Anda di halaman 1dari 10

Gambaran Tingkat Pengetahuan Santri tentang Cara Penularan dan Pencegahan Skabies

di Pesantren Asad Jambi Tahun 2013



Titi Wulandari, Nindya Aryanti, Adrianto Ghazali
Fakultas Kedokteran dan I lmu Kesehatan,
Universitas J ambi

Abstrak
Latar Belakang : Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh sarcoptes scabiei.
Skabies dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan, semua geografi daerah, umur, ras, kelas
sosial, daerah yang padat dan sanitasi yang buruk. Pesantren merupakan institusi yang
menyediakan beberapa fasilitas asrama yang digunakan secara bersama, oleh karena itu
santri rentan untuk tertular penyakit skabies.
Tujuan : Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan santri tentang Skabies di
Pesantren Asad Jambi tahun 2013.
Metode : Dengan rancangan penelitian Deskriptif. Sampel diambil dengan teknik cluster
random sampling. Sampelnya adalah santri MTSN yang menginap di Pondok Pesantren Asad
tahun 2013 sebanyak 112 santri.
Hasil : Penelitian ini memperlihatkan bahwa dari 112 sampel yang pengetahuannya tentang
cara penularan skabies terdapat 72 (64,3%) berpengetahuan baik, 37 (33,0%) berpengetahuan
cukup dan 3 santri (2,7%) berpengetahuan kurang dan gambaran pengetahuan tentang cara
pencegahan skabies terdapat 70 (62,5%) berpengetahuan baik, 39 (34,8%) berpengetahuan
cukup dan 3 santri (2,7%) memiliki pengetahuan kurang.
Kesimpulan : Tingkat pengetahuan santri MTSN di Pesantren Asad Jambi tahun 2013 yaitu
78 (69,64%) berpengetahuan baik dan 34 santri (30,36%) berpengetahuan cukup.
Kata Kunci : Pengetahuan tentang cara penularan dan pencegahan skabies.


Pendahuluan
Skabies adalah penyakit zoonosis yang
menyerang kulit, dapat mengenai semua
golongan di seluruh dunia yang disebabkan
tungau (Sarcoptes scabiei)
1
. Skabies
merupakan 1 dari 6 penyakit terbesar
parasit kulit epidermis yang lazim pada
populasi miskin, seperti yang dilaporkan
dalam Buletin Organisasi Kesehatan Dunia
pada bulan Februari 2009, angka kejadian
tertinggi terdapat pada suku-suku asli di
Australia, Afrika, Amerika Selatan dan
negara berkembang lainnya di dunia
2
.
Angka kejadian skabies sering terjadi
pada orangorang yang tinggal bersama di
fasilitas tertentu, seperti fasilitas asrama,
pondok pesantren, rumah jompo, rumah
sakit, rawat inap, rumah tahanan dan
fasilitas lainnya
3,4
. Hal ini di sebabkan oleh
kepadatan penghuni yang tinggi dapat
mempengaruhi perkembangan skabies.
Menurut Makigami
5
pada tahun 2009,
angka kejadian skabies telah diperkirakan
300 juta kasus skabies terjadi secara
epidemi di rumah jompo, rumah sakit,
fasilitas rawat inap, dan lembaga lainnya.
Pondok pesantren merupakan institusi
yang menyediakan beberapa fasilitas
asrama yang digunakan secara bersama,
oleh karena itu santri rentan tertular
penyakit skabies. Penularan skabies dapat
disebabkan oleh beberapa faktor. Adapun
faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya penularan skabies yaitu kontak
langsung (kontak kulit), misalnya berjabat
tangan, tidur bersama, dan hubungan
seksual. Selain itu juga dapat melalui
kontak tidak langsung (melalui benda),
misalnya pakaian, handuk, sprei,
bantal,dan lain-lain
6
. Menurut handajani
7

