Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Tinitus berasal dari bahasa latin yang artinya nada. Tinitus adalah persepsi suara yang bukan
merupakan rangsangan dari luar. Suara yang terdengar begitu nyata dan serasa berasal dari dalam
telinga atau kepala. Pada sebagian besar kasus, gangguan ini tidak begitu menjadi masalah,
namun bila terjadinya makin sering dan berat maka akan menganggu juga.
Tinitus dapat bersifat subjektif dan objektif. Tetapi hampir sebagian besar kasus, tinnitus
bersifat subjektif. Tinitus yang bersifat subjektif maksudnya hanya penderita yang dapat
mendengarkan suara tinitusnya. Tinitus dapat berlangsung sementara atupun intermitten.
Tinitus bukanlah suatu diagnosis penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit.
Tinitus mungkin dapat timbul dari penurunan fungsi pendengaran yang dikaitkan dengan usia
dan proses degenerasi, trauma telinga ataupun akibat dari penyakit vaskular.
Tinitus cukup banyak didapati dalam praktek sehari-hari. Jutaan orang di duina menderita
tinnitus dengan derajat ringan sampai berat. Dari hasi penelitian, didapatkan satu dari lima orang
di antara usia 55 dan 65 tahun dilaporkan mengalami tinitus. Hal ini menandakan bahwa tinitus
adalah keluhan yang sangat umum yang diterima di kalangan usia lanjut.
Bunyi yang diterima sangat bervariasi. Keluhan tinitus dapat berupa bunyi mendenging,
menderu, mendesis atau berbagai macam bunyi lannya. Biasanya keluhan tinitus selalu disertai
dengan gangguan pendengaran.
Penyebab tinitus sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti, sebagian besar kasus
tidak diketahui penyebabnya. Penatalaksanaan tinitus bersifat empiris dan sampai saat ini masih
menjadi perdebatan.

BAB II
1

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA

Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam

Sumber: http://www.utdol.com/online/content/images/pedi_pix/Normal_ear_anatomy.jpg

a. Telinga luar
Telinga luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar meliputi daun telinga atau
pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang telinga atau membrana
timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Daun telinga berfungsi untuk
membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang telinga.
Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara dan bagian
terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan tulang dan tulang rawan
yang dilapisi kulit tipis.
Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga luar dan tulang
di dua pertiga dalam. Liang telinga memiliki panjang kira-kira 2,5 - 3 cm. Di dalam liang telinga
terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan zat seperti lilin yang disebut serumen atau kotoran
2

telinga. Hanya bagian saluran yang memproduksi sedikit serumen yang memiliki rambut. Pada
ujung saluran terdapat gendang telinga yang meneruskan suara ke telinga tengah.

sumber : http://medicastore.com/images/anatomi_telinga_luar.jpg

b. Telinga tengah
Telinga tengah adalah ruangan yang berbentuk kubus. Isinya meliputi gendang telinga, 3
tulang pendengaran (malleus, incus, dan stapes). muara tuba Eustachii juga berada di telinga
tengah.
Getaran suara yang diterima oleh gendang telinga akan disampaikan ke tulang pendengaran.
Masing-masing tulang pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang
stapes yang merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea.

Telinga tengah dan saluran pendengaran akan terisi udara


dalam keadaan normal. Tidak seperti pada bagian luar, udara
pada telinga tengah tidak berhubungan dengan udara di luar
tubuh. Saluran Eustachius menghubungkan ruangan telinga
3

tengah ke belakang faring. Dalam keadaan biasa, hubungan saluran Eustachii dan telinga tengah
tertutup dan terbuka pada saat mengunyah dan menguap.

Sumber :http://gurungeblog.files.wordpress.com/2008/12/telinga-tengah.jpg?w=297&h=300

c. Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari labirin osea, yaitu sebuah rangkaian rongga pada tulang pelipis
yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin membranasea, yang terletak lebih
dalam dan memiliki cairan endolimfe.
Di depan labirin terdapat koklea. Penampang melintang koklea terdiri atas tiga bagian yaitu
skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan
dengan tulang stapes melalui jendela berselaput yang disebut tingkap oval, sedangkan skala
timpani berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bulat.
Bagian atas skala media dibatasi oleh membran vestibularis atau membran Reissner dan
sebelah bawah dibatasi oleh membran basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organ corti
yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organ corti terdiri dari sel rambut dan
sel penyokong. Di atas sel rambut terdapat membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang
lentur,

sedangkan

sel

rambut

akan

dihubungkan

dengan

bagian

otak

dengan

N.vestibulokoklearis.
Selain bagian pendengaran, bagian telinga dalam terdapat indera keseimbangan. Bagian ini
secara struktural terletak di belakang labirin yang membentuk struktur utrikulus dan sakulus serta
tiga saluran setengah lingkaran atau kanalis semisirkularis. Kelima bagian ini berfungsi mengatur
keseimbangan tubuh dan memiliki sel rambut yang akan dihubungkan dengan bagian
keseimbangan dari N. vestibulokoklearis.1

Sumber : http://gurungeblog.files.wordpress.com/2008/12/telinga-dalam.gif?w=299&h=160

FISIOLOGI PENDENGARAN
Gelombang bunyi ditangkap oleh daun telinga dan diteruskan ke dalam liang telinga.
Gelombang bunyi akan diteruskan ke telinga tengah dengan menggetarkan gendang telinga.
Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar, maleus, incus dan stapes, ke foramen oval.
Getaran Struktur koklea pada tingkap lonjong akan diteruskan ke cairan limfe yang ada di
dalam skala vestibuli. Getaran cairan ini akan menggerakkan membrana Reissner dan
menggetarkan endolimfa. Sehingga akan menimbulkan gerakan relatif antara membran basalis
dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya
defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion akan terbuka dan terjadi pelepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi
pada saraf auditorius. Lalu di lanjutkan ke nukleus auditoris sampai korteks pendengaran di area
39-40 lobus temporalis. 1

Sumber : http://cachemedia.britannica.com/ebmedia/99/14299-004D2B5BCF9.gif

BAB III
TINITUS

Definisi
Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan suara yang di
dengar sangat bervariasi, dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, mengaum, atau
5

berbagai macam bunyi lainnya. Suara yang didengar dapat bersifat stabil atau berpulsasi.
Keluhan tinitus dapat dirasakan unilateral dan bilateral.
Serangan tinitus dapat bersifat periodik ataupun menetap. Kita sebut periodik jika serangan
yang datang hilang timbul. Episode periodik lebih berbahaya dan mengganggu dibandingkan
dengan yang berifat menetap. Hal ini disebabkan karena otak tidak terbiasa atau tidak dapat
mensupresi bising ini. Tinitus pada beberapa orang dapat sangat mengganggu kegiatan sehariharinya. Terkadang dapat menyebabkan timbulnya keinginan untuk bunuh diri.1,3
Tinitus dapat dibagi atas tinnitus objektif dan tinnitus subjektif. Dikatakan tinnitus objektif
jika suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa dan dikatakan tinnitus subjektif jika tinnitus
hanya dapat didengar oleh penderita.1,2
Klasifikasi Tinitus
Tinitus terjadi akibat adanya kerusakan ataupun perubahan pada telinga luar, tengah, telinga
dalam ataupun dari luar telinga. Berdasarkan letak dari sumber masalah, tinitus dapat dibagi
menjadi tinitus otik dan tinitus somatik. Jika kelainan terjadi pada telinga atau saraf auditoris,
kita sebut tinitus otik, sedangkan kita sebut tinitus somatik jika kelainan terjadi di luar telinga
dan saraf tetapi masih di dalam area kepala atau leher.1

