Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Keluhan telinga yang paling sering adalah; penurunan pendengaran (pekak/ tuli), suara
berdenging (tinnitus), rasa pusing yang berputar (vertigo), rasa nyeri dalam telinga (otalgia),
dan keluar cairan dari telinga (otorea).1
Tinnitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar
bunyi tanpa ada rangsang bunyi dari luar. Suara yang terdengar dirasa begitu nyata dan serasa
berasal dari dalam telinga atau kepala. Keluhan ini dapat berupa bunyi mendenging, menderu,
mendesis atau berbagai macam bunyi yang lain. Pada sebagian besar kasus, gangguan ini
tidak begitu menjadi masalah, namun bila terjadinya makin sering dan berat maka akan
mengganggu juga.
Tinnitus cukup banyak didapati dalam praktek sehari-hari. Jutaan orang di dunia
menderita tinnitus. Dari hasil penelitian, didapatkan satu dari lima orang di antara usia 55 dan
65 tahun dilaporkan mengalami tinnitus. Hal ini menandakan bahwa tinnitus adalah keluhan
yang sangat umum yang diterima di kalangan usia lanjut.
Tinnitus dapat bersifat subjektif dan objektif. Hampir sebagian besar kasus bersifat
subjektif. Tinnitus subjektif adalah suara berdenging hanya didengar oleh penderita. Tinnitus
dapat berlangsung sementara dan intermiten.
Yang perlu diingat, tinnitus merupakan suatu gejala bukanlah suatu diagnosa penyakit.
Oleh karena itu, perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui etiologinya. Tinnitus
mungkin timbul pada penurunan fungsi pendengaran yang sering dikaitkan dengan usia dan
proses degenerasi, trauma telinga, penyakit neurovaskuler dan keganasan. Namun pada
kebanyakan kasus etiologi pasti tinnitus masih sangat sulit ditegakkan. Oleh karena itu,

penatalaksanaan

tinnitus

masih

menjadi

perdebatan

dan berbasis

penatalaksanaan

simtomatis.1,2
2. Anatomi
Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

2.1. Telinga luar


Telinga luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar meliputi daun telinga
atau pinna, liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Daun telinga berfungsi untuk
membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang telinga.
Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara dan
bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan tulang dan tulang
rawan yang dilapisi kulit tipis.
Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga luar dan
tulang di duapertiga dalam. Liang telinga memiliki panjang kira-kira 2,5 - 3 cm. Di dalam
liang telinga terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan serumen atau kotoran telinga.
Hanya bagian 1/3 depan saluran yang memproduksi banyak kelenjar serumen sedamgkan

pada bagian 2/3 dalam ditemukan sedikit kelenjar serumen. Pada ujung saluran terdapat
membran timpani yang meneruskan suara ke telinga tengah.1,2
2.2. Telinga tengah
Telinga tengah adalah ruangan yang berbentuk kubus. Isinya meliputi gendang telinga,
3 tulang pendengaran (os malleus, os incus, dan os stapes), dan muara tuba eustachius.
Getaran suara yang diterima oleh gendang telinga akan disampaikan ke tulang
pendengaran. Masing-masing tulang pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang
berikutnya. Tulang stapes yang merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke
koklea.. Tidak seperti pada bagian luar, udara pada telinga tengah tidak berhubungan dengan
udara di luar tubuh. Saluran Eustachius menghubungkan ruangan telinga tengah ke belakang
faring. 1,2
2.3 Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari labirin osea, yaitu sebuah rangkaian rongga pada tulang
pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin membranasea, yang
terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe.
Di depan labirin terdapat koklea. Penampang melintang koklea terdiri atas tiga bagian
yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Bagian dasar dari skala vestibuli
berhubungan dengan tulang stapes melalui jendela berselaput yang disebut tingkap lonjong,
sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bundar.
Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi
endolimfa. Dasar skala vestibuli adalah membran vestibularis (membran Reissner) dan dasar
skala media adalah membran basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organ corti yang
berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organ corti terdiri dari sel rambut dan sel
penyokong. Di atas sel rambut terdapat membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang
lentur,

sedangkan

sel

rambut

akan

dihubungkan

dengan

bagian

otak

dengan

N.vestibulokoklearis.

