Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

“Otitis Media Efusi Dextra”

Oleh:
Mahardani Utami Pratiwi
H1A015044

Pembimbing:
dr. Hamsu Kadriyan, Sp. THT-KL (K), M. Kes, FICS

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK DAN
BEDAH KEPALA LEHER RSUD PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penugasan laporan kasus ini dengan judul ”Otitis Media Efusi Dextra”.
Laporan kasus ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dalam
proses mengikuti kepaniteraan klinik di bagian SMF THT-KL Rumah Sakit
Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Fakultas Kedokteran Universitas
Mataram. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada dr. Hamsu Kadriyan, Sp.
THT-KL (K), M. Kes, FICS, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk
membimbing penulis dalam penulisan laporan kasus ini.
Demikian laporan kasus ini penulis susun dengan harapan dapat bermanfaat
bagi penulis dan semua pihak, khususnya dalam bidang kedokteran. Kritik dan
saran yang membangun penulis harapkan sehingga penulis dapat meningkatkan
kualitas penulisan di masa mendatang.

Mataram, 14 Oktober 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................... 1
KATA PENGANTAR................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................ 3
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................... 4
1.1. Latar Belakang................................................................................. 4
1.2. Tujuan Penelitian.............................................................................. 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 5
2.1. Anatomi dan Fisiologi Telinga......................................................... 5
2.2 Otitis Media Efusi............................................................................. 9
2.2.1 Definisi ................................................................................... 9
2.2.2 Epidemiologi........................................................................... 10
2.2.3 Etiologi.................................................................................... 10
2.2.4 Patofisiologi............................................................................ 11
2.2.5 Manifestasi Klinis................................................................... 14
2.2.6 Diagnosis................................................................................. 15
2.2.7 Tatalaksana.............................................................................. 21
2.2.8 Komplikasi.............................................................................. 22
BAB III. LAPORAN KASUS..................................................................... 23
3.1. Identitas Pasien................................................................................. 23
3.2. Anamnesis........................................................................................ 23
3.3. Pemeriksaan Fisik............................................................................ 25
3.4. Pemeriksan Penunjang..................................................................... 27
3.5. Assesment......................................................................................... 29
3.6. Planning............................................................................................ 29
3.7. Edukasi............................................................................................. 29
3.8. Prognosis.......................................................................................... 29
BAB IV. PEMBAHASAN........................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 33

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Otitis media efusi (OME) merupakan peradangan telinga tengah yang di
tandai dengan adanya cairan efusi di rongga telinga tengah dengan membran
timpani utuh tanpa disertai dengan tanda-tanda ifeksi akut. OME termasuk dalam
golongan otitis media non supuratif. Terdapat banyak sinonim dari OME ini.
Tetapi yang paling banyak diterima berdasarkan terminologi adalah otitis media
efusi.1
Dari beberapa kepustakaan dapat disimpulkan rata-rata insiden OME
sebesar 14%-62%, sedangkan peneliti lain ada yang melaporkan angka rata-rata
prevelensi OME sebesar 2%-52%. Di Indonesia masih jarang ditemukan
kepustakaan yang melaporkan angka kejadian penyakit ini, hal ini disebabkan
kerena belum ada penelitian yang khusus mengenai penyakit ini, atau tidak
terdeteksi karena minimalnya keluhan pada pasien yang menderita OME.1
Oleh karena itu, penting mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai
otitis media efusi terutama tentang penyebab, gejala, cara mendiagnosis dan
tatalaksananya melalui sebuah kasus.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk:
 Memahami lebih dalam mengenai otitis media efusi.
 Mengetahui cara mendiagnosis dan tatalaksana pasien yang mengalami
otitis media efusi.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA


Secara umum telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar, telinga
tengah, dan telinga dalam. Telinga luar terdiri atas daun telinga, liang telinga, dan
berbatasan pada membran timpani. Daun telinga tersusun atas tulang rawan elastin
dan kulit dan berfungsi sebagai penangkap gelombang bunyi untuk diteruskan ke
liang telinga. Liang telinga memiliki bentuk seperti huruf S dan memiliki panjang
2,5-3 cm. Sekitar 1/3 bagian luar disusun oleh tulang rawan dan banyak terdapat
kelenjar serumen dan rambut dan 2/3 bagian dalam disusun oleh tulang dan
terdapat sedikit kelenjar serumen.1
Membran timpani berbentuk bulat dan cekung, terbagi atas 2 bagian,
yaitu pars flaksida (membrane Sharpnell) di bagian atas dan pars tensa
(membrane propria) di bagian bawah. Pars flaksida memiliki 2 lapisan, yaitu
lanjutan epitel kulit liat telinga pada bagian luar dan sel epitel kubus bersilia pada
bagian dalam. Pars tensa memiliki 3 lapisan, yaitu 2 lapisan yang sama dengan
pars flaksida ditambah dengan 1 lapisan pada bagian tengah yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin yang tersusun radial di luar dan sirkular di bagian
dalam. Umbo merupakan bagian penonjolan maleus pada membran timpani,
dimana ujungnya merupakan permulaan refleks cahaya ke arah bawah, yaitu
pukul 7 pada telinga kiri dan pukul 5 pada telinga kanan. Secara umum membrane
timpani dibagi menjadi 4 kuadran, yaitu anterior-superior, anterior-inferior,
posterior-superior, dan posterior-inferior.1,2

5
Gambar 1. Anatomi telinga2

Gambar 2. Struktur membran timpani2

Telinga tengah terdiri atas tulang-tulang pendengaran dan tuba eustachius.


