Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

Pengairan Pasang Surut(HSKK 627)


Menentukan Batas Pasang Surut melalui Pengukuran dan Pemetaan
Kadastral dengan Metode Identifikasi Peta Foto

DOSEN PENGAJAR :
M. AZHARI NOOR, M.ENG

Oleh:
MUHAMMAD ERFANIE

H1A112066

M. EKO PRIYANA

H1A112084

RAHADIANSYAH TRI ATMOJO

H1A112089

YANDIE NURACHMAN

H1A112214

M.ABDI MAULANA

H1A112215

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL
BANJAR MASIN
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang
Pengukuran dan Pemetaan Kadastral dengan Metode Identifikasi Peta Fotoini dengan
baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Bapak
M. Azhari Noor,M.Engselaku Dosen mata kuliah Pengairan Pasang surutFakultas Teknik
Unlam yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan kita tentang metode-metode yang dapat digunakan dalam pengairan pasang
surut.Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kamimohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Banjarmasin,3 Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................


KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah ..............................................................
1.2 Tujuan Makalah ...........................................................................
1.3 Perumusan Masalah .....................................................................

BAB II

PEMBAHASAN ................................................................................
2.1 Pengertian-pengertian ..................................................................
2.2 Peralatan dan Tenaga Pelaksana Pengukuran dan Pemetaan Kadastral .....................................................................................
2.3 Tahap Pelaksanaan .......................................................................
2.4 Kendala Pengukuran Bidang Tanah Metode Identifikasi Peta Foto ......................................................................................

BAB III

PENUTUP..........................................................................................
3.1 Kesimpulan ..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Berdasarkan ketentuan yang ada pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Undang-Undang Pokok Agraria Pasal 19 mengamanatkan bahwa untuk menjamin
kepastian hukum hak atas tanah oleh Pemerintah, maka diadakan Pendaftaran Tanah di
seluruh Wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan
Peraturan Pemerintah. Pendaftaran Tanah sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 5
tahun 1960 antara lain meliputi kegiatan :Pengukuran, Pemetaan, dan Pem-bukuan Tanah.
Untuk memberikan jaminan kepas-tian hukum obyek hak atas tanah, pengukuran bidang
tanah harus memenuhi kaidah teknis kadastral dan kaidah yuridis dimana proses perolehan
data ukuran bidang tanah harus memenuhi asas kontradiktur delimitasi dan asas publisitas.
Dalam rangka penyelenggaraan pekerjaan Pengu-kuran dan Pemetaan Kadastral,
pekerjaan pengukuran batas bidang tanah mempunyai peranan yang sangat penting, hal ini
karena dari hasil pengukuran akan diperoleh data teknis mengenai letak, batas dan luas
bidang tanah sehingga dapat memenuhi asas kon-tradiktur delimitasi. Kemudian untuk
memenuhi syarat publisitas diperlukan data yuridis mengenai pemilik atau orang yang
menguasai bidang tanah, status hak dan persetujuan batas bidang tanah oleh para pihak
yang berbatasan.
Untuk memenuhi persyaratan asas kontradiktur delimitasi dan asas publisitas, maka
data teknis dan data yuridis tersebut diumumkan di Kantor Perta-nahan setempat atau di
Kantor Desa, agar dapat diba-ca dan diketahui oleh warga masyarakat di lokasi bidang
tanah. Apabila tidak ada keberatan atau sang-gahan dari masyarakat atau para pihak yang
berbata-san di lokasi bidang tanah, maka dapat diterbitkan sertipikat atas bidang tanah yang
merupakan tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
Pelaksanaan pekerjaan pengukuran batas bidang tanah dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu metode pengukuran teristris dan metode identifikasi peta foto baik menggunakan
peta foto udara maupun peta citra satelit. Pengukuran batas bidang tanah dengan me-tode
identifikasi peta foto merupakan salah satu metode untuk mempercepat proses pendaftaran
tanah yang dapat dilaksanakan dengan memperhatikan perkembangan kemajuan
metodologi dan teknologi terkini. Pelaksanaan pengukuran metode identifikasi peta foto

harus memperhatikan peraturan-peraturan / standar-standar teknis Pengukuran dan


Pemetaan Kadastral yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional, yaitu PP No. 24 Tahun
1997 tentang Pendaftaran Tanah, PMNA / KBPN No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan
Pelaksanaan PP No. 24 Ta-hun 1997 beserta Petunjuk Teknis PMNA / KBPN No. 3 Tahun
1997 Materi Pengukuran dan Pemetaan Pendaftaran Tanah.
Untuk memberikan gambaran umum pelaksanaan pe-ngukuran dan pemetaan kadastral
berikut ini akan diuraikan pengukuran batas bidang tanah dengan me-tode identifikasi peta
foto.

1.2 Tujuan Makalah


Makalah yang kami susun dengan judul Pengukuran dan Pemetaan Kadastral dengan
Metode Identifikasi Peta Foto bertujuan untuk mengetahui tentang :
1. Mahasiswa dapat menetukan batas pasang surut dengan metode Identifikasi Peta
Foto
2. Mahasiswa dapat menguraikan masalah pengukuran batas bidang tanah dengan
metode Identifikasi Peta Foto
3. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana melaksanakan pekerjaan pengukuran dan
pemetaan kadastral.
4. Mahasiswa dapat mengetahui kendala pengukuran bidang tanah metode
Identifikasi Peta Foto

1.3 Perumusan Masalah


Berdasarkan tujuan makalah diatas, maka masalah-masalah yang di bahas dapat di
rumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana menetukan batas pasang surut dengan metode Identifikasi Peta Foto?
2. Bagaimana cara menguraikan masalah pengukuran batas bidang tanah dengan
metode Identifikasi Peta Foto

3. Bagaimana melaksanakan pekerjaan pengukuran dan pemetaan kadastral?

4.

Apa kendala pengukuran bidang tanah metode Identifikasi Peta Foto

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian-pengertian
Sebelum menguraikan masalah pengukuran batas bi-dang tanah dengan metode identifikasi
peta foto, terlebih dahulu akan diuraikan beberapa pengertian yang ada kaitannya dengan
pengukuran dan peme-taan kadastral.
1. Bidang Tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang yang
berbatas.
2. Peta Dasar Pendaftaran adalah peta yang me-muat titik-titik dasar teknik dan unsurunsur geografis seperti sungai, jalan, bangunan, batas fisik bidang-bidang tanah dan
batas adminis-trasi. Peta Dasar Pendaftaran dapat berupa peta garis atau peta foto. Peta
Dasar Pendaftaran menjadi dasar untuk pembuatan Peta Pen-daftaran.
3. Pengukuran Bidang Tanah secara sistematik adalah pengukuran bidang tanah yang
dilak-sanakan secara masal dan mengelompok pada seluruh atau sebagian Desa /
Kelurahan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah se-cara sistematik.
4. Pemetaan Bidang Tanah adalah kegiatan menggambarkan hasil pengukuran bidang
tanah di atas Peta Dasar Pendaftaran dengan cara digi-tal sehingga letak dan ukuran
bidang tanahnya dapat diketahui.
5. Peta Bidang Tanah adalah gambar yang memuat satu bidang tanah atau lebih pada suatu
wilayah tertentu yang batas-batasnya ditentukan berda-sarkan penunjukan batas oleh
pemilik dan para pihak yang berbatasan dan digunakan untuk keperluan pengumuman.
6. Peta Pendaftaran adalah Peta yang menggam-barkan satu bidang tanah atau lebih yang
batas-batasnya ditentukan berdasarkan penunjukan ba-tas oleh para pemilik dan
disahkan penggunaan-nya oleh pejabat yang berwenang untuk keperluan pendaftaran
tanah.
7. Surat Ukur adalah dokumen yang memuat data fisik suatu bidang tanah dalam bentuk
peta atau uraian.
8. Nomor Identifikasi Bidang (NIB) adalah nomor yang diberikan kepada setiap bidang
tanah untuk keperluan pendaftaran tanah.

