Anda di halaman 1dari 16

A.

Judul Percobaan : Titrasi Konduktometri


B. Waktu Percobaan
Sebelum : 10 April 2014, pkl 07.00 wib
Sesudah : 10 April 2014, pkl 10.00 wib
C. Tujuan Percobaan : Menentukan titik akhir titrasi asam-basa secara konduktometri
D. Kajian Pustaka
1. Konduktometri
Salah satu sifat larutan elektrolit adalah kemampuannya untuk menghantarkan
arus listrik. Sifat hantaran ini sangat berguna di dalam pemecahan berbagai
persoalan dalam bidang elektroanalisis. Secara kuantitatif sifat hantaran ini dapat
digunakan untuk analisis suatu zat yang dipelajari dalam konduktometri.
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar
listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan
pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya
hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan
(R), sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm. Bila arus listrik dialirkan
dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G)
berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A) dan berbanding terbalik
dengan jarak kedua elektroda (l).

Kuat lemahnya larutan elektrolit sangat ditentukan oleh partikel-partikel
bermuatan di dalam larutan elektrolit. Larutan elektrolit akanmengalami ionisasi,
dimana zat terlarutnya terurai menjadi ion positif dan negatif, dengan adanya muatan
listrik inilah yang menyebabkan larutan memiliki daya hantar listriknya. Proses
ionisasi memegang peranan untuk menunjukkan kemapuan daya hantarnya, semakin
banyak zat yang terionisasi semakin kuat daya hantarnya. Demikian pula sebaliknya
semakin sulit terionisasi semakin lemah daya hantar listriknya. Untuk larutan
elektrolit besarnya harga 0 << 1, untuk larutan non-elektrolit maka nilai =0.
Dengan ukuran derajat ionisasi untuk larutan elektrolit memiliki jarak yang cukup
besar, sehingga diperlukan pembatasan larutan elektrolit dan dibuat istilah larutan
elektrolit kuat dan larutan elektrolit lemah. Untuk elektrolit kuat harga = 1,
sedangkan elektrolit lemah harga derajat ionisasinya, 0 << 1.
Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya
hantar ekuivalen yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekuivalen zat
terlarut di antara dua elektroda dengan jarak kedua elektroda 1cm. Yang dimaksud
dengan berat ekuivalen adalah berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau
negatif. Contoh berat ekuivalen BaCl2 adalah BM BaCl2 dibagi dua. Volume
larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekuivalen zat terlarut diberikan oleh,

dengan C adalah konsentrasi (ekuivalen/cm ), bilangan 1000 menunjukkan 1
liter = 1000 cm
3
. Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak
kedua elektroda.

Dengan l sama dengan 1 cm ,

Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,

Daya hantar ekuivalen akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram
ekuivalen larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm. Daya hantar
ekuivalen pada larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion.
Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan
larutan dan jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.
a. Sumber Listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan
merupakan proses faraday, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua
elektroda. Sedangkan arus AC tidak memerlukan reaksi elektro kimia pada
elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus listrik bukan akibat proses
faradai. Perubahan karena proses faraday dapat merubah sifat listrik sel, maka
pengukuran konduktometri didasarkan pada arus non faraday atau arus AC.
b. Jembatan Wheatstone
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran
daya hantar.
c. Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang
elektroda yang terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa
logam yang dilapisi logam platina untuk menambah efektifitas permukaan
elektroda.
Konduktivitas ditentukan oleh jenis ion. Sehingga untuk mengetahui
kemampuan tiap jenis ion, maka perlu dilakukan percobaan dengan larutan yang
sangat encer, sehingga tidak dipengaruhi oleh ion lain. Pada kondisi seperti ini,
maka konduktovitas larutan merupakan jumlah konduktovitas ion positif (kation)
dan ion negative (anion).

o adalah konduktivitas molar ion pada larutan sangat encer (konsentrasi mendekati
nol).
Harga konduktovitas molar beberapa ion dengan konsentrasi mendekati nol di
tabelkan sebgai berikut:

