Anda di halaman 1dari 7

Nama : Zeremia Samosir

NIM : 121000396
Kelas : D
Matakuliah : PE Prog. Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan merupakan salah satu aspek dalam mewujudkan pembangunan
kesehatan. Promosi kesehatan merupakan proses memberdayakan masyarakat untuk memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan
kemampuan serta pengembangan lingkungan sehat (Depkes, 2003).
Dalam mewujudkan promosi kesehatan dapat dicapai melalui 3 (strategi) utama, yaitu :
advokasi , bina suasana, dan gerakan pemberdayaan. Ketiganya diharapkan saling bersinergis
dengan didukung oleh pola kemitraan yang nantinya dapat mewujudkan perilaku mencegah dan
mengatasi masalah kesehatan.
Dalam Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada tahun 1986 telah
menghasilkan Piagam Ottawa ( Ottawa Charter ) yang berisi 5 ( lima ) butir kesepakatan yang
meliputi :
1. Kebijakan berwawasan kesehatan ( Healthy public policy )
Dalam proses pembangunan adakalanya aspek kesehetan sering diabaikan, oleh karena itu
adanya kebijakan yang berwawasan kesehatan, diharapkan bisa mengedepankan proses
pembangunan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kesehatan. Kegiatan ini ditujukan
kepada para pengambil kebijakan ( policy makers) atau pembuat keputusan (decision makers)
baik di institusi pemerintah maupun swasta. Sebagai contoh ; adanya perencanaan pembangunan
PLTN di daerah jepara, para penagmbil kebijakan dan pembuat keputusan harus benar-benar bisa
memperhitungkan untung ruginya. harus diperhatikan kemungkinan dampak radiasi yang akan
ditimbulkan, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa berdampak pada kesehatan.
2. Lingkungan yang mendukung ( Supportive environment ).
Aspek lingkungan juga perlu diperhatikan. Lingkungan disini diartikan dalam pengertian luas.
Baik lingkungan fisik (biotik, non biotik), dan lingkungan non fisik. Diharapkan tercipta
lingkungan yang kondusip yang dapat mendukung terwujudnya masyarakat yang sehat.
Contoh : perlunya jalur hijau didaerah perkotaan, yang akhir-akhir ini sering diabaikan
pemanfaatannya oleh oknum-oknum tertentu. perlunya perlindungan diri pada kelompok
terpapar pencemaran udara , seperti penggunaan masker pada penjaga loket jalan tol, petugas
polantas, dsb.
3. Reorientasi pelayanan kesehatan ( Reorient health service ).
Adanya kesalahan persepsi mengenai pelayanan kesehatan, tanggung jawab pelayanan kesehatan
kadang hanya untuk pemberi pelayanan (health provider ), tetapi pelayanan kesehatan juga
merupakan tanggung jawab bersama antara pemberi pelayanan kesehatan ( health provider )
dan pihak yang mendapatkan pelayanan. Bagi pihak pemberi pelayanan diharapkan tidak hanya
sekedar memberikan pelayanan kesehatan saja, tetapi juga bisa membangkitkan peran serta aktif
masyarakat untuk berperan dalam pembangunan kesehatan. dan sebaliknya bagi masyarakat,
dalam proses pelayanan dan pembangunan kesehatan harus menyadari bahwa perannya sangatlah
penting, tidak hanya sebagai subyek, tetapi sebagai obyek. Sehingga peranserta masyarakat
dalam pembangunan kesehatan sangatlah diharapkan.
Contoh : semakin banyaknya upaya-upaya kesehatan yang bersumberdaya masyarakat (UKBM),
seperti posyandu, UKGMD, Saka bhakti Husada, poskestren, dll.
4. Ketrampilan individu ( Personal Skill )
Dalam mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, ketrampilan individu mutlak
diperlukan. Dengan harapan semakin banyak individu yang terampil akan pelihara diri dalam
bidang kesehatan, maka akan memberikan cerminan bahwa dalam kelompok dan masyarakat
tersebut semuanya dalam keadaan yang sehat. ketrampilan individu sangatlah diharapkan dalam
mewujudkan keadaan masyarakat yang sehat. Sebagai dasar untuk terapil tentunya individu dan
masyarakat perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan mengenai kesehatan, selain itu
masyarakata juga perlu dilatih mengenai cara-cara dan pola-pola hidup sehat.
Contoh : melalui penyuluhan secra indicidu atau kelompok seperti di Posyandu, PKK. Adanya
pelatihan kader kesehatan, pelatihan dokter kecil, pelatihan guru UKS, dll.
5. Gerakan masyarakat ( Community action ).
Adanya gerakan ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa kesehatan tidak hanya milik
pemerintah, tetapi juga milik masyarakat. Untuk dapat menciptakan gerakan kearah hidup sehata,
masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan. selain itu masyarakat perlu
diberdayakan agar mampu berperilaku hidup sehat. Kewajiban dalam upaya meningkatkan
kesehatan sebagai usaha untuk mewujudkan derajat setinggi-tingginya, teranyata bukanlah
semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat justru yang berkewajiban
dan berperan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sesuai yang tertuang
dalam Pasal 9 , UU N0. 36 tahun 2009 Tentang kesehatan, yang berbunyi :
Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Contoh ; adanya gerakan 3 M dalam program pemberantasn DBD, gerakan jumat bersih, perlu
diketahuai di negeri tetangga malaysia ada gerakan jalan seribu langkah (hal ini bisa kita
contoh), bahkan untuk mengukurnya disana sudah dijual alat semacam speedometer.







