Anda di halaman 1dari 12

PERAN KEPALA RUANGAN MELAKUKAN SUPERVISI PERAWAT DENGAN PENERAPAN PATIENT SAFETY DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT

THE ROLE

OF THE HEAD OF WARD IN SUPERVISING

NURSES WITH THE IMPLEMENTATION OF PATIENT SAFETY

IN WARDS OF HOSPITAL

Maria Vonny H. Rumampuk¹, Budu², Werna Nontji³

¹Fakultas Keperawatan Universitas De La Salle Manado, ²Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ³Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin

Alamat Korespondensi:

Maria Vonny H. Rumampuk Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar P4200210037 HP: 0811430853 Email: mariarumampuk@yahoo.com

Abstrak

Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit, dengan maksud mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat pelaksana dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap RSU Gunung Maria Tomohon. Jenis penelitian yang digunakan adalah observational dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah perawat pelaksana diruang rawat inap sebanyak 42 orang, pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan tingkat pendidikan perawat DIII Keperawatan dan SPK yang berpengalaman dalam pemberian injeksi intra vena dan pada saat penelitian melakukan pemberian injeksi intra vena sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data melalui kuesioner dan observasi. Kuesioner untuk menilai peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat pelaksana dan penerapan patient safety. Observasi untuk mengobservasi perawat pelaksana menerapkan patient safety pemberian injeksi 6 Benar, identifikasi pasien dengan benar dan mencuci tangan yang dilakukan dua kali kegiatan untuk masing-masing perawat pelaksana, observasi dilakukan oleh Kepala ruangan. Uji statistik menggunakan korelasi Pearson. Hasil penelitian observasi penerapan patient safety menunjukkan semua responden melakukan sesuai prosedur, yaitu prosedur pemberian injeksi intra vena, identifikasi pasien dan mencuci tangan. Waktu cuci tangan sebelum pemberian injeksi pertama yang tidak sesuai sebanyak 21 orang (50%), sesudah pemberian injeksi pertama yang tidak sesuai 7 orang (16,7%). Identifikasi pasien pertama tidak sesuai 4 orang (9,5%), identifikasi pasien kedua tidak sesuai 1 orang (2,4%). Penelitian hubungan supervisi dengan penerapan patient safety di RSU Gunung Maria Tomohon menunjukkan bahwa responden yang menyatakan penerapan patient safety baik, supervisi kepala ruangan baik (95,2%) dan kurang (4,8%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan korelasi Pearson diperoleh nilai p=0,04 (p<0,05), r = 0,43 berarti ada hubungan supervisi dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap. Disimpulkan ada hubungan peran kepala ruangan melakukan supervisi dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap RSU Gunung Maria Tomohon.

Kata kunci: Kepala ruangan, Supervisi, patient safety

ABSTRACT

Target safety patient represent condition to be applied by in all hospital, for the purpose of pushing specific repair in safety of patient.The aim of the research is to find out the role of ward head to supervise practitioner nurses with the aplication of patient safety in inpatient room of Gunung Maria Public Hospital, Tomohon. The research was an observational study with cross sectional study approach. The Samples were practitioner nurses in inpatient room consisting of 42 people. They graduated from Nursing Diploma (DIII) and SPK having experience in giving intra vena injection and they were giving intra vena injection in accordance eith inclusion criteria when the research was being done. The samples were selected using purposive sampling method. The method of obtaining the data were questionnaire and observation. Questionnaire was intended to assess the role of ward head to supervise practitioner nurses and the aplplication of patient safety. Observation was used to observe the practitioner nurses to implement patient safety in giving injection of 6 True, to identify patients correctly, and to wash their hands twice for each activity. The observation was done by the ward head. Statistic test used Pearson correlation. The result of the research indicate that all respondents apply patient safety in accordance with the procedure, i.e. the procedure of giving intra vena injection, patient identification, and washing hands. Washing hands before giving first injection which is not in accordance with the standard is 21 nurses (50%), and washing hands after giving first injection which is not in accordance with the standard is 7 nurses (16,7%). The first identification of patients which is not in accordance with the standard is 4 nurses (9,5%), and the second identification of patients which is not in accordance with the standard is 1 nurse (2,4%). The relationship between supervision and the application of patient safety in Gunung Maria Hospital of Tomohon is good. The supervision of ward head which is good is 95% and the one which is not good is 4,8%. The result of statistic test with Pearson correlation is p=0,004 (p<0,05) meaning that there is a relationship between supervision and the aplication of patient safety in inpatient room. Thus, it is concluded that there is a relationship between the role of ward head in doing supervision and the aplication of patient safety in inpatient room of Gunung Maria, Tomohon.