pada tahun 2007 terhadap 70 santri,
didapatkan 62,9% santri yang terkena
skabies. Hal ini dikarenakan saling
bertukar pakaian, selimut, handuk dan tidur
bersama serta kebiasaan santri berwudhu
tidak menggunakan air kran.
Berdasarkan data Departemen
kesehatan Republik Indonesia, prevalensi
skabies di puskesmas seluruh Indonesia
pada tahun 1987 adalah 5,6% - 12,95%
dengan menduduki urutan ketiga dari 12
penyakit kulit tersering
8
. Berdasarkan data
yang terdapat di Dinas Kesehatan Kota
Jambi tahun 2011, kejadian skabies di 20
puskesmas menunjukkan bahwa kejadian
terbanyak terdapat di daerah Olak Kemang
dengan jumlah 571 kasus, urutan kedua
terbanyak adalah di daerah Tahtul Yaman
dengan jumlah 417 kasus dan urutan ketiga
terbanyak terdapat di daerah Tanjung
Pinang dengan jumlah 232 kasus.
Kondisi lingkungan pesantren dan
kepadatan hunian dapat mempengaruhi
kesehatan santri, terutama diantaranya
dalam penularan skabies. Salah satu faktor
penularan skabies ini terjadi apabila santri
tidak paham tentang pentingnya menjaga
kebersihan lingkungan maupun kebersihan
pribadi. Para santri perlu mengetahui
bagaimana cara penularan skabies
sehingga dapat melakukan upaya preventif
yang tepat
7
. Sesuai dengan teori Lawrence
Green yang menyatakan bahwa perilaku
seseorang akan dipengaruhi oleh
pengetahuan, sikap, kepercayaan dan
didukung oleh lingkungan fisik, tersedia
atau tidaknya fasilitas dan sarana
kesehatan. Oleh karena itu petugas
kesehatan perlu melakukan intervensi
dalam pencegahan skabies dengan
memberikan pemahaman yang
komprehensif tentang skabies terhadap
santri di lingkungan pesantren
9
.


Santri di Pondok Pesantren Asad
terdiri dari santri MIN, MTSN dan MAN.
Sedangkan yang menginap di Pesantren
Asad sebagian besar adalah santri MTSN
yang berusia 12 sampai 15 tahun yang
tergolong dalam usia remaja. Oleh karena
itu, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang pengetahuan santri
mengenai skabies. Adapun sampel
penelitian berfokus pada usia 12 sampai 15
tahun yang berada pada Pondok Pesantren
Asad Olak Kemang Seberang Kota Jambi.
Dimana pada tahap ini, remaja sudah
mampu berpikir

secara sistematik dan
mampu berpikir dalam memecahkan
masalah sehingga remaja lebih mudah
menerima informasi mengenai tindakan
pencegahan dan pengobatan skabies
10,11
.

Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah
dengan rancangan penelitian
Deskriptif
12,13
. Penelitian dilaksanakan di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota Jambi, waktu penelitian
dilakukan pada Januari - April 2013 .
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
santriwan dan santriwati MTSN yang
menginap di Pondok Pesantren Asad Olak
Kemang Seberang Kota Jambi tahun 2013.
Sampel diambil dengan menggunakan
teknik cluster random sampling
13
yang
dibagi berdasarkan ruangan. Di Pondok
Pesantren Asad Olak Kemang terdapat 28
kamar (darul), setiap kamar diambil 4
santri dengan cara diundi. Sehingga
seluruh subjek yang diambil sebanyak 112
santri. Instrumen penelitian dengan
menggunakan kuesioner dengan 24
pernyataan ( pengetahuan tentang skabies
satu pernyataan, pengetahuan tentang
penyebab skabies dua pernyataan,
pengetahuan tentang cara penularan
skabies sebanyak tujuh pernyataan,
pengetahuan tentang cara pencegahan
skabies sebanyak delapan pernyataan dan
pengetahuan tentang cara pengobatan
skabies sebanyak enam pernyataan ).
Kuesioner menggunakan uji validitas dan
realibilitas. Dimana jumlah responden
sebanyak 30 responden dengan tingkat
kemaknaan 5%, didapatkan angka r tabel
yaitu 0,361. Terlihat bahwa dari dua puluh
empat pernyataan mempunyai nilai r hasil
(Corrected item- Total Correlation) berada
diatas dari nilai r tabel (r=0,361), sehingga
kuesioner dengan dua puluh empat
pernyataan tersebut dinyatakan valid.
Dalam uji realibilitas nilai r Alpha harus
lebih dari konstanta (0,8), maka pernyataan
tersebut reliabel
14
.
Peneliti hanya membahas mengenai
pengetahuan santri tentang cara penularan
skabies dan pengetahuan santri tentang
cara pencegahan skabies di Pesantren
Asad Jambi tahun 2013.




