Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum

Hari/Tanggal : Desember 2014

Audit Lingkungan

Kelas

: LNK 3B-P1

Dosen

: Yudith Vega, S.T

Asisten

: Dimas Ardi Prasetyo, S.T

PRODUK BERSERTIFIKAT ECOLABEL

Diah Ismi Anggraini P.


J3M112056

PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Deterjen merupakan salah satu produk industri yang sangat berguna bagi
masyarakat, dapat digunakan untuk melindungi kebersihan dan kesehatan tubuh
manusia. Namun, jika deterjen tidak dikelola dengan baik dan benar akan
mempengaruhi kualitas air limbah domestik dan industri. Penggunaan yang
berlebihan dapat menyebabkan penambahan beban lingkungan dari pencemaran
akibat limbah yang masuk langsung ke sumber air dan berlangsung secara terusmenerus. Dampak negatif lingkungan dari air limbah yang mengandung deterjen
terkait dengan komposisi bahan kimia di dalamnya dan tingkat penggunaan deterjen.
Menurut Budiawan (2001), air yang tercemar deterjen dalam jumlah banyak ternyata
tidak mudah terurai dengan sistem instalasi yang ada, sehingga diduga kuat senyawa
tersebut masih terkandung dalam air bersih yang disalurkan ke rumahrumah
penduduk. Hal ini mengkhawatirkan, karena senyawa tersebut dapat bersifat
karsinogenik apabila terakumulasi dalam jangka waktu lama dalam tubuh.
Karsinogenik merupakan pemicu penyakit kanker.
Deterjen terdiri dari beberapa komponen utama yaitu surfaktan (agen aktif
permukaan), seperti Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LAS) dan Alkyl Benzene
Sulfonate (ABS). LAS termasuk dalam kategori surfaktan anionik yang lebih mudah
didegradasi secara biologi daripada ABS. Akan tetapi menurut Sarialam (2009), LAS
hanya terdegradasi sampai 50%, dan membutuhkan waktu sembilan hari. Builders,
seperti

trinatrium

polifosfat

(TSPP),

trinatriumfosfat

terklorinasi,

DEA

(dietanolamina), dan senyawa fosfat kompleks yang dapat menyebabkan eutrofikasi


(pengkayaan unsur hara yang berlebihan). Selain komponen utama yang telah
disebutkan sebelumnya, deterjen juga mengandung bahan aditif lainnya seperti alkali,
bahan pengawet, bahan pemutih, dan bahan pewarna, bahan anti korosif dan enzim.
Oleh karena itu diperlukan kontrol terhadap komponen utama dari deterjen yang

memiliki potensi menyebabkan polusi lingkungan dengan tujuan pengurangan resiko


pada lingkungan. Menurut pedoman KAN (Komite Akreditasi Nasional), deterjen
merupakan salah satu produk yang seharusnya memiliki ekolabel. Selain deterjen,
kriteria produk yang harus memiliki ekolabel yang lain adalah tekstil, produk tekstil,
kulit jadi, dan sepatu kasual dari kulit. Ekolabel merupakan suatu program pelabelan
lingkungan yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada konsumen dalam
memilih produk yang ramah lingkungan. Ekolabel merupakan label yang
mengidentifikasi keseluruhan preferensi lingkungan produk atau jasa berdasarkan
pertimbangan daur hidup. Hal ini bertujuan untuk mendorong produsen deterjen
memproduksi dan menawarkan produk deterjen yang ramah lingkungan dan
menyadarkan konsumen untuk memilih deterjen yang ramah lingkungan.

Surf Sebagai Produk Unilever Bersertifikat Ekolabel


Salah satu contoh nyata produk dari Unilever yang ramah lingkungan adalah
produk detergen yang dihasilkan, salah satunya surf. Sebagai produsen detergen
serbuk, PT Unilever mengklaim bahwa teknologi yang dilakukan dalam pengelolaan
LAS adalah melakukan sulfonasi, yaitu mengubah alkil benzene sulfonat. Selain itu,
upaya yang dilakukan Unilever adalah mengubah rantai ABS yang bercabang
menjadi Linear Alkyl Benzen Sulfonat (LABS) sehingga lebih mudah terurai ke
lingkungan.

Latar belakang ekolabel adalah munculnya green consumerism, yaitu


kelompok konsumen yang lebih memilih produk-produk, dimana bahan baku, proses
produksi, dan produk sisa pakainya ramah terhadap lingkungan (Purwanti, 2008). Hal
ini juga ditanggapi oleh beberapa industri yang sudah 3 mulai memahami green
company. Menurut Hidayat (2009) perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah mulai
menerapkan green company, dari beberapa perusahaan manufaktur, telekomunikasi,
pertambangan, konstruksi, transportasi, sebanyak 70,97% perusahaan menyatakan
bahwa isu green company perlu segera ditindaklanjuti dalam program yang riil.
Dalam program ekolabel terdapat 3 (tiga) pendekatan ekolabel yaitu Ekolabel
Tipe I, Tipe II dan Tipe III. Masing-masing tipe ekolabel mempunyai kekurangan dan
kelebihan. Negaranegara anggota GEN pada umumnya menerapkan program ekolabel
Tipe I yaitu pemberian sertifikat ekolabel oleh pihak ketiga kepada produk yang
memenuhi seperangkat persyaratan yang telah ditentukan pada kategori produk
tertentu.
Beberapa keuntungan dalam penerapan ekolabel produk adalah:
1. Meningkatkan daya saing produk di pasar,
baik pasar domestik maupun internasional.
2. Meningkatkan image/citra perusahaan
3. Meningkatkan effisiensi produksi,
penghematan sumber daya melalui program 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) dan
pengendalian polusi.
4. Membantu upaya pemerintah dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Salah satu wujud dari pelaksanaan green company adalah memasarkan produk
yang memiliki efek lingkungan minimum. Berbagai merek deterjen ditawarkan oleh
produsen, mulai dari yang berharga murah hingga yang mahal. Informasi lingkunga
yang dapat ditemui pada kemasan deterjen yang ada di retail bervariatif. Beberapa
diantaranya bahkan tidak dilengkapi dengan informasi yang seharusnya dicantumkan
agar konsumen dapat lebih memilih produk deterjen yang ramah lingkungan.
Logo ekolabel yang diatur pencantumannya terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. Logo Ekolabel Indonesia untuk tanda sertifikasi terhadap produk, berdasarkan


standar ekolabel multi-kriteria komprehensif yang mempertimbangkan hasil
analisis daur hidup produk, mulai dari tahap bahan baku, produksi, konsumsi,
hingga tahap habis masa pakai.
2. Logo Ekolabel Swadeklarasi untuk tanda verifikasi terhadap pernyataan
(klaim) swadeklarasi pada satu atau lebih parameter lingkungan dari suatu
produk, yang dideklarasikan oleh produsen.

Untuk mencegah pencemaran, perlu adanya upaya dengan berbagai cara,


antara lain membuat kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk produsen dan
memberikan penyuluhan atau edukasi kepada masyarakat. Pemerintah sudah
membuat kebijakan-kebijakan mengenai pemberian informasi yang harus ada pada
label, hal ini sesuai dengan keputusan Kementerian Lingkungan Hidup mengenai
ekolabel. Beberapa produsen.

DAFTAR PUSTAKA

WWW.UNILEVER.CO.ID
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12640-Chapter1.pdf
(diakses tanggal 10-14-2011)