Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

Gangguan Pendengaran
Oleh :
Nisrina Mardhiyah
-masih prosesPreceptor :
Arif Dermawan, dr., Sp. T.H.T.K.L.K ., M.Kes

BAGIAN ILMU PENYAKIT THT-KL


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan pendengaran atau tuli bukan saja merupakan masalah kesehatan perorangan
namun menimbulkan masalah psikologis dan kesehatan komunitas. Gangguan pendengaran
seringkali menimbulkan masalah sosial mengingat erat kaitannya tuli dengan tanda-tanda
penuaan, rasa malu dan berkurangnya kualitas hidup seseorang. Berbeda dengan menurunnya
penglihatan yang dapat diatasi dengan kacamata, yang dengan mudah dapat diterima masyarakat,
masih menjadi stigma di masyarakat sehingga sering menyebabkan tekanan psikologis bagi
penderitanya dan para pengguna alat bantu mendengar.
Prevalensi kasus gangguan pendengaran 1 : 10.000 jiwa pertahun, tidak di pengaruhi
jenis kelamin dan usia. Namun kebanyakan kasus ditemukan pada usia 30-60 tahun. Biasanya
unilateral, hanya 1.7% - 2% yang bilateral. Apabila menyangkut anak-anak, gangguan
pendengaran menyebabkan konsekuensi yang berat. Diluar kehilangan kemampuan berbahasa
dan berkomunikasi secara utuh, anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan psikologi
karena ketidakmampuan berkomunikasi secara emosional dengan lingkungannya. Sementara
bagi orang dewasa, ketulian sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang sehingga sulit
bekerja, berkomunikasi, dan bersosialisasi yang dapat menimbulkan masalah sosial. Karenanya
penting untuk mengenal, mendiagnosis secara dini dan menangani secara tepat penderita
gangguan pendengaran sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Anatomi Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari aurikula dan kanalis auditorius eksternus dan dipisahkan dari
telinga tengah oleh membrana timpani. Aurikula berfungsi untuk membantu pengumpulan
gelombang suara. Gelombang suara tersebut akan dihantarkan ke telinga bagian tengah melalui
kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus terdapat sendi temporal
mandibular (Kumar dan Clark, 2005).
Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga luar merupakan
tulang rawan dengan lapisan epitel kuliat dan submucosa yang mengandung kelenjar apokrin,
sebasea, pembuluh darh, dan sel-sel rambut yang berfungsi untuk menghasilkan serumen.
Serumen mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit . sedangkan dua
pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis yang melekat pada periosteum.
Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani.

2. Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah merupakan suatu ruangan yang berisi udara yang dibayangkan sebagai
suatu kotak dengan enam sisi, dengan dinding posterior yang lebih luas dari dinding
anteriornya. Bagian yang turut membentuk telinga tengah :
- Membrane timpani
- Tulang pendengaran
- Kavum timpani
Disamping itu terdapat pula beberapa struktur di telinga tengah, doantaranya saraf fasialis,
tuba eustakhius, m. tensor timpani, dan m. stapedius.

Bagian atas membrana timpani disebut pars flaksida, sedangkan bagian bawah pars
tensa. Pars flaksida mempunyai dua lapisan, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas.
Menurut Sherwood, pars tensa mempunyai satu lapisan lagi di tengah, yaitu lapisan yang
terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar
dan sirkuler di bagian dalam.
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar
ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling
berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membrana timpani, maleus melekat pada
inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap oval yang berhubungan
dengan koklea. Hubungan antara tulang-tulang pendengaran merupakan persendian. Tuba
eustachius termasuk dalam telinga tengah menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga
tengah.