Hasil

4.1 Gambaran Tingkat Pengetahuan
Santri tentang Cara Penularan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota J ambi Tahun 2013
Setelah dilakukan pengisian
kuesioner dan pengolahan data penelitian
dapat diketahui bahwa Gambaran
Pengetahuan Santri tentang Cara
Penularan Skabies di Pondok Pesantren
Asad Olak Kemang Seberang Kota Jambi
Tahun 2013 adalah sebanyak 72 orang
santri (64,3%) memiliki pengetahuan yang
baik, 37 orang santri (33,0%) memiliki
pengetahuan yang cukup dan 3 orang
santri (2,7%) memiliki pengetahun yang
kurang (tabel 4.1).

Tabel 4.1
Tingkat Pengetahuan Santri tentang Cara
Penularan Skabies di Pondok
Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota Jambi Tahun 2013
Persentase
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
Baik 72 64,3%
Cukup 37 33,0%
Kurang 3 2,7%
Total 112 100%

Pada penelitian ini bila dirinci
menurut cara-cara penularannya
ditemukan bahwa terdapat 74 (66%) santri
tidak mengetahui bahwa tidur dalam satu
ruangan yang ramai dan padat dapat
menjadi risiko penularan penyakit
skabies/kudis (tabel 4.2.3) dan ada 42
(37,5%) santri yang tidak tahu bahwa
penyakit skabies/kudis dapat ditularkan
melalui penggunaan sprei dan sarung
bantal yang habis dipakai (tabel 4.2.7).
4.2 Gambaran pengetahuan santri terhadap
cara penularan skabies di Pondok
Pesantren Asad Olak Kemang Seberang
Kota Jambi Tahun 2013

Tabel 4.2.1 Penyakit skabies/kudis dapat
terjadi pada laki-laki dan
perempuan
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
104 92,8%
2. Tidak Pasti 5 4,5%
3. Tidak Setuju 2 1,8%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100

Tabel 4.2.2 Tidur bersentuhan kulit
dengan seseorang yang menderita
gatal-gatal dapat meningkatkan
risiko penularan penyakit
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
93 83%
2. Tidak Pasti 16 14,3%
3. Tidak Setuju 1 0,9%
4. Sangat tidak
setuju
2 1,8%
Total 112 100

Tabel 4.2.3 Tidur dalam 1 ruangan yang
ramai dan padat tidak menjadi
risiko penularan penyakit
skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
46 41,1%
2. Tidak Pasti 28 25%
3. Tidak Setuju 27 24,1%
4. Sangat tidak
setuju
11 9,8%
Total 112 100

Tabel 4.2.4 Menggantung pakaian dengan
cara menumpuk-numpuk dengan
pakaian teman sekamar dapat
menjadi risiko penularan penyakit
skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
95 84,8%
2. Tidak Pasti 11 9,8%
3. Tidak Setuju 3 2,7%
4. Sangat tidak
setuju
3 2,7%
Total 112 100

Tabel 4.2.5 Handuk yang dipakai secara
bergantian dapat menjadi risiko
penularan penyakit skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
98 87,5%
2. Tidak Pasti 11 9,8%
3. Tidak Setuju 2 1,8%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100

Tabel 4.2.6 Sering berganti pakaian yang
habis dipakai dengan teman-teman
dapat meningkatkan risiko
penularan skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
70 62,5%
2. Tidak Pasti 34 30,4%
3. Tidak Setuju 7 6,2%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100



Tabel 4.2.7 Penyakit skabies/kudis dapat
ditularkan melalui penggunaan sprei
dan sarung bantal yang habis dipakai
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
92 82,1%
2. Tidak Pasti 16 14,3%
3. Tidak Setuju 3 2,7%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100


4.3 Gambaran Tingkat Pengetahuan
Santri tentang Cara Pencegahan Skabies
di Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota J ambi Tahun 2013
Setelah dilakukan pengisian kuesioner
dan pengolahan data penelitian dapat
diketahui bahwa Gambaran Pengetahuan
Santri tentang Cara Pencegahan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota Jambi Tahun 2013 adalah
sebanyak 70 orang santri (62,5%) memiliki
pengetahuan yang baik, 39 orang santri
(34,8%) memiliki pengetahuan yang cukup
dan 3 orang santri (2,7%) memiliki
pengetahuan yang kurang (tabel 4.3).


