Anda di halaman 1dari 12

RE-FORMURLASI LAYANAN ANGKUTAN KOTA DALAM

PEMBANGUNAN SISTEM LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK


PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN.

Makalah Individu
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Administrasi Pembangunan Daerah
Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah















Oleh :
AHMAD ZAYYIDIN ANSORI
(NPM. 14.1.1.55.1.008)




SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
BANDUNG
2014



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-
Nya makalah RE-FORMURLASI LAYANAN ANGKUTAN KOTA DALAM
PEMBANGUNAN SISTEM LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN telah selesai disusun tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas individu Mata Kuliah
Administrasi Pembangunan Daerah Semester Ganjil Tahun 2014 pada Program Studi
Manajemen Pembangunan Daerah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA-LAN)
Bandung. Dalam penyusunan tugas ini, penyusun telah memperoleh bimbingan, bantuan dan
dukungan dari Ibu Indraswari, Ph.D selaku dosen Mata Kuliah Administrasi Pembangunan
Daerah dan rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana STIA-LAN Bandung. Untuk itu,
penyusun sampaikan terima kasih, semoga bimbingan, bantuan dan dukungan yang telah
diberikan dapat menjadi amal kebaikan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh sebab itu,
saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi perbaikan
makalah ini ataupun perbaikan manakala memperoleh tugas pembuatan makalah di kemudian
hari.
Akhirnya, penyusun berharap semoga tugas ini dapat berguna bagi kita semua,
terutama dalam memperkaya bahan diskusi mengenai bidang studi Administrasi
Pembangunan Daerah.

Penyusun,

Ahmad Zayyidin Ansori



PENDAHULUAN
Isu kebijakan pengembangan sistem transportasi sekarang dan ke depan adalah
bagaimana setiap negara memainkan perannya dalam bingkai sistem transportasi
berkelanjutan (sustainable transportation). Wacana ini berawal dari keprihatinan akan
interaksi antara transportasi dan lingkungan. Kesadaran bahwa kualitas lingkungan telah
terpengaruh secara luar biasa oleh aktivitas transportasi, yang terus berakumulasi dengan
berjalannya waktu, membangkitkan perhatian banyak kalangan akan kekeliruan yang telah
dipraktekkan selama ini dalam penentuan kebijakan dan perencanaan. Praktek pengelolaan
infrastruktur transportasi di satu pihak serta kebutuhan masyarakat untuk melaksanakan
aktivitasnya di pihak lain tidak mungkin diteruskan seperti sebelumnya, melainkan perlu
diamati dengan kacamata yang berbeda.
Berkaitan dengan hal tersebut, munculnya berbagai wacana di beberapa media tentang
kebutuhan akan sistem transportasi alternatif untuk menjawab tantangan kelangsungan
pelaksanaan agenda pembangunan yang tidak bisa kita pungkiri dimana sampai saat ini frame
agenda pembangunan di berbagai jenjang, mulai dari pusat, provinsi, dan kabupaten/kota
terkesan selalu menempatkan pengawalan ekstra ketat terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tetapi, apabila diamati secara seksama tentu kita bisa sepakat bahwa seluruh agenda
pembangunan tersebut belum mampu untuk memberikan prioritas terhadap kualitas dari
pertumbuhan ekonomi yang dicapai.
Pembangunan yang hanya memprioritaskan pertumbuhan ekonomi ternyata
menghadirkan berbagai dampak negatif, khususnya dampak terhadap kualitas lingkungan.
Ancaman terhadap lingkungan di perkotaan dapat dilihat dari tidak terkendalinya jumlah
kendaraan yang beroperasi untuk menopang pergerakan aktivitas ekonomi, dan itu
menghadirkan ancaman polusi yang cukup tinggi. Disamping itu, tidak terkendalinya jumlah
kendaraan juga berdampak pada buruknya layanan transportasi publik yang secara tidak
langsung menjadi penyebab munculnya kesenjangan ekonomi yang cukup lebar di
masyarakat, dimana masyarakat secara umum tidak memiliki akses yang sama untuk
mendapatkan layanan transportasi yang berkualitas untuk dapat menjalankan aktivitas
ekonominya.
Berkaitan dengan hal tersebut, kita mendapati banyaknya wacana tentang penerapan
beberapa moda transportasi alternatif yang sebagian besar cukup sukses diterapkan di
beberapa negara maju, seperti monorail, MRT, dan lain sebagainya. Namun demikian,
penerapan pengalaman beberapa negara dalam menyediakan transportasi massal tidak serta
merta dapat diterapkan begitu saja di Indonesia, namun ada hal yang lebih penting dari itu
bahwa perlu dilakukannya pembangunan beberapa bagian yang dipandang cukup penting
sebagai unsur penopang yang terintegrasi sehingga penerapan beberapa moda transportasi
alternatif tersebut dapat memberikan dampak positif sebagaimana yang diharapkan.
Unsur penopang yang dimaksud diatas adalah beberapa moda transportasi yang ada
saat ini dan telah menjadi ciri khas dari suatu daerah, bahkan telah menjadi salah satu sumber
mata pencaharian sebagian masyarakatnya, seperti contohnya angkutan kota. Penerapan
moda transportasi baru yang dipandang canggih yang digadang-gadang menjadi solusi bagi
layanan transportasi publik di perkotaan tidak akan mampu berdiri sendiri dengan
menghilangkan beberapa moda transportasi yang akan menopangnya. Karena, moda
transportasi baru yang ditawarkan hanyalah sebagai bagian dari solusi saja, namun yang lebih
penting dari itu untuk mengatasi tantangan di bidang layanan transportasi publik adalah
dengan melakukan re-formulasi sistem layanan transportasi publik itu sendiri sebagai satu
kesatuan yang utuh.

