Anda di halaman 1dari 9

Resep kandidiasis

Resep
R/ nistatin tab 500.000 UI/ml No xxviii
S 4 dd I
R/ketokonazol krim 2% No I
S ue
R/Amfoterisin B vial No 50mg I
S imm
Nistatin
Sediaan:
- Tablet : 100.000 IU/ml, 500.000 IU/ml
- Suspensi (Drop) : 100.000 IU/ml
- Ovula (per vaginal ) : 100.000 IU

Cara Kerja Obat:
Nystatin memiliki aktivitas antifungi (anti jamur), yaitu dengan mengikat sterol (terutama
ergosterol) dalam membran sel fungi. Nystatin tidak aktif melawan organisme (contohnya:
bakteri) yang tidak mempunyai sterol pada membran selnya. Hasil dari ikatan ini membuat
membran tidak dapat berfungsi lagi sebagai rintangan yang selektif (selective barrier), dan
kalium serta komponen sel yang lainnya akan hilang. Aksi utama nystatin adalah melawan
Candida (Monilia) spp.

Indikasi:
- Candidosis mulut (oral), esophagus, usus, vagina, dan kulit.
- Profilaksis candidiasis
- Untuk pencegahan bagi pasien yang rentan infeksi jamur topikal

Kontraindikasi :
Pasien yang hipersensitif terhadap Nystatin

Dosis:
- Candidosis oral, peroral, dewasa dan anak > 1 bulan, 100.000 IU setelah makan 4 x
sehari biasanya untuk 7 hari; dilanjutkan selama 48 jam setelah lesi/gangguan
menghilang.
- Candidosis usus, esophagus, peroral, dewasa 500.000 IU 4x/hari ; anak > 1 bulan
100.000 IU 4x/hari; dilanjutkan selama 48 jam setelah penyembuhan klinis.
- Candidosis vaginalis, per vaginal, dewasa masukkan 1 2 ovula saat malam untuk
paling sedikit 2 minggu.
- Dosis oral lebih dari 5.000.000 IU sehari dapat menyebabkan mual dan gangguan
gastrointestinal.

Efek Samping :
Jarang:
- Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk pemakian jangka lama.
- Pada pemakaian dosis besar jarang mengakibatkan diare, gangguan
gastrointestina, mual dan muntah.
- Rash termmasuk urtikerja jarang terjadi.
- Steven-Johnson syndrome jarang terjadi

Amfoterisin B
Amfoterisin B diberikan melalui injeksi karena tidak diserap melalui
saluran cerna. Amfoterisin B toksik terhadap ginjal, sediaan dalam
larutan lemak dapat mengurangi efek toksiknya terhadap ginjal,
namun sediaan ini lebih mahal.
Indikasi : Infeksi jamur berat yang mengancam nyawa, termasuk :
Histoplasmosis, Coccidioidomycosis, paracoccidioidomycosis,
blastomycosis, aspergillosis, cryptococcosis, mucormycosis,
sporotricchosis, dan candidosis. Leishmaniasis.
Kontraindikasi : Gangguan fungsi ginjal, Kehamilan dan menyusui.
Dosis :
Infeksi jamur sistemik (melalui injeksi intravena)
Dosis awal 1 mg selama 20-30 menit dilanjutkan dengan 250
mikrogram/kg perhari, dinaikan perlahan sampai 1 mg/kg perhari,
pada infeksi berat dapat dinaikan sampai 1.5 mg/kg perhari.
Sediaan :
- Vial 50 mg
Interaksi obat:
- Amikasin, siklosporin, Gentamisin, paromomycin, pentamidine,
Streptomycin, Vancomycin : meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
- Dexamethasone, Furosemide, hidroklorotiazide, Hydrocortisone,
Prednisolone : menignkatkan risiko hipokalemia.
- Digoxin : amphoterisin B meningkatkan risiko keracunan digoxin.
- Fluconazole : melawan kerja amphoterisin B.
Efek Samping : Demam, sakit kepala, mual, turun berat badan,
muntah, lemas, diare, nyeri otot dan sendi, kembung, nyeri ulu hati,
gangguan ginjal (termasuk hipokalemia, hipomagnesemia, kerusakan
ginjal), kelainan darah, gangguan irama jantung, gangguan saraf tepi,
gangguan fungsi hati, nyeri dan memar pada tempat suntikan.

