Anda di halaman 1dari 181

BAB I

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN
Istilah belajar sebenamya telah lama dan banyak dikenal. Bahkan pada
era sekarang ini, hampir semua orang mengenal istilah belajar. Namun apa
sebenamya belajar itu, rasanya masing-masing orang mempunyai tangkapan
yang tidak sama.
Sejak manusia ada, sebenamya ia telah melaksanan aktivitas belajar.
Oleh sebab itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aktivitas itu telah
ada sejak adanya manusia.
Mengapa manusia melaksanakan aktivitas belajar ? Jawabannya adalah
karena belajar itu salah satu kebutuhan manusia. Bahkan ada ahli yang
mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar. Oleh karena manusia
adalah makhluk belajar, maka sebenamya di dalam dirinya terdapat potensi
untuk diajar.
Pada masa sekarang ini, belajar menjadi sesuatu yang tak dapat terpisahkan dari
kehidupan manusia. Hampir di sepanjang waktunya, manusia banyak
melaksanakan “ritual-ritual” belajar.
Apa sebenamya belajar itu, banyak ahli yang memberikan batasan.
Belajar mempunyai sejumlah ciri yang tak dapat dibedakan dengan kegiatan-
kegiatan lain yang bukan belajar. Oleh karena itu, tidak semua kegiatan yang
meskipun mirip belajar dapat disebut dengan belajar.
Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang
penting / vital. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar, dan
kegiatan mengajar hanya bermaksan bila terjadi kegiatan belajar siswa. Oleh
karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya
tentang proses belajar siswa, agar ia dapat memberikan bimbingan dan
menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa.

1
1. PENGERTIAN BELAJAR
1.1. Pengertian belajar yang dipergunakan sehari – hari
Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah
mengurupulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari
seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Dalam
belajar, pengetahuan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya
menjadi banyak. Orang yang banyak pengetahuannya diidentifikasi sebagai
orang yang banyak belajar, sementara orang yang sedikit pengetahuannya
diidentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar, dan orang yang tidak
berpengetahuan dipandang sebagai orang yang tidak belajar.
Belajar dalam pengertian mengurupulkan sejumlah pengetahuan
demikian, tampaknya masih diikuti juga sampai sekarang. Orang baru dikatakan
belajar manakala sedang membaca bacaan, membaca sejumlah tugas mata kuliah
atau mata pelajaran, membaca buku pelajaran. Seorang murid yang sedang
mengerjakan tugas-tugas matematika biasa disebut sedang belajar. Orang yang
sedang menimba pengetahuan pada bangku sekolah lazim juga dikenal sebagai
pelajar. Bahkan orang yang banyak menguasai ilmu pengetahuan lazim dikenal
dengan kaum terpelajar. Singkat perkataan, belajar dalam pengertian umum atua
populer adalah suatu upaya yang dimaksudkan untuk menguasai sejumlah
pengetahuan.
Pengetahuan belajar demikian, secara konseptual tampakanya sudah
mulai ditinggalkan orang, meskipun secara praktikal masih banyak yang
menganut. Ini karena berkembang pesatnya teknologi informasi seperti sekarang
ini. Guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat
memberikan informasi apa saja kepada para pembelajar.
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya
tentang “belajar”. Sering kai pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama
lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja,
guna melengkapi dna memperluas pandangan kita tentang mengajar.

2
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui
pengalaman. (leaming is defined as the modifkation or strengthening of
behavior through experincing).
Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu
kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat,
akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu
penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.
Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar,
yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah
latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.
Sejalan dengan perumusan diatas, ada pula tafsisan lain tentang belajar,
yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Dibandingkan dengan pengertian pertama, maka jelas, tujuan belajar itu
prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha
pencapaiannya. Pengeritan ini menitik beratkan pada interaksi antara individu
dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman
belajar. William Burton mengemukakan bahwa : A good leaming situation
consist of a rkh and baried series of leaming experiences unified around a
vigorous purpose, and carried on in interaction with a rkh, varried and
provocative environment.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa :
a. Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan itu diterima baik oleh
masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari belajar.
b. Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
c. Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemui kesulitan,
rintangan-rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenangkan.
d. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.

3
e. Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenamya. Belajar apa
yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari.
f. Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belar dipersatukan dan dihubungkan
dengan tujuan dalam situasi belajar.
g. Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.
h. Siswa mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya.
i. Siswa diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berada dalam
lingkungan itu.
j. Siswa diarahkan ke tujuan-tujuan lain, baik yang berkaitan maupun yang
tidak berkaitan dengan tujuan utama dalam situasi belajar.
Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar
tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka
berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru
dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar, maka
psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Di dalam masa
perkembangan psikologi pendidikan di jaman mutakhir ini muncullah secara
beruntun aliran psikologi pendidikan masing-masing yaitu :
- Psikologi behavioristik
- Psikologi kognitif
- Psikologi humanistik
Ketiga aliran psikologi pendidikan di atas tumbuh dan berkembang
secara beruntun, dari periode ke periode berikutnya. Dalam setiap periode
perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori-teori tentang belajar.
Bertolak dari kenyataan itu, maka berbagai teori belajar yang ada dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok teori belajar, masing-masing yaitu :
- Teori-teori belajar dari psikologi behavioristik.
- Teori-teori belajar dari psikologi kognitif
- Teori-teori belajar dari psikologi humanistik.

4
Para penulis buku psikologi belajar, umumnya mendefinisikan belajar
sbagai suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap
sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Selain itu, ahli-ahli psikologi mempunyai
pandangan yang berada mengenai apa belajar itu.
Dalam pandangan psikologis, setidak-tidaknya ada empat pandangan
mengenai belajar.
Pertama, pandangan yang berasal dari aliran psikologi behavioristik.
Menurut pandangan ini, belajar dilaksanakan dengan kontrol instrumental dari
lingkungan. Guru mengkondisikan sedemikian sehingga pembelajar atau siswa
mau belajar. Mengajar dengan demikian dilaksanakan dengan kondisioning,
pembiasaan, peniruan. Hadian dan hukuman sering ditawarkan dalam mengajar
dan belajar demikian. Kedaulatan guru dalam belajar demikian relatif tinggi,
sementara kedaulatan siswa sebalikya, relatif rendah.
Kedua, pandangan yang berasal dari psikologi humanistik. Pandangan
humanistik ini merupakan anti tesa pandangan behavioristik. Dalam pandangan
demikian, belajar dapat dilakukan sendiri oleh siswa. Dalam belajar demikian
siswa senantiasa menemukan sendiri mengenai sesuatu tanpa banyak campur
tangan dari guru. Peranan guru dalam mengajar dan belajar demikian relatif
rendah, sementara kedaulatan guru relatif rendah.
Ketiga, pandangan yang berasal dari psikologi kognitif. Pandangan ini
merupakan konvergensi dari pandangan behavioristik dan humanistik. Menurut
pandangan demikian belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan
kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, metode
belajar yang cocok dalam pandangan ini adalah eksperimentasi.
Berdasarkan diagram sebagaimana pada diagram 1.1. diketahui, bahwa
dalam pandangan psikologi behavioristik, tanggung jawab siswa dalam belajar
rendah, sedangkan tanggung jawab guru dalam mengajar tinggi. Sebaliknya,
dalam pandangan psikologi humanisti, tanggung jawab guru rendah sedangkan
tanggung jawab siswa tinggi. Sementara itu, dalam pandangan psikologi
kognitif, tanggung jawab guru dan siswa sama-sama sedang.

5
Selain ketiga pandangan tersebut, ada pandangan keempat dari psikologi
gestalt. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar adalah usaha yang bersifat
totalitas dari individu, oleh karena totalitas lebih bermakna dibandingkan dengan
sebagian-sebagian.

1.2. Pengertian belajar menurut psikologi behavioristik


Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya
aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya dan teori
mental state. Sebabnya ialah karena aliran-aliran terdahulu hanya menekankan
pada segi kesadaran saja.
Berkat pandangan dalam psikologi dan naturalisme science maka
timbullah aliran baru ini. Jiwa atau sensasi atau image tak dapat diterangkan
melalui jiwa itu sendiri karena sesungguhnya jiwa itu adalah respons-respons
psikologis. Aliran lama memandang badan adalah sekunder, padahal sebenamya
justru menjadi titik pangkal bertolak. Natural science melihat semua realita
sebagai gerakan-gerakan (movemant), dan pandangan ini mempengaruji
timbulnya behaviorisme. Metode instrospeksi sesungguhnya tidak tepat, sebab
menimbulkan pandangan yang berbeda-beda terhadap objek luar. Karena itu
harus dkarai metode yang objektif dan ilmiah. Dari eksperimen menunjukkan
bahwa tikus dapat membedakan antara wama hijau dan wama merah dan dapat
pula dilatih. Jadi kesadaran itu tiada gunanya.
Dalam behaviorisme, masalah matter (zat) menempati kedudukan yang
utama. Dengan tingkah laku segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan.
Behaviorisme dapat menjelaskan segala kelakuan manusia secara seksama dan
menyediakan perogram pendidikan yang efektif.
Dari uraian tersebut, ternyata konsepsi behaviorisme besar pengaruhnya
terhadap masalah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan
pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.

6
Dengan memberikan rangsangan (stimulus), maka anak akan mereaksi
dengan respons. Hubungan situmulus - respons ini akan menimbulkan
kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar, jadi pada dasamya kelakuan anak
adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu.
Dengan latihan-latihan pembentukan maka hubungan-hubungan itu akan
semakin menjadi kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory.
Beberapa teori belajar dari psikologi behavioristik dikemukakakn oleh
para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “ Contemporary
Behaviorists” atau jg disebut “S-R Psychologists”. Mereka berpendapat bahwa
tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan
(reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar
terdapat jalinan yang erat antara reaksi-rekasi behavioral dengan stimulasinya.
Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah
laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada
masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku adalah
merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan
jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah
laku tersebut.

Teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik


Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa belajar menurut psikologi
behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan.
Belajar tidaknya seseorang bergantung kepada faktor-faktor kondisional yang
diberikan oleh lingkungan. Oleh karena itu, teori ini juga dikenal dengan teori
conditioning. Tokoh-tokoh psikologi behavioristik mengenai belajar ini antara
lain adalah : Pavlov, Watson, Gutrie dan Skinner.
Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan dengan
lahimya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thondike, Pavlov,
Wabon, dan Ghuyhrie. Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian
yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar.

7
Pada mulanya pendidikan dan pengajaran di Amerika serikat di dominasi
oleh pengaruh Thondike (1874-1949). Teori belajar Thondike disebut
“connectionism”, karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-
koneksi antara stimulus dan respons. Teori ini sering disebut “trial dan error
leaming” individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses “trial and
error” dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Thondike
mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku
berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.
Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan
membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi
itu. Dalam hal itu, objek mencoba berbagai cara beraksi sehingga menemukan
keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu rekasi dengan stimulasinya. Ciri-
ciri belajar dengan “trial and error” yaitu :
1. Ada motif pendorong aktivitas
2. Ada berbagai respon terhadap situasi
3. Ada eliminasi respon-respon yang gagal / salah ; dan
4. Ada kemajuan rekasi-reaksi mencapai tujuan. Dari penelitiannya itu
Thondike menemukan hukum – hukum :
(1) “law of readiness”, jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh
kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi
memuaskan
(2) “law of exercise”, makin banyak dipraktekkan atau digunakannya
hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu
disertai dengan “reward”.
(3) “law of effect” , bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan
respon dan dibarengi dengan “state of affairs” yang memuaskan, maka
hubungan itu menjadi lebih kuat. Bilamana hubungan dibarengi “state of
affairs” yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkurang.

8
Sementara Thondike mengadakan penelitiannya, di Rusia Ivan Pavlov
(1849-1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut “classkal
conditioning” atau “stimulus substitution”. Mula-mula teori conditioning ini
dikembangnkan oleh Pavlov (1972).
Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing.
Dalam percobaan ini, anjing diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi
bersyarat pada anjing.
Ia melakukan percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberi makanan
dan diberi lampu. Pada saat diberi makanan dan lampu keluarkan respon anjing
tersebut berupa keluamya air liur.
Demikian juga jika dalam pemberikan makanan tersebut disertai dengan
bel, air liur tersebut juga keluar.
Pada saat bel atau lampu diberikan mendahului makanan, anjing tersebut
juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut oleh Pavlov
disebutu sebagai perangsangan yang bersyarat, sementara bel atau lampu yang
menyertai disebut sebagai perangsang bersyarat.
Terhadap perangsang tak bersyarat yang disertai dengan perangsang
bersyarat tersebut, anjing memberikan respons berupa keluamya air liur.
Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat (bel, lampu) diberikan tanpa
perangsang tak bersyarat anjing tersebut tetap memberikan respon dalam bentuk
keluamya air liur. Oleh karena perangsang bersyarat (sebagai pengganti
perangsang tak bersyarat : makanan) ini ternyata dapat menimbulakn respons,
maka dapat berfungsi sebagai conditioned. Karena itu, teori Pavlov ini dikenal
teori classkal conditioning. Menurut Pavlov pengkondisian yang dilakukan pada
anjing demikian ini, dapat juga berlaku pada manusia.
Teori kondisioning Pavlov tersebut dapat dimodelkan sebagai berikut :
Bel / lampu + makan → air liur (berulang-ulang)
Bel / lampu → air liur
Teori kondisioning ini lebih lanjut dikembangkan oleh Watson (1970)
adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar

9
berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat, bahwa belajar
merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat
melalui stimulus pengganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan
beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah.
Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respon
baru melalui “conditioning”.
Salah satu percobaannya adalah terhadap anak umur 11 bulan dengan
seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses
ekstinksi, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa di barengi stimulus tak
bersyarat.
E.R. Guthrie memperluas penemuan Watson tentang belajar. Ia
mengemukakan prinsip belajar yang disebut “the law of association” yang
berbunyi : suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan,
cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu
muncul kembali. Dengan kata lain, jika anda mengerjakan sesuatu dalam situasi
tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama anda akan mengerjakan hal
serupa lagi. Menurut gutrie, belajar memerlukan reward dan kedekatan antara
stimulus dan respon. Gutrie berpendapat, bahwa hukuman itu tidak baik dan
tidak pula buruk. Efektif tidaknya hukuman tergantung pada apakah hukuman
itu menyebabkan murid belajr ataukah tidak ?
Teori belajar kondisioning ini kemudian dikembangkan oleh Gutrie
(1935-1942). Gutrie berpendapat bahwa tingkah laku manusia dapat diubah :
tingkah laku jelek dapat diubah menjadi baik. Teori Gutrie berdasarkan atas
model penggantian stimulus saut ke stimulus yang lain. Responsi atas suatu
situasi cenderung di ulang manakala individu menghadapi situasi yang sama.
Inilah yang disebut dengan asosiasi.
Menurut Gutrie, setiap situasi belajar merupakan gabungan berbagai
stimulus (dapat intemal dan dapat ekstemal) dan respon. Dalam situasi tertentu,

10
banyak stimulus yang berasosiasi dengan banyak respon. Asosiasi tersebut,
dapat benar dan dapat juga salah.

Ada tiga metode pengubahan tingkah laku menurut teori ini, yaitu :
a. Metode respon bertentangan. Misalnya saja, jika anak jijik terhadap sesuatu,
sebutlah misalkan saja boneka, maka permainan anak yang disukai tersebut
diletakkan di dekat boneka. Dengan meletakkan permainan di dekat boneka,
dan ternyata boneka tersebut sebenamya tidak menjijikkan, lambat laun anak
tersebut tidak jijik lagi kepada boneka. Peletakan permainan yang paling
disukai tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang.
b. Metode membosankan. Misalnya saja anak kecil suka mengisap rokok. Ia
disuruh merokok terus sampai bosan ; dan setelah bosan, ia akan berhenti
merokok dengan sendirinya.
c. Metode mengubah lingkungan. Jika anak bosan belajar, maka lingkungan
belajarnya dapat diubah-ubah sehingga ada suasana lain dan memungkinkan
ia betah belajar.
Selanjutnya, Skinner mengembangkan teori kondisioning dengan
menggunakan tikus sebagai kelinci percobaan. Dari hasil percobaannya Skinner
membedakan respon menjadi dua, ialah respon yang timbul dari stimulus
tertentu dan operant (instrumental) respons yang timbul dan berkembang karena
diikuti oleh perangsang tertentu. Oleh karena itu, teori Skinner ini dikenal
dengan operant conditioning.
Seperti halnya Thondike, Skinner menganggap “reward” atau
“reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner
berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah
laku. Skinner membagi dua jenis respon dalam proses belajar, yakni :
(1). Responsents : respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlov
(2). Operants : respon yang terjadi karena situasi random

11
Perbedaan penting antara Pavlov’s classkal conditioning dan Skinner’s
operant conditioning ialah dalam classkal conditioning, akibat-akibat suatu
tingkah laku itu. Reinforcement tikdak diperlakukan karena stimulusnya
menimbulkan respon yang diinginkan.
Operant conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat
lebih kuat akibat reinforcement langsung.
Dalam percobaannya terhadap tikus-tikus dalam sangkar, digunakan
suatu “diskriminative stimulus” (tanda untuk memperkuat respons) misalnya
tombol, lampu, pemindah makanan. Disamping itu, digunakan pula suatu
“reinforcemen stimulus, berupa makanan”.
Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon
terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap
stimulus guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan
behavior. Guru berperan penting di dlaam kelas untuk mengontrol dan
mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
Jenis-jenis stimulus :
(1) Jenis-jenis stimulus
(2) Positive reinforcement : Penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas
suatu respon
(3) Negative rinforcement : Pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan,
yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon
(4) Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya :
“Contradktion or reprimand”. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan
stimulus yang menyenangkan (removing adalah pelasant or reinforcing
stimulus).
(5) Primary rinforcement : stimulus pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis
(6) Modifikasi tingkah laku guru : Perlakuan guru terhadap murid-murid
berdasarkan minat dan kesenangan mereka.

12
Jadwal reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu
respon diperbuat ? Ada empat cara penjadwalan reinforcement :
1. “Fixed-ratio schedule”; yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran,
yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon
setelah terjadi jumlah tertentu dari respon.
2. “Variable ratio schedule”; yang didasarkan penyajian bahan pelajaran
dengan penguat setelah rata-rata respon
3. “Fixed interval schedule”; yang didasarkan atas satuan waktu tetapi diantara
“reinforcement”
4. “variable interval schedule”; pemberian renforcement menurut respon betul
yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon.
Paling tidak tidak, ada enam konsep operant conditioning ini yaitu :
a. Penguatan positif dan negatif
b. Shopping, ialah proses pembentukan tingkah laku yang makin mendekati
tingkah laku yang diharapkan.
c. Pendekatan suksesif, ialah proses pembentukan tingkah laku yang
menggunakan penguatan pada saat tepat hingga respon pun sesuai dengan
yang diisyaratkan.
d. Extention, ialah proses penghentian kegiatan sebagai akibat dari
ditiadakannya penguatan.
e. Chaining of respons, ialah respon dan stimulus yang berangkaian satu sama
lain
f. Jadwal penguatan ialah variasi pemberian peguatan : rasio tetap dan
bervariasi, interval tetap dan bervariasi.
g. Menurut
Menurut thondike, belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba (trial
and error).mencoba-coba ini dilakukan, manakala seseorang tidak tahu
bagaimana harus memberikan respon atas sesuatu. Dalam mencoba-coba ini

13
seseorang mungkin akan menemukan respoons yang tepat berkaitan dengan
persoalan yang dihadapinya.
Karakteristik belajar trial dan error adalah sebagai berikut :
a. Adanya motivatie pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan
sesuatu
b. Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respons dalam rangka
memenuhi motive-motivenya.
c. Respons-respons yang dirasakan tidak bersesuaian dengan motivenya
dihilangkan
d. Akhirnya seseorang mendapatkan jenis respon yang paling tepat.
Beberapa hukum belajr yang ditemukan oleh Thoendike adalah sebagai
berikut :
a. Hukum kesiapan (law of readiness). Jika seseorang siap melakukan sesuatu,
dan ia melakukannya, maka ia puas. Sebaliknya, jika ia siap melakukan
sesuatu, tetapi tidak melakukannya, maka ia tidakpuas. Implikasi dari hukum
ini adalah, bahwa motivasi sangat penting dalam belajar. Sebab pemuas yang
antara lain berupa terpemenuhinya motif-motif seseorang, menjadikan
seseorang belajar berulang-ulang.
b. Hukum latihan (low of exercise). Jika seseorang mengulang-ulang respons
terhadap suatu stimulus, maka akan memperkuat hubungan antara respon
dan stimulus. Sebaliknya jika respons tersebut tidak digunakan,
hubungannya dengan stimulus semakin lemah. Tetapi lemah dan kuatnya
hubungan antara respons dan stimulus tersebut tergantung kepada
memuaskan tidaknya respons yang diberikan. Implikasi hukum ini adalah
baha belajar dimulai dari tingkatan yang mudah berangsur-angsur menuju
yang sukat. Berangkat dari yang sederhana berangsur-angsur menuju ke
yang kompelks.
c. 0hukum akibat (law of effect). Manakala hubungan antara respon dengan
stimulus menimbulkan kepuasan, maka tingkatan penguatannya kian besar.
Sebaliknya jika hubungan antara respon dengan stimulus menimbulkan

14
ketidak puasan, maka tingkatan penguatannya kian lemah. Dengan perkataan
lain, hukum akibat ini punya keyakinan bahwa orang punya kecenderungan
mengulang respon yang memuaskan dengan menghindari respon yang tidak
memuaskan. Hukum ini membawa implikasi kebenaran bagi diadakannya
eksperimentasi dalam belajar.
Selain mengemukakan tiga hukum belajar, Tondike mengemukakan
prinsip-prinsip belajar, yaitu :
a. Pada saat seseorang berhadapan dengan sebuah situasi yang bagi dia
termasuk baru, berbagai ragam respon ia lakukan. Respon tersebut ada
kalanya berbeda-beda sampai yang bersangkutan memperoleh respon yang
benar.
b. apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan,
sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya, turut menentukan
tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
c. Pada diri seseorang sebenamya terdapat potensi untuk mengadakan seleksi
terhadap unsur-unsur penting dari yang kurang atau penting hingga akhirnya
dapat menentukan respon yang tepat.
d. Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama.
e. Orang cenderung mengadakan assosiative shiffing, ialah menghubungkan
respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala menyadari bahwa
respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.
f. Manakala suatu respon cocok dengan situasinya relatif mudah untuk
dipelajari (concept belongingness).

1.3. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Kognitif


Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-
penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajr sebagai proses hubungan
stimulus-respon-reinforcement. Mereka berpendapat, bahwa tingkahlaku
seseorang tidak hanya dikontrol oleh Reward dan reinforcement. Mereka ini
adalah para ahli jiwa aliran kognitif. Menurut pendapat mereka, tingkah laku

15
seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau
memikirkan seseorang terlibat langsung dalam situsi itu dan memperoleh insight
untuk pemecahan masalah. Jadi kaun kognitif berpandangan, bahwa tingkahlaku
seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang
ada dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya.
Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam
lingkungan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk
mengerti tentang sesuatu. Usaha untuk mengerti tentang sesuatu tersebut,
dilakukan secara aktif oleh pembelajar. Keaktifan tersebut dapat berupa mencari
pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan.
Mempraktekkan, mengabaikan dan respon-respon yang lainnya guna mencapai
tujuan. Para psikolog kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dipunyai
sebelumnya, sangat menentukan terhadap perolehan belajar :yang berhasil
dipelajari yang berhasil diingat dan yang mudah dilupakan.
Salah satu teori belajar yang berasal dari psikologi kognitif adalah teori
pemerosesan informasi. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagaoi proses
pengolahaninformasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan oleh otak
manusia sendiri dimulai dengan pengatan (penginderaan) atas informasi yang
berada dalam lingkungan manusia, penyimpanan (baik untuk jangka waktu
pendek maupun panjang), penyimpanan / pengkodean / penyadian terhadap
informasi-informasi yang tersimpan, dan setelah membentuk pengertian,
kemudian dikeluarkan kembalii oleh pembelajar.
Menurut teori ini suatu informasi yang berasal dari lingkungan
pembelajar, pada awalnya diterima oleh reseptor. Reseptor-sreseptor tersebut
memberikan simbol-simbol informasi yang ia terima, dan kemudian diteruskan
ke registor penginderaan yang terdapat pada saraf pusat. Dengan demikian,
informasi-informasi yang diterima oleh registor penginderaan telah mengalami
transformasi.

16
Informasi yang masuk ke dalam syaraf pusat tersdebut kemudian
disimpan dalam waktu pendek. Informasi-informasi yang disimpan dalam waktu
sebentar ini, sebagian diantaranya diteruskan ke memori jangka pendek,
sedangkan selebihnya hilang dari sistem. Proses pereduksian seperti ini dikenal
juga dengan persepsi selektif. Sementara memori jangka pendek lazim juga
dikenal dengan memori kerja dan kesadaran. Kapasitas memori jangka pendek
ini amat terbatas, waktunya juga pendek.
Informasi dalam memori jangka pendek dapat ditranspormasi dalam
bentuk kode-kode dan selanjutnya, diteruskan ke memori jangka panjang. Saat
transpormasi, informasi-informasi baru terintegrasi dengan informasi-informasi
lama yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang bertahan lama, dan
disiapkan untuk dipergunakan di kemudian hari.
Pengeluaran kembali atas informasi-informasi yang terseimpan dalam
memori jangka panjang adalah dengan pemanggilan. Dalam pikiran yang sadar,
informasi mengalir dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek, dan
kemudian kegenerator respon. Sementara untuk respon otomatis, informasi
mengalir langsung dari memori jangka panjang kegenerator respon selama
pemanggilan.menurut psikologi belajr kognitif, reinforcemen sangat penting
juga dalam belajar, meskipun alasan yang dikemukakan berbeda dengan
psikologi behavioristik. Sebab, manakala menurut psikolog behavioristik
reinforcemen berfungsi sebagai pemerkuat respon atau tingkah laku, maka
menurut psikolog kognitif, berfungsi sebagai sumber umpan balik, megurangi
keragu-raguan hingga mengarah kepada pengertian.
Teori kognitif berpijak pada tiga hal yaitu :
(1) Perantara sentral (central intermediaries)
(2) Proses-proses pusat otak (central brain), misalnya ingatan atau ekpektasi
merupakan integrator tingkah laku yang bertujuan. Pendapat ini berdasarkan
pada inferensi tingkah laku yang tampak (diamati)

17
(3) Pertanyaan tentang apa yang dipelajari ? Jawabannya adalah struktur
kognitif, bahwa yang dipelajari adalah fakta, kita mengetahui dimana
adanya, yang mengetahui altemate routes illustratis cognitive structure .
variabel tingkah laku non habitual adalah struktur kognitif sebagai bagian
dari apa yang dipelajari.
(4) Pemahaman dalam pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah
dengan cara menyajikan pengalaman lampau dalam bentuk struktur
perseptual yang mendasari terjadinya insight (pemahaman) di mana adanya
pemgetian mengenai hubungan-hubungan yang essensial. Perferensi yang
digunakan adalah the contemporary structuring of the problem.
Prinsip-prinsip belajar teori kognitif :
(1) Gambaran perseptual sesuai dengan masalah yang dipertunjukkan kepada
siswa adalah kondisi belajar yang penting. Suatu masalah belajar yang
trstruktur dan disajikan upaya gambaran-gambaran yang esensial terbuka
terhadap inspeksi dari siswa.
(2) Organisasi pengetahuan harus merupakan sesuatu mendasar bagi guru atau
perencana pendidikan. Susunanya dari yang sederhana ke yang kompleks,
dalam arti dari keseluruhan yang sederhana ke keseluruhan yang lebih
kompleks. Masalah bagian keseluruhan adalah masalah organisasi dan tidak
bertalian dengan teori pola kompleksitas. Sesuai dengan pandangan
mengenai pertumbuhan kognitif, maka organisasi pengetahuan tergantung
pada tingkat perkembangan siswa.
(3) Belajar dengan pemahaman (understanding) adalah lebih permanen
(menetap) dan lebih memungkinkan untuk ditransferkan, dibandingkan
dengan rte leaming atau belajar dengan formula. Berbeda dengan teori
stimulus respon, teori yang menitikberatkan pada pentingnya kebermaknaan
dalam belajar dan mengingat (retention).
(4) Umpan balik kognitif mempertunjukkan pengetahuan yang benar dan tepat
dan mengoreksi kesalahan belajr. Siswa menerima atau menolak sesuatu

18
berdasarkan konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya. Dalam hal ini
kognitif setara dengan penguatan (reinforcement) pada S-R theory, tetapi
teori kognitif cenderung menempatkan titik beratnya pada pengujian
hipotesis melalui umpan balik.
(5) Penetapan tujuan (goal setting) penting sebagai motivasi belajar.
Keberhasilan dan kegagalan menjadi hal yang menentukan cara menetapkan
tujuan untuk waktu yang akan datang.
(6) Berfikir defergen menuju ke ditemukannya pemecahan masalah atau
terciptanya produk yang berilai dan menyenagkan. Berbeda dengan berfikir
konvergen yang menuju ke mendapatkan jawaban-jawaban yang benar
secara logika. Berfikir defergen menuntut dukungan (umpan balik) bagi
upaya tentatif seseoranbg yang orisinil agar supaya dia dapat mengamati
dirinya sebagai kreatif potensial.

Teori Belajar Cognitive-Field dari Lewin


Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin (1892-1947)
mengembangkan suatu teori belajar cognitive field dengan menaruh perhatian
kepadakepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-mading
individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis.
Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut life space. Life
space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya :
orang-orang yang ia jumpai, objek materiil yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi
kejiwaan yang ia miliki. Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan
hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik dalam diri individu seperti tujuan,
kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun dari luar diri individu seperti sebagai
akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu
adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu
sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi intemal individu. Lewin
memberikan peranan yang lehih penting pada motivasi dari reward.

19
Teori Belajar Cognitive Development dari Piaget
Dalam teorinya Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai
aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah seorang psikolog developmental karena penelitiannya
mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang
mempengaruhi kemampuan belajr individu. Dia adalah salah seorang psikolog
suatu teori komperhensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berfikir.
Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-
kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual
adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan
penjelasan tentang pertumbuhan struktur memungkinkan individu mengalami
penyesuaian diri dengan lingkungna, maka Piaget tekanan penyelidikannya lain.
Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian / adaptasi manusia
serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa
struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan
lingkungan.
Piage memakai istilah scheme secara interchageably, Piaget memakai
istilah scheme secara interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah
pola tingkah laku yang dapat diulangulang. Scheme berhubungan dengan :
- Refleks-refleks pembawaan, misalnya bemafas, makan, minum
- Scheme mental, misalnya scheme of classifkation, scheme of operation (pola
tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap), scheme of operation
(pola tingkah laku yang dapat diamati).
Menurut Piaget, intelegensiitu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu :
a. Struktur, disebut juga scheme seperti yang dikemukakan di atas.
b. Isi disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu
menghadapi sesuatu masalah.

20
c. Fungsi, disebut juga fungcion, yang berhubungan dengan cara seseorang
mencapai kemajuan intelektual, fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam
fungsi invarian, yaitu organisasi dan adaptasi.
- Organisasi, berupa kecakapan seseorang / organisme dalam menyusun
proses-proses fisik dan psikis dalam bentu sistem-sistem yang koheren.
- Adaptasi, yaitu adaptasi individu terhadap lingkungannya. Adaptasiini terdiri
dari dua macam proses komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi.
+ Asimilasi : Proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk
menghadapi masalah dalam lingkungannya.
+ Akomodasi : Proses perubahanrespon individu terhadap stimuli
lingkungannya.
Dengan penjelasan seperti di atas dapatlah kita ketahui tentang
bagaimana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan individu.
Pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari
adanya equlibrium-equilibrium. Bila individu dapat menjaga adanya
equilibrium, individu akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual
yang lebih tinggi. Pengaplikasian di dlaam belajar, perkembangan kognitif
bergantung kepada komodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang
belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat belajar dari apa yang
telah diketahuinya saja. Ia tak dapat menggantngkan diri pada asimilasi. Dengan
adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha untuk dapat
mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudahpertumbuhan
kognitif.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak
mengandung tiga aspek, yaitu structure, content, dan function. Anak yang
sedang mengalami perkembangan. Struktur dan kontent intelektualnya berubah /
berkembang. Fungsi dan adaptasi akan mtersusun sehingga berubah /
berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu
rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus

21
yang menentukan kecakapan pikir anak. Maka Piaget mengartikan inteligensi
adalah sejumlah struktur piskologis yang ada pada tingkat perkembangan
khusus.

Tahap-tahap Perkembangan
Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap
perkembangan anak, yaitu :
1. Kematangan
2. pengalaman fisik / lingkungan
3. transmisi sosial
4. equilibrium atau self regulation
Selanjutnya ia membagi tingkat-tingkat perkembangan
1. Tingkat sensori motoris 0.0 – 2.0 Tiap
2. tingkat preoperasinal 2.0 – 7.0 anak
3. tingkat operasi konkret 7.0 – 11.0 ber-
4. tingkat operasi formal 11.0 - beda

Penjelasan :
1. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan
untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-
kanak ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia
hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya.
2. tingkat preoperasional
anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-
hal yang dapat ia jumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada
menjelang akhir tahun ke-2 anak telah mulai mengenal simbol / nama.
Dalam hubungan ini Philips (1969) membagi atas :
1. concreteness
2. interversibility
3. centering, (ini tampak adanya egocentisme)
4. state vs transformation, dan

22
5. transductive reasoning
1. tingkat operasi konkret
anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat
menghadapi hal-hal yang abstrak. Kecakapan kognitif anak :
(1) Combinativy classifkation
(2) Reversibility
(3) Associativity
(4) Identity
(5) Serializing
Anak mulai kurang egocentrisme-nya dan lebih sociocentris (anak mulai
membentuk peer group)
2. Tingkat operasi formal
Anak telah mempunyai pemikiran abstrak pada bentuk-bentuk kompleks.
Flavell (1963) memberikan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pada pemikiran anak remaja adalah hypothetko-deductive.
Ia telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problema dan
membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat, tetapi anak kecil
belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima.
b. Periode propositional thinking
Remaja telah dapat meberikan statemen atu proposisi berdasarkan pada
data yang konkret. Tetapi kaang-kadang ia berhadapan dengan proporsi
yang bertentangan dengan fakta.
c. Periode combinatorial thinking
Bila remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah
dapat memisahkan faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan
mengkombinasi faktor-faktor itu.

Jerome bruner dengan Discovely Leaming-nya


Yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang
menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajr di kelas.
Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery

23
leeaming, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan
suatu bentuk akhir. Prosedor ini berbeda dengan reception leaming atau
expositoryteaching, dimana guru menerangkan informasi dan murid harus
mempelajari semua bahan / informasi itu.
Banyak pendapat yang mendunkung discovery leaming itu, diantaranya
J. Dewey (1933) dengan complete art of reflective activity aau dikenal dengan
problem solving. Ide Bruner itu ditulis dalam bukunya Process of Education. Di
dalam buku itu ia melaporkkan hasil dari suatu konferensi diantara suatu para
ahli science. Ahli sekolah / pengajaran dan pendidik tentang pengajaran science.
Dalam hal ini /ia mengemukakan pendapatnya, bahwa mata pelajaran dapat
diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat
perkembangan anak. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat
diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat ke arah yang
abstrak.
Bruner mendapat pertanyaan, bagaimana kita dapat mengembangkan
program pengajaran yang lebih efektif bagi anak yang muda ? Jawaban Bruner
ialah dengan mengkoordinasikan metode penyajian bahan itu, yang sesuai
dengan tingkat kemajuan anak. Tingkat-tingkat kemajuan anak dari tingkatt
kamajuan anak (anactive) ke representasi konret (konek) dan akhirnya ke tingkat
representasi yang abstrak (symbolk). Demikian juga dalam penyesuaian
kurikulum. Pemyataan lain dan process of education ialah tentang bagaimana
mata pelajaran itu harus diajarkan. Kurikulum dari suatu mata pelajaran harus
ditentukan oleh pengertian yang sangat fundamental bahwa hal itu dapat dicapai
berdasarkan prinsip-prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu.
Maka di dalam mengajar harus dapat diberikan kepada murid struktur dari mata
pelajaran itu, murid harus mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah
suatu disiplin. Sekali murid mengetahui prinsip itu ia problem di dalam disiplin
itu. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada
muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau

24
ahli matematika.Biarkanlah murid-murid kita menemukan arti bagi diri mereka
endiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam
bahasa yang dimengerti mereka.

the act of discovery dari Bruner:


1. Adanya suatu kenaikan berkala di dalam potensi intelektual.
2. Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada intrinsik.
3. Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai
metode discovery leaming.
4. Murid lebilh senang mengingat-ingat informasi .