BATASAN PROMOSI KESEHATAN
Menurut Piagam Ottawa, Promosi Kesahatan adalah suatu proses yang memungkinkan
orang untuk meningkatkan kendali (control) atas kesehatannya, dan meningkatkan status
kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over,
and to improve, their health). Untuk mencapai status kesehatan paripurna baik fisik, mental dan
kesejahteraan sosial, setiap individu atau kelompok harus mampu mengidentifikasi setiap
aspirasi, untuk memenuhi kebutuhan , dan mengubah atau mengantisipasi keadaan lingkungan.
Kesehatan, sebagai sumber kehidupan sehari-hari, bukan sekedar tujuan hidup. Kesehatan
merupakan konsep yang positif yang menekankan pada sumber-sumber sosial dan personal,
sebagaimana halnya kapasitas fisik. Karena itu, promosi kesehatan bukan saja tanggung jawab
sektor kesehatan, tapi juga meliputi sektor-sektor lain yang mempengaruhi gaya hidup sehat dan
kesejahteraan sosial.

DETERMINAN KESEHATAN
Teori klasik yang dikembangkan oleh Blum (1974) mengatakan bahwa adanya 4
determinan utama yang mempengaruhi derajat kesehatan individu, kelompok atau masyarakat.
Empat determinan tersebut secara berturut-turut besarnya pengaruh terhadap kesehatan adalah:
a). lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun lingkungan non fisik (sosial, budaya, ekonomi,
politik, dan sebagainya), b). perilaku, c). pelayanan kesehatan, dan d). keturunan atau herediter.
Determinan lingkungan ini lebih lanjut dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni
lingkungan fisik (cuaca, iklim, sarana dan parasarana, dan sebagainya), dan lingkungan non
fisik, seperti lingkungan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagianya. Derajat kesehatan
dalam pengertian tersebut di atas jelas dibedakan antara derajat kesehatan individu, kelompok,
atau masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena derajat kesehatan perorangan (individu),
kelompok dan masyarakat memang berbeda.
Determinan untuk kesehatan kelompok atau komunitas mungkin sama, tetapi untuk kesehatan
individu, disamping empat faktor tersebut, juga faktor internal individu juga berperan, misalnya :
umur, gender, pendidikan, dan sebagainya, disamping faktor herediter. Bila kita analisis lebih
lanjut determinan kesehatan itu sebenarnya adalah semua faktor diluar kehidupan manusia, baik
secara individual, kelompok, maupun komunitas yang secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhi kehidupan manusia itu. Hal ini berarti, disamping determinan-determinan derajat
kesehatan yang telah dirumuskan oleh Blum tersebut masih terdapat faktor lain yang
mempengaruhi atau menentukan terwujudnya kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat.
Faktor-faktor atau determinan-determinan yang menentukan atau mempengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok atau masyarakat ini, dalam Piagam Otawa (Ottawa Charter) disebut
prasyarat untuk kesehatan (prerequisites for health).
Piagam Ottawa, 1986 mengidentifikasikan prasayarat untuk kesehatan ini dalam 9 faktor, yakni:
1. Perdamaian atau keamanan (peace)
2. Tempat tinggal (shelter)
3. Pendidikan (education)
4. Makanan (food)
5. Pendapatan (income)
6. Ekosistem yang stabil dan seimbang (a stable eco-sistem)
7. Sumber daya yang berkesinambungan (sustainable resources)
8. Keadilan sosial (social justice)
9. Pemerataan (equity)