Tabel 4.4 Tingkat Pengetahuan Santri
tentang Cara Pencegahan Skabies
di Pondok Pesantren Asad Olak
Kemang Seberang Kota Jambi
Tahun 2013
Persentase
Pengetahuan
Frekuensi
(n)
Persentase
(%)
Baik 70 62,5%
Cukup 39 34,8%
Kurang 3 2,7%
Total 112 100%

Pada penelitian ini sekitar 20,77%
santri masih tidak paham mengenai
pakaian atau handuk yang tidak dijemur
dapat dijadikan tempat perkembangan
tungau, mencuci bersih pakaian, sprei dan
sarung bantal dapat mencegah penularan
skabies/kudis, menjemur pakaian tidak
sampai kering dapat menularkan penyakit
skabies/kudis, menjemur handuk hingga
kering dapat mencegah penularan
skabies/kudis, mengganti pakaian yang
telah dipakai dapat mencegah penularan
skabies/kudis dan pencegahan penyakit
skabies/kudis dapat dilakukan pada semua
anggota keluarga. Dengan mengeluarkan
pertanyaan nomor delapan belas pada
tabel di bawah ini.


4.4 Gambaran Pengetahuan Santri tentang
Cara Pencegahan Skabies di Pondok
Pesantren Asad Olak Kemang Seberang
Kota Jambi Tahun 2013

Tabel 4.4.1 Pakaian atau handuk yang
tidak dijemur dapat dijadikan tempat
perkembangan tungau
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
84 75%
2. Tidak Pasti 21 18,7%
3. Tidak Setuju 4 3,6%
4. Sangat tidak
setuju
3 2,7%
Total 112 100

Tabel 4.4.2 Mencuci bersih sprei dan
sarung bantal dapat mencegah
penularan skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
92 82,1%
2. Tidak Pasti 17 15,2%
3. Tidak Setuju 0 0
4. Sangat tidak
setuju
3 2,7%
Total 112 100
Tabel 4.4.3 Mencuci bersih pakaian dapat
mencegah penularan skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
98 87,5%
2. Tidak Pasti 12 10,7%
3. Tidak Setuju 1 0.9%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100

Tabel 4.4.4 Menjemur pakaian tidak
sampai kering dapat menularkan
penyakit skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
87 77,7%
2. Tidak Pasti 17 15,2%
3. Tidak Setuju 3 2,7%
4. Sangat tidak
setuju
5 4,4%
Total 112 100

Tabel 4.4.5 Menjemur handuk hingga
kering dapat mencegah penularan
skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
90 80,4%
2. Tidak Pasti 16 14,3%
3. Tidak Setuju 5 4,4%
4. Sangat tidak
setuju
1 0,9%
Total 112 100



Tabel 4.4.6 Mengganti pakaian yang telah
dipakai dapat mencegah penularan
skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
89 79,5%
2. Tidak Pasti 12 10,7%
3. Tidak Setuju 6 5,4%
4. Sangat tidak
setuju
5 4,4%
Total 112 100

Tabel 4.4.7 Pencegahan penyakit
skabies/kudis dapat dilakukan pada
semua anggota keluarga
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
81 72,3%
2. Tidak Pasti 28 25%
3. Tidak Setuju 3 2,7%
4. Sangat tidak
setuju
0 0
Total 112 100

Tabel 4.4.8 Meningkatkan kebersihan
lingkungan dan perorangan akan
menularkan penyakit skabies/kudis
No J umlah
Responden
J umlah %
1. Sangat setuju
& Setuju
51 45,5%
2. Tidak Pasti 10 9%
3. Tidak Setuju 15 13,4%
4. Sangat tidak
setuju
36 32,1%
Total 112 100




