Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Bidang pariwisata mempunyai peranan yang cukup penting dalam

perekonomian nasional kita baik sebagai sumber penghasil devisa maupun


sebagai sumber kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Terpilihnya
sektor pariwisata sebagai salah satu alternatif sumber devisa negara,
menuntut konsekuensi adanya perencanaan yang lebih matang.
Perencanaan pembangunan pariwisata yang seimbang dan terpadu
antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup adalah prinsip
pembangunan yang senantiasa menjadi dasar pertimbangan utama bagi
sektor pariwisata ataupun sektor lainnya,

guna menjamin keberlanjutan

proses pembangunan itu sendiri. Dalam pariwisata tidak dimaksudkan untuk


merusak

lingkungan

dilaksanakan

ke

hidup

arah

tata

tetapi

justru

lingkungan

harus
yang

direncanakan
mendukung

dan

kepada

pembangunan berlanjut, adalah pembangunan obyek-obyek wisata dan daya


tarik wisata yang hidup dalam masyarakat tetapi selalu berorientasi kepada
kelestarian nilai dan kualitas lingkungan hidup yang ada di masyarakat.
Dalam kenyataannya terdapat banyak kendala yang pada suatu saat
dapat menjadi pemicu merosotnya keberhasilan program pemerintah yang
dicapai. Kendala ini nampak terutama pada ketergantungan sepenuhnya
pada program pemerintah pusat, kemampuan daya tampung sarana
pariwisata yang masih belum memadai, promosi yang belum cukup mampu
bersaing

dalam

pasar

internasional
1

dan

kekurangmampuan

tenaga

manajerial dalam pengelolaan dan pemanfaatan wisata tertentu untuk


menciptakan citra produk wisata Papua khusunya di Raja Ampat yang lebih
positif. Berdasarkan kerangka permasalahan diatas, maka didalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai potensi wisata di wilayah Raja Ampat serta
pemanfaatannya dan perlindungannya agar pariwisata di Kepulauan Raja
Ampat tetap lestari.

1.2

IDENTIFIKASI MASALAH

1. Bagaimana kondisi pariwisata di kepulauan Raja Ampat?


2. Apakah saat ini sektor pariwisata di Raja Ampat sudah mengarah ke
dalam pariwisata berwawasan lingkungan?
3. Kebijakan apa saja yang dikeluarkan pemerintah baik pemerintah
pusat maupun pemerintah setempat dalam mengisi pembangunan
pariwisata berwawasan lingkungan di Raja Ampat?

1.3

TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dibuatnya malakah ini adalah untuk megetahui lebih

jauh mengenai potensi pariwisata dikawasan Propinsi Papua serta untuk


memenuhi tugas mata kuliah Geografi Pariwisata.

1.4

MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah kita dapat mengetahui

potensi pariwisata yang berwawasan lingkungan di wilayah Kepulauan Raja


Ampat serta dengan adanya pemahaman yang dijelaskan didalam makalah
2

ini mengenai pentingnya wawasan lingkungan atau ekowisata maka dapat


mengajak kepada semua lapisan masyarakat agar turut serta dalam mengisi
pembangunan pariwisata yang berwawasan lingkungan baik di wilayah
Kepulauan Raja Ampat maupun dalam lingkup Indonesia.

BAB II
KAJIAN TEORITIS

2.1 RUANG LINGKUP GEOGRAFI


2.1.1 Hakikat Geografi
Berdasarkan hasil Seminar Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran
Geografi di Semarang tahun 1988, telah merumuskan konsep geografi, yaitu
Geografi

adalah

ilmu

yang

mempelajari

persamaan

dan

perbedaan

fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan


dalam konteks keruangan (Suharyono dan Moch Amien, 1994:15).
Pengertian geografi memunculkan penafsiran yang berbeda-beda
sehingga menimbulkan kesan yang berbeda-beda pula. Menurut Karl Ritter,
geografi mempelajari bumi sebagai tempat tinggal manusia. Sebagai tempat
tinggal manusia, bumi memiliki struktur dan pola yang terbentuk karena
pengaruh aktivitas manusia. Agar pengertian geografi tidak terlalu meluas,
adanya hakikat geografi dapat dijadikan sebagai batasan.
Pengertian tentang geografi di atas menunjukkan bahwa yang
dipelajari dalam geografi ternyata sangat luas. Oleh karena itu, perlu adanya
batasan yang menjadi ruang lingkup bahasan geografi. Ruang lingkup
bahasan geografi terdiri dari 3 bagian, yaitu sebagai berikut.

a. Geografi Fisik: Geografi fisik mempelajari gejala-gejala alam di


permukaan bumi yang meliputi atmosfer, litosfer, hidrosfer, dan
biosfer. Gejala-gejala alam tersebut berkaitan dengan bentuk, relief,
iklim, dan segala sesuatu tentang bumi, serta tentang proses-proses
fisik yang terjadi di darat, laut, dan udara yang berpengaruh pada
kelangsungan hidup manusia.
b. Geografi Sosial: Geografi sosial mempelajari segala aktivitas kehidupan
manusia di bumi dan interaksinya dengan lingkungan, baik dalam
lingkungan sosial, ekonomi, maupun budaya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa geografi sosial (geografi manusia) mempelajari
dampak

aktivitas

manusia

terhadap

lingkungan

dan

dampak

lingkungan terhadap manusia.


c. Geografi Regional: Geografi regional mempelajari topik atau bahasan
khususnya yang mencakup suatu daerah atau wilayah tertentu.
Geografi regional merupakan bahasan yang menyeluruh, baik dari
aspek fisik ataupun sosial sehingga dianggap sebagaio bentuk
tertinggi dalam geografi.

2.1.2 Pendekatan Geografi


Menurut Bintarto dan Surastopo Hadisumarno (1979: 12-24), ada
tiga pendekatan dalam geografi yaitu : analisis keruangan (spatial analysis),
analisis ekologi (ecological analysis), dan analisis kompleks wilayah (regional
complex analysis). Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam
geografi tidak membedakan antara elemen fisik dan nonfisik.
5

a. Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan adalah upaya dalam mengkaji rangkaian dan
perbedaan fenomena geosfer dalam ruang. Di dalam pendekatan keruangan
ini yang perlu diperhatikan adalah persebaran penggunaan ruang dan
penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan.
Contoh penggunaan pendekatan keruangan adalah perencanaan
pembukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru. Data-data yang
perlu diketahui untuk keperluan tersebut terutama yang menyangkut
keadaan lokasi, antara lain ketinggian tempat, kemiringan lereng, jenis
tanah, dan keadaan air tanah. Hal itu karena keadaan fisik lokasi tersebut
akan

berpengaruh

terhadap

tingkat

adaptasi

manusia

yang

akan

menempatinya.
b. Pendekatan Ekologi
Pendekatan ekologi adalah upaya dalam mengkaji fenomena geosfer
khususnya terhadap interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya,
termasuk dengan organisme hidup yang lain. Di dalam organisme hidup itu
manusia merupakan satu komponen yang penting dalam proses interaksi.
Oleh karena itu, muncul istilah okologi manusia (human ecology) yang
mempelajari interaksi antarmanusia serta antara manusia dan lingkungan.
Kemampuan manusia dalam memanfaatkan lingkungannya untuk
berbagai aktivitas kehidupan merupakan contoh pendekatan ekologi.
Misalnya, manusia yang bertempat tinggal di pantai memiliki aktivitas yang
berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah pegunungan.
c. Pendekatan Kompleks Wilayah

Pendekatan kompleks wilayah adalah upaya dalam mengkaji fenomena


geosfer dengan menggunakan pendekatan keruangan dan pendekatan
ekologi. Di dalam analisis ini yang menjadi perhatian adalah tentang
persebaran fenomena tertentu melalui pendekatan keruangan dan interaksi
manusia dengan lingkungannya melalui pendekatan ekologi. Pendekatan
kompleks

wilayah

beranggapan

bahwa

interaksi

antarwilayah

akan

berkembang karena adanya perbedaan antarwilayah itu. Oleh karena adanya


perbedaan itu maka akan terjadi pemenuhan kebutuhan dari satu wilayah
terhadap wilayah yang lain.
Melalui pendekatan kompleks wilayah, perencanaan pembukaan lahan
untuk daerah permukiman yang baru seperti contoh di atas dikaji lebih luas
lagi, terutama hubungannya dengan wilayah lain dan pengembangannya. Hal
tersebut membuktikan bahwa fenomena geografi yang terjadi pada suatu
wilayah memiliki keterkaitan (hubungan) dengan fenomena di wilayah lain.

2.1.3 Konsep Geografi


Geografi memiliki 10 konsep dasar yang menjadi ciri khas sehingga
membedakan dengan ilmu-ilmu yang lain. Konsep dasar tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Lokasi. Lokasi atau letak suatu objek terhadap objek yang lain akan
berpengaruh terhadap nilai objek tersebut.
b. Jarak. Jarak dapat mempengaruhi nilai atau harga suatu objek atau
barang, terutama barang-barang hasil produksi. Jarak juga dapat
mempengaruhi lamanya waktu yang dibutuhkan dalam hubungan
antartempat.
7

c. Keterjangkauan. Suatu daerah dapat berhubungan dengan daerah lain


apabila tersedia sarana yang sesuai dengan kondisi wilayahnya.
d. Pola. Keadaan alam tertentu berpengaruh terhadap pola persebaran
dan permukiman penduduk.
e. Morfologi.

Bentuk

lahan

sangat

berpengaruh

terhadap

pemanfaatannya bagi manusia.


f. Aglomerasi. Kehidupan penduduk cenderung mengelompok menurut
mata pencaharian atau status sosial tertentu. Demikian pula tempat
tinggalnya.
g. Nilai Kegunaan. Suatu tempat memiliki nilai dan manfaat yang
berbeda bagi masing-masing orang.
h. Interaksi/Interdepedensi. Hubungan timbal balik antara manusia dan
lingkungan akan menimbulkan pergerakan manusia, barang, atau
gagasan.
i. Diferensiasi Areal. Adanya perbedaan fenomena alam dan sosial
menurut wilayah atau tempatnya.
j. Keterkaitan Ruangan. Hubungan antarwilayah terjadi karena adanya
perbedaan-perbedaan antarwilayah itu sehingga timbul rasa saling
membutuhkan.

