Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 1
PENDAHULUAN

Sumbatan hidung merupakan gejala utama konka hipertropfi.
4
Konka
inferior merupakan konka yang paling sering mengalami hal tersebut.
2
Hipertrofi
konka inferior merupakan hasil dari hipertrofi mukosa, hipertrofi tulang, maupun
keduanya.
3

Hipertrofi konka inferior, sering dihubungkan dengan alergen atau iritas
lain di udara, maupun dengan penggunaan obat-obatan alergi itu sendiri.
2
Deviasi
septum yang signifikan juga mempengaruhi terjadinya konka hipertrofi pada sisi
kontralateral deviasi.
3

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, rinoskopi anterior dan
nasoendoskopi. Hidung tersumbat merupakan keluhan umum. Membedakan
etiologi penting agar pengobatan yang tepat dapat dimulai.
3

Lebih umumnya, masalah hipertrofi mukosa yang mendorong katup
hidung, meningkatkan resitensi hidung, dan menyebabkan sumbatan hidung. Hal
ini dapat dikelola secara obat-obatan atau operasi tergantung pada tingkat
hipertrofi dan responsifitas terhadap manajemen medis. Hipertrofi tulang
menyebabkan obstruksi struktural tetap dan lebih baik diobati dengan operasi.
3






2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
The turbinates are structures on the side wall of the inside of the nose.
They project into the nasal passages as ridges of tissue. The inferior turbinates can
block nasal airflow when they are enlarged. The pictures below demonstrate how
the inferior turbinates can block airflow when they are enlarged and touch the
nasal septum.
1
Konka adalah struktur sisi dinding bagian dalam hidung. Konka
berfungsi sebagai jalan masuk ke saluran hidung sebagai jaringan yang menonjol.
Konka inferior dapat menutup aliran udara pada hidung jika konka membesar.
Gambar dibawah ini mencontohkan bagaimana konka inferior dapat menutup
aliran udara ketika konka tersebut membesar dan menyentuh septum.
1


Gambar 2.1 Inferior turbinate (Sumber: Horacio G, et al, 2014)
The turbinates are made of bone and soft tissue. Either the bone or the
soft tissue can become enlarged. In most patients, enlargement of the soft tissue
3

part of the turbinate is the major problem when the turbinates become swollen.
When the turbinates are large, they are called hypertrophic turbinates.
1

Konka terdiri atas tulang dan soft tissue. Baik tulang maupun soft tissue
dapat membesar. Pada kebanyakan pasien, pembesaran soft tissue dari konka
merupakan masalah utama ketika konka membengkak. Ketika konka tersebut
besar, itulah yang disebut dengan hipertrofi konka.
1

2.2 Etiologi
Mink described the nasal valve in 1903. The nasal valve is formed
medially by the septum and laterally by the caudal edge of the upper lateral
cartilage and it accounts for approximately 50% of total upper airway resistance.
The anterior tip of the inferior turbinate is found in the nasal valve region, and
hypertrophy of this structure can cause exponential increases in airway
resistance.
3
Mink menggambarkan katup hidung pada tahun 1903. Katup hidung
dibentuk oleh septum medial, dan lateral oleh tepi caudal tulang rawan lateralis
atas dan bagian ini menyumbang sekitar 50% dari total resistensi saluran napas
bagian atas. Ujung anterior konka inferior ditemukan di hidung wilayah katup,
dan hipertrofi struktur ini dapat menyebabkan peningkatan jumlah resistensi
saluran napas.
3

Inferior turbinate hypertrophy can result from mucosal hypertrophy,
bony hypertrophy, or both. Bony hypertrophy causes a fixed structural obstruction
and is best treated with surgery. More commonly, the problem is mucosal
hypertrophy causing impingement on the nasal valve, increased nasal resistance,
4

and nasal obstruction. This can be managed medically or surgically depending on
the degree of hypertrophy and responsiveness to medical management.
3
Hipertrofi konka inferior merupakan hasil dari hipertrofi mukosa,
hipertrofi tulang, maupun keduanya. Hipertrofi tulang menyebabkan obstruksi
struktural tetap dan lebih baik diobati dengan operasi. Lebih umumnya, masalah
hipertrofi mukosa menabrak katup hidung, meningkatkan resitensi hidung, dan
sumbatan hidung. Hal ini dapat dikelola secara obat-obatan atau operasi
tergantung pada tingkat hipertrofi dan responsifitas terhadap manajemen medis.
3