Keyword: Head Room, Supervision, patient safety

PENDAHULUAN

Pada tahun 2000 Institute of Medicine (IOM) di Amerika Serikat menerbitkan laporan yang menggagetkan banyak pihak: “To err is human, building a safer health system. Laporan itu mengemukakan penelitian di rumah sakit di Utah dan Colorado serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) (Adverse Event) sebesar 2,9%, dimana 6,6% diantaranya meninggal. Sedangkan di New York KTD adalah sebesar 3,7% dengan angka kematian 13,6%. Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang berjumlah 33,6% juta per tahun berkisar 44.000-98.000 per tahun. Publikasi WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka-angka penelitian rumah sakit di berbagai Negara Amerika, Inggris, Denmark dan Australia, ditemukan KTD dengan rentang 3,2 – 16,6%. Laporan IOM menyimpulkan 4 hal pokok: a) Masalah accidental injury adalah serius, b). Penyebabnya bukan kecerobohan individu, tetapi kesalahan sistem, c) Perlu redesign sistem pelayanan, d) Patient Safety harus menjadi prioritas nasional (Depkes, 2008; Kohn, C dkk, 2000). Di rumah sakit terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat dengan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24 jam terus menerus. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan kejadian tidak diharapkan (KTD) (Depkes, 2008). Pelayanan keperawatan, merupakan pelayanan 24 jam dan terus menerus, dengan jumlah tenaga keperawatan yang begitu banyak, berada di berbagai unit kerja rumah sakit. Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien, perawat melakukan prosedur/tindakan keperawatan yang banyak dan dapat menimbulkan risiko salah begitu besar. Saat ini sudah ada pelaporan kejadian di rumah sakit, tetapi tidak dianalisis. Perawat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya berkolaborasi dengan dokter memberikan terapi kepada pasien yang berpotensi besar melakukan suatu kesalahan jika tidak mempunyai tingkat pengetahuan dan kesadaran yang tinggi bahwa tindakan yang dilakukan akan memberikan efek negatif pada pasien. Salah satu diantaranya adalah dalam pemberian obat. Data tentang kesalahan pemberian obat (medication error) yang dilakukan terutama oleh perawat di Indonesia belum dapat ditemukan. Darmansjah, ahli farmakologi FKUI menyatakan bahwa kasus pemberian obat yang tidak benar