2.2 RUANG LINGKUP PARIWISATA


2.2.1 Pengertian Pariwisata
Pariwisata

merupakan

salah

satu

sektor

industri

yang

dapat

diandalkan menjadi sumber devisa negara, yang merupakan sektor dari nonmigas yang dapat memberikan manfaat tidak hanya kepada Pemerintah
8

tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Ada banyak pendapat dari
para ahli tentang pengertian pariwisata, diantaranya :
Pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta, yang terdiri dari dua suku
kata yaitu pari dan wisata. Pari yang berarti banyak, berkali-kali, berputarputar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini
sinonim dengan kata travel dalam bahasa Inggris (Oka. A Yoeti, 1982:
103). Menurut Oka A. Yoeti (1996), secara tekhnis ilmu pariwisata adalah
ilmu yang mempelajari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik
secara perorangan maupun kelompok di dalam wilayah negaranya sendiri
atau negara lain, dengan menggunakan kemudahan jasa pelayanan yang
disediakan oleh Pemerintah, dunia usaha dan industri agar terwujud
keinginan wisatawan.
Ketetapan MPRS No. I II Tahun 1960, menyebutkan bahwa
kepariwisataan dalam dunia modern pada hakekatnya adalah suatu cara
untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam memberi liburan rohani dan
jasmani setelah beberapa waktu bekerja serta mempunyai modal untuk
melihat-lihat daerah lain (pariwisata dalam negeri) atau negara-negara lain
(pariwisata luar negri).
Prof.

Salah

Wahab

(1974)

dalam

bukunya

yang

berjudul

An

Introduction On Tourism Theory mengemukakan bahwa batasan pariwisata


hendaknya memperlihatkan anatomi dari gejala-gejala yang terdiri dari tiga
unsur. Berdasarkan ketiga unsur yaitu man, space dan time, Prof. Salah
Wahab mengemukakan bahwa pariwisata adalah suatu aktivitas manusia
yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian
diantara orang-orang dalam suatu negara itu sendiri (di luar negri) meliputi
9

pendiaman orang-orang di daerah lain (daerah tertentu, suatu negara atau


benua) untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan yang beraneka
ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya dimana ia memperoleh
pekerjaan tetap.
Dari pengertian-pengertian tentang pariwisata yang telah disebutkan
sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pariwisata merupakan kegiatan
perjalanan yang dilakukan dari satu tempat ke tempat yang dilakukan dalam
batas waktu tertentu (sementara) dengan maksud bukan untuk mencari
nafkah di tempat yang akan dikunjungi melainkan untuk menikmati
perjalanan yang dilakukan tersebut dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan

yang

beraneka

ragam

baik

kebutuhan

jasmani

maupun

kebutuhan rohani dengan syarat adanya dua unsur yaitu ruang (space) dan
waktu (time) ditambah satu unsur utama yaitu manusia (man) sebagai pelaku
kegiatan wisata itu sendiri.

2.2.1 Jenis-Jenis Pariwisata


Berikut adalah jenis-jenis pariwisata, menurut Spillane (1989) dalam
Badrudin (2000) yang terdapat di daerah tujuan wisata yang menarik
wisatawan untuk mengunjunginya sehingga dapat pula diketahui jenis
pariwisata yang mungkin layak untuk dikembangkan dan mengembangkan
jenis sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata tersebut.
a. Pariwisata untuk menikmati perjalanan (pleasure tourism). Jenis
pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat
tinggalnya untuk berlibur, mencari udara segar yang baru, untuk
mengendorkan ketegangan syarafnya, untuk menikmati keindahan
10

alam, untuk menikmati hikayat rakyat suatu daerah, untuk menikmati


hiburan, dan sebagainya.
b. Pariwisata untuk rekreasi (recreation sites). Jenis pariwisata ini
dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari libur
untuk istirahat, untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan
rohani, yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahannya.
c. Pariwisata untuk kebudayaan (cultural tourism). Jenis pariwisata ini
ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan untuk
belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, untuk mempelajari adat
istiadat, cara hidup masyarakat negara lain dan sebagainya.
d. Pariwisata untuk olahraga (sports tourism). Jenis pariwisata ini
bertujuan untuk tujuan olahraga, baik hanya untuk menarik penonton
olahraga dan olahragawannya sendiri serta ditujukan bagi mereka
yang ingin mempraktikkannya sendiri.
e. Pariwisata untuk urusan dagang besar (business tourism). Dalam jenis
pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang
digunakan oleh pelaku perjalanan ini yang menggunakan waktu-waktu
bebasnya

untuk

menikmati

dirinya

sebagai

wisatawan

yang

mengunjungi berbagai obyek wisata dan jenis pariwisata lain.


f. Pariwisata untuk konvensi (convention tourism). Banyak negara yang
tertarik dan menggarap jenis pariwisata ini dengan banyaknya hotel
atau bangunan-bangunan yang khusus dilengkapi untuk menunjang
convention tourism (Leonardo, 2008).

2.2.3 Pengertian Sarana dan Prasarana Kepariwisataan


11

1. Pengertian Sarana Kepariwisataan


Sarana Kepariwisataan (tourism superstructure) adalah perusahaanperusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara
langsung atau tidak langsung dan hidup serta kehidupannya tergantung
pada kedatangan wisatawan.
Di dalam dunia kepariwisataan dikenal tiga sarana kepariwisataan yang
saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Ketiga sarana
kepariwisataan tersebut adalah :
a. Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructure) adalah
perusahaan-perusahaan

yang

hidup

dan

kehidupannya

sangat

tergantung pada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan


wisata. Fungsinya ialah menyediakan fasilitas-fasilitas pokok yang dapat
memberikan pelayanan bagi kedatangan wisatawan. Perusahaan yang
termasuk dalam kelompok ini adalah :
1) Travel Agent dan Tour Operator.
2) Perusahaan-perusahaan Angkutan Wisata.
3) Hotel, motel, cottages, dan jenis akomodasi lainnya.
4) Bar dan restoran dan jenis rumah makan lainnya.
5) Objek wisata dan atraksi wisata.
b. Sarana

Pelengkap

Kepariwisataan

(Supplementing

Tourism

Superstructure) adalah perusahaan-perusahaan atau tempat-tempat


yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak
hanya melengkapi sarana pokok kepariwisataan, tetapi yang terpenting
adalah untuk membuat wisatawan dapat lebih lama tinggal pada suatu
daerah tujuan wisata, dan yang termasuk dalam kelompok ini adalah :
12

1) Sarana Olah Raga, seperti lapangan golf, lapangan tenis, kolam


renang, bowling, daerah perburuan, berlayar dan berselancar.
2) Sarana Ketangkasan, seperti permainan bola sodok, Pachinco dan
lain-lain.
c. Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructure)
adalah perusahaan yang menunjang sarana pokok dan sarana pelengkap,
yang berfungsi tidak hanya membuat wisatawan lebih lama tinggal pada
suatu daerah tujuan wisata, tetapi juga memiliki fungsi yang lebih
penting adalah agar wisatawan lebih banyak mengeluarkan atau
membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjunginya, dan yang
termasuk dalam kelompok sarana penunjang kepariwisataan adalah :
1) Night Club
2) Steambaths

3) Casinos

2. Pengertian Prasarana Kepariwisataan


Prasarana kepariwisataan (tourism infrastructure) adalah semua
fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan
berkembang serta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan untuk
memenuhi

kebutuhan

mereka

yang

beraneka

ragam.

Prasarana

kepariwisataan sama dengan pengertian prasarana umum seperti yang


dikemukakan oleh Prof. Salah Wahab dalam bukunya yang berjudul Tourism

Management, bahwa prasarana umum (General Infrastructure), adalah


prasarana yang menyangkut kebutuhan bagi kelancaran perekonomian,
seperti :
13

a. Bandara, pelabuhan, terminal, stasiun.


b. Alat-alat transportasi seperti kapal tambang (ferry), kereta api,
bus, pesawat udara dan sebagainya.
c. Jalan raya beserta rambu-rambunya dan jembatan.
d. Pembangkit tenaga listrik.
e. Penyedia air bersih.

2.2.4 Pengertian Wisatawan


Orang-orang yang datang berkunjung pada suatu tempat atau
negara, biasanya mereka disebut sebagai pengunjung (visitor) yang terdiri
dari banyak orang dengan bermacam-macam motivasi kunjungan, termasuk
didalamnya

adalah

wisatawan.

Jadi

tidak

semua

pengunjung

adalah

wisatawan.
Definisi wisatawan menurut World Tourism Organization (WTO)
memberi defenisi, wisatawan adalah setiap orang yang bertempat tinggal di
suatu negara, tanpa memandang kewarganegaraannya, berkunjung ke suatu
tempat pada negara yang sama untuk jangka waktu lebih dari 24 jam yang
tujuan perjalanannya dapat diklasifikasikan pada salah satu dari hal berikut
ini :
a. Memanfaatkan waktu luang untuk berekreasi, liburan, kesehatan,
pendidikan, keagamaan dan olah raga.
b. Bisnis atau mengunjungi kaum keluarga.

2.2.5 Hakikat Ekowisata

14

Pengertian tentang ekowisata mengalami perkembangan dari waktu


ke waktu. Namun, pada hakekatnya, pengertian ekowisata adalah suatu
bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih
alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan
keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Atas dasar pengertian ini,
bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi
yang dilakukan oleh penduduk dunia.
Ekowisata

merupakan

suatu

konsep

yang

mengkombinasikan

kepentingan industri kepariwisataan dengan para pencinta lingkungan.


Ekowisata pada saat sekarang ini menjadi aktivitas ekonomi yang penting
yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan
pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami
betapa pentingnya konservasi keanekaragaman hayati dan budaya lokal.
Pada saat yang sama ekowisata dapat memberikan generating income untuk
kegiatan konservasi dan keuntungan ekonomi pada masyarakat yang tingal
di sekitar lokasi ekowisata. Ekowisata dikatakan mempunyai nilai penting
bagi konservasi dikarenakan ada beberapa hal antara lain:
a. Memberikan nilai ekonomi bagi daerah yang mempunyai tujuan
kegiatan konservasi pada daerah yang dilindungi.
b. Memberikan nilai ekonomi yang dapat digunakan untuk program
konservasi di daerah yang dilindungi.
c. Menimbulkan penambahan pendapatan secara langsung dan tidak
langsung kepada masyarakat disekitar lokasi ekowisata.
d. Dapat mengembakan konstituen yang mendukung konservasi baik
tingkat lokal,nasional dan internasional.
15

e. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan,


dan
f.

Mengurangi ancaman terhadap keanekaragaman hayati.


Secara konseptual ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu

konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk


mendukung upaya- upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya), dan
meningkatkan

partisipasi

masyarakat

dalam

pengelolaan,

sehingga

memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Sementara


ditinjau dari segi pengelolaanya, ekowisata dapat didefinisikan sebagai
penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat
alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan
secara ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian
lingkungan (alam dan budaya), dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat
setempat.
Oleh karena itu dalam pengembangan ekowisata perlu adanya
rencana pengelolaan yang mengacu kepada tujuan utama awalnya yaitu
mendorong dilakukannya pengawetan lingkungan hidup, sehingga ekowisata
perlu di rencanakan pengelolaannya dengan mengintergrasikan dalam
pendekatan sistem untuk konservasi yang menggunakan desain konservasi.
Defenisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The

Ecotourism society (1990) sebagai berikut : Ekowisata adalah suatu bentuk


perjalanan

wisata

ke

area

alami

yang

dilakukan

dengan

tujuan

mengkonservasi lingkungan dan melestraikan kehidupan dan kesejahteraan


penduduk setempat.

