Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pneumonia sebenarnya bukan peyakit baru. Tahun 1936 pneumonia
menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik,
membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian. Namun tahun
2, kombinasi pneumonia dan in!luen"a kembali merajalela. #i $ndonesia,
pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardio%askuler
dan T&'. (aktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian.
1
Pneumonia aspirasi )PA* merupakan peradangan yang mengenai
parenkim paru, distal dari bronkus terminalis yang men+akup bronkiolus
respiratorius, dan al%eoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh aspirasi benda asing
baik yang berasal dari dalam tubuh maupun di luar tubuh penderita.
1
#i Amerika pneumonia aspirasi yang terjadi pada komunitas )PA,*
adalah sebanyak 12 per 1. penduduk per tahun, sedangkan pneumonia
aspirasi nosokomial )PAN* sebesar - pasien per 1. pasien ra.at inap
per tahun. PA lebih sering dijumpai pada pria daripada perempuan, terutama
usia anak atau lanjut.
1,3
Aspirasi merupakan proses terba.anya bahan yang ada di oro!aring
pada saat respirasi kesaluran napas ba.ah dan dapat menimbulkan kerusakan
parenkim paru. ,erusakan yang terjadi tergantung jumlah dan jenis bahan
yang teraspirasi serta daya tahan tubuh. /indrom aspirasi dikenal dalam
berbagai bentuk berdasarkan etiologi dan pato!isiologi yang berbeda dan +ara
terapi yang juga berbeda.
2,0
Agen1agen mikroba yang menyebabakan pneumonia memiliki tiga
bentuk transmisi2 )1* aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang
telah berkolonisasi pada oro!aring, )2* inhalasi aerosol yang in!eksius, dan )3*
penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi
agen1agen in!eksius adalah dua +ara tersering yang menyebabkan pneumonia,
sementara penyebaran se+ara hematogen lebih jarang terjadi.
3
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Pneumonia aspirasi dide!inisikan sebagai inhalasi isi oro!aring atau
lambung ke dalam laryn3 dan saluran perna!asan ba.ah. &eberapa sindrom
perna!asan mungkin terjadi setelah aspirasi, tergantung pada jumlah dan jenis
material aspirasi, !rekuensi aspirasi dan respon host terhadap material aspirasi.
Pneumonitis aspirasi )Mendelsons syndrome* adalah jejas kimia yang
disebabkan oleh inhalasi isi lambung.
2
Nama lain2
Anaerobic pneumonia, aspirasi %omitus, pneumonia necrotizing,
pneumonitis aspirasi, pneumonitis kimia.
B. Epidemiologi
#i Amerika pneumonia aspirasi yang terjadi pada komunitas )PA,*
adalah sebanyak 12 per 1. penduduk per tahun, sedangkan pneumonia
aspirasi nosokomial )PAN* sebesar - pasien per 1. pasien ra.at inap
per tahun. PA lebih sering dijumpai pada pria daripada perempuan, terutama
usia anak atau lanjut. Aspirasi pneumonia adalah penyebab kematian paling
umum pada pasien dengan dis!agia karena gangguan neurologis, suatu kondisi
yang mempengaruhi sekitar 3. sampai 6. orang setiap tahun di
Amerika /erikat.
1,2,4
B. Etiologi
Terdapat 3 ma+am penyebab sindroma pneumonia aspirasi, yaitu
aspirasi asam lambung yang menyebabkan pneumonia kimia.i, aspirasi
bakteri dari oral dan oropharingeal menyebabkan pneumonia bakterial,
Aspirasi minyak, seperti mineral oil atau vegetable oil dapat menyebabkan
exogenous lipoid pneumonia. Apirasi benda asing merupakan
2
kega.atdaruratan paru dan pada beberapa kasus merupakan !aktor
predisposisi pneumonia bakterial.
1,3
$n!eksi terjadi se+ara endogen oleh kuman oro!aring yang biasanya
polimikrobial namun jenisnya tergantung kepada lokasi, tempat terjadinya,
yaitu di komunitas atau di 5/. Pada PA,, kuman patogen terutama berupa
kuman anaerob obligat )011066* yang terdapat di sekitar gigi dan dikeluarkan
melalui ludah, misalnya Peptococcus yang juga dapat disertai Klebsiella
pnemoniae dan Stafilococcus, atau fusobacterium nucleatum, Bacteriodes
melaninogenicus, dan Peptostreptococcus. Pada PAN pasien di 5/ kumannya
berasal dari kolonisasi kuman anaerob !akultati!, batang 7ram negati!,
pseudomonas, proteus, serratia, dan S aureus di samping bisa juga disertai
oleh kuman ananerob obligat di atas.
