Anda di halaman 1dari 9

Laporan Bioremediasi

Hari, Tanggal

:10 November 2014

Kelas/Kelompok

:3B-P1/11

Dosen

:Dr.Ir. Dodit Hadijoyo, M,Si

Asisten Dosen

:Yoscarini, S.Hut, M,Si

PERAN BIOREMEDIASI DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN


Oleh
Isnaeni Fajrin

J3M112066

Rd. M. Luthfi

J3M112067

M Riyadul Haris

J3M112072

TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan pestisida dalam produksi pertanian banyak dilakukan oleh petani di
Indonesia. Pestisida sering juga disebut obat-obatan antiparasit atau bahan fitofarmasi
yang mempunyai peranan penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian.
Penggunaan pestisida yang besar-besaran menyebabkan kualitas produk pertanian dan
tanah menurun. Peran pestisida memang dapat meningkatkan produksi pertanian,
namun produk yang dihasilkan tidak aman bagi konsumennya. Banyak residu-residu
yang tertinggal di batang, daun bahkan buah. Permasalahan dalam pendegradasian
pestisida adalah adanya senyawa-senyawa pestisida yang kuat menetap di lingkungan
dan sulit terdegradasi (rekalsitran) oleh mikroorganisme. Hal ini disebabkan
mikroorganisme perombak belum berpengalaman dalam perombakan senyawasenyawa yang belum dikenal sebelumnya, karena tidak memiliki enzim yang
dibutuhkan untuk mendegradasi senyawa-senyawa rekalsitran ataupun bahan
pencemar tersebut. Melalui proses kimia, biokimia dan fisika, maka lambat laun
mikroorganisme tersebut dapat beradaptasi dan melakukan perombakan. Dalam proses
adaptasi tersebut terjadi sintesis enzim dan plasmid yang dibutuhkan untuk
mendegradasi senyawa rekalsitran (Gumbira-Said dan Fauzi 1996). Usaha yang telah
dilakukan untuk mengurangi dan memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dari
penggunaan pestisida dengan menerapkan pola pengendalian hama terpadu,
mengembangkan teknologi mikroorganisme efektif, dan pestisida nabati.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah banyak
teknologi alternatif untuk mengatasi dan memperbaiki kondisi lingkungan yang telah
terkena polutan sehingga dapat menghasilkan produk pertanian yang aman bagi
konsumen dan lingkungan. Salah satunya yakni dengan berkembangnya teknik
bioremediasi baik secara in situ maupun secara ex situ. Saat ini telah dikembangkan
teknik bioremediasi dengan menggunakan kompos (compost bioremediation). Teknik
bioremediasi ini banyak diminati karena lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan
teknik bioremediasi lainnya. Penggunaan kompos dalam proses bioremediasi efektif
dalam mendegradasi banyak jenis kontaminan seperti hidrokarbon terklorinasi dan tak
terklorinasi, bahan-bahan kimia pengawet kayu, pelarut, logam berat, pestisida, produkproduk minyak, bahan peledak dan senyawa-senyawa senobiotik lainnya. Selain itu,

kompos juga dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah, memulihkan dan meningkatkan
kesuburan tanah, menambah kemampuan menyimpan air dan menyerap pupuk
sehingga akan membantu pertumbuhan tanaman.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahu peran bioremediasi dalam meningkatkan produktivitas pertanian
BAB 2
PEMBAHASAN
Pertisida merupakan pilihan utama yang sering digunakan untuk melindungi
tanaman dari hama serta memberantas organisme pengganggu (OPT) pada budidaya
suatu tanaman sebab pertisida mempunyai daya bunuh tinggi, penggunaannya mudah,
dan hasilnya cepat diketahui. Bahkan oleh sebagian besar petani, beranggapan bahwa
pestisida adalah sebagai dewa penyelamat yang sangat vital. Sebab dengan bantuan
pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad
pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma.
Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu
meningkat dengan pesat.
Di Indonesia, disamping perusahaan perkebunan, petani yang paling banyak
menggunakan berbagai jenis pestisida ialah petani sayuran, petani tanaman pangan
dan petani tanaman hortikultura buah-buahan. Khusus petani sayuran, kelihatannya
sulit melepaskan diri dari ketergantungan penggunaan pestisida. Bertanam sayuran
tanpa pestisida dianggap tidak aman, dan sering kali pestisida dijadikan sebagai garansi
keberhasilan berproduksi. Dalam penerapannya di bidang pertanian, ternyata tidak
semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20% pestisida mengenai sasaran
sedangkan 80% lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut
mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan,
sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker,
mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya
(Said 1994).
Anggapan petani bahwa pestisida sebagai dewa penyelamat ternyata adalah
dewa pencemar. Pestisida banyak memberikan kerugian daripada keuntungan yang
telah diberikan. Tidak hanya mencemari tanah sehingga mengakibatkan kerusakan

