Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

FISTULA PREAURIKULAR
DI RUANG THT RSUP DR KARIADI SEMARANG

Disusun oleh :
Ahmad Jupri (10.7.004)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
2012/2013

A. PENGERTIAN
Beberapa orangtua sempat bertanya-tanya dan sedikit cemas ketika pada kepala
anaknya dijumpai lubang di sebelah samping atas kedua telinga, berbentuk bulat,
seukuran ujung pensil. Gangguan ini sering disebut Fistula preaurikular yang
meruupakan penyakit kongenital atau kelainan bawaan dimana suatu traktus yang di
dasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Kelainan ini disebabkan
oleh kegagalan untuk bersatu dari tuberkulum arkus pertama ke tuberkulum tuberkulum
lainnya. Muara fistel ini sering mengeluarkan sekret atau cairan yang berasal dari
kelenjar sebasea. Gangguan tersebut sebenarnya tidak berbahaya tetapi kadang bisa
terjadi infeksi fistel ini yang mengakibatkan bengkak dan nyeri di lubang tersebut.
Keberadaan fistula inilah yang menyebabkan kadang bisa terjadi infeksi, karena
menjadi media berkembangnya bakteri Staphyloccocus epidermidis, S. Aurens, S.
Viridans, Peptoccocus species dan Proteus species. Terapi yang dibutuhkan yaitu
Pencegahan terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan membersihkan muara
dari sumbatan dengan alcohol atau cairan antiseptic lainnya secara rutin. Pada kasus
dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotic dan kompres hangat. Penelitian lebih
lanjut mengenai kelainan ini, bahwa lokus untuk fistula preaurikular kongenita ini ada
pada kromosom 8q11.1-q13.3
Fistula preaurikular congenital adalah suatu kanal atau lubang atau traktus yang
didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Ini disebabkan oleh
kegagalan untuk bersatu dari tuberkulum arkus pertama ke tuberkulum-tuberkulum
lainnya. Apabila tidak dijumpai adanya gejala maka pengobatan tidak diperlukan.
Fistula preaurikular kongenital pada umumnya terjadi akibat kegagalan penyatuan
atau penutupan dari tonjolan tonjolan (hilokz) pada masing masing arkus brankialis
pertama dan kedua yang akan membentuk daun telinga pada masa pembentukkan
embrional. Biasanya terdapat di bagian anterior tragus atau crus helicis, tetapi jarang
ditemukan di bagian superior atau inferior perlekatan telinga. Kelainan ini pertama kali
diperkenalkan oleh Heusinger pada tahun 1864. Sering ditemukan pada suku bangsa di
asia afrika, merupakan kelainan herediter yang dominan.
Kelainan ini pertama kali oleh Heusinger pada tahun 1864. Insiden gangguan ini
banyak dijumpai di beerapa negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Skotlandia,
Hungaria dan beberapa negara Asia dan Afrika. Hanya saja persentase kejadian di Asia
dan Afrika cukup tinggi, diperkirakan 4-10%.

B. ETIOLOGI
Kelainan ini disebabkan oleh kegagalan dari penutupan hillocks of His (tonjolan) pada

arkus branchialis pertama dan kedua yang akan membentuk daun telinga, pada tahapan
embrionik. Pada waktu janin berusia 4 minggu, arkus branchialis ini ada dipermukaan janin,
kemudian ketika usia janin 6 minggu arkus hioid dan arkus mandibular ini menyatu di bawah
kedudukan kanalis aurikularis eskterna dan tertutup. Gangguan penutupan inilah yang
menyebabkan fistula preaurikular kongenital
Embriologi Pengembangan lengkungan branchial daun telinga terbentuk selama minggu

keenam kehamilan. Lengkungan branchial pertama dan kedua menimbulkan serangkaian 9