2.3 Patogenesis
Inferior turbinate hypertrophy, often related to allergens or other
irritants in the air, can sometimes be dramatically improved with medications or
allergy treatment alone. The nasal septum and the turbinates are normal structures
inside the nose. The nasal septum is the structure that divides your nasal passages
into the right and left sides. A deviated septum refers to a septum that is crooked.
The turbinates are near the septum, but there is usually space between the septum
and turbinates to allow air to pass through the nose. The turbinates can contribute
to nasal obstruction if they are too large. There are several different types of
turbinates in the nose. The ones that most commonly affect airflow are called the
inferior turbinates. The picture below shows the nasal septum and the inferior
turbinate on the left side of the nose.
2
Hipertrofi konka inferior, sering dihubungkan dengan alergen atau iritas
lain di udara, kadang-kadang dapat meningkat dramatis dengan penggunaan obat-
obatan maupun pengobatan alergi itu sendiri. Septum nasi dan konka merupakan
5

struktur normal yang ada di dalam rongga hidung. Septum nasi itu sendiri
membagi saluran hidung menjadi bagian kanan dan kiri. Deviasi septum
menunjukkan septum yang bengkok. Konka berada didekat septum, tetapi
biasanya memiliki jarak antara septum dan konka sebagai tempat lewatnya udara
di hidung. Konka dapat berperan menyebabkan sumbatan hidung jika konka
tersebut terlalu besar. Ada beberapa konka di hidung. Salah satu diantaranya yang
paling sering mempengaruhi aliran udara tersebut adalah konka inferior. Gambar
di bawah ini menunjukkan spetum nasi dan konka inferior di sisi kiri hidung.
2







Gambar 2.2 Septum nasi dan konka inferior (Sumber: Horacio G, et al, 2014)
The nose is a complex and highly specialized organ that plays a role in
olfaction, heat exchange, speech production, respiration, humidification, filtration,
and antimicrobial defense.
3
Hidung adalah organ yang kompleks dan sangat khusus yang berperan
dalam penciuman, pertukaran panas, produksi kemampuan berbicara, respirasi,
humidifikasi, filtrasi, dan pertahanan antimikroba.
3

Mucus production is provided by goblet cells and submucosal and
seromucous glands. Mucus production is primarily controlled by parasympathetic
6

innervation. The mucous blanket serves to humidify and clean the inspired air and
eliminate debris from the nasal airway.
3
Mucous diproduksi oleh sel goblet, submukosa dan kelenjar
seromucous. Produksi mucous terutama dikendalikan oleh persarafan
parasimpatis. Lapisan mucous berfungsi untuk melembabkan dan membersihkan
udara inspirasi dan menghilangkan kotoran dari saluran napas hidung.
3

Nasal obstruction may be produced by overactivity of the
parasympathetic innervation or underactivity of the sympathetic innervation.
Resistance is important in nasal function and turbulence optimizes inspiratory air
contact with the mucous membrane. Resistance must remain within certain limits
for the perception of normal breathing. If it is too high or too low, a sensation of
obstruction may occur. A cyclic alteration of constriction and dilation of the
inferior turbinates, known as the nasal cycle, occurs approximately every 2-7
hours.
3
Sumbatan hidung dapat disebabkan oleh aktitivitas yang berlebihan dari
persarafan parasimpatis atau kurang optimalnya aktivitas dari persarafan simpatis.
Resistance penting dalam fungsi hidung dan turbulensi mengoptimalkan kontak
udara inspirasi dengan membran mukosa. Resistance harus tetap dalam batas-
batas tertentu untuk persepsi pernapasan normal. Jika terlalu tinggi atau terlalu
rendah, perasaan obstruksi (tertutup) mungkin terjadi. Sebuah perubahan siklik
dari penyempitan dan pelebaran konka inferior, yang dikenal sebagai siklus
hidung, terjadi kira-kira setiap 2-7 jam.
3