secara fisika, kimia dan biologi tanah, namun juga meningkatkan terjadi peningkatan
secara kuantitatif dan kualitatif organime pengganggu tanaman (OPT).
Pencemaran ini menjadikan tanah rusak dan hilang kesuburanya, mengandung
zat asam tinggi. Berbau busuk, kering, mengandung logam berat, mengandung sampah
anorganik dan sebagainya. Kalau sudah begitu maka tanah akan sulit untuk
dimanfaatkan (Nasution 2012). Usaha yang telah dilakukan untuk memperkecil dampak
negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida adalah menerapkan pola
pengendalian hama terpadu, mengembangkan teknologi mikroorganisme efektif, dan
menggunakan pestisida yang berasal dari tanaman atau pestisida nabati. Karena
anggapan pestisida yang dapat meningkatkan produkivitas pertanian menjadikan para
pentani bergantung kepada pestisida, walaupun Pemerintah sudah melakukan upaya
memberikan izin penggunaan pada jenis pestisida yang mempunyai spektrum sempit
serta mencabut subsidi pestisida agar harga pestisida menjadi mahal namun tidak
berhasil. Dengan demikian peningkatan produksi pertanian di Indonesia masih
tergantung penggunaan pestisida.
Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan produktivitas pertanian di
Indonesia. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Bappenas tahun 2002, salah satu
penyebab penurunan produktivitas pertanian adalah berkurangnya lahan pertanian dan
menurunnya kualitas lahan pertanian akibat erosi, residu bahan kimia seperti herbisida
dan pestisida, serta akumulasi pencemaran logan berat. Apabila kondisi ini tidak segera
diperbaiki, berdasarkan analisa pemerhati dan peneliti bidang pertanian dan
lingkungan hidup, maka Indonesia akan mengalami krisis pangan nasional seiring
dengan telah terjadinya krisis pangan dunia saat ini.
Kualitas tanah yang menurun diakibatkan dari rendahnya bahan organik tanah.
Bahan organik tanah berfungsi sebagai sumber energi yang sangat penting bagi aktivitas
mikroba tanah dan kesuburan tanah. Masih banyak petani di Indonesia tidak
mengetahui betapa pentingnya bioremediasi dalam pemulihan tanah tercemar sehingga
dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Bioremediasi adalah pengembalian
daerah atau lokasi yang terkena atau terpapar limbah kimia dengan bantuan makhluk
hidup atau sebagian ada yang menyatakan dengan menyelesaikan masalah.
Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroorganisme seperti
bakteri, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan enzim-enzim yang dihasilkan oleh
mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahan-bahan kimia dan

limbah secara aman dan salah satu alternatif dalam mengatasi masalah lingkungan.
Bioremediasi berasal dari kata bio dan remediasi atau "remediate" yang secara umum
bioremediasi dimaksudkan sebagai penggunaan mikroba untuk menyelesaikan
masalah-masalah lingkungan atau untuk menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan
dari tanah, lumpur, air tanah atau air permukaan sehingga lingkungan tersebut kembali
bersih dan alamiah. Bioremediasi berhubungan erat dengan bahan organik. Bahan
organik inilah yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian dengan ramah
lingkungan.
Kompos adalah hasil penguraian dari campuran bahan-bahan organik dimana
proses penguraian ini dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam mikroba dalam
kondisi lingkungan yang sesuai. Kompos yang terbuat dari limbah media jamur (Spent
Mushroom Compost) yang tidak dimanfaatkan dapat mendegradasi senyawa kimia
dalam tanah. Limbah media jamur terdapat berbagai mikroorgamisme didalamnya yang
mampu mendegradari senyawa sintetik. Pseudomonas stutzeri, Bacillus myciodes,
Bacillus cereus, Bacillus brevis dan Chromobacterium spp adalah galur bakteri yang
diisolasi dari limbah media jamur. Mikroorganisme tersebut mempunyai kemampuan
mendegradasi residu kimia dalam tanah. Dalam penelitian Jumbriah (2006)
menyatakan bahwa Bacillus cereus mampu mendegradasi diazinon (senyawa pestisida)
pada media padat MSPY yang mengandung 1700 ppm diazinon.
Bioremidiasi menggunakan kompos (compost bioremidiation) merupakan upaya
penanganan masalah limbah dan pencemaran lingkungan dengan menggunakan
mikroorganisme yang ada dalam kompos tersebut untuk mendegradasi kontaminan air
atau tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Dalam proses
bioremidiasi

