Anda di halaman 1dari 43

1.

GAMBARAN UMUM
Oleh :
Mochamad Hadi
Lab Ekologi & Biosistematik

1.1. APA PENGENDALIAN HAYATI ?

PH : suatu bentuk pengelolaan populasi dengan


menggunakan suatu organisme maupun berbagai
organisme untuk mengurangi populasi hewan maupun
tumbuhan yang dapat merugikan manusia.
Organisme tersebut menyerang dan merugikan dengan
memakan tanaman pangan atau produk tanaman,
menyerang persediaan makanan, menyerang ternak,
atau mempengaruhi kesehatan manusia.
PH sering disebut dengan biologi kontrol, yaitu dengan
menambahkan atau memasukkan organisme
bermanfaat atau agen untuk menyerang organisme
merugikan atau target.
Ini dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami untuk
melawan binatang hama ataupun tumbuhan gulma

Organisme target mungkin akan dihilangkan secara lokal atau


total, jumlahnya ditekan sampai tingkat dimana tidak lagi
menimbulkan kerugian ekonomi.
Namun demikian pembasmian hama secara total hanya
merupakan harapan yang ambisius dan jarang berhasil.
Selain itu, musuh alami yang memusnahkan seluruh target akan
mengakibatkan kondisi tanpa makanan atau inang dan ini akan
merugikan musuh alami sendiri.
Dalam pengendalian hayati, lebih diutamakan untuk mengurangi
populasi hama ke tingkat dimana populasi hama tersebut tidak
menimbulkan kerugian ekonomi atau kesehatan.
Untuk mengurangi populasi hama cukup dengan menggunakan
organisme pengendali.
Organisme tersebut akan memelihara populasinya sendiri untuk
dapat mempertahankan dan mencegah populasi hama kembali
ke tingkat yang merugikan (Gambar 1.1).

Sebagian besar program pengendalian hayati di masa


lalu melibatkan serangga hama pertanian dan gulma,
dan ini telah menjadi perhatian para ahli serangga.
Tetapi sejak 2 dekade yang lalu, batasan telah diperluas
dengan bidang kedokteran hewan, kesehatan yang
menitikberatkan pada gangguan siput dan serangga
vektor, vertebrata.
Bahkan pada saat ini pathogen dan tanaman
pengganggu juga mendapat perhatian sebagai target.
Penggunaan musuh alami juga diperluas dengan
memasukkan berbagai mikroorganisme (bakteri, virus,
protozoa, jamur), invertebrata (cacing pipih, nematoda,
tungau, serangga), bahkan beberapa vertebrata (katak,
burung insektivora).

PH jarang diterapkan secara mandiri (individual), umumnya


diterapkan secara bersama-sama dengan menggabungkan
beberapa metode pengendlian lain yang kompatibel, seperti waktu
yg tepat, penggunaan insektisida persisten secara bijaksana.
Secara spesifik, tiruan senyawa kimia yang diproduksi organisme
(hormon atau feromon) juga sedang diteliti untuk mengetahui
pengaruh dan keberhasilan pengendalian klasisk atau tradisional.
Beberapa feromon tiruan digunakan untuk perangkap dan penekan
pop serangga atau utk memantau jumlah pop hama.
Beberapa hormon (yang analog dengan hormon juvenil) telah
digunakan sebagai insektisida spesifik.
PH juga digunakan dengan memanfaatkan varietas tumbuhan yang
tahan terhadap serangan hama.
Namun dmk dlm kenyataannya, PH dipadukan dg metode pertanian
yg sesuai yg masih menyediakan aplikasi kimia.
Semua ini akan mencakup pendekatan berbagai cara pengendalian
hama yang sesuai dengan prinsip-prinsip ekologi dalam
pengelolaan hama. Penjelasan lebih lanjut akan dibahas pada Bab
6.