Berdasarkan objek yang mendengar, tinitus dapat dibagi menjadi tinitus objektif dan tinitus
subjektif.
a. Tinitus Objektif
Tinitus objektif adalah tinitus yang suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa dengan
auskultasi di sekitar telinga. Tinitus objektif biasanya bersifat vibratorik, berasal dari transmisi
vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga.
Umumnya tinitus objektif disebabkan karena kelainan vaskular, sehingga tinitusnya berdenyut
mengikuti denyut jantung. Tinitus berdenyut ini dapat dijumpai pada pasien dengan malformasi
arteriovena, tumor glomus jugular dan aneurisma. Tinitus objektif juga dapat dijumpai sebagai
6

suara klik yang berhubungan dengan penyakit sendi temporomandibular dan karena kontraksi
spontan dari otot telinga tengah atau mioklonus palatal. Tuba Eustachius paten juga dapat
menyebabkan timbulnya tinitus akibat hantaran suara dari nasofaring ke rongga tengah.
b. Tinitus Subjektif
Tinnitus objektif adalah tinnitus yang suaranya hanya dapat didengar oleh penderita saja.
Jenis ini sering sekali terjadi.tinitus subjektif bersifat nonvibratorik, disebabkan oleh proses
iritatif dan perubahan degeneratif traktus auditoris mulai sel-sel rambut getar sampai pusat
pendengaran.
Tinitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya. Beberapa pasien dapat
mengeluh mengenai sensasi pendengaran dengan intensitas yang rendah, sementara pada orang
yang lain intensitas suaranya mungkin lebih tinggi.2
Berdasarkan kualitas suara yang didengar pasien ataupun pemeriksa, tinitus dapat dibagi
menjadi tinitus pulsatil dan tinitus nonpulsatil.
a. Tinitus Pulsatil
Tinitus pulsatil adalah tinitus yang suaranya bersamaan dengan suara denyut jantung. Tinitus
pulsatil jarang dimukan dalam praktek sehari-hari. Tinitus pulsatil dapat terjadi akibat adanya
kelainan dari vaskular ataupun di luar vaskular. Kelaianan vaskular digambarkan dengan sebagai
bising mendesis yang sinkron dengan denyut nadi atau denyut jantung. Sedangkan tinitus
nonvaskular digambarkan sebagai bising klik, bising goresan atau suara pernapasan dalam
telinga. Pada kedua tipe tinitus ini dapat kita ketahui dengan mendengarkannya menggunakan
stetoskop.
b. Tinitus Nonpulsatil
Tinitus jenis ini bersifat menetap dan tidak terputuskan. Suara yang dapat didengar oleh
pasien bervariasi, mulai dari suara yang berdering, berdenging, berdengung, berdesis, suara
jangkrik, dan terkadang pasien mendengarkan bising bergemuruh di dalam telinganya.
Biasanya tinitus ini lebih didengar pada ruangan yang sunyi dan biasanya paling menganggu
di malam hari sewaktu pasien tidur, selama siang hari efek penutup kebisingan lingkungan dan
aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan pasien tidak menyadari suara tersebut.4
Etiologi
7

Tinitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari telinga dalam. Terutama
kerusakan dari koklea. Secara garis besar, penyebab tinitus dapat berupa kelainan yang bersifat
somatik, kerusakan N. Vestibulokoklearis, kelainan vascular, tinitus karena obat-obatan, dan
tinitus yang disebabkan oleh hal lainnya.
1. Tinitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang
a. Trauma kepala dan Leher
Pasien dengan cedera yang keras pada kepala atau leher mungkin akan mengalami tinitus
yang sangat mengganggu. Tinitus karena cedera leher adalah tinitus somatik yang paling umum
terjadi. Trauma itu dapat berupa Fraktur tengkorak, Whisplash injury.
b. Artritis pada sendi temporomandibular (TMJ)
Berdasarkan hasil penelitian, 25% dari penderita tinitus di Amerika berasal dari artritis sendi
temporomandibular.4 Biasanya orang dengan artritis TMJ akan mengalami tinitus yang berat.
Hampir semua pasien artritis TMJ mengakui bunyi yang di dengar adalah bunyi menciut. Tidak
diketahui secara pasti hubungan antara artritis TMJ dengan terjadinya tinitus.
2. Tinitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis
Tinitus juga dapat muncul dari kerusakan yang terjadi di saraf yang menghubungkan antara
telinga dalam dan kortex serebri bagian pusat pendengaran. Terdapat beberapa kondisi yang
dapat menyebabkan kerusakan dari n. Vestibulokoklearis, diantaranya infeksi virus pada n.VIII,
tumor yang mengenai n.VIII, dan Microvascular compression syndrome (MCV). MCV dikenal
juga dengan vestibular paroxysmal. MCV menyebabkan kerusakan n.VIII karena adanya
kompresi dari pembuluh darah. Tapi hal ini sangat jarang terjadi.
3. Tinitus karena kelainan vaskular
Tinitus yang di dengar biasanya bersifat tinitus yang pulsatil. Akan didengar bunyi yang
simetris dengan denyut nadi dan detak jantung. Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan
tinitus diantaranya:
a. Atherosklerosis
Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk-bentuk deposit lemak lainnya,
pembuluh darah mayor ke telinga tengah kehilangan sebagian elastisitasnya. Hal ini

mengakibatkan aliran darah menjadi semakin sulit dan kadang-kadang mengalami turbulensi
sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya.
b. Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada pembuluh darah
koklea terminal.
c. Malformasi kapiler
Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara koneksi arteri dan vena
dapat menimbulkan tinitus.
d. Tumor pembuluh darah
Tumor pembuluh darah yang berada di daerah leher dan kepala juga dapat menyebabkan
tinitus. Misalnya adalah tumor karotis dan tumor glomus jugulare dengan ciri khasnya yaitu
tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa adanya gangguan pendengaran. Ini merupakan
gejala yang penting pada tumor glomus jugulare.
4. Tinitus karena kelainan metabolik
Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinitus. Seperti keadaan hipertiroid dan anemia
(keadaan dimana viskositas darah sangat rendah) dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi
turbulensi. Sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan
tinitus pulsatil.
Kelainan metabolik lainnya yang bisa menyebabkan tinitus adalah defisiensi vitamin B12,
begitu juga dengan kehamilan dan keadaan hiperlipidemia.
5. Tinitus akibat kelainan neurologis
Yang paling umum terjadi adalah akibat multiple sclerosis. multiple sclerosis adalah proses
inflamasi kronik dan demyelinisasi yang mempengaruhi system saraf pusat. Multiple sclerosis
dapat menimbulkan berbagai macam gejala, di antaranya kelemahan otot, indra penglihatan yang
terganggu, perubahan pada sensasi, kesulitan koordinasi dan bicara, depresi, gangguan kognitif,
gangguan keseimbangan dan nyeri, dan pada telinga akan timbul gejala tinitus.
6. Tinitus akibat kelainan psikogenik

Keadaan gangguan psikogenik dapat menimbulkan tinitus yang bersifat sementara. Tinitus
akan hilang bila kelainan psikogeniknya hilang. Depresi, anxietas dan stress adalah keadaan
psikogenik yang memungkinkan tinitus untuk muncul.
7. Tinitus akibat obat-obatan
Obat-obatan yang dapat menyebabkan tinitus umumnya adalah obat-obatan yang bersifat
ototoksik. Diantaranya :
a. Analgetik, seperti aspirin dan AINS lainnya
b. Antibiotik, seperti golongan aminoglikosid (mycin), kloramfenikol, tetrasiklin, minosiklin.
c. Obat-obatan kemoterapi, seperti Belomisisn, Cisplatin, Mechlorethamine, methotrexate,
vinkristin
d. Diuretik, seperti Bumatenide, Ethacrynic acid, Furosemide
e. lain-lain, seperti Kloroquin, quinine, Merkuri, Timah
8. Tinitus akibat gangguan mekanik
Gangguan mekanik juga dapat menyebabkan tinitus objektif, misalnya pada tuba eustachius
yang terbuka sehingga ketika kita bernafas akan menggerakkan membran timpani dan menjadi
tinitus. Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot-otot palatum
juga akan menimbulkan tinitus.
9. Tinitus akibat gangguan konduksi
Gangguan konduksi suara seperti infeksi telinga luar (sekret dan oedem), serumen impaksi,
efusi telinga tengah dan otosklerosis juga dapat menyebabkan tinitus. Biasanya suara tinitusnya
bersifat suara dengan nada rendah.
10. Tinitus akibat sebab lainnya
a. Tuli akibat bising
Disebabkan terpajan oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Umumnya terjadi pada kedua telinga.
Terutama bila intensitas bising melebihi 85db, dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor
pendengaran korti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat korti untuk