16

Ekowisata

adalah

pariwisata

yang

tidak

hanya

berwawasan

lingkungan dan menghormati martabat dan keanekaragaman budaya


lainnya, namun juga memperhatikan sumber-sumber daya yang dapat
diperbaharui (Boeger, 1991:2).
Masyarakat Ekowisata Internasional mengartikan ekowisata sebagai
perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan cara mengonservasi
lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal (responsible

travel to natural areas that conserves the environmentandn improves the


well-being of local people) (TIES, 2000).
Australian Department of Tourism (Black, 1999) mendefinisikan
ekowisata sebagai wisata berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek
pendidikan

dan

interpretasi

terhadap

lingkungan

alami

dan

budaya

masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis.

2.2.6 Kriteria Ekowisata


Konsep ekowisata dibangun dengan beberapa prinsip, kriteria, dan
uraian berikut ini akan memaparkan beberapa kriteria ekowisata. Kawasan
hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri-ciri khas tertentu yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keaneka ragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri dari Kawasan Pelestarian
Alam (meliputi taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam),
Kawasan Suaka Alam (meliputi suaka margasatwa dan cagar alam), serta
Taman Buru.
Kawasan Pelestarian Alam adalah hutan dengan ciri-ciri khas tertentu
yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
17

pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan


secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Kawasan Suaka Alam adalah hutan dengan ciri-ciri khas tertentu yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman tumbuah dan satwa serta ekosistemnya yang
juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,
pariwisata dan rekreasi alam, yang mempunyai fungsi sebagai:
1. Kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan.
2. Kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.
3. Kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya. Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam
yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi yang
berfungsi sebagai:
a. Kawasan pariwisata dan rekreasi alam, disamping,
b. Kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan
c. Kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa, dan
keunikan alam.
Prinsip ekowisata menurut Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI) antara lain :
1. Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian
lingkungan.
2. Pengembangan harus didasarkan atas musyawarah dan persetujuan
masyarakat setempat.
18

3. Memberikan manfaat kepada masyarakat setempat.


4. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan
yang dianut masyarakat setempat.
5. Memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan
dan kepariwisataan.

2.3

GEOGRAFI PARIWISATA

2.3.1 Pengertian Geografi Pariwisata


Geografi pariwisata adalah geografi yang berhubungan erat dengan
pariwisata. Kegiatan pariwisata yang banyak sekali seginya di mana semua
kegiatan

tersebut

dapat

disebut

dengan

industri

pariwisata,

seperti

perhotelan, restoran, toko cenderamata, transportasi, biro jasa, tempattempat hiburan, objek wisata, atraksi budaya dan sebagainya. Segi-segi
geografi umum yang dikaji dalam pariwisata antara lain iklim, flora, fauna,
keindahan alam, adat istiadat, laut dan sebagainya (Gamal Suwantoro, 1997:
28).
Menurut Heru Pramono (2012: 2), geografi pariwisata adalah studi
terapan dari

konsep-konsep,

teori-teori,

dan pendekatan-pendekatan

geografi terhadap aspek-aspek pariwisata pada wilayah permukaan bumi.


Menurut Pearce (dalam Heru Pramono, 2012: 2). Terdapat enam wilayah
topik yang menyusun komponen geografi pariwisata yaitu :
a. Pola keruangan penawaran (spatial patterns of supply)
b. Pola keruangan permintaan (spatial patterns of demand)
c. Geografi tempat-tempat wisata (the geography of resort)
d. Geografi dan aliran wisatawan (tourist movement and flows)
19

e. Dampak priwisata (the impact of tourism)


f. Model-model keruangan pariwisata (models tourism space)

2.3.2 Hubungan Pariwisata Dalam Kajian Geografi


Setiap ilmu pasti tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Setiap ilmu
saling berhubungan satu sama lainnya. Geografi Pariwisata merupakan
bidang Ilmu terapan yang berusaha mengkaji unsur - unsur geografis suatu
daerah untuk kepentingan kepariwisataan. Unsur - unsur geografis suatu
daerah memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda-beda. Bentang alam
pegunungan yang beriklim sejuk, pantai landai yang berpasir putih, hutan
dengan beraneka ragam tumbuhan yang langka, danau dengan air yang
bersih, merupakan potensi suatu daerah yang dapat dikembangkan untuk
usaha industri pariwisata. Unsur geografis yang lain seperti lokasi/letak,
kondisi

morfologi,

penduduk,

berpengaruh

terhadap

kemungkinan

pengembangan potensi obyek wisata.


Geografi

berhubungan

dengan

lingkungan

baik

alam

maupun

manusia. Ilmu geografi selalu berhubungan dengan lokasi suatu fenomena,


terdapat hubungan atau korelasi antara fenomena dan distribusi keruangan.
Pariwisata erat kaitannya pada pemanfaatan ruang, lokasi-lokasi daerah
tujuan wisata, lokasi dimana wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah
lain. Dengan demikian geografi mempunyai peranan yang sangat penting
dalam menyediakan ruang sebagai daerah tujuan wisata yang sesuai dengan
permintaan wisatawan dan memberikan kepuasan wisatawan yang berbeda
karakternya.

20

Pariwisata erat kaitannya dengan struktur, bentuk, penggunaan lahan


dan perlindungan bentang alam (landscape). Di satu sisi pariwisata
menyebabkan berubahnya bentang alam menjadi kawasan budaya. Geografi
sebagai ilmu tata guna lahan dapat memberikan solusi bagaimana ruang
dapat dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dengan meminimalkan
resiko kerusakan yang terjadi akibat perubahan tata guna lahan untuk
kawasan pariwisata.
Pariwisata adalah aktivitas ekonomi komersial, berbagai aktivitas
ekonomi di permukaan bumi secara khusus dikaji oleh geografi ekonomi.
Pariwisata mendorong timbulnya berbagai aktivitas baik yang secara
langsung memanfaatkan alam maupun tidak.
Antar hubungan (relationship) dan pengaruh (effect) suatu fenomena
terhadap fenomena lain, baik di dalam suatu tempat maupun ke tempat lain
selalu menjadi kajian geografi. Pariwisata memberikan dampak yang luas
baik secara ekonomi, budaya, sosial, maupun alam. Lingkup dampaknya pun
secara lokal, regional, nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan
bahwa pariwisata sangat relevan menjadi kajian geografi.

21

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 KONDISI GEOGRAFIS WILAYAH KEPULAUAN RAJA AMPAT


Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di Barat
pulau Papua di Provinsi Irian Barat, tepatnya di bagian kepala burung Papua.
Pada akhir tahun 2003, Raja Ampat dideklarasikan sebagai kabupaten baru,
berdasarkan UU No. 26 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten
Kerom, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat, tanggal 3 Mei
tahun 2002. Kabupaten Raja Ampat merupakan hasil pemekaran dari
Kabupaten Sorong dan termasuk salah satu dari 14 kabupaten baru di Tanah
Papua. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari 4 pulau besar yaitu Pulau Waigeo,
Batanta, Salawati dan Misool. Ibukota Kabupaten ada di Kota Waisai terletak
di Pulau Waigeo, Distrik Waigeo Selatan, sekitar 36 mil dari Kota Sorong,
dengan kondisi topografi sebagian besar bergunung dan berbukit. Pulau
Waigeo ini dikelilingi pulau-pulau kecil lain yang sudah dihuni, dan menjadi
obyek potensial parawisata.
Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah pesisir yang memiliki
potensi sumberdaya alam yang cukup besar. Potensi sumberdaya pesisir ini
memiliki arti penting bagi pembangunan ekonomi daerah, karena secara
sosial ekonomi semua penduduk Raja Ampat mendiami wilayah pesisir dan
sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Secara biofisik,
Kabupaten Raja Ampat merupakan kabupaten kepulauan dengan gugus
pulau berjumlah 610, yang terdiri 4 pulau besar, dengan sisanya lebih dari
600 merupakan pulau-pulau kecil, serta 34 pulau diantaranya berpenghuni.
22

Daerah ini memiliki atol dan taka dengan panjang garis pantai 4.860
km2 dan perbandingan wilayah darat dan laut adalah 1 : 6 atau sekitar 86%
luas wilayahnya terdiri dari perairan (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten
Raja Ampat 2006). Pada jalur jejaring ekosistem, Kabupaten Raja Ampat
terletak di kawasan the Coral Reef Triangle, berada di bagian paling barat
pulau Papua, yang membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektar.
Secara geografis, Raja Ampat berada pada koordinat 225LU- 425LS
dan 130-13255BT. Secara geoekonomis dan geopolitis, Kabupaten Raja
Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung
dengan negara lain. Pulau Fani yang terletak di ujung paling utara dari
wilayah Kabupaten Raja Ampat, berbatasan langsung dengan Republik Palau
(DKP-KRA2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006).
Secara administratif batas wilayah Kabupaten Raja Ampat (Gambar
13) adalah sebagai berikut:
a. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Seram Utara, Provinsi
Maluku.
b. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi
Maluku Utara.
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong,
Provinsi Papua Barat.
d. Sebelah Utara berbatasan dengan Republik Federal Palau.

23

Keterangan: Dalam peta insert, kotak merah di ujung kepala burung pada pulau Papua,
merupakan wilayah Kabupaten Raja Ampat (Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006)

Gambar 1.1 Posisi geografis Kabupaten Raja Ampat

Terdapat empat pulau besar, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau
Salawati dan Pulau Misool. Masing-masing pulau memiliki karakteristik
topografi yang berlainan antara lain:
1. Pulau Waigeo merupakan pulau yang sebagian besar topografinya
bergunung dan berbukit pada bagian poros tengah sampai ke daerah
pesisir. Selain itu juga terdiri dari pasir dan karang-karang batu. Selain

24

itu Pulau Waigeo dikelilingi pulau-pulau sedang dan kecil yang sebagian
besar telah dihuni oleh penduduk. Bagian Barat dan Selatan Pulau Waigeo
lebih banyak dikelilingi oleh pulau-pulau lain apabila dibandingkan
dengan bagian Timur dan Utara.
2. Pulau Batanta sebagian besar topografinya terdiri dari pegunungan dan
perbukitan yang memanjang dari bagian tengah sampai ke bagian
pesisir. Pada bagian pesisir pantai jarang ditemukan pasir putih. Pulau ini
hanya dikelilingi oleh 8 (delapan) pulau kecil.
3. Pulau Salawati dikelilingi oleh pulau-pulau kecil terutama pada bagian
Selatan dan Timur. Dari bagian tengah sampai dengan pesisir dikelilingi
oleh gunung dan perbukitan yang membujur ke semua arah.
4. Pulau Misool memiliki topografi yang hampir sama dengan ketiga pulau
besar lainnya. Pada bagian Barat dan Selatan dikelilingi oleh pulau-pulau
kecil. Sedangkan bagian Utara terbentang pulau-pulau kecil yang
membujur dari arah Timur ke Barat yang jarak tempuhnya dari Misool
lebih dari satu jam. Bagian tengah terdapat pegunungan dan pada bagian
pesisir terdapat bukit-bukit berbatuan terutama pada bagian Barat dan
Selatan Pulau Misool.
Di luar empat pulau besar terdapat pulau-pulau sedang dan kecil
yang berjumlah kurang lebih 600 pulau. Pulau-pulau tersebut hanya terdiri
dari batu karang sehingga masyarakat yang mendiami pulau-pulau tersebut
hanya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan tidak bisa bercocok
tanam seperti penduduk di pulau-pulau yang menjadi bagian dari Distrik
Kepulauan Ayau.