Tulang-tulang pendengaran pada telinga tengah saling terhubung, yaitu prosesus
longus maleus yang melekat pada membrane timpani, maleus yang melekat pada
inkus, dan inkus yang melekat pada stapes. Telinga tengah memiliki batas-batas,
antara lain:1
 Luar : membran timpani
 Depan : tuba eustachius
 Bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)
 Belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

6
 Atas : tegmen timpani (meningen/otak)
 Dalam : beruturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis
horizontal, kanalis dasialis, tingkap lonjong, tingkap
bundar, dan promontorium

Telinga dalam tersusun atas koklea dan vestibuler (tiga buah kanalis
semisirkularis). Puncak koklea disebut sebagai helikotrema merupakan
penghubung perilimfa pada skala timpani dengan skala vestibuli. Pada irisan
melintang koklea, skala vestibule terletak di bagian atas, skala timpani di bagian
bawah, dan skala media terletak di tengah. Skala vestibule dan skala timpani
berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Skala vestibule
memiliki dasar yang disebut membrane vestibule (Reissner’s membrane)
sedangkan skala media memiliki dasar yang disebut membrane basalis dan
merupakan tempat perlekatan organ Corti. Organ Corti terdiri atas membrane
tektoria, sel rambut luar, sel rambut dalam, dan kanalis Corti.1,2

Gambar 3. Struktur telinga dalam2

7
Gambar 4. Struktur koklea2

Untuk memahami terjadinya OME, anatomi dan fungsi tuba Eustachius


memegang peranan penting. Tuba Eustachius merupakan bagian dari system yang
paling berhubungan termasuk hidung, nasofaring, telinga tengah, dan rongga
mastoid. Tuba Eustachius tidak hanya berupa tabung melainkan sebuah organ
yang mengandung lume dengan mukosa, kartilago, dikelilingi jaringan lunak,
muskulus peritubular seperti veli palatine, levator veli palatine, salpingofaringeus,
dan tensor timpani dan di bagian superior didukung tulang. Perbedaan tuba
Eustachius pada anak dan dewasa yang menyebabkan meningkatnya insiden otitis
media pada anak-anak.3
Panjang tuba pada anak setengah panjang tuba dewasa, sehingga sekret
nasofaring lebih mudah refluks ke dalam telinga tengah melalui tuba yang pendek.
Arah tuba bervariasi pada anak, sudut antara tuba dengan bidang horizontal adalah
100. Sedangkan pada dewasa 450. Sudut antara tensor veli palatine dengan
kartilago bervariasi pada anak-anak tetapi relatif stabil pada dewasa.

8
Perbedaan ini dapat membantu menjelaskan pembukaan lumen tuba
(kontraksi tensor veli palatini) yang tidak efisien pada anak-anak. Masa kartilago
bertambah dari bayi sampai dewasa. Densitas elastin pada kartilago lebih sedikit
pada bayi tetapi densitas kartilago lebih besar. Ostmann fat pad lebih kecil
volumenya pada bayi. Pada anak-anak banyak lipatan mukosa di lumen tuba
Eustachius, hal ini dapat menjelaskan peningkatan compliance tuba pada anak-
anak.4

Gambar 5. Posisi tuba eustachius (merah) karena menghubungkan ruang telinga


tengah ke nasofaring. Tuba eustachius anak (kanan) lebih pendek, lebih floppy,
dan lebih horizontal, yang membuatnya kurang efektif dalam fungsi ventilasi dan
melindungi telinga tengah, dibandingkan dengan tuba eustachius pada orang
dewasa (kiri).4

9
2.2. OTITIS MEDIA EFUSI
2.2.1. Definisi
Otitis media efusi (OME) adalah inflamasi pada telinga tengah
yang ditandai dengan adanya penumpukan cairan efusi di telinga tengah
dengan membran timpani utuh tanpa adanya tanda dan gejala inflamasi
akut.1

Gambar 6. Lokasi ruang telinga tengah (middle ear space). Otitis media dengan
efusi terjadi ketika cairan menumpuk di ruang telinga tengah (middle ear space)
yang biasanya berisi udara dan terletak tepat di belakang gendang telinga.4

2.2.2. Epidemiologi
Insiden OME sebesar 14%-62%, sedangkan peneliti lain ada yang
melaporkan angka rata-rata prevelensi OME sebesar 2%-52%. Di
Indonesia masih jarang ditemukan kepustakaan yang melaporkan angka
kejadian penyakit ini, hal ini disebabkan kerena belum ada penelitian yang
khusus mengenai penyakit ini, atau tidak terdeteksi karena minimalnya
keluhan pada pasien yang menderita OME.1

10
2.2.3. Etiologi
Etiologi dan patogenesis OME bersifat multifaktorial antara lain
infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba Eustachius, status
imunologi, alergi, faktor lingkungan dan sosial. Walaupun demikian
tekanan telinga tengah yang negatif, abnormalitas imunologi, atau
kombinasi dari kedua faktor tersebut diperkirakan menjadi faktor utama
dalam pathogenesis OME. Faktor penyebab lainnya termasuk hipertropi
adenoid, adenoiditis kronis, palatoskisis, tumor nasofaring, barotrauma,
terapi radiasi, dan radang penyerta seperti sinusitis atau rinitis. Merokok
dapat menginduksi hiperplasi limfoid nasofaring dan hipertropi adenoid
yang juga merupakan patogenesis timbulnya OME.1,4