10

reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000Hz sampai dengan 6000Hz. Yang terberat kerusakan alat
korti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000Hz.
b. Presbikusis
Tuli saraf sensorineural tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris kanan dan kiri,
presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000Hz atau lebih. Umumnya merupakan akibat dari
proses degenerasi. Diduga berhubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan,
metabolisme, aterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. Menurunnya
fungsi pendengaran berangsur dan kumulatif. Progresivitas penurunan pendengaran lebih cepat
pada laki-laki disbanding perempuan.
c. Sindrom Meniere
Penyakit ini gejalanya terdiri dari tinitus, vertigo dan tuli sensorineural. Etiologi dari penyakit
ini adalah karena adanya hidrops endolimf, yaitu penambahan volume endolimfa, karena
gangguan biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada membrane labirin1,4,5,6

Diagram singkat yang menjelaskan mengenai etiologi tinitus


Sumber : http://www.wrongdiagnosis.com/bookimages/4/fig204.jpg

Patofisiologi

11

Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditoris yang menimbulkan perasaan adanya
bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal dari bunyi eksternal yang ditransformasikan,
melainkan berasal dari sumber impuls abnormal di dalam tubuh pasien sendiri. Impuls abnormal
itu dapat ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai
intensitas. Tinitus dengan nada rendah seperti bergemuruh atau nada tinggi seperti berdenging.
Tinitus dapat terus menerus atau hilang timbul.
Tinitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena
gangguan konduksi. Tinitus yang disebabkan oleh gangguan konduksi, biasanya berupa bunyi
dengan nada rendah. Jika disertai dengan inflamasi, bunyi dengung ini terasa berdenyut (tinitus
pulsatil).
Tinitus dengan nada rendah dan terdapat gangguan konduksi, biasanya terjadi pada sumbatan
liang telinga karena serumen atau tumor, tuba katar, otitis media, otosklerosis dan lain-lainnya.
Tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini
yang penting pada tumor glomus jugulare.
Tinitus objektif sering ditimnbulkan oleh gangguan vaskuler. Bunyinya seirama dengan
denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan aterosklerosis. Gangguan mekanis dapat juga
mengakibatkan tinitus objektif, seperti tuba eustachius terbuka, sehingga ketika bernapas
membran timpani bergerak dan terjadi tinitus.
Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius, serta otot-otot palatum dapat
menimbulkan tinitus objektif. Bila ada gangguan vaskuler di telinga tengah, seperti tumor karotis
(carotid body tumor), maka suara aliran darah akan mengakibatkan tinitus juga.
Pada intoksikasi obat seperti salisilat, kina, streptomisin, dehidro-streptomisin, garamisin,
digitalis, kanamisin, dapat terjadi tinitus nada tinggi, terus menerus atupun hilang timbul. Pada
hipertensi endolimfatik, seperti penyakit meniere dapat terjadi tinitus pada nada rendah atau
tinggi, sehingga terdengar bergemuruh atau berdengung. Gangguan ini disertai dengan vertigo
dan tuli sensorineural.
Gangguan vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan
keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme atau saat hamil dapat
juga timbul tinitus dan gangguan tersebut akan hilang bila keadaannya sudah normal kembali. 1,4,6

12

Diagnosis
Untuk mendiagnosis pasien dengan tinitus, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang baik.
a. Anamnesis
Anamnesis adalah hal yang sangat membantu dalam penegakan diagnosis tinitus. Dalam
anamnesis banyak sekali hal yang perlu ditanyakan, diantaranya:
- Kualitas dan kuantitas tinitus
- Lokasi, apakah terjadi di satu telinga ataupun di kedua telinga
- Sifat bunyi yang di dengar, apakah mendenging, mendengung, menderu, ataupun mendesis dan
bunyi lainnya
- Apakah bunyi yang di dengar semakin mengganggu di siang atau malam hari
- Gejala-gejala lain yang menyertai seperti vertigo dan gangguan pendengaran serta gangguan
neurologik lainnya.
- Lama serangan tinitus berlangsung, bila berlangsung hanya dalam satu menit dan setelah itu
hilang, maka ini bukan suatu keadaan yang patologik, tetapi jika tinitus berlangsung selama 5
menit, serangan ini bias dianggap patologik.
- Riwayat medikasi sebelumnya yang berhubungan dengan obat-obatan dengan sifat ototoksik
- Kebiasaan sehari-hari terutama merokok dan meminum kopi
- Riwayat cedera kepala, pajanan bising, trauma akustik
- Riwayat infeksi telinga dan operasi telinga
Umur dan jenis kelamin juga dapat memberikan kejelasan dalam mendiagnosis pasien dengan
tinitus. Tinitus karena kelainan vaskuler sering terjadi pada wanita muda, sedangkan pasien
dengan myoklonus palatal sering terjadi pada usia muda yang dihubungkan dengan kelainan
neurologi.
Pada tinitus subjektif unilateral perlu dicurigai adanya kemungkinan neuroma akustik atau
trauma kepala, sedangkan bilateral kemungkinan intoksikasi obat, presbikusis, trauma bising dan
penyakit sistemik. Jika pasien susah untuk mendeskripsikan apakah tinitus berasal dari telinga
kanan atau telinga kiri, hanya mengatakan di tengah kepala, kemungkinan besar terjadi kelainan
patologis di saraf pusat, misalnya serebrovaskuler, siringomelia dan sklerosis multipel.

13

Kelainan patologis pada putaran basal koklea, saraf pendengar perifer dan sentral pada
umumnya bernada tinggi (mendenging). Tinitus yang bernada rendah seperti gemuruh ombak
adalah ciri khas penyakit telinga koklear (hidrop endolimfatikus).1

b. Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan fisik dan penunjang yang baik, diharapkan sesuai dengan diagram berikut:
ear exam-->(audible sounds)-+-->sync w/respiration-->patent eustachian
|
|
tube
|
|
|
|
|
|
|
+-->sync w/pulse-->aneurysm, vascular tumor,
v
|
vascular malformation,
(no audible sounds)
|
venous hum
|
|
|
|
|
|
|
+-->continuous-->venous hum, acoustic
|
emissions
|
|
v
neurological exam-->(normal)-->audiogram
|
|
|
|
|
+-->normal-->idiopathic tinnitus
|
|
|
|
|
+-->conductive hearing loss
v
|
|
(brain stem signs)
|
v
|
|
impacted cerumen, chronic
|
|
otitis, otosclerosis
|
|
v
|
multiple sclerosis,
+-->sensorineural hearing loss
tumor, ischemic
|

14

infarction

v
BAER Test
|
v
+---------+--------------+
|
|
|
|
v
v
abnormal (neural)
normal cochlear
|
|
|
|
|
|
v
v
acoustic neuroma
noise damage
other tumors
ototoxic drugs
vascular compression
labyrinthitis
Meniere's Disease
perilymph fistula
presbycusis

sumber : http://www.bixby.org/faq/tinnitus/diagnose.htm

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan tinitus dimulai dari pemeriksaan auskultasi dengan
menggunakan stetoskop pada kedua telinga pasien. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan apakah tinitus yang didengar pasien bersifat subjektif atau objektif. Jika suara tinitus
juga dapat didengar oleh pemeriksa, artinya bersifat subjektif, maka harus ditentukan sifat dari
suara tersebut. jika suara yang didengar serasi dengan pernapasan, maka kemungkinan besar
tinitus terjadi karena tuba eustachius yang paten. Jika suara yang di dengar sesuai dengan denyut
nadi dan detak jantung, maka kemungkinan besar tinitus timbul karena aneurisma, tumor
vaskular, vascular malformation, dan venous hum. Jika suara yang di dengar bersifat kontinua,
maka kemungkinan tinitus terjadi karena venous hum atau emisi akustik yang terganggu.
Pada tinitus subjektif, yang mana suara tinitus tidak dapat didengar oleh pemeriksa saat
auskultasi, maka pemeriksa harus melakukan pemeriksaan audiometri. Hasilnya dapat beragam,
di antaranya:
- Normal, tinitus bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya.
- Tuli konduktif, tinitus disebabkan karena serumen impak, otosklerosis ataupun otitis kronik.
- Tuli sensorineural, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan BERA (Brainstem Evoked Response
Audiometri). Hasil tes BERA, bisa normal ataupun abnormal. Jika normal, maka tinitus mungkin
disebabkan karena terpajan bising, intoksikasi obat ototoksik, labirinitis, meniere, fistula
perilimfe atau presbikusis. Jika hasil tes BERA abnormal, maka tinitus disebabkan karena
neuroma akustik, tumor atau kompresi vaskular.