25

3.2 KONDISI FISIK RAJA AMPAT


3.2.1 Kondisi Geologi
Kondisi geologi Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh formasi
batuan kapur yang terbentuk pada masa kuarter. Jenis tanah yang ada
disusun oleh batuan dabas, neogen dan batu gamping yang membentuk
bukit-bukit rendah. Pada umumnya batu gamping tersebut bersifat padat
dan mengandung pasir seperti batu gamping facet, daram, atkari, zaag,
openta, sagewin, dan bogal. Sumber utama batu gamping berasal dari
terumbu gamping yang berasal dari binatang laut. Perbedaan posisi
pembentukan

batuan

ini

menimbulkan

perbedaan

dalam

proses

sedimentasinya sehingga terbentuk berbagai macam batu gamping tersebut.


Jenis batuan lain di wilayah ini adalah batuan sedimen konglomerat
yang komposisinya terdiri dari bahan yang tahan lapuk berupa konglomerat
aneka bahan. Batuan Breksi Yeffman dengan butiran yang lebih besar,
fragmen menyudut yang umumnya terdiri dari fragmen batuan hasil
rombakan, dalam massa dasar yang lebih halus atau tersemenkan. Golongan
batuan sedimen berupa pasir juga terdapat di wilayah ini dengan jenis batu
pasir daram. Selain itu juga terdapat batuan sedimen serpih yang
mempunyai sifat seperti lempung. Batuan serpih dimana pada bidangbidang lapisan memperlihatkan belahan yang menyerpih dengan klasifikasi
serpih letita juga terdapat di wilayah ini.
Beberapa formasi batuan yang terdapat di wilayah ini adalah Formasi
Yaben, Formasi Klasafet, Formasi Waigeo, Formasi Rumai, Formasi Yarefi,
Formasi Demu, dan Formasi Fafanlaf. Batu metamorf yang ada adalah batuan
malihan ligu sedangkan batuan beku terdapat di batuan Gunung Api Batanta
26

dan batuan Gunung Dore. Wilayah ini juga termasuk daerah rawan gempa
karena dilalui sesar Sorong yaitu yang menjulur dari daratan Papua bagian
Utara menyeberangi Selat Sele dan menuju bagian Utara Pulau Salawati.
Lebarnya 10 km dan arahnya ke Barat dan Barat Daya.
3.2.2 Fisiografi
Kepulauan Raja Ampat terbentuk oleh pergerakan lempeng pasifik
dan pembentukan laut dalam sekitar 231-163 juta tahun lalu (Zaman Jura).
Pada sekitar 125 juta tahun lalu (zaman kapur akhir) benua Australia
bergerak ke utara membentuk busur kepulauan (Supriatna, 1995). Gerakan
lempeng India-Australia sekitar 8 cm/tahun ke utara-timur laut dan
lempeng pasifik sekitar 10 cm/tahun ke barat-barat laut membentuk sesar
Sorong yang membelah pulau Bantata dan Salawati.
Kedalaman laut (batimetri) terdalam, yaitu lebih dari 200 m, terdapat
di tengah-tengah laut lepas antara pulau-pulau Waigeo, Kofiau, dan Misool
(Dishidros, 1992). Sedangkan laut antara pulau Misool dengan Salawati dan
pulau-pulau sekitar memiliki kedalaman kurang dari 200 m, sedangkan laut
disekitar pulau Waigeo pada daerah teluk berkisar antara 3 hingga 55 m, dan
didaerah tanjung yang bertebing kedalamannya dapat mencapai 118 m.

3.2.3 Iklim
Karena posisinya berada di bawah garis katulistiwa, Kabupaten Raja
Ampat mempunyai iklim tropis yang lembab dan panas dengan suhu udara
terendah 23,60C dan suhu tertinggi 30,70C. Temperatur rata-rata sebesar
27,20C dengan kelembaban udara rata-rata 87%. Curah hujan yang terjadi
adalah 4.306 milimeter dan merata sepanjang tahun dengan jumlah hari
27

hujan antara 19 29 hari setiap bulannya. Kondisi yang demikian


menyebabkan daerah ini memiliki tipe iklim A menurut pembagian tipe iklim
yang dikembangkan oleh Oldeman.
Angin Musim Tenggara yang bertiup pada Mei hingga November
berasal dari Benua Australia, dimana matahari berada di Utara garis
khatulistiwa. Hal itu menyebabkan daerah ini memiliki tekanan udara yang
rendah dan juga sifat tidak banyak mengandung uap air karena daratan
Australia Utara merupakan daerah savana yang tandus. Antara Desember
hingga April, bertiup Angin Musim Barat Laut. Berbeda dengan sifat Angin
Musim

Tenggara,

angin

ini

bertiup

dari

daratan

Asia

dan

banyak

mengandung uap air karena daerah yang dilalui cukup luas dan melewati
sebagian samudera dan lautan sehingga banyak mendatangkan hujan
terutama untuk daerah pantai di bagian Utara Papua termasuk wilayah
Kabupaten Raja Ampat.

3.2.4 Tanah
Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat meliputi jenis
dystropepts, eutropepts, haplorthox, humitropepts, rendolls, tropaquepts,
tropudalfts, dan tropudulfts. Dystropepts merupakan jenis tanah yang paling
dominan di Pulau Waigeo, Pulau Batanta, dan Pulau Salawati. Jenis tanah
lainnya yang cukup banyak terdapat di wilayah ini adalah jenis tanah rendolls
yang tersebar di Pulau Waigeo, Pulau Misool, dan Pulau Batanta. Kedalaman
efektif tanah di Kabupaten Raja Ampat secara umum berkisar 0-100 cm,
dengan rincian kedalaman efektif tanah di Distrik Misool dan di Distrik

28

Waigeo Selatan antara 0 25 cm sedangkan di Pulau Salawati, Waigeo Utara


dan Waigeo Selatan berkisar antara 50-100 cm.
Secara fisik dengan pengamatan visual, tanah di Raja Ampat dapat
dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Pasir Kerikilan, terdiri dari batuan gamping
2. Pasir pantai dan sungai
3. Lempung lanauan pasiran
4. Pasir lempungan
5. Lempung lanauan
6. Pasir kerikilan bongkah

3.2.5 Geomorfologi
Berdasarkan geomorfologinya, Raja Ampat dibagi menjadi :
1. Satuan Daratan Aluvial ; terdiri dari dataran pantai, rawa, dan sungai.
Penggunaan

lahan

umunya

digunakan

untuk

pemukiman,

dan

ditumbuhi bakau.
2. Satuan Topografi Kars; terdiri dari batuan bergamping, tumbuhan
karang, dan kalkarenit.
3. Satuan Perbukitan Batuan Beku; terdiri dari batuan ultramafik, bersifat
palagos, dan retas.
4. Satuan Perbukitan Rendah Hingga Tinggi; terdiri dari batuan sedimen
dan gunung api. Bentang alam bergelombang, relief rendah, hingga
kasar.
3.2.6 Karakteristik Pantai

29

Berdasarkan karakteristik pantai berupa kenampakan bentuk, lereng,


batuan penyusun, relief dan proses-proses geodinamis yang terjadi, pantai
Raja Ampat dibagi menjadi :
1. Pantai Berpasir ; dicirikan dengan relief rendah, melengkung halus,
pasir halus hingga kasar, pecahan cangkang kerang, karbonat berwarna
putih, ditumbuhi tumbuhan karang, dan proses sedimentasinya yang
dominan. Tipe pantai ini ditemukan di Saonek, Waisai, Urbanisopen,
Kapadiri, Slpele, Mutus, dan Arborek.
2. Pantai Bertebing; dicirikan dengan relief sedang-tinggi, batu gamping
putih, batuan beku basal, masif dan keras. Tinggi tebing mulai dari 2m
hingga 100 m dengan kemiringan 20% hingga terjal. Daerah pantai ini
dominan terdapat di P. Waigeo dan sekitarnya.
3. Pantai Berlumpur; dicirikan dengan relief rendah, bentuk bersifat
deltaik, tersusun atas lumpur, lempung pasiran organik berwarna coklat
hingga hitam, lunak dan basah. Pantai seperti ini antara lain ditemukan
di Kalitoko di Teluk Mayalibit, Kabare di Pulau Waigeo, dan pantai
Waigama.
4. Pantai Kerikil Pasiran; dicirikan dengan relief rendah-hingga sedang,
tipe pantai berteluk dan bertanjung, batuan tersusun atas kerikir, dan
pasir halus hingga kasar. Dan tersebar di kaki perbukitan gunung api
purba. Tipe pantai ini ditemukan di Yensawai, Arefi dan Wailebet.

