Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Istilah cacing sering digunakan untuk pengertian hewan kecil bertubuh memeanjang
dan tidak mampnyai kaki, memang, dulupun para ahli hewan menganggap bahwa semua
cacing memiliki persamaan-persamaan yang khas sehingga mereka menggolongkanya
kedalam satu filum vermes. Vermes (kata vermes berasala dari bahasa latin yang artinya
cacing), ujung posterior (ujung belakan, ekor), permukaan dorsal (perut) permukaan ventral
(permukaan bawah perut), sedangkan tubuhnya dibagi menjadi bagian kanan dan bagian kiri
yang sama, dengan kata lain tubuh cacing itu simetrs bilateral. Sekarang para ahli sepakat
bahwa cacing- cacing tidak dapat digolongkan dalam satu filum karna ada ada tiga filum
yaitu; Plathyhelmites, Nermathelminthes dan Annelida.
1. Filum Platyhelminthes
Platyhelminthes disebut cacing pipih. Platyhelminthes mempunyai tubuh lunak
berbentuk pipih seperti pita atau daun. Tubuh cacing ini berukuran sangat kecil, namun
panjangnya dapat mencapai beberapa mater. Hidup di air tawar serta di tempat lembab.
Anggota platyhelminthes banyak yang hidup sebagai parasit. Platyhelminthes mempunyai
alat penghisap. Filum Platyhelminthes dibagi dalam 3 kelas, yaitu Kelas Turbelaria, Kelas
Trematoda dan Kelas Cestoda.
2. Filum Nemathelminthes
Nemathelminthes disebut juga cacing benang. Tubuh tidak beruas-ruas, ukuran tubuh
mikroskopis, tetapi ada yang makroskopis. Tubuh bagian luar ditutupi selapis kutikula.
Kutikula ini lebih kuat pada cacing parasit yang hidup pada inangnya dari pada cacing yang
hidup bebas. Filum Nemnathelminthes terbagi menjadi dua kelas, yaitu Kelas Nematoda dan
Kelas Nematomorpha.
3. Filum Annelida
Annelida disebut cacing cincin, cacing gelang, atau cacing bersegmen. Annelida
mempunyai saluran pencernaan yang sudah sempurna, namun tidak mempunyai rangka luar.
Bentuk tubuh bulat panjang dan bersegmen-segmen seolah-olah seperti sederetan cincin
memanjang. Segmen-segmen tidak hanya terdapat pada tubuh bagian luar, tetapi juga pada
tubuh bagian dalam. Berdasarkan jumlah seta, Annelida dikelompokkan ke dalam 3 kelas
yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.




2
1.2. Rumusan Masalah
Apa saja bagian klasifikasi Vermes?
Apa ciri-ciri dari setiap klasifikasi Vermes?
Dimana habitat dari setiap klasifikasi Vermes?
Bagaimana reproduksi pada klasifikasi Vermes?
Bagaimana perananannya?


1.3.Tujuan
Untuk mengetahui:
Klasifikasi Vermes
Ciri-ciri klasifikasi Vermes
Habitat Klasifikasi Vermes
Reproduksi pada Klasifikasi Vermes
Peranannya dalam kehidupan




3
BAB II
PEMBAHASAN


1. VERMES : PLATYHELMITHES

A. PENGERTIAN

Platyhelminthes besal dari bahasa yunani yaitu platy yang berarti pipih dan helminth
yang berarti cacing, dengan demikian platyhelminthes secara keseluruhan dapat dapat
diartikan sebagai cacing pipih.

Hewan-hewan yang termasuk kedalam filum ini sudah memiliki alat-alat yang
sederhana, seperti faring yang bersifat muscular, alat-alat pengeluaran (oragan ekskretorius)
alat-alat kelamin (organ genetalis) dan lain-lain, namun demikian paltyhelminthes memiliki
sistem gastrovasikuler seperti yang terdapat pada coelontereta dengan hanya memiliki satu
muara, yaitu mulut yang sekaligus sebagai Anus.