Pembahasan
4.5 Gambaran Tingkat Pengetahuan
Santri tentang Cara Penularan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota J ambi Tahun 2013
Dari hasil penelitian yang
dilakukan pada 112 santri, menunjukkan
bahwa gambaran pengetahuan santri
tentang cara penularan skabies yaitu
sebanyak 72 orang santri (64,3%)
dikategorikan berpengetahuan baik,
sedangkan kategori pengetahuan cukup 37
orang santri (33,0%) dan 3 orang santri
(2,7%) dikategorikan berpengetahuan
kurang. Hasil penelitian ini tidak sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Rohmawati
15
di Pondok Pesantren
Almuayyad Surakarta tahun 2010 dari 190
santri didapatkan hasil 155 santri (81,58%)
berpengetahuan kurang dan penelitian
yang dilakukan oleh Muzakir
16
di
Pesantren Kabupaten Aceh Besar tahun
2007 dari 154 santri didapatkan hasil 61
(61,0%) berpengetahuan kurang.
Pada kuesioner didapatkan hasil
bahwa 74 orang santri (66%) tidak
mengetahui bahwa tidur dalam satu
ruangan yang ramai dan padat dapat
menjadi risiko penularan penyakit
skabies/kudis dan ada 42 orang santri
(37,5%) yang tidak tahu bahwa penyakit
skabies/kudis dapat ditularkan melalui
penggunaan sprei dan sarung bantal yang
habis dipakai. Pada penelitian ini hampir
sama dengan penelitian Rohmawati
15
di
Pondok Pesantren Almuayyad Surakarta
tahun 2010 dari 190 santri didapatkan
hasil 113 (59,5%) santri tidak mengetahui
bahwa skabies dapat ditularkan melalui
kutu sarcoptes scabiei betina dan jantan,
ada 109 (57,4%) santri yang tidak
mengetahui bahwa skabies dapat
ditularkan melalui pemakaian pakaian atau
alat sholat secara bergantian dan ada 104
(54,7%) santri yang tidak tahu bahwa
berjabar tangan dapat menularkan
penyakit skabies.
Pengetahuan dapat diketahui jika
seseorang telah berhubungan dengan objek
tersebut, sebagian besar pengetahuan
dapat diperoleh dari melihat dan
mendengar. Pengetahuan merupakan awal
pengenalan terhadap suatu objek yang
diamati, sehingga jika pengetahuan kurang
baik terhadap suatu objek maka akan
mempengaruhi terhadap tindakan yang
akan dilakukan
17
. Masih banyaknya santri
yang tidak tahu mengenai cara penularan
skabies maka penyakit ini tidak akan putus.
Secara umum kondisi pesantren
sudah cukup bersih dan rapi tetapi hal
berbeda terlihat di lingkungan internal
pondok, dimana keadaannya masih kurang
memenuhi untuk suatu lingkungan yang
sehat. Kondisi kamar tidur para santri yang
bisa dibilang pengap, banyak pakaian yang
menggantung dan sempit namun ditempati
oleh banyak santri memungkinkan terjadi
pertumbuhan kuman penyakit, jamur dan
bakteri yang dapat menimbulkan berbagai
penyakit diantaranya adalah penyakit
skabies. selain lingkungan, prilaku santri
juga menjadi salah satu faktor pencetus
terjadinya skabies. Maka bagi pihak
pesantren dapat lebih memperhatikan
keadaan ruangan atau asrama santri
dilihat dari segi penataan ruang dalam
kamar, masih terlihat pakaian yang
menggantung di sepanjang dinding dalam
kamar dan kepadatan hunian tersebut
sangat berpotensi menimbulkan kejadian
skabies.