2.2.4 Patofisiologi
Otitis media dengan efusi (OME) dapat terjadi selama resolusi
otitis media akut (OMA) sekali peradangan akut telah teratasi. Di antara
anak-anak yang telah memiliki sebuah episode dari otitis media akut,
sebanyak 45 % memiliki efusi persisten setelah 1 bulan, tetapi jumlah ini
menurun menjadi 10 % setelah 3 bulan.1,3,4
Terdapat 3 fungsi utama tuba eustachius yaitu ventilasi untuk
menjaga agar tekanan udara antara telinga tengah dan telinga luar selalu
sama, pembersihan sekret dan sebagai proteksi pada telinga tengah.
Gangguan fungsi yang dapat disebabkan oleh sejumlah keadaan dari
penyumbatan anatomi peradangan sekunder terhadap alergi, infeksi
saluran pernafasan atas (ISPA) atau trauma. Jika gangguan fungsi tuba
eustachius berlangsung terus-menerus, tekanan negatif berkembang dalam
telinga tengah dari penyerapan dan atau penyebaran nitrogen serta oksigen
ke dalam sel mukosa telinga tengah. Jika berlangsung cukup lama dengan
sejumlah besar yang sesuai, terjadi transudasi dari mukosa akibat tekanan
negatif yang menyebabkan terjadinya akumulasi serosa dengan dasar efusi
yang steril.

11
Disebabkan gangguan fungsi dari tuba eustachius, efusi menjadi
media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri dan bisa mengakibatkan
terjadinya otitis media akut.1,4
Hampir keseluruhan otitis media efusi disebabkan gangguan fungsi
tuba eustachius. Apabila peradangan dan infeksi bakteri akut telah jelas,
kegagalan dari mekanisme pembersihan telinga tengah memungkinkan
terjadinya efusi pada telinga tengah. Banyak faktor yang telah terlibat
dalam kegagalan dari mekanisme pembersihan , termasuk gangguan fungsi
siliar, edema mukosa, hiperviskositas efusi, dan tekanan udara antar telinga
tengah dan telinga luar yang tidak baik.1,4
 Gangguan Fungsi Tuba
Gangguan fungsi tuba menyebabkan mekanisme aerasi ke
rongga telinga tengah terganggu, drainase dari rongga telinga ke rongga
nasofaring terganggu dan gangguan mekanisme proteksi rongga telinga
tengah terhadap refluks dari rongga nasofaring. Akibat gangguan
tersebut rongga telinga tengah akan mengalami tekanan negatif.
Tekanan negatif di telinga tengah menyebabkan peningkatan
permaebilitas kapiler dan selanjutnya terjadi transudasi. Selain itu
terjadi infiltrasi populasi sel-sel inflamasi dan sekresi kelenjar.
Akibatnya terdapat akumulasi sekret di rongga telinga tengah. Inflamasi
kronis di telinga tengah akan menyebabkan terbentuknya jaringan
granulasi, fibrosis dan destruksi tulang. 1,4
Obstruksi tuba Eustachius ytang menimbulkan terjadinya
tekanan negatif di telinga tengah akan diikuti retraksi membran timpani.
Orang dewasa biasanya akan mengeluh adanya rasa tak nyaman, rasa
penuh atau rasa tertekan dan akibatnya timbul gangguan pendengaran
ringan dan tinnitus. Anak-anak mungkin tidak muncul gejala seperti ini.
Jika keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu lama cairan akan
tertarik keluar dari membran mukosa telinga tengah, menimbulkan
keadaan yang kita sebut dengan otitis media serosa.

12
Kejadian ini sering timbul pada anak-anak berhubungan dengan
infeksi saluran nafas atas dan sejumlah gangguan pendengaran
mengikutinya. 1,4

 Infeksi
Infeksi bakteri merupakan faktor penting dalam patogenesis
terjadinya OME sejak dilaporkan adanya bakteri di telinga tengah.
Streptococcus Pneumonia, Haemophilus Influenzae, Moraxella
Catarrhalis dikenal sebagai bakteri pathogen terbanyak ditemukan
dalam telinga tengah. Meskipun hasil yang didapat dari kultur lebih
rendah. Penyebab rendahnya angka ini diduga karena:1,4
1. Penggunaan antibiotik jangka lama sebelum pemakian ventilation
tube akan mengurangi proliferasi bakteri patogen,
2. Sekresi immunoglobulin dan lisosim dalam efusi telinga tengah akan
menghambat proliferasi patogen,
3. Bakteri dalam efusi telinga tengah berlaku sebagai biofilm

 Status Imunologi
Faktor imunologis yang cukup berperan dalam OME adalah
sekretori Ig A. immunoglobulin ini diproduksi oleh kelenjar di dalam
mukosa kavum timpani. Sekretori Ig A terutama ditemukan pada efusi
mukoid dan di kenal sebagai suatu imunoglobulin yang aktif bekerja
dipermukaan mukosa respiratorik. Kerjanya yaitu menghadang kuman
agar tidak kontak langsung dengan permukaan apitel, dengan cara
membentuk ikatan komplek. Kontak langsung dengan dinding sel epitel
adalah tahap pertama dari penetrasi kuman untuk infeksi jaringan.
Dengan demikian Ig A aktif mencegah infeksi kuman. 1,4

 Alergi

13
Bagaimana faktor alergi berperan dalam menyebabkan OME
masih belum jelas. Akan tetapi dari gambaran klinis di percaya bahwa
alergi memegang peranan. Dasar pemikirannya adalah analogi
embriologik, dimana mukosa timpani berasal sama dengan mukosa
hidung. Setidak-tidaknya manifestasi lergi pada tuba Eustachius
merupakan penyebab okulasi kronis dan selanjutnya menyebabkan
efusi. Namun demikian dari penelitian kadar Ig E yang menjadi kriteria
alergi atopik, baik kadarnya dalam efusi maupun dalam serum tidak
menunjang sepenuhnya alergi sebagai penyebab. 1,4
Etiologi dan patogenesis otitis media oleh karena alergi
mungkin disebabkan oleh satu atau lebih dari mekanisme di bawah
ini:1,4
 Mukosa telinga tengah sebagai organ sasaran (target organ)
 Pembengkakan oleh karena proses inflamasi pada mukosa tuba
Eustachius
 Obstruksi nasofaring karena proses inflamasi, dan
 Aspirasi bakteri nasofaring yang terdapat pada sekret alergi ke dalam
ruang telinga tengah.