PH di Cina kuno : semut Oecophylla smaragdina (Hymenoptera :


Formicidae) utk mengendalikan hama jeruk.
Keberhasilan metode pengendalian ini menjadi pendorong keberhasilan
yang mengagumkan pada periode intensif, dengan keberhasilan introduksi
kumbang buas predator Rodalia cardinalis (Coleoptera : Coccinelidae) dari
Australia untuk mengendalikan serangga hama kutu jeruk Icerya purchasi
(Homoptera : Margarodidae) yang mengancam industri jeruk di Kalifornia.
Sejak itu sekitar 150 serangga hama dan 30 gulma liar telah sebagian atau
seluruhnya dapat dikendalikan dengan metode pengendalian klasik dengan
introduksi musuh alami.
Keberhasilan besar pengendalian serangga hama tahunan dg
memanfaatkan banyak serangga parasitik dan predator.
Terhadap gulma situasinya berlawanan, mereka telah berhasil dikendalikan
oleh serangga-serangga herbivora bermanfaat yang telah terseleksi secara
ketat.
Tidak termasuk dalam Gb. 1.1. adl jumlah yg sangat banyak dari hama
potensial yang tidak tercatat dan gulma liar yang secara kontinyu diserang
musuh alami yang ada baik dalam komunitas alami dan beberapa areal
hutan dan pertanian.

1.2. PENGENDALIAN ALAMI

Di alam, semua populasi organisme memiliki mekanisme


pengendalian yang mencegah peningkatan tak terbatas populasi
mereka.
Pengendalian ini dapat dibagi menjadi 2 kelompok. Pertama, yang
mengabaikan pengaruh kepadatan populasi (faktor tidak tergantung
kepadatan). Kedua, yang menggunakan variasi pengaruh
tergantung kepadatan populasi (faktor tergantung kepadatan).
Dengan demikian, faktor yang tidak tergantung kepadatan
mempengaruhi populasi tanpa mempermasalahkan tingkat populasi
hama. Pengaruh cuaca dan perubahan iklim adalah contohnya,
keduanya tidak mengatur tingkat populasi tetapi dapat
mengakibatkan perubahan secara cepat pada kelimpahan dan
keanekaragaman spesies di suatu area yang terbatas (Gambar
1.2.).

Tipe kedua, yang mempengaruhi pengendalian pertumbuhan


populasi adalah faktor tergantung kepadatan.
Ketika proses tergantung kepadatan menunjukkan hasil positif,
pengaruhnya sangat kuat pada populasi yang tinggi dan relatif
rendah pada populasi yang rendah.
Dengan kata lain, persentase mortalitas tertinggi jika populasi
target juga tinggi, dan rendah ketika individu target sedikit dan
terpencar luas.
Hasilnya adl bahwa populasi diatur dlm batas-batas tertentu.
Pengendalian hayati adalah suatu bentuk pengaturan populasi,
ini penting untuk memahami proses pengaturan populasi yang
tergantung kepadatan pada populasi alami.
Parasitoid (serangga yang memparasiti arthropoda, terutama
serangga) dan predator adalah pengatur positif yang penting
dalam menekan popolasi inang atau mangsa.
Musuh alami ini memberi kontribusi dalam pengaturan inang
dalam karakteristik yang rendah (Gambar 1.1). Interaksi
kompleks ini telah diringkas oleh Hassel (1976), Huffaker (1971)
dan Solomon (1976).

Pada komunitas alami terjadi interaksi intraspesies (dalam


spesies) dan interspesies (antar spesies).
Kompetisi intraspesies karena keterbatasan sumberdaya
makanan dan ruang dapat menghambat populasi tunggal ke
tingkat maksimal.
Di dalam komunitas alami, kompetisi interspesies sama halnya
dengan kompetisi intraspesies, kompetisi memainkan peran
sesuai aturan yang jelas.
Spesies yang berbeda memiliki kebutuhan sumberdaya yang
sama dan kuat akan memperlihatkan kompetisi yang hebat
daripada spesies yang memiliki kebutuhan yang berbeda atau
bervariasi.
Spesies yang hidup bersama (koeksistensi), masing-masing
dengan sejarah dan seleksi alamnya, bersama-sama akan
membentuk komunitas alami.
Dengan komunitas alam ini, tipe dan kemelimpahan spesies
penyusunnya akan terus konstan dari tahun ke tahun berikutnya.

Pada saat tanah dibersihkan dan tanaman di panen,


habitat akan segera berubah secara drastis. Untuk
setiap individu, dalam kondisi yang baru,
menguntungkan atau tidak menguntungkan, akan tetap
ada.
Banyak spesies hewan dan tumbuhan akan mati,
sementara yang lain dipercepat dengan ketersediaan
sumberdaya dan ruang yang melimpah.
Kurangnya musuh alami dan berkurangnya kompetisi
dari spesies lain, mengakibatkan populasi meningkat
dengan cepat.
Beberapa tanaman menyebar diatas tanah dan bersaing
dengan panen, dengan demikian berlaku juga sebagai
gulma.
Hewan-hewan yang semula tidak membahayakan,
meningkat dalam jumlah besar, berubah menjadi hama.