proliferations mesenchymal dikenal sebagai hillocks, untuk membentuk daun telinga
definitif. Lengkungan pertama menimbulkan ke 3 hillocks pertama, yang membentuk tragus,
heliks crus, dan helix. Lengkungan kedua menimbulkan ke 3 hillocks kedua, yang
membentuk antihelix, scapha, dan lobulus tersebut. Cacat atau tidak lengkap penggabungan
selama pembentukan aurikularis dianggap sebagai sumber sinus preauricular. Teori lain
menunjukkan bahwa lipat lokal dari ektoderm selama aurikularis pembangunan adalah
penyebab pembentukan sinus preauricular. Ke tiga hillocks pertama yang paling sering
dikaitkan dengan hillocks supernumerary, yang menyebabkan terbentuknya tag preauricular.
Genetika Aktivasi gen yang benar sekuensial diperlukan untuk telinga normal dan

perkembangan wajah. Mengganggu urutan aktivasi gen pada hewan laboratorium


pengembangan mengganggu telinga. Studi hubungan genetik analisis menunjukkan bahwa
bawaan preauricular sinus untuk melokalisasi kromosom 8q11.1-q13.3
Bagian aparat neurologis, koklea, saraf pendengaran dan bentuk dalam hubungannya
dengan struktur telinga luar selama tahap awal perkembangan. Kelainan eksternal mungkin
berhubungan dengan kelainan neurologis dalam dan, karenanya, menyarankan tuli mungkin.

C. MANIFESTASI KLINIK
Gejala Klinis
1.Sebagian orang dengan kelainan ini asimptomatik. Hanya sepertiga orangmenyadari adanya
kelainan ini. Dalam sebuah studi terhadap 31 pasien,
suatulesi menjadi jelas, sekitar 9,2 tahun (rata-rata) sebelum mereka mencari pertolongan medis.
2.Beberapa pasien dating dengan drainase kronik yang intermitten berupa
material purulen dari tempatnya yang terbuka. Drainase fistula ini menjadi mudahmengalami inf

eksi. Sekali infeksi, fistula-fistula ini jarang mengalamiasimptomatik, sering berkembang


menjadi eksaserbasi akut yang rekurren.
3.Pasien mungkin datang dengan sellulitis fasial atau ulserasi yang berlokasi
pada bagian depan telinga. Ulserasi ini sering diobati tanpa mengetahui sumber primernya dan
fistula preaurikular menjadi tidak ketahuan.
4.Perkembangan dari adanya infeksi, pasien mungkin dapat berkembang menjadiscarring.
5.Bayi dari ibu yang DM memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya
oculo-auriculo-vertebral
, termasuk fistula

Sindromik ekspresi lubang, tag, dan fisura terjadi pada frekuensi jauh lebih tinggi di

dysmorphisms kraniofasial tertentu. Anomali kecil dari kepala dan leher dapat membantu
dokter dalam mengembangkan diagnosis dugaan selama pemeriksaan awal. Anomali telinga
tambahan mencakup kelainan kali lipat heliks, asimetri, angulasi posterior, ukuran kecil,
tragus tidak ada, dan sempit meatus auditori eksternal. Beberapa sindrom dengan anomali
telinga karakteristik adalah sebagai berikut:
Branchiootorenal syndrome (BOR) Preauricular sinus
Beckwith-Wiedemann sindrom Preauricular sinus dengan telinga asimetris
Mandibulofacial dysostosis lubang aurikularis / fistulaOculoauriculovertebral displasia

tag Preauricular. Beberapa pada anak dengan displasia oculoauriculovertebral. Perhatikan


atrofi spasm, retrognathia, dan telinga set yang lebih rendah.
Kromosom lengan 11q duplikasi sindrom tag Preauricular atau lubang
Kromosom lengan 4p penghapusan sindrom lesung Preauricular atau tag kulit
Kromosom lengan 5p penghapusan sindrom tag Preauricular

Keadaan ini sering kurang mendapat perhatian dari penderita karena pada umumnya tidak
menimbulkan gejala dank arena ukuran lubangnya yang kecil (lebih kecil dari 1mm). Pada
keadaan t nang, tampak muara fistel berbentuk bulat atau lonjong, berukuran seujung pensil, dari
muara fistel sering keluar secret yang berasal dari kelenjar sebase dan bila infeksi dapat
mengeluarkan secret yang berbau busuk. Penderita sering dating pertama kali ke dokter karena
obsruksi dan infeksi fistel ini sehingga terjadi pioderma atau selulitis facial. Kelainan ini dapat
terjadi unilateral atau bilateral.