Tubuh platyhelminthes terdiri dari tiga lapisan jaringan, oleh karena itu hewan-hewan
yang terdapat dalam filum ini juga di kelompokan sebagai hewan triploblastik, ketiga
jaringan yang terdapat pada pltyhelminthes yaitu ektodermis (lapisan luar), mesodermis
(lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam).
B. CIRI-CIRI
Adapun ciri-ciri dari Platyhelminthes, adalah:
Tubuhnya berbentuk pipih dengan beberapa bentuk seperti pita, keadaan
tubuhnya lunak dan tidak memiliki segmen-segmen (berbuku-buku)
Tidak memiliki sistem peredaran darah
Sistem ekresinya dibangun oleh sel-sel berbulu getar yang disebut sel api
(selenosit) dengan saluran-saluranekresinya.
Memiliki kulit luar yang lunak, bersilia atau tertutup oleh lapisan kutikula
yang dilengkapi dengan alat penghisap.
Sisitem saraf terdiri atas ganglion otak dengan saraf-saraf tepi
Reproduksinya berlangsung secara generatif, testis damn ovarium terdapat
bersama-sama dalam satu individu.
Umumnya ditemukan sebagai parasit yang hidup bebas, turbellaria yang hidup
sebagai tidak berparasit.





4
C. KLASIFIKASI
Turbellaria ( Cacing berbulu getar )
Planaria Dugesia sp biasanya hidup di air tawar
yang jernih, melekat pada batu-batuan, atau daun. ,
mempunyai sistem ekskresi dari sel-sel api (Flame
Cell) bersifat Hermafrodit dan berdaya regenerasi
sangat tinggi. Panjang tubuh planaria dapat mencapai
2-3 cm. Pada epidermis bagian permukaan ventral
terdapat silia yang bangun untuk pergerakan. Bagian
kepala planaria tampak berbentuk segitiga terdapat
dua bintik mata yang berfungsi untuk membedakan
intensitas cahaya. Kedua bintik mata tersebut belum dikatakan sebagai alat penglihatan.
Planaria umumnya berkembang biak secara aseksual dan seksual. Monoecious organ
kelamin testes dan ovariumnya membentuk ovotestes atau lebh dikenal dengan
Hermaphhroditus, sehingga melakukan pembuahan sendiri. Perkembangan cacing ini ada dua
macam, yaitu langsung(telur menetas menjadi cacing kecil tetapi menyerupai cacing dewasa)
dan tidak langsung (melalui bentuk larva yang bersilia). Asexual nya dengan fragmentasi
memutuskan bagian tubuhnya membentuk individu baru atau meregenerasi dengan cepat
yang terlihat pada planaria dan cacing pita
System pencernaan makanan planaria terdiri atas mulut, kerongkongan dan usus Faring dapat
dijulurkan untuk menangkap makanan. Memiliki usus yang bercabang tiga, satu cabang
kearah anterior dan dua cabang kea rah posterior.
Trematoda (cacing hisap)
Kelas Trematoda termasuk cacing kait (flukes) baik dalam darah, hati maupun paru-paru.
Alat pengisap(Sucker) terdapat pada mulut di bagian anterior untuk menempel pada tubuh
inangnya berupa ternak , dan jika hati ternak yang ada cacingnya ini kita makan maka kita
akan kena Fasciolasis kebanyakan merupakan hewan parasit karena berada pada tubuh
mahkluk hidup , merugikan karena mengambil bahan organik yang tersedia di inangnya
umumnya hidup di dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata
.Ternak , Ikan , Manusia. Permukaan tubuhnya tidak memiliki silia.Contoh Trematoda adalah
cacing hati Fasciola hepatica di ternak , Chlonorsis sinensis di Ikan
- Fasciola hepatica
Cacing hati ini memiliki daur hidup yang kompleks karena melibatkan sedikitnya dua jenis
inang yaitu inang utama berupa ternak / ikan dan manusia dan inang sebagai perantara siput
air Lymnea truncatula . Daur hidup Cacing hati : Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia -
Cercaria MetaCercaria. Metacercaria berekor berenang ke tanaman sekitar air dimakan.
Inang utama - masuk jadi Cacing Dewasa .