LATAR BELAKANG
Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, kota Bandung sebagai
salah satu kota besar di Indonesia menghadapi permasalahan yang sama dengan beberapa
kota besar lainnya, salah satunya kemacetan. Kemacetan yang terjadi di beberapa kota besar
di Indonesia seakan hanya menjadi simbol dari pesatnya aktivitas ekonomi yang
dibanggakan, padahal hal itu secara tidak langsung akan memberikan dampak buruk di
kemudian hari apabila tidak dilakukan pengendalian secara terencana.
Rencana pembangunan Monorail Bandung Raya yang telah dicanangkan oleh
Pemerintah Provinsi Jawa Barat digadang-gadang akan menjadi solusi untuk mengatasi
kemacetan di Kota Bandung. Namun, proyek Monorail Bandung Raya tentunya tidak akan
mampu mengatasi tantangan layanan transportasi publik di kota Bandung secara menyeluruh
apabila beberapa moda transportasi lain yang bermasalah tidak dilakukan penanganan secara
terintegrasi.
Angkutan Kota sebagai salah satu moda transportasi populer bagi kebanyakan
masyarakat dengan jumlah yang cukup banyak menjadi salah satu penyumbang masalah
kemacetan di Kota Bandung. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bandung pada tahun
2011, jumlah angkot yang beroperasi tercatat sebanyak 5.521 kendaraan yang melayani 38
rute. Namun, Kehadiran angkot dalam jumlah tersebut ternyata masih belum dapat menjawab
kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi publik, sehingga mendorong masyarakat
memprioritaskan penggunaan kendaraan pribadi dalam aktivitas kesehariannya dimana hal
tersebut secara tidak langsung menjadi salah satu faktor penyumbang kemacetan yang terjadi.
Tentunya bukanlah solusi ketika kita harus memutuskan pemberhentian operasional
angkutan kota, karena hal itu hanya akan menimbulkan permasalahan baru yang cukup
krusial, diantaranya akan mengakibatkan hilangnya pekerjaan beberapa pengemudi yang
menambah tingkat penganguran dan kemiskinan. Tetapi, langkah yang harus diambil adalah
dengan memperbaiki sistem layanan transportasi angkutan kota sebagai salah satu moda
transportasi publik yang telah ada.
Namun demikian, upaya untuk memperbaiki sistem layanan angkutan kota harus
dilakukan melalui pendekatan paradigma baru sebagai landasan perencanaan pembangunan
jangka panjang, yaitu pendekatan pembangunan berkelanjutan sebagai cara pandang untuk
memecahkan solusi dalam rangka panjang tanpa menimbulkan permasalahan krusial di masa
yang akan datang, yaitu pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkualitas
yang berwawasan penciptaan daya dukung lingkungan berkelanjutan serta pelibatan
masyarakat dalam pelaksanaanya.
Berangkat dari hal diatas hal perlu dilakukan adalah melakukan re-formulasi sistem
layanan angkutan kota sebagai bagian dari pembangunan layanan transportasi publik untuk
pembangunan berkelanjutan sehingga akan memberikan kontribusi terhadap terwujudnya
kota bandung sebagai kota jasa dan kota wisata berdaya saing melalui layanan transportasi
publik yang paripurna.