1,0
,ondisi yang mempengaruhi pneumonia aspirasi antara lain2
,esadaran yang berkurang, merupakan hasil ayang berbahaya dari re!le3
batuk dan penutupan glottis.
#is!agia dari gangguan syara!
7angguan pada system gastrointestinal, seperti penyakit esophageal,
pembedahan yang melibatkan saluran atas atau esophagus, dan aliran
lambung.
8ekanisme gangguan penutupan glottis atau s!ingter jantung karena
trakeotomi, endotracheal intubations )9T*, bronkoskopi, endoskopi atas
dan nasogastric feeding )N7T*
Anestesi !aringeal dan kondisi yang berma+am1ma+am seperti muntahan
yang diperpanjang, %olume saluran +erna yang lebar, gastrostomi dan
posisi terlentang.
:ain1lain2 !istula trakeo1eso!ageal, pneumonia yang berhubungan dengan
%entilator, penyakit periodontal dan trakeotomi.
,ondisi1kondisi ini kesemuanya berbagi dalam seringnya dan
banyaknya %olume aspirasi, yang meningkatkan kemungkinan pengembangan
pneumonitis aspirasi.
3
Pasien dengan stroke atau penyaki kritis yang membutuhkan
pera.atan biasanya mempunyai beberapa !a+tor resiko dan memperbaiki
kasus yang mempunyai proporsi yang besar. ,urangnya kebersihan gigi
khususnya pada orang tua atau pasien yang kondisinya lemah, menyebabkan
koloni dalam mulut dengan organism patogenik yang se+ara potensial bisa
menyebabkan bertambahnya jumlah bakteri. Peningkatan resiko in!eksi dapat
menyebabkan aspirasi.
. Da!a ta"an trakt#s respiratori#s
8ekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian ba.ah sangat
e!isien untuk men+egah in!eksi dan terdiri dari2
3
1.
/usunan anatomis rongga hidung
2.
;aringan lim!oid di nasooro!aring
3.
&ulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan
sekret yang dikeluarkan oleh set epitel tersebut.
0.
5e!leks batuk
4.
5e!leks epiglotis yang men+egah terjadinya aspirasi sekret yang terin!eksi.
6.
#rainase sistem lim!atik dan !ungsi menyaring kelenjar lim!e regional.
<.
(agositosis, aksi en"imatik dan respons imuno1humoral terutama dari
imunoglobulin A )$gA*.
4
4
$am%ar &' Sistem respirasi (an#sia
)
$am%ar *' Sistem respirasi (an#sia
)
D.Patofisiologi
Aspirasi merupakan hal yang dapat terjadi pada setiap orang. #i sini
terdapat peranan aksi mukosilier dan makro!ag al%eoler dalam pembersihan
material yang teraspirasi. Terdapat 3 !aktor determinan yang berperan dalam
5
pneumonia aspirasi, yaitu si!at material yang teraspirasi, %olume aspirasi, serta
!aktor de!ensi! host.
2
Perubahan patologis pada saluran napas pada umumnya tidak dapat
dibedakan antara berbagai penyebab pneumonia, hampir semua kasus
gangguan terjadi pada parenkim disertai bronkiolitis dan gangguan interstisial.
Perubahan patologis meliputi kerusakan epitel, pembentukan mukus dan
akhirnya terjadi penyumbatan bronkus. /elanjutnya terjadi in!iltrasi sel radang
peribronkial )peribronkiolitis* dan terjadi in!eksi baik pada jaringan
interstisial, duktus al%eolaris maupun dinding al%eolus, dapat pula disertai
pembentukan membran hialin dan perdarahan intra al%eolar. 7angguan paru
dapat berupa restriksi, di!usi dan per!usi.