15

Jika tidak ada kesimpulan dari rentetan pemeriksaan fisik dan penunjang di atas, maka perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa CT scan ataupun MRI. Dengan pemeriksaan tersebut,
pemeriksa dapat menilai ada tidaknya kelainan pada saraf pusat. Kelainannya dapat berupa
multipel sklerosis, infark dan tumor.7
Penatalaksanaan
Pengobatan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena
psikoakustik murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinitus agar dapat
diobati sesuai dengan penyebabnya. Misalnya serumen impaksi cukup hanya dengan ekstraksi
serumen. Tetapi masalah yang sering di hadapi pemeriksa adalah penyebab tinitus yang
terkadang sukar diketahui.
Ada banyak pengobatan tinitus objektif tetapi tidak ada pengobatan yang efektif untuk tinitus
subjektif. Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dapat dibagi dalam 4 cara yaitu :
1. Elektrofisiologik yaitu dengan membuat stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang
lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinitus masker.
2. Psikologik, dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa
penyakitnya tidak membahayakan dan dengan mengajarkan relaksasi setiap hari.
3. Terapi medikamentosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya untuk
meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan, sedatif, neurotonik, vitamin, dan
mineral.
4. Tindakan bedah dilakukan pada tinitus yang telah terbukti disebabkan oleh akustik neuroma.

Pada keadaan yang berat, dimana tinitus sangat keras terdengar dapat dilakukan Cochlear nerve
section. Menurut literatur, dikatakan bahwa tindakan ini dapat menghilangkan keluhan pada
pasien. Keberhasilan tindakan ini sekitar 50%. Cochlear nerve section merupakan tindakan yang
paling terakhir yang dapat dilakukan.
Pasien tinitus sering sekali tidak diketahui penyebabnya, jika tidak tahu penyebabnya,
pemberian antidepresan dan antiansietas sangat membantu mengurangi tinitus. Hal ini
dikemukakan oleh Dobie RA, 1999. Obat-obatan yang biasa dipakai diantaranya Lorazepam atau
klonazepam yang dipakai dalam dosis rendah, obat ini merupakan obat golongan benzodiazepine
yang biasanya digunakan sebagai pengobatan gangguan kecemasan.

Obat lainnya adalah


16

amitriptyline atau nortriptyline yang digunakan dalam dosis rendah juga, obat ini adalah
golongan antidepresan trisiklik.4
Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa takut
tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat
menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinitus itu. Kepada pasien harus
dijelaskan bahwa gangguan itu sukar diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan gangguan
tersebut.
Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff, berdasar pada model
neurofisiologinya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik dan medikamentosa bila
diperlukan. Metode ini disebut dengan Tinnitus Retraining Therapy. Tujuan dari terapi ini adalah
memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara lingkungan yang
mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai hasil modifikasi hubungan system auditorik ke sistem
limbik dan system saraf otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinitus dengan
sempurna, tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan toleransi
terhadap suara.
TRT biasanya digunakan jika dengan medikasi tinitus tidak dapat dikurangi atau dihilangkan.
TRT adalah suatu cara dimana pasien diberikan suara lain sehingga keluhan telinga berdenging
tidak dirasakan lagi. Hal ini bisa dilakukan dengan mendengar suara radio FM yang sedang tidak
siaran, terutama pada saat tidur. Bila tinitus disertai dengan gangguan pendengaran dapat
diberikan alat bantu dengar yang disertai dengan masking.8
TRT dimulai dengan anamnesis awal untuk mengidentifikasi masalah dan keluhan pasien.
Menentukan pengaruh tinitus dan penurunan toleransi terhadap suara sekitarnya, mengevakuasi
kondisi emosional pasien, mendapatkan informasi untuk memberikan konseling yang tepat dan
membuat data dasar yang akan digunakan untuk evaluasi terapi. 1,4
Terapi edukasi juga dapat kita berikan ke pasien. Diantaranya:
- Hindari suara keras yang dapat memperberat tinitus.
- Kurangi makanan bergaram dan berlemak karena dapat meningkatkan tekanan darah yang
merupakan salah satu penyebab tinitus.
- Hindari faktor-faktor yang dapat merangsang tinitus seperti kafein dan nikotin
- Hindari obat-obatan yang bersifat ototoksik
- Tetap biasakan berolah raga, istarahat yang cukup dan hindari kelelahan. 4
17

Berdasarkan Chicago Dizziness and Hearing Association dengan versi yang telah
diperbaharui pada tanggal 26 oktober 2008, berikut diagram penatalaksaan tinitus: 9
Tinnitus Management Flow Sheet
Chicago Dizziness and Hearing, Version Oct 26, 2008

Tinnitus (noise in ear)


Interview
Audiogram,
Tinnitus matching,
OAE
ABR
Anxious,
depressed
ECOG
MRI if unilateral

Betahistine
Dyazide

Neurontin,
Topamax,
Oxcarbamazine
Niacin 50 bid
Pavabid 150 BID
Persantine 25 TID
Trental 400 TID

Medrol dose pack

Ginkgo
Acupuncture
Lipoflavenoid
s

Had diagnostic workup?

Anxious, depressed, sleepless?

Ear meds

Patient wishes to try


Medication, TRT, devices

Anticonvulsan

Schedule for TRT

Anxiolytics (Klonazepam,
Aplrazolam)
Antidepressants
(Effexor, Nortriptyline, Paxil)
Sedatives (Lunesta, Klonazepam,
Trazedone)
Devices:
Masking (household noises, Tinnitus
CDs)
Hearing aid
Masker
Conditioning device (Neuromonics,
similar)

Psychological
management

Hypnosis,
Biofeedback

Vasoactive

Steroid

Electrical stimulators
Not appropriate for
everyone

Neuroprobe 500
Ultrasonic
(Ultraquiet,
Hisonic)

Surgery (last resort)


Alternative
Cochlear nerve section
Labyrinthectomy
Electrical stimulator implant

Sumber : http://www.dizziness-and-balance.com/disorders/hearing/pdfs/tinnitus%20management.pdf