maupun tindakan medis yang berlebihan (tidak perlu dilakukan tetapi dilakukan) sering terjadi di Indonesia, hanya saja tidak terekspos media masa (Rusdiana, 2009). Perawat dalam memberikan obat kepada pasien mempunyai prinsip yang sering disebut dengan Prinsip 6 Benar yaitu benar pasien, benar obat, benar dosis, benar rute, benar waktu dan benar pendokumentasian. Jika seorang perawat kurang mempunyai pengetahuan tentang respon obat tersebut pada pasien dan cara pemberiannya serta aspek hukum atas tindakannya, maka tidak menutup kemungkinan kesalahan dalam pemberian obat dapat terjadi. Karena itu pengetahuan perawat sangatlah dibutuhkan (Potter dkk, 2005). Supervisi merupakan bagian dari fungsi directing (penggerakkan/ pengarahan) dalam fungsi manajemen yang berperan untuk mempertahankan agar segala kegiatan yang telah diprogramkan dapat dilaksanakan dengan benar dan lancar. Supervisi secara langsung memungkinkan manajer keperawatan menemukan berbagai hambatan/ permasalahan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan dengan mengkaji secara menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bersama dengan staf keperawatan untuk mencari jalan pemecahannya (Suarli dkk, 2010). Sukar seorang kepala ruangan untuk mempertahankan mutu asuhan keperawatan tanpa melakukan kegiatan supervisi, karena masalah-masalah yang terjadi di unit keperawatan tidak seluruhnya dapat diketahui oleh kepala ruangan melalui informasi yang diberikan oleh staf keperawatan yang mungkin sangat terbatas tanpa melakukan supervisi keperawatan. Di setiap rumah sakit kemungkinan ada perawat yang melalaikan prosedur 6 Benar dalam pemberian obat injeksi, prosedur cuci tangan, dan prosedur mengidentifikasi pasien, begitu pula dengan perawat di RSU Gunung Maria Tomohon. Data yang bisa diungkapkan di RSU Gunung Maria Tomohon belum ada, apakah karena perawat belum sadar bahwa laporannya akan menyelamatkan pasien, petugas dan rumah sakit dari suatu kejadian yang tidak seharusnya terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat pelaksana dengan penerapan patient safety di ruang rawat inap RSU Gunung Maria Tomohon.

BAHAN DAN METODE Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah observational dengan desain cross sectional study, bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara variabel

independen dan variabel dependen secara bersama-sama dalam periode tertentu.

Lokasi dan waktu penelitian.

Penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap (7 ruangan) RSU Gunung Maria

Tomohon. Pengambilan data dilakukan selama 4 minggu sejak tanggal 1April sampai

dengan 30 April 2013.

Populasi, sampel dan sampling

Populasi adalah seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap RSU

Gunung Maria Tomohon yang berjumlah 112 orang. Sampel sebanyak 68 orang yang

dipilih secara Purposive Sampling dan telah memenuhi kriteria inklusi yaitu perawat

pelaksana DIII Keperawatan dan SPK yang bekerja di ruang rawat inap dengan

pengalaman pemberian injeksi intra vena dan pada saat penelitian melakukan

pemberian injeksi intra vena.

Instrumen Pengumpul Data

Sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan tiga jenis

kuesioner, Kuesioner A dipakai untuk mendapatkan data karakteritik perawat

pelaksana, kuesioner B dipakai untuk mengukur peran kepala ruangan melakukan

supervisi perawat pelaksana dalam penerapan patient safety, kuesioner C dipakai

mengumpulkan data untuk mengukur perawat pelaksana dalam penerapan patient

safety. Kuesioner B dan C dibuat sendiri oleh peneliti yang terkait dengan literatur

dan telah dilakukan uji validitas dan reabilitas sebelum penelitian ini dilakukan.

Instrumen observasi prosedur pemberian injeksi digunakan instrumen evaluasi

penerapan standar asuhan keperawatan di rumah sakit. Instrumen observasi prosedur

cuci tangan (WHO, 2009). Instrumen observasi identifikasi pasien dengan benar yang

dibuat sendiri oleh peneliti.

Analisis data

Analisis data yang digunakan yakni analisa univariat yang ditampilkan dalam

bentuk distribusi frekuensi dan analisa bivariat untuk melihat hubungan dari tiap-tiap

variabel independen dan dependen dengan menggunakan uji statistik korelasi Pearson

dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0,05, Data dianalisis menggunakan jasa komputer.