1.4. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Humanistik


Pada akhir tahun 1940-an muncul suatu perspektif psikologi baru. Orang-
orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam
perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan
konseler. Gerakan ini erkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi
humanistik, eksestensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini
berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver),
bukan dari pengamat (observer).
Dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960
sampai 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi
selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini pun juga akan menuju pada
arah ini (John Jarolimak ek, Cliffor D Foste, 1976, halaman 330)
Perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada masalah
bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud
pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka
sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik penyusunan dan penyajian
materi pelajaran barus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka

25
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977, p. 148).
Psikologi humanistik berkeyakinan bahwa anak termasuk makhluk yang
unik, beragam, berbeda antara satu dengan yang lain. Keberagaman yang ada
pada diri anak, hendaknya dikukuhkan. Dengan demikian, seorang pendidik atau
guru bukanlah bertugas untuk membentuk anak menjadi manusia sesuai yang ia
kehendaki, melainkan memantapkan visi yang telah ada pada anak itu sendiril
untuk itu, seorang pendidik pertama kali membantu anak untuk memahami diri
mereka sendiri, dan tidak memaksakan pemahamannya sendiri mengenai diri
siswa.
Keberagaman anak tidak saja dari segi lahir, melainkan yang terutama
adalah dari segi batinnya. Oleh karena itu, jika ingin memahami anak, tidak
dapat dengan menggunakan perspektif orang yang memahami, melainkan
dengan menggunakan perspektif orang yang dipahami.

Behaviorisme Versus Humanistik


Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli-ahli psikologi behavioral dan
humanistik mempunyai pandangan yang sangat berbeda. Perbedaan ini dikenal
sebagai freedom of determination issue. Para behaviorest memandang orang
sebagai makhluk reaktif yang memberikan responsnya terhadap lingkungannya.
Pengalaman lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Sebaliknya para humanistik mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu
menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas dalam memilih kualitas
hidup mereka, tidak terikat oleh lingkungannya.
Sebagaimana disebtakan diatas, bahwa pandangan psikologi humanistik
merupakan anti tesa dari pandangan psikologi behavioristik. Eka dalam
pandangan psikologi behavioristik, belajar merupakan kontrol instrumental yang
dilakukan oleh lingkungan, maka dalam pandangan psikologi humanistik justru
sebaliknya. Belajar dilakukan dengan cara memberikan kebebasan yang sebesar-
besarnya kepada individu.

26
Tokoh-Tokoh Humanistik
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti:
Combs, Maslov, dan Rogers

1) Combs :
Combs dan kawan-kawan menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku
orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita
ingin mengubah perilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah
keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan
seseorang dari yang lain. Combs dan kawankawan selanjutnya mengatakan
bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan
seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan
baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai
motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti, bahwa siswa
itu tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki
oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain, mungkin
sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif. Para ahli humanistik
melihat adanya dua bagian pada leaming, yaitu:
1. Pemerolehan informasi baru,
2. Personalisasi informasi, ini pada individu.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan
berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila subject matter-nya disusun dan
disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada subject
matter itu, dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi kepada
subject matter itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana caranya
membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari subject
matter itu, bagaimana siswa itu menghubungkan subject matter itu dengan
kehidupannya (Principles of Instruction Design oleh Robert M. Gayne &
Leshe J. Briggs, halaman 212).

27
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan persepsi dunia seseorang
seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Lingkaran
kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran besar (2) adalah
persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin
berkurang pengaruhya pada individu dan makin dekat peristiwa-peristiwa itu
dari persepsi diri makin besar pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-
hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu
terlupakan.

2) Maslov
Teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal :
(1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu, (maslov,
1968)
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti
rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil
kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya.
Tetapi mendorong untuk maju ke arah keutuhan, keunikan diri, menghadapi
dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendifi (self).
Maslov membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh
hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti
kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak
di tasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hirarki
kebutuhan manusia menurut Maslov ini mempunyai implikasi yang penting
yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia
mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin
berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

3) Carl Rogers

28
Salah seorang tokoh psikologi humanistik adalah Carl Rogers, seorang
ahli psikoterapi. la mempunyai pandangan bahwa siswa yang belajar
hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas. Tidak itu saja,
siswa juga diharapkan dapat membebaskan dirinya hingga ia dapat
mengambil keputusan sendiri dan berani bertanggung jawab atas keputusan-
keputusan yang ia ambil atau pilih.
Dalam belajar demikian, anak tidak dketak menjadi oran lain melainkan
dibiarkan dan dipupuk untuk menjadi dirinya sendiri. la tidak direkayasa
agar terikat kepada orang lain, bergantung kepada pihak lain dan memenuhi
harapan orang lain. la dibiarkan agar tetap bisa menjadi arsitek buat dirinya
sendiri.
Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar humanistik sebagai
berikut :
a. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar merupakan suatu hal yang bersifat alamiah bagi
manusia. Ini disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang terus
menerus terhadap dunia dengan segala isinya. Hasrat ingin tahu yang
demikian terhadap dunia sekelilingnya, menjadikan penyebab seseorang
senantiasa berusaha mencari jawabannya. Dalam proses mencari jawaban
inilah, seseorang mengalami aktivitas-aktivitas belajar.
b. Belajar bermakna.
Dalam pandangan psikologi humanistik makna sangat penting dalam
belajar. Seorang beraktivitas atau tidak senantiasa akan menimbang-nimbang
apakah aktivitas tersebut menipunyai makna buat dirinya. Sebab, sesuatu
yang tak bermakna bagi dirinya, tentu tidak akan ia lakukan.
c. Belajar tanpa hukuman.
Hukuman memang dapat saja membuat seseorang untuk belajar. Tetapi,
hasil belajar demikian tidak akan bertahan lama. la melakukan aktivitas
sekedar menghindari ancaman hukuman. Pada hal, manakala hukuman tak

29
ada, aktivitaspun tidak akan dilakukan. Oleh karena itu, agar anak belajar
justru harus dibebaskan dari ancaman hukuman.
Belajar yang terbebas dari ancaman hukuman demikian im menjadikan
penyebab anak bebas melakukan apa saja, mencoba-coba sesuatu yang
bermanfaat buat dirinya. mengadakan eksperimentasi-eksperimentasi hingga
anak dapat menemukan sendiri mengenai sesuatu yang baru. Kreativitas
anak dalam belajar yang bebas dari ancaman hukuman dengan sendirinya
juga akan meningkat.
d. Belajar dengan inisiatif sendiri.
Belajar dengan inisiatif sendiri pada diri pembelajar sebenamya menyiratkan
betapa tingginya motivasi internal yang dipunyai. Pembelajar yang banyak
berinisiatif tatkala belajar, senantiasa mencari cara-cara hingga dia berhasil
dalam belajarnya. Inisialif yang lahir dari diri sendiri im juga menunjukkan
rendalmya dependensi pembelajar terhadap orang lain. la akan bebas
melakukan apa saja dalam belajarnya. dan tidak terikat oleh rekayasa-
rekayasa yang berasal dari lingkungannya. Pada diri pembelajar yang kaya
inisiatif, terdapat kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri,
menentukan pilihannya sendiri serta berusaha menimbang-nimbang sendiri
mana hal yang baik bagi dirinya. la akan berusaha dengan totalitas
pribadinya untuk mencapai sesuatu yang ia cita-citakan.
e. Belajar dan perubahan.
Dunia terus berubah, dan siapapun di dunia ini tak ada yang dapat
menangkal perobahan. Oleh karena itu, pembelajar haruslah dapat belajar
dalam segala kondisi dan situasi yang serba berubah. Kalau tidak, ia akan
terlindas oleh perubahan.
Dengan demikian, belajar yang sekedar mengingat fakta, menghafal
sesuatu, dipandang tidak cukup. Orang harus dapat menyesuaikan dalam
sebuah dunia yang senantiasa berubah.
Dalam bukunya freedom to learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-
prinsip belajar humanistik yang penting, di antaranya adalah :

30
(1) Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
(2) Belajar yang signifikan terjadi apabila subject matter di rasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.
(3) Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai
dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
(4) Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebilh mudah
dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar itu
semakin kecil
(5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat
diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses
belajar
(6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
(7) Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan
ikut bertanggung-jawab terhadap proses belajar itu.
(8) Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi
siswa seutuhnya baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang
dapat memberikan basil yang mendalam dan lestari.
(9) Kepercayaan tehadap diri sendiri, kemerdekaan. kreativitas lebih mudah
dicapai terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik
dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang
penting.
(10) Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini
adalah belajar mengenai proses belajar. suatu keterbukaan yang terus-
menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya
sendiri mengenai proses perubahan itu.

1.5. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Gestalt.

31
Dalam aliran ini ada beberapa istilah yang artinya sama ialah: field,
pattera, organisme, closure, integration, wholistk, configuration, dan gestalt.
Karena itu psikologi gestalt sering disebut psikologi organisme atau field theory.
Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang
berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-
unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah
tertentu dan saling berinteralisi satu sama lain, Contoh: kepala manusia bukan
merupakan penjumlahan daripada batok kepala, telinga, bidung, mata, mulut,
rambut, dagu, dan sebagainya, melainkan kepala itu adalah suatu keseluruhan
yang bermakna, di mana unsur-unsur tadi teletak pada struktumya masing-
masing. Mata tidak mungkin terletak di ibu jari, hidung tidak mungkin terletak
di tengah-tengah dada dan seterusnya. Pada struktumya masing-masing itulah
bagian-bagian dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bagian-bagian itu hanya
bermakna dalam hubungan keseluruhan itu. Lagi pula sesuatu hal, perbuatan,
benda lain-lain hanya bermakna dalam hubungan dengan situasi tertentu.
Misalnya: emas (perhiasan) hanya bermakna dalam situasi di mana ada pesta.
para tamu umumnya memakai perhiasan yang indah-indah, akan tetapi akan
tidak bermakna dalam situasi padang pasir di mana seseorang sedang mengalami
rasa haus dan dahaga.
Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar.
Beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian antara lain ialah :
(1) Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi, antara individu dan lingkungan
dimana faktor apa yang telah dimiliki (natural endowment) lebih menonjol.
(2) Bahwa individu berada dalam keadaan keseimbangan dinamis, adanya
gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong timbulnya kelakuan.
(3) Mengutamakan segi pemahaman (insight)
(4) Menekankan kepada adanya situasi sekarang, dimana individu menemukan
dirinya

32
(5) Yang utama dan pertama adalah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya
bermakna jika berada dalam keseluruhan itu.

Prinsip-prinsip Belajar gestalt (field theory )


1) Belajar dimulai dari suatu keseluruhan. Keseluruhan yang menjadi
permulaan, baru menuju ke bagian-bagian. Dari keseluruhan organisasi mata
pelajaran menuju tugas-tugas harian yang beruntun. Belajar dimulai dari
satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti,
deferensiasi pengetahuan dan kecakapan.
2) Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian. Bagian-bagian
terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam
rangka keseluruhan tadi. Dengan demikian keseluruhan yang memberikan
makna terhadap suatu bagian, misal : sebuah ban mobil hanya bemakna
kalau menjadi bagian dari mobil, sebagai roda. Sebuah papan tulis hanya
bermakna sebagai papan tulis kalau ia berada dalam kelas, sebuah tiang
kayu hanya bermakna sebagai tiang kalau menjadi satu dari rumah dan
sebagainya.
3) Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat
sesuatu sebagai keseluruhan. Bagian-bagian dilihat dalam hubungan
fungsional dengan keseluruhan. Tetapi lambat laun ia mengadakan
deferensiasi bagian-bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian yang
lebih kecil atau kesatuan yang lebih kecil contoh: mula-mula anak melihat
mengenal wajah ibunya sebagai keseluruhan kesatuan. Lambat laun dia
dapat memisahkan mana mata ibu, mana hidung ibu, mana telinga ibu,
kemudian ia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, atau menarik
dan sebagainya.
4) Anak belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight. Pemahaman
adalah kemampuan melihat hubungan-hubungan antara berbagai faktor atau
unsur dalam situasi yang problematis, seperti simpanse dapat melihat

33
hubungan antara beberapa buah kotak menjadi sebuah tangan untuk
mengambil buah pisang karena ia sedang lapar.
Tokoh psikologi gestalt ini antara lain adalah Kohler, Koffka dan
Wertheimer. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar terdiri atas hubungan
stimulus respon yang sederhana tanpa adanya pengulangan ide atau proses
berfikir.
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahimya teori belajar
Gestalt ini. Peletak dasar psikologi gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943)
yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini
diikuti oleh Kurt koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci
tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wollgang Kohler (1887-1959)
yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka
menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah
konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum gestalt
berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu
keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimuli dalam keseluruhan yang
terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.
Suatu konsep yang penting dalam teori gestalt adalah tentang "insight",
yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar
bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight itu sering
dihubungkan dengan pemyataan spontan "aha" atau "oh", “sec-now".
Kohler (1927) menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse
dengan menghadapkan simpanse pada masalah bagaimana memperoleh pisang
yang terletak di luar kurungan atau tergantung di atas kurungan. Dalam
eksperimen itu Kohler mengamati, bahwa kadangkala simpanse dapat
memecahkan masalah secara mendadak, kadangkala gagal meraih pisang,
kadang kala duduk merenungkan masalah, dan kemudian secara tiba-tiba
menemukan pemecahan masalah.

34
Wertheimer (1945) menjadi orang gestalt yang mula-mula
menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari
pengamatannya itu. ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah
dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis.
Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada
simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman
terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian
dengan keseluruhan. Menurut psikologi gestalt, tingkat kejelasan atau
keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih
meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
Menurut psikologi gestalt setiap pengalaman itu senantiasa struktur.
Setiap respon yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulan, sebenamya tidak
tertuju kepada suatu bagian melainkan teriuju kepada sesuatu yang bersifat
kompleks.
Adapun hukum-hukum belajar menurut psikologi adalah sebagai
berikut :
a. Hukum kesamaan (law of similarity). Menurut hukum ini, sesuatu yang sama
cenderung membentuk satu kesatuan. Perhatikan gambar berikut ini:
$ Y @ h
$ Y @ h
$ Y @ h
b. Hukum penuh makna (law of pragnanz). Menurut hukum ini, pengamatan
terhadap sesuatu objek cenderung dikaitkan dengan makna objek tersebut
bagi seseorang. Makna objek tersebut bagi seseorang, bisa berupa
bentuknya, ukurannya, warnanya dan sebagainya.
c. Hukum kedekatan ( law of proximity ). Menurut hukum ini, sesuatu yang
berdekatan cenderung membentuk satu kesatuan, periksa gambar berikut ini
|| || || ||
|| || || ||

35
ab cd ef gh
d. Hukum ketutupan (law of closure ). Menurut hukum ini, hal-hal yang
tertutup membentuk suatu kesatuan. Perhatikan gambar berikut
     
   
     
a b c d e f
e. Hukum-hukum kontinyutas ( law of goof continuation )
Menurut hukum ini, hal-hal yang merupakan kontinyuitas membentuk suatu
kesatuan.
Menurut psikologi gestalt, wawasan atau yang lazim disebut sebagai
insight dipandang sebagai inti belajar. Oleh karena itu, dalam belajar yang
mestinya ditanamkan adalah pengertian siswa mengenai sesuatu yang harus
dipelajari.

2. CIRI - CIRI BELAJAR


Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa belajar adalah perubahan tingkah
laku sebagai akibat dari adanya pengalaman. Oleh karena itu, ada sejumlah ciri
belajar yang dapat dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain selain belajar.
Pertama, belajar dibedakan dengan kematangan. Kedua, belajar dibedakan
dengan perubahan kondisi fisik dan mental. Ketiga hasil belajar bersifat relatif
menetap.
Berdasarkan pengertian belajar diatas. maka pada hakikatnya "belajar
menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu
berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah taku
tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecendrungan-kecendrungan respon
bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan,
dsb)".

36
1) Belajar berbeda dari kematangan.
Kematangan adalah sesuatu yang dialami oleh manusia karena
perkembangan-perkembangan bawaan. Tanpa melalui aktivitas belajarpun,
pada saat tertentu, orang akan mengalami kematangan. Oleh karena itu,
kematangan akan dialami oleh seseorang, meskipun ia sendiri tidak
mensengaja. Kematangan yang ada pada diri seseorang juga bukan karena
satu upaya yang dilakukan oleh orang lain (misalnya saja guru).
Kematangan umumnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan pada diri
seseorang, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Adanya perubahan pada
diri seseorang semisal dari belum bisa berjalan pada umur tertentu menjadi
bisa berjalan pada umur selanjutnya, tidaklah akibat dari aktivitas belajar.
Demikian juga, dari seseorang belum bisa berbkara kemudian menjadi bisa
berbkara, juga bukan karena aktivitas belajar melainkan karena adanya
proses kematangan.
Berbeda dengan belajar, ia adalah suatu proses yang disengaja dan secara
sadar. Belajar adalah suatu aktivitas yang dirancang, atau sebagai akibat
interaksi antara individu dengan lingkungannya.
2) Belajar dibedakan dari perubahan kondisi fisik dan mental.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disengaja. Perubahan
tersebut bisa berupa dari tidak talm menjadi tahu, dari tidak mengerti
menjadi mengerti, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat
mengedakan sesuatu, dari memberikan respon yang salah atas stimulus-
stimulus ke arah memberikan respon yang benar. Berarti perubahan fisik dari
kecil menjadi besar, dari kurus menjadi gemuk, dan pendek menjadi semakin
tinggi bukanlah karena proses belajar, dan oleh karena itu tidak dapat disebut
sebagai proses belajar.
3) Hasil belajar relatif menetap
Hasil belajar relatif menetap, dan tidak berubah-ubah. Perubahan tingkah
laku yang sifatnya relatif tidak menetap, bukanlah karena proses belajar.
Orang setiap kali dapat berubah. Perubahan-perubahan demikian, tidak sama

37
dengan perubahan-perubahan dalam belajar. Oleh karena itu, tidak semua
perubahan yang ada pada diri seseorang dianggap sebagai hasil belajar.
Hanya perubahan-perubahan tertentu saja yang memenuhi syarat untuk
disebut sebagai belajar.

3. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS DALAM BELAJAR


Tujuan dan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah dua hal yang
sangat penting dalam belajar. Tujuan umumnya mengarahkan seseorang yang
sedang belajar ke arah kegiatan tertentu. Sementara unsur-unsur dinamis dalam
belajar adalah suatu perangkat yang turut menghantarkan sesemang yang sedang
mencapai tujuan belajar.
Tujuan Belajar
Setiap manusia kreativitas, sepanjang aktivitas tersebut disadari,
senantiasa dimaksudkan bagi pencapaian tujuan tertentu. Demikian juga
seseorang yang sedang berkreativitas belajar. tentulah dimaksudkan bagi
pencapaian tujuan.
Paling tidak ada empat alasan mengapa tujuan belajar ini perlu
dirumuskan oleh pembelajar. Pertama, agar ia mempunyai arah dalam
berkreativitas belajar. Kedua, agar ia dapat menilai seberapa target belajar telah
ia capai atau belum. Ketiga agar waktu dan tenaganya tidak tersita untuk
kegiatan selain belajar.

3.1. Tujuan belajar dalam hubungannya dengan perubahan tingkah laku.


Salah satu ciri belajar pada diri seseorang adalah terdapatnya perubahan
tingkah laku pada dirinya. Adanya perubahan tingkah laku ini menjadikan
seorang pembelajar berubah dari suatu kondisi ke kondisi tertentu. Perubahan
tingkah laku dalam diri pembelajar umumnya dapat diamati (obsevable). Oleh
karena itu, ketika pembelajar mau mengadakan aktivitas belajarnya, perlu
merumuskan tujuan belajar buat dirinya sendiri.

38
Dalam merumuskan tujuan belajar yang terkait dengan perubahan
tingkah laku ini, seseorang pembelajar pertama kali haruslah mengenali
mengenai dirinya sendiri. Pengenalan terhadap dirinya sendiri ini sangat penting
guna merumuskan kebutuhan kebutuhan belajarnya. Pengenalan mengenai diri
sendiri ini juga bisa terhindar dari mempelajari sesuatu yang sudah dikuasai,
disamping dapat terhindar juga dari mempelajari sesuatu yang tidak
dimaksudkan untuk dipelajari.
Tujuan belajar yang dikaitkan dengan perubahan tingkah laku ini
mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a. Jelas siapa yang berubah (dalam hal ini adalah pembelajar sendiri, dan bukan
pengajar).
b. Jelas perubahannya, dari tidak bisa sesuatu menjadi bisa sesuatu.
c. Jelas waktunya, yaitu kapan perubahan tingkah laku tersebut berlangsung
dan tercapai.
d. Jelas ukuran perubahannya, yang lazim ditunjukkan secara kuantitatif.
e. Jelas cara menghukumya, yaitu perubahan tersebut dapat diukur dengan cara
bagaimana.
f. Dirumuskan dengan kata-kata yang kongkrit (observable).
Sebagai contoh, setelah menelaah Bab I, pembelajar dapat menjelaskan 4
ciri-ciri tingkah laku menyimpang secara lisan. Kata pertama, pembelajar,
menunjukkan dengan jelas siapa yang berubah tingkah lakunya setelah
melakukan aktivitas, dalam hal ini adalah pembelajar bukan pengajar (unsur
pertama). Kata-kata dapat menjelaskan menunjukkan terdapatnya perubahan
tingkah laku pada diri pembelajar: dari tidak bisa menjelaskan menjadi bisa
menjelaskan (unsur kedua). Kata-kata setelah menelaah bab I menunjukkan
waktu perubahan (unsur ketiga). Kata-kata 4 ciri-ciri tingkah laku menyimpang
menunjukkan ukuran perubahan. Bandingkan misalnya dengan kata-kata: ciri-
ciri tingkah laku menyimpang. Kata-kata ini tidak menunjukkan berapa jumlah
ciri tingkah laku menyimpang (unsur keempat). Kata secara lisan menunjukkan
bagaimana perubahan tingkah laku tersebut diukur. Sebab, pengukuran terhadap
bisa tidaknya seseorang menjelaskan secara lisan dan secara tertulis.

39
membutuhkan cara pengukuran tersendiri. Oleh karena itu, bentuk perubahan
tingkah laku tesebut haruslah jelas (unsur kelima). Kata menjelaskan pada
rumusan tujuan menunjukkan bahwa ia dapat diamati secara konkrit.
Bandingkan misaInya dengan kata memahami, mengerti. merasakan, menikmati.
Kata-kata disebutkan terakhir ini tidak dapat diamati (tidak observable).
Bloom dan kawan-kawan (1956) membuat taksonomi tujuan belajar yang
terkait dengan perubahan tingkah laku ini. Ia mengkategorisasikan tujuan (bukan
memisahkan, karena semestinya tidak untuk dipisah-dipisahkan) menjadi tiga
kawasan, ialah kawasan tersebut, masing-masing mempunyai sub kawasan
masing-masing yang disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan yang
kompleks.
Kawasan pertama, cognitive terdiri dari knowledge, comprehension,
applkation, analysis, syntihesis don evaluation. secara berturut-turut akan
dijelaskan sebagai berikut :
a. Knowledge, dapat diartikan dengan pengetahuan. Sub kawasan ini
mementingkan aspek ingatan. Oleh karena itu, sub kawasan ini lebih tepat
untuk diartikan mengingat terhadap materi-materi yang pernah dipelajari.
Mengingat kembali terhadap fakta-fakta yang pernah dipelajari, teori-teori
yang pernah ditelaah. dalam kawasan kognitive ini dipandang berada pada
tingkat terendah.
b. Comprehension dapat diartikan dengan kemampuan untuk menangkap
pengertian mengenai sesuatu. Pada sub kawasan ini, seseorang dapat
menterjemahkan sesuatu, mengambil kata lain dari suatu kata atau
pengertian, mengambil inti dari suatu bacaaan dan membuat prakiraan-
prakiraan.
c. Applkation lazim diberi makna sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan
apa-apa yang pernah dipelajari ke dalam situasi yang senyatanya. Pada sub
kawasan ini, seseorang yang sedang belajar mampu menerapkan,
mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori dalam situasi praktis.

40
d. Analysis adalah suatu kentamptian untuk merinci, menghubungkan,
menguraikan rincian dan saling hubungan antara bagian satu dengan bagian
lainnya.
e. Synthesis adalah suatu kemamptian untuk menyatukan hal-hal yang tak
menyatu menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Dengan kemampuan synthesis
ini sesuatu yang sebelumnya terbelah-belah terkristal dan kemudian dapat
diformulasikan ke dalam forinula yang tak terbelah.
f. Evaluation adalah suatu kemampuan unluk menentukan baik-buruk,
berharga-tidak berharga, bernilai-tidak bernilai
mengenai suatu hal. Penentuan tersebut didasarkan atas patokan-patokan
yang dilmat pada masa sebelumnya. Kemampuan mengadakan evaluasi ini
termasuk jenis kemampuan yang tertinggi dalam kawasan kognitive ini.
Kawasan kedua, affective ineliputi empat sub kawasan berikut:
receiving, responding, valuing, organization, characteristization by a value or
value complex. Secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Receiving atau penerimaan, adalah kemampuan seseorang untuk
menghadirkan kediriannya pada sebuah even atau stimulus-stimulus yang ia
terima. Menghadirkan diri demikian ini, meskipun dalam tataran rendah.
telah dapat meliput kesadaran seseorang. Hasil belajar pada sub kawasan ini
telah memunculkan sebuah kesadaran yang paling simpel sampai dengan
hadimya perhatian yang terpilih.
b. Responding atau pemberian tanggapan. Kemampuan ini relatif febih tinggi
tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan receiving. Jika pada sub
kawasan receiving seseorang menghadirkan kediriannya pada sebuah even,
maka dalam sub kawasan responding ini seseorang memberikan tanggapan/
respon/jawaban atas even-even yang ia terima.
c. Valuing atau pemberian nilai. Yang dimaksud dengan pemberian nilai di sini
adalah memberikan harga terhadap suatu fenomena, benda, kejadian atau
even, Sub kawasan ini menjadikan seseorang bisa menerima nilai tertentu
dan menunjukkan komitmennya pada nilai tertentu. Oleh karena itu, pada

41
sub kawasan ini seseoarang tampak tingkatan integritasnya: keajegan,
integritas.
d. Organization atau pengorganisasian adalah upaya untuk memadukan
berbagai jenis nilai yang berbeda-beda. Dari nilai-nilai yang berbeda
tersebut, kemudian dibangun menjadi suatu sistem nilai. Ada semacam
sintesa nilai-nilai yang beragam, hingga menjadi suatu kesatuan nilai. Antara
nilai satu dengan yang lain dicoba hubungkan. Bila terdapat konflik di antara
nilai-nilai tersebut dicoba pecahkan.
e. Characterization of value or value complex atau karakterisasi dengan suatu
nilai. Pada sub kawasan ini seseorang mempunyai sistem nilai yang dapat
mengendalikan tingkah lakunya dalam kehidupan hingga dapat membentuk
gaya hidup yang khas, berbeda dengan orang lain. Hasil belajar pada sub
kawasan ini bisa menjadikan seseorang menyesuaikan diri secara personal,
sosial dan emosional.
Kawasan ketiga psycomotor, mencakup tujuh sub kawasan dari yang
tingkatan terendah hingga tingleatan tertinggi. Ke tujuh sub kawasan ini adalah
perception, set, guided respon, mechanism, complex overt respon, adaptation
dan origination. Sub-sub kawasan ini dapat d1Jelaskan sebagai berikut:
a. Perception atau persepsi. Yang dimaksud dengan persepsi di sini adalah
penggunaan indera untuk memperoleh petunjuk ke arah motorik. Pada sub
kawasan ini, seseorang mengindera stimulus-stimulus yang berasal dari
lingkungannya guna persiapan untu membimbing aktivitas-aktivitas
motoriknya.
b. Set atau kesiapan. Sub kawasan ini meliputi mental set, physkal set dan
emotional set. Pada subleawasan ini, seseorang bersedia mengambil tindakan-
tindakan berdasarkan persepsinya terhadap stimulus atau fenomena-fenomena
yang berasal dari agkungannya.
c. Guided respon atau respon terpimpin. Pada sub kawasan ini seseorang mulai
berada pada proses belajar keterampilan yang lebib komplek. Pada sub

42
kawasan ini seseorang terlibat dalam proses peniruan yang
diperformansikan, selanjumya mencoba menggunakan tanggapan dalam
menangkap suatu motorik.
d. Mechanism atau mekanisme. Pada sub kawasan ini responrespon yang telah
dipelajari oleh seseorang telah berubah menjadi kebiasaan dan gerakan-
gerakan yang ditampilkan, dilakukan dengan penuh kepercayaan dan
kemahiran.
e. Complex over respons atau respon nyata yang kompleks. Pada sub kawasan
ini seseorang yang lagi belajar, melakukan gerakan dengan mudah
disamping mempunyai kontrol yang baik. Kadar motorik pada sub kawasan
ini relatif cukup tinggi. Sebab, gerakan-gerakan pada sub kawasan ini relatif
cepat, cermat termasuk pada hal-hal yang rumit dan tepat meskipun disertai
dengan energi yang minimal.
f. Adaptation atau penyesuaian. Yang dimaksud dengan penyesuaian adalah
sebuah keterampilan dimana seseorang dapat mengolah gerakan hingga
sesuai dengan tuntutan kondisional dan situational, termasuk yang
problematis sekalipun.
g. Origination atu penciptaan. Sub kawasan ini termasuk paling tinggi
tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan sebelumnya, oleh karena
unsur kreativitas sudah masuk di sini. Performansi seseorang yang belajar
pada sub kawasan ini umumnya ditandai dengan hal-hal yang serba baru,
misaInya membuat pola-pola baru, merancang hal-hal baru.

3.2. Tujuan belajar sebagai pembentukan pemahaman nilai dan sikap.


a. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan pemahaman
Tujuan belajar memang merupakan sasaran bagi pembentukan
pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dipelajari. Pemahaman seseorang
terhadap hal-hal yang dipelajari, sebutlah saja dunia dengan segala isinya,
sangatlah penting artinya bagi pembelajar.

43
Pemahaman pembelajar tehadap dunia dengan segala isinya tidak saja
mendatangkan kepuasan bagi pembelajar, melainkan dapat menempatkan diri
pembelajar pada posisi strategik. la akan mempunyai peta dimana ia harus
menempatkan diri, ia akan mengetalmi apa yang harus ia pertuat dan apa yang
tidak ia perbuat.
Terjadinya bentrokan-bentrokan di dunia, sebenamya disebabkan kurang
adanya saling pemahaman di antara mereka. MimbuInya saling curiga, juga
dapat disebabkan kurang adanva saling pemahaman. Oleh karena itu
terbentuknya pemahaman pembelajaran terhadap sesuatu yang dipelajari, tidak
saja bermanfaat bagi dirinya sendiri, melainkan bermanfaat juga bagi
linkungannya
Pemahaman seseorang terhadap orang lain, malahan dapat menjadikan
seseorang melihat orang lain tidak semata dengan menggunakan perspektif
sendiri. la mencoba menangkap seseorang dengan menggunakan perspektif
orang yang dipandang. Dengan cara pandangan demikian, ia akan mengenal
orang yang dipandang tersebut dalam keadaan yang senyatanya, dan tidak
terbatas pada persepsinya sendiri.
Pemahaman terhadap orang lain, juga menjadikan seseorang tidak risau,
jika melihat orang lain berbeda dengan dirinya. la. juga sekaligus tidak membuat
dirinya agar seperti orang lain, dan sebaliknya tidak menuntut orang lain agar
seperti dirinya. la akan menjadi dirinya sendiri, dan memahami jika orang lain
juga seperti dirinya.
Singkat kata, pemahaman adalah suatu dasar bagi segala akan seseorang.
Ia memberikan kontribusi yang besar bagi sukses tidaknya seseorang. Lebih jauh
pemahaman menjadikan seseorang saling mengerti, dan lehih lanjut lagi saling
menghargai. Pemahaman sekaligus mencegah timbuInya saling curiga, dan lebih
jauh lagi mencegah timbuInya saling bentrokan.

b. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan nilai dan sikap.

44
Setiap masyarakat, masyarakat manapun, pasti menganut sebuah nilai,
Nilai dinlaksud, adakalanya merupakan produk masyarakat pada kurun waktu
yang sejaman dengan mereka. Malahan, pada masa sekarang ini, nilai-nilai yang
dianut oleh sebuah masyarakat, dapat merupakan kristalisasi dari hasil dialog
antara nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dengan yang
sejaman dengan mereka.
Di era globalisasi seperti saat sekarang, sebagai akibat dari melesatnya
perkembangan teknologi komunikasi, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat,
dapat merupakan kristalisasi hasil dialog antara nilai-nilai yang selama ini dianut
dengan nilai-nilai baru yang datang dari dunia luar. Oleh karenanya, nilai-nilai
yang dianut oleh masyarakat dewasa ini semakin beragam.
Dalam belajar, ada nilai-nilai tertentu yang harus diupayakan terbentuk
pada diri pembelajar. Nilai-nilai yang dibentukkan pada diri pembelajar tersebut,
tentu nilai-nilai luhur yang secara universal dianut oleh hampir setiap
masyarakat, disamping nilai-nilai luhur yang spesifik dianut oleh masyarakat
dimana pembelajar tersebut berada.
Nilai-nilai luhur yang hampir dianut oleh setiap masyarakat secara
universal misaInya adalah: kebenaran, kejujuran, keindaban, kemerdekaan,
saling membantu dan memberi manfaat. Sementara nilai-nilai luhur yang dianut
oleh masyarakat secara spesifik khususnya di lingkungan pembelajar banyak
ragamnya, seberagam jumlah pembelajar.
Disamping tujuan belajar terkait dengan pembentukan nilai, sekaligus
juga terkait dengan pembentukan sikap. Terbentuknya sebuah sikap, lazim juga
didasarkan atas sehuah nilai. Meskipun nilai bukanlah satu-satunya yang
menentukan sikap. Berbedanya nilai-nilai yang dianut oleb seseorang lazim
menjadikan penyebab berbedanya seseorang dalam menyikapi sesuatu. Sebab,
nilai-nilai yang dianut seseorang turut menentukan persepsi seseorang tentang
sesuatu. Pada hal persepsi seseorang terhadap sesuatu lazimnya juga turut
menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu.