2. Titrasi Konduktometri
Titrasi konduktometri digunakan untuk menentukan daya hantar larutan
sampel setelah ditambahkan titran. Didalam titrasi konduktometri kita akan
mendapatkan beberapa kemudahan yang mungkin tidak kita dapatkan jika kita
menggunakan dengan titrasi lainya, misal tidak menggunakan indikator, karena
dalam titrasi konduktometri ini kita hanya mengukur daya hantar larutan. Jadi dalam
titrasi konduktometri ini kita tidak perlu mencari titik ekuivalen dengan melihat
adanya perubahan warna. Walaupun demikian masih banyak kelemahankelamahan
dalam titrasi konduktometri ini. Karena kita tahu bahwa dalam titrasi konduktometri
hanya terbatas untuk larutan yang tergolong kedalam larutan elektrolit saja.
Sedangkan untuk larutan non elektrolit tidak dapat menggunakan titrasi
konduktometri. Titrasi konduktometri ini sangat berhubungan dengan daya hantar
listrik, jadi juga akan berhubungan dengan adanya ionion dalam larutan yang
berperan untuk menghantarkan arus listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan
bisa melewati larutan yang tidak terdapat ionion, sehingga larutan non elektrolit
tidak bisa menghantarkan arus listrik.
Dalam titrasi konduktometri ini juga sangat berhubungan dengan konsentrasi
dan temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantarnya. Sehingga kita
harus menjaga temperatur larutan agar berada dalam keadaan konstan, sehingga kita
dapat membedakan perbedaan dari daya hantar larutan hanya berdasarkan perbedaan
konsentrasi saja. Jika temperatur berubahubah maka bisa saja konsentrasi yang
besar seharusnya memilki daya hantar yang besar malah memiliki daya hantar yang
kecil karena suhunya menurun. Sehingga ionion dalam larutan tidak dapat begerak
dengan bebas.
Titrasi konduktometri metode konduktometri dapat digunakan untuk
menentukan titik ekuivalen suatu titrasi, berupa beberapa contoh titrasi
konduktometri adalah titrasi asam kua-basa kuat sebagai contoh larutan HCl dititrasi
oleh NaOH. Kedua larutan ini adalah penghantar listrik yang baik. Kurva titrasi
ditunjukkan pada gambar dibawah ini,