5
Cestoda (Cacing Pita)
Kelas Cestoda terdiri dari cacing pita. Cacing
ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus
vertebrata dan tanpa alat pencernaan. Sistem saraf
sama seperti Planaria dan cacing hati, tetapi kurang
berkembang.Cestoda bersifat parasit karena
menyerap sari makanan melalui permukaan
tubuhnya secara osmosis.
Cacing ini tidak memiliki alat pencernaan, tubuhnya beruas-ruas(disebut proglotid), dan
setiap proglotid mengandung alat reproduksi, ekskresi, serta mampu menyerap sari makanan
dari inangnya. Contoh : Taenia saginata (cacing pita pada sapi), dan Taenia solium (cacing
pita pada babi).
Monogenea
Hewan dari kelas Monogenea umumnya parasite. Hewan ini juga
tidak memiliki rongga tubuh. Monogenera mempunyai sistem
pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus.
Contoh : Neobenedenia. Monogenea dapat ditemukan di kulit, sirip,
dan insang ikan. Bersifat hermafrodit. Siklus hidupnya tidak
mengalami reproduksi aseksual. Pada reproduksinya dihasilkan telur
yang akan mengalami tahap larva, disebut onkomirasidium. Hewan
dewasanya memakan darah, lender, serta sel-sel epitel inangnya.

D. REPRODUKSI
Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada reproduksi
seksual akan menghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma terjadi di dalam tubuh
(internal). Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun dengan pasangan lain. Reproduksi
aseksual tidak dilakukan oleh semua Platyhelminthes. Kelompok Platyhelminthes tertentu
dapat melakukan reproduksi aseksual dengan cara membelah diri (fragmentasi), kemudian
regenerasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru.
E. PERANAN
Karena kebanyakan platyhelminthes hidup sebagai parasit, pada umunya filum ini
akan merugikan manusia, selain manusia, ada pula cacing pita inag domba dan anjing, dulu
amat banyak orang-orang cina, jepang dan korea yang menderita karena penyakit parasit,




6
clonorchis, disamping belum berkembang ilmu kesehatan, maka mereka juga suka makan
ikan mentah atau setengah matang.
Usaha-usaha untuk mencegah infeksi cacing pita pada manusia dan pada inag lain
biasanya dengan memutuskan daur cacing pita, baik dengan cara mencegah jangan sampai
inang perantara terkena infeksi maupun dengan jalan mencegah jangan sampai inag sendiri
terkjena infeksi, selain itu juga pembuangan tinja manusia perlu diatur menurut syarat-syarat
kesehatan sehingga tidak memungkinkan heksakan yang keluar bersama tinja-tinja itu sampai
tertelan babi, sementara itu semua daging babi, sapid an ikan yang mungkin mengandung
sisteserkus harus dimask sebaik-baiknya oleh manusia.


2. VERMES : NEMATHELMINTHES

A. PENGERTIAN

Nemathelminthes (dalam bahasa yunani, nema= benang, helminthes= cacing) disebut
sebagai cacing gilig karena tubuhnya berbentuk bulat panjang atau seperti benang.
Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun bukan rongga tubuh sejati.
Cacing dewasa memiliki pseudocoelom , sebuah ruang tertutup yang berisi cairan berfungsi
sebagai rangka hidrostatik, membantu dalam peredaran dan penyebaran sari makanan. Oleh
karena memiliki rongga tubuh semu, Nemathelminthes disebut sebagai hewan
Pseudoselomata. Permukaan tubuh Nemathelminthes dilapisi kutikula untuk melindungi diri.
Kutikula ini lebih kuat pada cacing parasit yang hidup di inang daripada yang hidup bebas.
Nemathelminthes memiliki sistem percenaan yang lengkap.