2
Pneumonia aspirasi mengarah kepada konsekuensi patologis akibat
se+ret oro!aringeal, nanah, atau isi lambung yang masuk ke saluran napas
bagian ba.ah. Penyakit ini terjadi pada orang dengan le%el kesadaran yang
berubah karena serangan cerebrovascular accident )'=A*, !"S lesion mass,
kera+unan obat atau o%erdosis dan +idera kepala. ,ebanyakan indi%idu
mengaspirasi sedikit se+ret oro!aringeal selama tidur, dan se+ret tersebut akan
dibersihkan se+ara normal.
3

(aktor predisposisi terjadinya aspirasi berulangkali adalah2
1
1. Penurunan kesadaran yang mengganggu proses penutupan glottis,
re!le3 batuk )kejang, stroke, pembiusan, +edera kepala, tumor otak*
2. #is!agia sekunder akibat penyakit esophagus atau sara! )kanker
naso!aring, s+leroderma*
3. ,erusakan s!ingter esophagus oleh selang nasogastrik. ;uga peran
jumlah bahan aspirasi, hygiene gigi yang tidak baik, dan gangguan
mekanisme klirens saluran napas.
Predisposisi ter+adin!a pne#monia aspirasi
Per#%a"an tingkat kesadaran
/troke
,ejang
$ntoksikasi )alkohol dan obat lainnya*
Trauma kepala
6
Anastesi
(ekanisme
"asogastric tube
#ntubasi endotra$eal
%racheostomy
upper gastrointestinal endoscopy
bronchoscopy
Pen!akit ne#rom#sk#ler
multiple sclerosis
par$insons disease
myasthenia gravis
bulbar atau pseudobulbar palsy
$angg#an gastro,oesop"ageal
inkompetensi s!ingter +ardia+
striktur oesophageal
neoplasma
obstruksi gaster
protracted vomiting
Lainn!a
posisi re+umbent
general debility
A-aila%le at '....meds/ape./om0aspirationpne#monia
Ta%el &' predisposisi ter+adin!a pne#monia aspirasi
&
Aspirasi mikroorganisme patologik yang berkoloni pada oro!aring
adalah +ara in!eksi saluran pernapasan bagian ba.ah yang paling sering dan
menyebabkan pneumonia bakteri. Pneumonia anaerobik disebabkan oleh
aspirasi sekret oro!aringeal yang terdiri dari mikroorganisme anaerob seperti
Bacteroides, &usobacterium, Peptococcus, dan Peptostreptococcus yang
merupakan spesies yang paling sering ditemukan diantara pasien1pasien
dengan kebersihan gigi yang buruk. A.itan gejala biasanya terjadi se+ara
perlahan1lahan selama 1 hingga 2 minggu, dengan demam, penurunan berat
badan, anemia, leukositosis, dispnea, dan batuk disertai produksi sputum
berbau busuk. Abses1abses paru yang terbentuk pada parenkim paru dapat
rusak, dan empiema dapat timbul seperti mikroba1mikroba yang berjalan ke
permukaan pleura. ,ebanyakan abses1abses tersebut terbentuk pada paru
kanan bagian posterior dan segmen basilar bronkopulmonal akibat gaya
7
gra%itasi karena banyak +abang yang langsung menuju +abang bronkus utama
kanan.
2
5esiko dari aspirasi se+ara langsung terkait dengan le%el kesadaran
pasien )+ontoh2 penurunan 'lasco( !oma Scale >7'/? yang dihubungkan
dengan resiko aspirasi yang meningkat*. :uasnya dan sulitnya penyakit ini
se+ara langsung terkait dengan %olume dan kadar asam +airan yang dihirup.
Aspirasi isi lambung dalam jumlah besar juga dikenal dengan Mendelson
syndrome, yang bisa menyebabkan perna!asan akut dalam .aktu 1 jam. ,adar
asam dan isi lambung menghasilkan pembakaran kimia pada +abang
tra+heobron+hial yang terlibat dalam aspirasi.
