Anda di halaman 1dari 16

Kepala Pembagi (Dividing head)

Kepala pembagi pada mesin Frais merupakan alat bantu yang digunakan untuk
pembagian benda kerja dalam beberapa bagian yang sama, contoh aplikasinya pada
proses pengerjaan pada mesin Frais adalah pembuatan roda gigi,kepala baut, mur,
pisau Frais dan sebagainya.










Metoda pembagian pada kepala pembagi
Pembagian pada kepala pembagi konvensional dalam prakteknya secara umum dibagi
dalam tiga cara tergantung tingkat pembagian yang diinginkan yaitu pembagian
langsung , pembagian tak langsung dan pembagian difrential.

Pembagian langsung
Apabila pembagian benda kerja tidak terlalu banyak atau pembagian yang tidak
menghasilkan bilangan pecahan, dapat dilakukan pembagian langsung dengan
menggunakan piring pembagi tetap (fixed dividing disk) dengan jumlah lubang 24
lubang dan kemungkinan pembagiannya adalah 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24















Pembagian tak langsung
Apabila pada pembagian menghasilkan bilangan pecahan (tidak genap) maka harus
menggunakan alat bantu pembagian piring pembagi dengan jumlah lubang yang
bervariasi dan dapat dipertukarkan . Pada pembagian tak langsung secara umum
digunakan rumus sebagai berikut :
N = 40/Z
N = Pembagian pada kepala pembagi
Z = Jumlah pembagian
40 = Perbadingan roda cacing dan ulir cacing pada kepala pembagi (1 : 40)
Pada mesin Frais ACIERA umumnya mempunyai 3 piring pembagi yaitu No 1. No 2 dan
No 3, setiap nomor mempunyai lubangsebagai berikut :

No. 1 27 31 34 41 43 Lubang
No. 2 33 38 39 42 46 Lubang
No. 3 29 36 37 - 40 Lubang

Contoh :
Apabila akan membuat roda gigi dengan jumlah gigi 25, berapakah pembagian pada
kepala pembagi.
N = 40 / Z = 40 / 25 = 1. 15/25 atau 1 24/40
Artinya 1 putaran + 24 lubang pada piring pembagi dengan jumlah lubang 40 (piring
pembagi No 3)

Pembagian diferential
Pembagian difrential dilakukan apabila tidak dapat dilakukan dengan pembagian tidak
langsung, hal ini berlaku untuk bilangan yang tidak dapat dibagi diatas 50. Dalam
prosesnya digunakan alat bantu gear box set yang harus ditentukan perbandingannya
melalui rumus sebagai berikut :

R = K (N N) / N

R = Perbandingan roda gigi gear box
N = Jumlah pembagian pendekatan
N = Jumlah pembagian sebenarnya
K = Perbadingan roda cacing dan ulir cacing pada kepala pembagi (1 : 40)

Apabila untuk memenuhi perbandingan roda gigi gear box digunakan 2 buah roda gigi
(R = B/D) maka :
N > N diperlukan 1 roda gigi prantara
N < N diperlukan 2 roda gigiperantara atau tanpa roda gigi perantara

Apabila untuk memenuhi perbandingan roda gigi gear box digunakan 4 buah roda gigi
(R = A . B/ C . D) maka :
B
N > N diperlukan 2 roda gigiperantara atau tanpa roda gigi perantara
N < N diperlukan 1 roda gigi prantara

Contoh :
Apabila diperlukan pembagian 157, maka 157 tidak dapat dibagi dengan metoda
pembagian tidak langsung, harus dengan metoda pembagian diferential :
R = K (N N) / N = 40 (160 157) / 160 = 0,75
Jumlah pembagian pendekatan (N) diambil 160 ( N > N )
Perbandingan (Ratio) 0,75 untuk pnyusunan roda gigi pada kotak roda gigi dapat
diperoleh dari tabel dan dari tabel R = 24 . 48 / 24 . 64
Dengan keterangan bahwa roda gigi 24 menggerakkan roda gigi 24 dan gigi 24 seporos
dengan gigi 64 dan gigi 64 menggerakkan 48


