Anda di halaman 1dari 10

BANJIR ROB DI KOTA SEMARANG

DISUSUN OLEH :
Satria Mahardika Suryo Putra
21030113130133

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK KIMIA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ditinjau dari karakteristik geografis dan geologis wilayah, Indonesia adalah salah satu
kawasan rawan bencana banjir. Sekitar 30% dari 500 sungai yang ada di Indonesia melintasi
wilayah penduduk padat. Lebih dari 220 juta penduduk, sebagian adalah miskin dan tinggal di
daerah rawan banjir. Pada umumnya bencana banjir tersebut terjadi di wilayah Indonesia bagian
barat yang menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan dengan di bagian Timur (Bakornas
PB, 2007).
Bencana banjir merupakan permasalahan umum terutama didaerah padat penduduk pada
kawasan perkotaan, daerah tepi pantai atau pesisir dan daerah cekungan. Masalah banjir
bukanlah masalah baru bagi Kota Semarang, tetapi merupakan masalah besar karena sudah
terjadi sejak lama dan pada beberapa tahun terakhir ini mulai merambah ke tengah kota. Hal
tersebut di atas terjadi karena adanya faktor alamiah dan perilaku masyarakat terhadap alam dan
lingkungan.
Sementara itu proses terjadinya banjir sendiri pada dasarnya disebabkan oleh faktor
antroposentrik, faktor alam dan faktor teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan perilaku
manusia yang lebih cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin meningkat. Beberapa faktor
antroposentrik yang juga merupakan faktor non teknis penyebab banjir pada kota Semarang,
yaitu Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya perubahan tata guna
lahan pada daerahdaerah lindung seperti daerah perbukitan dan daerah pegunungan sehingga
menimbulkan problem peningkatan runoff dan banjir kiriman. Sedangkan pembangunan ke
arah pantai dengan reklamasi menyebabkan luasan rawa menjadi berkurang sehingga
mengakibatkan luasan tampungan air sementara juga berkurang.
Seiring dengan laju pembangunan Kota Semarang, Pertumbuhan dan perkembangan kota
telah menyebabkan perubahan pada kondisi fisik kota, yaitu perubahan guna lahan. Hal itu tentu
saja menimbulkan permasalahan tersendiri pada Kota Semarang. Semakin besar suatu kota maka
semakin besar atau kompleks permasalahan yang ditimbulkan dan dihadapinya, misalnya Kota
Semarang. Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir ini menghadapi permasalahan yang
cukup sulit, yaitu banjir.
Masalah banjir di Indonesia sejak dahulu sampai sekarang ini masih merupakan masalah
yang belum dapat diselesaikan. Berhubung fungsi kota-kota pantai sebagi pusat pertumbuhan
perekonomian maka masalah banjir ini menjadi sebuah pemikiran dan keprihatinan pemerintah,
karena sangat mempengaruhi tata kehidupan baik dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun
politik. Problem banjir secara garis besar disebabkan oleh keadaan alam dan ulah campur tangan
manusia, sehingga dalam pemecahannya tidak hanya dihadapkan pada masalah masalah teknis
saja tetapi juga oleh masalah-masalah yang berhubungan dengan kepadatan penduduk yang
melampaui batas. Gejala alam yang dimaksud adalah karena umumnya kota-kota pantai terletak
di pantai berupa dataran yang cukup landai dan dilalui oleh sungai-sungai dan ketika pasang
sebagian di bawah permukaan air laut, disamping juga dikarenakan curah hujan yang cukup
tinggi. Fenomena kenaikan paras muka air laut (Sea Level Rise) juga merupakan sebab yang
mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas banjir.
Melihat dari keadaan tersebut, tidak ada salahnya kita sebagai mahasiswa yang notabene
adalah calon penerus negeri ini menyumbangkan sedikit pemikiran untuk ikut memberi
kontribusi dalam penanganan bencana yang terjadi negara kita.Penanganan bencana atau
manajemen plan yang kita susun dalam bentuk makalah ini lebih fokus kepada penanganan
bencana alam air yang didalamnya termasuk Tsunami, Banjir, dan rob,sehingga dengan
mengetahui cara penangan yang baik kita bisa meminimalisir dampak negatif terhadap budidaya
ikan. Dampak negatif dalam arti kita bisa mengathui penanganan hama dan penyakit ikan yang
ditimbulkan akibat banjir tersebut. Hanya saja permasalahan kita kerucutkan lagi menjadi
penanganan masalah banjir dan rob.

B. Perumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Banjir itu ? dan bagaimana banjir dapat terjadi di Semarang ?
2. Apa pengertian dari Banjir Rob itu ? dan apakah penyebab banjir rob yang terjadi di
Semarang ?
3. Bagaimanakah solusi mengatasi banjir rob yang selalu menggenangi semarang?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Banjir dan Penyebabnya di Semarang
Banjir merupakan kejadian hidrologis yang dicirikan dengan debit dan/atau muka air
yang tinggi sehingga dapat menyebabkan penggenangan pada lahan disekitar sungai, danau, atau
system air lainnya.
Air hujan yang jatuh kebumi, tidak seluruhnya terserap kedalam tanah dan tertahan oleh
vegetasi yang ada, namun ada sebagian yang jatuh langsung ke laut, namun sebagian harus
mengalami perjalanan dahulu melalui DAS atau daerah aliran sungai, nantinya air tersebut akan
bermuara ke laut ataupun ke sungai-sungai yang lebih rendah. Dalam perjalanannya itu, air yang
mengaliri DAS membawa materi-materi hasil erosi sehingga makin lama DAS di daerah dataran
rendah makin lama makin dangkal dan akhirnya bisa menghilang akibat tersedimentasi oleh
materi-materi yang dibawa air dari dataran yang lebih tinggi tadi. Hal itu wajar adanya dan
merupakan proses alam, namun terkadang proses alam tersebut berjalan sangat cepat karena
campur tangan manusia sehingga menyebabkan ketidakseimbangan alam, contohnya jika
didataran tinggi terutama, dilakukan penggundulan hutan,maka air hujan yang jatuh kebumi,
akan sedikit sekali yang tertahan di dataran tinggi, sehingga menyebabkan air yang mengalir
kedataran rendah menjadi bertambah, akibatnya, kapasitas sungai dan DAS tidak mencukupi
sehingga terjadilah peluberan aliran air yang disebut banjir. Ditambah apabila terdapat
penghalang pada DAS yang akan memperlambat aliran air, misalnya batu besar, batang pohon,
maupun sampah.
Penyebab banjir di wilayah Semarang :
Banjir di dataran alluvial sungai danalluvial pantai Semarang dapat dikelompokkan menjadi tiga
macam banjir, antara lain :
1. Banjir kiriman, yang terjadi secara periodik setiap tahun dan melanda daerah sekitar
pertemuan Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Garang sampai di Kampung Bendungan
disebabkan oleh:
Peningkatan debit air sungai yang mengalir dari DAS Garang (luasnya 204 km2),
DAS Kreo (luasnya 70 km2), dan DAS Kripik (luasnya 34 km2). Peningkatan
debit ini disebabkan oleh: intensitas hujan yang besar, atau intensitas hujan yang
sama namun jatuh pada wilayah yang telah berubah atau telah mengalami
konversi penggunaan lahan. Misalnya yang awalnya hutan atau lahan yang
memiliki vegetasi banyak, namun diubah menjadi perumahan atau bangunan-
bangunan lainnya..
Berkurangnya kapasitas pengaliran atau daya tampung saluran atau sungai
tersebut, sehingga air meluap menggenangi daerah di sekitarnya.
Banjir kiriman ini diperparah oleh kiriman air dari daerah atas yang semakin
besar, sebagai konsekuensi bertambah luasnya daerah terbangun yang merubah
koefisien alirannya.
2. Banjir lokal yang lebih bersifat setempat, sesuai dengan atau seluas kawasan yang
tertumpah air hujan, terjadi disebabkan oleh:
Tingginya intensitas hujan.
Belum tersedianya sarana drainase yang memadai.
Penggunaan saluran yang masih untuk berbagai tujuan (multipurpose) baik untuk
penyaluran air hujan, limbah, dan sampah rumah tangga, padahal belum bisa
diimbangi oleh air penggelontoran yang dialirkan.
Banjir lokal ini diperparah oleh fasilitas bangunan bawah tanah (pipa PAM, kabel
Telkom, dan PLN) yang kedudukannya sangat mengganggu drainase.
B. Definisi Banjir Rob dan Penyebabnya di Wilayah Semarang
Rob atau banjir air laut adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang
menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari
muka air laut. Di Semarang permasalahan Rob ini telah terjadi cukup lama dan semakin parah
karena terjadi penurunan muka tanah sedang muka air laut meninggi sebagai akibat pemanasan
suhu bumi
Potensi dari letak semarang yang berada di pinggir pantai tentunya, namun letak yang berada di
pinggir pantai bukannya membawa berkah bagi masyarakat semarang justru letak yang
berseberangan dengan laut jawa menjadikan daerah ini langganan banjir rob. Banjir melanda
bukan hanya setiap tahun, di daerah-daerah tertentu banjir ini malah menjadi permanen. Air yang
kotor karena tidak mengalir pun menjadikan masalah baru. Bukan tanpa usaha, pemerintah kota
semarang berusaha mengatasi banjir rob ini dengan membuat sebuah polder/ danau buatan di
depan stasiun tawang untuk mengurangi banjir rob tersebut dengan memompa air ke dalam
polder buatan itu, peninggian tanggul sungai pun dilakukan.
Banjir menggenangi daerah semarang utara, mulai dari terminal terboyo, genuk, stasiun
tawang, Jalan Hasanudin, Jalan M.T. Haryono, Jalan Kakap, Jalan Tanah Mas, hingga kawasan
kota lama. Penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah, tidak adanya hutan kota
yang bisa menyerap air dan semakin tingginya permukaan air laut menjadi alasan utama banjir
rob ini hingga saat ini belum terselesaikan. Rumah warga maupun jalan disana pun sudah
ditinggikan berkali-kali, namun ketinggian genangan air rob yang setiap tahun bertambah mebuat
usaha warga sepertinya sia-sia. Genangan yang meninggi ketika air laut pasang ditambah air
hujan semakin mebuat banjir rob menjadi-jadi. Bukan tak mungkin apabila tidak ada solusi dan
area banjir rob semakin meluas maka akan membuat seluruh kota semarang yang berada di
semarang bawah akan terkena banjir dan menjadi banjir rob seumur hidup bagi warga semarang.
Kerugian secara material berupa macetnya sendi-sendi ekonomi hingga penyakit akibat banjir
pun tidak dapat dihindari.
Sedangkan banjir rob yang melanda daerah-daerah di pinggiran laut atau pantai disebabkan oleh:
Permukaan tanah yang lebih rendah daripada muka pasang air laut.
Setiap tahunnya wilayah semarang mengalami penurunan 2-3 cm pertahunnya, hal ini
karena sebagian wilayah semarang khususnya semarang bawah merupakan wilayah hasil
reklamasi atau penggurukan, sehingga kepadatannya tidak sekuat tanah yang terbentuk
secara alami, selain itu, pembangunan gedung-gedung yang berbobot berton-ton juga
menyebabkan wilayah semarang bawah semakin tertekan kebawah.
Bertambah tingginya pasang air laut.
adanya pemanasan global atau global warming, menyebabkan es dikutub utara maupun
selatan mencair, akibatnya volume airpun bertambah dan menyebabkan laut mengalami
penambahan atau peninggian muka air laut, tidak terkecuali semarang.
Sedimentasi dari daerah atas (burit) di muara sungai (Kali Semarang, Banjir Kanal Barat,
Kali Silandak, Kali Banger, Silandak Flood Way, Baru Flood Way, dan kali Asin)
maupun sedimentasi air laut khususnya oleh pasang surut (rob), di samping oleh
pengaruh gelombang dan arus sejajar pantai, sehingga terjadi pendangkalan muara yang
berakibat mengurangi kapasitas penyaluran dan akibat selanjutnya menambah parah
banjir di sekitarnya.