Pengendalian hayati merupakan usaha untuk


mengurangi hama dengan meletakkan kembali faktor
kunci yaitu mortalitas yang akan mengembalikan
populasi hama ke bentuk sebelumnya, pada tingkat yang
tidak merusak.
Proyek pengendalian hayati tidak mengarahkan pada
pengenalan kembali seluruh kompleksitas dan
keanekaragaman habitat alami tetapi meletakkannya
dalam beberapa agen kunci yang menyebabkan
tingginya kematian pada hama spesifik.
Untuk gulma, pengendalian umumnya didasarkan pada
pemberian tekanan yang berat pada herbivora.

1.3. HAMA EKSOTIK (ASING)


Organisme asli (indigenous) yang luas
jangkauannya dan tingkat merusaknya
pada pertanian lokal adalah hama asli,
sedangkan yang berasal dari daerah
geografi lain terutama yang dipisahkan
lautan adalah hama eksotik (asing).
Musuh alami dapat juga asli maupun
eksotik.

Ladang pertanian umumnya memiliki karakteristik


tambahan bagi hama.
Dengan berjalannya waktu, kecenderungan hama yang
sama akan muncul di daerah yang sama yang
mempunyai iklim yang sama.
Karantina yang ketat biasanya dapat mencegah
masuknya hama dari luar atau mencegah persebaran
dalam suatu negara.
Kadang-kadang, suatu hama dapat saja masuk tanpa
sengaja ke suatu negara baru.
Tidak diragukan bahwa spesies pendatang tidak dapat
lulus hidup dengan kondisi yang baru, tetapi beberapa
diantaranya ada yang menjadi mantap dalam jumlah
yang sedikit, kemudian dengan melimpahnya makanan
dan ketidakhadiran musuh alami, populasi tersebut
dapat meningkat secara tiba-tiba.

Tanaman eksotik bebas dari persaingan dengan


tanaman lokal dan tanpa tambahan herbivora, akan
dapat meningkat menjadi gulma.
Fokus awal gangguan menjadi tidak mendapat perhatian
dan persebaran gulma baru ke tempat lain menjadi
perhatian besar pengendalian hayati.
Tidak ada gulma eksotik di Inggris yang tidak
dikendalikan, tapi suatu contoh yang baik dari
pengendalian gulma adalah pengendalian gulma eksotik
kaktus Opuntia spp. (Cactaceae).
Kaktus ini telah banyak dikendalikan di banyak negara
dengan introduksi serangga berguna, seperti ngengat
katerpilar Cactoblastis cactorum (Lepidoptera :
Pyralidae).

Hama mungkin akan tersebar luas pada daerah geografi


yang lebar dengan perbedaan iklim yang jelas.
Satu spesies musuh alami dapat efektif mengendalikan
sebagian besar hama di suatu daerah dan agen yang
lain menjadi penting di daerah yang lain.
Sebagai contoh, introduksi parastoid Aphytis melinus
(Hymenoptera : Aphelinidae) adalah agen pengendali
utama dari serangga sisik merah yang ganas Aonidiella
aurantii (Homoptera : Diaspididae) dalam kondisi iklim
yang ekstrem di daerah pedalaman Kalifornia,
sementara itu A. lingnanensis lebih efektif di daerah
pantai (lihat HUFFAKER, 1991).

Dalam kasus yang lain, musuh alami


membentuk biotipe, meskipun pada spesies
yang sama, beradaptasi terhadap kondisi iklim
yang berbeda.
Biotipe Perancis dari parasitoid Trioxys pallidus
(Hymenoptera : Braconidae) efektif dalam
mengendalikan kutu daun Chromaphis
juglandicola (Homoptera : Aphididae) di Pantai
Kalifornia, sementara itu biotipe Iran dari
spesies yang sama lebih baik di daerah
pedalaman yang kering (lihat van den BOSCH
and MESSENGER, 1973).