45
c. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan, keterampilan-keterampilan
personil-sosial, kognitif dan instrumental.
Setiap pembelajar, tentu memiliki kekhasan tertentu yang berbeda
dengan pembelajar lain. Oleb karena itu, dalam belaiar seorang pembelajar
haruslah mengembangkan kekhasan-kekhasan yang dimiliki. Keterampilan
personal yang dimiliki. Keterampilan p.ersonal yang dimiliki oleh pembelajar,
haruslah dibentuk dan dikembangkan secara terus menerus. Dengan cara
demikian, maka pembelajar akan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
ciri khas atau karakteristik yang ada pada dirinya.
Selain keterampilan-keterampilan personal dibentuk, keterampilan sosial
pembelajar juga perlu dibentuk. Pembentukan keterampilan sosial demikian
tampak urgensinya manakala dilihat kedudukan pembelajar yang tidak saja
sebagai makhluk individu melainkan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial, pembelajar haruslah dapat berinteraksi secara baik dengan
lingkungan sosiaInya, sesama manusia. Maka dari itu, pembentukan
keterampilan-keterampilan sosial pada diri pembelajar dimaksudkan untuk
menyiapkan pembelajar agar dapat hergabung dan berinteraksi secara baik
dengan lingkungan sosialnya.
Dengan perkataan lain, jika pembentukan keterampilan personal
dimaksud untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan yang ada pada diri
pembelajar, maka keterampilan sosial antara lain dimaksudkan
mengkomunikasikan keterampilan personal yang telah terbentuk dalam
lingkungan sosiaInya.
Pembentukan keterampilan kognitif dimaksudkan agar pembelajar secara
terus-menerus menimba ilmu pengetahuan, tanpa batas. Keterampilan kognitif
pada diri pembelajar menjadikan pembelajar haus secara terus menerus terhadap
ilmu pengetahuan. Dengan pengembangan yang terus menerus pembelajar tidak
akan ketinggalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian

46
pesat. Dengan pembentukan keterampilan kognitif ini maka pembelajar
memandang belajar bukan sebagai beban melainkan menjadi sebuah kebutuhan.
Pembentukan keterampilan instrumental pada diri pembelajar,
mengarahkan pembelajar sadar pada pembangunan yang sedang digalakkan. Jika
keterampilan instrumental ini telah terbentuk pada diri pembelajar, maka
pembelajar punya kesadaran yang sedemikian dalam terhadap pembangunan
yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian ia mengambil bagian secara aktif
di dalamnya, dan tidak sekedar sebagai penonton saja. Kesadaran untuk secara
terus menerus membangun dirinya sendiri dan membangun masyarakat,
lingkungan dan bangsanya adalah sasaran bagi pembentukan keterampilan
instrumental ini.
Keterampilan instrumental ini adalah tindak lanjut konkrit dari
keterampilan-keterampilan yang ingin dibentuk sebelumnya: keterampilan
personal, sosial dan kognitif

3.3. Unsur - unsur dinamis yang terkait di dalam proses belajar


Yang dimaksud dengan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-
unsur yang dapat berubah dalam proses belajar. Perubahan unsur-unsur tersebut
dapat berupa: dan tidak ada menjadi ada atau sebaliknya, dari lemah menjadi
kuat dan sebaliknya, dari sedikit menjadi banyak dan sebaliknya. Unsur-unsur
dinamis tersebut meliputi: motivasi, bahan belajar, alat bantu belajar, suasana
belajar dan kondisi subjek pembelajar. Berikut ini akan dijelaskan tentang :
1) Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belajar.
2) Bahan belajar dan upaya penyediaannya.
3) Alat bantu belajar dan upaya penyediaanya.
4) Suasana belajar dan upaya pengembangannya.
5) Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya.
1. Motivasi dan Upaya Memotivasi Siswa Untuk Belajar
Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan,
pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti
mendorong, menyebabkan merangsang. Slotive sendiri berarti alasan, sebab, dan

47
daya penggerak (echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang
mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas rertentu guna
mencapai tujuan yang diinginkan (suryabrata, 1984). Secara serupa Winkels
(1987) mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri
seseorang untuk melakukan alstivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan
tertentu pula.
Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu
motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah
keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar mengajar. kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan
(Winkels, 1987).
Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah,
semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi
tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Siswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggal belajarnya
dan sangat sedikit pula kesalahan dalam belajarnya (Palardi, 1975).
Secara garis besar motivasi dapat dibedakan menjadi dua ialah intrinsik
dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari
dalam tanpa ada rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah
motivasi yang berasal dari luar.
Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
Ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana
dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut: menarik kepada guru, artinya tidak
membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan. mempunyai antusias yang tinggi seta mengendalikan perhatiannya
terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin
identitas dirinya diakui oleh orang lain, tindakan, kebiasaan, dan moraInya
selalu dalanu kontrol diri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya
kembali, dan selalu terkontrol oleh lingkungammya.
Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada
diri seseorang adalah: tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara

48
terus menerus dalam waktu lama, ulet, menghadapi kesulitan, dan tidak mudah
putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, menunjukkan minat
yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar, lebih suka bekerja
sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain, tidak cepat bosan dengan tugas-
tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan
apa yang diyakini: senang mencari dan memecahkan masalah.
Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk memotivasi siswa agar
belajar ialah :
a. Kenalkan siswa pada kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Dengan
mengenal kemampuan dirinya, siswa akan tahu kelebihan dan
kekurangannya. Dengan mengetahui kelebihan dirmya, ia mengukuhkan dan
memperkuat kelebihan tersebut. Dengan mengetabui kekurangan yang ada
pada dirinya, siswa akan berusaha menyempurnakan melalui aktivitas
belajar. Di sini siswa akan timbul motivasi belajarnya.
b. Bantulah siswa untuk merumuskan tujuan belajarnya. Sebab, dengan
merumuskan tujuan belajar ini, siswa akan mendapatkan jalan yang jelas
dalam melaksanakan aktivitas belajar. Siswa juga akan mempunyai target-
target belajar, dan ia berusaha untuk mencapainya.
c. Tunjukkan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang dapat
mengarahkan bagi pencapaian tujuan belajar. Dengan ditunjukkannya
aktivitas-aktvitas yang dapat mencapai tujuan, siswa tersebut tidak
melakukan aktivitas lain yang tidak ada kaitannya dengan pencapaian tujuan
dan target belajar. Dengan cara demikian waktu dan tenaga siswa dapat
secara efektif dan efisien dipergunakan mencapai target belajarnya.
d. Kenalkanlah siswa dengan hal-hal yang baru. Sebab hal-hal baru ini dapat
"menghidupkan kembali" hastat ingin tahu siswa. Adanya rasa ingin tahu
yang demikian besar, menimbulkan gairah bagi siswa untu beraktifitas
belajar.

49
e. Buatlah variasi-variasi dalam kegiatan belajar mengajar, supaya siswa tidak
bosan. Sebab, kebosanan pada diri siswa, termasuk dalam aktivitas belajar,
hanya akan memperlemah motivasi saja.
f. Adakan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa.
Sebab, evaluasi yang dilakukan terhadap keberhasilan belajar siswa ini, akan
mendorong siswa untuk belajar. karena ingin dikatakan berhasil belajarnya.
g. Berikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang diberikan dan evaluasi yang
telah dilakukan. Dengan adanya umpan balik, siswa akan mengetahui mana
aktivitas belajarnya yang benar dan mana yang kurang benar, mana
pekerjaannya yang sesuai dan mana pekerjaannya yang tidak sesuai.

2. Bahan belajar dan upaya penyediaannya


Bahan belajar sangat penting bagi siswa yang melakukan aktivitas
belajar. Tanpa ada yang dipelajari, kemungkinan siswa bisa belajar dengan baik.
Oleh karena itu, supaya siswa dapat belajar dengan baik, maka bahan belajar ini
harus tersedia.
Yang dimaksud bahan belajar adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh
pembelajar dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. Bahan ini, bisa berasal
dari guru, bisa berasal dari buku-buku teks, paper, makalah, artikel, disamping
dapat berasal dari lapangan objek tertentu.
Penyediaan bahan belajar ini sangat bergantung kepada tujuan belajar,
karakteristik siswa, siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa dan faktor
ketersediaaan tidaknya bahan belajar. Jika tujuan belajar yang ingin ditempuh
diaksentuasikan pada penguasaan pengetahuan, mungkin bahan belajarnya akan
lain dengan tujuan belajar yang diaksentuasikan pada penguasaan konsep-
konsep, maka pertyediaan bahan belajarnya lain sekali dengan tujuan belajar
yang dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman langsung.

50
Karakteristik siswa juga mempengaruhi penyediaan bahan belajar. Pada
siswa yang bertipe auditif, mungkin membutuhkan bahan belajar yang berlainan
dengan siswa yang bertipe visual.
Siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa juga menentukan bahan
belajarnya. Siasat belajar dimana guru menjadi tokoh sentralnya, umumnya
gurulah yang menjadi penyedia bahan belajar. Bahkan dalam siasat belajar
semacam ini siswa menggantungkan bahan belajar yang dipelajari dari ceramah
atau penyampaian yang dilakukan oleh gurunya. Sementara siasat belajar di
mana siswa diharapkan bisa belajar secara mandiri, bahan belajar tersebut telah
disediakan secara utuh sekaligus beserta petunjuk atau cara mempelajarinya.
Pengajaran dengan bahan belajar modul dan balian belajar buku teks, adalah
sekian dari banyak contoh dan siasat belajar mandiri oleh siswa.
Apapun faktor yang menentukan bahan belajar ini, akhirnya juga
bergantung kepada faktor ketersediaan tidaknya. Mudah didapatkan tidaknya
bahan belajar ini, sangat menentukan penyediaan baban belajar. Apalagi kalau
sulit atau tidak mudah didapatkan, maka penyediaan bahan belajar ini sangat
repot.
Sungguhpun demikian bahan belajar bagi siswa haruslah diupayakan
penyediaannya. Dalam penyediaan bahan belajar ini, faktor-faktor yang harus
menjadi pertimbangan adalah :
a. Cukup menarik. Ini patut menjadi peninibangan, agar bahan belajar tersebut
menggugah rasa ingin tahu siswa dan menimbulkan hasrat belajar. Eka
bahannya sendiri tidak menarik, maka cara penyajiannya yang menaiik. Jadi
kalau bahan belajar tersebut terpaksa tidak menarik, haruslah dikemas
dengan menggunakan kemasan yang menarik.
b. Isinya relefan. Relevan isi ini, lazimnnya dikaitkan dengan tujuan belajar. Isi
bahan belajar haruslah mendukung dan memberi kontribusi bagi pencapain
tujuan belajar. Relevan isi ini, juga berkaitan dengan faktor kondisional dan
situasional siswa.

51
c. Mempunyai sekuensi yang tepat. Sekuensi atau urutan penyajian ini sangat
penting diperhatikan dalanu penyediaan bahan belajar. Seharusuya sekuensi
bahan ini dari yang sederhana menuju ke yang kompleks.
d. Informasi yang dibutuhkan ada. Ini sangat penting, agar bahan belajar yang
akan dipelajari tersebut tidak kering,
e. Ada soal latihan. Ini sangat penting, agar siswa dapat menguji diri sendiri,
seberapa banyak !a telah menguasai bahan yang dipelajari.
f. Ada jawaban kunci untuk soal latihan. Kegunaan kunci jawaban bagi soal
latihan ini adalah siswa dapat mencocokkan hasil-hasil latihannya dengan
kunci.
g. Ada tes yang sesuai. Tes yang sesuai ini, tentu bergantung kepada bahan
belajarnya.
h. Terdapat petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Baban belajar harus
dilengkapi dengan petunjuk bagaimana siswa harus memperbaiki belajarnya,
jika ada diantara bahan belajar yang belum terkuasai.
i. Ada petunjuk lanjutan untuk mempelajari bahan selanjumya. Setelah
berhasil menguasai bahan belajar tertentu siswa tidak akan menungggu
petunjuk guru untuk mempelajari bahan selanjutnya.

3. Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya.


Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar,
kesusukannya juga penting, oleh karena dapat membantu terhadap belajar siswa.
Dengan sebuah alat bania bahan belajar yang abstrak bisa konkrit. Dengan alat
bantu bahan belajar yang tidak menarik bisa menjadi menarik. Dengan alat
bantu bahan belajar yang meragukan dapat diyakinkan karena dapat dibuktikan
secara empirik
Alat bantu belajar lazim juga disebut media belajar dan piranti Belajar,
meskipun tidak semua median belajar dapat berfungsi sebagai alat bantu. Alat
bantu belajar ada kalanya dibeli di toko-toko buku. atau stationary, tetapi

52
adakalanya dibuat sendiri oleh pembelajar bersama-sama dengan gurunya. Pada
kasus vang pertama pembelajar mendapatkan secara given.
Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam upaya menyediakan
alat bantu belajar adalah :
a. Jenis kemampuan apa yang ditargetkan untuk dikuasai oleh pembelajar.
b. Faktor ketersediaan alat bantu tersebut
c. Faktor keterjangkauannya
d. Kepraktisan dan daya tahan alat bantu.
e. Keefektifan dan keefisienan alat bantu
Contoh alat bantu sederhana adalah pena. pensil, papan tulis, kapur tulis,
penggaris, penghapus. Contoh alat bantu yang penggunaannya membutuhkan
keterampilan tertentu adalah skala, rubrik, jangka, 0HP, video, tape recorder,
dan media audiovisual lainnya. Beherapa upaya penyediaan bahan antara lain
adalab:
a. Pembelian, jika mampu
b. Pengajuan kepada pemerintah
c. Permobonan bantuan melalui sponsor
d. Membuat sendiri, jika bisa
e. Menggerakkan dan mengajak para pembelajar untuk menciptakan dengan
memanfaatkan alam sekitar
4. Suasana belajar dan upaya pengembangannya
Dalam pandangan tradisional suasana belajar yang kondusif adalahh jika
di dalam sebuah kelas terasa tenang sementara para siswa bisa mendengarkan
apa yang diceramahkan gurunya. Oleh karena itu, pandangan tradisional tsb,
maka kelas yang baik dalam belajar mengajar adalah kelas yang siswanya duduk
dengan tenang, berdiam diri sambil mendengarkan pengajaran yang dilakukan
guru. Umumnya, siswa tidak berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal
yang deceermahkan guru, terkecuali guru telah memberikan kesempatan.
Dalam pandangan sekarang suasana belajar yang kondusif adalah
suasana yang mendukung bagi terciptanya kegiatan belajar. Yaitu suasana yang

53
interaktif dimana para siswa giat belajar. suasana yang interaktif belajar di
dalamnya, tentu tidak dibatasi ketika ditunggui oleh gurunya. Pada saat guru
sedang menunggui misalkan saja, siswa tetap aktif dan giat belajar.
Suasana belajar yang kondusif demikian tidak terjadi dengan sendirinya.
la harus dirancang oleh guru melalui sebuah rancangan pengajaran sebuah
suasana belajar dikatakan kondusif manakala :
a. Siswa tekun mengerjakan sesuatu yang semestinya dikerjakan.
b. Siswa aktif berinteraksi tidak saja hanya dengan gurunya melainkan aktif
berinteraksi dengan siswa-siswa yang lain.
c. Siswa secara bebas mengerjakan segala hal yang dapat mencapai tujuan
belajarnya.
d. Kreativitas siswa mendapatkan penghargaan yang sepantasnya, dan bakan
sebaliknya.
Agar suasana belajar tersebut kondusif, maka upaya-upaya yang dapat
dilakukan adalah :
a. Buatlah kontak pengajaran dengan para siswa
b. Rancanglah aktivitas belajar siswa
c. Berikan kebebasan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
d. Buatlah suasana yang demokratis. agar tidak menakutkan bagi para siswa
dalana beraktivitas.
e. Rancanglah ruangan belajar sefleksibel mungkin hingga mudah dirubah-
ubah.
f. Jangan gampang memberikan penghukumn terhadap siswa, lebih-lebibh jika
kepada siswa yang belum tentu bersalah.
g. Hargailah siswa-siswa mencoba cara-cara dan metede-metode baru

5. Kondisi Subjek Belajar dan Upaya Penyiapan dan Peneguhannya.


Kondisi subjek belajar sebenamya berbeda-beda. Kondisi subjek belajar
yang kelihatannya samapun, manakala diteliti lebib dalam, akan kelibatan

54
perbedaannya. Oleh karena stu, dalam kclompok siswa yang homogen pun,
sebenamya kalau dilihat lebih dalam akan tampak heterogenitasnya.
Kondis subjek belajar dapat dibedakan atas hal-hal yang bersifat lahiriah,
dan hal-hal yang bersifat batiniah atau hal-hal yang bersifat fisik dan hal-hal
yang hersifat psikologis. Dari segi lahiriah atau fisik, subjek belajar bisa
berbeda: ukuran tubuhnya, kekuatan tubuhnya, kesehatan fisiknya, daya tahan
fisiknya, kesegaran dan kebugam jasmaninya. Mereka yang berada pada kondisi
lebih, misalnya lebih besar/tingai. khib kuat lebih sehat lebih tinggi daya
tahannya dan khib segarIbLigar, umumnya tehih mendukung bagi aktivitas
belajarnya dibandingkan dengan mereka yang berada pada posisi kurang.
Dari segi psikis, kondisi subjek belajar juga berbeda dari segi:
intelegensinya, bakatnya, militansi kerjanya, motivasi instrinsik atau motivasi
berprestasinya, kematangannya aspirasi dan punya, ambisi-ambisinya.
Mereka yang mempunyai inteligensi tinggi umumnya lebih gampang
berhasilnya dibandingkan yang berintelegensi rendah. Demikian juga yang
mempunyai bakat khusus, yang tinggi militansi kerjanya, yang tinggi motivasi
intrinsiknya, yang besar ambisinya, dan yang lebih stabil emosinya.
Oleh karena beragamnya kondisi subjek belajar tersebut, dan tidak
senuttiasa menetapnya kondisi belajar tersebut, maka hs ada upaya-upaya unruk
menyiapkan mereka dan sekaligus meneguhkannya. Dengan penyiapan yang
terancang dan dengan upaya-upaya peneguhan diharapkan mendukung aktivitas
belajar.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan kondisi objek belajar
khususnya dari segi fisiknya adalah:
a. Memenuhi subjek belajar dengan gizi dan nutrisi-nutrisi yang diperlukan.
b. Penyegaran fisik subjek belajar dengan olahraga atau latihan-latihan fisik
seperti senam.

55
c. Memeriksakan tubuh subjek belajar secara teratax kepada dokter agar dapat
dicegah timbulnya penyakit yang memungkinkan terganggunya belajar
mengajar.
Sementara itu, upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan
psikis subjek belajar adalah :
a. Memperkenalkan dengan lingkungan belajar yang mangkin baru bagi
mereka.
b. Memelihara keseimbangan emosi mereka, agar secara psikologis mereka
merasa aman.
c. Mengasah kondisi psikis mereka dengan latihan-latihan.
d. Menerima mereka apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya
sehingga subjek belajar tidak merasa tertolak oleh lingkungunya.

4. PENGERTIAN DAN CIRI - CIRI PEMBELAJARAN.


4.1. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian populer
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistim
pengajaran terdiri dari: siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga
laboratorium. Material meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografl,
slide, dan film audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari
ruang kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal
dan metode penyampaian informasi, praktek, belajar, ujian dan sebagainya.
Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistim pembelajaran
dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas, atau di sekolah,
karena diwamai dengan organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang
saling berkaitan untuk pembelajaran peserta didik.

56
4.2. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian belajar menurut
abli psikologi.
Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi
terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling
mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain.
Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian mengajar berdasarkan
pandangannya masing-masing. Perumusan dan tinjauan itu masing-masing
memiliki kebaikan dan kelemahan. berbagai rumusan yang ada pada dasarnya
berlandaskan pada teori tertentu.

a. Mengajar adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peseta


didik/siswa di sekolah.
Rumusan ini sesuai dengan pendapat dalam teori pendidikan yang
mementingkan mata ajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik. Dalam
rumusan ini terkandung konsep-konsep sebagai berikut:

1. Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan


Masa depan kehidupan anak ditentukan oleb orang tua. Mereka dianggap
paling mengetahui apa dan bagaimana kehidupan itu. Itu sebabnya, orang tua
berkewajiban menentukan akan dijadikan apa peserta didik. Sekolah
berfungsi mempersiapkan mereka agar mampu hidup dalam masyarakat yang
akan datang.
2. Pembelajaran merupakan proses penyampaian pengetahuan
Penyampaian pengetahuan dilaksanakan dengan menggunakan metode
imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan kepada siswa. Umumnya
guru menggunakan metode "formal step" dari J. Herbart berdasarkan asas
asosiasi dan reproduksi atas tanggapan/kesan. Cara penyampaian
pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran dalann psikologi asosiasi.

3. Tinjauan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan.

57
Pengetahuan sangat penting bagi manusia. Barang siapa menguasai
pengetahuan, maka dia dapat berkuasa.: “knowledge is power". Pengetalman
bersumber dari perangkat mata ajaran yang disampaikan di sekolah. Para
pakar yang mendukung teori ini berpendapat bahwa mata ajaran berasal dari
pengalaman-pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung
sepanjang kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman itu diselidiki,
disusun secara sistematis dan logis, sehingga tercipta yang kita sebut mata
ajaran (H. Alberty 1953). Mata ajaran itu diuraikan, disusun dan dimuat
dalam buku pelajaran dan berbagai referensi lainnya.

4. Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa.


Peranan guru sangat dominan. Dia menentukan segala hal yang dianggap
tepat untuk disajikan kepada para siswanva. Guru dipandang sebagai orang
yang serba mengetahui, berarti guru adalah yang paling pandai. Dia
mempersiapkim tugas-tugas memberikan latihan-latihan dan menentukan
peraturan kemajuan tiap siswa.

5. Siswa selalu bersikap dan betindak pasif


Siswa dianggap sebagai tong kosong, belum mengetahui apa-apa. Dia hanya
menerima apa yang diberikan okh gurunya. Siswa bersikap sebagai
pendengar, pengikut, pelaksana tugas. Kebutuhan, minat. tujuan, abilitas dan
lain-lain yang dimiliki oleh siswa diabaikan dan tidak mendapat perhatian
guru.
6. Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas.
Pembelajaran dilaksanakan dalam batas-batas ruang kelas saja, sedangkan
pembelajaran di luar kelas tak pernah dilakukan. Tembok sekolah menjadi
benteng yang kuat yang membatasi hubungan-hubungan dengan kehidupan
masyarakat. Para siswa duduk pada bangku yang berdiri kokoh, tak bisa
dipindah-pindahkan. Mereka duduk dengan rapi dan kaku secara rutin setiap

58
hari. Ruangan kelas dipandang sebagai ruang penyelamat, ruang memberi
kehidupan. Belajar dalam batas-batas ruangan itu adalah yang paling baik.

Wrighstone, berkata sebagai berikut :


........... the immediate implications of the older principles when they are applied
to the classroom:
1) The classroom is a restrkted from of social life, and Aildren's experiences
are limited there in to academk lessons.
2) The qukkest an most through method of leaming lessons is to allot a certain
portion of the school day it instruction in separate subjects.
3) Children's interests whkh do not confrom to the set currkulum should be the
regarded.
4) The real objectives of classroom instruction, consist to a belajar degree in the
aguisition of the content matter of each subject.
5) Teaching the conventional subjects is the wisest method of achieving social
progress (J. Wayner Wrighstone, 1935).

b. Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui


lembaga pendidikan sekolah.
Rumusan ini bersifat lebih umum bila dibandinglean dengan rumusan
pertama, namun antara keduanya memiliki pola pikiran yang seirama. Implikasi
dari rumusan ini adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran bertujuan membentuk manusia berbudaya.
Peserta didik hidup dalam pola kebudayaan masyarakatnya. Manusia
berbudaya adalah manusia yang mampu hidup dalam pola tersebut. Peserta
didik diajar agar memiliki kemainpuan dan kepribadian sesuai dengan
kehidupan budaya masyarakat itu.
2. Pembelajaran berarti suatu proses pewarisan.

59
Para siswa dipandang sebagai keturunan orang tua dan orang tua adalah
keturunan neneknya dan seterusnya, demikian terus terjadi proses turun
temurun. Dengan sendirmya apa yang dimiliki oleh nenek moyang pada
masa lampau itu harus diwariskan kepada keturunan berikumya. Upaya
pewarisan itu dilakukan metalui berbagai prosedur: pengajaran, media
hubungan pribadi dan sebagainya. Bila dilakukan melalui pengajaran, maka
proses yang telah dikemukakan dalam proses perumusan pertama berlaku
dan dilaksanakan dengan teknik yang sama.

3. Bahan pembelajaran bersumber dari kebudayaan.


Yang termasuk kebudayaan adalah kebiasaan orang berpikir dan berbuat
seperti: kehidupan keluarga, cara menyediakan makanan, bahasa,
pemerintahan, ukuran moral, kepereayaan agama, dan bentuk-bentuk
ekspresi seni. Kebudayaan merupakan kumpulan daripada warisan sosial
dalam masyarakat. Berdasarkan pada pengertian mi, kebudayaan itu bersifat
non material., dan bersifat abstrak, ada dalam jiwa dan kepribadian manusia.
Benda-benda bersifat material sesungguhnya adalah hasil dari keterampilan
manusia (Worcester, 1969).
Kebudayaan dan hasil kebudayaan diwariskan kepada siswa yang umumnya
berupa benda-benda dan non benda, tertulis dan lisan, dan berbagai bentuk
tingkah laku norma dan lain-lain.
4. Siswa sebagai generasi muda ahli waris kebudayaan
Generasi muda berfungsi sebagai generasi penerus. Mereka perlu
dipersiapkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melanjutkan hasil yang
telah dicapai oleh generasi yang ada sekarang. Kebudayaan yang diwariskan
kepada mereka harus dikuasai dan dikembangkan, sehingga mereka menjadi
warga masyarakat yang lebih berbudaya. Dalam hal ini, diakui bahwa anak
sedang berada dalam tahap perkembangan dan menuju ketingkatan yang
lebih dewasa, dalam arti, menjadi manusia yang berbudaya. Mereka harus

60
mampu memanfaatkan teknologi, sebagai aspek dari kebudayaan, untuk
kehidupannya. serta mampu mengadakan penemuan-penemuan baru,
mengembangkan kebudayaan yang telah ada.

c. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk


menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
Rumusan ini dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan
terdahulu, sehab lebih menitik beratkan pada unsur peserta didik, lingkungan,
dan proses belajar. Perumusan ini sejalan dengan pendapat dari Me. Donald,
yang mengemukakan sebagai berikut:
“educational, in the sense used here, is a process or an activity whkh is
directed at producing desirable changes in the behavior of human beings
(Me. Donal, 1959)
artinya :
Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan
menghasilkan perubahan tingkah laku manusia.

Implikasi dari pengertian tersebut adalah sebagai berikut:


1. Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah aku peserta
didik
Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi
yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi
tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri:
(1). Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2). Pola
organisasi kepribadian berbeda-beda untuk setiap orang dan bersifat unik,
(3). Kepribadian hersifat dinamis, terus berubah meialui cara-cara tertentu.
Tingkah laku manusia memiliki dua aspek, yakni: (1). Aspek objektif, yang
bersifat struktural, yakni aspek jasmaniah, (2). Aspek subjektif, yang besifat
fungsional, yakni aspek rohaniah.

61
2. Kegiatan pembelajaran berupa pengorganisasian lingkungan
Perkembangan tingkah laku seseorang adalah berkat pengaruh dari
lingkungan. Lingkungan kita artikan secara luas, yang terdiri dari lingkungna
alam dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial sering lebih berpengaruh
terhadap tingkah laku seseorang. Melalui interaksi antara individu dan
lingkunganya, maka siswa memperoleh pengalaman, yang pada gilirannya
berpengaruh terhadap perkembangan tingkah lakunya. Hal ini sesuai dengan
pendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses sosialisasi di mana anak
didik disiapkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
sekitamya.
Sekolah berfungsi menyediakan lingkungan yang dibutuhkan bagi
perkembangan tingkah laku siswa, antara lain menyiapkan program belajar,
bahan belajar, metode mengajar, alat mengajar dan lain-lain. Selain dari itu,
pribadi guru sendiri, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan di luar
sekolah, semua menjadi lingkungan belajar yang bermakna bagi
perkembangan siswa.

3. Peserta didik sebagai suatu organisme yang hidup.


Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang,
misalnya, kebutuhan, minat, tujuan, abilitas, intelegensi, emosi dan lain-lain.
Tiap individu peserta didik mampu berkembang menurut pola dan caranya
sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan
interaksi dengan lingkungannya.
Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik.
Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu
menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai
organisator belajar bagi siswa yang potensial itu, sehingga tercapai tujuan
pembelajaran secara optimal.

62
d. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
warga masyarakat yang baik.
Rumusan ini didukung oleh para pakar yang menganut pandangan bahwa
pendidikan itu berorientasi kepada kebutuhan tuntutan masyarakat. Implikasi
dari rumusan/pengertian ini,adalah sebagai berikut:

1. Tujuan pembelajaran
Pembentukan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat
bekerja di masyarakat. Seorang warga negara yang baik bukan menjadi
konsumen, tetapi yang lebih penting ialah menjadi seorang produsen. Untuk
menjadi seorang produsen, maka dia barus memiliki keterampilan berbuat
dan bekerja, menghasilkan barang-barang dan benda kebutuhan masyarakat.
Motto yang dikemukakan: "benign habitat for good living", artinya seorang
warga negara yang baik bila dapat menyumbangkan dirinya kepada
kebidupan yang baik.

2. Pembelajaran berlangsung dalam suasanan kerja.


Program pembelajaran diselenggarakan dalam suasana kerja. dimana
para siswa mendapat latihan dan pengalaman praktis. Karena itu, suasana
yang diperlukan adalah suasana yang aktual, seperti dalam keadaan
sesungguhnya. Para siswa mengerjakan hal-hal menarik minatnya dan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.

3. Peserta didik/siswa sebagai calon warga negara yang memiliki potensi


untuk bekerja.
Siswa memiliki bermacam kemampuan, minat, dan Kebutuhan, antara
lain kebutuhan ingin berdiri sendiri, ingin punya pekerjaan. Siswa tidak
menginginkan berdiam dengan pasif, semua ingin melakukan kegiatan,

63
bermain, atau bekerja. Energi mereka miliki perlu mendapat penyaluran
sebagaimana mestinya. Jikalau energi itu tidak disalurkan, maka dapat
menyebabkan tingkah laku yang tidak diharapkan, Perumusan atas
kebutuhan itu, pengembangan minat dan sikap, penyaluran energi yang
berlebihan sebaiknya dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan
bekerja, mencari pengalaman yang praktis, dan memupuk keterampilan
jasmaniah-rohaniah. Dengan berkembang kemampuan kerja, maka tuntutan
dan harapan masyarakat dapat dipenuhi. Pada dasamya tidak ada masyarakat
yang menginginkan anak-anaknya menjadi barisan penganggur.

4. Guru sebagai pimpinan don pembimbing bengkel kerja.


Sesuai dengan tujuan tersebut, sekolah merupakan suatu ruang workshop
dan oleh karenanya guru harus mampu memimpin dan membimbing siswa
belajar bekerja dalam bengkel sekolah. Guru-guru harus menguasai program
keterampilan khusus dan menguasai strategi pembelajaran keterampilan,
serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai
kesibukan yang bermakna. Dalam hal mi, peranan guru dalam sekolah
komprehensif adalah sangat penting.

e. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi


kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pandangan ini didukung oleh para pakar yang berorientasi pada
kehidupan masyarakat. Sekolah dari masyarakat adalah suatu integrasi.
Pendidikan adalah di sini dan sekarang ini (G.E. Olson, 1945). Implikasi dari
pengertian ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam
masyarakat.
Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai
masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi
masa depan yang masih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk

64
memecahkan masalah seharihari dalam lingkungannya, di rumah dan di
masyarakat.
2. Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah don
masyarakat.
Masyarakat diartikan sebagai laboratorium belajar yang paling besar.
Sumber-sumber masyarakat tak pernah habis sebagai sumber belajar.
Prosedur penyelenggaraan ialah dengan membawa siswa ke dalam
masyarakat dengan karyawisata, survei, berkemah dan lain-lain, atau dengan
cara membawa masyarakat ke dalam sekolah sebagai nara sumber. Dengan
demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap
pendidikan anak, dan sebaliknya, sekolah akan memberikan bantuan dalam
memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat. Sekolah juga berfungsi
turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitamya.
3. Siswa belajar secara aktif.
Siswa bukan saja aktif belajar di laboratorium sekolah, mencari
pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, -tapi juga aktif
bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini. semua potensi yang
mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan,
berdiskusi, meninjau. membuat laporan, dan lain-lain, sehingga
perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakatnya.
4. Guru bertugas sebagai komunikator
Guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran, kemudian menyusun
rencana lengkap bersama para siswa sebagai persiapan melaksanakan di
lapangan. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitamya,
supaya dapat menyusun proyek kerja bagi para siswa. Kelas -ialu melakukan
inventarisasi masalah-masalah yang muncul jalam masyarakat, kemudian
diupayakan pemecahannya. Pranan sebagai komunikator, bukan saja
memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, namun

65
diperlukan pula keterampilan berintegrasi dan bekeda sama dengan
masyarakat.
Berdasarkan teori-teori tersebut semakin jelaslah bahwa kegiatan dan
proses pembelajaran itu sangat kompleks. Pandangan-pandangan yang telah
dibahas itu, akan menjadi lebih jelas setelah mempelajari uraian-uraian
berikumya.

4.3 CIRI-CIRI PEMBELAJARAN


Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, antara
lain adalah:
1. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang
merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2. Kesaling tergantungan (interdependence), antara unsur-unsur sistem
pembelajaran yang serasi dalam suatu kescluruhan. Tiap unsur bersifat
essensial, dan memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak
dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh
manusia dan sistem yang alami (natural). Sistem yang dibual oleh manusia,
seperti: sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan,
semuanya memiliki tujuan. Sistim alami (natural) seperti sistem ekologi,
sistem kehidupan hewan, memiliki unsur-unsur yang saling ketergantungan
satu sama lain, disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak
mempunyai tujuan tertentu. Tujuan sistem menuntun proses merancang
sistem. Tujuan sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang
perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga. material, dan prosedur, agar
siswa belajar secara efisien dan efektif. Dengan proses mendisain sistem
pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan
kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sistem pembelajaran tersebut.

66
5. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS PEMBELMARAN.
5.1. Tujuan pembelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar.
Pembelajaran dimaksudkan terciptanya suasana sehingga siswaa belajar.
Tujuan pembelajaran haruslah menunjang dan dalam tercapainya tujuan belajar.
Dahulu, ketika pembelajaran dimaksudkan sebagai kadar penyampaian
ilmu pengetahuan, pembelajaran tak terkait dengan blajar. termasuk tujuannya.
Sebab, jika guru telah menyampaikan ilmu pengetahuan. tercapailah maksud
atau tujuan pembelajaran tersebut.
Pembelajaran model dahulu itu, memang tidak dicoba terkaitkan dengan
belajar itu sendiri. Pembelajaran lebih onsentrasi pada kegiatan guru dan tidak
terkonsentrasi pada kegiatan siswa.
Jika pada masa sekarang ini pembelajaran dicoba terkaitkan dengan
belajar, maka dalam merancang aktivitas pembelajaran, guru harus belajar dari
aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa harus dijadikan titik tolak dalam
merancang pembelajaran.
Implikasi dari adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran dan
kegiatan belajar siswa tersebut adalah usunnya tujuan pembelajaran yang dapat
menunjang apainya tujuan belajar. Muatan-muatan yang termaktub dalam tujuan
belajar, haruslah termaktub juga dalam tujuan pembelajaran.
Contoh kongkiit tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan
belajar adalah sebagai berikut :

Tujuan Belajar Tujuan Pembelajaran


Setelah menelaah teks butir-butir Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
pertama pancasila siswa dapat menelaah teks butir pertama pancasila
menjelaskan kaitan antara butir siswa dapat menjelaskan kaitan antara
pertama dengan butir kedua secara butir pertama dengan butir kedua
benar dengan menggunakan kata-kata secara benar dengan menggunakan

67
sendiri. kata-kata sendiri.
Setelah mengamati berbagai tumbuh- Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
tunibuhan di kebun percobaan sekolah, menclaah teks butir pertama pancasila,
siswa dapat membedakan antara siswa dapat menjelaskan kaitan antara
tumbuhtumbuhan yang berkeping satu butir portama dengan butir kedua
dan yang berkeping dua. Setelah secara benar dengan menggunakan
dibelajarkan dengan cara mengamati kata-kata yang ada pada teks Setelah
tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan mengamati berbagai tumbuh-tumbuhan
sekolah, siswa dapat menibedakan di kebun percobaan sekolah, siswa
tumbuh-tumbuhan yang berkeping satu dapat membedakan antara tumbuh-
dengan tumbuhan berkeping dua. tumbuhan yang berkeping satu dengan
yang berkeping dua.
Setelah dibelajarkan dengan cara Setelah menelaah teks butir-butir
membaca buku teks dan berdiskusi pertama pancasila siswa dapat
dengan teman-temannya siswa dapat menjelaskan kaitan antara butir
membedakan tumbuh-tumbuhan yang pertama dengan butir kedua secara
berkeping satu dengan yang berkeping benar dengan menggunakan kata-kata
dua. sendiri
Setelah menelaah teks butir-butir Setelah siswa dibelajarkan dengan cara
pertama pancasila, siswa dapat menelaah teks butir pertama pancasila,
menjelaskan kaitan antara butir siswa dapat menjelaskan kaitan antara
pertama dengan butir kedua secara butir pertama dengan butir kedua
benar dengan menggunakan kata-kata secara benar dengan menggunakan
sendiri. kata-kata yang ada pada teks

Dari contoh yang disebutkan tersebut sangatlah jelas, bahwa tujuan


pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar siswa adalah :
1. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi waktu, yaitu setelah siswa
belajar dan atau dibelajarkan.
2. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi substansinya, aitu siswa bisa
"apa" setelah belajar dan atau dibelajarkan.

68
3. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi cara mencapainya.
4. Punya kesamaan takaran dalam pencapaian tujuan.
5. Punya kesamaan dari segi pusat kegiatan, yaitu sama-sama berada pada diri
siswa.
Agar tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar tersebut
jelas, berikut disajikan contoh tujuan pembelajaran yang tidak kongruen dengan
tujuan belajar :
Contoh yang disebutkan tersebut, jelas menunjukkan tidak kongruen
antara tujuan pembelajaran dengan tujuan belajar. Oleh karena itu tujuan
pembelajaran demikian ini tidak menunjang pencapaian tujuan belajar. Ada
perbedaan titik tekan antara tujuan belajar dengan tujuan pembelajaran. Pada
contoh pertama dan kedua. substansi tujuan belajar telah dikacaukan oleh
substansi tujuan pembelajaran. Sedangkan pada contoh ketiga dan keempat.
tujuan belajar telah dikacaukan oleh tujuan pembelajaran dari segi cara
penyampaiannya.

5.2. Unsur-unsur dinamis pembelajaran kongruen dalam proses belajar


siswa/mahasiswa
a. Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan
untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran. Ada
beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka memotivasi
siswa agar belajar, ialah:
1. Prinsip kebermaknaan, siswa termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang
bermakna bagi dirinya,
2. Prasyarat, siswa lebih suka mempelajari sesuatu yang baru jika dia
memiliki pengalaman prasyarat (prerckuisit).
3. Model, siswa lebih suka memperoleh tingkah laku baru bila disajikan
dengan suatu model perilaku yang dapat diamati dan ditim.