Selain pendengaran, bagian telinga dalam berfungsi juga sebagai keseimbangan. Bagian
ini secara struktural terletak di belakang labirin yang membentuk struktur utrikulus dan
sakulus serta tiga saluran setengah lingkaran atau kanalis semisirkularis. Kelima bagian ini
berfungsi mengatur keseimbangan tubuh dan memiliki sel rambut yang akan dihubungkan
dengan bagian keseimbangan dari N. vestibulokoklearis.1,2

3. Fisiologi Pendengaran
Gelombang bunyi ditangkap oleh daun telinga dan diteruskan ke dalam liang telinga.
Gelombang bunyi akan diteruskan ke telinga tengah dengan menggetarkan membran timpani.
Getaran ini akan diteruskan oleh maleus, incus dan stapes, ke tingkap lonjong.
Getaran struktur koklea pada tingkap lonjong akan diteruskan ke perilimfa yang ada di
dalam skala vestibuli. Getaran cairan ini akan menggerakkan membran Reissner dan
menggetarkan endolimfa sehingga akan menimbulkan gerakan relatif antara membran basalis
dan membran tektoria. Proses ini menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion akan terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam
sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius. Lalu dilanjutkan ke
nukleus auditoris sampai korteks pendengaran di area 39-40 lobus temporalis.2,3

BAB II
TINNITUS
1. Definisi
Tinnitus berasal dari bahasa latin tinnire yang berarti berdering. Keluhan suara yang
didengar sangat bervariasi, dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, mengaum,
atau berbagai macam bunyi lainnya. Suara yang didengar dapat bersifat stabil atau berpulsasi.
Keluhan tinnitus dapat dirasakan unilateral dan bilateral.
Serangan tinnitus dapat bersifat periodik ataupun menetap. Episode periodik lebih
berbahaya dan mengganggu dibandingkan dengan yang bersifat menetap. Hal ini disebabkan
karena otak tidak terbiasa atau tidak dapat mensupresi bising ini. Tinnitus pada beberapa
orang dapat sangat mengganggu kegiatan sehari-harinya.
Tinnitus dapat dibagi atas tinnitus objektif dan tinnitus subjektif. Dikatakan tinnitus
objektif jika suaranya juga dapat didengar oleh pemeriksa dan dikatakan tinnitus subjektif jika
tinnitus hanya dapat didengar oleh penderita.2,3,4
2. Epidemiologi
Tinnitus terjadi pada 37 juta hingga 40 juta penduduk Amerika Serikat atau sekitar 1214% dari total penduduk Amerika Serikat. Sekitar 1 dari 7 orang Amerika Serikat mengalami
tinnitus. 30% kasus dialami oleh orang dewasa.
Sebagian besar penderita berusia 40-70 tahun. Penderita yang berusia kurang dari 45
tahun hanya berkisar 1%, pada orang tua 60-69 tahun sekitar 12%. Orang yang berusia 70
tahun ke atas berisiko terkena tinnitus 20-30%. Jenis kelamin pria lebih berisiko untuk terkena
tinnitus.5,6,7

3. Etiologi
Tinnitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari telinga dalam.
Terutama kerusakan dari koklea. Secara garis besar, penyebab tinnitus dapat berupa kelainan
yang bersifat somatik, kerusakan N. Vestibulokoklearis, kelainan vaskular, tinnitus karena
obat-obatan, dan tinnitus yang disebabkan oleh hal lainnya. 6,7
3.1 Tinnitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang
1.

Trauma kepala dan Leher

Pasien dengan cedera yang keras pada kepala atau leher mungkin akan mengalami
tinnitus yang sangat mengganggu. Tinnitus karena cedera leher adalah tinnitus somatik
yang paling umum terjadi. Trauma itu dapat berupa fraktur tengkorak, whisplash
injury. 6
2.