30

3.2 POTENSI WISATA DI KEPULAUAN RAJA AMPAT

Gambar 1.2 Merupakan Peta Daerah Teritori raja Ampat

Pengembangan pariwisata di suatu daerah meliputi berbagai aspek


kehidupan yaitu meliputi, kehidupan sosial, ekonomi, maupun budaya

31

masyarakat, serta didukung oleh potensi alam dimana pariwisata tersebut


dikembangkan. Pada bagian ini dikemukakan beberapa potensi yang
mendukung pengembangan pariwisata di kepulauan Raja Ampat, Kabupaten
Raja Ampat, Papua Barat.
Wilayah Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Kabupaten Raja
Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk dijadikan objek
wisata, terutama wisata bahari (penyelaman) yang dapat di kembangkan
untuk meningkatkan sektor perekonomian daerah. Perairan Raja Ampat
menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik
untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan diakui sebagai nomor satu untuk
kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini. Sering disebut juga
sebagai surga para penyelam.
Pada tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) dan Pusat Penelitian
Oseanografi

(P2O)

LIPI

mengadakan

suatu

penelitian

ilmiah

untuk

memperoleh data dan informasi tentang ekosistem laut, daerah bakau dan
hutan Kepulauan Raja Ampat. Survei ini menunjukkan bahwa terdapat
sejumlah 537 jenis karang, yang sungguh menakjubkan karena mewakili
sekitar 75% jenis karang yang ada di dunia. Ditemukan pula 828 jenis ikan
dan diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini 1.074. Di darat,
penelitian ini menemukan berbagai tumbuhan hutan, tumbuhan endemik
dan jarang, tumbuhan di batuan kapur serta pantai peneluran ribuan penyu.
Selain itu ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik
kondisinya dengan persentasi penutupan karang hidup hingga 90% yaitu
selat Dampier (Selat antara P. Waigeo dan P. Balanta), Kepulauan Kofiau,
Kepulauan Misool Timur Selatan dan Kepulauan Wayag. Di beberapar tempat
32

ada keunikan tersendiri seperti di Kampung Saondarek, ketika pasang surut


terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam dan
dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut masih bisa hidup walaupun di
udara terbuka dan terkena matahari langsung.
Secara historis, Raja ampat berarti empat raja. Pulau yang indah ini
memiliki luas lebih dari 9,6 juta are. Karena terletak di segitiga Koral dunia,
spesies terumbu karang di daerah ini sangat kaya. Bahkan banyak pihak
mengatakan bahwa Raja Ampat memiliki keanekaragaman spesies terbanyak
dari seluruh perairan di dunia. Ini adalah satu daya tarik Wisata Bahari Raja

Ampat. Ada berbagai hal yang bisa dilakukan oleh wisatawan di tempat ini,
misalnya melakukan snorkeling, diving, berlayar, dan memancing ikan.
Pokoknya semua hal tentang laut dan biotanya bisa anda lakukan disini.
Hal pertama yang sangat disarankan saat Berwisata Ke Raja Ampat
adalah melakukan diving. Raja Ampat terkenal dengan spesies terumbu
karangnya yang beraneka ragam. Jadi sangat disayangkan jika berkunjung ke
tempat ini tanpa melihatnya secara langsung. Ada sekitar 537 spesies koral
dan 699 spesies hewan lunak lainnya di bawah Perairan Raja Ampat.
Tidak hanya spesies koralnya saja yang kaya, namun spesies ikan di

Raja Ampat juga sangat beragam dan berwarna-warni. Ini merupakan surga
bawah laut yang tidak akan anda temukan di perairan lain di Indonesia.
Selain itu wilayah ini juga merupakan tempat singgah ikan paus.
Hal ini terlihat jelas, bahwa objek pariwisata yang ada di kepualauan
Raja

Ampat

masih

dan

harus

terus

dikembangkan

dalam

mengisi

pembangunan pariwisata yang berwawasan lingkungan, dengan melihat dari


beberapa potensi pariwisata atau aspek pendukung pariwisata. Potensi33

potensi tersebut mencakup aspek Accessibility (aksesibilitas), Amenity


(fasilitas), Attraction (atraksi), dan Ancillary (kelembagaan), maupun aspek
lainnya seperti aspek ekonomi.

3.3 KEKAYAAN SUMBER DAYA ALAM DAN POTENSI BAWAH LAUT YANG
DAPAT DIKEMBANGKAN
Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi
untuk dijadikan sebagai objek wisata, terutama wisata penyelaman. Perairan
Kepulauan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari
10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga
diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air
pada saat ini.
Dr. John Veron, ahli karang berpengalaman dari Australia, misalnya,
dalam sebuah situs ia mengungkapkan, Kepulauan Raja Ampat yang terletak
di ujung paling barat Pulau Papua, sekitar 50 mil sebelah barat laut Sorong,
mempunyai kawasan karang terbaik di Indonesia. Sekitar 450 jenis karang
sempat diidentifikasi selama dua pekan penelitian di daerah itu.
Tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy,
dan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) pernah melakukan penilaian cepat pada 2001 dan 2002.
Hasilnya, mereka mencatat di perairan ini terdapat lebih dari 540 jenis
karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan
karang, 700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid
stomatopod crustaceans. Ini menjadikan 75% spesies karang dunia berada di
Raja Ampat. Untuk Jenis kerang dan siput yang dimanfaatkan oleh nelayan
34

lokal selain kerang mutiara adalah bia garu, pia-pia, batu laga, kepala
kambing dan mata tujuh. Kerang dan siput merupakan komoditi perikanan
yang memiliki nilai ekonomis penting untuk pemasukan daerah. Tidak
satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang
sebanyak ini.
Ada beberapa kawasan terumbu karang yang masih sangat baik
kondisinya dengan persentase penutupan karang hidup hingga 90%, yaitu di
selat Dampier (selat antara P. Waigeo dan P. Batanta), Kepulauan Kofiau,
Kepualauan Misool Timur Selatan dan Kepulauan Wayag. Tipe dari terumbu
karang di Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang tepi dengan kontur
landai hingga curam. Tetapi ditemukan juga tipe atol dan tipe gosong atau
taka. Di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, ketika pasang
surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu karang tanpa menyelam
dan dengan adaptasinya sendiri, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun
berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.
Tidak

hanya

keanekaragaman

jenis-jenis

terumbu

ikan,

karang,

Raja

Ampat

hamparan

juga

padang

kaya

lamun,

akan
hutan

mangrove, dan pantai tebing berbatu yang indah. Potensi menarik lain
adalah pengembangan usaha ekowisata dan wilayah ini telah pula diusulkan
sebagai Lokasi Warisan Dunia (World Herritage Site) oleh Pemerintah
Indonesia.
Spesies yang unik yang bisa dijumpai pada saat menyelam adalah
beberapa jenis kuda laut katai, wobbegong, dan ikan pari Manta. Juga ada
ikan endemik raja ampat, yaitu Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie. Di
Manta point yg terletak di Arborek selat Dampier, Anda bisa menyelam
35

dengan ditemani beberapa ekor Manta Ray yang jinak seperti ketika Anda
menyelam di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Jika menyelam di Cape
Kri atau Chicken Reef, Anda bisa dikelilingi oleh ribuan ikan. Kadang
kumpulan ikan tuna, giant trevallies dan snappers. Tapi yang menegangkan
jika kita dikelilingi oleh kumpulan ikan barakuda, walaupun sebenarnya itu
relatif tidak berbahaya (yang berbahaya jika kita ketemu barakuda soliter
atau sendirian). Hiu karang juga sering terlihat, dan kalau beruntung Anda
juga bisa melihat penyu sedang diam memakan sponge atau berenang di
sekitar anda. Di beberapa tempat seperti di Salawati, Batanta dan Waigeo
juga terlihat Dugong atau ikan duyung.
Karena daerahnya yang banyak pulau dan selat sempit, maka
sebagian besar tempat penyelaman pada waktu tertentu memiliki arus yang
kencang. Hal ini memungkinkan juga untuk melakukan drift dive, menyelam
sambil mengikuti arus yang kencang dengan air yang sangat jernih sambil
menerobos kumpulan ikan. Kebayakan wisatawan yang datang ke Raja
Ampat saat ini adalah para penyelam, sebenarnya lokasi ini menarik juga
bagi turis non-penyelam karena memiliki pantai-pantai berpasir putih yang
sangat indah dan gugusan pulau-pulau Karst nan mempesona dan florafauna unik endemik seperti cendrawasih merah, cendrawasih Wilson, maleo
waigeo, beranekaragam burung kakatua, dan nuri, kuskus waigeo serta
beragam jenis anggrek.
Walaupun terkenal sebagai surga dunia, daerah ini ditemukan tandatanda kerusakan habitat. Kerusakan ini disebabkan cara pengambilan ikan
dengan bom atau racun. Menurut penduduk sekitar, penangkapan ikan
dengan cara itu awalnya dilakukan oleh nelayan dari luar Papua. Namun
36

sekarang sudah ada putra daerah yang melakukan hal tersebut, karena cara
pembuatan bom atau racun sudah dikuasai. Selain penangkapan ikan yang
merusak lingkungan, penebangan liar juga terjadi d kawasan cagar alam di
Pulau Waigeo. Di Kabupaten Raja Ampat terdapat juga beberapa lokasi
dengan kondisi terumbu karang yang rusak akibat penggunaan bahan
peledak dan bahan perusak lainnya. Kerusakan ini telah mengakibatkan
terganggunya siklus ekosistem terutama kehidupan berbagai jenis biota laut
yang berasosiasi dengan terumbu karang.
Kerusakan

ini

juga

telah

menghilangkan

fungsi

estetika

dari

komunitas terumbu terutama untuk kegiatan pariwisata. Kerusakan yang


terjadi pada terumbu karang bervariasi, namun sebagian besar kerusakan
akibat penggunaan bahan peledak (bom). Lokasi yang rusak akibat
gelombang besar dan lokasi yang rusak akibat penggunaan potasium hanya
ditemukan pada perairan sebelah selatan Pulau Bun. Diduga akar bore (tuba
tradisional) secara luas digunakan di seluruh perairan Raja Ampat.
Kerusakan terumbu karang tersebut telah mengakibatkan perubahan pada
tutupan karang yang ada (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat
2006).
Padahal

Raja

ampat

memiliki

potensi

cukup

besar

untuk

pengembangan wisata laut dan darat. Terumbu karang pun mempunyai


berbagai fungsi antara lain sebagai gudang keanekaragaman hayati biotabiota laut, tempat tinggal sementara atau tetap, tempat mencari makan,
berpijah, daerah asuhan, dan tempat berlindung bagi hewan laut lainnya.
Terumbu karang juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya siklus
biologi,

kimiawi

dan

fisik

secara
37

global

yang

mempunyai

tingkat

produktivitas yang sangat tinggi. Terumbu karang merupakan sumber bahan


makanan langsung maupun tidak langsung dan sumber obat-obatan.
Terumbu karang sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan
sumber utama bahan-bahan konstruksi. Di samping itu terumbu karang
mempunyai nilai yang penting sebagai pendukung dan penyedia bagi
perikanan termasuk di dalamnya sebagai penyedia lahan dan tempat
budidaya berbagai hasil laut. Terumbu karang juga dapat berfungsi sebagai
daerah rekreasi, baik rekreasi pantai maupun rekreasi bawah laut lainnya
dan tempat perlindungan berbagai biota langka.
Keunikan dunia bawah laut dan hutan di kawasan Kepulauan Raja
Ampat sudah selayaknya dijaga dari ancaman perusakan alam. Sangat
disayangkan bila surga dunia itu dihancurkan untuk kepentingan sesaat.
Kekayaan sumberdaya ini adalah milik Negara yang sudah seharusnya kita
jaga dan lestarikan bersama guna sebagai warisan bangsa, karena selain
potensi kelautan dan perikanan, Raja Ampat juga memiliki kekayaan sumber
daya alam, antara lain minyak bumi dan nikel. Di dasar lautnya juga banyak
terdapat kapal-kapal karam bekas Perang Dunia II yang diperkirakan
memuat harta karun bernilai tinggi. Namun, jika salah kelola, kegiatan
eksploitasi semua itu dikhawatirkan mengancam kelestarian dan keindahan
alam lautnya.