MISI PROMOSI KESEHATAN
Dalam Ottawa Charter secara implisit dirumuskan 3 hal yang penting untuk
mengimplementasikan Promosi Kesehatan, atau dapat juga disebut sebagai misi Promosi
Kesehatan, yakni :

Advokasi (Advocacy) :
Kesehatan yang baik merupakan sumber utama untuk perkembangan sosial, ekonomi, dan
personal, dan merupakan dimensi penting dari kualitas hidup. Faktor-faktor politik, ekonomi,
sosial, budaya, lingkungan, perilaku dan biologis, yang semuanya.

Memampukan atau Memperkuat :
Promosi Kesehatan fokus pada pencapaian kesetaraan atau keadilan dalam memperoleh akses
pelayanan kesehatan. Aksi atau gerakan promosi kesehatan bertujuan untuk mengurangi
perbedaan di dalam status kesehatan dan menjamin sumber dan kesempatan yang sama yang
memungkinkan semua orang mencapai potensi kesehatan yang seluas-luasnya. Ini menliputi
fondasi keamanan pada lingkungan yang mendukung, akses terhadap informasi, kesempatan
memperoleh kemampuan dan kesempatan untuk menentukan pilihan untuk menjadi sehat. Orang
tidak dapat mencapai potensi kesehatan yang utuh, kecuali mereka mampu mengendalikan hal-
hal yang menentukan kesehatan mereka. Hal ini harus berlaku sama pada pria dan wanita.

Menjembatani :
Persyaratan dasar dan prospek kesehatan tidak dapat diselenggarakan oleh sektor
kesehatan saja. Lebih penting lagi, Promosi Kesehatan membutuhkan aksi yang terkordinasi
dengan sektor lain: oleh pemerintah, sektor kesehatan, sektor sosial, ekonomi dan dengan
organisasi-organisasi pemerintah lainnya seperti relawan, swasta, pemerintah daerah, sektor
industri serta media. Sepanjang perjalanan hidupnya, orang selalu terlibat, baik sebagai individu,
anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Para professional, kelompok-kelompok
sosial dan petugas kesehatan memiliki tanggung jawab utama untuk melakukan mediasi atau
menjembatani antara kepentingan manyarakat dengan berbagai pihak untuk mencapai hidup
sehat masyarakat.
Strategi-strategi dan program promosi kesehatan sebaiknya di sesuaikan dengan kebutuhan lokal,
sesuai dengan sistem sosial, budaya dan ekonomi setempat. Berbagai pemangku kepentingan
atau Stakeholders perlu dilibatkan dalam upaya promosi kesehatan. Oleh karena itu betapa
pentingnya mengembangkan mekanisme institusional untuk menyatupadukan stakeholders
tersebut.

STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
Berdasarkan pada 3 hal tersebut sebagai arahan atau dapat dikatakan sebagai misi promosi
kesehatan, Piagam Otawa merumuskan makna atau arti dari gerakan kegiatan promosi kesehatan.
Selanjutnya gerakan ini dapat dipandang sebagai strategi promosi pesehatan, sebagi pelengkap
dari strategi promosi kesehatan yang telah dirumuskan oleh WHO tahun 1984. Gerakan atau
strategi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan Kebijakan Publik Berwawasan Sehat (Build Healthy Public Policy):
Promosi kesehatan tidak sekedar pada tingkat pelayanan kesehatan semata. Promosi kesehatan
menempatkan kesehatan pada agenda di tingkat pengambil keputusan di berbagai sektor di tiap
lapisan sistem sosial, mengarahkan mereka untuk menyadari konsekuensi kesehatan dari
keputusan yang mereka ambil serta menerima tanggung jawab mereka dalam upaya kesehatan.
Kebijakan promosi kesehatan mengkombinasikan pendekataan yang berbeda, tapi saling terkait,
mencakup perubahan perundang-undangan, pengukuran fiskal, pajak dan perubahan organisasi.
Harus ada aksi yang terkordinir yang mengarah pada kebijakan kesehatan, penghasilan dan
kebijakan umum (sosial) yang mempercepat upaya kesetaraan/keadilan yang lebih baik. Kerja
sama aksi membantu jaminan pelayanan yang lebih aman dan lebih sehat, lebih bersih dan
lingkungan yang lebih nyaman.
Kebijakan promosi kesehatan membutuhkan upaya identifikasi hambatan-hambatan dalam
mengadopsi kebijakan umum yang sehat untuk sektor non kesehatan, dan cara mengatasi
hambatan tersebut.
Dalam menentukan sasaran harus dapat menciptakan berbagai pilihan yang lebih sehat dan lebih
mudah bagi pembuat kebijakan.
2. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung (Supportive Environment)
Masyarakat kita sangat kompleks, saling terkait, saling mempengaruhi dan saling tergantung.
Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan hidup lainnya. Kaitan yang tak terpisahkan antara
manusia dan lingkungannya merupakan dasar pendekatan sosio-ekologis untuk kesehatan.
Seluruh prinsip dasar bagi dunia, negara, wilayah dan masyarakat pada umumnya merupakan
suatu kebutuhan untuk mendorong saling menjaga, saling menolong sesama anggota masyarakat
dan menjaga kelestarian lingkungan. Konservasi lingkungan alam di kawasan dunia harus
ditekankan sebagai tanggung jawab global.
Perubahan gaya hidup, cara kerja dan kegiatan rekreasi mengandung dampak yang signifikan
terhadap kesehatan. Aktivitas kerja dan rekreasi seharusnya merupakan sumber kesehatan
manusia. Cara masyarakat mengatur pekerjaan harus membantu menciptakan masyarakat sehat.
Promosi kesehatan menggerakan kondisi kerja dan kehidupan yang aman, merangsang,
memuaskan serta nyaman.
Perkiraan yang sistematik dari dampak kesehatan yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan
yanga cepat, khususnya di bidang teknologi, pekerjaan, produksi bahan bakar dan urbanisasi
merupakan hal penting dan harus diikuti oleh aksi untuk menjamin manfaat yang positif bagi
kesehatan masyarakat. Pelestarian dan perlindungan terhadap lingkungan dan sumber daya alam
harus dicanangkan dalam setiap strategi Promosi kesehatan.
3. Memperkuat Aksi/Gerakan Masyarakat (Strengthening Community Action)
Mekanisme promosi kesehatan berfungsi melalui aksi atau gerakan masyarakat yang konkrit dan
efektif dalam penetuan prioritas, pengambilan keputusan, strategi perencanaan serta
penerapannya untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah
Pemberdayaan Masyarakat (empowerment) - kepemilikan serta kendali (control) terhadap
keinginan dan nasib mereka.
Pengembangan masyarakat diarahkan untuk mencari potensi diri dan sumber data materi yang
ada dalam masyarakat guna meningkatkan kemandirian (self-help) dan dukungan sosial (sosial
support) yang ada dalam masyarakat guna meningkatkan kemandirian dan dukungan sosial
untuk mengembangkan sistem yang fleksibel guna merangsang keterlibatan masyarakat dalam
setiap program kesehatan. Hal ini membutuhkan akses yang memadai terhadap informasi,
kesempatan belajar yang luas dan terus menerus serta penggalian sumber dana.
4. Pengembangan Keterampilan Perseorangan (Develop Personal Skills)
Promosi kesehatan menunjang pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan
akses informasi, pendidikan kesehatan serta peningkatan keterampilan diri. Dengan demikian,
maka promosi kesehatan dapat memperluas pilihan-pilihan yang tersedia bagi anggota
masyarakat menggunakan kendali (control) terhadap kesehatan dan lingkungan, serta
menentukan pilihan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Adalah penting memahami kondisi tubuh seseorang untuk mengenal kapan dan mengapa terjadi
masalah. Perubahan kecil yang terjadi pada salah satu fungsi tubuh dapat menjadi bukti bahwa
ada sesuatu yang salah, sehingga memungkinkan untuk pencegahan risiko penyakit dan tetap
sehat.
Menyediakan kemungkinan orang untuk belajar, melalui pengalaman hidup sehari-hari,
menyiapkan diri menghadapi masalah penyakit dan kecelakaan merupakan hal yang sangat
penting. Kesempatan ini dapat difasilitasi pada tatanan sekolah, rumah tangga, tempat kerja serta
pada tataanan masyarakat umum. Aksi-aksi ini diperlukan melalui institusi pendidikan, profesi,
komersial dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
5. Reorientasi sistem Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Tanggung jawab promosi kesehatan dalam pelayanan kesehatan menyebar di tingkat individual,
keluarga, masyarakat, kelompok, petugas kesehatan, institusi pelayanan kesehatan dan
pemerintah. Semua harus bekerja sama dalam upaya pelayanan kesehatan demi terciptanya status
kesehatan yang optimal. Sistem pelayanan kesehatan tidak lagi berorientasi kuratif, tetapi juga
mencakup upaya-upaya preventif, rehabilitatif dan promotif, disamping upaya-upaya lainnya
yang memungkinkan berbagai pihak terlibat dalam memecahkan masalah kehidupan masyarakat
secara menyeluruh.
Peran sektor pelayanan kesehatan harus bergerak dengan cepat mengikuti arah perkembangan
program-program promosi kesehatan disamping tanggung jawabnya dalam menyelenggarakan
pelayanan klinis dan kuratif. Pelayanan kesehatan harus mempertimbangkan kepekaan
sosiobudaya seperti adat, tradisi dan kebiasaan serta kebutuhan masyarakat setempat. Reorientasi
upaya pelayanan kesehatan juga harus menaruh perhatian pada riset-riset kesehatan serta
perubahan yang terjadi, arah pendidikan profesi dan pendidikan keterampilan Orientasi ini harus
dapat menciptakan atau merangsang suatu perubahan sikap, perilaku, dan perubahan organisasi
pelayanan kesehatan yang berfokus pada kebutuhan total individu sebagai manusia seutuhnya.