1.4. PEMANFAATAN MUSUH ALAMI

Disebut juga pengendalian hayati klasik yang meliputi


pencarian musuh alami di habitat asal dimana mereka
berhasil menekan populasi hama.
Musuh alami dikumpulkan dan dikirimkan ke negara atau
wilayah dimana jumlah mereka tidak cukup untuk
mengendalikan hama dan dimana jumlah hama sangat
banyak.
Kadang musuh alami asli atau eksotik sudah ada di
suatu tempat tetapi jumlahnya tidak cukup untuk
mengurangi organisme target dibawah status hama.
Jumlah musuh alami ini dapat ditingkatkan dengan
pengembangbiakan massal di laboratorium untuk
pelepasan sesekali ataupun reguler di lapangan.
Metode ini secara umum dikenal dengan augmentasi
musuh alami (RIDGWAY and VINSON, 1977).

Saat ini, musuh alami asli atau eksotik secara


tidak sengaja masuk ke suatu daerah dan
berhasil mengendalikan hama.
Ini merupakan salah satu fenomena
pengendalian hayati yang tidak disengaja.
Ini terlihat di Eastern Cape, Afrika Selatan,
dimana parasitoid Aphytis chrysomphali
(Hymenoptera : Aphelinidae), yang berasal dari
daerah Mediterania, terintroduksi tanpa sengaja
dan sekarang telah berhasil mengendalikan
secara lokal terhadap kutu sisik merah pada
tanaman jeruk.

Prinsip pengendalian hayati tidak selalu jelas seperti


metode-metode diatas.
Konservasi semua musuh alami, apakah itu asli maupun
hasil introduksi adalah sangat penting.
Juga sangat penting untuk mengadopsi praktek
budidaya yang meningkatkan musuh alami dan di waktu
yang sama menghindari penggunaan insektisida yang
tidak perlu.
Kadang kondisi fisik tanah pertanian atau hutan bisa
dimodifikasi untuk meningkatkan musuh alami asli.
Contoh, kotak sarang yang dipasang tersebar di Sierra
Gredos, Spanyol, untuk menarik populasi cecurut kecil
yang lebih banyak untuk memakan serangga perusak
hutan.
Seperti manajemen sukses lainnya, metode yang dipilih
didasarkan pada pemilikan data yang reliabel untuk
pengambilan keputusan yang bijaksana.

1.5. RESURGENSI, HAMA SEKUNDER


DAN RESISTENSI
RESURGENSI.

Penggunaan insektisida kimia mampu membunuh serangga dalam


spektrum yang luas, dan akan menyebabkan peledakan banyak
hama sesudahnya.
Insektisida membunuh banyak musuh alami dibandingkan hama itu
sendiri.
Hama akan meningkat lagi dalam area yang menyebar dan tidak
dapat lagi dikendalikan oleh musuh alami, terus meningkat hingga
jumlahnya justru lebih besar dibanding dg sebelum aplikasi, ini yg
dimaksud resurgensi (Gb. 1-4).
Sebagai contoh, di lahan Alfafa Amerika (lucerne), ketika insektisida
organofosfat persisten diaplikasikan, kumbang predator Hippodamia
spp. (Coleoptera : Coccinellidae) menghilang diikuti dengan
peningkatan kutu daun Therioaphis trifolii (Homoptera : Aphididae)
hingga tingkat yang lebih tinggi. Selanjutnya penggunaan insektisida
harus dalam dosis rendah, populasi kutu daun juga rendah dan
pada kondisi ini musuh alami nampak pengaruhnya.

PELEDAKAN HAMA SEKUNDER.


Beberapa organisme bukan hama berpotensi menjadi
hama justru setelah aplikasi pestisida.
Kehancuran agen pengendali alami akan memberi
peluang organisme yang semula bukan hama berubah
menjadi hama utama, ini yang dimaksud ledakan hama
sekunder (Gambar 1.5).
Sebagai contoh, kutu sisik lilin putih Gascardia
destructor (Homoptera : Laceidae) pada tanaman jeruk
di Afrika Selatan.
Biasanya kutu sisik ini ada dibawah pengendalian alami
yang baik dan sangat sulit untuk menemukan agen
pengendalinya.
Akan tetapi penggunaan pestisida organofosfat secara
persisten (seperti parathion atau temephos) untuk
mengendalikan hama primer kutu sisik merah, musuh
alami ikut terbunuh juga, sehingga kutu sisik lilin putih
meningkat drastis.