Artritis pada sendi temporomandibular (TMJ)

Berdasarkan hasil penelitian, 25% dari penderita tinnitus di Amerika berasal dari
artritis sendi temporomandibular. Biasanya orang dengan artritis TMJ akan mengalami
tinnitus yang berat. Hampir semua pasien artritis TMJ mengakui bunyi yang didengar
adalah bunyi menciut. Tidak diketahui secara pasti hubungan antara artritis TMJ
dengan terjadinya tinnitus. 6
3.2 Tinnitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis (VIII)
Tinnitus juga dapat muncul dari kerusakan yang terjadi di saraf yang menghubungkan antara
telinga dalam dan korteks serebri bagian pusat pendengaran. Terdapat beberapa kondisi yang
dapat menyebabkan kerusakan dari n. Vestibulokoklearis, diantaranya infeksi virus pada
n.VIII, tumor yang mengenai n.VIII, dan Microvascular compression syndrome (MCV).
MCV dikenal juga dengan vestibular paroxysmal. MCV menyebabkan kerusakan n.VIII
karena adanya kompresi dari pembuluh darah tetapi hal ini sangat jarang terjadi.6,7
3.3 Tinnitus karena kelainan vaskular

Tinnitus yang didengar biasanya bersifat tinnitus yang pulsatil. Akan didengar bunyi yang
simetris dengan denyut nadi dan detak jantung. Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan
tinnitus diantaranya : 1,6
1) Atherosklerosis
Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk-bentuk deposit lemak
lainnya, pembuluh darah mayor ke telinga tengah kehilangan sebagian elastisitasnya.
Hal ini mengakibatkan aliran darah menjadi semakin sulit dan kadang-kadang
mengalami turbulensi sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya.
2) Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskular pada pembuluh
darah koklea terminal.
3) Malformasi kapiler
Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara koneksi arteri dan
vena dapat menimbulkan tinnitus.
4) Tumor pembuluh darah
Tumor pembuluh darah yang berada di daerah leher dan kepala juga dapat
menyebabkan tinnitus. Misalnya adalah tumor karotis dan tumor glomus jugulare
dengan ciri khasnya yaitu tinnitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa adanya
gangguan pendengaran. Ini merupakan gejala yang penting pada tumor glomus
jugulare.

3.4 Tinnitus karena kelainan metabolik


Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinnitus. Seperti keadaan hipertiroid dan anemia
dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi turbulensi sehingga memudahkan telinga untuk
mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan tinnitus pulsatil. Kelainan metabolik lainnya

yang bisa menyebabkan tinnitus adalah defisiensi vitamin B12, begitu juga dengan kehamilan
dan keadaan hiperlipidemia. 6
3.5 Tinnitus akibat kelainan neurologis
Yang paling umum terjadi adalah akibat multiple sclerosis. Multiple sclerosis adalah proses
inflamasi kronik dan demyelinisasi yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Multiple sclerosis
dapat menimbulkan berbagai macam gejala, diantaranya kelemahan otot, indra penglihatan
yang terganggu, perubahan pada sensasi, kesulitan koordinasi dan bicara, depresi, gangguan
kognitif, gangguan keseimbangan dan nyeri, dan pada telinga akan timbul tinnitus. 6
3.6 Tinnitus akibat kelainan psikogenik
Keadaan gangguan psikogenik dapat menimbulkan tinnitus yang bersifat sementara. Tinnitus
akan hilang bila kelainan psikogeniknya hilang. Depresi, cemas, dan stres adalah keadaan
psikogenik yang memungkinkan tinnitus untuk muncul. Ditemukan bahwa tinnitus
diasosiasikan dengan meningkatnya kadar kortisol.4,8
3.7 Tinnitus akibat obat-obatan
Obat-obatan yang dapat menyebabkan tinnitus umumnya adalah obat-obatan yang bersifat
ototoksik, diantaranya : 6
Analgetik : aspirin dan AINS lainnya
Antibiotik : golongan aminoglikosida, kloramfenikol, tetrasiklin, minosiklin
Obat-obatan kemoterapi : Belomisin, Cisplatin, Mechlorethamine, Methotrexate,
Vinkristin
Diuretik : Bumatenide, Ethacrynic acid, Furosemide
lain-lain : kloroquin, quinine, merkuri, timah
3.8 Tinnitus akibat gangguan mekanik
Gangguan mekanik juga dapat menyebabkan tinnitus objektif, misalnya pada tuba eustachius
yang terbuka sehingga ketika kita bernafas akan menggerakkan membran timpani dan

menjadi tinnitus. Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otototot palatum juga akan menimbulkan tinnitus.1,9
3.9 Tinnitus akibat gangguan konduksi
Gangguan konduksi suara seperti infeksi telinga luar (sekret dan tumor), serumen impaksi,
efusi telinga tengah dan otosklerosis juga dapat menyebabkan tinnitus. Biasanya suara
tinnitusnya bersifat suara dengan nada rendah. 1
3.10 Tinnitus akibat sebab lainnya
I.