2.2 Peralatan dan Tenaga Pelaksana Pengukuran dan Pemetaan Kadastral


Untuk melaksanakan pekerjaan pengukuran dan pemetaan kadastral diperlukan peralatan
yang mema-dai dan memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan ketentuan dan peraturan
yang ada. Peralatan yang harus disiapkan untuk keperluan pengukuran dan pemetaan
kadastral antara lain :
1. Alat ukur jarak yaitu alat ukur meteran dengan bahan yang kuat dan stabil
2. Alat ukur Total Station
3. Software Pengukuran dan Pemetaan yang telah ditetapkan oleh Badan Pertanahan
Nasional
4. Komputer Grafis Pentium IV
5. Plotter ukuran A0 yang dapat mencetak di atas media drafting film dengan ketebalan
0,003 dua muka.

Untuk melaksanakan pekerjaan pengukuran dan pemetaan kadastral diperlukan tenaga


yang harus memenuhi standard kompetensi tertentu, antara lain terdiri dari :
1. Surveyor Kadastral yaitu surveyor yang telah mempunyai lisensi yang dikeluarkan
oleh Badan Pertanahan Nasional.
2. Aisten Surveyor Kadastral dari Kantor Pertanahan di tingkat Kabupaten, Kota atau di
Kanwil BPN Provinsi yang telah memenuhi persyaratan kompetensi yang ditetapkan
BPN.
3. Asisten Surveyor Kadastral dari perorangan atau Instansi Swasta Bidang Pengukuran
dan Pemetaan yang telah mempunyai lisensi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan
Nasional.

2.3 Tahap Pelaksanaan


1. Pengukuran Bidang Tanah
Prinsip dasar pengukuran bidang tanah dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran
tanah harus memenuhi kaidah-kaidah teknis pengukuran dan pemetaan sehingga
bidang tanah yang diukur dapat dipetakan dan dapat diketahui letak dan batasnya di
atas peta serta dapat direkonstruksi batas-batasnya di lapangan. Untuk melaksanakan
pengukuran bidang tanah harus memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Pengukuran bidang tanah hanya boleh di-lakukan pada bidang tanah yang telah
dilakukan pemasangan tanda batas yang dip-asang oleh pemilik tanah dan telah

dilaku-kan penyuluhan oleh Tim dari Kantor Pertanahan Kabupaen/Kota atau dari
Tim Ajudikasi BPN dan Organisasi Sosial Ke-lompok Masyarakat.
b. Pengukuran bidang-bidang tanah harus se-suai dengan pembuatan sketsa bidang
tanah dan pemberian NIB yang dilaksanakan oleh Tim Ajudikasi BPN.
c. Penunjukan batas bidang tanah dan pe-masangan tanda batasnya dilakukan oleh
pemilik tanah atau kuasanya berdasarkan ke-sepakatan para pihak yang
berbatasan. Pe-milik tanah wajib bertanggungjawab atas kebenaran penunjukan
batas bidang tanah dan pemasangan tanda batasnya. Tanda-tanda batas dipasang
pada setiap sudut batas tanah. Apabila dianggap perlu petugas yang melaksanakan
pengukuran juga dapat me-masang titik-titik tertentu sepanjang garis batas bidang
tanah tersebut. Untuk sudut-sudut batas yang sudah jelas letaknya karena ditandai
oleh benda-benda yang terpasang secara tetap seperti pagar beton, pagar tembok,
maka tidak harus dipasang tanda batas.
d. Objek Pengukuran adalah seluruh bidang tanah yang belum terdaftar maupun telah
terdaftar dengan melakukan penyesuaian terhadap struktur topografis yang ada
dalam satu Desa / Kelurahan secara lengkap sesuai dengan target yang telah
ditetapkan.
e. Batas Desa yang ada harus di identifikasi dan di deliniasi diatas peta.

f.

Pengukuran dilakukan dengan cara mengi-dentifikasi bidang-bidang tanah dengan


menggunakan peta foto (metode deliniasi) untuk batas bidang tanah yang jelas dan
memenuhi syarat. Metode ini biasanya dilaksanakan untuk daerah terbuka, daerah
pertanian / pedesaan. Untuk garis batas bidang tanah yang tidak dapat
diidentifikasi, dilakukan dengan pengukuran tambahan di lapangan (pengukuran
suplesi).

g. Apabila dalam pengukuran bidang tanah ditemukan adanya bidang-bidang tanah


yang sudah terdaftar, maka bidang-bidang terse-but diukur dan dipetakan dengan
metode pengukuran yang sama dengan bidang tanah yang belum terdaftar.
h. Deliniasi dapat dilakukan pada peta dasar pendaftaran berupa peta foto dan detail
titik batas dapat terlihat jelas atau mudah diiden-tifikasi di peta tersebut. Metode
ini hanya dapat dilakukan untuk panjangan sisi bidang lebih besar dari 20 M.
i. Pengukuran tambahan digunakan untuk :
1. Titik-titik batas bidang tanah tidak teri-dentifikasi di Peta Dasar Pendaftaran.

2. Jarak antara titik referensi dengan titik batas bidang tanah yang akan diukur
telah melampaui 100 M.
3. Pengukuran titik referensi tambahan menggunakan alat Total Station.
4. Pengukuran bidang dengan jarak yang kurang dari 20 m menggunakan alat
ukur jarak.
j.

Untuk mengidentifikasi satu bidang tanah dan membedakan dengan bidang tanah
lain-nya, diperlukan tanda pengenal bidang tanah yang bersifat unik, sehingga
dengan mudah mencari dan membedakan bidang tanah yang dimaksud dengan
bidang tanah lain-nya. Tanda pengenal tersebut disebut Nomor Identifikasi
Bidang (NIB). NIB merupakan penghubung antara Peta Pendaftaran dan daftar
lainnya yang ada dalam proses pen-daftaran tanah. Dalam sistem komputerisasi
pendaftaran tanah NIB yang unik diperlukan sebagai penghubung yang efisien
antara data yang diperlukan dan sebagai akses informasi atas suatu bidang tanah.

2. Pengukuran Dengan Metoda Identifikasi Peta Foto


Jika Peta Dasar Pendaftaran yang tersedia di lo-kasi pekerjaan pengukuran dan
pemetaan kadas-tral berupa peta foto digital (foto udara / citra satelit resolusi tinggi)
maka metode pengukuran bidang tanah dapat dilakukan dengan Metode Identifikasi
Peta Foto.
Pengukuran bidang tanah dengan Metoda Iden-tifikasi adalah metode pengukuran
dengan mela-kukan identifikasi bidang-bidang tanah pada Peta Dasar Pendaftaran
berupa peta foto yang me-rupakan hasil pemetaan fotogrametrik. Metoda ini biasanya
dilaksanakan untuk daerah terbuka (mudah untuk diidentifikasi).
Peta Foto adalah peta yang menggambarkan detail lapangan dari foto udara / citra
satelit dengan skala tertentu. Peta foto sudah melalui proses pemetaan fotogrametri
oleh karena itu ukuran-ukuran pada peta foto sudah benar, dengan demikian detaildetail yang ada di peta foto dan dapat didentifikasi dilapangan mempu-nyai posisi
sudah benar di peta.
Pengukuran bidang tanah menggunakan peta foto sebagai peta dasar pendaftaran
dilaksanakan dengan cara melakukan identifikasi titik-titik batas bidang tanah yang
sudah ditetapkan di lapangan. Identifikasi adalah melihat detail dilapangan kemudian
menandai detail yang posisinya sama pada peta foto. Oleh karena itu sangat efektif
untuk daerah terbuka seperti; pesawahan, ladang terbuka dan lain sebagainya.