RUMUSAN MASALAH
Melalui latar belakang tersebut, tentunya kita dapat memetakan yang menjadi pokok
pembahasan pada makalah sederhana ini terkait dengan re-formulasi sistem layanan angkutan
kota sebagai bagian dari pembangunan sistem layanan transportasi publik untuk
pembangunan berkelanjutan, yaitu sebagai berikut :
1. Reformasi Pengelolaan Angkutan Kota
2. Reformulasi sistem layanan Angkutan Kota
3. Mewujudkan Angkutan Kota Sebagai moda transportasi publik yang ramah
lingkungan.

PEMBAHASAN
Permasalahan layanan transportasi publik di kota bandung selalu melibatkan angkutan
kota sebagai bagian penyebab masalah. Kemacetan lalulintas acap kali dicap sebagai bagian
dari dampak kehadiran angkutan kota. Namun, tidak bisa kita pungkiri bahwa sesungguhnya
angkutan kota yang telah menjadi salah satu moda transportasi di kota bandung merupakan
pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk mendukung mobilitas dari aktivitas
kesehariannya.
Disamping itu, jumlah angkutan kota yang beroperasi di kota Bandung bukan hanya
dipandang terlalu banyak dari segi jumlah, namun lebih dari itu bahwa bagian terbesar dari
jumlah tersebut ternyata terdapat beberapa kendaraan yang tidak memenuhi standar ramah
lingkungan meski telah diterbitkan aturan yang mewajibkan setiap kendaraan yang melintas
di kota Bandung harus lulus uji emisi sebagaiaman yang telah ditetapkan.
Adanya kendaraan yang tidak memenuhi standar ramah lingkungan dapat dipandang
sebagai ancaman bagi kelestarian lingkungan, dan hal itu akan berkontribusi terhadap
buruknya kualitas udara dan lingkungan di kota Bandung. Meskipun angkutan kota telah
menjadi salah satu pilihan lapangan pekerjaan yang tersedia bagi sebagian masyarakat,
namun tentunya harus dilakukan penyelarasan dengan upaya pelindungan kualitas
lingkungan, khususnya dalam pengendalian polusi udara.
Pendekatan pembangunan berkelanjutan sebagai paradigma baru dalam agenda
pembangunan ke depan menempatkan perhatian terhadap daya dukung lingkungan untuk
pembangunan berkelanjutan. Hal itu dimaksudkan agar agenda pembangunan yang
dilaksanakan saat ini dapat dilaksanakan secara berkualitas untuk tetap dirasakan manfaatnya
pada masa-masa yang akan datang oleh generasi yang hadir kemudian.

Sustainable Development Goals sebagai paradigma pembangunan
Seiring dengan akan berakhirnya era Millenium Development Goals (MDGs), para
pakar di dunia melalui berbagai pertemuan yang dilakukan tengah merumuskan pendekatan
pembangunan dunia pasca-MDGs. Hal itu sangat penting mengingat tantangan pembangunan
ke depan terlihat semakin kompleks, disamping dunia masih berusaha memerangi
kemiskinan, juga muncul tantangan yang tak kalah hebatnya, yaitu isu lingkungan sebagai
ekosistem manusia. Sehingga, muncul pemikiran untuk melakukan pendekatan baru dalam
pembangunan di dunia, yaitu pendekatan yang mencerminkan perwujudan daya dukung
lingkungan untuk pembanguna berkelanjutan atau yang dikenal dengan Sustainable
Development Goals (SDGs).
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis,
masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan
pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987.
Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah
bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan
pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Banyak laporan PBB, yang terakhir adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang
menjabarkan pembangunan berkelanjutan sebagai terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi,
sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat.
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih
luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan:
pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-
dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga hal dimensi
tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.
Scheme of sustainable development: at the confluence of three preoccupations.








Skema pembangunan berkelanjutan

Pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO,
2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa
"...keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi
alam". Dengan demikian "pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan
ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral,
dan spiritual". dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari
lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan Hijau pada umumnya dibedakan dari pembangunan bekelanjutan,
dimana pembangunan Hijau lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan di atas
pertimbangan ekonomi dan budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen
bahwa konsep ini menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana pemikiran
mutakhir dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh, pembangunan pabrik
dengan teknologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan biaya perawatan tinggi
sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumber daya keuangan yang terbatas.