3. Anatomi Telinga Dalam


Telinga dalam terdiri dari labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang
meliputi vestibulum, kanalis semisirkularis, dan koklea. Yang termasuk labirin membranosa
adalah utrikulus, sakulus, ductus semisirkularis, dan ductus kokhlear.
Koklea bagian tulang dibagi menjadi dua lapisan oleh suatu sekat. Bagian dalam
sekat ini adalah lamina spiralis ossea dan bagian luarnya adalah lamina spiralis
membranasea.Ruang yang mengandung perilimfe terbagi dua, yaitu skala vestibuli dan skala
timpani. Kedua skala ini bertemu pada ujung koklea yang disebut helikotrema.
Skala vestibuli berawal pada foramen ovale dan skala timpani berakhir pada foramen
rotundum. Pertemuan antara lamina spiralis ossea dan membranasea kearah perifer
membentuk suatu membrana yang tipis yang disebut membrana Reissner yang memisahkan

skala vestibuli dengan skala media (duktus koklearis). Duktus koklearis berbentuk segitiga,
dihubungkan dengan labirin tulang oleh jaringan ikat penyambung periosteal dan
mengandung end organ dari nervus koklearis dan organ Corti. Duktus koklearis berhubungan
dengan sakkulus dengan perantaraan duktus Reuniens.
Organ Corti terletak di atas membrana basilaris yang mengandung organelorganel yang penting untuk mekenisma saraf perifer pendengaran. Organ Corti terdiri
dari satu baris sel rambut dalam yang berisi kira-kira 3000 sel dan tiga baris sel rambut
luar yang berisi kira-kira 12.000 sel. Sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan
horisontal dari suatu jungkat-jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf
aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel rambut
terdapat strereosilia yang melekat pada suatu selubung yang cenderung datar yang
dikenal sebagai membrana tektoria.
4. Fisiologi Pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga dan
mengenai membrana timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan
ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya, stapes
menggerakkan foramen ovale yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli.
Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfe dan
membrana basalis ke arah bawah. Perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga
foramen rotundum terdorong ke arah luar.
Pada waktu istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok dan dengan terdorongnya
membrana basal, ujung sel rambut itu menjadi lurus. Rangsangan fisik ini berubah
menjadi rangsangan listrik akibat adanya perbedaan ion Natrium dan Kalium yang
diteruskan ke cabang-cabang nervus vestibulokoklearis. Kemudian meneruskan
rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di
lobus temporalis.

BAB III
GANGGAUN PENDENGARAN
1. Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran menggambarkan kehilangan pendengaran di salah satu
atau kedua telinga. Terdapat tiga jenis gangguan pendengaran yang dikenal berdasarkan
uji pendengaran yakni gangguan konduktif, gangguan sensorineural, dan campuran. Pada
gangguan pendengaran konduktif terjadi gangguan hantaran gelombang suara ke telinga
dalam akibat adanya gangguan pada telinga luar atau telinga tengah yaitu mulai kanalis
akustikus eksterna, membran timpani, rantai tulang pendengaran, kavum timpani, tingkap
lonjong, tingkap bulat dan tuba Eustachius.
Gangguan pendengaran sensorineural terjadi karena adanya gangguan pada
telinga tengah melibatkan kerusakan koklea atau saraf vestibulokoklear. Salah satu
penyebabnya adalah pemakaian obat-obat ototoksik seperti streptomisin yang dapat
merusak stria vaskularis. Disebut juga tuli koklear dan retrokoklear.
Gangguan pendengaran atau tuli campuran meliputi kombinasi gangguan pada
kedua mekanisme tuli konduktif dan tuli sensorineural akibat disfungsi konduksi udara
maupun konduksi tulang.
Derajat ketulian ditentukan dari ambang dengar berdasarkan audiogram. Klasifikasi
derajat gangguan pendengaran menurut International Standard Organization (ISO) dan
American Standard Association (ASA) yaitu

2. Gangguan Pendengaran Jenis Konduktif


Pada gangguan pendengaran jenis ini, transmisi gelombang suara tidak dapat
mencapai telinga dalam secara efektif. Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi
pada kanal telinga luar, rantai tulang pendengaran, ruang telinga tengah, fenestra ovalis,
fenestra rotunda, dan tuba auditiva. Pada bentuk yang murni (tanpa komplikasi) biasanya