Pengukuran di lapangan pada prinsipnya tidak diperlukan. Salah satu atau


beberapa sisi bidang tanah dapat diukur dilapangan untuk pengecekan atau
memastikan bahwa titik batas yang diidentifikasi telah benar. Hasil ukuran tersebut
dicantumkan pada sisi-sisi yang sesuai di atas peta foto.

Gambar 1. Contoh Peta Foto


Apabila terdapat titik-titik batas yang tidak dapat diidentifikasi misalnya
terhalang atau tertutup pohon sehingga sulit untuk menentukan posisi-nya pada peta
foto, maka dilakukan pengukuran tambahan (suplesi) dengan cara mengikatkan pada
detail-detail terdekat yang kelihatan se-hingga titik batas tersebut dapat ditentukan di
peta.
Pada pelaksanaan pengukuran bidang tanah dengan metode ini, petugas ukur
harus mem-bawa Lembar Cetak (Print Out) Peta Foto bidang tanah yang akan diukur.
Tahap pelak-sanaan pengukuran meliputi : tahap persiapan teknis, tahap pelaksanaan
identifikasi dan tahap pengolahan data.
a. Persiapan Teknis
Persiapan teknis dengan menggunakan lembar cetak peta foto dilakukan dengan
tahapan sebagai berikut :
Mempersiapkan alat tulis berupa pena / ballpoint / spidol dengan mata pena yang
runcing untuk menandai titik batas bidang tanah.
Menentukan nomor lembar peta untuk lokasi bidang tanah yang akan diukur.

Membuka file peta dengan nomor yang di-maksud pada komputer.


Mengamati dengan seksama kenampakan visual bidang tanah yang akan diukur
dan menentukan apakah batas-batas bidang ta-nah, bangunan ataupun obyekobyek lain terlihat cukup jelas. Apabila tidak terlalu jel-as maka perlu dilakukan
pengubahan nilai brightness, contrass dan intensity yang dapat dilakukan pada
perangkat lunak yang digunakan.
Mengamati setiap pojok batas bidang tanah yang akan diukur dan menentukan
apakah seluruh pojok terlihat jelas atau tidak. Apa-bila terdapat satu atau lebih
titik pojok yang tidak jelas, maka perlu dilakukan pengu-kuran dengan pita ukur
ke lokasi pengu-kuran bidang tanah.
Mencetak bidang tanah yang akan diukur yang mengikutsertakan bidang-bidang
tanah di sekelilingnya dan beberapa obyek yang mudah dikenali di lapangan.

b. Tahap Pelaksanaan Identifikasi Lapangan


Pada tahap ini akan dilakukan identifikasi bi-dang tanah di lapangan. Kegiatan yang
dila-kukan adalah menentukan titik batas dan garis batas bidang tanah berdasarkan
keterangan pe-milik dan pihak-pihak yang bersebelahan serta pemerintah daerah
setempat.
Pelaksanaan akan menggunakan lembar cetak peta foto dengan tahapan sebagai
berikut:
Pada saat identifikasi batas bidang tanah yang akan diukur, pemilik bidang tanah
yang bersebelahan serta pejabat pemerintah dari desa/kelurahan setempat berada
di lokasi pengukuran.
Menetapkan batas bidang tanah yang akan diidentifikasi berdasarkan persetujuan
semua pihak yang hadir.
Menentukan pojok-pojok bidang tanah di lapangan.
Mengidentifikasi pojok-pojok bidang tanah di peta foto.
Meyakinkan bahwa titik-titik batas bidang tanah yang tertera di peta foto adalah
sama dengan titik-titik batas bidang tanah di lapangan dengan memperhatikan
obyek-obyek yang berada di sekitar bidang tanah.
Apabila satu atau semua titik pojok bidang tanah dapat diidentifikasi pada peta
foto dengan jelas dan akurat, maka berilah titik pada setiap pojok bidang dan

berilah tanda huruf ( A, B, C, D dst )atau nomor (1,2,3, 4 dst ) untuk setiap titik
pojok bidan tanah.
Apabila satu atau seluruh titik pojok bidang tanah tidak jelas, maka terlebih
dahulu tentukan dua buah titik bantu yang berada di sekitar titik yang akan
diidentifikasi. Dua titik bantu digunakan untuk menentukan satu titik pojok batas
bidang tanah. Titik bantu yang akan digunakan harus dapat diidentifikasi dengan
jelas dan akurat di peta foto.
Memberi tanda titik pada kedua titik bantu dan tanda huruf sesuai dengan titik
pojok yang diidentifikasi, misal titik yang dii-dentifikasi adalah titik A, maka
tanda titik bantunya adalah A1 untuk titik kesatu dan A2 untuk titik kedua.
Mengukur jarak antara kedua titik bantu dengan titik pojok bidang tanah dengan
pita ukur.
Membuat garis yang menghubungkan kedu-a titik dan menuliskan jarak yang
diperoleh pada peta foto.
Mengulangi langkah langkah f s/d j untuk menentukan tiitk pojok bidang tanah
lain yang juga tertutup.
Membuat Berita Acara pelaksanaan pengu-kuran yang ditandatangani oleh
pemilik bidang tanah, pemilik yang bersebelahan, petugas kelurahan dan petugas
ukur.

c. Tahap Pengolahan Data


Tahapan ini adalah tahap pengolahan data hasil identifikasi bidang tanah di
lapangan. Pengo-lahan data meliputi penentuan luas bidang tanah, penentuan batas
bidang tanah, penomoran bidang tanah dan penyimpanan di komputer. Data yang
digunakan adalah lembar cetak peta foto . Tahap pengolahan data dilaksanakan
dengan cara sebagai berikut :

Membuka file peta foto untuk lokasi yang te-lah diidentifikasi di lapangan.

Melakukan identifikasi titik-titik pojok bi-dang tanah pada lembar cetak peta
foto dan kenalilah obyek yang sama pada file peta foto yang terdapat di
komputer.

Membuat titik-titik dan tanda pada setiap pojok bidang tanah yang jelas dan
akurat. Untuk titik pojok yang tidak dapat dii-dentifikasi maka tentukan lokasi
titik ban-tunya.

Membuat lingkaran dengan pusat lingkaran adalah kedua titik bantu dengan
panjang radius sebesar jarak hasil pengukuran lapa-ngan. Titik potong kedua
lingkaran adalah titik pojok yang diidentifikasi.

Mengulangi langkah-langkah b s/d d untuk mengidentifikasi titik pojok bidang


lain yang sukar diidentifikasi secara langsung.

Menghubungkan seluruh titik pojok bidang tanah menjadi poligon tertutup.

Menentukan luas area poligon tertutup menggunakan fasilitas yang ada pada perangkat lunak AutoCAD Map yang digunakan.

Menuliskan Nomor Identifikasi Bidang (NIB) dan luas tanah pada bidang tanah
tersebut.

Menuliskan koordinat pada setiap pojok bidang tanah yang diperoleh dari
penun-jukan koordinat pada perangkat lunak yang digunakan.

Menyimpan file lembar peta foto yang telah digunakan.