RESISTENSI.
Umumnya, setelah suatu pestisida diaplikasikan maka
akan dilakukan aplikasi ulang secara reguler.
Hal ini karena musuh alami hilang dan hama kembali ada.
Ketika bahan kimia yang sama kembali digunakan, pada
suatu saat bahan kimia tersebut tidak lagi mampu
mengendalikan hama, ini yang dimaksud dg resistensi
hama thp bahan kimia (Gambar 1.6.).
Hama akan menjadi resisten melalui mekanisme (1)
penundaan masuknya pestisida ke dalam tubuh, (2)
peningkatan detoksifikasi racun, (3) penurunan sensitifitas
bagian-bagian tubuh terhadap pestisida.
Resistensi juga terjadi pada beberapa musuh alami,
terutama pada tungau predator Typhlodromus occidentalis
dan Amblyseius fallacis (Acari : Phytoseiidae) yang
memangsa tungau laba-laba pd perkebunan buah-buahan.

Resistensi pada parasitoid sangat jarang terjadi dan


nampaknya berkembang tidak sebaik pada predator.
Hal ini disebabkan beberapa faktor, (1) parasitoid
umumnya memiliki inang spesifik dan ketika inangnya
sedikit meraka tidak memiliki inang alternatif, tidak
seperti predator yang sering polifagus yang dapat beralih
kepada mangsa lain, (2) parasitoid umumnya
berkembang didalam tubuh inang sehingga hanya
terkena pestisida ketika dewasa terbang, semantara
predator umumnya terkena pada seluruh stadium siklus
hidupnya, (3) kelulushidupan parasitoid tergantung
kelulushidupan inang.
Frekuensi resistensi pada parasitoid dalam
perbandingan 1 : 10.000, sedang pada predator 1 :
100, sedang resistensi parasitoid 1 dalam 1.000.000.

Perkembangan resistensi hama dalam tahuntahun terakhir ini mendapat perhatian serius
pada banyak program pengendalian hama.
Juga telah menjadi stimuli yang penting untuk
menemukan tindakan alternatif dalam
pengendalian hayati. Resistensi musuh alami,
terutama predator dapat dianggap suatu
keuntungan dengan melepas jenis-jenis resisten
melawan suatu hama selama bahan kimia
digunakan secara simultan dengan
pengandalian hama yang lain.

1.6. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN


PENGENDALIAN HAYATI

Pengendalian hayati memiliki beberapa


keuntungan, ia dapat digunakan secara
langsung pada suatu hama dan mungkin
efektif pada program pengendalian hayati
tunggal untuk menurunkan populasi hama
dalam beberapa tahun.
Jika diterapkan dalam waktu yang lama,
pengendalian hayati merupakan salah satu
upaya yang murah, aman, dan paling efisien
dalam mengendalikan hama

Dlm pengertian umum, keuntungan PH antara lain


tidak menimbulkan pencemaran udara, tanah,
sungai maupun laut dan tidak merusak hidupan liar

Bagaimanapun, bentuk introduksi musuh alami


hanya bagian kecil dari ekosistem pertanian dan
mungkin juga mereka menjadi oversensitif dalam
kondisi kurang makanan & penyakit tropis yg serius

Penerapan pengendalian hayati dalam waktu yang


lama memberikan dampak yang baik secara ekologi
Tentu saja, bila pengendalian hayati adalah metode
umum untuk hama khusus, maka itu akan dapat
digunakan untuk memperpanjang kehidupan secara
efektif dan selektif, dan dapat memberikan nilai
lebih, dengan demikian pestisida hanya digunakan
untuk keadaan darurat.

Para pakar pengendalian hama menyadari


bahwa PH dapat berperan penting dalam
mengendalikan hama perkebunan buah-buahan
dan hama hutan.
Bagaimanapun, aplikasi senyawa kimia tertentu
masih diperlukan untuk mengendalikan hama
tertentu yang mempunyai kemampuan invasi
yang besar ke dalam tanaman budidaya
tahunan dan karena perbanyakannya yang
sangat cepat.

Pengendalian kimia masih menjadi satusatunya cara yang ekonomis dan praktis
bagi beberapa kepompok serangga
hama, termasuk (1) serangga sosial,
seperti lebah, semut dan rayap, (2)
arthropoda vektor penyakit pada hewan
dan manusia, terutama di daerah tropik,
dan (3) hama gudang.