/ebuah penelitian pada tikus menunjukkan bah.a terdapat dua !ase
mekanisme kerusakan paru setelah aspirasi asam. Pun+ak !ase pertama terjadi
pada satu hingga dua jam setelah aspirasi dan menghasilkan e!ek langsung
yang diakibatkan p@ yang rendah saat aspirasi pada sel1sel al%eolar1
permukaan kapiler. (ase kedua, pun+ak pada empat hingga enam jam,
berhubungan dengan in!iltrasi neutro!il ke dalam al%eoli dan intestinum paru,
dengan karakteristik gambaran histologist in!lamasi akut. 8ekanisme jejas
pada paru setelah aspirasi lambung melibatkan mediator1mediator in!lamasi,
sel1sel in!lamasi, adesi molekuler, dan en"im, terdiri dari %umor "ecrosis
&actor a,, interleu$in)*, cyclooxygenase dan produk lipoxygenase dan
+eactive ,xygen Species )5A/*. 8eskipun neutro!il dan komplemen berperan
dalam perkembangan jejas, penelitian pada he.an, neutropenia, inhibitor
!ungsi neutro!il, menginakti%asi interleukin1- )+hemoatraktan poten neutro!il*,
dan inakti%asi komplemen melemahkan jejas akut pada paru yang diinduksi
aspirasi asam.
2
,arena asam lambung men+egah pertumbuhan bakteri, isi lambung
tetap steril diba.ah kondisi normal. kesterilan isi lambung yang relati!
normal, bakteri tidak menjalankan peran dalam tahap a.al penyakit. $ni tidak
sepenuhnya baik bagi pasien dengan gastroparesis atau sembelit atau bagi
mereka yang menggunakan antasida )Proton Pump #nhibitor >PP$?,@2
receptor antagonist*. #engan tanpa melihat jumlah bakteri inokulum, in!eksi
8
bakteri yang parah bisa saja terjadi setelah +idera kimia a.al. Aspirasi isi
lambung se+ara bersama dengan adanya partikel, menyebabkan terjadi !okus
peradangan dan reaksi tubuh terhadap benda asing dengan kerusakan jaringan
se+ara menyeluruh akibat asam. Partikel dan asam lambung bekerja sama
se+ara sinergis menyebabkan kebo+oran kapiler al%eolar. $si lambung tidak
steril sehingga aspirasi yang terjadi dapat disertai bakteri. 9nam puluh sampai
16 terdiri dari kuman anaerob. 7abungan kuman aerob dan anaerob sering
dijumpai pada aspirasi yang terjadi di 5umah sakit.
2,4
Ada dua persyaratan untuk menghasilkan pneumonia aspirasi2
1. membahayakan bagi pertahanan biasa yang melindungi saluran ba.ah,
termasuk penutupan glottis, re!lek batuk, dan mekanisme pembukaan.
2. /ebuah inolukrum mengganggu saluran ba.ah dengan si!at toksiknya
langsung, stimulasi proses peradangan dari bakteri inolukrum yang
+ukup atau penghambatan karena %olume "at atau "at partikelnya yang
+ukup.
$am%ar 1' par#,par# !ang mengalami infeksi
&
9
/indrom aspirasi lain berkaitan dengan bahan yang diaspirasi
)biasanya makanan* atau +airan bukan asam )misalnya karena hampir
tenggelam atau saat pemberian makanan* yang menyebabkan obstruksi
mekanik. &ila +airan teraspirasi, trakea harus segera diisap untuk
menghilangkan obstruksinya. &ila yang diaspirasi adalah bahan padat, maka
gejala yang terlihat akan bergantung pada ukuran bahan tersebut dan lokasinya
dalam saluran pernapasan. ;ika bahan tersebut tersangkut dalam bagian atas
trakea, akan menyebabkan obstruksi total, apnea, aphonia, dan dapat terjadi
kematian +epat. ;ika bahan tersangkut pada bagian saluran pernapasan yang
ke+il, tanda dan gejala yang timbul dapat berupa batuk kronik dan in!eksi
berulang.
2
$am%ar 2' Al-eoli !ang terisi ole" aspirasi makanan
&
E.Klasifikasi
Aspirasi bisa terjadi pada indi%idu yang sehat tanpa gejala
perkembangan in!eksi tergantung pada !aktor1!aktor lain seperti ukuran
inolukrum, besarnya e!ek yang dihasilkan oleh organisme dan pertahanan
10
bagian yang ditempatinya seperti penutupan glottis, re!lek batuk, dan status
imunologis. Pneumonia bisa mun+ul mengikuti aspirasi mikroorganisme yang
%irulen. #an istilah pneumonia digunakan untuk kemun+ulan pneumonia
ketika ukuran inolukrum +ukup luas danBatau gagalnya pertahanan bagian
yang ditempatinya.