menggunakan

kompos,

mikroorganisme

dalam

kompos

akan

mengkonsumsi kontaminan dalam tanah, air tanah, permukaan tanah maupun udara
dan memberikan sumber energi bagi tanaman. Kontaminan tersebut dicerna,
dimetabolisme dan diubah menjadi humus dan produk-produk akhir seperti CO2, air
dan garam-garam.
Petani di Indonesia beranggapan bahwa kompos tidak bisa dalam meningkatkan
produktivitas pertanian mereka, padahal kompos memberikan sumber energi yang
banyak pada tanaman sehingga tanaman akan kaya nutrisi. Tanaman yang kaya akan
nutrisi akan baik di konsumsi oleh konsumen sehingga konsumen akan terhindar dari
segala macam penyakit. Jika pestisida masih digunakan, bukan hanya mencemari

kualitas tanah namun akan menjadikan tanaman mengandung residu senyawa kimia.
Pestisida yang jatuh ke tanah akan menyebabkan tanah tercemar residu kimia dan
mencemari air tanah. Air tanah sering digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari
seperti minum, mencuci dan mandi. Hal ini mengidikasikan bahwa di zaman sekarang
manusia menggunakan dan mengkonsumsi segala sesuatu yang tidak sehat. Dengan
menggunakan

bahan-bahan

alami

dalam produktivitas

pertanian

menjadikan

masyarakat Indonesia bebas dari segala macam penyakit. Meningkatkan produktivitas


pertanian bukan hanya dalam mempercepat pertumbuhan tanaman saja, namun juga
menjadikan tanaman kaya akan nutrisi yang baik akan konsumen.
Bahan organik adalah yang bahan yang terpenting dalam memperbaiki tanah dan
menyuburkan tanaman. Bahan organik berperan penting dalam meningkatkan
kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah dalam
mengikat air, meningkatkan pori-pori tanah dan memperbaiki media perkembangan
mikroba tanah. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah yang
jumlahnya sekitar 3 5%, tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman besar
sekali. Tanah yang kering dengan diberikan bahan organik akan menjadikan tanah
tersebut dapat ditanami oleh tanaman. Tanah kering adalah tanah yang tidak dapat
mengikat air dalam tanah sehingga tanah menjadi kering. Kompos adalah salah satu
aplikasi bahan organik, dengan diberikannya kompos ke dalam tanah menjadikan tanah
akan kaya dengan unsur hara, menyuburkan tanah, meningkatkan kemampuan tanah
menahan air dan meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, sumber
energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme sehingga tanah tidak akan menjadi
kering.
Dengan diberikannya kompos/bahan organik pada lahan pertanian menjadikan
tanaman bukan hanya tumbuh dengan subur tetapi juga tumbuh dengan cepat, dan
tanaman akan kaya nutrisi yang baik bagi konsumen. Petani akan mendapatkan banyak
keuntungan dengan penggunaan kompos karena bahan-bahan pembuatan kompos
mudah didapat, mudah di aplikasikan ke dalam tanah, murah dalam pembiayaan dan
produk hasil pertanian bebas dari residu kimia sehingga kaya akan nutrisi yang
menjadikan produk bernilai tinggi. Dengan memanfaatkan bioremediasi dalam
meningkatkan produktivitas pertanian petani jauh lebih diuntungkan dibandingkan
dengan penggunaan pestisida dan kompos sintesis dari bahan kimia. Hal ini
menngindikasikan, seharusnya para petani di Indonesia yang beriklim tropis dapat

memanfaatkan bioremediasi semaksimal mungkin, karena sumber energi utama


bioremediasi adalah energi matahari yang di Indonesia sendiri dalam setahun terusmenerus ada sehingga dapat meningkatkan

produktivitas pertanian

dengan

menggunakan bahan organik, menjadikan petani tidak akan merugi.


Bioremediasi memanfaatkan mikroorganisme untuk menghilangkan senyawa
penyebab polusi dari lingkungan. Pendekatan umum yang dilakukan untuk
menigkatkan

biodegradasi

adalah

dengan

menggunakan

mikroba

indigenous

(bioremediasi instrinsik), memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi dan


aerasi (biostimulan) serta penambahan mikroorganisme (bioaugmentasi).