Nemathelminthes tidak memiliki sistem respirasi, pernapasan dilakukan secara difusi melalui
permukaan tubuh. Organ reproduksi jantan dan betina terpisah dalam individu berbeda.
Nemathelminthes hidup bebas atau parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan.
Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai sampah organik, sedangkan
yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan darah dari tubuh inangnya.
Habitat cacing ini berada di tanah becek dan di dasar perairan tawar atau laut.
B. CIRI-CIRI
Sistem saraf tangga tali,
Unisexual (Jenis kelamin terpisah)
Memiliki saluran pencernaan
Rongga tubuh Tripoblastik Pseudoselomata (memiliki tiga embrional dan memiliki
selom atau rongga tubuh semu)
Secara Seksual melalui perkawinan silang



7
C. KLASIFIKASI
Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)
Ascaris adalah salah satu contoh cacing gilig
parasit, hidup di dalam usus halus manusia sehingga
sering kali disebut cacing perut. Ascaris
lumbricoides merupakan hewan dioseus, yaitu
hewan dengan jenis kelamin berbeda, bukan
hemafrodit. Ascaris lumbricoides hanya berkembang
biak secara seksual. Ascaris lumbricoides jantan
memiliki sepasang alat berbentuk kait yang
menyembul dari anus disebut spikula. Spikula
berfungsi untuk membuka pori kelamin cacing bretina dan memindahkan sperma saat kawin.
Infeksi cacing ini menyebabkan penyakit askariasis atau cacingan, umumnya pada anak-anak.
Cacing dewasa menghasilkan telur-telur yang akan matang di tanah, saat telur in tertelan
orang, larvanya akan melubangi dinding usus, bergerak ke hati, jantung dan/atau paru-paru.
Contoh Ascaris yang lainnya adalah Ascaris megalocepala, dan Ascaris suilae.
Cacing Tambang ( Ancylostoma )
Cacing ini parasite di usus manusia dan banyak dijumpai pada daerah pertambangan.
Cacing ini menghisap darah sehingga dapat
mengakibatkan kematian, dimana saat cacing ini
menghisap darah ia akan mengeluarkan zat anti koagulan
yang mencegah terjadinya pembekuan darah
korban.Cacing tambang ini bisa menyebabkan Anemia
karena ia menghisap darah. Panjang tubuh cacing dewasa
kurang lebih 1-1,5 cm. Pada usus manusia, jumlah cacing
ini bisa mencapai ribuan ekor, Larva cacing bisa
menembus kaki manusia. Contoh cacing tambang adalah Ancolystoma duodenale, dan
Necator americanus.
Cacing Kremi (Enterobius vermicularis)
Cacing ini disebut cacing kremi karena ukurannya
yang sangat kecil. sekitar 10 -15 mm. Cacing kremi
hidup di dalam usus besar manusia.Cacing kremi tidak
menyebabkan penyakit yang berbahaya namun cukup
mengganggu. Pada saat bertelur, cacing betina menuju
anus untuk memperoleh oksigen. Gerakan cacing ini
menyebabkan rasa gatal dibagian anus. Saat digaruk
maka telur akan melekat pada kuku. Bila telur cacing
yang berada pada tangan tersebut dimakan maka akan
terjadi autoinfeksi (infeksi diri sendiri). Cacing akan tumbuh kembali di usus besar dan
tumbuh menjadi cacing dewasa. Contoh cacing kremi adalah Oxyuris equi.