Gambar 7. Patogenesis OME1

2.2.5 Manifestasi Klinis

14
Penderita OME jarang memberikan gejala sehingga pada anak-
anak sering terlambat diketahui. Gejala OME ditandai dengan rasa penuh
dalam telinga, terdengar bunyi berdengung yang hilang timbul atau terus
menerus, gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang
ringan. Dizziness juga dirasakan penderita-penderita OME. Gejala kadang
bersifat asimtomatik sehingga adanya OME diketahui oleh orang yang
dekat dengan anak misalnya orang tua atau guru.1,4
Anak-anak dengan OME juga kadang-kadang sering terlihat
menarik-narik telinga mereka atau merasa seperti telinganya tersumbat.
Pada kasus yang lanjut sering ditemukan adanya gangguan bicara dan
perkembangan berbahasa. Kadang-kadang juga ditemui keadaan kesulitan
dalam berkomunikasi dan keterbelakangan dalam pelajaran.1,4
2.2.6 Diagnosis
Diagnosis OME pada anak tidak mudah dan terdapat perbedaan
yang bermakna sesuai dengan kecakapan klinisi, khususnya di tingkat
pelayanan primer atau dokter anak yang mendiagnosisnya. Gejala tidak
ada sensitif maupun spesifik, banyak anak justru tanpa gejala.
Pemeriksaan fisik pada anak penderita OME berpotensi tidak akurat
kerena kesan subjektif gambaran membran timpani sulit dinilai. Belum
lagi anak-anak yang tidak kooperatif saat dilakukan pemeriksaan. Namun
enamnesis dan pemeriksaan fisik tetap sangat berperan dalam
mendiagnosis OME.5,6

 Anamnesis
Dalam mendiagnosis OME diperlukan kejelian dari pemeriksa.
Ini disebabkan keluhan yang tidak khas terutama pada anak-anak.
Biasanya orang tua mengeluh adanya gangguan pendengaran pada
anaknya, guru melaporkan bahwa anak mempunyai problem
pendengaran, kemunduran dalam pelajaran di sekolah, bahkan dalam
gangguan wicara dan bahasa.

15
Sering kali OME ditemukan secara tidak sengaja pada saat
skrining pemeriksaan telinga dan pendengaran di sekolah-sekolah.5,6
Pada anak-anak dengan OME dari anamnesis keluhan yang
paling sering adalah penurunan pendengaran dan kadang merasa telinga
merasa penuh sampai dengan merasa nyeri telinga. Dan pada anak-anak
penderita OME biasanya mereka juga sering didapati dengan riwayat
batuk pilek dan nyeri tenggorokan berulang. Pada anak-anak yang lebih
besar biasanya mereka mengeluhkan kesulitan menengarkan pelajaran
di sekolah, atau harus membesarkan volume saat menonton televisi di
rumah. Orang tua juga sering mendengarkan keluhan telinga anaknya
terasa tidak nyaman atau sering melihat anaknya menarik-narik daun
telinganya.5,6

 Pemeriksaan Fisik
Untuk mendiagnosis OME pada pemeriksaan fisik perlu
dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanogram, audiogram dan kadang
tindakan miringotomi untuk memastikan adanya cairan dalam telinga
tengah.5,6

 Otoskopi
Pemeriksaan otoskopi dilakukan untuk kondisi, warna, dan
translusensi membrana tempani. Macam-macam perubahan atau
kelainan yang terjadi pada membran timpani dapat dilihat sebagaimana
berikut:1,5,6
a) Membrana timpani yang suram dan berwarna kekuningan yang
menggati gambaran tembus cahaya selain itu letak segitiga reflek
cahaya pada kuadran antero inferior memendek, mungkin saja
didapatkan pula peningkatan pembuluh darah kapier pada membran
timpani tersebut. Pada kasus dengan cairan mukoid atau
mukupurulen membrana timpani berwarna lebih muda (krem).

16
b) Membrana timpani retraksi yaitu bila manubrium malei terlihat
lebih pendek dan lebih horizontal, membran kelihatan cekung dan
reflex cahaya memendek. Warna mungkin akan berubah agak
kekuningan.
c) Atelektasis, membrana timpani biasanya tipis, atropi dan mungkin
menempel pada inkus, stapes dan promontium, khusunya pada
kasus-kasus yang sudah lanjut, biasanya kasus yang seperti ini
karena disfungsi tuba Eustachius dan otitis media efusi yang sudah
berjalan lama.
d) Membrana timpani dengan sikatrik, suram sampai retraksi berat
disertai bagian yang atropi didapatkan pada otitis media adesiva
oleh karena terjadi jaringan fibrosis ditelinga tengah sebagai akibat
proses peradangan sebelumnya yang berlangsung lama.
e) Gambaran air fluid level atau bubles biasanya ditemukan pada
OME yang berisi cairan serus.
f) Membrana timpani berwarna biru gelap atau ungu diperlihatkan
pada kasus hematotimpanum yang disebabkan oleh fraktur tulang
temporal, leukemia, tumor vaskuler telinga tengah. Sedangkan
warna biru yang lebih muda mungkin disebabkan oleh
barotraumas.
g) Gambaran lain adalah ditemukan sikatrik dan bercak kalisifikasi.