Melakukan pemotongan gambar (cropping) peta foto yang memuat bidang


tanah yang telah diidentikasi.

Menyimpan hasil potongan gambar dan memberi nama file tersebut dengan
nomor NIB atau dengan nama file lain dengan cara yang sistematis dan mudah
dicari.

3. Pemetaan Bidang Tanah


Setelah selesai pengukuran bidang tanah dengan metode ientifikasi bidang tanah, tahap
selan-jutnya melakukan pemetaan bidang-bidang ta-nah. Proses pemetaan bidangbidang tanah dilak-sanakan dengan memperhatikan ketentuan seba-gai berikut :
a. Pemetaan bidang tanah merupakan proses ploting hasil pengukuran. Dalam
pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Kadastral proses pemetaan bidang tanah
dilakukan secara digital dengan menggunakan Software Pe-ngukuran dan
Pemetaan yang telah dite-tapkan oleh Badan Pertanahan Nasional.
b. Perhitungan luas bidang tanah harus dila-kukan setelah hasil pengukuran
bidang tanah dipetakan di atas Peta Dasar Pendaftaran digital dengan bantuan
software pengukuran dan pemetaan yang digunakan .
c. Pemberian Nomor Identifikasi Bidang (NIB) dilakukan pada saat bidangbidang tanah tersebut diplot di atas Peta Dasar Pendaf-taran secara digital.
d. Layer, penamaan file, struktur data, format data yang digunakan dalam
pemetaan sesuai dengan standar yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional.

4. Pembuatan Peta Bidang Tanah


Setelah selesai pemetaan bidang tanah tahap selanjutnya melakukan pembuatan peta
bidang tanah. Proses pembuatan peta bidang tanah dilaksanakan dengan
memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Peta bidang tanah adalah hasil pemetaan 1 (satu) bidang tanah atau lebih pada
lembaran kertas dengan suatu skala tertentu yang batas-batasnya telah
ditetapkan oleh pemilik tanah dan digunakan untuk pengumuman data fisik
bidang tanah.
b. Peta Bidang Tanah dibuat untuk setiap sa-tuan wilayah (setiap RT atau
beberapa RT). Gambar bidang-bidang tanah harus meng-gambarkan seluruh
bidang-bidang tanah pa-da satuan wilayah yang telah ditentukan dengan
menyesuaikan data topografis yang ada (misalnya jalan, sungai dan lain-lain)
dan disertai NIB.
c. Peta bidang tanah dicetak pada kertas HVS 80 gram dengan ukuran format A3.

5. Pengumuman
Setelah pembuatan peta bidang tanah selesai, maka diperoleh data peta dan daftar luas
bidang tanah. Kemudian dilanjutkan dengan pengumu-man tentang data teknis dan
data yuridis dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Peta bidang tanah, yang telah ditambah dengan daftar luas masing-masing
bidang serta data kepemilikan, digunakan untuk pengumuman. Pengumuman
dimaksud un-tuk memberikan kesempatan kepada warga masyarakat pemilik
tanah atau pihak lain yang berkepentingan untuk mengajukan sanggahan
apabila ada haknya yang terlam-paui, baik tentang nama kepemilikan, luas dan
bentuk bidang tanah.
b. Apabila terdapat sanggahan pada saat pe-ngumuman dan berdasarkan
penelitian Pani-tia Ajudikasi terdapat kekeliruan mengenai hasil ukuran bidang
tanah yang tercantum pada Peta Bidang Tanah, maka pada Peta Bidang Tanah
dan hasil pemetaan pada peta dasar pendaftaran atau peta pendaftaran
dilakukan perubahan.
c. Hasil ukuran perbaikan bidang atau bidang-bidang tanah dibuatkan gambar
ukur baru dan hasil ukuran bidang tanah tersebut pada gambar ukur yang lama
dinyatakan tidak berlaku.

6. Pembuatan Peta Pendaftaran


Setelah pengumuman dilanjutkan pembuatan Peta Pendaftaran dengan memperhatikan
bebe-rapa ketentuan sebagai berikut :
a. Peta Pendaftaran adalah peta yang meng-gambarkan bidang atau bidangbidang tanah untuk keperluan pembukuan tanah.
b. Pembuatan Peta Pendaftaran dilakukan se-cara digital dengan menggunakan
software pengukuran dan pemetaan yang telah ditetapkan.
c. Format , Ukuran Lembar dan Legenda Peta Pendaftaran sesuai ketentuan dari
BPN.
d. Satu bidang tanah hanya dapat dipetakan pada satu peta pendaftaran.
2.4 Kendala Pengukuran Bidang Tanah Metode Identifikasi Peta Foto
Pada pekerjaan pengukuran bidang tanah metode identifikasi, kadangkala bidang-bidang
tanah dalam suatu blok tertentu tidak terlihat secara pasti dalam Peta Dasar Pendaftaran
berupa Peta Foto. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
1. Pada waktu pengambilan foto udara atau citra satelit daerah tersebut tertutup awan.
2. Daerah tersebut ditumbuhi oleh pepohonan yang sangat rindang dan rapat.
3. Daerah tersebut dipenuhi oleh rumah-rumah yang sangat padat atau kumuh.
4. Daerah tersebut telah mengalami perubahan detail yang sangat cepat dan drastis

Kondisi tersebut diatas merupakan kendala dalam pengukuran bidang tanah metode
identifikasi peta foto. Untuk mengatasi kendala tersebut, apabila su-atu blok bidangbidang tanah yang akan diukur tidak terlihat dalam Peta Foto, maka pengukuran bidang
tanah didahului dengan pengukuran poligon terikat sempurna. Poligon tersebut diikatkan
pada titik dasar teknik yang ada. Apabila daerah tersebut dipenuhi oleh rumah-rumah yang
sangat padat atau kumuh dan tidak bisa diukur dengan alat ukur pita ukur maupun Total
Station maka pengukuran batas bidang ta-nahnya dilakukan menggunakan alat ukur jarak
elektronis (Disto).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Untuk memberikan jaminan kepastian hukum atas obyek bidang tanah, maka perlu
dilakukan pengukuran bidang tanah yang memenuhi kaidah teknis kadastral dan kaidah
yuridis dimana pro-ses perolehan data ukuran bidang tanah harus memenuhi asas
kontradiktur delimitasi dan asas publisitas.
2. Pengukuran bidang tanah dapat dilakukan de-ngan metode fotogrametris yaitu dengan
mela-kukan identifikasi batas bidang tanah diatas peta foto. Pengukuran bidang tanah
dengan peta foto hanya dapat dilakukan pada daerah yang terbuka dan dapat
diidentifikasi diatas peta foto.
3. Pengukuran metode identifikasi sudah mulai di-terapkan di beberapa wilayah di
Indonesia yang sudah ada Peta Foto atau Peta Citra Satelit. Hasil pengukuran metode
identifikasi peta foto secara umum dapat memenuhi ketentuan yang ada dalam
peraturan dan standar yang ditetapkan oleh Badan Pertanahan Nasional.
4. Kendala pengukuran bidang tanah metode identifikasi bidang tanah terutama untuk
daerah tertutup dapat diatasi dengan melakukan pengu-kuran tambahan (suplesi).

Daftar Pustaka
1. Harsono, Boedi, (2000), Hukum Agraria In-donesia Hinpunan Peraturan-Peraturan Hukum
Tanah, Cetakan Keempatbelas (Edisi Revisi), Djambatan, Jakarta.
2. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
3. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pe-merintah No. 24 Tahun 1997.
4. Petunjuk Teknis Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun
1997, Materi Pengukuran dan Pemetaan Pendaftaran Tanah.
5. Sitorus, Oloan dan H.M. Zaki Sierrad, (2006), Hukum Agraria Di Indonesia Konsep Dasar
dan Implementasi, Mitra Kebijakan Tanah Indonesia, Yogya-karta.