Tuli akibat bising


Disebabkan terpajan oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang
cukup lama. Biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Umumnya terjadi
pada kedua telinga. Terutama bila intensitas bising melebihi 85 dB, dapat
mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran korti di telinga dalam. Yang
sering mengalami kerusakan adalah alat korti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi
3000Hz sampai dengan 6000Hz. Yang terberat kerusakan alat korti untuk reseptor
bunyi yang berfrekuensi 4000Hz.

II.

Presbikusis
Tuli saraf sensorineural tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, bilateral, dan
dapat mulai pada frekuensi 1000Hz atau lebih. Umumnya merupakan akibat dari
proses degenerasi. Diduga berhubungan dengan faktor herediter, pola makanan,
metabolisme, aterosklerosis, infeksi, pajanan bising, gaya hidup atau bersifat
multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran berangsur dan kumulatif. Progresivitas
penurunan pendengaran lebih cepat pada laki-laki dibanding perempuan. 1,6

III.

Sindrom Meniere
Gejala terdiri dari tinnitus, vertigo dan tuli sensorineural. Etiologi dari penyakit ini
adalah karena adanya hidrops endolimfa, yaitu penambahan volume endolimfa karena
gangguan biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada membran labirin. 1,6

4. Klasifikasi
Tinnitus terjadi akibat adanya kerusakan ataupun perubahan pada telinga luar, telinga
tengah, telinga dalam ataupun dari luar telinga.
Berdasarkan letak dari sumber masalah, tinnitus dapat dibagi menjadi tinnitus otik dan
tinnitus somatik. Jika kelainan terjadi pada telinga atau saraf auditoris disebut tinnitus otik,
sedangkan tinnitus somatik jika kelainan terjadi di luar telinga dan saraf tetapi masih di dalam
area kepala atau leher.
Berdasarkan objek yang mendengar, tinnitus dapat dibagi menjadi tinnitus objektif dan
tinnitus subjektif.5,7,8
Tinnitus Objektif
Tinnitus objektif adalah tinnitus yang suaranya juga dapat didengar oleh pemeriksa
dengan auskultasi di sekitar telinga. Tinnitus objektif biasanya bersifat vibratorik,
berasal dari transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga.
Umumnya tinnitus objektif disebabkan karena kelainan vaskular, sehingga tinnitusnya
berdenyut mengikuti denyut jantung. Tinnitus berdenyut ini dapat dijumpai pada
pasien dengan malformasi arteriovena, tumor glomus jugular dan aneurisma. Tinnitus
objektif juga dapat dijumpai sebagai suara klik yang berhubungan dengan penyakit
sendi temporomandibular dan karena kontraksi spontan dari otot telinga tengah atau
mioklonus palatal. Tuba Eustachius paten juga dapat menyebabkan timbulnya tinnitus
akibat hantaran suara dari nasofaring ke rongga tengah.
Tinitus Subjektif
Tinnitus subjektif adalah tinnitus yang suaranya hanya dapat didengar oleh penderita
saja. Jenis ini sering sekali terjadi tinnitus subjektif bersifat nonvibratorik, disebabkan
oleh proses iritatif dan perubahan degeneratif traktus auditoris mulai dari sel-sel
rambut getar sampai pusat pendengaran.