Daya hantar H+ turun sampai titik ekuivalen tercapai. Dalam hal ini jumlah
H+ makin berkurang di dalam larutan, sedangkan daya hantar OH- berrtambah
setelah titik ekuivalen (TE) tercapai karena jumlah OH- di dalam larutan bertambah.
Jumlah ion Cl- di dalam larutan tidak berubah, karena itu daya hantar konstan
dengan penambahan NaOH. Daya hantar ion Na+ bertambah secara perlahan-lahan
sesuai dengan jumlah ion Na+.
Hal-hal berikut harus selalu diingat-ingat ketika melakukan titrasi :
a. Penyesuaian pH
Untuk banyak titrasi EDTA, pH larutan sangat menentukan sekali,
seringkali harus dicapai batas-batas dari 1 satuan pH dan sering batas-batas dari
0,5 satuan pH harus dicapai, agar suatu titrasi yang sukses dapat dilakukan. Untuk
mencapai batas-batas kontrol yang begitu sempit, perlu digunakan sebuah pH-
meter sewaktu menyesuaikan nilai pH larutan, dan bahkan untuk kasus di mana
batas pH adalah sedemikian sehingga kertas uji pH boleh digunakan untuk
mengontrol penyesuain pH, hanyalah kertas dari jenis dengan jangkau yang
sempit boleh digunakan.
b. Pemekatan ion logam yang akan dititrasi
Kebanyakan titrasi berhasil dengan baik dengan 0,25 milimol ion logam
yang bersangkutan dalam volume 50-150 cm3 larutan. Jika konsentrasi ion logam
itu terlalu tinggi; maka titik akhir mungkin akan sangat sulit untuk dibedakan, dan
jika kita mengalami kesulitan dengan titik akhir, maka sebaiknya mulailah lagi
dengan satu porsi larutan uji yang lebih sedikit, dan encerkan ini sampai 100-150
cm
3
sebelum menambahkan medium pembufer dan indikator, lalu diulangi titrasi
itu.
c. Banyak nya indikator
Penambahan indikator yang terlalu banyak merupakan kesalahan yang
harus kita hindarkan. Dalam banyak kasus, warna yang ditimbulaan oleh
indikator sanagt sekali bertambah kuat selama jalannya titrasi, dan labih jauh,
banayak indikator memperlihatkan dikroisme, yaitu terjadi suatu perubahan
warna peralihan pada satu dua tetes sebelum tiik akhir yang sebenarnya.
d. Penyampaian titik akhir
Dalam banyak titrasi EDTA, perubahan warna disekitar titik akhir, mungkin
lambat. Dalam banyak hal-hal demikian, sebaiknya titran ditambahkan dengan
hati-hati sambil larutan terus menerus diaduk; dianjurkan untuk memakai
pengaduk magnetic. Sering, titik akhir yang lebih tajam dapat dicapai jika larutan
dipanaskan sampai sekitar kira-kira 40
O
C. Titrasi dengan CDTA selalu lebih
lambat dalam daerah titik akhir divbanding dengan titrasi EDTA padanan.
Pengukuran konduktovitas (hantaran) dapat pula di gunakan untuk penentuan
titik ahir titrasi. Titrasi konduktometri dapat dilakukan dengan dua cara, tergantung
padafrekuensi arus yang digunakan. Jika frekuensi arus bertambah cukup besar,
maka pengaruh kapasitan dan induktif akan makin besar. Adapun jenis titrasi
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Titrasi konduktometri yang dilakukan dengan frekuensi arus rendah (maksimum
300Hz)
Penambahan suatu elektolit ke elektrolit lain pada keadaan yang tidak ada
perubahan volum yang begitu besar akan mempengaruhi konduktivitas larutan
terjadi reaksi ionik atau tidak. Jika tidak terjadi reaksi ionik, maka perubahan
konduktivitas sedikit sekali atau hampir tidak ada. Bila terjadi reaksi ionik, maka
perubahan konduktivitas yang relatif cukup besar sehingga dapat diamati, seperti
pada titrasi basa kuat oleh asam kuat. Dalam titrasi ini terjadi penurunan
konduktivitas karena terjadi penggantian ion hidrogen, yang mempunyai
konduktivitas tinggi, dengan kation lain yang mempunyai konduktivitas rendah.
Pada titrasi penetralan, pengendapan, dan lain-lain, penentuan titik ahir titrasi
titrasi di tentukan berdasarkan perubahan koduktivitas (hantaran) dari reaksi
kimia yang terjadi. Hantaran di ukur pada setian penambahan sejumlah pereaksi
dan titik pengukuran tersebut bila di alurkan memberikan 2 garis lurus yang
saling perpotongan dinamakan titik ekuivalen titrasi. Ketepatan metode ini
bergantung pada sudut perpotongan dan kerapatan titik pengukuran. Secara
praktik konsentrasi penitran 20-100 kali lebih kali pekat dari larutan yang di
titrasi. Kelebihan titrasi ini, baik untuk asam yang sangat lemah seperti asam
borat dan fenol yang secara potensiometri tidak dapat di lakukan. Selain itu,
titrasi konduktometri tidak perlu kontrol suhu.
b. Titrasi yang dilakukan dengan menggunakan frekuensi arus tinggi disebut titrasi
frkuensi tinggi
Metode ini sesuai untuk sel yang terdiri atas sistem kimia yang dibuat
bagian dari atau di pasangkan dengan sirkuit osilator beresonasi pada frekuensi
beberapa mega hertz. Keuntungan Keuntungan cara ini antara lain elektroda di
tempatkan di luar sel dan tidak langsung kontak dengan larutan uji. Kerugiannya
adalah respon tidak spesifik karena bergantung pada konduktovitas(hantaran) dan
tetapan di elektrik dari sistem.
Menurut hukum Ohm

di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam volt, R = tahanan dalam
ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda tidak terjadi.
Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan sehingga I = EL.
Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan
berbanding lurus pada luas permukaan elektroda a, konsentrasi ion persatuan volume
larutan Ci, pada hantaran ekuivalen ionik S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak
elektroda d, sehingga:

Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion terhadap konduktansi
bersifat aditif. Karena a, dan d dalam satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam
ml. Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000.
nilai d/a = S
merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel
tertentu sehingga disebut tetapan sel. Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan,
larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan
kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal,
suatu larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian
jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui larutan suatu
elektrolit dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam komposisi larutan di
dekat sekali dengan lektrode-elektrode, begitulah potensial-potensial dapat timbul
pada elektrode-elektrode, dengan akibat terbawanya sesatan-sesatan serius dalam
pengukuran-pengukuran konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi demikian
dapat dikurangi sampai proporsi yang terabaikan.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya
bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan
suatu elektrolit diencerkan, konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada
per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua
elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup
seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar
disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat
dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.
Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi-
kondisi yang tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi
konduktans (hantaran) larutan, tergantung apakah ada tidaknya terjadi reaksi-reaksi
ionik. Jika tak terjadi reaksi ionik, seperti pada penambahan satu garam sederhana
kepada garam sederhana lain (misal, kalium klorida kepada natrium nitrat),
konduktans hanya akan naik semata-mata. Jika terjadi reaksi ionik, konduktans dapat
naik atau turn; begitulah pada penambahan suatu basa kepada suatu asam kuat,
hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen yang konduktivitasnya
tinggi oleh kation lain yang konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah prinsip yang
mendasari titrasi-titrasi konduktometri yaitu, substitusi ion-ion dengan suatu
konduktivitas oleh ion-ion dengan konduktivitas yang lain.
Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi
bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti
reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah
penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang
berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi
larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya
tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi. Hendaknya diperhatikan
pentingnya pengendalian temperatur dalam pengukuran-pengukuran konduktans.
Sementara penggunaan termostat tidaklah sangat penting dalam titrasi
konduktometri, kekonstanan dalam temperatur dituntut, tetapi biasanya kita hanya
perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam bejana besar penuh air pada temperatur
laboratorium. Penambahan relatif (dari) konduktivitas larutan selama reaksi dan
pada penambahan reagensia dengan berlebih, sangat menentukan ketepatan titrasi;
pada kondisi optimum kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah besar,
yang tak ambil bagian dalam reaksi, tak boleh ada, karena zat-zat ini mempunyai
efek yang besar sekali pada ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri memiliki
aplikasi yang jauh lebih terbatas ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri
ataupun amperometri.
Kelebihan titrasi konduktometer
titrasi tidak menggunakan indikator, karena pada titik keivalen sudah dapat
ditentukan dengan daya hantar dari larutan tersebut.
Dapat digunkan untuk titrasi yang berwarna
Dapat digunakan untuk titrasi yang dapat menimbulkan pengendapatan
Lebih praktis
Lebih cepat atau waktu yang diperlukan lebih sedikit
Untuk persen kesalahanya lebih kecil jika dibandingkan dengan titrasi volumetri
kekurangan titrasi konduktometer
Hanya dapat diterapkan pada larutan elektrolit saja
Sangat dipengaruhi temperatur
Dapat ditunjukka dengan tidak langsung
Peralatan cukup mahal
Jika tidak hati hati maka akan cepat rusak
Tidak bisa digunakan pada larutan yang sangat asam atau basa karena akan meleleh.



E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Konduktometer 1 buah
b. Pengaduk magnet 1 buah
c. Buret 50 mL 1 buah
d. Gelas kimia 250 mL 4 buah
e. Statif dan klem 1 buah
f. Pipet gondok 25 mL 1 buah
g. Propipet 1 buah
h. Botol semprot 1 buah
2. Bahan
a. HCl 0,1 N
b. NaOH 0,1 N
c. Aquadesh
d. Tissu












F. Alur Kerja

G. Hasil Pengamatan





Alat
konduktometer
Volume eqivalen
dan mg NaOH
- Dinyalakan selama 10 menit untuk pemanasan
- elektrodanya dicuci dengan aquades dan dikeringkan
dengan tissu
- Masukkan HCl kedalam buret sebagai titran
- kemudian memasukkan 25 mL NaOH 0,1 N kedalam
labu erlenmeyer 250 mL sebagai titrat.
- kemudian titrasi dengan HCl, putar dengan magnetic
stirrer
- kemudian masukkan elektroda kedalam labu erlenmeyer
dan hitung konduktans nya.
- volume HCl yang ditambahkan dicatatat sampai dengan
volume HCl 40 mL serta catat
- buat grafik vS Volume NaOH
- buat grafik

vs V ;

vs V ;