Pada pemeriksaan otoskopi menunjuk kecurigaan OME apabila


ditemukan tanda-tanda:1,5,6
a. Tidak didapatkan tanda-tanda radang akut.
b. Terdapat perubahan warna membrana timpani akibat refleksi dari
adanya cairan didalam kavum timpani.
c. Membran timpani tampak lebih menonjol.
d. Membran timpani retraksi atau atelektasis.
e. Didapatkan air fluid levels atau buble, atau
f. Mobilitas membran berkurang atau fikasi.

17
Gambar 8. Gambaran OME pada pemeriksaan otoskopi3

Gambar 9. Perbandingan otitis media efusi (atas) dan otitis media akut (bawah).
Gambar kiri menunjukkan penampilan gendang telinga pada otoskopi, dan
gambar kanan menggambarkan ruang telinga tengah. Untuk otitis media efusi,
ruang telinga tengah diisi dengan lendir atau cairan (kanan atas). Untuk otitis
media akut, ruang telinga tengah dipenuhi dengan nanah, dan tekanan
menyebabkan gendang telinga menonjol ke luar (kanan bawah).4

 Otoskop Pneumatik (Otoskop Siegle)

18
Otoskop pneumatik diperkenalkan pertama kali oleh Siegle,
bentuknya relatif tidak berubah sejak pertama diperkenalkan pada tahun
1864. Pemeriksaan otoskopi pneumatik selain bisa melihat jenis
perforasi, jaringan patologi, dan untuk membrana timpani yang masih
utuh bisa juga di lihat gerakanya (mobilitas) dengan jalan memberi
tekanan positif maka membrana timpani akan bergerak ke medial dan
bila diberi tekanan negatif maka membrana timpani akan bergerak ke
leteral. Pemeriksaan otoskopi pneumatik merupakan standar fisik
diagnostik pada OME.1,5,6
 Timpanometri
Timpanometer adalah suatu alat untuk mengetahui kondisi dari
sistem telinga tengah. Pengukuran ini memberikan gambaran tentang
mobilitas membrana timpani, keadaan persediaan tulang pendengaran,
keadaan dalam telinga tengah termasuk tekanan udara didalamnya, jadi
berguna dalam mengetahui gangguan konduksi dan fungsi tuba
Eustachius.1,5,6
Grafik hasil pengukuran timpanometeri atau timpanogram dapat
untuk mengetahui gambaran kelainan di telinga tengah. Meskipun
ditemukan banyak variasi bentuk timpanogram akan tetapi pada
prinsipnya hanya ada tiga tipe, yakni tipe A, tipe B, dan tipe C.1,5,6
Pada penderita OME gambaran timpanogram yang sering
didapati adalah tipe B. Tipe B bentuknya relatif datar, hal ini
menunjukan gerakan membrana timpani terbatas karena adanya cairan
atau pelekatan dalam kavum timpani. Grafik yang sangat datar dapat
terjadi akibat perforasi membrana timpani, serumen yang banyak pada
liang telinga luar atau kesalahan pada alat yaitu saluran buntu.1,5,6
Pemerikasaan timpanometri dapat memperkirakan adanya cairan
didalam kavum timpani yang lebih baik dibanding dengan pemeriksaan
otoskopi saja.1,5,6

 Audiogram

19
Dari pemeriksaan audiometrik nada murni didapatkan nilai
ambang tulang dan udara. Gangguan pendengaran lebih sering
ditemukan pada pasien OME dengan cairan yang kental (glue ear).
Meskipun demikian beberapa studi mengatakan tidak ada perbedaan
yang signifikan antara cairan serus dan kental terhadap gangguan
pendengaran, sedangkan volume cairan yang ditemukan di dalam
telinga tengah adalah lebih berpengaruh.1,5,6
Pasien dengan OME ditemukan gangguan pendengaran dengan
tuli konduksi ringan sampai sedang sehingga tidak begitu berpengaruh
dengan kehidupan sehari-hari. Tuli bilateral persisten lebih dari 25 dB
dapat mengganggu perkembangan intelektual dan kemampuan
berbicara anak. Bila hal ini dibiarkan bisa saja ketulian bertambah berat
yang berakibat buruk bagi pasien. Akibat buruk ini dapat berupa
gangguan local pada telinga maupun gangguan yang lebih umum,
seperti gangguan perkembangan bahasa dan kemunduran dalam
pelajaran sekolah. Pasien dengan tuli konduksi yang lebih berat
mungkin sudah didapatkan fiksasi atau putusnya rantai osikel.1,5,6
Garis pedoman OME yang disusun bersama oleh AAFP,
AAOHNS dan AAP menyatakan bahwa audiologi merupakan salah satu
komponen pemeriksaan pasien OME. Pemeriksaan audiometrik
direkomendasikan pada pasien dengan OME selama 3 bulan atau lebih,
kelambatan berbahasa, gangguan belajar atau dicurigai terdapat
penurunan pendengaran bermakna. Berdasarkan beberapa penelitian,
tuli konduksi sering berhubungan dengan OME dan berpengaruh pada
proses mendengar kedua telinga, lokalisasi suara, persepsi bicara dalam
kebisingan. Penurunan pendengaran yang disebabkan oleh OME akan
mengahalangi kemampuan awal berbahasa yang didapat.1,5,6