69
4. Komunikasi terbuka, siswa lebih suka belajar bila penyajian ditata agar
supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pendapat siswa.
5. Daya tarik, siswa lebih suka belajar bila perhatiannya tertarik oleh
penyajian yang menyenangkan/menarik.
6. Aktif dan latihan, siswa lebih senang belajar bila dia dapat berperan aktif
dalam latihan/praktik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran
7. Latihan yang terbagi, siswa lebih suka belajar bila latihan-latihan
dilaksanakan dalamjangka waktu yang pendek.
8. Tekanan instruksional, siswa lebih suka belajar terus bila kondisi
pembelajaran menyenangkan baginya.
9. Keadaan yang menyenangkan, siswa lebih suka belajar terus bila
kondisi-kondisi pembelajaran menyenangkan bagmya.
b. Sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan belajar terdapat pada:
1. Buku pelajaran yang sengaja disiapkan dan berkenan dengan mata ajaran
tertentu. Bahan-bahan tersebut dapat berupa sumber pokok dan sumber
pelengkap. Pemilihim buku-buku sumber telah ditetapkan dalam
pedoman kurikulum dan berdasarkan pilihan guru berdasarkan
pertimbangan tertentu. Buku-buku tersebut mungkin telah tersedia di
perpustakaan sekolah, atau harus dibeli di pasaran buku.
2. Pribadi guru sendiri pada dasamya merupakan sumber tak tertulis dan
sangat penting serta sangat kaya dan luas, yang perlu dimanfaatkan
secara maksimal. Itu sebabnya, guru senantiasa diminta agar terus belajar
untuk memperkaya dan memperluas serta mendalami ilmu pengetalman,
sehingga pada waktunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan
belajar yang berdaya guna bagi kepentingan proses belajar siswa.
3. Sumber masyarakat, juga merupakan sumber yang paling kaya bagi
bahan belajar siswa. Hal-hal yang tidak tertulis dalam buku dan belum
terkuasai oleh guru, ternyata ada dalam, masyarakat berupa objek,
kejadian dan peninggalan sejarah. Hal-hal tersebut dapat digunakan
sebagai bahan belajar. Untuk itu, guru perlu menyiapkan program

70
pembelajaran dalam upaya memanfaatkan masyarakat sebagai sumber
bahan belajar bagi siswanya.
c. Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, siswa sendiri dan
bantuan orang ma. Namun, harus dipertimbangkan kesesuaian alat bantu
belajar itu dengan tujuan belajar, kemampuan siswa sendiri, bahan yang
dipelajari, dan ketersediaannya di sekolah. Prinsip kesesuaian ini perlu
diperhatikan karena sering terjadi pemilihan dan penggunaan suatu alat
bantu belajar ternyata tidak cocok untuk pengajaran dan ternyata tidak
banyak pengaruhya terhadap keberhasilan belajar siswa. Prosedur yang harus
ditempuh adalah:
1. Memilih dan menggunakan alat bantuan yang tersedia di sekolah sesuai
dengan rencana pembelajaran.
2. Siswa memilih dan membuat sendiri alat bantu yang diperlukan,
berdasarkan petunjuk dan bantuan guru.
3. Membeli di pasaran bebas scandamya alat yang diperlukan itu ada di
pasaran dan cocok dengan kegiatan belajar yang akan ditakukan.
d. Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif. guru dan siswa
dapat melakukan beberapa upaya sebapi berikut:
1. Sikap guru sendiri terhadap pembelajaran di kelas. Guru diharapkan
bersikap menunjang, membantu, adil, dan terbuka dalam kelas. Sikap-
sikap tersebut pada gilirannya akan menciptakan suasana yang
menyenangkan dan menggairahkan serta menciptakan antusiasme
terhadap pelajaran yang sedang diberikan.
2. Perlu adanya kesadaran yang tinggi di kalangan siswa untuk membina
disiplin dan tata tertib yang baik di dalam kelas. Suasana yang disiplin
ini juga ditentukan oleh perilaku guru, kemampuan guru memberikan
pengajaran. serta suasana dalam diri siswa sendiri.
3. Guru dan siswa berupaya menciptakan hubungan dan kerjasama yang
serasi, selaras dan seimbang dalam kela. yang dijiwai oleh rasa
kekeluargaan dan kebersamaan rasa tenggang rasa dan tanggung jawab

71
untuk kepentingan bersama ternyata lebih efektif dibandingkan dengan
suasana dengan persaingan, berusaha untuk kopentingan sendiri, dan
pergaulan guru siswa yang renggang dan kaku.
e. Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan
binaan. Pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar dengan tingkat
kecerdasan siswa, memperhatikan kesiapan belajar yang tepat waktunya,
penyesuaian bahan, belajar dengan kemampuan dan bakatnya, dan
memberikan pengalaman-pengalaman perekuisit, semua kondisi itu perlu
terus dikontrol oleh guru. Sediakan waktu yang khusus untuk mengenal dan
mengetahui dengan seksama semua kondisi subjek belajar. Bila diketahui
terdapat ketidak seimbangan dan gangguan pada kondisi mereka, maka guru
perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkannya.

5.3. Unsur-unsur dinamis pembelajaran pada diri guru.


a. Motivasi untuk membelajarkan siswa.
Guru harus memiliki motivasi untuk membelajarkan siswa. Motivasi itu
sebaiknya timbul dari kesadaran yang tinggi untuk mendidik peserta didik
menjadi warga negara yang bak. Jadi guru memiliki hasrat untuk
menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan tertentu. Namun, diakui bahwa motivasi pembelajaran itu sering
timbul karena insentif yang diberikan, sehingga guru melaksanakan tugasnya
sebaik mungkin. Kedua jenis motivasi itu diperlukan untuk membelajarkan
siswa.

b. Kondisi guru siap membelajarkan siswa.


Guru perlu memiliki kemampuan dan proses pembelajaran, disamping
kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan
dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan profesional. Guru

72
perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar
senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa.

73
BAB II
PRINSIP BELAJAR DAN APLIKASINYA

2.1. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR YANG TERKAIT DENGAN PROSES


BELAJAR
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli
yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai
prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yamg relatif berlaku umum
yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa
yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam apaya
meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan
motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan,
tantangan, balikan dan penguatan. serta perbedaan individual.

2.1.1 Perhatian dan Motivasi


Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari
kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya
perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner, 1984: 335 ). Perhatian
terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya.
Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan,
diperlukan untuk belajar lebih Ianjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-
hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian
alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting
dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan
mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin
dan kemudi pada mobil (gage dan Berliner, 1984 : 372).
"Motivation is the concept we use when we ddescribe the force action on
or whitin an organism yo initiate and direct behavior"

74
Demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbet L, 1986: 3). Motivasi dapat
merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi
merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa
tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir.
Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi
dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa
dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang crat dengan minat. Siswa yang
memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik
perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari
bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap
penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah
tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang
disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tridak bertentangan
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan mengarahkan
aktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar
matematika dan terdorong untulk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya.
Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif
pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sudah melakukan
kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F.
Skinner dengan operant conditioning-nya' (Hal ini dibkarakan lebih lanjut dalam
prinsip balikan dan penguatan).
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat
juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman
dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif
ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan
perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-

75
sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki
pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motil ekstrinsik adalah tenaga
pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi
penyertaanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan
disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya telapi didorong oleh
keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah
adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga
bersifat eksternal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat eksternal,
walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah
menjadi motif intrinsik yang disebut 'Iransformasi motir'. Sebagai contoh.
seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LIPTK)
karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi
guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang
tuanya, tetapi setelah belajar heberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-
pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif
pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.

Perhatian
Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat
dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan)
terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar
makin baik dan hasilnya akan makin haik pula. Oleh karena itu guru harus selalu
berusaha supaya perhatian siswa terpusat pada pelajaran. Memunculkan
perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal.
Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan
dengan dirinya umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat,
minat.

76
Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang
lain, atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.
Perhatikan contoh kasus dibawah ini
1. Rukiah, salah seorang siswa disuatu sekolah dasar sangat tertarik dengan
penjelasan ibu gurunya tentang perpindahan penduduk. sehingga ia sungguh-
sungguh memperhatikan pelajaran tersebut, karena ia pernah dibawa orang
tuanya bertransmigrasi.
2. Sekelompok siswa disuatu sekolah dasar pada sutu waku mengikuti pelajaran
dengan penuh perhatian karena guru mengajarkan pelajaran tersebut dengan
menggunakan alat peraga yang sebelumnya guru tersebut belum pernah
melakukannya.
3. Sekelompok siswa sedang asyik mengerjakan tugas kelompok, dalam
pelajaran IPA. KeRhatannya mereka sangat sungguh-sungguh menerjakan
tugas tersebut. Biasanya mereka belajar cukup mendengarkan ceramah dari
guru.
Ketiga contoh diatas menggambarkan siswa yang belajar dengan penuh
perhatian akan tetapi penyebabnya berbeda.
Contoh pertama, Rukiah belajar dengan penuh perhatian. Karena
pelajaran tersebut memiliki kaitan dengan pengalamannya. Pelajaran tersebut
ada kaitan dengan diri siswa. Pada contoh kedua, siswa belajar dengan penuh
perhatian, karena guru mengajar dengan menggunakan alat peraga, (cara guru
mengajar lain dan kebiasaannya)
Demikian pula contoh ketiga, siswa belajar dengan penuh perhatian
Karena guru menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah).
Dari uraian dan contoh diatas dapat disimpulkan, bahwa :
1. Belajar dengan permh perhatian pada pelajaran yang sedang dipelajari,
proses dan hasilnya akan lebih baik.
2. Upaya guru memumbuhkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap
pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

77
a. Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman, kebutuhan, cita-cita, bakat
atau minat siswa.
b. Menciptakan situasi pembelajaran yang tidak monoton. Umpamanya
penggunaan metode mengajar yang bervariasi, penggunaan media,
tempat belajar tidak terpaku hanya didalam kelas saja.
Coba anda pilih salah satu pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran
yang biasa anda ajarkan. Kemukakan upaya apa yang harus anda lakukan untuk:
1. Menarik perhalian siswa dengan cara mengailkan pelajaran tersebut dengan
diri siswa (umpamanya dengan pengalaman mereka).
2. Menarik perhatian siswa dengan cara menciptakan situasi pembelajaran yang
bervariasi (umpamanya dalam penggunaan metode mengajar)

2.2. KEAKTIFAN BELAJAR


Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah
makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu,
mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh
orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya
mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendri. Mon Dewey misalnya
mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan
siswa untuk dirmya sendiri. maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru
sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewy 1916. dalam Dak ks, 1937:3 1).
Menurut teori kognitif. belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat
aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar menyimpannya
saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984 : 267). Menurut
teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan
sesuatu. Anak mampu mencari. menermakan fakta. menganalisis, menafsirkan
dan menairik kesimpulan,
Thomdike mengemukakan keakifan siswa dalam belajar dengan bukum
"lah. of exercise " -nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya

78
latihan-latihan. Mc Keachk berkenan dengan prinsip keaktifan mengemukakan
babwa individu merupakan "manusia belajar yang selalu ingin tahu, sosial,”
(MC Keachk, 1976:230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991:105).
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan.
Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah
kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa
membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan
sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya menggunakan khasanah
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil percobaan,
dan kegiatan psikis yang lain.
Seperti yang telah dibahas di depan bahwa belajar iu sendiri adalah
akivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswa ) yang duduk di
kelas pada saat pelajaran berlangsung, akan tetapi mental emosionainya tidak
terlibat akif didalam situasi pembelajaran itu, Pada hakikamya siswa tersebut
tidak ikut belajar.
Oleh karena itu guru jangan sekali-kali membiarkan ada siswa yang tidak
ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru
harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas belaiar tersebut.
Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya
aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkinkan dengan
metode mengajar lain.
Sekali untuk memantapkan pemahaman anda tentang upaya
meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa, coba anda tetapkan salah satu pokok
bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa diajarkan. Silahkan anda
rancang kegiatan-kegiatan belajar yang bagaimana yang harus siswa anda
lakukan, supaya kadar aktivitas belajair mereka relatif tinggi.
Bila sudah selesai anda kerjakan, silahkan diskusikan deingan guru lain
disekolah anda atau guru sesama peserta program

79
2.3. KETERLIBATAN LANGSUNG DALAM BELAJAR
Di muka telah dibkarakan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh
siswa yang, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada
orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang
dituangkan dalam kerueut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang
paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui
pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia
harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab
tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang
paling baik apabila ia terlihat secara langsng dalam perbuatan (direct
performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati tempe
(demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara
pembuatan tempe (telling).
Pentingnya ketelibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John
Dewey dengan "leaming by doing"-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui
perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik
individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (prolem
solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik
semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional,
keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan
pengetahuan, dalam penghayatan dan intemalisasi nilai-nilai dalam
pembentukan sikap dan nilat, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan
dalam pembentukan keterampilan.

2.4. PENGULANGAN BELAJAR


Prinsip belajar yang menekankan perlunva pengulangan barangkali yang
paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Dava. Menurut teori
ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas

80
daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal, merasakan. berpikir. dan
sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka dasya-daya tersebut akan
berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka
daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan
menjadi sempuma.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori psikologi
Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thorndike. Berangkat
dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise", ia mengemukakan bahwa
belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. dan
pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang
timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah "latihan menjadikan sempuma"
(Thomdike, 1931b:20. dari Gredlei, Marget E Bell, terjemahan Munandir, 1991:
51).Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari
Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau
pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan
respons maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena
saja stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku
manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas
karena mendengar bunyi lonceng, kendaman berhenti ketika lampu Ialu lintas
berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan
belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons
terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang
sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu
selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus
penyerta.
Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam
belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk
melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk
respons yang benar dan membentuk kebiasaan- kabiasaan. Walaupun kita tidak
japat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan

81
ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua
bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar
pembelajaran. Dalam belajar tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill
dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan
(Gage dan Berliner, 1984: 259).

2.5. SIFAT MERANGSANG DAN MENANTANG DARI MATERI YANG


DIPELAIARI
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa
dalam, situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis.
Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi
selalu terdapat hambatan yang mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif
untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahasa belajar tersebut.
Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia
akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada
anak timbul motif yang Kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka
bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan
belajar haruslah menantang.tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar
membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang
banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang
untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk
menermakan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan
menyebabkan siswa berusaha meneari dan menemukan konsp-konsep, prinsip-
prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah mendan saja kurang
menarik bagi siswa.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan
tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebili giat dan sungguh-sunggub.
Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan
motif untuk memperoleh gaujaran atau terhindar dari hukum yang tidak
menyenangkan.

82
2.6. PEMBERIAN BALIKAN ATAU UMPAN BALIK DAN
PENGUATAN BELAJAR
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama
ditekankan oleh teori belajar operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada
teori conditioning yang diberi kondisin adalah stimulusnya, maka pada operant
conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar im
adalah law of effect - nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat
apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang haik. Hasil, apalagi hasil yang
baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengarub baik bagi
usaha belajar selanjutnya. Namum dorongan belajar itu menurut B.E Skinner
tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga ada yang tidak
menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat
memperkuat belajar (gage dan Berliner, 1984: 272).
Siswa belajar sunggub-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam
ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai
yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif.
Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan
merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong tuk
belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas juga
bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan
negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak
menyenangkan, maka penguatanatan negatif juga disebut escape conditioning,
Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan
sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya
balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar
melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk
belajar lebih giat dan bersemangat.

83
2.7. IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
Siswa sebagai "primus motor” (motor utama) dalam kegiatan
pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja
adanya prinsip- prinsip belajar. Justru pada siswa akan berhasil dalam
pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap
diri mereka.

2.7.1. Perhatian dan Motivasi


Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua ungsangan
yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu
memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan
perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi
isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna. bentuk, gerak,
dan rangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian siswa diharapkan
selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam
prosses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat im merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373). Contob
kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik atau psikis, seperti mendengarkan
ceramah guru, membandingkan konsep sebelumnya dengan konsep yang baru
diterima, mengamati secara cermat gerakan psikomotorik yang dilakukan guru,
atau kegiatan sejenis lainnya. Senma kegiatan atau perilaku tersebut harus
dilakukan oleh siswa secara sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi
belajarnya.
Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh
siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan
mengembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan
mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat
melakukannya dengan menentukan atau mengetahm tujuan belajar yang hendak
dicapai. menanggapi secara positif pujian atau dorongan dari orang lain,

84
menentukan target atau sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis
lainnya. Dari contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan dan
membangkitkan motivasi belajar, dapat ditandai bahwa perilaku-perilaku
tersebut bersifat psikis.

2.7.2. Keaktifan
Sebagai "primus motor" dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar,
siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya.
Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif,
perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan,
menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dan kimia, membuat karya tulis,
membuat kliping, dan prilaku sejenis lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi
siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan langsung siswa dalam proses
pembelajaran.

2.7.4. Keterlibatan langsung/ berpengalaman


Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri.
Tidak ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya
(Davies, 1987:32). Pemyataan ini. secara mutlak menuntut adanyan keterlibatan
langsung dari "tiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip
ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas
belajar yang dibeerikan kepada mereka. Dengan keterlibatan langsung inj, secara
logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman.
Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung
bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli,
siswa melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa
membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk perilaku
keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip
keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara
langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan
keaktifan siswa.

85
2.7.5. Pengulangan
Penguasaan secara penuh dari setiap langkah kemungkinkan belajar
secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32 ). Dari pemyataan inilah
pengulangan masih diperlukan merasa bosan dalam melakukan pengulangan.
Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip
pengulangan, diantaranya menghafal unsur-unsur kimia setidp valensi,
mengerjakan soal-soal lingkungan, Jachan, menghafal nama-nama latin
tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.

2.7.6. Tantangan
Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pemyataan bahwa apabila siswa
diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi
untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987:
32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh.
memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran.
Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adatah tuntutan dimilikinya kesadaran
pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses.
dan mengolah pesan. Sclain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang
besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku
siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah
melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau
mencari tahu pemecahan suatu masalah.

2.7.7. Balikan dan Penguatan


Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan,
apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki
pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan
penguat (reinforce) bagi penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang
memungkinkan diantaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan
kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor atau nilai yang dicapai, atau
menerima teguran dari gurulorang tua karena hasil belajar yang jelek.

86
2.7.8. Perbedaan Individual
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu
dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo
(kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi
kecepatan belajar (Davies, 1987: 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan
siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belaiar dan sasaran belajar
bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaim individual diantaranya
adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau
memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat
berupa perilaku fisik maupun psikis. Untuk memperjelas implikasi prinsip-
prinsip belajar bagi siswa, anda dapat mengidentifikasi dari kegiatan siswa
dalam kegiatan pembelajaran sebagai indikatornya.

2.7.9. Perbedaan individual


Belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tidak belajar, berarti
tidak akan memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan
emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar disuatu kelas sudah
barang tentu kadar aktivitas belajar para siswa beragam.
Disamping itu, siswa yang belajar sebagai pribadi tersendiri, yang
memiliki perbedaan dari siswa lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal
pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar dan
sebagainya..
Guru yang menyamaratakan siswa menganggap semua siswa sama.
sehingga memperlakukan mereka sama kepada semua. pada prinsipnya
bertentangan dengan hakikat manusia, khususnya siswa.
Guru yang bijaksana akan menghargai dan memperlakukan siswa sesuai
dengan hakikat mereka masingmasing. Suatu tindakan guru yang dipandang
tepat terhadap seorang siswa, belum tentu tepat untuk siswa yang lain. Akan
tetapi ada perlakuan yang memang harus sama terhadap semua.

87
Demikian pula yang menyangkut pelajaran. Pelajaran mana yang harus
dipelajari oleh semua siswa dan peIajaran mana yang boleh dipilih oleh siswa
sesuai dengan bakat mereka.
Perlakuan guru terhadap siswa yang cepat harus berbeda dii i perlakuaii
terhadap siswa yang termasuk lamban. Siswa yang lamban perlu banyak dibantu
sedangkan siswa yang cepat dapa diberi kesempatan lebih dulu maju atau
melakukan pengayaan.
Didalam menggunakan metode mengajar, guru perlu menggunakan
metode mengajar yang bervariasi, sebab mungkin siswa yang kita ajar memiliki
tipe belajar yang berbeda. Siswa yang memiliki tipe belajar yang auditif akan
lebih mudah belajar melalui pendengaran. Siswa yang memiliki tipe belajar yang
motorik akan memiliki tipe belajar visual akan lebih mudah belajar melalui
penglihatan. sedangkan siswa yang memiliki tipe belajar motorik akan lebih
mudah belajar melalui perbuatan.
Untuk keperluan itu semua guru perlu memahami pribadi masing-masing
yang menjadi bimbingannya.
Oleh karena itu catatan pribadi siswa sangat bermanfaat. Setiap siswa
perlu dikatat tentang kecerdasannya, bakatnya, tipe belajarnya, latar belakang
kehidupan orang tuanya, kemampuan panca indranya, penyakit yang
dideritanya, bahkan kejadian sehari-hari yang dianggap penting. Semua itu harus
dkatat pada catatan pribadi siswa. Buku catatan pribadi siswa itu harus diisi
secara rutin dan terus mengikuti pribadi siswa tersebut ke kelas dan ke jenjang
pendidikan berikutnya.
Buku catatan pribadi tiap siswa kelas 1 setelah mereka naik kelas II harus
diserahkan pada guru kelas II untuk digunakan dan diisi dengan data baru,
begitulah seterusnya sampai kejenjang pendidikan berikumya.
Adakah buku catatan pribadi tiap siswa dikelas tempat anda mengajar?
Bila ada coba pelajari:
1. Data apa saja yang dicatat
2. Kapan buku tersebut diisi
3. Pernahkah buku catatan pribadi tersebut digunakan, dan untak apa

88
4. Bagaimana saran anda untuk pemanfaatan buku catatan pribadi tersebut :
data dan pengisiannya serta penggunaanya.
Jika ternyata belum ada, coba buat sebuah model buku catatan pribadi
siswa yang menurut anda cukup lengkap untuk keperluan pembimbingan belajar
terhadap siswa, Itulah lima prinsip belajar telah kita diskusikan. Silahkan anda
pelajari berbagai sumber tentang belajar. Akan tetapi paling tidak kelima prinsip
diatas hendaknya menjadi pegangan kita didalam membelajarkan siswa-siswa
kita.
Belajar terjadi pada suatu system lingkungan belajar yang terdiri dari
komponen atau unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa dan guru.
Sebagai suatu system, unsur-unsur penabelajaran tersebut saling berkaitan,
saling mempengaruhi. Oleh karena itu pemilihan dan penggunaan strategi
belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan unsur-unsur lain
didalam system pembelajaran. Yang menjadi unsur utama ialah tujuan
pembelajaran. Semua unsur didalam pembelajaran harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran harus ditetapkan lebih dulu.
Bagaimana implikasi tujuan, bahan pelajaran, alat dan siswa terhadap
penggunaan strategi belajar mengajar akan kita diskusikan pada kegiatan belajar
berikutnya. Untuk memantapkan pemahaman anda terhadap materi yang anda
pelajari kerjakanlah latihan dibawah ini.
1. Identifikasikanlah kegiatan pembelajaran yang anda rancang.
Apakah kegiatan pembelajarannya termasuk belajar meialui pengalaman
ataukah melalui pengamatan?
2. Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motifasi
belajar siswa?
3. Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian siswa?
Untuk memudahkan anda dalam mengerjakan latihan diatas bacalah
rambu-rambu pengerjaan latihan berikut ini. Rambu-rambu pengerjaan latihan.

89
1. Ambillah salah satu rencana pembelajaran yang akan anda laksanakan.
Identifikasi setiap langkah kegiatan pembelajaran yang akan anda tempuh.
Dari hasil identifikasi ini anda akan mengetahui apakah kegiatan
pembelajaran yang anda rancang lebih menekankan pada belajar melalui
pengalaman (langsung dan tak langsung) ataukah melalui pengamatan.
2. Untuk menjawab pertanyaan ini anda hendaknya mengingat kembali materi
yang membahas teknik-teknik membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk
lebih meyakinkan anda observasilah teman anda yang sedang mengajar.
Catatlah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan teman anda yang dapat
membangkitkan motivasi belajar siswa.
3. Selain anda harus mengingat kembali materi tentang teknik-teknik menarik
perhatian siswa, anda juga dapat melakukan observasi atau meminta teman
anda mengobservasi anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan-kegiatan
yang dapat menarik perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran.
Sekarang tiba saamya anda membaca rangkuman dibawah ini unuk lebih
memantapkan ingatan anda terhadap materi yang telah dipelajari.
Belajar memiliki tiga atribu pokok ialah:
1. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan
perasaan.
2. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik menyangkut kognitif
psikomotorik maupun afektif.
Siswa merupakan imdividual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa
yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaim satu dengan lain. Perbedaan itu
terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya
perbedaan individu perlu diperhaikan pleh guru dalam upaya pembelajaran.
Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang
memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan
pembelajaran dikelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan
rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan
pengetahuannya.

90
Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan
individual dapa diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan
metode atau straegi belajar mengajar yang ervariasi sehingga perbedaan
perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media
instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam cara belajar.
Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan
memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang
pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak yang kurang. Disamping
in dalam memberikan tugas hendaknya disesuikan dengan minat dan
kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang
akan merasakan berhasil didalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder
dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya dan guru teimplikasi adanya
prinsip-prinsip belajar.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam
setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
Namun demikian, perlu disadari bahaya implementasi prinsip-prinsip belajar
sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tidak semuanya
terwujud dalam setiap proses pembelajaran.

91
BAB III
DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM

Kurikulum dan pendidikan adalah dua hal yang erat berkaitan, tak dapat
dipisahkan sama dengan yang lain. Sistem pendidikan yang dijalankan pada
zaman modern ini tak mungkin tanpa melibatkan keikutsertaan kurikulum. Tak
mungkin ada Kegiatan pendidikan tanpa kurikulum. Kebutuhan akan adanya
aktivitas pendidikan selalu berarti kebutuhan adanya kurikulum. Dalam
kurikulum itulah tersimpul segala sesuatu yang harus lijadikan pedoman bagi
pelaksanaan pendidikan. Pemikiran tentang adanya kurikulum adalah setua
dengan adanya sistem pendidikan itu sendiri.
Hubungan antara pendidikan dan kurikulum adalah hubungan antara
tujuan dan isi pendidikan. Suatu tujuan, tegasnya tujuan pendidikan yang ingin
dicapai, akan dapat terlaksana jika alat sarana, isi, atau tegasnya kurikulum yang
dijadikan dasar acuan ini relevan. Artinya sesuai dengan tujuan pendidikan
tersebut. Hal itu dapat diartikan bahwa kurikulum dapat membawa kita ke arah
tercapainya tujuan pendidikan. karena kurikulum merupakan isi dan sarana
untuk mencapai tujuan pendidikan, maka kurikulum berisi nilai-nilai atau cita-
cita yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Pada hakekatnya, proses
pendidikan yang dijalankan adalah usaha untuk merealisasikan nilai-nilai dan
ide-ide tersebut.
Pada dasamya tujuan pendidikan yang pokok (atau hakiki, esensial,
prinsipil ini tetap karena ia berhubungan dengan sistem nilai atau pandangan
hidup suatu bangsa. Akan tetapi. hal itu tidak berarti kurikulum pun harus statis,
tak pernah mengalami perubahan. Kurikulum pun harus selalu dikembangkan
sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.. masyarakat yang dinamis
akan selalu mengalami perkembangan, selalu menuntut adanya perubahan sesuai
dengan perubahan zaman. Pada hakekamya, hal itupun dapat dipandang sebagai
akibat sistem pendidikan yang dijalankan yang sudah diperhitungkan. Dengan

92
kata lain adanya keadaan masyarakat yang dinamis dan terbukti terhadap adanya
usaha-usaha pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman tersebut,
merupakan keberhasilan sistem pendidikan, tanpa mengakibatkan berbagai
faktor lain yang juga berperan.
Dalam banyak hal, kurikulum dapat dijadikan ukuran kualitas proses dan
keluaran pendidikan yang dijalankan. Dalam suatu kurikulum sekolah telah
tergambar tentang berbaga pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai
yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan suatu sekolah. Akan tetapi
kurikulum bukanlah merupakan satu-satunya faktor penentu "kualitas seperti
yang disarankan didalamnya. Masih terdapat berbagai faktor lain yang turut
menunjang kualitas atau keberhasilan kegiatan pendidikan yang dijalankan.
Misalnya saja masalah sarana dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan,
kualitas guru sebagai pelaksana pendidikan dan sebagainya. Penting bagi guru
adalah ia harus benar-benar menyadari peranannya sebag pelaksana pendidikan
yang amat menentukan. Hal itu menunt kepadanya untuk memahami dan
menguasai berbagai masalah pendidikan, antara lain masalah kurikulum.

3.1. Pengertian Kurikulum


3.1.1 Kurikulum Sebagai Jembatan Meraih Ijazah
Istilah "kurikulum" memiliki berbagai tafsiran yan dirumuskan oleh
pakar-pakar dalam bidang pengembang kurikulum sejak dulu sampai dengan
dewasa. ini. Tafsiran-tafsi tersebut berbeda-beda satu sama lainnya, sesuai
dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan. Istilah kurikulum
berasal dari bahasa latin yakni "currculae", artinya jarak yang harus ditempuh
oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengerti kurikulum ialah jangka waktu
pendidikan yang harus ditemp oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh
Ijazah.
Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah.
Dalam hal ini, ijazah pada hakekatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah
menempuh suatu Kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya
seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya

93
dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap
sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu
perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.

Pengertian Kurikulum
(Oleh Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Dasar-Dasar Pengembangan
Karikalum Sekolah)
Istilah kurikulum semula berasal dari istilah yang dipergunakan dalam
dunia taktik curere yang berarti "berlari' . Istilah tersebut erat hubungannya
dengan kata curier atau kurir yang berarti penghubung atau seseorang yang
bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang atau tempat lain. Seseorang kurir
harus menempuh suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah
kurikulum kemudian diartikan sebagai orang sebagai suatu jarak yang harus
ditempuh (S. Nasution, 1980 : 5).
Dari istilah atletik kurikulum mengalami perpindahan arti kedunia
pendidikan. Sebagai misal pengertian kurikulum seperti yang tercantum dalam
Webster's Intemational Dktionary " .
Currculum ; Course ; a specified fixed course of study, is in a school or
collage. as one leading to degree.
Kurikulum kemudian diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau
ilmu pengetalman yang ditempult atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat
tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum juga diartikan sebagai suatu
rencana yang disengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan.
Itulah sebabnya orang pada waktu lalu juga menyebut kurikulum dengan istilah
“Rencana Pelajaran" yang merupakan terjemahan istilah Leerplan. Rencana
pelajaran merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didaktik yang harus
dikuasai (atau paling tidak diketahui) oleh seorang guru atau calon guru.
Pengertian kurikulum sebagai yang tercantum dalam kamus Webster
yang dikutip diatas, kiranya ada kesesuaiannya dengan perumusan yang
dikemukakan oleh Stenhouse berikut : Currkulum is the planned conipesite

94
effort of any school to guide pupil leaming to ward prederennined learning
outcome (Larence Stenhouse, 1976 : 4).
Defenisi-defenisi kurikulum yang bersifat tradisional biasanya masih
menampakkan adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk
menyampaikan mata-mata peiajaran (subject matter) kepada anak didik yang
biasanya berisi kebudayaan. (hasil budidaya) masa lampau atau sejumlah ilmu
pengetahuan. Anak yang berhasil melewati tahap ini akan atau herhak
memperoleh ijazah. Kabudayaan atau sejumlah ilmu pengetahuan yang akan
disampaikan tersebut bersumber pada buku-buku yang baik atau dianggap
bermutu, sehingga kurikulum terutama dalam hal tujuan instruksional dan
pemilihan bahan pengajaran lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh
buku- buku tersebut.
Dihubungkan dengan kebutuhan pengalaman anak yang diharapkan
terpenuhi melalui kegiatan belajar-mengajar sekolah, ternyata hal tersebut
kurang menguntungkan karena ia membatasi pengalaman anak dalam proses
belajar-mengajar kelas saja dan kurang inemperhatikan pengalaman-pengalaman
lain yang diperoleh di luar kelas. Kurikulum yang bersi demikian. hanya
menekankan aspek intelektual saja yang harus dikuasai siswa dan mengabaikan
aspek-aspek yang lain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan
kejiwaan siswa. Kurikulum macam ini biasanya disebut Subject Centere
Curiculum, yaitu kurikulum yang berpusat pada materi pelajaran Sejalan dengan
perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, pendirian tradisional
mengenai kurikulum tersebut ditinggalkan orang karena dianggap terlalu sempit
dan atau paling tidak orang berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan baru,
sebab pada kenyataanya pula seperti halnya dengan masalah-masalah lain,
belum dapat meninggalkan (atau mungkin meninggalkan) sama sekali pendirian
tradisonal. dasarkan pendirian diatas, yakni pendirian tradisional, kurikulum
dijalankan (mau tak mau) berpusat pada guru atau but Teacher Centered
Curiculum. Pandangan yang lebih kemudian ingin mengubah pandangan
tersebut dengan memperhatikan minat dan kebutuhan anak, karena anaklah

95
sebenamya yang menjadi subjek didik. Anak tak boleh hanya dipeerlakukan
sebagai objek yang statis, melainkan harus diperhatikan kebutuhannya sesuai
dengan perkembangan jiwanya karena itu, terjadilah pergeseran dalam dunia
pendidikan dari suject atau teacher centered ke student centered. Kurikulum
yang sesuai dengan pandangan terakhir itu disebut Child Centered curiculum.
Hal itu terutama disebabkan oleh pengaruh penemuan-penemuan dibidang
psikologi. khususnya psikologi kembangan.
Adanya pergeseran tentang kurikulum tersebut juga terlibat pada
defenisi-defenisi kurikulum yang dikemukakan orang. misalnya menurut George
A. Beauchamp (1964 : 4) kurikulum adalahah "It as all activities of children
under the jurisdktion of the school”Dalam pengertian ini kurikulum mencakup
segala kegiatan, yang disediakan dan direncanakan sekolah. Konsep lain
misalnya mengatakan bahwa kurikulum tidak terbatas pada kegiatan saja,
melainkan meneakup seluruh pengalaman yang diperoleh siswa, baik intelektual,
emosional, sosial maupun pengalaman galaman yang lain.
Sebagai bahan perbandingan mengenai pengertian kriikulum menurut
konsep batu, barikut dikemukakan lagi denisi-defenisi yang lain.
A sequence of potensial experiences it set up in the school for the
purpose of disciplining children and yuouth in group ways of thingking
and acting (Smith dalam Beauchamp : 5).
atau
Curriculum is all of the planned experiences providedby the school to
assist the pupils in attaining children the designated learning outcomes to
the best their abilitie (Neagly dalam Lawrence : 4).
David Pratt dalam Curriculum Design and Development (1980 : 4)
mendefenisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat
organisasi pendidikan formal atau pusat-pusal latihan. Selanjumya ia membuat
implikasi secara lebih ekplisit tentang defenisi yang dikemukakannya tersebut
menjadi enam hal. yaitu :

96
1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa
perencanaan (mental) saja. tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk
tulisan.
2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan
kegiatan;
3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus
dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar,
bahan dan peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut dan
sebagainya.
4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja
mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang tanpa rencana, atau
kegiatan tanpa belajar.
5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai
komponen seperti tujuan, isi. sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Atau dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem
6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman
yang terjadi jika suatu hal dilalaikan.
Defenisi diatas yang kemudian disertai dengan berbagai implikasinya,
dapat memberikan gambaran yang lebih nyata tentang kurikulum, walau
mungkin tidak sepenuhnya kita terima atau pahami. Misalnya saja dikatakan
bahwa kurikulum mungkin hanya berupa perencanaan secara mental, dalam arti
tidak diwujudkan dalam bentuk tertulis. Bagaimana jadinya jika ada (mungkin
hanya sebagian) kurikulum yang tidak ditutis, tentunya akan mengundang
berbagai permasalahan.
Kurikulum merupakan suatu yang dijadikan pedoman dalam segala
kegiatan pendidikan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar di
kelas. Dalam hal ini kita dapat memandang bahwa kurikulum merupakan suatu
program yang didesain, direncanakan, dikembangkan dan akan dilaksanakan
dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan di sekolah. Atas dasar

97
hal tersebut, kurikulum kemudian dapat didefenisikan sebagai suatu program
pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah
tujuan pendidikan tertentu (Winamo Surahmad, 1977 : 5).
Kiranya defenisi tersebut lebih sederhana dan jelas rumusannya.
Pendidikan merupakan suatu pendidikan yang mempunyai tujuan-tujuan
tertentu, merupakan program yang direncanakan, disusun dan diatur untuk
kemudian dilaksanakan di sekolah melalui cara-cara yang telah ditentukan pula.
Jika defenisi diatas diperbandingkan dengan defenisi-defenisi yang
dikemukakan lebih dahulu, sebenamya tidak ada perbedaan yang prinsipil.
Sentua defenisi yang ditunjuk sama-sama menyebut kurikulum sebagai rencana-
rencana kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan
siswa yang tentunya dimaksudkan untuk memperoleh sejumlah pengalaman
(baca tujuan) tertentu.
Dalam pembkaraan selanjurnya, jika disebut-sebut kurikulum
pengertiannya menunjuk pada defenisi yang terakhir diatas.