Aspirasi bisa dibagi menjadi dua kategori. $ni mempunyai penilaian
penting, yang akan menyebabkan bakteri pneumonia dengan organism mulut
mendominasi. Aspirasi isi lambung akan menyebabkan sebuah pneumonitis
kimia )+ontoh2 Mendelsons syndrome* karena isi lambung biasanya steril, tapi
kadar asamnya menghasilkan perkembangan radang yang +epat pada paru1
paru. Terdapat tumpang tindih antara pneumonia dan pneumonitis, tetapi
memungkinkan untuk membuat perbedaan dan menyesuaikan pera.atan yang
sesuai.
/indrom1sindrom aspirasi yang lain termasuk penghambatan saluran
karena benda asing dan pneumonia lipoid eksogen.
Aspirasi meliputi beberapa sindrom aspirasi2
1. Pneumonitis kimia2 aspirasi agen toksik seperti asam lambung, +idera
instanteneus ditandai dengan hipoksemia. Pengobatan membutuhkan
dukungan %entilator bertekanan positi!.
2. 5e!lek penutupan saluran na!as2 aspirasi +airan )air, garam, makanan
nasogastrik* dapat menyebabkan laringospasme pada saluran
perna!asan dan edema pulmo yang menghasilkan hipoksemia.
Pengobatan termasuk perna!asan dengan tekanan positi! yang tidak
teratur dengan 16 oksigen dan isoproterenol.
3. Abstruksi mekanik2 aspirasi +airan atau "at partikel )saluran perna!asan
makanan se+ara parsial, hot dog, ka+ang* bisa menghasilkan
penghambatan mekanis yang sederhana. Terjadinya batuk, desahan dab
dispnea dengan atelektasis yang terlihat pada -)ray di dada.
Pengobatan memerlukan penyedotan trakeobronkial dan
menghilangkan "at partikel dengan serat opti+ bronkoskopi.
11
0. Pneumonia aspirasi2 aspirasi bakteri dari oro!aring. Pasien mengalami
batuk, demam, batuk berdahak dan hasil radiogra!i menunjukkan
in!iltrasi. Pengobatan membutuhkan antibiotik.
3.$e+ala Klinis
7ejala klinis dapat berupa bronkopneumonia, pneumonia lobar,
pneumonia nekrotikans, atau abses paru dan dapat diikuti terjadinya empiema.
Pasien mendadak batuk dan sesak napas sesudah makan atau minum. A.itan
umumnya insidious, .alaupun pada in!eksi anaerob bisa memberikan
gambaran akut seperti pneumonia pneumokokus berupa sesak napas pada saat
istirahat, sianosis. Cmumnya pasien datang 112 minggu sesudah aspirasi,
dengan keluhan demam mengigil, nyeri pleuritik, batuk, dan dahak purulen
berbau ) pada 46 kasus*. ,emudian bisa ditemukan nyeri perut, anoreksia,
dan penurunan berat badan, bersuara saat napas )mengi*, takikardi, merasa
pusing atau kebingungan, merasa marah atau +emas.
1,2,4
$.Diagnosis
Cntuk mendiagnosis pneumonia aspirasi, harus melihat gejala pasien
dan temuan dari pemeriksaan !isik. ,eterangan dari !oto polos dada,
pemeriksaan darah dan kultur sputum yang juga berman!aat. (oto torak
biasanya digunakan untuk mendiagnosis pasien di rumah sakit dan beberapa
klinik yang ada !asilitas !oto polosnya. Namun, pada masyarakat )praktek
umum*, pneumonia biasanya didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan
!isik saja. 8endiagnosis pneumonia bisa menjadi sulit pada beberapa orang,
khususnya mereka dengan penyakit penyerta lainnya. Adakalanya 'T s+an
dada atau pemeriksaan lain diperlukan untuk membedakan pneumonia dari
penyakit lain.
1,4
Arang dengan gejala pneumonia memerlukan e%aluasi medis.
Pemeriksaan !isik oleh tenaga kesehatan menunjukkan adanya peningkatan
suhu tubuh, peningkatan laju pernapasan )ta+hypnea*, penurunan tekanan
darah )hipotensi* , denyut jantung yang +epat )takikardi* dan rendahnya
12
saturasi oksigen, yang merupakan jumlah oksigen di dalam darah yang
indikasikan oleh oksimetri atau analisis gas darah. Arang dengan kesulitan
bernapas, yang bingung, atau memiliki sianosis memerlukan perhatian
segera.
