Anda di halaman 1dari 26

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

Loading

GLAUKOMA PRIMER SUDUT


TERBUKA

ANGGOTA SGD A4

Ida Bagus Indrayoga P.

(1002005010)

Kadek Ayu Rima Mahadewi

(1002005029)

Putu Agus Satria JSP

(1002005046)

Putu Citra Laksmi D.

(1002005064)

Budi Ratna Aryani

(1002005089)

I Gede Koko Gustrawan

(1002005109)

Putu Bagus Anggaraditya

(1002005129)

Dini Indriani

(1002005142)

Sagung Novita W.

(1002005161)

Ni Putu Lia Juliantini

(1002005174)

Fathiyyah Rozana

(1002005130)

Nyoman Chandra A.

(1002005144)

OUTLINE

Pendahluan

Pembahasan
Simpulan

Definisi
Epidemiologi
Pemeriksaan
Penunjang

Diagnosis
Manajemen

Epidemiologi

BAB I
PENDAHULUAN

GLAUKOMA

KLASIFIKASI

NEUROPATI OPTIK
KRONIK

KEBUTAAN

CUPPING DISKUS
OPTIKUS
DEFEK LAPANGAN
PANDANG
PENINGKATAN TIO

1. ETIOLOGI
2. MEKANISME
TIO

GLAUKOMA PRIMER
SUDUT TERBUKA

KEDUA DI DUNIA

BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI

Penyebab tidak ditemukan

Sudut bilik mata depan terbuka

Insiden tinggi, sifat kronik & progresif

Tekanan intraokular

kecepatan pembentukan humor aqueous


hambatan trabecular meshwork

Mekanisme kerusakan serabut saraf


Mekanik
Vaskular

EPIDEMIOLOGI

90 % glaukoma jenis lain

> 66 juta seluruh dunia

6,8 juta kebutaan bilateral

WHO 2002 : 12,3% penyebab kebutaan kedua di dunia

AS : > 40 tahun 1,29%

> 75 tahun 4,7 %

EPIDEMIOLOGI
UMUR
RIWAYAT
PENGOBATAN
JANGKA
PANJANG

RAS

FAKTOR
RISIKO
KELAINAN
REFRAKSI

RIWAYAT
KELUARGA

TRAUMA
OKULAR

PENYAKIT
SISTEMIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tekanan
Intraokular

Sudut Bilik Mata


Depan

Lapangan
Pandang

Diskus Optikus

Tes Provokasi
(Tes minum air,
pressure
congestion test,
dan tes steroid)

DIAGNOSIS

Anamnesis

Diagnosis
Pemeriksaan
oftalmologi

ANAMNESIS
ANAMNESIS

Gejala

Faktor risiko

Asimtomatik

Pengelihatan kabur /
berkurang

Nyeri mata

PENTING

Kesulitan menyetir,
khususnya malam

Sering berganti
kacamata

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Peningkatan
tekanan intraokular

Perubahan
diskus optikus

Pemeriksaan
oftalmologi

Sudut mata
depan

Penyempitan
lapangan pandang

Perubahan diskus optikus

Large cup-to-disc ratio (thin


neuroretinal rim)
Progressive optic disc
cupping
Asymmetric optic disc
cupping (>02 difference)
Optic disc haemorrhage
Acquired pit of the optic
nerve
Parapapillary retinal nerve
fibre layer loss

DIAGNOSIS BANDING
Hipertensi

okular

Glaukoma

tekanan normal (tekanan rendah)

Glaukoma

sudut tertutup kronis

Glaukoma

sekunder sudut terbuka

HIPERTENSI OKULAR

Peningkatan intraokular secara signifikan (>21 mmHg)

Tanpa tanda-tanda adanya kerusakan nervus optik ataupun gangguan lapang


pandang

GLAUKOMA TEKANAN NORMAL


(TEKANAN RENDAH)
Ciri-ciri

1. Sudut

bilik mata depan terbuka

2. Kerusakan
3. Defek

diskus optikus dengan cupping glaumatosa

lapangan pandang

4. Tekanan

intraokular rata-rata 21 mmHg

MANAJEMEN
Tujuan :
-

Memperlancar pengeluaran aqueous humor

Mengurangi produksi aqueous humor

Berupa :
Medikamentosa

Non

Medikamentosa

MEDIKAMENTOSA
Asetazolamid 250 mg = 4 kali 1 tablet

Tetes mata
Cholinergic
agonist-miotics
(Pilokarpin /
eserin )
Alpha2adrenergic
agonists
(epinefrine)
Beta blocker
(timolol maleate)

Tablet
Medikam
entosa

NON MEDIKAMENTOSA
Laser Trabekuloplasti
Trabekulektomi

Membakar genio
Siklodestruksi
lensa ke jalinan
Pembuatan
trabekular
saluran kecil dari
bilik mata depan Perusakan
ke konjungtiva
sebagian

badan siliar

Bedah Filtrasi
Mengangkat
sebagian kecil
sklera

PHARMACOLOGICAL AGENTS FOR MANAGEMENT


OF PRIMARY OPEN ANGLE GLAUCOMA
Prostaglandin analogs

Bimatoprost, Latanoprost, Travoprost

Alpha2-adrenergic

Epinephrine, Dipivefrin, Apraclonidine, Brimonidine

agonists

Beta-blocking agents

Nonselective,

Metipranolol,

Timolol,

Selective,

Betaxolol
Carbonic anhydrase

Acetazolamide, Dichlorphenamide, Methazolamide,

inhibitors

Topical, Dorzolamide, Brinzolamide

Cholinergic agonists-

Pilocarpine, solution or gel, Carbachol

miotics
Combination agents

Timolol-dorzolamide, Timolol-brimonidine

PROGNOSIS
PROGNOSIS

MANAJEMEN

YA

BAIK

TIDAK

Rusak nervus optikus

Visus menurun

KEBUTAAN

TIO normal

Lapangan pandang
menurun

BAB III
KESIMPULAN

Glaukoma primer sudut terbuka ditandai dengan peningkatan


intraokular, degenerasi papil saraf optik serta skotoma.

Glaukoma primer sudut terbuka memiliki insiden tertinggi dan


penyebab kedua terjadinya kebutaan.

Mendiagnosis glaukoma primer sudut terbuka diperlukan anamnesis,


pemeriksaan oftalmologi, serta tes provokasi.

Manajemen bisa dilakukan dengan medikamentosa maupun non


medikamentosa.

Prognosis tergantung dari manajemen yang diberikan, meskipun tidak


dapat menyembuhkan secara total, hanya memperlambat progresivitas.