Bila terjadi infeksi biasanya menyebabkan daerah di depan daun telinga bengkak dan sakit yang
mungkin pecah serta bernanah. Eksisi yang sempurna dari traktus dilakukan setelah infeksi akut
sudah reda. Traktus sering berjalan diantara cabang-cabang nervus fasialis dan harus berhati-hati
sewaktu melakukan eksplorasi.
Infeksi ini dapat mengakibatkan terjadinya rasa gatal atau keluarnya sekret. Padahal tanda ini
adalah bentuk manipulasi karena perkembangan bakteri di dalam fistel. Jadi, untuk menghindari
terjadinya infeksi ini adalah membersihkan muara dari sumbatan tersebut menggunakan alkohol
atau cairan antiseptik lainnya secara rutin. Tetapi kalau sudah terjadi infeksi dapat dilakukan
dengan mengkompresnya dengan air hangat. Pada tingkatan yang lebih parah, akan mengalami
pembengkakan karena abses di depan telinga disertai demam. Ini yang terjadi pada saya, hari ini,
sekaligus menanyakan kemungkinan dilakukan pembedahan di rumah sakit tersebut.
D. PATOFISIOLOGI
Selama embriogenesis, daun teliga (aurikula) muncul dari arkus branchial 1dan 2 pada
minggu keenam kehamilan. Arkus branchial adalah struktur mesoderm yangdibungkus oleh
ektoderm and mengelilingi endoderm. Arkus-arkus ini terpisah satudengan lainnya oleh celah
branchial ektoderm kearah luar dan oleh kantong faringealendoderm kearah dalam. Arkus
branchial 1 dan 2 branchial masing-masing membetuk 3tonjolan (hillocks)
; struktur ini disebut
hillocks of His Tiga hillocks
muncul dari tepi bawah arkus branchial 1 dan 3 lagi dari batas atas arkus branchial
kedua. HillocksIni seharusnya bergabung selama beberapa minggu kemudian pada masa
embriogenesis.Fistula preaurikular terjadi sebagai akibat dari kegagalan penggabungan tonjolantonjolan ini.Fistula preaurikular biasanya terbatas, panjangnya bervariasi (biasanya pendek) dan
salurannya biasanya kecil. Fistula preaurikular biasanya ditemukan padalateral, superior dan
posterior dari nervus fasialis dan kelenjar parotis. Pada
hampir semua kasus, salurannya terhubung ke perikondrium dari kartilago daun telinga.Salurann
ya dapat mengarah ke kelenjar parotis.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gambaran Laboratorium dan Radiologi
1.Jika eksudat dari sinus muncul, kultur seharusnya dilakukan untuk dapatmemilih antibiotik
yang sesuai dengan kuman patogen penyebabnya.

2.Pada tahun 2002, Martin-Granizoet al mengatakan bahwa initial fistula probing


tersedia sebagai pengarah operasi dan dengan memasukkan biru metilen lebihlanjut membantu
mencegah tertinggalnya sisa-sisa epitel squamous yang masihutuh. Dengan memasukkan biru
metilen ke dalam muara fistula dapat diduga panjang fistula. Cara ini dipakai pada waktu
melakukan operasi. Cara lain ialah
dengan fistulografi, yaitu dengan memasukkan zat kontras ke dalam muarafistula, lalu dilakukan
pemeriksaan radiologik.
3.Ultrasonografi menggambarkan fistula preaurikular dan menggambarkanhubungannya dengan
superficial temporal artery crus anterior dari helix dantragus.
4. Gambaran Histologi
Ketika pemeriksaan besar dilakukan, fistula preaurikular terlihat terdiri daristruktur tubular
simple atau gambaran melingkar yang yang memiliki dinding, yangtipis dan berkilauan atau
putih dan tebal. Salauran fistula dapat melingkar atau dapat berlikuliku, dan lumennya berisi debris. Fistula preauricular sering penuh dengankeratin dan dikelilingi
oleh jaringan ikat longgar.
Secara mikroskopis, duktus dari fistula dikelilingi oleh epitel squamous berlapis dan
mengandung banyak kista sepanjang salurannya. Jaringan ikat mengelilingiduktus dapat
mengandung folikel rambut; kelenjar sebasea dan kelenjar keringat; dan jaringan inflamasi,
diantaranya limfosit, sel plasma dan leukosit polimorfonuklear