vs V
H. Pembahasan
Pada penentuan titik akhir asam-basa dengan metode konduktometri tidak
digunakan indikator karena dalam titrasi konduktometri hanya mengukur daya hantar
larutan. Jadi dalam titrasi konduktometri ini kita tidak perlu mencari titik ekivalen
dengan melihat adanya perubahan warna, dikarenakan titik ekivalen dapat diamati
dengan mudah melalui grafik antara volume titran yang ditambahkan dan besarnya
konduktansi suatu larutan hasil titrasi tersebut.
Prinsip metode ini adalah ion-ion yang berada dalam larutan, sehingga biasanya
Larutan yang diukur konduktivitasnya adalah larutan elektrolit karena larutan tersebut
dapat menghasilkan ion-ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Titrasi
konduktometri dilakukan dengan menggunakan alat konduktometer untuk
mempermudah dalam pengukuran konduktansi suatu larutan. Prinsip kerja
konduktometer adalah bagian konduktor (elektroda) dimasukkan ke dalam larutan akan
menerima rangsang dari suatu ion-ion yang menyentuh permukaan konduktor, lalu
hasilnya akan diproses dan sebagai outputnya berupa angka konduktansi. Semakin
banyak konsentrasi suatu ion dalam larutan maka semakin besar nilai daya hantarnya
karena semakin banyak ion-ion dari larutan yang menyentuh konduktor dan semakin
tinggi suhu suatu larutan maka semakin besar nilai daya hantarnya, hal ini karena saat
suatu partikel berada pada lingkungan yang suhunya semakin bertambah maka pertikel
tersebut secara tidak lansung akan mendapat tambahan energi dari luar dan dari sinilah
energi kinetik yang dimiliki suatu partikel semakin tinggi (gerakan molekil semakin
cepat).
Pada percobaan ini, dilakukan penentuan titik ekuivalen antara larutan HCl dan
larutan NaOH dimana kedua larutan ini, merupakan penghantar listrik yang baik. Pada
praktikum kali ini HCl sebagai titran sedangkan NaOH sebagai titer. Dalam titrasi
konduktometri penentuan daya hantar listrik sangat berhubungan dengan konsentrasi dan
temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantar listriknya. Sehingga kita harus
menjaga temperature larutan NaOH agar berada dalam keadaan konstan, sehingga kita
dapat memebedakan perbedaan dari daya hantar larutan berdasarkan perbedaan
konsentrasi dari larutan tersebut. Ketika dipanaskan atau diberikan kenaikan suhu maka
gerakan dari ion-ion dalam larutan akan semakin acak sehingga kemampuan untuk
menghantarkan elektron atau listrik akan semakin meningkat. Hal ini berati
konduktansinya meningkat. Begitu sebaliknya jika suhu diturunkan. Semakin besar
konsentrasi maka semakin banyak jumlah ion-ion yang berada dalam larutan akibatnya
kemungkinan menghantarkan listrik akan semakin meningkat. Ketika konsentrasi
diturunkan maka jumlah ion dalam satuan volume pelarut akan menurun sehingga
konduktansi akan menurun juga.
25 mL NaOH dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 250 ml kemudian diukur nilai
konduktans nya dan didapat 29,7. Kemudian Larutan NaOH dititrasi dengan HCl
sebanyak 5 mL kemudian diaduk dengan magnetic stirrer selama 1 menit. Proses
pengadukan dilakukan dengan magnetik stirrer. Hal ini dilakukan agar dapat
mengoptimalkan kemampuan daya hantar listrik sehingga ionnya dapat menyebar
merata. Penambahan titran dalam praktikum dilakukan secara bertahap dan dilakukan
pencatatan konduktansi larutan tersebut. Diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut
V HCl
0 29.7
5 23.5
10 18.5
15 14.7
20 11.7
22 10.5
24 9.5
25 9.2
25.2 9.1
25.4 9.1
25.6 9.1
25.8 9
26 8.9
26.5 8.9
27 8.9
28 8.9
30 9.5
35 13
40 16.3



Kemudian dari data diatas diperoleh grafik 1 sebagai berikut :