Pada serangga sosial, pekerja biasanya adalah


individu-individu perusak tetapi ini hanya akibat
perubahan struktur koloni dan umumnya tidak
memberi kontribusi genetik pada generasi
berikutnya.
Resistensi kimia tidak akan berkembang pada
serangga pekerja. Tujuan pengendalian
serangga sosial adalah untuk eradikasi
(menghilangkan) kasta reproduktif.
Pengendalian hayati untuk koloni yang mantap
sulit dilakukan karena serangga pekerja akan
melindungi dan langsung membuang para
pendatang atau pembawa penyakit.

Dari pandangan kimia telah berhasil dikembangkan metode


umpan untuk melawan semut pemotong daun di Amerika
Selatan, Atta spp. (Hymenoptera : Formicidae).
Racun ini tidak permanen di lingkungan, seperti
mikroencapsulasi dioxanthion atau permethrin,
dicampurkan kedalam daging buah jeruk dan kemudian
serangga pekerja mengambilnya dan membawa ke sarang.
Di dalam sarang racun akan membunuh secara perlahan
serangga pekerja dan kelompok reproduktif.
Akan tetapi serangga Atta sexdens, yang dengan cepat
menggundulkan hutan Eucalyptus di Minas Gerais, Brazil,
kemungkinan dikendalikan oleh kumbang Scarabaeid
dengan identifikasi tidak jelas.
Kumbang ini adalah kumbang predator rakus yang sejak
ratu muda menggali tanah untuk membuat sarang baru.

Di masa lalu, pengendalian arthropoda vektor penyakit


tergantung pada penyediaan insektisida yang murah dan
efisien.
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, resistensi
terhadap bahan kimia telah meningkat pesat pada lebih
banyak lagi organisme, termasuk nyamuk, lalat rumah
dan kutu (ticks) sapi.
Pengendalian secara menyeluruh terhadap arthropoda
pembawa penyakit dihadapkan pada situasi yang sulit
dan ini adalah semua alternatif pengendalian hayati
yang perlu diteliti.
Pertimbangan ke depan telah dibuat USA untuk
pengendalian hayati nyamuk dan lalat rumah dengan
menggunakan variasi parasitoid dan predator, termasuk
ikan pemakan jenitik nyamuk

Pengendalian kimia adalah cara terbaik dalam


menangani masalah penyimpanan produk.
Hal ini disebabkan karena produk dapat lebih
mudah difumigasi dengan gas maupun cairan
atau dengan memberi perlindungan kimia.
Proses ini cukup murah dan efektif, dan dapat
segera mencegah hama berkembang.
Kerugian pengendalian hayati dengan
penyimpanan produk ini adalah
terkontaminasinya produk oleh musuh alami dan
hama yang mati.

Memang sulit mengembangkan pengendalian hayati,


karena umumnya berupa proyek jangka panjang dan
susah diramalkan hasilnya.
Contohnya pengendalian kutu sisik merah pada
tanaman jeruk di USA yang terus dikembangkan sejak
tahun 1889.
Pengembangan pengendalian hayati biasanya berjalan
lamban, suatu senyawa kimia dapat dipatenkan
sedangkan musuh alami tidak dapat, hal ini hanya
memberikan sedikit tunjangan bagi kelompok atau
perusahaan untuk mengembangkan metode-metode
pengendalian hayati.
Akibatnya sebagian besar penelitian pengendalian
hayati hanya dilaksanakan oleh perguruan tinggi dan
lembaga atau organisasi yang dibiayai pemerintah.

Penelitian dan pengembangan untuk komersialisasi


musuh alami membutuhkan waktu bertahun-tahun yang
kadang-kadang tidak dapat diterima petani yang
membutuhkan pemecahan yang lebih jelas untuk
masalah-masalah hama.
Pengendalian hayati umumnya bekerja lambat dan pada
saat hama telah berhasil dikendalikan, petani mulai
melupakannya.
Pengendalian hayati bukan merupakan sarana
pembunuhan hama secara instan seperti halnya
pestisida.
Pada keadaan yang luar biasa, pengendalian hayati
klasik telah berhasil mengendalikan hama pada tingkat
yang rendah dan mempertahankan agar tetap berada
pada tingkat tersebut.
Kebalikannya dengan pestisida kimia adalah bahwa cara
ini memerlukan pengulangan aplikasi setiap kali hama
sampai tingkat yang merusak (Gambar 1.7).