 Radiologi

20
Pemeriksaan radiologi foto mastoid dahulu efektif digunakan
untuk skrining OME, tetapi sekarang jarang dikerjakan. Anamnesis
riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik banyak membantu diagnosis
penyakit ini.1,5,6
CT Scan sangat sensitif dan tidak diperlukan untuk
diagnosis. Meskipun CT scan penting untuk menyingkirkan adanya
komplikasi dari otitis media missal mastoiditis, trombosis sinus sigmoid
ataupun adanya kolesteatoma. CT scan penting khususnya pada pasien
dengan OME unilateral yang harus dipastikan adanya massa di
nasofaring telah disingkirkan.1,5,6
2.2.7 Tatalaksana
Diagnosis dan pengobatan sedini mungkin memegang peranan
penting. Keberhasilan dari penatalaksanaan ditentukan dengan mencari
faktor penyebab dan mengatasinya guna mencegah akibat lanjut penyakit
tersebut. Sumbatan tuba dan infeksi saluran nafas atas yang kronis serta
berulang merupakan salah satu faktor yang penting diperhatikan.1,4
Namun penatalaksanaan OME sendiri masih menjadi perdebatan,
ini disebabkan oleh karena baik pengobatan yang bersifat konservatif
maupun tindakan operatif, masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Pengobatan OME secara konservatif ada yang belum terbukti
menyembuhkan penderita dengan OME, namun pada pokoknya dapat
mengurangi morbiditas ketika terapi konservatif dianggap gagal atau tidak
memuaskan.1,4
Pengobatan pada OME meliputi pengobatan konservatif dan
tindakan operatif. Pengobatan konservatif secara local (obat tetes hidung
atau spray) dan sistemik antara lain antibiotika spektrum luas,
antihistamin, dekongestan, dengan atau tanpa kortikosteroid. Pengobatan
dan control terhadap alergi dapat mengurangi atau menyembuhkan otitis
media efusi.1,4
Pengobatan secara operatif dilakukan pada kasus dimana setelah
dilakukan pengobatan konservatif selam lebih dari 3 bulan tidak sembuh.

21
Untuk memberikan hasil yang baik terhadap drainase dilakukan
miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi. Pipa ventilasi dipasang pada
daerah kuadran antero inferior atau antero superior. Pipa ventilasi akan
dipertahankan sampai fungsi tuba ini paten. Penatalaksanaan secara
operatif meliputi mirigotomi dengan atau tanpa pemasangan pipa ventilasi
dan adenoidektomi dengan atau tanpa tonsilektomi.1,4
Tujuan pemasangan pipa ventilasi adalah menghilangkan cairan
pada telinga tengah, mengatasi gangguan pendengaran yang terjadi,
mencegah kekambuhan, mencegah gangguan perkembangan kognitif,
bicara, bahasa dan psikososial.1,4
2.2.8 Komplikasi
Akibat lanjut OME dapat mengakibatkan hilangnya fungsi
pendengaran sehingga akan mempengaruhi perkembangan bicara dan
intelektual. Perubahan yang terjadi pada telinga tengah dapat
mengakibatkan penyakit berlanjut menjadi otitis media adesiva dan otitis
media kronis maligna.1,4

BAB III
LAPORAN KASUS

22
3.1. Identitas Pasien
Nama : Tn. RN
Umur : 46 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Pekerjaan : Pedagang
RM : 043024
Tanggal Pemeriksaan : 03 Oktober 2019

3.2. Anamnesia
Keluhan Utama
Telinga kanan berdengung
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik THT Kepala Leher RSUD Provinsi NTB
dengan keluhan telinga kanan berdengung. Keluhan ini dirasakan sejak ± 5 hari
yang lalu. Selain telinga berdengung, pasien juga mengeluh telinga kanan terasa
penuh disertai dengan penurunan pendengaran. Pasien mengaku tidak ada cairan
yang keluar dari telinga kanannya. Pada juga mengeluh sakit kepala berdenyut di
kepala sebelah kiri lalu lama kelamaan menyebar ke kepala sebelah kanan. Selain
itu, pasien juga mengeluh lidahnya terasa kaku sehingga sulit menguncapkan kata-
kata. Keluhan batuk, pilek, demam, nyeri pada telinga, nyeri saat menelan,
ataupun sakit gigi disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya kurang lebih 1
bulan yang lalu. Pasien sering mengalami hidung tersumbat yang kambuh
kambuhan. Pasien tidak memiliki riwayat asma, diabetes mellitus, hipertensi,

23
penyakit ginjal, penyakit jantung ataupun mengalami kejang dan trauma. Pasien
juga tidak pernah dirawat inap ataupun menjalani operasi tertentu dan tidak
sedang dalam pengobatan penyakit tertentu.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga pasien, tidak ada yang mengalami keluhan serupa dengan
pasien. Dalam keluarga pasien, ibu pasien memiliki riwayat asma.
Riwayat Alergi
Riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan tertentu disangkal.
Riwayat Sosial
Pasien bekerja sebagai pedagang di pinggir jalan dan biasanya berdagang
dari pagi sampai malam. Pasien merupakan seorang perokok aktif sejak remaja
dan biasanya menghabiskan sekitar ½ bungkus per hari. Pasien tidak memiliki
kebiasaan mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.
Riwayat Pengobatan
Pasien sebelumnya pernah berobat ke Puskesmas Tanjung Karang dan
RSU Kota Mataram.