3.1.2 Kurikulum Sebagai Materi Pelajaran


Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan
dipelajari oleh siswa unluk mempoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran
dipandang sebagai pengalaman orang tua atau pengalaman orang-orang pandai
masa yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalinya, pengalaman dan
penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya
disusun secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu, dan logis, artinya
dapat diterima dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang
disampaikan pada siswa sehingga memperoleh sejumiah pengetahuan yang
berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan maka
semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan
harus dipelajari oleh siswa disekolah.

98
3.1.3 Kurikulum Sebagai Rencana Kegiatan Pembelajaran
Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk
pembelajaran siswa. Dengan program ini siswa inelakukan berbagai kegiatan
belajar, sehingga menjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa
sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain sekolah
menyediakan lingkungan yang memberikan kesempatan belajar bagi siswa. Itu
sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut
dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada mata ajaran saja, melainkan
melipiuti segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti
bangunan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman, perlengkapan dll. Hal ini
berarti semua hal dan semua orang yang terlibat dalam memberikan bantuan
kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.

3.1.4 Kurikulum Sebagai Pengalaman Pelajar


Perumusan atau pengertian kurikulum lainnya agar berbeda dengan
pengertian-pengertian sebelumnya yang lebih menekankan bahwa kurikulum
merupakan serangkaian pengalaman belajar. Pengertian ini menunjukkan bahwa
kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan
mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas. Tak ada pemisahan yang tegas
dntara ekstra dan intra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan
pengalaman belajar bagi siswa pada hakekatnya adalah kurikulum.Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar
mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan untuk
mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam
rangka upaya pencapai tujuan pendidikan nasional.

3.2. Landasan Pengembangan Kurikulum


3.1 Filosofis
Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat.
Berdasarkan cita-cita tersebut terdapat landasan, man dibawa kemana

99
pendidikan anak. Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang
diharapkan oleh masyarakat. Dengan kata lain filsafat pendidikan merupakan
pandangan hidup masyarakat. Filsafat pendidikan menjadi landasan untuk
merancang tujuan pendidikan, prinsip pendidikan serta seperangkat pengalaman
belajar lainnya.
Hal ini menunjukkan pada kebutuhan pembangunan sesuai dengan
sektor-sektor yang perlu dibangun itu sendiri, yakni bidang industri, pertanian,
tenaga kerja, perdagangan, transportasi dll. Pembangunan SDM yang berkualitas
diarahkan untuk meningkatkan kwalitas SDM yang mampu mendukung
-pembangunan ekonomi dan pembangunan dibidang-bidang lainnya. Implikasi
dari upaya pembangunan tersebut maka diperlukannya peningkatan
produktifitas, peningkatan pendidikan nasional yang merata dan bermutu,
peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian sesuai dengan kebutuhan
bidang-bidang pembangunan tersebut. dan pembangunan iptek yang mantap.
Gambaran tentang proses dan tujuan pembangunan tersebut diatas
sekaligus menggambarkan kebutuhan pembangunan secara keseluruhan. Hal
mana memberikan implikasi tertentu terhadap pendidikan di perguruan tinggi.
Dengan kata lain penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi harus
disesuaikan dan diarahkan pada upaya-upaya dan kebutuhan pembangunan,
yang mencangkup pembangunan ekonomi dan pengembangan SDM yang
berkwalitas. Penyelenggaraan pendidikan diarahkan untuk menyiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan keilmuan dan
keahlian, yang berisi mendukung tercapainya cita-cita nasional. yakni suatu
masyaral yang maju, mandiri dan sejahtera.

2.2 Iptek dan Seni


Pembangunan didukung oleh perkembangan iptek dalam rangka
mempercepat terwujudnya ketangguhan dan Keunggu bangsa. Dukungan iptek
terhadap pembangunan dimaksud untuk memacu pembangunan untuk menuju

100
terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera. Di sisi lain
perkembangan iptek itu sendiri berlangsung semakin cepat berbarengan dengan
persaingan antar bangsa semakin meluas sehingga diperlukan penguasan dan
pengembangan iptek yang pada gilirannya mengandung implikasi tertentu
terhadpa pengembangan sumber daya manusia supaya memiliki kemampua
dalam penguasaan dan pemanfaatan serta pengembangan dalam bidang iptek.
Untuk mencapai tujuan dan kemampuan tersebut, beberapa hal yang dapat
dijadikan dasar :
1. Pembangunan iptek harus beraada dalam keseimbangan yang dinamis dan
efektif dengan pembinaan SDM. pengembangan sarana dan prasarana iptek,
pelaksanaan penelitian pengembangan serta rekayasa produksi barang dan
jasa.
2. Pembangunan iptek tertuju pada peningkatn kwalitas, yaitu untuk
meningkatkan kwalitas kesejahteraan dan kehidupan bangsa.
3. Pembangunan iptek harus sclaras dengan nilai-nilai agama, nilai luhur
budaya bangsa, kondisi sosial budaya dan lingkungan hidup.
4. Pembangunan iptek harus berpijak pada upaya peningkatan produktifitas,
efisiensi dan efektifitas penelitian dan pengembangan yang lebih tinggi.
5. Pembangunan iptek berdasarkan pada asas pemanfaatan yang dapat
memberikan nilai tambah dan memberikaxt pemecahan masalah konkrit
dalam pembangunan.
Penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan iptek dilaksanakan oleh
berbagai pihak, yakni :
1. Pemerintah, mengembangkan dan memanfaatkan iptek untuk menunjang
pembangunan di segala bidang.
2. Masyarakat, yang memanfaatkan iptek untuk pengembangan masyarakat
secara swadaya.
3. Akademisi terutama dilingkungan perguruan tinggi yang memanfaatkan
iptek untuk disumbangkan pada pembangunan.
4. Pengusaha, untuk kepentingan meningkatkan produktifitas.

101
3. Komponen Pengenibangan Kurikulum
3.1 Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum setiap satuan pendidikan harus mengacu pada
pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagai mana telah ditetapkan pada UU
no.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam skala yang lebih
luas, kurikulum merupakan sesuatu alat pendidikan dalam rangka
pengembangan SDM yang berkwalitas. Kurikulum menyediakan kesempatan
yang luas bagi peserta didik untuk mengalami prosdes pendidikan dan
pembelajaran unutuk mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan
SDM yang berkwalitas umumnya. Tujuan itu dikategorikan sebagai tujuan
umum kurikulum.
Tujuan mata ajaran. Mata ajaran dikelompokkan menjadi beberapa
bidang studi, yakni :
1. Bidang studi bahasa dan seni
2. Bidang studi IPS
3. Bidang studi IPA
4. Bidang studi pendidikan jasmani dan kesehatan
Setiap bidang studi meliputi mata ajaran tertentu. Misalnya bidang studi
IPS, terdiri dari mata ajaran ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah dll.
Setiap mata ajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan
yang hendak dicapai oleh mata ajaran lainnya. Tujuan mata ajaran merupakan
penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
nasional. Sebagai contoh kita pilih, kita pilih tujuan mata ajaran berhitung,
sebagai berikut :
1. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan
dasar berhitung yang praktis.
2. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis
dan kritis dalam pola berpikir abstrak, sehingga mampu memecahkan soal-
soal yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

102
3. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan kemampuan untuk hemat dan
pandai menghargai waktu, rasional dan ekonomis.
4. Menanamkan, memupuk dan mengembangkan sikap gotong royong, jujur,
serta percaya kepada diri sendiri.
Berdasarkan tujuan tersebut, baik tujuan umum maupun tujuan khusus
selanjutnya dapat ditetapkan atau direncanakan dalam materi pelajaran.

3.2 Materi Kurikulum


Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum. Dalam UU
pendidikan tentang Sistim Pendidikan Nasional telah ditetapkan bahwa "isi
kurikulum merupakan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan
penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam upaya pencapaian
tujuan pendidikan nasional". Sesuai dengan rumusan tersebut, isi kurikulum
dikembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip :
1. Materi kurikulum bempa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian
atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar
dan pembelajaran.
2. Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan
pendidiknan. Perbedaan dalam ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran
disebabkan oleh perbedaan tujuan satuan pendidikan tersebut.
3. Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional mempakan target tertinggi yang
hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.
Materi kurikulum mengandung aspek-aspek tertentu sesuai dengan
tujuan kurikulum yang meliputi :
1. Teori, seperangkat konsep atau defenisi dan preposisi yang saling
berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan
menspesifikasi hubungan-hubungan antara variabel dengan maksud
menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

103
2. Konsep, suatu abstraksi yang dibentuk oleh generalisasi dari kekhususan -
kekhususan. Konsep adalah defenisi singkat dari sekelompok fakta atau
gejala.
3. Generalisasi, kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber
dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
4. Prinsip, adalah ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang
mengembangkan hubungan antara beberapa konsep
5. Prosedur, adalah suatu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi
pelajaran yang harus dilakukan oleh siswa.
6. Fakta, adalah sejumlah informasi khusus dalam materi dianggap penting,
terdiri dari terminologi, orang, tempat dan kejadian.
7. Istilah, adalah kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus
diperkenalkan dalam materi
8. Contoh atau illustrasi ialah suatu hal atau tindakan atau dan khusus
diperkenalkan dalam materi
9. Definisi, ialah penjelasan tentang makna atau pengertian tentang sesuatu.
10. Preposisi, suatu pernyataan atau pendapat yang tak perlu diberi argumentasi.

3.3. Organisasi Kurikulum


Organisasi kurikulum terdiri dari beberapa bentuk yang masing-masing
memiliki ciri-ciri sendiri :
1. Mata pelajaran terpisah-pisah
Kurikulum terdiri dari sejumlah mata ajaran yang terpisah-pisah, seperti
sejarah, ilmu pasti, bahasa Indonesia, dll. Tiap mata ajaran disampaikan
sendiri-sendiri tanpa ada hubungannya dengan mata ajaran lainnya. Masing-
masing diberikan pada waktu tertentu, dan tidak mempertimbangkan minat,
kebutuhan, dan kemampuan siswa. Semua materi diberikan sama.
2. Mata ajaran – mata ajaran berkorelasi
Korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan
sebagai akibat pemisahan mata ajaran. Prosedur yang ditempuh ialah

104
menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan
siswa memahami pelajaran tersebut.
3. Bidang studi
Beberapa mata ajaran yang sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama
dikorelasikan dalam satu bidang pengajaran, misaInya bidang studi bahasa
Indonesia, meliputi membaca, bercerita, mengarang,dan sebagainya.
4. Program yang berpusat pada anak
Program ini adalah orientasi baru dimana krrikulum dititik beraikan pada
kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata ajaran. Guru menyiapkan
program yang meliputi kegiatan-kegiatan yang menyajikan kehidupan anak,
misalnya ekskursi dan cerita. Dengan cam memperkaya dan mempertuas
macam-macam kegiatan, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan dan
keterampilan. Cara lain untuk melaksanakan kurikulum ini ialah pengajaran
dimulai dari kelompok siswa yang belaju, kemudin guru bersam siswa
tersebut menyusun program bagi mereka. Para siswa akan memperoleh
pengalaman melalui program ini.
5. Core Program
Core artinya inti atau pusat. Core program adalah suatu program inti berupa
suatu unit atau masalah. Masalah diambil dari satu mata ajaran tertentu,
misalnya bidang studi IPS. Beberapa mata ajaran lainnya diberikan melalui
kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalah tersebut. Mata ajaran
tersebut tidak diberikan secara terpisah. Biasanya dalam program itu telah
disarankan pengalaman-pengalaman yang akan diperoleh oleh siswa dalam
garis besarnya. Berdasarkan pengalaman yang disarankan itu, guru dan siswa
memilih, merencanakan dan mengembangkan suatu unit kerja yang sesuai
dengan minat, kemampuan dan kebutuhan siswa.
6. Eclectic Program
Eclectic program adalah suatu program yang mencari keseimbangan antara
organisasi kurikulum yang berpusat pada mata ajaran dan yang berpusat

105
pada peserta didik. Caranya ialah memilih unsur-unsur yang dianggap baik
yang terdapat pada kedua jems organisasi tersebut, kemudian unsur-unsur itu
diintegrasikan menjadi suatu program. Program ini sesuai dengan minat,
kebutahan dan kematangan peserta didik, Ruang lingkup dan umum bahan
pelajaran telah ditentukan sebelumnya, dan kemudian perinciannya
dikerjakan oleh guru dan siswa. Sebagian waktu digunakan secara untuk
pengajaran langsung, misalnya pengajaran keterampilan dan sebagian waktu
lainnya disediakan untuk unit kerja. Program ini juga menyediakan
kesempatan untuk bekerja kreatif, mengembangkan apresiasi dan
pemahaman. Pembagian waktu disesualkan dengan kegiatan untuk mencapai
tujuan.

3.4 Evaluasi kurikulum


Evaluasi merupakan suatu komponen kurikulum, karena kurikulum
adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan evaluasi
dapat diperoleh invormasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran
dan keherhasilan belajar siswa. Berdasarkan informasi itu dapat dibuat
keputusan tentang kurikulum itu sendiri, pembelajaran, kesulitan dan upaya
bimbingan yang perlu diberlakukan.
Aspek-aspek yang perlu dinilai benitik tolak dari aspekaspek tujuan yang
hendak dicapai, baik tujuan kurikulum, tujuan pembelajaran dan tujuan belajar
siswa. Setiap aspek yang dinilai berpangkal pada kemampuan apa yang hendak
dikembangkan, sedangkan tiap kemamptran itu mengandung unsur-unsur
pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai. Penetapan aspek yang dinilai
mengacu pada kriteria keberhasilan yang telah ditentukan dalam kurikulum
tersebut.
Jents penilaian yang dilaksanakan tergantung pada tujuan
diselenggarakannya penilaian tersebut. MisaInya, penilaian formatif
dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan siswa dan dalam upaya melakukan
perbaikan yang dibutuhkan. Berbeda dengan penilaian summatif yang

106
bermaksud menilai kemajuan siswa setelah satu semester atau dalam periode
tertentu, untuk mengetahui perkembangan siswa secara menyeluruh.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu instrument
penilaian, ialah validitas, reliabilitas, obiektifitas, kepraktisan, dan pembedaan.
Disamping itu perlu diperhatikan bahwa penilaian harus objektif, dilakukan
berdasarkan tanggung jawab kelompok guru, rencana yang rinci dan terkait
dengan pelaksanaan kurikulum, sesuai dengan tujuan dan materi kurikulum,
menggunakan alat ukur yang handal dan mudah dilaksanakan serta memberikan
hasil yang akurat.

3. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum


4.1 Prinsip Relevansi (kesesualan)
Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan sistem
penyampaiannya harus relevant dengan kebutuhan dan sesuai dengan kebutuhan
dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan sisiwa. serta
serasi dengan perkembangan iptek.

4.2 Prinsip Kontinuitas (berkesinambungan)


Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya baglan, aspek,
materi, bahan kajian, disusun secara berurutan. tidak terlepas-lepas, melainkan
satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan
jenjang pendidikan, struktur dan tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip
mi tampak jelas alur dan keterkaitan di dalam kurikulum tersebut sehingga
mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

4.3 Prinsip Fleksibelitas (keluwesan)


Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah dilengkapi atau
dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat,
jadi tidak statis atau kaku Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program

107
pendidikan keterampilan industri dan pertanian. Pelaksanaannya di kota, tapi
karena ketidaktersediaan lahan, maka yang dilaksanakan adalah program
pendidikan keterampilan industri. Sebaliknya pelaksanaannya di desa ditekankan
pada program pendidikan keterampilan pertanian. Dalam hal im lingkungan
sekitar, keadaan masyarakat dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor
pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.

FUNGSI KURIKULUM
Setiap lembaga pendidikan formal maupun nonfomal dalam
penyelenggaraan kegiatan sehari-harinya berlandaskan kurikulum-kurikulum itu
sendiri dalam hal ini dapat berupa : (1). Rancangan kurikulum, yaitu buku
kurikulum suatu lembaga pendidikan; (2) Pelaksanann kurikulum, yaitu proses
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan ; dan (3). Evaluasi kurikulum,
yaitu penilaian atau penelitian basil-hasil pendidikan.
Dengan lingkup pendidikan formal. kegiatan merancang melaksanakan
dan menitai kurikulum tersebut, yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan
pendidikan, dilaksanakan sebagai program pengajaran.
Berbicara masalah fungsi kurikulum kita dapat meninjaunya dari tiga
segi, yaitu fungsi bagi sekolah yang bersangkutan, bagi sekolah pada tingkat
diatasnya dan fungsi bagi masyarakat (Winamo Surahmad ; 6).

1. Fungsi bagi sekolah yang berungkutan


Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan ini paling tidak dapat
disebutkan dua macam. Pertama, sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan yang diinginkan. Manifestasi kurikulum dalam kegiatan belajar
mengajar di sekolah adalah berupa program pengajaran. Program pengajaran itu
sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang
kesemuanya dimaksudkan sebagai uapaya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai

108
dart tujuan pendidikan yang bersifat nasional sampai tujuan instruksional. Jika
tujuan instruksional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan
belajar mengajar di kelas) pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada
jenjang diatasnya. Setiap kurikulum sekolah pasti didalamnya tereantum tujuan-
tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai melalui kegiatan pengajaran.
Kedua, kurikulum dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatn-kegiatan
pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Dalam pelaksanaan pengajaran
misalnya, telah ditentukan macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok
bahasan atau materi pengajamn untuk tiap semester, sumber bahan, metode atau
cara pengajaran, alat dan media pengajaran yang diperlukan. Disamping itu.
kurikulum juga mengatur hal-hal yang berhubungan dengan jenis program cara
penyelenggaraan, strategi pelaksanaan, penanggung jawab, sua dan prasarana
dan sebagainya.

2. Fungsi bagi sekolah tingkat diatasnya


Dalam hal ini kurikulum dapat untuk mengontrol atau memelihara
keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada
tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan
penyesuaian Misalnya saja, jika suatu bidang studi telah diberikan pada
kurikulum sekolah ditingkat bawahnya, harus dipertimbangkan lagi
pemilihannya pada kurikulum, sekolah tingkatan diatasnya terutama dalam hal
pemulihan bahan pengajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk
menghindari keterulangan penyampaian yang bisa berakibat pemborosan waktu
dan yang lebih penting lagi adalah untuk menjaga kesinambungan bahan
pengajaran itu.
Disamping itu, terdapat juga kurikulum yang berfungsi untuk
menyiapkan tenaga pengajar. Bila satu sekolah atau lembaga pendidikan
bertujuan menghasilkan tenaga guru (LPTK),. Maka lembaga tersebut harus
mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat dibawahnya tempat calon guru yang

109
dipersiapkan itu akan mengaju. Misalnya murid SPG harus mengetabui
kurikulum SD, mahasiswa IKIP/FKG harus menguasai kurikulum kurikulum
SMTP dan SMTA. Jika di SD, SMP dan SMA kegiatw pengajaran disampaikan
dengan sistem PPSI, maka sekolah-sekolah yang bertugas mengadakan guru
untuk sekolah-sekolah tersebut harus membekali calon-calonnya dengan
kemampuan memtruat PPSI.

3. Fungsi bagi Masyarakat


Padatamatan sekolah memang dipersiapkan untuk terjun dimasyarakat
atau tugasnya untuk bekerja sesuai dengan keterampilan profesi yang
dimilikinya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau
mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai
keluaran sekolah. Untuk keperluan itu perlu ada kerja sama antara piliak sekolah
dengan pihak luar dalam hal pemberrahan kurikulum yang diharapkan. Dengan
demikian, masyarakat atau para pemakai lulusan sekolah dapat memberikan
bantuan, kritik atau saran-saran yang berguna bagi penyempumaan program
pendidikan di sekolah.
Dewasa ini kesesuaian antara program kurikulum dengan kebutuhan
masyarakat harus benar-benar diusahakan. Hal itu mengingat seringnya terjadi
kenyataan balwa lulusan selsolah halum siap pakai atau tidak sesuai dengan
tenaga yang dibutuhkan dalm lapangan pekerjaan. Akibatnya, walau semakin
menumpuk tenaga kerja yang ada, kita tak dapat mengisi lapangan pekerjaan
yang tersedia karena tidak memiliki keterampilan atau keterampilan yang
dimilikinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pada lapangan pekerjaan.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, ada seorang tokoh pendidikan yang
mengemukakan agar sekolah tingluat SD sudah dibuat menjadi dua jalur, yaitu
jalur akademis (dipersiapkan untuk melanjutkan sekolah) dan jalur vokasional
(dipersiapkan untuk segera bekerja). Hal itu berdasarkan kenyataan penelitian
bahwa masih sebagian besar anak tamatan SD yang tidak meneruskan
pendidikan ke tingkat di atasnya.

110
Sering terjadi karena suatu tingkat keterampilan yang dibutuhkan dalam
suatu tingkat pekerjaan, maka hal itu segera diajarkan di sekolah. Sebagai
contoh hal yang berhubungan dengan keguruan misalnya dapat disebutkan
perabekalan keterampilan menibuat satuan pelajaran. Pada waktu itu, yaitu
permulann diterapkannya PPSI dalam sistem pengajaran di Indonesia sesuai
dengan tuntutan kurikulum '75, calon guru segera diberi keterampilan
membuatnya (sekarang Model Perencanaan Pengajaran). Boleh dikatakan bahwa
pembekalan atau pengajaran keterampilan tersebut semata-mata disebabkan
tuntutan pekerjaan kelak.
Penyiapan keterampilan para tamatan sekolah untuk bakal terjun di
masyarakat kerja, juga ditentukan oleh suatu misi sekolah, apakah ia sekolah
umum atau kejuruan. Misi suatu sekolah apakah ia bertugas mempersiapkan
tamatannya untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (jalur
akademis), atau untuk bekerja (jaIur vokasional), atau untuk kedua-duanya, akan
mewamai pendidikan keterampilan yang diajarkan oleh pibak sekolah yang
bersangkutan. Dengan adanya hal itu, para pemakai lulusan sekolah tentunya
sudah tanggap, Julusan dengan keterampilan mana (atau apa) yang mereka
butuhkan dan itu harus dialamatkan pada sekolah yang sesui dengan misinya.

KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM
Seperti dikemukakan oleh Pratt diatas, kurikulum adalah sebuah sistem,
sebagai suatu sistem, ia pasti mempunyai komponen-komponen atau bagian-
bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang terpisahkan.
Komponen-komponen dalam sebuah sistem bersifat harmonis, tidak saling
bertentangan. Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan
dan akan direncanakan mempunyai loomponen-komponen pokok tujuan, isi,
organisasi dan stratei (Winarno Surahmad: 9).

111
1. Tujuan
Kurikulum adalah suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai
sejumlah tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala
kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran
di sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya tujuan-tujuan tersebut.
Dalam setiap kurikulum sekolah pasti dcantumkan tujuan-tujuan pendidikan
yang akan atau harus dicapai oleh sekolah yang bersangkutan. Ada dua tujuan
yang terdapat dalam sebuah kurikulum sekolah yaitu sebagai berikut :
a. Tujuan Pendidikan yang harus dicapai secara keseluruhan
Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetalman. keterampilan, sikap
dan nilai-nilai yang diharapkan oleh para lulusan sekolah yang bersangkutan.
Itulah sebabnya tujuan ini disebut tujuan institusional atau kelembagaan.
Didalam sebuah kurikulum sekolah, terdapat dua macam Tujuan institusional
umum dan khusus yang keduanya selalu menunjukkan keinstitusionalannya.
(kedua tujuan ini biasanya dkantumkan dalam Buku 1 suatu kurikulum
sekolah).
b. Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi
Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional diatas yang meliputi tujuan
kurikulum dan instuksional yang terdapat dalam setiap GBYP (Garis-garis
Besar Program Pengajaran) tiap bidang studi. Baik tujuan kurikulum maupun
instruksional juga meneakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap
dan nilai-nilai yang dihuapkan dimiliki anak setelah mempelajari tiap bidang
studi atan pokok bahasan dalam proses pengajaran.

2. Isi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yarag diberikan kepada
anak dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi
kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program
masing-masing bidang studi tersebut. Jenis-jenis bidang studi ditentukan atas

112
dasar tujuan institusional sekolah yang bersangkutan. Jadi, ia berdasarkan
kriteria apa suatu bidang studi menopang tujuan int atau tidak. Berdasarkan
kriteria itu, maka jenis bidang studi yang diberikan pada suatu sekolah, misalnya
SMA, akan berbeda dengan sekolah yang lain, misalnya SPG.
Isi program suatu bidang studi yang diajarkan sebenamya adalah isi
kurikulum itu sendiri, atau ada juga yang menyebutnya sebagai silabus. Silabus
biasanya dijabarkan ke dalam bentuk pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok
bahasan, serta uraian bahan pelajaran. Uraian bahan pelajaran inilah yang
dijadikan dasar pengambilan bahan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di
kelas oleh pihak guru, Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokes bahasan
didasarkan pada tujuan instruksional.

3. Organisasi
Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa
kerangka program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
Organisasi kurikulum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur
horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berhubungan dengan
masalah pengorganisasian kurikulum dalam bentuk penyusunan bahan-bahan
pengajaran yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk penyusunan mata-mata
pelajaran itu dapat secara terpisah (sparate subject), kelompok-kelompok mata
pelajaran (correlated), atau penyatuan seluruh pelajaran dikembangkan di
sekolah, yaitu misalnya program pendidikan moupun, akademis, keguruan
keterampilan dan lain-lain.
Struktur vertikal berhubungan dengan masalah pelaksanaan kurikulum di
sekolah. MisaInya apakah kurikulum dilaksanakan dengan sistem kelas, tanpa
kelas atau gabungan antara keduanya dengan sistem unit waktu semester atau
catur wulan. Termasuk dalam hal ini adalah Juga masalah pembagian waktu
untuk masing-masing bidang studi untuk setiap tingkatan. Misalnya bidang studi
Bahasa Indonesia, diberikan selama berapa jam tiap minggu pada SMP/SMA
kelas I, II dan Ill. Demikian pula halnya dengan bidang-bidang studi yang lain.

113
4. Stretegi
Dengan komponen strategi dimaksudkan strategi pelaksanaam kurikulum
di sekolah. Masalah strategi pelaksana itu dapat dilihat dalam cara yang
ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, penilaian, bimbingan dan konseling,
pengaturan kegiatan sekolah sceara keseluruhan, pemilihan metode pengajaran,
alat atau media pengajaran dan sebagainya. Dalam pelaksanaan pengajaran
misalnya, dilakukan dengan pendekatan PPSI (berlaku untuk setiap bidang
studi) atau dengan cara lain seperti sistem pengajaran modul, paket pelajaran
dan sebagainya

KOMPONEN KURIKULUM
(Drs. Hendyat Soetopo, MYd dan Drs. Wasty Soemanto, MYd dalam bukunya
Pembinaan don Pengembangan Kurikulum Sekolah)
1. Komponen Tujuan
Tentang komponen tujuan ini kita akan mengenal tingkat-tingkat Tujuan
yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatuan dalam mewujudkan cita-
cita pendidikan dalam konteks pembangunan manusia Indonesia.
Seperti telah dikemukakan dalam bagian yang Ialu, kurikulum
merupakan suatu program untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu.
Oleh karena itu, dalam kurikulum suatu sekolah telah terkandung tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin dicapai melalm sekolah yang bersangkutan.
Ada dua jenis tujuan yang terkandung di dalam kurikulum suatu
sekolah :
1. Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.
Selaku lembaga pendidikan setiap, setiap sekolah mempunyai sejumlah
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan tersebut biasanya digambarkan
dalam bentuk pengetahuan, ketarampilan dan sikap yang kita harapkan
dimiliki murid setelah mereka menyelesaikan seluruh program pendidikan
dari sekolah tersebut.

114
Tujuan dari sekolah tersebut kita namakan tujuan institusional atau tujuan
lembaga, misainya tujuan SD, tujuan SMP, tujuan SPG dart seterusnya. Atas
dasar tujuan-tujuan institusional itulah kemudian ditetapkan bidangbidang
studi atau bidnag pengajuan yang akan diajukan pada sekolah yang
bersangkutan.
2. Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi
Disamping tujuan institusional yang ingin dicapai oleh sekolah secara
keseluruhan, setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah juga
mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan-tujuan inipun
digambarkan dalam berruk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang
kita harapkan dinliliki oleh murid setelah mempelajari suatu bidang studi
pada suatu sekolah tertentu. Oleh karena itu ada tujuan IPA dan SD tujuan
matematika di SMP, tujuan ilmu kegurun di SPG dan sebagainya.
Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah tentunya
ada yang kita sebut tujuan kurikuler dan ada pula yang kita sebut tujuan
instruksional, dimna tujuan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut
dari tujuan kurikuler. Atas dasar tujuan kurikuler dan tujuan instruksional
inilah kemudian ditetapkan bahan pengajaran yang diajarkan dalam setiap
bidang studi pada suatu sekolah tertentu.
Dalam hubungannya dengan pembahasan tujuan pendidikan ini berikut
diulas tentang tujuan pendidikan secara hirarkis sesuai dengan urutan tujuan
yang ada di Indonesia.
Urutan tujuan pendidikan tersebut diawali dari tujuan Pendidikan
Nasional, kemudia Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler sampai pada tujuan
Instruksional.

1. Tujuan Pendidikan Nasional


Tujuan Pendidikan Nasional adalah merupakan tujuan pendidikan yang
tertinggi dalam kegiatan di negara kita. Tujuan ini sangat umum dan sangat

115
ideal, yang penggambarannya disesuaikan dengan falsafah negara yaitu
Pancasila.
Selanjutnya dalam GBHN telah digariskan tujuan Pendidikan Nasional
adalah :
Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia
pembangunan sehat jasmani dan rohaninya, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan
kreativitas dan tanggung jawab dalam menyuburkan sikap
demokrasi dan penuh tanggung rasa, dapat mengembangkan
kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur,
mencintai bangsanya dan sesama manusia dongan ketentuan
yang temaktub dalam IJUD 1945”
Secara ekspilisit maka tujuan pendidikan nasional itu dapat dijabarkan
sebagai membentuk manusia yang Pancasilais;
- Scehat jasmani dan rohani ;
- Berpengetahuan dan berketerampilan
- Bertanggung jawab
- Demokrasi;
- Tanggung rasa
- Cerdas ;
- Berbudi pekerti yang luhur ; dan
- Mencintai bangsa dan sesamanya.

2. Tujuan Institusional
Sistem persekolahan di negara kita adalah berjenjang yang melembaga
pada suatu tingkatan. Untuk itu maka pada tiap lembaga hendaknya juga
digariskan adanya suatu tujuan pendidikan yang kita sebut tujuan institusional.

116
Selanjutnya kita akan mengenal tujuan institusional SD, SMP, SMA, SKKA,
STM, SPG dan sebagainya.
Tentu saja tujuan institusional itu hendaknya menceminkan dan
menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui lembaga
pendidikan itu. Agar tidak tercapai penyimpangan maka tiap tujuan institusional
harus didahului dengan pengertian pendidikan, dasar pendidikan dan tujuan
pendidikan nasional. Hal ini disamping untuk menghindari penyimpangan juga
untuk menghindari salah penafsiran yang emungkinkan tidak tercapainya Tujuan
pembangunan dan pendidikan nasional.
Sebagai gambaran maka dapat kita kemukakan kerangka tujuan
pendidikan di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sebagai lembaga Pendidikan
Guru yaitu
I. Pengetian Pendidikan
II. Dasar Pendidikan
III. Tujuan Pendidikan Nasional
IV. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru.
Tujuan Khusus Sekolah Pendidikan Guru. Dalam hubungan ini kita akan
mencoba memberikan gambaran tentang tujuan umum dan khusus pendidikan di
Sekolah Pendidikan Guru :
(1) Tujuan Unrum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru; ialah agar lulusannya:
a. Sehat jasmani dan rohani,
b. Menjadi warga negara Indonesia yang bemoral Pancasila yang memiliki
sifat-sifat yang bark dan konstruktif sebagai warga masyarakat, serta
menerima dan percaya kepada kaidah-kaidah dan cara-cara pengalaman
agama masing-masing baik dalam peribadatan maupun kehidupan
lainnya.
c. Memiliki pengetahun, keterampilan dan nilai serta sikap yang diperlukan
untuk:

117
1. Melaksanakan tugasnya secara efektif sebagai guru di
Lembaga Pendidikan Dasar yaitu SD atau TK.
2. Mengembangkan dan mengamalkan ilmu dan profesinya.
3. Menggunakan pronsip pendidikan seumur hidup di sekolah
maupun di luar sekolah sebagai alat utama bagi kemajuan
pribadi dan masyarakat.
4. Mengembangkan dan membina kepemimpinan yang
demokratis yang bertanggung jawab dalam interaksi sosial
dengan murid-murid daur anak-anak.
5. Menggunakan prinsip kemanusiaan, demokrasi dan keadilan
sosial dalam kehidupan, pergaulan sekolah dan keluarga
secara bertanggung jawab.
(2) Tujuan Khusus Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru ialah agar lulusannya :
a. Memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk kepentingan dirinya dan
atau untuk melaksanakan program pengajaran di SI), dalam bidang :
1. Agama/Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Malia Esa yang dianutnya.
2. Dasar pembinaan Moral Pancasila sesuai dengan ketentuan yang
termaktub dalam UUD 1945.
3. Perkembangan dan perjuangan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa
di dunia pada umumnya.
4. Bahasa Indonesia yang tepat dan baik.
5. O1ah raga, kesehatan dan rekreasi.
6. Bahasa Inggris yang cukup untuk memahami uraian yang sederhana.
7. Matematika
8. Ilmar Pengetahun Alam
9. Ilmu Pengetahuan Sosial
10. Kesenian yang meliputi seni rupa, seni musik dan atau seni drama
dan tari.

118
11. Pendidikan keterampilan yang meliputi jasa, kerajinan dan teknik,
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pertaman, peternakan
dan atau perikanan.
12. Ilmu Keguruan dan meliputi pedagogik, dasar dan tujuan pendidikan
nasional Indonesia, dasar psikologis dan interaksi belajar mengajar,
psikologis pendidikan, psikologis perkembangan, teknik penilaian
pendidikan, bimbingan dan penyuluhan, metodik dan didaktik
umum, alat bantu dan komunikasi pendidikan, metodik khusus untuk
tiap bidang studi yang diajukan pendidikan dasar dan pendidikan dan
pengembangan.
b. Memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
1. Menjalankan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Berpartisipasi dalam masyarakat sebagai warga negara Indonesia
yang bermoral Pancasila dan sehat.
3. Merencanakan dan melaksanakan interaksi edukatif dengan murid
dalam mengerjakan bidang pengajaran yang diberikan di pendidikan
dasar yang meliputi kemampuan menyusun program pengajaran.
kemampuan melaksanakan program yang telah disusun dengan
menggunakan metode teknik, dan alat yang sesuai kemampuan
mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan dan memberikan bimbingan
kepada murid yang menghadapi kesulitun.
4. Memimpin dan melaksanakan tugas administrasi sekolah.
5. Berinteraksi dengan murid, masyarakat dan kalangan dunia
pendidikan.
6. Mengarang dan menulis.
7. Melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan sumber lingkungan.
8. Melaksanakan penelitin sederhana.
c. Memiliki nilai dan sikap yang meliputi
1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

119
2. Cinta kasih kepada anak, bersedia untuk menyesuaikan diri kepada
berbagai kepada keadaan anak dan memperlakukan anak secara
obyektif.
3. Menghargai seni budaya bangsa sendiri, dan selektif terhadap
pengaruh kebudayaan asing.
4. Bersedia untuk saling mengoreksi cara-cara mengajar yang bisa
dilakukan.
5. Rendah hati, terbuka, peka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, terruama dalam hubungannya dengan profesi keguruan
dan pendidikan, bercita-cita untuk maju, bersedia untuk bertindak
sebagai perintis, percaya kepada diri sendiri.
6. Disiplin, berdedikasi, loyal dan bertanggung jawab kepada tugas dan
mengutamakan prestasi.
7. Makarya dan efisien.
8. Hidup sehat.
9. Mempunyai kebiasaan membaca dan belajar dengan baik.

3. Tujuan Kurikuler
Suatu lembaga pendidikan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan
akan memberikan sejumlah isi pengajaran yang disusun sedemikian rupa
sehingga merupakan sejumlah pengalaman belajar yang menunjang tercapainya
tujuan Pendidikan. Dalam hal ini dapatlah dirumuskan babwa yang dimaksud
dengan tujuan yang akan dicapai setelah si anak mengikuti sejumiah program
pengajaran yang diberikan dalam lembaga pendidikan itu. Dalam hal ini maka
menurut SPG ditetapkan sejumlah 11 (sebelas) tujuan kurikuler yang barus
dicaapai oleh seseorang anak/siswa setelah menamatkan pendidikan di SPG.
Tentu saja karena ini merupakan hirarki dari tujuan institusional dan tujuan
pendidikan nasional maka tujuan kurikuler ini harus mencerminkan dan
mengambarkan tujuan ilistitusional dan tujuan pendidikan nasional itu. Atau
dengan kata lain maka penjabaran dari tujuan institusional dan tujuan
pendidikan harus nampak pada tujuan kurikuler ini.