10

Tinnitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya. Beberapa


pasien dapat mengeluh mengenai sensasi pendengaran dengan intensitas yang rendah,
sementara pada orang yang lain intensitas suaranya mungkin lebih tinggi.
Berdasarkan kualitas suara yang didengar pasien ataupun pemeriksa, tinnitus dapat di
bagi menjadi tinnitus pulsatil dan tinnitus nonpulsatil.5,6,9
Tinitus Pulsatil
Tinnitus pulsatil adalah tinnitus yang suaranya bersamaan dengan suara denyut
jantung. Tinnitus pulsatil jarang ditemukan dalam praktek sehari-hari. Tinnitus pulsatil
dapat terjadi akibat adanya kelainan dari vaskular ataupun di luar vaskular. Kelainan
vaskular digambarkan dengan sebagai bising mendesis yang sinkron dengan denyut
nadi atau denyut jantung. Sedangkan tinnitus nonvaskular digambarkan sebagai bising
klik, bising goresan atau suara pernapasan dalam telinga.
Tinnitus Nonpulsatil
Tinnitus jenis ini bersifat menetap dan tidak terputuskan. Suara yang dapat didengar
oleh pasien bervariasi, mulai dari suara yang berdering, berdenging, berdengung,
berdesis, suara jangkrik, dan terkadang pasien mendengarkan bising bergemuruh di
dalam telinganya.
Biasanya tinnitus ini lebih didengar pada ruangan yang sunyi dan biasanya paling
menganggu di malam hari sewaktu pasien tidur, selama siang hari efek penutup
kebisingan lingkungan dan aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan pasien tidak
menyadari suara tersebut.

5. Patofisiologi
Pada sistem jalur auditorik dibagi menjadi aferen yang merupakan sistem auditorik
yang memfasilitasi proses eksitatorik dan eferen yang merupakan proses inhibitorik. Kedua
mekanisme ini saling melengkapi agar terciptanya homeostasis. Pada tinnitus terjadi

11

kegagalan dalam mempertahankan homeostasis pada sistem auditorik, baik pada aferen
maupun eferen. Beberapa mekanisme sebagai penyebab tinnitus:4
- Aferen: 1. Neuroeksitotoksisitas Glutamat
Glutamat merupakan neurotransmiter utama aferen koklea. Selain itu, glutamat juga
memiliki efek neurotoksis yang tinggi, ditemukan dalam kasus trauma akustik.
Pajanan bising dapat menimbulkan pelepasan glutamat berlebih dan eksitotoksik ion
Ca2+ intraselular yang dapat menyebabkan tinnitus.
2. Modulasi NMDA dan reseptor non-NMDA
Dopamin, sebagai neurotransmiter dapat memodulasi sensitivitas reseptor aferen
koklea. Aplikasi agonis dopamin (piribedil) ditemukan bahwa memiliki efek proteksi
dari eksitotoksisitas glutamat, sehingga mengurangi insiden tinnitus karena pajanan
bising. Diperkirakan juga bahwa dinorphin yang dilepaskan akibat faktor stres, dapat
meningkatkan sensitivitas NMDA dan reseptor non-NMDA dan menimbulkan eksitasi
aferen, yang dapat menyebabkan tinnitus karena pajanan stres.
3.

Disfungsi kanal Ca2+

Konsentrasi kalsium intrasel berperan dalam fungsi sel rambut luar (OHC) dan dalam
(IHC), termasuk motilitas cepat dan lambat OHC, juga pelepasan transmiter dalam
IHC. Dalam studi eksperimental, ditemukan bahwa antagonis kanal Ca 2+ dapat
memblok motilitas lambat OHC. Beberapa obat yang menginduksi tinnitus seperti
salisilat dan pajanan bising dapat meningkatkan konsentrasi kalsium intrasel.
- Eferen: 1. Disfungsi pada jalur eferen
Jalur eferen pada sistem auditorik berfungsi sebagai inihbisi. Apabila terjadi disfungsi
dapat terjadi disinhibisi.
2. Penurunan produksi GABA

12

Pajanan bising, ototoksisitas, proses penuaan dapat menyebabkan penurunan produksi


GABA dan dicurigai dapat mengurangi fungsi inhibisi dari sistem eferen dan
menyebabkan tinnitus.