3.4 SARANA, PRASARANA DAN AKSESIBILITAS


Mengunjungi kepulauan ini sebenarnya tidaklah terlalu sulit walau
memang memakan waktu dan biaya cukup besar karena harus melalu jalur
udara ataupun jalur laut. Kita dapat menggunakan maskapai penerbangan
38

dari Jakarta ke Sorong via Menado selama 6 jam penerbangan. Dari Sorong
kota yang cukup besar dan fasilitas lumayan lengkap- untuk menjelajahi
Raja Ampat pilihannya ada dua, ikut tur dengan perahu pinisi atau tinggal di
resor Papua Diving.
Sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia, Raja Ampat memiliki
akomodasi yang cukup lengkap. Semua hal yang dibutuhkan oleh wisatawan
tersedia di tempat ini, mulai dari penginapan yang nyaman, mulai dari kelas
pondok hingga bungalows mewah. Akomodasi lain adalah terkait atraksi dan
objek wisata di Raja Ampat. Karena banyak wisatawan yang ingin melihat
secara langsung keindahan bawah air Raja Ampat, banyak orang yang
menyediakan jasa sewa snorkel dan alat renang lainnya.
Papua Diving, satu-satunya resor eksotis yang menawarkan wisata
bawah laut di kawasan tersebut, didatangi turis-turis penggemar selam yang
betah selama berhari-hari bahkan hingga sebulan penuh mengarungi lekuklekuk dasar laut. Mereka seakan tak ingin kembali ke negeri masing-masing
karena sudah mendapatkan pulau surga yang tak ada duanya di bumi ini.
Pengelolanya pun tak gampang mempersiapkan tempat bagi wisatawan.
Maximillian J Ammer, warga negara Belanda pemilik Papua Diving Resort
yang juga pionir penggerak wisata laut kawasan ini, harus mati-matian
menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari mancanegara. Sejak
memulai usahanya delapan tahun lalu, banyak dana harus dikeluarkan.
Namun, hasilnya juga memuaskan. Setiap tahun resor ini dikunjungi minimal
600 turis spesial yang menghabiskan waktu rata-rata dua pekan.
Beberapa resor menetapkan harga relatif mahal karena menyuguhkan
fasilitas yang lengkap. Wisatawan dengan biaya terbatas juga dapat
39

memanfaatkan resort milik pemerintah yang jauh lebih murah di daerah


Waisai, ibu kota Raja Ampat.
Untuk masuk ke kawasan Raja Ampat, setiap orang harus membayar
biaya masuk sebesar Rp 250 ribu untuk wisatawan domestik, dan Rp 500
ribu untuk wisatawan dari mancanegara. Sebuah pin bulat yang berfungsi
seperti identitas ini akan kita terima, setelah membayar biaya tersebut.
Uniknya, pin ini berlaku untuk satu tahun, sejak 1 Januari hingga 31
Desember. Jadi jika dalam satu tahun itu kita bolak-balik mengunjungi Raja
Ampat, hanya perlu membayar biaya masuk satu kali saja. Tentu saja pin
tadi tidak boleh hilang dan harus kita kenakan sebagai tanda pengenal.
Akan tetapi, Raja Ampat yang merupakan salah satu sumber daya
alam potensial yang dimiliki oleh Indonesia. Namun pada faktanya Raja
Ampat masih memiliki kekurangan dalam hal aksesbilitas dan belum
mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah Indonesia. Pemerintah terlihat
tutup

mata

dengan

keberadaan

Raja

Ampat

ini.

Pemerintah

tidak

mengucurkan dana untuk pembangunan infrastruktur penunjang keeksisan


situs ini. Hal ini menyebabkan Raja Ampat sulit untuk berkembang dan
menjadikan dirinya sumber penambah devisa bagi Indonesia. Hal ini
membuktikan

bahwa

Pemerintah

sangat

minim

melakukan

publikasi

terhadap keberadaan situs ini. Sekilas terlihat bahwa Pemerintah benarbenar menelantarkan Raja Ampat. Padahal publikasi yang banyak sangat
diperlukan akan situs ini. Namun publikasi dan promosi ini harus pula
diimbangi dengan pembangunan sarana & prasarana penunjangnya seperti
bandara,

jalan,

penginapan,

listrik,

40

dan

sarana-prasarana

lain

yang

memudahkan akses ketempat ini dan menarik orang untuk datang ke tempat
ini.
Selain dukungan akses dan kemudahan transportasi, sebagian besar
aktivitas terkait pariwisata Raja Ampat pun masih minim berpusat di Waisai
ataupun yang bersinggungan langsung dengan perekonomian masyarakat
lokal. BBM yang mahal, padahal menjadi tulang punggung penopang,
membuat aktivitas ekonomi wisata lokal sangat terbatas pada pihak yang
bermodal. Padahal, semakin banyaknya kunjungan wisatawan seharusnya
bisa menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari transportasi dalam kota dan
antarpulau, penginapan, meningkatnya kebutuhan bahan makanan (sayur
dan buah), kerajinan lokal, hingga jasa-jasa lainnya. Hal-hal tersebut justru
menjadi penggerak roda perekonomian karena masyarakat menjadi bagian
dari industri wisata bahari.
Letak

Raja

Ampat

yang

jauh

dari

pantauan

pemerintah

dan

dianaktirikan oleh pemerintah bukan tidak mungkin menyebabkan tempat


ini direbut oleh Negara tetangga seperti kasus Sipadan-Ligitan. Bukan hanya
pengklaiman atas wilayah ini, kemungkinan terjualnya situs ini kepada
penanam saham / investor juga akan menimbulkan kerugian yang besar bagi
pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tak akan merasakan banyak
pemasukan dari para turis yang dating ke daerah ini. Selain itu pemerintah
juga tak akan bisa menikmati sumber daya alam lain yang tersembunyi di
balik Raja Ampat karena telah tidak menjadi miliknya lagi.

3.5 STATISTIKA KUNJUNGAN WISATAWAN

41

Berdasarkan survei tahun 2011, penduduk Raja Ampat berjumlah


sekitar 90 ribu orang. Populasi ini tersebar di lebih dari 1800an pulau.
Berdasarkan data pada tahun yang sama, ada sekitar 8400 wisatawan
berkunjung ke Raja Ampat, 8000 diantaranya merupakan wisatawan asing.
Biaya untuk berwisata ke Raja Ampat memang tidak sedikit. Sekali perjalanan
kita bisa menghabiskan hingga 30 juta rupiah. Mungkin ini adalah salah satu
alasan mengapa wisatawan mancanegara mendominasi kunjungan tersebut.
Berdasarkan catatan Disbudpar Raja Ampat, jumlah pelancong
domestik terus meningkat. Pada 2010 tercatat sebanyak 790 orang dan
2011 bertambah jumlahnya menjadi 1.489 orang. Sementara wisatawan
mancanegara masih mendominasi kedatangan ke Raja Ampat dengan jumlah
pada 2011 sebanyak 6.178 orang. Para turis paling banyak berasal dari
benua Eropa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, dan Swiss.
Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut,

dikarenakan akses

menuju Raja Ampat saat ini sudah semakin mudah dari berbagai wilayah di
Tanah Air. Saat ini sudah ada banyak penerbangan, baik langsung ataupun
tidak langsung, walaupun harus tetap menggunakan speedboat atau kapal
motor untuk mencapai ke tempat tujuan. Biaya perjalanannya pun semakin
terjangkau dan tidak tergolong mahal lagi karena sudah banyak maskapai
penerbangan yang menuju ke sana.

3.6 KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KEPULAUAN RAJA AMPAT


Kehidupan

masyarakat

Kepulauan

Raja

Ampat

memang

pada

umumnya hanya nelayan tradisional yang berdiam di kampung-kampung


kecil yang letaknya berjauhan dan berbeda pulau. Masyarakatnya pun terdiri
42

dari beberapa etnis dan suku-suku, yaitu suku Maya, suku Ondoloren dari
Biak, ada pula yang datang dari luar Papua seperti Maluku Utara, Seram dan
sebagainya. Namum mereka adalah masyarakat yang ramah menerima tamu
dari luar, apalagi kalau kita membawa oleh-oleh buat mereka berua pinang
ataupun permen. Masyarakat lokal adalah pemeluk agama Islam dan Kristen
dan sering kali di dalam satu keluarga atau marga terdapat dua agama
tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Raja Ampat tetap rukun walaupun
berbeda keyakinan.
Kondisi terumbu karang dan ekosistem pesisir lainnya sangat
berkaitan dengan faktor alami dan aktivitas manusia. Perubahan yang
disebabkan secara alami maupun akibat kegiatan manusia perlu dibedakan.
Keterkaitan antara kegiatan manusia dan ekosistem terumbu karang
merupakan hal yang penting. Hal tersebut karena kondisi terumbu karang
tidak hanya dipengaruhi oleh kegiatan manusia tetapi juga oleh mata
pencaharian dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Untuk
melihat perubahan yang terjadi dalam skala waktu perlu dilakukan
monitoring baik dari aspek ekologis maupun sosial-ekonomis, sehingga
dapat diketahui kecenderungan apakah terjadi perbaikan atau sebaliknya.
Dilihat dari segi sosial ekonomi ada beberapa biota laut yang
diketahui mempunyai potensi tertentu dan dapat dimanfaatkan. Potensi ini
berupa bahan makanan dan

sumber

protein,

jenis potensial untuk

dibudidayakan atau objek indah untuk dilihat. Penyu misalnya merupakan


objek untuk dilihat maupun dimanfaatkan. Biota lautnya adalah ikan dan
biota laut lainnya. Ikan-ikan ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
kelompok ikan yang mempunyai arti untuk dikonsumsi (ikan target),
43

kelompok ikan yang memberikan indikasi tentang kondisi terumbu karang


(ikan indikator) dan kelompok ikan yang umumnya merupakan bagian dari
ekosistem terumbu (ikan utama/major fish).
Potensi wisata laut Raja Ampat sudah mendunia dan tidak ada
tandingannya. Namun, manfaat dari popularitas Raja Ampat masih jauh
untuk masyarakat lokal. Padahal, tradisi mereka sangat kuat untuk menjaga
keindahan dan kelestarian berbagai potensi wisata tersebut. Julukan surga
bawah laut yang diberikan para penyelam dunia kepada Raja Ampat di
Papua Barat rupanya belum sebanding dengan kondisi perekonomian
masyarakat dan kabupaten tersebut. Popularitas Raja Ampat, mulai dari
taman laut, ratusan spesies ikan hias, terumbu karang, hingga ikon Pulau
Wayag, semakin menggema di seantero dunia. Namun, kesan mendunia itu
seakan memisahkan kekayaan laut dengan masyarakat dan wilayah daratan
Raja Ampat sendiri.
Mungkin, ketertinggalan itu diharapkan bisa ditopang dengan
popularitas wisata Raja Ampat yang disebut beberapa kalangan sebagai
jantung terumbu karang dunia.Ironisme itu bisa dilihat secara sederhana
dengan ketimpangan pendapatan asli daerah (PAD) yang belum menembus
Rp 15 miliar sehingga Kabupaten Raja Ampat termasuk salah satu dari 183
wilayah tertinggal di Indonesia. Bahkan, pendapatan dari pariwisata dan
sektor yang terkait dengan wisata pun belum menembus angka Rp 3 miliar
setahun.
Kemiskinan masyarakat adalah fakta yang tak bisa dihindari. Cerita
sejumlah saksi mata pada satu dekade lalu seakan membenarkan bahwa
potensi laut dan alam Raja Ampat hanyalah surga bagi pelaku illegal fishing
44