4.6 Gambaran Pengetahuan Santri
tentang Cara Pencegahan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota J ambi Tahun 2013
Pada penelitian ini dari 112 santri
terdapat 70 orang santri (62,5%)
dikategorikan berpengetahuan baik tentang
cara pencegahan skabies, sedangkan
kategori pengetahuan cukup 39 orang
santri (34,8%) dan 3 orang santri (2,7%)
dikategorikan berpengetahuan kurang.
Dari penelitian ini diketahui bahwa
sebagian besar santri di Pondok Pesantren
Asad memiliki pengetahuan baik tentag
cara pencegahan skabies. Hasil penelitian
ini tidak sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Andayani
18
di Pondok
Pesantren Ulumu Quran Stabat yang
menyatakan bahwa dari 50 santri paling
banyak diketahui berpengetahuan cukup
sebanyak 28 santri (56%).
Pada penelitian ini terdapat 20,77%
santri masih tidak paham mengenai
pakaian atau handuk yang tidak dijemur
dapat dijadikan tempat perkembangan
tungau, menjemur pakaian tidak sampai
kering dapat menularkan penyakit
skabies/kudis, mencuci bersih pakaian,
sprei, sarung bantal dan menjemur handuk
hingga kering serta mengganti pakaian
yang telah dipakai dapat mencegah
penularan skabies/kudis dan pencegahan
penyakit skabies/kudis dapat dilakukan
pada semua anggota keluarga. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Paramita
19
di Pondok Pesantren Darularafah Raya
tahun 2010 menunjukkan hasil dari 50
responden hanya 19 (38%) santri yang
memahami upaya pencegahan penyakit
skabies yaitu mengenai mandi secara
teratur dengan menggunakan sabun,
mencuci pakaian sprei, sarung bantal,
selimut dan lainnya secara teratur minimal
dua kali dalam seminggu, menjemur kasur
dan bantal minimal dua minggu sekali,
tidak saling bertukar pakaian dan handuk
dengan orang lain dan hindari kontak
dengan penderita skabies.
Kebiasaan atau perilaku santri
dalam hal mencuci dan menjemur pakaian,
sprei, sarung bantal dan handuk tidak
sampai bersih dan kering dan tidak
mengganti pakaian yang telah dipakai
mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap kejadian skabies. Oleh karena itu
pihak pesantren harus lebih meningkatkan
kebersihan lingkungan dan perorangan
kepada setiap santri dan memberikan
pemahaman bahwa suatu penyakit
terutama skabies dapat di tularkan melalui
pakaian, sprei, sarung bantal dan handuk
yang tidak bersih, tidak dijemur ataupun
dijemur tetapi tidak sampai kering.
Penyakit skabies dapat dicegah pada semua
anggota keluarga santri yang terkena.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat di
simpulkan sebagai berikut :
1. Gambaran Tingkat Pengetahuan Santri
tentang Cara Penularan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota Jambi adalah sebanyak
72 orang santri (64,3%) memiliki
pengetahuan baik, 37 orang santri
(33,0%) memiliki pengetahuan cukup
dan 3 orang santri (2,7%) memiliki
pengetahuan kurang. Terdapat 74
orang santri (66,0%) yang tidak
mengetahui bahwa tidur dalam satu
ruangan yang ramai dan padat dapat
menjadi risiko penularan penyakit
skabies/kudis dan ada 42 orang santri
(37,5%) yang tidak tahu bahwa
penyakit skabies/kudis dapat ditularkan
melalui penggunaan sprei dan sarung
bantal yang habis dipakai.
2. Gambaran Tingkat Pengetahuan Santri
tentang Cara Pencegahan Skabies di
Pondok Pesantren Asad Olak Kemang
Seberang Kota Jambi adalah sebanyak
70 orang santri (62,5%) memiliki
pengetahuan baik, 39 orang santri
(34,8%) memiliki pengetahuan cukup
dan 3 orang santri (2,7%) memiliki
pengetahuan kurang. Terdapat
20,77% masih tidak paham mengenai
mencuci bersih pakaian, sprei, sarung
bantal, handuk dan menjemur sampai
kering pakaian, sprei, sarung bantal,
handuk serta mengganti pakaian yang
telah dipakai dapat mencegah
penularan skabies dan pencegahan
penyakit skabies atau kudis dapat
dilakuka pada semua anggota
keluarga.