Re-Formulasi Angkutan Kota sebagai bagian dari sistem layanan transportasi public
dalam persfektif pembangunan berkelanjutan
Untuk mengatasi salah satu masalah transportasi di perkotan tidak dapat dilakukan
dengan menghapus salah satu moda dan menghadirkan moda lain yang lebih baik, tetapi
sejatinya pembangunan sistem layanan transportasi publik untuk memberikan pelayanan yang
lebih berkualitas bagi masyarakat adalah dengan menerapkan pendekatan pembangunan
berkelanjutan pada bidang pembangunan tersebut.
Angkutan perkotaan yang menjadi topik bahasan dalam makalah sederhana ini adalah
salah satu target yang harus dilakukan pembenahan dalam agenda pembangunan ke depan.
Pembenahan angkutan perkotaan tidak harus dilakukan dengan seksama melalui pendekatan
pembangunan berkelanjutan bukan dikarenakan Angkutan perkotaan merupakan salah satu
moda transportasi yang tersedia saat ini saja, namun ia merupakan salah satu lahan pekerjaan
bagi sebagain masyarakan.
Agenda pembanguna di bidang transportasi melalui pembenahan angkutan kota harus
dilakukan dalam konteks re-formulasi sistem layanannya, sehingga aspek pertumbuhan
ekonomi, kelestarian lingkungan, dan perlindungan budaya lokal dapat menjadi unsur yang
terintegerasi didalamnya.
Adapun gagasan re-formulasi sistem layanan angkutan perkotaan dilakukan dengan
menempatkan bidang-bidang garapan yang menjadi konsentrasi, yaitu :
a. Reformasi Pengelolaan Angkutan Kota
Reformasi pengelolaan angkutan kota yang dimaksud adalah upaya untuk melakukan
pembenahan terhadap kepemilikan atas angkutan perkotaan itu sendiri. Selama ini, angkutan
kota memang menjadi milik perorangan dari masyarakat, bahkan dimiliki oleh beberapa
gelintir orang yang memiliki beberapa buah dan disebut sebagai Juragan Angkot.
Kepemilikan perorang terhadap angkutan kota memang telah membuka lahan
pekerjaan bagi sebagian orang, dimana sebagian mereka mendapatkan penghasilan sebagai
pemilik, dan sebagian lagi mendapatkan penghasilan sebagai operator. Tetapi, dalam
kenyataannya hal itu menimbulkan beberapa permasalahan baru akibat kesepakatan
kerjasama antara kedua belak pihak diatas, yaitu adanya upaya berlebihan untuk mengejar
setoran dari operator yang telah menjadi kesepakatan pengoperasian, dimana hal itu selama
ini kita mendapati bahwa angkutan kota sering terkesan berlomba-lomba dengan sesama
rekan pengemudi untuk mendapatkan penumpang, sehingga akan terjadi sistem
pengoperasian yang tidak mengindahkan aturan lalulintas, bahkan fenomena kemacetan
akibat angkutan kota ngetem di sembarang haruslah kita akui bersama.
Lebih dari itu, sistem operasi angkutan perkotaan melalui kesepakatan kerja seperti
diatas mendorong para pengemudi angkot sebagai penyumbang polusi terhadap lingkungan,
dimana tak jarang para juragan angkot berusaha meminimalisir biaya perawatan kendaraan,
sehingga telah mengakibatkan munculnya beberapa angkutan perkotaan yang tidak
memenuhi standar emisi yang dibenarkan menurut aturan.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya reformasi kepemilikian angkota dari asalnya milik
pribadi menjadi milik suatu korporasi pemerintah. Tentunya kita akan bertanya bagaimana itu
dapat dilakukan sedangkan potensi penolakan dari masyarakat selaku pemilik dan pengemudi
akan muncul. Reformasi yang dimaksud adalah tidak menghilangkan kepemilikan
masyarakat terhadap angkot, namun pada pelaksanaanya masyarakat pemilik angkot akan
dijadikan sebagai pemilik saham dari korporasi yang dibentuk untuk menjalankan operasional
layanan angkutan perkotaan tersebut.
Melalui penanganan korporasi secara profesional tentunya akan memberikan
keuntungan bagi pemilik maupun operator angkot saat ini, dimana sistem rencana bisnis dari
layanan moda transportasi ini akan menjadi lebih jelas, sehingga operator maupun pemilik
akan mendapatkan keuntungan materil sebagai imbal bagi hasil pengelolaan oleh korporasi.
Disamping itu, pengelolaan korporasi akan mendorong adanya upaya yang
profesional dalam hal perawatan kendaraan yang diioperasikan, sehingga pengendalian emisi
gas buang dari angkutan perkotaan akan mudah diwujudkan. Disamping itu, pengendalian
emisi juga dapat dilakukan karena adanya pengendalian pertumbuhan jumlah angkutan kota
yang selama ini terkesan radikal karena kepemilikan yang bersifat pribadi.
b. Reformulasi sistem layanan Angkutan Kota
Setelah reformasi kepemilikan angkot, tentunya harus diiringi dengan reformulasi
sistem layanannya, dimana pengelolaan korporasi akan memudahkan untuk melakukan
pengaturan ulang rute layanan angkutan perkotaan itu sendiri, dimana sistem rute yang
ditetapkan akan berlaku dinamis menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dari waktu ke
waktu, sehingga beberapa rute yang selama ini dipandang tidak menguntungkan niscaya akan
dapat diatasi dengan melakukan pengaturan ulang.
Pengaturan ulang rute juga berdampak baik bagi masyarakat selaku pengguna jasa,
dimana pendekatan pengaturan rute dilakukan dengan pendekatan Angkot mendekati
penumpang bukan penumpang mendekati angkot, dengan pengertian dimana selama ini
beberapa daerah terkesan sangat sulit mendapatkan akses layanan angkot.
Selanjutnya, reformulasi sistem layanan angkot yang menjadi solusi pembahasan pada
makalah ini adalah dengan merubah sistem layanan angkot saat ini menjadi seperti sistem
layanan seperti bus way yang dioperasikan di jakarta. Angkutan kota hanya diperbolehkan
berhenti dan mengambil penumpang di sembarang tempat. Selanjutnya, sistem operasi seperti
ini akan menghindarkan terjadinya penumpukan antrian angkot di satu titik yang menjadi
penyebab kemacetan saat ini, karena sistem operasi yang akan dijalankan menjadi sistem
shutle seperti busway
c. Mewujudkan Angkutan Kota Sebagai moda transportasi publik yang ramah lingkungan.
Upaya mewujudkan kelestarian lingkungan senantiasa menempatkan sistem operasi
layanan angkutan kota saat ini menjadi salah satu ancamannya, dimana sistem operasi saat ini
mengakibatkan tingginya sumbangan polusi yang berasal dari gas buang angkutan kota.
Untuk itu, melalui reformasi kepemilikian angkot dan reformulasi layanannya akan
mendorong sistem perawatan kendaraan angkutan kota untuk dapat memenuhi standar
kelaikan kendaraan sesuai dengan aturan pengendalian emisi gas buang.