Ketokonazol
Indikasi:
- Infeksi pada kulit, rambut, dan kuku (kecuali kuku kaki) yang disebabkan oleh dermatofit dan atau ragi
(dermatophytosis, onychomycosis, candida perionyxixs, pityriasis versicolor, pityriasis capitis, pityrosporum,
folliculitis, chronic mucocutaneus candidosis), bila infeksi ini tidak dapat diobati secara topikal karena tempat
lesi tidak dipermukaan kulit atau kegagalan pada terapi topikal.
- Infeksi ragi pada rongga pencernaan.
- Vaginal kandidosis kronik dan rekuren kandidosis. Pada terapi lokal penyembuhan infeksi yang kurang
berhasil.
- Infeksi mikosis sistemik seperti kandidosis sistemik, paracoccidioidomycosis, histoplasmosis,
coccidioidomycosis, blastomycosis.
- Pengobatan profilaksis pada pasien yang mekanisme pertahanan tubuhnya menurun (keturunan, disebabkan
penyakit atau obat), berhubungan dengan meningkatnya risiko infeksi jamur. Ketoconazole tidak dipenetrasi
dengan baik ke dalam susunan saraf pusat. Oleh karena itu jamur meningitis jangan diobati dengan oral
ketoconazole.

Kontra Indikasi:
- Penderita penyakit hati yang akut atau kronik.
- Hipersensitif terhadap ketoconazole atau salah satu komponen obat ini.
- Pada pemberian peroral ketoconazole tidak boleh diberikan bersama-sama dengan terfenadin, astemizol,
cisaprid dan triazolam.
- Wanita hamil.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung ketoconazole 200 mg.


Cara Kerja Obat:
Ketoconazole adalah suatu derivat imidazole-dioxolane sintetis yang memiliki aktivitas antimikotik
yang poten terhadap dermatofit, ragi. Misalnya Tricophyton Sp, Epidermophyton floccosum,
Pityrosporum Sp, Candida Sp.
Ketoconazole bekerja dengan menghambat enzym "cytochrom P. 450" jamur, dengan
mengganggu sintesa ergosterol yang merupakan komponen penting dari membran sel jamur.

Dosis:
Tidak boleh digunakan untuk anak dibawah umur 2 tahun.
Pengobatan kuratif:
Dewasa:
- Infeksi kulit, gastrointestinal dan sistemik: 1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu makan.
Apabila tidak ada reaksi dengan dosis ini, dosis ditingkatkan menjadi 2 tablet (400 mg sehari).
- Kandidosis vagina: 2 tablet (400 mg) sekali sehari pada waktu makan.
Anak-anak:
- Anak dengan berat badan kurang dari 15 kg: 20 mg 3 kali sehari pada waktu makan.
- Anak dengan berat badan 15-30 kg: 100 mg sekali sehari pada waktu makan.
- Anak dengan berat badan lebih dari 30 kg sama dengan dewasa.



Efek Samping
Sediaan peroral:
- Dispepsia, nausea, sakit perut dan diare.
- Sakit kepala, peningkatan enzim hati yang reversibel, gangguan haid, dizzines, paraesthesia dan
reaksi alergi.
- Thrombositopenia, alopecia, peningkatan tekanan "intracranial pressure" yang reversibel
(seperti papiloedema, "bulging fontanel" pada bayi).
- Impotensi sangat jarang.
- Gynaecomastia dan oligospermia yang reversibel bila dosis yang diberikan lebih tinggi dari dosis
terapi yang dianjurkan.
- Hepatitis (kemungkinan besar idiosinkrasi) jarang terjadi (terlihat dalam 1/12.000 penderita).
Reversibel apabila pengobatan dihentikan pada waktunya.

Interaksi Obat:
- Pemberian bersama-sama dengan terfenadin dan astemizol.
- Absorpsi ketoconazole maksimal bila diberikan pada waktu makan. Absorpsinya terganggu kalau
sekresi asam lambung berkurang, pada pasien yang diberi obat-obat penetral asam (antasida)
harus diberikan 2 jam atau lebih setelah ketoconazole.
- Pemberian bersama dengan rifampicin dapat menurunkan konsentrasi plasma kedua obat.
- Pemberian bersama dengan INH dapat menurunkan konsentrasi plasma ketoconazole, bila
kombinasi ini digunakan konsentrasi plasma harus dimonitor.