MAKALAH
Pengairan Pasang Surut(HSKK 627)
Pengertian lahan rawa , Macam-macam rawa, Proses Pembentukan
rawa dan Manfaat rawa lebak serta klasifikasinya

DOSEN PENGAJAR :
M. AZHARI NOOR, M.ENG

Oleh:
MUHAMMAD ERFANIE

H1A112066

M. EKO PRIYANA

H1A112084

RAHADIANSYAH TRI ATMOJO

H1A112089

YANDIE NURACHMAN

H1A112214

M.ABDI MAULANA

H1A112215

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL
BANJAR MASIN
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang
Pengertian lahan rawa , Macam-macam rawa, Proses Pembentukan rawa dan
Manfaat rawa lebak serta klasifikasinya ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Bapak M. Azhari Noor,M.Engselaku Dosen
mata kuliah Pengairan Pasang surutFakultas Teknik Unlam yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan kita tentang metode-metode yang dapat digunakan dalam pengairan pasang
surut.Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kamimohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Banjarmasin,3 Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................


KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang ............................................................................
1.2 Rumusan masalah ........................................................................
1.3 Tujuan ..........................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN ................................................................................
2.1 Apa itu lahan rawa .......................................................................
2.2 Pembentukan lahan rawa ............................................................
2.3 Macam-macam rawa ....................................................................
2.4 Lahan rawa lebak .........................................................................
2.5 Pertanian di lahan rawa lebak .....................................................

BAB III

PENUTUP..........................................................................................
3.1 Kesimpulan ..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Lahan rawa merupakan salah satu ekosistem yang sangat potensial untuk pengembangan
pertanian. Luas lahan ini, diperkirakan sekitar 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan pasang surut
sekitar 20 juta ha dan rawa lebak 13 juta ha. Namun demikian, ekosistem rawa, secara alami
bersifat rapuh (fragile) oleh sebab itu dalam memanfaatkan lahan rawa dengan produktivitas
optimal dan berkelanjutan, diperlukan teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu.
Lahan rawa sebenarnya merupakan lahan yang menempati posisi peralihan di antara
sistem daratan dan sistem perairan (sungai, danau, atau laut), yaitu antara daratan dan laut, atau
di daratan sendiri, antara wilayah lahan kering (uplands) dan sungai/danau. Karena menempati
posisi peralihan antara system perairan dan daratan, maka lahan ini sepanjang tahun, atau dalam
waktu yang panjang dalam setahun (beberapa bulan) tergenang dangkal, selalu jenuh air, atau
mempunyai air tanah dangkal. Dalam kondisi alami, sebelum dibuka untuk lahan pertanian,
lahan rawa ditumbuhi berbagai tumbuhan air, baik sejenis rumputan (reeds, sedges, dan
rushes), vegetasi semak maupun kayu-kayuan/hutan, tanahnya jenuh air atau mempunyai
permukaan air tanah dangkal, atau bahkan tergenang dangkal. Lahan rawa yang berada di
daratan dan menempati posisi peralihan antara sungai atau danau dan tanah darat (uplands),
ditemukan di depresi, dan cekungan-cekungan di bagian terendah pelembahan sungai, di
dataran banjir sungai-sungai besar, dan di wilayah pinggiran danau. Mereka tersebar di dataran
rendah, dataran berketinggian sedang, dan dataran tinggi. Lahan rawa yang tersebar di dataran
berketinggian sedang dan dataran tinggi, umumnya sempit atau tidak luas, dan terdapat
setempat-setempat. Lahan rawa yang terdapat di dataran rendah, baik yang menempati dataran
banjir sungai maupun yang menempati wilayah dataran pantai, khususnya di sekitar muara
sungai-sungai besar dan pulau-pulau deltanya adalah yang dominan.
Pada kedua wilayah terakhir ini, karena posisinya bersambungan dengan laut terbuka,
pengaruh pasang surut dari laut sangat dominan. Di bagian muara sungai dekat laut, pengaruh
pasang surut sangat dominan, dan ke arah hulu atau daratan, pengaruhnya semakin berkurang
sejalan dengan semakin jauhnya jarak dari laut.
Rawa merupakan sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang
penggenangannya dapat bersifat musiman ataupun permanen dan ditumbuhi oleh tumbuhan
(vegetasi). Hutan rawa memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Jenis-jenis floranya
antara lain: durian burung (Durio carinatus), ramin (Gonystylus sp), terentang (Camnosperma
sp.), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon sp), rotan, pandan, palem-paleman dan
berbagai jenis liana. Faunanya antara lain : harimau (Panthera tigris), Orang utan (Pongo
pygmaeus), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), babi hutan (Sus scrofa),
badak, gajah, musang air dan berbagai jenis ikan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan
berikut :
1. Apa itu lahan Rawa ?
2. Bagaimana proses pembentukan lahan rawa?
3. Bagaimana klasifikasi/macam-macam rawa ?
4. Apa itu lahan rawa lebak, manfaat dan klasifikasinya?

1.3 Tujuan
Makalah ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian lahan Rawa.
2. Untuk mengetahui proses pembentukan lahan rawa.
3. Untuk mengetahui macam-macam rawa.
4. Untuk mengetahui pengertian lahan rawa lebak, manfaat dan klasifikasinya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Apa itu lahan Rawa ?
Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam
setahun, selalu jenuh air (saturated) atau tergenang (waterlogged) air dangkal. Dalam pustaka,
lahan rawa sering disebut dengan berbagai istilah, seperti swamp, marsh, bog dan
fen, masing-masing mempunyai arti yang berbeda.
Swamp adalah istilah umum untuk rawa, digunakan untuk menyatakan wilayah lahan,
atau area yang secara permanen selalu jenuh air, permukaan air tanahnya dangkal, atau
tergenang air dangkal hampir sepanjang waktu dalam setahun. Air umumnya tidak bergerak,
atau tidak mengalir (stagnant), dan bagian dasar tanah berupa lumpur. Dalam kondisi alami,
swamp ditumbuhi oleh berbagai vegetasi dari jenis semak-semak sampai pohon-pohonan, dan
di daerah tropika biasanya berupa hutan rawa atau hutan gambut.
Marsh adalah rawa yang genangan airnya bersifat tidak permanen, namun mengalami
genangan banjir dari sungai atau air pasang dari laut secara periodik, dimana debu dan liat
sebagai muatan sedimen sungai seringkali diendapkan. Tanahnya selalu jenuh air, dengan
genangan relatif dangkal. Marsh biasanya ditumbuhi berbagai tumbuhan akuatik, atau
hidrofitik, berupa reeds (tumbuhan air sejenis gelagah, buluh atau rumputan tinggi, seperti
Phragmites sp.), sedges (sejenis rumput rawa berbatang padat, tidak berbuluh, seperti famili
Cyperaceae), dan rushes (sejenis rumput rawa, seperti purun, atau mendong, dari famili
Juncaceae, yang batangnya dapat dianyam menjadi tikar, topi, atau keranjang). Marsh
dibedakan menjadi "rawa pantai" (coastal marsh, atau saltwatermarsh), dan "rawa pedalaman"
(inland marsh, atau fresh water marsh) (SSSA, 1984; Monkhouse dan Small, 1978).
Bog adalah rawa yang tergenang air dangkal, dimana permukaan tanahnya tertutup
lapisan vegetasi yang melapuk, khususnya lumut spaghnum sebagai vegetasi dominan, yang
menghasilkan lapisan gambut (ber-reaksi) masam. Ada dua macam bog, yaitu "blanket bog,
dan "raised bog. Blanket bog adalah rawa yang terbentuk karena kondisi curah hujan tinggi,
membentuk deposit gambut tersusun dari lumut spaghnum, menutupi tanah seperti selimut
pada permukaan lahan yang relatif rata. Raised bog adalah akumulasi gambut masam yang
tebal, disebut hochmoor", yang dapat mencapai ketebalan 5 meter, dan membentuk lapisan
(gambut) berbentuk lensa pada suatu cekungan dangkal.
Fed adalah rawa yang tanahnya jenuh air, ditumbuhi rumputan rawa sejenis reeds,
sedges, dan rushes, tetapi air tanahnya bereaksi alkalis, biasanya mengandung kapur
(CaCO3), atau netral. Umumnya membentuk lapisan gambut subur yang bereaksi netral, yang
disebut laagveen atau lowmoor.