8

Cacing Rambut (Wuchereria bancrofti)
Cacing rambut dinamakan pula cacing
filaria.Tempat hidupnya di dalam pembuluh
limfa.Cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah
(elefantiasis), yaitu pembengkakan
tubuh.Pembengkakan terjadi karena akumulasi cairan
dalam pembuluh limfa yang tersumbat oleh cacing
filaria dalam jumlah banyak.Cacing filaria masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk
Culex yang banyak terdapat di daerah tropis.
Cacing Otot (Trichinella spiralis)
Cacing ini hidup pada otot manusia dan menyebabkan penyakit trikhinosis atau
kerusakan otot. Manusia yang terinfeksi cacing ini karena memakan daging yang tidak
dimasak dengan baik.
D. REPRODUKSI
Organ reproduksi jantan terdiri dari pembuluh testicular, seminal vesicle, lubang kulit
genital, sepasang spicules, dan potongan tambahan. Organ reproduksi jantan terdiri dari
saluran ovarian, seminal receptacle, uterus, vagina dan vulva.
E. PERANAN
Peranan nemathelminthes bagi kehidupan manusia secara ekonomi tidak ada yang
menguntungkan bahkan merugikan. Nemathelminthes kebanyakan adalah parasit pada
manusia, tanaman, dan hewan. Infeksi cacing ini menyebabkan penyakit askariasis atau
cacingan, cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah, cacing betina dewasa melubangi
dinding usus halus, keturunan yang hidup terbawa oleh aliran darah menuju otot rangka
kemudian menjadi kista.


3. VERMES : ANNELIDA

A. PENGERTIAN

Annelida berasal dari kata annulus yang berarti cincin dan oidos yang berarti bentuk.
Dari namanya, Annelida dapat disebut sebagai cacing yang bentuk tubuhnya bergelang-
gelang atau disebut juga cacing gelang. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di air
tawar, air laut, atau daratan. Umumnya hidup bebas, meskipun ada juga yang bersifat parasit.
Annelida adalah hewan triploblastik yang sudah mempunyai rongga sejati sehingga disebut
triploblastik selomata.


9


Annelida memiliki sistem peredaran darah tertutup, dengan pembuluh darah memanjang
sepanjang tubuhnya serta bercabang-cabang di setiap segmen. Annelida mempunyai bentuk
tubuh simetri bilateral, dengan tubuh beruas-ruas dan dilapisi lapisan kutikula. Annelida
memiliki sistem pencernaan yang lengkap termasuk faring, lambung, usus, dan kelenjar
pencernaan.
B. CIRI-CIRI
Sistem saraf tangga tali,
Hermaprodit (memiliki dua kelamin)
Rongga tubuh Tripoblastik Selomata (memiliki tiga embrional dan sudah memiliki
rongga tubuh sebenarnya)
Memiliki alat eksresi berupa Nefridium dan pembuluh darah
Secara Seksual melalui perkawinan silang
C. KLASIFIKASI
Hirudinea
Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya
sedikit. Anggota kelas hirudinea hidup di lingkungan
akuatik dan terrestrial. Panjang Hirudinea bervariasi dari
130 cm. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan
ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya
adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea
parasit hidup dengan mengisap darah inangnya,
sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa
invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan
Hirudo (lintah).
Saat merobek atau membuat lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang
sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah
akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu hirudin. Dengan zat tersebut lintah dapat
mengisap darah sebanyak mungkin.

Oligochaeta

Oligochaeta contohnya adalah cacing tanah,
yang cenderung memiliki sedikit setae yang
bergerombol secara langsung dari tubuhnya.
Cacing tanah memiliki kepala atau parapodia yang
kurang berkembang. Pergerakannya dengan gerak
terkoordinasi dari otot-otot tubuh dibantu dengan
setae. Cacing tanah tinggal dalam tanah lembab,
karena badan yang lemnan digunakan untuk
pertukaran udara. Cacing tanah adalah pemakan sampah yang mengekstraks sisa-sisa bahan
organic dari tanaha yang dimakan.



10

Faring berotot menarik makanan ke mulut, makanan yang sudah dicerna disimpan di
tembolok lalu ke rempela. Sistem pembuangan (ekskresi) berupa tabung nephridia bergelung
di setiap segmen dengan dua lubang.
Cacing tanah bersifat hermaphrodit, memilliki testis dengan saluran semen, dan ovarium
dengan penerima semen. Setiap cacing memiliki klitellum yang mengeluarkan lendir, untuk
melindungi sperma dan telur dari kekeringan.