tidak ada kerusakan pada telinga dalam, maupun jalur persyarafan pendengaran nervus
vestibulokoklearis (N.VIII).
Gambaran khas yang terjadi pada penderita tuli konduktif diantaranya yaitu :
adanya riwayat penyakit telinga luar atau tengah seperti riwayat keluar cairan dari
telinga, rasa penuh di telinga, infeksi sebelumnya, atau mengorek-ngorek telinga
sebelumnya. Mungkin juga dapat ditemukan riwayat adanya kerusakan membran
timpani, trauma dan sebagainya. Pada tuli konduktif kongenital biasanya dapat diketahui
sejak anak masih sangat kecil, seperti keluhan anak yang tidak responsif terhadap
sekitarnya, keterlambatan bicara, dan sebagainya.
Keluhan tinitus sering didapatkan, dengan kekhasan bunyi bernada rendah, berdengung
atau bergemuruh di telinga.
Penderita biasanya mendengar lebih jelas pada tempat yang ribut (paracusis Willisi),
biasanya berbicara dengan suara yang pelan. Hal ini diakibatkan karena hantaran tulang
pada tuli konduktif meningkat sehingga penderita merasakan suaranya lebih keras dari
yang sebenarnya.
Biasanya kerabat harus berteriak di depan telinganya. Namun penderita masih dapat
membedakan atau mendiskrimasi berbagai silabel huruf, hanya kurang keras terdengar di
telinga. Fenomena ini terjadi karena pada tuli konduktif yang terjadi adalah menurunnya
ambang pendengaran, bukan kemampuan mendiskrimasi bunyi.
Seringkali penderita juga mengeluh sulit mendengar suara-suara bila ia sedang
mengunyah makanan yang menimbulkan suara. Hal ini disebabkan karena terjadi
transmisi suara makanan yang dikunyah melalui mekanisme hantaran tulang yang
menyebabkan efek masking terhadap hantaran udara.
Pemeriksaan fisik pada telinga luar dan telinga tengah dapat menunjukkan
penyebab gangguan konduktif, yang akan dibahas selanjutnya. Pemeriksaan atau uji
penala Rinne pada tuli konduktif menunjukkan hasil negatif, yaitu pada sesaat setelah
bunyi tak lagi terdengar melalui hantaran tulang dan penala dipindahkan ke depan
telinga, penderita tidak dapat mendengar bunyi yang dihasilkan. Sementara pada tes
penala Weber, akibat meningkatnya kemampuan hantaran tulang pada telinga yang sakit,
maka akan terjadi lateralisasi bunyi ke telinga yang sakit, atau telinga yang lebih parah
tingkat tuli konduktifnya bila terjadi pada kedua telinga.
Penentuan tuli konduktif secara pasti melalui pemeriksaan audiometri. Adapun
kriteria khusus yang dipertimbangkan dalam menentukan tuli konduktif diantaranya :
Hantaran tulang haruslah lebih baik daripada hantaran udara, dengan ambang dengar
normal atau kurang dari 25 dB.
Terdapat gap atau perbedaan ambang dengar hantaran udara dan tulang 10 dB pada dua
frekuensi berdekatan, terutama pada frekuensi rendah.
Ambang dengar hantaran udara > 25 dB
Tidak terdapat gangguan diskriminasi.
3. Gangguan Pendengaran Jenis Sensorineural