Lahan rawa merupakan lahan basah, atau wetland, yang menurut definisi Ramsar
Convention mencakup wilayah marsh, fen, lahan gambut (peatland), atau air, baik
terbentuk secara alami atau buatan, dengan air yang tidak bergerak (static) atau mengalir, baik
air tawar, payau, maupun air asin, termasuk juga wilayah laut yang kedalaman airnya, pada
keadaan surut terendah tidak melebihi enam meter (Wibowo dan Suyatno, 1997).
Secara alami, daerah rawa ternyata memiliki fungsi, antara lain:
1. Sumber daya alam, merupakan habitat (sumber kehidupan) karena terdapat udara
(produsen O2 terbesar sepanjang tahun), air, dan makanan.
2. Mencegah terjadinya banjir.
Saat curah hujan tinggi, hutan rawa akan berperan sebagai penyimpan air sehingga air
hujan tidak seluruhnya mengalir hingga banjir pun bisa dicegah.
3. Mencegah intrusi air laut kedalam air tanah dan sungai.
Lingkungan, daerah tropis bisa terecovery dengan cepat terhadap perubahan iklim
(climate change).
4. Rawa yang terdapat pergantian air tawar dapat untuk areal sawah.
5. Sumber makanan nabati maupun hewani.
Hutan rawa memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Jenis-jenis flora
yang dapat dijumpai pada hutan rawa antara lain yaitu ramin, kayu putih, sagu, rotan,
pandan, palem-paleman, dan lain sebagainya. Jenis faunanya antara lain harimau,
buaya, rusa, babi hutan, badak, gajah, dan berbagai jenis ikan.
6. Sumber energi.
Rawa dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), walaupun daya
yang dihasilkan tidak terlalu besar.

2.2 Proses Pembentukan Rawa


Terjadinya genangan rawa karena permukaan daratan hampir sama atau di bawah
permukaan air sungai atau air tanah yang berada di sekitarnya. Genangan rawa juga terjadi
karena terjebak pada suatu daerah cekungan dan lapisan batuan di bawah rawa. Rawa biasanya
ditumbuhi tumbuhan tertentu dengan jenis tanaman yang khas rawa.Selain itu, rawa juga
terbentuk karena kondisi pembuangan (Drainase) yang buruk.
2.3 Macam-macam Rawa
2.3.1 Proses Terbentuknya
Berdasarkan proses terbentuknya, Rawa dibedakan atas beberapa jenis antara lain :
a. Rawa Pantai
Rawa pantai adalah jenis rawa yang terdapat di pinggir pantai. Rawa ini selalu
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pasang surut ini terjadi dua kali dalam sehari
sehingga terbentuklah rawa pantai. Rawa ini banyak ditumbuhi oleh pohon bakau.

Gambar Rawa Pantai


b. Rawa Pinggiran
Terjadi akibat meluapnya air sungai. Rawa sungai ini dapat juga terbentuk pada
daerah bekas aliran yang terpotong akibat proses meandering sungai.

Gambar Rawa Pinggiran


c. Rawa Abadi
Rawa yang airnya terjebak dalam sebuah cekungan dan tidak memiliki pelepasan
ke laut. Air hujan yang tertampung dalam rawa hanya dapat menguap tanpa ada
aliran yang berarti.

Gambar Rawa Abadi

2.3.2 Sifat Airnya


Berdasarkan Sifat airnya, Rawa dibedakan atas :
a. Rawa air tawar
Adalah rawa yang airnya tawar karena letaknya di pinggiran sepanjang sungai.
b. Rawa air Payau
Adalah rawa yang airnya percampuran antara tawar dan asin, biasanya letaknya di
muara sungai menuju laut.
c. Rawa air asin
Adalah rawa yang airnya asin dan letaknya di daerah pasang surut laut.
2.3.3 Keadaan airnya
Berdasarkan keadaan airnya, rawa terdiri dari :
a. Rawa yang airnya selalu tergenang
Adalah rawa yang selalu tergenang airnya, tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian, karena lahannya tertutup tanah gambut yang tebal. Di daerah rawa ini
sulit terdapat bentuk kehidupan binatang karena airnya sangat asam dengan warna
air kemerah-merahan.
b. Rawa yang airnya tidak selalu tergenang
Adalah rawa yang menampung air tawar dilimpahkan air sungai pada saat air laut
pasang dan airnya relatif mengering pada saat air laut surut.
2.3.4 Pengaruh air Pasang Surut
Berdasarkan pengaruh air pasang surut dimusim hujan dan pengaruh air laut dimusim
kemarau, wilayah rawa dibagi atas :
a. Zona 1 : Wilayah rawa pasang surut air asin/ Payau
Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa
pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas. Biasanya, wilayah
rawa ini menempati bagian terdepan dan pinggiran pulau-pulau delta serta bagian tepi
estuari, yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut/salin. Sebagai contoh,
pulau-pulau delta di muara S. Musi dan Banyuasin di Sumatera Selatan.
Pada zona wilayah rawa ini, terdapat kenampakan-kenampakan (features) bentang
alam (landscape) spesifik yang mempunyai bentuk dan sifat-sifat yang khas disebut
landform. Sebagian besar wilayah zona I termasuk dalam landform marin. Pembagian
lebih detail dari landform marin, disebut sub-landform, pada zona I rawa pasang surut air
asin/payau dapat dilihat pada irisan vertikal tegak lurus pantai.

Gambar Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/ payau,
merupakan pantai lepas yang memiliki beting pasir pantai (coastal dunes)

Gambar Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/ payau, pantai
pada bagian yang terlindung dalam estuari, atau teluk

Wilayah zona I, khususnya di bagian sub-landform "dataran bergaram", atau "saltmarsh", baik yang dipengaruhi air asin/salin maupun air payau, akibat salinitas atau
kandungan garam yang masih tinggi, tanah umumnya tidak sesuai untuk pertanian. Oleh
karenanya, tanah tersebut tidak direklamasi, baik oleh penduduk maupun oleh
pemerintah.

b. Zona 2 : Wilayah rawa pasang surut air tawar.


Lokasi zona II masih terdapat pada wilayah daerah aliran bagian bawah, tetapi lebih
ke arah hulu, dimana pengaruh langsung air laut/salin sudah tidak ada lagi, tetapi energi
pasang surut masih terasa berupa naik dan turunnya air (tawar) sungai mengikuti siklus
gerakan air pasang surut. Wilayahnya dapat mencakup seluruh pulau-pulau delta kecil,
seperti Delta Upang dan Delta Telang, atau sebagian besar wilayah pulau besar, seperti
Delta Berbak dan Delta Pulau Petak. Secara keseluruhan, wilayah ini umumnya
dimasukkan sebagai landform fluvio-marin, karena terbentuk dari gabungan pengaruh
sungai (fluvio) dan pengaruh marin.
Satuan-satuan sub-landform yang terdapat di zona II dapat dilihat lebih jelas pada
wilayah yang terletak di antara dua sungai besar. Penampang skematis sub landform di
antara dua sungai besar pada zona II diilustrasikan pada Gambarberikut.