KOMITMEN TERHADAP PROMOSI KESEHATAN
Konferensi Ottawa menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang terkait dengan komitmen
terhadap Promosi Kesehatan ke depan, sebagai berikut:
1. Memusatkan sasaran ke arah kebijakan publik berwawasan kesehatan, dan melakukan advokasi
untuk memperoleh komitmen politik yang jelas terhadap kesehatan dan kesetaraan/keadilan di
seluruh sektor
2. Melakukan perlawanan atau penolakan terhadap tekanan-tekanan yang berasal dari produk-
produk berbahaya, pengurasan sumber daya alam secara tidak bertanggung jawab, kondisi
lingkungan hidup yang tidak nyaman untuk kesehatan, gizi, serta memusatkan perhatian pada
isu-isu global seperti polusi, kecelakaan dan keselamatan kerja pengadaan perumahan dan
pembentukan pemukiman yang aman dan sehat.
3. Merespon kesenjangan dalam pelayanan kesehatan yang ada di dalam masyarakat dan
menjembatani kesenjangan tersebut dengan kebijakan dan peraturan-peraturan yang dapat
mendorong terciptanya kesetaraan atau keadilan, baik untuk mendapatkan kesempatan dalam
pelayanan kesehatan maupun fasilitas atau kesempatan lainnya, seperti pekerjaan, jaminan
asuransi kesehatan dan sebagainya.
4. Menempatkan manusia sebagai subyek utama kesehatan, untuk mendorong dan memungkinkan
mereka menjaga kesehatan diri, keluarga, teman, baik secara finansial maupun dukungan
lainnya, serta menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang esensial dalam meningkatkan status
kesehatan, kondisi kehidupan dan kesejahteraan sosial mereka.
5. Melakukan reorientasi dalam sistem pelayanan kesehatan dan sumber daya yang ada demi
peningkatan status kesehatan, serta berbagi peran dengan sektor dan disiplin lain, terutama
dengan anggota masyarakat itu sendiri.
6. Menempatkan kesehatan dan pemeliharaannya sebagai investasi sosial utama, mengamanatkan
isu ekologis kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
7. Konferensi ini mendorong fihak yang berkepentingan utnuk bekerja sama dengan mereka
sebagai mitra kesehatan masyarakat yang kuat.