7

The nasal valve provides approximately 50% of total airway resistance.
The nasal valve is the region of the nasal airway extending from the caudal end of
the upper lateral cartilages and including the anterior end of the inferior turbinate.
As airflow enters this constricted segment, it accelerates and the pressure drops
(per Bernoulli principle), which can result in nasal valve collapse if the upper
lateral cartilages are anatomically weak. The erectile tissue of the nasal septum
and inferior turbinate can impinge on the nasal valve and increase resistance.
Because the cross-sectional area of the nasal valve is small, minor changes in
inferior turbinate congestion can have marked effects on resistance. A major
determinant of resistance to airflow is the radius of the nasal vault. However, even
in the presence of a normal radius, a sensation of obstruction can occur from
turbulent airflow.
3

Katup hidung menyebabkan sekitar 50% dari keseluruhan resistensi
saluran napas. Katup hidung adalah wilayah jalan napas hidung yang memanjang
mulai dari ujung ekor dari kartilago lateralis atas dan berakhir pada anterior konka
inferior. Dengan masuknya aliran udara pada segmen yang menyempit ini, hal ini
mempercepat dan menurunkan tekanan (per prinsip Bernoulli), yang dapat
menyebabkan katup hidung kolaps jika kartilago lateralis atas memiliki anatomi
lemah. Jaringan erectile dari septum hidung dan konka inferior dapat mengenai
katup hidung dan meningkatkan resistensi. Karena luas penampang dari katup
hidung kecil, perubahan kecil dalam kongesti konka inferior dapat menandai efek
pada resistensi. Sebuah penentu utama resistensi aliran udara adalah jari-jari
8

kubah hidung. Meskipun demikian, bahkan dengan radius normal sekalipun,
sensasi obstruksi dapat terjadi dari aliran turbulen.
3


2.4 Gejala Klinis
Gejala utama konka hipertrofi adalah sumbatan hidung. Sekret hidung
biasanya banyak, kental dan mukopurulen. Sekret mukopurulen yang banyak
biasanya ditemukan di antara konka inferior dan septum, dan di dasar rongga
hidung. Beberapa penderita mengeluhkan sakit kepala, rasa berat di kepala, dan
gangguan penghidu. Pada stadium awal dari pemeriksaan tampak membran
mukosa membengkak dan merah kemudian terjadi konka hipertrofi.
4

Symptoms of septal deviations/turbinate hypertrophy:
5

Congested or blocked nasal breathing
Breathing trouble at night and snoring
Chronic nosebleeds
Chronic sinus infections
Gejala dari septum deviasi/konka hipertrofi:
5

Kongesti hidung atau hidung tersumbat
Gangguan pernafasan pada malam hari disertai mendengkur
Mimisan kronis
Sinusitis kronis

2.5 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan klinis
sebagai berikut:
3
9

2.6.1 Anamnesis
Nasal obstruction is a common complaint. Discerning the etiology is
important so that appropriate treatment can be initiated. History should address
any alteration or unilaterality of the obstruction, which may indicate a dynamic
versus structural problem.
3

Hidung tersumbat merupakan keluhan umum. Membedakan etiologi
penting agar pengobatan yang tepat dapat dimulai. Riwayat mengenai
perubahan apapun ataupun obstruksi yang unilateral, mungkin menunjukkan
masalah perubahan daripada masalah struktural.
3