Gambar Penampang skematis sub-landform di antara dua sungai besar


pada zona II lahan rawa pasang surut air tawar

Oleh karena pengaruh sungai masih kuat, di sepanjang pinggir sungai terbentuk
tanggul sungai alam (natural levee) yang sempit dan lebarnya bervariasi, makin ke arah
hilir relatif sempit dan tidak begitu nyata terlihat di lapangan. Tetapi ke arah hulu,
kenampakannya di potret udara lebih jelas, terutama karena perbedaan vegetasi yang
tumbuh. Lebarnya adalah sekitar 0,2-1 km, dan setempat-setempat sampai sekitar 2 km.
Tanggul sungai terbentuk akibat pengendapan muatan sedimen sungai yang terjadi
selama berabad-abad, setiap kali sungai meluap ke daratan selamamusim hujan. Bahan
endapan berupa debu halus dan lumpur, akan mengendap pertama-tama di pinggir
sungai, sementara bahan yang lebih halus berupa liat, akan diendapkan pada wilayah di
belakang tanggul. Tanah yang terbentuk di bagian tanggul sungai alam, merupakan
endapan sungai (fluviatile) yang tebalnya beragam, dari sekitar 0,5 m sampai lebih dari
1,5 m, menutupi endapan dasar yang merupakan endapan marin. Oleh karena terbentuk
dari bahan relatif agak kasar, debu kasar dan halus serta lumpur, tanah tanggul sungai
(leveesoils) umumnya bertekstur sedang, dengan kandungan fraksi debu relatif tinggi,
seperti lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan liat berdebu.

c. Zona 3 : Wilayah rawa Lebak atau rawa non pasang surut.


2.4 Lahan Rawa Lebak (Non pasang surut)
Kata lebak diambil dari kosakata Bahasa Jawa yang berarti lembah atau tanah rendah
(Poerwadarminto, 1976). Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan
hampir sepanjang tahun, minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm.
Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa
cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau
antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok
yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi
sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat
mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering,
kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa
lebak dangkal dapat mencapai > 1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland).

Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2.000-3.000
mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang mempunyai curah hujan
bulanan > 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah
hujan bulanan).
Sifat fisika tanah dari lahan rawa lebak umumnya tergolong masih mentah, sebagian
melumpur, kandungan lempung (clay) tinggi, atau gambut tebal dengan berbagai taraf
kematangan dari mentah (fibrik) sampai matang (saprik). Lapisan bawah dapat berupa lapisan
pirit (FeS2) yang berpotensi masam; atau pasir kuarsa yang miskin hara; sifat kimia, kesuburan,
dan biologi tanah tergolong sedang sampai sangat jelek. Hidrologi atau sistem tata air
kebanyakan lahan rawa lebak sangat buruk. Ketersediaan sarana dan prasarana tata air yang
mendukung belum memadai sehingga kinerja pengatusan (drainage), pelindian (leaching), dan
penggelontoran (flushing) belum mampu mempercepat perkembangan tanah.

Secara umum, Manfaat lahan rawa lebak adalah :


1. Berpotensi sebagai sumber pertumbuhan produksi baru yang cukup memberikan harapan.
2. Memiliki hamparan yang cukup luas.
3. Memiliki nilai kompetitif dan komparatif untuk dikembangkan dengan beragam
komoditas. Hal ini tidak terlepas dari ekologi lahan rawa lebak yang sesuai untuk beragam
komoditaas pertanian.
4. Memiliki kekayaan kearifan lokal yang cukup potensial untuk digali dan dikembangkan.
2.4.1 Klasifikasi dan tipologi lahan rawa Lebak
Tipologi lahan rawa lebak, secara skematis diilustrasikan pada Gambar berikut. Pada
musim hujan, wilayah tanggul sungai umumnya tetap kering, tetapi di wilayah rawa
belakang dan cekungan, air banjir berangsur naik sampai mencapai puncak tertinggi di
musim hujan, kemudian menurun sesuai dengan surutnya air sungai pada peralihan ke
musim kemarau.

Gambar skematis tipologi lahan rawa lebak

Berdasarkan lamanya genangan dan tingginya genangan, lahan rawa lebak dibagi
menjadi 3 tipe yaitu :
1. Lebak Pematang
2. Lebak Tengahan
3. Lebak dalam
klasifikasi lahan rawa lebak berdasarkan tinggi dan lamanya genangan

Berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai, rawa lebak dibagi dalam tiga tipologi,
yaitu :
1. Lebak Sungai, lebak yang sangat nyata mendapat pengaruh dari sungai sehingga
tinggi rendahnya genangan sangat ditentukan oleh muka air sungai.
2. Lebak terkurung, lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan oleh besar
kecilnya curah hujan dan rembesan air (seepage) dari sekitarnya.
3. Lebak Setengah, lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan
terkurung oleh besar kecilnya hujan, rembesan, dan juga sungai di sekitarnya.
2.4.2Sifat Fisik dan Kimia lahan rawa Lebak
A. Sifat kimia dan kesuburan Lebak Pematang umumnya lebih baik daripada Lebak
Tengahan dan Lebak Dalam. Tekstur tanahnya lebih bervariasi (halus sampai
sedang), reaksi tanah lebih baik (kurang masam), dan kandungan P2O5, total kation
dan kejenuhan basa relatif lebih tinggi daripada kedua tipologi lebak lainnya.
B. Tekstur tanah rawa lebak umumnya dicirikan oleh kandungan fraksi liat dan debu
yang tinggi, tetapi fraksi pasirnya sangat rendah. Tekstur tanah terbanyak adalah liat
berat (hC), liat (C), dan liat berdebu (SiC). Tekstur tanah Lebak pematang lebih
bervariasi, dari halus (hC,C) sampai sedang (SiL, L), terkadang juga dijumpai tekstur
relatif kasar (SL). Tekstur lebak Tengahan relatif halus (hC, C, SiC, dan SiCL),
sedangkan tekstur Lebak Dalam sangat halus (hC dan SiC), dengan kandungan liat
yang sangat tinggi (55-80 %).
C. Kandungan bahan organik (% karbon) Lebak Tengahan dan Lebak Dalam relatif
lebih tinggi daripada lebak Pematang. Tetapi, kandungan P2O5 dan K2O tanah Lebak
Pematang cenderung lebih tinggi daripada Lebak Tengahan, dan lebih tinggi
daripada Lebak Dalam.

D. Komposisi basa-basa dapat tukar (Ca, Mg, K, dan Na) menunjukkan bahwa Ca dan
Mg terbanyak, sedangkan K dan Na sangat sedikit, namun Lebak Pematang
cenderung lebih kaya daripada Lebak Tengahan dan Lebak Dalam. Hal ini
diperkuat oleh kandungan total kation dapat tukar dan kejenuhan basa.

