Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Beberapa sumber energi terbaharukan disarankan sebagai
alternatif untuk mengatasi krisis energi saat ini diantaranya adalah
sumber energi surya, biomassa, angin dan tenaga air. Energi surya
menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan karena
sangat menjanjikan antara lain ditinjau dari segi kelimpahannya
di alam, bersih, aman dan memungkinkan sebagai pembangkit
energi di daerah-daerah terpencil (Mayo, 2004). Alasan- alasan
lain mengapa energi suya merupakan energi alternatif yang sangat
menjanjikan adalah radiasi energi surya yang mencapai
permukaan bumi berkisar 1 x 10
5
TW atau dengan nilai teknis
10.000 TW. Nilai ini terbesar dibandingkan sumber-sumber
energi alternatif lain. Selama 1,5 jam penyinaran cahaya matahari
secara global ekivalen dengan 13 TW selama setahun (Grtzel,
2007). Radiasi matahari secara terus-menerus terhadap
permukaan bumi menghasilkan energi total yang cukup untuk
memenuhi 10.000 kali konsumsi energi global per tahun. Energi
dari cahaya matahari sendiri cukup untuk menghasilkan tenaga
1.700 kWh untuk tiap meter persegi lahan (LoCascio, 2002).
Perkembangan sistem konversi energi surya menjadi
energi listrik berlangsung melalui sistem yang disebut sebagai sel
fotovoltaik. Sel surya merupakan suatu mekanisme yang bekerja
berdasarkan efek fotovoltaik dimana foton dari radiasi diserap
kemudian dikonversikan (diubah) menjadi energi listrik. Efek
voltaik sendiri adalah suatu peristiwa terciptanya muatan listrik
didalam bahan sebagai akibat penyerapan (absorbsi) cahaya dari
bahan tersebut (Malvino, 1986). Sistem fotovoltaik non-
konvensional yang telah diteliti dan paling terkenal adalah sistem
fotovoltaik generasi ketiga yang dikembangkan oleh Michael
Grtzel pada 1991 dimana sistem ini dinamakan sel surya
pewarna tersensitisasi (dye sensitised solar cell) (Halme, 2002),


2

yang menunjukkan absorpsi optis dan proses pemisahan muatan
melalui asosiasi suatu sensitizer sebagai bahan penyerap cahaya
dengan suatu semikonduktor nanokristalin celah pita lebar
(Grtzel, 2003).
Sel surya pewarna tersensitisasi (sspt) merupakan salah
satu kandidat yang paling menjanjikan sebagai sel surya
berkinerja tinggi karena proses pembuatan yang sederhana dan
biaya yang relatif rendah (ORegan dan Grtzel, 1991). DSSC
pertama kali dikembangkan oleh Gratezel pada tahun 1991. Sel
ini menyerupai fuel cells atau baterai yang memiliki komposisi
dua elektroda dan larutan elektrolit. Perbedaan utama sel
fotoelektrokimia ini dengan sel yang lain adalah energi cahaya
yang mendorong reaksi elektrokimia. Sel ini memiliki
keuntungan lebih dibanding sel surya lainnya. Keuntungan ini
termasuk dalam hal ketahanan kerja yang baik dalam range suhu
yang lebar serta tetap dapat menghasilkan energi meskipun dalam
intensitas cahaya yang rendah atau tempat teduh
(Khalyanasundaram dan Grtzel,1998).
Prinsip kerja sel surya pewarna tersensitisasi ( SSPT )
atau dye-sensitized sollar cell (DSSC) menggabungkan tiga
proses yang berbeda yaitu eksitesi fotosensitizer oleh foton,
pemanfaatan pita konduksi, reaksi redoks pada larutan elektrolit.
Mula-mula foton yang menerobos kristal nano diabsorb oleh
fotosensitiser dan mengeksitasi elektron dari fotosensitizer ke
keadaan tereksitasi. Melalui transfer muatan, elektron yang
berada pada keadaan tereksitasi akan turun ke pita konduksi dari
TiO
2,
elektron akan mengalir lewat elektroda menuju elektroda
lawan. Elektron yang ada di elektroda lawan akan bereaksi
dengan larutan eletrolit yang akan menyebabkan terjadi reaksi
redoks pada elektrolit. Reaksi redoks pada elektrolit pada
gilirannya akan memberikan elektron kepada fotosensitizer dan
siap untuk dieksitasi lagi untuk memulai siklus berikutnya
(Akhlus, 2007).
Material semikonduktor nanokristalin yang lazim
digunakan dalam SSPT adalah titanium oksida (TiO
2
) yang