120
4. Tujuan Instruksional
Tujuan instruksional ini merupakan penjabaran yang terakhir dari tujuan-
tujuan yang terdahulu dan lebih atas. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai pada
saat terjadinya proses belajar mengajar secara langsung yang terjadi pada setiap
hari. Dalam pelaksanaannya tujuan ini harus dirumuskan pada saat penyusunan
atuan pelajaran.
Untuk tujuan instruksional im kita bedakan 2 (dua) jenis tujuan yaitu :
a. Tujuan instruksional umum yang sudah dirumuskan didalam kurikuler.
b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) untuk Tujuan ini perumusannya
dilakukan oleh guru sendiri pada saat menyusun satuan pelajaran. Dalam
tujuan ini diharapkan setelah anak menerima pelajaran terjadi perubahan
tingkah laku yang nyata dan dapat diukur.
Guru dalam merumuskan tujuan ini hendaknya memperhatikan hal-hal
ini yang merupakan syarat TIK :
a. TIK hendaknya mengunakan istilah -istilah yang operasional misainya
menuliskan, menyebutkan, menunjukan. menghitung, dan sebagainya, serta
menghindari istilah-istilah yang non operasional misalnya mengetahui,
memahami. menghargai, meyakini dan sebagainya.
b. TIK hendaknya mempakan hasil belajar siswa.
c. TIK hendaknya terwujud dalam tingkah laku yang spesifik. TIK hendaknya
megandung hanya satu jenis tingkah laku.

2. Komponen Materi (Isi dan Struktur Program)


1. Isi Kurikulum
Sebagai mana kurikulum 1975 maka untuk kurikulum SPG yang berlaku
saat berisi :
(1) Pokok-pokok bahasan adalah merupakan perincian bidang pengajaran untuk
dijadikab bahan pelajaran bagi para. siswa agar mencapai tujuan yang telah
ditetapkan

121
(2) Bahan pengajaran adalah mutan penyampaian pokok bahasan tersebut dari
yang satu ke tahun pelajaran yang berikutnya, dari semester yang satu ke
semester yang berikutnya
(3) Sumber bahan yaitu bempa resources dimana proses belajar mengajar
memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Sumber ini dapat berupa tempat
(museum, kantor, stasiun dan sebagainya), orang ( camat, kep. Desa, petani,
sopir dan sebagainya), atau barang cetakan (buku, majalah, surat kabar,
brosur dan sebagainya.)
(4) Garis-garis besar program pengajaran (GBPP), adalah merupakan
penjelasan terperinci dari setiap bidang pengajaran yang telah ditentukan
pembagian dan penyebaran waktunya dalam seminggu, catur wulan,
semester seperti yang diatur dalam struktur program kurikulum, dalam
GBPP berisi:
(a) Tujuan kurikululer
(b) Tujuan instruksional
(c) Pokok babasan/sub pokok bahasan
(d) Bahan pengajaran
(e) Sumber bahan.

2. Sruktur Program
Untuk struktur program ini jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Program
pendidikan (di SPG)
Program Pendidikan di SPG terdiri dari :
1. Pendidikan untum meliputi pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila,
Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, o1ah Raga dan Kesehatan.
2. Pendidikan Keguruan meliputi ilmu keguruan dan praktek keguruan.
3. Pergajaran di SD/pendidikan spesialisasi/pembangunan meliputi IPS,
Matematika, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Keterampilan.

3. Koomponen Organisasi don Strategi

122
Disamping tujuan dan isi, setiap kurikulum mengandung unsur organisasi
dan strategi.
1. Organisasi
Struktur (susunan) program suatu kurikulum mengenai apa yang disebut
struktur horizontal dan struktur vertikal.
a. Struktur Horizontal
Struktur horizontal suatut kurikulum berkenaan dengan apakah
kurikulum im diorganisasikan dalam bentuk :
1. Mata-mata pelajaran secara terpisah (subjec centered) misalnya :
Biologi, Fisika, Sejarah, Ilmu bumi dan sebagainya.
2. Kelompok-kelompok mata pelajaran yang kita sebut bidang studi
(broadfield) misalnya IPS, IPA. Kesenian, Matematika dan
sebagainya.
3. Kesatuan program tanpa mengenai mata pelajam maupun bidang
studi (integrated program).
Selanjutnya, dalam struktur horizontal tercakup pula jenis-jenis
program yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut, misalnya
program pendidikan unnum, program pendidikan keguruan, program
spesialisasi dan sebagainya.
b. Struktur Vertikal
Struktur vertikal suatu kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum
tersebut dilaksanakan melalui :
3. Sistem kelas misalnya kelas l, II, III dan seterusnya dimana kenaikan kelas
diadakan disetiap tahun secara serempak.
4. Program tanpa kelas, dimana perpindahan dui suatu tingkat program ke
tingkat program berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tampa harus
menunggu teman-teman yang lain.
5. Kombinasi antara sistem A dan B.
Selanjumya, dalam struktur vertikal ini tercakup pula sistom unit waktu yang
digunakan, misalnya apakah sistem semester atau catur wulan.

123
Akhirnya struktur program ini menyangkut pula masalah penjadwalan dan
pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi, isi kurikulum pada
setiap tingkat atau kelas.
2. Strategi
Strategi pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang ditempuh
didalam melaksanakan pengajaran, dan didalam mengadakan penilaian, cara
didalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara dalam mengatur
kegiatan sekolah secara keseluruhan.
Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup baik cara yang berlaku
secara umum maupun cata dalam menyajikan setiap bidang studi, termasuk
cara (metode) mengajar dan pelajaran yang digunakan.
Komponen metode ini menyangkut komponen metode atau upaya apa
saja yang dipakai agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Dalam hal ini tentu
saja metode yang dipergunakan hendaknya relevan terhadap tujuan yang
ditetapkan sebelumnnya, dengan mempertimbangkan kemampuan guru,
lingkungan anak serta sarana pendidikan yang ada. Dalam pelaksanaannya
tidak ada satu metode yang baik untuk segala tujuan, atau dengan kata lain
kita harus memperhatikan tujuan dan situasi, karena suatu metode cocok
untuk mencapai suam tujuan akan tetapi belum tentu cocok untuk mencapai
suatu tujuan yang lain. Untuk itu guru harus mengetahm kapan ia harus
menggunakan metode mengingat sifat-sifat polivalent dan polipragmatis dari
suatu metode.
Dengan polipragmatis dimaksud adalah penggunaan satu metode untuk
mencapai tujuan lebih dari satu tujuan; sedang polivalent adalah penggunaan
lebih dari satu metode untuk mencapai satu tujuan. Dalam penympaian
seperti kurikulum yang berIalw niisalnya (kurikulum 1975) kurikulum SPH
juga menggunakan pendekatan PPSI yang dikembangkan melalui satuan
pelajaran dan modul. Dengan metode ini proses pengajaran (belajar-
mengajar) dipandang sebagai suaw sistem. Adapun macam-macam metode
dapatlah kita kemukakan sebagai contoh metode ceramah, tanya jawab,
demonstrasi, eksperimen, pemberian tugas, karyawisata, sosiodrama,

124
bermain peranan, kerja kelompok diskusi, simposium, seminar dan
sebagainya.

4. Komponen Sarana dalam Kurikulum Lembaga Pendidikan Guru (SPG)


meliputi
a. Sarana personal yang terdin dan
a. Guru
b. Tenaga edukatif yang tidak mengajw seperti konselon
c. Tenaga teknis non edukatif misaInya tenaga tata usaha.
b. Sarana material yang terdiri dari
1) Bahan instruksional dalam bentuk bahan instruksional, teksbook,
alat atau media pendidikan, sumber yang menyediakan bahan
instruksional atau pengalaman belajar dan sebagainya.
2) Sarana fisik yang terdin dari gedung sekolah, kantor,
laboratorium, lapangan batsman sekolah dan sebagainya.
3) Biaya operasional yaitu tersedianya biaya dan dana untuk
penyelengguaan pendidikan.
c. Sarana Kepemimpinan
Sarana kepemimpinam ini akan memberi dukungan dan pengamanan
pelaksanaan, serta member! bimbingan. penggunaan dan menyempurnakan
program pendidikan.
d. Sarana Administrasi
Pendidikan administratif disini dapat disebutKan sebagai
- Pedoman Khusus Bidang Pengajaran
- Pedoman Penyusunan Sawn Pelajaran
- Pedoman Praktek Keguruan
- Pedoman Bimbingan Siswa
- Pedoman Administrasi Dan Supervisi

125
e. Komponen Evalusasi
Pendidikan adalah sebagian dari keperluan manusia. Sekolahpun mempalari
keperluan dari masyarakat. Untuk itu maka sekolah termasuk juga
didalamnya termasuk juga harus peka terhadap perubahan-pembahan yang
terjadi di masyuakat. Oleh karena itu kurikulum sebagai bahan konsumsi dari
anal didik dm sekaligus juga konsumsi bagi masywakat juga harus dinilai
terus menems serta menyclums terhadap bahan atau program pengajuan.
Disamping itu penilaian terhadap kurikulum dimaksudkan juga sebagai
feedback terhadap tujuan, materi metode dan sarana dalam rangka membina
dan memperkembangkan kurikulum lebih lanjut. Sedangkan penilaian dapat
dilakukan oleh semua pihak baik dari kalangan masyarakat luas maupun dari
kalangan petugas-petugas pendidik.

1.1. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


Landasan Pengembangan Kurikulum dapat meniadi titik tolak sekaligus
titik sampai. Titik tolak berarti pengembangan kurikulum dapat didorong oleh
pembahaman tertentu seperti penemu.an teori belajar yang baru dan perubahan
tuntutan masyarakat terhadap fungsi sekolah. Titik sampai berarti kuirikulum
harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat merealisasikan
perkembangan tertentu, seperti dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi tuntutan-tuntutan sejarah masa lalu, perbedaan latar belakang murid,
nilai-nilai filsafat suatu masyarakat dan tuntutan-tuntutan kultur tertentu.
Disini hanya dipaparkan landasan secara umum dan sepintas, sedangkan
uraian secara detail dapat dibaca pada kurikulum man dapat dijabarkan sendiri
sesuai dengan kondisi Indonesia. Tentang landasan ini para ahli mengemukakan
berbagai pendapat, sebagai gambaran ummin kami paparkan pandangan tiga ahli
kurikulum.
Landastur Pengembangan Kurikulum

1.2. KURIKULUM DAN LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

126
1. Pengembangan Kurikulum
Saylor &
No Aspek Ausbrey Haan Hilda Taba
Alexander
1. Sosiologi Contenporary The variety - The analysis
background of society
children - The analysis of
culture
- Current conception
of the funtions of
the school
Saylor &
No Aspek Ausbrey Haan Hilda Taba
Alexander
2. Filosofis An Expression Methods & -
of values values of e free
society
3. Psikologis Child as a - Dynamic of Psycology of learning
learner children’s - Learning theories
learning - The concept of
- Theory of development
individual - The transfers of
growth learning
- Complex
factor that
4. Contribute to - Social and culture
children’s learning
personality - The extension of
growth. learning
5. “Scientific” - - The nature of
knowledge
- The content of the
disciplines

127
Apabila diajukan pertanyaan : apakah kurikulum, itu ? setiap orang yang
ditanya akan menjawab sama atau berbeda satu sama yang lain. Adanya jawaban
yang bervariasi terhadap pertanyaan tersebut sesuai dengan pendapat para ahli
yang juga bervariasi mengenai pengertian kurikulum im.
Kata "kurikulum" berasal dari satu kata bahasa asing yang berarti "jalur
pacu", dari secara tradisional kurikulum sekolah disajikan seperti itut (ibarat
jalan) bagi kebanyakan orang jais, (1976 : 6). Labih lanjut Zais (1976)
mengemukakan berbagai pengertian kurikulum, yakni : (i). Kurikulum sebagai
program pelajaran, (ii). Kurikulum sebagai isi pelajaran, (iii). Kurikulum
sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, (vi). Kurikulum, sebagai
pengalaman dibawah tanggung jawab sekolah, dan (v). kurikulum sebagai suatu
rencama (tertulis) untuk dilaksanakan. Sedangkan Tanner dan Tanner (1980)
mengungkapkan konsep-konsep : (i). Kurikulam sebagai pengetahuan yang
diorganisasikan, (ii). Kurikulum sebagai modus mengajar, (iii). Kurikulum
sebagai arena pengajaran, (iv). Kurikulum sebagai pengalaman, (v). kurikulum
sebagai pengalaman belajar terbimbing, (vi). Kurikulum sebagai kehidupan
terbimbing, (vii). Kurikulum sebagai suam rencana pembelajaran, (viii).
Kurikulum sebaga sistem produksi sceara teknologis, dan (ix). Kurikulum
sebagai tujuan. Untuk memudahkan dan menyederhanakan pembahasan, berikut
merupakan penyimpulan dari konsep-konsep kurikulum yang terdiri dari (i).
Kurikulum sebagai jalan meraih ijazah, (ii). Kurikulum sebagai mata dan isi
pelajaran, (iii). Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran, (vi
Kurikulum sebagai basil belajar, dan (v). kurikulum sebag pengelaman belajar.
a. Kurikulum sebagai jalan meraih ijazah. Seperti kita ketahai bersama,
kurikulum merupakan syarat mutlak dalam pendidikan formal. Boleh dikata,
tidak ada pendidikan formal tanpa ada kurikulum. Pada pendidikan formal
terdapat jenjang jenjang pendidikan yang selalu berakhir dengan ijazah atau
Surat Tanda Tamat Behijar (STTB). Seseorang yang telah menyelesaikan
satu jenjang pendidikan, dalum kenyataannya telah melalui suatu jalur

128
pacuan yang terdiri dari berbagai mata pelajaran/bidang studi beserta isi
pelajarannya dan berakhir pada ijazah. Para pendidik profesional juga
memandang curriculum as the relatively standardize grown coveret by
students in their rece toward the finish line (diploma)" (Zais, 1976 : 6 ).
Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya dapat kiranya disimpulkan bahwa
kurikulum mempakan jalan yang berisi sejumlah mata pelajaran/bidang studi
dan isi pelajaran yang barus dilalui untuk meraih ijazah.
b. Kurikulum sebagai mata don isi pelajaran. Kurikulum sebagai jalan meraih
ijazah mengisyaratkan adanya sejumlah mata pelajaran/bidang studi dan isi
pelajaran yang barus diselesaikan oleh siswa. Selain itu, jika ada orang yang
bertanya : apa kurikulumnya ? seringkali dijawab bahwa kurikulum adalah
PMP, Babasa Indonesia dan yang lain. Jawaban bahwa kurikulum terdiri dari
berbagai mata pelajaran sudah sejak lama ada, bahkan sampai sekarang
masili sering terbaca ataupun terdengar. Schubert (1986) mengemukakan
bahwa penyebutan kurikulum yang demikian sama halnya menyamakan
kurikulum dengan mata pelajaran (Sumantri, 1988 : 2). Lebih jauh, orang
sering menyebut bahwa isi dari pelajaran tertentu dalam program dikatakan
sebagai kurikulum (Zais, 1976 : 7). Dengan demikian, tidaklah mengejutkan
apabila ada orang mengemukakan kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran.
c. Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran. Winecoff (1988 : 1),
mengemukakan : "The curriculum is generally difined as a plan the
developed Ii facilitate the teachingfleaming process under the direction and
guidance of a school, college or university and its members. "Defenisi
kurikulum seperti dikemukakan oleh Winecoff (1988) tersebut, secara jelas
menunjukkan kepada kita bahwa kurikulum didefenisikan sebagai suatu
rencana yang dikembangkan untuk mendukung proses mengajar/belajar di
dalam arahan dan bimbingan sekolah, akademi atau universitas dan para
anggota stafnya. Alexander dan Saylor (1974 dalam Bondi dan Wiles, 1989 :
7) mengungkapkan pula bahwa kurikulum sebagai suatu rancangan untuk

129
menyediakan seperangkat kesempatan belajar agar mencapai tujuan.
Kurikulum sebagai sam rencana kegiatan pembelajaran sudah selayaknya
mencakup komponen-komponen kegiatan pembelajaran, namun demikian
komponen-komponen kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam
kurikulum masih bersifat umum dan luwes untuk lanjut oleh guru.
d. Kurikulum sebagai hasil Belajar. Popham dan Baker mendefiniskan
kurikulum sebagai 'All planner leaming out comes for whkh the scholl is
responsible" Tanner & Tanner, 1980 : 24). Secara jelas diutarakan oleh
Popham dan Baker bahwa semua rencana hasit belajar (Kamig out comes)
yang merupakan tanggung jawab sekolah adalah kurikulum. Adanya defenisi
ini mengubah pandangan penanggung jawals sekolah dari kurikulum sebagai
alat menjadi kurikulum sebagai tujuan. Bahkan Tanner & Tanner (1980 :43)
memandang kurikulum sebagai rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman,
yang secara sistematis dikembangkan dengan bantuan sekolah (atau
universitas) agar memungkinkan siswa menambah penguasaan pengetahuan
dan pengalamannya. Dengan demikian, kurikulum sebagai hasil belajar
mempakan serangkaian hasil belajar yang diharapkan. Namun demikian
bukan berarti dalam kurikulum tidak diorganisasikan cara-cara sistematis
untuk mewujudkan hasil-hasil belajar yang diharapkan.
e. Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Dari empat konsep kurikulum yang
diuraikan sebelumnya, dapatlah kita menandai bahwa setiap orang yang
terlibat dalam pengimplementasian kurikulum tersebut akan memperoleh
pengalam belajar. Foshay mengamati bahwa sebelum tahun 1930-an istilah
kurikulum dideferusikan sebagai "semua pengalaman seorang siswa yang
diberikan dibawah bimtbingan sekolah" (Tanner & Tanner, 1980: 14)
sedangkan Krug (1956 dalam Zais, 1976 : 8) menunjukkan kurikulum
sebagai "All the means employed by the school to provide students with
opportunities for desirable leaming experiences". Jelas defenisi Krug ini
menunjukkan kepada kita bahwa semua yang bemaksud dipakai oleh sekolah

130
untuk menyediakan kesempatan-kesempatan bagi siswa memperoleh
pengalaman-pengalaman belajar yang diperlukan sekali adalah kurikulum.
Berdasarkan defenisi kurikulum, belajar tersebut dapat diperoleh di dalam
sekolah maupun di luar sekolah sepanjang direncanakan atau dibimbing
pihak sekolah. Dengan demikian, kurikulum sebagai pengalaman belajar
mencakup pula tugas-tugas belajar yang diberikan oleh guru untuk
dikerjakan sesuatu.
Kelima konsep tentang kurikulum, yakni : (I). Kurikulum sehagai jalan
meraih ijazah, (ii). Kunkulum sebagai mata dan isi pelajaran, (iii). Kurikulum
sebagi rencana kegiatan belajar, (iv).Kurikulum sebagai hasil belajar, dan (v).
kurikulum sebagai penglaman belajar, semua benar tergantung dari cara
memandangnya. Guru dapat memilih satu atau lebih konsep kurikulum yang
dijadikan acuannya. Dalam UU RI No. 2 tahun 1989 pasal 1 (9) menyebutkan
bahwa : " kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi
dan bahan" serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar " (Depdikbud, 1989: 3), sedangkan dalam pasal 37
menyebutkan: " kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan
kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasioanal,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan
jenis dan jenjang masingmasing satuan pendidikan " (Depdikbud, 1989 : 15).
Rumusan penjabaran kurikulum seperti termaktub dalam UU Sistem Pendidikan
Nasional, bila dikaji merupakan konsep kurikulum yang cukup lengkap dn
menyeluruh. Dalam rumusan tersebut tampak dengan jelas bahwa kurikulum
perlu dan harus dikembangkan.

2. Landasan Pengembangan Karikalum


Kurikulum merupakan wahana belajar mengajar yang dinamis sehingga
perlu dinilai dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai
dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat (Depdikbud, 1986: 1).

131
Adapun yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah suatu proses
yang menentukan bagaimna pembuatan kurikulum akan berjalan. Hal tersebut
meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut : Siapa akan dilibatkan dalam
pembuatan kurikulum, guru, administrator, orang tua, atau siswa ? Apa prosedur
yang akan digunakan dalam pembuatan kurikulum, petunjuk administratif,
konlisi fakultas (staf pengajar) atau konsultasi universitas ? jika komisi yang
digunakan, bagaimana mereka akan diatur ? (Zais, 1976 : 17) sedangkan Bondi
dan Wiles (1989 : 87) mengemukakan babwa pengembangan kurikulum yang
terbaik adalah proses yang meliputi banyak hal yakni : (1) kemudahan-
kemudahan suatu analisis tujuan, (2) rancangan suatu program, (3) penerapan
serangkaian pengalaman yang berhubungan, dan (4) peralatan dalam evaluasi
proses ini. Secara singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan
kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan (Taba, 1962 : 6).
Agar pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang
diinginkan, maka dalam pengembangan kurikulum diperlakan landasan-landasan
pengembangan kurikulum. Seperti yang tercantum dalam kurikulum SP, dalam
landasan program dan pengembangan dikemukakan bahwa pengembangan
kurikulum mengacu pada tiga unsur, yaitu : (1). Nilai dasar yang mempakan
falsafah dalam penyelidikan manusia seutuhnya, (2). Fakta empirik yang
tercermin dari pelaksanaan kurikulum, baik berdasarkan penilaian kurikulum
studi, maupun surve lainnya. (3). Landasan teori yang menjadi arahan
pengembangan dan kerangka penyorotannya (Depdikbud, 1986 : 1). Hal yang
dikemukakan dalam "Landasan Program dan Pengembangan Kurikulum"
merupakan contoh adanya landasan-landasan pengembangan kurikulum, yang
acapkali disebut sebagai determinan (faktor-faktor penentu) pengembangan
kurikulum.
a. Landasan Filosofis. Pendidikan ada dan berada dalam kehidupan
masyarakat sehingga apa yang dikehendaki oleh masyarakat untuk
dilestarikan diselenggarakan melalui pendidikan (dalam arti seluas-luasnya)
(Raka, Joni, 1983 : 6). Segala kehendak yang dimiliki oleh masyarakat
merupakan sumber nilai yang memberikan arah pada pendidikan. Dengan

132
demikian pandangan dan wawasan yang ada dalam masyarakat merupakan
pandangan dan wawasan dalam pendidikan, atau dapat dikatakan bahwa
filsafat yang hidup dalam masyarakat merupakan landasan filosofis
pertyelenggaraan pendidikan. Filsafat boleh jadi didefinisikan sebagai suatu
studi tentang : hakikat realitas, hakikat ilmu pengetalman, hakikat sistem
nilai, hakikat nilai kebaikan, hakikat keindahan dan hakikat pikiran
(Winecoff, 1988: 13). Oleh karena itu landasan filosofis pengembangan
kurikulum adalah hakikat realitas, ilmu pengetahuan, sistem nilai, nilai
kebaikan, keindahan, dan hakikat pikiran yang ada dalam masysarakat.
Secara logis dan realistis, landasan filosofis pengembangan kurikulum dari
satu sistem berbeda dengan pendidikan yang lain. Juga landasan filosofis
pengembangan kurikulum dan suatu lembaga berbeda dengan lembaga yang
lain. Perbedam tersebut sangat terasa dalam masyarakat yang majemuk.
Untuk landasan filosofis pengembangan kurikulum secara cepat dan tepat
kita pastikan, yakni nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan
manusia seutuhnya yakni pancasila.
b. landsaan Sosial- Budaya - Agama. Realitas sosial-budaya - agama yang ada
dalam masyarakat merupakan bahan kajian pengembangan kurikulum untuk
digunakan sebagai landasan pengembangan kurikulum. Masyarakat adalah
suatu kelompok individu-individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke
dalam kelompok-kelompok berbeda ( Zais, 1976 : 157; Raka Joni, 1983 : 5 ).
Masyarakat sebagai kelompok individu-individu mempunyai pengaruh
terhadap individu-individu dan sebaliknya, individu-individu itu pada taaf-
taraf tertentu juga mempunyai pengaruh terhadap masyarakat (Raka Joni,
1983 :5) kebersaman individu-individu dalam masyarakat diikat dan terikat
oleh nilai-nilai individu yang menjadi pegangan Mdup dalam interaksi di
antana mereka. Nilai-nilai yang perlu dipertahankan dan dihomati oleh
individu-individu dalam masyarakat tersebut, mencakup nilai-nilai
keagamaan dan nilai-nilai sosial budaya. Nilai-nilai keagamaam
berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakat terhadap ajaran dan nilai-
nilai agama yang mereka anut. Oleh kreena nilai agama berhubungan dengan

133
kepereayaan, maka pada umumnya bersifat langgeng sampai masyarakat
pemeluknya melepaskan kepereayaannya (Rika Joni, 1983 : 5). Nilai-nilai
sosial- budaya masyarakat bersumber pada basil karya akal budi manusia,
sehingga dalam mencrima, menyebarluaskan, melestrikan dan atau
melepaskannya manusia menggunakan akalnya. Dengan demikian, apabila
terhadap nilai-nilai sosial budaya yang tidak berterima atau bersesuaian
dengan akaInya akan dilepaskan. Oleh karena itu, nilai-nilai sosial budaya
lebih bersifat sementara bila dibanding nilai-nilai keagamaan. Untuk
menerima melaksanakan, menyebarluaskan. pelestarian, atau penolakan dan
pelepasan nilai-nilai sosial budaya-agama, maka masyarakat memanfaatkan
pendidikan yang dirancang melalui kurikulum. Jelas kiranya bagi kita.
mengapa salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah nilai-nilai
sosial-budaya-agama.
c. Landasan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. Pendidikan merupakan
usaha penyiapan subjek didik ( siswa) meng hadapi lingkungan hidup yang
mengalami perubahan yang semakin pesat ( Raka Joni, 1983: 25 ).
Perubahan masarakat mencakup nilai yang disepakati oleh masyarakat
tersebut. Sedangkan seluruh nilal yang telah disepakati oleh msyarakat dapat
pula tersebut, sedangkan seluruh nilai yang disepakati oleh masyarakat dapat
pula disebut sebagai kebudayaan. Oleh karena itu, kebudayaan dapat
dikatakan sebagai suatu konsep yang memiliki kompleksitas tinggi (Zais,
1987: 157). Namun dengan demikian menurut Damd Joesoep (1982 dalam
Raka Joni, 1983 : 40) bahwa sumber ratusan ribu nilai yang ada dalam
masyarakat ntuk perkembangan melalui proses pendidikan ada tiga yaitu :
pikiran ( logika), perasaan (estetika), dan kemuan (etika). Ilmu pengetahuan
dan tehnologi adalah nilai-nilai yang bersumber pada pikiran atau logika,
sedangkan seni bersumber pada perasaaan atau estetika. Mengingat
pendidikan merupakan upaya penyiapan siswa menghadapi perubaban yang
makin pesat, temasuk didalamya perubahan ilmu pengetahuan, tehnologi,
dan seni.

134
d. Landasan perkembangan masyarakat. Salah satu ciri masyarakat adalah
selalu berkembang. Mungkin pada msyarakat tertentu perkembangannya
tersebut sangat lambat tetapi masyarakat lainnya cepat baik sanggat cepat
(Nana Sy Sukmadinata, 1988:66). Perkembangan masyarakat juga
dipengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai, ipteks, dan kebutuhan yang ada
dalam masyarakat. Falsafah hidup akan mengarahkan perkembangan
masyarakat. Nilai-nilai sosial budaya agama akan merupakan penyaringan
nilai-nilai lain yang menghambat perkembangan masyarakat. lpteks
mendukung kegiatan msyarakat, dan kebutuhan msyarakat akan membantu
menetapkan perkembangan yang dilaksanakan. Perkembangan masyarakat
akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai dengan
perkembangan masyarakat maka, diperlukan rancangannya berupa
kurikulum yang landasan pengembangannya berupa perkembangan
masyarakat itu sendiri.
Pengertian kurikulum dan Iandasan-landasan pengembangan kurikulum yang
telah diuraikan sebelumnya, akan merupakan dasar untuk mengkaji
pembelajaran dan pengembangan kurikulum lebili lanjut. Tugas-tugas
berikut ini akan membantu memantapkan perasaan anda mengenai
pengertian kurikulum dan landasan - landasan pengembangan kurikulum.

1.3. Komponen dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum.


1. Komponen kurikulum
Sebelum melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum, seorang
pengembang terlebih dahulu mengenal konaponen atau elemen atau unsur
kurikulum. Seperti yang dikemukakan Tyler (1950 dalam Tabs, 1962 : 422)
bahwa "it is important as a part of a compherensive theory or organization to
indkate just what kinds of elements. An in a given currkulum it is important to
identify the partkular elements that shall be used" Dari pemyataan Tyler
tersebut, tampak pentingnya mengenal komponen atau elemen atau unsur
kurikulum. Herrck (1950 dalam Taba, 1962: 425) mengemukakan 4 (empat)
elemen, yakni : tujuan (obejetives), mata pelajaran (subject matter), metode dan

135
organisasi (method and organization), dan evaluasi (evolution). Sedangkan ahli
yang lain mengemukakan bahwa kurikulum terdiri dari 4 komponen dasur: (1)
aim, goals, and objektive, (2) content, (3) leaming activities, don (4)evaluations
(Zais, 1976: 295). Nana Sy. Sukmadinata (1988 : 110) menemukan empat
konaporten dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau
materi, proses atau isi penyampaian, serta evaluasi. Berdasarkan uraian tentang
komponen-komponen kurikulum sebelumnya, yakni komponen kurikulum yang
terdiri dari : tujuan, materil pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi.
a. Tujuan. Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum mempakan kekuatan-
kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil yang diinginkan tidak
hanya sangat mempengaruhi bentuk kurikulum, tetapi memberikan arah dan
fokus untuk selmh program pendidikan (Zais, 1976 : 297). Apa yang
diutarakan oleh Zais mengenai pentingnya tujuan adalah benar adanya,
karena tidak ada satupun aspekaspek pendidikan yang lain bertentangan
dengan tujuan. Dalam kenyataannya aspek-aspek pendidikan selalu
mempertanyakan tentang tujuan. Lebili lanjut Zais (1976 : 307)
mengklasifikasik" tujuan menjadi tiga yakni aims, goal, dan objetives, yang
ketiganya mempakan suatu hirarki vertikal. Adanya klasifikasi tujuan
kurikulum seperti yang disampaikan oleh Zais juga tersurat dalam tujum
kurikulum indonesia. Hirearki vertikal tujuan kurikulum di Indonesia, paling
tinggi adalah tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan,
diikuti tujuan kurikuler, dan tujuan pengajaran. Tujuan pendidikan nasional
merupukan tujuan kurikulum tertinggi yang bersumber pada falsafah bangsa
(pancasila) dan kebutuhan masyarakat tertuang dalam GBHN dan UU-SPN.
Tujuan kelembagaan (tujuan institusional) mempakan tujuan yang
menjabarkan tujun pendidikan nasional, bersumber pada tujuan tiap jenjang
pendidikan dalam UU-SPN, karekteristik mata pelajaran bidang studi,
karakteristik lembaga, dan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang terbawah
dari hirarki tuju" kurikulum Indonesia adalah tujuan pengajaran., yakni suatu
tujuan yang, menjabarkan tujuan kurikuler dan bersumber pada karakteristik
mata pelajaran/bidang studi dan karakteristik siswa. Tujuan pengajuan

136
terbagi menjadi dua macam, yakni Tujuan Umum Pengajoran (TUP) dan
Tujuan Kbusus Pengajaran (TKP). Apabila dikaji lebih lanjut akan kita
temukan bahwa dalam perumusannya, tujuan tersusun hirarki vertikal dari
yang tertinggi ke yang terendah dan sebaliknya, untuk pencapaiannya secara
hirarki vertikal daii tujuan yang terendah ke tujuan yang lebib tinggi. Untuk
memperjelas uraian, berikut mempakan hirarki nujuan kurikulum Indonesia.
Hirarki tujun kurikulum secara vertikal di Indonesia seperti terurai
sebelumnya, tersurat seperti terurai sebelumnya,
Jenjang Tujuan Dokumen Penanggung Jawab
Tujuan Pendidikan UU SPN & GBHN Menteri Dikbud
Tujuan Kurikulum Tiap Kepala Sekolah
Kelembagaan Lembaga
Tujuan Kurikuler GBBP Guru Mata Pelajaran /
Bidang Studi / Kelas
Tujuan Pengajaran GBPP & Rancangan Guru Mata Pelajaran
Pembelajaran

tersurat sampai dengan Kurikulum Yang Disempumakan (KYD)


SD/SLTP/SLTA tahun 1984/1985 atau 1985/1986. Hierarki tujuan
kurikulum secara vertikal tersebut dapat saja berkembang atau
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan atau perkembangan zaman.
Pengembangan hierarki kurikulum secara. vertikal di Indonesia tertampak
dalam draft kurikulum tahun 1994/1995. Hirarki tujuan kurikulum vertikal
yang tersurat dalam draft kurikulum 1994/1995 tersebut diawali dari tujuan
pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler, tujuan
bidang studi, tujuan kelas dan tujuan catur wulan serta Tujuan pengajaran.
Secara garis besar hierarki tujuan kurikulum dalam draft kurikulum
1994/1995 tersebut, ditujukan untuk lebili tajam diharapkan dapat
memudahkan guru menjabarkan.
b. Materi pengalaman belajar. Hal yang mempakan fungsi khusus dari
kurikulum pendidikan fonnal adalah memilih dan menyusun isi (komponen
kedua dari kurikulum) supaya keinginan tujuan kurikulum dapat dicapai

137
dengan dan paling efektif dan supaya pengetahuan paling penting yang
diinginkan pada jalumya dapat disajikan secara efektif (Zais, 1976: 322).
Selain itu untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan
diperlukan bahan ajaran (Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 114). Namun
demikian sebenarnya tidak cukup hanya isil bahan ajaran saja yang
dipikirkan dalam kegiatan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalaman
belajar yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebili efektif. Hal
ini berarti kita memandang kurikulum sebagai suatu rencana untuk belajar,
dan tujuan menentukan belajar apa yang penting, maka kurikulum secara
pasti mencakup seleksi, dan organisasilmateri dan pengalaman belajar (Taba,
1962 : 266). Isi atau materi kurikulum adalah semua pengetalman,
keterampilan, nilai-nilai, dan sikap yang terorganisasi dalam mata
pelajaran/bidang studi. Sedangkan pengalaman belajar dapat diartikan
sebagai kegiatan belajar tentang atau Belajar bagaimana disiplin berpikir dan
strata disiplin thou. Dengan demikian jelaslah bahwa baik materi/isi
kurikulum dan pengalaman belajar barus dipikirkan dan dikaji serta
diorganisasikan dalam pengembangan kurikulum. Pentingnya materi/isi
kurikulum dan pengalaman belajar dapat kita lihat pada pernyataan Taba
(1962 : 263) berikut ini : Selecting the content, with accompanying leaming
experiences, in one of the two central derision in currkulum making, and
there fore rational method of going about it is a matter of great concert "
c. Organisasi. Perbedaan antara behijar di sekolah dan belajar dalam
kehidupan adalah dalam hal pengorganisasian secara formal di sekolah. Jika
kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar maka isi dan pengalaman
belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna
bagi tujuan-tujuan pendidikan (Taba, 1962 : 290). Berdasarkan pendapat
Taba tersebut, jelas babwa materi dan pengalaman Belajar dalam kurikulum
diorganisasikan untuk mengefektifkan pencapaian tujuan. Namam demikian,
perlu kita sadari bahwa pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan
yang sulit dan kompleks. Sukar dan kompleknya pengorganisasian
kurikulum dikareakan kegiatan tersebut bertalian dengan aplikasi serta

138
pengetahuan yang ada tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta
didik, dan masalah proses pembelajaran (Sumantri, 1988 : 23).Masalah-
masalah utama organisasi kurikulum berkisar pada ruang lingkup (scope),
sekuensi kontinuitas, dan integrasi.
Evaluasi. Evaluasi merupakan komponen ke empat kurikulum, mungkin
merupakan aspek kegiatan pendidikan yang dipandang paling kecil (Zais, 1976 :
369). Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar sisiwa (basil
dan proses) mampun keefektifan kurikulum dan pembelajaran, Lebih lanjut Zais
(1976 : 378) mengemukakan evaluasi kurikulum secara luas merupakan suatu
usaha sangat besar yang kompleks yang mencoba menantang untuk
mengkondifikasi proses salah satu dari istilah sekuensi atau komponen-
komponen. Evaluasi kurikulum secara luas tidak hanya menilai dokumen
tertulis, tempat yang lebih penting adalah kurikulum yang diterapkan sebagai
bahan-bahan fungsional dari kejadian-kejadian yang meliputi interaksi siswa,
guru, material, dan lingkungan. Adapun peran evaluasi dalam kurikulum secara
keseluruhan baik evaluasi belajar sisiwa maupun keefektifan kurikulum dan
pembelajaran, dapat digunakan sebagai dasan pengembangan kurikulum. Dari
uraian tentang evaluasi jelaslah bahwa evaluasi bukanlah komponen atau
kegiatan pendidikan yang kecil. Sebagai konponen kurikulum, evaluasi
merupakan bagian integral dari kurikulum. Kegiatan evaluasi akan memberikan
informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektifan
kurikulum dan pembelajaran, hingga dapat dilihat keputusan-keputusan
pembelajaran dan pendidikan secara tepat.