6. Diagnosis
Untuk mendiagnosis pasien dengan tinnitus, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang yang baik.
6.1 Anamnesis
Anamnesis adalah hal yang sangat membantu dalam penegakan diagnosis tinnitus.
Dalam anamnesis banyak sekali hal yang perlu ditanyakan, diantaranya :

Kualitas dan kuantitas tinnitus

Lokasi, apakah terjadi di satu telinga atau di kedua telinga

Sifat bunyi yang didengar, apakah mendenging, mendengung, bergemuruh, mendesis


dan bunyi lainnya

Apakah bunyi yang didengar semakin mengganggu pada siang atau malam hari

Gejala-gejala lain yang menyertai, seperti vertigo dan gangguan pendengaran serta
gangguan neurologik lainnya

Lama serangan tinnitus berlangsung, bila berlangsung hanya dalam satu menit dan
setelah itu hilang, maka ini bukan suatu keadaan yang patologik, tetapi jika tinnitus
berlangsung selama 5 menit, serangan ini bisa dianggap patologik

Riwayat medikasi yang berhubungan dengan obat-obatan bersifat ototoksik

Kebiasaan sehari-hari terutama merokok dan minum kopi

Riwayat trauma kepala, pajanan bising, dan trauma akustik

Riwayat infeksi telinga dan operasi telinga

13

Umur dan jenis kelamin juga dapat memberikan kejelasan dalam mendiagnosis pasien
dengan tinnitus. Tinnitus karena kelainan vaskular sering terjadi pada wanita muda,
sedangkan pasien dengan myoklonus palatal sering terjadi pada usia muda yang dihubungkan
dengan kelainan neurologi.
Pada tinnitus subjektif unilateral perlu dicurigai adanya kemungkinan neuroma akustik
atau trauma kepala, sedangkan bilateral kemungkinan intoksikasi obat, presbikusis, pajanan
bising, dan penyakit sistemik. Jika pasien susah untuk mendeskripsikan apakah tinnitus
berasal dari telinga kanan atau telinga kiri, hanya mengatakan di tengah kepala, kemungkinan
besar terjadi kelainan patologis di saraf pusat, misalnya serebrovaskuler, siringomielia, dan
sklerosis multipel. 3,6,7
6.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain:4
- Palpasi dan penekanan pada vena jugularis dapat mengurangi tinitus yang berasal dari
vaskular
- auskultasi pada leher untuk mendengar adanya bruit pada karotis atau pergolakan darah
karena arteriovenous malformation.
- otoskopi dapat melihat kelainan pada telinga
- pemeriksaan orofaring dapat melihat kontraksi soft palate pada palatal myoclonus
6.3 Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab
tinnitus:4
-

Pemeriksaan Timpanometri dapat dilakukan untuk melihat adanya aktivitas mioklonik dan

tuba eustashius yang terbuka.


- Audiometri nada murni dapat mengindikasikan tuli konduktif karena kelainan vaskular yang
mempengaruhi telinga tengah.

14

- Pemeriksaan CT-scan dengan kontras gadolinium pada temporal, dasar tengkorak, dan otak
untuk mencari penyebab tinnitus lainnya. Penggunaan MRI dan MRA juga dibutuhkan untuk
beberapa kasus. 4
7. Penatalaksanaan
Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena
psikoakustik murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinnitus agar dapat
diobati sesuai dengan penyebabnya. Misalnya serumen impaksi cukup hanya dengan ekstraksi
serumen. Tetapi masalah yang sering dihadapi pemeriksa adalah penyebab tinnitus yang
terkadang sukar diketahui.11
Ada banyak pengobatan tinnitus objektif tetapi tidak ada pengobatan yang efektif
untuk tinnitus subjektif. Pada umumnya pengobatan gejala tinnitus dapat dibagi dalam 4 cara
yaitu :
i.

Elektrofisiologik yaitu dengan membuat stimulus elektroakustik dengan intensitas


suara yang lebih keras dari tinnitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinnitus
masker

ii.

Psikologik yaitu dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien


bahwa penyakitnya tidak membahayakan dan dengan mengajarkan relaksasi setiap
hari

iii.

Terapi medikamentosa yaitu sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas
diantaranya untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan,
sedatif, neurotonik, vitamin, dan mineral

iv.