Address symptoms of rhinitis. Obstruction, rhinorrhea, and sneezing
may occur with allergic and nonallergic rhinitis. Elicit systemic symptoms of
allergy such as watery itchy eyes, asthma, and seasonal variation. Initial
general examination should note "allergic shiners" or a facial appearance that
may indicate signs of chronic nasal obstruction. Vasomotor rhinitis is typically
exacerbated by irritants, temperature or humidity changes, or psychological
factors. Nonallergic eosinophilic rhinitis is generally perennial without
allergen-induced symptoms. Atrophic rhinitis is characterized by nasal dryness
and crusting, frequently with a foul odor. Rhinitis can also be associated with
pregnancy and with systemic disorders such as hypothyroidism.
3

Gejala rhinitis. Sumbatan, rhinorrhea, dan bersin dapat terjadi pada
rhinitis alergi dan rhinitis nonallergi. Gejala sistemik yag didapatkan pada
alergi yakni seperti mata gatal berair, asma, dan variasi musiman. Pemeriksaan
umum awal harus mencatat "allergic shiners" atau penampilan wajah yang
10

mungkin menunjukkan tanda-tanda obstruksi hidung kronis. Rhinitis
vasomotor jenis rhinitis yang gejalanya diperburuk oleh iritasi, suhu atau
perubahan kelembaban, atau faktor psikologis. Nonallergic eosinophilic
rhinitis umumnya tahunan tanpa alergen yang menginduksi gejala. Rhinitis
atrofi ditandai dengan hidung yang kering dan krusta, sering dengan bau busuk.
Rhinitis juga dapat dikaitkan dengan kehamilan dan dengan gangguan sistemik
seperti hipotiroidisme.
3

Medications can also cause rhinitis and nasal obstruction. Rhinitis
medicamentosa results from rebound vasodilation after prolonged use of
topical nasal decongestants. Typically the patient begins using the topical agent
to treat an underlying disorder causing the nasal obstruction. Other medications
causing increased nasal congestion include certain antihypertensives,
antidepressants, antipsychotics, and oral contraceptives.
3

Obat juga dapat menyebabkan rhinitis dan sumbatan hidung. Rhinitis
medikamentosa merupakan hasil dari rebound vasodilatasi setelah penggunaan
jangka panjang dari dekongestan hidung topikal. Biasanya pasien
menggunakan agen topikal untuk mengobati gangguan yang mendasarinya
menyebabkan sumbatan hidung. Obat lain yang dapat menyebabkan
peningkatan hidung tersumbat termasuk antihipertensi tertentu, antidepresan,
antipsikotik, dan kontrasepsi oral.
3

2.6.2 Pemeriksaan fisik
Physical examination of the external nose is, of course, critical. In
addition to assessing nasal aesthetics, note the patency of the nasal valve and
11

any alar collapse since these may need to be addressed to ensure functionality
of the nose postrhinoplasty. The Cottle maneuver involves pulling the patient's
cheek laterally to open the nasal valve angle. If nasal airflow symptomatically
improves, this may indicate nasal valve pathology. A crooked nose may
indicate prior trauma and this history should be elicited. A saddle nose
deformity may indicate previous trauma, prior surgery, cocaine abuse, or an
inflammatory process.
3

Pemeriksaan fisik pada hidung eksternal, tentu saja, penting. Selain
menilai estetika hidung, perhatikan patensi katup hidung dan setiap jika ada
alar nasi yang kolap, mungkin perlu ditangani untuk memastikan fungsionalitas
pada saat postrhinoplasty hidung. Cottle maneuver dengan menarik pipi pasien
ke lateral untuk membuka sudut katup hidung. Jika gejala pada aliran udara
nasal membaik, hal ini menunjukkan katup hidung yang patologi. Hidung
bengkok dapat mengrindikasikan trauma sebelumnya dan riwayat ini harus
ditanyakan. Hidung pelana (Saddle nose deformity) dapat mengindikasikan
pada trauma sebelumnya, operasi sebelumnya, penyalahgunaan kokain, atau
proses inflamasi.
3