2,4
Pemeriksaan !isik tergantung pada luas lesi di paru. Pada pemeriksaan
terlihat bagian yang sakit tertinggal .aktu bernapas, !remitus raba meningkat
disisi yang sakit. Pada perkusi ditemukan redup, pernapasan bronkial, ronki
basah halus, ego!oni, bronko!oni, D(hispered pectorilo.uyE. ,adang1 kadang
terdengar bising gesek pleura )pleural !ri+tion rub*. #istensi abdomen
terutama pada konsolidasi pada lobus ba.ah paru, yang perlu dibedakan
dengan kolesistitis dan peritonitis akut akibat per!orasi.
2
Pemeriksaan pen#n+ang
1. 7ambaran 5adiologis
Pemeriksaan yang penting untuk pneumonia pada keadaan
yang tidak jelas adalah !oto polos dada. (oto thoraks )PABlateral*
merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan
diagnosis. 7ambaran radiologis dapat berupa in!iltrat sampai
konsolidasi dengan Dair bronchogramE, penyebaran bronkogenik dan
interstitial dengan atau tanpa disertai gambaran ka%iti pada segmen
paru yang terin!eksi. 7ambaran lusen disertai dengan in!iltrat
menunjukkan nekrotik pneumonia. Air fluid level mengindikasikan
abses paru atau !istula bronkopleura./udut +osto!reni+us yang blunting
dan menis+us yang positi! menunjukkan para pneumonic pleural
effusion.
0
2. Pemeriksaan :aboratorium
Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan jumlah leukosit yang
meningkat )lebih dari 1.Bmm3, kadang1 kadang men+apai
3.Bmm3*, yang mengindikasikan adanya in!eksi atau in!lamasi.
Tapi pada 26 penderita tidak terdapat leukositosis. @itung jenis
leukosit Dshift to the leftE. :9# selalu naik. &illirubin dire+t atau
13
indire+t dapat meningkat, oleh karena peme+ahan dari sel darah merah
yang terkumpul dalam al%eoli dan dis!ungsi dari hepar oleh karena
hipoksia. Cntuk menentukan diagnosa etiologi diperlukan pemeriksaan
dahak, kultur darah dan serologi. Analisis gas darah menunjukan
hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik.
3
Lokasi infiltrate'
&agian tengah dan ba.ah lobus kanan paru paling sering terjadi
in!lamasi dengan ukuran lebih besar
Pasien yang mengalami aspirasi pada keadaan berdiri, in!iltrat akan
terbentuk pada lobus kanan dan kiri bagian ba.ah.
Pasien yang mengalami aspirasi pada pada keadaan berbaring
posisi dekubitus lateral kiri, in!iltrate akan terbentuk pada sisi kiri.
Pada pasien pe+andu alkohol yang mengalami aspirasi pada posisi
prone, kosolidasi yang terbentuk lebih sering pada lobus atas paru
kanan.
$am%ar 4' rontgen t"ora5 pasien dengan pne#monia aspirasi
par#,par# kiri
4
14
$am%ar 6' rontgen t"ora5 pasien dengan aspirasi masif pada
par#,par# kanan.
4
15
$am%ar )' T,S/an dada pada Pne#monia aspirasi
&7
16
Ta%el *. Skema diagnosis pne#monia aspirasi
*
I. Penatalaksanaan
Pasien dibaringkan setengah duduk. Pada pasien dengan dis!agi dan
atau gangguan re!le3 menelan perlu dipasang selang nasogastrik. &ila +airan
teraspirasi, trakea harus segera diisap untuk menghilangkan obstruksinya.