139
BAB IV
MOTIVASI BELAJAR

4.1. Pengertian dan Pentingnya Motivasi


Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan,
pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti
mendorong, menyebabkan dan merangsang. Motivate sendiri berarti alasan,
sebab dan daya penggerak (Echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri
seseorang yang mendorong individu tersebut amok melakukan aktifitas-aktifitas
tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1994). Secara
serupa Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah penggerak dalam
diri seseorang mau melakukan aktifitas-aktifitas tertentu dalam mencapai suatu
tujun tertentu pula.
Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu
motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah
keseluruhan dari penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan
(Winskel, 1987).
Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah,
semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi
tinggi mempunyai energi linggi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan
belajar. Siswa yang mempunyai motiasi belajar tinggi sangat sedikit yang
tertinggal belajarnya dan sangat sedikit putus kesalahan dalam belajarnya
(Palardi, 1975).
Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
Ini dapat dikenali dalam proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana
dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut: tertarik kepada guru, artinya tidak
membenci atau bersikap acuh tak acuh ; tertarik pada mata pelajaran yang
diajarkan ; mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya

140
terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas; ingin
identitas dirinya diakui oleh orang lain; tindakan, kebiasaan, dan moralnya
selalu dalam kontrol diri; selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya
kembali; dan selalu terkontrol oleh lingkungannya.
Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada
diri seseorang adalah: tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara.
terus menerus dalam waktu lama; ulet dalam menghadapi kesulitan dan tidak
mudah putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh; menunjukkan
minat yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar; lebih suka
bekerja sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain; tidak cepat bosan
dengan tugas-tugas rutin; dapat mempertahankan pendapatnya; tidak mudah
melepaskan apa yang diyakini; senang mencari dan memecahkan masalah.
Suatu hal yang penting adalah bahwa motivasi pada setiap tingkat yang
diatas hanya dapat dibangkitkan apabila telah diperngaruhii tingkat motivasi di
bawahnya. Bila kita ingin anak belajar dengan baik (tingkat 5), maka haruslah
terpengaruh tingkat 1-4. Anak yang lapar, merasa tidak aman, yang tidak
dikasihi, yang tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, yang guncang
harga dirinya, tidak akan dapat belajar dengan baik.
Motivasi kelakuan manusia merupakan topik yang sangat luas. Banyak
macam motivasi dan para ahli meneliti tentang bagaimana asal dan
perkembangannya dan menjadi suatu "daya" dalam mengarahkan kelainan
seseorang. Motivasi diakui sebagai hal yang sangat penting bagi pelajaran di
sekolah.
Ada sejumlah tokoh yang meneliti soal motivasi belajar ini. Hewitt (1968)
mengemukakan bahwa "attentional set” merupakan dasar bagi perkembangan
motivasi yakni yang bersifat sosial. artinya anak itu suka bekerja sama dengan
anak-anak lain dan dengan guru, ia mengharapkan penghargaan dari teman-
temannya dan mencegah celaan mereka, dan ingin mendapatkan harga dirinya di
kalangan kawan sekelasnya. Selanjutnya anak itu memperoleh motivasi anak
menguasai pelajaran (matery), termasuk penguasaan kemampuan intelektual.

141
Dengan reinforcement yakni penghargaan atas keberhasilannya motivasi itu dapat
dipupuk. Taraf motivasi tertinggi menurut hewitt ialah motivasi untak
"achievemenf' atau keberhasilan yang merupakan syarat agar anak im didorong
oleh kemauannya sendiri dan merasa kepuasan dalam mengatasi tugas-tugas yang
kian bertambah sulit dan berat. Bila taraf ini tercapai, maka anak itu sanggup
untuk belajar sendiri.
Juga peneliti lain mengemukakan pentingnya reinforcement berupa
pujian, penghargaan yang diberikan bila hasil belajar anak mendekati bentuk
kelakuan yang di inginkan, dan tidak perlu di tunggu sampai hasil belajarnya
benar sepenuhnya. Siswa perlu diberitahukan tentang hasil pekerjaanya sehingga
ia dapat menilai keberhasilannya dan kegagalannya. Akhirnya anak itu harus
meningkat dalam bentuk penghargaan dari yang konkrit kepada rasa putas atas
keberhasilannya menurut standar yang ditentukannya sendiri.

Pentingnya motivasi
Secara konseptual motivasi berkaitan erat dengan prestasi atau perolehan
belajar. Pembelajaran yang tinggi motivasi, umumnya tinggi pula perolehan
belajarnya. Sebaliknya, pembelajaran yang rendah motivasinya, rendah pula
perolehan belajarnya. Demikin juga pembelajuan yang sedang-sedang saja
motivasinya, umumnya perolehan belajannya juga sedang-sedang saja.
Banyak riset yang membuktikan bahwa tingginya motivasi dalam belajar
berhubungan dengan tingginya prestasi belajar. Bahkan pada saat ini, kaitan
antara motivasi dengan perolehan dan atau prestasi ini tidak hanya dalam
belajar. Dalam kerjapun, motivasi mi juga sangat prating. Salah satu hasil
peneliti juga menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai motivasi-berprestasi
umumnya juga mempunysu prestasi yang lebih tinggi. Pegawai atau karyawan
yang mempunyaj motivasi berprestasi tinggi juga menunjukkan performansi
profesional yang diharapkan atau di atas rata-rata teman atau sejawatnya.

142
Bahkan dewasa ini, ada juga yangg mengembangkan motivasi berprestasi
atau motivasi belajar ini menjadi motif berkompetensi yang dimaksud dengan
berkompetensi adalah dorongan-dorongan untuk menguasai kompetensi
keahliannya. Terbukti dengan jelas, bahwa mereka yang mempunyai motivasi
kompetensi yang tinggi cenderung lebih mengusai bidang-bidangnya
dibandingkan dengan mereka yang rendah motif kompetensinya.
Oleh karena itu, motivasi belajar sangat urgen dalam peningkatan
perolehan belajar. Dalam khasanah kepustakaan kependidikan, motivasi sering-
sering disebut secara berulang-ulang sebagai variabel yang banyak menentuk
perolehan belajar. Bahkan, orang yang sukses disegala bidang, lebih banyak
disebabkan oleh tingginya motivasi yang mereka punyai.
Juga untuk belajar diperlukan motivasi "motivation is dan essential
condition of learning". Hasil belajarpun banyak ditentuk oleh motivasi. Makin
tepat motivasi yang kita berikut, makin berhasil pelajaran itu. Motivasi
menentukan intensitas usaha anak belajar.
Motivasi melepaskan energi atau tenaga yang ada pada seseorang.
Setiap motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Tensing dan Hillary
mungkin ingin membuktikan kesanggupan manusia. untuk menaklukan puncak
tertinggi itu. Tukang becak menahankan panas dan hujan untuk meneari nafkah
bagi anak istrinya
Motivasi mempunyai tiga fungsi:
(a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagal penggerak atau motor yang
melepaskan energi.
(b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
(c) Menyeleksi perbuatan. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dijalankan yang serasi guna mencapai Tujuan itu, dengan menyampingkan
perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan ini. Seorang yang betul-
betul bertekad menang dalam pertandingan, tak akan menghabiskan waktunya
bermain karena, sebab tidak serasi dengan tujuan.

143
Dalam bahasa schari-hari motivasi dinyatakan dengan; hasrat, keinginan,
maksud, tekad, kenuman, dorongan, kebutahan, kehendak, cita-cita, keharusan,
kesedihan dan sebagainya.

4.2. Sifat Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik


Motivasi dapat di bedakan atas motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari
dalam individu.
Ausabel (1968) berpendapat babwa modyasi yang dikaitkan dengan
motivasi sosial tidak begitu penting dibandingkan dengan motivasi yang
bertalian dengan penguasaan tugas dan keberhasilan. Motivasi serupa ini bersifat
intrinsik dan keberhasilannya akan memberi rasa kepuasan. Selain ini
keberhasilan itu mempertinggi harga dirinya dan rasa kemampuannya.
Dalam hal pertama ia didorong oleh motivasi intrinsik yakni ia ingin
mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu. Dalam belajar
telah terkandung tujuan menambah pengetahuan "intrinsk motivations are
inherent in the learning situasions and meet pupil needs and purposes".
Demikian pula bila semang main badminton untuk menikmatinya, didorong oleh
motivasi intrinsik, yakni 'for the pleasure of the activity".
Motivasi belajar secara intrinsik sebenamya memang telah ada. Ini sesuai
dengan teori, yang memandang bahwa segala tindakan manusia, termasuk
belajar, adalah karena terdapatnya tanggungjawab internal pada diri manusia itu.
Manusia, dalam sudut pandang teori ini, memang termsuk makhluk yang baik:
tinggi tanggungjawabnya, suka bekerja termasuk belajar, tinggi militansi kerja
atau belajarnya, selaia ingin berprestasi. Berarti, dalam diri manusia sebenarnya
terdapat dorongan-dorongan yang kuat untuk belajar.
Sungguhpun demikian, rekayasa lingkungan perlu diberikan agar
seseorang tetap belajar. Rekayasa lingkungan antara lain dapat berupa motivasi
ekstrinsik. Mengapa motivasi ekstrinsik perlu diberikan, tak lain karena

144
seseorang tidak senantiasa bemda dalam keadaan menetap. Bisa terjadi,
seseorang yang mempunyai motivasi belajar intrinsik yang demikian tinggi tiba-
tiba melemah. Supaya melemahnya motivasi intrinsik ini tidak sampai berada
pada tingkatan yang sangat rendah, perlu dikontrol dengan menggunakan
motivasi ekstrinsik.
Pada orang yang tingleat motivasi intrinsiknya rendah, justru motivasi
ekstrinsik ini sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik yang diberikan secara tepat,
justru secara berlahan dapat mencangkokkan motivasi intrinsik mtuk belajar
manakala belajar yang direkayasa dengan motivasi ekstrinsik tersebut telah
menjadi kebiasaan bagi pembelajar. Bahkan kalau sudah sampai di tahap
mempribadi, seseorang akan tinggi motivasi belajarnya secara intrinsik.
Adakah suatu kenyataan, bahwa anak manusia itu tidak sama, termasuk
motivasinya. Ketidaksamaan dalam motivasi intrinsik yang dipunyai ini, dapat
dikurangi dengan memberikan motivasi eksuinsik.
Bila seorang belajar untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah,
diploma, dan sebagainya. Ini didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab
tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung didalam
perbuatan itu sendiri. "The goal is artifkially introduced". Tujuan itu bukan
sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik,
bila mereka belajar agar lebib sanggup mengatasi kesulitan kesulitan hidup, agar
memperoleh pengertian, pengetahum, sikap yang baik, penguasaan kecakapan.
Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah.
"The reward of a thing well done is to have done it"(Emerson). Ganjarant
bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik ialah telah melakukannya. Jadi
motivasi ekstrinsik disini tidak perlu.
Akan tetapi di sekolah sering digunakan motivasi ekstrinsik seperti
angka-angka, pujian, ijazah, kenaikan tingkat, celaan, hukuman, dan sebagainya.
Motivasi eksifinsik dipakai oleh sebab pelajaran-pelajaran sering tidak dengan
sendirinya menarik dan guru sering kurang mampu untuk membangkitkan minat
anak.

145
Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu guru perlu mengenal
murid, dan mempunyai kesanggupan Kreatif untuk menghubungkan pelajaran
dengan kebutuhan dan minat anak.

4.3. Motivasi dalam Belajar dan Unsur-Unsur yang mempengamhi motivasi


belajar
Motivasi sangat krusial dalam belajar dan pembelajaran. pada hal, motivasi
belajar tersebut juga dipengaruhi oleh banyak unsur antara lain: cita-cita aspirasi
penubelajar, kemampuan pembelajar, kondisi pembelajar, kondisi lingkungan
belajar, unsur-unsur dinamis belajar. Pembelajaran dan upaya-upaya guru dalam
membelajarkan pembelajar. Oleh karena itu, unsur-unsur yang mempengaruhi
tersebut, perlu diketahui dan diperhatikan oleh guru yang membelajarkan
pembelajar. Agar dapat mendukung lebih optimal terhadap motivasi belajar. Jika
unsur-unsur yang mempenguuhi tersebut tidak diketahui dan tidak diperhatikan,
bisa menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar para pembelajar.
Sebagai konsekuensi atas perhatian guru terhadap unsurunsur yang
mempengaruhi motivasi belajar dan unsur-unsur yang mempengamhi tersebut,
guru hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan motivasi belajar. Upaya
meningkatkan motivasi belajar tersebut dilakukan dengan cara mengoptimalkan
penerapan prinsip-prinsip belajar, mengoptimalkan unsur-unsur belajr /
pembalajaran, mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman kemampuan yang di
miliki oleh pembelajar dan mengembangkan cita-cita dan aspirasi pembelajar.
Ausubel mengatakan adanya hubungan antara motivasi dan belajar.
Motivasi bukan mempakan syarat mutlak untuk belajar tak perlu lebih dahulu
ditunggu adanya motivasi sebelum kita mengajarkan sesuatu. Bahkan kita dapat
mengabaikan motivasi dan memusatkan perhatian kepada pengajaran itu sendiri.
Bila belajar itu berhasil, maka akan timbul motivasi itu dengn sendirinya dan
keinginan untuk lebih banyak belajar. Sukses dalam belajar akan
membangkitkan motivasi untuk belaiar.

146
Menurut Skinner(1968) masalah motivasi bukan soal memberikan
motivasi, akan tetapi mengatur kondisi belai sehingga memberikan
reinforcement.
Motivasi yang dianggap lebih tinggi tarafnya daripada penguasaan tugas
ialah "achievement motivation" yakni motivasi untuk mencapai atau
menghasilkan sesuatu. Motivasi ini lebib mantap dan memberikan dorongan
kepada sejumlah besar kegiatan, termasuk yang berkaitan dengan pelajari, di
sekolah. McClelland (1965) yang menyelidiki berbagai hal yang dapat
mempertinggi motivasi ini, misalnya dengan merumuskan tujum dengan jelas,
mengetahui kemajuan yang dicapai, merasa turut benanggungjawab, dan
lingkungan sosial yang menyokong.
Peneliti lain, White (1959) mengemukakan konsep kompetensi. Motivasi
kompetensi mempunyai dasar biologis, jadi juga terdapat pada binatang, antara
lain motivasi menyalidiki aktivitas manipulasi. Ada pula peneliti yang mencari
motiyasj positif yang dinyatakan dengan istilah "mastery”, "egoinvolvement"
(keterlibatan diri), dan lain-lain. White berpendapat bahwa kegiatan anak tak
dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan, minum,
dan sebagainya. Akan tetapi karena kegiatan untuk berinteraksi secara efektif
dengan lingkungannya yang memberikan rasa mampu. Setiap orang ingin
menguasai lingkungannya.
Walaupun teori-teori motivasi berbeda-beda, nanum dalam praktek
pendidikan penerapannya bersamaan. Pelajar harus diberikan ganjaran (reward)
berupa pujian, angka ang baik, rasa keberhasilan atas hasil belajarnya, sehingga
ia lebih tertarik oleh pelajaran. Keberhasilan dalam interaksi dengan lingkungan
belajar, penguasaan tujuan program pendidikan memberikan rasa kepuasan dan
karena ini merupakan sumber motivasi yang terus menerus bagi pelajar,
sehingga ia sanggup belajar sendiri sepanjang bidupnya, yang dapat dianggap
sebagai salah samtu hasil pendidikan yang paling penting.

147
Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Motivasi
Ada beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar. Unsur-unsur
tersebut adalah :
1. Cita-cita / aspirasi pembelajar
2. Kemampuan pembelajar
3. Kondisi pembelajar
4. Kondisi lingkungan belajar
5. Unur-unsur dinamis belajar Ipembelajaran
6. Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar
Unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagaimana pada uraian berikut :
a. Cita-cita / aspirasi pembelajaran
Setiap manusia senantiasa mempunyai cita-cita atau aspirasi tertentu
didalam hidupnya temasuk pembelajar. Cita-cita atau aspirasi ini senantiasa ia
kejar dan ia perjuangkan. Bahkan tidak juang, meskipun rintagan yang ditemui
sangat banyak dalam mengejar cita-cita dan aspirasi tersebut seseorang tetap
berusaha semaksimal mungkin karena hal tersebut berkaitan dengan cita-cita dan
aspirasinya. Oleh karena itu, cita-cita dan aspirasi sangat mempengaruhi
terhadap motivasi belajar seseorang.
Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, pada saat masih sedang
belajar dijenjang pendidikan dasar, tentu menggemari terhadap mata pelajaran-
mata pelajaran dan bacaan-bacaan yang berkaitan erat dengan ilmu kesehatan.
Meskipun mata pelajaran tersebut masih terintegrasi dengan mata pelajaran IPA,
ia akan lebih bergairah dengan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu. ia akan
lebih temotivasi mempelajari mata pelajaran tersebut dibandingkan dengan mata
pelajaran yang lainnya.
Sebaliknya seseorang yang kebetulan berstatus mahasisma dan
dahulunya bercita-cita menjadi ahli hukum tetapi ia dipaksa oleh orang tuanya
mengambil jurusan teknik elektro. Dapat dipastikan kesungguhan belajarnya
akan berkurang karena apa yang ia pelajari tidak sesuai dengan cita-cita dan

148
aspirasinya. Ketidaksungguhan dalam belajar demikian ini tentu lantaran jurusan
yang dipaksakan oleh orang tuanya tidak cocok dengan cita-cita dan aspirasinya.
Ia kendor motivasinya, bisa jadi, pada saat-saat masih disekolah menengah ia
tinggi motivasi belajarnya sebaliknya pada saat sudah menjadi mahasiswa
motivasi yang tinggi tersebut berubah menjadi rendah. Itulah sebabnya, maka
cita-cita dan aspirasi pembelajaran ini perlu diperhitungkan dalam rangka
meningkatkan motivasi belajar seseorang, karena cita-cita atau aspirasi ini
mempengaruhi motivasi belaiar.
Jika kaitan antara cita-cita atau aspirasi pembelajar dengan motivasi dan
perolehan belajar ini diskemakan seperti tampak dibawah ini:

CITA-CITA / MOTIVASI PEROLEHAN


ASPIRASI BELAJAR BELAJAR
PEMBELAJAR PEMBELAJAR PEMBELAJAR

b. Kemampuan PeMbelajar
Kemampuan manusia satu dengan yang lain tidaklah sama. Menuntut
seseorang sebagaimana orang lain dari bingkai penglihatan demikian tentulah
tidak diberikan. Sebab, orang yang mempunyai kemampuan rendah akan sangat
susah menyerupai orang yang mempunyai kemampuan tinggi; dan sebaliknya
orang yang berkemampun tinggi, akan menjadi malas jika dituntut sebagaimana
mereka yang berkemampuan rendah.
Oleh karena itu, kemampuan pembelajar ini haruslah diperhatikan dalam
proses belajar pembelajaran. Kemampuan pembelajar erat hubungannya dan
bahkan mempengaruhi motivasi belajar pembelajar. Bisa terjadi, seseorang
menjadi rendah motivasi belajarnya terhadap bidang tertentu oleh karena yang
bersangkutan rendah kemampuannya dibidang tersebut.
Jika kaitan antara kemampunn pembelajar dengan motivasi dan
perolehan belajar ini diskemakan sebagai berikut:

149
Kemampuan Motivasi Belajar Perolehan Belajar
Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran

c. Kondisi pembelajar
Kondisi pembelajar dapsat dibedakan atas kondisi fisiknya dan kondisi
psikologisnya. Dua macam kondisi ini, fisik dan psikologis, umumnya saling
mempengamhi satu sama lain. Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat.
Dalam realitasnya juga berlaku kebalikannya. Bila seseorang kondisi
psikologisnya tidak sehat, bisa berpengaruh juga terhadap ketahanan dan
kesehatan fisiknya.
Sangatlah jelas dan sering dirasakan oleh siapapun jika kondisi fisik
dalam keadaan lelah, umumnya motivasi belajar seseorang akan menurun.
Sebaliknya jika kondisi fisik berada dalam keadaan bugar dan segar, motivasi
belajar bisa meningkat. Berarti, kondisi fisik seseorang mempengaruhi motivasi
belajarnya. Orang yang sudah sangat lelah tidak baik kalau belajar. Demikian
juga kalau sedang sakit, tidak bails untuk dipaksa belajar.
Dalam kondisi psikologis terganggu, sebutlah misalnya stress, juga tidak
bisa mengkonsentrasikan diri terhadap hal-hal yang dipelajari. Kmena tidak bisa
konsentrasi, mka gairah belajarnya menurun. Keadaan demikian ini, bisa
menjadikan seseorang belajar merasa terpaksa dan tidak banyak bemotivasi.
Jelaslah bahwa kondisi pembelajar, baik yang bersifat fisik maupun
psikis, sama-sama berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Ada kalanya
seseorang yang pada masa-masa sebelumnya bemotivasi belajar tinggi, tiba-tiba
menjadi rendah hanya karena kondisi fisik dan psikologisnya terganggu atau
sakit. Tidak jarang, seseorang yang motivasi belajarnya biasa-biasa saja, tiba-
tiba berubah karena kondisi fisik dan psikologisnya dalam keadaan prima.
Jika diskemakan, kondisi pembelajar dalam kaitannya dengan motivasi
dan perolehan belajar adalah sebagai berikut:

150
Kemampuan Motivasi Belajar Perolehan Belajar
Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran

d. Kondisi lingkungan belajar


Sudah umum diketahui bahwa yang menentukan motivasi belajar
seseorang, selain faktor individu juga faktor lingkungan. lebih-lebih lingkungan
belajar. Sebab, individu secara sadar ataukah tidak, senantiasa tersosialisasi oleb
lingkungannya. Lingkungan belajar ini meliputi : lingkungan fisik dan
lingkungan sosial.
Yang dimaksud dengan lingkurigan fisik adalah tempat dimana
pembelajar tersebut belajar. Apakah tempat belajarnya nyaman ataukah tidak,
apakah tempatnya segar atau pengap. Hal-hal demikian ini berpengaruh terhadap
motivasi belajar. Demikian juga yang amburadul, tidak memberikan gairah bagi
belajar seseorang. Sebaiknya tempat yang teratur, yang tertata rapi, mendorong
seseorang bergairah belajar. Tempat belajar yang berisik oleh suara bisa
menganggu belajar, yang tenang, bisa menimbulkan gairah belajar. Jadi
lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar.
Lingkungan sosial adalah suatu lingkungan seseorang dalm kaitannya
dengan orang lain. Contohnya berupa lingkungan sepermainan, lingkungan
sebaya, kelompok belajar. Sungphpun faktor pribadi pribadi seseorang lebih
menentukan terhadap diri sendiri tetapi harus diakui bahwa lingkungan sosial
juga menentukan motivasi belajar seseorang. Contohnya jika dalam lingkungan
sosial seseorang tidak terbiasa dengan aktivitas belajar maka bukan budaya
belajar itu yang dikembangkan oleh seseorang.
Dalam lingkungan yang kompetitif untuk belajar, seseorang yang berada
dilingkungan tersebut akan terbawa serta untuk belajar seperti orang lain. Baik
secara sadar atau tidak. Kaitan antara kondisi lingkungan belajar dengan
motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut :

151
Kemampuan Motivasi Belajar Perolehan Belajar
Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran

e. Unsur-Unsur Dinamis belajar pembelajar


Unsur dinmis belajar pembelajar meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belaiar
b. Bahan belajar dan upaya penyediannya
c. Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya
d. Suasana belajar dan upaya pengembangannya
e. Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya
Oleh karena itu, unsur- unsur dinamis dennkian ini patut diperhatikan
agar motivasi belajar pembelajar menjadi tinggi. tingginya motivasi belajar
berimplikasi bagi maksimainya perolehan belajar pembelajar.
Unsur dinamis belajar dan pembalajar Motivasi belajar pembelajar
Perolehan belajar pembelajar jika kaitan antara unsur-unsur dinamis dalam
belajar dengan motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut :

Unsur dinamis
belajar dan Motivasi Belajar Perolehan Belajar
pembelajar Pembelajaran Pembelajaran

f. Upaya Guru dalam Membelajarkan pembelajar


Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga berpengaruh terhadap
motivasi belajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam membelajarkan pembelajar,
menjadikan pembelajar juga bergairah belajar, guru yang sungguh-sunggub
dalam membelajukan pembelajar, menjadikan tingginya motivasi belajar
pembelajar. Pada guru yang demikian umumnya mempersiapkan diri dengan
matang dan senantiasa memberikan yang terbaru dan terbaik kepada pembelajar.

152
Oleh karena yang di berikan tersebut menarik. Terbaik dan mungkin terbaru.
Maka tingkat aktualitasnya sangat tinggi dimata pembelajar. Sebagai akibatnya,
hal-hal yang disajikan oleh guru menjadi menarik dimata pembelajar.
Menariknya hal-hal yang diberikan ini hisa menjadikan tingginya motivasi
pembelajar.
Sebaliknya pada guru yang tidak bergairah dalar membelajarkan
pembelajar, umumnya mengulang saja pelajaran yang di berikan dari tahun
ketahun. Proses belajar pembelajar terasa kering dan kehilangan nuansa. Akibat
dari proses belajar pembelajaran demikian ini, pembelajar tidak bergairah dan
babkan mungkin kehilangan motivasi. Hal demikian bisa lebib parah lagi.
manakala guru yang membelajarkan tersebut sudah puas dengan keadaan yang
demikian ini.
Oleh karena itu, upaya guru untuk membelajarkan pembelajar sangat
krusial dalam meningkatkan motivasi pembelajar. Jika di skemakan antara upaya
guru untuk membelajarkan pembelajar dengan motivasi dan perolehan belajar
pembelajar adalah sebagai berikut :

Upaya guru
membelajarkan Motivasi Belajar Perolehan Belajar
Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran

Upaya Meningkatkan motivasi belajar


Upaya belajar senantiasa bergelombang. Adakalanya bergerak naik dan
adakalanya bergerak turun. Tidak jarang motivasi belajar hanya mendatar saja.
Oleh karena demikian " watak" motivasi tersebut, maka diperlukan upaya untuk
meningkatkannya. Dengan demikian, motivasi belajar yang di punyai oleh
pembelajar bisa cenderung naik dan atau minimal Menetap.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan
motivasi pembelajar, yaitu :

153
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar
2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis belajar / pembelajaran
3. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman / kemampuan yang telah dimiliki
dalam belajar
4. Mengembangkan cita-cita / aspirasi dalam belajar
Secara berturut-turut, ketiga cara tersebut di kemukakan sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar
Ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam belajar. Prinsip
tersebut adalah :
a. Prinsip perhatian dan motivasi belajar
b. Prinsip keaktifan belajar
c. Prinsip keterlibatan langsung pembelajar
d. Prinsip pengulangan belajar
e. Prinsip sifat perangsang dan menantang dari materi yang dipelajari
f. Prinsip pemberian balikan dan penguruan dalam belajar
g. Prinsip perbedaan individual antar belajar
Ketujuh prinsip ini diterapkan secara optimal agar pembelajar
mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar.
Ada dua cara dalam mengoptimalkan penerapan prinsip belajar tersebut.
Pertama, menyusun strategi-strategi sehingga prinsip-prinsip tersebut dapat
terterapkan secara optimal. Strategi disini, dari pandangan-pandangan dan
temuan-temuan teoritik dan dapat pula digali dari kiat guru sendiri. Temuan-
temuan ahli psikologi pendidikan dan temuan-temuan ahli pengajaran
part[ digali hingga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penerapan
prinsip-prinsip belajar.
Kedua, menjauhkan konstrain-konstrain (kendala-kendala) yang ditemui
dalam mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Kendala demikian ini
patut dijauhkan, agar tidak mengganggu bagi penerapan prinsip-prinsip belajar.

154
2. Mengoptimalkan Unsur-Unsur Dinamis Belajar / Pembelajaran
Mengingat unsur-unsur belajar / pembelajaran dapat mempengaruhi
motivasi, maka ia perlu di optimalkan penerapannya. Pengoptimalan demikian
mi perlu dilakukan agar motivasi belajar siswa juga optimal.
Cara mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar / pembelajaran
dalah : pertama, menyediakan secara kreatif berbagai unsur belajar pembelajaran
tersebut dalm setting belajar pembelajaran. Penyediaan secara kreatif ini perlu
dilakukan, katena umumnya ketika tidak ada guru dan menerima kondisi
tersebut apa adanya. Contohnya peralatan pengajaran yang tidak tersedia dapat
disediakan dengan merancang sendiri bersama-sama dengan pembelajar.
Kedua, memanfaatkan sumber-sumber diluar sekolah sehingga
keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah dapat ditanggulangi. Hal demikian dapat
dilakukan dengan banyak mengadakan kerjasama dengan sejumlah lembaga
diluar sekolah bahkan diluar dunia pendidikan.

3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman / Kemampuan Yang Telah


Dimiliki Dalam belajar
Setiap pembelajar mempunyai kemampuan dan pengalamn-pengalaman
tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kemampuan dan
pengalaman yang berbeda demikian ini hendaknya tidak justru menjadi
konstrain dalam aktivitas belajarnya. Kemampuan atau pengalaman masa Ialu
ini bisa didapatkan oleh pembelajw melalui aktivitas belajar, dan bisa juga
didapatkan oleh pembelajar melalui aktivitas lain atau aktivitas non belajar.
Pengalaman dan kemampuan masa Ialu ini bisa menjadi konstrain untuk
belajar berikutnya, tetapi tidak jarang bisa mendukung aktivitas belajar.
Pengalaman dan kemampuan masa lain bisa menjadi konstrain belajar, manakala
dipandang bertentangan dengan pengalaman belajar berikutnya oleh pembelajar.
Pengalaman dan kemampuan masa Ialu bisa mendukung terhadap aktivitas
belajar manakala sesuai dengan pengalaman belajar berikutnya. Tidak itu saja
pengalamana atau kemampuan masa lalu malahan bisa menjadi prasyarat bagi
pengalaman berikutnya. dan jika kasus yang trakhir ini terjadi, maka pembelajar

155
tidak dapat mempelajari mata pelajaran berikutnya, tanpa yang bersangkutan
telah mempunyai kemampuan dan pengalaman yang diprasyaratkan. Dkk dan
Cany (1981) menyebut pengalamn dan kemampuan demikian dengan entry
behavior.
Yang harus diupayakan guru agar kemampuan atau pengalaman masa
lalu justru mendukung terhadap aktivitas belajar adalah :
a. Biarkan pembelajar dapat menangkap apa yang dipelajari sekarang ini dari
perspektif kemmpuan dan pengalaman masa lalunya. Jangan dipaksa
menggunakan perspektif gurunya.
b. Kaitkan aktivitas belajar pada masa sekarang ini dengan kemampuan dan
pengalaman yang sudah dipunyai oleh pembelajar.
c. Gali dulu pengalaman dari kemampuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar
melalui tes lisan atau tertulis sebelum menyampaikan materi berikutnya.
d. Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membandingkan apa yang
sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki.

4. Mengembangkan Cita-Cita / Aspirasi Dalam Belajar


Cita-cita adalah sesuatu yang dikejar oleh seseorang. Kegiatan-kegiatan
seseorang, utamanya kegiatan belajar. Lebih banyak teraksentuasi pada
pengejaran dan atau pencapaian cita-cita atau aspirasi tersebut. Maka dari itu
cita-cita atau sapirasi tersebut harus senantiasa dikembangkan dalam
pembelajaran.
Penjurusan yang ada disekolah-sekolah kita, tidak lain adalah demi
penampungan aspirasi dan cita-cita yang berbeda dari masing-masing
pembelajar. Demikian juga dengan adanya kurikulum muatan tokal, yang antara
daerah yang satu dengan yang lain berbeda, adalah dalam rangka menampung
aspirasi dan cita-cita yang berbeda antara, pembelajar didaerah satu dengan
daerah lainnya. Persoalannya adalah, apakah memang benar bahwa dalam
pemilihan jurusan tersebut memang benar-benar sesuai dengan cita-cita dan

156
aspirasi pembelajar ? mengingat yang menjadi pertimbangan dalam penjurusan
tersebut tidak semata-mata cita-cita dan aspirasi melainkan banyak hal lain
seperti daya tampung masing-masing jurusan, tersedia tidaknya prasarana dan
sarana.
Aspirasi / cita-cita dapat dikembangkan dalam belajar pembelajaran,
dengan beberapa langkah sebagai berikut :
a. Kenalilah aspirasi dan cita-cita pembelajar. Pengenalan ini dapat dilakukan
dengan melalm penyebaran daftar isian yang dapat memuat sejumlah cita-
cita atau aspirasi pembelajar. Dari sejumlah aspirasi atau cita-cita tersebut,
pembelajar masih diliarapkan anak merangking dari yang paling diminaati
sampai dengan yang paling tidak diminati. Pengenalan aspirasi ini dapat
dilakukan dengan mengadakan tes minat kepada pembelajar. Dengan tes
minat, akan diketabui jenis-jenis pekerjaan apa dimasa depan yang paling
diminati dan menjadi cita-cita pembelajar.
b. Hasil pengenalan atas cita-cita aspirasi tersebut dapat dikomunikasikan
kepada siswa dan orangmanya. Orang tua ini patut juga diberi tahu, agar
tidak memaksakan kehendaknya kepada putra-putrinya, karena mungkin
pembelajar tersebut mempunyai cita-cita atau aspirasi yang berbeda dengan
orangtuanya.
c. Sediakan program-program yang dapat mengembanglum aspirasi dan cita
cita tersebut. Setelah program-program tersebut disediakan, barulah para
pembelajar diberi kesempatan untuk mengambil program yang sesuai dengan
aspirasi dan cita-citanya. Persoalannya hanyalah, apakah mungkin hat
demikian dilakukan disekolah-sekolah kita mengingat kurikulum yang
tersentralkan dari pusat ?
Jenis Motivasi Yang Didasarkan Motif Primer Dan Sekunder Motivasi
dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

157
1. Motivasi Primer
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar.
Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani
manusia. Manusia adalah makluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh
oleh tasting atau kebutuhan jasmaninya.
Ahli lain, Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu
tekanan, sasaran, objek dan sumber.tekanan adalah kekuatan yang memotivasi
individu amok bertingkah laku. Semakin besar energi dalana insting, maka
tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau
kesenangan. Kepuasan tercapai, bila tekanan energi dalam insting berkurang.
Sebagai ilustrasi, keinginan makan berkurang bila individu masih kenyang.
Objek insting adalah hal-hal yang mermaskan insting. Hal-hal yang memutuskan
insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu.
Adapun sumber insting adalah keadaan kejasmaniah individu. Segenap insting
manusia dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu insting kehidupan (life
instinest ) dan insting kematian (death instinest ). Insting kehidupan terdiri dari
insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. lnsting kehidupan
tersebut berupa makan. minum, istirahat dan memelihara keturunan. Insting
kematian tertuju pada penghancuran seperti, merusak, menganiaya, atau
membunuh orang lain atau diri sendiri. Menurut Freud energi bekerja
memelihara keseimbangan fisik. Insting bekerja seumur hidup. Yang mengalami
perubahan adalah cara pemuasan atau objek pemuasan.

2. Motivasi Sekunder
Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda
dengan motivasi primer. Sebagai ilusirasi, orang yang lapar akan tertarik pada
makanan tanpa berpikir. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus
bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar
bekerja. Bekerja dengan haik merupakan motivasi sekunder, bila orang bekerja

158
dengan baik, maka ia memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut berupa
penguat motivasi sekunder, Uang merupakan penguat unnum. Setelah in bekerja
dengan baik maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar.
Menurut beberapa ahli, manusia adalah makluk sosial. Perilakunya tidak
hanya terpengaruh oleh faktor biologis saja. Tetapi juga faktor-faktor sosial.
Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti afektif,
koqnitif, dan konatif. Komponen afektif adalah aspek emosional. komponen ini
terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi. Komponen koqnitif adalah aspek
intelektual yang terkait dengan pengetahuan. Komponan konatif adalah terkait
dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.
Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap
adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap, yakni :
- merupakan kecenderungan berpikir, merasa, kemudian bertindak
- memiliki daya dorong bertindak
- relatif bersikap tetap
- kecenderungan melakukan penilaian
- dapat timbul dari dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya
sejenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan tersebut disertai proses jasmani,
perilaku dan kesadaran. Emosi memiliki fungsi sebagai pembangkit tenaga,
pemberi informasi pada oranglain, pembawa pesan dalam hubungan dengan
orang lain, sumber informasi tentang diri seseorang.
Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya.
Pengetahuan yang dipercaya tersebut adakalanya berdasarkan akal, ataupun tak
berdasar akal sehat pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku.