18

Pengobatan untuk tinnitus


Acamprosate
Acamprosate (Campral) bekerja sebagai penghambat reseptor glutamatergic N-methyl-daspartate (NMDA), ketika mediasi inhibisi -aminobutyric acid (GABA). Ada sebuah penelitian
mengindikasikan acamprosate sebagai pengubah fungsi dari NMDA.Acamprosate tidak
berpengaruh pada mediasi arus GABA, dan beberapa laporan menunjukkan bahwa
acamprosate menghambat pengikatan taurin direseptor taurin. Satu penelitian menyatakan pada
penggunaan acamprosate untuk mengobati sebagian besar tinnitus ringan sampai sangat berat
menginduksi adanya gangguan pendengaran suara. Alasan untuk pengobatan mengasumsikan
bahwa tinnitus timbul dari kegiatan glutamatergic kelebihan melalui reseptor NMDA dan atau
hiperaktif akibat di mediasi hilangnya GABA. 10
Caroverine
Caroverine (Spasmium-R) digunakan sebagai obat spasmolitik dan bertindak sebagai antagonis
kalsium
dan
non-NMDA dan
NMDA reseptor
glutamat.
Karena
terbatas
serapan dengan pemberian oral, caroverine diberikan intravena atau secara lokal.
Telah diusulkan bahwa koklea tinnitus sinaptik muncul dari gangguan sinaptik
NMDA atau non-NMDA reseptor pada dendrit aferen dari neuron ganglion spiral. 10
Memantine
Memantine (Namenda) saat ini digunakan dalam pengobatan penyakit Alzheimer (AD) dan
telah menunjukkan efek positif dalam depresi. Ini bertindak sebagai antagonis tergantung
tegangan reseptor NMDA dan mengurangi excitotoxicity dengan mencegah masuknya kalsium
yang berkepanjangan. Namun, memantine juga dikenal untuk memblokir serotonin (5-HT) dan
nicotinic reseptor acetylcholine. Excitotoxicity dimediasi oleh reseptor NMDA telah diusulkan
sebagai
mekanisme
untuk
tinnitus
koklea.
Dosis
tinggi
salisilat,
yang
bahan aktif dalam aspirin, berpotensi menginduksi tinnitus dan meningkatkan arus melalui
reseptor NMDA pada neuron ganglion spiral koklea 10
AM-101
AM-101 adalah NMDA antagonis nonkompetitif yang sedang dievaluasi sebagai pengobatan
untuk tinnitus. Berdasarkan hasil positif pada hewan percobaan, double-blind, acak, plasebo
fase dikendalikan IIb sidang pengiriman intratympanic AM-101 saat ini sedang dilakukan.
Penelitian ini melibatkan pasien dengan tinnitus akut (<3 bulan) yang timbul dari trauma
kebisingan atau gangguan pendengaran mendadak yang tidak menanggapi pengobatan
glukokortikoid. 10

19

Neramexane
Neramexane, obat yang mirip dengan memantine, sedang dievaluasi untuk AD, ketergantungan
obat,depresi dan rasa sakit. Seperti memantine, neramexane bertindak sebagai kompetitif,
tergantung tegangan NMDA antagonis. Hal ini juga blok9 dan 10 reseptor kolinergik nikotinik
yang diekspresikan pada sel-sel rambut bagian dalam telinga bagian dalam . 10
Gacyclidine
Gacyclidine adalah antagonis NMDA lain yang sedang di evaluasi untuk pengobatan tinnitus. Di
Studi perilaku hewan salisilat yang disebabkan tinnitus, gacyclidine ditekan tinnitus seperti
perilaku bila diterapkan secara bilateral ke koklea. Sembilan hari perfusi intracochlear
dari gacyclidine tidak memiliki efek buruk pada pendengaran kelinci percobaan membangkitkan
tanggapan,menunjukkan bahwa pengobatan ini mungkin relatif aman. Gacyclidine memiliki
manfaat jangka panjang. 10
Alprazolam
Alprazolam (Xanax) adalah triazolobenzodiazepine short-acting yang digunakan untuk
mengobati kecemasan, panik serangan dan depresi. Alprazolam mengikat ke benzodiazepine dari
reseptor GABAA, di mana ia bertindak sebagai agonis GABA dengan meningkatkan
permeabilitas ion klorida, menyebabkan hiperpolarisasi dan penurunan rangsangan. Komplikasi
yang terkait dengan alprazolam termasuk ketergantungan obat dan kesulitan
menghentikan penggunaan. Dalam prospektif, double-blind, placebo-controlled, alprazolam
adalah diberikan kepada pasien dengan tinnitus , dosis dinaikkan sampai menyebabkan efek
samping atau memiliki efek pada tinnitus. Alprazolam mengurangi kenyaringan tinnitus, tinnitus
diukur dengan sebuah synthesizer dan skala analog visual, di 76% dari subyek, sedangkan hanya
5% menunjukkan pengurangan kenyaringan tinnitus pada kelompok kontrol. 10
Diazepam
Benzodiazepine diazepam (Valium) digunakan untuk mengobati kecemasan, insomnia,
epilepsi, dan spasme otot. Ini mengikat ke subunit tertentu pada reseptor GABA A dan modulator
alosterik positif dari GABA yang meningkatkan hiperpolarisasion dan mengurangi rangsangan
saraf. Namun, diazepam juga dapat mengikat tegangan pintu saluran sodium dan mengurangi
rangsangan dengan memperlambat inaktivasi saluran natrium. Diazepam dievaluasi dalam
double-blind crossover tiga percobaan melibatkan 21 pasien tinnitus. Obat itu tidak memiliki
efek pada kenyaringan tinnitus, hasil yang mengejutkan mengingat bahwa mekanisme nya
tindakan yang mirip dengan alprazolam. Komplikasi yang terkait dengan diazepam termasuk
ketergantungan narkoba dan kesulitan menghentikan penggunaan . 10

20

Clonazepam
Clonazepam (Klonopin) merupakan turunan benzodiazepin digunakan sebagai relaksan
otot,ansiolitik dan antikonvulsan. Seperti benzodiazepin lainnya, ia mengikat subunit tertentu
reseptor GABA, di mana ia bertindak sebagai agonis, yang menyebabkan hiperpolarisasi dan
penurunan rangsangan . Dalam sebuah penelitian retrospektif catatan medis dari lebih dari 3.000
pasien mengambil clonazepam (0.5-1 mg / hari selama 60-180 hari) untuk vestibular atau
cochleovestibular.32% dilaporkan terjadi peningkatan tinnitus mereka.10
Vigabatrin and tiagabine
Vigabatrin (Sabril) dan tiagabine (Gabitril), dua obat yang bekerja pada berbagai aspek
neurotransmisi GABAergic, telah dipelajari kebisingan pada hewan model yang disebabkan
tinnitus. Vigabatrin digunakan sebagai antikonvulsan dan untuk mengobati kejang infantil. Ini
ireversibel menghambat GABA transaminase (GABA-T), enzim yang catabolizes GABA,
sehingga meningkatkan kadar GABA . Vigabatrin juga menginduksi pelepasan tonik oleh GABA
menyebabkan transporter GABA beroperasi secara terbalik . Tiagabin digunakan untuk
mengobati kejang dan gangguan panik dan bertindak dengan menghambat penyerapan GABA
melalui-GAT 1 transporter, sehingga meningkatkan ketersediaan GABA pada reseptor. 10
Lidocaine
Lidokain (Xylocaine) umumnya digunakan sebagai anestesi lokal atau untuk mengobati aritmia
jantung. Hal ini diyakini mengikat cepat tegangan-pintu saluran natrium, mengurangi besarnya
natrium saat ini selama depolarisasi . Namun, modus aksi lidocaine yang lebih kompleks, seperti
yang diketahui mempengaruhi kalsium, potasium, dan glisin-diinduksi arus klorida pada
konsentrasi mikromolar . Pada tahun 1935,lidocaine secara tidak sengaja ditemukan untuk
menekan tinitus setelah pemberian nasal. Sejak saat itu, banyak studi klinis telah menunjukkan
lidokain intravena menekan tinnitus dalam subpopulasi mata pelajaran. Tingginya respon positif
(70%) telah dilaporkan dalam beberapa studi, sementara yang lain telah melaporkan tingkat yang
lebih rendah respon (40%), sert.Beberapa pasien relatif menunjukkan pengurangan besar dalam
kenyaringan tinnitus. 10
Potassium channel modulators
Tinnitus diduga berasal dari hiperaktif saraf. Sebagai saluran ion kalium memainkan peran
penting dalam mengatur potensi dan spontan dan membangkitkan aktivitas saraf beristirahat,
saluran kalium modulator dapat mewakili target terapi yang potensial untuk terapi tinnitus.
Saluran modulator kalium juga telah menarik perhatian sebagai potensi terapi target untuk nyeri,
epilepsi, kecemasan dan gangguan hyperexcitability lainnya. Dalam laporan awal menggunakan
model perilaku tikus, modulator saluran kalium flindokalner (BMS-204352; MaxiPost ), dan
(R) -enansiomer (R-MaxiPost ) berkurang Bukti perilaku salisilat yang disebabkan tinnitus
21