dan illegal loging yang memanfaatkan masyarakat lokal. Iming-iming duit


dari para perantara kapal Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan, yang
melintasi perairan Raja Ampat dan Papua Barat pada umumnya telah
memaksa segelintir masyarakat untuk menangkap ikan dengan cara-cara
yang tidak ramah lingkungan, seperti pemboman.
semua

terjadi

karena

keterbatasan

pengetahuan,

Tidak dipungkiri ini


kemampuan

serta

kurangnya informasi penduduk lokal di sekitar Raja Ampat akan pengelolaan


sumber daya Raja Ampat, mengingat tingkat pendidikan terakhir yang
ditamatkan, umumnya masyarakat Raja Ampat merupakan lulusan SD (7.895
orang). (BPS-KRA 2006). Serta kehidupan masyarakat lokal yang jauh dari
pusat daerah, teknologi dan informasi yang teraktual membuat mereka
percaya begitu saja dengan orang asing yang hanya ingin mengambil
kekayaan kita secara ilegal.
Akan tetapi, tidak sedikit warga lokal yang dilibatkan dalam
pembangunan dan pengelolaan resor, bahkan 90 dari 100 karyawan yang
bekerja di Papua Diving adalah warga Papua. Penduduk juga memasok ikan,
sayur-mayur, buah-buahan, dan lainnya. Salah satu paket wisatanya
mengunjungi perkampungan untuk melihat tanaman dan hewan khas
setempat, termasuk burung Cendrawasih. Banyak wisatawan yang menjadi
donatur pembangunan gereja dan pendidikan anak-anak sekitar objek
wisata Raja Ampat.

3.7 PERMASALAHAN PENGEMBANGAN WISATA DI KEPULAUAN RAJA AMPAT

45

Pengembangan pesisir dan laut Kepulauan Raja Ampat dihadapkan


pada berbagai isu dan permasalahan. Beberapa isu dan permasalahan
tersebut adalah :
1. Kekayaan keanekaragaman hayati di Kepulauan Raja Ampat memilki
tingkat ancaman yang tinggi pula. Daerah ini juga sangat dilirik oleh
kepentingan-kepentingan sesaat yang ingin mengeksploitasi sumber
daya alamnya. Hal itu bisa dilihat dari kerusakan terumbu karang dan
hutan. Kerusakan terumbu karang umumnya dikarenakan penangkapan
ikan yang tidak ramah lingkungan seperti bom, sianida dan akar bore
(cairan dari olahan akar sejenis pohon untuk meracun ikan).
2. Masalah yang harus diperhatikan adalah pemilikan atau masalah ulayat
dan adat. Sebenarnya ini merupakan sebuah masalah atau tantangan,
tetapi sebagai modal atau dorongan dalam pembangunan yang tentunya
melibatkan masyarakat Raja Ampat sendiri, sebagai pemilik hak ulayat
dan adat yang bisa ikut berperan dalam proses pembangunan. Budaya
dan adat istiadat akan menunjukan pada proporsi sebenarnya dan
dengan bersama-sama pemerintah dan stake holder lainnya akan
membangun Kepulauan Raja Ampat sebagai wilayah yang menjanjikan.
3. Potensi obyek pariwisata pantai dan pariwisata bahari yang belum
dimanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan belum tersedianya
infrastruktur dasar yang memadai dan sarana prasarana pariwisata
lainnya. Selian itu juga belum dilakukan promosi terhadap potensi
pariwisata di Kepulauan Raja Ampat.
4. Belum

diprioritaskannya

pembangunan

di

wilayah

tertinggal

oleh

pemerintah daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli


46

daerah (PAD) secara langsung. Dengan demikian dukungan antar sektor


terkait untuk pengembangan Kepulauan Raja Ampat belum optimal.
5. Belum berkembangnya sistem informasi yang dapat memberikan akses
pada informasi produk unggulan, pasar, dan teknologi. Keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan dalam penggunaan teknologi ini menjadi
salah satu kendala dan pemicu adanya eksploitasi sumberdaya yang
merusak potensi lestari dan berdampak negatif bagi lingkungan.
6. Belum tertatanya sistem kelembagaan dan manajemen yang belum
terkelola baik untuk pengelolaan pengembangan kawasan yang terpadu,
dan berkelanjutan, dalam memberikan dukungan kepada peningkatan
daya saing produk dan kawasan yang dikembangkannya.
7. Kurangnya

informasi

keanekaragaman

mengenai

hayatinya,

potensi

menyebabkan

lingkungan

perlu

adanya

beserta
penelitian

karakteristi tipe ekosistem dan keanekaragaman jenis biotanya. Melalui


kajian lebih mendalam, baik tingkat ekosistem maupun jenis yang ada di
Kepulauan Raja Ampat. Data tersebut diharapkan dijadikan bahan
masukan

upaya

pengembangan

dan

pemanfaatannya

secara

berkelanjutan.

3.8 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN WISATA DI KEPULAUAN RAJA


AMPAT
Sebagai kabupaten yang baru, pemekaran kabupaten tersebut harus
ada prioritas karena 87% luas wilayahya merupaka lautan dan 13% daratan.
Selain itu Kepulauan Raja Ampat sudah sangat terkenal dengan kekayaan
47

alam dan biota lautnya sehingga pembangunan wilayah yang dilakukan


adalah berbasis bahari.
Kebijakan pengelolaan dan pembangunannya Kepulauan Raja Ampat
harus

dilakukan

dengan

Co-Management

melibatkan

unsur-unsur

pemerintah (goverment based management) baik Pemerintah Pusat maupun


Pemerintah Daerah yang bekerja sama dengan masyarakat lokal (community

based management) dan investor (private sector) yang berwawasan


lingkungan (Rudyanto, 2004). Pemanfaatan wilayah pesisir dan laut harus
dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan daya dukung lingkungan

(carrying capasity) wilayah tersebut.


Berdasarkan pembahasan di atas, maka beberapa kebijakan dan
strategi harus berdasarkan kepada : (1) pemahaman yang baik tentang
proses-proses alamiah (eko-hidrologis) yang berlangsung di kawasan pesisir
yang sedang dikelola, (2) kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik
masyarakat, dan (3) kebutuhan saat ini dan yang akan datang terhadap
barang dan (produk) dan jasa lingkungan pesisir (Rahmawaty, 2004).
Namun demikian, karena perkembangan yang luar biasa dalam
bidang pertambangan dan perubahan kebijakan usaha penangkapan ikan ke
arah Indonesia Timur oleh pemerintah Indonesia, maka kawasan Raja Ampat
juga dapat mengalami tekanan eksploitasi sumberdaya alam yang tinggi.
Berdasarkan survei saat ini, tekanan terhadap sumberdaya masih rendah,
mengingat jumlah penduduk yang relatif masih rendah dan pembangunan
yang masih belum terlalu berkembang. Kalau tidak dikelola dengan baik
maka kawasan Raja Ampat bisa menjadi sumber konflik dalam pemanfaatan
sumberdayanya. Untuk alasan tersebut, maka untuk membangun kawasan
48

Raja Ampat salah satu pendekatan yang dianggap tepat adalah pengelolaan
kawasan yang berbasiskan pada ekosistem (ecosystem based managementEBM). Berikut ini diuraikan upaya pengelolaan pesisir dan laut Kepulauan
Raja Ampat secara terpadu dan berkelanjutan.

3.7.1 Mengisi Pembangunan Berwawasan Lingkungan di Raja Ampat


Ekowisata atau ekotourisme merupakan

salah

kegiatan pariwisata yang

berwawasan lingkungan dengan

aspek konservasi

aspek

alam,

pemberdayaan

sosial

satu

mengutamakan
budaya

ekonomi

masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan.


Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada
kegiatan

pariwisata

konvensional.

Dampak

negatif

ini

bukan

hanya

dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tapi juga para
budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri.
Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara
tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan
bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat
setempat.
Begitu pula dengan Kabupaten Raja Ampat, dengan semakin
populernya wisata bahari yang dimilikinya, konsep ekowisata atau wisata
yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan pun telah diterapkan dan
diharapkan membawa dampak yang positif bagi sektor kepariwisataan di
Raja Ampat.
Ada banyak usaha atau lagkah-langkah yang dilakukan dalam
mewujudkan pariwisata yang berwawasan lingkungan di Raja Ampat ini.
49

Usaha ini tidak hanya dilakukan oleh pejabat pemerintah daerahnya namun
semua

lapisan

masyarakat

pun

turut

membantu

demi

mweujudkan

lingkungan wisata mereka yang tetap lestari hingga masa mendatang. Usaha
dan langkah-langkah yang mereka lakukan antara lain sebagai berikut :

1. Di Pulau Misool Ada Eco Resort.


Eco

Resort

yang

dibangun

dengan

menerapkan

prinsip-prinsip

konservasi alam yang ketat. Ada kesepakatan dengan penduduk adat di


sekitar wilayah tersebut untuk menjaga ekosistem terpadu yang disebut No
Take Zone yakni melarang eksploitasi pengambilan apapun dari laut, mulai
dari berburu kerang, telur penyu, sirip ikan hiu sampai hanya sekedar
mencari ikan. Secara ekstrim, malah di eco resort ini mengharamkan
penggunaan antiseptik karena limbah buangannya dikhawatirkan akan
membunuh ekosistem terumbu karang di sekitarnya. Dengan adanya prinsip
ini, maka upaya konservasi maupun penerapan ekowisata di Raja Ampat
dapat terlaksana dengan baik.

2. Pengembangan Dan Pemanfaatan Hasil-Hasil Kelautan Dan Perikanan


Serta Ekowisata.
Karena kaya akan sumberdaya bawah laut di Raja Ampat, maka Bank
Dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global menetapkan Raja
Ampat sebagai salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mendapat
bantuan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II,
sejak 2005. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan

50

melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan


kerapu dan rumput laut.
Keberadaan CI di Raja Ampat bertujuan membantu masyarakat dan
Pemerintah, untuk mengelola Sumber Daya Alam secara berkelanjutan serta
menjaga integritas jangka panjang keanekaragaman hayati kelautan di
wilayah tersebut. CI membantu memperkuat ketahanan pangan masyarakat
setempat serta menjadikan wilayah ini sebagai tujuan wisata kelas dunia dan
sebagai pilar pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia.
Menurut Irdez Azhar, Program Manager CI Indonesia di Raja Ampat, ada
empat strategi yang di jalankan yaitu, sains, pengembangan masyarakat,
kebijakan

dan

pengelolaan

kolaboratif

serta

penyadaran

public.