Diperoleh juga grafik grafik sebagai berikut :
Grafik 2 Volume HCl vs /V

Grafik 3 volume HCl vs V/


y = -0.4399x + 22.61
R = 0.5347
0
5
10
15
20
25
30
35
0 10 20 30 40 50


v HCl
v HCl vS

Linear ()
y = 0.0269x - 0.9187
R = 0.3165
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
0 10 20 30 40 50

V

v HCl
Volume HCl vs /V
/V
Linear (/V)
y = -0.0109x - 0.6759
R = 0.0037
-6
-4
-2
0
2
4
0 10 20 30 40 50

V
/


V HCl
volume HCl vs V/
V/
Linear (V/)


Grafik 4 Volume HCl vs
2
/V
2


Pada titrasi NaOH dan HCl diperoleh grafik 1 yang berbentuk huruf V. Hantaran awal dari
analit sangat besar nilainya, hal ini dikarenakan oleh sifat dari NaOH yang merupakan basa
kuat yang akan terurai seutuhnya didalam larutan. Oleh karenanya, nilai hantaran saat titrasi
belum dimulai sangatlah besar. Selanjutnya saat penambahan HCl kedalam analit, nilai
hantaran yang terbaca berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya ion H
+
dari titran HCl yang
masuk kedalam larutan sampel disertai dengan berkurangnya ion OH
-
dari NaOH akibat
reaksi dengan ion H
+
membentuk H
2
O. Reaksinya sebagai berikut :
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

Oleh karena itu, setiap dilakukan penambahan titran HCl ke dalam analit, diperoleh nilai
hantaran yang semakin kecil. Pada pertengahan kurva, terlihat adanya perbedaan gradien
yang signifikan dari sebelumnya. Titik dimana gradien kurva berubah secara drastis inilah
yang menunjukkan titik ekivalen titrasi.
Oleh karena adanya penggantian ion Na
+
oleh ion H
+
, maka nilai hantaran larutan pun naik.
Hal ini mengindikasikan bahwa konduktansi dari ion H
+
lebih besar dibanding konduktansi
ion Na
+
. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa jika muatan suatu ion sama,
ukuran dari ion tersebut menentukan besarnya konduktansi (daya hantar) ion tersebut. Oleh
karena ion H
+
dan ion Na
+
sama-sama bermuatan +1, dan ukuran ion H
+
lebih kecil dibanding
ion Na
+
, maka konduktansi ion H
+
akan bernilai lebih besar dibanding konduktansi Na
+
.
y = -0.0191x + 0.551
R = 0.2712
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
0 20 40 60

V
2

Volume HCl
Volume HCl vs
2
/V
2

2/V2
Linear (2/V2)
Berdasarkan grafik diatas diperoleh volume ekivalen sebesar 28 mL sehingga diperoleh
normalitas dari NaOH sebesar 0,112 N dengan perhitungan sebagai berikut :
Ekivalen NaOH = ekivalen HCl
V NaOH x N NaOH = V HCl x N HCl
N NaOH x 25 = 28 x 0,1 N
N NaOH = 0,112 N
Berdasarkan volume NaOH tersebut dapat pula diukur massa dari NaOH dengan
perhitungan sebagai berikut :
Mg NaOH = N NaOH x V NaOH x Mr NaOH x n
= 0,112 N x 25.10
-3
L x 39,997 gr/mol x 1
= 111,99188 . 10
-3
gram
= 111,99188 mg

I. Kesimpulan
Berdasarkan titrasi asam-basa metode konduktometri dengan larutan HCl dan NaOH
diperoleh volume ekivalen sebesar 28 mL. Sehingga diperoleh konsentrasi dari NaOH
sebesar 0,112 N dengan massa NaOH sebesar 111,99188 mg.

J. Daftar Pustaka
Ahmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung : PT. Cipta Aditya Bakti.
Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.
Muizliana, Choir. 2010. Percobaan 5
Konduktometri.Http://choalialmu89.blogspot.com/2010/10/percobaan5konduktom
etri.html diakses pada 27 April 2014.
Scribd. 2010. Sekilas Tentang Konduktometri.
Http://www.scribd.com/doc/5006057/konduktometri diakses pada 26 Desember
2010.
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganuik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta : PT Kalman Media Pustaka.
Tim Dosen Kimia Analitik. 2014.Metode Elektro Analitik. Surabaya : Laboratorium
Kimia, FMIPA, UNESA.