Bakteri

Rhizobium sp juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Rhizobium sp (yang


terkenal adalah Rhizobium leguminosarum) adalah basil yang gram negatif yang
merupakan penghuni biasa didalam tanah. Bakteri ini masuk melalui bulu-bulu akar
tanaman berbuah polongan dan menyebabkan jaraingan agar tumbuh berlebih-lebihan
hingga menjadi kutil-kutil. Bakteri ini hidup dalam sel-sel akar dan memperoleh
makanannya dari sel-sel tersebut. Pada dunia pertanian bakteri rhizobium sp mengikat
unsur nitrogen dari lingkungan sekitar dan menularkan ke tumbuhan, bagian akar dan
juga pada bagian tanah pada suatu tanaman. Kebanyakan rhizobium sp menularkan
pada tanaman yang berbiji contohnya akar pada tanaman kedelai.
Pada tanaman kedelai tersebut, bakteri rhizobium sp menempel pada bintil akar.
Dan itu membuat tanaman tersebut tumbuh subur dan untuk melangsungkan hidupnya
karena tanaman tersebut telah terinfeksi oleh bakteri Rhizobium sp. Tumbuhan yang
bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti
Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut
menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya
mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak
dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali.
Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat
tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat
menambah kesuburan tanah. Pemberian bakteri Rhizobium sp berpengaruh terhadap
peningkatan jumlah bintil akar (nodule) tanaman yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi pertanian.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penurunan produktivitas pertanian di Indonesia salah satunya disebabkan oleh
penurunan kualitas lahan. Penurunan kualitas lahan ini salah satunya disebabkan oleh
penggunaan pestisida yang terus-menerus. Bioremediasi adalah salah satu metode yang
efektif dalam memecahkan permasalahan para petani. Dengan menggunakan bahan
organik dan pemanfaatan bakteri Rhizobium sp lahan yang kering dan tidak bisa
ditumbuhi oleh tanaman akan menjadi subur kembali sehingga dapat meningkatkan
produktivitas pertanian. Tanaman yang menggunakan kompos alami dalam proses
pertumbuhannya akan menjadikan tanaman tersebut kaya akan nutrisi yang baik di
konsumsi oleh konsumen sehingg konsumen akan terhindar dari segala macam
penyakit. Bakteri Rhizobium sp akan memberikan nitrogen ke tanaman dan tanah
sehingga dapat menambah kesuburan tanah dan berpengaruh terhadap peningkatan
jumlah bintil akar tanaman yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi
pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Adijaya, I Nyoman, Putu Suratmini dan Ketut Mahaputra. 2005. Aplikasi Pemberian
Legin(Rhizobium) Pada Uji Beberapa Varietas Kedelai Di Lahan Kering. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar : Bali.
Anonim

2004.

Peruraian

Pestisida

Organofosfor

dalam

Tanah

Sawah.

http://www.tempo.co.id/medika/arsip/07001/war-3.html. Diakses pada tanggal 9


Mei 2013.
Anshori A 2012. Residu Pestisida dan Alternatif Penanggulangannya, Serta Pendapatan
Pada

Usaha

Tani

Tomat

di

Kawasan

Puncak

Kab.

Bogor.

http://yogya.litbang.deptan.go.id/. Diakses pada tanggal 9 Mei 2013.


Ardiwinata

AN

2011.

Arang

Aktif

Pengendali

Residu

Pestisida.

http://bpatp.litbang.deptan.go.id/. Diakses pada tanggal 10 Mei 2013.


Artha, N. 1993. Respon Tanaman Kedelai terhadap Inokulasi Rhizobium japonicum dan
Pupuk Anorganik di Lahan Kering pada Musim Hujan.
Palawija. Bogor. Vol.4; 329-339

Prosiding Lokakarya

Gumbira-Said E dan Fauzi AM 1996. Bioremidiasi dengan Mikrooragnisme. Prosiding


Pelatihan dan Lokarkarya Penerapan Bioremidiasi dalam Pengelolaan
Lingkungan. Cibinong 24-28 Juni. LIPI/BPPT/HSF. Hal 11-17.
Kasno, A. 2009. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah [terhubung
berkala] http://203.176.181.70/bppi/lengkap/bpp09036.pdf.(_______________)
Said EG 1994. Dampak Negatif Pestisida, Sebuah Catatan bagi Kita Semua. Agrotek Vol.
2(1) : 71-72.
Nasution AZ 2012. Pencemaran Tanah. http://bangazul.blogspot.com/. Diakses pada
tanggal 10 Mei 2013.
Jumbriah 2006.Bioremediasi Tanah Tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan
Menggunakan Kompos. Skripsi. IPB. Bogor