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Responden Sebagian besar responden mempunyai kelompok umur

22 - 30 tahun yaitu

18 orang (42,9%) dan paling sedikit yang beurmur 51 – 53 tahun sebanyak 2 orang

(4,8). Sebagian besar responden adalah perempuan yaitu 35 orang (83,3%) sedangkan laki-laki sebanyak 7 orang (16,7%). Sebagian besar responden mempunyai pendidikan DIII Keperawatan yaitu 23 orang (54,8%) sedangkan pendidikan SPK sebanyak 19 orang (45,%). Sebagian besar responden baru bekerja 1-4 tahun yaitu 13 orang (31,0%) sedangkan paling sedikit bekerja selama 5-8 tahun yaitu 6 orang

(14,3%).

Sebagian besar responden telah menikah yaitu 29 orang (69,0%) sedangkan yang belum menikah sebanyak 3 orang (31,0%). Sebagian besar responden pernah mengikuti pelatihan yaitu 28 orang (57,1%) sedangkan yang belum pernah mengikuti pelatihan sebanyak 18 orang (42,9%). Jenis pelatihan yang paling banyak diikuti adalah pelatihan proses keperawatan dan dokumentasi keperawatan (66,7%), kemudian SAK, SPO, patient safety, pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial, BCLS (54,2%). Sosialisasi patient safety adalah termasuk kebijakan strategi program patient safety RSU Gunung Maria Tomohon. Deskripsi Variabel Penelitian Deskripsi variabel penelitian meliputi peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat pelaksana, dan penerapan patient safety (identifikasi pasien dengan benar, mencegah kesalahan obat, mencuci tangan). Supervisi kepala ruangan baik yaitu 40 orang (95,2%) dan dua orang (4,8%) menyatakan supervisi kepala ruangan kurang baik. Penerapan patient safety, responden umumnya menyatakan bahwa identifikasi pasien telah dilakukan dengan baik yaitu 40 orang (95,2%) dan kurang baik sebanyak dua orang (4,8%). Semua responden telah melakukan penerapan patient safety dengan baik (100%) yaitu mencegah kesalahan obat, mencuci tangan. Jadi secara umum perawat telah melakukan penerapan pasien safety dalam tindakan keperawatan (100%). Observasi pemberian injeksi intra vena, mencuci tangan, identifikasi pasien Kepala ruangan melakukan pengamatan langsung terhadap perawat pelaksana dengan menggunakan instrumen observasi sebanyak dua kali observasi untuk pemberian injeksi intra vena, mencuci tangan dengan waktu 40 – 60 detik dan identifikasi pasien dengan benar. Hasil observasi pada tujuh ruangan oleh masing- masing kepala ruangan dengan hasil semua perawat pelaksana sebagai responden telah melakukan sesuai dengan prosedur (100%) yaitu pada prosedur pemberian injeksi intra vena pertama dan kedua, cuci tangan sebelum pemberian injeksi pertama dan kedua, cuci tangan sesudah pemberian injeksi pertama dan kedua serta waktu cuci

tangan sesudah pemberian injeksi kedua. Sedangkan yang masih banyak kurang adalah waktu cuci tangan sebelum pemberian injeksi pertama sebanyak 21 orang (50%), waktu cuci tangan sesudah pemberian injeksi pertama sebanyak 7 orang (16,7%) dan identifikasi pasien pertama yang tidak sesuai sebanyak 4 orang (9,5%) serta identifikasi pasien kedua sebanyak 1 orang (2,4%). Hubungan peran kepala ruangan melakukan supervisi dengan penerapan patient safety

Responden yang menyatakan penerapan patient safety baik lebih banyak menyatakan supervisi kepala ruangan efektif sebanyak 40 orang (95,2%) dan yang tidak efektif sebanyak 2 orang (4,8%). Hasil uji statistik dengan korelasi pearson diperoleh nilai p = 0,04 (p<0,05), berarti ada hubungan supervisi dengan penerapan patient safety. Nilai ґ = 0,43 kekuatan hubungan sedang.

PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 40 orang (95,2%) mempunyai persepsi baik terhadap supervisi yang dilakukan kepala ruangan. Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan bahwa kepala ruangan telah mempunyai jadwal supervisi perawat pelaksana meliputi prosedur pemberian injeksi intra vena, mencuci tangan, identifikasi pasien dengan benar dan jadwal tersebut diketahui oleh perawat pelaksana. Kepala ruangan membantu perawat pelaksana saat melakukan tindakan pemberian injeksi intra vena, mencuci tangan, identifikasi pasien dengan benar. Perawat pelaksana yang melakukan tindakan identifikasi pasien dan cuci tangan yang kurang sesuai, kepala ruangan langsung membimbing, membantu dan memberi petunjuk cara yang benar serta memperagakan prosedur cuci tangan yang sesuai menurut WHO. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Yani (2013), penerapan prinsip sepuluh benar pemberian obat di Instalasi rawat inap RS. PKU Muhammadiyah Bantul secara keseluruhan bisa dikatakan sudah baik, benar pasien sudah baik, benar obat sudah baik, benar dosis sudah baik, benar rute/cara sudah baik, benar waktu sudah baik, benar dokumentasi kurang baik, benar pendidikan kesehatan kurang baik, hak untuk menolak kurang baik, benar pengkajian/assement sudah baik, dan benar evaluasi kurang baik. Kepala ruangan mendidik perawat pelaksana tentang keselamatan pasien meliputi identifikasi pasien dengan tepat, pemberian injeksi 6 Benar dan mencuci tangan. Kepala ruangan membimbing, memberi contoh, mengarahkan dan membantu

pada saat perawat pelaksana membutuhkan bantuan dari kepala ruangan. Kepala ruangan melakukan supervisi di setiap ruangan dalam satu ruangan terdiri dari 5 – 14 perawat pelaksana. Kepala ruangan melakukan evaluasi perawat pelaksana dengan memberikan umpan balik baik formal maupun informal untuk meningkatkan kinerja perawat pelaksana, dengan adanya supervisi yang maksimal perawat pelaksana melakukan penerapan patient safety dengan baik. Sejalan dengan hasil penelitian Mulyaningsih (2013) bahwa supervisi mempunyai hubungan dengan kinerja perawat dalam penerapan MPKP. Supervisi merupakan pemberian bantuan, bimbingan/ pengajaran, dukungan pada seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya sesuai kebijakan dan prosedur, mengembangkan keterampilan baru, pemahaman yang lebih luas tentang pekerjaannya sehingga dapat melakukannya dengan lebih baik. Supervisi kepala ruangan yang dilakukan perawat di RS Gunung Maria Tomohon sudah dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh kepala ruang di ruangan sehingga kepatuhan terhadap SPO pelaksanaan pemberian injeksi intra vena 6 Benar, identifikasi dengan benar, dan mencuci tangan bisa mencapai 100%. Supervisi perlu dilakukan secara berkesinambungan yang pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan. Sejalan dengan hasil penelitian Ratnawati (2010) ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang patient safety dengan tindakan pemasangan infus sesuai dengan SOP Pada penelitian ini terdapat dua orang responden (4,8%) yang mempunyai supervisi kepala ruangan kurang namun memiliki kinerja baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden ditemukan bahwa masih ada kepala ruangan yang belum memberikan perhatian dan peduli terhadap tindakan yang dilakukan di ruangan dalam menerapkan prosedur untuk penerapan patient safety, selain itu penilaian yang diberikan belum objektif. Perhatian, rasa peduli dan tanggung jawab untuk memberi umpan balik bagi perawat pelaksana sudah dilakukan kepala ruangan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan program patient safety. Hal ini termasuk dengan fasilitas cuci tangan yang harus selalu tersedia. Terkait dengan hasil penelitian ini, bahwa perhatian, rasa peduli dan tanggung jawab untuk memberikan umpan balik bagi perawat pelaksana sangat perlu dilakukan kepala ruangan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan program patient safety.