Pada prakteknya, setiap tanaman mempunyai


keanekaragaman hama utama demikian juga penyakit
dan semua ini harus dikendalikan.
Untuk beberapa hama, agen-agen pengendali hayati
efektif masih belum ditemukan, sehingga hama-hama
tersebut dan sebagian besar penyakit masih
dikendalikan dengan bahan kimia dan ini bukan
merupakan pilihan.
Pada saat senyawa kimia diaplikasikan maka ada resiko
yang membahayakan keseimbangan pengendaliah
hayati yang ada dan telah stabil lebih dahulu.
Karena itu, dalam penggabungan metode pengendalian
hayati dan aplikasi kimia harus dilakukan secara hatihati.

Banyak senyawa kimia yang mampu membunuh


beberapa hama sekaligus (dengan asumsi tidak ada
resistensi) yang menarik perhatian petani secara
ekonomi.
Padahal sebenarnya penggunaan pestisida yang tidak
tuntas malah dapat menyebabkan beberapa hama minor
tidak ada lagi yang menekan sehingga berkembang
menjadi hama utama.
Di Eropa, pada tanaman mentimun dalam rumah kaca
pada saat aplikasi pestisida dikurangi, populasi tungau
laba-laba Tetranychus urticae (Acari : Tetranychidae)
berkurang oleh tungau predator Phytoseiulus persimilis
(Phytoseiidae), dan menyebabkan serangga hama
Thrips tabaci (Thysanoptera : Thripidae) meningkat
sampai tingkat merugikan.
Efek dari hal tersebut adalah menurunnya tungau labalaba menyediakan niche yang cocok bagi trips dan trips
juga akan ditekan dengan bahan kimia.

Performance dari penemuan terbaru musuh alami tidak


dapat diprediksikan dari awal.
Kebanyakan introduksi adalah usaha trial and error
(coba-coba), meskipun dengan pengembangan
motodologi dan peningkatan ilmu biologi memungkinkan
membuat prediksi lebih luas di masa depan.
Selanjutnya, setiap hama hewan atau tumbuhan adalah
kasus yang khusus untuk pengendalian hayati.
Beberapa musuh alami diintroduksikan untuk melawan
hama, tetapi pada akhir pengendalian yang efektif
biasanya diselesaikan dengan satu musuh alami yang
memiliki efisiensi yang tinggi.

1.7. BIAYA PENGENDALIAN HAYATI

Penghematan dari program pengendalian hayati akan


terus bertambah dan sulit untuk dinilai karena terlalu
banyak variabelnya, dan sebagai pengendalian hayati
praktis menjadi sangat penting, kadang tidak ada
pengendalian eksperimental sebagai pembandingnya.
Namun demikian, pada kasus dimana musuh alami berada
dalam kondisi stabil dan memberikan keuntungan yang
jelas dan dalam jangka panjang bagi penelitian awal,
pengembangbiakkan dan pelepasan, memberikan induksi
biaya relatif aktual untuk penghematan. MOHYUDDIN and
SHAH (1977) sebagai contoh, hasil akhir introduksi
parasitoid wasp ke New Zealand antara tahun 1969
1972 untuk mengendalikan ulat tentara Mythimna separata
(Lepidoptera : Noctuidae) menghemat U.S. $ 500.000
untuk insektisida dan aplikasinya pada tahun 1974 1975.

Juga, meningkatkan eksport banyak (salah


satunya adalah tanaman yang diserang ulat
tentara) memberikan tambahan biaya
beberapa juta dolar, pada saat tidak ada
ledakan hama.
Keuntungan pada tahun 1974 1974 ini,
mencapai U.S.$ 10.000.000, jauh diatas biaya
penelitian dan program introdiksi, dimana
hanya berkisar U.S.$ 21.700.

Contoh lain, melibatkan beberapa perkebunan besar


jeruk di Transvaal and Zimbabwe pada tahun 1979
1980, menghemat 50% biaya pengendalian hama
dengan pengendalian hayati daripada aplikasi bahan
kimia berspektrum luas untuk menekan hama utama,
sisik merah.
Di suatu pertanian, biaya bisa ditekan dari RI 80 ke 35
per pohon ketika pengendalian hayati dimulai.
Anehnya, insentif finansial ini tidak menstimulir untuk
mengganti pengendalian kimia ke pengendalian hayati
tetapi secara mengejutkan dan tidak terduga resistensi
sisik merah terhadap organofosfat membiarkan musuh
alami hanya sebagai jaring keamanan.

TERIMA KASIH

2
SEJARAH
PENGENDALIAN HAYATI