3

memiliki struktur mesopori. Semikonduktor titania memiliki
energi pita sebesar 3,2 eV dan menyerap sinar pada daerah
ultraviolet. Material ini dipilih selain karena memiliki
kemampuan untuk digunakan sebagai material fotokimia dan
fotoelektrokimia juga memiliki banyak keuntungan yang lain ,
diantaranya adalah murah, pemakaian luas, tidak beracun, banyak
digunakan sebagai bahan dasar pembuatan produk produk
kesehatan serta sebagai pigmen cat (Grtzel, 2003). Metode yang
mudah dan sangat umum dipakai untuk menyiapkan suspensi
koloid TiO
2
yang juga menggunakan bahan-bahan seperti
asetilaseton dan suatu surfaktan, misal Triton X-100. Suspensi
dapat dilapiskan pada permukaan kaca penghantar dengan
beberapa metode (antara lain screen printing dan doctor blade
method). Selanjutnya kaca penghantar yang bertindak sebagai
elektroda ini dipanaskan pada 450
0
C selama 30 menit. Perlakuan
thermal ini bertujuan untuk menghasilkan kontak elektrik tidak
hanya antara partikel dan pendukungnya tetapi juga antara semua
partikel dari film. Perlakuan thermal juga bertujuan untuk
mengeliminasi kontaminasi residu-residu senyawa organik yang
ada dalam suspensi yang digunakan untuk menyiapkan film.
Selain semikonduktor TiO2, dye-fotosensitizer juga
merupakan faktor sangat penting dalam menentukan performa sel
surya misalnya sifat-sifat serapan fotosensitizer menentukan
secara langsung rentang fotorespon dari sel surya (Hara, 2001).
Pengertian dye atau zat warna identik dengan adanya gugus yang
menghasilkan warna disebut sebagai kromofor. Dikenal adanya
dua jenis zat warna yaitu zat warna alami (natural dye) dan zat
warna sintetik yang dihasilkan secara industri. Penggunaan dye
alami lebih diutamakan dengan melihat potensi yang sangat besar
dari keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia yang masih
banyak belum dimanfaatkan terutama untuk tumbuh-tumbuhan
yang mempunyai kecenderungan berwarna atau mengandung zat
warna-kromofor misalnya klorofil (berperan dalam penyerapan
cahaya untuk fotosintesis). Sehingga sifat terpenting yang dapat
ditinjau dari senyawa-senyawa penyerap cahaya-foton


4

(fotosensitizer) adalah keberadaan energi triplet dan tidak semua
molekul memiliki energi triplet. Pembentukan energi triplet
diawali dengan pembentukan oksigen singlet secara fotokimia
akibat absorpsi foton oleh senyawa fotosensitizer. Absorpsi foton
ini menyebabkan elektron pada fotosensitizer tereksitasi ke
keadaan singlet. Elektron yang berada pada keadaan singlet
selanjutnya turun ke keaadaan triplet melalui peristiwa
penyilangan antar sistem. Berikutnya, elektron di keadaan triplet
akan turun ke keadaan dasar sambil memancarkan foton senilai
selisih antara keadaan triplet dan keadaan dasar, selisih energi ini
disebut sebagai energi triplet (Akhlus, 2007). Dye yang
digunakan adalah yang mengandung gugus kromofor terkonjugasi
sehingga memungkinkan terjadinya transfer elektron. Dalam
struktur dye-sensitized solar cell atau SSPT ini nantinya, dye
berfungsi sebagai pompa fotokimia yang dapat mengeksitasi
elektron ke tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan energi
dari sinar matahari yang diserap.
Arus dan tegangan yang dihasilkan oleh sebuah sel surya
pewarna tersesensitisasi saat ini relatif kecil sehingga
mengakibatkan efisiensi konversi energi yang dihasilkan kecil.
Untuk meningkatkan arus dan tegangan SSPT salah satunya
dengan cara menggabungkan beberapa SSPT menjadi susunan
rangkaian SSPT yang dihubungkan secara seri, paralel, maupun
gabungan keduanya. Hubungan sel surya satu dengan lainnya
pada suatu rangkaian dapat mempengaruhi efisiensi yang
dihasilkan. Oleh karena itu untuk menentukan hubungan SSPT
yang tepat pada suatu rangkaian SSPT dilakukan pengukuran arus
dan tegangan dengan menggunakan karakterisasi melalui kurva
arus dan tegangan (Halme, 2002).

1.2 Permasalahan
Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana
mengetahui pengaruh dari hubungan seri-paralel SSPT dalam
rangkaian terhadap efisiensi konversi energi listrik.



5

1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini menguji apakah efisiensi konversi energi
listrik pada rangkaian sel surya pewarna tersensitisasi dipengaruhi
oleh:
1. Hubungan seri-paralel SSPT dalam rangkaian listrik
sederhana.
2. Lama waktu pengukuran pada rangkaian SSPT.
3. Kondisi penyinaran matahari secara langsung (outdoor)
dan tak langsung di dalam ruangan (indoor).

1.4 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari
hubungan seri-paralel SSPT dalam rangkaian terhadap efisiensi
konversi energi litrik sehingga didapatkan bentuk rangkaian SSPT
yang efisien.






















6

Halaman ini sengaja dikosongkan