Tindakan bedah dilakukan pada tinnitus yang telah terbukti disebabkan oleh akustik
neuroma.
Pada keadaan yang berat, di mana tinnitus sangat keras terdengar dapat dilakukan

cochlear nerve section. Menurut literatur, dikatakan bahwa tindakan ini dapat menghilangkan

15

keluhan pada pasien. Keberhasilan tindakan ini sekitar 50%. Cochlear nerve section
merupakan tindakan yang paling terakhir yang dapat dilakukan.3,7,11
Pasien tinnitus sering sekali tidak diketahui penyebabnya, jika tidak tahu
penyebabnya, pemberian antidepresan dan antiansietas sangat membantu mengurangi tinnitus.
Obat-obatan yang biasa dipakai diantaranya Lorazepam atau Klonazepam yang dipakai dalam
dosis rendah. Obat lainnya adalah Amitriptilin atau Nortriptilin yang digunakan dalam dosis
rendah juga.
Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga
rasa takut tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan
saat menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinnitus itu.
Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff, berdasar pada model
neurofisiologinya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik dan medikamentosa
bila diperlukan. Metode ini disebut dengan Tinnitus Retraining Therapy. Tujuan dari terapi ini
adalah memicu dan menjaga reaksi habituasi, persepsi tinnitus, dan suara lingkungan yang
mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai hasil modifikasi hubungan sistem auditorik ke
sistem limbik dan sistem saraf otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinnitus
dengan sempurna, tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan
toleransi terhadap suara. TRT biasanya digunakan jika dengan medikasi tinnitus tidak dapat
dikurangi atau dihilangkan. TRT adalah suatu cara dimana pasien diberikan suara lain
sehingga keluhan telinga berdenging tidak dirasakan lagi. Hal ini bisa dilakukan dengan
mendengar suara radio FM yang sedang tidak siaran, terutama pada saat tidur. Bila tinnitus
disertai dengan gangguan pendengaran dapat diberikan alat bantu dengar yang disertai dengan
masking. TRT dimulai dengan anamnesis awal untuk mengidentifikasi masalah dan keluhan
pasien. Menentukan pengaruh tinnitus dan penurunan toleransi terhadap suara sekitarnya,
mengevakuasi kondisi emosional pasien, mendapatkan informasi untuk memberikan
konseling yang tepat dan membuat data dasar yang akan digunakan untuk evaluasi terapi.

16

Terapi edukasi juga dapat kita berikan ke pasien. Diantaranya : 6,11


Hindari suara keras yang dapat memperberat tinnitus
Kurangi makanan bergaram dan berlemak karena dapat meningkatkan tekanan darah
yang merupakan salah satu penyebab tinnitus
Hindari faktor-faktor yang dapat merangsang tinnitus seperti kafein dan nikotin
Hindari obat-obatan yang bersifat ototoksik
Tetap biasakan berolahraga, istarahat yang cukup dan hindari kelelahan.

8. Pencegahan
Pencegahan tinnitus adalah dengan membatasi atau menghindari paparan terhadap
suara yang keras. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri sendiri dari bunyi
yang berlebihan menurut American Tinnitus Association adalah :5,6
Lindungi pendengaran anda di tempat kerja. Gunakan sumbat-sumbat telinga atau
alat-alat penutup telinga.
Ketika berada di sekitar segala bunyi yang mengganggu telinga (konser, acara
olahraga, berburu) pakailah pelindung pendengaran.
Bahkan bunyi-bunyi setiap hari, seperti blow untuk mengeringkan rambut anda atau
menggunakan pemotong rumput, dapat memerlukan perlindungan. Siapkan sumbat
telinga atau penutup telinga untuk aktivitas tersebut.
Tindakan-tandakan pencegahan lainnya antara lain mengurangi minuman yang
mengandung alkohol dan kafein, berhenti atau mengurangi merokok, berolahraga secara
teratur dan menjaga berat badan yang ideal.6

9. Prognosis

17

Prognosis dari tinnitus tergantung dari penyebabnya. Terkadang penyebab tinnitus


tidak dapat diketahui. Meskipun demikian prognosis tinnitus secara umum baik.