Polychaeta

Polychaeta berasal dari kata poly yang berarti
banyak dan chaeta yang berarti rambut. Polychaeta
adalah cacing berambut banyak. Kebanyakan
Polychaeta hidup di laut serta memiliki parapodia
dan setae. Parapodia adalah kaki seperti dayung
(sirip) digunakan untuk berenang sekaligus
bertindak sebagai alat pernafasan.
Setae adalah bulu-bulu yang melekat pada
parapodia, yang membantu polychaeta melekat pada substrat dan juga membantu mereka
bergerak. Tubuhnya berwarna menarik seperti hijau, merah, merah muda, atau campuran
warna-warna lain. Memiliki insang. Panjang 5 10 cm. hidup di laut. Reproduksi seksual
diluar tubuh. Fase hidup : Telur, Larva Trokovor, Dewasa. Contoh : Kelabang laut, cacing
palolo, cacing wawo.
D. REPRODUKSI
Annelida dapat bereproduksi secara seksual dan aseksual. Meskipun Annelida bersifat
hermafrodit, untuk terjadinya fertilisasi tetap diperlukan perkawinan antara dua individu
cacing. Alat kopulasinya disebut klitelum.
E. PERANAN
Annelida mempunyai peranan dan manfaat dalam kehidupan, yaitu:
Cacing tanah dapat menyuburkan tanah, karena membantu menghancurkan tanah dan
membantu aerasi tanah.
Berperan sebagai detrivor di ekosistem.
Bernilai ekonomis karena dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak (Tubifex dan
Pheretima).
Bahan kosmetik dan obat (ada yang memanfaatkan cacing tanah untuk mengobati
penyakit thypus).
Lintah dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif.
Zat hirudin yang dihasilkan lintah dapat domanfaatkan sebagai zat antikoagulan.
dapat dimakan (cacing palolo dan wawo dikonsumsi oleh sebagian masyarakat maluku).




11

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

- Vermes merupakan kelompok takson yang merujuk pada hewan cacing. Vermes dapat
dikategorikan menjadi 3 filum utama, yakni Platyhemintes (Cacing Pipih),
Nemathelminthes (Cacing Gilig), Annelida (Cacing Cincin).

- Platyhelminthes memiliki bentuk tubuh yang pipih, tidak terdapt rongga tubuh dan
alat pencernaanya masih belum sempurna, kebanyak platyhelminthes hidup sebagai
parasit baik pada hewan atau manusia kecuali pada turbelaria. Platyhelminthes dalam
sisitem klasifikasi dinbagi menjadi tiga kelas yaitu turbellaria, trematoda dan cestoda.

- Nemathelminthes (dalam bahasa yunani, nema = benang, helminthes = cacing)
disebut sebagai cacing gilig/ benang karena tubuhnya berbentuk bulat panjang atau
seperti benang. Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun bukan
rongga tubuh sejati. Oleh karena memiliki rongga tubuh semu, Nemathelminthes
disebut sebagai hewan Pseudoselomata. Nematoda terdiri dari cacing gelang, cacing
tambang, cacing kremi, cacing otot, dan cacing rambut.

- Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok
cacing dengan tubuh bersegmen. Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah
memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan
yang struktur tubuhnya paling sederhana. Annelida terdiri dari Polychaeta,
Oligocaheta, dan Hirudinea.

SARAN

Dengan uraian diatas, semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk para pembaca.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik san saran yang dari
pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.



12
DAFTAR PUSTAKA


http://alvyanto.blogspot.com/2012/11/phylum-nemathelminthes.html
http://mftepundu.blogspot.com/2011/02/v-e-r-m-e-s.html
http://acehmillano.wordpress.com/2013/03/24/platyhelminthes-cacing-pipih/
http://achmadrf.blogspot.com/2010/05/cacing-vermes.html
http://alvyanto.blogspot.com/2012/11/phylum-annelida.html