Untuk mengakkan diagnosis Fistula preaurikular didapat berdasarkan anamnesa dan


pemeriksaan fisik. Dari anamnesa didapatkan keluhan terdapat lubang di daun telinga dan
kadang terdapat rasa gatal dan keluarnya secret Pemeriksaan fisik diperoleh muara fistula di
depan telinga yang terdapat sejak lahir Diagnosis fistula preaurikular kongenital dapat
ditegakkan dengan ditemukannya muara fistula di sekitar telinga yang terdapat sejak lahir.
Dalam beberapa kasus, fistula ini ada yang pendek ada juga yang panjang. Untuk melihat
panjang dan pendeknya, ada beberapa cara, yaitu:

Bisa diuji dengan larutan methyline blue ke dalam saluran. Jaringan yang berwarna inilah
yang dijadikan petunjuk luas dan dalamnya jaringan. Penyuntikan ini pun tentu akan
mengorbankan jaringan yang sehat. Dan tidak semua jaringan bisa dimasuki oleh pewarna
ini. Sehingga petunjuk yang dihasilkan bisa keliru.

Menggunakan fistulografi, yaitu dengan memasukan zat kontras ke dalam muara fistel,

kemudian di periksa dengan radiologik.


Selama ukurannya pendek, pembedahan bisa dilakukan. Tetapi dari kedua cara tersebut,
hal terpenting adalah menentukan kelenjar parotis atau saraf fasialis.
F. KOMPLIKASI

1. Pasien dapat mengalami infeksi pada salurannya dengan pembentukan abses.


2. Infeksi dan ulserasi dapat terjadi pada bagian may occur at a site jauh daritempatnya yang
terbuka.
3. Kekambuhan postoperasi merupakan komplikasi dari ekstirpasi salauran
fistula.Beberapa faktor yang berkontribusi untuk terjadinya kekambuhan setelahoperasi adalah:

Usaha pengangkatan sebelumnya pada saat dioperasi. Operasi dengan menggunakan


anestesi local
Pengangkatan yang tidak sempurna dari saluran fistula
Infeksi yang aktif pada saat operasi
Drainase abses sebelum operasi
Kurangnya gambaran yang jelas dari traktus ketika dilakukan operasi
Kegagalan mengangkat kartilago aurikula pada dasar fistula
Kegagalan untuk mengidentifikasi nervus fasialis karena letaknya yangdekat dengan
fistula.

4. Sebagian kekambuhan terjadi masamasa awal setelah operasi, berlangsungdalam 1 bula prosedur. Kekambuhan harus dicurigai ketik
a discharge darisaluran sinus tetap ada. Insidensi kekambuhan terjadi sekitar 5-42%.

G. PENATALAKSANAAN

Terapi Medis

Dalam sebuah studi yang besar, 52% pasien mengalami peradangan padafistulanya, 34%
mengalami abses dan 18% dari fistulanya mengalami infeksi.
Ageninfeksius yang teridentifikasi adalah
Staphylococcus epidermidis (31%),
Staphylococcus aureus (31%),

Streptococcus viridans(15%),
Peptococcus sp. (15%) dan
Proteussp. (8%). Sekali pasien mengalami infeksi pada fistulanya, pasien tersebutharus
diberikan antibiotic sistemik. Jika terdapat abses, abses tersebut harus di insisi dandi drainase
dan eksudat harus dikirim untuk dilakukan pengecatan Gram dan kultur untuk dapat memilih
antibiotik yang tepat.