Additionally, the focus of the physical examination is anterior
rhinoscopy, which reveals caudal septal deformities or inferior turbinate
hypertrophy that may account for the patient's symptoms. If the patient has a
significant caudal septal deflection, typically the inferior turbinate on the side
opposite the deviation is enlarged. Apply topical decongestant to evaluate the
12

response of the turbinate mucosa. This may assist in delineating mucosal
versus bony hypertrophy.
3

Selain itu, fokus pemeriksaan fisik rhinoskopi anterior, dapat
mengungkapkan deformitas septum kaudal atau hipertrofi konka inferior yang
dapat menjelaskan mengenai gejala-gejala pada pasien. Jika pasien memiliki
deviasi septum kaudal yang signifikan, biasanya konka inferior di sisi yang
berlawanan dari deviasi membesar. Gunakan dekongestan topikal untuk
mengevaluasi respon dari mukosa konka. Hal ini dapat membantu
menggambarkan apakah yg terjadi hipertrofi mukosa atau hipertrofi tulang.
3

If indicated based on history, symptoms, or signs, a more extensive
examination of the nose can be performed via a rigid or flexible endoscope.
This examination allows additional assessment of the septum posteriorly, the
nasopharynx, and the sinus ostia. Nasal masses or polyps as a cause of
obstruction can be evaluated. Purulent drainage may indicate sinusitis.
Evidence of a septal perforation may indicate prior surgery, cocaine or topical
decongestant abuse, or an inflammatory disease. Significant crusting or
abnormality of the mucosal appearance may indicate a systemic disorder.
3

Jika diindikasikan berdasarkan riwayat, gejala klinis, maupun tanda-
tanda klinis, pemeriksaan yang lebih luas pada hidung dapat dilakukan
menggunakan rigid or flexible endoscope. Pemeriksaan ini memungkinkan
penilaian tambahan pada septum posterior, nasofaring, dan ostia sinus. Massa
hidung atau polip sebagai penyebab obstruksi juga dapat dievaluasi. Drainase
purulen dapat mengindikasikan adanya sinusitis. Bukti adanya perforasi
13

septum dapat mengindikasikan adanya riwayat operasi sebelumnya,
penyalahgunaan kokain atau dekongestan topikal, atau penyakit radang. Krusta
yang signifikan atau kelainan penampakan mukosa dapat mengindikasikan
adanya gangguan sistemik.
3

History or symptoms and signs of other systemic disorders that may
affect the nose and turbinates warrant further investigation. Wegener
granulomatosis and sarcoid can result in nasal obstruction and crusting.
Infectious rhinitis can result from a variety of organism-caused conditions such
as rhinoscleroma, tuberculosis, syphilis, rhinosporidiosis, histoplasmosis, and
aspergillosis. If suspected, address a history of exposure and travel and perform
further appropriate testing. A significant history of epistaxis may raise the
concern of an inflammatory or neoplastic process.
3

Riwayat atau gejala dan tanda-tanda gangguan sistemik lainnya dapat
mempengaruhi hidung dan konka harus dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
Wegener granulomatosis dan sarcoid dapat mengakibatkan sumbatan hidung
dan pengerasan kulit. Rhinitis infeksi dapat disebabkan oleh berbagai macam
organisme-misalnya disebabkan oleh rhinoscleroma, TBC, sifilis,
rhinosporidiosis, histoplasmosis, dan aspergillosis. dicurigai, jika
menunjukkan riwayat pajanan dan perjalanan, dan menunjukkan pengujian
lebih lanjut yang sesuai. Riwayat epistaksis yang signifikan dapat
meningkatkan dugaan pada proses inflamasi atau neoplastik.
3