Roda gigi lurus (spur gear)
Roda gigi lurus adalah salah satu komponen pemindah daya yang sangat umum
dijumpai mesin otomotif, mesin ndustri dan mesin perkakas. Roda gigi lurus untuk
tujuan produksi dapat dibuat secara masal dengan mesin khusus roda gigi dan dapat
dibuat secara partial dengan menggunakan mesin freis, untuk pembuatan roda gigi
lurus harus mengetahui karakteristik roda gigi dan rumus-rumus perhitungan roda gigi
lurus dan dalam perihungan roda gigi dikenal dengan 2 cara yaitu Metrik Modul (M) dan
Diametral pitch (DP) seperti yang akan dibahas sebagai berkut :

Rumus perhitungan roda gigi lurus



















Keterangan :
DK = Diameter kaki
PD = Diameter pitch
TD = Diameter kepala
H = Tinggi gigi
Z = Jumlah gigi
M = Modul gigi
DP = Diametral Pitch






Sistem Modul (M) Sistem Diametral Pitch (DP)

Contoh Perhitungan :
Apabila akan membuat roda gigi dengan modul (M) 2 jumlah gigi roda gigi 25 tentukan
ukuran atau dimensi yang diperlukan untuk pembuatan roda gigi tersebut :

a) Untuk proses pembubutan harus menghitung diameter kepala (TD) roda gigi
TD = Z. M + 2 M = 25 . 2 + 2 . 2 = 54 mm

b) Untuk proses mesin frais harus memhitung tinggi gigi (H), dan pembagian pada
kepala pembagi
H = Add + ddm = 1. M + 1,25 M = 1 .2 + 1,25 . 2 = 4,5 mm
N = 40 / Z = 40 / 25 = 1 24/40

Nomor pisau potong
Pisau potong roda gigi setiap Modul (M) dan setiap DP terdiri dari 8 pisau,
pemakaian setiap pisau akan tergantung pada jumlah roda gigi yang akan dibuat,
berikut tabel untuk pemilihan pisau potong

Modul Metrik M
Ddm Add H Ddm Add H
DP
Ddm M Ddm
DP
Add M Add
DP DP
Z
TD M M Z TD
inchi
DP
Z
PD M Z PD
inchi setiap gigi Banyaknya DP M atau
Z
PD
t







157 , 1
. 25 , 1
1
. 1
2
2 .
) ( .
.

contoh:
apabila membuat roda gigi Modul 2 dengan jumlah gigi 50 maka pisau potong yang
digunakan adalah pisau potong No 6 atau 35 54 (lihat tabel)

Modul (M) Diametral Pitch (DP)
No. Cutter Aplikasi No. Cutter Aplikasi
1 12 - 13 1 135 - rack
2 14 16 2 55 134
3 17 20 3 35 54
4 21 25 4 26 34
5 26 34 5 21 25
6 35 54 6 17 20
7 55 134 7 14 16
8 135 - rack 8 12 - 13

6.3.3 langkah pembuatan roda gigi lurus
1) Menghitung ukuran diameter luar untuk proses pembubutan berdasarkan modul / DP
gigi dan jumlah gigi yang akan dibuat.
2) Membuat bakalan roda gigi lurus pada mesin bubut dengan ketentuan ukuran dari
hasil perhitungan (gunakan mandrel)








3) Seting benda kerja, benda kerja diharapkan cocentrik untuk menghindari bentuk gigi
yang tidak sama.
4) Pemilihan pisau potong, pisau potong harus sesuai sesuai jumlah rada gigi yang
dibuat (lihat tabel no roda gigi)






5) Menentukan pembagian pada kepala pembagi sesuai dengan jumlah gigi yang dibuat








6) Setting pisau potong dimana posisi sumbu pisau potong sejajar dengan sumbu
benda kerja










7) Proses pemotongan, pastikan mur pengikat benda kerja dan pengikat mandrel
mengikat sempurna kemudian lakukan pemotongan bertahap untuk menghidari
kesalahan dan kerusakan.