PENUTUP
Upaya reformulasi sistem layanan angkutan perkotaan melalui pendekatan
pembangunan yang berkelanjutan dipandang sebagai solusi tepat dalam menghadirkan sistem
layanan transportasi publik berkualitas. Reformulasi tersebut juga akan menjadikan operasi
layanan angkutan perkotaan jauh lebih menguntungkan dari sisi ekonomi, begitupun juga dari
sisi lingkungan akan sangat menguntungkan kita bersama, karena akan mampu dilakukan
upaya pengendalian tingkat polusi dari gas buang kendaraan tersebut.
Namun demikian, tentunya gagasan ini memerlukan kajian lebih lanjut serta
pembahasan seksama dari berbagai pihak, dan dukungan politik dan regulasi pun mutlak
dibutuhkan.
Wallahu Alam.













DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin, S.Ag., M.Si, 2012. Pengantar Administrasi Pembangunan. Konsep, Teori dan
implikasinya di Era Reformasi. Penerbit Alfabeta, Bandung. Hal. 89.Hal. 103
Dishub dan ITB akan Lakukan OD Survey Trayek Angkot di Kota Bandung, 2005. Diundung
pada tanggal 29 Mei 2014. Tersedia di http://www.pikiran-rakyat.com/node/141310
Kates, Robert W. Parris, Thomas M. And Leiserowitz, Anthony A, What Is Sustainable
Development ? Artikel yang dipublikasikan pada bulan April 2005 tentang isu
lingkungan. Lebih lengkapnya bisa dilihat di http://www.heldref.org/env.php
Sustainable Development Goals, http://elib.unikom.ac.id/ diunduh pada tanggal 28 Mei 2014