Supervisi yang dilakukan oleh kepala ruangan harus dilakukan secara objektif yang bertujuan untuk pembinaan perawat. Pelaksanaan supervisi bukan hanya untuk mengawasi apakah seluruh staf keperawatan menjalankan tugasnya dengan sebaik- baiknya, sesuai dengan instruksi atau ketentuan yang berlaku tetapi supervisi juga melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilakukan “bawahan” untuk kemudian bila ditemukan masalah segera diberikan bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Suarli dkk., 2009). Pendapat ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Zakiyah (2012) bahwa supervisi berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam melakukan tindakan pemberian cairan intra vena. Patient safety melibatkan sistem operasional dan proses pelayanan yang meminimalkan kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan (adverse event) atau error dan memaksimalkan langkah langkah penanganan bila error telah terjadi. Penggunaan indikator untuk pemantauan patient safety merupakan hal penting. Kultur organisasi dan kepemimpinan yang menempatkan patient safety sebagai prioritas akan mendukung upaya pelayanan kesehatan yang baik (Pinzon, 2006). Berdasarkan pendapat tersebut maka kepala ruangan hendaknya selalu memberikan informasi secara terus menerus tentang patient safety kepada bawahan sehingga penerapan patient safety dapat terlaksana dengan baik. Penerapan patient safety baik disebabkan adanya komitmen Direktur rumah sakit dan seluruh karyawan untuk melaksanakan program patient safety. Pelatihan patient safety bagi pimpinan dan staf telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2011, tetapi belum dilaksanakan penerapannya. Sejak bulan Februari 2013, mulai disosialisasikan patient safety dan diterapkan oleh kepala ruangan dan perawat pelaksana. Setiap pagi setelah overan dinas antara perawat dinas malam dengan perawat dinas pagi, kepala ruangan memberikan briefing selama lima menit tentang patient safety. Secara bersama- sama memperagakan prosedur cuci tangan dan prosedur identifikasi pasien. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Syifa Zero Accident RS Haji Jakarta (2007) penerapan metode briefing 5 menit membawa perbaikan yang signifikan pada keselamatan pasien. Kepala ruangan melakukan observasi perawat pelaksana melakukan identifikasi pasien dengan menggunakan instrumen observasi sebanyak dua kali observasi untuk identifikasi pasien dengan benar. Pada penelitian ini kepala ruangan melakukan observasi langsung, Identifikasi pasien pertama yang tidak sesuai

sebanyak 4 orang (9,5%) serta identifikasi pasien kedua sebanyak 1 orang (2,4%).

Perawat pelaksana tidak melakukan secara visual dengan melihat gelang identitas

pasien yang berisikan nama pasien dan nomor medical record. Secara verbal perawat

menyebut nama pasien tidak menanyakan nama pasien dan tanggal lahir, hal ini

disebabkan pasien telah beberapa hari dirawat. Kepala ruangan telah mengingatkan

pada perawat pelaksana untuk selanjutnya identifikasi pasien dengan meminta pasien

menyebutkan nama dan umur serta perawat melihat gelang identitas pasien yang

berisikan nama dan umur pasien. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan Maryam, dkk. (2000), ada hubungan antara pengidentifikasian pasien

dengan kepuasan pasien. Pengidentifikasian pasien yang benar adalah salah satu kunci

keberhasilan program keselamatan pasien di rumah sakit, sehingga kejadian

cedera/tidak diharapkan dapat dihindari. Dengan identifikasi pasien secara benar dan

tepat, perawat akan dapat memahami kebutuhan dan keinginan pasien.

Sejalan dengan penelitian Ariyani (2008) ada hubungan yang signifikan antara

pengetahuan dan motivasi terhadap sikap mendukung program patient safety.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peran kepala ruangan baik

(95,2%) melakukan supervisi perawat pelaksana menerapkan patient safety. Perawat

pelaksana menerapkan patient safety prosedur identifikasi pasien baik (95,2%),

prosedur pemberian injeksi baik (100%), dan prosedur mencuci tangan baik (100%).

