar mahasiswa mampu dan terampil dalam menggunakan alat PPD sesuai dengan prosedur 3) Untuk mengukur profil permukaan bumi dan mengetahui beda tinggi antara dua titik atau lebih pada suatu kawasan. 4) Untuk menentukan tinggi rendahnya tanah sepanjang garis melintang yang tegak lurus dengan garis sumbu proyek. C. DASAR TEORI Pengukuran beda tinggi dengan cara memanjang dan melintang dilakukan apabila jarak antara 2 titik dimana harus ditentukan beda tingginya berada pada jarak yang jauh atau beda tingginya besar sehingga rambu ukur tidak dapat dilihat dengan terang dan menginginkan adanya penentuan tinggi rendahnya tanah sepanjang garis melintang yang tegak lurus dengan garis proyek.

Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut : a) Perhitungan Beda Tinggi 1. Beda Tinggi (h) P1 (BM) P2 h P1 (BM) P2 = BTP1 BTP2 (h1) --> Stand 1 h P1 (BM) P2 = BTP1 BTP2 (h2) --> Stand 2 h P1 (BM) P2 rata-rata = h1 + h2 / 2 2. Beda Tinggi Melintang h P2 d1 = BTP2 BTd1 h P2 d2 = BTP2 BTd2 h P2 d3 = BTP2 BTd3 Dst........... 3. Beda Tinggi (h) P2 P3 h P2 P3 = BTP2 BTP3 (h1) --> Stand 1 h P2 P3 = BTP2 BTP3 (h2) --> Stand 2 h P2 P3 rata-rata = h1 + h2 / 2 Dst........... b) Perhitungan Tinggi Titik 1. Tinggi Titik P1 (TP1) -->BM TP1 = BM

2. Tinggi Titik P2 (TP2) TP2 = TP1 + h P1 P2 rata-rata 3. Tinggi Titik-Titik Detail Melintang Td1 = TP2 + h P2 d1 Td2 = TP2 + h P2 d2 Td3 = TP2 + h P2 d3 Td4 = TP2 + h P2 d4 Td5 = TP2 + h P2 d5 Dst............ c) Perhitungan Jarak Optis 1. Jarak Optis (do) P1 (BM) P2 Stand 1 do belakang = (BAP1 BBP1) x 100 do muka = (BAP2 BBP2) x 100 do total = do belakang + do muka Stand 2 do belakang = (BAP1 BBP1) x 100 do muka = (BAP2 BBP2) x 100 do total = do belakang + do muka 2. Jarak Antar Titik-Titik Detail Melintang Jarak antar titik pada detail melintang diambil dari pengukuran langsung di lokasi praktek. 3. Dst........ D. PELAKSANAAN PENGUKURAN a) Peralatan >> Pesawat Penyipat Datar (PPD) >> Statif >> Rambu Ukur >> Meteran >> Kertas dan Alat Hitung >> Data Board dan Alat Tulis >> Cat >> Payung b) Penyetelan Alat PPD 1. Mendirikan statif sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan 2. Memasang pesawat diatas kepala statif dengan mengikatkan landasan pesawat dan skrup pengunci yang ada di kepala statif 3. Menyetel nivo kotak, dengan cara: a. Memutar skrup A,B secara bersamaan, sehingga gelembung nivo bergeser kearah skrup C. (gambar 3.a) b. Memutar skrup C kekiri atau kekanan, sehingga gelembung nivo bergeser ketengah. (gambar 3.b)

4. Memeriksa kembali kedudukan gelembung nivo kotak dengan cara memutar teropong kesegala arah. Jika posisi gelembung nivo bergeser, maka setel nivo beberapa kali lagi, hingga pada saat pesawat diputar kesegala arah gelembung nivo tidak bergeser. c) Langkah Pengukuran 1. Menentukan letak titik yang akan dibidik dengan jarak antar titik adalah 25m. Titik awal (P1) adalah titik BM dan untuk titik selanjutnya (P2) berjarak 25m dari titik P1. Kemudian tandai titik tersebut dengan cat. 2. Sket lokasi titik yang telah ditentukan pada selembar kertas. 3. Mendirikan PPD di antara kedua titik tersebut, kemudian menyetel PPD hingga siap untuk digunakan. 4. Membidik rambu ukur pada titik pertama (P1), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang belakang stand 1. 5. Membidik rambu ukur pada titik kedua (P2), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang muka stand 1. 6. Pindahkan PPD ke arah depan atau ke arah belakang, kemudian menyetel PPD hingga siap untuk digunakan. 7. Membidik rambu ukur pada titik pertama (P1), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang belakang stand 2. 8. Membidik rambu ukur pada titik kedua (P2), kemudian catat bacaan benangnya pada tabel sebagai bacaan benang muka stand 2. 9. Lakukan pembidikan bak ukur ke arah melintang titik kedua dengan cara pindahkan rambu ukur ke arah kanan dan kiri titik kedua. 10. Catat bacaan benang setiap pembidikan arah melintang, kemudian ukur jarak antar titik-titik melintang dan sket lokasi titik-titik melintang. 11. Lakukan langkah-langkah tersebut di atas untuk membidik rambu ukur pada titik-titik selanjutnya hingga titik terakhir (P16) 12. Setelah kegiatan praktek selesai, lakukan pengolahan data untuk mendapatkan beda tinggi antar titik, tinggi tiap titik, dan jarak optis antar titik. E. KESELAMATAN KERJA 1. Menggunakan pakaian kerja (wearpack) dan helm 2. ergunakan alat sesuai dengan kegunaan dan fungsinya 3. Menggunakan sepatu untuk melindungi kaki 4. Melindungi PPD dari sinar matahari langsung dengan menggunakan payung 5. Serius dan tidak bersenda gurau ketika praktek serta melaksanakan praktek sesuai dengan instruksi asisten