:akukan maneu%er /eimlich untuk mengeluarkan aspirasi bahan padat, bila
bahan yang teraspirasi tidak dapat dikeluarkan segera lakukan trakeotomi
17
Ya
Tidak
Rontgen Thorax Rontgen Thorax
Negatif
Negatif
Positif Positif
Peristiwa aspirasi Pneumonia asprasi Bronkitis
Pneumonia
Durasi gejala >
24 jam
Tidak diterapi
antiiotik!
tindakan suportif
Terapi antiiotik!
tindakan suportif
Tidak Ya
Tidak diterapi
antiiotik!
tindakan suportif
Terapi antiiotik!
tindakan suportif
Tanda dan gejala infeksi tra"tus respiratorius
inferior
Riwa#at aspirasi isi lamung $pasti atau suspe"t supe"t%
)krikotirotomi*. Pengeluaran bahan yang tersangkut, biasanya dilakukan
dengan bronkoskopi. &erikan oksigen nasal atau masker bila ada tanda gagal
napas berikan bantuan %entilasi mekanik. :akukan postural drainage untuk
membantu pengeluaran mukus dari paru1paru
1,2,
Pada PA, terapi empirik haruslah men+akup patogen anaerob,
sedangkan pada PAN harus pula men+akup pathogen 7ram negati! dan /.
aureus sampai hasil kultur sputum memberikan hasil untuk penentuan terapi
antibiotika.
1
Pneumonia aspirasi )PA* dengan tipe yang didapat di masyarakat
diberikan penisilin atau se!alosporin generasi ke 3, ataupun klindamisin 6
mg i%B - jam bila penisilin tidak mempan atau alergi terhadap penisilin. &ila
PA didapatkan di rumah sakit diberikan antibiotika spe+trum luas terhadap
kuman aerob dan anaerob, misalnya aminoglikosida dikombinasikan dengan
se!alosporin generasi ke 3 atau 0, atau klindamisin. Perlu dipertimbangkan
pola dan resistensi kuman di rumah sakit bersangkutan. #ilakukan e%aluasi
hasil terapi dan resolusi terhadap terapi berdasarkan gambaran klinis
bakteriologis untuk memutuskan penggantian atau penyesuaian antibiotik
)A&*.
1
Tidak ada patokan pasti lamanya terapi. Antibiotik perlu diteruskan
hingga kondisi pasien baik, gambaran radiologis bersih atau stabil selama 2
minggu. &iasanya diperlukan terapi 316 minggu.
1
3ollo. #p
Pasien dengan keadaan hemodinamik berat atau dengan distress
respiratory di ra.at di $'C.
Pasien dengan respiratori yang stabil di ra.at di bangsal pera.atan
umum.
18
$am%ar 8' Bron/"os/op!
9
19
20
21
22
23
J. Komplikasi
&. $agal nafas dan sirk#lasi
9!ek pneumonia terhadap paru1paru pada orang yang menderita
pneumonia sering kesulitan berna!as,dan itu tidak mungkin bagi mereka
untuk tetap +ukup berna!as tanpa bantuan agar tetap hidup. &antuan
pernapasan non1in%asi% yang dapat membantu seperti mesin untuk jalan
na!as dengan bile%el tekanan positi!,dalam kasus lain pemasangan
endotra+heal tube kalau perlu dan %entilator dapat digunakan untuk
membantu perna!asan. Pneumonia dapat menyebabkan gagal na!as oleh
pen+etus akut respiratory distress syndrome)A5#/*. @asil dari gabungan
in!eksi dan respon in!lamasi dalam paru1paru segera diisi +airan dan
menjadi sangat kental, kekentalan ini menyatu dengan keras menyebabkan
kesulitan penyaringan udara untuk +airan al%eoli,harus membuat %entilasi
mekanik yang dibutuhkan.
2
*. S!ok sepsis dan septi/
8erupakan komplikasi potensial dari pneumonia. /epsis terjadi
karena mikroorganisme masuk ke aliran darah dan respon sistem imun
melalui sekresi sitokin. /epsis seringkali terjadi pada pneumonia karena
bakteriF strepto++o+us pneumonia merupakan salah satu penyebabnya.
$ndi%idu dengan sepsis atau septik membutuhkan unit pera.atan intensi!
di rumah sakit. 8ereka membutuhkan +airan in!us dan obat1obatan untuk
membantu mempertahankan tekanan darah agar tidak turun sampai rendah.
/epsis dapat menyebabkan kerusakan hati,ginjal,dan jantung diantara
masalah lain dan sering menyebabkan kematian.