Ada hubungan peran kepala ruangan melakukan supervisi perawat pelaksana dengan

penerapan patient safety. Disarankan bagi kepala ruangan sebagai masukan dalam

pembuatan kebijakan yang terkait dalam mengembangkan pencegahan, pengendalian

dan penanggulangan kesalahan prosedur. Bagi rumah sakit sebagai masukan untuk

mengevaluasi kinerja perawat dalam menerapkan patient safety.

DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, 2008. Analisis pengetahuan dan motivasi perawat yang mempengaruhi sikap mendukung penerapan program patient safety di instalasi perawatan intensif RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Tesis tidak diterbitkan. Semarang. Program Pascasarjana UNDIP.

Departemen

Kesehatan

R.I. (2008).

Panduan

Nasional

Keselamatan

Pasien

Rumah Sakit (Patient Safety). Edisi 2. KKP-RS.

Kohn, L.T., Corrigan, J. M., and Donaldson, M.S. (2000). To err is human building a safer health system. The National academies press. Washington, http://www.nap.edu/openbook.php?isbn=0309068371, (online) diakses tanggal 12 Desember 2012.

Maryam, D, Nurrachmah dan Hastono, S. P. (2009). Hubungan penerapan tindakan keselamatan pasien oleh perawat pelaksana dengan kepuasan pasien di RSU Dr Soetomo Surabaya. Buletin penelitian RSUD Dr. Soetomo. Vol. 11 No. 4 Desember 2009, Diakses 26-06- 2012.

Mulyaningsih. 2013. Peningkatan kinerja perawat dalam penerapan MPKP dengan

supervisi oleh kepala ruang di RSJD Surakarta. Gaster Vol. 10 No. 1 Februari

2013.

Pinzon, R. 2006. Konsep Dasar Patient Safety dalam pelayanan kesehatan. Berkala ilmiah Kesehatan Fatmawati. vol. 7 No.18

Potter & Perry. (2008). Buku ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4. EGC. Jakarta.

Ratnawati, D. 2010. Hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang patient safety dengan tindakan pemasangan infus sesuai dengan SOP. Universitas Diponegoro.Tesis2010 (tidak dipublikasikan). http://eprints.undip.ac.id/ 10490, diakses tanggal 23 Juni 2012.

Rusdiana. (2009). Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Keselamatan Pasien Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Prinsip Pemberian Obat Injeksi.

Suarli, S dan Bahtiar, Y. (2010). Manajemen Keperawatan dengan pendekatan praktis. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Tim Syifa Zero Accident RS Haji Jakarta. 2007. Five minute briefing for patient safety in Syifa ward Jakarta Haji Hospital.

http://www.pdpersi.co.id/anggota/jurnal.jurnal_persi2012

WHO, (2009). Hand Hygiene: Why, How & When . Patient Safety A world Alliance for Safer Health Care. Save lives clean your hands. (online).

Yani, S. (2013). Evaluasi penerapan pemberian obat secara parenteral dalam penyelenggaraan patient safety di Instalasi Rawat Inap RS PKU Muhammadiyah. Bantul. Tesis tidak diterbitkan. Bantul Program Pascasarjana.

Zakiyah T.

(2012).

Pengaruh

supervisi pimpinan

ruang

terhadap

pelaksanaan

pemberian cairan intra vena di RSU Daerah Sidoarjo

LAMPIRAN

Tabel 1. Hubungan Peran Kepala Ruangan Melakukan supervisi dengan Penerapan Patient Safety Di RSU Gunung Maria Tomohon Tahun 2013

Peran Karu

Penerapan Pasien

Safety

Jumlah

 

melakukan

Baik

Kurang

 

p

Supervisi

n

%

n

%

n

%

r

Baik

40

95,2

0

0,0

40

95,2

0,004

Kurang

2

4,8

0

0,0

2

4,8

0,430

Jumlah

42

100,0

0

0,0

42

100,0

Sumber : data primer