Tuli sensorineural menjadi masalah yang cukup menyulitkan. Pekerja industry


dan usia tua menderita jenis gangguan dengar ini. Secara umum tuli ini bersifat
irreversible dan sangat mengganggu komunikasi sehari-hari. Kerusakan jaras
pendengaran dapat terjadi baik di tlinga dalam (sensory loss) ataupun di saraf
pendengaran (neural loss).
Gambaran khas yang terjadi pada penderita tuli sensorineural diantaranya yaitu :
1. Selain hantaran udara, hantaran tulang juga mengalami gangguan. Hal ini karena terjadi
hambatan dalam transmisi seluruh impuls saraf.
2. Penderita tuli sensorineural mengalami kesulitan diskriminasi, sehingga sulit
membedakan bunyi-bunyi konsonan terutama yang berada pada daerah frekuensi lemah
yang dideritanya. Sehingga seringkali sulit memahami apa yang dibicarakan orang lain.
Musik dan kalimat yang terdengar bersamaan mempersulit pemahaman.
3. Jika tuli terjadi bilateral dan dalam waktu yang lama, biasanya penderita akan berbicara
dalam suara yang sangat keras dan bertekanan. Sulit untuk mendengar apabila berada di
tempat yang ramai (cocktail partys deafness).
4. Jika terdapat tinnitus, biasanya bernada tinggi atau terdengar seperti berbisik.
5. Ambang dengar hantaran udara dan hantaran tulang mengalami penurunan dan cenderung
berhimpit sehingga tidak ditemukan gap.
Pemeriksaan dengan uji penala Rinne didapatkan tes Rinne positif, yaitu pada
sesaat setelah bunyi tak lagi terdengar melalui hantaran tulang dan penala dipindahkan ke
depan telinga, penderita masih dapat mendengar bunyi yang dihasilkan. Sementara uji
penala Weber karena tidak terdapat gangguan hantaran tulang, maka biasanya uji penala
menunjukkan lateralisasi ke telinga yang sehat atau yang lebih sehat bila terjadi pada
kedua telinga.
Klasifikasi etiologi dari gangguan pendengaran jenis sensorineural yaitu :
Etiologi Tuli Sensorineural dengan Onset Gradual
1. Presbikusis
2. Occupational hearing loss
3. Tuli sensorineural pada otosklerosis dan OMK
4. Tuli sensorineural penyakit Paget dan Van der Hoeves syndrome
5. Efek amplifikasi ABM
6. Neuritis nervus auditorius dan penyakit sistemik
7. Penyebab tidak diketahui
Etiologi Tuli Sensorineural dengan Onset Mendadak Bilateral
1. Meningitis
2. Infeksi
3. Functional hearing loss
4. obat-obatan ototoksik
5. Multiple sclerosis
6. Sifilis

7. Penyakit autoimun
8. Penyebab tidak diketahui
-

Etiologi Tuli Sensorineural dengan Onset Mendadak Unilateral


1. Gondongan / Mumps
2. Trauma kepala/trauma akustik
3. Penyakit Menieres
4. Infeksi viral
5. Ruptur membran tingkap bulat atau membran telinga dalam
6. Penyakit vaskuler
7. Pasca bedah telinga
8. Fistula tingkap lonjong
9. Pasca bedah umum dan narkose umum
10. Sifilis
11. Penybab tidak diketahui

Etiologi Tuli Sensorineural Kongenital


1. Herediter
2. Inkompatibilitas Rh dengan kern ikterus
3. Anoxia
4. Virus
Prebiskusis adalah gangguan pendengaran sensorineural yang paling sering terjadi
pada orang dewasa. Sangat erat kaitannya dengan proses degenerasi seiring dengan
pertambahan usia. Biasanya terjadi perlahan-lahan tetapi semakin berat, diawali dengan
frekuensi tinggi kemudian diikuti frekuensi rendah. Kedua telinga terkena, walaupun
derajatnya bisa saja tidak sama berat. Penurunan ambang dengar sebenarnya terjadi sejak
masa awal kehidupan, sejak anak-anak dengan penurunan 10 dB per dekade dengan dimulai
pada frekuensi tinggi (> 8000 Hz). Kejadian penurunan ambang dengar secara nyata mulai
terasa pada usia 50 tahun keatas.
N Jenis
Patologi
o
1
Sensorik
Lesi pada basal koklea, terjadi atrofi organ Corti, jumlah
sel-sel rambut dan sel penunjang berkurang.
2
Neural
Terjadi hilangnya sel neuron pada koklea dan jaras
auditorik, terutama pada area frekuensi percakapan.
3
Strial
Atrofi stria vaskularis, sehingga terjadi gangguan
pendengaran nada-murni, flat, dengan diskriminasi cukup
baik.

Cochlear
conductive

Terjadi perubahan gerakan mekanik duktus koklearis. Atrofi


ligamentum spiralis, Membran basalis menjadi kaku.