8) Lakukan pemeriksaan dan pengukuran ketepatan roda gigi










6.4 RODA GIGI MIRING/HELIK
Roda gigi helik adalah roda gigi poros sejajar yang mempunyai bentuk gigi
miring/menyilang saling berlawanan terhadap pasangannya, pasangan roda gigi ini
pada umumnya digunakan untuk memindahkan daya dengan beban besar dengan
putaran tinggi karena bentuk giginya yang mampu memindahkan momen atau
putaran melalui gigi tersebut dapat berlangsung secara halus (tidak berisik). Rumus
berikut adalah rumus yang digunakan untuk menentukan parameter yang diperlukan
untuk pembuatan roda gigii pada mesin Frais standart.





6.4.1 Sistim Modul (M)
Keterangan :
DK : Diameter kaki (mm)
PD : Diameter pitch (mm)
TD : Diameter kepala (mm)
H : Tinggi gigi (mm)
Add : Adendum
Ddm : Dedendum
: Sudut helik
M : Modul
Z : Jumlah gigi

Rumus sistim modul (M)
Nama Simbol Rumus Perhitungan
Diameter pitch PD PD = Z . M / cos (mm)
Diameter kepala TD TD = PD + 2. M (mm)
Tinggi gigi H H = Add + Ddm (mm)
Addendum Add Add = 1. M (mm)
Dedendum Ddm Ddm = 2,25 . M (mm)
Lebar gigi B B = 10 x M
No Cutter ZP ZP = Zn / Cos
3

Zn = Jumlah gigi normal

6.4.2 Sistem DP (Diametral Pitch)
Rumus sistem DP (Diametral Pitch)
DP = Banyaknya gigi setiap satu inch


Nama Simbol Rumus Perhitungan
Diameter pitch PD PD = Z. / DP cos (inchi)
Diameter kepala TD TD = PD + 2./DP (inchi)
Tinggi gigi H H = Add + Ddm (inchi)
Addendum Add Add = 1 / DP (inchi)
Dedendum Ddm Ddm = 1,157 / DP (inchi)











6.4.3 Perhitungan Ratio gear bok pada pembuatan roda gigi helik







Keterangan :
Lead/kisar= Jarak tempuh setiap satu putaran ulir
Ulir tunggal > Lead/kisar = pitch
Ulir ganda > Lead/kisar = 2 Pitch
i = Jenis ulir (ganda / tunggal) atau no of start
P x x i LM
Tg.
PD .
LW
mesin Lead
kerja benda Lead
LM
LW
R
a

a. = Ratio kepala pembagi dalam 1 putaran benda kerja


P = Pitch ulir (jarak antar puncak ulir)




























Tg.
PD .
LW


















Maka :
Gigi C menggerakkan gigi A, gigi A dipasang 1 poros dengan gigi D, gigi D
menggerakkan gigi B





Catatan :
- Pasangan gigi gear box dengan 1 perantara digunakan untuk membuat roda gigi
helik kiri
- Pasangan gear box dengan 2 perantara atau tanpa perantara digunakan untuk
membuat roda gigi helik kanan


D . C
B . A
R
6.4.4 Langkah Pembuatan Roda Gigi Helik

Contoh : Bila akan membuat roda gigi helik dengan ketentuan sebgai berikut :
Modul gigi = 2 , Jumlah gigi = 50 gigi, helik kiri dan sudut helik = 18
0
. Berikut sebelum
proses pemesinannya terlebih dahulu menetukan parameter yang diperlukan untuk
pembuatan tersebut sebagi berikut :