14

2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Medikamentosa
6

Medical therapy is the first-line approach to the treatment of turbinate
dysfunction; however, the appropriate choice of therapy relies on the
appropriate diagnosis. Several categories of medications are available that
have an effect on the turbinate mucosa and affect patients' symptoms. Nasal
decongestants, in both topical and oral forms, are some of the most effective
drugs available for reducing congestion of the turbinate mucosa. Topical
sprays, oxymetazoline and phenylephrine, are extremely powerful alpha-
agonists, and prolonged use can cause a rebound effect. Rebound develops
within 4-5 days and if prolonged is known as rhinitis medicamentosum.
7
Terapi medis merupakan pendekatan lini pertama yang digunakan
untuk menatalaksana disfungsi konka. Namun, pilihan yang tepat dari terapi
bergantung pada diagnosis yang tepat. Beberapa kategori obat yang tersedia
yang memiliki efek pada mukosa konka dan mempengaruhi gejala pasien.
Dekongestan hidung, dalam dua bentuk berupa topikal dan oral, merupakan
obat yang paling defektif yang dapan mengurangi kongesti dari mukosa
konka. Topical sprays, oxymetazoline and phenylephrine,merupakan
antagonis-alpha yang sangat kuat, dan memiliki masa kerja yang panjang
yang memiliki efek rebound. Rebound muncul 4-5 hari dan jika berlangsung
lama disebut rhinitis medikamentosa.
7

Oral decongestants are also very effective for reducing congestion and
do not cause rebound swelling of the mucosa with prolonged use.
15

Pseudoephedrine and phenylephrine are 2 common forms of oral
decongestants. Main concerns regarding their use include elevation of blood
pressure in hypertensive patients and urinary retention in patients with benign
prostatic hypertrophy. Prolonged use of oral decongestants may lead to
tolerance and ineffectiveness. Phenylpropanolamine was voluntarily
withdrawn by the Food and Drug Administration (FDA) because of cases of
hemorrhagic stroke occurring in women. This drug is presently unavailable
for use as an oral decongestant.
7
Dekongestan oral juga sangat efektif untuk mengurangi kongesti dan
tidak menyebabkan pembengkakan kembali pada mukosa (rebound) dengan
penggunaan jangka panjang. Pseudoefedrin dan fenilefrin merupakan 2
bentuk umum dari dekongestan oral. Perhatian utama sehubungan dengan
penggunaan dekongestan oral ini yakni peningkatan tekanan darah pada
pasien hipertensi dan retensi urin pada pasien dengan hipertrofi prostat jinak.
Penggunaan berkepanjangan dekongestan oral dapat menyebabkan toleransi
dan ketidakefektifan. Fenilpropanolamin telah ditarik oleh Food and Drug
Administration (FDA) karena kasus stroke hemoragik yang terjadi pada
wanita. Obat ini saat ini tidak tersedia untuk digunakan sebagai dekongestan
oral.
7

Antihistamines are agents that affect the turbinates by blocking the
effects of histamine at H1 receptor sites. Many antihistamines are available
OTC and by prescription. These medications are only indicated in patients
with allergic rhinitis. Used in conjunction with oral decongestants,
16

antihistamines can relieve congestion and drainage symptoms. Adverse
effects are drug specific and range from sedation and memory effects (with
the earlier generation antihistamines that cross the blood-brain barrier) to
excessive dryness. Antihistamines are contraindicated in patients with
glaucoma.
7
Antihistamin adalah agen yang mempengaruhi konka dengan
menghalangi efek histamin pada reseptor H1. Banyak antihistamin yang
tersedia OTC (Over The counter Drugs) maupun dengan resep dokter. Obat-
obat ini hanya diindikasikan pada pasien dengan rhinitis alergi. Digunakan
bersama dengan dekongestan oral, antihistamin dapat mengurangi gejala
tersumbat dan drainase. Efek samping obat tertentu dan berkisar dari efek
sedasi dan memori (dengan antihistamin generasi sebelumnya yang melintasi
penghalang darah-otak) kekeringan yang berlebihan. Antihistamin
kontraindikasi pada pasien dengan glaukoma.
7