dengan cara yang tergantung dosis . Hasil ini menunjukkan bahwa saluran kalium modulator
mungkin merupakan kandidat terapi baru untuk manajemen tinnitus. 10
Carbamazepine
Carbamazepine (Tegretol) adalah antikonvulsan dan penstabil mood digunakan untuk
mengobati berbagai suatu gangguan klinis, termasuk epilepsi, gangguan bipolar, skizofrenia,
nyeri dan trigeminal neuralgia. Obat mengikat tegangan pintu saluran sodium dan menstabilkan
natrium negara inaktivasi, sehingga mengurangi penembakan saraf . Cara kerjanya,Namun,
mungkin lebih kompleks dari ini, karena beberapa laporan menunjukkan bahwa carbamazepine
meningkatkan luar, tergantung tegangan arus kalium, menghambat L-jenis saluran kalsium dan
meningkatkan pelepasan 5-HT. Hasil untuk carbamazepine dalam pengobatan tinnitus telah
dicampur. Beberapa uji klinis acak melaporkan tidak ada efek yang menguntungkan dari
carbamazepine pada tinnitus . Namun, dosis dalam studi ini cenderung
rendah (200 mg / hari), dan dalam satu studi hanya dosis tunggal diberikan, yang dapat
menjelaskan kurangnya efek .10
Sodium valproate/valproic acid
Sodium valproate (Depakene) digunakan dalam pengobatan kejang, gangguan bipolar,
gangguan suasana hati dan depresi. Asam valproik memiliki spektrum yang luas dari tindakan
yang mencakup penghambatan GABA-T, penghambatan histon dan blokade tegangan-pintu
saluran sodium dan T-jenis saluran kalsium. Studi kasus yang ditemukan bahwa sodium
valproate (200 mg bid) efektif dalam menekan tinnitus . 10
Gabapentin
Gabapentin (Neurontin) secara luas digunakan dalam pengobatan kejang, nyeri neuropatik dan
migrain . Karena kesamaan struktural untuk GABA, gabapentin dianggap
untuk mengikat reseptor GABA, Namun, mekanisme kerjanya tidak sepenuhnya
dipahami. Gabapentin tidak bertindak langsung pada GABA, glisin atau glutamatergic
reseptor,atau tegangan-gated saluran sodium atau saluran kalsium . Obat ini meningkatkan
stimulated- yang melepasan GABA , meningkatkan kadar GABA pada pasien dan, menghambat
arus kalsium dengan mengganggu jalur calcium channel.10
Trimipramine
Trimipramine (Stangyl) diklasifikasikan sebagai antidepresan trisiklik. Namun, modenya
tindakan berbeda dari antidepresan trisiklik lain dalam hal ini adalah lemah sampai sedang
inhibitor norepinefrin dan 5-HT. Namun, trimipramine juga blok beberapa dopamin dan 5-HT
reseptor dan mengubah konsentrasi dopamin dan 5-HT . Trimipramine dievaluasi dalam doubleblind, placebo-controlled, studi silang. Dari 19 subyek menyelesaikan studi, 47% melaporkan
peningkatan dan 37% menyatakan memburuknya mereka tinnitus dengan trimipramine,
sedangkan
42%
melaporkan
peningkatan
dan
21%
dilaporkan
22

memburuk dengan plasebo. Hasil ini menunjukkan bahwa trimipramine memiliki sedikit atau
tidak ada manfaat pengobatan tinnitus.10
Nortriptyline
Nortriptyline (Aventyl) adalah antidepresan trisiklik yang juga digunakan untuk mengobati
kelelahan kronis, migrain dan sakit kronis. Modus utama tindakan adalah untuk menghambat
reuptake dari norepinefrin dan, pada tingkat lebih rendah, 5-HT. Nortriptyline juga blok
muscarinic dan 5-HT reseptor. Dalam single-blind,placebo melibatkan pasien dengan tinnitus
berat dan depresi berat, nortriptyline secara signifikan mengurangi depresi dan kenyaringan
tinnitus. 10
Paroxetine
Paroxetine (Paxil) adalah obat antidepresi yang juga digunakan untuk mengobati gangguan
tekanan pasca-trauma, gangguan obsesif-kompulsif, kecemasan dan gangguan panik.
Paroxetineis ampuh dan sangat selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan menunjukkan
lemahnya mengikat reseptor asetilkolin muskarinik. Skor Handicap Angket dan langkah-langkah
lainnya,Namun kelompok paroxetine menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam tinnitus
kejengkelan dibandingkan dengan kelompok kontrol .Meskipun SSRI secara luas digunakan
untuk mengobati tinnitus , antidepresan tidak boleh digunakan untuk mengobati pasien tinnitus
tidak depresi. Namun, dalam studi kasus, paroxetine secara signifikan mengurangi tinnitus dan
meningkatkan suasana hati pada pasien dengan depresi berat, kecemasan dan tinnitus.10
Trazodone
Trazodone (Desyrel) adalah antidepresan yang mempunyai 2 cara kerja, yakni SSRI dan blok
selektif reseptor postsynaptic 5-HT 2A dan 5-HT2C. Selain sebagai antidepresan, trazodone juga
digunakan untuk mengobati insomnia. Efek samping utama adalah mengantuk dan hipotensi. 10
Vestipitant/paroxetine kombinasi terapi
Vestipitant dan kombinan vestipitant dan paroxetine saat menjalani uji klinis fase II untuk
pengobatan tinnitus. Vestipitant adalah novel antagonis dari reseptor tachykinin NK1 yang
mengikat substansi P. Zat P bertindak sebagai neurotransmitter dan neuromodulator. antagonis
reseptor
NK1 menekan rasa sakit . Reseptor neurokinin yang hadir dalam
telinga bagian dalam dan oleh karena itu merupakan target terapi yang potensial untuk tinnitus.
Paroxetine adalah SSRI digunakan untuk mengobati depresi, gangguan obsesif kompulsif dan
kecemasan.10

23

Sertraline
Sertraline (Zoloft) digunakan untuk mengobati depresi, kecemasan, obsesif-kompulsif
perilaku dan gangguan panik. Ini terutama bertindak sebagai SSRI dengan menekan
serotonin transporter . Namun, hal itu juga menghambat transporter dopamin dan reseptor 1.10
Misoprostol
Misoprostol (Cytotec) adalah Analog
sintetis prostaglandin E 1 (PGE1) yang
terutama digunakan untuk mencegah ulkus lambung yang diinduksi oleh obat non-steroid antiinflamasi seperti aspirin dan untuk menginduksi persalinan. Hal ini juga menghambat pelepasan
inflamasi sitokin. 10
Atorvastatin
Statin atorvastatin (Lipitor) digunakan secara luas untuk menurunkan kolesterol darah dan
mencegah stroke . Obat menghambat HMG-CoA reduktase, yang menekan produksi
mevalonate, pada gilirannya mengurangi sintesis kolesterol. Atorvastatin juga meningkatkan
sirkulasi dan mengurangi peradangan dan stres oksidatif. Dalam 13 bulan,secara acak
melibatkan pasien usia lanjut dengan kolesterol tinggi, atorvastatin gagal memperlambat
perkembangan gangguan pendengaran yang berkaitan dengan usia dan tidak secara signifikan
mengurangi tinnitus.10