3.3. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : E4V5M6 (Compos Mentis)
 Tanda Vital
 TD : 120/90 mmHg
 Nadi : 88 x/menit
 Respirasi : 20 x/menit
 Temperatur : 36,8 oC

Status Lokalis
Pemeriksaan Wajah
‒ Wajah simetris antara kiri dan kanan.
‒ Mengangkat alis: alis kiri dan kanan terangkat simetris.
‒ Mengerutkan dahi: dahi kiri dan kanan mengkerut simetris.

24
‒ Mengembungkan pipi: pipi kiri dan kanan mengembung simetris.

Pemeriksaan Telinga
No. Area Telinga Kanan Telinga Kiri
1. Tragus Nyeri tekan (-), edema (-) Nyeri tekan (-), edema (-)
2. Daun Telinga Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri tarik normal, hematoma (-), nyeri tarik
aurikula (-) aurikula (-)
3. Liang Telinga Serumen (-), hiperemis (-), Serumen (-), hiperemis (-),
furunkel (-), edema (-), sekret (+), furunkel (-), edema (-), sekret(-),
granulasi (-) granulasi (-)

4. Membran Timpani Retraksi (-), bulging (-), hiperemis Retraksi (-), bulging (-),
(-), edema (-), perforasi (-), hiperemis (-), edema (-), perforasi
kolesteatom (-), sekret (-), cone of (-), kolesteatom (-), sekret (-),
light (+). Ada gambaran cairan (+) cone of light (+)

MT intak MT intak
Cone of light (+) Cone of light (+)

Pemeriksaan Hidung
Pemeriksaan
Hidung Kanan Hidung Kiri
Hidung
Hidung Luar Bentuk normal, hiperemi (-), nyeri Bentuk normal, hiperemi (-), nyeri
tekan (-), deformitas (-) tekan (-), deformitas (-)
Rinoskopi Anterior
Vestibulum Nasi Hiperemis (-), sekret mukoid (+), Hiperemis (-), sekret mukoid (-),

25
ulkus (-) ulkus (-)
Cavum Nasi Bentuk normal, hiperemis (+), Bentuk normal, hiperemis (-), ulkus
ulkus (-), kavum nasi sempit (+) (-), kavum nasi sempit (-)
Meatus Nasi Media Mukosa hiperemis (-), sekret (-), Mukosa hiperemis (-), sekret (-),
massa (-) massa (-)
Konka Nasi Edema (+), mukosa pucat (-) Edema (+), mukosa pucat (-)
Inferior
Septum Nasi Deviasi (+), benda asing(-), Deviasi (-), benda asing(-),
perdarahan (-), ulkus (-) perdarahan (-), ulkus (-)

Pemeriksaan Tenggorokan

Bibir & Mulut Mukosa bibir & mulut basah, berwarna merah muda (N)
Geligi Gigi berjumlah 32 buah, tidak terdapat karies
Lidah Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-),
Uvula Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-), pseudomembran (-), uvula
berada ditengah
Palatum Mole Ulkus (-), hiperemi (-)
Faring Mukosa hiperemi (-), arkus faring simetris
Tonsila Palatina Kanan: T1, Hiperemi (-), detritus (-), kripte melebar (-)
Kiri: T1, Hiperemi (-), detritus (-), kripte melebar (-)

3.4. Pemeriksaan Penunjang


Pada pasien sudah dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
timpanometri dan nasoendoskopi.
Hasil pemeriksaan timpanometri pasien sebagai berikut:

26
Interpretasi:
Aurikula Dextra : Tipe B
Aurikula Sinistra : Tipe A

Hasil pemeriksaan nasoendoskopi pasien sebagai berikut:

Interpretasi:
Tampak adanya massa, sekret berwarna kuning. Kesan: deviasi septum ke
kanan.

3.5. Assessment
Otitis Media Efusi Dextra
Rhinitis Kronik dan Deviasi Septum

27
3.6. Planning
Diagnostik
 Audiometri
 CT scan kepala
Terapeutik
 Avamys nasal spray 2dd 2 gtt
 Metilkobalamin 2 kali 1 tablet per hari
 Natrium diklofenak 2 kali 50 mg tablet per hari
 Trimenza 2 kali 1 tablet per hari
3.7. Edukasi
 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit yang dialami
oleh pasien.
 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga terkait pengobatan dan prognosis
penyakit pasien.
 Menjaga kebersihan telinga dan jangan mengorek telinga.
3.8. Prognosis
Prognosis otitis media efusi adalah dubia et bonam.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan Kasus dan Clinical Reasoning


Pada kasus ini, pasien Tn. RN dengan jenis kelamin laki-laki saat ini berusia
46 tahun didiagnosis dengan Otitis Media Efusi Dextra.
Otitis media efusi (OME) adalah inflamasi pada telinga tengah yang ditandai
dengan adanya penumpukan cairan efusi di telinga tengah dengan membran
timpani utuh tanpa adanya tanda dan gejala inflamasi akut. Tuba Eustachius
merupakan bagian dari sistem yang paling berhubungan termasuk hidung,
nasofaring, telinga tengah, dan rongga mastoid. Tuba Eustachius tidak hanya
berupa tabung melainkan sebuah organ yang mengandung lumen dengan mukosa,
kartilago, dikelilingi jaringan lunak, muskulus peritubular seperti veli palatine,
levator veli palatine, salpingofaringeus, dan tensor timpani dan di bagian superior
didukung tulang.1,4,7
Pasien Tn. RN diagnosis dengan OME berdasarkan hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis
didapatkan bahwa pasien mengeluhkan telinga kanan berdengung sejak ± 5 hari
yang lalu, disertai dengan telinga terasa penuh dan penurunan pendengaran.