Intranasal steroid sprays are useful for turbinate dysfunction. These
medications are labeled for the management of allergic rhinitis but, like all
steroids, also have nonspecific anti-inflammatory effects. The newest sprays
in this class are extremely safe and have no significant suppression of the
hypothalamus-pituitary axis (HPA).
7
Semprotan steroid intranasal berguna untuk disfungsi konka. Obat-
obat ini diberi label untuk pengelolaan rhinitis alergi tetapi, seperti semua
steroid, juga memiliki efek anti-inflamasi nonspesifik. Semprotan terbaru di
17

kelas ini sangat aman dan tidak memiliki penekanan yang signifikan dari
hipotalamus-hipofisis axis (HPA).
7

Intranasal steroids are administered every day and require continued
daily use for any significant benefits. Proper direction of the spray nozzle to
the lateral nasal wall prevents the most common adverse effects of nasal
dryness, which include epistaxis and septal perforation (rare). Tolerance
should not occur with prolonged use. The latest controversy concerning the
use of nasal steroids in children is growth suppression. The latest studies
investigating the use of oral steroid inhalers, which have a higher level of
absorption, do not support this concern in at least 2 of the available steroid
sprays.
7
Steroid intranasal diberikan setiap hari dan butuh kelanjutan dalam
penggunaan sehari-hari untuk manfaat yang signifikan. Arah yang tepat dari
semprot hidung pada dinding lateral hidung mencegah efek samping yang
umum terjadi berupa hidung kering, termasuk epistaksis dan perforasi septum
(jarang). Toleransi tidak terjadi dengan penggunaan jangka panjang.
Kontroversi terbaru tentang penggunaan steroid nasal pada anak-anak adalah
terhambatnya pertumbuhan. Penelitian terbaru menyelidiki penggunaan oral
steroid inhalers, yang memiliki tingkat penyerapan lebih tinggi, tidak
mendukung kekhawatiran ini pada setidaknya 2 semprotan steroid yang
tersedia.
7

The leukotriene receptor antagonist montelukast is also approved for
use in cases of seasonal and perennial allergic rhinitis. Improvement in
18

daytime symptom scores of nasal congestion, rhinorrhea, and sneezing were
evident in clinical studies. Adverse effects are similar to those of a placebo.
7
Montelukast antagonis reseptor leukotriene juga bisa digunakan dalam
kasus rhinitis musiman dan perennial allergic rhinitis. Memperbaiki
munculnya gejala hidung tersumbat yang terjadi pada siang hari, rhinorrhea,
dan bersin yang nyata pada studi klinis. Efek samping yang serupa dengan
plasebo.
7

Intraturbinate injections of steroids are also used to treat inflammatory
mucosal hypertrophy. Care must be taken because cases of blindness have
been reported with this technique. A preliminary report of intraturbinate
injection of botulinum toxin A for vasomotor rhinitis showed symptom
improvement compared with placebo in a small cohort study.
7
Suntikan steroid intra konka juga digunakan untuk mengobati
hipertrofi mukosa yang inflamasi. Perawatan harus dilakukan karena kasus
kebutaan telah dilaporkan dengan teknik ini. Sebuah laporan awal injeksi
intra konka dari botulinum toxin A untuk rhinitis vasomotor menunjukkan
perbaikan gejala dibandingkan dengan plasebo dalam studi kohort kecil.
7
2.6.2 Pembedahan
Attempt should be made to discover the cause and remove it. Nasal
obstruction can be relieved by reduction in size of turbinates. The various
methods are:
6

a. Linier cauterisation.
b. Submucosal diathermy.
19

c. Cryosurgery of turbinates.
d. Partial or total turbinectomy. Hypertrophied inferior turbinate can be
partially removed at its anterior end. Inferior border or posterior end.
Middle turbinates, if hypertrophied, can also be removed partially or
totally. Excessive removal of turbinates should be avoided as it leads
to persistent crusting.
e. Submucous resection of turbinates bone, thisi removes bony
obstruction but preserves turbinal mucosa for its function.
f. Lasers have also been used to reduce the size of turbinates.
Upaya harus dilakukan untuk menemukan penyebab dan
menghilangkan sumbatan hidung. Sumbatan hidung dapat dihilangkan
dengan pengurangan ukuran konka. Berbagai macam metode yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut:
6