Nimodipine
Jenis L-calcium channel blocker nimodipin (Nomotop) pada awalnya digunakan untuk
pengobatan tekanan darah tinggi, tetapi sekarang terutama digunakan dalam pengobatan
perdarahan subarachnoid. Nimodipine menembus sawar darah-otak, melebarkan cerebral
pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah otak. Sidang pertama open-label klinis
menemukan bahwa nimodipin memiliki efek positif pada tinnitus pada banyak pasien, tetapi
kurangnya kendali plasebo membuatnya sulit untuk mengukur kemanjurannya. Studi perilaku
selanjutnya pada tikus menunjukkan bahwa nimodipine secara signifikan mengurangi perilaku
tinnitus seperti yang disebabkan oleh dosis tinggi kina atau natrium salisilat. Namun, percobaan
klinis kedua peningkatan yang signifikan ditemukan di peringkat subjek tinnitus hanya 5 dari 31
(16%) pasien; 17 pasien (55%) menunjukkan tidak ada perubahan dan 6 pasien (19%)
menunjukkan marjinal memburuknya utama tinnitus mereka. 10
Furosemide
Furosemide (Lasix) adalah diuretik yang digunakan untuk mengobati gagal jantung kongestif
dan edema. Ini menghambat cotransporter Na-K-2Cl yang mengangkut natrium, kalium dan ion
klorida ke dalam dan keluar dari sel. Na-K-2Cl cotransporter dinyatakan dalam telinga bagian
24

dalam, serta di otak. Furosemide juga blok reseptor GABAA. Obat telah diusulkan sebagai
pengobatan untuk tinnitus asal koklea karena sangat menekan potensi endolymphatic dan
memiliki tanggapan koklea lainnya. Furosemide juga telah ditemukan untuk menekan tinnitus di
~ 40% pasien dengan penyakit Meniere . Namun,dosis tinggi furosemide juga dapat
menyebabkan
gangguan
pendengaran
sementara
dan
tinnitus.
Dengan demikian, data tentang penggunaan furosemide untuk mengobati tinnitus dan
kesimpulan mengenai perusahaan pusat. 10
Amino-oxyacetic acid
Amino-oxyacetic acid (AOAA) adalah antikonvulsan yang poten menghambat GABA-T, yang
mengakibatkan penumpukan GABA di otak, sehingga memperkuat efek penghambatan. AOAA
juga mengurangi potensi endocochlear dalam koklea. Karena efek koklea,AOAA dievaluasi
sebagai pengobatan untuk tinnitus mungkin berasal dari koklea. AOAA mengurangi keparahan
tinnitus pada 20% pasien; Namun,> 70% pasien memiliki efek samping yang parah, sehingga
mengesampingkan utilitas klinis senyawa ini.10
Scopolamine
Skopolamin digunakan untuk mengobati mabuk perjalanan, mual dan kram usus. Itu bertindak
sebagai antagonis kompetitif
M1 reseptor acetylcholine muskarinik, yang secara luas
didistribusikan di otak dan di sepanjang jalur pendengaran . Studi hewan, menyatakan bahwa
skopolamin mungkin efektif dalam menekan salisilat yang disebabkan tinnitus. Dasar pemikiran
untuk menggunakan skopolamin didasarkan pada kenyataan bahwa dosis tinggi salisilat secara
signifikan meningkatkan ekspresi aktivitas dan Protein-plastisitas terkait c-fos dan arg3.1 dalam
korteks pendengaran dan amigdala,protein ini diduga penanda dari aktivitas saraf terkait
tinnitus. Amigdala mengirimkan akson ke nucleus basalis, yang pada gilirannya mengirimkan
serat kolinergik kekorteks pendengaran, dan skopolamin diusulkan sebagai pengobatan untuk
salisilat yang disebabkan tinnitus karena menekan ekspresi c-fos dan arg3.1 di korteks
pendengaran. Namun, ketika langkah-langkah perilaku tinnitus diperoleh dari tikus yang diobati
dengan salisilat atau salisilat ditambah skopolamin, skopolamin gagal untuk menekan salisilat
yang disebabkan tinnitus .Dasar hasil ini, tampaknya tidak mungkin bahwa skopolamin akan
efektif dalam mengobati tinnitus.10
Cyclandelate
Cyclandelate merupakan vasodilator yang diyakini untuk bertindak dengan menghalangi
masuknya kalsium ke dalam sel . Hal ini terutama digunakan untuk mengobati gangguan
pembuluh darah perifer, tetapi kadang-kadang digunakan untuk mengobati gangguan
serebrovaskular . Karena beberapa laporan menunjukkan bahwa tinnitus muncul dari insufisiensi
vaskular yang mempengaruhi labirin atau ota , cyclandelate diselidiki sebagai pengobatan untuk
tinnitus. Dalam uji klinis pada pasien dengan tinnitus, vertigo dan gangguan visual, 90 hari
25

pengobatan dengan cyclandelate dilaporkan mengurangi keparahan dan frekuensi gejala ini,
dengan efek samping yang minimal .10
Sulpiride
Sulpiride (Meresa) adalah obat antipsikotik yang selektif blok reseptor dopamin D2.Beberapa
studi telah meneliti penggunaan sulpiride untuk mengobati tinnitus berdasarkan
model dan data yang menunjukkan bahwa jalur dopaminergik di limbik, prefrontal dan
temporal,daerah korteks berkontribusi pada keparahan tinnitus. Dalam penelitian sulpiride secara
signifikan mengurangi penilaian subjektif dari tinnitus dan tinnitus nilai skala visual analog,
pengurangan dengan sulpiride tidak signifikan lebih besar daripada yang dihasilkan oleh plasebo.
Namun demikian, kombinasi dari sulpiride ditambah melatonin, yang berinteraksi dengan
reseptor dopamin, mengurangi tinnitus skor skala analog visual yang signifikan lebih dari
plasebo. 10
Vardenafil
Jenis phosphodiesterase 5 (PDE 5) inhibitor vardenafil (Levitra) mencegah degradasi GMP
siklik yang ditemukan pada otot polos pembuluh darah penis dan paru-paru. Vardenafil terutama
digunakan untuk mengobati impotensi laki-laki dan kadang-kadang hipertensi paru. Sementara
vardenafil umumnya ditoleransi dengan baik, efek samping yang umum termasuk sakit kepala,
muka merah, hidung tersumbat dan dispepsia. Dalam laporan klinis baru-baru ini,alasan untuk
mengevaluasi dampak dari vardenafil pada tinnitus didasarkan pada informal laporan pasien
yang mengklaim bahwa tinnitus mereka meningkat secara signifikan ketika mengambil
vardenafil. Kemanjuran vardenafil dievaluasi secara acak, double-blind, plasebo
studi terkontrol dengan 21 pasien yang menerima plasebo atau vardenafil (bid 10 mg selama 12
minggu). Variabel hasil utama yang relevan dengan tinnitus (Tinnitus Kuesioner, tinnitus
kenyaringan atau pitch dan ukuran audiometri lainnya) gagal untuk mengungkapkan klinis atau
statistik terjadi peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, vardenafil tidak muncul untuk
menjadi pengobatan yang cocok untuk tinnitus. 10
Ginkgo biloba
Ekstrak berasal dari Cina kunoginkgo pohon biloba yield EGB-761, memiliki komponenyang
aktif, yang mengandung flavonoid bioaktif, terpene dan senyawa vasoaktif. Karena vasodilatasi
dan sifat antioksidan,ginkgotelah digunakan untuk mengobati berbagai gangguan, termasuk
tinnitus
.
Beberapa
penelitian
telah
melaporkan
bahwa
ginkgo meredakan gejala tinnitus, terutama pada pasien dengan gejala durasi pendek.Selain itu,
sebuah studi perilaku dengan tikus menemukan bahwa EGB-761 mengurangi perilaku
manifestasi salisilat-diinduksi tinnitus. 10
Melatonin
26