Occupational hearing loss/trauma bising sering juga disebut sebagai Noise


Induced Hearing Loss. Disebabkan oleh terpajan oleh bising yang cukup keras dalam
jangka waktu yang lama, dan seringkali berkaitan dengan lingkungan kerja. Umumnya
terjadi pada kedua telinga.
Bising yang intensitasnya > 85 dB dapat menyebabkan kerusakan pada reseptor
pendengaran Corti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah organ Corti
untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000 6000 Hz. Banyak hal yang berkaitan
dengan mudahnya seseorang mengalami tuli akibat bising dipengaruhi oleh intensitas
bising yang tinggi, frekuensi yang lebih tinggi, lama waktu paparan, atau faktor
predisposisi lain seperti penggunaan obat-obatan ototoksik sebelumnya.
Infeksi telinga tengah dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Hal ini
disebabkan karena perluasan infeksi dari telinga tengah ke telinga dalam dan ke serabut
saraf telinga dalam. Seringkali merupakan komplikasi dari otitis media kronik.
Sudden sensorineural hearing loss atau disebut juga tuli mendadak merupakan
tuli yang timbul tiba-tiba tanpa penyebab jelas dan tuli sensorineural 30 dB, minimal 3
frekuensi berturut-turut pada audiometri dan berlangsung < 3 hari. Tuli jenis ini
merupakan bentuk kedaruratan neurotologi dengan kerusakan utama pada koklea yang
umumnya bersifat permanen dan unilateral.
Meskipun dikatakn idiopatik, diperkirakan beberapa hal berikut dapat
menyebabkan tuli mendadak :
- Vascular : iskemia koklea sebagai penyebab utama tuli mendadak.
Spasme/thrombosis/ perdarahan arteri auditiva interna (satu-satunya arteri yang
memperdarahi koklea) iskemia koklea degenerasi sel-sel ganglion pada stria
vaskularis dan ligamentum spiralis embentukan jaringan ikat, kerusakan sel
rambut.
- Infeksi virus atau reaktivasi virus laten (parotitis/mumps, campak, influenza B) yang
mengenai organ corti, membrane tektoria, selubung myelin saraf akustik tuli berat,
terutama frekuensi sedang dan tinggi
- Keganasan seperti neuroma kaustik, metastasis ke tulang temporal atau meningen,
leukemia.
Neuroma akustik merupakan tumor jaringan saraf auditorius sehingga
menyebabkan kerusakan sel rambut atau telinga dalam. Gejala awal dari acoustic
neuroma adalah gangguan pendengaran tingkat sedang unilateral. Tinitus sering
ditemukan dan vertigo bisa didapatkan atau tidak. Pemeriksaan fisik harus memeriksa
secara menyeluruh telinga, hidung, dan tenggorokan, penilaian nervus kranialis,
penilaian serebelum dan tes Romberg. Sensasi kornea dan kanalis akustikus dapat
diperiksa segera dengan apus kapas, refleks muntah, dengan apusan kapas. Jika

refleks kornea, refleks muntah, atau keterlibatan nervus fasialis, biasanya tumor
berukuran besar.
Kelainan imunologik peserti penyakit autoimun pada telinga dalam, penyakit imun
sistemik (granulomatosis Wegene, arteritis temporal)
Obat ototoksik seperti :
Aminoglikosida kehilangan sel-sel rambut pada putaran basal koklea, bersifat
bilateral dan bernada tinggi. Golongan obat ini diantaranya streptomisin, neomisin,
gentamisin, kanamisin, dan sebagainya.
Eritromisin biasanya terjadi gangguan pendengaran nada tinggi bilateral
dengan tinitus meniup, dan disertai vertigo.
Loop diuretics biasanya ringan, terutama bila diberikan intravena. Golongan
obat ini diantaranya furosemide, bumetanide, dan ethycrynic acid.
OAINS mengakibatkan tuli berfrekuensi tinggi dan tinnitus, yang sifatnya
sementara.
Obat Malaria efeknya tinnitus dan tuli. Karena dapat melalui plasenta, maka
dikhawatirkan dapat menyebabkan tuli kongenital.
Obat Anti Tumor gejalanya berupa tuli dengan tinnitus, otalgia dan gangguan
keseimbangan. Biasanya bilateral dimulai pada frekuensi antara 6000-8000 Hz.
Golongan obat ini : Cisplatin.
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Untuk pemeriksaan audiologi pada tes penala rinne (+), Weber lateralisasi
ke telinga sehat, audiometri nada murine : tuli sensorineural ringan-berat, short
increment sensitivity index (SISI) : skor < 70% atau 100%.
Tata laksana pada kasus ini, preventifnya seperti diberi vaksin measles,mumps,
rubella pada anak-anak. Untuk kuratifnya dapat dilakukan tirah baring selama dua
minggu untuk menurunkan stress terkait kegagalan neurovascular, antiviral sesuai
dengan etiologi , dan diberikan vasodilator seperti :
Papaverin, histamine, aprokain, niasin
Inhalasi karbogen (oksigen 95% + karbon dioksida 5%) selama 30 menit sebanyak 6
kali per hari untuk 5 hari
Evaluasi fungsi pendengaran setiap minggu selama satu bulan untuk meniali
perbaikan pendengaran pada tuli mendadak :
Sangat baik : perbaikan >30dB pada 5 frekuensi
Sembuh perbaikan <30db (frekuensi 250Hz, 500 Hz, 1000Hz, 2000Hz), <25dB
(4000Hz)
Baik : perbaikan 10-30dB pada 5 frekuensi
Tidak ada perbaikan : perbaiakan <10dB pada 5 frekuensi.