a. Linier cauterisation.
b. Submucosal diathermy.
c. Cryosurgery dari turbinates.
d. Partial or total turbinectomy. Hipertrofi konka inferior dapat di
angkat sebagian pada ujung anterior. Perbatasan inferior atau ujung
posterior. Konka media, jika hipertrofi, juga dapat diangkat sebagian
atau seluruhnya. Penghapusan berlebihan pada konka harus dihindari
karena menyebabkan krusta persisten.
20

e. Submucous resection of turbinates bone, dengan mengangkat tulang
yang mengobstruksi tetapi mempertahankan mukosa konka untuk
mempertahankan fungsinya.
f. Laser juga telah digunakan untuk mengurangi ukuran konka.
2.7 Komplikasi Post Operasi
Depending on the procedure performed, the most common
complications of turbinate surgery are bleeding and prolonged nasal dryness with
crusting. Bleeding is minimized by careful surgical techniques and the use of
packing. Antihypertensive medications are started immediately following surgery.
Postoperative trauma can lead to bleeding and so the patient is instructed to keep
the nose well moisturized with the use of a nonmedicated nasal spray. Avoidance
of nose blowing and opening of the mouth with sneezing are very helpful. No
heavy lifting or straining is permitted for the first 2-3 weeks.
7
Berdasarkan prosedur yang dilakukan, komplikasi yang paling umum
dari operasi konka adalah pendarahan dan hidung kering berkepanjangan dengan
krusta. Perdarahan diminimalkan dengan teknik bedah yang cermat dan
penggunaan balutan perban. Obat antihipertensi segera mulai setelah operasi.
Trauma pasca operasi dapat menyebabkan perdarahan dan pasien diinstruksikan
untuk menjaga kelembaban hidung baik dengan menggunakan semprot hidung
tanpa obat. Menghindari meniup hidung dan membuka mulut walau bersin sangat
membantu. Tidak mengangkat berat atau mengedan selama 2-3 minggu pertama.
7

Doing all of the above and staying well hydrated can minimize crusting.
Vaseline can be applied to the anterior nares for symptomatic relief at bedtime and
21

throughout the day as needed. Atrophic rhinitis (ozena) can develop in a patient
with over-resected inferior turbinates. Increased nasal hygiene is necessary in
those circumstances.
7
Dengan melakukan semua hal di atas dan melakukan hidrasi dengan
baik dapat meminimalkan krusta. Vaseline dapat dipakai pada hidung bagian
anterior untuk mengurangi gejala-gejala pada waktu tidur dan sepanjang hari
sesuai yang diperlukan. Rhinitis atrofi (ozena) dapat berkembang pada pasien
dengan over-reseksi konka inferior. Peningkatan kebersihan hidung diperlukan
dalam situasi tersebut.
7














22

BAB 3
KESIMPULAN

Sumbatan hidung merupakan gejala utama konka hipertropfi. Konka
inferior merupakan konka yang paling sering mengalami hal tersebut.

Hipertrofi
konka inferior merupakan hasil dari hipertrofi mukosa, hipertrofi tulang, maupun
keduanya.
Hipertrofi konka inferior, sering dihubungkan dengan alergen atau iritas
lain di udara, maupun dengan penggunaan obat-obatan alergi itu sendiri maupun
deviasi septum.


Hipertrofi konka inferior dapat ditegakan dengan anamnesis, rinoskopi
anterior dan nasoendoskopi . Keluhan yang terjadi adalah hidung tersumbat
kadangkadang dengan komplikasi sinusitis. Bermacam-macam teknik untuk
pengobatan hipertrofi konka mulai yang konservatif dan berbagai teknik
pembedahan. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan.
Teknik pembedahan dilakukan bila sumbatan hidung telah
menganggu dan tidak berhasil dengan terapi medikamentosa. Tidak ada teknik
tertentu yang direkomendasikan. Pemilihan teknik operatif tergantung pada
penyebab, kondisi konka, pengalaman dan keahlian operator serta ketersediaan
alat.