C. Solusi Mengatasi Banjir di Wilayah Semarang
Menurut Yusuf Y (2005), langkah-langkah untuk menangani banjir dibagi menjadi tiga, yaitu:
langkah-langkah untuk menangani banjir lokal, banjir genangan, dan banjir rob.
1. Untuk menangani banjir lokal perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut: di
Semarang Barat perlu dibangun saluran sabuk, di daerah hilir perlu normalisasi banjir
kanal barat dan banjir kanal silandak untuk mengembalikan kepada kapasitas
rancangan, di daerah hulu (lahan burit) perlu diatur dengan PERDA tentang kawasan
dapat terbangun, kawasan konservasi, dan pembuatan sumur resapan sehingga fungsi
daerah atas sebagai daerah resapan terjamin.
2. Untuk menangani banjir genangan perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut:
saluran drainase yang ada sebaiknya digunakan untuk mengalirkan air hujan saja
(single purpose) dan perlu dibangun saluran tersendiri untuk limbah dan keperluan
lainnya, normalisasi dan pemeliharaan saluran-saluran drainase yang ada, perbaikan
inlet yang sesuai dengan kapasitas debit yang harus dialirkan, penyusunan PERDA
tentang bangunan bawah tanah untuk infrastruktur PLN, PDAM, TELKOM, atau
instansi lainnya dan pengaturan luas lahan terbangun, penyuluhan terhadap masyarakat.
3. Untuk menangani banjir rob perlu diambil langkah-langkah sebagai berikut:
pembangunan drainase nongravitasi di Kali Asin, Baru, dan Banger, pembuatan
PERDA pengembangan wilayah pantai (termasuk reklamasi) tanpa bangunan atau
gedung-gedung dan izin peil bangunan yang dikaitkan dengan IMB, serta penertiban
dan memperketat perizinan air bawah tanah.
3. Selain yang disebutkan diatas, hal yang paling utama yaitu memperhatikan system
drainase yang baik.
Sistem drainase merupakan suatu sistem untuk mengalirkan atau membuang air hujan yang
jatuh di suatu daerah agar tidak terjadi genangan atau banjir (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).
Pada prinsipnya ada dua macam drainase, yakni drainase untuk daerah perkotaan dan
drainase untuk daerah pertanian. Pada perencanaan dan pengembangan sistem drainase kota
perlu kombinasi antara pengembangan perkotaan, daerah rural, dan daerah aliran sungai atau
DAS (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).
Drainase memiliki berbagai fungsi, antara lain: membebaskan suatu wilayah (terutama yang
padat pemukiman) dari genangan air atau banjir, memperkecil risiko kesehatan lingkungan,
yakni bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya, sebagai pembuangan air rumah
tangga (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).
Ukuran dan kapasitas saluran sistem drainase semakin ke hilir semakin besar, karena
semakin luas daerah alirannya.
Adapun berbagai kendala di dalam pemeliharaan sistem drainase di wilayah kota dengan
permukiman yang padat: kurangnya lahan untuk pengembangan sistem drainase karena
sudah berfungsi untuk tata guna lahan tertentu, sulitnya memelihara saluran karena bagian
atas sudah ditutup oleh bangunan, banyaknya sampah domestik yang menumpuk di saluran
sehingga mengurangi kapasitas dan menyumbat saluran. Pemahaman masyarakat bahwa
sungai (drainase) sebagai tempat buangan sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
Terbatasnya dana untuk pemeliharaan saluran. Sistem drainase seringkali tidak berfungsi
optimal karena pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak terpadu dan tidak melihat
keberadaan sistem drainase seperti jalan, kabel TELKOM, pipa PDAM. Secara estetika,
drainase bukan merupakan infrastruktur yang bisa dilihat keindahannya karena fungsinya
sebagai tempat pembuangan air dari semua sumber. Umumnya drainase di perkotaan kumuh
dan berbau tidak sedap. (Kodoatie RJ, Sjarief R, 2005).












BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat digaris bawahi bahwa banjir adalah suatu keadaan dimana sungai ataupun DAS
sudah tidak sanggup untuk menahan debit air yang terlalu besar akibat penambahan volume air
secara singkat dan berlebihan karena suatu sebab, bisa karena factor alam, maupun akibat ulah
manusia yang menyebabkan rusaknya elemen-elemen yang dapat menahan air tetap berada di
dataran tinggi dan tidak langsung mengaliri daerah yang lebih rendah.
Banjir yang terjadi di wilayah semarang disebabkan oleh tiga factor, yaitu banjir akibat
kiriman dari daerah lain, banjir local akibat hujan yang mengguyur wilayah tertentu di wilayah
semarang dan yang paling umum adalah banjir rob.
Banjir yang terjadi di wilayah semarang maupun wilayah lain memiliki dampak yang
nyata bagi lingkungan dan masyarakatnya, mulai dari segi social, ekonomi, pemerintahan,
individu maupun kejiwaan.
Namun, setiap masalah pasti ada solusinya, seperti halnya banjir di semarang, kuncinya
adalah peran serta semua lembaga masyarakat, mulai dari lembaga pemerintahan, lembaga
kemasyarakatan, dan yang utama adalah masing-masing individu harus sadar bahwa wilayah itu
milik bersama dan untuk bersama sehingga akan muncul sikap saling menjaga dan melestarikan
alam sekitarnya.

B. Saran
Dalam penanganan masalah-masalah terutama yang menyangkut kelingkungan alam serta
kehidupan manusia, perlu adanya kerjasama yang sangat kuat pada masing-masing individu,
masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada, serta rasa saling menjaga dan memiliki yang akan
membuat kita sadar akan berharganya alam dan keseimbangannya




DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Banjir. http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir
Anonim. Banjir. http://sejarahsemarang.wordpress.com/banjir/
Anonim. Kota Semarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Semarang
Anonim. Rob. http://id.wikipedia.org/wiki/Rob
Nugroho, Fitrialkahyafi. 2013. Problematika Banjir di Wilayah Semarang.
http://fitrifee.blogspot.com/2013/05/contoh-makalah-problematika-banjir-di_724.html