28
Kemudian pada pemeriksaan fisik telinga, didapatkan adanya cairan pada telinga,
namun membran timpani tampak utuh. Adapun pada pemeriksaan fisik hidung,
didapatkan adanya deviasi septum ke kanan.
Pada pasien juga dilakukan pemeriksaan penunjang. Salah satunya adalah
pemeriksaan timpanometri. Pemerikasaan timpanometri dapat memperkirakan
adanya cairan didalam kavum timpani yang lebih baik dibanding dengan
pemeriksaan otoskopi saja. Hasil pemeriksaan timpanometri pada pasien yaitu
didapatkan aurikula dextra tipe B dan aurikula sinistra tipe A.
Pada penderita OME gambaran timpanogram yang sering didapati adalah tipe
B. Tipe B bentuknya relatif datar, hal ini menunjukan gerakan membran timpani
terbatas karena adanya cairan atau pelekatan dalam kavum timpani. 1,4,7 Hal ini
sesuai dengan yang ditemukan pada pemeriksaan timpanometri pada pasien.
Pada pasien perlu juga dilakukan pemeriksaan penunjang audiometri untuk
mengetahui jenis gangguan pendengaran yang dialami oleh pasien. Gangguan
pendengaran lebih sering ditemukan pada pasien OME dengan cairan yang kental
(glue ear). Meskipun demikian beberapa studi mengatakan tidak ada perbedaan
yang signifikan antara cairan serus dan kental terhadap gangguan pendengaran,
sedangkan volume cairan yang ditemukan di dalam telinga tengah adalah lebih
berpengaruh. Pasien dengan OME ditemukan gangguan pendengaran dengan tuli
konduksi ringan sampai sedang sehingga tidak begitu berpengaruh dengan
kehidupan sehari-hari.1,4,7
Pada pasien juga perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala. Hal ini
dilakukan karena pasien sering mengalami OME unilateral serta disertai adanya
keluhan sakit kepala yang semakin memberat serta kekakuan pada lidah yang
dicurigai merupakan keluhan yang disebabkan karena adanya keluhan pada sistem
saraf. Dan pemeriksaan CT Scan ini dilakukan untuk menyingkirkan kecurigaan
akan adanya massa di nasofaring.1,4,7
Pasien mengalami OME kemungkinan akibat adanya keluhan hidung
tersumbat yang sering mengalami kekambuhan yang disebabkan karena adanya
deviasi septum pada pasien. Hal ini megakibatkan terjadinya gangguan
mekanisme aerasi sebagai salah satu fungsi dari tuba eustasius sehingga
menyebabkan telinga tengah terganggu, drainase dari rongga telinga ke rongga
nasofaring menjadi terganggu dan terganggunya mekanisme proteksi rongga
29
telinga tengah terhadap refluks dari rongga nasofaring. Akibat gangguan tersebut
rongga telinga tengah akan mengalami tekanan negatif. Tekanan negatif di telinga
tengah menyebabkan peningkatan permaebilitas kapiler dan selanjutnya terjadi
transudasi.
Selain itu terjadi infiltrasi populasi sel-sel inflamasi dan sekresi kelenjar.
Akibatnya terdapat akumulasi sekret di rongga telinga tengah. Obstruksi tuba
Eustachius ytang menimbulkan terjadinya tekanan negatif di telinga tengah akan
diikuti retraksi membran timpani. Orang dewasa biasanya akan mengeluh adanya
rasa tak nyaman, rasa penuh atau rasa tertekan dan akibatnya timbul gangguan
pendengaran ringan dan tinnitus.1,4,7
Adapun tatalaksana yang diberikan ke pasien merupakan tatalaksana
konservatif untuk mengurangi keluhan yang dialami oleh pasien. Keberhasilan
dari penatalaksanaan ditentukan dengan mencari faktor penyebab dan
mengatasinya guna mencegah akibat lanjut penyakit tersebut. Sumbatan tuba
eustachius dan infeksi saluran nafas atas yang kronis serta berulang merupakan
salah satu faktor yang penting diperhatikan. Pengobatan secara operatif dilakukan
pada kasus dimana setelah dilakukan pengobatan konservatif selama lebih dari 3
bulan tidak sembuh.1,4,7

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Djaafar ZA. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,


Bashiruddin J, and Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2012.
2. Mescher, AL. Histologi Dasar Junqueira Teks dan Atlas. Jakarta: EGC. 2012
3. Megantara, Imam. 2008. Informasi Kesehatan THT: Otitis Media Efusi.
4. Rosenfeld et al. Clinical Practice Guideline: Otitis Media with Effusion
(Update). Clinical Practice Guideline. American Academy of Otolaryngology:
Head and Neck Surgery Foundation. Volume 154. Nomor 1S. 2016: pp S1-
S41.
5. Irwan AG. Sugianto. Atlas Bewarna Teknik Pemeriksaan Kelainan Telinga
Hidung Tenggorok. FK UNSRI. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit Telinga Tengah dan
Mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6. Jakarta: EGC.
7. Kaya et al., Does Nasal Septal Deviation Affect the Eustachian Tube Function
and Middle Ear Ventilation?. Turkish Archives of Otorhinolaryngology.
Volume 56. Nomor 2. 2018: pp 102-105.

31