18

KESIMPULAN

Telinga terbagi menjadi telinga luar, tengah dan dalam. Pendengaran dimulai dari
gelombang bunyi yang ditangkap oleh daun telinga ke telinga tengah dengan menggetarkan
gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang pendengaran ke koklea,
menyebabkan endolimfa bergetar, yang menyebabkan depolarisasi yang mengubah getaran
tersebut menjadi impuls. Impuls tersebut diteruskan ke korteks serebri dan diterjemahkan
oleh otak.
Tinnitus adalah sensasi suara yang tanpa rangsangan dari luar. Suara yang terdengar
seperti berasal dari dalam telinga atau kepala. Tinnitus dapat bersifat otik, yakni penyebab
berasal dari telinga, dan somatik, yakni penyebab berasal dari luar telinga. Tinnitus bersifat
subjektif, yakni tinnitus hanya dapat didengar oleh pasien, dan objektif, yakni tinnitus dapat di
dengar juga oleh pemeriksa. Tinnitus ada yang bersifat pulsatil dan nonpulsatil.
Banyak etiologi tinnitus, diantaranya karena kelainan somatik daerah leher dan rahang
(misalnya pada kasus trauma kepala dan leher dan

artritis pada temporomandibular),

kerusakan n. Vestibulokoklearis, karena kelainan vaskular (misalnya aterosklerosis,


hipertensi, malformasi kapiler dan tumor pembuluh darah), kelainan metabolik, kelainan
neurologis, kelainan psikogenik, obat-obatan (misalnya obat golongan analgetik, antibiotik,
obat-obatan kemoterapi dan duretik), gangguan mekanik, gangguan konduksi (misalnya saat
infeksi telinga), dan sebab lainnya (misalnya tuli akibat bising, presbikusis, dan penyakit
meniere).
Diagnosis tinnitus terdiri atas anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang efektif dan lengkap sehingga diharapkan dapat mengetahui garis besar
etiologi dari tinnitus yang dialami pasien.
Penatalaksanaan

tinnitus

adalah

dengan

elektrofisiologik,

psikologik,

terapi

medikamentosa, tindakan bedah dan edukasi. Penatalaksanaan tinitus yang banyak dipakai

19

adalah Tinnitus Retraining Therapy (TRT) yakni kombinasi konseling terpimpin, terapi
akustik dan medikamentosa bila diperlukan.
Penderita tinnitus perlu diedukasi untuk mencegah terjadinya tinnitus kembali.
Edukasi mencakup masalah diet, olahraga, stop konsumsi obat-obatan yang bersifat ototoksik,
berhenti/kurangi merokok, berhenti minum minuman alkohol, menghindari suara-suara
bising, dan penggunaan alat pelindung telinga saat aktivitas atau di tempat tertentu.
Prognosis tinnitus tergantung dari penyebabnya. Namun secara umum prognosis
tinnitus baik.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Tinitus. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi VI. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; hal. 10-16, 111-113. 2007.
2. Adams, George L, dkk. 1997. Boies:BukuAjar Penyakit THT Edisi 6.Jakarta: EGC
3. James A. Henry, Martin A. Schechter, Kyle C. Dennis. General Review of Tinnitus
4. Gleeson M, Browning GG, Buron MJ, Clarke R, Hibbert J, Jones NS, et al. Scott
Browns Otorhinolaringology Head and Neck Surgery, 17th ed. 2008:3594-3614
5. Evaluation of factors related to the tinnitus disturbance. The International Tinnitus
Journal; Vol 17 Jun/ July 2012. Diunduh dari
http://www.tinnitusjournal.com/detalhe_artigo.asp?id=495
6. Prevalence, Mechanisms, Effects, and Management. Diunduh dari
http://www.tahosy.dk/handleplaner%20forankringssteder/tinnitus/henry%20et
%20al.pdf
7. Tinnitus : Ringing in the ears. Vestibular Disorders Association. Diunduh dari
http://vestibular.org/sites/default/files/page_files/Tinnitus%20Ringing%20in%20the
%20Ears.pdf
8. Pray JJ, Pray WS, Tinnitus: When the Ears Ring, diunduh dari
http://www.medscape.com/viewarticle/506920

9. Cunha JP, Tinnitus, diunduh dari http://www.medicinenet.com/tinnitus/article.html


10. WebMD, Ringing in the Ears (Tinnitus) Prevention, diunduh dari
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/ringing-in-the-ears-tinnitus-prevention

11. Arkansas Center for Ear Nose Throat and Allergy, Tinnitus, diunduh dari
http://www.acenta.com/audiology.tinnitus.asp

21