4. Gangguan Pendengaran Jenis Campuran


Gangguan jenis ini merupakan kombinasi dari gangguan pendengaran jenis
konduktif dan gangguan pendengaran jenis sensorineural. Mula-mula gangguan

pendengaran jenis ini adalah jenis hantaran (misalnya otosklerosis), kemudian


berkembang lebih lanjut menjadi gangguan sensorineural. Dapat pula sebaliknya, mulamula gangguan pendengaran jenis sensorineural, lalu kemudian disertai dengan gangguan
hantaran (misalnya presbikusis), kemudian terkena infeksi otitis media. Kedua gangguan
tersebut dapat terjadi bersama-sama. Misalnya trauma kepala yang berat sekaligus
mengenai telinga tengah dan telinga
Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua komponen gejala
gangguan pendengaran jenis hantaran dan sensorineural. Pada pemeriksaan fisik atau
otoskopi tanda-tanda yang dijumpai sama seperti pada gangguan pendengaran jenis
sensorineural. Pada tes bisik dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada
jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah
maupun nada tinggi. Tes garputala Rinne negatif. Weber lateralisasi ke arah yang sehat.
Schwabach memendek.

5. Alat Bantu Mendengar (ABM)


Para penderita gangguan pendengaran seringkali mengalami gangguan dalam
pekerjaan dan kegiatan sosialnya, sehingga dapat menurunkan kualitas hidupnya. Karena
itu untuk membantu penderita dalam kegiatan sehari-harinya maka mereka memerlukan
alat bantu mendengar (ABM). Memilih dan memasang alat bantu mendengar merupakan
proses yang rumit yang tidak hanya melibatkan derajat dan tipe ketulian, namun juga
perbedaan antar telinga, kemampuan diskriminasi, alasan kosmetik, dan variabel
psikoakustik lainnya. Peraturan FDA (Food and Drug Administration) mengharuskan
masa ujicoba selama 30 hari untuk alat bantu dengar untuk mengetahui apakah alat
tersebut cocok dan efektif bagi pemakainya.
Prinsip ABM adalah sifat amplifikasi, dimana ABM berfungsi sebagai miniatur
pengeras suara. Alat tersebut memiliki pengeras suara, amplifier, mikrofon dan baterai.
Berbagai bentuk ABM diantaranya jenis ITE (in-the-ear), BTE (behind-the-ear), dan pada
tubuh.
Untuk pemilihan ABM perlu memperhatikan informasi audiometrik berupa :
- ambang pendengaran
- tingkat pendengaran yang paling nyaman, dan
- tingkat kekerasan yang mengganggu

Daftar Pustaka

Moore, K. dkk. Clinically Oriented Anatomy. Edisi ke-5. Lippincott Wiliams. 2006

Soepardi, E.A. dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Edisi ke-5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007
Sataloff, R.T et al. Hearing Loss. 3rd ed. Marcel Dekker, Inc. New York. 1993