Tabel sifat fisik kimia tanah mineral lahan rawa lebak

2.5 Pertanian dilahan rawa Lebak


Sebenarnya lahan rawa lebak telah diusahakan petani Banjar dan petani Bugis secara
tradisional di sepanjang pedalaman sungai di Kalimantan dan petani Melayu di Sumatera sejak
ratusan tahun lalu. Usaha tani,khususnya padi dilahan rawa lebak ini semakin berkembang
setelah pemerintah membangun polder di sepanjang sungai sehingga air banjir dapat terkontrol.
Keberhasilan budidaya padi dilahan rawa lebak sangat tergantung dari iklim,khususnya
curah hujan, karena umumnya lahan rawa lebak sering mengalami banjir. Fluktuasi genangan
air sangat sukar diprediksi. Banjir dilahan rawa Lebak, khususnya dikawasan Kalimantan

sering bersifat mendadak, berbeda dengan di negara Thailand atau Vietnam datangnya air
secara bertahap sehingga kenaikan genangan air dapat diikuti oleh pertumbuhan padi yang
mempunyai daya memanjang cepat. Oleh karena itu dalam budidaya padi dilahan rawa lebak,
penetapan waktu tanam sangat penting supaya tanaman terhindar dari genangan air. Apabila
curah hujan tinggi maka penurunan genangan air terasa lambat, tetapi secara umum penurunan
genangan air terjadi sangat cepat. Beberapa wilayah rawa Lebak dangkal atau pematang seperti
Lebak Babirik, Kabupaten Hulu sungai Utara, Kalimantan selatan sejak tahun 1980an sudah
menerapkan tanam padi dua kali setahun.

Lahan rawa lebak terdapat cukup luas di Indonesia, merupakan salah satu alternatif areal
yang dapat dikembangkan untuk mengatasi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring
dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya alih fungsi lahan setiap tahun.
Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras
dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya, mengingat semakin menciutnya lahan subur
di Jawa akibat penggunaannya untuk perumahan dan keperluan non pertanian lainnya. Lahan
lebak yang berpotensi sebagai sawah lebak banyak dijumpai di seluruh nusantara tersebar di
pulau sumatera dan Kalimatan yang mempunyai banyak sungai dan berpeluang baik untuk
dikembangkan. Lahan lebak tersebut cukup subur bila diolah dan dimanfaatkan dengan baik
untuk pengembangan tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan.
Selain itu, beberapa wilayah lahan rawa lebak belakangan ini mulai dikembangkan untuk
tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, Sagu, Palawija, Kelapa dan hortikultura.
Pengembangan perkebunan ini memerlukan pembuatan saluran-saluran pengatusan (drainage),
pintu-pintu air, dan tabat (dam overflow) untuk pengendalian muka air tanah. Dengan adanya
sawah lebak ini, maka bisa meningkatkan pembangunan pertanian. Contohnya, dengan
pemanfaatan penanaman padi dapat memenuhi kebutuhan pangan serta mendapatkan
pendapatan.
Selain keunggulan dari segi fungsi produksi di atas, rawa lebak juga memiliki potensi
fungsi lingkungan dan daya eksotik yang jika juga dikembangkan akan memberikan manfaat
dan sumbangan bagi kesejahteraan masyarakat. Rawa lebak memiliki biodiversitas yang tinggi
sehingga juga seuai untuk dikembangkan sebagai lahan konservasi dan juga mungkin
pariwisata. Dan satu lagi, rawa lebak merupakan suatu ladang penelitian karena di dalamnya
menyimpan misteri yang perlu diungkapkan.
Dengan kebutuhan pangan yang semakin meningkat, usaha pemanfaatan dan
pengembangan lahan rawa lebak untuk pertanian, baik pertanian dalam arti sempit maupun
dalam arti luas seperti suatu keniscayaan yang tinggal menunggu waktu. Akan tetapi,
pemanfaatan dan pengembangan yang dilakukan perlu diperhatikan secara sungguh sungguh
agar tidak merusak keragaman genetik di lahan rawa lebak sekaligus menjaga agar suatu
pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan.

Namun dilihat dari pengembangan Sawah/Lahan Rawa Lebak itu sendiri, masalah utama
pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalah kondisi rejim airnya fluktuatif dan
seringkali sulit diduga, hidrotopografi lahannya beragam dan umumnya belum ditata baik,
kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau terutama di lahan lebak
dangkal, dan sebagian lahannya bertanah gambut. Dengan kondisi demikian, maka
pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas
memerlukan penataan lahan dan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan
kondisi wilayahnya agar diperoleh hasil yang optimal.
Selain masalah lahan, pengembangan lahan lebak untuk pertanian juga menghadapi
berbagai kendala, diantaranya : kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan
prasarana pendukung yang umumnya belum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini
terutama menyangkut kepemilikan lahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta
kemampuan petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak,
penyediaan sarana produksi, prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca
panen dan pemasaran hasil pertanian.
Dengan sifat dan ekologi yang menjadi karakteristik rawa lebak, rawa lebak memiliki
banyak potensi yang harus digali khususnya dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan
pangan. Baik untuk pertanian, perikanan, ataupun juga untuk peternakan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam
setahun, selalu jenuh air (saturated) atau tergenang ( waterlogged ) air dangkal. Lahan
rawa sering disebut dengan berbagai istilah, seperti swamp, marsh, bog dan fen,
masing-masing mempunyai arti yang berbeda.
2. Ada banyak manfaat lahan rawa bagi lingkungan seperti : mencegah terjadinya banjir,
Mencegah intrusi air laut kedalam air tanah,Sumber energi, sumber makanan nabati dan
hewani, dan lain sebagainya, sehingga keberadaanya perlu diperhatikan.
3. Ditinjau dari aspek potensi, secara umum lahan lebak sebenarnya lebih baik dari lahan
pasang surut, oleh karena tanah lahan lebak seluruhnya tersusun dari endapan sungai
(fluviatil), yang tidak mengandung bahan sulfidik/pirit.
4. Sebagaimana lahan pasang surut, ke depan, lahan lebak juga merupakan calon lumbung
padi/beras nasional, yang mampu mendukung dan mengamankan program ketahanan
pangan. Oleh karena potensinya yang besar untuk penambahan areal produksi pertanian
baru di masa mendatang, maka kegiatan inventarisasi biofisik dan potensi agronomi lahan
lebak, perlu lebih mendapatkan fokus perhatian lebih besar. Penelitian yang lebih intensif,
juga diperlukan untuk mendapatkan varietas-varietas tanaman berproduksi tinggi, yang
sesuai di budidayakan di lahan lebak.
5. Pemanfaatan lahan rawa lebak untuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala,
diantaranya : kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana
pendukung yang umumnya belum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini terutama
menyangkut kepemilikan lahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan
petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak, penyediaan
sarana produksi, prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca panen dan
pemasaran hasil pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
1.Noor, Muhammad. 2007. Rawa Lebak, teknologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya.
Rajawali Pers : Jakarta.
2.Rafieq, Achmad. 2004. Sosial Budaya dan Teknologi Kearifan Lokal Masyarakat dalam
Pengembangan Pertanian Lahan Lebak di Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Balai
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan.
3.Indonesia Super. 2012. Rawa Lebak, http://andika21putra.blogspot.com
4.Gandasasmita, Karmini dkk.2006. Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa. BALAI
BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN
PERTANIAN : Bogor.
5.http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/phocadownload/buku/bukulahanrawa.pdf

PERBEDAAN RAWA PASANG SURUT DENGAN RAWA LEBAK

A. Pengertian
1. Rawa Pasang Surut adalah rawa yang terletak di pantai atau dekat pantai, di muara
atau dekat muara sungai sehingga di pengaruhi oleh pasang surut.
2. Rawa Lebak (rawa pedalaman) adalah rawa yang terletak di lahan yang tidak terkena
pengaruh pasang surut.