Pengembangan sains, menurutnya berawal dari tahun 2001, dimana CI


Indonesia telah melakukan survey awal melalui Rapid Assessment Program
(RAP). Lalu tahun 2003, CI melanjutkan mempelajari kawasan ini dengan
survei sosial ekonomi. Walau sudah berada di Raja Ampat selama empat
tahun, namun pekerjaan konservasi dan pembangunan raja Ampat, diakui
oleh Irdez barulah pada tahap awal dan perencanaan. Walau sudah berada di
Raja Ampat selama empat tahun, namun pekerjaan konservasi dan
pembangunan raja Ampat, diakui oleh Irdez barulah pada tahap awal dan
perencanaan. Oleh karena itu, guna mewujudkan langkah yang baik baik
pembangunan Raja Ampat yang berwawasan lingkungan, CI Indonesia
menjembatani kebijakan semua pihak dengan memfasilitasi terbentuknya
Forum Bersama Membangun Raja Ampat. Sarana itu, ditambah lagi dengan
mendirikan sebuah radio komunitas sebagai wahana komunikasi para
pemangku kepentingan.
51

Irdez menuturkan, ada berapa prospek yang bisa dikembangkan di Raja


Ampat, pertama potensi wisata alamnya, kedua peningkatan kapasitas
masyarakat. Program pemanfaatan berpijak pada pengembangan budidaya
perikanan, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan perlindungan
terhadap potensi sumber daya kelautan. Pembudidayaan akan difokuskan
pada pelatihan masyarakat serta membuat percontohan untuk budidaya
rumput laut. Seperti yang kita ketahui bahwa industry juga membutuhkan
bahan mentah untuk kosmetika, obat-obatan dan agar-agar tentunya
meruakan potensi yang menjanjikan.

3. Adanya

Sinergi

Dan

Monitoring

Bersama

Antara

UP4B

Dengan

Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP).


Adanya hal tersebut dilakukan untuk membantu dan memberikan
konsultasi bagi pengembangan potensi kelautan dalam kegiatan perikanan
dan parawisata. Selain itu, mengingat akan dilaksanakannya event besar di
Raja Ampat, yaitu Raja Ampat Sail 2014. Persiapan menghadapi even Sail

Indonesia Raja Ampat 2014 perlu ditata sejak dini, karena akan banyak
datang wisatawan mancanegara. Perencanaan meliputi penataan daerah
konservasi, daerah budi daya dan kawasan untuk wisata. Infrastruktur
dipersiapkan termasuk akomodasi, fasilitas umum, serta faktor keamanan
bagi wisatawan. Investasi pembangunan dapat melibatkan sektor swasta,
asalkan ada jaminan kepastian berinvestasi dan jaminan keuntungan.

4. Pembangunan Desa Wisata

52

Salah satu strategi pengembangan pariwisata yang ditempuh oleh


Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat untuk menunjang kemajuan
sektor Pariwisata dan meningkatkan sumber pendapatan penduduk lokal
yang

hidup

desa-desa

di

kepulauan

Raja

Ampat

adalah

dengan

memberdayakan beberapa lokasi tempat tinggal (desa) penduduk asli


kepulauan Raja Ampat menjadi sebuah desa wisata. Dalam pelaksanaanya
pengembangan

desa

wisata

ini

adalah

dengan

menitik

beratkan

pengembangan potensi budaya lokal yang dan potensi wisata alam yang ada
di sekitar lokasi desa tersebut. Selain berusaha mengangkat potensi wisata
di setiap desa, pemerintah daerah juga bekerja sama dengan desa-desa
setempatt dalam menyediakan rumah-rumah penginapan yang disewakan
(homestay) bagi para wisatawan yang berkunjung.

5. Pembangunan Berwawasan Lingkungan Yang Melibatkan Masyarakat


Potensi yang ada di wilayah tersebut harus dikelola secara professional,
dan secara terpadu agar terangkat ekonomi daerah dan juga membantu
ekonomi negara yang semuanya bermuara pada pemberdayaan masyarakat
atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Setelah ditetapkan sebagai
kawasan wisata, maka lokasi ini mengundang perhatian masyarakat
sehingga masyarakt tersebut berperan dalam pembangunan dan pendapatan
daerah serta peningkatan ekonomi masyarakat itu sendiri. Potensi yang
sangat besar di

darat maupun di

laut diupayakan

pemanfaatannya

sedemikian rupa dan diarahkan pada pembangunan yang berwawasan


lingkungan, artinya sumber daya alam itu dapat dieksploitasi, tetapi
memperhatikan lingkungan hidup dan pelestarian alamnya. Eksploitasi
53

mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya, tetapi tidak lupa bahwa tetap


mendukung keseimbangannya dan pelestarian lingkungan.

6. Peran Serta Aktif Pemerintah, Stake Holder Dan Masyarakat


Dalam pembangunan Kepulauan Raja Ampat ini harus adanya keterkaitan
dan kerja sama antar stake holder agar tidak adanya kepentingan yang
tumpang tindih dan yang paling penting setiap stake holder maupun
organisasi mempunyai ketertarikan terhadap lingkungan. Adapun strategi
yang dipakai dalam proses pembangunan Raja Ampat ini, yaitu sains,
pengembangan masyarakat, kebijakan dan pengelolaan kolaboratif serta
penyadaran publik. Diharapkan dengan sains masyarakat akan lebih
memahami betapa pentingnya membangun wilayahnya dengan potensi yang
ada, di lain pihak masyarakat juga berkembang tingkat ekonominya karena
pemanfaatan potensi tadi. Namun demikian pemerintah daerah harus tetap
mempunyai kebijakan untuk pembatasan manfaat dan pengelolaan sumber
daya alam yang merupakan potensi wilayah tersebut, yang harus dilakukan
dengan cara kerjasama dengan pihak luar yang mempunyai minat membantu
pembangunan Kepulauan Raja Ampat.

7. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat


Di Kepulauan Raja Ampat ini terdapat pengelolaan sumber daya alam
berkelanjutan secara tradisional oleh masyarakat seperti penentuan batas
wilayah Ulayat, pengakuan hak-hak (misalnya pembatasan nelayan dari luar
untuk desa-desa tertentu seperti di Desa Arborek dan Fam), pengontrolan
ukuran komoditas laut yang bisa ditangkap (pembatasa ukuran bagi Lobster

54

di Desa Sawinggrai dan lola di Desa Arborek) system momatorium atau


musim buka tutup (sasi gereja) untuk teripang, lobster dan lola adanya
jenis-jenis tabu yang tidak boleh ditangkap di daerah tertentu dan lain-lain.
Sistem pengelolaan tradisional ini dijadikan peluang dalam membangun
strategi konservasi berbasis masyarakat.

8. Sistem Informasi Dan Komunikasi Yang Memadai


Kepulauan Raja Ampat ini memiliki keindahan bawah laut yang sangat
menakjubkan dan panorama yang indah tetapi sayangnya masih banyak
wisatawan domestic dan mancanegara yang belum kenal dengan lokasi ini.
Oleh sebab itu pembangunan bahari juga harus didukung dengan system
informasi dan komunikasi yang memadai.

BAB IV
55

PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa bidang
pariwisata mempunyai peranan yang cukup penting dalam perekonomian
nasional kita baik sebagai sumber penghasil devisa maupun sebagai sumber
kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Terpilihnya sektor pariwisata
sebagai salah satu alternatif sumber devisa negara, menuntut konsekuensi
adanya perencanaan yang lebih matang.
Perencanaan pariwisata tidak dimaksudkan untuk merusak lingkungan
hidup tetapi justru harus direncanakan dan dilaksanakan ke arah tata
lingkungan yang mendukung kepada pembangunan berlanjut, adalah
pembangunan obyek-obyek wisata dan daya tarik wisata yang hidup dalam
masyarakat tetapi selalu berorientasi kepada kelestarian nilai dan kualitas
lingkungan hidup yang ada di masyarakat.

4.2

SARAN
Pengelolaan wisata laut di Kepulauan Raja Ampat harus dilakukan

secara sistematis, karena masih perlu adanya kajian-kajian yang dilakukan


dalam mendalami potensi-potensi yang ada. Kepulauan Raja Ampat ini
sangat berpotensi untuk pembangunan objek wisata, terutama wisata bahari.
Dalam pembangunannya pun harus lebih ke arah pembangunan berbasis
lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan
tidak melupakan serta merusak sumber dayanya tersebut. Selain itu yang
paling penting adalah keterpaduan

dari setiap sektor serta adanya

koordinasi antara pemerintah, stake holder dan masyarakat agar terciptanya


56

pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan dan meningkatkan kualitas


hidup masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Unit Pelaksanan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II


(COREMAP II). 2007. Penyusunan Penyusunan Rencana Strategi

Pengelolaan Terumbu Karang. Dinas Perikanan Dan Kelautan


Kabupaten Raja Ampat.

Rahmawaty. 2004. Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Kelautan secara

Terpadu dan Berkelanjutan. e-USU Repisotory Universitas Sumatera


Utara.

Setiawan, Firman. 2010. Kepulauan Raja Ampat. e-UNPAD Repisotory


Universitas Padjadjaran.

57

Wikipedia. (2013). Ekowisata. From :


http://id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata. (Diakses pada tanggal 06
September 2013).

Coremap. (2013). Sosial Ekonomi. From


http://regional.coremap.or.id/raja_ampat/sosek/. (Diakses pada
tanggal 08 September 2013).

Fachruddin, Mangunjaya (2011). Mengisi Pembangunan Berwawasan

Lingkungan di Raja Ampat.From :


http://www.conservation.org/global/indonesia/fmg/articles/Pages/Li
ngkungan_Raja_Ampat.aspx. (diakses pada tanggal 07 September
2013).

Wahwed. (2012). Wisata Bahari Raja Ampat, Pulau Papua yang Eksotis.
From : http://wahw33d.blogspot.com/2012/09/wisata-bahari-rajaampat-pulau-papua.html#ixzz2eUgVrm7L. (Diakses pada tanggal 07
September 2013).

Suara Pembaruan. (2012). Menopang Wisata Bahari Raja Ampat. From


http://www.suarapembaruan.com/home/menopang-wisata-bahariraja-ampat/22305. (Diakses pada tanggal 07 september 2013).

http://inforajaampat.com/peta-16-7-profile-peta-kondisi-geo.html.
(Diakses pada tanggal 07September 2013).

http://inforajaampat.com/berita-38-1PROYEK%20CONSERVASI%20INTRNATIONAL%20DI%20RAJA%20AMPAT%
20BERKELANJUTAN.html. (Diakses pada tanggal 09 September 2013).

58

59