1. Menghitung diameter pitch (PD)
PD = Z . M / cos = 50 . 2 / cos 18 = 105,14 mm
2. Menghitung diameter kepala (TD)
TD = PD + 2. M = 105,14 + 2 . 2 = 109,14 mm
3. Menghitung tinggi gigi (H)
H = Add + Ddm = 1. M + 1,25 . M = 1 . 2 + 1,25 . 2 = 4,5 mm
4. Menghitung ratio gigi pengganti / gear box (R)
R = LW / LM
LW = PD / Tg = . 105,14 / Tg 18 = 1016,06 mm
LM = i . a . P
i = 1 ( karena ulir tranfortir meja mesin jenis ulirnya tunggal)
a = 40 ( karena perbandingan kepala pembagi yang digunakan 1 : 40 atau satu
putaran benda kerja = 40 putaran tuas pemutar kepala pembagi)
P = 4 ( Pitch ulir tranfortir mesin yang digunakan adalah 4 mm)
LM = 1 x 40 x 4 = 160 mm
R = 1016,06 / 160 = 6,3503
Untuk penyusunan roda gigi gear box dengan R = 6,3503 dapat dilihat pada table
(lembar lampiran) dari table diperoleh Gigi A = 100, Gigi B = 86, gigi C = 56 dan
gigi D = 24 sehingga penyusunannya sebagai berikut :
R = A . B / C . D = 100 . 86 / 56 . 24
Gigi C menggerakkan gigi A, gigi A seporos dengan gigi D, gigi D menggerakkan gigi
B ( lihat gambar penyusunan)
4. Pembubutan bakalan roda gigi, bubut dengan diameter kepala (TD) dengan
menggunakan mandrel seperti gambar sebagai berikut :









5. Pemilihan pisau potong
ZP = Zn / cos
3
= 50 / cos
3
18 = 61 maka dipilih pisau potong No 7 (55 134)
6. Setting roda gigi pengganti/gear box, karena roda helik yang akan dibuat adalah
helik kiri maka susunannya sebagai berikut :








7. Setting benda kerja dan pisau potong, apabila menggunakan pemotongan roda gigi
dengan spindel horisontal kemiringan sudut helik dilakukan dengan memiringkan
meja mesin dengan sudut 18
o
(posisi benda kerja miring 18
o
)
Apabila pemotongan roda gigi menggunakan spindel vertikal, maka kemiringan
sudut helik dilakukan dengan memiringkan kepala spindel vertikal membentuk sudut
18
o
(posisi pisau potong membentuk sudut 18
o
)













8. Menghitung kepala pembagi untuk pembagian jumlah gigi 50, N = 40 / Z =
40/50 = 4/5 = 32/40 ( 30 lubang pada piring pembagi dengan jumlah lubang 40)
9. Setting putaran mesin sesuai dengan diameter luar cutter kedalaman pemotongan
untuk 3 kali pemotongan dengan kedalaman pengerjaan akhir 0,5 mm
10. Pemeriksaan , pengukuran deburring (menghilangkan bagian sisi yang tajam
dengan kikir)

3.5 Langkah Menentukan Parameter pada Pembuatan Roda Gigi Helik
Menetukan parameter yang dimaksudkan apabila akan membuat roda gigi helik
untuk perbaikan sehingga harus mencari ukuran Modul (M) / diametral pitch (DP),
Jumlah gigi (Z), Sudut helik () debagai berikut :
1. Jumlah gigi (Z), diperoleh dengan menghitung langsung pada roda gigi yang
diperbaiki
2. Sudut helik (), diperoleh dengan cara mengukur langsung dengan Profile Proyektor
atau secara manual dengan pengukur sudut (bevel protektor)
3. Modul (M) atau DP, diperoleh dengan cara menghitung dengan rumus :

TD
Z
M atau
Cos
Z
TD
M
) 2 (
) 2 (

Dengan cara memasukkan variabel sudut helik dan jumlah gigi maka diperoleh

Catatan :
Untuk memastikan sudut helik apakah sudah sesuai dengan roda yang diperbaiki,
terlebih dahulu harus dicoba diprakterkan di mesin.
Apabila tidak tepat harus dihitung kembali dengan menambah atau mengurangi sudut
heliknya sampai benar-benar tepat (perlu diingat di mesin mempunyai toleransi
kemiringan sudut.

DP DP
Z
TD atau M
Cos
M Z
TD
2
. 2
.