2
1. Eff#si ple#ra:emp!ema dan a%/es
Ada kalanya,in!eksi mikroorganisme pada paru1paru akan
menyebabkan bertambahnya )e!!usi pleura* +airan dalam ruang yang
mengelilingi paru )+a%um pleura*. ;ika mikroorganisme itu sendiri ada di
rongga pleura, kumpulan +airan ini disebut empyema. &ila +airan pleura
24
ada pada orang dengan pneumonia, +airan ini sering diambil dengan jarum
)tora+entesis* dan diperiksa, tergantung dari hasil pemeriksaan ini. Pada
kasus empyema berat perlu tindakan pembedahan. ;ika +airan tidak dapat
dikeluarkan,mungkin in!eksi berlangsung lama, karena antibiotik tiak
menembus dengan baik ke dalam rongga pleura. Abses pada paru biasanya
dapat dilihat dengan !oto thora3 dengan sinar 3 atau 'T s+an. Abses1abses
khas terjadi pada pneumonia aspirasi dan sering mengandung beberapa
tipe bakteri. &iasanya antibiotik +ukup untuk pengobatan abses pada
paru,tetapi kadang abses harus dikeluarkan oleh ahli bedah atau ahli
radiologi.
2
K. Prognosis
Angka mortalitas PA, adalah sebesar 46 yang meningkat menjadi
26 pada PAN. Angka mortalitas pneumonia aspirasi yang tidak disertai
komplikasi adalah sebesar 46, sedangkan pada aspirsai masi! dengan atau
tanpa disertai sindrom 8endelson men+apai <6. Angka mortalitas aspirasi
pneumonia disertai empyema sebesar 26.
1,3
L. Pen/ega"an
Pada pasien yang memiliki dis!ungsi menelan untuk menghindari
aspirasi asam lambung, diperlukan teknik kompensasi untuk
mengurangi aspirasi dengan diet lunak dan takaran yang lebih sedikit
Posisikan kepala 04G dari bed tempat tidur pada pasien beresiko untuk
terjadinya aspirasi.
Pasang N7T pada pasien yang beresiko, +ontoh dis!agia.
Puasa 61- jam sebelum operasi elekti! agar perut kosong sebelum
operasi berlangsung.
25
BAB III
KESI(PULAN
Pneumonia Aspirasi adalah infeksi saluran pernafasan
akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Pneumonia
Aspirasi dapat memberikan gambaran klinis seperti:
1) Pneumonia lobaris
2) Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
3) Bronkopneumonia.
Pneumonia Aspirasi adalah salah satu penyakit yang
menyerang saluran nafas bagian bawah yang terbanyak
kasusnya didapatkan di praktekpraktek dokter atau rumah
sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit
saluran nafas bawah yang menyerang anakanak dan balita
hampir di seluruh dunia! dan "uga sering menyerang usia lan"ut.
#iperkirakan pneumonia aspirasi banyak ter"adi pada bayi
kurang dari 2 bulan dan lansia !oleh karena itu pengobatan
penderita pneumonia aspirasi dapat menurunkan angka
kematian
26
DA3TA; PUSTAKA
1. 8arik. 9.P, 21. Aspiration Pneumonitis and Aspiration Pneumonia N 9ngl
; 8ed, =ol 330, No. 9. Te3as te+h Cni%ersity @ealth /+ien+e 'enter2
8assa+ussetts
2. 8arlisa. 211. Pneumonia Aspirasi CPN =eteran. )http2BB....s+ribe.+omB, -
8aret 212*
3. 'hamberlain, N5. 'lini+al /yndromes o! Pneumonia. 22.
)http2BB....k+om.eduB!a+ultyB+hamberlainBHebsiteBle+turesBsyllabi3.htm, -
8aret 212*
0. &artlett, ;7, /e3ton, #;, Thorner, A5, Aspiration Pneumonia $n Adult.
CpTo#ate (or Patients 29 )http2BB....uptodate.+omB, - 8aret 212*
4. A,+onnor, /. Aspiration pneumonia and pneumonitis. Australian Pres+riber
23. )http2BB....australianpres+riber.+omB, - 8aret 212*
6. /.aminathan, A. Naderi /. Pneumonia aspiration. e8edi+ine 2-.
)http2BB....patient.+o.ukB, 9 8aret 211*
<. /.aminathan, A. Aspiration Pneumonia. e8edi+ine 29.
)http2BBemedi+ine.meds+ape.+omBarti+leB, - 8aret 211*
-. #ugdale, #', =yas, ;8, Iie%e #. Aspiration pneumonia. 8edline Plus 29.
)http2BBmedlineplus.go%B, - 8aret 29*
27