Melatonin, hormon yang beredar alami diproduksi di kelenjar pineal dan jaringan lainya,
mengikat reseptor melatonin dan memainkan peran penting dalam mengatur irama sirkadian.
Melatonin juga merupakan antioksidan kuat yang melindungi mitokondria dan nuklear DNA dan
telah ditemukan untuk melindungi terhadap kebisingan dan gangguan pendengaran di induksi .
Karena gangguan tidur merupakan keluhan utama dan faktor rumit di tinnitus, melatonin
dievaluasi sebagai pengobatan untuk tinnitus dalam tiga studi. Pada pertama double-blind,
placebo-controlled, studi Crossover, puluhan tinnitus keparahan diukur dengan Tinnitus
Handicap Inventarisasi ditingkatkan dengan kira-kira tingkat yang sama dengan melatonin dan
plasebo. Ada kecenderungan peningkatan nilai tidur dengan melatonin, tapi efeknya tidak
signifikan secara statistik. Sebuah study berikutnya menemukan peningkatan signifikan secara
statistik pada Tinnitus Handicap Inventarisasi dan Pittsburgh Sleep Quality Index dengan
pengobatan melatonin, Namun, sulit untuk mengevaluasi signifikansi temuan ini karena
kurangnya kelompok kontrol plasebo dan efek ukuran sedang . Yang lebih baru-baru ini, Studi
menemukan melatonin yang mengurangi penilaian subjektif dari tinnitus dan kenyaringan
tinnitus lebih dari plasebo; perbaikan ini secara substansial lebih besar jika melatonin
dikombinasikan dengan yang sulpiride antipsikotik, selektif antagonis dopamin D2. 10
Zinc supplements
Zinc, jejak logam penting yang memainkan peran penting dalam berbagai fungsi biologis,
banyak diekspresikan dalam jalur pendengaran, termasuk dorsal nukleus koklea, sebuah
Struktur mengemukakan menjadi generator tinnitus besar . Zinc telah diusulkan sebagai
pengobatan untuk tinnitus, terutama pada pasien dengan hypozincemia. Sementara hasil positif
yang telah dilaporkan pada beberapa pasien .Sebuah uji klinis untuk mengevaluasi efektivitas
seng suplemen makanan untuk mengobati tinnitus sedang berlangsung. 10

27

BAB IV
KESIMPULAN
Telinga dibagi menjadi tiga bagian, di antaranya telinga luar, tengah dan dalam. Telinga liuar
terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Telinga tengah terdiri dari
membran timpani, tulang-tulang pendengaran dan muara tuba eustachius. Telinga dalam terdiri
dari koklea dan 3 kanalis semisirkularis.
Secara garis besar, fisiologi pendengaran dimulai dari gelombang bunyi yang ditangkap oleh
daun telinga dan diteruskan ke dalam liang telinga. Gelombang bunyi akan diteruskan ke telinga
tengah dengan menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang
dengar, maleus, incus dan stapes.
Oleh tulang-tulang pendengaran, getaran diteruskan ke koklea, sehingga menggetarkan
endolimfa, yang nanti akan menyebabkan terjadinya depolarisasi yang mengubah getaran
menjadi energi listrik. Impuls tadi akan diteruskan kekorteks serebri dan diterjemahkan oleh
otak.
Terdapat gangguan dari persepsi suara yang didengar, diantaranya adalah tinitus. Tinitus
adalah persepsi suara yang bukan merupakan rangsangan dari luar. Suara yang terdengar begitu
nyata dan serasa berasal dari dalam telinga atau kepala. Pada sebagian besar kasus, gangguan ini
tidak begitu menjadi masalah, namun bila terjadinya makin sering dan berat maka akan
menganggu juga.
Tinitus dapat bersifat otik dan somatik. Otik berarti penyebab tinitus berasal dari telinga dan
somatik berarti penyebab tinitus berasal dari luar telinga. Tinitus juga ada yang bersifat subjektif
dan objektif. Subjektif berarti tinitus hanya dapat didengar oleh pasien dan objektif berarti
tinitus dapat didengar juga oleh pemeriksa. Berdasarkan kualitas suara yang didengar, tinitus ada
yang bersifat pulsatil yang berarti berdenyut dan nonpulsatil yang berarti tidak berdenyut.
Hingga sekarang, penyebab dari tinitus masih banyak dibicarakan. Tetapi banyak sekali
pendapat mengenai etiologi tinitus diantaranya:
1. Tinitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang, seperti trauma kepala dan Leher dan
artritis pada sendi temporomandibular (TMJ)
2. Tinitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis

28

3. Tinitus karena kelainan vaskular, seperti atherosclerosis, hipertensi, malformasi kapiler dan
tumor pembuluh darah
4. Tinitus karena kelainan metabolik
5. Tinitus akibat kelainan neurologis
6. Tinitus akibat kelainan psikogenik
7. Tinitus akibat obat-obatan, seperti obat golongan analgetik, antibiotik, obat-obatan kemoterapi
dan duretik
8. Tinitus akibat gangguan mekanik
9. Tinitus akibat gangguan konduksi, seperti saat infeksi telinga
10. Tinitus akibat sebab lainnya seperti tuli akibat bising, presbikusis, dan penyakit meniere.
Dalam mendiagnosis tinitus diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang efektif dan lengkap. Dengan melakukan anamnesis yang efektif, maka
diharapkan dapat mengetahui garis besar etiologi dari tinitus yang dialami pasien. Karena
penatalaksanaan yang baik dari tinitus akan dapat berlangsung jika etiologinya dapat diketahui
dengan baik.
Secara garis besar, penatalaksanaan tinitus terdiri dari:
1. Elektrofisiologik
2. Psikologik
3. Terapi medikamentosa
4. Tindakan bedah

Terapi yang tak kalah pentingnya adalah terapi edukasi. Edukasi yang diberikan mencakup
masalah diet, olah raga, menghindarkan obat-obatan ototoksik, dan lainnya. Dengan begitu,
diharapkan tinitus pada pasien dapat berkurang bahkan menghilang.
Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff, berdasarkan pada model
neurofisiologinya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik dan medikamentosa bila
diperlukan. Metode ini disebut dengan Tinnitus Retraining Therapy. Tujuan dari terapi ini adalah
memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara lingkungan yang
mengganggu. Penatalaksanaan TRT banyak dipakai dewasa ini.
Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa takut
tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat
29

menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinitus itu. Kepada pasien harus
dijelaskan bahwa gangguan itu sukar diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan gangguan
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

30

1. Soepardi EA, Iskandar I, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku


Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi keenam. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 2008
2. Anonim. Tinitus. Dalam : http://en.wikipedia.org/wiki/Tinnitus. 2008. Diakses pada : Juli 29
2009.
3.Anonim.http://books.google.co.id/books?
id=xa_ne2pMEUYC&pg=PA118&lpg=PA118&dq=tinitus+dan+bunuh+diri&source=bl&ots=Dx
k5UkZmi&sig=LkgsLBKZaJi_TQxprMFapjoO6Cs&hl=id&ei=mYdxSoGTCMGdkAXUxI2FDA&s
a=X&oi=book_result&ct=result&resnum=7 diakses pada : Juli 30 2009
4. Hain TC. Tinnitus. http://www.dizziness-and-balance.com/disorders/hearing/tinnitus.htm.
Diakses pada Juli 30 2009
5. Hain TC. Microvascular compression syndrome, Vestibular Paroxysmia, and Quick Spins.
http://www.dizziness-and-balance.com/disorders/unilat/microvascular.htm. Diakses pada Juli 30
2009
6. Tinnitus and Deafness. http://www.wrongdiagnosis.com/w/wolframs_disease/book-diseases4a.htm. Diakses pada: Juli 30 2009
7. Saunders WB. http://www.bixby.org/faq/tinnitus/diagnose.html. Diakses pada: Juli 31 2009
8.

Syartika

L.

Tinitus

Telinga

Berdenging.

http://www.santosa-

hospital.com/document/tinnitus_drlisa_5_page_8.pdf. Diakses pada: Agustus 3 2009


9. Hain TC. Tinitus Management. http://www.dizziness-andbalance.com/disorders/hearing/pdfs/tinnitus%20management.pdf. Diakses pada: 3 Agustus 2009
10. jurnal

31