Saran
1. Masukan bagi Dinas Kesehatan Kota
Jambi agar mengalokasikan anggaran
dan merencanakan program kerja
untuk melakukan penyuluhan dan untuk
menanggulangi penyakit skabies.
2. Bagi Puskesmas Olak Kemang agar
dapat melakukan upaya yaitu
memberikan pengobatan dan
penyuluhan kepada penderita dan
orang yang berisiko, melakukan
pengobatan secara massal serta
Penemuan kasus dilakukan secara
serentak baik didalam keluarga dan di
dalam pesantren.
3. Bagi peneliti lain, dapat melakukan
penelitian selanjutnya yang
berhubungan dengan penyakit skabies
yang telah dilakukan oleh penulis.
4. Masukan bagi pihak pesantren asad
agar bekerja sama dengan Puskesmas
Olak Kemang Seberang Kota Jambi
dalam upaya eradikasi penyakit
penyakit skabies dan agar dapat
memperhatikan santri seperti melarang
santri untuk saling bertukar pakaian,
handuk, bantal dan tempat tidur agar
penularan skabies tidak terjadi.
Melakukan pengobatan serentak untuk
memutuskan mata rantai penyakit
skabies dengan berkoordinasi bersama
pihak Pondok Pesantren Asad Olak
Kemang Seberang Kota Jambi dan
dapat meningkatkan mutu lingkungan
yaitu antara lain melakukan kerja bakti
sekali seminggu atau diadakan lomba
kebersihan antar kamar dan
menganjurkan santri untuk menjemur
kasur dan bantal setiap minggu serta
menyediakan tempat yang cukup
seperti tempat menyimpan pakaian,
tempat menjemur jemuran serta kamar
asrama yg tidak terlalu sempit.
5. Bagi santri agar dapat mengetahui
tentang skabies mulai dari penyebab,
cara penularan, cara pencegahan
sampai cara pengobatan.

Daftar Pustaka
1. Bukhart C. Scabies: An
epidemiologic reassessment.
Majalah kedokteran indonesia 47
(1). 1997. hal: 117-123.
2. McCarthy JS, Kemp DJ, Walton SF,
Currie BJ. Scabies: more than just
an irritation. Postgrad Med J. Jul
2004;80(945):382-7.
3. Fernawan N. Perbedaan angka
kejadian skabies di kamar padat
dan kamar tidak padat di pondok
pesantren modern islam PPMI
assalaam surakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Surakarta. 2008.
4. Harahap M. Ilmu penyakit kulit.
Jakarta: Gramedia. 2008. hal: 100.
5. Makigami K, Ohtaki N, Ishii N,
Yasumura S. Risk factors of scabies
in psychiatric and long-term care
hospitals: a nationwide mail-in
survey in Japan. J Dermatol. Sep
2009;36(9):491-8.
6. Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S.
Ilmu penyakit kulit dan kelamin.
Edisi ke-3. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
2006. hal: 122-5.
7. Handajani S. Hubungan antara
kebersihan diri dengan kejadian
skabies di pondok pesantren
nihayatul amal waled kabupaten
cirebon. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro. 2007.
8. Departemen Kesehatan. Laporan
Tahunan Dinas Kesehatan RI.
Jakarta; 1987.
9. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan
dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta. 2012. hal:193-200.
10. Aryani R. Kesehatan Remaja
Problem dan Solusinya. Jakarta:
Salemba Medika. 2010. hal: 1-7.
11. Wawan A, Dewi. Pengetahuan,
Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika. 2010.
hal: 16-64.
12. Arikunto. Manajemen penelitian
dan pendekatan praktek. Jakarta:
Rineka Cipta. 2006. xi + 342 hlm.
13. Notoatmodjo S. Metodologi
penelitian kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta. 2010. hal: 35-37.
14. Riyanto A. Pengolahan dan Analisis
Data Kesehatan. Yogjakarta: Nuha
Medika. 2010. hal: 39-47.
15. Rohmawati R. Hubungan antara
faktor pengetahuan dan perilaku
dengan kejadian skabies di Pondok
Pesantren Al-Muayyad Surakarta.
Surakarta. 2010. Diunduh : URL:
http://id.scribd.com/doc/130310770/
Skripsi-Skabies.
16. Muzakir. Faktor yang Berhubungan
dengan Kejadian Penyakit Skabies
pada Pesantren di Kabupaten Aceh
Besar Tahun 2007. Medan. 2008.
17. Notoadmodjo S. Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
2011. hal: 109-167.
18. Andayani L. Perilaku Santri dalam
Upaya Pencegahan Penyakit
Skabies di Pondok Pesantren Ulumu
Quran Stabat. Medan. 2007.
19. Paramita N. Tingkat Pengetahuan
Santri terhadap Penyakit Skabies di
Pondok Pesantren Darularafah
Raya. Medan. 2010.