159
BAB V
PENDEKATAN CBSA DALAM PEMBELAJARAN

5.1. KONSEP CBSA DALAM PEMBELAJARAN


Cara belajar siswa aktif merupakan suatu upaya dalam pembaruan
pendidikan dan pembelajaran. Kendatipun cara ini tergolong baru, namun
sesungguhnya konsep ini telah lama dikembangkan, hanya perwujudannya yang
masih baru dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Karena itu, ada
baiknya guru-guru mengenal dan memahaminya lebih seksama agar mampu
menerapkan secara efektif.

5.1.1. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)


CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik
beratkan pada keaktifan siswa, yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Pada
hakekatnya, keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua perbuatan belajar,
tetapi kadamya yang berbeda tergantung pada kegiatannya, materi yang
dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam CBSA, kegiatan belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk
kegiatan, seperti: mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan,
memecahkan masalah, memberikan prakarsa/gagasan, menyusun rencana, dan
sebagainya- Keaktifan itu da yang dapat diamati dan ada pula yang tidak dapat
diamati secara langsung. Setiap kegiatan tersebut menuntut keterlibatan
intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi, dan
akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta
pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (motorik, kognitif
dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilat-nilai dalam pembentukan sikap
(Raka Joni, 1980, h. 2).
Sejak dimunculkannya pendekatan CBSA dalam lingkungan pendidikan
ditanah air, konsep CBSA telah mengalami perkembangan yang cukup jauh.
Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu sistem belajar mengajar yang
menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional

160
guna memperole hasil belajar yang bempa perpaduan antara matra kognitif,
afekisi. dan psikomotorik, (A. Yasin, 1984,h.24).
Dalam kerangka sistem belajar mengajar, terdapat komponen proses
yakni keaktifan fisik, mental, intelektual dan emosional dan komponen produk,
yakni hasil belajar berupa keterpaduan aspek-aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik Secara lebili rinci komponen produk tersebut mencakup berbagai
kemampuan: menamati, menginterprestasikan, meramalkan. mengkaji,
menggeneralisasikan, menemukan, mendiskusikan, dan mengkomonikasikan
hasil penemuan. Aspek-aspek kemampun tersebut dikembangkan secara terpadu
melalui sistem pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA.

5.1.2 Rasional CBSA dalam pembelajaran


Penerapan dan pendayagunaan konsep CBSA dalam pembelajaran
merupakan kebutuhan dan sekaligus sebaga. keharusan dalam kaitannya dengan
upaya merealisasikan Sistem Pendidikan Nasional untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional yang pada gilirannya berimplikasi terhadap sistem
pembelajaran yang efektif.
Siswa peserta didik dipandang dari dua sisi yang berkaitan, yakni sebagai
objek pembelajaran dan sebagai subjek yang belajar. Siswa sebagai subjek
dipandang sebagai manusia yang potensial sedang berkembang, memiliki
keinginan-keinginan-harapan dan tujuan hidup, aspirasi dan motivasi dan
berbagai kemungkinan potensi lainnya. Siswa sebagai objek dipandan: sebagai
yang memiliki potensi yang perlu dibina, diarahkan dan dikembangkan melalui
proses pembelajaran. Karena itu proses pembelajaran harus dilaksanakan
berdasarkan prinsip-prinsip manusiawi (humanistik), misainya melalm suasana
kekeluargaan terbuka dan bergairah serta berpariasi sesuai dengan keadaan
perkembangan siswa bersangkutan.
Pelaksanaan proses pembelajaran dititik beratkan pada keaktifan siswa
belajar dan keaktifan guru menciptakan lingkungan belajar yang serasi dan
menantang. Penerapan CBSA dilakukan dengan cara mengfungsionalisasikan

161
seluruh potensi manusiawi siswa melalui penyediaan lingkungan belajar yang
meliputi aspek-aspek bahan pelajaran, guru, media pembelajaran, suasana kelas
dan sebagainya. Cara belajar di sesuaikan dengan minat dim pemberian
kemudahan kepada siswa untuk memperoleh pemahaman, pendalaman, dan
pengendapan sehingga hasil belajar berintemalisasi dengan pribadi siswa. Dalam
kondisi ini semua unsur pribadi siswa aktif seperti emosi, perasaan, intelektual,
pengindran, fisik dan sebagainya.
CBSA dapat berlangsung dengan efektif, bila guru melaksanakan peran
dan fungsinya secara aktif dan kreatif, mendorong dan membantu serta berupaya
mempenguruhi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan belajar yang
telah ditentukan. Keaktifan guru dilakukan pada tahap-tahap kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, pellilaian dan tindak lanjut pembelajaran.Peranan
guru bukan sebagai orang yang menuangkan materi pelajaran kepada siswa,
melainkan bertindak sebagai pembantu dan pelayanan bagi siswanya. Siswa
aktif belajar, sedangkan guru memberikan fasilitas belajar, bantuan dan
pelayanan. Beherapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru, ialah:
1) menyiapkan lembaran kerja
2) Menyusun tugas bersama siswa;
3) Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan;
4) Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa apabila siswa mendapat
kesulitan;
5) Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan;
6) Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum;
7) Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa yang lambat;
8) Menyalurkan bakat dan minat siswa;
9) Mengamati setiap aktivitas siswa.
Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan, bahwa pembelajaran
berdasarkan pendekatan CBSA tidak diartikan guru menjadi fasif, melainkan
tetap harus aktif namun tidak bersikap mendominasi siswa dan menghambat
perkembangan potensinya Guru bertindak sebagai guru inquiry, dan fasilitator.

162
5.1.3 Kadar Cara Belajar Siswa Aktif
Kadar MA ditandai oleh semakin banyaknya dan bervariasinya keaktifan
dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Semakin banyak dan
semakin beragamnya keaktifan dan keterlibatan siswa, maka semakin tinggi pula
kadar ke-CBSA-annya. Sebaliknya, semakin sedikit keaktifan dan keterlibatan
siswa dalam proses belajar mengajar, maka berarti semakin rendah kadar CBSA
tersebut.
Kadar CBSA itu dalam rangka sistem belajar mengajar menunjukkan
ciri-ciri, sebagai berilmu :
1) Pada tingkat masukan, ditandai oleh:
a. Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan kebutuhan
pembelajaran sesuai dengan kemampuan, minat, pengalaman, motivasi,
aspirasi yang telah dimiliki sebagai baban masukan untuk melakukan
kegiatan belajar.
b. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan belajar
dan pembelajaran, yang menjadi acuan baik bagi siswa mupun bagi guru.
c. Adanya keterlibatan siswa dalam memilih dan menyediakan
sumber bahan pembelajaran.
d. Adanya keterlibatan siswa dalam pengadaan media pembelajaran
yang akan digunakan sebagai alat bantu belajar.
e. Adanya kesadaran dan keinginan belajar yang tinggi serta
motivasi untuk melakukan kegiatan belajar.

2) Pada tingkat proses, kadar CBSA ditandai dengan:


a. Adanya keterlibatan siswa secara fisik, mental, emosional,
intelektual, dan personal dalam proses belajar.
b. Adanya berbagai keaktifan siswa mengenal, memahami,
menganalisis, berbuat, memutuskan, dan berbagai kegiatan belajar
lainnya yang mengandung unsur kemandirian yang cukup tinggi.

163
c. Keterlibatan secara aktif oleh siswa dalam menciptakan suasana
belajar yang serasi, selaras dan seimbang dalam proses belajar dan
pembelajaran.
d. Keterlibatan siswa menunjang upaya guru menciptakan
lingkungan belajar untuk memperoleh pengalaman belajar serta turut
membantu mengorganisasikan lingkungan belajar itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
e. Keterlibatan siswa dalam meneari imformasi dari berbagai
sumber yang berdaya guna dan tepat guna bagi mereka sesuai dengan
rencana kegiatan belajar yang telah mereka rumuskan sendiri.
f. Keterlibatan siswa dalam mengajukan prakarsa, memberikan
jawaban atas penanyaan guru, mengajukan penanyaan/ masalah dam
berupaya menjawabnya sendiri, menilai jawaban dari rekannya, dan
memecahkan masalah yang timbul selama berlangsungnya proses belajar
mengajar tersebut.

3) Pada tingkat produk, kadar CBSA ditandai oleh:


a. Ketertibatan siswa dalam menilai diri sendiri, menilai teman
sekelas.
b. Keterlibatan siswa secara mandiri mengerjakan tugas menjawab
tes dan mengisi instrumen penilaian lainnya yang diajukan oleh guru.
c. Keterlibatan siswa menyusun laporan baik tertulis maupun lisan
yang berkenaan dengan hasil belajar.
d. Keterlibatan siswa dalam menilai produk-produk kerja sebagal
hasil belajar dan pembelajaran.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat ditentukan derajat kadar CBSA
dalam suatu proses belajar mengajar, dan bila mungkin di klasifikasikan
menjadi: kadar tinggi, kadar sedang, dan kadar rendah. Kendatipun tampak,
bahwa keaktifan guru sangat menonjol, namun tidak berarti keaktifan guru di

164
abaikan. Tanpa upaya dan pengaruh serta arahan guru sebagai fasilitator dan
pengorganisasian belajar, maka kadar CBSA yang diinginkan tak mungkin
tercapai. Guru tetap bertanggungjawab menciptakan lingkungan belajar yang
mampu mengundang / menantang siswa untuk belajar.
5.1.4 Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Pembelajaran berdasarkan CBSA menuntut kondisi-kondisi tertentu
untuk menjamin kadar CBSA yang tinggi guna mencapai tujuan pembelajaran
atau hasil belajar siswa pada tingkat optimal. Penyelenggaraan pembelajaran
CBSA tersebut ditandai oleh indikator-indikator sebagai berikut:
1) Derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi. Para siswa berperan serta
secara aktif dan bersikap responsif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak
tinggal diam hanya menunggu stimuli yang disampaikan oleh guru,
melainkan berperan aktif menentukan stimuli misalnya merumuskan suatu
masalah dan mencari jawahan serdiri (responsif) atas masalah tersebut. Pada
waktu guru menyajikan suatu topik, siswa aktif-responsif mempertanyakan
materi yang terkandung didalamnya. Kedua contoh tersebut sebagai landa,
bahwa siswa berperan serta dalam proses pembelajaran.
2) Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan pembuatan tugas. Pada dasarnya sejak
disusunnya perencanaan tugas-tugas, para siswa telah dapat diaktifkan peran
sertanya. Siswa dapat mengajukan usul dan minat tugas yang diinginkannya
dengan asumsi bahwa tugas tersebut sesuai dengan kemampuannya. Pada
waktu pembuatan tugas, siswa melaksanakan kegiatan kelompok atau
dengan belajar mandiri. Pada waktu penilaian tugas (hasil pekerjaannya),
siswa hendaknya aktif menilai tugas-tugas temannya dan hasil kerjanya
sendiri dalam bentuk menilai dirinya sendiri (self evaluation). Hal ini
menunjukan, bahwa tersedia berbagai kemungkinan dimana siswa dapat
berperan aktif dalam pelaksarman tugas-tugas yang dikondisikan dalam
pembelajaran.
3) Peningkatan kadar CBSA dalam proses pembelajaran juga ditentukan oleh
faktor guru. Guru hendaknya menyadari tujuan-tujuan belajar yang ingin
dicapai, baik dalam arti efek instruksional maupun efek pengiring, dan dalam

165
pada itu memiliki wawasan dan penguasaan yang memadai tentang
bermacam-macam stategi belajar mengajar yang dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan belajar. Sudah barang tentu penguasaan teknik yang mantap
juga merupakan persyaratan sebelum seorang guru bisa secara Kreatif
merancang dan menginformasikan program belajar mengajar (T.R aka Joni,
1985, h. 18),
4) Pendekatan CBSA pada dasarnya dapat diterapkan sentua strategi dan
metode mengajar, walaupun kadaannya berbeda- beda. Penggunaan metode
mengajar, secara berpariasi dapat memberikan peluang penerapan CBSA
dengan kadar yang tinggi. Namun demikian, pemilihan metode tersebut tetap
harus ditandasi oleh tujuan yang hendak dicapai, bahan pelajaran yang
hendak dipelajari, kondisi subjek belajar itu sendiri (motivasi, pengalaman
awal, kondisi kesehatan, keadaan mental, dan lain-lain), serta penguasaan
guru terhadap metode tersebut. Dengan demikian, keaktivan siswa belajar
tetap terarah, terbimbing, dan diharapkan mencapai hasil secara optimal.
5) Penyediaan media dan peralatan serta berbagai fasilitas belajar tetap
diperlukan, agar tercipta lingkungan belajar yang menantang dan
merangsang serta meningkatkan kegiatan belajar siswa. Pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang kemediaan dan teknologi hardware sangat
diisyaratkan. Media dan alat merupakan alat bantu bagi siswa kendatipun
mereka diminta untuk memilih dan menggunakannya sendiri sesuai dengan
aktivitas belajarnya.
6) Keaktifan belajar berdasarkan CBSA tidak jarang menimbulkan kesulitan
balajar pada siswa, misalnya teknik-teknik belajar, memilih bahan, menilai
hasil kegiatan, tim masalah-masalah lain. Itu sebabnya, bimbingan dan
pembelajaran remedial pada waktu tertentu diperlukan untuk membantu
siswa bersangkutan, sehingga kecepatan belajar dan penyelesaian tugas-
tugas tetap terus berlangsung menyertai rekan-rekannya yang tidak mendapat
kesulitan.
7) Kondisi lingkungan kelas/sekolah turut berpengaruh terhadap pelaksanaan
pembelajaran berdasarkan CBSA. Pengaturan, dan pembinaan lingkungan ini

166
perlu mendapat dari pihak guru melalui kerja sama dengan guru-guru lainnya
serta para siswa sendiri. Termasuk dalam lingkungan kelas juga suasana.
disiplin kelas yang baik.

5.2 PENERAPAN CBSA


Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk
dan teknik:
Pemanfaatan waktu luang
Pemanfaatan waktu luang di rumah oleh siswa memungkinkan
dilakukanya kegiatan belajar aktif, dengan cara menyusun rencana belajar,
memilah bahan untuk dipelajari, dan menilai penguasaan bahan sendiri. Jika
pemanfaman waktu tersebut dilakukan secara saksama dan berkesinambungan
akan memberikan manfaat yang baik dalam menunjang keberhasilan belajar di
sekolah.

Pembelajaran Individual
Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan
karakteristik perbedaan individu tiap siswa, seperti: minat abilitet, bakat,
kecerdasan, dan sebagainya. Guru dapat mempersiapkan / merencanakan tugas-
tugas belajar bagi para siswa, sedang pilihan dilakukan oleh siswa masing-
masing, dan selanjutnya tiap siswa aktif belajar secara perseorangan. Teknik
lain, kegiatan belajar dilakukan dalam bentuk kelompok, yang terdiri dari siswa
yang memiliki kemampuan, minat bakat yang sama.
Belajar kelompok
Belajar kelompok memiliki kadar CBSA yang cukup tinggi. teknik
pelaksanaannya dapat dalam bentuk kerja kelompok, diskusi kelompok, diskusi
kelas, diskusi terbimbing, dan diskusi ceramah. Dalam situasi belajar kelompok,
masing-msing anggota dapat mengajukan gagasan, pendapat, pertanyaan,
jawaban, keritik dan sebagainya. Siswa aktif berpartisipasi, berelasi dan
berinteraksi satu dengan yang lainya.

167
Bertanya jawab
Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa,
dan antara kelompok siswa dengan kelompok lainnya memberikan peluang
cukup banyak bagi setiap siswa belajar aktif. Kadar CBSA-nya akan lebih besar
jika pertanyaan-pertanyaan timbul dan diajukan oleh pihak siswa dan dijawab
oleh siswa lainnya. Guru bertindak sebagai pengatur lalulintas atau distributor,
dan dianggap perlu guru melakukan koreksi dan perbaikan terhadap pertanyaan
dan jawaban-jawaban tersebut.

Belajar Inquiry/discovery (belajar mandiri)


Dalam strategi belajar ini siswa melakukan proses mental intelektual
dalann upaya memecahkan masalah. Dia sendiri merumuskan suatu masalah,
mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan serta
mengaplikasikan hasil belajarnya. Dalam konteks ini, keaktifan siswa belajar
memang lebih menonjol, sedangkan kegiatan guru hanya mengarah
membimbing, memberikan fasilitas yang memungkinkan siswa melakukan
kegiatan inquirynya. Strategi dan kemampun inquiry ini, akan diuraikan lebih
lanjut dalam pembahasan mengenai keterampilan proses sebagai bagian dari
CBSA.

Pengajaran unit
Strategi pengajaran ini berpusat pada suatu masalah atau suatu proyek.
Pada tahap-tahap kegiatan belajar ditempuh tahap-tahap kegiatan utama, yakni:
tahap pendahuluan dimana siswa melakukan orientasi dan perencanaan awal;
tahap pengembangan dimana siswa melakukan kegiatan mencari sendin
informasi selanjumya menggunakan informasi itu dalam kegiatan praktik, tahap
kegiatan kulminasi, dimana siswa mengalami kegiatan penilaian, pembuatan
laporan dan tiddak lanjut.

168
Berdasarkan beberapa contoh strategi pembelajaran tersebut di atas,
maka semakin jelas tentang bagai mana penerapan pendekatan CBSA tersebut
dalam proses pembelajaran. kendatipun dengan kadar yang berbeda-beda.

5.3 PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SEBAGAI BAGIAN


DARI CBSA
5.3.1 Rasional keterampilan proses dalam pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi (hubungan timbal balik)
antara guru dengan siswa. Dalam proses tersebut memberikan bimbingan dan
menyediakan berbagai kesempatan yang dapat mendorong siswa belajar dan
untuk memperoleh pengalaman sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tercapainya
tujuan pembelajaran ditandai oleh tingkat penguasaan kemampuan dan
pembentukan kepribadian.
Proses pembelajaran melibatkan terbagi kegiatan dan tindakan yang
perlu dilakukan oleh siswa untuk memperoleh basil belajar yang baik.
Kesempatan untuk melakukan kegiatan dan perolehan hasil belajar ditentukan
oleh pendekatan yang digunakan oleh guru-siswa dalam proses pembelajaran
tersebut.
Suatu prinsip untuk memilih pendekatan pembelajaran ialah belajar
melalui proses mengalami secara langsung untuk memperoleh basil belajar yang
bermakna. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan
lingkungannya. Dalam proses im siswa bermotivasi dan sering melakukan
kegiatan belajar yang menarik dan bermakna bagi dirinya. Ini berarti, peranan
pendekatan belajar mengajar sangat penting dalam kaitannya dengan
keberhasilan belajar.
Dalam kurikulum telah ditegaskan, bahwa penerapan pendekatan dalam
proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-
kemampuan dasar dalam diri siswa supaya mampu menemukan dan mengelola
perolehannya. Pendekatan mi disebut "pendekatan proses". Proses pembelajaran
yang menerapkan pendekatan ini mengacu kepada siswa agar belajar
berorientasi pada belajar bagaimana belajar (Depdikbud, 1980).

169
5.3.2 Pengertian keterampilan proses dan kaitannya dengan CBSA
Pendekatan dalam keterampilan proses ialah pendekatan pembelajaran
yang bertujuan mengembangkan sejumiah kemampuan fisik dan mental sebagai
dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa.
Kemampuan-kemampun fisik dan mental tersebut pada dasarnya leiah dimiliki
oleh siswa meskipun masih sederhana dan perlu dirangsang agar. Menunjukkan
jati dirinya. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses
perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta
dan konsep menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Keterampilan-keterampilan itu sendiri menjadi roda penggerak dan penemuan
dan pengembangan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan
sikap dan nilai. Seluruh gerak atau tindakan dalan proses belajar mengajar akan
menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif (Conny Se a 1990).
Pengertian tersebut menunjukkan, bahwa dengan keterampilan proses
siswa berupaya menemukan mengembangkan konsep dalam materi ajaran.
Konsep-konsep yang telah dikembangkan int berguna untuk menunjang
pengembangan kemampuan selanjutnya. Interaksi antara kemampuan dan
konsep melalui proses balajar mengajar selanjutnya mengembangkan sikap dan
nilai pada diri siswa misalnya kreativitas, kritis, ketelitian, dan kemampu
memecahkan masalah.
Pendapat yang senada diungkapkan oleh Gagne yang merumuskan
pengertian keterampilan proses dalam bidang ilmu pengetahuan alam (sains):
pengetahuan tentang konsep-konsep dari prinsip-prinsip yang dapat diperoleh
siswa bila dia memilhi kemampum-kemampuan dasar tertentu, yaitu
keterampilan proses sains yang dibutuhkan untuk menggunakan sains.
Keterampilan-keterampilan dalam bidang sains itu meliputi: mengamati.
menggolongkan, berkomunikasi, mengukur, mengenal dengan menggunakan
hubungan ruang/waktu, menarik kesimpulan menyusun definisi operasional,
mengendalikan variabel. menafsirkan data, dan bereksperimen.
Berdasarkan konsep pemikiran di atas maka pendekatan keterampilan
proses diartikan sebagai pendekatan dalam perencanaan pembelajaran yang

170
menitikberatkan pada aktivitas dan kreativitas. siswa untuk mengembangkan
kemampuan fisik dan mental yang sudah dimiliki ketingkat yang lebih tinggi
dalam memproses perolehan belajamya. Hal ini menunjukkan, babwa
ketempilan proses erat kaitannya dengan CBSA.
5.3.3 Kemampuan keterampilan dasar yang perlu dilatih dalam
keterampilan proses
Keterampilan proses sebagai suatu pendekatan proses pembelajaran
mengarah pada pengembangan kennampman fisik dan mental yang mendasar
sebagai pendorong untuk mengembangkan kemampman yang lebih tinggi pada
diri siswa.
Ada tujuh jenis kemampuan yang hendak dikembangkan melalui proses
pembelajuan berdasarkan pendekatan keterampilan proses, yakni:
1) Mengamati ; Siswa harus mampu menggunakan alat-alat inderanya : melihat,
mendengar, meraba, mencium dan merasa. Dengan kemampuan ini, dia
dapat mengumpulkan data / informasi yang relevan dengan kepentingan
belajarnya.
2) Menggolongkan / mengklasifikasikan ; Siswa harus terampil mengenal
perbedaan dan persaman atas hasil pengamatannya terhadap suatu objek,
serta mengadakan klasifikasi berdasarkan ciri khusus, tujuan, atau
kepentingan tertentu. Pembuatan klasifikasi memerlukan kecermatan dalam
melakukan pengamatan.
3) Menafsirkan (meginterpretasikan) ; Siswa harus memiliki keterampilan
menafsirkan fakta, data, informasi, atau peristiwa. Keterampilan ini
diperlukan untuk melakukan percobaan atau penelitian sederhana.
4) Meramalkan ; Siswa harus memiliki keterampilan menghubungkan data,
fakta, dan informasi. Siswa dituntut terampil mengantisipasi dan
meramalkan kegiatan atau peristiwa yang mungkin terjadi pada masa yang
akan datang.
5) Menerapkem; siswa harus mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari
dan dikuasai ke dalam situasi dan pengalaman baru. Keterampilan ini

171
digunakan untuk menjelaskan tentang apa yang akan terjadi dan dialami oleh
siswa dalam proses belajarnya.
6) Merencanakan penelitian; siswa harus mampu menentukan masalah dan
variabel-vatiabel yang akan diteliti, tujuan, dan ruang lingkup penelitian. Dia
harus menentukan langkah-langkah kerja pengumpulan dan pengolahan data
serta prosedur melakukan penelitian.
7) Mengkomunikasikan; Siswa harus mampu menyusun dan menyampaikan
laporan secara sistimatis dan menyampaikan perolehannya, baik proses
maupun hasil belajarnya kepada siswa lain dan peminat lainnya.

5.3.4 Penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran


Siswa bentuk penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran adalah
pemecahan masalah atau inquiry (penemuan).
1) Pengertian pemecahan masalah
Masalah pads. hakekatnya merupakan bagian dalam kehidupan manusia.
Tiap orang tidak pernah luput dari masalah, baik yang bersifat sederhana
maupun yang sulit. Masalah yang sederhana dapat dijawab melalui proses
berpikir yang sederhana, sedangkan masalah yang rumit memerlukan
langkah-langkah pemecahan yang rumit pula. Masalah pada hakekatnya
adalah mengundang jawaban. Suatu pertanyaan mempunyai peluang tertentu
untuk dijawab dengan tepat, bila pertanyaan iu dirumuskan dengan baik dan
sistematis. lni berarti, pemecahan suatu masalah menuntut kemampuan
tertentu pada diri individu yang hendak memecahkan masalah tersebut.
Pemecahan masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam
menemukan suatu nasalah dan memecahkannya berdasarkan data dan
informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan
cermat. Proses penecahan masalah memberikan kesempatan peserta didik
berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri
informasil data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, read, atau kesimpulan.
Dengan kata lain, pemecahan masalah menuntut kemampuan memproses
infomasi untuk membuat keputusan tertentu.

172
Kemampuan memecahkan masalah harus ditunjang oleh kemampuan
penalaran, yakni kemampuan melihat hubungan sebab akibat. Kemampuan
penalaran memerlukam upaya peningkatan kemampuan dalam mengamati,
bertanya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Pemikiran
terarah pada hal-hal yang bertalian dengan upaya mencari jawaban terhadap
persoalan yang dibadapi. Upaya ini memerlukan berpikir kneatif dan
kemampuan menjajaki bidang-bidang baru serta menghasilkan temuan-
temuan baru.
Para peserta didik harus dilatih tentang tata cara memecahkan masalah
dengan mengembangkan kemampun berpikir yang terarah untuk
menghasilkan gagasan mengenai berbagai kemungkinan memecahkan
masalah, dalam kaitannya dengan upaya mencapai tujuan.

2) Langkah-langkah pemecahan masalah


Dalam proses pembelajaran, di samping perlunya penalaran yang baik,
tetapi juga penting menguasai lingkungan langkah-langkah memecahkan
masalah secara tepat.
Langkah-lmgkah tersebut pada umumnya terdiri dari
1. Siswa menghadapi masalah, artinya dia menyadari adanya suatu masalah
tertentu;
2. Siswa merumuskan masalah, artinya menjabarkan masalah dengan jelas
dan spesifikasi;
3. Siswa merumuskan hipotesis, artinya merumuskan kemungkinan-
kemungkinan jawaban atas masalah tersebut, yang masih perlu diuji
kebenarannya;
4. Siswa mengumpulkan dan mengolah data / informasi dengan teknik dan
prosedur tertentu;

173
BAB V1
KONSEP DASAR EVALUASI BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN

6.1. PENGERTIAN KEDUDUKAN DAN SYARAT-SYARAT UMUM


EVALUASI
Mengapa evaluasi hasil belajar pembelajaran perlu dilakukan? Karena
dengan evaluasilah, akan diketahui apakah proses belajar mengajar, dimana
pembelajaran dan guru berinteraksi, telah mencapai sasaran yang dikehendaki
ataukah belum. Secara rinci, alasan-alasan bagi perlunya evaluasi pembelajar
adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan mengajar guru akan diketahui, setelah diadakan evaluasi.
2. Taraf penguasa pembelajaran terhadap materi pelajaran yang diberikan akan
diketahui setelah diadakan evaluasi.
3. Letak kesulitan pembelajar akan diketahui setelah diadakan evaluasi.
4. Tingkat kesukaran dan kemudahan bahan pelajaran yang diberikan
pembalajar akan diketahui setelah diadakan evaluasi.
5. Termanfaatkan didalmya sarana dan fasilitas pendidikan akan diketahui
setelah adanya evaluasi.
6. Remidi-remidi spa saja yang dapat diberikan kepada pembelajaran yang
mengalami kesulitan juga. akan diketalmi setelah melihat hasil
7. Tujuan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan akan diketabui seberapa
tingkat pencapaiannya setelah diadakan evaluasi.
8. Pembelajar dapat dikelompokkan kedalam kelompok mana juga akan
diketahui setelah evaluasi.
9. Pembelajar maua yang perlu mendapatkan prioritas dalam bimbingan
penyuluhan, dan mana yang tidak menjadi prioritas akan diketahui setelah
evaluasi.
Jelaslah bahwa evaIuasi sangat penting dilakukan guna memberikan
pelayanan sebaik mungkin, dari lebih jauh sangat penting bagi pencapaian
tujuan pendidikan.

174
6.1.1 Pengertian evaluasi
Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan dari kata evaluation dalam
bahasa inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian. Kata
kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang
yang menilai atau menaksir disebut sebagai evaluator (Echols, 1975).
Secara harfiah kata evaluasi berasal dan bahasa Inggris Evaluation;
dalam bahasa Arab: al-taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti: pnilaian. Akar
katanya adalah value; dalam Babasa Arab ; al-qimah; dalam bahasa Indonesia
berarti; nilai. Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan
(educationnal evaluation = al-Taqdir al-Tarbawiy) dapat diartikan sebagai
penilaian-penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Adapun dui segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt
dam Gerald W. Brown (1977): Evaluation refer to act or process to determining
the value of some thing. Menurut definisi int, maka istilah evaluasi itu menunjuk
kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu. Apabila definisi evaluasi yang dikemukakan oleh
Edwin Wandt dan geral W Brown itu untuk memberikan definisi tentang
evaluasi pendidikan, maka evaluasi pendidikan itu dapat diberi pengertian
sebagai; suatu tindakan atau kegiatan (yang dilaksanakan dengan maksud) atau
suatia proses (yang berlangsung dalam rangka) menetukan nulai dari segala
sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan,
atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Atau singkatnya: Evaluasi pendidikan
adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat
diketahui mutu atau hasil-hasilnya.
Mengingat sangat luasnya pembicaraan tentang penilaian pendidikan,
maka dalam buku ini, pembicaraan hanya akan dibatasi pada penilaian atau
evaluasi yang dilaksanakan di sekolah. Berbkara tentang pengertian evaluasi
pendidikan, di tanah air kita, lembaga administrasi negara mengemukakan
batasan mengenai Evaluasi Pendidikan sebagai berikut:

175
1) Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibanding tujuan
yang telah ditentukan;
2) Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi
penyempurnaan pendidikan
Secara teminologis, evaluasi dikemukak oleh para ahli sebagai berikut:
1. Grounlund (1976) mengartikan evaluasi sebagai berikut:
.... a systematk process of determining the extent to whkh instructional
objectives are achieved by pupil.
2. Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan berkenaan dengan
proses kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu.
3. Raka Joni (1975) mengartikan evaluasi sebagai berikut: 'suatu proses dimana
kita mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan
mempertimbangkan patokan-patokan tertentu, patokan-patokan mana
mengandung pengertian baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi
syarat tidak memenuhi symat dengan perkataan lain kita menggunakan
Value Judgement.
Berdasarkan pengertian pengertian diatas, sangatlah jelas bahwa evaluasi
adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menentukan patokan-
patokan tertentu untuk mencapai suatu Tujuan. Evaluasi hasil belajar
pembelajaran adalah suatu proses menentukan nilai prestasi belajar pembelajar
dengan menentukan patokan patokan tertentu guna mencapai tujuan pengajaran
yang telah ditentukan sebelumnya.

6.1.2 Perbedaan Pengukuran dan Penilaian


Sebelum dilakukan evaluasi terkhir dahulu dilakukan pengukuran.Secara
etimologis, pengukuran merupakan terjemahan darl measurement (Echols,1975).
Secara terminologis, pengukuran diartikan sebagai suatu usaha untuk
mengetalmi sesuatu sebagaimana adanya. Oleh karena sesuatu yang diukur itu
bermaksud diketahui secara apa adanya, maka dalam pengukuran sedikitpun

176
penafsiran mengenai sesuatu. Sebagaimana adanya mengandung sesuatu
pengertian bahwa sesuatu yang diukur tidak holeh dibandingkan dengan sesuatu
yang lainnya.
Jika pengertian evaluasi dan pengukuran tersebut ditarik ke setting
belajar dan pembelajaran, maka dapat dikemukakan pengertian sebagai berikut:
1. Pengukuran adalah suatu upaya atau aktivitas yang dimaksudkan untuk
mengetahui belajar pembelajaran sebagaimana adanya, meliputi: hasil
belajar pembelajaran. proses belajar pembelajaran, mereka yang terlibat
dalam belajar pembelajaran (pembelajar dan guru).
2. Penilaian atau evaluasi adalah suatu aktivitas yang bermaksud menentukan
nilai belajar pembelajaran (baik belumnya/tidaknya, berhasil
belumnya/tidaknya, memadai belum/tidaknya, belajar pembelajaran, yang
meliputi hasil belajar, proses belajar dan mereka yang terlibat dalam belajar
pembelajaran ).
Oleh karena pengukuran adalah salah satu kegiatan yang berada dalam
evaluasi, maka orang yang mengevaluasi sebenamya juga melakukan aktivitas
pengukuran. Evaluasi pendidikan. dengan demikian juga mencakup penguluaran
pendidikan. Evaluasi belajar pembelajaran juga mencakup pengukuran belajar
dan pembelajaran.

6.1.3 Pengertian Evaluasi Dalam Proses Pendidikan


Berbkara tentang pengertian istilah evaluasi pendidikan ditanah air kita,
Lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi
pendidikan sebagai berikut: Evaluasi pendidikan adalah:
1. Proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan
dengan tujuan yang telah ditentukan
2. Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi
penyempurnaan pendidikan

177
Bertitik tolak dari uraian diatas, maka apabila defenisi tentang evaluasi
pendidikan itu dituangkan dalm bentuk bagan berikut.
Bagan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa dalam proses
penilaian dilakukan pembandingan antara informasi- infomasi yang telah
berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian diambil keputusan
atau dirumuskan kebijaksanaan tertentu. Kriteria atau tolak ukur yang dipegangi
tidak lain adalah tujuan yang sudah ditentikan terlebih dahulu sebelum kegiatan
pendidikan itu dilaksanakan..

BAGAN TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN

Tujuan Proses / Hasil-hasil


Pendidikan Kegiatan pendidikan
yang telah Pencapaian yang telah
ditentukan Tujuan dapat dicapai

6.2 KEDUDUKAN EVALUASI DALAM PROSES PENDIDIKAN


Kedudukan evaluasi dalam belajar dari pembelajaran sungguh sangat
penting, dan bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisalikan
dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran. Penting karena dengan
evaluasi atom diketahui apakah belajar dan pembelajaran tersebut telah
mencapai tujuuan ataukah belum. Dengan evaluasi juga akan diketahui faktor-
faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tersebut
berhasil dart faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan
pembelajaran tidak atau belum berhasil. Tidak hanya itu, dengan evaluasi juga
diketahui dimanakah letak kegagalan dan kesuksesan belajar dan pembelajaran.
Padahal dikehuinya hal tersebut, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam
mengadakan perbaikan belajar duo pembelajaran.
Evaluasi juga punya kedudukan yang tak terpisahkan dari belajar dan
pembelajaran secara keseluruhan, karena strategi belajar dan pembelajaran,

178
proses belajar dan pembelajaran menempatkan evaluasi sebagai salah satu
langkahnya. Hampir semua ahli prosedur sistem instruksional menempatkan
evaluasi ini sebagai langkah-langkahnya. Perhatikan pula langkah-langkah
pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli berikut, pasti kita akan tahu
betapa tidak dapat terpisahkan evaluasi tersebut dengan keseluruhan proses
belajar dan pembelajaran.
1. Mentout Kauffman, langkah-langkah yang harus ditempuh dalitm belajar
pembelajaran adalah dengan menggunakan model pemecahan masalah
sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah.
b. Menentukan syarat-syarat dan altematif pemecahan masalah
c. Memilih strategi pemecahan masalah.
d. Melaksanakan pemecahan msalah.
e. Menentukan keefektifan hasil
f. Mengadakan revisi atas keseluruhan langkah a sampai dengan
Imgkah c.
Jelaslah bahwa langkah c (menentukan keefektifan hasil) pada dasarnya
tidak berbeda dengan evaluasi itu sendiri. Dan dari langkah menentukan
keefektifan basil tersebut baru dapat dilakukan revisi atas keseluruhan
langkah sebelumnya.
2. Menurut Glaser, proses belajar pembelajaran haruslah menempuh prosedur-
prosedur sebagai berikut :
a. Merumuskan teori pembelajaran (instuksional objectives) b.
Memutuskan situasi permulaan siswa
b. Menentukan prosedur pembelajaran.
c. Penilaian terhadap perfomansi
d. Umpan balik.
Jelaslah bahwa evaluasi (sebagaimana pada langgkah d) sangat
diperlukan dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses

179
belajar pembelajaran. Hal serupa dapat juga dibaca pada prosedur belajar
pembelajaran yang dikemukakan para ahli berikut.
3. Menurut Kemp
a. topcs and general purposes.
b. student characteristks
c. learning objectives
d. Subject content.
e. Pre test
f. Teaching/ leaming activities and resources
g. Evaluation.
4. Menumt Gelder
a. Merumuskan tujuan instruksional.
b. Analisis situasi.
c. Menentukan aktivitas guru, aktivitas pembelajar, mata
pembelajaran dan alat bantu pembelajaran.
d. Evaluasi
5. Menurut model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem lnstruksional):
a. Merumuskan tujuan
b. Mengembangkan alat evaluasi
c. Merumuskan kegiatan belajar pembelajaran
d. Mengembangkan program kegiatan
e. Pelaksanaan kegiatan belajar pembelajaran.

180
181