Operasi

Sekali infeksi terjadi, kemungkinan terjadinya kekambuhan eksaserbasi akutsangat tinggi dan
saluran fistula harus diangkat dengan cara operasi. Operasi perlusekali dilakukan ketika infeksi
yang telah diberikan antibiotik dan peradangan pastimemiliki waktu untuk sembuh. Indikasi
operasi masih menjadi perdebatan. Beberapa percaya bahwa saluran fistula harus di ektirpasi
dengan cara operasi pada pasien
yangasimptomatik karena onset gejala dan infeksi yang berikutnya menyebabkan pembentukan
jaringan parut (scarring), yang memungkinakan pengangkatan yang tidak sempurna dari saluran
fistula dan kekambuhan setelah operasi. Angka kekambuhansetelah operasi adalah 1342%.Sebagian besar kekambuhan setelah operasi terjadi karena pengangkatan yangtidak
sempurna pada saat dioperasi. Salah satu jalan untuk mencegah kekambuhanadalah dengan
mengetahui gambarn jelas dari saluran tersebut ketika operasi. Beberapaahli bedah
measang kanul mulut dan menginjeksi biru metilen kedalam saluran 3
harisebelum operasi di bawah kondisi yang steril.
melakukan jahitan pada sutura. Teknik ini memperbesar saluran dan ini
diperpanjangoleh sekresinya sendiri dengan memasukkan biru
metilen.Selam operasi, beberapa ahli bedah menggunakan sebuah probe atau memasukkanmetile
n blue ke dalam saluran untuk kanulasi mulut. Teknik standar untuk
ekstirpasisaluran sinus meliputi insisi sekeliling fistula dan sekaligus
pembedahan traktus dekathelix. Pendekatan insisi supraauricular lebih sering berhasil dan
diperpanjang insisi
sampai post aurikular. Sekali fasia temporalis didentifikasi, pembedahan traktusdimulai.
Kartilago aurikularyang menempel pada saluran diangkat untuk menurunkanangka kekambuhan
sampai dengan 5%.

Follow Up

*Perawatan pasien Rawat Inap


Jika fistula ternbentuk kembali, fistula tersebut harus dingkat secara penuh.
*Perawatan pasien Rawat Jalan

Jika fistula preaurikular mengalami infeksi yang berulang dan pasien tidak ingin dioperasi, sekret
yang dihasilkan pada fistula tersebut dapat di kultur untuk mengetahui pemberian antibiotik yang
tepat yang dapat mengkover kuman penyebabnya.
* Pengobatan Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan
Biasanya, tidak ada obat yang harus diberikan, tetapi jika infeksi terjadi, antibiotik
dapatdiberikan. Sekret dari fistula harus di kultur sebelum pemberian antibiotik
Cara lain ialah dengan fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan zat kontras ke dalam muara
fistula lalu dilakukan pemeriksaan radiologis, pada pemeriksaan fistulografi tidak dapat
menggambarkan jalur traktus yang sebenarnya karena infeksi yang berulang menimbulkan
tersumbatnya traktus oleh jaringan fibrosis. Pembedahan dilakukan apabila inflamasi sudah
sembuh.

Daftar isi

Samuel T Ostrower, Arlen D Meyers. Preauricular Cysts, Pits, and

Fissures.http://emedicine.medscape.com/article/845288-overview
Zou F, ed all. A locus for Congenital Preauricular Fistulae maps to Chromosome 8q11.1-

q13.3 http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi
Baarsma EA. Surgical treatment of the infected preauricular sinus. Arch

Otorhinolaryngol. 1979;222(2):97-102.
Coatesworth AP, Patmore H, Jose J. Management of an infected preauricular sinus, using

a lacrimal probe. J Laryngol Otol. Dec 2003;117(12):983-4.


Currie AR, King WW, Vlantis AC, Li AK. Pitfalls in the management of preauricular
sinuses. Br J Surg. Dec 1996;83(12):1722-4.